Saturday, November 17, 2018

Thought for the Day - 17th November 2018 (Saturday)

Without having the right attitude, service done with a spirit of self-conceit is a travesty of service. Eliminate selfishness, which is the cause of dualism and its brood of opposites, joy and sorrow, likes and dislikes, and so on. You must rid yourself of the sense of ‘mine’ and ‘thine’. If your minds are filled with hatred, envy, prejudices and biases, you are not qualified to embark on service activities. "Active workers" (in the Sai movement) should have no feeling of arrogance or ostentation while carrying out the activities. They are indeed the spinal cord of the Sai organisation. As an active worker, you must understand the importance of human values and practice them in your life. You must constantly train yourself to become good men and women, fit to undertake noble tasks. All active workers must be broad-minded, completely free from selfish concerns, and must develop love towards all. Your recipe to experience Divinity must be, ‘Offer services and receive love’.


Tanpa memiliki sikap yang benar, pelayanan yang dilakukan dengan semangat kesombongan diri adalah sebuah parodi pelayanan. Hilangkan sifat mementingkan diri sendiri, yang merupakan penyebab dari dualitas dan keturunannya yang saling bertentangan seperti senang dan sedih, suka dan tidak suka, dsb. Engkau harus melepaskan dirimu sendiri dari perasaan ‘milikku’ dan ‘milikmu’. Jika pikiranmu diliputi dengan kebencian, iri hati, prasangka, dan sikap memihak, engkau tidak memenuhi syarat untuk memulai aktifitas pelayanan. "Pekerja aktif " (dalam pergerakan Sai) seharusnya tidak memiliki perasaan berupa arogansi atau kesombongan saat sedang melakukan aktifitas. Para pekerja aktif sejatinya merupakan tulang belakang dari organisasi Sai. Sebagai seorang pekerja aktif, engkau harus memahami pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan menerapkannya dalam hidupmu. Engkau harus secara tanpa henti melatih dirimu sendiri untuk menjadi pribadi yang baik, cocok untuk menjalankan tugas yang mulia. Semua pekerja aktif harus berpikiran luas dan sepenuhnya bebas dari hasrat mementingkan diri sendiri, dan harus mengembangkan kasih kepada semuanya. Resepmu dalam mengalami ke-Tuhanan harusnya adalah, ‘menawarkan pelayanan dan menerima kasih sayang’. (Divine Discourse, Nov 19, 1987)

-BABA

Friday, November 16, 2018

Thought for the Day - 16th November 2018 (Friday)

Preoccupation with one's own welfare and happiness is the bane of the dualistic mentality. It breeds discontent and sorrow. Feelings of attachment and aversion sully the mind. The mind can be purified through service. External observances like bathing several times a day, smearing Vibhuti all over and chanting mantras mechanically will not serve to cleanse the mind of impurities. These are only outward show, with nothing spiritual about them. Transcendental knowledge, which will help to raise man from the animal level, can be got through diligent enquiry and steadfast faith. This is being ignored today. Perceiving untruth as truth and treating truth as untruth, people are immersed in accumulating ephemeral objects, considering them as permanent. You must get out of this narrow groove, outgrow your selfish tendencies and learn to regard the whole of mankind as one family. That is true service. Few have such a large-hearted approach today.


Keasyikan dengan kesejahteraan dan kesenangan diri sendiri adalah kutukan dari mental dualitas. Hal ini membiakkan ketidakpuasan dan penderitaan. Perasaan keterikatan dan kebencian menodai pikiran. Pikiran dapat disucikan melalui pelayanan. Ketaatan yang bersifat external seperti mandi beberapa kali sehari, mengusapkan Vibhuti di seluruh tubuh dan melantunkan mantra secara mekanis tidak akan membuat kita bisa membersihkan pikiran dari kotoran. Semua hal ini hanyalah pamer keluar, dan tidak ada yang bersifat spiritual dari hal itu. Pengetahuan yang bersifat kerohanian akan membantu untuk menaikkan manusia dari tingkat binatang, dapat diperoleh melalui penyelidikan yang tekun dan keyakinan yang kuat. Hal ini sekarang diabaikan. Menerima ketidakbenaran sebagai kebenaran dan memperlakukan kebenaran sebagai ketidakbenaran, manusia ditenggelamkan dalam mengumpulkan objek-objek yang bersifat sementara dan memperlakukannya sebagai yang kekal. Engkau harus keluar dari alur yang sempit ini, mengatasi kecenderungan sifat mementingkan diri sendirimu dan belajar untuk menganggap seluruh umat manusia sebagai satu keluarga. Itu adalah pelayanan yang sejati. Hanya beberapa orang saja yang memiliki pendekatan dengan hati yang besar seperti itu hari ini. (Divine Discourse, Nov 19, 1987)

