Thursday, December 8, 2016

Thought for the Day - 8th December 2016 (Thursday)

Your life should be marked by discipline and morality, wherever you live. Lead your life in consonance with the command of your conscience. Your actions should remain the same, whether observed or unobserved, noticed or unnoticed. Though it is hard to restrain your mind, it can be diverted. When the mind steeped in the secular world is diverted toward Divinity, it gains in moral strength. The mind steeped in the worldly matters makes you a prisoner of the world, whereas a mind steeped in God liberates you. Your heart is the lock and your mind is the key. When you turn the key to the left, it locks. But if you turn it right, it unlocks. It is the turning of the key that makes the difference. Hence your mind is the cause for your liberation and bondage. What then is liberation (moksha)? It is not an air-conditioned mansion, but a state devoid of delusion (moha).

Hidupmu seharusnya ditandai dengan disiplin dan moralitas dimanapun engkau hidup. Jalanilah hidupmu selaras dengan tuntunan dari suara hatimu. Perbuatanmu seharusnya tetap sama, apakah diamati atau tidak diamati, diperhatikan atau tidak diperhatikan. Walaupun adalah sulit untuk mengendalikan pikiranmu namun pikrian dapat dialihkan. Ketika pikiran sepenuhnya terpusat pada duniawi dan dialihkan menuju pada Tuhan maka ini akan memberikanmu kekuatan moral. Pikiran yang terpusat pada duniawi membuatmu menjadi tawanan di dunia, sedangkan pikiran yang terpusat pada Tuhan akan membebaskanmu. Hatimu adalah gembok dan pikiranmu adalah kuncinya. Ketika engkau memutar kuncinya ke kiri maka gemboknya akan terkunci. Namun jika engkau memutarnya ke kanan maka gemboknya akan terbuka. Ini terkait dengan arah putar kuncinya yang membuat perbedaan. Oleh karena itu, pikiranmu adalah penyebab bagi terbebasnya dirimu dari perbudakan. Apa itu kebebasan (moksha)? Ini bukan tempat yang berAC, namun sebuah keadaan sama sekali tanpa khayalan (moha). (Summer Roses on Blue Mountains 1996, Ch 1)


Wednesday, December 7, 2016

Thought for the Day - 7th December 2016 (Wednesday)

Culture is universal in its scope and significance. We should not claim and contend that Indian culture is superior to all the other cultures of the world. Instead, we should have firm faith in the injunctions like: a) “All are one. Be alike to everyone.” b) “Together we shall live. Together we shall move. Together we shall grow in splendour. Together we shall live in amity and harmony, without conflict and skirmish.” We should foster the noble sentiments expressed in vedic statements of this kind. Unfortunately, the educational institutions of today do not nourish these noble sentiments in students. They are purely academically oriented and disregard the finer values of life. Secular learning should be coupled with spirituality. It is only such a harmonious blend of the secular and the spiritual that would lend beauty and radiance to life. We should not learn merely to fill our bellies but also to fill our hearts with bliss. The food eaten fills only the stomach but does not fill the mind, but spiritual food fills the mind and gives eternal Bliss.

Kebudayaan adalah universal dalam jangkauan dan maknanya. Kita seharusnya tidak menyatakan dan berpendapat bahwa kebudayaan India adalah yang paling hebat dibandingkan dengan kebudayaan yang lainnya di dunia. Sebaliknya, kita seharusnya memiliki keyakinan yang mantap dalam kutipan seperti: a) “Semuanya adalah satu. Bersikaplah sama kepada setiap orang.” b) “Bersama-sama kita akan hidup. Bersama-sama kita akan bergerak. Bersama-sama kita akan tumbuh dalam kemuliaan. Bersama-sama kita akan hidup dalam persahabatan dan keharmonisan, tanpa adanya konflik dan perkelahian.” Kita seharusnya mengembangkan perasaan yang mulia seperti yang dinyatakan dalam Weda. Namun sangat disayangkan, institusi pendidikan saat sekarang tidak menanamkan perasaan-perasaan mulia ini pada pelajar. Institusi pendidikan murni berorientasi pada akademis saja dan bersikap acuh pada nilai kehidupan yang lembut. Pembelajaran duniawi harus disandingkan dengan spiritual. Hanya dalam keharmonisan campuran dari duniawi dan spiritual ini maka akan memancarkan keindahan hidup. Kita seharusnya tidak hanya belajar melulu untuk mengisi perut kita namun juga untuk mengisi hati kita dengan kebahagiaan. Makanan yang kita makan hanya mengisi perut saja tapi tidak mengisi pikiran, namun makanan spiritual mengisi pikiran dan memberikan kebahagiaan yang kekal. (Ch 1, Summer Roses on Blue Mountains 1996)


