Thursday, December 14, 2017

Thought for the Day - 14th December 2017 (Thursday)

Your mind is too full of the world and your stomach demands too much of your time and energy. Desires and wants are multiplying faster than your capacity to satisfy them, and your dreams are far too fanciful, leading you into false victories and absurd adventures. Engrossed in the analysis of the material world, you have lost all sense of spirit, sweetness and sublimity. Under this new dispensation, truth is yet another word in the dictionary. Compassion is reduced to a meaningless travesty. People lack self-confidence. Even at the slightest provocation, you are rapidly transformed into a wild and vicious beast. Humility, patience, reverence - these are as invalid as a flameless lamp in the far distance. The only hope you have in today’s dreadful darkness is the name of God. That is the raft which will take you across this stormy sea, darkened by hate and fear, and churned by anxiety and terror. Take it with all earnestness and steadfast faith.


Pikiranmu sudah terlalu penuh dengan dunia dan perutmu meminta terlalu banyak untuk waktu dan energimu. Keinginan dan kebutuhan terus meningkat semakin cepat daripada kapasitasmu untuk memuaskan semuanya itu, dan impianmu adalah terlalu aneh, menuntunmu pada keberhasilan yang semu dan petualangan yang tidak masuk akal. Berminat pada analisa dunia material, engkau telah kehilangan semua rasa semangat, rasa manis, dan keagungan. Dibawah sistem baru ini, kebenaran adalah kata lain dalam kamus. Rasa welas asih menurun menjadi sebuah parodi yang tanpa makna. Manusia kurang memiliki rasa percaya diri. Bahkan hanya dengan sedikit hasutan maka engkau dengan cepat berubah menjadi seekor binatang buas yang kejam dan ganas. Sifat kerendahan hati, kesabaran, penghormatan – semuanya ini menjadi tidak berarti seperti halnya lampu yang tidak menyala di kejauhan. Satu-satunya harapan yang engkau miliki pada kegelapan yang sangat mengerikan pada saat sekarang adalah nama suci Tuhan. Itu adalah rakit yang akan membawamu menyebrangi lautan yang penuh badai ini yang digelapkan oleh kebencian dan ketakutan, dan dikacaukan oleh kecemasan dan terror. Ambillah nama Tuhan ini dengan penuh kesungguhan dan keyakinan yang teguh. [Divine Discourse, Feb 26, 1968]

-BABA

Wednesday, December 13, 2017

Thought for the Day - 13th December 2017 (Wednesday)

Do not grieve, nor be the cause of grief. The very embodiment of Ananda (Bliss) is in you, as in others, as in all else. In spite of a multiplicity of containers, the contained is the same. That is the principle of Sat, Chit and Ananda (Being, Awareness, Bliss). The minutest atom and the mightiest star - both are basically one. All are, in truth, Brahman or Divine. You read in the sacred books that Lord Vishnu has the Garuda (Eagle) as His carrier, that Shiva has the Nandi (Bull) as His vehicle, that Lord Brahma rides on a Hamsa (Swan), that Lord Subrahmanya travels on a peacock, and that Shani has the crow as his vehicle. Ganesha rides on a mouse, though he is stupendously corpulent and has the head of an elephant! This does not mean that the Gods are helpless without these animals and birds as instruments of locomotion. It only reveals that no bird or beast is to be despised, for the Divine is using each as His instrument. Seen as deha (body), all are distinct; seen as dehi (the embodiment), Brahman, all are One.


