Saturday, June 16, 2018

Thought for the Day - 14th June 2018 (Thursday)

Islam means dedication, surrender, peace and tranquility. The Ramzan month is set apart for the holy task of bringing into memory and practicing the teachings that Hazrat Muhammad conveyed, and progressing spiritually to attain unity and purity. Islam teaches that God's grace can be won through justice and righteous living; wealth, scholarship and power cannot earn it. Pure Love alone can please the Lord. Muslim seers emphasise that we must inquire into the validity of the 'I' which feels it is the body and the 'I' which feels it is the mind, and reach the conclusion that the real 'I' is the Self that is yearning for the Omniself, God. The Ramzan month, fast and prayers are designed to awaken and manifest this realisation. All religions emphasise on unity, harmony, and equal-mindedness. Therefore, cultivate love, tolerance and compassion, and demonstrate the Truth in every daily activity. This is the Message I give you with My Blessings!


Islam berarti dedikasi, penyerahan diri, ketenangan dan kedamaian. Bulan Ramadhan ditetapkan untuk kewajiban yang suci dalam membawa ke dalam ingatan dan menjalankan ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, dan maju secara spiritual untuk mencapai persatuan dan kesucian. Islam mengajarkan bahwa rahmat Tuhan dapat diraih melalui keadilan dan kehidupan yang saleh; kekayaan, kesarjanaan, dan kekuasaan tidak bisa meraih rahmat Tuhan. Hanya kasih yang murni saja yang dapat menyenangkan Tuhan. Orang-orang suci di Muslim menekankan bahwa kita harus mencari tahu kebenaran tentang ‘Aku’ yang terkait dengan badan dan ‘Aku’ yang terkait dengan pikiran, dan mencapai kesimpulan bahwa ‘Aku’ yang sesungguhnya adalah Diri sejati yang merindukan akan Tuhan. Bulan Ramadhan, puasa dan doa ditujukan untuk membangkitkan dan   mewujudkan realisasi ini. Semua agama menekankan pada persatuan, kerukunan, dan kedamaian pikiran. Maka dari itu, kembangkan kasih, toleransi, dan welas asih, dan pertunjukkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah pesan yang Aku berikan kepadamu beserta rahmat-Ku! [Divine Discourse, July 12, 1983]

-BABA

Thursday, June 14, 2018

Thought for the Day - 13th June 2018 (Wednesday)

There is no evil in money, scholarship, knowledge or intelligence. But evil arises from activities that one performs using them. Pure water has no colour. Poured into a black bottle, it appears black. Poured into a red bottle, it appears red. Water has not become red or black; colour of the bottle makes the difference. When money, scholarship, cleverness and intelligence are possessed by persons in whom rajas (passion, emotion, outgoing nature) is dominant, they promote hatred, ambition and lust. When possessed by persons in whom tamas (sloth, dullness, conceit) is dominant, they promote miserliness, greed and envy. When possessed by persons in whom Satwa (equanimity, balance, purity) is dominant, they promote love, compassion, urge to serve, the unity of all mankind and world peace. The sublimation of your character to Satwa is the duty that everyone owes to themselves. This is the path, the real goal. You must ceaselessly tread the path and reach the goal.


Tidak ada kejahatan dalam uang, kesarjanaan, pengetahuan atau kecerdasan. Namun kejahatan muncul dari perbuatan yang seseorang lakukan dengan menggunakan semuanya ini. Air yang murni tidak memiliki warna. Air itu dituangkan ke dalam botol warna hitam, maka air itu nampak hitam. Dituangkan ke dalam botol warna merah, air itu nampak merah. Air tidak menjadi berwarna hitam atau merah; warna dari botol yang membuat perbedaan. Ketika uang, kesarjanaan, kepintaran dan kecerdasan dimiliki oleh orang yang memiliki dominan kualitas rajasik (keinginan besar, emosi, ramah), mereka mengembangkan kebencian, ambisi dan nafsu. Ketika dimiliki oleh orang yang dominan kualitas tamasik (lamban, malas, sombong), mereka mengembangkan sifat kikir, tamak dan iri hati. Ketika dimiliki oleh orang yang dominan dengan kualitas Satvik (ketenangan hati, keseimbangan, kesucian), mereka mengembangkan kasih, welas asih, siap untuk melayani, persatuan di antara seluruh manusia dan kedamaian dunia. Pemurnian karaktermu menuju ke Satwik adalah kewajiban yang menjadi hutang setiap orang kepada dirinya sendiri. Ini adalah jalan, tujuan yang sesungguhnya. Engkau harus secara terus menerus menapaki jalan ini dan mencapai tujuan. (Divine Discourse, Nov 23, 1985)
-BABA

