Tuesday, August 15, 2017

Thought for the Day - 15th August 2017 (Tuesday)

Today is Gokulashtami, Krishna's birthday. Celebrating it with special dishes is not that important. More important is adherence to Krishna's teachings. Where was Lord Krishna born? In a prison! What were his possessions? Nothing! Born in a prison, He was taken to the house of Nanda and then to Mathura. He owned nothing. But He became the greatest leader in the world. What does this show? Worldly possessions are not the secret of achieving greatness. Krishna's greatness was in his permanent state of bliss (Ananda). Lord Krishna gave a perennial message to the world - He sought and kept nothing for Himself, but gave away everything. He slayed his maternal uncle, Kamsa, but did not covet the kingdom; he installed on the throne Kamsa's father Ugrasena. He helped the Pandavas defeat Kauravas and crowned Dharmaja as the emperor. He was the king of kings who rules the hearts of millions!

Hari ini adalah Gokulashtami, ulang tahun Sri Krishna. Merayakannya dengan hidangan spesial tidaklah begitu penting. Yang lebih penting adalah kepatuhan terhadap ajaran Sri Krishna. Dimanakah Sri Krishna lahir? Di dalam penjara! Apa miliknya? Tidak ada! Lahir di penjara, Dia dibawa ke rumah Nanda dan kemudian ke Mathura. Dia tidak memiliki apa-apa. Tapi dia menjadi pemimpin terbesar di dunia. Apa ini pertunjukan? Kepemilikan duniawi bukanlah rahasia untuk mencapai kebesaran. Kebesaran Krishna berada dalam keadaan kebahagiaannya yang tetap (Ananda). Krishna memberikan pesan abadi kepada dunia - Dia mencari dan menyimpan apa pun untuk diri-Nya sendiri, namun menyerahkan segalanya. Dia membunuh paman ibunya, Kamsa, tapi tidak mengingini kerajaan; Dia memasang takhta Kamsa ayah Ugrasena. Ia membantu Pandawa mengalahkan Kaurava dan menobatkan Dharmaja sebagai kaisar. Dia adalah raja yang memerintah hati jutaan orang! (Divine Discourse, Sep 4, 1996)


Thought for the Day - 14th August 2017 (Monday)

From the most ancient times Bharatiyas (Indians) considered Truth as God, loved it, fostered it, protected it and thereby achieved Divinity. They were devoted to Truth, wedded to Dharma (Righteousness) and regarded morality in society as their foremost duty. Today because people have forgotten Truth and Righteousness they are unable to solve national problems or end communal differences. We have the Bay of Bengal in the east and the Arabian Sea in the west and both merge in the Indian Ocean. Likewise, Bharat exemplifies the combination of worldly prosperity and spiritual progress. Bharat is the country, where the unity of the Jiva (the individual Spirit) and the Brahman (the Cosmic Spirit) was established. Remember, the term Bharat does not relate to any particular individual or country. True Bharatiyas are those who take delight in Self-knowledge. Hence anyone who shines by their own self-luminous power is a Bharatiya.

Dari zaman dahulu Bharatiya (orang India) menganggap kebenaran sebagai Tuhan, mencintainya, mengembangkannya, melindunginya dan maka dari itu mencapai keillahian. Penduduk India mengabdi pada kebenaran, menyandingkannya dengan Dharma (kebajikan) dan menganggap moralitas dalam masyarakat sebagai kewajiban mereka yang utama. Pada saat sekarang karena orang-orang telah melupakan kebenaran dan kebajikan maka mereka tidak mampu untuk mengatasi masalah nasional atau mengakhiri perbedaan yang terjadi. Kita memiliki teluk Bengal di timur dan lautan Arab di barat dan keduanya menyatu di lautan India. Sama halnya, Bharat menunjukkan kombinasi dari kesejahteraan duniawi dan kemajuan spiritual. Bharat adalah negara dimana kesatuan dari jiwa individu dan Tuhan ditegakkan. Ingatlah, istilah Bharat tidak terkait dengan individu atau bangsa tertentu saja. Bharatiya (orang India) yang sejati adalah mereka yang suka dalam pengetahuan diri. Oleh karena itu siapapun yang bersinar dengan kekuatan cahayanya sendiri adalah Bharatiya. (Divine Discourse, Nov 23,1990)


Sunday, August 13, 2017

Thought for the Day - 13th August 2017 (Sunday)

Develop discrimination and evaluate even your own needs and wishes. Examine each on the touchstone of essentiality. When you pile up things in your apartments, you only promote darkness and dust; so also, do not collect and store too many materials in your mind. Travel light! Have just enough to sustain life and maintain health. The pappu (a lentils dish) must have only enough uppu (salt) to make the dish tasty. Do not spoil the dish by adding too much salt. Similarly, life becomes too difficult to bear if you put into it too much desire. Limit your desires to your capacity and even among them, have only those that will grant lasting joy. Do not run after fashion and public approval and strain your resources beyond repair. Also live in accordance with the code of rules that regulate life or the stage you have reached.

