Sunday, September 25, 2016

Thought for the Day - 25th September 2016 (Sunday)

Without removing bondage to senses and our body, we cannot progress in life. Hence we must control our senses. To get effective results, we must first undertake to promote love, compassion and sacrifice. When we fill our heart with these three qualities, it will blossom into a beautiful garden with blooming flowers (Nandanavana). On the other hand, if we fill it with qualities like hatred, jealousy and anger then it will become a stinking pool. Everyone should introspect and decide whether we want our heart to be a Nandanavana or an unclean, smelly pool. All of you must make every attempt to fill your heart with sacred qualities. When we look at happy people, we must feel happy at their happiness. When we look at suffering and trouble, we must also share their sufferings. This attitude is called maitri-bhava. Make all attempts to promote compassion and goodness.

Tanpa menghilangkan perbudakan pada indra dan tubuh kita, kita tidak bisa maju dalam kehidupan. Oleh karena itu kita harus mengendalikan indra kita. Untuk bisa mendapatkan hasil yang efektif kita harus melakukan usaha untuk meningkatkan kasih sayang, welas asih, dan pengorbanan. Ketika hati kita diisi dengan ketiga kualitas ini maka hati ini akan mekar menjadi sebuah kebun yang indah dengan bunga yang mekar (Nandanavana). Sebaliknya, jika kita mengisinya dengan sifat seperti kebencian, cemburu, dan kemarahan maka hati ini akan menjadi kolam yang berbau busuk. Setiap orang seharusnya memeriksa dan memutuskan apakah kita ingin hati kita menjadi sebuah Nandanavana atau menjadi tidak bersih, kolam yang berbau busuk. Semua dari kita harus melakukan setiap usaha untuk mengisi hati kita dengan kualitas yang suci. Ketika kita melihat pada orang yang bahagia, kita harus bahagia atas  kebahagiaan mereka. Ketika kita melihat pada mereka yang menderita dan mengalami masalah, kita juga harus berbagi penderitaan mereka. Sikap ini disebut dengan maitri-bhava. Buatlah semua usaha untuk meningkatkan welas asih dan kebaikan. (Summer Roses on Blue Mountains 1976, Ch 12)

-BABA

Thought for the Day - 24th September 2016 (Saturday)

Pine for the Lord, like a young calf pines for its mother! Take a young calf into a place where there are a thousand cows and leave it loose. It will find its own mother - every calf will do it right! So too, you must know where you get all your sustenance and support from. Every being gets its succor and relief only from God, from whom you have originated. Take to the spiritual path, with a sense of urgency for, death is waiting to snatch life from you! Forget all petty desires. Do not revel and waste precious moments in empty pleasures. The reason you do so is only because you identify yourself with the body. The body is but a dwelling place, a vehicle, and encasement. See yourself as a resident in it, and almost immediately, your grief will disappear. You will become less egocentric and feel kinship with others, who like you are mere residents in their bodies.


Miliki kerinduan kepada Tuhan, sama halnya seekor anak sapi yang merindukan induknya! Bawalah seeekor anak sapi di sebuah tempat dimana ada ribuan sapi dan kemudian lepaskan. Anak sapi itu akan dapat menemukan kembali induknya – setiap anak sapi akan melakukannya dengan benar! Begitu juga, engkau harus mengetahui darimana engkau mendapatkan semua makanan dan dukungan. Setiap makhluk hidup mendapatkan bantuan dari Tuhan sendiri yang mana merupakan asalnya. Ambillah jalan spiritual dengan sangat mendesak karena kematian sedang menunggu untuk merenggut hidup darimu! Lupakan semua keinginan yang remeh. Jangan bersuka ria dan menyia-nyiakan saat yang sangat berharga dalam kesenangan yang hampa. Alasan engkau melakukannya hanya karena engkau mengidentifikasikan dirimu dengan badan. Badan hanyalah tempat tinggal saja, sebuah kendaraan dan pembungkus. Lihatlah dirimu sendiri sebagai penghuni dari tempat tinggal itu, dan hampir secara langsung maka kesedihanmu akan lenyap. Engkau akan menjadi berkurang egonya dan merasakan pertalian keluarga dengan yang lainnya yang sama seperti dirimu yang merupakan penghuni dari dalam tubuh mereka. (Divine Discourse, Feb 20, 1966)

-BABA

Friday, September 23, 2016

Thought for the Day - 23rd September 2016 (Friday)

Those who respect us and our ideals, and those who have a concern for our well being are considered as our relations or friends. Those who hate us, and those who go contrary to our expectations, and those who cause pain and loss to us are regarded as enemies. On one occasion Kabir had said that we should keep the company of those who abuse us. The reason for this is that although we may commit several sins, the people who point out our sins are going to remove our sins by their abuse. It is in this context that we say that if someone ridicules us, then this will result in the removal of our sin. In reality, those people who help us to get rid of our sins are our friends. Those people who promote sins in us are our enemies. Thus, it is those who abuse and ridicule us who are to be considered as our friends as they remove our imperfections. The ideas that come up in our own mind are the cause for considering something as good or bad.