-BABA

Thursday, November 15, 2018

Thought for the Day - 15th November 2018 (Thursday)

Do not get elated at the riches, status, authority, intelligence, etc., which you may have. Consider that they have been given to you on trust, so that you may benefit others. They are all signs of His Grace, opportunities of service, and symbols of responsibility. Deal sympathetically with the mistakes of others. Seek the good in others, hear only good tidings about them, and do not give ear to scandal. There is this Kaliya episode during the Krishna Avatar. The inner meaning of that is: The serpent Kaliya and its minions are the desires that lurk in the depths of the heart; into that depth the Lord jumps, or rather showers His Grace and the poison is expelled, and the place made safe and pure. When Krishna dances on the hoods, the serpents are tamed and rendered harmless. Without the extinction of desire, one cannot become Divine. Of what avail is it to repeat Shivoham, Shivoham (I am Shiva) when you have not endeavoured to equip yourself with the qualities of Shiva?


Jangan membesarkan hati pada kekayaan, status, kekuasaan, kepintaran, dsb, yang engkau miliki. Anggaplah bahwa semua yang engkau miliki diberikan kepadamu karena dipercaya, agar bisa berguna bagi yang lainnya. Semuanya itu adalah tanda dari karunia-Nya, kesempatan untuk pelayanan dan simbol dari tanggung jawab. Perlakukan dengan penuh simpati pada kesalahan orang lain. Lihatlah kebaikan pada diri yang lain, hanya dengarkan hal yang baik tentang mereka, dan jangan dengarkan tentang skandal. Ada seekor ular yang bernama Kaliya pada masa Awatara Krishna. Makna yang terkandung di dalamnya adalah: ular berbisa Kaliya dan antek-anteknya adalah keinginan yang bersembunyi serta mengintai di kedalaman hati; dalam kedalaman itu Tuhan hadir untuk mencurahkan karunia-Nya dan racun itu dimusnahkan, tempat itu menjadi aman dan suci. Ketika Krishna menari di atas kerudung kepala Kaliya, ular berbisa ini dijinakkan dan menjadi tidak berbahaya. Tanpa pemadaman keinginan, seseorang tidak bisa menjadi ilahi. Apa gunanya dengan mengulang Shivoham, Shivoham (aku adalah Shiva) ketika engkau tidak berusaha memperlengkapi dirimu dengan kualitas dari Shiva? (Divine Discourse, Oct 24, 1965)

-BABA

Wednesday, November 14, 2018

Thought for the Day - 14th November 2018 (Wednesday)

Sweet and tender-hearted boys and girls! In our culture we have four injunctions: "Matru devo bhava, Pitru devo bhava, Acharya devo bhava, Atithi devo bhava - Regard your mother, father, teacher and guests as God”. Ever since you entered this world, your mother has loved you, has fostered you with her own blood and wishes for your welfare constantly. So first and foremost you must learn to respect her. Your father protects you and thinks constantly of your future, welfare and prosperity. Hence you should show affection and regards to him too. Mother gives you the body, father shows you ways of protecting and fostering it, but the teacher enables the intelligence in you to flourish. Life does not consist merely of eating. Education is that which shows how one should conduct oneself in society. So the teacher who gives you this ability should be honoured. And the society is the place where all of these can be put to use. Therefore, considering guests as representatives of society, we should offer them the due respect and honour.


