Monday, June 8, 2026

Thought for the Day - 8th June 2026 (Monday)



Some people want to have uninterrupted happiness. When you eat at 10 a.m., you do not go on eating every hour thereafter without a break. You have to give a break for the food to be digested. So also when you experience pleasure, it has to be digested before you meet with another bout of such experience. Just as you have to do some exercise to help the food to digest, you have to go through the exercise of confrontation of pain after experiencing pleasure. Therefore, you must take whatever is given by God as good for you. The mother gets the pleasure of seeing her baby after going through severe pain. If you sit in an air-conditioned room throughout the 24 hours of a day, you cannot feel the pleasure of it. Only when you come in after being away in the hot sun will you enjoy the coolness of the air-conditioned room. After the Mahabharata war was over, Krishna asked Kunti, the mother of the Pandavas, what she wanted. She requested that she should be blessed with troubles always, as only then she would be constantly remembering God, as they did when they were in the forest. She said she was not thinking of God when she was enjoying the palace life as a queen earlier. You enjoy the sweetness of chanting the Lord’s name only when you are in distress.


-- Divine Discourse, Jan 01, 1994

Life is a mixture of sorrow and joy, just as day and night. If there is no night, one cannot take the well-deserved rest after the day’s hard toil.


Beberapa orang menginginkan kesenangan yang terus-menerus tanpa jeda. Ketika engkau makan pada pukul 10 pagi, engkau tidak terus makan setiap jam tanpa henti. Tubuh memerlukan waktu agar makanan tersebut dapat dicerna. Demikian pula ketika engkau mengalami kesenangan, seseorang memerlukan waktu untuk "mencerna" pengalaman itu sebelum menerima kesenangan berikutnya. Sebagaimana dirimu harus melakukan beberapa aktivitas tertentu agar makanan dapat dicerna dengan baik, demikian pula setelah mengalami kesenangan maka engkau harus menghadapi tantangan atau kesulitan setelah mengalami kesenangan. Karena itu, apa pun yang diberikan Tuhan hendaknya diterima sebagai sesuatu yang baik bagi diri kita. Seorang ibu merasakan kegembiraan saat melihat bayinya lahir setelah melalui rasa sakit yang luar biasa. Jika seseorang duduk di ruangan ber-AC selama 24 jam penuh, ia tidak akan lagi merasakan kenikmatan kesejukannya. Hanya ketika engkau masuk ke dalam ruangan setelah berjalan di bawah terik matahari, kesejukan ruangan itu akan terasa sangat menyenangkan. Setelah perang Mahabharata berakhir, Krishna bertanya kepada Kunti, ibu para Pandawa, apa yang ia inginkan. Kunti justru memohon agar dirinya selalu diberi kesulitan, karena hanya dengan begitu ia akan selalu mengingat Tuhan, seperti yang mereka lakukan ketika berada di hutan. Dia mengatakan bahwa ia tidak memikirkan Tuhan ketika menikmati kehidupan istana sebagai seorang ratu sebelumnya. Engkau hanya merasakan manisnya mengingat dan melantunkan nama suci Tuhan ketika engkau sedang dalam kesusahan. 


-- Wejangan Sai, 01 Januari 1994

Hidup adalah perpaduan antara suka dan duka, sebagaimana siang dan malam. Jika tidak ada malam, manusia tidak akan memperoleh istirahat yang dibutuhkan setelah bekerja sepanjang hari.

