Tuesday, June 27, 2017

Thought for the Day - 27th June 2017 (Tuesday)

The question, "Where does God exist," is often trotted out by people nowadays. By unceasing recitation of the name of God, Prahlada knew that God is everywhere! It is not correct to assert, "He is only here" or that "He is not there." The realisation of this eternal Truth can dawn upon you only after intense spiritual practice (Sadhana). You may see all kinds of attractive articles in a departmental store or mall; they cannot be yours merely by wishing for it or asking for it from the shopkeeper. Only those articles for which you pay can be secured by you. Similarly, you may be very interested in ‘Realisation’, but for you to secure it, you must be willing to pay the price. Take courage and defeat your inner foes of lust, greed, hate and pride, and you will surely secure undisputed mastery over yourself and reach your goal!


Pertanyaan, "Dimana Tuhan berada," adalah sering ditanyakan oleh manusia pada saat sekarang. Dengan tanpa henti mengulang-ulang nama Tuhan, Prahlada mengetahui bahwa Tuhan ada dimana-mana! Adalah tidak benar dengan menyatakan, "Tuhan hanya ada disini" atau "Tuhan tidak ada disana." Kesadaran akan kebenaran yang kekal ini dapat muncul dalam dirimu hanya setelah engkau menjalankan latihan spiritual (sadhana) dengan disiplin tinggi. Engkau bisa melihat begitu banyak barang yang menarik di dalam mall; semua barang itu tidak bisa menjadi milikmu hanya dengan berharap memilikinya atau memintanya kepada penjaga toko. Hanya barang-barang yang telah engkau bayar yang dapat menjadi milikmu. Sama halnya, engkau mungkin sangat tertarik dengan ‘pencerahan’, namun untuk engkau bisa mendapatkannya, engkau harus membayar harganya. Miliki keberanian dan kalahkan musuh di dalam diri seperti nafsu, ketamakan, kebencian dan kesombongan maka pastinya engkau tidak diragukan lagi dapat menguasai dirimu sendiri dan mencapai tujuanmu! (Divine Discourse, Jan 1, 1967)

-BABA

Thought for the Day - 26th June 2017 (Monday)

We eat food today just as we have been doing all these years. We are looking at the same faces today that we have been seeing all these days. Are we asking ourselves, why do we see the same face again and again? We feed the same stomach which we had fed with food yesterday and the day before. Do we ever question why do we have to feed the same stomach again today? We easily understand and accept these normal tasks, but why do we think and question our traditions and customs and even the act of praying to God every day? Our sacred scriptures and divine stories from the past are to guide and save us. Times may change, the world may change, new epochs may come, but Divinity is one and the same, and is unchanging. Most of you seek things that are ever-changing. Why don’t you seek things that are permanent and unchanging?


Kita makan makanan setiap hari walaupun kita telah melakukannya sepanjang tahun. Kita memandang wajah yang sama setiap hari yang telah kita lihat sepanjang hari. Apakah kita menanyakan diri kita sendiri, mengapa kita melihat wajah yang sama berulang kali? Kita memberikan makan perut yang sama kemarin dan hari sebelumnya. Apakah kita pernah menanyakan mengapa kita harus memberikan makanan pada perut yang sama hari ini? Kita dengan mudah mengerti dan menerima kegiatan yang normal ini, namun mengapa kita berpikir dan menanyakan tradisi dan kebiasaan kita serta bahkan kegiatan ibadah kepada Tuhan setiap harinya? Naskah suci dan juga cerita suci kita dari masa lalu adalah untuk menuntun dan menyelamatkan kita. Waktu boleh berubah, dunia boleh berubah, zaman baru bisa datang, namun keillahian adalah satu dan sama dan tidak berubah. Kebanyakan darimu mencari hal yang selalu berubah. Mengapa engkau tidak mencari hal-hal yang kekal dan tidak berubah? (Summer Showers in Brindavan, 1977, Ch 1)

-BABA

Thought for the Day - 25th June 2017 (Sunday)

Islam means surrender to God. It teaches that God's Grace can be won through justice and righteous living; and not through wealth, scholarship or power. All who in a spirit of surrender and dedication, live in peace and harmony in society are in fact, followers of Islam. Islam insists on full co-ordination between thought, word and deed. Muslim holy men and sages have been emphasizing the need to inquire into the validity of the 'I' which feels it is the body and the 'I' which feels it is the mind, and reach the conclusion that the real 'I' is the self yearning for the Omni Self, God. During the Ramzan month, the fast and the prayers are to awaken and manifest this realisation. No matter which religion you follow, remember that the emphasis should be on unity, harmony and equal-mindedness. Therefore cultivate love, tolerance and compassion, and demonstrate this Truth in daily activity. This is the message I give you with My blessings.


