Thursday, April 27, 2017

Thought for the Day - 27th April 2017 (Thursday)

You have listened to hours of spiritual discourses and you spend days and nights in spiritual practices. Have you taken any concrete efforts to sublimate your life? Endeavour to lead an ideal life. If there is no change for the better in your daily conduct, remember that all your so-called spiritual practices will be futile! People claim to spend hours in prayer and meditation. But of what use is it if there is no concentration of mind? It is better if you engage yourself in doing your regular duties or render social service or participate in bhajans. By these means try to bring the mind under control. Then your work will be transformed into worship. Dedicate all your thoughts and actions to God. You can purify your actions when you do everything with the only goal to please God (Sarva Karma Bhagavad preethyartham). If you want to experience God, you have to do it through your duties and actions. This is not so easy!

Engkau telah mendengar berjam-jam wejangan spiritual dan engkau menghabiskan siang dan malam dalam latihan spiritual. Sudahkah engkau melakukan usaha yang nyata dalam menghaluskan hidupmu? Berupaya untuk menjalankan sebuah hidup yang ideal. Jika tidak ada perubahan yang lebih baik pada tindakanmu sehari-hari, ingatlah bahwa semua yang engkau sebut dengan latihan spiritual akan menjadi sia-sia belaka! Orang-orang menyatakan telah menghabiskan berjam-jam dalam doa dan meditasi. Namun apakah gunanya jika tidak ada konsentrasi dalam pikiran? Adalah lebih baik jika engkau melibatkan dirimu dalam menjalankan kewajiban harian atau melakukan pelayanan sosial atau terlibat dalam bhajan. Dengan sarana ini cobalah untuk mengendalikan pikiranmu. Kemudian pekerjaanmu akan dirubah menjadi ibadah. Dedikasikan semua pikiran dan perbuatanmu kepada Tuhan. Engkau dapat menyucikan perbuatanmu ketika engkau melakukan segalanya hanya dengan tujuan untuk menyenangkan Tuhan (Sarva Karma Bhagavad preethyartham). Jika engkau ingin mengalami Tuhan, engkau harus melakukannya melalui kewajiban dan perbuatanmu. Hal ini tidaklah gampang! (Divine Discourse, Jan 01, 1991)


Thought for the Day - 26th April 2017 (Wednesday)

Without the control of your senses, your spiritual practices (Sadhana) will be ineffective; it is like keeping water in a leaky pot! When the tongue craves for some delicacy, assert that you will not cater to its whims. If you persist in giving yourself simple food that is not savoury or hot, but amply sustaining, the tongue may squirm for a few days, but it will soon welcome it. That is the way to subdue it and overcome the evil consequences of it being your master. Since the tongue is equally insistent on scandal and lascivious talk, you must curb that tendency also. Talk little, talk sweetly, and talk only when there is a pressing need. Also, talk only to those to whom you must, and do not shout or raise the voice in anger or excitement. Such control will improve health and mental peace. It will lead to better public relations and less involvement in contacts and conflicts with others.

Tanpa mengendalikan indriamu, latihan spiritualmu (Sadhana) akan menjadi tidak efektif; ini adalah seperti menyimpan air di dalam wadah yang bocor! Ketika lidah sangat menginginkan makanan yang lezat, tegaskan bahwa engkau tidak akan memenuhi keinginannya. Jika engkau bertahan memberikan dirimu dengan makanan yang sederhana yang tidak gurih atau pedas, namun tetap bertahan, lidah mungkin menggeliat selama beberapa hari, namun lidah segera akan menerimanya. Itulah caranya untuk menundukkannya dan mengatasi kecenderungan jahat darinya saat menjadi majikanmu. Karena lidah secara terus menerus terlibat dalam pembicaraan tentang skandal dan omong kosong, maka engkau harus mengekang kecenderungan ini juga. Berbicaralah sedikit dan hanya berbicara ketika sangat diperlukan. Berbicaralah pada mereka yang harus engkau ajak bicara, dan jangan membentak atau menaikkan suaramu dalam amarah dan suka cita. Pengendalian seperti itu akan meningkatkan kesehatan dan kedamaian batin. Ini akan menuntun pada hubungan masyarakat yang lebih baik dan mengurangi terlibat dalam kontak dan konflik dengan yang lain. (Divine Discourse, Nov 23, 1968)


Thought for the Day - 25th April (Tuesday)

Embodiments of Divine Love! Wherever you may be, never give room for any differences. Everyone must get rid of all selfishness, self-interest and self-centeredness. Mutual regard (Mamatha), equipoise (Samatha) and forbearance (kshamatha) are basic qualities necessary for every human being. Hence develop love, forbearance and compassion. Realise that love is present in everyone. Get rid of all differences and adhere to your faith and traditions. Learn to live in love and harmony with all the members of your society. When differences of all kinds are given up, love will grow in you and you can have a direct vision of God. Without love, verbal prayers are of no avail. Divine love is the only unifier, motivator and harbinger of joy to everyone. God is love and God can be realised only through love. All saints and religions have emphasized the greatness of love, truth, sacrifice and unity. Therefore cultivate love.

