Saturday, February 7, 2026

Thought for the Day - 7th February 2026 (Saturday)



To be good, to do good and to see good is the primary duty of every human being! The wealth we may earn, the prosperity we may acquire, and the mansions we may build are all transient and temporary. Our conduct is the most important thing in our life. Our conduct is the one which lays the foundation for our future life. It is only when we can shape our present conduct along a proper path that our future can hopefully be peaceful and happy. In this context, take a small incident from the Ramayana as an example. Sita, wanting to be close to Rama, was willing to sacrifice all her ornaments, her wealth and every one of her possessions. Because of this supreme sacrifice, it was possible for her to go close to Rama. But in the forest at Panchavati, the moment Sita developed an attraction to the golden deer, Rama became distant from her. If our worldly desires and worldly attachments become stronger, we move further away from God. If we cut out the worldly desires, we get closer and closer to Paramatma!


- Divine Discourse, May 19, 1977

If you wish to become eligible for God’s Love, then your actions must be consistent with Love. 


Menjadi baik, berbuat baik, dan melihat kebaikan adalah kewajiban utama setiap manusia! Kekayaan yang kita hasilkan, kesejahtraan yang kita daoatkan, dan rumah besar yang kita bangun semuanya ini bersifat sementara dan tidak kekal. Perilaku kita adalah hal yang paling penting di dalam hidup kita. Perilaku kita inilah yang meletakkan dasar bagi masa depan hidup kita. Hanya ketika kita bisa membentuk perilaku saat ini di atas jalan yang benar maka masa depan kita dapat diharapkan menjadi damai dan bahagia. Dalam konteks ini, ambillah sebagai sebuah contoh peristiwa kecil dari kisah Ramayana.  Sita sangat ingin dekat dengan Rama dan rela mengorbankan seluruh perhiasannya, kekayaannya dan semua harta bendanya. Karena pengorbanan yang begitu besar inilah maka memungkinkan bagi Sita untuk dekat dengan Rama. Namun saat Sita berada di hutan Panchavati, dimana Sita mengembangkan ketertarikan pada kijang emas, Rama menjadi jauh darinya. Jika keterikatan kita menjadi semakin kuat, kita bergerak menjauh dari Tuhan. Jika kita memotong keinginan duniawi kita, maka kita semakin dekat dan semakin dekat pada Paramatma!


- Divine Discourse, May 19, 1977

Jika anda berharap untuk menjadi menerima kasih Tuhan, maka tindakan anda harus selaras dan sejalan dengan kasih.

Friday, February 6, 2026

Thought for the Day - 6th February 2026 (Friday)



In the Kali Age, man has acquired great fame, riches and comforts, but he lacks peace and a sense of security. The reason for this sorrow is the lack of patience and sympathy (sahana and sahanubhuti) amongst the members of the family living in a house. Why does man lack these two qualities? The rise in selfishness and the use of intelligence for one’s own self-interests has brought about this decline. Man has become selfish, and he no longer thinks of contributing to others’ happiness. Patience and sympathy are like the life force for a man, akin to inhalation and exhalation. A man without these can be considered lifeless. Having acquired a number of degrees and having amassed wealth, what has man really achieved? What every man in a family should aspire to achieve are the two virtues of patience and sympathy.  Today, they build a house with four walls and call it a home. However, it was not so in the olden days. Five to six families lived together in a small hut peacefully, and it became a home. There is a lot of difference between a house and a home. When there is sahana and sahanubhuti among members of the family, it is home. Because of the absence of these, the bhavanam (house) has become vanam (forest). 


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

The home is the temple where the family, each member of which is a moving temple, is nurtured and nourished. 


