Showing posts with label mind. Show all posts
Showing posts with label mind. Show all posts

Wednesday, July 16, 2008

Thoughts for the Day - 16th July 2008 (Wednesday)


The sense of duality arises when the Aham ('I') assumes a specific form and name. Ahamkara (the ego-sense) is the result of this change in form. It is only when one dissociates himself from name and form that one can discover one's true divine self. To forget one's essential divinity and identify oneself with a changing and impermanent form is the cause of bondage and sorrow. It is the mind that is the cause of this wrongful identification, because of its involvement with the external world and the impressions received through the senses. When the workings of the mind are understood, the reality of the Atma, which is beyond the mind, will be experienced as the one omnipresent, immutable principle.

Perasaan dualitas muncul ketika Aham ('aku') mengambil wujud dan nama tertentu. Ahamkara (perasaan ego) merupakan buah hasil dari terjadinya perubahan wujud tersebut. Jati-diri Divine sejati hanya bisa direalisasikan apabila engkau sanggup mendisosiasikan (tidak melekat) pada nama dan wujud yang engkau miliki saat ini. Apabila engkau melupakan identitas dan divinity-mu serta sebaliknya malahan melekat pada wujud yang senantiasa mengalami perubahan dan impermanen, maka kemelekatan dan penderitaan tidak akan jauh darimu. Mind - sebagai akibat keterlibatannya dalam dunia eksternal dan impresi yang diterimanya melalui panca indera - merupakan sumber penyebab dari identifikasi yang salah ini. Apabila kita memahami cara kerja mind, maka realitas Atma (yang berada di luar jangkauan mind) akan dapat dialami sebagai prinsip yang omnipresent nan abadi.
-BABA

Wednesday, April 30, 2008

Thoughts for the Day - 1st May 2008 (Thursday)


When an iron filing comes in contact with a magnet, the iron filing also gets the properties of a magnet. Likewise, the knower of Brahman (the Universal Absolute) becomes Brahman. You are all children of immortality, you are eternal. The relationship between you and God is eternal. The body changes through many births, but the mind and deeds continue from birth to birth. Just as an accountant totals the accounts of the day and carries the balance over onto the next day, our mind follows to the next life. You should be able to control the mind by controlling the senses, then you can merge in truth and experience oneness with God.

Ketika batangan besi bersinggungan dengan batangan magnet, maka besi tersebut juga akan memiliki sifat kemagnetan. Demikian pula, mereka yang sudah memiliki pengetahuan tentang Brahman (Sang Absolut Universal), maka dirinya juga akan menjadi Brahman. Engkau semuanya adalah anak-anak Ilahi, engkau bersifat abadi. Hubungan antara dirimu dan Tuhan bersifat eternal (abadi). Badan jasmani mengalami serangkaian perubahan melalui serangkaian banyak kelahiran & kematian, namun mind (batin) dan deeds (hasil perbuatanmu) tetap bergulir dari kelahiran yang satu ke kelahiran yang berikutnya. Sebagaimana seorang akuntan menjumlahkan semua account yang ada pada hari ini dan kemudian memindahkan saldonya ke catatan keesokan harinya; demikian pula, mind tetap mengikuti kita ke kehidupan berikutnya. Engkau harus sanggup untuk mengendalikan batinmu melalui pengendalian panca indera, dengan demikian, engkau akan bersatu di dalam kebenaran dan mencapai kemanunggalan dengan-Nya.
-BABA

Monday, March 17, 2008

Thoughts for the Day - 23rd March 2008 (Sunday)


When a cloth is recognised as a mere arrangement of yarn or basically as cotton, the warp and the woof disappear from the consciousness. The mind is composed of the warp and woof of desire; when man is established in the experience of the One, there is no desire, for who is to desire for whom or what? Thus, Mano Layam or Mano Naashanam (dissolution or destruction of the mind) is accomplished. So, man has to reduce his desires to become free from delusion; desire comes of attachment; deliverance comes from detachment.


Ketika sehelai kain dikenali/disadari sebagai anyaman dari benang atau pada intinya terbuat dari kapas, maka pada saat itu segala bentuk kekacauan dan kekisruhan akan sirna dari kesadaran kita. Batin (mind) kita tak lain adalah terbentuk dari berbagai jenis keinginan (desire). Ketika seorang manusia sudah mantap di dalam pengalamannya dengan Sang Ilahi, maka di dalam dirinya sudah tiada lagi keinginan, sebab siapa sih yang menginginkan apa dan siapa? Dengan demikian, tercapailah sudah Mano Layam atau Mano Naashanam (disolusi atau penghancuran mind). Oleh sebab itu, manusia harus mengurangi keinginannya agar dapat terbebaskan dari delusi; keinginan-keinginan akan membuahkan kemelekatan; Pencerahan akan tercapai melalui praktek ketidak-melekatan.
-BABA

Thursday, December 6, 2007

Thoughts for the Day - 10th December 2007 (Monday)




The person who is a slave to the mind will not find peace or happiness in life. The body is a mansion which has been projected by the mind for its own joy. Some waste their lives by expending their energy in looking after the body. Some others increase their attachment through thoughtless repetition of spiritual exercises, reducing them to mere ritual. The wise man is he who controls the mind and purifies the heart by filling it with good thoughts.

Manusia yang menjadikan batinnya sebagai budaknya tidak akan pernah memperoleh kedamaian maupun kebahagiaan dalam kehidupannya. Badan jasmani ini bagaikan sebuah gedung megah yang diproyeksikan oleh batin demi untuk kesenangannya semata. Ada orang yang menyia-nyiakan kehidupannya dengan cara menghambur-hamburkan energinya hanya demi untuk keindahan badan jasmaninya. Sementara itu, sebagian lainnya justru semakin meningkatkan kemelekatannya dengan cara mengulang-ulang latihan spiritual secara tanpa makna sehingga praktek spiritual tersebut mengalami degradasi nilai dan hanya menjadi praktek ritualistik belaka. Manusia yang bijak adalah mereka yang mengendalikan batinnya serta memurnikan hatinya melalui pikiran-pikiran yang bajik.

-BABA