Tuesday, January 16, 2018

Thought for the Day - 16th January 2018 (Tuesday)

Develop the quality of love. Do not hate anybody. Develop the faith that whatever happens is for your own good. Whenever you encounter any difficulty or suffering, you alone are responsible for it. Respect others. That alone will protect you. On the other hand, if you insult somebody that act will punish you. Pleasure and pain are the products of your own making. The merit or sin committed by you will follow you like a shadow. People today love to give sermons to others. But they are not following their own precepts. What value will such teachings have? All this is mere deception. Whatever teachings you may read or listen to, can never help you if you do not put them into practice. Help your fellow human beings at least in a small measure. That alone will help you. Do not blame others for the difficulties you face. Do not ever abuse others. Love all.


Kembangkan kualitas kasih sayang. Jangan membenci siapapun juga. Kembangkan keyakinan bahwa apapun yang terjadi adalah untuk kebaikanmu sendiri. Kapanpun engkau mengalami kesulitan atau penderitaan, engkau sendiri yang bertanggung jawab atas semuanya itu. Hormati yang lainnya. Hanya itu yang akan melindungimu. Sebaliknya, jika engkau menghina seseorang maka perbuatan itu akan menghukummu. Kesenangan dan rasa sakit adalah hasil dari perbuatanmu sendiri. Kebaikan atau dosa yang dilakukan olehmu akan mengikutimu seperti halnya bayangan. Orang-orang saat sekarang suka memberikan ceramah kepada yang lainnya. Namun mereka tidak mengikuti ceramah yang mereka sampaikan. Apa nilai yang dimiliki oleh ceramah seperti itu? Semuanya ini hanyalah penipuan saja. Apapun ajaran yang engkau baca atau dengarkan, tidak akan pernah dapat menolongmu jika engkau tidak menjalankannya. Bantulah sesamamu setidaknya dalam takaran yang kecil. Bantuan itu yang akan menolongmu. Jangan menyalahkan yang lain atas kesulitan yang engkau hadapi. Jangan pernah memperlakukan kasar yang lain. Kasihi semuanya. [Divine Discourse, Jan 1, 2004]

-BABA

Monday, January 15, 2018

Thought for the Day - 15th January 2018 (Monday)

Sankranti bestows immense joy on animals and birds, nature and everyone, right from a farmer to the king. Sankranti marks the beginning of the sacred time of Uttarayana (sun’s movement toward North). Names may vary, but this festival is celebrated joyously by one and all irrespective of state, religion and nationality. You too should welcome the arrival of the bounteous month of Pushya and celebrate Sankranti in its true spirit by manifesting your inner joy and sharing it with others. The word kranti means change. It signifies a change from misery to happiness, from restlessness to peace and from pain to pleasure. Happiness cannot be purchased in a market nor can it be acquired by worldly means. It should manifest from within. “Start the day with Love, fill the day with Love, end the day with Love - this is the way to God.” If you practice this, you will always remain happy and not be disturbed by sorrows and difficulties.


Sankranti menganugrahkan suka cita yang berlimpah pada binatang dan unggas, alam dan setiap orang, mulai dari petani sampai pada raja. Sankranti menandai permulaan waktu yang suci dari Uttarayana (pergerakan matahari ke arah Utara). Nama mungkin banyak, namun perayaan ini dirayakan dengan penuh suka cita oleh semuanya dan terlepas dari bangsa, agama dan negara. Engkau juga seharusnya menyambut kedatangan bulan suci Pushya dan merayakan Sankranti dalam semangat yang benar dengan mewujudkan kebahagiaan batinmu dan membaginya kepada yang lainnya. Kata “Kranti” berarti berubah. Ini menandakan sebuah perubahan dari kesedihan menuju kebahagiaan, dari kegelisahan menuju kedamaian dan dari rasa sakit menuju kesenangan. Kebahagiaan tidak dapat dibeli di pasar dan juga tidak bisa didapatkan dengan sarana duniawi. Hal ini harus terwujud dari dalam diri. “Mulai hari dengan kasih, isi hari dengan kasih dan akhiri hari dengan kasih – ini adalah jalan menuju Tuhan.” Jika engkau menjalankan hal ini, engkau akan selalu tetap bahagia dan tidak diganggu oleh penderitaan dan kesulitan. [Divine Discourse, Jan 14, 2005]

-BABA

Thought for the Day - 14th January 2018 (Sunday)

Presently people are not celebrating Sankranti in its true spirit. They confine it to mere performance of rituals, in the absence of purity and sanctity. In the past, of all the festivals, Sankranti was considered the most important. It is the day on which farmers bring home the harvested crop, feed the poor and rejoice. Vedic scholars get up during the early morning hours (Brahmamuhurta) and chant Vedic mantras, purifying the hearts of one and all. This festival also has a special significance for the householders. They invite their newly married son-in-law to their house, present them with new clothes and distribute sweets and rice puddings to all, thus the entire household abounds with joy. Cool winds, mellifluous bird songs and the sweet sugarcane crops herald the arrival of Sankranti. This festival bestows great joy and auspiciousness on farmers, householders, priests and children. It must drive away all disappointments and despair, and fill every heart with hope and enthusiasm.


