Tuesday, August 22, 2017

Thought for the Day - 22nd August 2017 (Tuesday)

Divine life is the very breath of all beings; it consists of truth, love, and nonviolence (Sathya, Prema and Ahimsa). How can anyone be false to another when there is no other at all? Falsehood comes out of fear. When there is no second, there is no fear at all. No one is loved more than the Self; so when all is the self-same Self, all is loved as the Self is loved. As for violence, who is to injure whom, when all are but one? You are all embodiments of Existence-Consciousness-Bliss (Sath-Chith-Ananda Swarupa), but you are unaware of it and imagine yourself to be subjected to this limitation or that! Explode this myth first so you can start leading a divine life. It is the Divine that inspires, activates, leads and fulfills the life of every being! From the atom to the Universe, every single entity is moving through the creeks only to merge in the sea of Bliss.


Hidup illahi adalah nafas hidup bagi semua makhluk hidup; hal ini terdiri dari kebenaran, kasih, dan tanpa kekerasan (Sathya, Prema, dan Ahimsa). Bagaimana seseorang bisa salah pada yang lainnya ketika tidak ada orang lain sama sekali? Kebohongan muncul dari rasa takut. Ketika tidak ada yang kedua, maka tidak ada rasa takut sama sekali. Tidak ada seorangpun yang dikasihi lebih daripada sang Diri; jadi ketika semuanya adalah Diri yang sama, semua dikasihi seperti Diri yang dikasihi. Sedangkan untuk kekerasan, siapa yang mencelakai siapa, ketika semuanya hanyalah satu? Engkau semua adalah perwujudan dari Eksistensi-Kesadaran-Kebahagiaan (Sath-Chith-Ananda-Swarupa), namun engkau tidak menyadari akan hal ini dan membayangkan dirimu sendiri mengalami keterbatasan ini atau itu! Pertama buktikan kesalahan mitos ini sehingga engkau dapat memulai menjalani hidup illahi. Adalah Tuhan yang menginspirasi, mengaktifkan, menuntun, dan memenuhi hidup dari setiap makhluk! Mulai dari atom sampai pada alam semesta, setiap entitas sedang bergerak melalui sungai kecil hanya untuk menyatu dalam laut kebahagiaan. (Divine Discourse, Venkatagiri, April 1957)

-BABA

Thought for the Day - 21st August 2017 (Monday)

The Lord is so full of Grace that He willingly guides and guards all who surrender to Him. When the battle with Ravana was over, one glance from Lord Rama’s merciful eye was enough to revive the monkeys who had fallen on the ground, and to heal the wounds they earned during the war. Some demons had penetrated into the monkey camp in disguise; they were brought before Rama for summary punishment! Lord Rama smiled and pardoned them, for they assumed the monkey form which was so dear to Him; He sent them away, unharmed! That was the measure of His mercy. To win the Lord’s bounteous grace, you must become permeated with righteousness (dharma) so that every act is God-worthy. With the sharp chisel of intellect (buddhi), shape the mind (manas) into a perfect image of Dharma-murthi, the idol (or embodiment) of righteousness. Then you will shine with the splendour of the Divine. That is the task you should dedicate yourself to today.


Tuhan adalah penuh dengan karunia dimana Beliau dengan suka rela menuntun dan menjaga semua yang berserah diri kepada-Nya. Ketika pertarungan Ravana telah selesai, satu tatapan dari Rama yang penuh dengan welas asih adalah cukup untuk menghidupkan kembali para kera yang tergeletak di atas tanah dan menyembuhkan luka-luka akibat dari peperangan. Beberapa raksasa telah menyamar dan masuk ke dalam kemah para kera; dan mereka ditangkap dan dibawa kehadapan Sri Rama untuk mendapatkan hukuman! Sri Rama tersenyum dan memaafkan mereka, karena mereka menganggap bahwa wujud kera yang disayang oleh Sri Rama; Sri Rama mengusir mereka jauh dan tidak disakiti! Itu adalah ukuran dari welas asih-Nya. Untuk bisa mendapatkan karunia Tuhan yang maha pemurah, engkau harus diliputi sepenuhnya dengan kebajikan (dharma) sehingga setiap perbuatan adalah layak untuk Tuhan. Dengan pahat intelek yang tajam (buddhi), bentuklah pikiran (manas) menjadi wujud yang sempurna dari Dharma-murthi, perwujudan dari kebajikan. Kemudian engkau akan bersinar dengan kemegahan illahi. Itu adalah tugas yang seharusnya engkau dedikasikan untuk hari ini. (Divine Discourse, Jan 11,1966)

