Monday, March 2, 2026

Thought for the Day - 2nd March 2026 (Monday)



The body has no power of discrimination or knowledge; Only the mind and intellect have discrimination (viveka), knowledge, and power. People today do not exercise fundamental discrimination. They have only selfishness, selfishness, and selfishness. They use their intelligence to obtain what is good for themselves alone, without giving attention to the good of society. In this way, they use the body in wrong ways. They do not use it to follow the path that leads to enlightenment. If you put wheat in the flour mill, you will get wheat flour. If you put rice, you will get rice flour. But if you put food in the body, only faecal matter comes out. If you keep pickle in a jar, it remains intact for one year. If you put pickle in the body, it will rot in a short time. The nature of the body is such. But the body is necessary for one to attain high ideals. So, in order to attain the goal of life, one should dedicate the body to God. One should put the body on the right path and shine as an exemplary human being.


- Divine Discourse, Apr 26, 1997

Sharpness of intellect and high learning are valuable. But good conduct is of highest importance.

 

Tubuh tidak memiliki kemampuan dalam membedakan atau pengetahuan; hanya pikiran dan intelek yang memiliki kemampuan membedakan (viveka), pengetahuan, dan kekuatan. Orang-orang pada hari ini tidak menjalankan kemampuan memilah atau membedakan yang mendasar. Mereka hanya memiliki sifat mementingkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, dan mementingkan diri sendiri. Mereka menggunakan kecerdasan mereka untuk mendapatkan apa yang baik bagi diri mereka saja, tanpa memberikan perhatian pada kebaikan masyarakat. Dengan cara ini, mereka menggunakan tubuh dengan cara yang salah. Mereka tidak menggunakan tubuh untuk mengikuti jalan yang menuntun pada pencerahan. Jika engkau memasukkan gandum ke dalam penggilingan tepung, maka engkau akan mendapatkan tepung gandum. Jika engkau memasukkan beras ke dalam penggilingan tepung, maka engkau akan mendapatkan tepung beras. Namun jika engkau memasukkan makanan ke dalam tubuh, hanya kotoran yang keluar. Jika engkau menyimpan acar di dalam toples, maka acar itu tetap akan awet selama satu tahun. Jika engkau memasukkan acar ke dalam tubuhmu, maka acar itu akan segera membusuk. Begitulah sifat alami dari tubuh. Namun tubuh diperlukan bagi seseorang untuk mencapai cita-cita yang luhur. Jadi, dalam upaya untuk mencapai tujuan hidup, seseorang harus mendedikasikan tubuh untuk Tuhan. seseorang harus menempatkan tubuh pada jalan yang benar serta bersinar sebagai manusia teladan.


- Divine Discourse, 26 April 1997

Ketajaman intelektual dan pendidikan tinggi adalah berguna. Namun perilaku baik adalah yang terpenting.

Sunday, March 1, 2026

Thought for the Day - 1st March 2026 (Sunday)



Mind, by nature, is absolutely pure. It is only due to the influence of bad company that it becomes wicked! For example, if you wrap jasmine flowers in newspaper, it will acquire the fragrance of jasmine flowers. Similarly, if you wrap pakodas (Indian savoury) in it, it will emit the smell of pakodas. The newspaper on its own does not have any smell. Whatever item is wrapped in it, it will acquire its smell. Similarly, if the mind follows the noble path and you associate the mind with everything good, then the mind will also become good. What is the noble path? How noble would the mind become when it is associated with sacred feelings, good thoughts, noble behaviour, good company, spiritual activities, moral values and righteous actions? On the other hand, when it is associated with wicked qualities, wicked thoughts, evil company and bad behaviour, it becomes extremely wicked. In fact, it becomes demonic! There is nothing good or bad in the mind itself. Only due to good or bad influences, it becomes good or bad. If you want your mind to be good, you should associate yourself with good company!


