Monday, March 19, 2018

Thought for the Day - 19th March 2018 (Monday)

When you sing bhajans, maintain the proper rhythm by clapping your hands. The clapping should be done according to the bhajan. And bhajans should be sung with proper tune and wholeheartedly. The three syllables in the name Bha-ra-ta stand for bhava (feeling), raga (tune) and tala (beat). It means true Bhartiyas are those who sing the glory of God with bhava, raga, and tala. You should join both hands and clap. The five fingers of one hand symbolise karmendriyas (senses of action) and that of other hand stand for jnanendriyas (senses of perception). When you sing the glory of God, there should be harmony between these two. Let your every action be pleasing unto God. You may call Him Rama, Krishna, or Govinda, but God is one. Develop the feeling of oneness and attain the vision of the Divine Self (Atma).

Ketika engkau melantunkan bhajan, pertahankan ritme dengan tepat melalui tepuk tangan. Tepuk tangan harus dilakukan sesuai dengan bhajan. Dan bhajan seharusnya dikidungkan dengan nada yang benar dan sepenuh hati. Tiga suku kata dalam nama Bha-ra-ta adalah singkatan dari bhava (perasaan), raga (irama), dan tala (ketukan). Hal ini berarti Bhartiya yang sejati adalah mereka yang melantunkan kemuliaan Tuhan dengan bhava, raga, dan tala. Engkau seharusnya menjadikan satu kedua tangan melalui tepuk tangan. Lima jari dari satu tangan melambangkan karmendriya (indera perbuatan) sedangkan lima jari tangan yang lainnya melambangkan jnanendriya (indera persepsi). Ketika engkau melantunkan kemuliaan Tuhan, disana harus ada keharmonisan diantara kedua indera ini. Biarkan setiap perbuatan dilakukan untuk menyenangkan Tuhan. Engkau dapat menyebut-Nya dengan Rama, Krishna, atau Govinda, namun Tuhan adalah satu. Kembangkan perasaan kesatuan dan capailah pandangan diri yang sejati (Atma). (Divine Discourse, Apr 2, 2003)


Sunday, March 18, 2018

Thought for the Day - 18th March 2018 (Sunday)

Some people keep the rosary revolving in their hands but their minds roam in the market. Can this be called japa (chanting)? While meditating, both your body and mind should be steady! The body is made of five elements, so it is bound to suffer. You should not be affected by it. This is true sadhana (spiritual exercise). All other sadhanas will prove futile if you do not give up body attachment. Today marks the beginning of a very sacred year. Not only in this year, but throughout your life, you should cultivate sacred thoughts. Embodiments of love, develop more and more love in you. Experience love and share it with others. You are not merely mortals. You are the sparks of divine. Lead your life in such a manner. This is the most important message for this New Year! When you understand and internalise your divine origin, your thoughts, words, and deeds will become sacred!

Beberapa orang tetap memutar japa mala di tangannya namun pikiran mereka berkeliaran di pasar. Dapatkah kita menyebut ini sebagai japa (pelantunan)? Saat meditasi, keduanya baik tubuh dan pikiranmu harus mantap! Tubuh dibuat dari lima unsur maka ditakdirkan untuk menderita. Engkau seharusnya tidak terpengaruh dengan hal ini. Ini adalah sadhana sejati (latihan spiritual). Semua sadhana yang lain akan menjadi sia-sia belaka jika engkau tidak melepaskan kemelekatan pada tubuh. Hari ini ditandai sebagai awal dari tahun yang suci. Tidak hanya dalam tahun ini saja, namun sepanjang hidupmu, engkau seharusnya meningkatkan pikiran-pikiran yang suci. Perwujudan kasih, kembangkan lebih banyak lagi dan lagi kasih di dalam dirimu. Alamilah kasih itu dan bagi dengan yang lainnya. Engkau tidak hanya makhluk hidup. Engkau adalah percikan dari Tuhan. Jalani hidupmu dengan cara seperti itu. Ini adalah pesan yang paling penting untuk tahun baru ini! Ketika engkau memahami dan menginternalisasi bahwa asalmu adalah dari Tuhan maka pikiran, perkataan, dan perbuatanmu akan menjadi suci! (Divine Discourse, Apr 2, 2003)


Thought for the Day - 17th March 2018 (Saturday)

There are some people who get up from bed with a disturbed and agitated mind. Don’t do that! Arise from your sleep with a peaceful mind. Think of God. If parents criticise each other as soon as they get up from bed, surely, children also will start quarrelling and fighting with each other! Children always try to emulate their parents and hence, parents should set an example to their children. You should teach them by practice, not merely by precept. Under any circumstance, do not give room for anger or hatred. Never hate anybody. The hatred in you will come back to you as reflection and make you suffer. You may have to face some difficulties and sorrows, but never mind. Be calm and composed. Consider everyone as embodiments of Divinity. Your salutation or ridicule, whoever it may be addressed to, reaches God. Offer your respects to everybody. Share your love with one and all.

