Monday, January 14, 2019

Thought for the Day - 14th January 2019 (Monday)

Makara Sankramana marks the movement of Sun from the south to the north. The northward movement of the Sun is considered highly significant, both spiritually and scientifically. The significant inner spiritual meaning of the Sun's northward journey must be properly understood. North is represented by Himachala (the Himalayas). Hima means snow. It is pure, untainted and extremely cool. Achala means that which is steady and unshakeable. Himachala does not refer to the physical Himalayan region. It represents that which is cool, peaceful and steady. All these endows one with the quality of perfect peace (Prasanthi). From today the Sun is moving towards such a state. The Sun symbolizes the vision of man. The northward movement of the Sun is a call to human beings to turn their vision towards that which is cool, peaceful and unchanging. The lesson you must learn is that you should direct your vision inwards.

Makara Sankramana menandakan pergerakan matahari dari selatan ke utara. Pergerakan ke utara dari matahari dianggap sebagai hal yang sangat penting secara spiritual dan ilmiah. Makna spiritual yang terkandung dalam pergerakan matahari ke utara harus dipahami dengan benar. Utara dilambangkan dengan Himachala. Hima berarti salju. Salju bersifat murni, bersih, dan sangat dingin sekali. Achala berarti yang bersifat teguh dan tidak tergoyahkan. Himachala tidak mengacu pada daerah tempat Himalaya berada. Ini melambangkan yang bersifat sejuk, penuh kedamaian, dan teguh. Semua kualitas ini memberikan seseorang dengan kualitas kedamaian yang sempurna (Prasanthi). Mulai hari ini matahari sedang bergerak kepada keadaan yang seperti itu. Matahari adalah simbol dari pandangan manusia. Pergerakan ke arah utara adalah sebuah panggilan bagi manusia untuk mengarahkan pandangannya pada yang bersifat sejuk, penuh kedamaian dan tidak berubah. Pelajaran yang harus engkau pelajari adalah bahwa engkau seharusnya mengarahkan pandanganmu ke dalam diri. (Divine Discourse, Jan 14, 1994)


Thought for the Day - 13th January 2019 (Sunday)

Youth today are in great need of good company. By associating with people who use bad language and indulge in unholy deeds, youth take to bad ways. You should totally eschew bad company of every kind. You need a lamp to find a way through a dark jungle. Likewise, in the jungle of life, you need the light and guidance of good individuals to keep you company on the right path and to lead you to the right goal. Even a bad person, in association with the good, gets reformed. But a good person, falling into bad company, becomes bad. If you add one litre of milk to ten litres of water, milk is so diluted that it becomes valueless. But one litre of water added to ten litres of milk acquires higher value. When you cultivate friendship, ensure that you join a group of those who are good in their speech, behaviour and actions. Maintain only normal relations with others.

Para pemuda hari ini sangat membutuhkan pergaulan yang baik. Dengan memiliki pergaulan dengan mereka yang menggunakan Bahasa yang buruk dan melibatkan diri dalam perbuatan yang keterlaluan, pemuda mengambil jalan yang salah. Engkau seharusnya sepenuhnya melepaskan diri dari pergaulan yang buruk dalam bentuk apapun juga. Engkau membutuhkan sebuah lentera untuk menemukan jalan dalam hutan yang gelap. Sama halnya, dalam hutan kehidupan engkau membutuhkan lentera dan tuntunan dari orang-orang yang baik untuk menemanimu dalam jalan yang benar dan mengarahkanmu pada tujuan yang benar. Bahkan seorang yang tidak baik, jika bergaul dengan orang yang baik, akan mengalami perubahan. Namun seseorang yang baik, jatuh dalam pergaulan yang buruk, akan menjadi tidak baik. Jika engkau menambahkan satu liter susu pada sepuluh liter air, susu menjadi sangat cair sehingga susu menjadi tidak memiliki nilai. Namun satu liter air ditambahkan dengan sepuluh liter susu akan memiliki nilai yang lebih besar. Ketika engkau meningkatkan persahabatan, pastikan bahwa engkau bergabung dalam sebuah kelompok yang baik dalam perkataan, tingkah laku, dan tindakan mereka. Jaga hanya hubungan normal dengan yang lainnya. (Divine Discourse, Feb 19, 1987)


Saturday, January 12, 2019

Thought for the Day - 12th January 2019 (Saturday)

The great spiritual masters like Ramakrishna Paramahamsa, Vivekananda, Tulsidas, and so on led supremely contented lives. There were numerous occasions when they would not even get food to eat. They regarded such occasions as invitations by God to observe fasting (upavasam); for them this was food for their Spirit. Through contemplation of God, they enjoyed such fasts. Whenever they were entertained to a rich feast, they considered that too as a gift from God. Whether it was a fast or feast, they looked upon both with the same sense of contented acceptance. They were not depressed by the former or elated by the latter. ‘Equal-mindedness is yoga’ (Samatvam yogamuchyate), says the Gita. The ancient sages practised this virtue. Equal-mindedness is the index of contentment. And this should be taught to our young people and cultivated by them. One who has achieved contentment can enjoy the bliss of Divine grace.

