Friday, July 13, 2018

Thought for the Day - 13th July 2018 (Friday)

The search for truth must become your daily spiritual discipline; every moment must be used for this primary duty. Truth can reflect itself in your intelligence only when your intelligence is purified by penance (tapas). Tapas means all acts undertaken with higher motives, all activities indicating yearning for the spirit, repentance for past blunders, staunch determination to adhere to virtue and self-control, and finally, serene equanimity in the face of success or failure. It is tapas that fosters renunciation and discipline. This discipline is essential when the temptations to deviate are so many like it is now. In this iron age, when darkness is enveloping the mind of people, any little lamp that can light the steps is most welcome. That is why I advise you to resort to good deeds, good conduct, and good behaviour (sat-karma, sad-achara and sath-pravartana), so that you are constantly established in the presence of the Lord!


Pencarian kebenaran harus menjadi disiplin spiritual harianmu; setiap momen harus digunakan untuk kewajiban yang utama ini. Kebenaran dapat memantulkan dirinya pada kecerdasanmu hanya ketika kecerdasanmu disucikan oleh penebusan dosa (tapa). Tapa berarti semua perbuatan yang dilakukan dengan niat atau motif yang lebih tinggi, semua aktifitas yang menandakan kerinduan akan jiwa, pertobatan pada kesalahan di masa lalu, tekad yang kuat untuk mematuhi kebajikan dan pengendalian diri, dan pada akhirnya ketenangan hati yang tenang dalam menghadapi keberhasilan atau kegagalan. Adalah tapa yang menumbuhkan tanpa keterikatan dan disiplin. Disiplin ini adalah mendasar ketika godaan untuk menyimpang sangat banyak seperti saat sekarang. Di zaman besi ini, ketika kegelapan menyelimuti pikiran manusia, setiap cahaya kecil yang dapat menerangi langkah adalah sangat ditunggu. Itulah sebabnya mengapa Aku menasihatimu untuk melakukan perbuatan baik, tingkah laku baik dan sikap yang baik (sat-karma, sad-achara dan sath-pravartana), sehingga engkau secara konstan ada dalam kehadiran Tuhan! (Divine Discourse, Nov 23, 1965)

-BABA

Thought for the Day - 12th July 2018 (Thursday)

When you suspect the strength of the foundation of a house, you are afraid to enter it; when you suspect the skill of the manufacturer, you are nervous to ride in the car. The present times have become an age of fear, anxiety and ashanti (absence of peace) because people do not have deep faith in the Creator. Bhishma, Shankara and other Jnanis (wise ones) knew that the Lord is the basis (Aadhara) for all creation and had no fear at all. In recent times, Mahatma Gandhi relied on the Lord's Grace and His Might and won freedom for the Nation. Know that the Lord is the unseen foundation on which your life is built. He is your source, sustenance and strength. Without His Will, no leaf can turn, no blade of grass can quiver. What firmer foundation can you desire than this? Having known the Lord, the Omnipotent Power as the mainspring of your life, you should not fear any more!


Ketika engkau meragukan kekuatan dari pondasi sebuah rumah maka engkau takut masuk ke dalamnya; ketika engkau meragukan keterampilan dari pabrikan maka engkau akan gugup dalam mengendarai mobil. Masa sekarang telah menjadi masa ketakutan, kecemasan, dan ashanti (tidak adanya kedamaian) karena manusia tidak memiliki keyakinan mendalam pada sang Pencipta. Bhishma, Shankara dan Jnani yang lain (mereka yang bijaksana) mengetahui bahwa Tuhan adalah sebagai dasar (Aadhara) untuk semua ciptaan dan tidak memiliki rasa takut sama sekali. Di akhir-akhir ini, Mahatma Gandhi bergantung pada rahmat Tuhan dan kekuatan-Nya dan memenangkan kemerdekaan bagi bangsa. Ketahuilah bahwa Tuhan adalah pondasi yang tidak terlihat dimana hidupmu dibangun diatasnya. Tuhan adalah sumber, penopang, dan kekuatanmu. Tanpa kehendak-Nya, tidak ada daun yang dapat berputar, tidak ada rumput yang bisa bergetar. Apa pondasi yang lebih kuat yang dapat engkau inginkan daripada ini? Setelah mengetahui Tuhan, kekuatan yang Maha Kuasa sebagai sumber utama kehidupanmu, engkau seharusnya tidak merasa takut lagi! (Divine Discourse, Dec 8, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 11th July 2018 (Wednesday)

In a vessel filled with some water, when the vessel moves, water also moves. If the vessel is steady, the water will also be steady and you can see your own image! But if the water shakes, your image too shakes. Similarly to meditate, you must keep your body still. Your body is like the vessel, and your mind is the water inside. If your body moves, your mind inside will be agitated. Therefore control your mind and make it steady by keeping your back straight and body steady. The Kundalini power travels from Mooladhara, at the base of the spinal column, to the Sahasrara, thousand-petalled energy centre, in the crown of the head. Therefore, head, neck and body must be straight, with no bends. This is extremely important for students and seekers. I often ask students, "Why do you study? To become steady!" From young age, keep your body under control, you can achieve very useful things in life!


