Saturday, March 16, 2013
Thought for the Day - 16th March 2013 (Saturday)
Friday, March 15, 2013
Thought for the Day - 15th March 2013 (Friday)
Repetition of God’s Name (japam) and meditation (dhyana) are the means by which you can accelerate the concretisation of Divine Grace, in the Name and Form you yearn for. The Lord has to and will assume the Form you chose, the Name you fancy and the way you want Him to be. Therefore do not change the Name and Form you adore mid-way; but select and stick to the One that pleases you most, whatever the difficulty you encounter or however long it takes! All agitations must cease one day, is it not? The dhyana of the Form and the japam of the Name - that is the only means for this task.
Pengulangan Nama Tuhan (japam) dan meditasi (dhyana) adalah cara yang dapat mempercepat mencapai berkat Tuhan, dalam Nama dan Wujud Tuhan yang engkau rindukan. Tuhan akan mengambil dan memberi Wujud Tuhan yang engkau pilih, Nama Tuhan yang engkau sukai dan dengan cara apa yang engkau inginkan Beliau menjadi. Oleh karena itu janganlah mengubah Nama dan Wujud Tuhan yang engkau puja di pertengahan jalan; tetapi pilihlah salah satu Nama dan Wujud Tuhan yang paling menyenangkanmu, apa pun kesulitan yang engkau hadapi atau berapa lama waktu yang dibutuhkan! Bukankah, semua agitasi harus berhenti suatu hari nanti? Dhyana dari Wujud Tuhan dan japam dari Nama Tuhan tersebut - inilah satu-satunya cara yang hendaknya engkau lakukan.
-BABA
Thursday, March 14, 2013
Thought for the Day - 14th March 2013 (Thursday)
When on a pilgrimage, without adequate mental preparation, you may not be able to receive the Grace of God! During pilgrimage, do not act like a postal parcel, which moves from place to place, collecting impressions on the outer wrapper, but not on the core being. Your purpose for a pilgrimage is to strengthen your spiritual inclinations and let the holiness of the place settle in your mind. As a result, your habits must change for the better and your outlook must widen. Your inward vision must become deeper and steadier. You must realize the Omnipresence of God and the oneness of Humanity. You must learn tolerance, patience, charity and service. After the pilgrimage is over, sitting in your own home and ruminating over your experiences you must determine to seek. Aspire to get higher, richer and more real experience of God realization.
Ketika melakukan peziarahan (perjalanan suci), tanpa persiapan mental yang cukup, engkau mungkin tidak dapat menerima berkat Tuhan! Selama peziarahan ini, janganlah seperti paket pos, yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya, menimbulkam kesan pada pembungkus luarnya, tetapi tidak pada isinya. Tujuanmu untuk melakukan peziarahan adalah untuk memperkuat spiritualmu dan biarkanlah kesucian tempat tersebut dapat menenangkan pikiranmu. Dengan demikian, kebiasaanmu berubah menjadi lebih baik dan pandanganmu menjadi lebih luas. Pandangan batinmu harus lebih mendalam dan lebih mantap. Engkau harus menyadari tentang kesatuan umat manusia dan bahwa Tuhan ada dimana-mana. Engkau harus belajar toleransi, kesabaran, cinta-kasih dan pelayanan. Setelah menyelesaikan peziarahan ini, duduklah di rumahmu sendiri dan merenungkan apa yang telah engkau alami selama peziarahan tersebut. Berusahalah untuk mendapatkan yang lebih tinggi, lebih berharga dan pengalaman yang lebih nyata untuk menyadari Tuhan.
-BABA
Wednesday, March 13, 2013
Thought for the Day - 13th March 2013 (Wednesday)
The greatest defect today is the absence of Self-Inquiry (Aathma Vichara), which is the root cause of all restlessness. If you are eager to know the truth about yourself, then you will never go astray. All pots are made of mud, all ornaments of gold, and all clothes are of yarn. Here, even though you see so much diversity, there is a unity. The basic substance of everyone is the Supreme Self (Brahman). It is your basis too! Just as a river’s flow is regulated by the bunds, and flood waters are directed to the sea, so too the Upanishads regulate and restrict the senses, mind and intellect, to help you reach the Divine and merge the individual in the Absolute. Scanning a map or a guide book will not give you even a fraction of joy of the actual visit! Scriptures are only maps and guidebooks. Act in accordance and experience bliss.
