Monday, August 31, 2015

Thought for the Day - 31st August 2015 (Monday)

Practical dharma, or rules of the world? Bhagawan emphatically explains to us today. Practical dharma, or rules of good behaviour (achara-dharma), relates to temporary matters concerning our problems and physical needs, to our passing relationships with the objective world. The very instrument of those rules, the human body, is not permanent, so how can then these rules be eternal? How can their nature be true? The Eternal cannot be expressed by the evanescent; light cannot be revealed from darkness. The Eternal emerges only from the Eternal; truth emanates only from truth. Therefore, follow the objective codes of dharma relating to worldly activities and daily life, with the full knowledge and consciousness of the inner basic Atma-dharma. Then only can the internal and external urges cooperate and yield the bliss of harmonious progress. If in your daily avocations, you translate the real values of eternal dharma into love-filled acts, then your duty to the inner reality, the Atma-dharma, is also fulfilled. Always build your living on the Atmic base; then, your spiritual progress is assured.

Mempraktikkan dharma, atau aturan dunia? Bhagawan dengan tegas menjelaskan kepada kita mengenai hal ini. Mempraktikkan dharma, atau aturan perilaku yang baik (achara-dharma), berkaitan dengan hal-hal yang bersifat sementara mengenai masalah dan kebutuhan fisik, untuk melewati hubungan dengan dunia objektif. Instrumen aturan-aturan ini, badan manusia, tidaklah permanen, jadi bagaimana kemudian aturan ini menjadi abadi? Bagaimana sifat mereka menjadi benar? Abadi tidak bisa diungkapkan dengan hal-hal yang bersifat sementara; cahaya tidak dapat dimunculkan dari kegelapan. Abadi hanya muncul dari Abadi; kebenaran hanya berasal dari kebenaran. Oleh karena itu, ikutilah kode dharma yang berkaitan dengan kegiatan duniawi dan kehidupan sehari-hari, dengan pengetahuan penuh dan kesadaran batin berdasar pada Atma-dharma. Maka setelah itu dorongan internal dan eksternal bekerja sama dan menghasilkan kebahagiaan yang harmonis. Jika dalam menjalankan kehidupan harianmu, engkau menerjemahkan nilai-nilai sejati dari dharma yang abadi dalam tindakan  yang penuh cinta-kasih, maka kewajibanmu untuk realitas batin, Atma-dharma, juga terpenuhi. Engkau hendaknya selalu membangun hidupmu berdasarkan Atmic; maka, kemajuan spiritualmu terjamin. (Dharma Vahini, Ch 2)


Sunday, August 30, 2015

Thought for the Day - 30th August 2015 (Sunday)

When you do not discriminate the process and purpose of every act, and go ahead doing them with no understanding, you reduce them to a funny fossilized routine. Once even Prahlada observed, “Since it is difficult to destroy egotism, people take the easier option to offer dumb animals at the altar. Animal sacrifice is the manifestation of the quality of inertia (tamo guna); it is the path of bondage. Sacrifice of the animal of egotism is the purest sacrifice (satwic yajna) on the Godward path of liberation.” Thus the highest goal (paramaartha) of the past is turned into the fool’s goal (paaramaartha) of these days! Similarly every one of the ancient practices, which were once full of meaning has grown wild beyond recognition. It is now impossible to pluck the tree by the roots and plant a new one. So the existing tree must be trimmed and trained to grow straight. Always remember the highest goal and never dilute it into the lowest.

Ketika engkau tidak menimbang-nimbang proses dan tujuan dari setiap tindakan, dan langsung melakukannya tanpa adanya pemahaman maka engkau menurunkan tindakan tersebut menjadi rutinitas kuno yang lucu. Sekali bahkan Prahlada mengamati, “Karena sulit untuk menghancurkan egoisme, orang-orang mengambil pilihan yang gampang dengan mengorbankan binatang yang dungu di atas altar. Pengorbanan binatang adalah perwujudan dari kualitas kemalasan (tamo guna); ini adalah jalan dari perbudakan. Mempersembahkan ego kebinatangan adalah pengorbanan yang paling suci (satwik yajna) pada jalan Tuhan menuju kebebasan.” Jadi tujuan yang tertinggi (paramaartha) pada zaman dahulu dirubah menjadi tujuan bodoh (paaramaartha) pada saat sekarang! Sama halnya setiap kegiatan di masa lalu yang memiliki makna yang mendalam telah berkembang menjadi tidak teratur tanpa kesadaran. Sekarang adalah tidak mungkin mencabut pohon ke akarnya dan menanam pohon baru. Jadi, pohon yang ada harus dipangkas dan diatur agar tumbuh dengan lurus. Selalulah ingat tujuan yang tertinggi dan jangan pernah menurunkannya pada tingkat yang paling rendah. (Dharma Vahini, Ch 1)


Saturday, August 29, 2015

Thought for the Day - 29th August 2015 (Saturday)

Truth (Satya) sustains the cosmos, virtue (Dharma) protects and promotes the peace of mankind. All activities must be infused with the ideals of Satya and Dharma. Dharma never suffers decline; only its practice declines. So divine incarnations take place to restore faith in Dharma, to revitalise its practice and to demonstrate that the practice of Dharma confers peace, joy and prosperity. If Dharma is ignored, it amounts to sacrilege, for Dharma is God and God is Righteousness (Dharma). People see God in a picture, an icon, or a plaster of Paris figurine but God really is most manifest in a righteous action (Dharma). One may spend enormous sums for pilgrimages and for rituals and ceremonies but that will not take them anywhere nearer to God. What profit can one earn in the spiritual field, if they adore God and at the same time, insult and injure their fellowmen?

