Tuesday, May 23, 2017

Thought for the Day - 23rd May 2017 (Tuesday)

The greatest disease is the absence of peace. When the mind is peaceful, your body will be healthy. So everyone who craves for good health must pay attention to their emotions, feelings, and motives that animates them. Just as you wash clothes, you must wash your mind free from dirt every day. To cleanse your mind you should mix in good company and avoid dirt elements like falsehood, injustice, indiscipline, cruelty, hate, etc. Truth, righteousness, peace, love - these form the clean elements. If you inhale the pure air of clean elements, your mind will be free from evil viruses and bacilli, and you will be mentally sturdy and physically strong. As Swami Vivekananda said, you should have nerves of steel and muscles of iron. You must brim in hope and joy as your unshakable resolution, not display despair and dejection.

Penyakit yang paling berbahaya adalah tidak adanya kedamaian. Ketika pikiran penuh kedamaian, tubuhmu akan sehat. Jadi, setiap orang yang mencari kesehatan yang baik harus memperhatikan emosi, perasaan dan niat yang menjiwai mereka. Sama halnya engkau mencuci baju maka engkau harus mencuci pikiranmu bebas dari kotoran setiap harinya. Untuk membersihkan pikiranmu, engkau harus bergaul dalam pergaulan yang baik dan menjauhi unsur-unsur kotoran seperti kebohongan, tanpa disiplin, ketidakadilan, kekejaman, kebencian, dsb. Kebenaran, kebajikan, kedamaian, kasih – ini bentuk unsur-unsur yang bersih. Jika engkau menghirup nafas dari unsur yang bersih, pikiranmu akan bebas dari virus dan bakteri jahat, dan engkau akan memiliki mental dan fisik yang kuat. Seperti yang Swami Vivekananda katakan, engkau seharusnya memiliki syaraf baja dan otot besi. Engkau harus penuh dengan harapan dan suka cita sebagai ketetapan hatimu yang mantap, tidak memperlihatkan rasa putus asa dan keputusasaan. (Divine Discourse, Sep 21, 1960)


Monday, May 22, 2017

Thought for the Day - 22nd May 2017 (Monday)

Many of you grieve: “It is said that getting the audience of a holy person is destruction of sin (darshanam papa nashanam). Well, I have had darshan not once but many times, and yet, my evil fate has not left me and I am suffering even more than before!” True, you may have come and had darshan, and have sowed fresh seeds secured from the holy places — seeds of love, faith, devotion, good company, godly thoughts, remembering God’s name, etc.; and you have learnt the art of intensive cultivation and soil preparation. You have now carefully sown the seeds in well-prepared fields of cleansed hearts. Now, until the new harvest, when the fresh produce comes in, don’t you have to consume the grain already stored in previous harvests? The troubles and anxieties you experience now are the crop collected in your previous harvests, so do not grieve and lose heart!

Banyak dari dirimu yang bersedih : “Dikatakan bahwa bergaul dengan orang-orang yang suci adalah menghancurkan dosa (darshanam papa nashanam). Saya telah mendapatkan tidak hanya sekali namun banyak sekali darshan, namun kualitas buruk dalam diri saya tidak hilang dalam diri saya dan saya sedang mengalami penderitaan bahkan lebih dari sebelumnya!” Benar, engkau mungkin telah datang dan mendapatkan darshan, dan menabur benih segar dari tempat suci — benih-benih kasih, keyakinan, bhakti, pergaulan yang baik, pikiran yang baik, mengingat nama Tuhan, dsb. Dan engkau mungkin telah belajar seni budidaya yang intensif dan persiapan lahan. Sekarang engkau harus hati-hati menabur benih-benih itu pada lahan hati yang telah dipersiapkan dengan baik. Sampai panen baru terjadi, ketika hasil bumi baru masuk, bukankah engkau harus menikmati beras yang telah disimpan dari hasil panen sebelumnya? Masalah dan kecemasan yang engkau alami sekarang adalah panen yang dikumpulkan dari produksi sebelumnya, jadi jangan bersedih hati dan kehilangan harapan! (Shivaratri Discourse, Mar 1963)


Sunday, May 21, 2017

Thought for the Day - 21st May 2017 (Sunday)

Life is not gifted to you to enjoy food and become fat yourself. The body is the basic instrument for the practice of righteousness (Dharma). Give food to the starving. Dedicate your entire time to service and for the proper discharge of your duties. God is omnipresent; He is everywhere and within you. You are Divine! You must develop the spirit of sacrifice (tyaga). You must serve others through your body and cherish good and noble thoughts in your mind. You must use your wealth for supporting educational and service institutions to help the people. This is the way to lead a purposeful and sublime life. God alone can transform your spiritual efforts into a transcendental experience. Ensure your spiritual practices (Sadhana) are not for any selfish reason. It must promote the good of others. Give up selfishness, cultivate selfless love for others, and thus sanctify your lives. Then you will experience Sakshatkara, the vision of the Divine, from within you.

