Tuesday, November 29, 2011

Thought for the Day - 29th November 2011 (Tuesday)

Attachment to the body produces grief of all kinds and sorts, and its immediate precursors - affection and hatred as well. These two are the results of the intellect considering some things and conditions as beneficial, and others as not; this is a delusion. Despite the knowledge of this fact, at times, you get attached to objects that you consider favourable and start hating the others. From the highest point of view, there is neither; the distinction is just meaningless. There is no two at all; then how can there be good and bad? To see two where there is only one is ignorance (Maya). The fundamental ignorance is the belief that you are the body, and this is the cause for all grief. Practise to live in divine consciousness instead of body consciousness, and be free from grief and live in joy.

Kemelekatan pada badan jasmani mengakibatkan berbagai macam penderitaan, dan kemelekatan ini yang merupakan penyebabnya. Kasih sayang dan kebencian, keduanya merupakan hasil dari kesadaran intelek beberapa hal dan kondisi yang menguntungkan, dan bukan yang lainnya, ini adalah khayalan. Saat ini, meskipun mengetahui tentang fakta ini, engkau mengambil kemelekatan pada objek-objek yang engkau anggap menguntungkan dan mulai membenci orang lain. Dari tingkat sudut pandang, tidak ada perbedaan, perbedaannya tidak ada artinya. Bagaimanapun juga tidak ada keduanya; lalu bagaimana bisa ada baik dan buruk? Engkau melihat keduanya disebabkan oleh ketidaktahuan (Maya). Ketidaktahuan mendasar adalah keyakinan bahwa engkau adalah badan jasmani, dan inilah penyebab semua penderitaan. Berlatihlah untuk hidup dalam kesadaran ilahi bukan kesadaran badan, dan engkau akan terbebas dari penderitaan dan hidup dalam sukacita.


Monday, November 28, 2011

Thought for the Day - 28th November 2011 (Monday)

Perform action without hankering after the results. Do not complain that you did not get public recognition for the donations you gave to some Trust. Fruits of action, whether good or bad, have to be wholly consumed by you and you alone. The best means of liberating yourself from the consequences of your actions, is to perform them only for the sake of action. You will then be burdened neither with sin nor merit. If you crave for profit, you should be prepared to accept loss as well. If you construct a well where four roads meet, expecting to acquire the merit for quenching the thirst of men and cattle, you cannot run away from the demerit you will be credited with, when someone falls into it and drowns. The secret to a happy life is to give up the desire for the fruit of action (Karma-phala-thyaga).

Lakukanlah tindakan tanpa mengharapkan hasil. Jangan mengeluh bahwa engkau tidak mendapatkan pengakuan publik atas sumbangan yang engkau berikan pada beberapa yayasan. Buah dari tindakan, apakah baik atau buruk, harus sepenuhnya digunakan hanya untukmu sendiri. Cara terbaik untuk membebaskan diri dari konsekuensi tindakanmu, adalah melakukan tindakan tanpa mengharapkan hasil. Selanjutnya engkau tidak akan dibebani dengan dosa. Jika engkau menginginkan untuk mendapatkan keuntungan, maka engkau harus siap untuk menerima kerugian. Jika engkau membangun sebuah sumur di perempatan jalan, berharap untuk bisa menghilangkan dahaga bagi manusia dan hewan, engkau tidak akan dapat melarikan diri dari cela ketika seseorang jatuh ke dalamnya dan tenggelam. Rahasia agar hidup bahagia adalah menyerahkan keinginan untuk buah tindakan (karma phala-thyaga).


Sunday, November 27, 2011

Thought for the Day - 27th November 2011 (Sunday)

As one advances in surrender from the stage, “Ï am Thine” (Thavaivaaham), to that of, “You are mine” (Mamaiva-thwam) and then to “You and I are One” (Thwame-vaaham), the devotee has progressively acquired the devotion that makes one inseparable from the Lord, called Avibhaktha-bhakthi. In this stage, the devotee can no more withhold oneself and hence offers all to the Lord - that completes one’s surrender. This state of “Thou art I”, is based on the realisation that everything is the Lord Himself, nothing less. So long as body consciousness persists, the devotee is the servant and Lord, the Master. And as long as an individual feels separateness from other individuals, there is body consciousness. When one progresses beyond the limits of the body, beyond that of ‘I’ and ‘Mine’, then there is no more distinction; the devotee and Bhagavan are one and the same. In the Ramayana, Hanumantha achieved this third stage through his devotion.

