Friday, June 8, 2018

Thought for the Day - 7th June 2018 (Thursday)

Everyone is eager to be happy; everyone wants to work less and gain more, give little and get amply, but nobody experiments with wanting less and giving more! Every want is a shackle that hinders movement - it is a drag on your feet. A young college student roams free on his two legs; when he marries, he becomes four-footed! A child makes him six-footed; thus, further restricting the range of his movements. The more the feet, the less the speed, the tighter his grip on the ground – Remember, centipedes can only crawl! More objects means more hurdles and handicaps! Reduce wants, live simply - that is the way to happiness. Attachment brings sorrow in its wake; at last, when death demands that everything be left behind and everybody be deserted, you are overpowered with grief! Be like the lotus on water; on it, not in it. Water is necessary for the lotus to grow, but lotus will not allow even a drop to wet it.
Setiap orang menginginkan untuk menjadi bahagia; setiap orang menginginkan sedikit bekerja dan mendapatkan untung yang besar, sedikit memberi dan banyak mendapatkan, namun tidak ada seorangpun yang mencoba dengan sedikit menginginkan dan lebih banyak memberi! Setiap keinginan adalah belenggu yang menghalangi gerakan – ini akan menarik kakimu. Seorang mahasiswa muda menjelajah bebas dengan kedua kakinya; ketika dia menikah, dia menjadi empat kaki! Seorang anak membuatnya menjadi enam kaki; dengan demikian, semakin membatasi jangkauan gerakannya. Semakin banyak kaki, semakin sedikit kecepatan, semakin erat cengkeramannya di tanah - Ingat, lipan hanya bisa merangkak! Lebih banyak objek berarti lebih banyak rintangan dan halangan! Kurangi keinginan, hidup sederhana - itulah jalan menuju kebahagiaan. Keterikatan membawa kesedihan di akhirnya; saat terakhir ketika kematian menuntut bahwa segala sesuatu dan setiap orang harus ditinggalkan, engkau diliputi dengan kesedihan! Jadilah seperti teratai di atas air; di atas air dan bukan di dalam air. Air adalah perlu bagi tumbuhnya teratari, namun teratai tidak akan mengizinkan bahkan setetes air membasahinya. (Divine Discourse, May 15, 1969)

-BABA

Thought for the Day - 6th June 2018 (Wednesday)

God's grace is just like the shower of rain and the sunlight. You must do some sadhana (spiritual practice) to acquire it; like keeping a pot upright to receive the rain, or the sadhana of opening the door of your heart, so that Sun may illumine it. Pray for grace and do little sadhana. Grace will set everything right. Its main consequence is Self-realisation (Atma sakshatkara); but there are other incidental benefits too like a happy contented life, and a cool courageous temper, established in unruffled peace (shanti). The main benefit from a jewel is personal joy but when one has come to the last coin in the purse, one can sell it and start life again! That is an incidental advantage. The plantain tree has bunch of fruits as its main gift! But its leaves, soft core of its trunk, flower bud, etc. are subsidiary items with profitable use. This is the nature of grace. It fulfils a variety of wants.


Rahmat Tuhan adalah seperti curahan hujan dan sinar matahari. Engkau harus melakukan beberapa sadhana (latihan spiritual) untuk bisa mendapatkannya; seperti menaruh bejana menghadap ke atas untuk menampung air hujan, atau sadhana dalam membuka pintu hatimu sehingga sinar mentari dapat meneranginya. Berdoalah untuk rahmat dan lakukan sedikit sadhana. Rahmat akan menentukan segalanya menjadi benar. Kemuliaan utama dari rahmat Tuhan adalah kesadaran diri (Atma sakshatkara); namun ada juga keuntungan yang lainnya seperti hidup bahagia penuh syukur, dan sebuah temperamen yang sejuk, memiliki kedamaian yang menenangkan (shanti). Keuntungan utama dari permata adalah kesenangan diri namun ketika uang sudah mulai habis di dalam dompet, maka permata itu dapat dijual kembali dan kembali menjalani hidup! Itu adalah sebuah keuntungan tambahan. Pohon pisang raja memiliki banyak buah sebagai hadiah utamanya! Namun daunnya, inti batangnya yang lunak, kuncup bunga, dll, adalah bagian-bagian tambahan lain yang berguna bagi kita. Ini adalah karunia alam. Ini memenuhi berbagai keinginan. (Divine Discourse, Mar 29, 1968)

-BABA

Thought for the Day - 5th June 2018 (Tuesday)

The universe, including the house within which you dwell, namely the body, is composed of the five elements: earth, water, fire, wind and ether - elements that act upon the senses as smell, taste, colour, touch and sound. Since elements are 'divine emanations’, each of them has to be treated with reverence and circumspection. For example: take the earth. If you scatter seeds on the soil, or plant them too deep in the soil, they may not throw up their shoots! Pouring water down your throat can very well become torture, if the limit is crossed. You cannot breathe comfortably in a typhoon, nor can your eardrums stand the pressure of an explosion within earshot! Any use of the elements, over and above legitimate bounds, is a sacrilege. So too, each element must be used under some limitations, not as and how you like. Treat the elements as a vesture of the Almighty.