Kebenaran (Satya) menopang alam semesta ini, Kebaikan (Dharma) melindungi dan mengembangkan kedamaian pada umat manusia. Semua aktivitas harus dimasukkan dengan idealisme tentang kebenaran dan kebajikan. Dharma tidak pernah mengalami kemunduruan; hanya penerapannya yang mengalami kemunduran. Jadi inkarnasi Tuhan datang untuk memulihkan keyakinan pada Dharma, untuk menguatkan kembali penerapannya dan menunjukkan bahwa dengan menjalankan kebajikan akan dapat memberikan kedamaian, suka cita dan kesejahteraan. Jika Dharma diabaikan, maka itu adalah bentuk penistaan karena Dharma adalah Tuhan dan Tuhan adalah kebajikan (Dharma). Orang-orang melihat Tuhan dalam lukisan, patung orang suci, atau gambaran dari arca kecil namun Tuhan sejatinya paling besar mengejewantah dalam tindakan yang baik (Dharma). Seseorang mungkin menghabiskan banyak uang untuk berziarah dan juga untuk ritual dan upacara namun itu tidak akan membawa mereka dekat dengan Tuhan. Apa keuntungan yang seseorang bisa dapatkan dalam bidang spiritual jika mereka memuja Tuhan dan pada waktu yang bersamaan menghina dan menyakiti sesama mereka? (Divine Discourse, 21-Jun-1979)


Friday, August 28, 2015

Thought for the Day - 28th August 2015 (Friday)

When you eat a banana, you have to first remove the skin; so it is with other fruits as well be it a mango or an orange. The sweet substance has to be reached after removal of the bitter skin. For Emperor Bali to be received and accepted by God, the bitter cover of egoism and power-mania had to be removed. Ignorance, maya (delusion), illusion, pride, etc. are the components of the skin. The festival of Onam comes and goes, but you are no way nearer to God. This is because while Onam is thoroughly welcomed and enjoyed, generosity, renunciation, love and the spirit of service are not given an equally hearty welcome. Take this as the Onam Message - strive to manifest, cultivate and express Love, suppressing pride and egoism, so that you win the Grace of God.

Ketika engkau makan sebuah pisang, pertama engkau harus membuang kulitnya; begitu juga ketika makan buah yang lainnya baik itu mangga atau jeruk. Rasa manis yang menjadi intisari dari buah harus dapat dinikmati setelah menghilangkan kulitnya yang pahit. Bagi Maharaja Bali untuk bisa diterima oleh Tuhan maka kulit penutup yang pahit yaitu ego dan gila akan kekuatan harus dibuang. Kebodohan, khayalan (maya), ilusi, kesombongan, dsb adalah komponen yang ada pada kulit luar. Perayaan Onam datang dan pergi, namun engkau belum bisa dekat dengan Tuhan. Hal ini dikarenakan ketika Perayaan Onam benar-benar disambut dan dinikmati, namun kedermawanan, cinta kasih, dan semangat pelayanan tidak sama disambut dengan sepenuh hati. Ambillah ini sebagai pesan dari perayaan Onam yaitu berusahalah untuk mewujudkan, meningkatkan, dan mengungkapkan cinta kasih, menekan kesombongan dan ego, sehingga engkau dapat memperoleh rahmat Tuhan. (Divine Discourse, 30-Aug-1974)


Thursday, August 27, 2015

Thought for the Day - 27th August 2015 (Thursday)

The Gurus (preceptors) of the past taught only from experience; they loved their pupils and sought to correct their faults and failings, that is how their students lead happy and useful lives. When the pupils finally left the Guru’s home, he exhorted them to follow two guidelines (Sutras) which were as essential for life as the two eyes (netras) - Speak the truth; Walk on the path of righteousness (Satyam vada, Dharmam chara). The Guru had the faith that the pupil (shishya) would take the advice to heart, for he himself was the living proof of their value and validity. The Guru always takes great care to remove from the heart of the pupil the weeds of evil habits and tendencies, and implant therein the seeds of love. He insists on spiritual discipline (sadhana) for purifying the pupils’ minds and to render them strong enough to overcome temptations of all kinds. Virtue and character alone marks a truly educated person.

Para guru suci pada zaman dahulu hanya mengajarkan dari pengalaman; mereka mengasihi murid mereka dan memperbaiki kesalahan dan kegagalan mereka, itulah sebabnya mengapa murid-murid mereka mampu menjalankan hidup yang bahagia dan berguna. Ketika saatnya para murid harus meninggalkan rumah guru mereka maka sang guru mendesak mereka untuk mengikuti dua tuntunan yang sangat mendasar bagi kehidupan seperti halnya dua mata (netra) – pertama bicaralah yang benar; kedua berjalanlah di jalan kebajikan (Satyam vada, Dharmam chara). Guru memiliki keyakinan bahwa para muridnya akan membawa nasihatnya ke dalam hati karena ia sendiri adalah bukti hidup bagi nilai dan kebenaran mereka. Guru selalu memberikan perhatian yang besar untuk mencabut kebiasaan dan kecenderungan jahat dari dalam hati murid-muridnya, dan menanamkan ke dalam hati mereka benih-benih cinta kasih. Guru menuntut dengan tegas dalam disiplin spiritual (sadhana) untuk memurnikan pikiran muridnya dan membuat mereka cukup kuat untuk mengatasi dari berbagai jenis godaan. Hanya kebaikan dan karakter yang menandakan seseorang benar-benar berpendidikan. (Divine Discourse, 21-Jun-1979)


Wednesday, August 26, 2015

Thought for the Day - 26th August 2015 (Wednesday)

The Universe is the best university; Nature is your best teacher. With an observant mind you can learn many lessons from rivers and hills, from birds and beasts, from stars and flowers and from trees. The trees offer cool shade to all who seek it; they do not deny it to anyone on the basis of caste, creed or colour. They offer their fruits to all, irrespective of their social or economic status. Prosperity is to be welcomed but that alone is not enough. Prosperity without the will to share it will only breed fear and anxiety. Human nature is an amalgam of animal, human and divine characteristics. Love, compassion, humility, charity - these are all divine. One has to cultivate these in order to be at peace with oneself and others. These spiritual qualities are your real life-savers; they elevate you from being human to the status of the Divine.

Alam semesta ini adalah universitas yang terbaik; Alam adalah guru yang terbaik. Dengan pikiran yang setia dan taat maka engkau dapat belajar banyak pelajaran dari sungai dan bukit, dari unggas dan binatang buas, dari bintang dan bunga, dan juga dari pepohonan. Pepohonan memberikan keteduhan yang menyejukkan bagi semua yang mencarinya; pohon tidak membatasi keteduhan bagi siapapun berdasarkan pada kasta, keyakinan, atau warna kulit. Pohon memberikan buahnya kepada semuanya, tidak tergantung dengan status sosial dan ekonomi mereka. Kesejahteraan harus disambut namun hal itu saja tidaklah cukup. Kesejahteraan tanpa adanya niat untuk berbagi hanya akan membiakkan ketakutan dan kecemasan. Sifat alami manusia adalah campuran dari binatang, manusia, dan sifat illahi. Cinta kasih, kerendahan hati, dermawan – semuanya ini adalah keillahian. Seseorang harus meningkatkan sifat-sifat ini dalam upaya untuk mendapatkan kedamaian dengan dirinya sendiri dan juga dengan yang lain. Sifat spiritual ini adalah penolongmu yang sejati; sifat-sifat ini mengangkatmu dari manusia menuju pada tingkat illahi. (Divine Discourse, 21-Jun-1979)


Tuesday, August 25, 2015

Thought for the Day - 25th August 2015 (Tuesday)

Some of you may think, “How can Dharma, which sets limits on thoughts and words, and regulates and controls, make a person free?” Freedom is the name that you give to a certain type of bondage. Genuine freedom is obtained only when delusion is absent, when there is no identification with the body and senses, and no servitude to the objective world. People who have escaped from this servitude and achieved freedom in the genuine sense are very few in number. Bondage lies in every act done with the consciousness of the body as the Self, for one is then the plaything of the senses. Only those who have escaped this fate are free; this ‘freedom’ is the ideal stage to which Dharma leads. With this stage constantly in mind, if you are engaged in the activity of living, then you will become a liberated person (mukta-purusha) in this very life.