Tuesday, December 6, 2016

Thought for the Day - 6th December 2016 (Tuesday)

To develop kshama (forbearance), you must practice four kinds of purity – 1. Dravya Soucham (purity of materials); 2. Manasika Soucham (purity of mind); 3. Vak Soucham (purity in speech); 4. Kriya Soucham (purity in action or purity of body). Purity of materials covers all things used by a person, from clothes, food and cooking utensils to houses, and all the varied things used by a person. Everything that is in daily use should be completely pure. Purity of the mind calls for total elimination of attachments and aversions from the mind. Purity in speech implies avoidance of falsehood, and avoiding abusive language, slanderous gossip and speech that causes pain to others. A vile tongue fouls the mind and dehumanises man. The body has to be purified by performing Achamana with water (this ritual involves uttering the names of the Lord thrice and drinking three spoonfuls of water from the palm).

Untuk mengembangkan kshama (kesabaran), engkau harus menjalankan empat jenis penyucian – 1. Dravya Soucham (kesucian benda materi); 2. Manasika Soucham (kesucian pikiran); 3. Vak Soucham (kesucian perkataan); 4. Kriya Soucham (kesucian perbuatan atau kesucian tubuh). Kesucian benda atau materi melingkupi semua benda yang digunakan oleh manusia, dari pakaian, makanan, dan alat masak dan semua berbagai jenis benda yang digunakan oleh manusia. Segala sesuatu yang digunakan sehari-hari seharusnya sepenuhnya suci. Kesucian pikiran terkait dalam melepaskan keterikatan sepenuhnya dan antipati yang ada dalam pikiran. Kesucian dalam perkataan mengandung makna menghindari kebohongan dan menghindari bahasa yang menghina, gosip yang memfitnah dan perkataan yang menyebabkan rasa sakit pada yang lainnya. Sebuah lidah yang busuk mengotori pikiran dan menurunkan derajat manusia. Tubuh harus disucikan dengan menjalankan Achamana dengan air (ritual ini mencakup melantunkan nama Tuhan tiga kali dan minum tiga sendok makan air dari tangan). (Divine Discourse, Jan 7, 1988)


Thought for the Day - 5th December 2016 (Monday)

Culture lies in seeing unity in diversity, with a deep-seated faith in the unity of life. Nourish faith in the feeling of the caste of humanity and the culture of love. Here love does not refer to the bodily affection that marks the relationship between a wife and husband, between children and parents, or between friends. The son, though he loved his mother with all his heart, flings her body onto the burning pyre and consigns her to flames without any mercy after her death. How can such love be called true Love? All such relationships can at best be termed ‘attachment’! Attachments, like passing clouds that sail away, come in the middle and pass off in the middle. But Love existed even before birth and will last after death. There is no love between husband and wife before their wedding or between the mother and the child before its birth. Only Divine Love exists before birth and lasts after death.

