Wednesday, October 18, 2017

Thought for the Day - 18th October 2017 (Wednesday)

Narakasura is present in everyone as lust, hate, greed and as fear and grief, which are against the very nature of humanity. Just as an umbrella with a silk cover cannot protect you from rain but the one with a waterproof cover can, so too in this storm-driven world incessantly flushed by torrential rain, an umbrella with desire-proof and anger-proof coating is very essential. There is great latent power inherent in every¬one, and when that power is made explicit (vyakta), a human being deserves to be called individual (vyakthi). When the latent qualities from within you manifest, the demons will automatically be destroyed. Your reality is Atma; your quality is bliss (ananda). Krishna is the Super or Omni Self (Paramatma) and Satyabhama (Krishna’s consort) represents the individual self (jiva). On this auspicious day, Paramatma destroys the evil propensities with the active collaboration of the individual self! Remember, the individual self can defeat evil with the active grace of the Lord.


Narakasura adalah ada dalam diri setiap orang dalam bentuk nafsu birahi, kebencian, ketamakan dan ketakutan serta kesedihan, yang mana merupakan kebalikan dari sifat dasar manusia. Sama halnya dengan payung dengan penutup sutera tidak bisa melindungimu dari hujan tapi dengan penutup anti air dapat melindungimu, begitu juga dalam badai dunia ini yang bergejolak secara terus menerus dengan hujan yang begitu lebat maka sebuah payung dengan pelindungnya berupa anti keinginan dan anti kemarahan adalah sangat mendasar. Ada sebuah kekuatan besar yang terpendam serta menjadi pembawaan sejak lahir dalam diri setiap orang, dan ketika kekuatan itu dibuat terlihat dengan jelas (vyakta), seorang manusia layak disebut dengan seorang individual (vyakti). Ketika kualitas yang terpendam dari dalam diri itu diwujudkan, maka raksasa secara otomatis akan dihancurkan. Kenyataanmu yang sejati adalah Atma; kualitasmu adalah kebahagiaan (ananda). Sri Krishna adalah bersifat Super atau kepribadian yang tertinggi (Paramatma) dan Satyabhama (permaisuri Krishna) melambangkan diri individu (jiwa). Pada hari yang suci ini, Paramatma menghancurkan kecendrungan jahat dengan kerjasama aktif dari diri individu! Ingatlah, diri individu dapat mengalahkan kejahatan dengan karunia aktif dari Tuhan. (Sathya Sai Speaks, Vol 3, Dec 1963)
-BABA

Thought for the Day - 17th October 2017 (Tuesday)

When the qualities of an asura (demon) enter nara (man), he becomes Narakasura. In such a person, you find only bad qualities and evil feelings. Such a person does not join the company of the noble and does not make efforts to reach God, but makes friendship with only wicked people. Such a mentality is the consequence of evil deeds over a number of births. Ravana had acquired all types of knowledge like Rama. But unlike Rama, he joined bad company, entertained bad thoughts, and indulged in wicked deeds. Hence, people revere Rama and abhor Ravana. One is revered or ridiculed on the basis of one's conduct. Understand that none should lead a self-centred life. Wherever a good activity is taking place, wherever a prayer meeting is held, take part in them with enthusiasm. The scriptures guide us, “Give up bad company. Join the company of the noble. Perform meritorious deeds day and night.”


Ketika sifat raksasa (asura) memasuki manusia (nara), maka manusia itu akan menjadi Narakasura. Pada orang itu, engkau hanya menemukan sifat-sifat buruk dan perasaan yang jahat. Orang seperti itu tidak bergabung dalam pergaulan orang-orang yang baik dan tidak melakukan usaha untuk mencapai Tuhan, namun membuat pertemanan dengan orang yang jahat saja. Itu adalah mentalitas yang muncul akibat dari perbuatan jahat dari beberapa kelahiran. Ravana telah memiliki semua jenis pengetahuan seperti halnya Rama. Namun tidak seperti Rama, ketika Ravana bergabung dalam pergaulan yang tidak baik, memiliki pikiran yang buruk dan terlibat dalam melakukan perbuatan yang jahat. Oleh karena itu, orang-orang memuja Rama dan membenci Ravana. Seseorang dimuliakan atau dihina berdasarkan pada tingkah lakunya. Pahamilah bahwa seharusnya tidak ada seorangpun yang menjalani hidup yang mementingkan diri sendiri. Dimanapun perbuatan baik dilakukan, dimanapun doa dilantunkan, maka ikuti semuanya itu dengan semangat. Naskah suci menuntun kita, “lepaskan pergaulan yang tidak baik. Bergabunglah dalam pergaulan mereka yang mulia. Jalankan perbuatan yang bermanfaat siang dan malam.” (Divine Discourse, Nov 4, 2002)

-BABA

Monday, October 16, 2017

Thought for the Day - 16th October 2017 (Monday)

Now, engage yourself in spiritual discipline, spiritual thoughts and spiritual company. Forget the past. At least from now on, seek to save yourself. Never yield to doubt or unsteadiness. That is a sign of ignorance. Have faith in any one Name and the Form indicated by that name. If you revere Shiva and hate Vishnu, the plus and the minus cancel out and the net result is zero. I will not tolerate the slightest hatred of any Name or Form. The wife has to revere the husband, but that does not mean that she has to hate his parents, brothers or sisters. You can never attain the Lord through hatred of one or more of His many Forms and Names. If you throw contempt at the God that another reveres, the contempt falls on your own God. Avoid factions, quarrelling, hating, scorning and fault-finding; they recoil on you. Remember everyone is a pilgrim towards the same goal; some travel by one road, some by another.


