Tuesday, September 19, 2017

Thought for the Day - 19th September 2017 (Tuesday)

God has no particular form. Brahma, Vishnu, Maheswara are not different from each other. God manifests in the form His devotees contemplate upon. If a woman considers her husband as God, she can realise God in him. God is present in every human being (Daivam manusha rupena). All are embodiments of the Divine. So to answer the question, “Where is God?”, “God is everywhere.” The Soul (Atma) that is present in you in the form of consciousness is present everywhere and in everyone. Hence do not search for the omnipresent God! Close your eyes and contemplate on the form of God that you like the most. God will manifest before you in that very form. Never think that God is present at one particular place or that distant place only! He is omnipresent everywhere, at all times, and permeates every atom of the universe. Make it your objective in this life to experience that Sweet Lord within yourself!

Tuhan tidak memiliki wujud tertentu. Brahma, Vishnu, Maheswara bukanlah wujud yang berbeda satu dengan yang lainnya. Tuhan mewujudkan diri dalam wujud yang direnungkan oleh bhakta-Nya. Jika seorang wanita menganggap suaminya sebagai Tuhan maka ia dapat menyadari Tuhan di dalam diri suaminya. Tuhan bersemayam dalam diri setiap manusia (Daivam manusha rupena). Semua adalah perwujudan dari Tuhan. Jadi untuk menjawab pertanyaan, “Dimana Tuhan?”, “Tuhan ada dimana-mana.” Jiwa (Atma) yang bersemayam di dalam dirimu dalam wujud kesadaran adalah ada dimana-mana dan ada dalam diri setiap orang. Oleh karena itu jangan mencari Tuhan yang hadir dimana-mana! Pejamkan matamu dan pusatkan perhatian pada wujud Tuhan yang paling engkau sukai. Tuhan akan mewujudkan diri-Nya di depanmu dalam wujud tersebut. Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan hadir pada satu tempat tertentu saja! Tuhan adalah hadir dimana-mana, sepanjang waktu, dan meresapi setiap atom dari alam semesta ini. Jadikanlah ini sebagai tujuan dalam hidupmu ini untuk mengalami manisnya Tuhan di dalam dirimu sendiri! (Divine Discourse, Mar 16, 2010)


Thought for the Day - 18th September (Monday)

People try to obtain peace by accumulating authority and wealth, which gives them power over others and the ability to command conveniences and comforts which will confer peace. But they quickly realise that both these paths are beset with fear, and the peace that one secures is liable to quick and violent extinction. How then can you achieve peace? Only through Love! Peace is the fruit of the tree of life; without it, the tree is a barren stump with zero value. The fruit is encased within a bitter skin, so that the sweet juice may be preserved and guarded; you must remove the skin to taste its sweetness and to strengthen yourself. The thick rind is symbolic of the six evil passions that encase everyone’s loving heart: lust, anger, greed, attachment, pride and hate. Those who succeed in removing the rind and contact the sweetness within through hard and consistent discipline attain the peace that is everlasting and unchanging.

Orang-orang mencoba mendapatkan kedamaian dengan mengumpulkan kekuasaan dan kekayaan, yang memberikan mereka kekuatan di atas yang lainnya dan kemampuan untuk menuntut kenyamanan yang akan memberikan kedamaian. Namun mereka dengan cepat menyadari bahwa kedua jalan ini diliputi dengan ketakutan, dan kedamaian yang seseorang dapatkan besar kemungkinan dengan cepat mengalami kepunahan dan kekerasan. Bagaimana kemudian engkau dapat mencapai kedamaian? Hanya dengan melalui cinta kasih! Kedamaian adalah buah dari pohon kehidupan; tanpa buah maka pohon itu tunggul tandus dengan tanpa nilai. Buah dibungkus dengan kulit yang pahit, sehingga saripatinya dapat dijaga dan diawetkan; engkau harus melepaskan kulitnya agar bisa merasakan rasa manis saripati buah itu dan menguatkan dirimu. Kulit tebal itu adalah simbol dari enam hasrat jahat yang membungkus hati manusia seperti : nafsu, amarah, tamak, keterikatan, kesombongan, dan kebencian. Bagi mereka yang berhasil dalam melepaskan kulit buah itu dan menyentuh rasa manis di dalamnya melalui disiplin yang ketat dan konsisten mendapatkan kedamaian yang kekal dan tidak berubah. (Divine Discourse, Jan 1, 1971)


Thought for the Day - 17th September 2017 (Sunday)

Milk has butter in every drop; it makes it very nourishing. If you must see it as a separate concrete entity, you must boil the milk, cool it, add sour curd, wait for hours for it to curdle, then churn it, and roll the butter that floats into a ball. God is in every being, in fact in every atom of the Universe; it is because they exist, we can recognise and enjoy Him. To see God and experience Him, work in the spirit of love; this will lead you on to worship. Work without any regard to the proportion of benefit you derive from it, work since it is your duty, work since you love to work, work earnestly, strictly and sincerely since that is the way you can offer gratitude to God for the skills He has endowed upon you. Then you will certainly experience His Grace and Glory.