Alam semesta, termasuk rumah dimana engkau tinggal, yang Namanya adalah badan, disusun oleh lima unsur: tanah, air, api, angin dan akasa – unsur-unsur yang bertindak sesuai dengan indria seperti penciuman, rasa, warna, sentuhan, dan suara. Karena unsur-unsur ini adalah “pancaran ilahi”, maka setiap dari unsur itu harus diperlakukan dengan penghormatan dan penuh hati-hati. Sebagai contoh: ambillah tanah. Jika engkau menaburkan bibit di atas tanah, atau jika engkau menanam bibit itu jauh di dalam tanah, bibit itu tidak akan tumbuh! Meminum air lewat tenggorokan akan menjadi sangat menyiksa jika batasnya dilewati. Engkau tidak bisa bernafas dengan nyaman saat angin topan, dan genderang telingamu juga tidak bisa tahan pada tekanan dari ledakan dalam jarak pendengaran! Setiap penggunaan unsur-unsur yang berlebihan dan melewati batasannya adalah penistaan. Begitu juga, setiap unsur harus digunakan dibawah batasan dan tidak dengan sesuka hatimu. Perlakukan unsur-unsur itu sebagai sebuah jubah dari yang Maha Kuasa. (Divine Discourse, Mar 11, 1968)

-BABA

Monday, June 4, 2018

Thought for the Day - 4th June 2018 (Monday)

Attachment and hatred are the greatest enemies of progress in any scheme of social service, why, in any scheme of work. If a man is deluded into believing that he is saving others, then woe be to him, for there is no other at all. All are One, one person’s sorrow is everyone’s sorrow. The fundamental flaw is the ignorance of humanity. If only one is wise, one would know that all individuals are waves on the surface of the self-same ocean. Selfless action is the ideal to be aimed at. But now, everything is measured by the result, the gain that accrues. Study is also for the salary one can get on the basis of the degree earned. If the act is done without selfish desire (in the nishkama way); there is no aim to seek gain. The desire for gain is like the poison fangs; when they are pulled out, the snake of karma (action and reaction cycle) is rendered harmless.


Keterikatan dan kebencian adalah musuh terbesar dari kemajuan dalam setiap skema pelayanan sosial, mengapa, dalam skema kerja apapun. Jika seseorang ditipu dalam kepercayaan bahwa dia sedang menyelamatkan yang lainnya, kemudian celaka baginya, karena tidak ada orang lain sama sekali. Semuanya adalah Satu, penderitaan seseorang adalah penderitaan setiap orang. Cacat yang mendasar adalah ketidaktahuan manusia. Jika satu orang yang bijak, dia akan mengetahui bahwa semua individu hanyalah gelombang di permukaan di lautan yang sama. Perbuatan yang tidak mementingkan diri sendiri adalah yang ideal menjadi tujuan. Namun sekarang, segala sesuatu diukur dengan hasil, keuntungan yang diperoleh. Belajar juga untuk gaji yang seseorang bisa dapatkan sesuai dengan gelar sarjana yang dimiliki. Jika perbuatan dilakukan tanpa keinginan mementingkan diri sendiri (dalam jalan nishkama); maka tidak ada tujuan untuk mencari keuntungan. Keinginan untuk mendapatkan keuntungan adalah seperti gigi taring yang beracun; ketika gigi taring beracun itu dicabut, ular dari karma (perbuatan dan siklus reaksi) menjadi tidak berbahaya. (Divine Discourse, Sep 15, 1963)

-BABA

Thought for the Day - 3rd June 2018 (Sunday)

Welcome all the blows of fate, the misfortunes and miseries, just as gold welcomes the crucible, hammer and the anvil, to transform into a beautiful jewel. Or as the cane welcomes the chopper, crusher, boiler, pan, sprayer and dryer, so that its sweetness may be preserved and used as sugar by all. The Pandavas never demurred when disasters fell thick upon them. They were happy that disasters helped them to remember Krishna and call upon Him. Submit to the will of God. Never seek power or position but submit to His Will so that you may be ever happy and unmoved. The Lord rushes toward the devotee faster than the devotee rushes to Him. If you take one step toward Him, He takes a hundred steps toward you! He will be more than a mother or father. He will foster you from within you, just as He has saved and fostered so many saints who have placed faith in Him!