Anak-anak yang berhati manis dan lembut! Dalam kebudayaan kita, kita memiliki empat perintah: "Matru devo bhava, Pitru devo bhava, Acharya devo bhava, Atithi devo bhava – Perlakukan ibu, ayah, guru dan tamumu sebagai Tuhan”. Sejak engkau lahir ke dunia ini, ibumu telah mencintaimu, membesarkanmu dengan darahnya sendiri dan selalu mendoakan untuk kesejahteraanmu. Jadi pertama dan utama engkau harus belajar untuk menghormatinya. Ayahmu melindungimu dan selalu memikirkan masa depanmu, kesejahteraan dan kemakmuranmu. Oleh karena itu, engkau harus memperlihatkan kasih sayang dan rasa hormat kepadanya juga. Ibu memberikanmu tubuh, ayah memperlihatkanmu cara untuk melindungi dan membesarkanmu, namun guru memungkinkan kecerdasan dalam dirimu mekar dan berkembang. Hidup tidak hanya sebatas makan saja. Pendidikan adalah yang memperlihatkanmu bagaimana seharusnya seseorang bertingkah laku dalam masyarakat. Jadi guru yang memberikanmu kemampuan ini harus dihargai. Dan masyarakat adalah tempat dimana semua hal ini dapat dijalankan. Maka dari itu, menganggap tamu sebagai perwakilan dari masyarakat, kita seharusnya memberikan kepada mereka hormat dan penghargaan. [Divine Discourse, Nov 22, 1975]

-BABA

Thought for the Day - 13th November 2018 (Tuesday)

Some say that since this is Kali yuga, falsehood alone can succeed. But in spite of all appearances, honesty is still the best policy. One lie must be buttressed by a hundred others; whereas being truthful is easy, safe and simple. It is a hard job to maintain a false stand and so, it is always safe to be straight and honest. Do not take the first false step and then be led, on and on, to perdition. Truth is one's real nature and when you are yourself, there comes a great flood of joy welling up within you. When you deny and deceive yourself, shame darkens your mind and breeds fear. You take the path of falsehood because of the rajasik (passionate) qualities of lust, greed, hate and pride. Contentment, humility, and detachment - these keep you on the path of Truth. Truth will always triumph; do not doubt that in the least.


Beberapa orang berkata bahwa karena saat sekarang adalah zaman Kali yuga, kejahatan saja yang akan menang. Namun, terlepas dari semua bentuk, kejujuran masih sebagai kebijakan yang terbaik. Satu kebohongan harus ditopang oleh ratusan kebohongan yang lainnya; sedangkan jujur itu mudah, aman, dan sederhana. Merupakan pekerjaan yang sulit untuk tetap menutupi kebohongan dan karenanya adalah selalu aman untuk tetap jujur dan lurus. Jangan salah dalam mengambil langkah pertama dan kemudian diarahkan terus menuju pada kehancuran. Kebenaran adalah sifat sejati seseorang dan ketika engkau adalah dirimu sendiri, maka kemudian datanglah banjir suka cita yang sangat besar yang mengalir dari dalam dirimu. Ketika engkau menyangkal dan menipu dirimu sendiri, rasa malu menggelapkan pikiranmu dan memunculkan ketakutan. Engkau mengambil jalan kebohongan karena sifat penuh gairah (rajasik) berupa birahi, tamak, kebencian, dan kesombongan. Rasa syukur, kerendahan hati, dan tanpa keterikatan – hal ini tetap membawamu pada jalan kebenaran. Kebenaran akan selalu menang; jangan ragu sedikitpun. [Divine Discourse, Oct 24, 1965]

-BABA

Thought for the Day - 12th November 2018 (Monday)

With the Name as the very breath of your life, you must engage in all life's activities, with no fear of a fall. If you make good use of chanting the Lord’s Name, your life will be sanctified. Whatever work you undertake, do it as an offering to God, chanting His Name. Even while you are walking, think that it is God who is making you walk, since Divinity is present in a subtle form in every atom and cell in this Universe. Unable to recognise this truth, people think, ‘I came by walk, I walked so many miles, etc.’ Such work comes under the physical realm, not spiritual. Hence whatever you think, speak or do, do it befittingly, considering every work as God’s command and God’s work. With that attitude chant any divine name wholeheartedly and sanctify your life. Then every activity you undertake will be successful.


