Saturday, March 7, 2026

Thought for the Day - 7th March 2026 (Saturday)



You cannot attain God by your wealth. He is to be attained only through devotion. Satyabhama, in her pride, hoped to possess Krishna all for herself by her wealth. She wanted to weigh Him against the huge amount of gold she possessed. But, she failed. Narada made her realise her folly by showing that a single leaf of Tulasi (basil) offered by Rukmini with real devotion exceeded all the wealth of Satyabhama. Satyabhama symbolises desire, while Rukmini represents devotion. Krishna says that He is pleased with the offering of a leaf, a flower, a fruit, or water. Do not take this literally. The body is the leaf, the flower is the flower of your heart, your mind is the fruit, and the tears of joy constitute the water which is the acceptable offering to God. Embodiments of Love! You will have everything in life if you have love in you. Do not hate anybody. This should be the main ideal of your life. This is My message for you.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Without resorting to extravagant adulation of God, not seeking petty favours from God, yearn for God alone, and you will get everything


Engkau tidak bisa mencapai Tuhan dengan kekayaanmu. Tuhan hanya bisa dicapai melalui bhakti. Satyabhama dalam kesombongannya berharap dapat memiliki Krishna sepenuhnya bagi dirinya sendiri dengan kekayaannya. Ia ingin menimbang Krishna dengan jumlah emas yang sangat banyak yang ia miliki. Namun, Sathyabhama gagal. Guru suci Narada membuatnya menyadari kesalahannya dengan menunjukkan bahwa sehelai daun Tulasi yang dipersembahkan oleh Rukmini dengan bhakti yang tulus lebih bernilai daripada seluruh kekayaan Satyabhama. Dalam hal ini, Satyabhama melambangkan keinginan sedangkan Rukmini melambangkan bhakti. Krishna berkata bahwa Beliau berkenan dengan persembahan berupa sehelai daun, setangkai bunga, sebutir buah dan air. Jangan memahami ini secara harfiah. Tubuh ini sendiri adalah daun, bunga adalah bunga dari hatimu, pikiranmu adalah buah, dan air mata suka cita adalah air yang menjadi persembahan yang diterima Tuhan. Perwujudan kasih! Engkau akan memiliki segalanya dalam hidup jika engkau memiliki kasih di dalam dirimu. Jangan membenci siapapun. Hal ini harus menjadi ideal dalam hidupmu. Ini adalah pesan-Ku untukmu.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Tanpa berlebihan memuji Tuhan dan tanpa mencari pertolongan kecil dari Tuhan, rindukanlah hanya Tuhan dan engkau akan mendapatkan segalanya

Friday, March 6, 2026

Thought for the Day - 6th March 2026 (Friday)



The senses should not be allowed to override man. They must be instruments within the control of man. They are mere servants, orderlies, helpers. The knife is best used to cut fruits or vegetables; you should not use it for cutting your throat. The senses have to be trained to be free from tamas (inertia) and rajas (passion); they must be neither dull nor dragging, neither dormant nor dangerously diverting. The gunas (qualities) must be overcome. A student approached a guru and asked for the road for shanti (peace). He replied that he must develop sahana (tolerance) towards all men and all things and all events. Nothing should arouse an interested reaction, disgust or desire. The highest alone must be sought; God alone must be desired. Steady, unchanging, undiminishable Prema can only be Vishweshwaraprema - Love towards the Lord of all the worlds.


- Divine Discourse, Oct 23, 1966

Let not your faith in the goal or the path quake before trouble or trial, toil or travail, distress or despair.