Beberapa dari engkau mungkin berpikir, "Bagaimana Dharma bisa menetapkan batasan-batasan pikiran dan kata-kata, mengatur dan mengontrol, serta membuat seseorang bebas?" Kebebasan adalah nama yang engkau berikan untuk jenis tertentu perbudakan. Kebebasan sejati diperoleh hanya ketika ketiadaan khayalan (delusi), tidak ada identifikasi dengan badan dan indera, dan tidak ada perbudakan dengan dunia objektif. Orang-orang yang telah melarikan diri dari perbudakan ini dan mencapai kebebasan dalam arti yang sebenarnya sangat sedikit jumlahnya. Perbudakan terletak pada setiap tindakan yang dilakukan dengan menyadari badan jasmani sebagai Diri, maka seseorang selanjutnya menjadi permainan indera. Hanya mereka yang telah lolos pada takdir ini maka ia bebas; 'kebebasan' ini adalah tahapan yang ideal untuk mengarah pada Dharma. Dengan tahapan ini tetap dalam pikiran, jika engkau terlibat dalam aktivitas kehidupan, maka engkau akan menjadi orang yang dibebaskan (mukta-purusha) dalam kehidupan ini. (Dharma Vahini, Ch 2)


Monday, August 24, 2015

Thought for the Day - 24th August 2015 (Monday)

I have come to reform you; I won’t leave you until I do that. Even if you get away before I do that, don’t think you can escape Me; I will hold on to you. I am not worried if you leave Me, for I am not anxious that there should be a huge gathering! Who gave hand-written invitation to everyone present here? People come, on their own, in thousands - you attach yourselves to Me! I am unattached. I am attached only to the task. But be assured of one thing. Whether you come to Me or not, you are all in Me. I have the love of a thousand mothers. I love each one of you and protect you always. Whenever I appear to be angry, remember, it is only love in another form. I do not have even an iota of anger in Me. I express My disappointment when you do not shape up as I expect.

Aku datang untuk memperbaiki engkau menjadi lebih baik; Aku tidak akan meninggalkan-mu sampai Aku melakukan tugas itu. Bahkan jika engkau pergi sebelum aku melakukan tugas itu, janganlah berpikir bahwa engkau bisa melarikan diri dari-Ku; Aku akan memegangmu. Aku tidak khawatir jika engkau meninggalkan-Ku, karena Aku tidak cemas sebab akan ada pertemuan besar! Siapa yang memberi undangan yang ditulis tangan untuk semua yang hadir di sini? Orang-orang datang, atas kehendak mereka sendiri, dalam ribuan - engkau mengikatkan dirimu pada-Ku! Aku tidak terikat. Aku terikat hanya untuk melakukan tugas itu. Tapi yakinlah satu hal. Apakah engkau datang kepada-Ku atau tidak, engkau semua dalam diri-Ku. Aku memiliki kasih seribu ibu. Aku mencintai masing-masing dari kalian dan selalu melindungimu. Kapan saja Aku nampak marah, ingatlah, itu hanya cinta-kasih dalam wujud lain. Aku sedikitpun tidak memiliki kemarahan dalam diri-Ku. Aku mengungkapkan kekecewaan-Ku ketika engkau tidak mempraktikkan apa yang seperti Aku harapkan. (Divine Discourse, Feb 11, 1964)


Sunday, August 23, 2015

Thought for the Day - 23rd August 2015 (Sunday)

When visiting a temple of Lord Shiva, none should pass between the bull (Nandi) and the Lingam - the Jiva (individual soul) and Lord Shiva, it is said; for they are to merge into one. Shiva must be seen through the two horns of Nandi, they say. When asked the reason for this procedure people reply, "Well, it is holier than other methods of viewing the Lingam". But the inner meaning is, ‘You must see the Shiva in Jiva’ - Pasu (animal) and Pasupathi (Lord of all beings) are one: Nandi and Iswara become Nandiswara. When in bondage, it is Nandi; when the bound becomes free, it is Iswara - Nandiswara! This Union is entitled to be honoured. When Pasu is offered to the Pasupathi, and its separate identity is cast away, it is true Yajna (sacrifice). Today, these symbolic acts have changed beyond recognition. The practices of today and the principles of yesterday are far apart – the smallest detail of secular life must be inspired by the higher ideal of spiritual fulfillment.

Ketika mengunjungi sebuah kuil Shiva, tidak seorangpun seharusnya lewat diantara sapi jantan (Nandi) dan Lingam - sang Jiva dan Shiva, karena mereka menyatu menjadi satu. Dikatakan bahwa Shiva harus dilihat melalui dua tanduk dari Nandi. Ketika ditanyakan alasan dari prosedur ini maka banyak orang menjawab, "Cara ini adalah cara yang lebih suci daripada cara yang lain untuk melihat Lingam". Namun makna yang terkandung di dalamnya adalah, ‘Engkau harus melihat Shiva di dalam Jiva’ - Pasu (binatang) dan Pasupathi (Tuhan dari semuanya) adalah satu: Nandi dan Iswara menjadi Nandiswara. Ketika ada dalam perbudakan maka namanya Nandi; ketika lepas dari keterikatan maka menjadi Iswara - Nandiswara! Persatuan ini berhak untuk dihormati. Ketika Pasu dipersembahkan kepada Pasupathi, dan tanda-tanda pemisah dibuang maka inilah yang disebut dengan Yajna yang sebenarnya (pengorbanan). Hari ini, penetapan simbol-simbol ini telah berubah dan tidak mampu dikenali lagi. Praktik-praktik yang ada pada saat sekarang dan prinsip-prinsip yang ada kemarin sangat jauh terpisah – detail yang paling kecil dari kehidupan duniawi harus terinspirasi oleh cita-cita yang lebih tinggi dari pemenuhan spiritual. (Dharma Vahini Ch 1)


Saturday, August 22, 2015

Thought for the Day - 22nd August 2015 (Saturday)

Step by step, you reach the end of the road. One act followed by another leads to a good habit. Listening, over and over you get prodded into action. Resolve to act, to engage only with good company, to read only elevating books, and to form the habit of remembering the Lord’s Name (Namasmarana), then ignorance will vanish automatically. The Divine Bliss that will well up within you with the contemplation of the Ananda Swarupa (Bliss Personified) will drive out all grief and all worry. Develop bliss and joy, then evil impulses and tendencies will vanish, for they will not get any foothold in the heart. Move forward towards the Light and the shadow falls behind; you move away from it and you have to follow your own shadow. Go every moment one step nearer to the Lord, and then the shadow maya (illusion) will fall back and will not delude you at all. Be steady, be resolved.