Para master spiritual yang agung seperti Ramakrishna Paramahamsa, Vivekananda, Tulsidas, dan yang lainnya memberikan teladan kehidupan yang penuh dengan kepuasan. Ada banyak kejadian ketika mereka bahkan tidak memiliki makanan untuk dimakan. Mereka menganggap kejadian tersebut sebagai ajakan dari Tuhan untuk melakukan puasa; bagi mereka ini adalah makanan bagi jiwa mereka. Melalui kontemplasi pada Tuhan, mereka menikmati puasa yang dijalankan. Kapanpun mereka dijamu dengan makanan yang enak, mereka menganggap itu juga sebagai karunia dari Tuhan. Apakah itu adalah makan atau puasa, mereka melihatnya dengan perasaan yang sama yaitu penerimaan dengan kepuasaan yang sama. Mereka tidak menjadi sedih dengan sebelumnya atau bergembira dengan setelahnya. ‘Pikiran yang sama dan seimbang adalah yoga’ (Samatvam yogamuchyate), dijelaskan dalam Gita. Para guru suci zaman dahulu menjalankan kualitas luhur ini. Pikiran yang sama adalah petunjuk dari kepuasan. Hal ini seharusnya diajarkan pada anak-anak muda kita dan ditingkatkan oleh mereka. Seseorang yang telah mencapai tingkat kepuasan dapat menikmati kebahagiaan dari rahmat Tuhan. (Divine Discourse, Feb 19, 1987)


Thought for the Day - 11th January 2019 (Friday)

The observance of morality in daily life, the divinisation of all actions and thoughts, and adherence to ideals - all these constitute culture. Bharatiya Samskriti (culture of Bharat) is a combination of purity, divinity, sublimity and beauty. This combination is best reflected in sports and games. Although there may be differences among nations in their food and recreational habits, the spirit of harmony and unity displayed in sports is a gratifying example to all. It is a distinctive quality of sports that differences are forgotten and persons engage in games in a divine spirit of friendliness and camaraderie. Sports help the players not only to improve their health but also to experience joy. Students must not be content with realising these benefits alone. Equally essential is to promote purity of the mind and develop large heartedness. True humanness blossoms only when your body, mind and spirit are developed harmoniously. Reflect the enthusiasm and effort you display in sports in the spheres of morality and spirituality as well.

Ketaatan dalam moralitas di kehidupan sehari-hari, memurnikan semua perbuatan dan pikiran dan berpegang teguh pada ideal – semuanya ini yang membangun kebudayaan. Bharatiya Samskriti (kebudayaan Bharat) adalah sebuah gabungan dari kesucian, keilahian, keagungan, dan keindahan. Kombinasi ini dipantulkan dengan sangat baik dalam olahraga dan permainan. Walaupun ada perbedaan diantara bangsa dalam makanan mereka dan kebiasaan rekreasi mereka, semangat keharmonisan dan persatuan ditunjukkan dalam olahraga adalah contoh yang memuaskan bagi semuanya. Ini merupakan kualitas tersendiri dari olahraga dimana perbedaan dilupakan dan mereka yang terlibat dalam olahraga dalam semangat keilahian dari persahabatan. Olahraga membantu pemain tidak hanya untuk meningkatkan kesehatan mereka namun juga untuk mengalami suka cita. Para pelajar seharusnya tidak boleh puas dengan menyadari manfaat ini sendiri. Sama halnya mendasar untuk meningkatkan kesucian pikiran dan mengembangkan hati yang luas. Kemanusiaan yang sejati akan mekar hanya ketika tubuh, pikiran, dan jiwamu dikembangkan secara harmonis. Pantulan semangat dan usaha yang engkau lakukan dalam olahraga juga tercermin dalam moralitas dan spiritual. (Divine Discourse, Jan 14, 1990)


Thought for the Day - 10th January 2019 (Thursday)

Forbearance endows you with strength to face the slings and arrows of outrageous fortune. A person without forbearance easily succumbs to reverses and difficulties. Together with truth and forbearance, you must cultivate freedom from jealousy too. Envy is like the pest that attacks the root of a tree. Envy can destroy your entire life. We enjoy many things in life - knowledge, wealth, position, power, etc. But if the virus of envy enters our minds, it will pollute everything. Never give place to envy even in the smallest matter. If a fellow-student scores more marks than you, do not feel envious. If others do better than you, feel happy for them, rather than allow yourself to be consumed by envy. If someone is better dressed than yourself or is more wealthy, you should feel that they are enjoying what they have and you should be content and happy with what you have. To be free from envy is truly divine.