Sunday, June 7, 2026

Thought for the Day - 7th June 2026 (Sunday)



The mere presence of the light is not enough. We should seek to go forward with the help of that illumination. If, having this light, we do not follow the path revealed by it, we are as unseeing as the blind. Once, Lord Krishna appeared before Surdas, the blind saint, and told him, “Surdas, if you are keen to see the world, I shall restore your sight to you at this very moment.” The great devotee that he was, Surdas replied: “Those who are endowed with eyes are really blind when they do not gaze upon Your auspicious, beautiful form. Having ears, they are nevertheless deaf when they do not choose to listen to the music of Your melodious song. Having in their hands the power to attain the Divine, they drown themselves in the ocean of Samsara (worldly life). Although you dwell in their hearts, they are deluded by the false, meretricious, and transient attraction of the world. Though they have large eyes, they are not able to see You. Hence, I have no need for such hearts, such eyes, or such ears. Give me, O Lord, ears that will listen to Your song, eyes that will see Your beautiful form, and a heart in which You are installed,” pleaded Surdas.


-- Divine Discourse, Jul 14, 1984

Equip yourselves with a clear eye through detachment and love, sharpen your discrimination so that it has no prejudice or predilection, then you can see God in you, around you, and in all that you know, feel and are.


Kehadiran cahaya saja tidaklah cukup. Kita harus menggunakan cahaya itu untuk melangkah maju di jalan yang diteranginya. Jika dengan memiliki cahaya ini, tetapi kita tidak mengikuti jalan yang ditunjukkannya, maka kita tidak berbeda dengan orang buta. Suatu ketika, Sri Krishna menampakkan diri di depan Surdas, seorang suci yang buta. Krishna berkata kepadanya: "Surdas, jika engkau ingin melihat dunia, saat ini juga Aku dapat mengembalikan penglihatanmu." Namun Surdas yang merupakan seorang bhakta yang sejati menjawab: "Mereka yang diberkati dengan mata sesungguhnya tetap buta jika mereka tidak memandang keindahan-Mu yang suci. Mereka yang memiliki telinga tetap tuli jika mereka tidak mendengarkan alunan musik nyanyian-Mu yang merdu. Mereka yang memiliki kemampuan untuk mencapai Tuhan justru tenggelam dalam lautan kehidupan duniawi (samsara). Walaupun Engkau bersemayam di dalam hati mereka, tetapi mereka tertipu oleh daya tarik dunia yang semu dan sementara. Walaupun mereka memiliki mata yang sehat, mereka tidak mampu melihat-Mu. Karena itu, aku tidak memerlukan mata, telinga, atau hati seperti itu. Berkati aku oh Tuhan dengan telinga yang dapat mendengar nyanyian-Mu, mata yang dapat melihat wujud-Mu yang indah, dan hati yang hanya dipenuhi oleh-Mu." Demikianlah doa Surdas kepada Krishna.


-- Wejangan Sai, 14 Juli 1984

Lengkapilah dirimu dengan penglihatan yang jernih melalui tanpa keterikatan dan kasih. Tajamkan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah tanpa prasangka maupun kegemaran. Dengan demikian, engkau akan dapat melihat Tuhan di dalam dirimu, di sekitarmu, dan dalam segala sesuatu yang engkau ketahui, rasakan, dan alami.

Saturday, June 6, 2026

Thought for the Day - 6th June 2026 (Saturday)



Narada wanted to teach Satyabhama the supreme greatness of some human qualities of which she was not aware. He brought about a situation in which Krishna was to be weighed in a balance and acquired by Satyabhama, by placing offerings in the other balance. All her jewels and wealth could not tilt the balance in her favour. Ultimately, she prayed to Rukmini to come to her rescue. Rukmini came, prayed to Krishna, saying, “If it is true that God submits Himself to a devotee who offers with love a leaf, a flower, a fruit, or some water, let my tulasi leaf turn the scales against Krishna.” The esoteric meaning of this prayer is that the body should be considered a leaf, the heart a flower, virtue as fruit, and the tears of joy flowing from the devotee’s eyes as the water offered to the Divine in a spirit of complete surrender. Tears should be shed only for God and not for anyone else. Whatever one’s grief, one should not shed tears. Tears may flow out of joy or enthusiasm or ecstasy, but not from a feeling of sorrow. Narada enacted the entire scene to demonstrate to Satyabhama what glorious qualities Rukmini possessed and the greatness of her devotion. He told Satyabhama: “The Lord will not succumb to wealth. He will yield only to goodness.”