Kebudayaan terdapat dalam melihat kesatuan dalam keanekaragaman, dengan keyakinan yang kuat dalam kesatuan pada kehidupan. Peliharalah keyakinan dalam perasaan terkait kasta kemanusiaan dan kebudayaan dengan cinta kasih. Dalam hal ini cinta kasih tidak mengacu pada cinta pada tubuh yang ditandai dengan hubungan suami istri, diantara anak-anak dan orang tua, atau diantara sahabat. Seorang putra walaupun ia menyayangi ibunya dengan sepenuh hati, akan menaruh tubuh ibunya diatas tumpukan kayu bakar dan membakarnya tanpa ampun setelah ibunya meninggal. Bagaimana kasih seperti ini dapat disebut sebagai kasih yang sejati? Semua bentuk hubungan itu dapat dikategorikan sebagai ‘keterikatan’! seperti halnya awan yang berlalu yang mana muncul di pertengahan dan berlalu di pertengahan juga. Namun kasih ada bahkan sebelum kelahiran dan akan tetap ada setelah kematian. Tidak ada kasih diantara suami dan istri sebelum pernikahan mereka atau diantara ibu dan anak sebelum kelahirannya. Hanya kasih Tuhan yang ada sebelum kelahiran dan tetap ada setelah kematian. (Ch 1, Summer Roses on Blue Mountains 1996)


Monday, December 5, 2016

Thought for the Day - 4th December 2016 (Sunday)

Amongst the qualities that are needed to realise your Divinity, the foremost is ‘Kshama’, forbearance or forgiveness. It is essential for every human being. It is supreme amongst virtues. Forbearance is truth, righteousness, compassion and nonviolence; Kshama comprehends every other quality. Purity of mind must be practiced to acquire Kshama. Purity of mind requires total elimination of attachments and aversions from the mind. Hatred and envy should have no place. Today people cannot bear to see others happy or prosperous; this is the sign of a polluted mind. To be truly human, you must have a pure and unsullied mind. You must cultivate large-heartedness to return good for evil and not to cause pain to anyone in any circumstance. This is the mark of a pure mind. Recognise that the same Divinity - the same pure Spirit that dwells in you and the Power that animates you - is present equally in every human being.

Diantara kualitas yang diperlukan untuk menyadari keillahianmu, maka yang utama adalah ‘Kshama’, kesabaran atau memaafkan. Ini adalah mendasar bagi setiap manusia. Ini adalah tertinggi diantara kebaikan. Kesabaran adalah kebenaran, kebajikan, welas asih, dan tanpa kekerasan; Kshama meliputi setiap kualitas yang lainnya. Kesucian pikiran harus dijalankan untuk bisa mendapatkan Kshama. Kesucian pikiran membutuhkan pelepasan sepenuhnya pada keterikatan dan antipati yang ada dalam pikiran. Kebencian dan iri hati seharusnya tidak ada tempat lagi. Saat sekarang manusia tidak bisa tahan melihat yang lainnya bahagia atau sejahtera; ini adalah tanda dari tercemarnya pikiran. Untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, engkau harus memiliki pikiran yang suci dan tidak ternoda. Engkau harus meningkatkan kedermawanan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan dan tidak menyebabkan penderitaan bagi siapapun juga dalam keadaan apapun juga. Ini adalah tanda dari pikiran yang suci. Menyadari bahwa keillahian yang sama – kesucian jiwa yang sama yang bersemayam dalam dirimu dan kekuatan yang menghidupkanmu – adalah hadir sama dalam diri setiap manusia. (Divine Discourse, Jan 7, 1988)


Saturday, December 3, 2016

Thought for the Day - 3rd December 2016 (Saturday)

It is the foremost duty of everyone to transform every activity of their life into one of strength and beauty. Unfortunately, the education system of today fails to nourish the qualities of wholesomeness, unity and love, which are the hallmarks of true education. All of you should realise that your life span is fast melting away like ice, whether you care to improve yourselves or not. Many people feel that the acquisition of food, clothing, shelter, wealth, conveniences and comforts constitute the very purpose of life. Life remains a tragedy as long as people labour under this delusion. Many are blind to the goal of life, some do not even feel the pain of being ignorant about this. Only one in a million strives to realise it. This striving is the stepping stone for the realisation of the purpose of life. The day one realises the purpose of life, they undergo a total transformation, from agony (vedana) to freedom from pain (nirvedana).