- Divine Discourse, Jun 23, 1996

Good habits, good speech, good conduct and good behaviour will ultimately make us good. 


Pikiran secara alami adalah benar-benar murni. Ini hanya karena pengaruh dari pergaulan yang buruk yang menyebabkan pikiran menjadi jahat! Ambillah contoh, jika engkau membungkus bunga Melati di dalam kertas surat kabar, maka kertas itu akan tercium bunga melati. Sama halnya, jika engkau membungkus pakoda (makanan khas India) di dalamnya maka kertas akan mengeluarkan aroma pakoda. Kertas koran pada hakikatnya tidak memiliki bau apapun. Apapun benda yang dibungkus di dalamnya, maka kertas itu akan menyerap bau tersebut. Sama halnya, jika pikiran mengikuti jalan yang luhur dan engkau mengaitkan pikiran dengan segala sesuatu yang baik, maka pikiran juga akan menjadi baik. Apa jalan yang luhur itu? Betapa luhurnya jadinya pikiran ketika pikiran dikaitkan dengan perasaan yang suci, pikiran yang baik, tingkah laku yang mulia, pergaulan yang baik, aktifitas spiritual, nilai moral dan tindakan yang baik? Sebaliknya, ketika pikiran dikaitkan dengan sifat-sifat yang buruk, pikiran yang jahat, pergaulan yang jahat dan tingkah laku yang buruk, maka pikiran menjadi benar-benar jahat. Bahkan, pikiran benar-benar menjadi iblis! Tidak ada hal yang baik dan buruk dalam pikiran itu sendiri. Hanya karena pengaruh yang baik atau buruk, pikiran menjadi baik atau buruk. Jika engkau ingin pikiranmu menjadi baik, maka engkau harus bergaul dalam pergaulan yang baik!


- Divine Discourse, 23 Juni 1996

Kebiasaan baik, perkataan baik, tingkah laku baik dan perilaku baik pada akhirnya akan menjadikan kita orang baik.

Saturday, February 28, 2026

Thought for the Day - 28th February 2026 (Saturday)




Man performs all activities due to sunlight. But there is no connection between the activities and the Sun. Similarly, the mind and intellect work due to the light of the Atma. Without the light of the Atma, the mind and intellect cannot function. Like the Sun, Atma has no attachment to duties and activities. Just as man gets sunlight from the Sun, he gets strength from the Atma. Atma is the witness. The results of good and bad deeds do not affect the Atma. When the water is flowing, the image of the Moon in it appears to move. But the Moon does not move. What is the cause of man’s troubles, sorrows and worries? Ego and attachment are the cause. Attachments, happiness, sadness - all of these arise in the mind. Mind and intellect are the instruments. It is through these instruments that we get the experience of everything. The instruments are the cause of our problems. If we remove these instruments, we can experience the bliss of the Atma.


- Divine Discourse, Apr 26, 1997

Man is unable to go up spiritually because he allows himself to be weighed down by the heavy loads of his Mamakara and Ahamkara (possessiveness and ego). 


Manusia melakukan semua aktifitas karena sinar matahari. Namun tidak ada hubungan antara aktifitas manusia dan matahari. Sama halnya, pikiran dan kecerdasan bisa bekerja karena adanya cahaya Atma. Tanpa adanya cahaya Atma, maka pikiran dan kecerdasan tidak bisa berfungsi. Seperti halnya matahari, Atma tidak memiliki keterikatan pada kewajiban dan aktifitas yang dilakukan manusia. Sama halnya manusia mendapatkan cahaya Mentari dari matahari, manusia mendapatkan kekuatan dari Atma. Atma adalah sebagai saksi abadi. Hasil dari perbuatan baik atau buruk tidak mempengaruhi Atma. Ketika air sedang mengalir, bayangan bulan yang terpantul pada air juga ikut bergerak. Namun bulan yang ada di langit tidak bergerak. Apa yang menjadi penyebab dari penderitaan, masalah dan kecemasan dari manusia? Jawabannya adalah Ego dan keterikatan sebagai penyebabnya. Keterikatan, kesenangan, kesedihan – semuanya ini muncul dari pikiran. Pikiran dan kecerdasan adalah sebagai sarana saja. Melalui sarana-sarana ini kita mendapatkan pengalaman dari segala sesuatu. Sarana ini adalah penyebab dari masalah yang kita alami. Jika kita melenyapkan sarana-sarana ini maka kita bisa mengalami kebahagiaan Atma.


