If there is a boil on the body, we put some ointment on it and cover it with a bandage until the whole wound heals. If you do not apply the ointment and tie a bandage around this boil, it is likely to become septic and can cause greater harm later on. Now and then we will have to clean it with water, apply the ointment again and put on a new bandage. In the same way, in our life, there is this boil which has come up in our body in the form of 'I, I, I..'. If you want to really cure this boil, you will have to wash it every day with the waters of love, apply the ointment of faith on it and tie the bandage of humility around it. The bandage of humility, the ointment of faith, and the waters of love will cure the disease that has erupted with this boil of 'I.'
Jika ada bisul pada badan, kita menempatkan beberapa salep di atasnya dan menutupinya dengan perban sampai lukanya sembuh. Jika engkau tidak menggunakan salep dan mengikat perban di sekitar bisul tersebut, kemungkinan bisul tersebut penuh dengan kuman dan dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar di kemudian hari. Selanjutnya, kita harus membersihkannya dengan air, mengoleskan salep, dan mengganti dengan perban baru. Dengan cara yang sama, dalam kehidupan kita, ada bisul dalam badan kita dalam bentuk 'aku, aku, aku..'. Jika engkau ingin benar-benar menyembuhkan 'bisul' ini, engkau seharusnya membersihkannya setiap hari dengan air cinta-kasih, menggunakan salep keyakinan di atasnya dan mengikat perban kerendahan hati di sekitarnya. Perban kerendahan hati, salep keyakinan, dan air cinta-kasih akan menyembuhkan penyakit yang telah meletus pada bisul 'aku.'
-BABA
Saturday, March 9, 2013
Thought for the Day - 9th March 2013 (Saturday)
Friday, March 8, 2013
Thought for the Day - 8th March 2013 (Friday)
The most important reason for bondage is giving too much freedom to the mind. For example, when an animal is tethered to a post, it will not be able to go to another place. It will not be able to show anger or violence or do harm to any person. But if it is let loose, then it can roam over various fields, destroy the crops, and cause loss and harm to others. It may also get beaten up for the harm caused by it. So too, if you turn your mind towards worldly objects, it will descend to the animal or even demonic nature. The same mind also can make you rise from the level of the human to the highest level of Divinity. Hence regulate your mind by following certain rules of discipline. In doing so, you will not go astray and can maintain a good name and lead a happy and useful life.
Penyebab dari keterikatan adalah memberikan kebebasan terlalu banyak pada pikiran. Sebagai contoh, ketika seekor hewan ditambatkan pada suatu tonggak, hewan itu tidak akan bisa pergi ke tempat lain. Dengan demikian, hewan tersebut tidak akan mampu untuk menunjukkan kemarahan atau kekerasan atau merugikan siapapun. Tetapi jika hewan itu dilepaskan, maka ia dapat berkeliaran ke ladang, menghancurkan tanaman, dan membahayakan orang lain. Hewan tersebut mungkin akan dipukuli karena kerugian yang disebabkan olehnya. Demikian juga, jika engkau mengarahkan pikiranmu pada objek-objek duniawi, maka engkau akan turun ke tingkat hewan atau bahkan ke alam setan/iblis. Pikiran yang sama juga dapat membuatmu bangkit dari tingkat manusia ke tingkat tertinggi Divinity. Oleh karena itu, engkau hendaknya mengarahkan pikiranmu dengan mengikuti aturan-aturan disiplin tertentu. Dengan demikian, engkau tidak akan tersesat dan dapat menjaga nama baik serta menjalani hidup yang bahagia dan berguna.
-BABA
Thursday, March 7, 2013
Thought for the Day - 7th March 2013 (Thursday)
Consider the example of a cinema; on the screen we see rivers in flood, engulfing all the surrounding land. Even though the scene is filled with flood waters the screen does not get wet by even a drop of water. At another time, on the same screen we see volcanoes erupting with flame, but the screen is not burnt. The screen which provides the basis for all these pictures is not affected by any of them. Likewise in the life of man, good or bad, joy or sorrow, birth or death, will be coming and going, but they do not affect the Soul (Atma). In the cinema of life, the screen is the Soul (Atma). It is Shiva, it is Shankara, it is Divinity. When one understands this principle, one will be able to understand, enjoy and find fulfilment in life.
