Friday, August 26, 2011

Thought for the Day - 26th August 2011 (Friday)

One may have immense faith in God. But from time to time, the power of Maya (illusion) may undermine one’s faith. Even in testing times, faith in God should never waver. Under no circumstances should anyone go against the injunctions of the Divine. Whatever worship one may offer, however intensely one may meditate, if one transgresses the commands of the Lord, these devotional practices become futile. The reason is that the Divine has no selfish objective or aim. It is out of small-minded selfish motives that people act against the sacred commands of the Lord. Even small acts of transgression may in due course assume dangerous proportions.

Seseorang mungkin memiliki keyakinan yang besar pada Tuhan. Tapi dari waktu ke waktu, kekuatan Maya (ilusi) dapat merusak keyakinan seseorang. Pada waktunya diadakan pengujian, keyakinan pada Tuhan seharusnya tidak pernah goyah. Tidak ada suatu keadaan apapun seseorang dapat melawan perintah-perintah Tuhan. Apapun pemujaan yang dilakukan seseorang, bagaimanapun intensitas seseorang untuk melakukan meditasi, jika seseorang melanggar perintah Tuhan, praktek-praktek bhakti yang telah dilakukan menjadi sia-sia. Alasannya adalah bahwa Tuhan tidak memiliki tujuan tertentu. Sekecil apapun pelanggaran/ dosa yang dilakukan sangatlah berbahaya.

-BABA

Thursday, August 25, 2011

Thought for the Day - 25th August 2011 (Thursday)

In the vessel of your heart, there is the wick of your Jiva (mind). That wick has been immersed all these days in the water of sensuous desires. Therefore, you are not able to light the lamp of wisdom. Pour out all the water of desires from the vessel of your heart, and fill it with Namasmarana of God. Take the wick of Jiva (mind) and dry it in the sunshine of Vairagya (detachment). After you squeeze out of it all the water present in the form of your desires from the wick of Jiva, fill your heart with the oil called devotion or Namasmarana (chanting the Lord’s name). Then you will be able to light the Jyothi or lamp of wisdom in your heart.

Dalam bejana hatimu, ada sumbu Jiva-mu (batin). Sumbu ini telah tenggelam dalam air keinginan sensual-mu sehingga engkau tidak mendapatkan cahaya lampu kebijaksanaan. Tuangkanlah semua air keinginan dari bejana hatimu, dan isilah dengan Namasmarana (menchantingkan Nama Tuhan). Ambillah sumbu Jiva (batin) tersebut dan keringkanlah di bawah sinar matahari Vairagya (ketidakterikatan). Setelah engkau mengeluarkan semua air tersebut, isilah hatimu dengan minyak yang disebut pengabdian (bhakti) atau Namasmarana (menchantingkan Nama Tuhan). Setelah itu barulah engkau akan mendapatkan cahaya Jyothi atau lampu kebijaksanaan dalam hatimu.

-BABA

Wednesday, August 24, 2011

Thought for the Day - 24th August 2011 (Wednesday)

God is the embodiment of Love. Man, who is an image of the Divine, should have love as his basic quality. Why, then, is man infected with qualities like hatred, envy, pride and self-conceit? The reason is: man's heart gets polluted by his love being turned towards external objects. The image of the Lord cannot be imprinted on a heart that is impure. It is only when man realizes the omnipresence and omniscience of God that he can comprehend the nature of Divinity. Only then will he recognise the Divinity within him. To experience the joy that springs from a devotee who has developed Sannikarsha Bhakti (magnetic love towards God), you must show love and reverence towards elders and serve them with humility and respect. Towards equals, you must show love and friendliness. Towards the young, you should extend sympathy and loving care. By these means, you can demonstrate your love and regard for the Divine that is in each of them and in all of us.

Tuhan adalah perwujudan dari cinta-kasih. Manusia, yang merupakan bayangan dari Tuhan, harus memiliki cinta-kasih sebagai sifat dasar-nya. Mengapa, kemudian, manusia dijangkiti dengan sifat-sifat seperti kebencian, iri hati, kebanggaan, dan keangkuhan? Alasannya adalah: hati manusia telah dicemari oleh objek-objek material (duniawi). Bayangan Tuhan tidak dapat ditempatkan pada hati yang tidak murni. Hanya ketika orang menyadari bahwa Tuhan Maha Ada dan Maha Tahu baru kemudian ia dapat memahami sifat Tuhan dan selanjutnya ia akan menyadari Keilahian yang ada dalam dirinya. Untuk mengalami sukacita yang muncul dari bhakta yang telah mengembangkan Sannikarsha Bhakti (magnet cinta-kasih terhadap Tuhan), engkau harus menunjukkan cinta dan hormat terhadap orang tua dan melayani mereka dengan kerendahan hati dan penuh hormat, serta menunjukkan cinta-kasih dan keramahan. Dengan yang muda, engkau harus memberikan rasa simpati dan perhatian penuh kasih. Dengan cara ini, engkau dapat menunjukkan cinta-kasihmu dan menganggap bahwa Tuhan ada dalam diri mereka dan ada dalam diri kita semua.