Islam berarti berserah diri kepada Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa rahmat Tuhan bisa didapatkan melalui keadilan dan hidup yang benar; dan bukan dengan kekayaan, kesarjanaan, atau kekuasaan. Semua yang ada dalam semangat berserah diri dan dedikasi, hidup dalam kedamaian dan kerukunan dalam masyarakat, sejatinya adalah pengikut Islam. Islam sangat menekankan sepenuhnya pada koordinasi diantara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Para orang-orang suci dalam Islam telah menekankan perlunya untuk menyelidiki kebenaran akan ‘aku’ yang merasa sebagai tubuh dan ‘aku’ yang merasa sebagai pikiran, dan mencapai kesimpulan bahwa ‘aku’ yang sejati adalah kerinduan dalam diri pada Tuhan yang ada dimana-mana. Selama bulan suci Ramadhan, puasa dan doa adalah untuk membangkitkan dan mewujudkan kesadaran ini. Tidak masalah agama yang engkau ikuti, ingatlah bahwa penekanannya harus pada kesatuan dan pandangan yang sama. Maka dari itu tingkatkan cinta kasih, toleransi, dan welas asih serta menjalankan kebenaran ini dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah pesan yang Aku berikan kepadamu dengan rahmat-Ku. (Divine Discourse, July 12, 1983)

-BABA

Thought for the Day - 24th June 2017 (Saturday)

The third flower that God loves the most is the flower of compassion (daya) towards all living creatures. Live in amity with everyone, but do not have too much connection with people. The fourth special and significant flower that God dearly loves is that of forbearance (Kshama). The Pandavas suffered a lot at the hands of the Kauravas. But never did Dharmaraja lose forbearance. It was the virtue of forbearance that always won for Pandavas the protection of Krishna and made them an ideal to the rest of the world. God loves the offering of ever-blooming flowers of nonviolence, sense-control, compassion and forbearance (ahimsa, indriyanigraha, daya and kshama). God will be pleased with you and confer boons on you only when you offer Him the ‘flowers’ which are dear to Him. No benefit accrues from offering flowers, which fade and decay everyday.


Bunga ketiga yang Tuhan sangat sukai adalah bunga welas asih (daya) kepada semua makhluk hidup. Hiduplah dengan bersahabat baik dengan setiap orang, namun jangan terlalu banyak hubungan dengan orang-orang. Bunga yang keempat yang spesial dan penting yang Tuhan sangat sukai adalah ketabahan (Kshama). Para Pandawa mengalami banyak penderitaan di tangan para Kaurava. Namun Dharmaraja tidak pernah kehilangan akan ketabahan. Karena sifat mulia dari ketabahan yang selalu mendapatkan perlindungan dari Sri Krishna untuk para Pandava dan menjadikan mereka sebagai ideal bagi seluruh dunia. Tuhan mencintai persembahan bunga yang mekar yaitu tanpa kekerasan, pengendalian indria, welas asih, dan ketabahan (ahimsa, indriyanigraha, daya, dan kshama). Tuhan akan disenangkan olehmu dan memberkatimu dengan karunia hanya kaetika engkau mempersembahkan kepada-Nya ‘bunga’ yang disenangi oleh-Nya. Tidak ada keuntungan yang di dapat dengan mempersembahkan bunga yang layu dan busuk setiap hari. (Divine Discourse, Aug 22, 2000)

-BABA

Saturday, June 24, 2017

Thought for the Day - 23rd June 2017 (Friday)

Today science has advanced to a great extent! Human beings have undertaken space travel. People want to know what is there in space, they are curious to know what is there in the moon and even wish to travel to the Sun. But what is the use? First recognise the Divinity within yourself. Open the doors of your heart. Develop love more and more. Understand the truth. Experience God. There lies the bliss. It is very easy to know God, but very few understand this. You must make every effort to understand the immanent Divinity. The divinity within is covered by ego and anger. Therefore, it is said, real knowledge dawns only when attachment is destroyed (Moham hithva punar vidya). Where does this attachment come from? Excessive desires lead to attachment. You will experience divinity everywhere when you enquire deep within!


Pada saat sekarang ilmu pengetahuan telah berkembang maju dalam skala yang sangat besar! Manusia melakukan perjalanan ke luar angkasa! Manusia ingin mengetahui apa yang ada di luar angkasa, manusia memiliki rasa ingin tahu apa yang ada di bulan dan bahkan berharap melakukan perjalanan ke matahari. Namun apa gunanya? Pertama ketahuilah keillahian yang ada di dalam dirimu sendiri. Bukalah pintu hatimu. Kembangkan cinta kasih semakin besar dan semakin besar. Pahamilah kebenaran, alami Tuhan. Disana ada kebahagiaan. Adalah sangat gampang untuk mengetahui Tuhan, namun hanya beberapa orang saja yang mengerti akan hal ini. Engkau harus melakukan setiap usaha untuk mengerti keillahian yang tetap ada. Keillahian yang ada di dalam diri ditutupi oleh ego dan kemarahan. Maka dari itu, dikatakan bahwa pengetahuan yang sejati muncul hanya ketika keterikatan dihancurkan (Moham hithva punar vidya). Darimana datangnya keterikatan ini muncul? Keinginan yang terlalu banyak menuntun pada keterikatan. Engkau akan mengalami keillahian dimana saja ketika engkau menyelidiki secara mendalam di dalam diri! (Divine Discourse Mar 14, 1999)