-- Divine Discourse, Apr 15, 1995

God, who is the embodiment of love, can be attained only through love, just as the effulgent Sun can be seen only through its own light.


Narada ingin mengajarkan kepada Satyabhama tentang keagungan beberapa kualitas luhur dari manusia yang belum ia pahami sepenuhnya. Untuk itu, ia menciptakan suatu keadaan di mana Krishna harus ditimbang dalam sebuah timbangan, dan Satyabhama dapat "memperoleh" Krishna dengan meletakkan persembahan pada sisi timbangan yang lain. Satyabhama menaruh seluruh perhiasan dan kekayaannya. Namun semua itu tidak mampu membuat timbangan berpihak kepadanya. Pada akhirnya, ia memohon bantuan Rukmini. Rukmini datang dan berdoa kepada Krishna: "Jika benar Tuhan menyerahkan diri-Nya kepada bhakta yang mempersembahkan dengan kasih sehelai daun, sekuntum bunga, sebutir buah, atau sedikit air, maka biarlah sehelai daun tulasi yang kupersembahkan ini lebih berat daripada Krishna." Makna terdalam dari peristiwa ini sangatlah luhur. Daun melambangkan tubuh, bunga melambangkan hati, buah melambangkan kebajikan, air melambangkan air mata kebahagiaan yang mengalir dari seorang bhakta yang berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Air mata seperti itu seharusnya ditumpahkan karena kerinduan kepada Tuhan dan bukan untuk siapapun selain Tuhan. Apa pun kesedihan yang dialami, seseorang tidak boleh meneteskan air mata. Air mata boleh mengalir karena kegembiraan, antusiasme, atau kebahagiaan yang meluap-luap, tetapi bukan karena perasaan duka. Narada memeragakan seluruh adegan tersebut untuk menunjukkan kepada Satyabhama betapa mulianya kualitas yang dimiliki Rukmini dan betapa mendalam bhaktinya. Narada berkata kepada Satyabhama: “Tuhan tidak tunduk pada kekayaan. Tuhan hanya dapat ditaklukkan oleh kebajikan.”


-- Wejangan Sai, 15 April 1995

Tuhan, yang merupakan perwujudan Kasih, hanya dapat dicapai melalui kasih; sebagaimana matahari yang bercahaya hanya dapat dilihat melalui cahayanya sendiri. 

Friday, June 5, 2026

Thought for the Day - 5th June 2026 (Friday)



A person whose heart is filled with good thoughts and noble intentions will put education and money to good use. On the other hand, a person whose heart is filled with evil thoughts, bad qualities, and wicked feelings will put both education and money to evil use. It is only the mind of man which is the primary cause of good or bad use of education and wealth. Here is an example to illustrate this. If you put water in a red-coloured bottle, the colour of the water will appear to be red. If you put it in a blue-coloured bottle, it will appear to be blue. In the same way, whatever is the quality of the human heart, education and money will assume that quality only. If a man is filled with rajoguna (quality of passion), the education and wealth he acquires will assume rajoguna. If a man is filled with sattvaguna (quality of serenity), the education and money acquired by him will also have a similar quality. The qualities of man are responsible for making education and money either good or bad. A man may have many types of powers, but if he lacks the power of virtues, his education and money will be absolutely useless.


- Divine Discourse, Jun 28, 1996

Life has to be spent in accumulating virtue and safeguarding virtue, not riches.