Perhatikan contoh sebuah bioskop; di layar kita melihat banjir melanda seluruh tanah di sekitarnya. Meskipun adegan dipenuhi dengan banjir, layar tidak basah bahkan oleh setetes air-pun. Pada kesempatan lain, pada layar yang sama kita melihat gunung berapi meletus, tetapi layar tidak terbakar. Layar yang menjadi dasar bagi semua gambar tidak terpengaruh oleh salah satu dari hal tersebut. Demikian juga dalam kehidupan manusia, baik atau buruk, kegembiraan atau kesedihan, kelahiran atau kematian, akan datang dan pergi, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi Jiwa (Atma). Di bioskop kehidupan, layar adalah Jiwa (Atma). Itu adalah Shiva, itu adalah Shankara, itu adalah Divinity. Ketika seseorang memahami prinsip ini, seseorang akan mampu memahami, menikmati dan menemukan kepuasan dalam hidup.
-BABA
Wednesday, March 6, 2013
Thought for the Day - 6th March 2013 (Wednesday)
Once, I asked a few people as to what they would like to be in the hands of the Lord. Some said the lotus, some the shankha (conch) and some the chakra (discus), but no one mentioned the murali (flute). I would advise you to aspire to become the flute, for then the Lord Himself will come to you and pick you up. Achieve the hollowness of heart by making it completely egoless. He will then breathe through you and create captivating music for all Creation to enjoy. Be straight, without any will of your own and merge your will in the Will of God. Inhale only the breath of God. That is Divine Life, the goal you must all achieve.
Suatu ketika, Aku bertanya kepada beberapa orang untuk menjadi apa mereka ketika berada di tangan Tuhan. Beberapa orang mengatakan lotus, beberapa yang lainnya mengatakan shankha (kerang) dan beberapa lainnya mengatakan chakra (cakra), tetapi tidak ada seorangpun yang menyebutkan murali (seruling). Aku menyarankan kepadamu agar engkau menginginkan untuk menjadi seruling, lalu kemudian Tuhan sendiri akan datang padamu dan mengambilmu. Raihlah kekosongan hati dengan benar-benar sepenuhnya bebas dari ego. Dengan seruling yang berongga, Beliau akan bernapas melalui-mu dan membuat musik yang menawan bagi semua Ciptaan-Nya untuk menikmati musik tersebut. Seruling itu lurus, maka dari itu, engkau hendaknya juga seperti itu, tidak memiliki keinginan sendiri dan hanya menjalankan sesuai dengan kehendak Tuhan. Menarik napas hanya napas Tuhan. Itulah yang disebut dengan Divine Life, tujuan yang seharusnya engkau capai.
-BABA
Tuesday, March 5, 2013
Thought for the Day - 5th March 2013 (Tuesday)
Engkau bahkan tidak perlu membaca Gita atau Upanishad. Engkau akan mendengar Gita yang dirancang khusus untukmu jika engkau memanggil Tuhan dalam hatimu sendiri. Beliau ada di sana, diinstal sebagai Kusir-mu sendiri. Bertanyalah kepada-Nya maka Beliau akan menjawab. Engkau hendaknya mempunyai satu Nama Tuhan dan membayangkan Wujud-Nya ketika engkau duduk bermeditasi - Nama Tuhan yang manapun yang engkau pilih, ketika engkau melakukan japam (pengulangan Nama Tuhan). Jika engkau melakukan japam, tanpa membayangkan Wujud Tuhan dihadapanmu, siapakah yang akan memberikan jawabannya? Engkau tidak dapat berbicara sepanjang waktu pada dirimu sendiri. Wujud Tuhan yang engkau panggil akan mendengar dan merespon-mu. Bukankah semua agitasi harus berhenti suatu hari nanti? Bermeditasi dengan membayangkan Wujud Tuhan dan melakukan pengulangan Nama-Nya adalah satu-satunya cara untuk menghentikan agitasi mental.