- Divine Discourse, 26 April 1997

Manusia tidak mampu melangkah maju dalam spiritual karena manusia mengijinkan dirinya terbebani oleh beban berat miliknya yaitu Mamakara dan Ahamkara (kepemilikan dan ego).


Friday, February 27, 2026

Thought for the Day - 27th February 2026 (Friday)



Mind has both animality and humanness. You should try to understand what is meant by animality and humanness. When the mind is overpowered by the six inner enemies of man, viz., kama, krodha, lobha, moha, mada and matsarya (desire, anger, greed, delusion, pride and jealousy), man forgets his humanness, takes to the path of animality and degenerates to the level of an animal. On the other hand, when the mind follows the path of humanness and makes proper use of mati (mind), gati (destiny), sthiti (position) and sampatti (wealth) given by God, man can rise to the level of divinity and do great good to his country and society at large. Mind is the root cause of good and bad. The nobility that is there in the mind cannot be found anywhere else. Similarly, wickedness found in the mind cannot be found anywhere else. Mind is as much good as it is wicked.


- Divine Discourse, Jun 23, 1996

To get close to God you have to go beyond the mind.

 

Pikiran memiliki dua sifat sekaligus yaitu sifat kebinatangan dan kemanusiaan. Engkau harus mencoba untuk memahami apa arti dari sifat kebinatangan dan kemanusiaan. Ketika pikiran dikuasai oleh enam kekaburan batin manusia yaitu: kama, krodha, lobha, moha, mada dan matsarya (keinginan, kemarahan, ketamakan, khayalan, kesombongan dan iri hati), manusia lupa pada sifat kemanusiaannya dan mengambil jalan kebinatangan yang mengakibatkan manusia jatuh pada level binatang. Sebaliknya, ketika pikiran mengikuti jalan kemanusiaan dan menggunakan dengan benar mati (pikiran), gati (takdir), sthiti (kedudukan) dan sampatti (kekayaan) yang dianugerahkan oleh Tuhan, manusia dapat naik ke level keilahian dan melakukan kebaikan yang luar biasa bagi negerinya dan masyarakat luas. Pikiran adalah akar penyebab dari baik dan buruk. Kemuliaan yang ada dalam pikiran tidak bisa ditemukan dimanapun juga. Sama halnya, kejahatan yang terdapat dalam pikiran tidak bisa ditemukan di tempat lain. Pikiran adalah kebaikan dan sekaligus juga kejahatan.


- Divine Discourse, 23 Juni 1996

Untuk bisa mendekati Tuhan maka engkau harus melampaui pikiran.

Wednesday, February 25, 2026

Thought for the Day - 25th February 2026 (Wednesday)




Just ponder for a moment: how many millions of men have died so far? Have any of them taken from here anything to the realm into which they have disappeared? A man was dragged to court; he asked three comrades of his to come and bear witness to his innocence. One friend said, “I shall not move out of the house; let them who want my statement come here”; the second said, “I shall come up to the doors of the court; but, I dare not get in”; the third said, “Come on! I will be ever with you.” The first is the wealth one has accumulated; the second is his kith and kin who will come as far as the cemetery; the third is the name, the honour, he has earned. When a person dies, his property and things remain at home; they do not go with him into the beyond. His relatives cannot also go; only the good or the bad name he has earned will last. So, he has to live in such a way that posterity will remember him with gratitude and joy. To lead the good life, constant prompting from the Lord within is a great help. That inspiration can be got only by constantly reciting the Lord’s Name and calling on the inner springs of Divinity. 


