Thursday, January 19, 2017

Thought for the Day - 18th January 2017 (Wednesday)

If the development of the moral and spiritual resources is neglected, remember, you are choosing to ignore the provision of peace and happiness. Happiness and peace do not automatically follow when a person is fed well, clothed well, housed well and even educated to a high standard and employed under comfortable conditions with no injury to health or security. There are millions who have these in plenty and are yet worried in pain or are highly discontented. Happiness and peace depend on the inner equipment of people, not on their outer skill or riches. All of you are fundamentally divine, and so, naturally, the more you manifest the Divine attributes of Love, Justice, Truth and Peace, the more joy you will be able to impart and enjoy yourself! If you choose to manifest less of the divine attributes, the more ashamed you ought to be, for you are living counter to your own heritage!


Jika pengembangan sumber daya moral dan spiritual diabaikan maka ingatlah bahwa engkau sedang memilih untuk mengabaikan persediaan dari kedamaian dan kebahagiaan. Kebahagiaan dan kedamaian tidak secara otomatis mengikuti seseorang yang makan dengan enak, berpakaian bagus, rumah yang bagus, dan bahkan berpendidikan dengan standar tinggi dan berada dalam keadaan tanpa adanya gangguan kesehatan atau keamanan. Ada jutaan dari mereka yang memiliki keadaan seperti ini namun masih merasa cemas dalam penderitaan atau benar-benar tidak puas. Kebahagiaan dan kedamaian tergantung pada peralatan batin dari seseorang dan bukan pada keahlian atau kekayaan di luar diri. Semua dari dirimu secara fundamental adalah Illahi dan secara alami, semakin banyak engkau mewujudkan sifat-sifat keillahian seperti kasih, keadilan, kebenaran, dan kedamaian maka semakin besar engkau akan mampu menanamkan dan menikmati dirimu sendiri! Jika engkau memilih untuk sedikit mewujudkan sifat-sifat keillahian maka semakin memalukan dirimu, bagimu hidup yang sedang engkau jalani menentukan warisanmu! (Divine Discourse, Aug 3, 1966)

-BABA

Tuesday, January 17, 2017

Thought for the Day - 17th January 2017 (Tuesday)

All the diseases which afflict a person are the result of agitations in the mind. The enormous growth of disease in the world today is due to the loss of peace of mind. The mind has three kinds of capabilities. One is Anekagrata (a wandering mind). Another is Sunyata (vacancy, emptiness) and the third is Ekagrata (single-pointed concentration). Sunyata is the state in which the mind goes to sleep when something edifying is being said. The mind is unresponsive to what is good and beneficial. Such a state of mind is called Tamasic (slothful). It is the blindness of ignorance. Anekagrata is an equally undesirable mental state. It too is degrading; the mind is like the turbulent Ganga. It has to be restrained by the use of brakes, as in a fast-moving vehicle. Dhyana (meditation) is the brake devised for the control of the mind. For one-pointed concentration, peace is most essential.


Semua penyakit yang menimpa seseorang adalah hasil dari gejolak dalam pikiran. Pertumbuhan penyakit yang sangat hebat pada hari ini disebabkan oleh hilangnya kedamaian dalam pikiran. Pikiran memiliki tiga jenis kemampuan. Pertama adalah Anekagrata (pikiran yang mengembara). Yang kedua adalah Sunyata (kekosongan) dan yang ketiga adalah Ekagrata (perhatian pada satu titik). Sunyata adalah keadaan dimana pikiran tidur ketika sesuatu moralitas dikatakan. Pikiran tidak responsif pada apa yang baik dan bermanfaat. Keadaan pikiran yang seperti itu disebut Tamasik (malas). Ini adalah bentuk kebutaan dari kebodohan. Anekagrata adalah sama dengan keadaan mental yang tidak diinginkan dan juga bersifat merendahkan; pikiran adalah seperti sungai Ganga yang bergolak. Pikiran ini harus dikendalikan dengan menggunakan rem seperti halnya kendaraan yang bergerak cepat. Dhyana (meditasi) adalah rem yang dirancang untuk mengendalikan pikiran. Untuk perhatian pada satu titik maka kedamaian adalah yang paling mendasar. (Divine Discourse Jan 14, 1988)

-BABA

Monday, January 16, 2017

Thought for the Day - 16th January 2017 (Monday)

Love for God is devotion. Devotion is not something objective and concrete – it is an inner experience which springs from the heart. As you think, so you become. Hence, your heart must be filled with good feelings. Your senses must be engaged in good actions. When your eyes are turned towards God, all creations appear as Divine embodiments. When your eyes have an issue, you have distorted or unclear vision. When they are corrected and you wear the right spectacles, you can see everything clearly. Everything in the Universe testifies to the glory of the Lord. Learn to treat every experience as a gift of the Divine. When your hearts are filled with the love of God, all your feelings will be sanctified with love, other undesirable thoughts automatically drop out. Often devotees pray to the Lord to come and reside in their pure and tranquil hearts. Where the heart is impure then is no room for God.