Langkah demi langkah, engkau mencapai ujung jalan. Satu tindakan diikuti oleh tindakan lainnya mengarah ke kebiasaan yang baik. Berulang kali engkau didorong untuk bertindak. Untuk melenyapkan kebodohan secara otomatis, engkau hendaknya memutuskan untuk bertindak, melibatkan diri hanya pada pergaulan yang baik, membaca hanya buku-buku yang dapat meningkatkan dirimu, dan membentuk kebiasaan mengingat Nama Tuhan (Namasmarana). Kebahagiaan Ilahi akan mengumpul dalam dirimu dengan kontemplasi dari Ananda Swarupa (personifikasi kebahagiaan abadi) yang akan mengusir semua kesedihan dan semua kekhawatiran. Kembangkanlah kebahagiaan dan sukacita, maka dorongan dan kecenderungan yang buruk akan lenyap, karena mereka tidak akan mendapatkan pijakan dalam hati. Bergeraklah maju menuju Cahaya maka bayangan jatuh di belakang; engkau bergerak jauh dari cahaya maka engkau harus mengikuti bayanganmu sendiri. Bergeraklah setiap saat satu langkah lebih dekat kepada Tuhan, maka kemudian  bayangan maya (ilusi) akan jatuh dan tidak akan menipumu sama sekali. Engkau hendaknya mantap dan memiliki ketetapan hati. (Divine Discourse, Feb 11, 1964)


Friday, August 21, 2015

Thought for the Day - 21st August 2015 (Friday)

Beautiful fields and groves run wild with neglect and soon become unrecognizable bushland and thorny jungle; fine trees are hewn by greedy men and the shape of the landscape is changed. With the passage of time, people get accustomed to the new state of things. This has happened to Dharma also. Misunderstood by incompetent intelligence, unbridled emotion and impure reasoning, the scriptures have been grossly diluted and their glory has suffered grievously. Just as the raindrops from the clear blue sky get colored and contaminated when they fall on the soil, the unsullied message of the ancient rishis, the example of their shining deeds, and the bright untarnished urges behind their actions are all turned into ugly caricatures of the original grandeur, by uncultured interpreters and scholars. Hence, every one of you must acquaint yourselves with the outlines of Dharma, expounded in the Vedas, Sastras and the Puranas.

Ladang dan hutan kecil yang indah menjadi rimba karena diabaikan dan segera menjadi semak dan hutan berduri yang tidak dikenali lagi; hutan yang bagus dibawah kendali orang-orang yang serakah akan dapat merubah bentuk dari pemandangan alamnya. Dengan berjalannya waktu, orang-orang menjadi terbiasa dengan keadaan yang baru ini. Hal ini juga terjadi pada Dharma. Salah mengerti karena kurangnya kecerdasan, emosi yang tidak terkendali dan penalaran yang tidak suci dengan demikian naskah-naskah suci telah dikurangi kekuatannya dan kemuliaannya telah menderita begitu besar. Sama halnya dengan tetesan air hujan yang jatuh dari langit yang biru dan cerah pada akhirnya akan mengalami perubahan warna dan terkontaminasi ketika jatuh di atas tanah. Pesan-pesan yang suci yang disampaikan oleh para guru-guru suci dengan teladan dari tindakan mereka yang bersinar dan niat dibalik tindakan mereka yang begitu suci dan murni semuanya berubah menjadi gambaran yang jelek dari kemuliaan aslinya oleh para sarjana dan tukang tafsir yang tidak beradab. Oleh karena itu, setiap orang dari kalian harus memperkenalkan dirimu dengan gambaran dari Dharma, menguraikan secara terperinci dalam Weda, sastra suci, dan purana. (Dharma Vahini, Ch 1)


Thursday, August 20, 2015

Thought for the Day - 20th August 2015 (Thursday)

You are not a despicable creature, born in slime or sin, to eke out a drab existence and be extinguished forever. You are immortal and eternal. So when the call comes, respond with your whole heart. The Principle of Divinity must be experienced, for it is beyond expressions and explanation. The richness, fullness and depth of that experience can never be communicated in words. You must feel that it is your highest destiny to attain that experience. You are a mixture of Deha and Deva - the mortal and the immortal. Liberation means stoppage of grief and acquisition of joy. All that you have to do is to place all your burdens on God. It makes you care-free and grief-free. Then you will take everything as a divine play of the Lord you love and live in bliss just as He is, when His plans are going through!

Engkau bukanlah makhluk yang tercela, lahir dalam kotoran dan dosa, menambah sebuah peradaban yang membosankan dan dihancurkan selamanya. Engkau adalah kekal dan abadi. Jadi ketika panggilan datang maka tanggapilah dengan sepenuh hatimu. Prinsip keillahian harus dapat dialami karena prinsip ini melampaui ungkapan dan penjelasan. Kesempurnaan dan kedalaman dari pengalaman itu tidak akan pernah dapat dikomunikasikan dengan kata-kata. Engkau harus merasakan bahwa ini merupakan takdirmu yang tertinggi untuk dapat mencapai pengalaman itu. Engkau adalah campuran dari Deha dan Deva – yang bersifat fana dan kekal. Kebebasan berarti penghentian dari kesedihan dan mendapatkan suka cita. Semua yang harus engkau lakukan adalah meletakkan semua bebanmu kepada Tuhan. Hal ini akan membuatmu bebas dari rasa cemas dan sedih. Kemudian engkau akan mengambil semuanya sebagai permainan Tuhan yang engkau sayangi dan hidup dalam kebahagiaan seperti Beliau ketika rencana-Nya berjalan! (Divine Discourse, Feb 11, 1964)


Wednesday, August 19, 2015

Thought for the Day - 19th August 2015 (Wednesday)

“Sacrifice ignorance (ajnana) and ego (ahamkara) at the altar of wisdom (Jnana), and install righteousness (Dharma) therein" - this is the message of the scriptures. Every single unselfish act, which prepares the ground for the merging of the Soul with the Over-Soul, which broadens the vision towards the Divinity immanent everywhere, is a righteous act. Each such act is a tiny stream that swells the river of holiness rushing towards the sea of knowledge of Divinity. Your acts and activities are all rituals in the worship of the Paramatma that pervades the Universe. Whatever is done in an attitude of dedication and surrender is a component of the Dharma, which leads to Realisation. The strategy of the ancient Bharathiya (Indian) way of life is directed towards the sanctification of every moment and every word, thought and deed as a step towards realising the Divine.