Jangan bersedih hati, atau juga menjadi sebab dari kesedihan. Perwujudan dari Ananda (kebahagiaan) adalah ada di dalam dirimu, seperti halnya juga di dalam diri yang lain, dan juga dalam semua yang lainnya. Sekalipun ada berbagai jenis wadah yang ada namun isi di dalamnya adalah sama. Itu adalah prinsip dari Sat, Chit, dan Ananda (keberadaan, kesadaran, kebahagiaan). Atom yang paling kecil dan bintang yang paling kuat – keduanya pada dasarnya adalah satu. Semuanya adalah, dalam kebenaran adalah Brahman atau Tuhan. Engkau membaca dalam kitab suci bahwa Sri Wisnu memiliki burung Garuda sebagai wahana Beliau, sedangkan Dewa Shiva memiliki Nandi sebagai wahana Beliau, dan Dewa Brahma memiliki Hamsa (angsa), serta Dewa Subrahmanya berkeliling dengan merak, sedangkan Shani memiliki burung gagak sebagai wahana-Nya. Ganesha menunggangi tikus, walaupun Dewa Ganesha sangat perkasa dan memiliki kepala gajah! Ini tidak berarti bahwa Tuhan adalah tidak berdaya tanpa binatang dan burung ini sebagai wahana-Nya. Ini hanya untuk mengungkapkan bahwa tidak ada burung atau binatang yang layak untuk dipandang hina atau rendah, karena Tuhan menggunakan masing-masing dari binatang dan burung itu sebagai wahana-Nya. Dilihat sebagai deha (tubuh), semuanya  adalah berbeda; dilihat sebagai (yang bersemayam di dalamnya) yaitu Brahman maka semuanya adalah Satu. (Divine Discourse, Jan 13, 1969.)

-BABA

Thought for the Day - 12th December 2017 (Tuesday)

Millions recite the Lord’s Name, but few have steady faith! Fewer seek the bliss (Ananda) that contemplation on the glory of God within, the Atma, can confer. Some people complain that recitation (japam) has not cured their pain, grief or greed! It is because they mechanically recite prayers and meditate out of habit or for social conformity or to gain reputation for religiousness! When people who have learnt the precious scriptures revealing Atma-vidya (science of the Self) do not put into practice what they repeat orally and have no faith in the assertions, what profit can they get from it? The canker of doubt has undermined their reverential attitude to the scripture. They devalue the scriptures into money-or-fame-earning devices, and when they do not get money or fame through them, they are disappointed. They envy those who follow secular avocations. But if they only develop faith, scriptures themselves will foster them and ensure for them a happy and contented life.


Jutaan orang melantunkan nama Tuhan, namun hanya sedikit yang memiliki keyakinan yang teguh! Hanya sedikit yang mencari kebahagiaan (Ananda) dalam merenungkan kemuliaan Tuhan di dalam diri yaitu Atma. Beberapa orang mengeluh bahwa mengulang-ulang nama Tuhan (japam) belum menyembuhkan penderitaan, kesedihan, atau ketamakan yang mereka alami! Hal ini terjadi karena mereka melantunkan doa hanya bersifat mekanis saja dan bermeditasi karena kebiasaan atau untuk persesuaian sosial atau untuk mendapatkan reputasi religius! Ketika mereka yang telah belajar naskah suci yang berharga dalam mengungkapkan Atma-vidya (pengetahuan tentang diri sejati) tidak mempraktikkan apa yang mereka katakan secara lisan dan tidak memiliki keyakinan dalam pernyataan yang ada dalam naskah suci, apa keuntungan yang dapat mereka dapatkan dari hal ini? Kebusukan dari keraguan telah meruntuhkan sikap hormat mereka kepada naskah suci. Mereka menurunkan nilai dari naskah suci sebagai alat untuk menghasilkan uang atau ketenaran, saat mereka tidak mendapatkan uang atau ketenaran melalui naskah-naskah suci itu maka mereka menjadi kecewa. Mereka iri hati pada mereka yang mengikuti kegemaran duniawi. Namun hanya jika mereka mengembangkan keyakinan, naskah suci sendiri yang akan membantu perkembangan mereka dan memastikan mereka dengan sebuah hidup yang bahagia dan menyenangkan. (Divine Discourse, Feb 23, 1968)

-BABA

Thought for the Day - 11th December 2017 (Monday)

In fishing, the angler uses a rod and a line; that line has a float from which hangs inside the water a sharp hook with a worm. The fish is drawn by the worm to the hook, the float shakes, the angler feels the pull of the fish on the line, and he draws it on the land, where it is helpless and unable to breathe. Your body is the rod, your yearning or the eager longing is the line, your intelligence is the float, discrimination is the hook and knowledge is the worm; a clever angler thus catches the fish of the Divine (Atma)! When you get spiritual wisdom, you are drawn to the Divine (Kaivalyam). Kaivalyam is the state in which you experience the Lord as all-comprehensive, as Will, as Activity, as Bliss, as Intelligence and as Existence. To be firmly established in this Divine State, you must suppress your ignorance (tamas), sublimate your passions (rajas) and assiduously cultivate purity (sathwa).