Seseorang yang hatinya dipenuhi dengan pikiran baik dan niat mulia akan memanfaatkan pendidikan dan uang untuk tujuan yang baik. Sebaliknya, seseorang yang hatinya dipenuhi dengan pikiran buruk, sifat buruk, dan perasaan keji akan memanfaatkan baik pendidikan maupun uang untuk tujuan yang buruk (tidak baik). Hanya pikiran manusia-lah yang menjadi penyebab utama dari baik atau buruknya penggunaan pendidikan dan kekayaan. Berikut adalah sebuah contoh untuk mengilustrasikan hal ini. Jika engkau memasukkan air ke dalam botol yang berwarna merah, warna air tersebut akan tampak merah. Jika engkau memasukkannya ke dalam botol yang berwarna biru, air tersebut akan tampak biru. Demikian pula, apapun kualitas dari hati manusia, pendidikan dan uang akan mengikuti kualitas tersebut. Jika seseorang dipenuhi dengan rajoguna (sifat/kualitas nafsu/gairah), pendidikan dan kekayaan yang diperolehnya akan memiliki sifat rajoguna. Jika seseorang dipenuhi dengan sattvaguna (sifat/kualitas ketenangan), pendidikan dan uang yang diperolehnya juga akan memiliki kualitas yang serupa. Kualitas/sifat manusialah yang bertanggung jawab apakah pendidikan dan uang menjadi baik atau buruk. Seseorang mungkin memiliki berbagai jenis kekuatan, tetapi jika ia kekurangan kekuatan kebajikan, maka pendidikan dan uangnya akan menjadi sama sekali tidak berguna.


- Divine Discourse, Jun 28, 1996

Hidup harus dihabiskan untuk mengumpulkan kebajikan dan menjaga kebajikan, bukan kekayaan

Wednesday, June 3, 2026

Thought for the Day - 3rd June 2026 (Wednesday)



In this worldly life, love manifests in several forms, such as the love between mother and son, husband and wife, and between relatives. This love based on physical relationships arises out of selfish motives and self-interest. But the love for the Divine is devoid of any trace of self-interest. This is called bhakti. One characteristic of this love is to give and not to receive. Secondly, love knows no fear. Thirdly, it is only for love’s sake and not for a selfish motive. All these three angles of love jointly connote prapatti (Surrender). When one revels in this attitude of prapatti, one experiences the bliss of the Divine. For this, the prime requisite is kshama (forbearance). Only a person who has this attitude of kshama can be considered to be endowed with sacred love. This cannot be learned from textbooks. Nor can it be acquired from preceptors nor from anyone else. It is to be cultivated by oneself in times of difficulties, trials and tribulations that one is forced to meet. When you are confronted with problems and difficulties, you should not get upset and become victims of depression, which is a sign of weakness. In such a situation, you should bring tolerance and an attitude of forgiveness into play and should not get agitated, giving rise to anger, hatred and a revengeful attitude. You are embodiments of strength and not weakness.


-- Divine Discourse, Jan 01, 1994

The quality of kshama (forbearance) is the greatest power in a human being. If one loses this quality, he becomes demonic


Dalam kehidupan duniawi ini, kasih mewujud dalam berbagai bentuk, seperti kasih antara ibu dan anak, suami dan istri, maupun di antara kerabat. Namun kasih yang didasarkan pada hubungan fisik muncul dari motif pribadi dan kepentingan diri. Sebaliknya, kasih kepada Tuhan sama sekali tidak mengandung kepentingan diri. Kasih seperti inilah yang disebut bhakti. Karakteristik pertama dari kasih sejati adalah memberi dan bukan untuk menerima. Karakteristik kedua dari kasih sejati adalah tidak mengenal rasa takut. Karakteristik ketiga dari kasih sejati adalah mengasihi demi kasih itu sendiri dan bukan karena niat mementingkan diri sendiri. Ketiga aspek ini bersama-sama membentuk apa yang disebut prapatti atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika seseorang hidup dalam semangat prapatti, ia akan mengalami kebahagiaan Ilahi. Namun untuk mencapai pengalaman ini, ada satu prasyarat, yaitu kshama (ketabahan). Hanya orang yang memiliki sikap kshama dapat diberkati dengan kasih yang suci. Kualitas ini tidak dapat dipelajari hanya dari buku, tidak dapat diperoleh dari guru, dan tidak dapat diberikan oleh orang lain. Kshama harus dikembangkan sendiri melalui pengalaman hidup, terutama saat menghadapi kesulitan, cobaan, penderitaan, dan kekecewaan. Ketika engkau menghadapi masalah dan kesulitan, jangan menjadi sedih dan menjadi korban dari depresi, karena itu adalah tanda dari kelemahan. Sebaliknya, dalam situasi seperti itu munculkan toleransi, dan sikap memaafkan. Jangan biarkan kesulitan berubah menjadi kemarahan, kebencian, atau keinginan untuk membalas. Engkau adalah perwujudan kekuatan, dan bukan kelemahan.


