Saturday, April 29, 2017

Thought for the Day - 29th April 2017 (Saturday)

Love is Divine. Love all, impart your love even to those who lack love. Love is like a mariner’s compass. Wherever you may keep it, it points the way to God. In every action in daily life manifest your love. Divinity will emerge from that love. This is the easiest path to God-realisation. But why aren’t people taking to it? This is because they are obsessed with misconception relating to the means of experiencing God. They regard God as some remote entity attainable only by arduous spiritual practices. God is everywhere. There is no need to search for God. All that you see is a manifestation of the Divine. All the human beings you see are forms of the Divine. Correct your defective vision and you will experience God in all things. Speak lovingly, act lovingly, think with love and do every action with a love-filled heart.

Kasih adalah Tuhan. Kasihi semuanya, berikan kasihmu bahkan pada mereka yang kekurangan kasih. Kasih adalah seperti kompas para pelaut. Kemanapun engkau membawanya maka hanya menunjukkan jalan menuju Tuhan. Dalam setiap perbuatan dalam kehidupan sehari-hari wujudkanlah cinta kasihmu. Keillahian akan muncul dari kasih itu. Ini adalah jalan yang paling gampang untuk kesadaran Tuhan. Namun manusia tidak mengambil jalan ini? Hal ini dikarenakan mereka memiliki pandangan yang salah tentang mengalami Tuhan. Mereka menganggap Tuhan sebagai wujud yang sangat jauh dan hanya bisa dicapai melalui latihan spiritual yang sulit. Tuhan ada dimana-mana. Tidak perlu mencari Tuhan. Semua yang engkau lihat adalah manifestasi dari Tuhan. Semua manusia yang engkau lihat adalah wujud dari illahi. Perbaiki pandanganmu yang tidak sempurna dan engkau akan mengalami Tuhan dalam segala sesuatu. Berbicaralah dengan kasih, berbuatlah dengan kasih, berpikirlah dengan kasih dan lakukan setiap perbuatan dengan hati diliputi dengan kasih. (Divine Discourse, Jul 5, 1996)


Thought for the Day - 28th April 2017 (Friday)

You might say that the karma of the previous birth has to be consumed in this birth and that no amount of grace can save man from that. Evidently, someone has taught you to believe so. But I assure you, you need not suffer from karma like that. When a severe pain torments you, the doctor gives you a morphine injection and you do not feel the pain, though it is there in the body. Grace is like the morphine; the pain is not felt, though you go through it! Grace takes away the malignity of the karma which you have to undergo. There are also dated drugs, which become ineffective after a certain time. Well, so too, with Grace, the effect of karma is rendered null, even though you go through the experience. Hence, it is wrong to say the ‘Lalaata likhitam’ (fate written on the forehead) cannot be rendered ineffective. Grace can surpass anything; nothing can stand in its way. Remember, it is the grace of the ‘All-mighty’!

Engkau mungkin berkata bahwa karma dari kelahiran terdahulu harus dijalani pada kelahiran saat sekarang dan tidak ada karunia yang dapat menyelamatkan manusia dari hal itu. Dengan jelas, seseorang telah mengajarkanmu untuk mempercayainya. Namun Aku pastikan kepadamu, engkau tidak perlu menderita karena karma seperti itu. Ketika rasa sakit yang begitu mendalam menyiksamu, dokter memberikanmu suntikan morfin dan engkau tidak merasakan rasa sakit itu, walaupun rasa sakit itu masih ada di dalam tubuh. Karunia dapat diibaratkan seperti halnya morfine; dimana rasa sakit itu menjadi tidak terasa, walaupun engkau mengalaminya! Karunia menghilangkan penderitaan dari karma yang engkau harus alami. Ada juga tanggal kadaluwarsa pada sebuah obat, yang mana obat menjadi tidak berkhasiat lagi pada waktu tertentu. Begitu juga dengan karunia, pengaruh dari karma dibuat menjadi tidak ada, walaupun engkau melalui pengalaman tersebut. Oleh karena itu, adalah salah dengan mengatakan ‘Lalaata likhitam’ (takdir ditulis diatas dahi) tidak dapat dibuat menjadi tidak berguna. Karunia dapat melewati apapun juga; tidak ada apapun yang dapat mengahalanginya. Ingatlah, ini adalah karunia dari Tuhan! (Divine Discourse, Nov 23, 1964)


Thursday, April 27, 2017

Thought for the Day - 27th April 2017 (Thursday)

You have listened to hours of spiritual discourses and you spend days and nights in spiritual practices. Have you taken any concrete efforts to sublimate your life? Endeavour to lead an ideal life. If there is no change for the better in your daily conduct, remember that all your so-called spiritual practices will be futile! People claim to spend hours in prayer and meditation. But of what use is it if there is no concentration of mind? It is better if you engage yourself in doing your regular duties or render social service or participate in bhajans. By these means try to bring the mind under control. Then your work will be transformed into worship. Dedicate all your thoughts and actions to God. You can purify your actions when you do everything with the only goal to please God (Sarva Karma Bhagavad preethyartham). If you want to experience God, you have to do it through your duties and actions. This is not so easy!