Mereka yang menghormati kita dan ideal kita, mereka yang memiliki perhatian pada kesejahteraan kita maka kita menganggap mereka sebagai kerabat dan teman kita. Bagi mereka yang berseberangan dengan harapan kita dan mereka yang menyebabkan penderitaan dan kerugian maka kita menganggapnya sebagai musuh. Pada suatu keadaan Kabir telah mengatakan bahwa kita seharusnya berteman dengan mereka yang memperlakukan kita dengan kasar. Alasan dari hal ini bahwa walaupun kita melakukan beberapa dosa, orang-orang yang menunjukkan dosa kita yang akan menghilangkan dosa kita dengan perlakuan kasar mereka  kepada kita. Dalam konteks ini, kita berkata bahwa jika seseorang mengejek kita, maka hal ini akan menghilangkan dosa kita. Dalam kenyataannya, mereka yang menolong kita dalam melenyapkan dosa kita sebagai teman kita. Mereka yang meningkatkan dosa kita sebagai musuh kita. Jadi, mereka yang memperlakukan kita dengan kasar dan mengejek kita dianggap sebagai teman kita karena mereka melepaskan ketidaksempurnaan kita. Ide yang muncul dalam pikiran kita adalah penyebab dari menganggap sesuatu itu baik atau buruk. (Summer Roses on Blue Mountains 1976, Ch 12)

-BABA

Thursday, September 22, 2016

Thought for the Day - 22nd September 2016 (Thursday)

When you dive into the sea, you must seek pearls; when you go to the Kalpavriksha (the wish fulfilling tree) ask for the highest bliss. Do not crave for the smaller when the vastest is available for just a little more effort. There is a natural craving in all to become one with the vast, the Supreme and the Limitless, for in the cave of each heart, there resides the self-same Supreme. When you are immersed in the bliss (ananda) of the Lord, you are master of all the lesser anandas too. But this ananda must be directed along useful channels of activity. The value of water can be known only when there is scarcity not when all the taps are pouring plenty of it into the buckets. When tanks and wells go dry, men cry out for a cup of water. So too is with this ananda. Gather it, garner it, develop it and irrigate the parched heart with it, while you can.


Ketika engkau menyelam di dalam luatan, engkau harus mencari mutiara; ketika engkau pergi ke Kalpavriksha (pohon pemberi keinginan) mintalah kebahagiaan yang tertinggi. Jangan minta hal yang kecil ketika yang paling luas ada dengan usaha yang sedikit lagi. Ada sebuah permohonan yang alami dalam semuanya untuk menjadi satu dengan luas, yang tertinggi dan yang tidak terbatas, karena di dalam relung setiap hati disana bersemayam diri yang sejati yang tertinggi. Ketika engkau tenggelam dalam kedamaian (ananda) Tuhan maka engkau juga penguasa dari kebahagiaan yang lebih rendah. Namun kebahagiaan ini harus diarahkan pada bentuk kegiatan yang bermanfaat. Nilai dari air dapat diketahui hanya ketika ada kelangkaan air dan bukan ketika semua keran mengeluarkan banyak air dan memenuhi ember. Ketika tangki dan sumur mengering, manusia memohon dengan kuat untuk secangkir air. Begitu juga dengan kebahagiaan ini. Kumpulkan, simpan, kembangkan, dan sirami hati yang kering dengan kebahagiaan ini ketika engkau bisa. (Divine Discourse, Feb 20, 1966)

-BABA

Wednesday, September 21, 2016

Thought for the Day - 21st September 2016 (Wednesday)

In this very long journey called life, you should travel with fewer luggage (desires). Hence the quote, ‘Less luggage more comfort, makes travel a pleasure’. So from today, practice and adopt the noble dictum of ceiling on desires. Aspire to cut short your desires day by day. You are under the mistaken notion that happiness lies in the fulfillment of desires. But in fact, happiness begins to dawn when desires are totally eradicated. When you reduce your desires, you advance towards the state of renunciation. You have many desires. What do you get out of them? You are bound to face the consequences when you think of something as yours. When you claim a piece of land as yours, then you will have to reap the harvest. This instinct of ego and attachment will put you to suffering. You will be blissful the moment you give up ego and attachment.