Sekarang, libatkan dirimu dalam displin spiritual, pemikiran spiritual, dan pergaulan spiritual. Lupakanlah masa lalu. Setidaknya mulai dari sekarang dan seterusnya, carilah untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Jangan pernah menyerah pada keraguan atau keadaan tidak tenang. Itu adalah tanda dari kebodohan. Miliki keyakinan pada satu nama dan wujud yang ditunjukkan oleh nama itu. Jika engkau memuja Dewa Shiva dan membenci Wishnu, tambah dan kurang membatalkannya dan hasil bersihnya adalah nol. Aku tidak akan memberikan toleransi pada kebencian sedikitpun pada nama atau wujud. Istri harus memuliakan suami, namun bukan berarti bahwa sang istri harus membenci orang tua atau saudaranya. Engkau tidak akan bisa mencapai Tuhan melalui kebencian pada satu atau lebih dari nama dan wujud-Nya. Jika engkau melempar kebencian pada Tuhan dan memuja yang lainnya, maka kebencian itu akan sampai pada Tuhanmu sendiri. Hindari konflik, pertengkaran, kebencian, mencemooh, dan mencari kesalahan; semuanya itu membawa kemunduran pada dirimu. Ingatlah setiap orang adalah peziarah menuju pada tujuan yang sama; beberapa berjalan dengan satu jalan, beberapa yang lain dengan jalan yang lainnya. (Divine Discourse, Oct 10, 1964)

-BABA

Sunday, October 15, 2017

Thought for the Day - 15th October 2017 (Sunday)

God loves the flower of peace (Shanti). This flower of peace should not be interpreted to mean that you should be silent towards whoever is attacking you or blaming you. It is not that at all! If you are unmoved and unperturbed in spite of anyone finding faults in you, that is real Shanti. If you can fill your heart with love, you will always be peaceful. Through our own bad qualities, we lose peace. With truthful thoughts, you will have peace. With untruthful thoughts, you lose peace. It is only when you are free from all thoughts that you can have true peace. Your own bad thoughts are responsible for all your pain and sorrow. Through good thoughts and ideas, you will become a sadhu (saint). Sadhu does not mean one who merely wears an orange robe, shaves the head and wears holy beads (Rudrakshas). Every person who has good thoughts and good ideas is a sadhu.


Tuhan menyayangi bunga kedamaian (Shanti). Bunga kedamaian  ini seharusnya tidak dimaknai bahwa engkau harus diam kepada siapapun yang menyerangmu atau menyalahkanmu. Bukan itu sama sekali! Jika engkau tidak bergeming dan tidak terganggu sekalipun ada orang yang mencari kesalahanmu, itu adalah kedamaian yang sejati. Jika engkau dapat mengisi hatimu dengan kasih, engkau akan selalu menjadi damai. Karena sifat-sifat buruk kita maka kita kehilangan kedamaian. Dengan pikiran yang tidak baik, engkau kehilangan kedamaian. Hanya ketika engkau bebas dari semua pikiran maka engkau bisa memiliki kedamaian yang sejati. Pikiranmu sendiri adalah yang bertanggung jawab dari semua rasa sakit dan penderitaaan. Dengan pikiran dan gagasan yang baik, engkau akan menjadi seorang sadhu (orang suci). Sadhu tidak berarti seseorang yang hanya memakai pakaian berwarna oranye, menggunduli kepalanya dan memakai japa mala (Rudrakshas). Setiap orang yang memiliki pikiran baik dan gagasan yang baik adalah seorang sadhu. (Divine Discourse, 12 May, 1981)

-BABA

Thought for the Day - 14th October 2017 (Saturday)

Develop divine love (Prema) towards the Lord, the Embodiment of Supreme Divine Love. Never give room for doubts, hesitations and questions to test the Lord’s Love. “Why have my troubles not ended? How come this situation is happening to me?” Do not think that God does not care for you or He does not know you. You may not get what you want, when you want, but do not be under the impression that God does not love you or care for you. Do not get shaken in mind; never allow faith to decline. That will only add to the grief you already suffer from. Hold fast to your chosen deity – Shiva, Rama or Sai Baba. Do not lose the contact and company, for only when coal is in contact with the live embers, it can also become one. Cultivate nearness to Me in your heart and you will be rewarded with a fraction of Supreme Divine Love.