-- Wejangan Sai, 01 Januari 1994

Kualitas dari kshama (ketabahan) adalah kekuatan terbesar yang dimiliki manusia. Ketika seseorang kehilangan kualitas ini, ia menjadi jahat dan kejam.

Tuesday, June 2, 2026

Thought for the Day - 2nd June 2026 (Tuesday)

 


I want to draw your attention to something very important. This is the root cause for our country, Bharat, coming to such a sorry state today. People do not perform their duty properly. What is the use of such people listening about bhakti (devotion)? Be it a doctor or a lawyer, it is most important that they perform their duty with dedication. If the patients are suffering and the doctors run to the Mandir to participate in the Arati of Swami, can this be devotion? It is no devotion at all. It is sheer madness and foolishness. Look after the patients under your charge with sincerity and earnestness so that they do not undergo any suffering at all. This is your Seva, this is your duty. People who neglect their duty this way can never develop devotion, however much they listen about devotion. What is the use of pouring payasam (sweet pudding) into a vessel that has ten holes? The vessel will always remain empty, however much is the payasam you pour into it. Likewise, if your heart has the holes of selfishness and self-interest, what is the use of stuffing it with devotion? Therefore, what is important is that you should perform your duty properly and sincerely.


-- Divine Discourse, Jun 28, 1996

A true aspirant will carry out every task assigned to him as if it is an act of worship by which the Lord will be pleased, through which he can approach the Pedestal of God.


Aku ingin menarik perhatianmu pada sesuatu yang sangat penting. Inilah akar penyebab mengapa bangsa Bharat mengalami keadaan yang sangat menyedihkan hari ini. Banyak orang tidak menjalankan kewajibannya dengan baik. Lalu apa gunanya seseorang mendengarkan ceramah tentang bhakti (pengabdian)? Baik sebagai seorang dokter atau pengacara, hal yang terpenting adalah mereka menjalankan tugas mereka dengan penuh dedikasi. Sebagai contoh, jika para pasien sedang menderita, tetapi para dokter meninggalkan mereka untuk bergegas pergi ke Mandir demi mengikuti Arati Swami, apakah itu dapat disebut bhakti? Ini sama sekali bukanlah bhakti. Ini melainkan kebodohan dan kesalahpahaman tentang makna dari bhakti. Seorang dokter harus merawat pasien yang menjadi tanggung jawabnya dengan penuh ketulusan dan kesungguhan agar mereka tidak mengalami penderitaan. Itulah seva (pelayananmu) dan itu adalah kewajibanmu. Orang yang mengabaikan kewajibannya seperti ini tidak akan pernah mengembangkan bhakti, sebanyak apa pun ia mendengar ceramah tentang bhakti. Bayangkan sebuah bejana yang memiliki sepuluh lubang. Apa gunanya terus menuangkan payasam (bubur manis) ke dalamnya? Sebanyak apa pun yang dituangkan, bejana itu akan selalu kosong. Demikian pula, jika hatimu memiliki lubang-lubang berupa keegoisan dan kepentingan pribadi, apa gunanya mengisinya dengan ajaran tentang bhakti? Karena itu, yang paling penting adalah menjalankan kewajiban dengan benar, jujur, dan penuh ketulusan.


