Tuesday, August 6, 2013

Thought for the Day - 6th August 2013 (Tuesday)

‘Samskrithi’, the Sanskrit word for culture, is derived from the root word ‘Samskara’ which means the dual process of removing dust and dirt, and planting the virtues of Truth, Right Conduct, Love, Non-violence and Love. Certain obligatory rites of initiation and purification prescribed by the Vedas for one’s spiritual upliftment, are also referred to as Samskaras. There are 48 such, but all of them can be reduced to just one, which is the final and fulfilling one - recognition of one’s identity with the Divine. Man (Nara) is God (Narayana). The individual entity (Jiva) is Divinity (Brahman) seen through the limitations of primal ignorance.

‘Samskrithi', kata Sanskerta untuk kebudayaan, berasal dari akar kata 'Samskara' yang berarti proses untuk menghilangkan debu dan kotoran, dan penanaman nilai-nilai Kebenaran, Perilaku yang Benar/Kebajikan, Cinta-kasih, Tanpa-kekerasan, dan Cinta-kasih. Inisiasi dan pemurnian yang ditentukan oleh Veda untuk peningkatan spiritual seseorang, juga disebut sebagai samskaras. Ada 48 jenis, tetapi semuanya dapat direduksi menjadi satu, yang merupakan final dan memenuhi salah satu yaitu menyadari identitasnya dengan Ilahi. Man (Nara) adalah Tuhan (Narayana). Entitas individual (jiva) adalah Divinity (Brahman) terlihat melalui keterbatasan (kebodohan/ketidaktahuan).

Monday, August 5, 2013

Thought for the Day - 5th August 2013 (Monday)


Walk the path shown to you by the Ramayana, Mahabharatha, Bhagavatha and other scriptures. Proceed along that path, unmindful of halts and handicaps, approvals or disapproval of kith and kin, of praise or blame from society. What exactly is praise or blame? They are words - just sound waves coming from across the air; waves that strike your ear. Let them strike only the outer ear, do not welcome them in. Grace is won by suffering alone. The Lord incarnates in the world when unrighteousness becomes rampant. Therefore adharma (unrighteousness) has to be suffered so that each one may have the joy of welcoming the Lord and experiencing His Presence.

Berjalanlah di jalan yang telah ditunjukkan padamu oleh Ramayana, Mahabharatha, Bhagavatha, dan kitab suci lainnya. Lanjutkanlah di sepanjang jalan itu, tidak menghiraukan tempat pemberhentian dan rintangan, persetujuan atau ketidaksetujuan dari sanak kerabat, serta pujian atau celaan dari masyarakat. Apa sebenarnya pujian atau celaan? Itu semua adalah kata-kata - hanya gelombang suara yang datang dari udara; gelombang yang menyerang telingamu. Biarlah ia hanya menyerang telinga bagian luar, janganlah menyambut mereka masuk ke dalam (batin). Berkat Tuhan hanya bisa dicapai jika engkau mampu mengalahkan serangan ini. Tuhan ber-inkarnasi turun ke dunia ini ketika kejahatan merajalela. Oleh karena itu adharma (kejahatan) harus dikalahkan sehingga kalian semua memiliki sukacita menyambut Tuhan dan mengalami kehadiran-Nya.
-BABA

Sunday, August 4, 2013

Thought for the Day - 4th August 2013 (Sunday)


All objects are suffused by the same Divine Principle. All names are attributes of His glory. Divinity is imminent and inherent in every soul, and the process of reminding people of this fact began with the very dawn of human history. What is to be done to lead a Divine life? Remove the fog which hides the Truth! The fog of illusion makes you believe that you are something inferior, momentary, evanescent and material! That is incorrect! All are holy, pure and are part of Eternity. Each one of you shine in proportion to your spiritual efforts (Sadhana), just as bulbs spread illumination according to their wattage. There is no body which is not sustained by the Absolute. There is no name that does not indicate the Universal. All are His!