Dalam perjalanan yang sangat panjang ini yang disebut dengan kehidupan, engkau harus melakukan perjalanan dengan sedikit barang bawaan (keinginan). Oleh karena itu kutipan, ‘sedikit barang lebih nyaman, membuat perjalanan menyenangkan’. Jadi mulai hari ini, jalankan dan ambil kutipan yang luhur dari pembatasan keinginan. Miliki tujuan untuk memotong keinginanmu hari demi hari. Engkau telah salah paham bahwa kebahagiaan ada ketika keinginan terpenuhi. Namun pada kenyataannya, kebahagiaan mulai muncul ketika keinginan sepenuhnya dihapuskan. Ketika engkau mengurangi keinginanmu, maka engkau maju dalam keadaan melepaskan keterikatan duniawi. Engkau memiliki banyak keinginan. Apa yang engkau dapatkan dari keinginan itu? Engkau dipastikan menghadapi akibat ketika engkau berpikir bahwa sesuatu adalah milikmu. Ketika engkau menyatakan sebidang tanah adalah milikmu, maka engkau akan mendapatkan panennya. Naluri ego dan keterikatan akan menempatkanmu pada penderitaaan. Engkau akan menjadi penuh kebahagiaan ketika engkau melepaskan ego dan keterikatan. [Divine Discourse, Mar 14, 1999]

-BABA

Tuesday, September 20, 2016

Thought for the Day - 20th September 2016 (Tuesday)

For someone who is blinded by ego and is unable to see anything good around them, is life going to give them any sweetness at all? For the one who never does any good, is life going to be an easy cake-walk? For the one who is leading a sinful life, is any pleasure going to come their way in future? Who is God and who is the devotee? Who is the teacher and who is the disciple? Who is the writer and who is the actor? If you choose not to apply your God-gifted intelligence to understand these answers, who is at fault? In your daily living, you are so busy establishing connection with so many people. Amongst them, you think some are your friends, you consider some others as your enemies, and spend time with those you ‘like’. Remember, for everyone, your own Self is your best friend or your worst enemy.

Bagi seseorang yang buta oleh ego dan tidak mampu melihat apapun di sekitarnya, apakah hidup akan memberikan mereka rasa manis? Bagi seseorang yang tidak pernah melakukan kebaikan, apakah hidup akan menjadi sebuah hal yang mudah? Bagi seseorang yang berjalan di jalan penuh dosa, apakah ada kebahagiaan yang akan hadir di jalan mereka di masa yang akan datang? Siapakah Tuhan dan siapakah bhakta? Siapakah guru dan siapakah murid? Siapakah penulis dan siapakah aktornya? Jika engkau memilih tidak menggunakan pemberian Tuhan berupa intelektual untuk memahami jawaban ini, maka ini salah siapa? Dalam hidupmu sehari-hari, engkau sibuk menjalin hubungan dengan banyak orang. Diantara mereka, engkau berpikir beberapa adalah temanmu, engkau menganggap beberapa sebagai musuhmu, dan menghabiskan waktu dengan yang engkau sukai. Ingatlah untuk setiap orang, dirimu yang sejati adalah teman baikmu atau musuhmu yang paling buruk. [Summer Roses on Blue Mountains 1976, Ch. 12]

-BABA

Monday, September 19, 2016

Thought for the Day - 19th September 2016 (Monday)

Today there is hatred and anger everywhere. Wherever you look, there is desire, enmity, and fear. How do you expect to be at peace? Light the lamp of love within. Then fear and illusion will disappear and you will have the vision of the Self. Otherwise you are bound to suffer. Many people make several attempts today to be happy and blissful. Where do you get bliss from? Is it in the material things, in individuals, or in books? No, not at all! Bliss is within one’s own Self. You have forgotten your true Self which is the source of bliss and are struggling hard for artificial happiness outside. Awaken to the reality that lies within your heart, which is the seat of all bliss. The principle of love originates from within your heart, not from the world. Develop selfless love more and more, and exercise a ceiling on your desires. You can be happy only when your desires are controlled.


Hari ini ada kebencian dan kemarahan dimana-mana. Dimanapun engkau melihat, disana ada keinginan, permusuhan, dan ketakutan. Bagaimana engkau mengharapkan menjadi damai? Nyalakan pelita kasih di dalam diri. Kemudian ketakutan akan menghilang dan engkau akan memiliki pandangan tentang sang Diri. Jika tidak engkau dipastikan akan menderita. Banyak orang melakukan beberapa usaha hari ini untuk bisa penuh kebahagiaan. Dimana kita bisa mendapatkan kebahagiaan? Apakah pada benda-benda material, dalam individu atau dalam buku? Tidak, tidak sama sekali! Kebahagiaan adalah di dalam diri kita masing-masing. Engkau telah melupakan jati dirimu yang sebenarnya yang merupakan sumber dari kebahagiaan dan engkau sedang berjuang keras untuk kebahagiaan yang sementara di luar. Bangkitlah pada kenyataan yang ada di dalam hatimu yang merupakan tempat duduk semua kebahagiaan. Prinsip kasih muncul dari dalam hatimu dan bukan dari dunia. Kembangkan kasih yang tanpa mementingkan diri sendiri semakin besar dan latihlah untuk pembatasan keinginan. Engkau dapat bahagia hanya ketika keinginanmu dikendalikan. [Divine Discourse, Mar 14, 1999]

-BABA