Tuesday, June 12, 2018

Thought for the Day - 12th June 2018 (Tuesday)

True love is the sweet fruit that grows out of the fragrant flower of good deeds. Today, when any difficulty arises or when some trouble crops up, love turns into hatred. Whatever be the vicissitudes one may face, whatever be the personal sorrows and privations one may undergo, a person with true love should remain unaffected. Love rules without recourse to the sword. It binds without laws. Like the glow of the flame in a fire or the rays of the sun or the waves in the ocean, divine love is the basic quality of every true human being. True Love is practising pure and unselfish love towards all living beings, who are all embodiments of the Divine, with no expectation of reward! A genuine loving person will be free from dislike or hatred, and is friendly and compassionate towards all beings (Adweshta sarva bhutanam, maitrah, karuna evacha). Only those with this attitude are worthy of being called human beings!


Kasih yang sejati adalah buah manis yang berasal dari bunga harum dari perbuatan-perbuatan baik. Hari ini, ketika kesulitan apapun muncul atau ketika beberapa masalah timbul, kasih berubah menjadi kebencian. Apapun perubahan yang seseorang mungkin hadapi, apapun penderitaan pribadi dan kekurangan yang seseorang mungkin alami, seseorang yang dengan kasih sejati seharusnya tetap tidak terpengaruh. Kasih mengatur tanpa bantuan pedang dan mengikat tanpa hukum. Hal ini seperti kilauan nyala lidah api pada api atau cahaya dari mentari atau gelombang di lautan, kasih Tuhan adalah sifat dasar dari setiap manusia. Kasih sejati menjalankan kasih yang murni dan tidak mementingkan diri sendiri kepada semua makhluk hidup, yang semuanya adalah perwujudan dari keilahian, dengan tidak mengharapkan imbalan! Orang yang dengan kasih sejati akan bebas dari rasa tidak suka atau kebencian, dan ramah serta welas asih kepada semuanya (Adweshta sarva bhutanam, maitrah, karuna evacha). Hanya mereka dengan sikap ini yang layak disebut sebagai manusia! (Divine Discourse, May 6, 1985)

-BABA

Thought for the Day - 11th June 2018 (Monday)

Service rendered without egoism, however small, can be highly beneficial. It must emanate from a tender heart which responds to every sob and groan, and is ready to renounce and suffer gladly. One must have the eagerness to get involved with others and feel their pain. One must cultivate forbearance and inner strength, in order to avoid resentment at criticism and ridicule, while one is engaged in joyful service. The wise use their money, strength, intelligence, skills, aptitudes and opportunities to help others and make their lives happier. Thus they win divine grace; for seva is the highest form of worship. There are millions who are hungry, desperate and miserable. I ask that you limit your intake of food to your actual need, so that you can share your resources with the needy. Never waste food. Do not fritter away money for harmful purposes; use it to help others. Do not waste time and energy; allow others to benefit from your skills!