Orang-orang pada saat sekarang tidak merayakan perayaan Sankranti dengan semangat yang benar. Mereka membatasinya hanya pada pertunjukkan ritual, tanpa adanya kesucian dan kemurnian. Pada masa lalu, dari semua perayaan, Sankranti adalah dianggap yang paling penting. Ini adalah hari dimana para petani membawa pulang hasil panennya, memberi makan yang miskin dan bersuka cita. Para cendekiawan Weda bangun di awal-awal pagi saat (Brahmamuhurta) dan melantunkan mantra-mantra Weda, menyucikan hati semuanya. Perayaan ini juga memiliki sebuah arti yang penting bagi rumah tangga. Mereka mengundang menantu laki-laki mereka yang baru menikah ke rumah mereka, memberikannya dengan pakaian baru dan membagikan manisan serta pudding beras kepada semuanya, jadi seluruh rumah tangga diliputi dengan suka cita. Angin yang dingin, kicauan burung yang merdu, panen tebu manis yang menghebohkan kedatangan perayaan Sankranti. Perayaan ini memberikan suka cita yang sangat besar dan kesucian pada petani, rumah tangga, pendeta dan anak-anak. Ini harus menghilangkan semua rasa kecewa dan putus asa dan mengisi setiap hati dengan harapan dan semangat. [Divine Discourse, Jan 12, 2004]

-BABA

Saturday, January 13, 2018

Thought for the Day - 13th January 2018 (Saturday)

Today people talk harsh words which hurt the feelings of others. If you see inappropriate sights, listen to bad talk, and indulge in unholy activities, you are investing time in activities which ultimately ruin you. When you misuse your senses, how can you expect to be happy and healthy? In order to enjoy perfect health, you must make sacred use of your senses. You may be a pauper or a millionaire, but God has given each one of you five senses and a heart (hridaya). Make proper use of them and sanctify your lives. That heart which is filled with compassion (daya) is hridaya. As you think, so you become (Yad bhavam tad bhavati). In order to sanctify your senses, you should utilise them in the service of others. If you cannot undertake any service activity, at least speak softly and sweetly. You cannot always oblige, but you can speak always obligingly.


Saat sekarang banyak orang berbicara dengan kata-kata yang kasar dan menyakiti perasaan yang lainnya. Jika engkau melihat pandangan yang tidak sesuai, mendengar perkataan yang buruk, dan terlibat dalam kegiatan yang tidak suci, maka engkau sedang menginvestasikan waktumu dalam kegiatan yang pada akhirnya akan menghancurkan hidupmu. Ketika engkau salah menggunakan indria, bagaimana engkau bisa mengharapkan kebahagiaan dan kesehatan? Dalam upaya untuk menikmati kesehatan yang sempurna, engkau harus menggunakan indriamu dengan suci. Engkau mungkin adalah seorang yang miskin atau milioner, namun Tuhan telah memberikan setiap orang darimu lima indria dan hati (hridaya). Gunakan semuanya itu dengan pantas dan sucikan hidupmu. Hati yang diliputi dengan welas asih (daya) adalah hridaya. Engkau menjadi sebagaimana yang engkau pikirkan (Yad bhavam tad bhavati). Untuk menyucikan indriamu maka engkau seharusnya menggunakannya untuk melayani yang lainnya. Jika engkau tidak bisa melakukan kegiatan pelayanan, setidaknya berbicara dengan sopan dan lembut. Engkau tidak bisa selalu membantu, namun engkau dapat selalu berbicara dengan sepenuh hati. [Divine Discourse, Jan 19, 2002]

-BABA

Friday, January 12, 2018

Thought for the Day - 12th January 2018 (Friday)

The foremost activity everyone should engage in is to serve fellow human beings. Instead, people are wasting precious time worrying about either the past or the future. Embodiments of love! This body is not meant to be engaged in mere eating and drinking, and thus wasting away our valuable time. We must realise the truth that God has given us this body for serving others. All great men have sanctified their lives only by serving humanity. Every limb in the human body has been granted by God for Karmopasana (worshipping God through service). Karmopasana is the only means by which the human life can be sanctified. We are undertaking various sadhanas (spiritual efforts). But, all these can give us only temporary satisfaction, not eternal joy. Our ancient sages have been able to achieve eternal joy through conscious effort. Therefore you must develop firm faith in the truth that nothing provides eternal joy, except service to humanity.


