Sunday, May 20, 2018

Thought for the Day - 19th May 2018 (Saturday)

For the Lord, this drama of time in three acts - past, present, and future is clear as crystal. In the twinkle of an eye, He grasps all three, for He is omniscient, and it is His plan that is executed, and His drama that is being enacted on the stage of creation. But, actors and spectators are lost in confusion, unable to surmise its development and meaning! For, how can one scene or act reveal its meaning? The entire play must be witnessed for the story to reveal itself – isn’t it? When the mystery is cleared and the play is discovered as ‘mere play’, conviction dawns that you are in Him and He is in you. Therefore, seekers of wisdom, always be conscious of this: The Lord is in every heart, in the subtle and the gross forms. The Divine is in the ant and the elephant, in atom and the atmosphere!


Bagi Tuhan, drama dari tiga kegiatan waktu yaitu – masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang adalah jelas sejelas kristal. Dalam satu kelip mata, Tuhan memahami semua ketiganya, karena Tuhan ada dimana-mana dan adalah rencana-Nya yang dijalankan, dan drama dari Tuhan yang sedang dimainkan di atas panggung ciptaan. Namun, pemain dan penonton telah tenggelam dalam kebingungan, tidak mampu untuk mengira perkembangan dan maknanya! Karena, bagaimana satu adegan atau babak mengungkapkan maknanya? Keseluruhan cerita dalam drama harus disaksikan seutuhnya untuk bisa mengungkapkan kisahnya. Ketika misteri menjadi jelas dan drama dilihat hanya sebagai sebuah drama saja, kepastian dapat muncul bahwa dirimu ada dalam Tuhan dan Tuhan ada dalam dirimu. Maka dari itu, para pencari kebijaksanaan akan selalu sadar akan hal ini. Tuhan bersemayam di dalam setiap hati dalam wujud halus dan nyata. Keilahian ada dalam semut dan juga pada gajah, dalam atom dan juga atmosfer! [Jnana Vahini, Chap 19]

-BABA

Saturday, May 19, 2018

Thought for the Day - 18th May 2018 (Friday)

Just as while eating you reject bad food, you must reject bad thoughts and take in only good and wholesome thoughts into the mind. Do not bear any ill-will towards those who may have done some harm to you. By returning evil for evil, how are you better than the other person? It is only when you do good even to the person that causes harm to you that you can show your better nature. Your face is the index of your mind. When you bear ill-will towards anyone, your enmity is reflected in your face and manners. When you entertain good and loving thoughts, your heart is filled with joy and you experience an upsurge of happiness. If you fill your heart with hatred, envy and pride, your life will become a dreary desert. On the other hand, if you fill your heart with love, your entire life becomes a saga of love.


Sama halnya saat makan engkau menolak makanan yang buruk, engkau harus menolak pikiran yang buruk dan hanya menerima gagasan yang baik dan sehat ke dalam pikiran. Jangan memiliki hasrat buruk kepada mereka yang telah menyakitimu. Dengan membalas kejahatan dengan kejahatan, bagaimana engkau menjadi lebih baik daripada orang lain? Hanya ketika engkau melakukan yang baik bahkan kepada orang yang menyebabkan penderitaan bagimu maka itu memperlihatkan sifatmu yang lebih baik. Wajahmu adalah petunjuk dari pikiranmu. Ketika engkau memiliki hasrat tidak baik kepada orang lain, kebencianmu dipancarkan lewat wajah dan tingkah lakumu. Ketika engkau memiliki pikiran yang baik dan welas asih, hatimu diliputi dengan suka cita dan engkau mengalami kenaikan rasa bahagia. Jika engkau mengisi hatimu dengan kebencian, iri hati dan kesombongan, hidupmu akan menjadi sebuah gurun yang suram. Sebaliknya, jika engkau mengisi hatimu dengan kasih, maka seluruh hidupmu menjadi sebuah kisah kasih sayang. [Divine Discourse, Jul 31, 1986]

-BABA

Thursday, May 17, 2018

Thought for the Day - 17th May 2018 (Thursday)

Without genuine and deep faith in God, it is utterly useless to master all 700 verses in the Gita; it is simply a burden on the memory. Reciting the Vedas, repetitive reading of scriptures, reading or listening to stories about great sages with superficial interest are at best, mental gymnastics, and have little spiritual value! It is only when you recite, study or listen to them with deep faith and earnestness that they begin impacting your thoughts and actions. They will then cease to become mere stories and become sources of inspiration and solace for transforming your own life. Draw the right lessons from the scriptures. Develop self-reliance to face the problems of life with competence and fortitude. Discharge your duty every day with devotion.