Engkau telah mendengar berjam-jam wejangan spiritual dan engkau menghabiskan siang dan malam dalam latihan spiritual. Sudahkah engkau melakukan usaha yang nyata dalam menghaluskan hidupmu? Berupaya untuk menjalankan sebuah hidup yang ideal. Jika tidak ada perubahan yang lebih baik pada tindakanmu sehari-hari, ingatlah bahwa semua yang engkau sebut dengan latihan spiritual akan menjadi sia-sia belaka! Orang-orang menyatakan telah menghabiskan berjam-jam dalam doa dan meditasi. Namun apakah gunanya jika tidak ada konsentrasi dalam pikiran? Adalah lebih baik jika engkau melibatkan dirimu dalam menjalankan kewajiban harian atau melakukan pelayanan sosial atau terlibat dalam bhajan. Dengan sarana ini cobalah untuk mengendalikan pikiranmu. Kemudian pekerjaanmu akan dirubah menjadi ibadah. Dedikasikan semua pikiran dan perbuatanmu kepada Tuhan. Engkau dapat menyucikan perbuatanmu ketika engkau melakukan segalanya hanya dengan tujuan untuk menyenangkan Tuhan (Sarva Karma Bhagavad preethyartham). Jika engkau ingin mengalami Tuhan, engkau harus melakukannya melalui kewajiban dan perbuatanmu. Hal ini tidaklah gampang! (Divine Discourse, Jan 01, 1991)


Thought for the Day - 26th April 2017 (Wednesday)

Without the control of your senses, your spiritual practices (Sadhana) will be ineffective; it is like keeping water in a leaky pot! When the tongue craves for some delicacy, assert that you will not cater to its whims. If you persist in giving yourself simple food that is not savoury or hot, but amply sustaining, the tongue may squirm for a few days, but it will soon welcome it. That is the way to subdue it and overcome the evil consequences of it being your master. Since the tongue is equally insistent on scandal and lascivious talk, you must curb that tendency also. Talk little, talk sweetly, and talk only when there is a pressing need. Also, talk only to those to whom you must, and do not shout or raise the voice in anger or excitement. Such control will improve health and mental peace. It will lead to better public relations and less involvement in contacts and conflicts with others.

Tanpa mengendalikan indriamu, latihan spiritualmu (Sadhana) akan menjadi tidak efektif; ini adalah seperti menyimpan air di dalam wadah yang bocor! Ketika lidah sangat menginginkan makanan yang lezat, tegaskan bahwa engkau tidak akan memenuhi keinginannya. Jika engkau bertahan memberikan dirimu dengan makanan yang sederhana yang tidak gurih atau pedas, namun tetap bertahan, lidah mungkin menggeliat selama beberapa hari, namun lidah segera akan menerimanya. Itulah caranya untuk menundukkannya dan mengatasi kecenderungan jahat darinya saat menjadi majikanmu. Karena lidah secara terus menerus terlibat dalam pembicaraan tentang skandal dan omong kosong, maka engkau harus mengekang kecenderungan ini juga. Berbicaralah sedikit dan hanya berbicara ketika sangat diperlukan. Berbicaralah pada mereka yang harus engkau ajak bicara, dan jangan membentak atau menaikkan suaramu dalam amarah dan suka cita. Pengendalian seperti itu akan meningkatkan kesehatan dan kedamaian batin. Ini akan menuntun pada hubungan masyarakat yang lebih baik dan mengurangi terlibat dalam kontak dan konflik dengan yang lain. (Divine Discourse, Nov 23, 1968)


Thought for the Day - 25th April (Tuesday)

Embodiments of Divine Love! Wherever you may be, never give room for any differences. Everyone must get rid of all selfishness, self-interest and self-centeredness. Mutual regard (Mamatha), equipoise (Samatha) and forbearance (kshamatha) are basic qualities necessary for every human being. Hence develop love, forbearance and compassion. Realise that love is present in everyone. Get rid of all differences and adhere to your faith and traditions. Learn to live in love and harmony with all the members of your society. When differences of all kinds are given up, love will grow in you and you can have a direct vision of God. Without love, verbal prayers are of no avail. Divine love is the only unifier, motivator and harbinger of joy to everyone. God is love and God can be realised only through love. All saints and religions have emphasized the greatness of love, truth, sacrifice and unity. Therefore cultivate love.

Perwujudan Kasih illahi! Dimanapun engkau berada, jangan pernah memberikan ruang untuk perbedaan apapun juga. Setiap orang harus melepaskan sifat mementingkan diri sendiri, kepentingan diri dan terpusat pada diri saja. Saling menghormati (Mamatha), keseimbangan (Samatha) dan ketabahan (kshamatha) adalah sifat dasar yang diperlukan bagi setiap manusia. Oleh karena itu kembangkan cinta kasih, ketabahan dan welas asih. Sadarilah bahwa cinta kasih adalah ada di dalam setiap orang. Singkirkan semua perbedaan dan junjung tinggi keyakinan dan tradisimu. Belajarlah untuk hidup dalam kasih dan harmonis dengan semua anggota dari masyarakatmu. Ketika perbedaan dilepaskan maka kasih akan tumbuh di dalam dirimu dan engkau bisa mendapatkan pandangan langsung Tuhan. Tanpa kasih. Berdoa secara verbal adalah sia-sia. Kasih Tuhan adalah satu-satunya penyatuan, yang memberikan motivasi dan pertanda suka cita bagi setiap orang. Tuhan adalah kasih dan Tuhan dapat disadari hanya melalui kasih. Semua orang suci dan agama telah menekankan keutamaan dari kasih, kebenaran, pengorbanan dan kesatuan. Maka dari itu kembangkanlah kasih. (Divine Discourse, Dec 24, 1980)


Thought for the Day - 24th April 2017 (Monday)

Since I moved freely among people, talking and singing with them, even intellectuals were unable to grasp My truth, My power, My glory, or My real task as Avatar. I can solve any problem however knotty. I am beyond the reach of the most intensive enquiry and the most meticulous measurement. Only those who have recognised My love and experienced it can assert that they have glimpsed My reality. Do not attempt to know Me through the external eyes. When you go to a temple and stand before the image of God, you pray with closed eyes, don’t you? Why? Because you feel that the inner eye of wisdom alone can reveal Him to you. Therefore, do not crave from Me trivial material objects; but, crave for Me from within, and you will be rewarded. The path of Love is the royal road that leads mankind to Me. My grace is ever available to devotees who have steady love and faith.