"Korbankanlah kebodohan (ajnana) dan ego (ahamkara) di altar kebijaksanaan (Jnana), dan tanamkan kebajikan (Dharma) di dalamnya" – ini adalah pesan dari naskah-naskah suci. Setiap bentuk tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri akan mempersiapkan dasar bagi menyatunya sang jiwa dengan Tuhan, yang mana memperluas pandangan menuju pada Tuhan yang selalu ada dimana-mana, adalah sebuah perbuatan yang baik. Setiap perbuatan yang seperti ini adalah sebuah aliran kecil yang akan bertambah besar menjadi sungai kesucian yang mengalir menuju ke laut pengetahuan keillahian. Semua bentuk perbuatan dan tindakanmu adalah sebagai persembahan kepada Paramatma yang meliputi alam semesta. Apapun yang dilakukan dalam sikap dedikasi dan penyerahan diri adalah sebuah komponen dari Dharma, yang akan menuntun pada kesadaran diri. Pendekatan kuno dan cara hidup dari kebudayaan Bharathiya (India) adalah diarahkan pada pemurnian setiap momen dan setiap perkataan, pikiran, dan tindakan sebagai sebuah langkah menuju pada menyadari keillahian. (Dharma Vahini, Ch 1)


Tuesday, August 18, 2015

Thought for the Day - 18th August 2015 (Tuesday)

You are wasting a lot of time in meaningless pursuits. Time wasted is life wasted. Our ancients never wasted even a minute. They considered God as the embodiment of time and extolled Him thus: Kalaya Namah, Kala Kalaaya Namah, Kalaateetaya Namah, Kalaniyamitaya Namah (Salutations to the Embodiment of Time, to the One who conquered time, to the One who transcends time and to the One who ordains time). Why have you forgotten the truth that time is verily God? You eagerly await a Sunday thinking that you can relax and enjoy. In fact, you should feel sad that you are wasting time without doing any work on a Sunday. You have to utilise your time in a proper way. If you do not have any work, undertake social service. Help your fellowmen. Life becomes meaningful only when you make proper use of time.

Engkau menghabiskan banyak waktumu untuk pengejaran yang tidak berguna. Waktu yang terbuang adalah sama dengan hidup yang terbuang. Para leluhur kita zaman dahulu tidak pernah menyia-nyiakan waktu mereka bahkan semenit saja. Mereka menganggap Tuhan sebagai perwujudan dari sang waktu dan Beliau dimuliakan dengan: Kalaya Namah, Kala Kalaaya Namah, Kalaateetaya Namah, Kalaniyamitaya Namah (Hormat kami pada perwujudan dari sang waktu, kepada Beliau yang menaklukkan sang waktu, Kepada Beliau yang melebihi sang waktu dan kepada Beliau yang memerintahkan sang waktu). Mengapa engkau melupakan kebenaran bahwa sang waktu sejatinya adalah Tuhan? Engkau sangat berhasrat menunggu hari Minggu dengan berpikir bahwa engkau akan dapat santai dan menikmati hari minggu. Sejatinya, engkau seharusnya merasa sedih bahwa engkau akan menyia-nyiakan waktu tanpa melakukan pekerjaan apapun di hari Minggu. Engkau harus menggunakan waktumu dengan cara yang benar. Jika engkau tidak memiliki pekerjaan untuk dilakukan, maka lakukanlah pelayanan sosial. Bantulah sesamamu. Hidup menjadi penuh arti hanya ketika engkau menggunakan waktu dengan baik. (Divine Discourse, Nov 19, 2002)


Monday, August 17, 2015

Thought for the Day - 17th August 2015 (Monday)

Whoever subdues egoism, conquers selfish desires, destroy one’s bestial feelings and impulses, and gives up the natural tendency to regard the body as the Self, is surely on the path of Dharma; they know that the goal of Dharma is the merging of the wave in the sea! In all worldly activities, you should be careful not to offend propriety, or the canons of good nature; you should not play false to the promptings of the Inner Voice, you should be prepared at all times to respect the appropriate dictates of conscience; you should watch your steps to see whether you are in someone else's way; you must be ever vigilant to discover the Truth behind all this scintillating variety. This is your duty, your Dharma. The blazing fire of Jnana, which convinces you that all this is Brahman (Sarvam Khalvidam Brahma) will consume into ashes all traces of your egoism, and worldly attachment.

Siapa pun yang mampu menundukkan egoisme, mengalahkan keinginan pribadi, menghancurkan perasaan dan dorongan hewaniah, dan meninggalkan kecenderungan alami untuk menganggap badan jasmani sebagai sang Diri, pasti berada di jalan Dharma; mereka mengetahui bahwa tujuan Dharma adalah menyatu dengan gelombang di laut! Dalam semua kegiatan duniawi, engkau seharusnya berhati-hati untuk tidak melanggar kesopanan, atau norma-norma/peraturan-peraturan; engkau seharusnya tidak memainkan kepalsuan yang merupakan bisikan dari suara batin, setiap saat engkau seharusnya siap untuk menghormati perintah yang sesuai dengan hati nurani; engkau seharusnya memperhatikan langkahmu untuk melihat apakah engkau berada di jalan lain; engkau seharusnya selalu waspada untuk menemukan Kebenaran di balik berbagai gemerlap duniawi ini. Inilah tugasmu, Dharma-mu. Kobaran api Jnana, meyakinkan engkau bahwa semua ini adalah Brahman (Sarvam Khalvidam Brahma) akan membakar menjadi abu semua jejak egoisme-mu, dan kemelekatan pada duniawi. (Dharma Vahini, Ch 1)


Sunday, August 16, 2015

Thought for the Day - 16th August 2015 (Sunday)

In spite of education and intelligence, a foolish person will not know one’s true Self, and an evil minded person will not give up wicked qualities. Modern education leads only to argumentation, not to true wisdom. What is the use of acquiring worldly education if it cannot lead you to immortality? Acquire that knowledge which will make you immortal. Modern education can help you only to eke out a livelihood. It is meant for a living and not for life. In fact, it is responsible for the present decline of morality in society. In olden days, people gave topmost priority to truth and righteousness. They considered divine love as their very life. The women of Bharat sacrificed their lives for the sake of truth. Women should develop the wealth of virtues and also safeguard the honor of their husbands and families. Both men and women should have good character. Without good character, all your learning will prove futile.