Perwujudan Kasih illahi! Dimanapun engkau berada, jangan pernah memberikan ruang untuk perbedaan apapun juga. Setiap orang harus melepaskan sifat mementingkan diri sendiri, kepentingan diri dan terpusat pada diri saja. Saling menghormati (Mamatha), keseimbangan (Samatha) dan ketabahan (kshamatha) adalah sifat dasar yang diperlukan bagi setiap manusia. Oleh karena itu kembangkan cinta kasih, ketabahan dan welas asih. Sadarilah bahwa cinta kasih adalah ada di dalam setiap orang. Singkirkan semua perbedaan dan junjung tinggi keyakinan dan tradisimu. Belajarlah untuk hidup dalam kasih dan harmonis dengan semua anggota dari masyarakatmu. Ketika perbedaan dilepaskan maka kasih akan tumbuh di dalam dirimu dan engkau bisa mendapatkan pandangan langsung Tuhan. Tanpa kasih. Berdoa secara verbal adalah sia-sia. Kasih Tuhan adalah satu-satunya penyatuan, yang memberikan motivasi dan pertanda suka cita bagi setiap orang. Tuhan adalah kasih dan Tuhan dapat disadari hanya melalui kasih. Semua orang suci dan agama telah menekankan keutamaan dari kasih, kebenaran, pengorbanan dan kesatuan. Maka dari itu kembangkanlah kasih. (Divine Discourse, Dec 24, 1980)


Thought for the Day - 24th April 2017 (Monday)

Since I moved freely among people, talking and singing with them, even intellectuals were unable to grasp My truth, My power, My glory, or My real task as Avatar. I can solve any problem however knotty. I am beyond the reach of the most intensive enquiry and the most meticulous measurement. Only those who have recognised My love and experienced it can assert that they have glimpsed My reality. Do not attempt to know Me through the external eyes. When you go to a temple and stand before the image of God, you pray with closed eyes, don’t you? Why? Because you feel that the inner eye of wisdom alone can reveal Him to you. Therefore, do not crave from Me trivial material objects; but, crave for Me from within, and you will be rewarded. The path of Love is the royal road that leads mankind to Me. My grace is ever available to devotees who have steady love and faith.

Karena Aku bergerak dengan bebas diantara orang-orang, berbicara dan bernyanyi dengan mereka, bahkan para intelektual tidak mampu mendapatkan kebenaran-Ku, kekuatan-Ku, kemuliaan-Ku atau tugas-Ku sebagai Avatara.  Aku dapat menyelesaikan masalah apapun yang engkau berikan betapapun rumitnya. Aku melampaui jangkauan penyelidikan yang paling intensif dan pengukuran yang paling teliti. Hanya mereka yang telah menyadari kasih-Ku dan mengalaminya maka dapat menegaskan bahwa mereka telah melihat sekilas kenyataan-Ku. Jangan mencoba untuk mengetahui-Ku melalui mata fisik. Ketika engkau pergi ke tempat suci dan berdiri di depan wujud Tuhan, engkau berdoa dengan memejamkan mata, bukan? Mengapa? karena engkau merasa bahwa hanya mata batin dari kebijaksanaan dapat mengungkapkan Beliau kepadamu. Maka dari itu, jangan mendambakan dari-Ku benda-benda material yang bersifat sepele; namun, mendambakan Aku dari dalam diri dan engkau akan mendapatkannya. Jalan kasih adalah jalan besar yang menuntun manusia kepada-Ku. Rahmat-Ku adalah selalu ada bagi bhakta yang memiliki kasih dan keyakinan yang mantap. (Divine Discourse, June 19, 1974)


Tuesday, April 25, 2017

Thought for the Day - 23rd April 2017 (Sunday)

Consider the meaning of the name, Sai Baba. Sa means 'Divine;' ayi means 'mother' and Baba means ‘father’. Your physical parents exhibit love with a dose of selfishness; but Sai, your Divine Parent, showers affection or reprimands only to lead you towards victory in the struggle for self-realisation. You cannot realise God in the outer objective world; He is in the very heart of every being. Gemstones have to be sought deep underground; they do not float in mid-air. Seek God in the depths of yourself, not in the tantalising, kaleidoscopic world. This human birth is granted to you for this high purpose; but, you are now misusing it, like the person who cooked his daily food in the gem-studded gold vase that came into his hands as an heirloom. I desire that you may be inspired to observe the discipline laid down by Me and progress towards the Goal of self-realisation, the realisation of the Sai who shines in your hearts.

