Thursday, October 15, 2020

Thought for the Day - 14th October 2020 (Wednesday)

You sit before the idol and offer praise, and the incense of worship, but you do not now try to grasp the significance of God that you see in the idol. Inquire into the Will of God, discover the commands of God, guess what will please Him most, and regulate your life accordingly. Do not get caught in the sticky tangles of outer nature. Do not harden your heart through greed and hate. So long as a trace of 'I-am-the-body' consciousness persists in you, you yourself have to search for God; you have to approach the mirror, the mirror will not proceed towards you to show you as you really are! Soften your heart with love. Cleanse it through pure habits of living and thinking. Use it as a shrine, wherein you install your God. Be happy that you have within you the source of power, wisdom and joy. Announce that you are unconquerable and free, that you cannot be tempted or frightened into wrong! 




Engkau duduk di hadapan arca suci Tuhan dan mempersembahkan pujian dan dupa pada saat doa, namun engkau sekarang tidak mencoba untuk mendapatkan makna dari Tuhan yang engkau lihat pada arca itu. Selidiki kehendak Tuhan, temukan perintah Tuhan, tebak apa yang paling dapat menyenangkan Tuhan, dan atur hidupmu sesuai dengan itu. Jangan terjebak dalam ikatan lengket dari dunia luar. Jangan memperkeras hatimu dengan ketamakan dan kebencian. Selama masih ada jejak kesadaran 'aku – adalah - tubuh' di dalam dirimu, engkau sendiri harus mencari Tuhan; engkau harus mendekati cermin, karena cermin tidak akan mendekat kepadamu untuk memperlihatkan dirimu yang sesungguhnya! Lembutkan hatimu dengan kasih. Bersihkan hatimu dengan kebiasaan hidup dan berpikir yang suci. Gunakan hati sebagai tempat suci, dimana engkau menempatkan Tuhan di sana. Berbahagialah bahwa engkau memiliki kekuatan seperti itu di dalam dirimu yaitu kebijaksanaan dan suka cita. Umumkan bahwa engkau tidak terkalahkan dan bebas, bahwa engkau tidak bisa tergoda atau ditakuti untuk berbuat salah! (Divine Discourse, Jan 14, 1970)

-BABA

 

Thought for the Day - 13th October 2020 (Tuesday)

When one person exudes the pride that he alone can sing Bhajans well among the group, naturally others develop anger, jealousy, hate, malice and such other deleterious traits. Love alone can root out the weed of pride from the heart. Love all considering all as so many forms of God, appearing in these various roles. A heart without Love is as dreary as a town without a temple. Spiritual pride is the most poisonous of all varieties of pride; it blinds and leads the person suffering from it into ruin. Beware of pride; be always aware that you are but instruments in My Divine Mission of Dharma sthapana - Revival of Righteousness. Try to be more and more efficient as such instruments. The Hand that wields the Instrument knows how and when it has to be applied. If there is righteousness in the heart, there will be beauty in character. If there is beauty in character, there will be harmony in the home. 



Ketika seseorang memancarkan kesombongan dimana hanya dia sendiri yang dapat melantunkan lagu bhajan dengan baik dalam satu kelompok bhajan, secara alami yang lain akan mengembangkan rasa marah, iri hati, benci, congkak, dan sifat-sifat seperti itu yang mengganggu. Hanya kasih yang dapat mencabut sampai ke akarnya rumput liar kesombongan yang ada di dalam hati kita. Kasihi semuanya dengan menganggap semuanya sebagai wujud Tuhan yang begitu banyak, yang tampil dengan berbagai jenis peran. Sebuah hati tanpa kasih adalah sama suramnya dengan sebuah kota tanpa tempat suci. Kesombongan spiritual adalah racun yang paling berbahaya diantara jenis kesombongan yang lainnya; kesombongan spiritual membutakan dan mengarahkan seseorang pada penderitaan sampai pada kehancuran. Waspadalah terhadap kesombongan; selalulah sadar bahwa engkau hanyalah alat di dalam misi Tuhan dalam Dharma sthapana – kebangkitan kebajikan. Cobalah untuk lebih dan lebih efisien sebagai alat. Tangan yang menggunakan alat mengetahui bagaimana dan kapan alat ini harus digunakan. Jika ada kebajikan di dalam hati, akan ada keindahan di dalam karakter. Jika ada keindahan dalam karakter, akan ada keharmonisan di dalam rumah. (Divine Discourse, Jan 13, 1970)