Meskipun dengan pendidikan dan kecerdasan, orang yang dungu tidak akan mengetahui dirinya yang sejati, dan seorang yang berpikiran jahat tidak akan melepaskan sifat-sifat jahatnya. Pendidikan modern hanya menuntun pada argumentasi dan bukan pada kebijaksanaan yang sesungguhnya. Apakah gunanya memperoleh pendidikan duniawi jika pendidikan ini tidak bisa menuntunmu pada keabadian? Dapatkanlah pengetahuan yang mana akan membantumu mendapatkan keabadian. Pendidikan modern dapat membantumu hanya untuk mencari mata pencaharian. Pendidikan dimaksudkan untuk penghidupan dan bukan untuk hidup dan pendidikan ini menjadi bertanggung jawab atas kemerosotan moral pada saat sekarang di masyarakat. Pada zaman dahulu, orang-orang memberikan prioritas yang paling utama pada kebenaran dan kebajikan. Mereka menganggap kasih Tuhan sebagai sebenarnya hidup mereka. Para wanita Bharat (India) menyucikan hidup mereka untuk kepentingan kebenaran. Para wanita seharusnya mengembangkan kekayaan kebajikan dan juga menjaga kehormatan suami dan keluarga mereka. Keduanya baik pria dan wanita seharusnya memiliki karakter yang baik. Tanpa adanya karakter yang baik maka semua pengetahuanmu benar-benar sia-sia. (Divine Discourse, Nov 19, 2002)


Saturday, August 15, 2015

Thought for the Day - 15th August 2015 (Saturday)

What is meant by Dharma? What is its essence? Can common people lead a happy life and survive if they stick to Dharma? These doubts confuse people’s minds in the course of their natural livelihood. Solving them is necessary, even urgent. As soon as the word Dharma is mentioned, people relate it to giving of alms, providing food and shelter to pilgrims, adherence to one's traditional profession or craft, law-abiding nature, the discrimination between right and wrong, the pursuit of one's innate nature over the freaks of one's own mind, the fruition of one's fondest desires, etc. Of course, it is a long, long time since the spotless countenance of Dharma has been tarnished beyond recognition. Now, who can cure the present blindness? All of you! All you need to do is to slay the six-fold beast of inner enemies, leading you on to disaster through the pulls of lust, anger, greed, delusion, pride and hate. Only then Dharma can be restored.

Apa yang dimaksud dengan Dharma? Apa yang menjadi intisarinya? Dapatkah orang biasa menuju pada sebuah hidup yang bahagia dan bertahan jika mereka berpegang pada Dharma? Keragu-raguan ini membingungkan pikiran orang-orang dalam proses kehidupan alami mereka. Memecahkan keragu-raguan ini adalah perlu dan bahkan sangat penting. Saat ketika kata Dharma diucapkan, orang-orang langsung mengaitkan dengan memberikan sedekah, menyediakan makanan, dan tempat tinggal bagi peziarah, ketaatan pada profesi masing-masing atau keahlian, taat terhadap hukum, kemampuan membedakan antara benar dan salah, mengejar jati dirinya yang ada diatas keajaiban dari pikiran seseorang, mewujudkan keinginannya yang terdalam, dsb. Tentu saja, ini adalah waktu yang sangat lama sejak wajah Dharma telah ternoda tanpa diketahui. Sekarang, siapa yang dapat menyembuhkan kebutaan yang terjadi saat sekarang? Semua dari kalian! Semua dari kalian perlu untuk menghancurkan enam musuh yang ada di dalam diri yang dapat membawamu pada malapetaka yang menarikmu dengan nafsu, amarah, ketamakan, khayalan, kesombongan, dan kebencian. Hanya dengan demikian Dharma dapat dipulihkan. (Dharma Vahini, Ch 1)


Thought for the Day - 14th August 2015 (Friday)

The happiness that one derives from virtues is far superior to the happiness that we get from the possession of wealth. Unfortunately the educated youth are striving for wealth, physical strength and friendship. But all these have little value without the wealth of character. For men or women, character is the foundation. If one lacks character, one becomes feeble in all other respects. People of those days strove for noble character. They were prepared to give up their very lives for a righteous cause. Women strived to uphold the honor of their husbands. The strength of an individual lies in one’s character, not in the wealth one earns. One should be prepared to face any hardship to lead a virtuous life. The country is in dire straits due to the absence of men and women of character. Materialistic wealth is not what we need today. We need to earn the wealth of virtues.

Kebahagiaan yang seseorang dapatkan dari kebajikan adalah jauh lebih besar daripada kebahagiaan yang kita dapatkan dari kekayaan yang kita miliki. Sangat disayangkan para pemuda yang terpelajar sedang berusaha dengan kuat untuk mendapatkan kekayaan, kekuatan fisik, dan persahabatan. Namun semuanya ini memiliki sedikit nilai tanpa adanya kekayaan karakter. Bagi para pria dan wanita, karakter-lah yang menjadi dasar. Jika seseorang kurang adanya karakter, seseorang menjadi lemah dalam segala hal lainnya. Orang-orang pada zaman dahulu berusaha untuk bisa mendapatkan karakter yang mulia. Mereka dipersiapkan untuk melepaskan kehidupan mereka untuk alasan kebajikan. Para wanita berusaha untuk menjunjung tinggi kehormatan suami mereka. Kekuatan seseorang terletak pada karakternya, dan bukan pada kekayaan yang dihasilkannya. Seseorang seharusnya dipersiapkan untuk menghadapi berbagai jenis kesulitan untuk menuju pada hidup yang luhur. Sebuah bangsa berada dalam keadaan yang menakutkan karena tidak adanya pria dan wanita berkarakter. Kekayaan material bukanlah apa yang kita perlukan saat sekarang. Kita memerlukannya untuk bisa mendapatkan kekayaan kebajikan. (Divine Discourse, 19-Nov-2002)


Thursday, August 13, 2015

Thought for the Day - 13th August 2015 (Thursday)

You must dedicate yourself to right conduct (Dharma) and always be engaged in righteousness (Dharma). Then you will live in peace and the world will enjoy peace. No one can acquire real peace, nor can they win the grace of the Lord through any means other than right conduct. Dharma is the foundation for the welfare of humanity; it is the only unchanging truth across all times. When Dharma fails to transform human life, the world will be afflicted by agony and fear, tormented by stormy revolutions. When the effulgence of Dharma fails to illumine human relationships, people will be shrouded in sorrow. All religions and scriptures expound Dharma and proclaim aloud the Glory of Dharma. The stream of Dharmic activity should never run dry; when its cool waters cease to flow, disaster is certain. God is the embodiment of Dharma; His Grace is won by Dharma.