Perhatikan makna dari nama, Sai Baba. Sa berarti 'illahi;' ayi berarti 'ibu' dan Baba berarti 'ayah'. Orang tua fisikmu memberikan kasih dengan dosis mementingkan diri sendiri; namun Sai, orang tua illahimu, mencurahkan kasih atau teguran hanya untuk menuntunmu menuju kemenangan dalam perjuangan untuk mencapai kesadaran diri. Engkau tidak bisa menyadari Tuhan dalam dunia objektif di luar; Tuhan bersemayam di kedalaman hati setiap makhluk. Batu permata harus dicari di kedalaman bawah tanah; batu permata tidak mengambang di udara. Carilah Tuhan di dalam dirimu sendiri, bukan di dunia yang menggoda. Kelahiran sebagai manusia diberikan kepadamu untuk tujuan yang tinggi; namun engkau menyalahgunakannya, seperti seseorang yang memasak untuk setiap harinya dalam bejana yang dilapisi emas batu permata yang ada di tangannya sebagai pusaka. Aku menginginkan engkau mungkin mendapatkan inspirasi untuk mengikuti disiplin yang Aku berikan dan maju menuju tujuan kesadaran diri, kesadaran akan Sai yang bersinar di dalam hatimu. (Divine Discourse, June 19, 1974)


Thought for the Day - 22nd April 2017 (Saturday)

Illusion haunts people as desire (trishna or kama). Prompted by desire, you run after sweet sounds that satisfy the ear, and smooth and soft things that yield pleasure to your skin! You pursue the forms of beauty that appeal to the eye to satisfy the fire in you, crave for food and drink that are tasty to appease the water element in you, and enjoy the perfume and pleasant smells to please the inner urge of the Earth element! The malignant designs of desire rob you of lasting happiness. The insufferable heat of the Sun is controlled and reduced by your body to maintain a congenial temperature of 98.4 degrees. So also, you must keep the destructive forces of your elemental passions born out of the clamour of sound, touch, form, taste, and smell (shabda, sparsha, rupa, rasa, gandha) rigorously in check and bring it down to tolerable levels. Then you can lead a healthy and happy life.

Khayalan menghantui manusia sebagai keinginan (trishna atau kama). Dibisikkan oleh keinginan, engkau mengejar suara yang merdu yang memuaskan telingamu, dan hal yang lembut dan ringan yang memberikan kesenangan bagi kulitmu! Engkau mengejar bentuk dari keindahan yang menarik matamu dan memuaskan bara yang ada di dalam dirimu, mendambakan makanan dan minuman yang enak untuk meredakan unsur air di dalam dirimu, dan menikmati aroma parfum dan menyenangkan penciuman untuk menyenangkan keinginan dalam diri dari unsur tanah! Design keinginan yang membahayakan membuatmu kehilangan kebahagiaan yang abadi. Panas mentari yang tidak tertahankan dikendalikan dan dikurangi oleh tubuhmu untuk mempertahankan suhu yang menyenangkan yaitu 98.4 derajat. Begitu juga, engkau harus menahan kekuatan yang merusak dari hasrat unsur yang muncul dari deru suara, sentuhan, bentuk, rasa dan bau (shabda, sparsha, rupa, rasa, gandha) dengan ketat dan menurunkannya sampai pada tingkat yang ditoleransi. Kemudian engkau dapat menjalani hidup yang sehat dan menyenangkan. (Divine Discourse, Feb 19, 1964)


Thought for the Day - 21st April 2017 (Friday)

Discipline must be strictly observed. From the moment you wake up, you have to carry out your morning ablutions, meditate on God and then do your prescribed duties in an orderly manner without deviating from the regular routine. Variations in the routine from day to day are undesirable. The day's activities should be regulated by the same schedule. The ambience in the morning is calm and serene. In this setting, immediately after finishing the morning chores, one should devote, at least a few minutes, to loving meditation on God. Discrimination comes next. The world is a mixture of good and bad, right and wrong, victory and defeat. In a world replete with opposites, you must constantly make the choice between what is right and proper, and what is wrong and undesirable. You should not be guided by your mind, but listen and follow the directions of your intellect (Buddhi). As long as you follow your mind, you will not be able to attain Divinity.

Disiplin harus benar-benar dijalankan. Dari saat engkau bangun pagi engkau harus pembersihan diri, meditasi pada Tuhan dan kemudian melakukan tugas yang ditentukan dengan tertib tanpa menyimpang dari rutinitas reguler. Variasi dalam rutinitas dari hari ke hari adalah tidak diinginkan. Aktivitas harian seharusnya diatur dengan jadwal yang sama. Suasana di pagi hari adalah tenang dan tentram. Dalam pengaturan ini, segera setelah selesai tugas pagi, seseorang seharusnya mempersembahkan waktu beberapa menit untuk merenungkan Tuhan yang dikasihi. Setelah itu muncul kemampuan membedakan atau diskriminasi. Dunia adalah campuran dari kebaikan dan keburukan, benar dan salah, kemenangan dan kekalahan. Dalam dunia yang penuh dengan pertentangan, engkau harus secara terus menerus membuat pilihan diantara apa yang benar dan layak, dan apa yang salah dan tidak diinginkan. Engkau seharusnya tidak dituntun oleh pikiranmu, namun dengarkan dan ikuti arahan dari kecerdasanmu  atau Buddhi. Selama engkau mengikuti pikiranmu maka engkau tidak akan mampu mencapai keillahian. (Divine Discourse, Jan 16 1988)