Sebagai salah satu kemajuan dalam pasrah total dari tahapan, "Aku kepunyaan-Mu" (Thavaivaaham), ke "Engkau adalah milikku" (Mamaiva-thwam) dan kemudian ke "Engkau dan aku adalah satu" (Thwame-vaaham), para bhakta telah memperoleh tahapan bhakti bahwa ia tidak terpisahkan dari Tuhan, disebut Avibhaktha-bhakthi. Pada tahap ini, para bhakta tidak dapat menyembunyikan dirinya sendiri dan karenanya mempersembahkan semuanya pada Tuhan – ini yang disebut dengan pasrah total. Pada tahapan ini "Engkau adalah milikku", didasarkan pada realisasi bahwa segala sesuatu adalah Tuhan sendiri, tidak kurang. Selama kesadaran badan terus berlangsung, para bhakta adalah pelayan dan Tuhan adalah Master. Dan selama seseorang merasa terpisah dari orang lain, ada kesadaran badan. Ketika seseorang melampaui kesadaran badan, melampaui 'aku' dan 'milikku', maka tidak ada lagi perbedaan, para bhakta dan Bhagavan adalah satu dan sama. Dalam Ramayana, Hanumantha mencapai tahapan ketiga melalui pengabdiannya.


Saturday, November 26, 2011

Thought for the Day - 26th November 2011 (Saturday)

Lord Krishna did not remove the delusion of Arjuna in a trice by His resolve; He could have doubtlessly done that. But He chose to make Arjuna go through the steps of hearing, reflection and concentration, so that he could experience the truth himself. Why blame the Sun for not illumining your room? Open the doors and windows, and the Sun, that has been waiting at the doorstep for just that moment, will flood the room with light. You must use your intelligence to deserve the grace of God. That is the purpose of human effort. To help you direct your intelligence to a higher purpose and to resist the path of sensual temptations, I insist that you seek and remain in good company, the association of the holy. There is greater chance of success in one’s fight against evil, when one is in the midst of spiritual heroes.

Sri Krishna tidak menghapus khayalan Arjuna dalam sekejap mata karena keputusan-Nya, Dia dengan penuh keyakinan melakukan hal tersebut. Tetapi Sri Krishna memilih untuk membuat Arjuna menjalani langkah-langkah tersebut dengan mendengar, merefleksi dan konsentrasi, sehingga Arjuna bisa mengalami kebenaran tersebut sendiri. Mengapa engkau menyalahkan matahari karena tidak menerangi kamarmu? Bukalah pintu dan jendela, dan matahari yang telah menunggu di depan pintu, akan memenuhi ruangan dengan cahaya. Engkau harus menggunakan kecerdasanmu sehingga engkau layak mendapatkan kasih karunia Tuhan. Itulah tujuan dari usaha manusia. Untuk membantumu mengarahkan kecerdasanmu ke tujuan yang lebih tinggi dan untuk melawan godaan sensual, Aku meminta agar engkau mencari dan berada dalam pergaulan yang baik, pergaulan yang suci. Disanalah kesempatan lebih besar untuk sukses dalam perang melawan kejahatan, ketika ia berada di tengah-tengah pahlawan spiritual.


Thought for the Day - 25th November 2011 (Friday)

There are three types of Surrender (Saranagathi). The first one ïs Thavai-vaaham, where the devotee affirms “I am Yours” , the second is Mamai-vathwam, where one asserts “You are mine” and the last is, Thwame-vaaham which means “You and I are one.” Each is a step that leads to the other and the last is the ultimate state. In the first stage, Thav-eva-aham, the Lord is completely free and the devotee is fully bound. Just like the cat and the kitten - the cat shifts the new born kitten about, as it wills; the kitten just mews and accepts whatever happens. This attitude is very gentle and is within easy reach of everyone. In the second, Mama-eva-thwam, the devotee binds the Lord in his heart and the Lord willingly remains bound. A devotee can tie up the Lord with Prema (love) that overwhelms and overpowers one’s own egoism. When one has this type of devotion (Bhakthi), the grace of the Lord fulfills every single need of the devotee.

Ada tiga jenis Surrender/ pasrah total (Saranagathi). Yang pertama adalah Thavai-vaaham, dimana bhakta menyatakan "Aku milik-Mu", yang kedua adalah Mamai-vathwam, dimana seseorang menyatakan "Engkau adalah milikku" dan yang terakhir adalah, Thwame-vaaham yang berarti "Engkau dan aku adalah satu. "Setiap langkah mengarah ke langkah berikutnya sampai tiba pada tahapan yang terakhir. Pada tahap pertama, Thav-eva-aham, Tuhan benar-benar bebas dan para bhakta sepenuhnya terikat. Dapat diibaratkan seperti induk kucing dan anak kucing – induk kucing memindahkan anak kucing yang baru lahir sesuai dengan kehendak induknya; anak kucing hanya mengeong dan menerima apapun yang terjadi. Sikap ini sangat lembut dan mudah dijangkau oleh semua orang. Pada yang kedua, Mama-eva-thwam, bhakta mengikat Tuhan dalam hatinya dan Tuhan rela tetap terikat. Para bhakta dapat mengikat Tuhan dengan Prema (cinta-kasih) yang menguasai dan mengalahkan egoismenya sendiri. Ketika seseorang memiliki tipe pengabdian (Bhakthi) ini, kasih karunia Tuhan memenuhi setiap kebutuhan para bhakta-Nya.