Karena Aku bergerak dengan bebas diantara orang-orang, berbicara dan bernyanyi dengan mereka, bahkan para intelektual tidak mampu mendapatkan kebenaran-Ku, kekuatan-Ku, kemuliaan-Ku atau tugas-Ku sebagai Avatara.  Aku dapat menyelesaikan masalah apapun yang engkau berikan betapapun rumitnya. Aku melampaui jangkauan penyelidikan yang paling intensif dan pengukuran yang paling teliti. Hanya mereka yang telah menyadari kasih-Ku dan mengalaminya maka dapat menegaskan bahwa mereka telah melihat sekilas kenyataan-Ku. Jangan mencoba untuk mengetahui-Ku melalui mata fisik. Ketika engkau pergi ke tempat suci dan berdiri di depan wujud Tuhan, engkau berdoa dengan memejamkan mata, bukan? Mengapa? karena engkau merasa bahwa hanya mata batin dari kebijaksanaan dapat mengungkapkan Beliau kepadamu. Maka dari itu, jangan mendambakan dari-Ku benda-benda material yang bersifat sepele; namun, mendambakan Aku dari dalam diri dan engkau akan mendapatkannya. Jalan kasih adalah jalan besar yang menuntun manusia kepada-Ku. Rahmat-Ku adalah selalu ada bagi bhakta yang memiliki kasih dan keyakinan yang mantap. (Divine Discourse, June 19, 1974)


Tuesday, April 25, 2017

Thought for the Day - 23rd April 2017 (Sunday)

Consider the meaning of the name, Sai Baba. Sa means 'Divine;' ayi means 'mother' and Baba means ‘father’. Your physical parents exhibit love with a dose of selfishness; but Sai, your Divine Parent, showers affection or reprimands only to lead you towards victory in the struggle for self-realisation. You cannot realise God in the outer objective world; He is in the very heart of every being. Gemstones have to be sought deep underground; they do not float in mid-air. Seek God in the depths of yourself, not in the tantalising, kaleidoscopic world. This human birth is granted to you for this high purpose; but, you are now misusing it, like the person who cooked his daily food in the gem-studded gold vase that came into his hands as an heirloom. I desire that you may be inspired to observe the discipline laid down by Me and progress towards the Goal of self-realisation, the realisation of the Sai who shines in your hearts.

Perhatikan makna dari nama, Sai Baba. Sa berarti 'illahi;' ayi berarti 'ibu' dan Baba berarti 'ayah'. Orang tua fisikmu memberikan kasih dengan dosis mementingkan diri sendiri; namun Sai, orang tua illahimu, mencurahkan kasih atau teguran hanya untuk menuntunmu menuju kemenangan dalam perjuangan untuk mencapai kesadaran diri. Engkau tidak bisa menyadari Tuhan dalam dunia objektif di luar; Tuhan bersemayam di kedalaman hati setiap makhluk. Batu permata harus dicari di kedalaman bawah tanah; batu permata tidak mengambang di udara. Carilah Tuhan di dalam dirimu sendiri, bukan di dunia yang menggoda. Kelahiran sebagai manusia diberikan kepadamu untuk tujuan yang tinggi; namun engkau menyalahgunakannya, seperti seseorang yang memasak untuk setiap harinya dalam bejana yang dilapisi emas batu permata yang ada di tangannya sebagai pusaka. Aku menginginkan engkau mungkin mendapatkan inspirasi untuk mengikuti disiplin yang Aku berikan dan maju menuju tujuan kesadaran diri, kesadaran akan Sai yang bersinar di dalam hatimu. (Divine Discourse, June 19, 1974)


Thought for the Day - 22nd April 2017 (Saturday)

Illusion haunts people as desire (trishna or kama). Prompted by desire, you run after sweet sounds that satisfy the ear, and smooth and soft things that yield pleasure to your skin! You pursue the forms of beauty that appeal to the eye to satisfy the fire in you, crave for food and drink that are tasty to appease the water element in you, and enjoy the perfume and pleasant smells to please the inner urge of the Earth element! The malignant designs of desire rob you of lasting happiness. The insufferable heat of the Sun is controlled and reduced by your body to maintain a congenial temperature of 98.4 degrees. So also, you must keep the destructive forces of your elemental passions born out of the clamour of sound, touch, form, taste, and smell (shabda, sparsha, rupa, rasa, gandha) rigorously in check and bring it down to tolerable levels. Then you can lead a healthy and happy life.

Khayalan menghantui manusia sebagai keinginan (trishna atau kama). Dibisikkan oleh keinginan, engkau mengejar suara yang merdu yang memuaskan telingamu, dan hal yang lembut dan ringan yang memberikan kesenangan bagi kulitmu! Engkau mengejar bentuk dari keindahan yang menarik matamu dan memuaskan bara yang ada di dalam dirimu, mendambakan makanan dan minuman yang enak untuk meredakan unsur air di dalam dirimu, dan menikmati aroma parfum dan menyenangkan penciuman untuk menyenangkan keinginan dalam diri dari unsur tanah! Design keinginan yang membahayakan membuatmu kehilangan kebahagiaan yang abadi. Panas mentari yang tidak tertahankan dikendalikan dan dikurangi oleh tubuhmu untuk mempertahankan suhu yang menyenangkan yaitu 98.4 derajat. Begitu juga, engkau harus menahan kekuatan yang merusak dari hasrat unsur yang muncul dari deru suara, sentuhan, bentuk, rasa dan bau (shabda, sparsha, rupa, rasa, gandha) dengan ketat dan menurunkannya sampai pada tingkat yang ditoleransi. Kemudian engkau dapat menjalani hidup yang sehat dan menyenangkan. (Divine Discourse, Feb 19, 1964)


Thought for the Day - 21st April 2017 (Friday)

Discipline must be strictly observed. From the moment you wake up, you have to carry out your morning ablutions, meditate on God and then do your prescribed duties in an orderly manner without deviating from the regular routine. Variations in the routine from day to day are undesirable. The day's activities should be regulated by the same schedule. The ambience in the morning is calm and serene. In this setting, immediately after finishing the morning chores, one should devote, at least a few minutes, to loving meditation on God. Discrimination comes next. The world is a mixture of good and bad, right and wrong, victory and defeat. In a world replete with opposites, you must constantly make the choice between what is right and proper, and what is wrong and undesirable. You should not be guided by your mind, but listen and follow the directions of your intellect (Buddhi). As long as you follow your mind, you will not be able to attain Divinity.