Dalam memancing, pemancing menggunakan sebuah tongkat dan tali; tali itu memiliki sebuah pelampung dimana kail tajam dengan cacing ada di dalam air. Ikan menjadi tertarik pada cacing yang ada pada kail tersebut, pelampung tersebut menjadi bergoyang dan pemancing merasa ada tarikan ikan pada tali itu, dan pemancing menarik tali itu ke daratan, dimana ikan itu tidak berdaya dan tidak mampu bernafas. Tubuhmu adalah tongkat, kerinduanmu atau hasratmu adalah tali, kecerdasanmu adalah pelampung, kemampuan membedakan adalah kail dan pengetahuan adalah cacing; seorang pemancing yang pintar akan menangkap ikan yaitu Atma! Ketika engkau mendapatkan kebijaksanaan spiritual, engkau ditarik pada Tuhan (Kaivalyam). Kaivalyam adalah keadaan dimana engkau mengalami Tuhan sebagai yang meliputi semuanya, sebagai kehendak, sebagai aktifitas, sebagai kebahagiaan, sebagai kecerdasan, dan sebagai keberadaan. Untuk dapat berada dalam keadaan ilahi dengan mantap, engkau harus menekan kebodohanmu (tamas), menghaluskan nafsumu (rajas), dan dengan tekun menumbuhkan kesucian (sathwa). (Divine Discourse, Feb 26, 1968)

-BABA

Thought for the Day - 10th December 2017 (Sunday)

Every morning ask yourself this question: "What is the grand victory I must strive for in this life, for which these struggles are preparing me? Remind yourself that your body is the chariot, intellect (buddhi) is the charioteer, desires are the roads which you tread drawn by the rope of sensual attachments, and liberation (moksha) is the goal; the Divine Self within should be your Guide and Goal. If you yearn to escape the consequences of birth and death, cleanse your mind so effectively that it is nearly eliminated! This is possible only when you identify yourself with the Indweller within you (Dehi), rather than with the body (Deha)! Your body is the casket of the Atma, earned as a reward for one’s activities of mind and body. When you live in the consciousness of the omnipresent Divine, you live in love - love surging within and through you, to everyone around you. You will naturally experience love, peace and joy, always!


Setiap pagi tanyakan dirimu sendiri pertanyaan ini: "Apa kemenangan besar yang harus saya usahakan dalam hidup ini, yang mana perjuangan ini sedang mempersiapkan saya? Ingatkan dirimu sendiri bahwa tubuhmu adalah kereta, kecerdasan (buddhi) adalah saisnya, keinginan adalah jalan yang engkau tempuh yang ditarik dengan tali keterikatan sensual dan kebebasan (moksha) adalah tujuannnya; diri yang sejati di dalam diri seharusnya menjadi penuntun dan tujuan. Jika engkau merindukan untuk melepaskan diri dari konsekuensi kelahiran dan kematian, bersihkan pikiranmu dengan sangat efektif sehingga sepenuhnya bisa dibersihkan! Hal ini mungkin hanya ketika engkau mengidentifikasi dirimu sendiri dengan Yang bersemayam di dalam dirimu (Dehi), daripada mengidentifikasi diri dengan tubuh (Deha)! Tubuhmu adalah pembungkus dari Atma, yang diperoleh sebagai hadiah dari aktifitas pikiran dan tubuh seseorang. Ketika engkau hidup dalam kesadaran Tuhan yang ada dimana-mana, engkau hidup dalam kasih – kasih yang menggelora dari dalam diri dan melalui dirimu kepada setiap orang di sekitarmu. Engkau secara alami selalu akan mengalami kasih, kedamaian, dan suka cita! (Divine Discourse, Jan 13, 1969)

-BABA

Thought for the Day - 9th December 2017 (Saturday)

The cow transforms grass and gruel into sweet strength-giving milk and gives it away in plenty to its master. Develop that quality, that power to transform the food you consume into sweet thoughts, words and deeds of compassion for all. When your heart is filled with virtues, the Lord will shower His Grace abundantly. Draupadi earned the Lord’s Grace through her devotion and virtues. Without steadfastness and depth of faith, none can receive Grace. Endeavour to earn Grace by observing the discipline that I am keen you should follow. Give up your old worldly ways of earning and spending, saving and accumulating with greed, lust, malice and pride. Do not waste time in idle gossip. Talk softly and sweetly, and talk as little as possible. Serve all as brothers and sisters adoring the Lord in them. Engage in sadhana; move every step as befits a person striving to realise God.