Semua objek  diliputi oleh Divine Principle yang sama. Semua Nama adalah atribut kemuliaan-Nya. Divinity berada dekat dan melekat dalam setiap jiwa, dan proses untuk mengingatkan orang-orang akan kebenaran ini telah dimulai pada awal sejarah manusia. Apa yang harus dilakukan untuk menjalani kehidupan berdasarkan Ilahi? Lepaskan kabut yang menyembunyikan kebenaran! Kabut ilusi membuatmu percaya bahwa engkau adalah sesuatu yang rendah, sesaat, cepat berlalu dari ingatan dan material! Itu tidaklah benar! Semua adalah suci, murni, dan merupakan bagian dari keabadian. Masing-masing dari engkau bersinar sesuai dengan proporsinya dalam spiritual (Sadhana), dapat diibaratkan seperti lampu penerangan yang menyebarkan sinarnya sesuai dengan daya/watt-nya. Tidak ada satu badan-pun yang tidak ditopang oleh Yang Absolut (Tuhan). Tidak ada suatu nama yang tidak menunjukkan Universal. Semuanya adalah milik-Nya!
-BABA

Saturday, August 3, 2013

Thought for the Day - 3rd August 2013 (Saturday)


Many of you often come to Puttaparthi or visit other holy places. You hear scholars expounding the scriptures. You have observed great and noble souls. What is the benefit? How have you improved by all this? Have you succeeded in at least recognising your rajasik (passionate) and thamasik (dark) habits and tendencies? Recognizing them as deleterious is the first step in removing them. Have you become more and more serene and poised (Sathvik) as the years go by, or are you the same dull or perhaps fiery individual? If you must know the Lord, you must love the Lord and lead your life with good conduct. Hatred or even indifference will result only in misunderstanding. Develop close association with the Lord and He will reveal Himself to you.

Banyak dari kalian sering datang ke Puttaparthi atau mengunjungi tempat-tempat suci lainnya. Engkau mendengarkan para Guru menguraikan Kitab suci. Engkau telah melihat jiwa besar dan mulia. Apa manfaatnya? Bagaimana engkau bisa memperbaiki/meningkatkan dirimu dengan semua ini? Apakah engkau berhasil dalam setidaknya mengenali kebiasaan dan kecenderungan sifat rajasik dan thamasik-mu? Menyadari sifat-sifat tersebut sebagai sifat yang merugikan adalah langkah pertama dalam menghilangkannya. Apakah engkau menjadi lebih tenang dan Sathvik seiring dengan berjalannya waktu, atau engkau menjadi individu yang lamban atau mungkin menjadi invidu yang menyala-nyala (pemarah)? Jika engkau memahami Tuhan, engkau harus mengasihi Tuhan dan mengarahkan hidupmu pada perilaku yang baik. Kebencian atau bahkan ketidakpedulian hanya akan menghasilkan kesalahpahaman. Kembangkanlah hubungan yang dekat dengan Tuhan maka Dia akan menampakkan diri-Nya padamu.
-BABA

Friday, August 2, 2013

Thought for the Day - 2nd August 2013 (Friday)


Parents and teachers must see that children learn good habits and attitudes in their formative years. What is read from books must be contemplated upon and reflected upon in silence and quietness. This is a very good exercise in intellectual development and in the acquisition of mental peace. The instinct to quarrel and fight over any and all misunderstandings must be regulated and sublimated. You should not cause children to suffer mental anguish or physical pain! Children also should not enjoy the infliction of pain on any being. They must be brought up with a sense of responsibility. They should be taught not to take delight in showing off their dress, ornaments, status or wealth before the less fortunate. They must be taught from early on, habits of personal cleanliness and most importantly, the habit of prayer at regular hours.

Orang tua dan guru harus melihat anak-anak mempelajari kebiasaan-kebiasaan dan sikap-sikap yang baik dalam tahun-tahun perkembangan mereka. Apa yang dibaca dari buku-buku harus direnungkan dan direfleksikan dalam keheningan dan ketenangan. Inilah latihan yang sangat baik dalam perkembangan intelektual dan akuisisi kedamaian mental. Naluri untuk berselisih dan bertengkar dan semua kesalahpahaman harus diselesaikan dan diakhiri. Engkau seharusnya tidak menyebabkan anak-anak mengalami penderitaan mental atau sakit fisik! Anak-anak juga seharusnya tidak menikmati penderitaan yang dialami setiap makhluk. Mereka harus dibesarkan dengan rasa tanggung jawab. Mereka harus diajarkan untuk tidak mengambil kesenangan dalam memamerkan pakaian mereka, ornamen, status, atau kekayaan sebelum keberuntungan tersebut lenyap. Mereka harus diajarkan sejak dini, kebiasaan kebersihan pribadi dan yang paling penting, kebiasaan berdoa secara teratur.
-BABA

