Monday, October 31, 2011

Thought for the Day - 31st October 2011 (Monday)

There are many snakes of wicked qualities in the anthill of your heart. When you loudly sing the Name of the Lord (Namasmarana), all the ‘snakes’ of bad qualities will come out. Namasmarana should be the very breath of your life. You must repeat God’s name in order for you to get rid of evil qualities. Today there are many who do not attach any importance to Namasmarana. It is a great mistake. In this Age of Kali only chanting of the Divine Name can redeem your lives. There is no other refuge. Singing the glory of the Lord is highly sacred. Keep your mind clear of evil thoughts as they will produce discordant notes. Only then will you become the recipient of divine grace and energy. You must sing the glory of God wholeheartedly without any inhibition. Then can you can certainly experience divine bliss.

Ada banyak 'ular' sifat-sifat buruk yang bersarang di hatimu. Ketika engkau dengan suara keras menyanyikan Nama Tuhan (Naamasmarana), semua 'ular' sifat-sifat buruk akan keluar dari dirimu. Naamasmarana hendaknya menjadi nafas kehidupanmu. Engkau harus mengulang-ulang Nama Tuhan untuk menyingkirkan sifat-sifat buruk yang bersemayam di dalam diri. Saat ini ada banyak orang yang tidak menganggap penting untuk melakukan Naamasmarana. Ini merupakan kekeliruan besar. Dalam zaman Kali ini hanya menchantingkan Nama Tuhan-lah yang dapat menyelamatkan hidupmu. Tidak ada perlindungan lain. Menyanyikan kemuliaan Tuhan sangatlah suci! Jagalah pikiranmu agar bersih dari pikiran buruk karena hal tersebut akan menimbulkan hal yang tidak selaras. Baru setelah itu engkau akan menerima berkat dan energi Tuhan. Engkau harus menyanyikan kemuliaan Tuhan dengan sepenuh hati tanpa hambatan apapun. Setelah itu engkau pasti akan mengalami kebahagiaan Ilahi.


Sunday, October 30, 2011

Thought for the Day - 30th October 2011 (Sunday)

It is hard for people to get rid of pride and self-love or ego (ahamkara), for they have been living in this manner from a very long period of time! Each has been allowing his mind to flow in the direction it likes for ages past. So it is very difficult now to turn it from its accustomed path and bend its steps in another direction. Cultivate the habit of never causing pain to others. You must reform your mental traits and habits. Try to understand others and sympathise with them and help them. Train yourself to take insult and criticism as “decorations” awarded to you. Be friendly with everyone, whatever their nature or conduct. A sense of joy is necessary for spiritual progress, but many things deprive you of the atmosphere of joy. So you must pray sincerely, in order to be free from such obstacles. The recital or repetition of prayers (mantras) will be of great help.

Sulit bagi orang-orang untuk menyingkirkan kesombongan dan ego (ahamkara), karena mereka telah hidup pada jalan ini dari periode yang sangat lama! Masing-masing telah membiarkan pikirannya mengalir ke arah itu sejak dahulu. Sehingga sangat sulit saat ini untuk mengubahnya dari jalan yang sudah terbiasa dilakukan dan membelokkannya ke jalan yang lain. Kembangkanlah kebiasaan dengan tidak pernah menyakiti orang lain. Engkau harus mengubah sifat-sifat mental dan kebiasaan-kebiasaanmu. Cobalah untuk memahami orang lain dan bersimpati pada mereka serta membantu mereka. Latihlah dirimu untuk menerima penghinaan dan kritik sebagai "dekorasi/ hiasan" yang diberikan padamu. Jalinlah persahabatan dengan semua orang, bagaimanapu sifat atau perilaku mereka. Perasaan sukacita diperlukan untuk kemajuan spiritual, tetapi banyak hal yang bisa menghilangkanmu dari suasana sukacita tersebut. Jadi, engkau harus berdoa dengan tulus, agar terbebas dari hambatan tersebut. Pengucapan atau pengulangan doa (mantra) akan sangat membantu.


Saturday, October 29, 2011

Thought for the Day - 29th October 2011 (Saturday)

You must take up the study of scriptures in an attitude of submission and expectancy. Every chapter in the Bhagavad Geetha lays down the means and methods of reaching the goal of peace and harmony, with emphasis on spiritual attitude and practices in life. The Geeta is a boat which takes man across from the self-imposed state of bondage to the freedom which is one’s nature, from darkness to light. The Geetha encourages the aspirant to aspire, not despair. One must persevere, not clamour for quick success. Truly speaking, every being has come into this field of activity (Karmakshetra) only to engage themselves in activity, not in order to earn the fruit of such activity. That is the fundamental lesson taught by the Geetha.