-BABA

Sunday, August 20, 2017

Thought for the Day - 20th August 2017 (Sunday)

How to lead a divine life? No special membership entitles you to it. Every struggle to realise the unity behind all the multiplicity is a step on the path of divine life. Divine life does not admit of the slightest dross in character or delusion in intellect. Wipe out the root causes of anxiety, fear and ignorance. Then only can your true personality shine forth. Anxiety is removed by faith in the Lord; the faith that tells you that whatever happens is for the best and that the Lord’s Will be done. Quiet acceptance is the best armour against anxiety. Sorrow springs from egoism, the feeling that you do not deserve to be treated so badly, that you are left helpless. When egoism goes, sorrow disappears. Ignorance is just a mistake, mistaken identity of the body as the Self! In fact, you must each one try to become egoless, and then the Lord will accept you as His flute.


Bagaimana menjalani hidup illahi? Tidak ada keanggotaan khusus yang memberikan hak padamu untuk itu. Setiap usaha untuk menyadari kesatuan dibalik semua keanekaragaman adalah sebuah langkah pada jalan hidup illahi. Hidup illahi tidak memungkinkan sedikitpun adanya sampah dalam karakter atau khayalan dalam intelek. Bersihkan akar penyebab dari kecemasan, ketakutan, dan kebodohan. Hanya demikian kepribadianmu yang sejati dapat bersinar seterusnya. Kecemasan dihilangkan dengan keyakinan kepada Tuhan; keyakinan yang mengatakan kepadamu bahwa apapun yang terjadi adalah untuk yang terbaik dan kehendak Tuhan akan terjadi. Penerimaan yang tenang adalah perisai terbaik melawan kecemasan. Penderitaan muncul dari egoisme, perasaan bahwa engkau tidak layak diperlakukan begitu buruk, bahwa engkau ditinggalkan tanpa harapan. Ketika ego itu pergi maka penderitaan akan menghilang. Kebodohan hanyalah sebuah kesalahan, kesalahan dengan menganggap tubuh adalah sebagai diri yang sejati! Sebenarnya, setiap orang darimu harus mencoba menjadi tanpa ego dan kemudian kehendak Tuhan akan menerimamu sebagai seruling-Nya. (Divine Discourse, Venkatagiri, April 1957)

-BABA

Thought for the Day - 19th August 2017 (Saturday)

Many people waste time discussing the superiority of one path over another, especially between karma, bhakti and jnana margas. These three paths - Work, Worship and Wisdom - are complementary, not contradictory. Work is like the feet, Worship, the hands, and Wisdom, the head. These three must co-operate. Bhakti marga is the name given to the path of surrender to the Lord's will (saranagathi), the merging of the individual will in the Divine Will. Lakshmana is the classic example of this spirit of surrender that saves. Once during his exile in the forest, Rama asked Lakshmana to put up a thatched-hut on a site of his choice. Lakshmana was shocked and was struck down with grief. He pleaded with Rama: "Why do you ask me to select the site? Don't you know that I have no will of my own. You decide and I obey; you command, I carry out the order." That is real surrender, acquired by constant practice of detachment.