Di jaman kali ini, manusia telah mencapai ketenaran, kekayaan dan kenyamanan yang sangat besar, namun manusia kurang merasakan kedamaian dan rasa aman. Alasan dari penderitaan ini adalah kurangnya kesabaran dan simpati (sahana dan sahanubhuti) diantara anggota keluarga di dalam satu rumah. Mengapa manusia kurang memiliki kedua kualitas ini? Hal ini disebabkan karena meningkatnya sifat mementingkan diri sendiri dan penggunaan kecerdasan untuk kepentingan diri sendiri yang menyebabkan kemerosotan ini. Manusia telah menjadi mementingkan diri sendiri, dan manusia tidak lagi memikirkan bagaimana membahagiakan orang lain. Kesabaran dan simpati adalah seperti kekuatan hidup bagi manusia, seperti halnya tarikan dan hembusan nafas. Seseorang yang tidak memiliki kedua kualitas ini dapat dianggap sebagai manusia yang tidak bernyawa. Setelah mendapatkan berbagai gelar pendidikan dan mengumpulkan kekayaan, apa sebenarnya yang telah dicapai manusia? Yang harus diupayakan untuk dicapai oleh setiap anggota keluarga adalah menumbuhkan dua nilai kebajikan ini yaitu kesabaran dan simpati. Pada hari ini, manusia membangun rumah dengan empat dinding dan menyebutnya dengan tempat tinggal. Namun, pada jaman dahulu tidaklah seperti itu. Lima atau enam keluarga hidup bersama dengan damai dalam sebuah gubuk kecil, dan itu benar-benar menjadi sebuah tempat tinggal. Ada banyak perbedaan diantara rumah dan tempat tinggal. Ketika ada sahana dan sahanubhuti diantara anggota keluarga, maka itu adalah tempat tinggal. Karena tidak adanya kedua nilai kebajikan ini, bhavanam (rumah) telah berubah menjadi vanam (hutan). 


- Divine Discourse, Oct 02, 2000

Tempat tinggal adalah ruang sakral bagi keluarga, dimana setiap anggota keluarga adalah tempat suci yang bergerak yang dipelihara dan dirawat.

Thursday, February 5, 2026

Thought for the Day - 5th February 2026 (Thursday)



In all aspects, Rama translated every moment of his life to be an example of ideal behaviour. By showing equal affection to all, Rama attracted all the people. In His childhood, Rama spoke very little. He was conducting Himself in that manner in order to show the world the ideal that is contained in limited speech. Limited talking will always promote the divine strength in one and will also promote one’s memory. It creates respect for one in the community. If one talks too much, it will, to an extent, destroy one’s memory. Not only this, if one talks too much, the strength in the nerves will diminish and the person will become somewhat feeble. It is for this reason that all great saints were observing the path of silence whenever possible. By observing silence, one can get strength. Because the youth of today talk too much, it so happens that their memory becomes weak, and when they go to the examination hall, they forget what they have read. Amongst the many ideals which Rama has given to the young people, the first one is to talk less. 


- Divine Discourse, May 19, 1977

In the depth of silence, the divine voice can be heard! 


Dalam semua aspek kehidupan-Nya, Rama menerjemahkan setiap saat dari hidup-Nya menjadi sebuah teladan tingkah laku yang ideal. Dengan menunjukkan kasih sayang yang sama kepada semua orang, Rama menarik hati seluruh masyarakat. Pada masa kanak-kanak-Nya, Rama berbicara sangat sedikit. Cara hidup ini dijalani-Nya untuk menunjukkan kepada dunia betapa mulianya nilai yang terkandung dalam berbicara secukupnya. Berbicara secara terbatas akan selalu menumbuhkan kekuatan Ilahi di dalam diri seseorang dan juga memperkuat daya ingat. Sikap ini menumbuhkan rasa hormat dari lingkungan sekitar. Sebaliknya, berbicara terlalu banyak, sampai batas tertentu, dapat melemahkan daya ingat. Tidak hanya itu, terlalu banyak berbicara juga menguras kekuatan saraf sehingga seseorang menjadi lemah. Inilah sebabnya mengapa para resi dan orang suci yang hebat selalu menempuh jalan keheningan kapanpun memungkinkan. Dengan mempraktikkan keheningan, seseorang memperoleh kekuatan batin. Karena kaum muda masa kini terlalu banyak berbicara, daya ingat mereka menjadi lemah, dan ketika memasuki ruang ujian, mereka melupakan apa yang telah dipelajari. Di antara sekian banyak teladan yang diberikan Rama kepada kaum muda, yang pertama dan utama adalah sedikit berbicara. 


