Thursday, December 13, 2007

Thoughts for the Day - 14th December 2007 (Friday)



When you have attained true wisdom, you will find that good fortune should not be gloated over, nor bad fortune grieved over. The wise one treats both the good and the bad with equal unconcern. They are the gentle breeze and storms that cannot affect the depths of the Ocean of Bliss in the heart of man.

Apabila engkau sudah mencapai tingkat kebijaksanaan sejati, maka engkau akan mendapati bahwa keberuntungan (hokki) bukanlah sesuatu hal yang perlu disenangi secara berlebihan dan demikian pula, ketidak-beruntungan bukanlah sesuatu yang perlu terlalu amat disesalkan. Orang yang bijak akan memperlakukan kedua peristiwa tersebut dengan batin yang seimbang. Kejadian-kejadian itu adalah bagaikan angin lembut dan badai yang tidak akan bisa mempengaruhi kedalamanan dari samudera bliss di dalam hati manusia.

-BABA

Wednesday, December 12, 2007

Thoughts for the Day - 13th December 2007 (Thursday)




Meditate on the Truth and you will find that you are but a sparkling bubble upon the waters; born on water, living for a brief moment on water and merging back in to it. You owe your birth to God; you subsist on God and you merge in God. Every living thing, and for that matter, even non-living things have to reach that consummation. So do it now; take the first step. Purify your heart, sharpen your intellect or at least start chanting the name of God. The rest will follow in due course of time.

Bermeditasilah atas nilai kebenaran (the Truth), maka dengan demikian, engkau akan menyadari bahwa dirimu adalah bagaikan gelembung air; terlahir di atas air, hidup untuk sementara dan kemudian bersatu kembali. Kelahiranmu sebagai manusia adalah merupakan anugerah dari Tuhan; engkau mengantungkan hidupmu kepada-Nya sehingga pada akhirnya akan kembali bersatu dengan-Nya. Setiap mahluk hidup dan bahkan juga benda-benda tak bernyawa mempunyai sasaran/tujuan akhir yang sama. Oleh sebab itu, mulai ambillah langkah pertama sekarang juga. Sucikan hati nuranimu, pertajam intellect (buddhi) atau setidaknya mulailah mengkidungkan nama-nama Tuhan (namasmarana). Langkah awal ini selanjutnya akan diikuti oleh banyak hal-hal lainnya pada waktunya yang sesuai.

-BABA

Tuesday, December 11, 2007

Thoughts for the Day - 12th December 2007 (Wednesday)




Ahimsa (non-violence) means not causing harm to anyone, but it is not merely refraining from inflicting injuries on others with one’s limbs or weapons. Non-violence also has to be practiced with purity of mind, tongue and body. There should be no ill-feelings, for that too is a form of violence. To cause bodily harm to another is violence, but so is speaking harshly. Your speech should be sweet, pleasing and wholesome. All your actions should be helpful to others.

Ahimsa (tanpa-kekerasan) diartikan sebagai tidak melukai siapapun juga, namun pengertiannya yang lebih luas bukan hanya sekedar tidak melukai orang lain melalui organ tubuh kita ataupun senjata. Non-violence (tindakan tanpa kekerasan) juga harus dipraktekkan dalam kemurnian batin, mulut (ucapan) dan badan fisik. Janganlah mempunyai niat yang jahat, sebab niat yang jelek juga merupakan bentuk kekerasan. Demikian pula, janganlah bertutur-kata secara kasar. Ucapanmu haruslah lembut, menenangkan dan enak didengar. Semua jenis tindakanmu haruslah bermanfaat bagi orang lain.

-BABA

Monday, December 10, 2007

Thoughts for the Day - 11th December 2007 (Tuesday)




The importance of the mind in the process of transformation should be properly understood, because it is the mind that is the cause of both bondage and liberation. Your own actions are the cause of your happiness or sorrow. Do not blame others for your condition. Every thought, every word and every action has its reflection, resound and reaction. It is a sign of weakness to blame others for your troubles. You have to bear the consequences of your own actions. If they are unbearable, pray to God for relief. God alone can give relief in such cases.

Kita harus memahami secara benar tentang pentingnya mind (batin) dalam proses transformasi diri, sebab adalah mind yang merupakan sumber penyebab dari kemelekatan maupun pencerahan (pembebasan). Tindakanmu merupakan sumber penyebab atas kebahagiaan maupun kesedihanmu. Janganlah menyalahkan orang lain atas kondisi yang engkau alami. Setiap bentuk pikiran, ucapan maupun perbuatan akan mempunyai refeksi, resound dan reaksinya. Jikalau engkau menyalahkan orang lain atas problema yang engkau hadapi, maka itu adalah merupakan tanda-tanda kelemahan dirimu sendiri. Engkau harus menanggung konsekuensi dari perbuatanmu. Jikalau beban tersebut terasa sangat berat untuk dipikul, maka berdoalah kepada Tuhan untuk meminta bantuan, sebab hanya Tuhan sajalah yang sanggup untuk memberi penyelamatan bagimu.