Kasih pada Tuhan adalah bhakti. Bhakti bukanlah sesuatu yang objektif dan nyata – bhakti adalah pengalaman batin yang muncul dari dalam hati.  Sebagaimana pikiranmu maka itulah jadinya. Oleh karena itu, hatimu harus diisi dengan perasaan-perasaan yang baik. Indramu harus dilibatkan dalam perbuatan yang baik. Ketika pandangan matamu diarahkan kepada Tuhan, semua ciptaan akan muncul sebagai perwujudan keillahian. Ketika matamu memiliki masalah maka engkau akan memiliki pandangan yang kabur dan tidak jelas. Ketika matamu diobati dan engkau memakai kaca mata yang benar maka engkau akan melihat segala sesuatunya dengan jelas. Segala sesuatu yang ada di dalam semesta ini memberikan kesaksian pada kemuliaan Tuhan. Belajarlah untuk memperlakukan setiap pengalaman sebagai karunia dari Tuhan. Ketika hatimu diliputi dengan kasih pada Tuhan maka semua perasaanmu akan disucikan dengan kasih, pikiran lain yang tidak diinginkan secara otomatis akan putus. Para bhakta sering berdoa kepada Tuhan agar datang dan bersemayam di dalam hati mereka yang suci dan tenang. Dimana hati tidak suci maka tidak ada ruang untuk Tuhan. (Divine Discourse Jan 9, 1988)

-BABA

Thought for the Day - 15th January 2016 (Sunday)

On Sankranti the Sun-God begins his northward journey, the Uttarayana. It journeys towards the Himalayas in the north, the beautiful abode of Lord Shiva. The heart should be regarded as the abode of the Lord and the vision should be turned to experience the Divine. The human heart itself symbolises the Himalayas as the abode of purity and peace. The Sun's northward journey is a pointer to the path you must take to realise God. In addition, the Sun is a supreme example of selfless and tireless service. The world cannot survive without the Sun. Life on earth is possible only because of the Sun. Thus the Sun God teaches every being the lesson of humble devotion to duty with dedication, without any conceit. Doing one's duty is the greatest Yoga, says Lord Krishna in The Gita.


Pada Sankranti, Dewa Matahari mulai perjalanannya ke utara yaitu Uttarayana. Perjalanannya menuju Himalaya di utara tempat tinggal Shiva yang indah. Hati seharusnya dianggap sebagai tempat bersemayamnya Tuhan dan pandangan harus diarahkan untuk mengalami keillahian. Hati manusia sendiri adalah simbol dari Himalaya sebagai tempat tinggal dari kesucian dan kedamaian. Perjalanan matahari ke utara adalah petunjuk pada jalan yang engkau harus tempuh untuk menyadari Tuhan. Sebagai tambahan, matahari adalah contoh yang paling tinggi dalam pelayanan yang tanpa pamrih dan tidak mengenal lelah.  Dunia tidak dapat bertahan tanpa matahari. Kehidupan di dunia dapat ada hanya karena matahari. Jadi, Dewa Matahari mengajarkan setiap makhluk pelajaran dari bhakti yang rendah hati dengan dedikasi dan tanpa adanya kesombongan. Dengan menjalankan kewajiban adalah Yoga yang terbaik, kata Sri Krishna di dalam Gita. (Divine Discourse Jan 15, 1992)

-BABA

Saturday, January 14, 2017

Thought for the Day - 14th January 2017 (Saturday)

The Sankranti festival should be regarded as the day on which you turn your vision towards God. Your life can be compared to a stalk of sugarcane. Like the cane, which is hard and has many knots, life is full of difficulties. Never allow yourself to be overwhelmed by difficulties. Overcome the vicissitudes of life with forbearance and enjoy the sweet bliss of the Divine. Just as sugarcane is crushed and its juice converted into jaggery to enjoy the permanent sweetness of jaggery, enduring bliss can be got only by overcoming trials and tribulations. I address devotees as Bangaru (Golden one), because I consider you as very precious. Gold cannot be made into an attractive jewel without its transformation through the process of melting in a crucible and being beaten into the required shape. Develop self-confidence. Have firm faith in God. With unshakeable faith, dedicate yourself to the service of your fellow-beings and lead exemplary lives.