 

Indera seharusnya tidak dibiarkan mengalahkan manusia. Indera harus menjadi alat dibawah kendali manusia karena indera hanyalah pelayan, sarana dan pembantu. Pisau adalah alat terbaik yang digunakan untuk memotong buah dan sayuran; engkau tidak boleh menggunakan pisau untuk melukai lehermu sendiri. Indera harus dilatih untuk bebas dari sifat malas (tamas) dan nafsu (rajas); serta tidak boleh menjadi tumpul atau lamban, juga tidak boleh pasif mengalihkan perhatian secara berbahaya. Sifat atau kualitas yang disebut dengan guna harus dapat diatasi. Seorang murid mendekati gurunya dan menanyakan jalan menuju pada kedamaian (shanti). Guru tersebut menjawab bahwa ia harus mengembangkan toleransi atau kesabaran (sahana) kepada semua manusia dan semua hal serta semua kejadian. Tidak ada sesuatupun yang boleh menimbulkan reaksi ketertarikan, rasa jijik atau keinginan. Hanya yang tertinggi saja yang harus dicari; hanya Tuhan yang harus diinginkan. Prema yang bersifat teguh, tidak berubah, tidak berkurang hanya bisa berupa Vishweshwaraprema – kasih kepada Tuhan semesta alam.


- Divine Discourse, 23 Oktober 1966

Jangan biarkan keyakinan pada tujuan atau jalan yang ditempuh menjadi goyah dihadapan masalah atau cobaan, pergumulan, penderitaan atau keputusasaan.

Thursday, March 5, 2026

Thought for the Day - 5th March 2026 (Thursday)



Karma (action) and upasana (contemplation), the two stages of sadhana devoted to the attainment of God-realisation, can be noted and seen; but jnana (wisdom), the stage of ripeness, cannot be seen. The karma symbolised by the Yamuna, and bhakti (devotion) symbolised by the Ganga, meet at the point where the jnana or Saraswati flows unseen. But today, people have lost the enthusiasm for karma, the exultation for bhakti, and the eagerness for jnana. The true learning is that which reveals the Atma (the true self) to man. When these facts are neglected, the Avatar (Divine Incarnation) takes place to re-teach the duty of man, the Dharma. What is the Dharma (the moral code) that has to be re-established today? It is Sanathana Dharma (the eternal law), nothing less. Not that there are no sages even now on earth. Great kavis (poets), noble beings and great scholars are with us even today. But, in the mad pursuit after pomp and pageantry, the feverish struggle to defy and defeat others, there is no time to imbibe their messages and taste the sweetness of the sadhana they prescribe.


- Divine Discourse, Oct 23, 1966

The goal of karma (action) is jnana (wisdom), and for jnana, karma is the base. To combine the two in practice constitutes Seva (Selfless Service). 


Ada dua tahapan dalam sadhana yang ditujukan untuk mencapai kesadaran Tuhan yang dapat dilihat dan diperhatikan yaitu karma (perbuatan) dan upasana (perenungan); namun jnana (kebijaksanaan) yang merupakan tahap kematangan spiritual tidak bisa dilihat. Karma dapat dilambangkan dengan sungai Yamuna, dan bhakti dapat dilambangkan dengan sungai Ganga, dimana keduanya bertemu pada titik disebut dengan jnana yang dilambangkan dengan sungai Saraswati yang mengalir tidak terlihat. Namun hari ini, orang-orang telah kehilangan antusias dalam melakukan karma, kehilangan kegembiraan dalam bhakti, dan kerinduan untuk mendapatkan jnana. Pembelajaran yang sesungguhnya terdapat dalam mengungkapkan Diri Sejati (Atma) pada manusia. Ketika bagian-bagian ini diabaikan maka inkarnasi Tuhan atau Avatar hadir untuk mengajarkan kembali kewajiban manusia yaitu Dharma. Apa bentuk dari tuntunan moral (Dharma) yang harus ditegakkan kembali hari ini? Tiada lain adalah hukum abadi yaitu Sanathana Dharma. Bukan berarti tidak ada orang bijak di dunia saat sekarang. Para penyair-penyair besar (kavi), pribadi-pribadi mulia dan cendekiawan agung masih ada bersama kita hari ini. Namun, dalam pengejaran yang gila terhadap kemegahan dan kemewahan, dan perjuangan yang penuh ambisi untuk menantang dan mengalahkan orang lain, tidak ada waktu untuk menyerap pesan-pesan mereka dan merasakan manisnya sadhana yang mereka ajarkan.