-BABA
Monday, March 4, 2013
Thought for the Day 3rd - 4th March 2013
Date: Sunday, March 03, 2013
The world is building itself upon the sandy foundation of the sensory world. Like the monkey which could not pull its hand out of the narrow necked pot, because it first held in its grasp a handful of groundnuts which the pot contained, people are suffering today. They are unwilling to release their hold on the handful of pleasurable things they have grasped from the world. When people do not place faith in the Self, but pursue their senses alone, the danger signal is up! People are stuck with the wrong belief that the accumulation of material possessions will endow them with joy and peace. Divine Love alone can give you everlasting joy. Divine Love alone will remove anger, envy and hatred.
Dunia sedang membangun dirinya sendiri dengan menggunakan pondasi pasir dunia sensorik. Dapat diibaratkan seperti monyet yang tidak bisa menarik tangannya keluar dari belanga berleher sempit, karena ia memegang segenggam kacang tanah yang ada di belanga tersebut. Orang-orang saat ini mengalami penderitaan, karena mereka tidak mau melepaskan pegangan mereka pada beberapa hal menyenangkan yang telah mereka genggam di dunia ini. Ketika-orang orang tidak menempatkan keyakinan mereka pada Tuhan, tetapi mengejar kesenangan indera mereka sendiri, ini artinya sinyal berbahaya! Orang-orang terjebak dengan keyakinan yang salah bahwa akumulasi harta benda dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian. Hanya Cinta-kasih Ilahi yang dapat memberikan kebahagiaan abadi. Hanya Cinta-kasih Ilahi yang dapat menghilangkan kemarahan, iri hati dan kebencian.
-BABA
Date: Monday, March 04, 2013
Every struggle to realize the Unity behind all the multiplicity is a step on the path of Divine Life. You have to churn the milk if you wish to separate and identify the butter that is present within it. So too, carry on with life and purify your thoughts and action in order to get unshakeable faith. Divine Life does not admit the slightest dross in character or delusion in the intellect. People dedicated to divine life must emphasize this by precept and practice. Wipe out the root cause of anxiety, fear and ignorance, if any, within you. Then your true personality will shine forth. Anxiety is removed by faith in the Lord, the faith that tells you whatever happens is for the best and that the Lord̢۪s will be done. Sorrow springs from egoism, the feeling that you do not deserve to be treated so badly, that you are left helpless. Sorrow disappears when egoism goes!
Setiap perjuangan untuk mewujudkan Kesatuan di antara semua multiplisitas adalah langkah di jalan Divine Life (kehidupan yang berdasarkan pada Ilahi). Engkau harus churn (proses yang dilakukan untuk menghasilkan mentega) susu jika engkau ingin memisahkan dan mengidentifikasi mentega yang ada di dalamnya. Demikian juga, engkau hendaknya terus melanjutkan hidup dan memurnikan pikiran serta tindakan untuk mendapatkan keyakinan yang tak tergoyahkan. Divine Life tidak akan membiarkan sampah sekecil apapun ada dalam karakter atau delusi dalam pikiran. Orang-orang yang mendedikasikan dirinya pada Divine Life harus menekankan hal ini dengan ajaran dan juga praktik. Hapuslah akar penyebab kecemasan, ketakutan, dan kebodohan, yang ada dalam dirimu, maka kepribadian sejatimu akan bersinar. Kecemasan dihilangkan dengan keyakinan pada Tuhan, keyakinan inilah yang memberitahukan kepadamu apa pun yang terjadi adalah yang terbaik dari Tuhan. Penderitaan bersumber dari egoisme, perasaan bahwa engkau tidak layak diperlakukan begitu buruk, dan bahwa engkau tidak memerlukan bantuan. Penderitaan akan lenyap ketika egoisme pergi!