Kembangkan kemampuan membedakan dan mengevaluasi bahkan untuk kebutuhan dan keinginanmu sendiri. Periksa setiap keinginan itu pada batu uji nilai yang mendasar. Ketika engkau menumpuk barang di dalam apartemenmu, engkau hanya menjadikan ruangan itu gelap dan berdebu; begitu juga, jangan mengumpulkan dan menyimpan begitu banyak hal di dalam pikiranmu. Lakukan perjalanan dengan ringan! Miliki cukup hanya untuk menopang hidup dan menjaga kesehatan. Pappu (makanan lentil) harus hanya diberikan cukup uppu (garam) untuk membuatnya menjadi makanan yang enak. Jangan merusak makanan itu dengan menambahkan terlalu banyak garam. Sama halnya, hidup menjadi terlalu sulit untuk dijalani jika engkau menaruh ke dalamnya terlalu banyak keinginan. Batasi keinginanmu sampai pada kapasitasmu dan bahkan diantara keinginan itu, miliki hanya keinginan yang akan memberikanmu suka cita yang kekal. Jangan mengejar mode dan pengakuan umum dan menggunakan sumber dayamu sampai tidak dapat dipulihkan kembali. Hiduplah sesuai dengan pedoman yang mengatur kehidupan atau tahapan yang telah engkau capai. (Divine Discourse, Aug 19, 1964)


Thought for the Day - 12th August 2017 (Saturday)

Life is a tree of delusion, with all its branches, leaves and flowers of maya. You can realise it as such when you do all acts as dedicated offerings to please God. Without knowing this secret of transmuting your every act into sacred worship, you suffer from disappointment and grief. See Him as the sap through every cell as the Sun warms and builds its every part. See Him in all, worship Him through all, for He is all! Engage in any righteous activity, and fill it with devotion: remember it is only devotion that sanctifies the activity! A piece of paper is almost trash but if a certificate is written on it, you value it and treasure it; it becomes a passport for promotion in life. It is the bhava (feeling behind) that matters, not the bahya (outward pomp); it is the feeling that is important, not the activity.

Hidup adalah pohon khayalan dengan seluruh cabang, daun dan bunganya adalah maya. Engkau dapat menyadari hal ini pada hakekatnya ketika engkau melakukan semua perbuatan sebagai dedikasi persembahan untuk menyenangkan Tuhan. Tanpa mengetahui rahasia ini untuk mengubah setiap perbuatanmu ke dalam ibadah yang suci, engkau menderita dari kekecewaan dan duka cita. Lihatlah Tuhan sebagai getah yang melalui setiap sel seperti halnya matahari menghangatkan dan membangunnya dalam setiap bagian. Lihatlah Beliau dalam semuanya, pujalah Beliau melalui semuanya karena Beliau adalah segalanya! Libatkan diri dalam berbagai kegiatan yang baik, dan isilah dengan bhakti; ingatlah bahwa hanya bhakti yang dapat menyucikan perbuatan! Sehelai kertas hampir menjadi sebuah sampah namun jika kertas itu ditulis dengan penghargaan sebagai sertifikat maka engkau menghargainya; ini menjadi sebuah bagian untuk dapat mempromosikan dirimu dalam kehidupan. Ini adalah sebuah bhava (perasaan) yang ada dibalik hal itu, dan bukan bahya (kemegahan di luar); adalah perasaan yang penting dan bukan kegiatan. (Divine Discourse, Jan 11, 1966)


Saturday, August 12, 2017

Thought for the Day - 11th August 2017 (Friday)

If you keep awake throughout the twelve hours on Shivarathri due to illness, that vigil will not win His favour. If you quarrel with your spouse and desist from food for one full day, it will not be recorded in the book of God as a fast. If you lose yourself in the depths of unconsciousness after a bout of drinking, you will not be counted as a person who has achieved Samadhi (spiritual trance). No bhokta (enjoyer) can be a bhakta (devotee); that is to say, one who has an eye on the profit that can be derived from service to God cannot be a true devotee. Such people praise the Lord to the skies one day and decry Him the next when their fortune gets dry. Treasure in your hearts the Amrita Vakyas (immortality granting message) that you have heard in spiritual discourses; ponder over them in the silence of your meditation and endeavour to realise the precious goal of this invaluable human birth.