Engkau harus mengabdikan dirimu pada kebajikan (Dharma) dan selalu melibatkan dirimu dalam kebaikan (Dharma). Maka engkau akan hidup dalam kedamaian dan dunia juga akan menikmati kedamaian. Tidak ada seorang pun yang bisa mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya, dan juga tidak bisa mendapatkan rahmat Tuhan melalui cara yang lainnya selain dengan kebajikan. Dharma adalah pondasi bagi kesejahteraan umat manusia; hanya dharma  satu-satunya kebenaran yang tidak berubah sepanjang waktu. Ketika Dharma gagal dalam merubah kehidupan manusia, dunia akan mengalami penderitaan yang mendalam dan ketakutan, disiksa oleh revolusi yang keras. Ketika cahaya dharma tidak mampu menerangi hubungan diantara manusia, maka orang-orang akan diselubungi dalam penderitaan. Semua agama dan naskah-naskah suci menguraikan secara terperinci tentang Dharma dan menyatakan dengan sangat jelas tentang kemuliaan Dharma. Aliran dari aktifitas Dharma seharusnya tidak pernah menjadi kering; ketika aliran air Dharma yang sejuk berhenti mengalir maka bencana pasti terjadi. Tuhan adalah perwujudan dari Dharma dan rahmat-Nya hanya bisa diperoleh dengan jalan Dharma. (Dharma Vahini, Ch 1)


Wednesday, August 12, 2015

Thought for the Day - 12th August 2015 (Wednesday)

No one is outside the Love of the Lord. The eighteen-year old boy is asked by the mother to go into the kitchen, take a plate and serve himself rice and curry and eat. The mother is not callous or unkind; she knows the capacity of the boy and treats him as he ought to be treated. For another son she accompanies to the kitchen, sits by his side and serves food to him. But she seats the third son on her lap and feeds with many a song in order to make the process pleasant for the child. Do not think that the mother is partial; no, she is only making use of her knowledge of the capacity of her children to make them progress. That is the nature of maternal love.

Tidak ada seorangpun yang berada di luar jangkauan kasih Tuhan. Seorang anak yang berusia 18 tahun diminta oleh ibunya untuk pergi ke dapur, mengambil piring dan melayani dirinya sendiri untuk mengambil nasi, kari, dan makan sendiri. Sang ibu bukan berarti tidak mempunyai perasaan atau tidak baik; sang ibu mengetahui kapasitas anaknya dan memperlakukannya sebagaimana ia harus diperlakukan. Untuk anaknya yang lain, sang ibu akan menemaninya ke dapur, duduk di sampingnya dan menyediakan makanan baginya. Namun, sang ibu menaruh anaknya yang ketiga di atas pangkuannya dan menyuapinya sambil menyanyikan lagu agar proses makan menjadi lebih nikmat bagi si kecil. Jangan berpikir bahwa sang ibu membeda-bedakan kasih; tidak, sang ibu hanya menggunakan pengetahuannya tentang kapasitas anaknya dan membuat mereka menjadi lebih berkembang. Itulah sifat kasih alami dari seorang ibu. (Divine Discourse, Sep 29, 1960)


Tuesday, August 11, 2015

Thought for the Day - 11th August 2015 (Tuesday)

Never yield to indolence or despair. Suffer loss and grief gladly, for they help to toughen your personality. The diamond is found amidst rocks; you will have to blast through the vein to get gold. Follow the strict regimen that the doctor enforces in order to make the medicine yield the best result. The battery of your ‘car’ is charged when you come to Puttaparthi or when you go to some other holy place. Or at least that should be the aim of the pilgrimage. Charge the battery of your spiritual effort and then, after you return home, do not keep the car idle. If you do, the battery will run down; take the car around and keep it going; then the battery will charge itself. So also, if you do not continue the holy company, the good attitude, bhajans, and remembering God’s Name as part of your life, all this charging will turn into a waste.

Jangan pernah menyerah pada kemalasan atau rasa putus asa. Terimalah kerugian dan penderitaan dengan senang hati, karena keduanya itu membantu untuk menguatkan kepribadianmu. Permata ditemukan diantara batu cadas; engkau harus meledakkan lapisan tanah untuk bisa mendapatkan emas. Ikutilah aturan yang diberikan oleh dokter dengan disiplin dalam upaya untuk membuat obat bisa memberikan hasil yang terbaik. Baterai dari ‘mobilmu’ diisi kembali ketika engkau datang ke Puttaparthi atau ketika pergi ke beberapa tempat suci. Atau setidaknya ini adalah menjadi tujuan dari perjalanan suci (perziarahan). Isi ulang baterai usaha spiritualmu dan kemudian setelah engkau kembali ke rumah jangan hanya menyimpan mobilmu dengan tanpa digunakan. Jika engkau melakukan ini maka baterainya akan cepat habis lagi; gunakan mobilmu dan biarkan terus bergerak; kemudian baterainya akan mengisi ulang sendiri. Begitu juga, jika engkau tidak melanjutkan pergaulan baik, sikap yang baik, bhajan, dan mengingat nama Tuhan sebagai bagian dari hidupmu, maka semua pengisian ulang akan menjadi sia-sia saja. (Divine Discourse, June 25, 1960)


Monday, August 10, 2015

Thought for the Day - 10th August 2015 (Monday)

Prema (pure love) is filial piety when directed towards parents, companionship when it flows towards friends, love when it is felt towards the partner, respect when it is expressed to elders, and affection when you are drawn towards children. Bhakthi (devotion) affects your acts in three forms: first, you do some acts consciously in order to express your love or give shape to the Premathat animates you; second, you do acts as dedicated offerings to enhance the glory of the Lord, in a spirit of worshipful humility, as if you are offering at His feet all that you are and all that you are capable of; and third you do acts which are full of Prematowards all, as part of your mere existence, automatically, without any tinge of violence upsetting the perfume of the act. One dedicated act leads on to all activity being dedicated; the Aananda you experience makes you feel that your effort has been worthwhile. That is the end, the aim and the inspiration.