- Divine Discourse, May 19, 1977

Dalam kedalaman keheningan, suara Tuhan dapat di dengar!

Wednesday, February 4, 2026

Thought for the Day - 4th February 2026 (Wednesday)



Whether at home, or out in the street, or while travelling in a train, bus or plane, people are haunted by fear. The root cause for this ubiquitous fear is the absence of pure and sacred thoughts in the minds of people. The whole world appears like a maze filled with fear at every turn. The tragedy of Abhimanyu - son of Arjuna and hero of the Kurukshetra war, was that he knew how to enter the maze called Padma-vyuham, but he did not know how to get out of it. Likewise, you know how to enter the maze of worldly pleasures, but do not know how to get out of it. You will know the way out only when you submit your thoughts to the scrutiny of buddhi - the intellect. In the Kathopanishad, the body is compared to a chariot, the senses to horses, the mind to the reins, and the intellect to the charioteer. This means that the mind is in between the senses and the intellect. If the mind follows the dictates of the intellect, it will be safe. On the contrary, if it follows the whims and fancies of the senses, it will become a bond slave of the senses and a victim of endless sorrow and suffering. 


- Divine Discourse, May 24, 1990

The intellect must use its discriminative abilities and wean the mind away from bad thoughts. Otherwise, we are bound to grope in the darkness of ignorance. 


Baik di dalam rumah, atau di jalan, atau sedang dalam perjalanan di dalam kereta api, bus atau pesawat terbang, manusia dihantui dengan rasa takut. Akar penyebab dari ketakutan yang merajalela adalah karena tidak adanya pemikiran yang murni dan suci dalam pikiran manusia. Seluruh dunia tampak seperti labirin yang diliputi dengan rasa takut pada setiap sudutnya. Tragedi yang terjadi pada Abhimanyu – putra dari Arjuna dan pahlawan dalam perang Kurukshetra, dimana ia mengetahui cara memasuki labirin yang disebut dengan Padma-vyuham, namun ia tidak mengetahui cara keluar dari labirin tersebut. Sama halnya, anda mengetahui memasuki labirin kenikmatan duniawi, namun tidak mengetahui bagaimana cara keluar darinya. Anda akan mengetahui cara keluar hanya ketika anda menyerahkan pemikiran anda pada pemeriksaan mendalam dari buddhi - kecerdasan. Dalam naskah suci Kathopanishad, tubuh fisik diumpamakan sebagai sebuah kereta kuda, sedangkan indra adalah kuda-kudanya, pikiran adalah tali kekangnya, dan kecerdasan adalah kusirnya. Hal ini berarti bahwa pikiran ada diantara indra dan kecerdasan. Jika pikiran mengikuti arahan dari kecerdasan maka pikiran akan selamat dan aman. Sebaliknya, jika pikiran mengikuti keinginan dan dorongan dari indra, maka pikiran akan menjadi budak indra serta menjadi korban dari penderitaan serta kesedihan yang tiada akhir. 


- Divine Discourse, May 24, 1990

Kecerdasan harus menggunakan kemampuan memilahnya untuk menjauhkan pikiran dari pemikiran yang buruk. Jika tidak, kita akan terus meraba-raba dalam kegelapan ketidaktahuan.

Tuesday, February 3, 2026

Thought for the Day - 3rd February 2026 (Tuesday)



In a dream, you see and experience many things, but everything disappears when you are awake. All this is a night dream. Similarly, during the day, you see everybody and everything, and have so many experiences. But all this becomes invisible when you go to sleep. This is a day dream. You are present both in the night dream as well as in the day dream. There is no existence of day dream in night dream and night dream in day dream. But you are present in both states. Hence, you are omnipresent. Therefore, consider yourself as the fundamental divine entity. You are God; God is not different from you. Your inner voice also teaches you this truth through the sound of Soham, Soham, Soham (That, I am). Your inner voice keeps reminding you of your divine reality but you are not paying attention to it! You follow what others tell you, but do not believe yourself. In whom else can you have faith when you don’t have faith in yourself? Therefore, first develop self-confidence. Then you will have self-satisfaction, which will lead you to the path of self-sacrifice and ultimately to self-realisation. First and foremost, have faith in yourself. God is present within you only. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996

It is the mind that is responsible for man to live like a man, to rise to the divine level or to degenerate to the level of an animal. 