-BABA

Thursday, December 6, 2007

Thoughts for the Day - 10th December 2007 (Monday)




The person who is a slave to the mind will not find peace or happiness in life. The body is a mansion which has been projected by the mind for its own joy. Some waste their lives by expending their energy in looking after the body. Some others increase their attachment through thoughtless repetition of spiritual exercises, reducing them to mere ritual. The wise man is he who controls the mind and purifies the heart by filling it with good thoughts.

Manusia yang menjadikan batinnya sebagai budaknya tidak akan pernah memperoleh kedamaian maupun kebahagiaan dalam kehidupannya. Badan jasmani ini bagaikan sebuah gedung megah yang diproyeksikan oleh batin demi untuk kesenangannya semata. Ada orang yang menyia-nyiakan kehidupannya dengan cara menghambur-hamburkan energinya hanya demi untuk keindahan badan jasmaninya. Sementara itu, sebagian lainnya justru semakin meningkatkan kemelekatannya dengan cara mengulang-ulang latihan spiritual secara tanpa makna sehingga praktek spiritual tersebut mengalami degradasi nilai dan hanya menjadi praktek ritualistik belaka. Manusia yang bijak adalah mereka yang mengendalikan batinnya serta memurnikan hatinya melalui pikiran-pikiran yang bajik.

-BABA

Thoughts for the Day - 9th December 2007 (Sunday)




Grasp as the bow the great weapon furnished by the Upanishads, and fix in it an arrow sharpened by meditation. Draw it with the mind concentrated on Brahman (Godhead), and hit the target, the immortal Brahman without losing aim. Pranava (the sound of 'Om') is the bow, Atma (soul) is the arrow, Brahman is the target. So, the Sadhaka (spiritual aspirant) must, like the expert archer, be unaffected by things that agitate the mind. He should pay one-pointed attention to the target. Then, he becomes the thing meditated upon.

Ambillah busur yang merupakan senjata yang telah diberikan oleh kitab Upanishad, arahkanlah sebuah anak panah yang telah dipertajam melalui latihan meditasi. Tariklah anak-panah itu dengan batin yang terkonsentrasi pada Brahman (Tuhan), dan lesatkanlah anak-panah itu agar mengenai target atau sasarannya, yaitu Brahman yang immortal (abadi). Pranava (suara ‘Aum’) adalah sebagai busur tadi, Atma (jiwa) sebagai anak-panahnya, dan Brahman sebagai targetnya. Dengan perkataan lain, seorang Sadhaka (aspiran spiritual) haruslah menjadikan dirinya sebagai pemanah yang ulung, yang tidak terpengaruh oleh agitasi batin atau pikirannya. Ia harus memberikan perhatian yang terfokus pada targetnya. Dengan demikian, kelak ia akan menjadi satu dengan obyek meditasinya.

-BABA

Thoughts for the Day - 8th December 2007 (Saturday)




There is none to question Me if I do not act; there is nothing I would lose if I do not engage in activity. Nor have I any great urge to be active. Yet, you see Me very active. The reason is that I must be doing something all the time for your sake, as an example and inspiration. Those who lead must set an example for others to follow; and those who command must themselves carry out what they expect others to do. I am engaged in activity so that you learn to transmute every minute into a golden chance to enable you to move towards Godhead.

Seandainya kalau Aku tidak melakukan sesuatu, maka tidak akan ada orang yang akan mempermasalahkannya; demikian pula, tidak ada ruginya bagi-Ku bila Aku tidak terlibat dalam aktivitas-aktivitas karena sebenarnya tidak ada kepentingan bagi-Ku untuk senantiasa aktif. Akan tetapi, walaupun begitu, engkau melihat bahwa Aku sangatlah aktif. Adapun alasannya adalah karena Aku harus melakukan sesuatu setiap saat demi untuk kepentinganmu, yaitu agar dapat menjadi contoh teladan dan sebagai sumber inspiratif. Mereka yang menjadi pemimpin haruslah menjadi contoh yang baik untuk diikuti oleh yang lainnya, dan mereka yang sedang memerintah haruslah terlebih dahulu melaksanakan hal-hal yang ia harapkan untuk dikerjakan oleh orang lain. Aku senantiasa terlibat dalam aktivitas agar engkau bisa belajar untuk mentransformasikan setiap saat yang tersedia menjadi kesempatan emas yang memungkinkanmu untuk melangkah mendekati ke-Tuhan-an.

-BABA