Tuesday, September 30, 2008

Thoughts for the Day - 1st October 2008 (Wednesday)


All are children of God. He is the sole Lord of mankind. People may seem to differ in their names and forms and in their beliefs and practices. But the source is the One alone. Recognition of this basic truth of oneness is Brahmajnana (Knowledge of the Absolute). This knowledge cannot be gained by merely studying the scriptures and holding metaphysical discussions. What has to be recognised is the truth that every being in the universe is an embodiment of the Supreme. Awareness of the unity that subsumes the diversity is the highest knowledge.


Semuanya adalah anak-anak Tuhan. Beliau adalah Tuhan yang maha Esa. Walaupun orang-orang saling berbeda dalam hal nama, wujud, kepercayaan maupun tradisinya; namun sumber asalnya yang utama hanya satu adanya. Pengetahuan atas kebenaran hakiki ini disebut sebagai Brahmajnana (pengetahuan tentang Sang Absolut). Jenis pengetahuan seperti ini tidak bisa diperoleh semata-mata hanya melalui proses pembelajaran atas kitab-kitab suci maupun melalui diskusi-diskusi tentang aspek metafisikal. Yang perlu disadari dan diketahui adalah bahwa seluruh alam semesta ini adalah merupakan perwujudan Sang Khalik yang maha agung. Kesadaran atas aspek unity in diversity ini merupakan pengetahuan yang tertinggi.


BABA

Monday, September 29, 2008

Thoughts for the Day - 30th September 2008 (Tuesday)


Date: Tuesday, September 30, 2008

THOUGHT FOR THE DAY

Faith is essential for human progress in every field. Knowledge, and hence, wisdom can be earned only by means of faith and effort. Equipped with these, man can scale great heights and emerge victorious. However, one has to be warned against cultivating too much faith in things that are merely material. One has to root it deep in the eternal Truth, God. Faith is power. Without faith, living is impossible. We have faith in tomorrow following today. That is what makes us take up activities that extend beyond this day. People with no faith cannot plan; they court misery by their want of faith.


Keyakinan adalah faktor yang sangat penting bagi kemajuan manusia di segala bidang. Pengetahuan dan kebijaksanaan hanya bisa diperoleh melalui keyakinan dan usaha. Dengan berbekal pengetahuan dan kebijaksanaan, manusia akan mampu untuk mencapai kemajuan yang pesat dan berhasil! Akan tetapi, engkau harus berhati-hati agar jangan terlalu yakin dan menaruh kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat material/duniawi. Engkau harus menanamkan keyakinan terhadap kebenaran abadi, yaitu Tuhan! Keyakinan adalah sumber kekuatan. Tanpa adanya keyakinan, maka kehidupan ini mustahil bisa berjalan. Kita yakin akan adanya hari esok. Itulah sebabnya mengapa kita berani untuk melakukan tindakan yang menjangkau hingga melampaui hari esok. Orang-orang yang tak berkeyakinan tidak mungkin membuat perencanaan; mereka hanya akan menghadapi kegagalan sebagai akibat tidak adanya keyakinannya.

-BABA


Sunday, September 28, 2008

Thoughts for the Day - 29th September 2008 (Monday)


Date: Monday, September 29, 2008

THOUGHT FOR THE DAY

You do not see the foundations of a skyscraper. Can you, therefore, argue that it simply sits on the ground? The foundations of this life are laid deep in the past, in lives already lived by you. This structure has been shaped by the ground plan of those lives. It is the unseen foundation that decides the structure and design of the entire edifice.


Engkau tidak melihat fondasi dari sebuah gedung pencakar langit. Bila demikian halnya, lalu apakah engkau masih berargumentasi bahwa gedang itu duduk begitu saja di atas tanah? Fondasi/landasan dari kehidupanmu ini sudah tertanam sejak berbagai kehidupan lampau yang telah engkau jalani. Struktur (kehidupan) telah terbentuk melalui serangkaian tahapan kehidupan tersebut. Fondasi-fondasi yang tak terlihat itulah yang menentukan kerangka dan desain dari keseluruhan bangunan (kehidupan) ini.

-BABA


Saturday, September 27, 2008

Thoughts for the Day - 28th September 2008 (Sunday)



Date: Sunday, September 28, 2008

THOUGHT FOR THE DAY

The ego brings wave after wave of wants and wishes before your attention, and tempts you to attempt to satisfy them. This is a never-ending circle. So try to reduce your wants and expand the range of your love in order to be free from the coils of your ego. Living involves many confrontations, companionships, separations, conflicts and neglects. We have to give up both the types of contacts - the repugnant and the pleasant. Attach yourself to God and the delusion of the world will automatically fall off.