Dalam keadaan mimpi, anda bisa melihat dan mengalami banyak hal, namun segala sesuatunya lenyap ketika anda terjaga. Semuanya ini adalah mimpi di malam hari. Sama halnya, pada siang hari anda dapat melihat setiap orang dan segala sesuatu, dan anda telah mengalami berbagai pengalaman. Namun semuanya ini pun menjadi tidak tampak pada saat anda tertidur. Ini adalah mimpi di siang hari. Anda hadir pada keadaan mimpi keduanya baik mimpi di malam hari dan mimpi di siang hari. Mimpi siang hari tidak ada dalam mimpi malam hari dan mimpi di malam hari tidak ada dalam mimpi siang hari. Namun anda yang hadir dalam dua keadaan mimpi tersebut. Oleh karena itu, anda adalah bersifat hadir dimana-mana. Maka dari itu, renungkan diri anda sendiri sebagai hakikat Tuhan yang mendasar. Anda adalah Tuhan; Tuhan tidak berbeda dari diri anda. Suara Nurani dalam diri anda juga mengajarkan kebenaran ini dalam suara Soham, Soham, Soham (Tuhan adalah aku). Suara Nurani anda terus menerus mengingatkan hakikat keilahian diri anda namun anda tidak memberikan perhatian pada suara itu! Anda mengikuti apa yang orang lain katakan, namun tidak mempercayai diri anda sendiri. Kepada siapa lagi anda dapat menaruh kepercayaan ketika anda tidak memiliki kepercayaan pada diri anda sendiri? Maka dari itu, pertama-tama kembangkan rasa kepercayaan diri. Kemudian anda akan memiliki kepuasan diri, yang akan menuntun anda pada jalan pengorbanan diri dan pada akhirnya pada kesadaran diri. Pertama dan terpenting, milikilah keyakinan pada diri anda sendiri. Tuhan hanya ada di dalam diri anda. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996

Adalah pikiran yang menentukan apakah manusia hidup sebagai manusia sejati, untuk bangkit menuju tingkat Tuhan atau justru merosot pada tingkat binatang.

Monday, February 2, 2026

Thought for the Day - 2nd February 2026 (Monday)



Sometimes, by just seizing a chance, you can elevate yourself steadily. Someone comes to Me to get his stomachache cured. Then he likes this place, its atmosphere, its omkara, its bhajan, and its prashanti (supreme peace); he sees Me and observes My movements, words, and actions. He takes home a picture or a Bhajan book, and before long, he forgets the ache, which brought him hither and cultivates a new ache - for prashanti, for darshan, sparshan, and sambhashan (divine vision, touch and conversation), for japam, dhyanam, and sakshatkaram (recitation, meditation and realisation). Of course, I never deviate from the truth. Since I recline on truth, I am called Sathya Sai; Shayi means reclining. The name is very appropriate, let Me assure you. It is only those who fail to follow My instructions and who deviate from the path I have laid down that fail to get what I hold out before them. Follow My instructions and become soldiers in My army; I will lead you on to victory. 


- Divine Discourse, Nov 21, 1962

Once I say that you are Mine, I will never forsake you. You may forget Me, but I will never forget you.

 

Kadang-kadang, hanya dengan memanfaatkan kesempatan, anda dapat mengangkat diri anda secara bertahap. Seseorang datang kepada-Ku untuk menyembuhkan sakit perutnya. Kemudian ia menyukai tempat ini, suasana yang ada, pelantunan Omkara dan bhajan serta kedamaian tertinggi (prashanti); ia melihat-Ku dan mengamati kegiatan, perkataan dan tindakan-Ku. Ia membawa pulang sebuah gambar atau buku bhajan, dan tidak lama kemudian ia melupakan sakit yang membawanya datang kesini lalu menumbuhkan kerinduan yang baru – kerinduan untuk prashanti, darshan, sparshan, dan sambhashan (pandangan, sentuhan dan percakapan ialhi), kerinduan untuk japam, dhyanam, dan sakshatkaram (pelantunan, meditasi dan penyadaran). Tentu saja, Swami tidak pernah menyimpang dari kebenaran. Karena Swami berlandaskan dan bersandarkan pada kebenaran, Swami dipanggil dengan nama Sathya Sai; Shayi berarti bersandar. Nama itu sungguh tepat, biarkanlah Swami meyakinkanmu. Hanya mereka yang tidak mampu mengikuti perintah Swami dan yang menyimpang dari jalan yang Swami telah tetapkanlah yang tidak mendapatkan apa yang Swami janjikan. Ikutilah perintah Swami dan jadilah prajurit dalam pasukan Swami; Swami akan menuntunmu pada kemenangan. 