-BABA

Tuesday, August 23, 2011

Thought for the Day - 23rd August 2011 (Tuesday)

Only when you put into practice the love in which you have faith, love will grow. Since you do not practice what you profess, your faith gets weakened. A plant will grow only when it is watered regularly. When you have planted the seed of love, you can make it grow only by watering it with love every day. The tree of love will grow and yield the fruits of love. Many today do not perform those noble deeds that will promote love. When you wish to develop love for the Lord, you must continuously practice loving devotion to the Lord.

Cinta-kasih akan tumbuh, hanya ketika engkau mempraktekkan cinta-kasih di mana engkau memiliki keyakinan. Ketika engkau tidak mempraktekkan apa yang engkau anut, keyakinanmu akan melemah. Tanaman akan tumbuh hanya bila disiram secara teratur. Bila engkau telah menanam benih cinta-kasih, engkau dapat membuatnya tumbuh hanya dengan menyiraminya dengan cinta-kasih setiap hari. Pohon cinta-kasih akan tumbuh dan menghasilkan buah cinta-kasih. Banyak orang saat ini tidak melakukan perbuatan mulia yang tidak meningkatkan cinta-kasih. Jika engkau ingin mengembangkan cinta-kasih Tuhan, engkau harus terus mempraktekkan pengabdian dengan cinta-kasih pada Tuhan.

-BABA

Monday, August 22, 2011

Thought for the Day - 22nd August 2011 (Monday)

Krishna is the embodiment of Love. The very word "Krishna" means one who attracts--"Karshatiti Krishna" (Krishna is one who attracts). "Krishyatiti Krishna" (Krishna is one who cultivates) is another derivation for the name. This means that Krishna is the Lord who cultivates the heart of the devotee by removing the weeds, sowing the seed of good qualities and growing the crop of love. "Kushyatiti Krishna" meaning, He is the one who gives delight. Krishna thus means the one who cultivates our hearts and raises in them the crop of bliss. The supreme message of the life of Krishna is the Divine Love Principle. Divine Love is strong, brilliant and unbreakable like diamond, and is also extremely precious. If you want to secure such Divine love, your love for God must be equally strong. You can cut diamond only with another diamond.

Sri Krishna adalah perwujudan dari Cinta-kasih. Kata "Krishna" berarti yang menarik - "Karshatiti Krishna" (Krishna adalah yang menarik). "Krishyatiti Krishna" (Krishna adalah yang memelihara) merupakan turunan untuk nama lain Sri Krishna. Ini berarti bahwa Krishna adalah Tuhan yang memupuk hati para bhakta dengan menghapus gulma, menabur benih kualitas yang baik dan memelihara tanaman cinta-kasih. Kita juga dapat mengatakan "Kushyatiti Krishna" yang berarti, Krishna yang memberi kegembiraan/ kebahagiaan. Dengan demikian Krishna berarti yang memupuk hati kita dan memeliharanya dalam kebahagiaan sejati. Pesan tertinggi kehidupan Sri Krishna adalah Prinsip Cinta Ilahi. Cinta Ilahi yang sangat berharga, kuat, bercahaya, dan tidak bisa dihancurkan seperti berlian. Jika engkau ingin mendapatkan cinta Ilahi seperti itu, cinta-kasihmu kepada Tuhan harus sama-sama kuat. Engkau dapat memotong berlian hanya dengan berlian lainnya.

-BABA

Thought for the Day - 21st August 2011 (Sunday)

The Divine incarnates from age to age for the purpose of protecting the virtuous, punishing the wicked and establishing righteousness. Krishna was one such manifestation of the Divine. In fulfilling his pledge to Mother Earth, He rid the world of many wicked rulers and sought to establish the reign of righteousness for the protection of the good. Today, if the Divine wants to punish the wicked and protect the righteous, there will not be even one wholly righteous person. All will qualify for punishment. Hence it is not a question of destroying the wicked. The task today is to transform Adharma (unrighteousness) into Dharma (righteousness). This has to be done through love alone.

Divine (Tuhan) menjelma dari zaman ke zaman dengan tujuan untuk melindungi kebajikan, menghukum yang jahat dan menegakkan dharma. Sri Krishna adalah salah satu perwujudan Tuhan. Dalam memenuhi janjinya kepada Ibu Pertiwi, Beliau membebaskan dunia dari banyak penguasa jahat dan berusaha untuk menegakkan dharma untuk melindungi yang baik. Tetapi, saat ini jika Tuhan ingin menghukum yang jahat dan melindungi yang benar, Beliau tidak akan menemukan seorang-pun orang yang benar-benar sepenuhnya baik, semuanya memenuhi syarat untuk dihukum. Oleh karena itu masalahnya bukan pada menghancurkan orang yang jahat, tugas saat ini adalah untuk mengubah adharma (ketidakbenaran) menjadi Dharma (kebenaran). Ini harus dilakukan hanya melalui cinta-kasih.

-BABA