Ketabahan memberkatimu dengan kekuatan untuk menghadapi berbagai bentuk kehidupan yang engkau lewati. Seseorang yang tanpa ketabahan akan dengan mudah menyerah pada kekalahan serta kesulitan. Bersamaan dengan kebenaran dan ketabahan, engkau harus meningkatkan kebebasan dari rasa cemburu juga. Iri hati adalah seperti hama yang menyerang akar pohon. Iri hati dapat menghancurkan seluruh hidupmu. Kita menikmati banyak hal dalam hidup – pengetahuan, kekayaan, jabatan, kekuasaan, dsb. Namun jika virus iri hati memasuki pikiran kita, maka akan mencemari segalanya. Jangan pernah memberikan ruang untuk iri hati bahkan untuk hal yang paling kecil sekalipun. Jika nilai dari temanmu lebih baik darimu, jangan merasa dengki. Jika yang lain melakukan hal yang lebih baik daripada dirimu, rasakan kebahagiaan untuk mereka, daripada mengizinkan dirimu dimakan oleh rasa iri hati. Jika seseorang berpakaian lebih baik dari dirimu atau lebih sejahtera, engkau seharusnya merasa bahwa mereka sedang menikmati apa yang mereka miliki dan engkau seharusnya merasa senang dan bahagia dengan apa yang engkau miliki. Menjadi bebas dari iri hati sesungguhnya adalah keilahian. (Divine Discourse, Dec 30, 1983)


Thought for the Day - 9th January 2019 (Wednesday)

Dear Balvikas Gurus! When you teach the children, you must remember that you are engaged in a noble task for the sake of the children entrusted to your care. You must feel that you are educating yourselves when you are educating the children. For instance, when you impart some knowledge to the children, your own understanding of the subject improves. Even when you study books for teaching the children, you also derive joy from the study. Hence you must always have the feeling that whatever you do for others is in reality a service done to the Divine that resides in every one. When teachers do their duty in this spirit, they will be imbuing the children with the spirit of Universal love. Remember that the children have tender hearts and innocent minds. Only if you fill their hearts with love will the world have genuine peace.

Para Balvikas Guru yang terkasih! Ketika engkau mengajarkan anak-anak, engkau harus ingat bahwa engkau terlibat dalam tugas yang mulia untuk kepentingan anak-anak yang dipercayakan di bawah pengasuhanmu. Engkau harus merasa bahwa engkau sedang mendidik dirimu sendiri ketika engkau sedang mendidik anak-anak. Sebagai contoh, ketika engkau menanamkan beberapa pengetahuan kepada anak-anak, maka pemahamanmu sendiri tentang materi itu akan meningkat. Bahkan ketika engkau mempelajari buku-buku untuk mengajar anak-anak, engkau juga mendapatkan suka cita dari pembelajaran itu. Oleh karena itu, engkau harus selalu memiliki perasaan bahwa apapun yang engkau lakukan bagi yang lainnya sesungguhnya adalah sebuah pelayanan yang dilakukan untuk Tuhan yang bersemayam dalam diri setiap orang. Ketika guru-guru menjalankan kewajiban mereka dengan semangat ini, maka mereka akan mengilhami anak-anak dengan semangat kasih yang Universal. Ingatlah bahwa anak-anak memiliki hati yang polos dan pikiran yang tidak berdosa. Hanya jika engkau mengisi hati mereka dengan kasih maka dunia akan memiliki kedamaian yang sejati. (Divine Discourse, Dec 30, 1983)


Thought for the Day - 8th January 2019 (Tuesday)

In order to live up to the high standards of morality which Indian culture exhorts, you must cultivate love, nonviolence, fortitude and equanimity. The last three guard and foster the first. Many people have succeeded with the help of the latter three qualities, to get their minds established in Universal love! Indeed, quite a large number of spiritual aspirants have also given up their spiritual ascent midway because they lose confidence in their true selves. The first faint whisper of doubt disheartens them and they slide back into a life of sensual satisfactions. They lose faith in God who is the Embodiment of Love and is their real sustenance. Sadhana alone can steel people to forge ahead on the spiritual path. The wise are buoyed up by the bliss of their genuine awareness. Hang on, persist in your sadhana, have faith in yourself and derive strength and joy only from God!

Untuk memenuhi standar moralitas yang tinggi yang dianjurkan budaya India, engkau harus memupuk cinta-kasih, tanpa-kekerasan, ketabahan, dan keseimbangan batin. Tiga penjaga terakhir dan membina yang pertama. Banyak orang telah berhasil dengan bantuan tiga kualitas terakhir, untuk membuat pikiran mereka mapan dalam cinta Universal! Memang, cukup banyak calon spiritual yang juga telah meninggalkan pendakian spiritual mereka di tengah jalan karena mereka kehilangan kepercayaan pada diri sejati mereka. Bisikan samar pertama dari keraguan membuat mereka kecewa dan mereka kembali ke kehidupan kepuasan sensual. Mereka kehilangan iman kepada Tuhan yang merupakan Perwujudan Cinta dan merupakan rezeki nyata mereka. Sadhana sendiri dapat menguatkan orang untuk terus maju di jalan spiritual. Orang bijak didukung oleh kebahagiaan kesadaran sejati mereka. Bertahanlah, bertahanlah dalam sadhanamu, percayalah pada diri sendiri dan dapatkan kekuatan dan sukacita hanya dari Tuhan! (Divine Discourse, Jun 6, 1978) (SSS Vol 14, Ch 4)