Dalam sebuah wadah terisi dengan air, dan ketika wadah itu bergerak maka air di dalamnya juga bergerak. Jika wadah itu tidak bergoyang maka air di dalamnya juga tidak bergoyang dan engkau bisa melihat bayanganmu sendiri dalam air itu! Namun jika air itu bergoyang, maka bayanganmu dalam air itu juga bergoyang. Sama halnya dalam meditasi, engkau harus menjaga tubuhmu tetap tenang. Tubuhmu adalah seperti wadah, dan pikiranmu adalah seperti air di dalam wadah itu. Jika tubuhmu bergerak, pikiranmu di dalam juga akan tidak tenang. Maka dari itu kendalikan pikiranmu dan buatlah pikiran menjadi tenang dengan menjaga tulang belakangmu tetap lurus dan tubuhmu juga tenang. Kekuatan dari Kundalini bergerak dari Mooladhara yang ada di dasar dari tulang belakang menuju Sahasrara yaitu energi terpusat dengan ribuan kelopak di ubun-ubun kepala. Maka dari itu, kepala, leher, dan tubuh harus tegap, dan tidak membungkuk. Hal ini sangatlah penting bagi para pelajar dan peminat spiritual. Aku sering bertanya kepada para murid, "Mengapa engkau belajar? Untuk menjadi mantap dan kokoh!" Mulai dari usia muda, tetap jaga tubuhmu dan engkau bisa mencapai hal-hal yang sangat berguna dalam hidup! (Divine Discourse, Sep 12, 1984)

-BABA

Thought for the Day - 10th July 2018 (Tuesday)

Today the spiritual exercises are confined to listening to talks and not to practising the teachings. Listening has become a kind of disease. Merely after listening, people go about bragging that they know everything. This crazy boastfulness is deepening people's ignorance. One should ruminate over what has been heard. After rumination, one should do Nididhyasana (put into practice the lessons). Only then there is the triple purity of thought, word and deed. Today people are content with mere listening to discourses. This will not lead to Realisation. The practice of Nama Likhita Japam (repeated writing of the Lord’s Name as a spiritual exercise) promotes harmony in thought, word and deed (first think of the Lord’s Name, then utter it and write). All these three processes should be carried out only with a pure heart.


Hari ini latihan spiritual dikurung dalam bentuk mendengarkan ceramah dan bukan menjalankan ajarannya. Mendengarkan telah menjadi sebuah penyakit. Hanya mendengarkan saja membuat seseorang menjadi membual bahwa mereka mengetahui segalanya. Kesombongan yang gila ini memperdalam kebodohan seseorang. Seseorang seharusnya merenungkan apa yang telah didengarnya. Setelah perenungan, seseorang seharusnya melakukan Nididhyasana (mempraktikkan ajarannya). Hanya dengan demikian ada kesucian dalam ketiganya yaitu kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Hari ini orang-orang puas hanya dengan mendengarkan ceramah. Hal ini tidak akan menuntun pada kesadaran. Jalankan Nama Likhita Japam (mengulang-ulang dalam menulis nama Tuhan sebagai latihan spiritual) meningkatkan kesatuan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan (pertama pikirkan nama Tuhan, kemudian mengucapkannya dan menuliskannya). Semua ketiga proses ini hanya dilakukan dengan kemurnian hati. (Divine Discourse, Oct 7, 1993)

-BABA

Thought for the Day - 9th July 2018 (Monday)

These days when one goes on a picnic, one takes a mirror, a comb and a handkerchief. Why do people keep them? While travelling, wind may blow their hair out of place, so they use a mirror and comb to tidy it. These help you look beautiful. Similarly, don’t you need a few tools to correct the disturbed beauty of your mind? Just as your mirror tells you whether your hair is disheveled or not, the utility of devotion reveals the state of your mind! With this clean mirror, it will be easy to see whether there is impurity in the mind or not. When we recognise that the mind is disturbed, we must correct it immediately and to do so, we need the comb of wisdom! Detachment (Vairagyam) is the cloth that wipes the dirt from our heart. As you journey along life, wherever you are, always carry the virtues of devotion, wisdom and detachment.