Prema (cinta kasih yang suci) adalah sikap baik pada orang tua ketika ditujukan kepada orang tua, adalah persahabatan ketika ditujukan kepada sahabat, adalah kasih sayang ketika ditujukan kepada pasangan, adalah rasa hormat ketika ditujukan kepada yang lebih tua, dan adalah perasaan menyayangi ketika ditujukan kepada anak-anak. Bhakthi mempengaruhi tindakanmu dalam tiga bentuk: pertama, engkau melakukan berbagai tindakan dengan sadar dalam upaya untuk mengungkapkan cinta kasihmu atau memberi bentuk pada Cinta kasih suci yang menjiwaimu; kedua, engkau melakukan berbagai tindakan sebagai persembahan untuk mempertinggi kemuliaan Tuhan dalam semangat pemujaan dengan kerendahan hati, seolah-olah engkau mempersembahkan seluruh dirimu dan semua kemampuan yang engkau miliki di kaki padma-Nya; dan yang ketiga, engkau melakukan berbagai kegiatan yang sepenuhnya diliputi oleh cinta kasih yang suci kepada semuanya, dan merasakan semuanya sebagai bagian dari keberadaanmu dan secara otomatis tanpa sedikitpun adanya kekerasan yang merusak keharuman dari tindakan itu. Satu tindakan yang dipersembahkan akan menuntun pada persembahan dari semua tindakan; kebahagiaan yang engkau alami akan membuatmu merasakan usahamu telah memberikan manfaat. Inilah akhir, tujuan, dan inspirasi. (Sathya Sai Speaks, Sep 29, 1960)


Sunday, August 9, 2015

Thought for the Day - 9th August 2015 (Sunday)

Some people may laugh at devotional singing (Bhajans) and call it mere show and exhibition, and recommend instead quiet meditation in the silent recess of the shrine room. But coming out and doing Bhajan in company of others helps in removing egoism; one is not afraid nor ashamed to call out the Name of the Lord. One gets inspired by the devotion of others; the company of people with kindred sentiments helps to foster the tiny seedling from being scorched by the heat of derision. A person will sweep the floor of his room with a broom when nobody is looking on; but to do the same act when people are looking on requires some mastery over the ego. Jayadeva, Gouranga, Meera, Purandaradasa, Thyagaraja and the like sang their hearts out to the Lord and were thrilled at the thought of the Lord, because they had Love for God in such a pure and overpowering form. Selfless love fills your mind with joy and hope.

Beberapa orang mungkin menertawakan orang-orang yang melantunkan lagu-lagu kebhaktian (Bhajans) dan menyebut bhajan hanya sebagai pamer saja, dan mereka memberikan rekomendasi untuk melakukan meditasi dalam ketenangan dan keheningan di tempat suci. Namun dengan datang dan melakukan bhajan dengan banyak orang adalah membantu yang lainnya dalam menghilangkan rasa ego; karena dengan banyak orang maka mereka tidak takut dan malu untuk memanggil nama Tuhan. Selain itu, seseorang bisa mendapatkan inspirasi dari bhakti yang dimiliki oleh yang lainnya; pergaulan dari banyak orang dengan memiliki perasaan yang sama akan membantu semaian benih kecil untuk berkembang dari panas terik cemoohan yang menghanguskan. Seseorang akan menyapu membersihkan kamarnya dengan sebuah sapu ketika tidak ada seorangpun yang melihatnya; namun untuk melakukan hal yang sama ketika banyak orang melihatnya memerlukan beberapa kemampuan untuk menguasai ego. Jayadeva, Gouranga, Meera, Purandaradasa, Thyagaraja, dan mereka suka meluapkan perasaan hati mereka kepada Tuhan dan hati mereka bergetar dalam suka cita ketika tenggelam dalam memikirkan Tuhan. Hal ini karena mereka memiliki cinta kasih untuk Tuhan yang begitu suci dan sangat kuat. Cinta kasih yang tidak mementingkan diri sendiri memenuhi pikiranmu dengan suka cita dan harapan. (Divine Discourse, Sep 29, 1960)


Saturday, August 8, 2015

Thought for the Day - 8th August 2015 (Saturday)

Every village and town today is sick with animosities and petty quarrels. Even though many attempts have been made during the past years to better the lot of the common people, results have been far below expectations and expense. This is because of the absence of three requisites essential for all advancement: Dhairyam, Utsaham andAanandam(courage, enthusiasm and joy). Nature has sufficient beauty to instill awe and wonder, to impart courage, to inspire enthusiasm and fill you with joy! It is a type of false vairagyam(non-attachment) to close one’s eye to all the beauty, plenty, mercy that you receive from Mother Nature, and to run around in sorrow, bewailing your lot.Be thankful to the Lord for the chance given to you to serve others and yourselves, to witness His Glory and Grace, and look upon all as brothers and sisters.The virtues of the people are the treasures of the State; the remembrance of the name of the Lord is the root of all virtues.

Setiap desa dan setiap kota pada saat sekarang adalah sakit dengan rasa permusuhan dan pertengkaran kecil. Walaupun banyak usaha telah dilakukan selama beberapa tahun yang telah lewat ke arah yang lebih baik pada banyak orang, namun hasilnya masih jauh dari harapan dan pengorbanan. Hal ini dikarenakan tidak adanya tiga syarat penting untuk semua kemajuan: Dhairyam, Utsaham, dan Aanandam (keberanian, antusiasme, dan suka cita). Alam memiliki keindahan yang cukup untuk menanamkan kekaguman dan ketakjuban, untuk memberikan keberanian, untuk menginspirasi antusiasme, dan mengisimu dengan suka cita! Ini adalah jenis vairagyam palsu (ketidakterikatan) dengan menutup mata pada semua keindahan, kemakmuran, rahmat yang engkau terima dari ibu pertiwi, dan bersenang-senang dalam penderitaan serta banyak meratap. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kesempatan yang diberikan kepadamu untuk melayani yang lain dan juga dirimu sendiri, untuk menyaksikan kemulian dan rahmat-Nya, dan memandang semuanya sebagai saudara. Kebajikan semua orang adalah harta karun bagi bangsa; mengingat nama Tuhan adalah akar dari semua kebajikan. (Divine Discourse, Nov 23, 1960)