Hidup tidak diberikan kepadamu untuk menikmati makanan dan menjadi gemuk. Tubuh adalah alat atau sarana yang mendasar untuk menjalankan kebajikan (Dharma). Memberikan makanan pada yang kelaparan. Dedikasikan seluruh waktumu untuk melayani dan menjalankan kewajibanmu dengan benar. Tuhan bersifat ada dimana-mana; Tuhan ada dimana saja dan di dalam dirimu. Engkau adalah illahi! Engkau harus mengembangkan semangat pengorbanan (tyaga). Engkau harus melayani yang lain dengan tubuhmu dan menghargai gagasan yang baik dan mulia di dalam pikiranmu. Engkau harus menggunakan kekayaanmu untuk mendukung institusi pendidikan dan pelayanan untuk membantu manusia. Ini adalah cara untuk menjalani hidup yang berguna dan luhur. Hanya Tuhan yang dapat merubah usaha spiritualmu menjadi pengalaman transsendental. Pastikan latihan spiritualmu (Sadhana) bukan untuk kepentingan diri sendiri. Namun harus meningkatkan kebaikan yang lainnya. Lepaskan sifat mementingkan diri sendiri, tingkatkan kasih yang tulus untuk yang lainnya dan sucikan hidupmu. Kemudian engkau akan mengalami Sakshatkara, pandangan illahi dari dalam dirimu. (Divine Discourse, Jul 7, 1990)


Saturday, May 20, 2017

Thought for the Day - 20th May 2017 (Saturday)

You attach importance to quantity, but the Lord considers only quality. He does not calculate how many measures of ‘sweet rice’ you offered but how many sweet words you uttered, how much sweetness you added in your thoughts. Offer Him the fragrant leaf of devotion, the flowers of your emotions and impulses, freed from the pests of lust, anger, etc. Give Him fruits grown in the orchard of your mind, sour or sweet, juicy or dry, bitter or sugary. Once you decide that the orchard in your mind is His, all fruits will naturally be sweet! The very act of your seeking refuge and protection (sharanagati) will render them acceptable to the Lord, so they cannot be bitter. And for water, what can be purer and more precious than your tears shed not in grief, but in rapture at the chance to serve the Lord and to walk along the path that leads to Him!

Engkau terikat serta mementingkan pada jumlah (kuantitas), namun Tuhan hanya mempertimbangkan kualitas. Tuhan tidak menghitung serta mengukur berapa banyak ‘nasi manis’ yang engkau berikan namun berapa banyak perkataan manis yang engkau ucapkan dan berapa banyak rasa manis yang engkau tambahkan dalam pikiranmu. Persembahkan kepada Tuhan daun yang harum dari bhaktimu, bunga dari emosi dan dorongan hati, yang bebas dari hama nafsu, amarah, dsb. Berikan kepada Tuhan buah yang tumbuh di kebun buah pikiranmu, masam atau manis, banyak air atau kering, pahit atau manis. Sekali engkau memutuskan bahwa kebun bunga di dalam pikiranmu adalah milik-Nya, semua buah yang ada secara alami akan menjadi manis! Setiap tindakanmu dalam mencari perlindungan (sharanagati) akan dapat diterima oleh Tuhan, jadi tindakanmu itu tidak akan menjadi pahit. Dan untuk air, apa yang bisa lebih murni dan lebih berharga daripada air matamu yang tercurah bukan dalam kesedihan, namun dalam mengambil kesempatan untuk melayani Tuhan dan berjalan sepanjang jalan yang menuntun kepada-Nya! (Divine Discourse, Feb 8, 1963)


Friday, May 19, 2017

Thought for the Day - 19th May 2017 (Friday)

All the five elements have been created by the will of the Supreme. They must be used with reverential care and vigilant discrimination. Reckless use of any of them will only rebound on you with tremendous harm. Nature outside must be handled with discretion, caution and awe. It is the same with our inner ‘nature’ and internal instruments too! Of these, two are capable of vast harm - the tongue and one’s lust. Since lust is aroused and inflamed by the food consumed and the drink taken in, the tongue needs greater attention. While your eye, ear and nose have single uses, the tongue makes itself available for two purposes: to judge taste and to utter word - symbols of communication. You must control the tongue with double care, since it can harm you in two ways. Sage Patanjali, the author of Yoga Sutras has declared that when tongue is conquered, victory is yours!

Semua kelima unsur telah diciptakan oleh kehendak yang Maha Agung. Kelima unsur itu harus digunakan dengan hormat dan diskriminasi yang teliti. Penggunaan secara sembarangan dari kelima unsur ini hanya akan memantul kepadamu dengan kerusakan yang sangat hebat sekali. Alam yang ada di luar harus diperlakukan dengan kebijaksanaan, hati-hati dan perasaan takjub. Adalah sama dengan alam batin dan juga sarana batin! Dalam keduanya ini, ada dua yang bisa memberikan penderitaan yang besar – lidah dan nafsu seseorang. Karena nafsu dibangkitkan oleh makanan serta minuman yang dikonsumsi, lidah memerlukan perhatian yang lebih besar. Ketika mata, telinga dan hidungmu hanya memiliki satu kegunaan saja, lidah menjadikan dirinya memiliki dua tujuan: untuk menilai rasa dan mengucapkan kata-kata – simbol komunikasi. Engkau harus mengendalikan lidah dengan perhatian ganda, karena lidah dapat menyakitimu dengan dua cara. Reshi Patanjali, penyusun dari Yoga Sutra telah menyatakan bahwa ketika lidah ditaklukkan maka kemenangan adalah millikmu! (Divine Discourse, Nov 23, 1968)