Sapi merubah rumput dan bubur menjadi susu yang manis dan menguatkan serta memberikan susu itu dalam jumlah banyak kepada majikannya. Kembangkan kualitas itu, kekuatan untuk merubah makanan yang engkau makan menjadi pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan penuh welas asih bagi semuanya. Ketika hatimu diliputi dengan keluhuran budi, Tuhan akan mencurahkan karunia-Nya dengan berlimpah. Draupadi mendapatkan karunia Tuhan melalui bhakti dan keluhuran budinya. Tanpa keyakinan yang mantap dan teguh, tidak ada seorangpun yang dapat menerima karunia. Berusahalah untuk bisa mendapatkan karunia dengan menjalankan disiplin yang Aku harapkan engkau ikuti. Singkirkan cara hidup duniawimu yang lama dalam mencari dan menghabiskan, menyimpan, dan mengumpulkan dengan ketamakan, nafsu, kesombongan, dan keangkuhan. Jangan menghabiskan waktu dalam gosip yang kosong. Berbicaralah dengan lembut dan sopan, dan berbicara sesedikit mungkin. Layani semuanya sebagai saudara dan memuja Tuhan yang bersemayam dalam diri mereka. Jalani sadhana; bergeraklah dalam setiap langkah selayaknya seseorang berusaha untuk menyadari Tuhan. (Divine Discourse, Jan 11, 1968)

-BABA

Friday, December 8, 2017

Thought for the Day - 8th December 2017 (Friday)

You may have witnessed chariot festivals (Rathotsavam) in pilgrimage centers. Huge temple chariots are gorgeously decorated with flags and festoons, stalwart bands of men draw them along the roads to the music of blowpipes and conches, and dancing groups and chanters precede it, adding to the exhilaration of the occasion. Thousands crowd around the holy chariot. Their attention is naturally drawn towards the entertainment, but they feel happiest only when they fold their palms and bow before the Idol in the chariot. The rest is all subsidiary, even irrelevant. So too in the process of life, body is the chariot, and the Atma is the Idol installed therein. Earning and spending, laughing and weeping, hurting and healing, and the various acrobatics in daily living are but subsidiary to the adoration of God and the union with God.


Engkau mungkin telah menyaksikan perayaan kereta suci (Rathotsavam) di pusat perziarahan. Kereta dari tempat suci yang besar dihias sangat indah dengan bendera dan rangkaian bunga, banyak bhakta yang menarik kereta suci itu sepanjang jalan dengan iringan musik dari terompet dan kerang, serta kelompok penari dan lantunan kidung suci mengawalinya, menambahkan kebahagiaan pada perayaan itu. Ribuan orang mengelilingi di sekitar kereta suci itu. Perhatian mereka secara alami tertuju pada pertunjukan, namun mereka merasa paling sangat gembira hanya ketika mereka mencakupkan tangan mereka dan menunduk menunjukkan bhakti kehadapan wujud Tuhan yang ada di dalam kereta suci itu. Sedangkan sisa yang lainnya adalah sebagai tambahan saja, bahkan tidak relevan. Begitu juga proses dalam hidup, tubuh adalah kereta suci itu dan Atma adalah wujud Tuhan yang ada di dalamnya. Menghasilkan dan menghabiskan, tertawa dan menangis, tersakiti dan tersembuhkan, dan berbagai jenis akrobat dalam kehidupan sehari-hari hanyalah sebagai tambahan dari pemujaan kepada Tuhan dan penyatuan pada Tuhan. (Divine Discourse, Jan 13, 1969)

-BABA