Tanpa adanya keyakinan yang murni dan mendalam pada Tuhan, merupakan kesia-siaan menguasai 700 sloka dalam Gita; hal ini hanya menjadi beban dari ingatan. Membaca kembali Weda, mengulang-ulang pembacaan naskah suci, membaca atau mendengarkan kisah orang suci dengan ketertarikan yang dangkal merupakan sebuah senam batin saja dan hanya memiliki sedikit nilai spiritual! Hanya ketika engkau menceritakan, mempelajari atau mendengarkan semuanya itu dengan keyakinan serta kesungguhan yang mendalam maka semuanya itu memberikan pengaruh pada pikiran perbuatanmu. Semuanya itu akan berhenti menjadi hanya cerita belaka namun akan menjadi sumber inspirasi serta pelipur lara untuk merubah hidupmu sendiri. Ambil pelajaran yang benar dari naskah suci. Kembangkan kemandirian untuk menghadapi masalah hidup dengan kompetensi dan ketabahan. Jalankan kewajibanmu setiap hari dengan bhakti. [Divine Discourse, July 31, 1986]

-BABA

Thought for the Day - 16th May 2018 (Wednesday)

The mind seeks to acquire something with much effort in the hope that its possession will give pleasure. But the pleasure derived from it does not last long. And the sorrow caused by its loss is considerable. There is trouble during the process of acquisition. Possession confers only temporary pleasure. The loss of the object leaves a trail of misery. Very often the pain from loss exceeds the pleasure from gain. It is a futile waste of one's life to go after such transient pleasures. Realising the meaninglessness of such pursuits the sages practised self-control as the means to enduring happiness. They evolved the technique of turning the senses and the mind inward to seek the source of lasting bliss. Control of the mind is the means to moksha (liberation). Purity of mind is the primary requisite.


Pikiran mencari jalan untuk mendapatkan sesuatu dengan usaha yang besar dengan harapan bahwa kepunyaannya akan memberikan kesenangan. Namun kesenangan yang di dapat darinya tidak bertahan lama. Dan duka cita yang disebabkan oleh kehilangannya adalah mendalam. Ada masalah saat proses mendapatkannya. Kepunyaan hanya memberikan kesenangan sementara. Kehilangan akan obyek meninggalkan jejak penderitaan. Sangat sering rasa sakit yang muncul dari kehilangan lebih besar dari kesenangan yang di dapat. Adalah sebuah kesia-siaan dengan menghabiskan hidup seseorang dalam mencari kesenangan yang sementara itu. Menyadari bahwa pencarian seperti itu adalah tidak ada manfaatnya maka orang suci menjalankan pengendalian diri sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Mereka mengembangkan teknik dalam mengarahkan indria dan pikiran ke dalam diri untuk mencari sumber kebahagiaan yang abadi. Mengendalikan pikiran adalah sarana untuk moksha (pembebasan). Kesucian pikiran adalah syarat yang utama. [Divine Discourse, Jul 31, 1986]

-BABA

Thought for the Day - 15th May 2018 (Tuesday)

“Spiritual wisdom (jnana) is the panacea for all ills, troubles, and travails.” This is how the Vedas describe it. Who among people are in urgent need of medical treatment? Those who are badly ill, right? So too, those who are groping in ignorance are first entitled to the teaching and the training leading to the acquisition of spiritual wisdom. There are many paths to acquire this wisdom, and the chief among them is the path of devotion (bhakti). As the oil is to the flame in the lamp, so is devotion to the flame of spiritual wisdom. The heavenly tree of joy of wisdom thrives on the refreshing waters of devotion. Understand this well. It is for this reason that Krishna, who is the personification of divine love and who is saturated with the quality of mercy, declared in the Gita, “I am known by means of devotion - Bhakthya-mam abhijanathi”. Why was this declaration made? Because there are no hurdles in the path of devotion. Young and old, high and low, man and woman - all are entitled to tread it.


“Kebijaksanaan Spiritual (jnana) adalah obat mujarab bagi semua penyakit, masalah, dan cobaan.” Ini adalah bagaimana Weda menjabarkannya. Siapa diantara manusia yang sangat perlu mendapatkan perawatan kesehatan? Mereka yang benar-benar sakit, bukan? Begitu juga, mereka yang meraba-raba dalam kegelapan adalah diberikan hak pertama untuk ajaran dan pelatihan yang menuntun pada penerimaan kebijaksanaan spiritual. Ada banyak jalan untuk mencapai kebijaksanaan ini, dan jalan utama diantara semuanya itu adalah jalan bhakti. Sebagaimana minyaknya maka begitulah nyala api, begitu juga dengan nyala api kebijaksanaan spiritual. Pohon surgawi suka cita kebijaksanaan tumbuh dengan subur dalam air yang menyegarkan dari bhakti. Pahami hal ini dengan baik. Ini adalah alasan bahwa Sri Krishna, yang merupakan perwujudan dari kasih ilahi dan dipenuhi dengan sifat welas asih, menyatakan dalam Gita, “Aku dapat diketahui hanya melalui sarana bhakti - Bhakthya-mam abhijanathi”. Mengapa pernyataan ini dibuat? Karena tidak ada rintangan di jalan bhakti. Muda dan tua, tinggi dan rendah, laki-laki dan perempuan – semuanya berhak menapaki jalan ini. [Jnana Vahini, Ch 18]