Disiplin harus benar-benar dijalankan. Dari saat engkau bangun pagi engkau harus pembersihan diri, meditasi pada Tuhan dan kemudian melakukan tugas yang ditentukan dengan tertib tanpa menyimpang dari rutinitas reguler. Variasi dalam rutinitas dari hari ke hari adalah tidak diinginkan. Aktivitas harian seharusnya diatur dengan jadwal yang sama. Suasana di pagi hari adalah tenang dan tentram. Dalam pengaturan ini, segera setelah selesai tugas pagi, seseorang seharusnya mempersembahkan waktu beberapa menit untuk merenungkan Tuhan yang dikasihi. Setelah itu muncul kemampuan membedakan atau diskriminasi. Dunia adalah campuran dari kebaikan dan keburukan, benar dan salah, kemenangan dan kekalahan. Dalam dunia yang penuh dengan pertentangan, engkau harus secara terus menerus membuat pilihan diantara apa yang benar dan layak, dan apa yang salah dan tidak diinginkan. Engkau seharusnya tidak dituntun oleh pikiranmu, namun dengarkan dan ikuti arahan dari kecerdasanmu  atau Buddhi. Selama engkau mengikuti pikiranmu maka engkau tidak akan mampu mencapai keillahian. (Divine Discourse, Jan 16 1988)


Thought for the Day - 20th April 2017 (Thursday)

Ignorance can be cured only by knowledge; darkness can be destroyed only by light. No amount of argument, threat or persuasion can compel darkness to move away. A flash of light is enough to destroy years of darkness! The light is already there in you. But since it is heavily overladen by repressing factors, it cannot reveal itself. Prepare yourself for that flash of illumination! Everyone must achieve it, whether one is striving for it now or not. It is the inevitable end to everyone’s struggles, the goal to which every being, knowingly or unknowingly is proceeding. Do not be afraid of reaching the goal of liberation (Moksha). Do not conceive that stage as a calamity. Liberation indeed is the end of all calamities. It is death to all grief - grief that you will be born again. It is the birth of joy, a joy that knows no decline!

Kebodohan hanya dapat dihilangkan dengan pengetahuan; kegelapan dapat dihancurkan hanya dengan cahaya. Tidak ada banyak argumen, ancaman atau bujukan yang dapat memaksa kegelapan untuk pergi. Kilasan cahaya adalah cukup untuk menghancurkan bertahun-tahun kegelapan! Cahaya sudah ada di dalam dirimu. Namun karena penuh dibebani dengan ketebalan faktor-faktor yang menindas, maka cahaya itu tidak bisa mengungkapkan dirinya. Persiapkan dirimu untuk cahaya penerangan itu! Setiap orang harus mencapainya, apakah seseorang sedang berusaha mendapatkannya atau tidak. Ini adalah akhir yang tidak terelakkan dalam perjuangan setiap orang, tujuan dari setiap makhluk, disadari atau tidak disadari terus berjalan. Jangan takut untuk mencapai tujuan kebebasan (Moksha). Jangan membayangkan tahapan itu sebagai sebuah bencana. Kebebasan adalah sejatinya akhir dari semua bencana. Ini adalah kematian bagi semua kesedihan – duka cita yang membuatmu lahir berulang kali. Ini adalah kelahiran dari suka cita, sebuah suka cita yang tidak mengenal kemunduran! (Divine Discourse, 19 Feb 1964)


Wednesday, April 19, 2017

Thought for the Day - 19th April 2017 (Wednesday)

Devotion (Bhakti) is the highest form of Love. “Service to God is Devotion” say the Scriptures. Devotion means constant contemplation of God. The term Bhakti is derived from the root Bhaj meaning to worship. Devotion means loving contemplation of God, repetition of His Name, worshipping Him and doing penance for Him. Service to the Lord is the highest expression of devotion. There is nothing that is not attainable through loving service to the Divine. Devotion does not mean merely doing bhajans or performing puja. These forms of devotion at present are based on some kind of self-interest and self-seeking. True devotion should be an expression of love from within. Devotion is not something to be proclaimed or demonstrated. True devotion must be free from selfishness of all kinds. Exhibitionistic devotion will definitely result in disaster.

Bhakti adalah bentuk yang tertinggi dari cinta kasih. “Pelayanan kepada Tuhan adalah bhakti” dijelaskan dalam naskah suci. Bhakti berarti mengingat atau memikirkan Tuhan secara terus menerus. Kata Bhakti berasal dari akar kata Bhaj yang berarti memuja. Bhakti berarti memikirkan Tuhan dengan kasih, mengulang-ulang nama-Nya, memuja-Nya dan melakukan tapabrata untuk-Nya. Pelayanan kepada Tuhan adalah bentuk ungkapan yang tertinggi dari bhakti. Tidak ada yang tidak bisa dicapai melalui pelayanan dengan kasih kepada Tuhan. Bhakti tidak hanya berarti melakukan bhajan atau melaksanakan puja. Bentuk bhakti seperti ini pada saat sekarang adalah berdasarkan pada berbagai bentuk kepentingan diri. Bhakti yang sejati seharusnya menjadi ungkapan kasih dari dalam diri. Bhakti bukanlah sesuatu yang harus disampaikan atau ditunjukkan. Bhakti yang sejati harus bebas dari berbagai bentuk sifat mementingkan diri sendiri. Bhakti yang bersifat pamer pastinya akan berakhir pada bencana. (Divine Discourse, Jan 16, 1988)