Pelayanan yang dilakukan tanpa ego, bagaimanapun kecilnya dapat sangat bermanfaat. Pelayanan harus muncul dari hati yang lembut yang menjawab setiap rintihan dan kesedihan, dan siap untuk melepaskan serta menderita dengan senang hati. Seseorang harus memiliki hasrat untuk terlibat dengan yang lain dan merasakan penderitaan mereka. Seseorang harus meningkatkan ketabahan dan kekuatan batin, dalam upaya untuk menghindari kebencian pada kritik dan ejekan, saat seseorang sedang terlibat dalam pelayanan yang penuh suka cita. Orang bijak menggunakan uang mereka, kekuatan, kecerdasan, keahlian, bakat, dan kesempatan untuk menolong yang lain dan membuat hidup mereka menjadi lebih bahagia. Jadi mereka dapat mendapatkan rahmat Tuhan; karena pelayanan (seva) adalah bentuk pemujaan yang tertinggi. Ada jutaan orang yang kelaparan, putus asa dan menderita. Aku memintamu untuk membatasi makanan yang engkau makan sesuai dengan kebutuhanmu yang sebenarnya, sehingga engkau dapat berbagi sumber dayamu dengan mereka yang membutuhkan. Jangan pernah membuang makanan. Jangan membuang-buang uang untuk tujuan yang membahayakan; gunakan itu untuk menolong yang lain. Jangan menyia-nyiakan waktu dan energi; biarkan orang lain mendapatkan manfaat dari keahlianmu! (Divine Discourse, Nov 21, 1985)

-BABA

Sunday, June 10, 2018

Thought for the Day - 10th June 2018 (Sunday)

Everyone craves for security, peace, joy and happiness. But most believe that these can be extracted from the world! The result is, people waste their years in eating and drinking, playing and resting, earning and spending. They rush from cradle to grave ad nauseam, drifting along, knowing neither the origin of their journey nor its destination, through the ages. Man has won unique qualities of head and heart through a series of effort-filled lives as members of inferior species; that victory is now reduced to ashes, by this supine sloth. You must have the skill to swim across the waves of joy and grief, of pain and profit. You must be a master of the art of being fully at ease, perfectly calm and unaffected, whatever may happen to your body, senses or mind! Learn the skill of achieving and maintaining inner peace, the art of being ever aware of your own inner Reality (Atma), then you can safely gyrate in the world!


Setiap orang mendambakan keamanan, kedamaian, suka cita, dan kebahagiaan. Namun banyak yang percaya bahwa semua hal itu bisa didapat dari dunia! Hasilnya adalah, manusia menyia-nyiakan tahun-tahun hidupnya dalam makan dan minum, bermain dan istirahat, mendapatkan dan menghabiskannya. Manusia terburu-buru dari lahir sampai mati sangat membosankan, terbawa tanpa mengetahui asal, perjalanan serta tujuan mereka selama berabad-abad. Manusia telah mendapatkan kualitas yang unik dari kepala dan hati melalui sebuah rangkaian usaha dalam hidup sebagai anggota spesies yang rendah; kemenangan itu sekarang telah memudar menjadi abu, oleh kemalasan yang membentang. Engkau harus memiliki keahlian untuk berenang menyeberangi lautan suka cita dan kesedihan, dari rasa sakit dan keuntungan. Engkau harus menjadi seorang master dalam seni sepenuhnya tenang dan tidak terpengaruh, apapun yang mungkin terjadi pada tubuhmu, indria atau pikiran! Belajar keahlian untuk mencapai dan menjaga kedamaian batin, seni untuk selalu sadar akan kenyataanmu yang Sejati (Atma), kemudian engkau dapat dengan selamat berputar di dunia! (Divine Discourse, Jul 7, 1968)

-BABA

Thought for the Day - 9th June 2018 (Saturday)

The chief means to detach your mind from distractions and attach yourselves to the search of God are communion with God (Yoga) and sacrifice (Tyaga). Kama (desire) has to be got rid of by Tyaga, and Rama (God) has to be secured by Yoga. Desire discolours the intelligence, perverts judgement, sharpens the appetites of the senses, and leads to a false attraction of the objective world. When desire disappears or is concentrated on God, intelligence becomes self-luminous, and shines in its pristine splendour. That splendour reveals the God within and in the world outside. That is true realisation of the Self (Atma Sakshatkara). I bless you that you succeed in your sadhana (spiritual practices). If you are not practicing any now, I advise you to take up simple namasmarana (reciting the divine name), along with reverence towards parents, elders and teachers, and rendering service to the poor and the sick.