- Divine Discourse 1966

The lamp of the Name, when it is lit, will illumine the household and make it a home, instead of just a dwelling place.

 

Cobalah renungkan sejenak: berapa juta manusia yang telah meninggal sejauh ini? Apakah ada diantara mereka yang membawa sesuatu dari dunia ini menuju alam tempat mereka menghilang? Seorang laki-laki sedang dibawa ke pengadilan; ia meminta agar tiga temannya untuk dapat dihadirkan menjadi saksi atas ketidakbersalahannya. Satu temannya berkata, “saya tidak akan keluar rumah; jika mereka memerlukan pernyataanku biarkan mereka yang datang kesini”; temannya kedua berkata, “saya akan datang hanya di depan pintu pengadilan; namun saya tidak akan masuk ke dalam sidang”; temannya yang ketiga berkata, “ayo, saya akan selalu ada bersamamu.” Teman yang pertama adalah kekayaan yang seseorang telah kumpulkan; teman yang kedua adalah kerabat dan keluarga yang mengantar hanya sampai tempat pemakaman; teman yang ketiga adalah nama baik, rasa hormat yang telah ia dapatkan selama hidupnya. Ketika seseorang meninggal dunia, harta dan benda miliknya akan tetap ada di rumah dan tidak ikut bersamanya. Sedangkan para kerabatanya juga tidak bisa ikut menyertainya; hanya nama baik dan nama buruk yang telah ia dapatkan yang tetap bertahan. Jadi, ia harus hidup sedemian rupa sehingga generasi mendatang mengingatnya dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Untuk menjalani hidup yang baik, dorongan terus menerus dari Tuhan yang bersemayam di dalam diri adalah sangatlah membantu. Inspirasi itu hanya bisa diperoleh dengan melantunkan nama suci Tuhan dan mengunjungi sumber keilahian di dalam diri. 


- Divine Discourse 1966

Lentera nama suci Tuhan ketika dinyalakan, akan menerangi rumah tangga dan menjadikannya sebuah rumah, dan tidak hanya sebatas tempat tinggal.

Tuesday, February 24, 2026

Thought for the Day - 24th February 2026 (Tuesday)



Mergence in the Cosmic Consciousness (Brahman), of which each one is an expression, is not a novel achievement gained by effort. It is only the awareness of an existing fact, in a flash. One is Brahman already, inherently, inseparably so. Salt, which is an expression of the nature of the ocean, might be noticed in many lands, on many occasions, in many forms and many compounds. But it retains its truth, which is cognisable in its taste. Originating from the sea, salt lends the quality of the sea to every article with which it is associated, whether it be milk, syrup or clear tasteless water. So too, though the individualised spark of consciousness has woven a cocoon around itself and assumed a form and a name, it—that is to say, man—can never give up its essential Atmic nature. As the ocean announces that the salt crystal is its own, itself, in the same way the Lord announces in the Gita: Mamaivamsho jeevaloke jeeva bhutah Sanatanah— “A unit of Mine, which is eternal, has become life, in this world of Life.” No wonder the Veda addresses living beings as “Children of the Immortal One” and “Inheritors of Immortal Bliss”. 


- Divine Discourse, Oct 21, 1982

The body, mind, and senses are your instruments. You are the Master. 