- Divine Discourse, Oct 23, 1966

Tujuan dari karma (perbuatan) adalah jnana (kebijaksanaan), dan untuk jnana, karma adalah mendasar. Untuk menggabungkan keduanya dalam praktek disebut dengan Seva (pelayanan tanpa pamrih).

Wednesday, March 4, 2026

Thought for the Day - 4th March 2026 (Wednesday)



Each individual’s conscience is his own witness. Do not waste your energy on negative criticism. You should never abandon your faith and your self-confidence. Some people become jealous of the growth and prosperity of others. Jealousy is a dangerous pest. If a pest enters the root of a tree full of leaves, fruits and flowers, the entire tree dies quickly. The pest is not visible to the eye and works insidiously. A jealous person conceals his jealousy and harms others like a pest. These are evil ways. However, in My view, there are no evil persons. All evil behaviour changes sooner or later. My truth is one. All belong to Me, and I belong to all. My only wealth is love. I embrace all with love. Even people who come to Me with hatred in their hearts are dear to Me. I do not search for your faults. I go by the principle of love. Take note of My equanimity and follow this principle of unity. Purity follows unity, and from purity, Divinity is attained.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Only love can win people’s hearts. If you have love within, the whole world will be with you. 


Hati Nurani setiap orang merupakan saksi bagi dirinya sendiri. Jangan membuang energi pada kritikan yang bersifat negatif. Engkau seharusnya tidak pernah melepaskan keyakinan dan rasa percaya dirimu. Beberapa orang menjadi iri hati pada perkembangan dan kesejahtraan orang lain. Sifat iri hati ini adalah hama yang berbahaya. Jika hama ini sampai memasuki akar sebuah pohon yang penuh dengan dedaunan, buah, dan bunga, maka seluruh pohon itu akan segera mati. Hama adalah tidak terlihat oleh mata dan bekerja secara tersembunyi. Seseorang yang iri hati menyembunyikan sifat iri hatinya dan menyakiti orang lain seperti halnya hama. Ini adalah cara-cara yang jahat. Bagaimanapun juga, menurut pandangan-Ku bahwa tidak ada orang yang jahat. Semua perilaku jahat dapat berubah cepat atau lambat. Kebenaran-Ku adalah satu. Semuanya adalah milik-Ku, dan Aku adalah milik semuanya. Satu-satunya kekayaan-Ku adalah kasih. Aku merangkul semua dengan kasih. Bahkan mereka yang datang pada-Ku dengan kebencian dalam hati mereka adalah tetap berharga bagi-Ku. Aku tidak mencari-cari kesalahanmu. Aku berpegang pada prinsip kasih. Perhatikan keseimbangan batin-Ku dan ikutilah prinsip kesatuan ini. Kemurnian mengikuti kesatuan, dan dari kemurnian tercapailah keilahian.


- Divine Discourse, Nov 23, 2000

Hanya kasih yang dapat memenangkan hati manusia. Jika engkau memiliki kasih dalam hatimu, seluruh dunia akan bersamamu. 

Tuesday, March 3, 2026

Thought for the Day - 3rd March 2026 (Tuesday)



Sage Narada declared, Prema amritasya swarupah (Love is the embodiment of ambrosia). In the mundane world, man keeps the four Purusharthas (goals of life) alone in view as the path for an aspirant of liberation. This is not correct. Dharma (Righteousness), artha (material wealth), kama (the satisfaction of desire) and moksha (Liberation) alone are not the aims of human existence. There is a fifth aim for mankind which transcends even moksha. This is Paramaprema (Supreme Love). This Love Principle is Divinity. Love and God are not distinct from each other. God is love and love is God. It is only when the truth of this Love Principle is understood that the meaning of human existence can be realised. “He who teaches the principle of Love, instils affection and equality of all beings, and reveals the Human Values - that Embodiment of Love is Lord Sai. That Embodiment of Love is the Divine Atma.” (Telugu poem). Therefore, Love itself is the Atma, Atma is verily Love.