Merupakan kewajiban yang paling utama bagi setiap orang untuk merubah setiap kegiatan dalam hidup mereka menjadi satu kekuatan dan keindahan. Namun sangat disayangkan, sistem pendidikan saat sekarang gagal untuk memelihara sifat baik, kesatuan dan kasih, yang mana merupakan tanda dari pendidikan yang sejati. Semua darimu seharusnya menyadari bahwa masa hidupmu adalah begitu cepat meleleh seperti halnya es, apakah engkau peduli untuk meningkatkan dirimu sendiri atau tidak. Banyak orang merasa bahwa pemerolehan makanan, pakaian, tempat perlindungan, kekayaan, kesenangan, dan kenyamanan merupakan tujuan dari hidup. Hidup akan tetap menjadi sebuah tragedi selama manusia masih terperangkap dalam khayalan ini. Banyak yang buta dengan tujuan hidup, beberapa bahkan tidak merasakan penderitaan dengan menjadi tidak peduli tentang hal ini. Hanya satu diantara sejuta yang berusaha keras menyadari hal ini. Usaha ini adalah sebuah batu loncatan untuk penyadaran dari tujuan hidup. Hari dimana seseorang menyadari tujuan hidupnya maka mereka mengalami sebuah perubahan yang total mulai dari penderitaan (vedana) pada kebebasan dari rasa sakit (nirvedana). (Ch 1, Summer Roses on Blue Mountains 1996)

Friday, December 2, 2016

Thought for the Day - 2nd December 2016 (Friday)

A person is judged by actions. Good actions reveal a good person and bad actions reveal a wicked person. Your qualities and actions are interdependent as actions reveal your inner qualities and your inner qualities drive your actions. Strive to reform yourself by developing good qualities. Merely listening to spiritual discourses or living in sacred places or in sacred company is of no use, unless an effort is made to practice a few of the noble teachings. Qualities like forbearance (kshama), compassion, truth, love and empathy are not restricted to any nation, race or faith. These are spiritual qualities and are essential for people everywhere, at all times. Propagation of Righteousness (Dharma) does not mean spreading knowledge about something that is unknown. Knowledge of Dharma is acquired only to promote its practice and only those who practice righteousness are qualified to propagate it. By practicing in daily living alone, you learn its true nature and realise its full value.

Seseorang dinilai dari perbuatannya. Perbuatan yang baik mengungkapkan orang yang baik dan perbuatan buruk mengungkapkan orang yang jahat. Sifat dan perbuatanmu adalah saling tergantung karena perbuatanmu mengungkapkan sifat dalam dirimu dan sifat dalam dirimu menentukan perbuatanmu. Berusahalah untuk memperbaiki dirimu sendiri dengan mengembangkan sifat-sifat yang baik. Hanya melulu dengan mendengarkan wejangan spiritual atau tinggal di tempat yang suci atau dalam pergaulan yang suci adalah tidak ada gunanya, kecuali sebuah usaha dilakukan untuk menjalankan beberapa ajaran yang mulia. Sifat seperti kesabaran (kshama), welas kasih, kebenaran, kasih, dan empati tidak dibatasi pada bangsa, ras, dan keyakinan tertentu. Ini adalah sifat-sifat spiritual dan bersifat mendasar untuk manusia dimana saja dan sepanjang waktu. Perkembangan dari kebajikan (dharma) tidak berarti menyebarkan pengetahuan tentang sesuatu yang tidak diketahui. Pengetahuan tentang dharma diperoleh hanya untuk meningkatkan penerapannya dan hanya mereka yang menjalankan kebajikan yang layak untuk menyebarkannya. Dengan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari saja, engkau belajar kualitas yang sebenarnya dan menyadari nilainya secara penuh. (Divine Discourse, Jan 7, 1988)