-BABA

 

Thought for the Day - 12th October 2020 (Monday)

Fill the reservoir with water; then, when you turn the taps, the buckets will be full. Cultivate love and devotion, then your activities will be saturated with compassion and charity; they will yield the golden harvest of joy and peace. The water must be pure; Love must be unselfish and universal. You can yourself judge whether your Love is narrow or broad, whether your Devotion is shallow or deep. Are you content with your achievement? Examine it yourself - pronounce the verdict on yourself, by your own discrimination. Purity of motive is the best guarantee that you will have peace. An uneasy conscience is a tormenting companion. Righteous action will leave no bad effects to disturb your sleep or health. So be righteous, and avoid all prejudices against others on the basis of caste, creed, colour, mode of worship, status or degree of affluence. Do not look down on any one; look upon all as Divine as you really are. 



Isilah tangki dengan air, ketika engkau membuka kerannya maka ember akan terisi penuh. Tingkatkan kasih dan bhakti, kemudian perbuatanmu akan disucikan dengan welas asih dan kedermawanan; kedua bentuk kualitas ini akan menghasilkan panen emas berupa suka cita dan kedamaian. Airnya harus murni; kasih harus tidak mementingkan diri sendiri dan bersifat universal. Engkau dapat menilai dirimu sendiri apakah kasihmu bersifat sempit atau lapang, apakah bhaktimu dangkal atau dalam. Apakah engkau puas dengan pencapaianmu? Periksalah dirimu sendiri – ungkapkan keputusan tentang dirimu sendiri dengan kemampuan memilah yang engkau miliki. Menyucikan niat yang ada merupakan jaminan terbaik bagimu untuk memiliki kedamaian. Hati nurani yang gelisah adalah pendamping yang menyiksa. Perbuatan yang benar tidak akan meninggalkan pengaruh yang buruk yang dapat mengganggu tidur dan kesehatanmu. Jadilah orang baik, dan hindari semua bentuk prasangka terhadap orang lain yang berdasarkan pada kasta, keyakinan, warna kulit, bentuk ibadah, status, atau tingkat kemakmuran. Jangan memandang rendah siapapun juga; pandanglah semuanya sebagai Tuhan seperti dirimu sendiri yang sejati. (Divine Discourse, Jan 13, 1970)

-BABA

 

Thought for the Day - 11th October 2020 (Sunday)

The Lord cares for ekagrata and chitta-suddhi (concentration and purity of mind). You need not feel that you are physically away from Him. He has no 'near' and 'far'. Provided the address is clear and correct, your letter will be delivered, either at the next street or at Calcutta or Bombay for the same stamp. Smarana (remembering) is the stamp; manana (recapitulation) is the address. Have the Name for smarana; the Form for manana, that is enough. Select one Name and one Form for smarana and manana; but, do not talk ill of other names and forms. Behave like the woman in a joint family; she respects and serves the elders of the family such as the father-in-law, and his brothers and her own brother-in-law, but her heart is dedicated to her husband, whom she loves and reveres in a special manner. If you carp at the faith of others, your devotion is fake. If you are sincere, you will appreciate the sincerity of others. You see faults in others because you yourself have those faults, not otherwise. 



