Wednesday, October 31, 2007

Thoughts for the Day - 1st November 2007 (Thursday)

People imagine that spirituality means meditating on God, bathing in sacred waters and visiting holy shrines, but this is not the correct meaning of spirituality. Spirituality means destroying the animal nature in man and awakening him to his divine consciousness. Spirituality implies recognizing that one’s manifold capacities emanate from the Spirit and not from the mind, then utilizing them for achieving spiritual strength. It means acknowledging that all powers come from the Divine.

Orang-orang mengira bahwa yang dimaksud dengan spiritualitas adalah sekedar berupa tindakan bermeditasi kepada Tuhan, mandi di air atau sungai yang dianggap suci dan mengunjungi tempat-tempat yang dikeramatkan. Padahal semua yang disebutkan itu bukanlah pengertian yang sebenarnya dari spiritualitas. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud sebagai spiritualitas adalah melakukan upaya-upaya guna menghancurkan kecenderungan negatif (baca: kecenderungan hewaniah) yang ada di dalam diri manusia serta untuk menyadarkannya atas kesadaran divine yang sudah latent ada di dalam diri setiap individu. Spiritualitas juga diartikan sebagai upaya untuk menyadari bahwa kemampuan dan kekuatan yang ada pada diri manusia adalah berasal dari Spirit (Atma) dan bukan berasal dari batin (mind), dan oleh sebab itu segala bentuk kapabilitas yang ada pada diri manusia haruslah dimanfaatkan untuk mencapai kekuatan spiritual. Dengan perkataan lain, kita perlu menyadari bahwa segala bentuk kekuatan bersumber dari Divine.

-BABA

Tuesday, October 30, 2007

Thoughts for the Day - 31st October 2007 (Wednesday)

The greatest sin man commits is to forget his Divinity. Failing to recognise his true nature, he considers himself as a separate individual and fills his mind with desire and hatred. We should not look upon human existence as something pitiful or weak and powerless. Man is the embodiment of the Divine; he is Sath-Chith-Ananda (Being-Awareness-Bliss). The Divine in him is always radiating light and bliss. However, because of the veil of bad thoughts that covers his mind, he is unable to experience this bliss.

Kesalahan terbesar yang dilakukan oleh manusia adalah di kala ia melupakan sifat-sifat Divinity-nya sendiri. Sebagai akibat kelalaiannya dalam mengenali jati dirinya yang sejati, manusia menganggap dirinya sebagai individu yang terpisah (tersendiri) dan mengisi batinnya dengan keinginan-keinginan (rendah) dan kebencian. Janganlah engkau menganggap eksistensi manusia sebagai keadaan yang menyedihkan ataupun lemah dan tak berdaya. Ketahuilah bahwa engkau adalah perwujudan Divine; engkau adalah Sath-Chith-Ananda (kebenaran-kesadaran-kebahagiaan). Divine yang ada di dalam dirimu senantiasa memancarkan cahaya kecemerlangan dan bliss. Namun, oleh sebab batinmu yang masih terselubung oleh pikiran-pikiran yang jelek, maka sebagai akibatnya engkau tidak sanggup mengalami (merasakan) bliss tersebut.

-BABA

Monday, October 29, 2007

Thoughts for the Day - 30th October 2007 (Tuesday)

Surrender the ego, dedicate every moment and every act to Him who has assured mankind that He will ensure liberation from pain and evil. When asked where God is, people point towards the sky or to some far and distant region; no wonder then that He does not manifest Himself! Realize that He is in you, with you, behind you and all around you; and He can be seen and felt everywhere. Realize also that He is all-merciful, eager and anxious to fulfill your prayers, if they arise from a pure heart.

Pasrahkanlah ego-mu, dedikasikanlah setiap saat dan setiap perbuatanmu kepada-Nya; sebab Tuhan telah memberikan jaminan kepada umat manusia bahwa Beliau akan menganugerahi pembebasan dari penderitaan dan kejahatan. Ketika ditanya tentang dimana keberadaan Tuhan, kebanyakan orang menunjuk ke arah langit atau ke suatu tempat yang nun-jauh; akibatnya, tidaklah mengherankan jikalau Tuhan ternyata betul-betul memanifestasikan diri-Nya di situ! Sadarilah bahwa Beliau ada di dalam dirimu, bersamamu, di belakangmu dan di sekelilingmu; dan Ia bisa dilihat dan dirasakan eksistensinya dimanapun juga! Sadarilah bahwa Tuhan Maha pengasih, Beliau senantiasa antusias dan siap untuk mengabulkan doa-doamu yang dipanjatkan dengan hati yang tulus & murni.

-BABA

Saturday, October 27, 2007

Thoughts for the Day - 29th October 2007 (Monday)

One who is engaged in the battle of life needs the armour of spirituality. With this invincible armour he can face any situation. If instead of donning this spiritual armour, he cloaks himself in ignorance, he will be haunted by fear and anxiety. As long as rice is covered by husk it cannot be consumed. Likewise, man cannot experience true bliss until he gets rid of the cloak of ignorance. Man must hence develop the quality of forbearance. Through forbearance and spiritual practices, gradually the shackles of tendencies resulting from past actions can be broken.