Sarana utama untuk melepaskan pikiranmu dari gangguan dan mengikat dirimu dalam pencarian Tuhan adalah persatuan dengan Tuhan (Yoga) dan pengorbanan (Tyaga). Kama (keinginan) harus dilepaskan dengan Tyaga, dan Sri Rama (Tuhan) harus dapat dicapai dengan Yoga. Keinginan mengotorkan kecerdasan, menodai penilaian, mempertajam hasrat dari indria, dan menuntun pada daya tarik yang salah pada dunia obyektif. Ketika keinginan hilang atau dipusatkan pada Tuhan, kecerdasan menjadi bersinar sendiri dan bersinar dalam kemegahannya yang murni. Kemegahan itu mengungkapkan Tuhan di dalam diri dan di dunia luar. Itu adalah kesadaran pada diri yang Sejati (Atma Sakshatkara). Aku memberkatimu bahwa engkau berhasil dalam sadhanamu (latihan spiritual). Jika engkau tidak menjalankan latihan spiritual apapun saat sekarang, Aku menasihatimu agar engkau mengambil latihan spiritual sederhana yaitu namasmarana (melantunkan nama Tuhan), bersamaan dengan penghormatan kepada orang tua, orang yang lebih tua dan guru, serta melakukan pelayanan kepada mereka yang miskin dan yang sakit. (Divine Discourse, May 15, 1969)

-BABA

Friday, June 8, 2018

Thought for the Day - 8th June 2018 (Friday)

God is the source of all Love. Love cures pettiness, hate and grief. Love loosens bonds; it saves you from the torment of birth and death. Love binds all hearts in a soft silken symphony. Seen through the eyes of Love, all beings are beautiful, all deeds are dedicated, and all thoughts are innocent. Love God and Love the world as the vesture of God, no more, no less. The world is one vast kin. If you pay attention to the individual, differences thrust themselves on you. Fix your attention on the samasthi (the collective), then points of identity will be more apparent. If you concentrate on the outer labels - Hindu, Christian, Muslim, Parsi, Buddhist - then, you will develop pride or contempt or hatred! But if you focus on the struggle that man undergoes to raise himself from the flesh to reach the level of Divinity, you will find all labels insignificant. Then it is all love, co-operation, mutual encouragement and appreciation.
Tuhan adalah sumber dari seluruh cinta kasih. Kasih menyembuhkan kepicikan, kebencian, dan kesedihan. Kasih melonggarkan ikatan; kasih menyelamatkanmu dari siksaan kelahiran dan kematian. Kasih mengikat semua hati dalam sebuah simfoni sutera yang lembut. Melihat melalui pandangan kasih, semua makhluk adalah indah, semua perbuatan disucikan dan semua pikiran adalah tidak berdosa atau polos. Cintai Tuhan dan kasihi dunia sebagai jubah Tuhan, tidak lebih dan tidak kurang. Dunia adalah satu keluarga besar. Jika engkau memberikan perhatian pada individu, perbedaan-perbedaan mendorong diri mereka padamu. Tetapkan perhatianmu pada samasthi (kolektif), kemudian titik identitas akan lebih jelas kelihatan. Jika engkau memusatkan perhatian pada label luar - Hindu, Kristen, Muslim, Parsi, Buddha – kemudian, engkau akan mengembangkan kesombongan atau kebencian! Namun jika engkau fokus pada perjuangan yang manusia hadapi untuk mengangkat dirinya dari tingkat daging mencapai tingkat keilahian, engkau akan mendapatkan bahwa semua label luar itu adalah tidak berarti. Maka dari itu semuanya adalah cinta kasih, kerjasama, saling mendukung, dan menghargai.  (Divine Discourse, Jul 7, 1968)

-BABA