Banyak orang yang menyia-nyiakan waktunya dengan mendiskusikan kehebatan satu jalan dengan jalan yang lainnya, khususnya diantara Karma, Bhakti, dan Jnana marga. Ketiga jalan ini - kerja, ibadah, dan kebijaksanaan – adalah saling melengkapi dan bukan bertentangan. Kerja adalah seperti kaki, ibadah adalah tangan, dan kebijaksanaan adalah kepala. Ketiganya harus saling bekerja sama. Bhakti marga adalah nama yang diberikan pada jalan berserah diri pada kehendak Tuhan (saranagathi), menyatunya kehendak individu dalam kehendak Tuhan. Lakshmana adalah teladan klasik dalam semangat berserah diri yang menyelamatkan. Suatu hari pada saat pengasingan di dalam hutan, Rama meminta Lakshmana untuk membangun pondok dari jerami di tempat sesuai pilihannya. Lakshmana menjadi terkejut dan menjadi sangat bersedih. Ia memohon kepada Rama: "Mengapa Engkau memintaku untuk memilih tempatnya? Tidakkah Engkau tahu bahwa aku tidak memiliki keinginanku sendiri. Engkau yang memutuskan dan aku yang akan mengikutinya; Engkau perintahkan, aku akan menjalankan perintah itu." Itu adalah berserah diri yang sejati, didapat dengan latihan secara terus menerus dari tanpa keterikatan. (Divine Discourse, Jan 11,1966)

-BABA

Friday, August 18, 2017

Thought for the Day - 18th August 2017 (Friday)

The bee hovers around the lotus, then sits on it and enjoys the nectar; while drinking, it is silent, steadfast, focussed, and forgets the world. People too behave like that when they are in the presence of God. The hum of the bee stops and is silent as soon as it sips the nectar. People too, argue and assert their opinion, only until they discover the sweet Divine Essence (rasa). That rasa is prema-rasa (the essence of love). Where there is love, there can be no fear, no anxiety, no doubt, and no restlessness (ashanthi). When you are afflicted with ashanthi you can be sure that your love is tainted with selfishness and your love has some ego mixed in it. The one that experiences divine love is the inner ‘I’, which is the reflection of the real ‘I’, the Soul (Atma). Senses are your deadly foes. When your senses are out of action, then the ‘I’ will shine in its full glory.


Lebah terbang melayang dekat di sekitar bunga teratai, kemudian hinggap di atas bunga itu dan menikmati nektar yang ada; ketika sedang menikmati nektar itu, lebah itu hening, tidak tergoyahkan, fokus dan lupa dengan dunia. Manusia juga seharusnya bertingkah laku seperti itu ketika mereka ada dalam kehadiran Tuhan. Suara dengung dari lebah berhenti dan keheningan terjadi saat mengisap nektar itu. Manusia juga masih tetap berdebat dan memaksakan pendapat mereka hanya sampai mereka menemukan rasa manis dari saripati Tuhan (rasa). Rasa itu adalah prema-rasa (saripati kasih sayang). Dimana ada kasih, disana tidak akan ada ketakutan, tidak ada kecemasan, tidak ada keraguan dan tidak ada kegelisahan (ashanthi). Ketika engkau terkungkung dalam kegelisahan (ashanthi) maka itu dapat dipastikan bahwa kasihmu dinodai oleh sifat mementingkan diri sendiri dan kasihmu telah tercampur dengan ego di dalamnya. Seseorang yang mengalami kasih Tuhan adalah ‘Aku’ di dalam diri, yang merupakan pantulan dari ‘Aku’ yang sejati yaitu sang jiwa (Atma). Indria adalah musuhmu yang mematikan. Ketika indriamu tidak beraksi, kemudian ‘Aku’ akan bersinar dengan penuh kemuliannya. (Divine Discourse, Feb 26, 1968)

-BABA

Thursday, August 17, 2017

Thought for the Day - 17th August 2017 (Thursday)

A thirsty passenger asked the water-carrier at an up-country railway station whether his leather bag was clean. The reply he got was, "As regards cleanliness, all I can say is that the bag which pours is cleaner than the bag which takes in (the body of the thirsty man)." You must care more for the cleanliness of your own mind and intellect. Instead of criticising others and finding faults with the actions of others, subject yourself to vigilant scrutiny, understand yourself well, and correct your own faults; do not be like the dancer who blamed the drummer for her wrong steps. This objective world is as ageless as God; we cannot determine when it came into being but we can determine when it will end, at least for each of us. When you look into the well, your reflection is always there; so far as you are concerned, your reflection can be removed from the well the moment you decide you will no more seek the well, or pay attention to it.