Perayaan Sankranti seharusnya diperingati sebagai hari dimana engkau mengarahkan pandanganmu kepada Tuhan. Hidupmu dapat diibaratkan setangkai tebu. Seperti halnya tebu, yang keras dan memiliki banyak ruas, hidup penuh dengan kesulitan. Jangan pernah mengizinkan dirimu diliputi oleh kesulitan. Atasilah perubahan dari kehidupan dengan ketabahan dan menikmati rasa manis kebahagiaan Illahi.  Seperti halnya tebu yang diremas dan airnya dijadikan gula untuk menikmati rasa manis gula yang kekal, kebahagiaan yang kekal hanya bisa didapat dengan mengatasi cobaan dan penderitaan. Aku menyebut bhakta dengan Bangaru (emas), karena Aku menganggap bahwa engkau adalah sangat berharga. Emas tidak akan bisa dirubah menjadi berbagai perhiasan yang indah tanpa mengalami perubahan melalui proses meleleh dalam tempat peleburan dan ditempa untuk menjadi bentuk yang diinginkan. Kembangkanlah kepercayaan diri. Miliki keyakinan yang mantap kepada Tuhan. Dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan, dedikasikan dirimu sendiri untuk pelayanan pada sesama dan menjalani hidup yang patut diteladani.   (Divine Discourse Jan 15, 1992)

-BABA

Friday, January 13, 2017

Thought for the Day - 13th January 2017 (Friday)

This month, known as Pushyamaasa, according to the Hindu almanac is noted for the peacefulness, prosperity and joy which it brings with it. Hence it is regarded with special distinction. Unless people give up their bad thoughts and actions, the month, however great in itself, will be of no avail. Be loving even towards those who hate you. Control your anger and other evil tendencies. The observance of Uttarayana (the northward movement of the Sun which is considered auspicious) should be marked by spiritual transformation of the people and not by lavish feasting and revelry. You should realise how much you owe to God for all the benefits you enjoy in life which are really gifts from Him, including the air you breathe and the water you drink. Should you not be grateful to God for all this? Without gratitude, life is meaningless.


Bulan ini disebut sebagai Pushyamasa, menurut naskah Hindu bahwa bulan ini disebut penuh dengan kedamaian, kesejahteraan dan suka cita yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, bulan ini dihormati secara khusus. Jika manusia tidak melepaskan pikiran dan perbuatan buruk maka bulan ini betapapun hebatnya tidak akan ada gunanya. Berikan kasih bahkan kepada mereka yang membencimu. Kendalikan amarahmu dan kecenderungan jahat yang lainnya. Perayaan dari Uttarayana (pergerakan matahari ke utara yang dianggap suci) seharusnya ditandai dengan perubahan spiritual dari manusia dan tidak berpesta secara berlebihan dan bersuka ria yang gaduh. Engkau seharusnya menyadari berapa banyak engkau berhutang kepada Tuhan untuk semua keuntungan yang engkau nikmati di dalam hidup yang telah diberikan oleh-Nya, termasuk udara yang engkau hirup dan air yang engkau minum. Bukankah seharusnya engkau berterima kasih akan semuanya itu? Tanpa rasa syukur maka hidup menjadi tidak ada artinya. (Divine Discourse, Jan 14, 1994)

-BABA

Thursday, January 12, 2017

Thought for the Day - 12th January 2017 (Thursday)

What students need today are three things: Spirit of Sacrifice, Devotion to God and Love for the Motherland. It is because people are filled with pride, selfishness and self-interest, they are ceasing to be human. For this, the first requirement is the elimination of ‘my’ and ‘mine’. The readiness to sacrifice one’s pleasure and comforts for the sake of one’s motherland must be promoted amongst one and all. When there are many noble-minded, and spiritually-oriented youth and students, nations will automatically achieve peace and security. You must develop self-reliance and self-confidence. Adhere to the basic qualities of truth, righteousness, forbearance and self-sacrifice. These are common to all people, without regard for nationality, creed or language. Cultivate a broad outlook, based on the fact that Divine is present in everyone. There is nothing that you cannot accomplish if you have firm faith in God and earn God’s Grace.
Apa yang dibutuhkan oleh pelajar hari ini adalah tiga hal yaitu : semangat berkorban, bhakti kepada Tuhan, dan kasih kepada ibu pertiwi. Karena manusia diliputi dengan kesombongan, mementingkan diri sendiri, dan adanya kepentingan diri maka mereka berhenti menjadi manusia. Untuk hal ini, syarat pertama adalah menyisihkan ‘milikku’ dan ‘kepunyaanku’. Kesiapan untuk mengorbankan kesenangan dan kenyamanan diri untuk kepentingan ibu pertiwi yang harus ditingkatkan diantara semuanya. Ketika ada banyak pikiran yang mulia, dan para pemuda serta pelajar yang berorientasi spiritual, maka bangsa secara otomatis mencapai kedamaian dan keamanan. Engkau harus mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri. Mematuhi sifat mendasar dari kebenaran, kebajikan, dan rela berkorban. Semuanya ini adalah umum bagi semua orang, tanpa memandang bangsa, keyakinan, atau bahasa. Tingkatkan pandangan yang luas, berdasarkan pada fakta bahwa keillahian adalah bersemayam dalam setiap orang. Tidak ada satupun yang engkau tidak dapat selesaikan jika engkau memiliki keyakinan yang kuat kepada Tuhan dan mendapatkan rahmat Tuhan. (Divine Discourse, Jan 14, 1988)

-BABA