Sang ego menghasilkan gelombang keinginan dan harapan serta mendorongmu untuk melakukan upaya-upaya guna memuaskan keinginan tersebut. Siklus ini seolah-olah tiada berakhir. Oleh sebab itu, cobalah untuk mengurangi keinginanmu serta sebarkanlah cinta-kasihmu agar terbebas dari jeratan & perangkap ego. Kehidupan ini sarat dengan konfrontasi, persekutuan, perpisahan, konflik dan pengingkaran lainnya. Kita hendaknya berupaya untuk melepaskan kedua bentuk relasi/kontak, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Dekatkanlah dirimu kepada Tuhan, maka delusi duniawi ini secara otomatis tidak akan menghantuimu lagi.

-BABA

Friday, September 26, 2008

Thoughts for the Day - 27th September 2008 (Saturday)


There is no need to go in quest of God. In fact, it is God who is in search of a genuine and steadfast devotee. Today's Sadhaka (spiritual aspirant) is approaching God for the fulfilment of his petty desires. He does not seek to understand the nature of true love or the Divinity that underlies everything. Just as the sun can be seen only by its own light, the love of the Divine can be acquired only by Divine Grace and not by pursuing some trivial practices. The Sadhanas (spiritual practices) that the Sadhaka undertakes are invariably motivated by selfish objectives. Only when the Sadhaka's heart is filled with the Divine, will he be able to entertain pure and sacred love.

Engkau tidak perlu mencari-cari keberadaan Tuhan. Sebenarnya, justru Tuhan yang sedang mencari bhakta yang murni hatinya dan yang pendiriannya mantap. Dewasa ini, para sadhaka (aspiran spiritual) umumnya mencari/mendekati Tuhan demi untuk terpenuhinya keinginan duniawinya. Ia tidak mencoba untuk memahami arti sebenarnya dari cinta-kasih sejati maupun aspek Divinity yang melandasi segala sesuatu (yang ada di dunia ini). Sebagaimana matahari hanya dapat terlihat berkat bantuan cahayanya, maka demikian pula, cinta-kasih Ilahiah hanya bisa diperoleh melalui Rahmat Ilahi dan bukan dengan cara maupun praktek-praktek yang tak berguna lainnya. Praktek spiritual (sadhana) yang dilaksanakan oleh para sadhaka umumnya dimotivasi oleh tujuan-tujuan yang hanya untuk mementingkan dirinya sendiri. Cinta-kasih yang suci dan murni hanya bisa diperoleh apabila para sadhaka mengisi hatinya dengan Divine.
-BABA

Thursday, September 25, 2008

Thoughts for the Day - 26th September 2008 (Friday)


What is realization? The moment you see your inner beauty and are so filled with it that you forget all else, you are free from all bonds; you know that you are all Beauty, all Glory, all Power; the reflection of Shivam (God) in the mirror of Prakruthi (nature) is Jiva (the individual).

Apakah yang dimaksud dengan realisasi (pencerahan diri)? Di kala engkau melihat inner beauty (keindahan internal) dirimu serta ketika engkau begitu terlarut di dalamnya sehingga melupakan hal-hal lainnya; maka itulah pencapaian realisasi diri. Di samping itu, dalam kondisi tercerahkan, engkau terbebaskan dari segala bentuk kemelekatan dan telah menjadi satu dengan-Nya. Refleksi/cerminan dari Shivam (Tuhan) di dalam Prakruthi (alam) adalah Jiva (individu).
-BABA

Wednesday, September 24, 2008

Thoughts for the Day - 25th September 2008 (Thursday)


You have to busy yourselves with activity in order to use time and skill to the best advantage. That is your duty, and duty is God. The dull and the inert (Tamasic) will hesitate to be active for fear of exhaustion or failure. The emotional and passionate individuals (Rajasic) will plunge headlong, craving for quick results and be disappointed when results do not come in as expected. The persons with balance of mind (Sathwic) will be active, considering it their duty; success or failure will not disturb their equanimity. The godly will take up activity as a means of worshipping God. They leave the fruits of their efforts to God, as they know they are but instruments in His hands.

Engkau harus mengisi waktumu dengan aktivitas/kegiatan agar waktu dan tenagamu dapat diberdaya-gunakan dengan sebaik mungkin. Inilah tugas/kewajibanmu dan ingatlah bahwa duty/tugas adalah Tuhan! Mereka yang lembam/malas (sifat Tamasic) cenderung akan bersikap ragu-ragu untuk beraktivitas oleh karena rasa takut gagal. Sementara itu, mereka yang bersifat Rajasic (tipe emosional dan bergairah) akan langsung terjun dalam kegiatannya, namun ia condong ingin mendapatkan hasil yang cepat dan akan merasa kecewa bila hasil yang diperolehnya tidak sesuai dengan harapannya. Sedangkan orang yang memiliki keseimbangan batin (Sathwic) akan selalu beraktivitas, namun ia beranggapan bahwa aktivitasnya itu adalah bagian dari tugas/kewajibannya; dan mereka tidak akan terganggu ketenangannya baik di kala sukses maupun gagal. Mereka akan melakukan setiap bentuk aktivitas sebagai bagian dari ibadah. Hasil-hasil dari jerih payahnya dipasrahkan kepada Tuhan, sebab mereka meyakini bahwa dirinya tiada lain adalah instrumen di tangan-Nya.
-BABA