Saat ini, kesalahan terbesar yang merupakan akar penyebab dari semua kegelisahan karena tidak adanya Self-inquiry/penyelidikan ke dalam diri (Aathma Vichara). Jika engkau memiliki keinginan untuk mengetahui kebenaran tentang dirimu, maka engkau tidak akan pernah tersesat. Semua pot terbuat dari lumpur, semua ornamen emas, dan semua pakaian terbuat dari benang. Di sini, bahkan jika engkau melihat begitu banyak keanekaragaman, ada satu kesatuan. Substansi dasar dari setiap orang adalah Supreme self (Brahman), yang juga merupakan dasarmu! Sama seperti aliran sungai yang diatur oleh dam dan air banjir diarahkan ke laut, demikian juga Upanishad mengatur dan membatasi indera, pikiran dan intelek, untuk membantumu mencapai Divine/Ilahi dan menyatukan individu dengan Yang Absolut. Memindai peta atau buku panduan tidak akan memberikan kepadamu bahkan sebagian kecil dari sukacita melakukan kunjungan yang sesungguhnya! Kitab suci adalah satu-satunya peta dan buku panduan. Bertindaklah yang sesuai maka engkau akan mengalami kebahagiaan.
-BABA
Monday, March 11, 2013
Thought for the Day - 12th March 2013 (Tuesday)
The mariner uses his compass to guide him aright amidst the dark storm clouds and raging waves. When a person is overwhelmed by the dark clouds of despair and the raging confusion of irrepressible desires, he too, has a compass which will point to him the direction he has to take. That compass is a society that is dedicated to the propagation of spiritual discipline. So long as man is attracted by outer nature, he cannot escape the blows of joy and grief, of profit and loss, of happiness and misery. But, if he is attracted by the Glory of God within him as well as within Nature, he can be above and beyond these dualities and in perfect peace.
Para pelaut menggunakan kompas untuk membimbing mereka dengan benar di tengah-tengah awan badai gelap dan gelombang yang berkecamuk. Ketika seseorang kewalahan oleh awan gelap keputusasaan dan kebingungan yang berkecamuk dalam dirinya, ia juga memiliki sebuah kompas yang akan menunjukkan kepadanya arah yang seharusnya ia ambil. Kompas itu adalah masyarakat yang didedikasikan untuk penyebaran disiplin spiritual. Selama manusia masih tertarik dengan hal-hal yang bersifat duniawi, ia tidak bisa lepas dari pukulan sukacita dan kesedihan, untung - rugi, serta kebahagiaan dan kesedihan. Tetapi, jika ia tertarik dengan kemuliaan Tuhan baik yang ada dalam dirinya maupun dalam Alam semesta, ia bisa berada di atas dan di luar dualitas tersebut dan mencapai kedamaian yang sempurna.
-BABA
Thought for the Day - 11th March 2013 (Monday)
At first look, everyone appears to be a devotee, but individuals respond differently to different circumstances. If you keep a ball of iron and dry leaf side by side, when there is no wind, both of them will be firm and steady. But when there is a breeze, the dry leaf will be carried many miles away. The iron ball will remain firm and steady. If one has true love and firm faith in God, one will be like an iron ball, steady and undisturbed. If one is like a leaf running away on account of difficulties and problems, it is a travesty to call such a person a devotee. We should develop pure and steady love and faith.
Pada pandangan yang pertama kali, semua orang tampak sebagai pemuja/bhakta, tetapi setiap individu merespon secara berbeda terhadap situasi yang berbeda. Jika engkau menempatkan bola besi dan daun kering secara berdampingan, ketika tidak ada angin, keduanya akan tetap ditempatnya. Tetapi ketika ada angin, daun kering akan terbawa oleh angin bahkan bermil-mil jauhnya, sementara bola besi akan tetap berada di tempatnya. Jika seseorang memiliki cinta-kasih sejati dan keyakinan yang mantap kepada Tuhan, seseorang akan menjadi seperti sebuah bola besi, stabil dan tidak terganggu. Jika seseorang berkelakuan seperti daun yang melarikan diri karena kesulitan dan masalah, orang tersebut belum layak disebut sebagai seorang pemuja/bhakta. Oleh karena itu, kita seharusnya mengembangkan cinta-kasih dan keyakinan yang murni dan mantap.
-BABA