Seorang penumpang yang kehausan menanyakan penjinjing air di sebuah stasiun kereta api di negeri itu apakah tas kulitnya bersih. Jawaban yang ia dapatkan adalah, "mengenai kebersihan, semua yang dapat saya katakan adalah bahwa tas yang mempersiapkan dan melayani adalah lebih bersih daripada tas yang menerima dan makan (tas ini artinya tubuh dari orang yang haus itu)." Engkau harus lebih peduli pada kebersihan dari pikiranmu dan intelekmu sendiri. Daripada mengkritik yang lain serta mencari kesalahan dari perbuatan yang lain, bukalah dirimu pada penyelidikan yang cermat, pahami dirimu dengan baik, dan perbaiki kesalahanmu sendiri; jangan menjadi seperti penari yang menyalahkan pemain drum untuk langkahnya yang salah. Dunia yang obyektif ini adalah sama kekalnya dengan Tuhan; kita tidak bisa menentukan kapan hal ini terjadi namun kita dapat menentukan kapan ini akan berakhir, setidaknya untuk setiap orang dari kita. Ketika engkau melihat ke dalam sumur, bayanganmu akan selalu ada disana; sepanjang yang engkau tahu, bayanganmu dapat dihilangkan dari sumur pada saat engkau memutuskan engkau tidak akan lagi mencari sumur atau memberikan perhatian pada sumur itu lagi. (Divine Discourse, Aug 19, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 16th August 2017 (Wednesday)

The Gopis knew the secret of spiritual surrender. Their worship was not tainted by any bargaining spirit. For those who bargain and crave for profit, for whom reverence is equated with returns, ‘sell’ homage for a unit satisfactory response. They are like paid servants, bargaining salary, overtime, bonus, etc. They calculate how much they are able to extract for the service rendered. On the other hand, be like a member of the family, a kinsman, a friend. Feel that you are Lord's very own. Then work will not tire you, it will be done much better, and in fact will yield more satisfaction. And what about the wages? The master will maintain you in bliss. What more can you aspire for? Leave the rest to Him. He knows best; He is all. The joy of having Him is enough reward. Live your lives on these lines and you will never suffer grief. “Na me bhaktah pranashyati - My devotees never suffer,” says Krishna.


Para Gopi mengetahui rahasia dari penyerahan diri secara spiritual. Ibadah mereka tidak dinodai oleh keinginan untuk tawar-menawar. Bagi mereka yang tawar-menawar dan menginginkan keuntungan, mereka menjual kehormatan begitu banyak untuk mendapatkan balasan kepuasan. Mereka dibayar seperti pelayan, berteriak minta upah, tunjangan lembur, bonus, dsb. Mereka menghitung berapa banyak mereka dapat ambil dari pelayanan yang diberikan. Sebaliknya, jadilah seperti anggota dalam keluarga, sanak keluarga, sahabat. Rasakan bahwa engkau adalah milik Tuhan sendiri. Kemudian kerja tidak akan melelahkanmu, ini akan dilakukan jauh lebih baik dan sejatinya akan memberikan lebih banyak kepuasan. Dan bagaimana dengan upahnya? Tuhan akan menjagamu dalam kebahagiaan. Apa lagi yang bisa diinginkan oleh seseorang? Tinggalkan sisanya kepada-Nya. Beliau mengetahui yang terbaik; Beliau adalah segalanya. Suka cita dengan memiliki-Nya adalah hadiah yang sudah cukup. Jalani hidupmu dalam alur ini dan engkau tidak akan pernah menderita kesedihan. “Na me bhaktah pranashyati – Bhakta-Ku tidak pernah menderita,” kata Sri Krishna. (Divine Discourse, Aug 19, 1965)

-BABA

Tuesday, August 15, 2017

Thought for the Day - 15th August 2017 (Tuesday)

Today is Gokulashtami, Krishna's birthday. Celebrating it with special dishes is not that important. More important is adherence to Krishna's teachings. Where was Lord Krishna born? In a prison! What were his possessions? Nothing! Born in a prison, He was taken to the house of Nanda and then to Mathura. He owned nothing. But He became the greatest leader in the world. What does this show? Worldly possessions are not the secret of achieving greatness. Krishna's greatness was in his permanent state of bliss (Ananda). Lord Krishna gave a perennial message to the world - He sought and kept nothing for Himself, but gave away everything. He slayed his maternal uncle, Kamsa, but did not covet the kingdom; he installed on the throne Kamsa's father Ugrasena. He helped the Pandavas defeat Kauravas and crowned Dharmaja as the emperor. He was the king of kings who rules the hearts of millions!