Sambutlah semua pukulan nasib, kemalangan, dan penderitaan, seperti halnya emas menyambut leburan dan pukulan untuk merubah menjadi perhiasan yang indah. Atau seperti tebu yang menyambut pisau pemotong, penghancur, ketel uap, semprotan, dan pengering, sehingga rasa manisnya tetap terjaga dan digunakan sebagai gula oleh semuanya. Para Pandawa tidak pernah berkeberatan ketika bencana menimpa mereka. Mereka merasa senang bahwa bencana membantu mereka untuk mengingat Sri Krishna dan memanggil-Nya. Serahkan pada kehendak Tuhan. Jangan pernah mencari kekuatan atau jabatan namun serahkan pada kehendak-Nya sehingga engkau dapat bahagia selamanya dan tidak berubah. Tuhan segera bergegas menuju bhakta-Nya lebih cepat daripada bhakta bergegas menuju ke arah-Nya. Jika engkau mengambil satu langkah kearah-Nya, Tuhan mengambil seratus langkah kearahmu! Tuhan akan menjadi lebih dari seorang ibu atau ayah. Tuhan akan membimbingmu dari dalam dirimu, seperti halnya Tuhan menyelamatkan dan membimbing begitu banyak orang suci yang telah menaruh keyakinan pada-Nya! (Divine Discourse, Sep 08, 1963)

-BABA

Thought for the Day - 2nd June 2018 (Saturday)

There is iron and there is also the magnet. The magnet will draw the iron to itself; that is the destiny of both. But if the iron is covered with the rust, the grace of the magnet may not operate strong enough to draw the iron near. Greed for sensual pleasure will certainly act as rust! It acts as dust, which induces rust; the rust will ultimately burst the iron itself and change its innate nature. So iron has to be tested constantly and dusted. Then, when it contacts the magnet, it too earns the magnetic quality and finally gets rest from its quest. That achievement is the best, for both magnet and iron. The dust of sensual greed can be prevented by keeping good company (satsang), and putting into practice the principles of good conduct that one must imbibe from holy scriptures!


Ada besi dan juga ada magnet. Magnet akan menarik besi ke dirinya; itu adalah takdir dari keduanya. Namun jika besi ditutupi dengan karat, rahmat dari magnet tidak akan berfungsi dengan cukup kuat untuk menarik besi ke dekatnya. Kerakusan akan kesenangan sensual pastinya akan bertindak sebagai karat! Ini bertindak sebagai debu dimana meningkatkan karat; karat pada akhirnya akan merusakkan besi itu sendiri dan merubah sifat sejati darinya. Jadi besi harus diuji secara terus-menerus dan dibersihkan. Kemudian, ketika terhubung dengan magnet maka besi akan mendapatkan kualitas magnet dan akhirnya bisa istirahat dalam pencariannya. Pencapaian itu adalah yang terbaik, bagi keduanya baik untuk magnet dan besi. Debu dari kerakusan sensual dapat dicegah dengan menjaga pergaulan yang baik (satsang), dan menjalankan prinsip-prinsip kebajikan yang seseorang harus serap dari naskah suci! (Divine Discourse, 11-Mar-1968)

-BABA

Thought for the Day - 1st June 2018 (Friday)

First, practise the attitude of “I am Yours”. Let the wave discover and acknowledge that it belongs to the sea. This is not easy. The wave takes a long time to recognise that the vast sea beneath gives it its existence. The ego is so powerful that it will not permit it to be so humble, as to bend before the sea. “I am Yours; You are the Master. I am a servant; You are sovereign. I am bound.” This mental attitude will tame the ego. The next step is: “You are mine”, where the wave demands the support of the sea as its right. The Lord must take the responsibility of guarding and guiding the individual. Surdas said, “You are mine; I will not leave You; I shall imprison You in my heart; You shall not escape,” and the Lord obliged! The last stage is: “You are I” — I am but the image, and You are the Reality. All is One. Duality is but delusion.


Pertama, jalankan sikap “aku adalah milik-Mu”. Biarkan gelombang menemukan dan mengakui bahwa dirinya adalah milik dari lautan. Hal ini tidaklah mudah. Gelombang memerlukan waktu yang lama untuk menyadari bahwa lautan yang luas adalah yang memberikan keberadaannya. Ego adalah sangat kuat dan tidak akan mengizinkan gelombang menjadi rendah hati dan sujud di hadapan lautan. “aku adalah milik-Mu; Engkau adalah Master. aku adalah seorang pelayan; Engkau adalah yang berkuasa. Aku hanya terbatas.” Sikap batin ini akan menjinakkan ego. Langkah selanjutnya adalah: “Engkau adalah milikku”, dimana gelombang memohon dukungan dari lautan sebagai haknya. Tuhan harus mengambil tanggung jawab dalam menjaga dan menuntun individu-individu. Surdas berkata, “Engkau adalah milikku; aku tidak akan meninggalkan-Mu; aku akan mengunci-Mu di dalam hatiku; Engkau tidak akan bisa lepas,” dan Tuhan menuruti! Tahapan terakhir adalah: “Engkau adalah aku” — aku hanyalah gambaran saja, dan Engkau adalah kenyataan sejati. Semuanya adalah satu. Dualitas hanyalah sebuah khayalan atau ilusi. (Divine Discourse, Sep 08, 1963)

-BABA