Ada beberapa orang yang bangun dari tempat tidur dengan pikiran yang terganggu dan gelisah. Jangan lakukan hal itu! Bangkitlah dari tidurmu dengan pikiran yang penuh kedamaian. Pikirkan tentang Tuhan. Jika orang tua saling mengeritik satu dengan yang lainnya segera setelah mereka bangun dari tempat tidur, pastinya anak-anak juga akan mulai bertengkar satu dengan yang lainnya! Anak-anak selalu mencoba untuk berusaha menyamai atau melebihi orang tua mereka dan oleh karena itu, orang tua harus memberikan teladan mereka. Engkau seharusnya mengajarkan anak-anak dengan praktik dan tidak hanya dengan kata-kata. Dalam keadaan apapun, jangan memberikan ruang bagi kemarahan atau kebencian. Jangan pernah membenci siapapun juga. Kebencian dalam dirimu akan kembali padamu sebagai sebuah pantulan dan membuatmu menderita. Engkau mungkin harus menghadapi beberapa kesulitan dan penderitaan, namun lupakan. Jadilah tenang dan sabar. Anggaplah setiap orang sebagai perwujudan dari keillahian. Salam atau ejekan darimu, kepada siapapun itu diberikan akan mencapai Tuhan. Berikan rasa hormat kepada setiap orang. Bagilah kasihmu dengan semuanya. (Divine Discourse, Apr 2, 2003)


Saturday, March 17, 2018

Thought for the Day - 16th March 2018 (Friday)

Bharatiya Culture is the very basis of human progress. It will uplift humanity by promoting brotherhood, upholding righteousness, and saturating every thought, word and act with reverence and humility. This culture will stand unshaken so long as the Ganga flows; no attempt to suppress or destroy it can succeed. The history and traditions of Bharat are as pure, holy, sanctifying, curative and precious as the Ganges. The origins of both are cool, comforting, and spotless snows! When young men and women are not trained to live a good and godly life, teaching them various skills and tricks, only makes them a danger to themselves and to others. The habit of prayer will inculcate courage and confidence; it will provide the student with a vast new source of energy. Every effort must be made to introduce the students to the sweet experiences of meditation and Yoga, or to the joy of inquiry into one's own reality!

Kebudayaan Bharatiya adalah sangat mendasar bagi kemajuan manusia. Ini akan mengangkat umat manusia dengan meningkatkan persaudaraan, menegakkan kebajikan, dan memenuhi setiap pikiran, perkataan, dan tindakan dengan rasa hormat dan kerendahan hati. Kebudayaan ini akan berdiri tidak tergoyahkan sepanjang sungai Gangga mengalir; tidak ada usaha yang berhasil untuk menekan atau menghancurkannya. Sejarah dan tradisi Bharat adalah suci, murni, menyucikan, menyembuhkan, dan berharga seperti halnya sungai Gangga. Sumber dari keduanya ini adalah dingin, menenangkan, dan salju yang tidak ternoda! Ketika pria dan wanita muda tidak dilatih untuk menjalani kehidupan yang baik dan saleh, mengajarkan mereka berbagai keahlian dan cara, hanya membuat mereka berbahaya bagi diri mereka dan yang lainnya. Kebiasaan berdoa akan menanamkan keberanian dan kepercayaan; hal ini akan memberikan pelajar dengan sebuah sumber energi yang sangat luas. Setiap usaha harus dibuat untuk memperkenalkan pelajar pada pengalaman yang indah dari meditasi dan Yoga, atau untuk menikmati suka cita dalam penyelidikan jati diri! (Divine Discourse, May 13, 1970)


Thursday, March 15, 2018

Thought for the Day - 15th March 2018 (Thursday)

The important qualification for seva (service) is a pure heart, uncontaminated by conceit, greed, envy, hatred or competition. Along with this, we need faith in God as the spring of vitality, virtue, and justice. Seva is the worship you offer to the God in the heart of everyone. Do not ask another which country or state you belong to, or which caste or creed you profess. See your favourite form of God in that ‘other person’; as a matter of fact, he or she is not ‘other’ at all - it is the Lord’s image, as much as you are. You are not helping ‘one individual’; you are adoring Me, in them. God is before you in that form; so, what room is there for the ego in you to raise its hood? Duty is God; Work is worship. Even the tiniest work is a flower placed at the Feet of God. Approach everyone you serve with a heart filled with the treasure of Love!

