Friday, June 12, 2015

Thought for the Day - 12th June 2015 (Friday)

Humans are full of love. Their hearts are springs of mercy. They are endowed with true speech. Peace is the characteristic of the human mind; it is its innate quality. There is no need to go anywhere else in search of peace. Just as gold and silver lie hidden under the earth, and pearl and coral under the sea, peace and joy lie hidden in the activities of the mind. Desirous of acquiring these hidden treasures, if one dives and turns mental activities inward, one becomes full of love. Only one who has so filled oneself with love and who lives in the light of that love can be called human. Those devoid of love are demons, monsters and subhumans. That holy quality of love will not waver in its presence; it will be ever present, without change. It is one and indivisible. Those saturated with love are incapable of spite, selfishness, injustice, wrong, and misconduct.


Manusia adalah penuh dengan cinta kasih. Hati mereka sumber mata air dari kemurahan hati. Mereka dikaruniai dengan kemampuan bicara yang benar. Kedamaian adalah ciri dan karakterisitik dari pikiran manusia dan merupakan sifat bawaannya. Tidak diperlukan lagi untuk pergi kemanapun mencari kedamaian. Sama halnya dengan emas dan perak yang tersembunyi di bawah tanah, dan permata serta karang yang tersembunyi di bawah laut. Kedamaian dan suka cita bersembunyi di balik kegiatan pikiran. Keinginan untuk mendapatkan harta karun yang tersembunyi ini maka seseorang harus menyelam dan mengarahkan semua aktifitas mentalnya ke dalam diri dan ia akan penuh dengan cinta kasih. Hanya ketika seseorang memenuhi dirinya dengan cinta kasih dan hidup dalam pelita cinta kasih, layak di sebut sebagai manusia. Bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki cinta kasih adalah raksasa, monster, dan bukan manusia. Kualitas suci dari cinta kasih tidak akan goyah dalam kehadirannya; cinta kasih akan selalu ada tanpa adanya perubahan. Cinta kasih adalah satu dan tidak terpisahkan. Bagi mereka yang penuh dengan cinta kasih adalah mereka yang tidak bisa memiliki rasa dengki, egois, tidak adil, salah, dan jahat. (Prema Vahini, Ch 47)

-BABA

Thursday, June 11, 2015

Thought for the Day - 11th June 2015 (Thursday)

You must proceed ever towards strength (balam); you must not take to untruth, wickedness, crookedness - all of which denote a fundamental fatal trait of cowardice and weakness (Balaheenam). Weakness is born of accepting as true a lower image of yourself than you truly are. You believe you are the husk, but you really are the kernel. This is a key fact. All your spiritual practices must be directed to the removal of the husk and the revelation of the kernel. So long as you say, “I am”, there is bound to be fear, but once you say and feel, “Aham Brahmasmi” (I am Divine), you get infinite strength. The influence of the Divine is so subtle and strong that while you are contemplating on Him, all traces of envy and greed will disappear from your mind. The pure love the cowherds (Gopis) had for Lord Krishna is a great example. This is the characteristic of Divine Incarnations at all times.

Engkau sesungguhnya harus melangkah maju menuju pada kekuatan (balam); engkau seharusnya tidak melakukan ketidakbenaran, kejahatan, kebusukan – yang mana semuanya itu adalah sifat dasar yang menentukan sifat pengecut dan kelemahan (Balaheenam). Kelemahan lahir dari menerima dengan benar tentang gambaran dirimu yang rendah daripada gambaran dirimu yang sesungguhnya. Engkau percaya bahwa engkau adalah sekam, namun dirimu yang sebenarnya adalah bijinya. Ini adalah sebuah fakta kunci. Semua latihan spiritualmu harus diarahkan untuk menghilangkan semua sekam yang ada dan mengungkapkan biji yang ada di dalamnya. Semasih engkau mengatakan, “saya adalah”, maka ada ikatan untuk rasa takut, namun sekali engkau berkata dan merasakan, “Aham Brahmasmi” (aku adalah Tuhan), engkau akan mendapatkan kekuatan yang tidak terbatas. Pengaruh dari Tuhan adalah bersifat kuat dan halus ketika engkau merenungkan-Nya, semua jejak dari kebencian dan ketamakan akan sirna dari pikiranmu. Cinta kasih yang murni dari para pengembala sapi (Gopi) yang mereka miliki untuk Krishna adalah contoh yang sungguh luar biasa. Ini adalah karakteristik dari inkarnasi Tuhan sepanjang waktu. (Divine Discourse, 14 Jan 1964.)

-BABA

Wednesday, June 10, 2015

Thought for the Day - 10th June 2015 (Wednesday)

By carrying a bundle of sandalwood, can a donkey become an elephant? The donkey will sense the difference in weight but not the scent! On the other hand, the elephant disregards the weight and inhales the sweet scent. So too, the spiritual aspirant, or devotee will take in only the pure truth, the pure essence of good activities, of godliness and scriptures. On the other hand, one who goes on arguing for the sake of mere scholarship, learning, and disputation will know only the weight of logic, missing the scent of truth! Love (prema) is the most effective instrument for constantly remembering the Lord. Keeping that instrument safe and strong needs the power of discrimination (Viveka). Many in the world utilize their vast learning in disputation to prove their superiority; this is a great mistake. If they really were so learned, they would silently experience the core, the pure Divine.