Hari ini adalah Gokulashtami, ulang tahun Sri Krishna. Merayakannya dengan hidangan spesial tidaklah begitu penting. Yang lebih penting adalah kepatuhan terhadap ajaran Sri Krishna. Dimanakah Sri Krishna lahir? Di dalam penjara! Apa miliknya? Tidak ada! Lahir di penjara, Dia dibawa ke rumah Nanda dan kemudian ke Mathura. Dia tidak memiliki apa-apa. Tapi dia menjadi pemimpin terbesar di dunia. Apa ini pertunjukan? Kepemilikan duniawi bukanlah rahasia untuk mencapai kebesaran. Kebesaran Krishna berada dalam keadaan kebahagiaannya yang tetap (Ananda). Krishna memberikan pesan abadi kepada dunia - Dia mencari dan menyimpan apa pun untuk diri-Nya sendiri, namun menyerahkan segalanya. Dia membunuh paman ibunya, Kamsa, tapi tidak mengingini kerajaan; Dia memasang takhta Kamsa ayah Ugrasena. Ia membantu Pandawa mengalahkan Kaurava dan menobatkan Dharmaja sebagai kaisar. Dia adalah raja yang memerintah hati jutaan orang! (Divine Discourse, Sep 4, 1996)

-BABA

Thought for the Day - 14th August 2017 (Monday)

From the most ancient times Bharatiyas (Indians) considered Truth as God, loved it, fostered it, protected it and thereby achieved Divinity. They were devoted to Truth, wedded to Dharma (Righteousness) and regarded morality in society as their foremost duty. Today because people have forgotten Truth and Righteousness they are unable to solve national problems or end communal differences. We have the Bay of Bengal in the east and the Arabian Sea in the west and both merge in the Indian Ocean. Likewise, Bharat exemplifies the combination of worldly prosperity and spiritual progress. Bharat is the country, where the unity of the Jiva (the individual Spirit) and the Brahman (the Cosmic Spirit) was established. Remember, the term Bharat does not relate to any particular individual or country. True Bharatiyas are those who take delight in Self-knowledge. Hence anyone who shines by their own self-luminous power is a Bharatiya.


Dari zaman dahulu Bharatiya (orang India) menganggap kebenaran sebagai Tuhan, mencintainya, mengembangkannya, melindunginya dan maka dari itu mencapai keillahian. Penduduk India mengabdi pada kebenaran, menyandingkannya dengan Dharma (kebajikan) dan menganggap moralitas dalam masyarakat sebagai kewajiban mereka yang utama. Pada saat sekarang karena orang-orang telah melupakan kebenaran dan kebajikan maka mereka tidak mampu untuk mengatasi masalah nasional atau mengakhiri perbedaan yang terjadi. Kita memiliki teluk Bengal di timur dan lautan Arab di barat dan keduanya menyatu di lautan India. Sama halnya, Bharat menunjukkan kombinasi dari kesejahteraan duniawi dan kemajuan spiritual. Bharat adalah negara dimana kesatuan dari jiwa individu dan Tuhan ditegakkan. Ingatlah, istilah Bharat tidak terkait dengan individu atau bangsa tertentu saja. Bharatiya (orang India) yang sejati adalah mereka yang suka dalam pengetahuan diri. Oleh karena itu siapapun yang bersinar dengan kekuatan cahayanya sendiri adalah Bharatiya. (Divine Discourse, Nov 23,1990)

-BABA

Sunday, August 13, 2017

Thought for the Day - 13th August 2017 (Sunday)

Develop discrimination and evaluate even your own needs and wishes. Examine each on the touchstone of essentiality. When you pile up things in your apartments, you only promote darkness and dust; so also, do not collect and store too many materials in your mind. Travel light! Have just enough to sustain life and maintain health. The pappu (a lentils dish) must have only enough uppu (salt) to make the dish tasty. Do not spoil the dish by adding too much salt. Similarly, life becomes too difficult to bear if you put into it too much desire. Limit your desires to your capacity and even among them, have only those that will grant lasting joy. Do not run after fashion and public approval and strain your resources beyond repair. Also live in accordance with the code of rules that regulate life or the stage you have reached.