Susu memiliki mentega dalam setiap tetesnya; itu membuatnya menjadi sangat bergizi. Jika engkau harus melihat mentega sebagai bagian yang terpisah maka engkau harus merebus susu dan mendinginkannya serta menambahkannya dengan asam dadih, menunggunya untuk beberapa jam agar mengental, kemudian mengaduknya, dan menggulung mentega yang mengapung menjadi sebuah bola. Tuhan ada dalam setiap makhluk, sejatinya dalam setiap atom di alam semesta; disebabkan karena makhluk itu ada maka kita dapat mengetahui dan menikmati kehadiran Tuhan. Untuk melihat Tuhan dan mengalami-Nya, bekerjalah dengan semangat kasih sayang; ini akan menuntunmu pada ibadah. Bekerjalah tanpa memperhatikan proporsi pada keuntungan yang engkau dapatkan dari hal ini, bekerjalah karena itu adalah kewajibanmu, bekerjalah karena engkau mencintai untuk bekerja, bekerjalah dengan jelas, dengan disiplin dan tulus karena itu adalah jalan yang dapat mempersembahkan terima kasih kepada Tuhan untuk keahlian yang Tuhan berikan kepadamu. Kemudian engkau pastinya akan mengalami karunia dan kemuliaan-Nya. (Divine Discourse, Jan 1, 1971)


Saturday, September 16, 2017

Thought for the Day - 16th September 2017 (Saturday)

Why must you compete and quarrel with one another? Nothing in this world can last as such for long. Lord Buddha diagnosed this correctly and declared, "All is sorrow, all is transient, all are but temporary phenomenon of ephemeral characteristics." Why should you be so animated by these finite objects and petty things? Strive to gain the eternal, the infinite, the universal. One day, you have to give up the body that you have so carefully fed and fostered. How long can you keep all that you have earned and possessed with pride? Trivial thoughts and desires award only sorrow; holy thoughts and desires reward you with divine peace. Therefore cultivate good and beneficial feelings and desires. Keep away from bad company and bad thoughts. Realise the holy purpose of life through pure thoughts and words, and selfless service to your fellow-beings.

Mengapa engkau harus bersaing dan bertengkar diantara satu dengan yang lainnya? Tidak ada apapun di dunia ini dapat bertahan begitu lama. Sang Buddha mengetahui hal ini dengan benar dan menyatakan, "Semuanya adalah penderitaan, semuanya adalah sementara, semuanya hanyalah fenomena yang sebentar dari karakteristik yang singkat." Mengapa engkau harus begitu bersemangat dengan benda-benda yang terbatas dan remeh ini? Berusahalah untuk mendapatkan yang bersifat kekal, tidak terbatas dan universal. Suatu hari nanti, engkau harus melepaskan tubuh yang dengan hati-hati telah engkau jaga dan rawat. Berapa lama engkau dapat menjaga semua yang engkau telah dapatkan dan miliki dengan sombong? Pikiran dan keinginan yang sepele hanya memberikan penderitaan; hanya pikiran dan keinginan suci yang memberikanmu kedamaian illahi. Maka dari itu, tingkatkan perasaan dan keinginan yang baik serta berguna. Menjauhlah dari pergaulan yang tidak baik dan juga pikiran yang buruk. Sadari tujuan suci dari kehidupan melalui pikiran dan perkataan yang suci, dan pelayanan yang tanpa mementingkan diri sendiri pada sesamamu. (Divine Discourse, May 1981)


Thought for the Day - 15th September 2017 (Friday)

A man sees a ripe fruit on a tree. The mind craves for the fruit, but it cannot fulfil the craving by itself. The feet take him near the tree. The trunk stoops, the hand picks up a stone, the shoulders throw it at the fruit which then falls. The fruit has to be picked up by the fingers, transferred into the mouth, the teeth have to bite into it, masticate it well and the tongue has to take charge to make it reach the stomach. The eating part is thus over. But that does not end the story of the craving for the fruit. Since so many instruments cooperated in the fulfilment, gratitude has to be rendered to each of them. So the stomach sends strength and satisfaction to every limb that shared in the adventure. Every limb acts effectively, promptly and performs its entrusted duty, so your body may live in health and efficiency, alert with all its skills and potentialities. This is true also of the enterprises that you undertake with others. Everyone must resolve to use their full skill and intelligence to discharge their obligations.

Manusia melihat buah yang matang di atas pohon. Pikiran menginginkan buah itu, namun pikiran tidak bisa mendapatkannya dengan sendirinya. Kaki membawanya semakin dekat dengan pohon itu. Tubuh membungkuk dan tangan mengambil sebuah batu, bahu melemparkan batu itu pada buah yang kemudian buah itu jatuh. Buah itu harus diambil oleh jari-jemari, kemudian dibawa ke mulut, gigi harus menggigit dan mengunyah buah itu dengan baik, lidah harus bertugas untuk membawanya ke dalam perut. Proses makan sudah selesai. Namun itu tidak mengakhiri cerita tentang keinginan akan buah. Karena begitu banyak sarana bekerja sama dalam memenuhi keinginan itu, maka rasa terima kasih harus diberikan pada setiap bagian yang terlibat, sehingga perut mengirimkan kekuatan dan kepuasan pada setiap bagian tubuh yang ikut dalam proses kegiatan itu. Setiap bagian anggota tubuh bertindak secara efektif, dengan segera dan menjalankan kewajiban yang dipercayakan, agar tubuhmu dapat hidup sehat dan berguna, sepenuhnya engkau harus sadar dengan keahlian dan potensinya. Hal ini juga benar terkait kegiatan usaha yang engkau jalankan dengan yang lainnya. Setiap orang harus memutuskan untuk menggunakan keahlian dan kecerdasan mereka sepenuhnya untuk menjalankan kewajibannya. (Divine Discourse, Jan 1, 1971)