-- Wejangan Sai, 28 Juni 1996

Seorang pencari spiritual yang sejati akan melaksanakan setiap tugas yang diberikan kepadanya seolah-olah itu adalah suatu bentuk ibadah yang akan menyenangkan Tuhan. Dengan sikap seperti itu, setiap pekerjaan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Monday, June 1, 2026

Thought for the Day - 1st June 2026 (Monday)



There is a lot of difference between charity and sacrifice. Some people, however, do not observe any difference between them. This is a great mistake. People may give a little bit in charity of what they have, keeping almost their entire wealth intact to fulfil their selfish ends. There is selfishness and self-interest in this act of charity. But there is not even an iota of selfishness in an act of sacrifice. Sacrifice lies in giving to others what you like most and love dearly. What is it that is dearest to man? That is his life. Nothing else is dearer to man than his life. What then is the real meaning of sacrifice? It means to give even one’s own life for the sake of others. Many people boast that they have performed a great act of sacrifice by giving their land in charity to others. But actually, they may have done it for the sake of name and fame. It is not a sacrifice in the true sense. “Immortality is not attained through action, progeny or wealth; it is attained only by sacrifice” - this is one of the most important teachings of Indian culture. True sacrifice is changeless and matchless. It makes a man immortal. The body is unreal and mortal. It is bound to perish and disintegrate. But Atma is imperishable, eternal, changeless, and immortal. One can have the experience of the immortal Atma only through sacrifice.


-- Divine Discourse, , Jun 28, 1996

Tyaga (sacrifice) is the readiness to part, with a smile, the things which one loves, including one’s life itself.


Ada perbedaan yang sangat besar antara amal dan pengorbanan. Namun banyak orang tidak mengamati perbedaan tersebut. Ini adalah kekeliruan yang serius. Seseorang dapat memberikan sebagian kecil dari hartanya sebagai amal, sementara sebagian besar kekayaannya tetap disimpan untuk memenuhi kepentingan dan tujuan dirinya. Dalam tindakan amal seperti ini masih terdapat unsur kepentingan diri dan egoisme. Sebaliknya, dalam pengorbanan tidak ada sedikit pun unsur keegoisan. Pengorbanan berarti memberikan kepada orang lain sesuatu yang paling engkau sukai dan paling berharga. Lalu, apakah yang paling berharga bagi manusia? Tidak ada yang lebih berharga daripada hidupnya sendiri. Oleh karena itu, makna tertinggi dari pengorbanan adalah kesediaan untuk menyerahkan bahkan hidup sendiri demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain. Banyak orang membanggakan diri karena telah menyumbangkan tanah atau hartanya dan menganggap itu sebagai pengorbanan besar. Namun sering kali tindakan tersebut dilakukan demi nama baik, penghargaan, atau ketenaran. Jika masih ada motif seperti itu, maka tindakan tersebut belum dapat disebut sebagai pengorbanan sejati. "Keabadian tidak dicapai melalui perbuatan, keturunan, ataupun kekayaan; keabadian hanya dicapai melalui pengorbanan” – ini adalah salah satu ajaran penting dalam budaya spiritual India. Pengorbanan yang sejati bersifat tidak berubah dan tidak tertandingi. Pengorbanan itulah yang mengangkat manusia menuju keabadian. Tubuh bersifat sementara dan suatu hari akan hancur. Namun Atma adalah kekal, tidak berubah, tidak dapat binasa, dan abadi. Pengalaman akan Atma yang abadi hanya dapat dicapai melalui pengorbanan.


-- Wejangan Sai, 28 Juni 1996

Tyaga (pengorbanan) adalah kesiapan untuk melepaskan dengan senyuman hal-hal yang paling dicintai, bahkan bila itu adalah hidupnya sendiri.