Kembangkan kemampuan membedakan dan mengevaluasi bahkan untuk kebutuhan dan keinginanmu sendiri. Periksa setiap keinginan itu pada batu uji nilai yang mendasar. Ketika engkau menumpuk barang di dalam apartemenmu, engkau hanya menjadikan ruangan itu gelap dan berdebu; begitu juga, jangan mengumpulkan dan menyimpan begitu banyak hal di dalam pikiranmu. Lakukan perjalanan dengan ringan! Miliki cukup hanya untuk menopang hidup dan menjaga kesehatan. Pappu (makanan lentil) harus hanya diberikan cukup uppu (garam) untuk membuatnya menjadi makanan yang enak. Jangan merusak makanan itu dengan menambahkan terlalu banyak garam. Sama halnya, hidup menjadi terlalu sulit untuk dijalani jika engkau menaruh ke dalamnya terlalu banyak keinginan. Batasi keinginanmu sampai pada kapasitasmu dan bahkan diantara keinginan itu, miliki hanya keinginan yang akan memberikanmu suka cita yang kekal. Jangan mengejar mode dan pengakuan umum dan menggunakan sumber dayamu sampai tidak dapat dipulihkan kembali. Hiduplah sesuai dengan pedoman yang mengatur kehidupan atau tahapan yang telah engkau capai. (Divine Discourse, Aug 19, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 12th August 2017 (Saturday)

Life is a tree of delusion, with all its branches, leaves and flowers of maya. You can realise it as such when you do all acts as dedicated offerings to please God. Without knowing this secret of transmuting your every act into sacred worship, you suffer from disappointment and grief. See Him as the sap through every cell as the Sun warms and builds its every part. See Him in all, worship Him through all, for He is all! Engage in any righteous activity, and fill it with devotion: remember it is only devotion that sanctifies the activity! A piece of paper is almost trash but if a certificate is written on it, you value it and treasure it; it becomes a passport for promotion in life. It is the bhava (feeling behind) that matters, not the bahya (outward pomp); it is the feeling that is important, not the activity.


Hidup adalah pohon khayalan dengan seluruh cabang, daun dan bunganya adalah maya. Engkau dapat menyadari hal ini pada hakekatnya ketika engkau melakukan semua perbuatan sebagai dedikasi persembahan untuk menyenangkan Tuhan. Tanpa mengetahui rahasia ini untuk mengubah setiap perbuatanmu ke dalam ibadah yang suci, engkau menderita dari kekecewaan dan duka cita. Lihatlah Tuhan sebagai getah yang melalui setiap sel seperti halnya matahari menghangatkan dan membangunnya dalam setiap bagian. Lihatlah Beliau dalam semuanya, pujalah Beliau melalui semuanya karena Beliau adalah segalanya! Libatkan diri dalam berbagai kegiatan yang baik, dan isilah dengan bhakti; ingatlah bahwa hanya bhakti yang dapat menyucikan perbuatan! Sehelai kertas hampir menjadi sebuah sampah namun jika kertas itu ditulis dengan penghargaan sebagai sertifikat maka engkau menghargainya; ini menjadi sebuah bagian untuk dapat mempromosikan dirimu dalam kehidupan. Ini adalah sebuah bhava (perasaan) yang ada dibalik hal itu, dan bukan bahya (kemegahan di luar); adalah perasaan yang penting dan bukan kegiatan. (Divine Discourse, Jan 11, 1966)

-BABA

Saturday, August 12, 2017

Thought for the Day - 11th August 2017 (Friday)