Thursday, September 14, 2017

Thought for the Day - 14th September 2017 (Thursday)

The Nature around us and with us is the vesture of God, presenting ample evidences of His beauty, goodness, wisdom and power, wherever we look. But the art of recognising Him is strange to us and so we deny Him and live in darkness. We have all around us in the atmosphere the music emanating from various broadcasting stations, but they do not assail your ear at any time. You are not aware of any station. But if you have a receiver, and if you tune it to the correct wavelength, you can hear the broadcast from any particular station; if you fail to tune it correctly, you will get only nuisance instead of news! Similarly the Lord is everywhere - above, around, below and beside you. For recognising Him, you require not a yantra (machine) but a mantra (mystical potent formula). Dhyana (meditation) is tuning to the exact location of the station, love is the tuning fork. Tune in, realise the Divine and enjoy the bliss He confers!

Alam di sekitar kita dan juga yang bersama kita adalah wujud Tuhan, menunjukkan banyak bukti tentang keindahan-Nya, kebaikan, kebijaksanaan, dan kekuatan, kemanapun kita memandang. Namun seni dalam mengenali-Nya adalah aneh bagi kita sehingga kita menyangkal-Nya dan hidup dalam kegelapan. Kita memiliki semuanya di sekitar kita dalam atmosfer dimana musik yang berasal dari berbagai stasiun penyiaran, namun semuanya itu tidak sampai di telingamu. Engkau tidak menyadari stasiun yang mana saja. Namun jika engkau memiliki pemancar penerima dan jika engkau menyetelnya pada gelombang yang benar, engkau dapat mendengar siaran dari stasiun radio tertentu; jika engkau tidak bisa mendapatkan gelombang yang tepat, maka engkau hanya akan mendapatkan gangguan daripada berita! Sama halnya Tuhan ada dimana-mana – diatas, disekitar, dibawah dan disampingmu. Untuk menyadari-Nya, engkau tidak membutuhkan sebuah yantra (mesin) namun sebuah mantra (kata-kata suci). Dhyana (meditasi) adalah menghubungkan lokasi yang tepat pada stasiun yang ada, kasih adalah sebagai garputala. Sambungkan pada salurannya, sadari keillahian dan nikmati kebahagiaan yang Tuhan berikan! (Divine Discourse, Jan 1, 1971)


Thought for the Day - 13th September 2017 (Wednesday)

Consider this loudspeaker which has the power to broadcast sound. Someone must have produced it, isn’t it? Who could have created it? Someone with the knowledge and skill to produce such a device. They may not be visible to you, but they exist, perhaps in Germany or Switzerland or Japan. Similarly for everything you enjoy in daily life, be it the television or the watch or any other gadget, there is a creator. But we are also seeing objects which are beyond human capacity. The sky, the stars that twinkle, the Sun and the Moon which illumine the world! Can any ordinary person create these? The supreme power which has the capacity to create such marvellous things has been described by the Vedas as Aprameya, which means, One who is beyond all proofs and all limitations. God cannot be described in words. Your primary objective must be to seek to understand this Infinite Power.

Bayangkan pengeras suara ini yang memiliki kekuatan untuk menyiarkan suara. Seseorang pasti telah memproduksinya, bukan? Siapa yang dapat menciptakannya? Seseorang dengan pengetahuan dan keahlian untuk bisa menghasilkan perangkat yang seperti itu. Mereka mungkin saja tidak terlihat bagimu, namun mereka ada, mungkin mereka ada di Jerman atau Swiss atau Jepang. Sama halnya untuk segala sesuatu yang engkau nikmati dalam hidupmu sehari-hari, apakah itu televisi atau jam tangan atau perangkat lainnya, pasti ada yang menciptakan semuanya itu. Namun kita juga melihat objek yang di luar kapasitas manusia. Seperti halnya langit, bintang yang berkelap kelip, matahari dan bulan yang menerangi dunia! Dapatkan manusia biasa menciptakan semuanya ini? Kekuatan yang tertinggi yang memiliki kapasitas untuk menciptakan benda-benda yang menakjubkan seperti itu telah dijabarkan oleh Weda sebagai Aprameya, yang berarti, seseorang yang melampaui semua bukti dan semua batasan. Tuhan tidak bisa dijelaskan dalam kata-kata. Tujuan utamamu harus berusaha mengerti tentang kekuatan yang tidak terbatas ini. (Divine Discourse, Mar 1, 1981)