Tuhan memperhatikan ekagrata dan chitta-suddhi (konsentrasi dan kemurnian pikiran). Engkau tidak perlu merasa bahwa secara fisik engkau jauh dari-Nya. Beliau tidak memiliki 'dekat' dan 'jauh'. Asalkan alamatnya jelas dan benar, suratmu akan dikirimkan, baik di jalan berikutnya atau di Kalkuta atau Bombay untuk stempel yang sama. Smarana (mengingat nama Tuhan) adalah stempelnya; manana (mengulang nama Tuhan) adalah alamatnya. Memiliki Nama untuk smarana; Wujud untuk manana, itu sudah cukup. Pilihlah satu Nama dan satu Wujud untuk smarana dan manana; Tetapi, janganlah berbicara buruk mengenai Nama dan Wujud lainnya. Engkau hendaknya berperilaku seperti wanita dalam sebuah keluarga besar; dia menghormati dan melayani para penatua keluarga seperti ayah mertua, dan saudara laki-laki dan saudara iparnya sendiri, tetapi hatinya didedikasikan hanya untuk suaminya, yang dia cintai dan hormati dengan cara yang khusus. Jika engkau mencari kesalahan pada keyakinan orang lain, pengabdianmu palsu. Jika engkau tulus, engkau akan menghargai ketulusan orang lain. Engkau melihat kesalahan orang lain karena engkau sendiri yang memiliki kesalahan itu, bukan sebaliknya (Divine Discourse, Aug 15, 1964)

-BABA


Sunday, October 11, 2020

Thought for the Day - 10th October 2020 (Saturday)

Some, afraid of cynical criticism by unbelievers, are reluctant to participate in Nagarasankirtan. When you have the very Embodiment of Fearlessness installed in your heart, why should the slightest tremor of fear affect you? If others do not join, for fear of derision or ridicule, move out alone, singing the Name. You came into this world alone, with no companion, isn't it? During the years of life, you collected all this kith and kin, and acquaintances who attached themselves to you. When you return to the realm from which you came, you enter the portals alone, with no one to keep company. So too let it be with the journey called Nagarasankirtan. Come into the street alone, collect kith and kin, if they come unto you; move with them, unconcerned and unaffected; revel in your own sweet solitariness; and finally enter your home, in the satisfaction that your job is well done. People may laugh at you as insane, but this insanity is infectious and very soon, even the irreverent will be initiated into the fold. 



Beberapa merasa takut terhadap kritik sinis dari mereka yang tidak percaya dan menjadi enggan untuk ikut berpartisipasi dalam Nagarasankirtan. Ketika engkau memiliki perwujudan dari keberanian yang tertanam di dalam hatimu, mengapa goncangan sedikit dari ketakutan mempengaruhimu? Jika yang lainnya tidak mau bergabung, karena takut akan ejekan atau cemoohan, berjalanlah sendiri dalam melantunkan nama Tuhan. Engkau datang ke dunia ini sendiri dan tanpa yang mendampingi, bukan? Selama bertahun-tahun kehidupan, engkau mengumpulkan semua bentuk ikatan sanak saudara ini, dan juga kenalan yang mengikatkan diri mereka pada dirimu. Ketika engkau kembali ke tempat darimana engkau berasal, engkau memasuki gerbang itu sendirian, tanpa siapapun yang menemanimu. Begitu juga dengan perjalanan yang disebut dengan Nagarasankirtan. Datanglah ke jalan sendiri, ajak sanak saudara bersamamu jika mereka datang padamu; bergeraklah dengan mereka, tidak terpengaruh dan tidak peduli; bersuka cita di dalam kesendirian yang indah; dan pada akhirnya memasuki rumahmu dalam kepuasan bahwa pekerjaanmu selesai dengan baik. Orang-orang mungkin menertawakanmu sebagai orang gila, namun kegilaan ini adalah cepat menular, bahkan yang tidak sopanpun akan masuk ke dalamnya. (Divine Discourse, Jan 13, 1970)

-BABA

 

Thought for the Day - 9th October 2020 (Friday)

Reform the body, reconstruct the mind, and regulate the way of living; then, the country will become automatically strong and prosperous. Do not wail that it is a mud pot if it contains nectar; it is far better than having a gold pot with poison in it. The land may be rich, but if life is mean, it is deplorable. It does not matter if the standard of life is poor, provided the way of life is pure, full of love, filled with humility, fear-of-sin, and reverence towards elders. It is easy to restore this way of life, provided the Vedas are once again studied and followed. The Vedamatha (mother of Vedas) will foster in you love and kindness. Have faith; do not discard a diamond, dismissing it as a piece of glass. The Dharma laid down in the Vedas is the best armour to guard you against sorrow. 