If you keep awake throughout the twelve hours on Shivarathri due to illness, that vigil will not win His favour. If you quarrel with your spouse and desist from food for one full day, it will not be recorded in the book of God as a fast. If you lose yourself in the depths of unconsciousness after a bout of drinking, you will not be counted as a person who has achieved Samadhi (spiritual trance). No bhokta (enjoyer) can be a bhakta (devotee); that is to say, one who has an eye on the profit that can be derived from service to God cannot be a true devotee. Such people praise the Lord to the skies one day and decry Him the next when their fortune gets dry. Treasure in your hearts the Amrita Vakyas (immortality granting message) that you have heard in spiritual discourses; ponder over them in the silence of your meditation and endeavour to realise the precious goal of this invaluable human birth.


Jika engkau terjaga selama 12 jam pada saat Shivaratri disebabkan karena sakit maka berjaga-jaga saat itu tidak akan bisa mendapatkan rahmat-Nya. Jika engkau bertengkar dengan pasanganmu dan menolak makan dalam satu hari penuh maka hal ini tidak akan dicatat sebagai puasa oleh Tuhan. Jika engkau kehilangan kesadaranmu karena banyak minum-minuman keras, engkau tidak akan disebut sebagai seseorang yang telah mencapai samadhi (keadaan tidak sadarkan diri dalam spiritual). Tidak ada bhokta (penikmat) dapat menjadi seorang bhakta; itulah dikatakan bahwa seseorang yang memiliki pandangan mencari keuntungan yang bisa didapatkan dari pelayanan kepada Tuhan, tidak bisa menjadi bhakta yang sejati. Orang-orang seperti itu memuji Tuhan sampai ke langit di satu hari dan mengutuk Tuhan saat keberuntungannya menjadi kering. Harta karun di dalam hatimu yaitu Amrita Vakya (pemberian pesan keabadian) yang telah engkau dengar dalam wacana spiritual; renungkanlah semuanya itu dalam keheningan meditasimu dan berusaha untuk menyadari tujuan yang berharga dari kelahiran manusia yang tidak terhingga nilainya. (Divine Discourse, Aug 19, 1964)

-BABA

Thursday, August 10, 2017

Thought for the Day - 10th August 2017 (Thursday)

If you go on a pilgrimage like a picnic, without the mental preparation necessary to receive God’s Grace, your travel is only for sight-seeing, not to strengthen your spiritual inclinations! Your journey is like that of a postal article, collecting impressions on the outer wrapper, not on the core of your inner being. A visually impaired person does not worry about day and night. So too, you cannot differentiate one place from another, if you do not allow the holiness to act on your mind. As a result of pilgrimages, your habits must change for the better; your outlook must widen; your inward look must become deeper and steadier. You must realise the omnipresence of God and the oneness of humanity. You must learn tolerance and patience, charity and service. After your pilgrimage, in your homes, ruminate over all the splendid experiences and be determined to strive for the higher and richer experience of God-realisation.


Jika engkau pergi melakukan perziarahan seperti halnya piknik tanpa adanya persiapan mental yang diperlukan untuk mendapatkan rahmat Tuhan maka perjalananmu hanyalah tamasya saja dan bukan untuk menguatkan kecendrungan spiritual! Perjalananmu adalah seperti barang-barang pos yang pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, mengumpulkan kesan bungkusan luar saja, namun bukan untuk inti batin di dalam dirimu. Orang yang mengalami gangguan penglihatan tidak cemas akan siang dan malam. Begitu juga, engkau tidak bisa membedakan satu tempat dengan yang lainnya, jika engkau tidak mengijinkan kesucian  dari tempat itu memberikan dampak dalam pikiranmu. Sebagai hasil dari perziarahan, kebiasaanmu harus berubah untuk yang lebih baik; pandanganmu harus lebih luas; pandanganmu ke dalam harus menjadi lebih mendalam dan mantap. Engkau harus menyadari kehadiran Tuhan dimana saja dan kesatuan dalam kemanusiaan. Engkau harus belajar toleransi dan kesabaran, derma dan pelayanan. Setelah perziarahanmu, duduklah di dalam rumahmu, merenungkan kembali semua pengalaman yang menyenangkan dan bertekad untuk berusaha mencapai pengalaman yang lebih tinggi dan kaya dalam kesadaran Tuhan. (Divine Discourse, Feb 28, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 9th August 2017 (Wednesday)