Kegiatan terpenting yang harus dilakukan setiap orang adalah melayani sesama manusia. Sebaliknya, manusia sedang menyia-nyiakan waktunya yang sangat berharga dengan mencemaskan tentang masa lalu dan masa depannya. Perwujudan kasih! Tubuh ini tidak diperuntukkan hanya untuk makan dan minum saja, dan menyia-nyiakan waktu yang begitu berharga. Kita harus menyadari kebenaran bahwa Tuhan memberikan kita tubuh ini adalah untuk melayani yang lainnya. Semua orang-orang yang hebat telah menyucikan hidup mereka hanya dengan melayani umat manusia. Setiap bagian dari anggota tubuh manusia telah diberkati oleh Tuhan untuk Karmopasana (memuja Tuhan melalui pelayanan). Karmopasana adalah satu-satunya sarana dimana hidup manusia dapat disucikan. Kita melakukan berbagai jenis sadhana (latihan spiritual). Namun, semuanya ini hanya dapat memberikan kita kepuasan sementara, bukan suka cita yang abadi. Para guru-guru suci terdahulu telah mampu mencapai suka cita yang abadi melalui usaha sadar. Maka dari itu engkau harus mengembangkan keyakinan yang mantap dalam kebenaran bahwa tidak ada apapun yang dapat memberikan suka cita abadi kecuali pelayanan kepada umat manusia. [Divine Discourse, Jan 1, 2004]

-BABA

Thursday, January 11, 2018

Thought for the Day - 11th January 2018 (Thursday)

Popular cricket and tennis matches today involve several lakhs of rupees. As sports become business with no room for human values, peace becomes a casualty. Sports and athletics must be practiced with a sense of spiritual oneness, transcending differences of nationality, language and religion to experience good health, peace and bliss. Since time immemorial, sports and athletics were intended mainly to promote health and experience joy. Today these objectives are being forgotten and replaced with commercial motives and self-interests. People cherish body attachment, resulting in one's outlook being very narrow and limited. Consequently, peace and happiness are lost. In every action in your daily living, you should be sportive and cooperative with unity and harmony. You must recognise that the indwelling Spirit (Atma) is one and the same in all beings and develop the spirit of oneness and equality. Then the Divinity present within you will be manifested and your human nature will become divine.


Pertandingan kriket dan tenis yang terkenal hari ini melibatkan beberapa puluhan juta rupiah. Seiring olahraga menjadi bisnis dengan tanpa adanya ruang bagi nilai-nilai kemanusiaan, kedamaian menjadi sebuah korban. Olahraga dan atletik harus dilatih dengan rasa kesatuan spiritual, melampaui perbedaan kewarganegaraan, bahasa dan agama untuk mengalami kesehatan, kedamaian, dan kebahagiaan yang baik. Sejak zaman dahulu kala, olahraga dan atletik ditujukan utamanya adalah untuk meningkatkan kesehatan dan mengalami suka cita. Saat sekarang tujuan ini telah dilupakan dan diganti dengan motif komersial dan kepentingan pribadi. Orang-orang menghargai keterikatan pada tubuh yang mana menghasilkan pandangan seseorang menjadi sangat sempit dan terbatas. Akibatnya adalah kedamaian dan kebahagiaan menjadi hilang. Dalam setiap perbuatan di dalam hidupmu sehari-hari, engkau harus tetap sportif dan bekerjasama dengan persatuan dan kerukunan. Engkau harus menyadari bahwa jiwa yang bersemayam (Atma) adalah satu dan sama dalam semua makhluk hidup dan kembangkan semangat persatuan dan persamaan. Kemudian ke-Tuhanan yang bersemayam di dalam dirimu akan terwujud dan sifat kemanusiaanmu yang alami akan menjadi sifat Tuhan. [Divine Discourse, Jan 14, 1990]

-BABA

Thought for the Day - 10th January 2018 (Wednesday)

When the Lord’s name is pronounced by your tongue, and the image is adored by the mind, these should not degenerate into mechanical routine; the meaning of the Name and the content of the form must at the same time inspire and illumine the consciousness. Escape the routine; involve yourselves in the attitude of worship deeply and sincerely. That is the way to earn peace and content, for which all human activity ought to be dedicated and directed. Planting the sapling of the cotton-tree, how can you hope for the mango? Do it now! That is the urgency of this problem of all problems, of winning peace and contentment. If you feel hungry now, you cannot have your meals tomorrow; nor do you eat your meals now fearing that you will be hungry tomorrow. Eat when you are hungry - not before or after. Aspire now, adore now, achieve now.


Ketika nama Tuhan dilantunkan oleh lidahmu, dan wujud dari Tuhan itu dimuliakan oleh pikiran, ini seharusnya tidak merosot menjadi sebuah kegiatan rutinitas tanpa perasaan; arti dari nama dan isi dari wujud pada saat bersamaan menginspirasi dan menerangi kesadaran. Keluarlah dari rutinitas; bawalah dirimu dalam sikap ibadah dengan dalam dan tulus. Itu adalah cara untuk mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan, dimana semua aktifitas manusia seharusnya didedikasikan dan diarahkan. Dengan menanam benih pohon katun, bagaimana engkau dapat mengharapkan mangga? Lakukan sekarang! Itu adalah urgensi dari masalah ini dari semua masalah, dalam mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan. Jika engkau merasa lapar sekarang, engkau tidak bisa makan esok hari; dan engkau juga tidak makan sekarang karena takut engkau akan lapar besok. Makanlah saat engkau lapar – bukan sebelum atau sesudah. Inginkan sekarang, rindukan sekarang, raih sekarang. (Divine Discourse, Mar 5, 1968)

-BABA