- Divine Discourse, Jan 14, 1995

In what form is God present in all? He is present in all in the form of love.

 

Guru suci Narada menyatakan, Prema amritasya swarupah (Kasih adalah perwujudan dari keabadian). Dalam kehidupan duniawi, manusia hanya memandang bahwa empat tujuan hidup (purushartha) sebagai jalan bagi seseorang untuk mendapatkan pembebasan. Hal ini adalah tidak benar. Dharma (kebajikan), artha (kekayaan material), kama (kepuasan keinginan) dan moksha (kebebasan) saja bukanlah tujuan dari keberadaan manusia. Ada tujuan kelima bagi umat manusia yang bahkan melampaui moksha. Tujuan kelima itu adalah Paramaprema (kasih tertinggi). Prinsip kasih ini adalah keilahian. Kasih dan Tuhan tidaklah berbeda satu dengan yang lainnya. Tuhan adalah kasih dan kasih adalah Tuhan. Hanya ketika kebenaran dari prinsip kasih ini dipahami maka makna dari keberadaan manusia dapat disadari. “Dia yang mengajarkan prinsip kasih, menanamkan kasih dan kesetaraan bagi semua makhluk, dan mengungkapkan nilai-nilai kemanusiaan – perwujudan kasih itu adalah Sai. Perwujudan kasih itu adalah Atma ilahi.” (puisi Telugu). Maka dari itu, kasih sendiri adalah Atma, Atma sejatinya adalah kasih.


- Divine Discourse, Jan 14, 1995

Dalam wujud apakah Tuhan hadir dalam semuanya? Tuhan hadir dalam semuanya dalam wujud kasih.

Monday, March 2, 2026

Thought for the Day - 2nd March 2026 (Monday)



The body has no power of discrimination or knowledge; Only the mind and intellect have discrimination (viveka), knowledge, and power. People today do not exercise fundamental discrimination. They have only selfishness, selfishness, and selfishness. They use their intelligence to obtain what is good for themselves alone, without giving attention to the good of society. In this way, they use the body in wrong ways. They do not use it to follow the path that leads to enlightenment. If you put wheat in the flour mill, you will get wheat flour. If you put rice, you will get rice flour. But if you put food in the body, only faecal matter comes out. If you keep pickle in a jar, it remains intact for one year. If you put pickle in the body, it will rot in a short time. The nature of the body is such. But the body is necessary for one to attain high ideals. So, in order to attain the goal of life, one should dedicate the body to God. One should put the body on the right path and shine as an exemplary human being.


- Divine Discourse, Apr 26, 1997

Sharpness of intellect and high learning are valuable. But good conduct is of highest importance.

 

Tubuh tidak memiliki kemampuan dalam membedakan atau pengetahuan; hanya pikiran dan intelek yang memiliki kemampuan membedakan (viveka), pengetahuan, dan kekuatan. Orang-orang pada hari ini tidak menjalankan kemampuan memilah atau membedakan yang mendasar. Mereka hanya memiliki sifat mementingkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, dan mementingkan diri sendiri. Mereka menggunakan kecerdasan mereka untuk mendapatkan apa yang baik bagi diri mereka saja, tanpa memberikan perhatian pada kebaikan masyarakat. Dengan cara ini, mereka menggunakan tubuh dengan cara yang salah. Mereka tidak menggunakan tubuh untuk mengikuti jalan yang menuntun pada pencerahan. Jika engkau memasukkan gandum ke dalam penggilingan tepung, maka engkau akan mendapatkan tepung gandum. Jika engkau memasukkan beras ke dalam penggilingan tepung, maka engkau akan mendapatkan tepung beras. Namun jika engkau memasukkan makanan ke dalam tubuh, hanya kotoran yang keluar. Jika engkau menyimpan acar di dalam toples, maka acar itu tetap akan awet selama satu tahun. Jika engkau memasukkan acar ke dalam tubuhmu, maka acar itu akan segera membusuk. Begitulah sifat alami dari tubuh. Namun tubuh diperlukan bagi seseorang untuk mencapai cita-cita yang luhur. Jadi, dalam upaya untuk mencapai tujuan hidup, seseorang harus mendedikasikan tubuh untuk Tuhan. seseorang harus menempatkan tubuh pada jalan yang benar serta bersinar sebagai manusia teladan.