Thursday, August 1, 2013

Thought for the Day - 1st August 2013 (Thursday)



The first step in samskara (refinement) is to remove dirt from the mind. Know that envy is the stickiest dirt. You must be happy, when people around you are happy. That is the true test. The Ramayana says that Lord Rama was happy when joyous events happened to others around, as if they happened to Him. Krishna describes Arjuna as An-asuya (envy-less). What a great compliment to receive from the Master Himself! That is why Lord Krishna taught the mysteries of spiritual discipline to Arjuna. Have deep Love for the Lord. But be very careful not to become depressed with envy when others also love Him or get His attention and become attached to Him. Always be vigilant to have love without envy.


Langkah pertama dalam samskara (pemurnian) adalah untuk menghilangkan kotoran dari pikiran. Ketahuilah bahwa iri hati adalah kotoran yang paling rumit. Engkau seharusnya berbahagia, ketika orang-orang di sekitarmu berbahagia. Itulah ujian yang sejati. Ramayana menyatakan bahwa Sri Rama berbahagia ketika suatu peristiwa yang membahagiakan terjadi pada orang lain disekitarnya, seolah-olah terjadi pada-Nya. Krishna menggambarkan Arjuna sebagai An-asuya (memiliki sedikit perasaan iri). Suatu pujian besar dari Sang Master sendiri! Itulah sebabnya Krishna mengajarkan misteri disiplin spiritual pada Arjuna. Milikilah Cinta-kasih yang mendalam pada Tuhan. Tetapi berhati-hatilah untuk tidak bersedih dan memiliki perasaan iri hati ketika orang lain juga mengasihi-Nya atau mendapatkan perhatian dari-Nya dan menjadi terikat pada-Nya. Engkau hendaknya memiliki cinta-kasih tanpa ada perasaan iri hati.
-BABA

Wednesday, July 31, 2013

Thought for the Day - 31st July 2013 (Wednesday)

The women of a country should be happy, healthy and holy. Every woman has a very crucial role to play in their individual uplift and the uplift of their homes and societies around them. Young girls and women alike should learn the technique of mental calm, social harmony and contentment with their livelihood. They should also know that joy can be attained only through service to those in need and in distress without any expectation of the benefits that may follow from the kindness shared. They should learn to lay aside the egoism that poisons the service activities. Even those serving for years tend to extol and promote themselves as the founders of institutions and guardians of the poor and needy. The benefit and joy from any act of service is the act itself. The fruit of service is the removal of egoism, not its multiplication.

Para wanita di suatu negara hendaknya senantiasa berbahagia, sehat, dan suci. Setiap wanita memiliki peranan yang sangat penting untuk meningkatkan diri mereka masing-masing dan juga memajukan rumah tangga serta masyarakat di sekitar mereka. Para wanita hendaknya belajar teknik ketenangan mental, harmoni sosial dan kepuasan pada mata pencaharian mereka. Mereka juga hendaknya mengetahui bahwa kebahagiaan dapat dicapai hanya melalui pelayanan kepada mereka yang membutuhkan dan bagi mereka yang mengalami kesusahan tanpa mengharapkan apapun dari kebaikan yang telah diberikan. Mereka hendaknya belajar untuk mengesampingkan egoisme yang meracuni pelayanan yang dilakukan. Mereka melakukan pelayanan selama bertahun-tahun cenderung memuji dan mempromosikan diri mereka sebagai lembaga sosial dan pelindung bagi mereka yang miskin dan membutuhkan. Manfaat dan kebahagiaan dari setiap tindakan pelayanan adalah tindakan itu sendiri. Sesungguhnya, hasil dari melakukan pelayanan adalah untuk menghilangkan egoisme.

-BABA