Thought for the Day - 18th April 2017 (Tuesday)

You are the formless (Nirakara) infinite, taking the form of a finite human (Naraakara). You are the Absolute, pretending to be the Relative; you are the Self, pretending to be the body! The Universal Self (Atma) is the basis for all the beings. The sky was there before houses were built under it; the sky penetrated and pervaded them! The houses crumbled and became heaps and mounds over time, but the sky was not affected at all! So too, the Atma pervades the body and subsists even when the body is reduced to dust. The same inexplicable and invisible electric current when it enters a bulb, a fan, a stove, a cooler or a sprayer, activates each one of them or even all of them together! So too, the Divine Principle activates all beings (Ishwara Sarva Bhutanam). That is the inner core, the Divine Spark, more minute than the minutest, more magnificent than the most magnificent!

Engkau adalah yang tanpa wujud (Nirakara) serta tidak terbatas, mengambil wujud terbatas sebagai manusia (Naraakara). Engkau adalah yang bersifat absolut, berpura-pura menjadi bersifat relatif; engkau adalah diri yang sejati, berpura-pura sebagai badan jasmani! Diri sejati yang bersifat universal (Atma) adalah dasar dari semua makhluk. Langit sudah ada disana sebelum rumah dibangun dibawahnya; langit menembus dan meliputi rumah-rumah itu! Rumah-rumah itu hancur dan menjadi tumpukan serta gundukan dari waktu ke waktu, namun langit tidak terpengaruh sama sekali! Begitu juga, Atma meresapi badan dan hidup walaupun ketika badan jasmani hancur menjadi debu. Sama halnya dengan arus listrik yang tidak bisa dijelaskan dan tidak terlihat ketika memasuki bola lampu, kipas angin, kompor, penyejuk ruangan, atau alat semprot, menghidupkan semuanya itu atau bahkan semuanya secara bersamaan! Begitu juga, prinsip keillahian menghidupkan semua makhluk (Ishwara Sarva Bhutanam). Itu adalah inti yang ada di dalam, pancaran illahi, lebih kecil dari yang terkecil dan lebih besar dari yang terbesar! (Divine Discourse, Feb 19, 1964)


Thought for the Day - 17th April 2017 (Monday)

Dedication means offering. You all offer flowers to the Lord. Flowers symbolise your heart. When you offer the flower of your heart to God, it should be free from the pests of desire, hatred, envy, greed, etc. So, ask yourself, is the flower of your heart pure or infested? Is it free from Self-conceit (Ahamkara) and envy (Asuya)? Self-conceit is the biggest barrier between you and God, and is based on eight different factors: Physical prowess, birth, scholarship, beauty, power and penance. As long as a trace of this self-conceit is predominant, it is impossible to recognise the Divine or realize your innate reality. Pride of wealth very quickly brings about your downfall. So carefully demolish these completely. Only when you sacrifice the egoistic pride at the altar of the Divine, can you discover your true nature. This dedication of your pure and loving heart to God is the first step in the spiritual journey.

Dedikasi berarti persembahan. Engkau semua mempersembahkan bunga kepada Tuhan. Bunga adalah simbul dari hatimu. Ketika engkau mempersembahkan bunga hatimu kepada Tuhan, maka hatimu harus bebas dari hama dalam bentuk keinginan, kebencian, iri hati, ketamakan, dsb. Jadi, tanyakan dirimu sendiri, apakah bunga dari hatimu suci atau penuh parasit? Apakah hatimu bebas dari kesombongan diri (Ahamkara) dan iri hati (Asuya)? Kesombongan diri adalah halangan yang paling besar diantara engkau dan Tuhan, dan didasarkan pada delapan faktor yang berbeda: kecakapan fisik, kelahiran, kesarjanaan, kecantikan, kekuatan dan penebusan dosa. Selama jejak dari kesombongan diri ini masih dominan maka adalah tidak mungkin untuk menyadari keillahian atau menyadari kenyataan sejatimu. Kesombongan akan kekayaan akan sangat cepat membawamu pada kejatuhan. Jadi berhati-hatilah dalam menghancurkan semua ini sepenuhnya. Hanya ketika engkau mengorbankan kesombongan ego di altar Tuhan maka engkau dapat menemukan sifat sejatimu. Dedikasi ini dari hatimu yang suci dan penuh kasih kepada Tuhan adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. (Divine Discourse, Jan 16, 1988)


Monday, April 17, 2017

Thought for the Day - 16th April 2017 (Sunday)

You have immense capacities latent in you, waiting to be tapped and used. You have many talents which have to be brought to light. At times, you all feel the urge to love all beings, to share your joy and grief, to know more and satisfy your intellect, to peep behind the awe and wonder that Nature arouses in you. You are all adept at gathering information about what goes on in all corners of the world. Let Me ask you: Are you aware of what happens in the corner of your own mind? Do you know the answer to the simple question, “Who am I?” Why have you not felt it essential to answer this important question? Without knowing this answer, how can you go about rashly judging, labelling and even defaming others? Earnestly ask this of yourself and seek out the answers to the enigma, from within yourself. Our scriptures guide you on the process by which you can discover it yourself!