- Divine Discourse, 26 April 1997

Ketajaman intelektual dan pendidikan tinggi adalah berguna. Namun perilaku baik adalah yang terpenting.

Sunday, March 1, 2026

Thought for the Day - 1st March 2026 (Sunday)



Mind, by nature, is absolutely pure. It is only due to the influence of bad company that it becomes wicked! For example, if you wrap jasmine flowers in newspaper, it will acquire the fragrance of jasmine flowers. Similarly, if you wrap pakodas (Indian savoury) in it, it will emit the smell of pakodas. The newspaper on its own does not have any smell. Whatever item is wrapped in it, it will acquire its smell. Similarly, if the mind follows the noble path and you associate the mind with everything good, then the mind will also become good. What is the noble path? How noble would the mind become when it is associated with sacred feelings, good thoughts, noble behaviour, good company, spiritual activities, moral values and righteous actions? On the other hand, when it is associated with wicked qualities, wicked thoughts, evil company and bad behaviour, it becomes extremely wicked. In fact, it becomes demonic! There is nothing good or bad in the mind itself. Only due to good or bad influences, it becomes good or bad. If you want your mind to be good, you should associate yourself with good company!


- Divine Discourse, Jun 23, 1996

Good habits, good speech, good conduct and good behaviour will ultimately make us good. 


Pikiran secara alami adalah benar-benar murni. Ini hanya karena pengaruh dari pergaulan yang buruk yang menyebabkan pikiran menjadi jahat! Ambillah contoh, jika engkau membungkus bunga Melati di dalam kertas surat kabar, maka kertas itu akan tercium bunga melati. Sama halnya, jika engkau membungkus pakoda (makanan khas India) di dalamnya maka kertas akan mengeluarkan aroma pakoda. Kertas koran pada hakikatnya tidak memiliki bau apapun. Apapun benda yang dibungkus di dalamnya, maka kertas itu akan menyerap bau tersebut. Sama halnya, jika pikiran mengikuti jalan yang luhur dan engkau mengaitkan pikiran dengan segala sesuatu yang baik, maka pikiran juga akan menjadi baik. Apa jalan yang luhur itu? Betapa luhurnya jadinya pikiran ketika pikiran dikaitkan dengan perasaan yang suci, pikiran yang baik, tingkah laku yang mulia, pergaulan yang baik, aktifitas spiritual, nilai moral dan tindakan yang baik? Sebaliknya, ketika pikiran dikaitkan dengan sifat-sifat yang buruk, pikiran yang jahat, pergaulan yang jahat dan tingkah laku yang buruk, maka pikiran menjadi benar-benar jahat. Bahkan, pikiran benar-benar menjadi iblis! Tidak ada hal yang baik dan buruk dalam pikiran itu sendiri. Hanya karena pengaruh yang baik atau buruk, pikiran menjadi baik atau buruk. Jika engkau ingin pikiranmu menjadi baik, maka engkau harus bergaul dalam pergaulan yang baik!


- Divine Discourse, 23 Juni 1996

Kebiasaan baik, perkataan baik, tingkah laku baik dan perilaku baik pada akhirnya akan menjadikan kita orang baik.