Jika engkau terjaga selama 12 jam pada saat Shivaratri disebabkan karena sakit maka berjaga-jaga saat itu tidak akan bisa mendapatkan rahmat-Nya. Jika engkau bertengkar dengan pasanganmu dan menolak makan dalam satu hari penuh maka hal ini tidak akan dicatat sebagai puasa oleh Tuhan. Jika engkau kehilangan kesadaranmu karena banyak minum-minuman keras, engkau tidak akan disebut sebagai seseorang yang telah mencapai samadhi (keadaan tidak sadarkan diri dalam spiritual). Tidak ada bhokta (penikmat) dapat menjadi seorang bhakta; itulah dikatakan bahwa seseorang yang memiliki pandangan mencari keuntungan yang bisa didapatkan dari pelayanan kepada Tuhan, tidak bisa menjadi bhakta yang sejati. Orang-orang seperti itu memuji Tuhan sampai ke langit di satu hari dan mengutuk Tuhan saat keberuntungannya menjadi kering. Harta karun di dalam hatimu yaitu Amrita Vakya (pemberian pesan keabadian) yang telah engkau dengar dalam wacana spiritual; renungkanlah semuanya itu dalam keheningan meditasimu dan berusaha untuk menyadari tujuan yang berharga dari kelahiran manusia yang tidak terhingga nilainya. (Divine Discourse, Aug 19, 1964)


Thursday, August 10, 2017

Thought for the Day - 10th August 2017 (Thursday)

If you go on a pilgrimage like a picnic, without the mental preparation necessary to receive God’s Grace, your travel is only for sight-seeing, not to strengthen your spiritual inclinations! Your journey is like that of a postal article, collecting impressions on the outer wrapper, not on the core of your inner being. A visually impaired person does not worry about day and night. So too, you cannot differentiate one place from another, if you do not allow the holiness to act on your mind. As a result of pilgrimages, your habits must change for the better; your outlook must widen; your inward look must become deeper and steadier. You must realise the omnipresence of God and the oneness of humanity. You must learn tolerance and patience, charity and service. After your pilgrimage, in your homes, ruminate over all the splendid experiences and be determined to strive for the higher and richer experience of God-realisation.

Jika engkau pergi melakukan perziarahan seperti halnya piknik tanpa adanya persiapan mental yang diperlukan untuk mendapatkan rahmat Tuhan maka perjalananmu hanyalah tamasya saja dan bukan untuk menguatkan kecendrungan spiritual! Perjalananmu adalah seperti barang-barang pos yang pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, mengumpulkan kesan bungkusan luar saja, namun bukan untuk inti batin di dalam dirimu. Orang yang mengalami gangguan penglihatan tidak cemas akan siang dan malam. Begitu juga, engkau tidak bisa membedakan satu tempat dengan yang lainnya, jika engkau tidak mengijinkan kesucian  dari tempat itu memberikan dampak dalam pikiranmu. Sebagai hasil dari perziarahan, kebiasaanmu harus berubah untuk yang lebih baik; pandanganmu harus lebih luas; pandanganmu ke dalam harus menjadi lebih mendalam dan mantap. Engkau harus menyadari kehadiran Tuhan dimana saja dan kesatuan dalam kemanusiaan. Engkau harus belajar toleransi dan kesabaran, derma dan pelayanan. Setelah perziarahanmu, duduklah di dalam rumahmu, merenungkan kembali semua pengalaman yang menyenangkan dan bertekad untuk berusaha mencapai pengalaman yang lebih tinggi dan kaya dalam kesadaran Tuhan. (Divine Discourse, Feb 28, 1964)


Thought for the Day - 9th August 2017 (Wednesday)

The conclusion of a Saptah (seven days long discourse) is called Samapti. But the term Samapti has a profound meaning for it too. It means, the attainment (Aapti) of Samam (Brahman or Divinity). That is the final fruit of listening, recapitulation and absorption (sravana, manana and nididhyasana) of spiritual lessons and discourses. In the worldly sense, it means the conclusion of a series of sessions; in the spiritual sense, it means transcending time! What is the sum and substance of all spiritual endeavour? It is that you must give up your pursuit of sensory objects in your seeking for lasting peace and joy. Material wealth brings along with it not only joy but grief as well. Accumulation of riches and multiplication of wants lead only to alternation between joy and grief. Attachment is the root of both joy and grief; detachment is the Saviour.

Kesimpulan dari Saptah (wacana tujuh hari) disebut dengan Samapti. Namun istilah Samapti memiliki makna yang mendalam untuk hal ini juga. Artinya, pencapaian (Aapti) dari Samam (Brahman atau keillahian). Itu adalah hasil terakhir dari mendengarkan, merenungkan isinya dan tahap meresapi isinya (sravana, manana dan nididhyasana) dari pelajaran spiritual dan wejangan yang disampaikan. Dalam arti duniawi, ini berarti kesimpulan dari serangkain seri tujuh hari ini; dalam makna spiritual, ini berarti melampaui waktu! Apa yang menjadi hal yang utama dari semua usaha spiritual? Ini adalah engkau harus melepaskan pengejaran objek-objek indria dalam pencarianmu pada kedamaian dan suka cita yang kekal. Kekayaan material membawa serta tidak hanya suka cita tapi juga duka cita. Timbunan kekayaan dan bertambahnya keinginan menuntun hanya pada pergantian diantara suka cita dan duka cita. Keterikatan adalah akar dari suka dan duka cita; tanpa keterikatan adalah sebagai juru selamat. [Divine Discourse - August 19, 1964]