Penyatuan ke dalam kesadaran Kosmik (Brahman), yang mana setiap orang adalah ekspresi dari Brahman, bukanlah suatu pencapaian baru yang diperoleh melalui usaha. Penyatuan ini hanyalah kesadaran akan fakta yang telah ada, yang tersadari dalam sekejap. Sesungguhnya, setiap orang adalah Brahman secara hakiki dan tak terpisahkan. Garam yang merupakan ekpresi dari sifat alami lautan, dapat ditemukan di berbagai tempat, dalam berbagai keadaan, dalam berbagai bentuk dan berbagai campuran. Namun kebenaran dari sifat alami garam tetap sama dan dapat dikenali melalui rasanya. Berasal dari laut, garam memberikan kualitas dari laut pada setiap bagian yang terhubung dengannya, entah itu adalah susu, sirup atau air tawar yang jernih. Begitu juga, walaupun percikan kesadaran individu telah membungkus dirinya dalam bentuk kepompong wujud dan nama, manusia tidak akan pernah bisa melepaskan sifat Atmiknya yang mendasar. Sebagaimana lautan menyatakan bahwa kristal garam adalah milknya sendiri, sama halnya dengan Tuhan menyatakan dalam Bhagavad Gita: Mamaivamsho jeevaloke jeeva bhutah Sanatanah - “Bagian-Ku yang abadi telah menjadi makhluk hidup di dunia ini.” Tidak mengherankan bila Veda menyatakan makhluk hidup sebagai “Anak-anak keabadian” dan “Pewaris kebahagiaan abadi”. 


- Divine Discourse, Oct 21, 1982

Tubuh, pikiran dan Indera adalah saranamu. Engkau adalah sang majikan.

Monday, February 23, 2026

Thought for the Day - 23rd February 2026 (Monday)




Just as removal of weeds, tilling the land, sowing the seeds, and watering them, are required before the crop can be harvested on a plot of land, the field of the human heart has to be cleared of bad thoughts and bad feelings, watered with love, tilled by spiritual practices, and then the seeds of the divine Name needs to be sown. Only then is one entitled to reap the harvest of jnana (Divine Wisdom). Today, spiritual exercises are confined to listening to talks and not to practicing the teachings. Listening has become a kind of disease. Merely after listening, men go about bragging that they know everything. This crazy boastfulness is deepening men’s ignorance. One should ruminate over what has been heard. After rumination, one should do nidhidhyasana (put into practice the lessons). Only then there is the triple purity of thought, word, and deed. Today, people are content with mere listening to discourses. This will not lead to realisation. 


- Divine Discourse, Oct 7, 1993

This is the sin of all sins - saying one thing and acting quite the opposite, denying in practice what you assert as precept. 


Seperti halnya gulma harus disingkirkan, tanah harus dibajak, benih harus ditabur, dan menyiramnya, semuanya ini adalah tindakan yang harus dilakukan sebelum panen dapat diperoleh pada sebidang tanah. Sama halnya dengan bidang hati manusia harus dibersihkan dari gagasan dan perasaan buruk, menyiramnya dengan kasih, membajak dengan latihan spiritual, dan kemudian menabur benih nama suci Tuhan. Hanya dengan demikian seseorang berhak memanen kebijaksanaan Ilahi (jnana). Hari ini, latihan spiritual terbatas hanya pada mendengarkan ceramah dan tidak menjalankan ajarannya. Mendengarkan telah menjadi sebuah penyakit. Setelah mendengarkan ceramah, orang-orang keluar berjalan dengan bangga bahwa mereka mengetahui semuanya. Kesombongan yang tidak masuk akal ini justru memperdalam kebodohan manusia. Seseorang harus merenungkan apa yang telah di dengarnya. Setelah melakukan perenungan, seseorang harus menerapkan atau mempraktekkan ajaran tersebut (nidhidhyasana). Hanya dengan demikian tercapai tiga bentuk kesucian dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Hari ini, orang-orang merasa cukup hanya dengan mendengar ceramah. Hal ini tidak akan menuntun pada penyadaran diri sejati. 


- Divine Discourse, Oct 7, 1993

Ini adalah dosa dari segala dosa – mengatakan sesuatu tetapi bertindak sebaliknya, menyangkal dalam praktik apa yang anda nyatakan sebagai prinsip.