Thought for the Day - 18th May 2017 (Thursday)

Good and bad, wealth and poverty, praise and blame go together in this world. You cannot derive happiness out of happiness (na sukhat labhate sukham). Happiness comes only out of sorrow. A wealthy man today may become a pauper tomorrow. Similarly, a pauper may become a rich man some day or other. Today you are being praised, but tomorrow you may be criticised. To consider praise and blame, happiness and sorrow, prosperity and adversity with equal-mindedness is the hallmark of a true human being. The Gita declares, “Remain equal-minded in happiness and sorrow, gain and loss, victory and defeat (sukha dukhe same kritva labhalabhau jayajayau). You can truly enjoy your life as a human being only when you consider both sorrow and happiness, profit and loss with equanimity. There is no value for happiness without sorrow. Therefore, welcome sorrow if you want to experience real happiness.

Baik dan buruk, kekayaan dan kemiskinan, pujian dan celaan berjalan bersama di dunia ini. Engkau tidak bisa mendapatkan kebahagiaan dari kebahagiaan (na sukhat labhate sukham). Kebahagiaan hanya datang dari penderitaan. Seseorang yang kaya hari ini mungkin menjadi miskin esok hari. Sama halnya, seseorang yang miskin mungkin menjadi orang kaya suatu hari nanti. Hari ini engkau sedang dipuji, namun besok engkau mungkin dikritik. Menganggap pujian dan celaan, kebahagiaan dan penderitaan, kesejahteraan dan kemalangan dengan pikiran yang seimbang adalah tanda dari manusia yang sejati. Bhagavad Gita menyatakan, “Dengan tetap tenang dalam kebahagiaan dan penderitaan, keuntungan dan kehilangan, kemenangan dan kekalahan (sukha dukhe same kritva labhalabhau jayajayau). Engkau sejatinya dapat menikmati hidupmu sebagai manusia hanya ketika engkau menganggap keduanya yaitu penderitaan dan kebahagiaan, keuntungan dan kerugian dengan ketenangan hati. Tidak ada nilai dari kebahagiaan tanpa adanya penderitaan. Maka dari itu, sambutlah penderitaan jika engkau ingin mengalami kebahagiaan yang sejati. (Divine Discourse, Jul 9, 1996)


Wednesday, May 17, 2017

Thought for the Day - 17th May 2017 (Wednesday)

Unbelief is the insidious disease that is now rampant amongst people. It sets fire to the tiny shoots of faith and reduces life to cinders and ashes. You have no criterion to judge, yet you pretend to judge. Doubt, anger, poison, illness — all these must be destroyed before they grow. Repeat Rama’s name, whether you have faith or not. That will itself induce faith and create the evidence on which faith can be built. In addition, if you aspire to be a devotee, you must eschew attachment and aversion. You should not be proud if you sing well or decorate your worship room tastefully. There must be a steady improvement in your habits and attitudes; otherwise, spiritual discipline is a vain pastime. Your homes must be immersed in the highest peace (shanti) — undisturbed by any streak of hatred, malice, pride, or envy. No worship or penance can equal the efficacy of obedience, obedience to the command given for your liberation.

Ketidakpercayaan adalah penyakit yang berbahaya dan merajalela di kalangan manusia. Ketidakpercayaan ini memantik api pada tunas kecil keyakinan dan menjadikannya bara api dan abu. Engkau tidak memiliki standar untuk menilai namun engkau berpura-pura menilai. Keraguan, kemarahan, racun, penyakit — semuanya ini harus dihancurkan sebelum semuanya ini tumbuh. Lakukan pengulangan nama Rama, apakah engkau memiliki keyakinan atau tidak. Hal itu sendiri akan meningkatkan dan menciptakan petunjuk tentang keyakinan yang mana yang dapat dibangun. Sebagai tambahan, jika engkau berminat menjadi seorang bhakta, engkau harus menjauhkan diri dari keterikatan dan kebencian. Engkau seharusnya tidak merasa bangga jika engkau menyanyi dengan bagus atau menghias ruang pujamu dengan indah. Harus ada peningkatan yang teratur dalam kebiasaan dan sikapmu; jika tidak, disiplin spiritual adalah sebuah hiburan yang sia-sia. Rumahmu harus diliputi dengan kedamaian (shanti) yang tertinggi  — tidak diganggu oleh berbagai unsur kebencian, kedengkian, kesombongan atau iri hati. Tidak ada pemujaan atau penebusan dosa yang sama dengan keampuhan dari ketaatan pada perintah yang diberikan untuk kebebasanmu. (Divine Discourse, Feb 8,1963)