Mereka yang terlibat dalam pertarungan hidup sehari-hari membutuhkan perisai spiritualitas. Dengan perisai ini, ia akan sanggup menghadapi berbagai macam situasi. Alih-alih membekali dirinya dengan pelindung spiritual ini, manusia malahan membiarkan dirinya terbelenggu di dalam kebodohan batin, yang mengakibatkan dirinya selalu dibayangi oleh ketakutan dan kegelisahan. Selama beras masih terselubung oleh sekamnya, maka ia belum bisa dimakan. Demikian pula, selama manusia masih berselimutkan kebodohan batin, maka ia tidak akan bisa mengalami bliss yang sejati. Untuk itu, engkau perlu mengembangkan pengendalian diri. Melalui latihan spiritual dan praktek pengendalian diri, maka secara perlahan belenggu-belenggu kebodohan batin yang bersumber dari perbuatan di masa lampau akan bisa disingkirkan.

-BABA

Thoughts for the Day - 28th October 2007 (Sunday)

God's heart is said to be softer than butter. Yet, however soft the butter may be, it needs warmth to melt. Similarly, in order to melt the compassionate heart of the Lord, the devotee should develop the required warmth by his yearning and Sadhana (spiritual discipline). He should have intense longing for His mercy and grace. When the child cries, will the mother tarry, assessing or analyzing the tune of the cry? Similarly, it is enough if you pray to God in all earnestness. That burning desire is the only Sadhana that easily melts and moves the Lord's heart.

Hati Tuhan disebut-sebut mempunyai ciri kelembutan seperti halnya mentega (butter). Walaupun seberapa lembutnya mentega itu, ia tetap memerlukan kehangatan agar dapat dilumerkan. Analogi yang sama dapat diterapkan dalam hal yang berkaitan dengan hati Tuhan yang penuh welas-asih, dimana para bhakta perlu mengembangkan kehangatan melalui sadhana (disiplin spiritual) dan rasa cinta-kasihnya. Ia harus memiliki kerinduan yang amat dalam terhadap belas-kasih dan rahmat-Nya. Ketika seorang anak menangis, apakah ibunya akan menunda-nunda sembari menganalisa terlebih dahulu intonasi ataupun alunan suara nangis sang anak? Demikianlah, cukuplah apabila engkau berdoa kepada Tuhan dengan sepenuh hatimu. Rasa rindumu yang sedemikian mendalam merupakan satu-satunya sadhana yang secara mudah melumerkan dan menjadi daya pengerak bagi diperolehnya hati (rahmat) Tuhan.

-BABA

Friday, October 26, 2007

Thoughts for the Day - 27th October 2007 (Saturday)

There are three things which one should keep in mind, namely, "I will not think of anything except God; I will not do anything without the permission of God and I will have my attention completely fixed on God at all times." It is only when one accepts and puts into practice these three statements that the Lord will look after one's welfare. However, one does not care to follow God's injunctions and instead questions God as to why he does not look after him or her.

Terdapat tiga hal yang harus senantiasa diingat (dan dilakukan), yaitu: “Aku tidak akan memikirkan hal-hal lain selain Tuhan; Aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa adanya izin dari Tuhan dan Aku akan senantiasa memusatkan perhatianku kepada Tuhan setiap saat.” Mereka yang menerima pernyataan ini dan mempraktekannya, maka kesejahteraannya akan diurus dan dipenuhi oleh Tuhan. Namun keadaan yang ada sekarang adalah justru sebaliknya, yaitu orang-orang tidak peduli dengan arahan dan nasehat Tuhan; tetapi malahan orang-orang ini justru bertanya mengapa Tuhan tidak memperhatikan mereka.

-BABA

Wednesday, October 24, 2007

26th October (Friday)

All relationships are incidental and temporary. Hence, one must perform one's duties in the world with detachment. Even when involved in worldly life, one has to recognise the relationships between mother and son, husband and wife, brother and sister etc., as being intrinsically impermanent. Separation is inevitable sooner or later. But, between man and God there can never be any separation. Even if you forget God, He will not forget you. Therefore, develop faith in God and yearn for His Love.

Segala bentuk hubungan (di dunia ini) bersifat insidentil dan temporer. Oleh sebab itu, lakukanlah tugas & kewajibanmu di dunia ini dengan semangat ketidak-melekatan. Walaupun terlibat dalam kehidupan duniawi, engkau harus menyadari & mengenali sifat hubungan yang tidak permanen antara ibu dan anak, suami dan isteri, kakak dan adik, dan sebagainya. Perpisahan pasti akan terjadi cepat atau lambat. Akan tetapi, di antara manusia dan Tuhan, tidak akan pernah ada perpisahan. Walaupun engkau melupakan-Nya, Beliau tidak akan melupakanmu. Oleh sebab itu, kembangkanlah keyakinanmu kepada Tuhan dan dambakanlah cinta-kasih-Nya.

-BABA