Engkau memiliki kapasitas yang besar sekali di dalam dirimu, sedang menunggu untuk di buka dan digunakan. Engkau memiliki banyak talenta yang harus dibawa pada cahaya. Kadang-kadang, engkau semua merasakan ada dorongan untuk menyayangi semua makhluk, membagi suka dan duka citamu, untuk mengetahui lebih banyak lagi dan memuaskan kecerdasanmu, mengintip dengan perasaan terpesona dan kagum dimana kualitas itu berkembang di dalam dirimu. Engkau semua ahli dalam mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Izinkan Aku menanyakan kepadamu: Apakah engkau sadar dengan apa yang terjadi di dalam pikiranmu? Apakah engkau mengetahui jawaban dari pertanyaan sederhana, “Siapakah aku?” Mengapa engkau tidak merasakan adalah mendasar untuk menjawab pertanyaan yang penting ini? Tanpa mengetahui jawaban ini, lantas bagaimana engkau dapat dengan gegabah menilai, memberikan label dan bahkan memfitnah yang lain? Dengan sungguh-sungguh tanyakan hal ini pada dirimu sendiri dan cari jawabannya atas teka-teki ini dari dalam dirimu sendiri. Naskah suci kita menuntunmu dalam proses dimana engkau dapat menemukannya sendiri! (Divine Discourse, Feb 19, 1964)


Thought for the Day - 15th April 2017 (Saturday)

On New Year's day, people get up early, have a sacred bath and put on new clothes. They are interested only in external cleanliness and are not concerned about purifying their hearts which are tainted with evil thoughts and feelings. It is rather easy to have external cleanliness and to wear new clothes but that is not the purpose of celebrating festivals. True celebration of New Year lies in giving up evil qualities and purifying one’s heart. Human heart in its pristine state is highly sacred and human birth is difficult to attain. Having attained such a precious life, people are not making any effort to live like a true human being. Today people have become a bundle of desires. All time and effort is spent in fulfilling desires. One should realise that only annihilation of desires will lead to ultimate bliss. True happiness lies in the state of desirelessness.

Pada perayaan tahun baru, orang-orang bangun pagi lebih awal, mandi untuk penyucian dan memakai pakaian baru. Mereka hanya tertarik pada kebersihan di luar diri saja dan tidak menaruh perhatian tentang kesucian hati mereka yang mana ternoda oleh pikiran dan perasaan yang jahat. Adalah lebih mudah untuk memiliki kebersihan di luar diri dan memakai baju baru namun itu bukan tujuan dari perayaan. Perayaan yang sebenarnya dari tahun baru terdapat pada melepaskan sifat yang jahat dan menyucikan hati. Hati manusia dalam keadaan murni dan sangat suci sekali serta kelahiran sebagai manusia adalah sulit untuk didapatkan. Dengan telah mendapatkan hidup yang begitu berharga, manusia tidak melakukan usaha untuk hidup seperti manusia yang sejati. Saat sekarang manusia telah menjadi sebuah kumpulan dari keinginan. Sepanjang waktu dan usaha dilakukan untuk memenuhi keinginan. Seseorang seharusnya menyadari bahwa hanya dengan menghilangkan keinginan akan menuntun pada kebahagiaan yang tertinggi. Kebahagiaan yang sejati terdapat pada tanpa keinginan. (Divine Discourse, Apr 13, 2002)


Thought for the Day - 14th April 2017 (Friday)

Jesus came to teach mankind the greatness of divine love. After His father passed away, with His mother’s permission, He embarked to serve the people. He resolved on three tasks: (1) to be filled with Divine love and share it with others (2) to not succumb to praise and (3) to inspire in others the conviction that the Divinity within is omnipresent. Jesus considered spreading the gospel of love as his foremost task. He faced all the ordeals and challenges along His path courageously. He was determined to treat pleasure and pain, sickness and failure with equanimity. He could not bear to see anyone suffer. He was opposed to the traffic in birds going on in Jerusalem. The affected persons turned against him. But Jesus carried on regardless of their hostility and in the end He sacrificed His life for the sake of others and out of His love for all.

Jesus datang untuk mengajarkan kepada umat manusia kehebatan dari kasih Illahi. Setelah ayah-Nya meninggal dunia, dengan izin dari ibu-Nya, Beliau memulai untuk melayani orang-orang. Beliau memutuskan tiga tugas: (1) dipenuhi dengan kasih Illahi dan membaginya dengan yang lainnya (2) tidak mengalah pada pujian dan (3) menginspirasi yang lain tentang keyakinan bahwa Tuhan yang bersemayam di dalam diri adalah hadir dimana-mana. Jesus mempertimbangkan menyebarkan ajaran kasih sebagai tugasnya yang paling penting. Beliau menghadapi semua tantangan dan hambatan sepanjang jalan-Nya dengan penuh keberanian. Beliau dengan tekun untuk memperlakukan kesenangan dan penderitaan, rasa sakit dan kegagalan dengan ketenangan hati. Beliau tidak tahan melihat siapapun yang menderita. Beliau menentang pada perdagangan burung yang terjadi di Jerusalem. Mereka yang tersinggung berbalik melawan-Nya. Namun Jesus tidak menghiraukan permusuhan mereka dan pada akhir hidup-Nya, Beliau mengorbankan hidup-Nya sendiri untuk kepentingan yang lain dan itu muncul dari kasih-Nya bagi semua. (Divine Discourse, Dec 25, 1995)


Thought for the Day - 13th April 2017 (Thursday)

Celebrate festivals by understanding and experiencing their true significance. Right from this moment, embark on a new life giving up bad thoughts and bad qualities. Purify your heart and your life will become blissful. There is no point in reading sacred texts or visiting noble souls unless you purify your heart. Let your thoughts, words and deeds be sacred. This is the true significance of celebrating New Year. When you undertake any task with a sacred heart, you will certainly meet with success. You all believe you are devoted to Sai, then you must adhere to My teachings strictly. Fill your lives with love. Stop criticizing others. Respect even those who hate you. Hatred is a bad quality. It will ruin you. Hence, get rid of this evil. Love everyone. When you follow My teachings, you will certainly achieve sacred results and earn a good name. Give up selfishness and dedicate your life for others well-being.