-BABA

Thought for the Day - 14th May 2018 (Monday)

A tree that has roots deep in the ground cannot be destroyed when its branches or leaves are cut off. Likewise, when evil qualities like hatred and envy have struck deep roots, they cannot be got rid off by striking at some branches. By suppressing bad thoughts intermittently, these evils cannot be eradicated. The mind has to be completely emptied of all bad thoughts to achieve real peace. Every bad thought must be rooted out the moment it arises in the mind. The war against bad thoughts is like the war against enemy hordes who attempt to get behind a fort through a subterranean tunnel. As one member of the enemy emerges from the tunnel, he should be struck down. Each one of the sense organs - the eye, the tongue or the ear - when it is influenced by a bad thought is led astray and behaves improperly. When they are influenced by good thoughts and impulses, they act in a manner which produces joy and contentment.


Sebuah pohon yang memiliki akar dalam ke tanah tidak bisa dihancurkan ketika dahan atau daunnya di potong. Sama halnya, ketika sifat jahat seperti kebencian dan iri hati memiliki akar yang mendalam maka sifat itu tidak bisa dihilangkan hanya dengan memotong beberapa dahannya saja. Dengan menekan pikiran buruk hanya sebentar-sebentar saja, pikiran buruk itu tidak akan dapat dibasmi. Pikiran harus sepenuhnya dikosongkan dari semua pikiran buruk untuk mencapai kedamaian yang sejati. Setiap gagasan buruk harus dicabut pada saat muncul dari dalam pikiran. Perang melawan pikiran buruk adalah seperti perang melawan segerombolan musuh yang berusaha masuk ke balik benteng pertahanan melalui terowongan bawah tanah. Saat satu anggota musuh muncul dari terowongan, maka musuh itu harus dibasmi. Setiap bagian dari organ indria – mata, lidah atau telinga – ketika dipengaruhi oleh pikiran buruk maka akan disesatkan dan bertingkah secara tidak semestinya. Ketika organ indria dipengaruhi dengan pikiran dan dorongan yang baik, organ indria ini akan bertindak yang akan menghasilkan suka cita dan kepuasan hati. [Divine Discourse, Jul 31, 1986]

-BABA

Thought for the Day - 13th May 2018 (Sunday)

The mother's lap is the school for every person. It is one’s first temple. The mother is one's primary wealth. To recognise this truth about one's mother is the duty of every person. There is no higher God than the mother. Only dedicated mothers can offer to the nation children who will strive for a great future for the country. Truth, sacrifice, and peace are predominant qualities in women. Women are concerned about the purity and welfare of the community. Good mothers are more essential than good wives. A good wife is of value only to her husband. A good mother is a national asset. From ancient times, Indian scriptures have glorified the examples of great women like Maithreyi, Sita, and Savitri. Their lives continue to be a source of inspiration to this day. We cannot afford to forget them.


Pangkuan ibu adalah sekolah bagi setiap orang. Ini adalah tempat suci yang pertama. Ibu adalah kekayaan pertama dari seseorang. Untuk menyadari kebenaran ini tentang seorang ibu adalah kewajiban dari setiap orang. Tidak ada Tuhan yang lebih tinggi daripada ibu. Hanya ibu yang berdedikasi dapat memberikan kepada bangsa anak-anak yang akan berusaha untuk masa depan yang hebat bagi sebuah bangsa. Kebenaran, pengorbanan, dan kedamaian adalah sifat yang utama dari wanita. Wanita perhatian tentang kesucian dan kesejahteraan masyarakat. Ibu yang baik adalah lebih mendasar daripada istri yang baik. Seorang istri yang baik hanya dinilai oleh suaminya saja. Seorang ibu yang baik adalah asset dari bangsa. Dari zaman dahulu, naskah suci di India telah memuliakan teladan yang diberikan oleh wanita-wanita hebat seperti Maithreyi, Sita, dan Savitri. Hidup mereka berlanjut menjadi sumber inspirasi sampai hari ini. Kita tidak dapat melupakan mereka. [Divine Discourse, Sep 11, 1983]

-BABA