Perbaharui tubuh, merekonstruksi pikiran, dan mengatur cara hidup, bangsa secara otomatis akan menjadi kuat dan makmur. Jangan meratapi bahwa ini adalah mangkuk lumpur jika mangkuk itu terkandung nektar di dalamnya; adalah jauh lebih baik daripada memiliki mangkuk emas namun dengan racun di dalamnya. Tanah mungkin sangat kaya, namun jika hidup kejam maka ini menjadi menyedihkan. Tidak masalah jika standar hidup adalah buruk, asalkan cara hidupnya suci, penuh kasih, diliputi dengan kerendahan hati, takut dosa, dan hormat kepada orang tua. Mudah untuk memulihkan cara hidup ini, asalkan Weda dipelajari dan diikuti. Wedamatha (ibu dari Weda) akan menumbuhkan kasih dan kebaikan di dalam dirimu. Miliki keyakinan; jangan membuang berlian dengan menganggapnya sebuah pecahan kaca. Dharma yang ditetapkan dalam Weda adalah baju besi pelindung terbaik untuk menjagamu dari penderitaan. (Divine Discourse, Aug 15, 1964)

-BABA

 

Thursday, October 8, 2020

Thought for the Day - 8th October 2020 (Thursday)

You must offer the Lord, not flowers that plants grow; that will reward the plant, not you! The Lord wants you to offer the lotus that blooms in the Lake of your Heart, the fruit that ripens on the tree of your earthly career, not the lotus and the fruit available in the marketplace! You may ask - "Where can we find the Lord?" Well, He has given His address, in Chapter 18, Shloka 61 of Bhagavad Gita. Turn to it and note it down - Ishwarah sarva bhutanam hrid-dese, Arjuna, tisthati - “O Arjuna, the Lord resides in the heart of all beings." Now, after knowing that, how can you look down on any living being in contempt or how can you revel in hating him or indulge in the pastime of ridiculing? Every individual is charged with the Divine Presence, moved by Divine attributes. Love, honour, friendliness - that is what each one deserves from you. Give these in full measure. 



Engkau harus mempersembahkan kepada Tuhan, bukan bunga yang ditanam, karena penghargaan itu akan mengarah pada tanaman bunga itu dan bukan pada dirimu! Tuhan menginginkan dirimu untuk mempersembahkan bunga teratai yang mekar di danau hatimu, buah yang matang di pohon pekerjaan duniawimu, bukan dari bunga teratai dan buah yang tersedia di pasar! Engkau mungkin bertanya - "Dimana kita bisa menemukan Tuhan?" Sejatinya Tuhan memiliki alamat yang jelas dalam Bab 18, sloka 61 dari Bhagavad Gita. Lihat dan catat halaman tersebut - Ishwarah sarva bhutanam hrid-dese, Arjuna, tisthati - “O Arjuna, Tuhan tinggal di dalam hati semua makhluk hidup." Sekarang, setelah mengetahui alamat Tuhan, bagaimana engkau dapat memandang rendah makhluk hidup lainnya atau bagaimana engkau dapat bersuka cita dalam membenci yang lain atau terlibat dalam kesenangan menghina? Setiap orang diliputi dengan kehadiran Tuhan, digerakkan oleh sifat-sifat Tuhan. Kasih, rasa hormat, keramahan – itu adalah yang layak setiap orang layak dapatkan dari dirimu. Berikan semua kualitas ini sepenuhnya. (Divine Discourse, Apr 16, 1964)

-BABA