Rayakan sebuah perayaan dengan mengerti dan mengalami makna sejati yang terkandung di dalamnya. Mulai dari saat sekarang, memulai sebuah hidup baru dengan melepaskan pikiran yang buruk dan sifat yang tidak baik. Sucikan hatimu dan hidupmu akan menjadi penuh kebahagiaan. Tidak ada gunanya dalam membaca naskah suci atau mengunjungi jiwa-jiwa yang suci jika engkau tidak menyucikan hatimu. Jadikan pikiran, perkataan, dan perbuatanmu menjadi suci. Ini adalah makna yang sebenarnya dari merayakan tahun baru. Ketika engkau melakukan tugas apapun dengan kesucian hati maka engkau secara pasti akan mendapatkan keberhasilan. Engkau semua percaya bahwa engkau bhakta dari Sai, maka dari itu engkau harus menjunjung tinggi ajaran-Ku dengan seksama. Isilah hidupmu dengan kasih. Berhentilah mengkritik yang lainnya. Hormati bahkan mereka yang membencimu. Benci adalah sifat yang buruk dan ini akan menghancurkanmu. Oleh karena itu, buanglah sifat jahat ini. Kasihi setiap orang. Ketika engkau mengikuti ajaran-Ku, maka engkau dengan pasti mencapai hasil yang suci dan mendapatkan nama baik. Lepaskan sifat mementingkan diri sendiri dan persembahkan hidupmu untuk kesejahteraan yang lainnya. (Divine Discourse, Apr 13, 2002)


Wednesday, April 12, 2017

Thought for the Day - 12th April 2017 (Wednesday)

It is not possible to progress in the Universe without sacrifice (yajna). Yajna maintains the order of the Universe. Sacrifice pleases the gods; the gods send rain; the rain feeds the crops; the crops yield harvest, the harvest strengthens the limbs and widens the outlook; it broadens the heart and clarifies the vision until man reaches the goal, where there is no more struggle or death. The highest and the most fruitful sacrifice is that of the ego. Crucify it and be free. Dedicate your ego to God and be rich beyond all dreams. Prepare yourself for this supreme status, by engaging in holy action (karma), meaning, karma cleansed in the crucible of righteousness (dharma), and attain God (Brahman - the One Indivisible Absolute) as your reward! Have faith in God; He sees everything; He is everywhere; He is all-powerful. He lives in every heart.
Adalah tidak mungkin untuk maju di alam semesta tanpa berkorban (yajna). Yajna menjaga keteraturan dari alam semesta. Pengorbanan menyenangkan Tuhan; Tuhan menurunkan hujan; hujan memberikan air pada tanaman; tanaman menghasilkan panen, panen menguatkan anggota badan dan memperluas pandangan; pengorbanan memperluas hati dan memperjelas pandangan sampai manusia mencapai tujuan, dimana tidak ada lagi perjuangan atau kematian. Pengorbanan yang paling tinggi dan menguntungkan adalah mengorbankan ego. Korbankan ego dan jadilah bebas. Persembahkan egomu kepada Tuhan dan jadilah kaya melampaui dari seluruh mimpimu. Persiapkan dirimu untuk status yang tertinggi, dengan terlibat dalam perbuatan yang suci (karma), yang berarti karma dibersihkan dalam wadah kebajikan (dharma), dan mencapai Tuhan (Brahman – Beliau yang mutlak dan tidak terlihat) sebagai hadiahmu! Miliki keyakinan kepada Tuhan; Beliau melihat semuanya; Beliau ada dimana-mana; Beliau adalah maha kuasa. Beliau bersemayam di dalam setiap hati. (Divine Discourse, Nov 1970)


Thought for the Day - 11th April 2017 (Tuesday)

If you wish to understand your true nature, you have to do three things: Bend the body, mend the senses, and end the mind. ‘Bend the Body’ means you should not allow the ego to develop within your body. Cultivate humility and do your duties sincerely. ‘Mend the Senses’ requires you to examine how the senses behave and correcting them when they tend to go astray as well as restraining them when necessary. ‘End the Mind’ requires you to quieten the vagaries of the mind by turning it to a different direction. For example, there is a lock and key. When you turn the key to the left, it locks and when you turn right, it opens. Similarly, your heart is the lock and mind is the key. When you turn the mind towards God, it develops detachment. When the mind is turned towards the world, it develops attachment. Hence turn your mind towards God and dedicate every action of yours to Him.
Jika engkau berharap untuk memahami sifat sejatimu maka engkau harus melakukan tiga hal: Bungkukkan badanmu, kendalikan inderamu, dan akhiri pikiran. ‘Bungkukkan badan’ artinya engkau seharusnya tidak mengijinkan ego untuk berkembang di dalam tubuhmu. Tingkatkan kerendahan hati dan lakukan kewajibanmu dengan tulus. ‘Kendalikan indera’ memerlukanmu untuk memeriksa bagaimana indera bertingkah dan memperbaikinya ketika indera cenderung untuk menyimpang dan juga mengendalikannya ketika diperlukan. ‘Akhiri pikiran’ memerlukanmu untuk menenangkan tingkah polah dari pikiran dengan mengarahkannya pada arah yang berbeda. Sebagai contoh, ada sebuah gembok dan kunci. Ketika engkau memutar kunci ke arah kiri, maka gembok itu terkunci dan ketika diarahkan ke kanan maka gembok itu terbuka. Sama halnya, hatimu adalah gembok dan pikiran adalah kuncinya. Ketika engkau memutar pikiran ke arah Tuhan maka ini mengembangkan tanpa keterikatan. Ketika pikiran diarahkan kepada dunia maka ini mengembangkan keterikatan. Oleh karena itu, putarlah pikiranmu ke arah Tuhan dan persembahkan setiap perbuatanmu kepada-Nya. (Divine Discourse, 6 May 1988)


Thought for the Day - 10th April 2017 (Monday)