-BABA

Thursday, June 22, 2017

Thought for the Day - 22nd June 2017 (Thursday)

Think for a while, what benefit will you gain by listening to gossip and talking unnecessarily about unsacred things? Nothing! In fact, you will be polluting your heart in the process. All that you see and hear gets imprinted on your heart. Once your heart is polluted, your life will become meaningless. The other day, while speaking to the devotees from Visakhapatnam, I quoted this example: “Human heart is like a pen. The colour of the words that you write will be the same as the colour of the ink in the pen.” Hence, teach your ears to listen to the stories of the Lord instead of listening to vain gossip. Only when you fill your heart with selfless love, all that you think, say and do will be suffused with love. Remember, God expects you to fill your heart with love and lead a sacred life.

Pikirkanlah sejenak, apa keuntungan yang akan engkau dapatkan dengan mendengarkan gosip dan membicarakan sesuatu yang tidak suci? Tidak ada sama sekali! Sesungguhnya, engkau akan mencemari hatimu dalam proses ini. Semua yang engkau lihat dan dengarkan akan terpatri di dalam hatimu. Sekali hatimu telah tercemar, hidupmu akan menjadi tidak ada gunanya. Di lain waktu, ketika sedang berbicara dengan para bhakta dari Visakhapatnam, Aku mengutip contoh ini: “Hati manusia adalah seperti sebuah pena. Warna-warni dari kata yang engkau tulis akan sama dengan warna tinta yang ada dalam pena.” Oleh karena itu, ajarkan telingamu untuk mendengarkan cerita Tuhan daripada mendengarkan gosip yang sia-sia. Hanya ketika engkau mengisi hatimu dengan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, maka semua yang engkau pikirkan, katakan dan lakukan akan diliputi dengan kasih. Ingatlah, Tuhan mengharapkan engkau mengisi hatimu dengan kasih dan menjalani hidup yang suci. - Divine Discourse, Aug 22, 2000

BABA

Thought for the Dai 21st June 2017 (Wednesday)

Embodiments of Love! Why should you search for God when He is everywhere? You are God! All spiritual practices (Sadhana) will go in vain if you do not know your true identity. First know who you are! Instead of asking others, “Who are you?” better ask yourself, “Who am I?” You say, “This is my book!” Who is this ‘I’? This feeling of ‘I, my’ is illusion (maya). All this is matter. All this is negative. You are the master of this material world. Master your mind and be a mastermind. You should make every effort to know your true identity. To know your true self, first give up body attachment. When you say, “this is my handkerchief,” ‘you’ are separate from your ‘handkerchief’. Similarly, when you say, “this is my body, my mind”, are you not separate from the body and the mind? The question that still remains is, “who am I?” Constant enquiry on these lines would lead you to Self-realisation.


Perwujudan kasih! Mengapa engkau harus mencari Tuhan ketika Tuhan ada dimana-mana? Engkau adalah Tuhan! Semua latihan spiritual (Sadhana) akan menjadi sia-sia jika engkau tidak tahu identitas sejatimu. Pertama ketahuilah siapa dirimu! Daripada menanyakan orang lain dengan, “Siapakah anda?” lebih baik tanyakan pada dirimu sendiri, “Siapakah aku?” Engkau mengatakan, “Ini adalah bukuku!” Siapakah ‘aku’ ini? Perasaan akan ‘aku’, ‘milikku’ adalah khayalan (maya). Semunya ini adalah materi saja. Semuanya ini adalah negatif. Engkau adalah penguasa dari dunia material ini. Kuasai pikiranmu dan jadilah penguasa pikiran. Engkau harus melakukan usaha untuk mengetahui identitas sejatimu. Untuk mengetahui jati dirimu, pertama lepaskan keterikatan. Ketika engkau berkata, “Ini adalah sapu tanganku,” ‘engkau’ adalah terpisah dari ‘sapu tangan’ mu. Sama halnya, ketika engkau berkata, “Ini adalah tubuhku, pikiranku”, bukankah engkau terpisah dari tubuh dan pikiran? Pertanyaan yang masih tetap ada adalah , “Siapakah aku?” selalulah menanyakan serta mencari tahu jawaban ini akan menuntunmu pada pencerahan diri. (Divine Discourse, Mar 14, 1999)

-BABA