Kualifikasi penting untuk seva (pelayanan) adalah sebuah hati yang suci yang tidak terjangkiti dengan kesombongan, ketamakan, iri hati, atau kompetisi. Bersamaan dengan ini, kita memerlukan keyakinan pada Tuhan sebagai sumber dari kekuatan, kebajikan, dan keadilan. Seva adalah persembahan yang engkau persembahkan kepada Tuhan di dalam hati setiap orang. Jangan bertanya pada yang lain dari negara mana engkau berasal atau dari kasta dan keyakinan mana engkau berasal. Lihatlah wujud Tuhan yang engkau puja dalam diri ‘orang lain itu’; sebagai sebuah fakta, mereka yang engkau layani sama sekali bukanlah ‘orang lain’ – mereka adalah wujud Tuhan sama halnya dengan dirimu. Engkau tidak menolong ‘satu individu’; engkau sedang memuja Aku dalam diri mereka. Tuhan ada di hadapanmu dalam wujud itu; jadi, dimana ada ruang untuk ego dalam dirimu untuk mengangkatkan kepalanya? Kewajiban adalah Tuhan; kerja adalah ibadah. Bahkan pekerjaan yang paling kecil sekalipun adalah bunga yang ditempatkan di kaki Tuhan. Dekati setiap orang yang engkau layani dengan hati yang diliputi dengan harta kasih sayang! (Divine Discourse, Mar 4,1970)


Monday, March 12, 2018

Thought for the Day - 12th March 2018 (Monday)

Long ago, there was a person who had three friends. Quite by accident, he was charged for some crime and a warrant was issued against him by the court. He approached one friend and asked him to bear witness to his innocence. He said, "I will not move out of this house; I can help you only from within this." The second friend said, "I can come only upto the porch of the court. I will not enter the witness box." The third friend said, "Come, I shall speak for you wherever you want me to." The first friend is the 'property and possessions' which can bear witness only from within the house. The second is 'the kinsmen and the members of the family’, who come as far as the cemetery but would not accompany the person to the seat of judgement. The third friend is the fair name earned by one's virtues and service. These persist even after death and burial; they stand witness for ages, and announce the innocence and greatness of the individual. They decide the nature of the next birth too.

Dahulu kala, ada seseorang yang memiliki tiga orang teman. Secara tidak sengaja, ia didakwa karena melakukan beberapa kejahatan dan sebuah surat tuntutan baginya telah dikeluarkan oleh pengadilan. Dia mendekati satu temannya dan meminta temannya itu untuk memberikan kesaksian bahwa ia tidak bersalah. Temannya berkata, "Saya tidak akan keluar dari rumah; saya hanya dapat membantumu dari dalam rumah." Temannya yang kedua berkata, "Saya hanya dapat membantu sampai pada teras pengadilan. Saya tidak akan memasuki tempat kesaksian." Temannya yang ketiga berkata, "Ayo, saya akan berbicara untukmu dimanapun engkau menginginkannya." Teman yang pertama adalah 'kekayaan dan kepemilikan’ yang mana hanya dapat menjadi saksi dari dalam rumah. Teman kedua adalah 'kerabat dan anggota keluarga’, yang datang sejauh pemakaman namun tidak akan menemani seseorang sampai pada tempat pengadilan. Teman ketiga adalah nama baik yang didapat seseorang dari sifat baik dan pelayanan seseorang. Hal ini bertahan bahkan setelah kematian dan penguburan; hal ini tetap berdiri sebagai saksi selama berabad-abad, dan mengumumkan kepolosan dan kebesaran seseorang. Hal ini juga memutuskan sifat kelahiran selanjutnya. [Divine Discourse, May 24, 1973]


Thought for the Day - 11th March 2018 (Sunday)

The emperor of the Cholas sought to visit the Srirangam Gopuram Temple, of which he had heard much. He got his chariot ready and in the next six months tried to make this journey many times. But on every occasion a recluse in ochre robes with a rosary around his neck and a halo around his head intercepted the vehicle. When the emperor alighted to honour him, he kept him engaged in conversation which was so enchanting that he forgot his journey and its goal. One day, when he lamented over his failure to fill his eyes with the glory of Srirangam, the Lord appeared before him and said, "Why do you lament? I am the Master who came to you so often as soon as you set out for Srirangam; recognise Me in all, that is the genuine pilgrimage to Srirangam." Consider all whom you meet as the Lord of Srirangam, your Master. Show untarnished love towards all who come to you.

Kaisar dari Cholas berusaha untuk mengunjungi tempat suci Srirangam Gopuram, yang beliau banyak dengar tentang tempat suci ini. Beliau mempersiapkan keretanya dan dalam enam bulan berikutnya mencoba untuk melakukan perjalanan ini berkali-kali. Namun pada setiap kesempatan seorang pertapa dengan jubah oranye dengan sebuah japa mala di lehernya dan lingkaran cahaya di kepalanya mencegat keretanya. Ketika kaisar turun untuk memberikan hormat, kaisar mengajak pertapa itu dalam sebuah percakapan yang menarik sehingga kaisar lupa akan perjalanan dan tujuannya. Pada suatu hari, ketika kaisar meratapi kegagalannya untuk dapat menyaksikan keagungan dari tempat suci Srirangam, Tuhan yang bersemayam di sana muncul di hadapannya dan berkata, "Mengapa engkau meratap seperti itu? Aku adalah pertapa yang sering menemuimu saat engkau bergegas untuk pergi ke Srirangam; kenali Aku dalam semuanya, itu adalah perjalanan suci yang sejati menuju Srirangam." Anggap semua yang engkau temui sebagai Tuhan di Srirangam, sebagai junjunganmu. Perlihatkan kasih yang tidak ternoda kepada semua yang engkau temui. [Divine Discourse, Jan 14, 1967]