Love can conquer anything. Selfless, pure, and unalloyed love leads man to God. Selfish and constricted love binds one to the world. Unable to comprehend the pure and sacred love, people today fall a prey to endless worries because of their attachment to worldly objects. The primary duty of every being is to understand the truth about the Love principle. Once a person understands the nature of selfless love, one will not go astray. One's thoughts, words and looks should be filled with selfless love. This is divine love. One who is saturated with this love can never be subject to suffering. Men and women today are affected by praise or blame. But one who is filled with divine love transcends praise or censure. They will be unaffected by criticism or flattery. They will treat alike joy and sorrow, profit and loss, victory and defeat.
Kasih dapat menaklukkan segalanya. Kasih yang suci dan murni menuntun manusia menuju Tuhan. Kasih yang mementingkan diri sendiri dan terbatas mengikat seseorang pada dunia. Ketidakmampuan dalam memahami kasih yang murni dan suci ini membuat manusia menjadi mangsa dari kecemasan yang tiada henti karena keterikatan mereka pada objek-objek duniawi. Kewajiban yang utama dan setiap makhluk adalah memahami kebenaran tentang prinsip kasih. Saat seseorang memahami sifat dari kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, seseorang tidak akan menyimpang dan tersesat. Pikiran, perkataan, dan pandangan seseorang seharusnya diisi dengan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Inilah kasih illahi. Seseorang yang telah sepenuhnya diliputi dengan kasih ini tidak pernah bisa mendapatkan penderitaan. Manusia pada saat sekarang dipengaruhi dengan pujian dan celaan. Namun seseorang yang diliputi dengan kasih illahi melampaui pujian atau kecaman. Mereka tidak akan terpengaruh oleh kritikan atau sanjungan. Mereka akan memperlakukan sama antara suka cita dan penderitaan, keuntungan dan kerugian, kemenangan dan kekalahan. (Divine Discourse, Dec 25 1995)


Thought for the Day - 9th April 2017 (Sunday)

All religions and scriptures agree that going to the aid of fellow-beings in times of need and saving them from distressing situations is the greatest virtue of a person. Suhrudham Sarva bhutanam (Wish well for all beings), Ekatma Sarva Bhuta Antharatma (the same soul resides within all beings) - these are well known aphorisms from the scriptures. To be friendly towards all beings is the duty of everyone, since the same Atma is there in all beings. Comprehending this truth, it is the duty of everyone born as a human being to do good to others on the basis of love. There is no need to search for God anywhere, since God resides in every being. The body therefore is to be considered the temple of God. Today people are breeding bad thoughts in the mind, thereby polluting the heart which is the seat of the Divine.
Semua agama dan naskah suci setuju bahwa memberikan bantuan kepada manusia pada saat diperlukan dan menyelamatkan mereka dari situasi yang menyedihkan adalah kebajikan terbesar dari seseorang. Suhrudham Sarva bhutanam (mengharapkan kebahagiaan pada semua makhluk), Ekatma Sarva Bhuta Antharatma (jiwa yang sama bersemayam dalam semua makhluk) – ini adalah kata-kata mutiara yang terkenal dalam naskah-naskah suci. Dengan bersikap ramah kepada semua makhluk adalah kewajiban bagi setiap orang karena atma yang sama bersemayam di dalam semuanya. Memahami kebenaran ini, adalah kewajiban bagi setiap orang yang lahir sebagai manusia untuk berbuat baik kepada yang lain dengan berlandaskan pada kasih. Adalah tidak perlu untuk mencari Tuhan dimana saja karena Tuhan bersemayam di dalam setiap makhluk. Maka dari itu tubuh dianggap sebagai tempat suci Tuhan. Saat sekarang, orang-orang mengembangbiakkan pikiran yang buruk dan mencemari hati yang merupakan tempat duduk Tuhan. (Divine Discourse, Dec 25, 1992)


Monday, April 10, 2017

Thought for the Day - 8th April 2017 (Saturday)

Devotion is faith, steadiness, virtue, fearlessness, surrender, and ab¬sence of egoism. Worship done however elaborately and pompously is sheer waste of time and energy. Why pluck flowers and hasten their death? You may be circumambulating the temple, but be aware that while your feet are taking you round by force of habit, your tongue blabbers the faults of others, or the price of vegetables, or the dishes you propose to cook for lunch. Making the rounds is not to be taken as prescribed for loosening the limbs or giving them some exercise. The senses have to be curbed into obedient servants of the spirit. Before you start on your rounds, which you call pradakshina, offer your mind as dakshina (offering of gratitude) to the Resident of the temple, the Lord. That is the first thing to do, and perhaps the only thing to do.

Bhakti adalah keyakinan, kemantapan, kebajikan, keberanian, berserah diri dan tidak adanya ego. Ibadah dilakukan secara rumit dan angkuh adalah semata-mata pemborosan waktu dan energi. Mengapa memetik bunga dan mempercepat kematiannya? Engkau mungkin mengelilingi tempat suci, namun waspadalah terhadap kakimu yang membawamu dengan kekuatan kebiasaan, lidahmu yang suka berbicara yang tidak memikirkan akibatnya akan kesalahan orang lain, atau harga sayuran, atau makanan yang akan engkau masak untuk makan siang. Mengelilingi tempat suci tidak dilakukan untuk mengurangi berat badan atau untuk latihan saja. Indria harus dikendalikan dan dijadikan pelayan yang patuh pada jiwa. Sebelum engkau mulai mengelilingi tempat suci yang engkau sebut dengan pradakshina, persembahkan pikiranmu sebagai dakshina (persembahan sebagai rasa terima kasih) pada yang bersemayam di tempat suci yaitu Tuhan. Itu adalah hal pertama yang dilakukan dan mungkin adalah satu-satunya hal yang dilakukan. (Divine Discourse, Jan 25, 1963)