Untuk memahami Bhagawad Gita, engkau harus melatih sikap penyerahan diri dalam mempelajari kitab suci. Setiap bab dalam Bhagawad Gita menetapkan cara dan metode untuk mencapai tujuan yaitu kedamaian dan harmoni, dengan penekanan pada sikap spiritual dan praktek dalam kehidupan sehari-hari. Gita adalah sebuah perahu yang menyeberangkan manusia dari keterikatan menuju pembebasan yang merupakan sifat alami seseorang, serta menyeberangkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Gita mendorong para peminat spiritual untuk berusaha mencapai suatu kemajuan, bukan untuk keputus-asaan. Seseorang harus gigih dalam usahanya, tidak hanya menuntut untuk mencapai keberhasilan dengan cepat. Sesungguhnya, setiap makhluk telah datang untuk melakukan hal ini (Karmakshetra) hanya untuk melibatkan dirinya dalam berbagai aktivitas, bukan untuk mendapatkan buah dari pebuatan tersebut. Itulah pelajaran mendasar yang diajarkan oleh Gita.


Thought for the Day - 28th October 2011 (Friday)

Individuals full of ego love to exercise authority over others. They see everything through glasses coloured by the smoke of selfishness and self-love. “My words are true.” “My opinion is correct.” “My deeds are right.” Such behaviour is very harmful for spiritual aspirants. Aspirants must look forward eagerly to any objective criticism, or suggestion, or advice, from whatever quarter. Also, aspirants must minimise all discussion and argumentation as this breeds a spirit of rivalry and leads one on to angry reprisals and vengeful fighting. Do not struggle to earn the esteem of the world. Do not feel humiliated or angry when the world does not recognise you or your merits. Learn this first and foremost if you are an aspirant for spiritual success. Do not become happy when you are being praised; therein lies a deadly trap, which might even lead you astray and endanger your progress.

Individu-individu yang penuh ego menjalankan otoritas lebih dari orang lain. Mereka melihat segala sesuatu melalui kacamata yang diwarnai dengan asap egoisme. "Kata-kataku benar." "Pendapatku adalah benar". "Perbuatanku juga benar." Perilaku tersebut sangat berbahaya bagi para peminat spiritual. Para peminat spiritual harus melihat ke depan serta bisa menerima kritik, atau saran, atau nasehat, yang obyektif darimanapun juga. Para peminat spiritual, juga harus meminimalkan diskusi dan argumentasi karena hal tersebut bisa mengakibatkan persaingan dan bisa mengarahkan seseorang pada pembalasan dendam. Janganlah berusaha hanya untuk mendapatkan penghargaan dunia. Janganlah merasa terhina atau marah ketika dunia tidak mengenalimu atau jasa-jasamu. Inilah pelajaran pertama yang hendaknya engkau pelajari, terutama jika engkau ingin berhasil di jalan spiritual. Janganlah berbahagia ketika engkau sedang dipuji; di situlah letak perangkap yang mematikan, yang bahkan mungkin menyesatkanmu dan membahayakan kemajuan spiritualmu.


Thursday, October 27, 2011

Thought for the Day - 27th October 2011 (Thursday)

At the time of birth, one has no good or bad qualities. Changes occur in your nature due to the food consumed, the influence of associates etc. One develops ego and attachment through the company one keeps. As you get educated, you develop pride and entertain vainglorious thoughts about your superiority over others. This conceit pollutes the heart. When water gets mixed with milk, milk has to be boiled to make it pure. Likewise one has to undertake various spiritual practices (Sadhana) to purge the heart of impurities. It is only when the heart is melted in the heat of Divine love that you succeed in removing bad qualities. Be clear that you alone are the cause of your fortune, good or bad. God has no share in causing your suffering and you are free to shape your future. Then you will approach God with a firmer step and a clearer mind.

Pada saat lahir, seseorang tidak memiliki sifat yang baik atau buruk. Perubahan sifat-sifat tersebut terjadi karena makanan yang dikonsumsi, pengaruh teman, dll. Seseorang mengembangkan ego dan keterikatan melalui pergaulan dengan yang lainnya. Ketika engkau mendapatkan pendidikan, engkau mengembangkan kebanggaan dan mengembangkan dalam pikiranmu suatu kesombongan yang menganggap dirimu superior dibandingkan dengan yang lainnya. Kesombongan ini mencemari hatimu. Ketika air dicampur dengan susu, susu harus direbus untuk membuatnya murni. Demikian juga kita harus melakukan berbagai praktek-praktek spiritual (sadhana) untuk memurnikan hati kita. Engkau dikatakan berhasil menghilangkan sifat-sifat buruk, hanya ketika hati telah meleleh dalam panas cinta-kasih Ilahi. Jadi jelaslah bahwa hanya karena engkau sendirilah yang merupakan penyebab peruntunganmu, baik atau buruk. Tuhan tidaklah memberikan penyebab dalam penderitaanmu dan engkau bebas untuk membentuk masa depanmu. Jika engkau memahami hal ini, maka engkau akan mendekati Tuhan dengan keyakinan yang mantap dan pikiran yang lebih murni.