Dengan nama Tuhan sebagai nafas hidupmu, engkau harus terlibat dalam semua aktifitas kehidupan, tanpa takut akan jatuh. Jika engkau menggunakan dengan baik dalam pelantunan nama Tuhan, hidupmu akan disucikan. Apapun pekerjaan yang engkau lakukan, lakukanlah sebagai sebuah persembahan kepada Tuhan, lantunkan nama-Nya. Bahkan ketika engkau sedang berjalan, pikirkan bahwa Tuhan yang sedang membuatmu berjalan, karena kualitas Tuhan ada dalam bentuk halus di setiap atom dan sel di alam semesta. Tidak mampu untuk menyadari kebenaran ini, manusia berpikir, ‘Saya datang dengan berjalan, saya berjalan bermil-mil jauhnya, dst.’ Aktifitas itu ada karena fisik dan bukan spiritual. Oleh karena itu apapun yang engkau pikirkan, katakan atau lakukan, lakukanlah dengan benar, menganggap bahwa setiap pekerjaan sebagai perintah Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Dengan sikap ini lantunkan nama Tuhan yang mana saja dengan sepenuh hati dan sucikanlah hidupmu. Kemudian setiap aktifitas yang engkau lakukan akan menjadi berhasil. [Divine Discourse, 13-Nov-2007]

-BABA

Monday, November 12, 2018

Thought for the Day - 11th November 2018 (Sunday)

You are most fortunate to participate in this (annual global) Akhanda Bhajan. Do not lose this great opportunity to lovingly sing the Lord’s Name. Meera drank the cup of poison with the Name on her tongue and it turned into nectar. Bhartrihari bewailed his lot, "Lord, these pleasures are eating me up; they don't allow me to be myself. No! I will liberate myself from their clutches. I shall take refuge in the undiminishable bliss, the reservoir of joy, the Lord. I shall not crave for objects (padartha); I shall yearn for the Highest Good (Parartha)". Devotion and faith ensure the gift of knowledge of the Spirit which is the greatest prize for the great adventure of birth, life and death. Endeavour to remember this fact when you sing. Whatever you do, whoever you are, whatever work you perform, you will definitely succeed, provided you do not give up the recitation of His Name with love and devotion incessantly.


Engkau adalah yang paling beruntung dengan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini (global tahunan) Akhanda Bhajan. Jangan kehilangan kesempatan yang luar biasa ini dengan kasih mengidungkan nama Tuhan. Meera meminum secangkir racun dengan nama Tuhan di lidahnya dan merubah racun itu menjadi nektar. Bhartrihari meratapi nasibnya, "Tuhan, kesenangan ini telah menghabisiku; kesenangan itu tidak memberikan kesempatan bagiku menjadi diriku. Tidak! aku akan membebaskan diriku dari cengkeraman mereka. Aku akan mencari perlindungan dalam kebahagiaan yang tidak terhancurkan, sumber dari suka cita, yaitu Tuhan. Aku tidak akan mencari objek luar (padartha); aku akan merindukan kebaikan yang tertinggi (Parartha)". Bhakti dan keyakinan memastikan hadiah pengetahuan dari jiwa yang merupakan hadiah yang terbaik untuk petualangan yang terbesar yaitu kelahiran, kehidupan dan kematian. Berusahalah untuk mengingat kenyataan ini ketika engkau menyanyi. Apapun yang engkau lakukan, siapapun dirimu, apapun pekerjaan yang engkau lakukan, engkau pastinya akan berhasil, asalkan engkau tidak melepaskan dalam mengidungkan nama Tuhan dengan kasih dan bhakti secara terus menerus. [Divine Discourse, Nov 13, 2007]

-BABA