Hari-hari ini ketika seseorang pergi piknik, maka dia akan membawa cermin, sisir, dan sapu tangan. Mengapa mereka membawa semuanya itu? Saat dalam perjalanan, angin yang berhembus dapat merusak rambut mereka jadi mereka menggunakan sebuah cermin dan sisir untuk merapikannya. Dengan bantuan benda-benda ini maka engkau kelihatan cantik kembali. Sama halnya, tidakkah engkau memerlukan beberapa alat untuk memperbaiki keindahan pikiran yang terganggu? Seperti halnya cermin yang menyatakan bahwa apakah rambutmu kusut atau tidak, bhakti adalah alat untuk mengungkapkan keadaan pikiranmu! Dengan cermin yang bersih ini, adalah lebih mudah mengetahui apakah ada ketidakmurnian dalam pikiran atau tidak. Ketika kita mengetahui bahwa pikiran terganggu, maka kita harus memperbaikinya dengan segera, kita memerlukan sisir kebijaksanaan! Tanpa keterikatan (Vairagyam) adalah kain yang menyeka kotoran dari dalam hati kita. Ketika engkau melakukan perjalanan sepanjang hidup, dimanapun engkau berada, selalulah membawa kemuliaan dari bhakti, kebijaksanaan, dan tanpa keterikatan. (Divine Discourse, Sep 12, 1984)

-BABA

Thought for the Day - 8th July 2018 (Sunday)

Whatever scriptures you may study, whatever spiritual efforts (sadhanas) you may practise or pilgrimages you may undertake, unless one succeeds in getting rid of the impurities in the heart, life will remain worthless and meaningless. Purification of the heart is the essence of all scriptural teachings and the basic goal of life. No spiritual study or sadhana can help in purifying your heart unless you makes the effort yourself. And when the heart is purified, it becomes a worthy abode for the Divine. Recognising this fact, the Bhagavad Gita has indicated a three-stage path to Divinity: engaging the body in good deeds, using the mind to develop good thoughts and human qualities, and contemplating on God through Upasana (worship of the Divine). Through this, any individual can reach the stage where, like a river joining the ocean, they merge in the Divine (Brahman).

Apapun naskah suci yang engkau pelajari, apapun usaha spiritual yang mungkin engkau jalankan atau perjalanan suci yang engkau ambil, kecuali seseorang berhasil dalam melenyapkan ketidakmurnian dalam hati, hidup akan tetap tidak berharga dan tidak bernilai. Pemurnian hati adalah mendasar bagi ajaran spiritual dan tujuan dasar dari hidup. Tidak ada pembelajaran spiritual atau sadhana dapat membantu dalam menyucikan hatimu kecuali engkau membuat usaha dari dirimu sendiri. Dan ketika hati disucikan, maka hati telah layak menjadi tempat tinggal dari Tuhan. Menyadari kenyataan ini, Bhagavad Gita telah menyatakan tiga tahapan jalan menuju Tuhan: menggunakan tubuh dalam perbuatan baik, menggunakan pikiran untuk mengembangkan pikiran baik dan sifat manusia, dan kontemplasi pada Tuhan melalui Upasana (pemujaan pada Tuhan). Melalui ini, siapapun dapat mencapai tahapan dimana seperti halnya sungai menyatu dengan lautan, mereka juga bisa menyatu dengan Tuhan (Brahman). (Divine Discourse, Sep 28, 1984)

-BABA

Saturday, July 7, 2018

Thought for the Day - 7th July 2018 (Saturday)

A farmer desirous of raising crop must remove all weeds from his field. All varieties of weeds adversely affect the crop. Hence weeding is an essential pre-condition to get a good yield. Similarly, a spiritual aspirant eager to realise bliss (Atmananda), must remove from one’s heart the various manifestations of rajo and tamo gunas (qualities of passion and dullness) in the form of malice, desire, greed, anger, hatred and jealousy. These six types of enemies of man are the children of rajo and tamo gunas. None can experience the joy and bliss of the soul as long as these weeds are present. The entire world is a manifestation of the three gunas. Of these three, rajo and tamo gunas are the source of all trouble, sorrow, grief and problems. The six attributes of tamo guna are sleep, drowsiness, fear, anger, laziness and inertia. Hence Lord Krishna asked Arjuna to remove the rajo and tamo gunas from his heart.


Seorang petani menginginkan mendapat panen harus mencabut semua rumput liar dari sawahnya. Semua jenis rumput liar memberikan dampak kurang baik bagi panen. Oleh karena itu penyiangan adalah prasyarat bersifat mendasar untuk mendapatkan hasil yang bagus. Sama halnya, seorang peminat spiritual ingin sekali untuk menyadari kebahagiaan (Atmananda), harus menghilangkan dari hatinya berbagai bentuk sifat rajo dan tamo guna (sifat nafsu dan kemalasan) dalam wujud kedengkian, keinginan, ketamakan, kemarahan, kebencian, dan cemburu. Keenam jenis musuh manusia ini adalah anak-anak dari rajo dan tamo guna. Tidak ada seorangpun dapat mengalami suka cita dan kebahagiaan dari jiwa selama rumput-rumput liar ini masih ada. Seluruh dunia adalah perwujudan dari tiga guna. Dari ketiganya ini, rajo dan tamo guna adalah sumber dari semua masalah, penderitaan, duka cita, dan kesulitan. Enam sifat dari tamo guna adalah tidur, mengantuk, takut, marah, malas, dan lamban. Oleh karena itu Sri Krishna meminta Arjuna untuk menghilangkan rajo dan tamo guna dari hatinya. (Divine Discourse, Sep 12, 1984)

-BABA