- Divine Discourse, Nov 21, 1962

Sekali Swami mengatakan bahwa dirimu adalah milik Swami, maka Swami tidak akan pernah meninggalkanmu. Anda bisa melupakan Swami, namun Swami tidak pernah melupakanmu.

Sunday, February 1, 2026

Thought for the Day - 1st February 2026 (Sunday)



The Veda has declared: “Whatever is perceived is liable to perish.” Man sees with his physical eyes all objects in the world, moving and non-moving. All these will disappear in due course in the stream of Time. Neither the eye that sees, nor the object that is seen, is permanent. All beings in creation are endowed with eyes. What is the special significance of the eyes possessed by man? What is the unique significance of human existence? Having been born as a human being, it will be unfortunate if man is content with the physical vision. Man must acquire Jnana-netram (the eye of Wisdom). Without it, of what avail is one’s education? What is the use of one’s intelligence or one’s mental powers? What is a man worth if he is unable to recognise the divinity within him? Man is the crown of creation. That is why the scriptures have praised the noble virtues that man is capable of manifesting. Hence, as a human being, one must strive to acquire the eye of wisdom. The physical eyes are inept. You cannot see your own eyes. These imperfect eyes, how can they see the highly subtle mind? The eyes which are unable to see the mind, how can they see the Atma (the Indwelling Spirit)? 


- Divine Discourse, Apr 04, 1992

Engage yourself in Sadhana that will secure the Grace of God; through that Grace, the Eye of Wisdom will be granted. 



Naskah suci Weda telah menyatakan: “Segala sesuatu yang dapat dilihat pasti akan musnah.” Manusia melihat dengan mata fisiknya semua objek di dunia, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Semua objek dunia ini akan lenyap dalam arus waktu. Baik mata yang melihat objek, maupun objek yang dilihat oleh mata, bukanlah sesuatu yang bersifat permanen. Semua makhluk dalam ciptaan ini diberkahi dengan mata. Apa makna khusus dari mata yang dimiliki oleh manusia? Apa makna yang unik dari keberadaan manusia? Setelah lahir sebagai manusia, sangat sungguh disayangkan jika manusia hanya puas dengan penglihatan fisik saja. Manusia harus mencapai Jnana-netram (mata kebijaksanaan). Tanpa mata kebijaksanaan ini, apa arti dari pendidikan yang seseorang miliki? Apa gunanya kecerdasan atau kekuatan mental seseorang? Apa nilai seorang manusia jika ia tidak mampu untuk menyadari kualitas Tuhan dalam dirinya? Manusia adalah puncak dari ciptaan. Itulah sebabnya mengapa naskah suci telah memuliakan sifat-sifat luhur yang manusia mampu wujudkan. Oleh karena itu, sebagai seorang manusia maka ia harus berusaha untuk mencapai penglihatan kebijaksanaan. Mata fisik memiliki keterbatasan. Anda tidak bisa melihat mata anda sendiri. Dengan kedua mata yang tidak sempurna ini, bagaimana bisa melihat pikiran yang begitu halus? Jika mata yang tidak bisa melihat pikiran, lantas bagaimana kedua mata ini bisa melihat Atma (jiwa yang bersemayam di dalam diri)? 


- Divine Discourse, Apr 04, 1992

Jalankan sadhana yang dapat mendatangkan karunia Tuhan; dengan karunia Tuhan itu, penglihatan kebijaksanaan akan dianugerahkan.