-BABA
Saturday, March 2, 2013
Thought for the Day 1st - 2nd March 2013
Date: Friday, March 01, 2013
The letter ‘Gu’ in the word Guru signifies Gunatheetha - the one who has transcended the three qualities of Ignorance (Thamasik), Passion (Rajasik) and Virtuousness (Sathvik) and the letter ‘Ru’ signifies the one who is Roopa Varjitha (Beyond the Form). The Guru destroys illusion and sheds light, His Presence is ever cool and comforting. He comes to remind people that they have forgotten that they have lost the most precious part within themselves and yet are unaware of it! He is the Physician for curing the illness which brings about the repetitive suffering from birth to death. He is adept at the treatment needed for the cure. If you have not yet got such a Guru, Pray to the Lord Himself to show the way and He will most certainly come to your rescue!
Huruf 'Gu' dalam kata Guru menandakan Gunatheetha - orang yang telah melampaui tiga sifat yaitu Kebodohan/Ketidaktahuan (Thamasik), Hawa nafsu (Rajasik) dan Kebajikan (Sathvik) dan huruf 'Ru' berarti orang yang Roopa Varjitha (Melampaui segala Wujud). Guru menghancurkan ilusi dan memancarkan cahaya, Kehadiran-Nya selalu memberi ketenangan dan menghibur. Dia datang untuk mengingatkan orang-orang bahwa mereka telah lupa dan telah kehilangan bagian yang paling berharga dalam diri mereka sendiri, namun tidak menyadari hal itu! Dia adalah Dokter yang dapat menyembuhkan penyakit yang membawa penderitaan berulang dari lahir sampai mati. Dia mahir mengobati penyakit. Jika engkau belum mempunyai Guru seperti itu, Berdoalah hanya kepada Tuhan untuk menunjukkan jalan dan Ia pasti akan datang untuk menyelamatkanmu!
-BABA
Date: Saturday, March 02, 2013
It is the Divine that inspires, activates, leads and fulfils the life of every being, however simple or complex it may be! From the atom to the Universe, every single being is flowing fast to merge in the sea of bliss. Never forget that every one of you is Sath-Chith-Ananda Swarupa (Embodiments of Existence-Consciousness-Bliss) – only you are unaware of it and imagine yourself to be bound to this form and its limitations! This is the myth that should be exploded, so that your Divine Life may begin. Leading a Divine Life consists of practising Truth, Love and Non-injury (Sathya, Prema and Ahimsa). Since all are parts of the same Divine Self, all should be loved as oneself, without fear and falsehood. When all are one, why should we injure another one, who is part of the same Divine Being?
Hanya Tuhan yang menginspirasi, mengaktifkan, mengarahkan dan memenuhi kehidupan setiap makhluk, bagaimanapun sederhana atau kompleksnya! Dari atom sampai Alam Semesta, setiap makhluk mengikuti arus untuk menyatu dalam lautan kebahagiaan. Janganlah pernah lupa bahwa masing-masing dari engkau adalah Sath-Chith-Ananda Swarupa (Perwujudan Keberadaan- Kesadaran - Kebahagiaan) - hanya saja engkau tidak menyadari hal itu dan membayangkan dirimu terikat dalam wujud dan keterbatasan ini! Ini adalah mitos yang seharusnya ditinggalkan, sehingga engkau dapat mulai menjalani kehidupan berdasarkan Divine/Ilahi. Jalanilah kehidupan berdasarkan Divine dengan mempraktikkan Kebenaran, Cinta-kasih dan Tidak - menyakiti (Sathya, Prema dan Ahimsa). Karena semuanya merupakan bagian dari Ilahi yang sama, semuanya hendaknya dicintai seperti mencintai diri sendiri, tanpa rasa khawatir dan kepalsuan. Karena semuanya adalah satu, mengapa kita menyakiti yang lainnya, yang merupakan bagian dari Wujud Ilahi yang sama?
-BABA