Kembangkan kasih Tuhan (Prema) pada Tuhan, perwujudan dari kasih Tuhan yang tertinggi. Jangan pernah memberikan ruang untuk keraguan, bimbang, dan menanyakan untuk menguji kasih Tuhan. “Mengapa kesulitan dan masalahku tidak berakhir? Bagaimana situasi seperti ini bisa terjadi padaku?” jangan berpikir bahwa Tuhan tidak peduli padamu atau Tuhan tidak mengetahui tentang dirimu. Engkau mungkin tidak mendapatkan apa yang engkau inginkan, ketika engkau menginginkannya, namun jangan memiliki pikiran bahwa Tuhan tidak menyayangimu atau tidak peduli kepadamu. Jangan membuat pikiranmu menjadi terguncang; jangan pernah izinkan keyakinan menjadi memudar. Hal itu hanya akan menambahkan duka cita pada penderitaan yang sudah engkau alami. Pegang dengan kuat nama serta wujud Tuhan yang telah engkau pilih – Shiva, Rama, atau Sai Baba. Jangan kehilangan kontak dan hubungan, karena hanya ketika batubara bersentuhan dengan bara api yang hidup, batubara dan api dapat menjadi satu. Tingkatkan kedekatan dengan-Ku di dalam hatimu dan engkau akan diberkati dengan sebuah pecahan dari kasih Tuhan yang tertinggi. (Divine Discourse, 10 Oct, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 13th October 2017 (Friday)

Imagine your son and servant is at home. If your son is pilfering some things or developing bad habits, you will try and control him by correcting, scolding, and persuading him to return to good ways but will never take him and hand him over to the police – will you? On the other hand, if your servant steals a small spoon, at once, you will consider handing him over to the police, isn’t it? What is the inner significance from this situation? The reason for the difference in behavior is the narrow idea 'this boy is my son’. Because the servant does not belong to you, there is no consideration for forbearance and patience! Cultivate the broad idea 'everyone is mine', then, love, patience and forbearance will grow abundantly.


Bayangkan putramu dan pelayan ada di dalam rumah. Jika putramu mengambil sesuatu atau mengembangkan kebiasaan buruk, engkau akan mencoba dan mengendalikannya dengan memperbaiki, memarahi, dan membujuknya untuk kembali ke jalan yang baik namun tidak akan pernah melaporkan putramu ke polisi, bukan? Sebaliknya, jika pelayanmu mencuri sebuah sendok kecil, sekali saja, maka engkau akan melaporkannya ke polisi. Apa makna yang ada di dalam situasi ini? Alasan dibalik perbedaan dalam penanganan adalah karena gagasan yang sempit 'anak ini adalah putra saya’. Karena pelayan bukan milikmu, maka tidak ada pertimbangan untuk kesabaran dan ketabahan! Tingkatkan gagasan yang luas 'setiap orang adalah milikku', kemudian kasih, kesabaran, dan ketabahan akan berkembang dan tumbuh secara melimpah. (Divine Discourse, May 12, 1981)

-BABA

Thursday, October 12, 2017

Thought for the Day - 12th October 2017 (Thursday)

The eagle is pestered by crows so long as it has a fish in its beak. They swish past it to steal the fish out of its mouth. They pursue the bird wherever it sits for a little rest. At last, it gives up the attachment to the fish and drops it from its beak; the crows fly behind it and leave the eagle free. So leave off sense pleasures and the crows of pride, envy, malice, and hatred will fly away. Practise renunciation from now on so that you may set out on the journey when the call comes. No one knows when that will happen. Else, at that moment, you will be in tears, when you think of the house you have built, the property you have accumulated, the fame you have amassed, the trifles you have won, and so on. Know that all this is for the fleeting moment. Develop attachment for the Lord, who will be with you wherever you go. Only the years that you have lived with the Lord have to be counted as life, the rest are all out of count.


Elang diganggu oleh gagak selama elang membawa ikan di dalam paruhnya. Burung gagak terbang melintasinya agar bisa mencuri ikan yang ada di paruhnya dan selalu mengejarnya dimanapun burung elang hinggap untuk istirahat. Pada akhirnya, elang melepaskan keterikatan pada ikan itu dan menjatuhkannya dari paruhnya; burung gagak langsung mengejar ikan itu dan meninggalkan burung elang dengan bebas. Jadi lepaskan kesenangan indria dan burung gagak berupa kesombongan, iri hati, kedengkian, dan kebencian akan terbang menjauh. Berlatihlah untuk melepaskan keterikatan dari sekarang sehingga engkau dapat memulai perjalanan ketika panggilan datang. Tidak ada seorangpun mengetahui kapan hal itu akan terjadi. Kalau begitu, pada saat itu, engkau akan bersedih meneteskan air mata, ketika engkau memikirkan rumah yang telah engkau bangun, kekayaan yang telah engkau kumpulkan, kemashyuran yang telah engkau miliki, hal-hal sepele yang telah engkau menangkan, dan sebagainya. Ketahuilah bahwa semuanya ini adalah untuk saat yang sebentar. Kembangkan keterikatan pada Tuhan, yang mana Beliau akan bersamamu kemanapun engkau pergi. Hanya tahun-tahun yang telah engkau jalani dengan Tuhan dapat disebut dengan kehidupan, sedangkan sisanya tidak terhitung lagi. (Divine Discourse, Oct 10, 1964)

-BABA