Dengan membawa seikat kayu cendana, dapatkah seekor keledai menjadi seekor gajah? Keledai akan merasakan ada yang beda dalam berat namun tidak dengan aromanya! Sebaliknya, seekor gajah tidak memperdulikan suatu berat benda tetapi menghirup bau wangi aroma. Begitu juga dengan peminat spiritual atau pemuja Tuhan (bhakta)  hanya akan mengambil kebenaran yang murni, intisari yang murni dari perbuatan baik, dan kebaikan dari kitab suci. Sebaliknya, seseorang yang berdebat untuk kepentingan kesarjanaan semata, belajar dan perdebatan hanya akan mengetahui takaran logika dan kehilangan aroma dari kebenaran! Cinta kasih (prema) adalah sarana yang paling efektif untuk secara tanpa henti mengingat Tuhan. Untuk menjaga agar sarana itu tetap aman dan kuat maka memerlukan kekuatan dari kemampuan membedakan (Viveka). Banyak orang yang ada di dunia ini memanfaatkan pengetahuan mereka yang luas dalam perdebatan untuk membuktikan kehebatan mereka; ini adalah kesalahan yang besar. Jika mereka adalah terpelajar, mereka akan diam untuk mengalami inti dari keillahian yang suci. (Prema Vahini, Ch 44)

-BABA

Thought for the Day - 9th June 2015 (Tuesday)

The Master comes to save not one good person from illusion, but the whole of mankind. He assumes a Form that people can love, appreciate and revere. He gives joy and courage by speaking your language. The only blemish that comes in between your mind and the Master is illusion. Illusion is like a fierce dog that will not allow anyone to approach the Master. You can manage to bypass it by calling out to the Master loudly so that He Himself comes down and accompanies you to His home. That is to say, you must win the Lord’s Grace to attain His proximity (Saameepyam). Illusion is the Lord’s pet, so it will not harm you if the Lord orders it to desist from harming you. So just as you give the goldsmith a broken or a dented ornament and receive a fine jewel back, entrust your mind to the Lord. It certainly needs repair, if not complete reconstruction.


Sang guru datang tidak untuk menyelamatkan satu orang baik dari khayalan, namun menyelamatkan seluruh umat manusia. Beliau mengambil wujud yang dapat dicintai oleh manusia, menghargai dan menghormatinya. Beliau memberikan suka cita dan keberanian dengan berbicara menggunakan bahasamu. Satu-satunya cacat cela yang ada diantara pikiranmu dan sang guru adalah khayalan. Khayalan atau ilusi adalah seperti seekor anjing galak yang tidak akan mengijinkan siapapun untuk mendekati tuannya. Engkau dapat menanggulangi masalah ini dengan memanggil dengan keras tuannya sehingga tuannya akan datang dan menemanimu masuk ke dalam rumahnya. Itulah dikatakan bahwa engkau harus dapat memenangkan rahmat Tuhan untuk bisa mendapatkan kedekatan dengan-Nya (saameepyam). Khayalan atau ilusi adalah hewan peliharaan Tuhan, jadi hewan itu tidak akan menyakitimu jika Tuhan menyuruhnya untuk berhenti. Jadi, sama halnya ketika engkau memberikan tukang emas sebuah perhiasan yang patah atau rusak dan menerima perhiasan yang bagus kembali, percayakan pikiranmu kepada Tuhan. Pikiran pastinya memerlukan perbaikan dan jika tidak selesai  dibentuk ulang kembali. (Divine Discourse Jan 1, 1964)

-BABA

Monday, June 8, 2015

Thought for the Day - 8th June 2015 (Monday)

Inclinations (vasanas) won’t disappear as long as one’s heart is full of the illusion of egotism, even if one is immersed in many heart-purifying spiritual disciplines. Such people, if they want to get rid of the feeling of ‘I’ and ‘mine’, must worship the Lord. One whose heart is ruled by the group of six passions can have only ego as counselor! Those who have such a counselor are worse than foolish, however great they claim to be as pundits, aspirants, or renunciants. People experience joy and misery through the ear. Therefore avoiding the cruel arrows of hard words, one should use sweet, pleasant and soft ones — and with that softness, add the sweetness of truth. Making the word soft by adding falsehood only clears the way for more misery. A person who has become a spiritual aspirant should use very soft, sweet, true, and pleasant words. Such a person can be recognised by their good qualities.


Kecenderungan keinginan (vasanas) tidak akan hilang selama hati seseorang masih penuh dengan ilusi egoisme, walaupun seseorang tenggelam dalam banyak latihan spiritual untuk memurnikan hati. Orang-orang yang seperti itu, jika mereka ingin melepaskan perasaan tentang “aku” dan “milikku” harus memuja Tuhan. Seseorang yang hatinya dikuasai oleh enam jenis nafsu atau keinginan hanya memiliki ego sebagai penuntunnya! Mereka yang memiliki ego sebagai penuntunnya maka mereka lebih buruk daripada orang dungu sekalipun mereka dipanggil dengan nama-nama yang hebat seperti cendekiawan, peminat spiritual, atau yang melepaskan kehidupan duniawi. Orang-orang mengalami suka cita dan penderitaan melalui telinga. Maka dari itu hindari panah tajam berupa kata-kata yang kasar dan seseorang harus menggunakan kata-kata yang manis, menyenangkan dan lembut – dan dengan kelembutan ditambahkan dengan rasa manis kebenaran. Menggunakan kata-kata yang lembut dengan menambahkan kepalsuan hanya memperjelas jalan untuk penderitaan yang lebih besar. Seseorang yang telah menjadi peminat spiritual harus menggunakan kata-kata yang sangat lembut, benar, dan menyenangkan. Orang yang seperti itu dapat dikenali dari sifat-sifat baik mereka. (Prema Vahini, Ch 43)

-BABA

Sunday, June 7, 2015

Thought for the Day - 7th June 2015 (Sunday)

The minute hand of the clock is the individual soul. It goes round and round - the hour hand does move, silently and slowly, with dignity. The hour hand is the Supreme Soul. Once in an hour, these two meet, but the individual soul does not get that consummation fixed forever. It loses the precious chance, and so has to go round and round again. Liberation happens when the two merges and there is just one. Like the silkworm that spins from out of itself the cocoon that proves to be its tomb, people spin from out of their own mind, the cage in which they get trapped. Assign your mind the task of serving the Lord and it will grow tame. Give your mind to the Lord. Forget the past and don’t worry about errors in future. Bring to memory only those things that are worth remembering and assiduously follow your spiritual practices. You will achieve spiritual progress.


Jarum menit dari jam dinding adalah jiwa dalam setiap orang. Jarum menit ini beputar-putar – jarum jam juga bergerak dengan tenang, hening, dan penuh martabat. Jarum jam adalah jiwa yang tertinggi. Sekali dalam satu jam kedua jarum ini bertemu, namun jiwa individu tidak mendapatkan penyempurnaan yang tetap selamanya. Jarum ini telah kehilangan kesempatannnya yang sangat berharga dan harus berputar-putar lagi. Kebebasan bisa didapat ketika keduanya menyatu dan menjadi satu. Seperti halnya ulat sutera yang memintal dirinya sendiri menjadi kepompong dan bersarang di dalamnya, orang-orang memintal dari pikiran mereka sendiri dan akhirnya terperangkap di dalamnya. Tugaskan pikiranmu untuk melayani Tuhan maka pikiran akan mulai jinak. Serahkan pikiranmu kepada Tuhan. Lupakanlah masa lalu dan jangan cemas tentang kesalahan di masa depan. Hanya bawa ke dalam pikiranmu sesuatu yang sangat berharga dan layak untuk diingat serta tekunlah di dalam mengikuti latihan spiritual. Engkau akan meraih kemajuan spiritual. (Divine Discourse, Jan 1, 1964)

-BABA

Saturday, June 6, 2015

Thought for the Day - 6th June 2015 (Saturday)

What is the use in planning a well when the house is on fire? Where is the time to dig now? When will water become available? When is the fire to be extinguished? It is an impossible task! If, at the very start, a well was ready, how helpful it would be on such critical occasions! Beginning to contemplate on God during the last moments is like beginning to dig the well when the house is on fire. Therefore equip yourself right now, by contemplating on God off and on, so that it will stand you in good stead when the end approaches. Start today the spiritual discipline that has to be done tomorrow! Start now what has to be done today! One doesn’t know what is in store the next moment; therefore there should be no delay in engaging in spiritual practices. For this physical stamina is also necessary, so the body has to be tended to, though over-tending causes damage. To the degree that is essential, the body should be looked after with great care.

Apa gunanya mempersiapkan sebuah sumur jika rumah sedang terbakar? Kapan waktunya untuk menggali sumur? Kapan sumur itu akan mengeluarkan air? Kapan kita bisa memadamkan api yang berkobar? Ini adalah sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan! Jika pada awalnya sebuah sumur sudah siap, maka betapa sangat bergunanya ketika dalam keadaan seperti itu! Mulailah untuk merenungkan Tuhan karena pada masa-masa akhir adalah seperti menggali sebuah sumur ketika rumah sedang terbakar. Maka dari itu, persiapkan dirimu mulai dari saat sekarang dengan selalu merenungkan Tuhan, sehingga akan memberikanmu manfaat yang terbaik ketika masa-masa akhir datang mendekat. Mulailah hari ini untuk disiplin spiritual yang harus dilakukan besok! Mulailah sekarang apa yang harus dilakukan hari ini! Seseorang tidak mengetahui apa yang terjadi pada saat berikutnya; maka dari itu tidak boleh ada lagi penundaan dalam menjalani latihan spiritual. Untuk stamina tubuh juga diperlukan, jadi tubuh harus dirawat, walaupun perawatan berlebihan menyebabkan kerusakan. Untuk tingkat yang sangat penting, tubuh harus dirawat dengan penuh perhatian. (Prema Vahini, Ch 41)

-BABA