The conclusion of a Saptah (seven days long discourse) is called Samapti. But the term Samapti has a profound meaning for it too. It means, the attainment (Aapti) of Samam (Brahman or Divinity). That is the final fruit of listening, recapitulation and absorption (sravana, manana and nididhyasana) of spiritual lessons and discourses. In the worldly sense, it means the conclusion of a series of sessions; in the spiritual sense, it means transcending time! What is the sum and substance of all spiritual endeavour? It is that you must give up your pursuit of sensory objects in your seeking for lasting peace and joy. Material wealth brings along with it not only joy but grief as well. Accumulation of riches and multiplication of wants lead only to alternation between joy and grief. Attachment is the root of both joy and grief; detachment is the Saviour.


Kesimpulan dari Saptah (wacana tujuh hari) disebut dengan Samapti. Namun istilah Samapti memiliki makna yang mendalam untuk hal ini juga. Artinya, pencapaian (Aapti) dari Samam (Brahman atau keillahian). Itu adalah hasil terakhir dari mendengarkan, merenungkan isinya dan tahap meresapi isinya (sravana, manana dan nididhyasana) dari pelajaran spiritual dan wejangan yang disampaikan. Dalam arti duniawi, ini berarti kesimpulan dari serangkain seri tujuh hari ini; dalam makna spiritual, ini berarti melampaui waktu! Apa yang menjadi hal yang utama dari semua usaha spiritual? Ini adalah engkau harus melepaskan pengejaran objek-objek indria dalam pencarianmu pada kedamaian dan suka cita yang kekal. Kekayaan material membawa serta tidak hanya suka cita tapi juga duka cita. Timbunan kekayaan dan bertambahnya keinginan menuntun hanya pada pergantian diantara suka cita dan duka cita. Keterikatan adalah akar dari suka dan duka cita; tanpa keterikatan adalah sebagai juru selamat. [Divine Discourse - August 19, 1964]

-BABA

Thought for the Day - 8th August 2017 (Tuesday)

Dhana (Money) is the currency of the world; Sadhana (spiritual practices) is the currency of the spirit. When self-styled devotees come to you with their lists and books seeking donations, do not offer them any money. Why do you need a hall to meditate or repeat the Lord’s Name (dhyana or namasmarana)? The presence of others with unlike intentions will more often be a hindrance rather than help; instead make your home a temple, meditate in your own shrine room. Sing bhajans lovingly in your own home! Above all, be an example to others through your conduct - practice soft loving and truthful speech, be humble, and show reverence to elders. Live with faith, steadfastness and truthfulness. That way you will bring more people into the fold of theism than by establishing societies, collecting donations and running temples. Remember, the Lord really cares for sincerity, simplicity and steady joy in the contemplation of His name and form; nothing else!


Dhana (uang) adalah mata uang dari dunia; Sadhana (latihan spiritual) adalah mata uang dari jiwa. Ketika bhakta gadungan datang padamu dengan daftar dan buku untuk meminta sumbangan, jangan memberikan mereka uang. Mengapa engkau memerlukan sebuah aula untuk melakukan meditasi atau mengulang-ulang nama Tuhan (dhyana atau namasmarana)? Kehadiran orang lain dengan tujuan yang berlawanan lebih banyak menjadi penghalang daripada membantu; sebaliknya buatlah rumahmu menjadi tempat suci, meditasi di ruang pujamu sendiri. Lantunkan bhajan dengan penuh bhakti di rumahmu sendiri! Diatas semuanya, jadilah teladan bagi yang lainnya melalui tingkah lakumu – ucapkan perkataan yang lembut dan penuh kebenaran, rendah hati, dan perlihatkan rasa hormat kepada yang lebih tua. Hiduplah dengan keyakinan, ketabahan dan penuh kebenaran. Caramu ini akan membawa banyak orang pada jalan keTuhanan daripada dengan membangun masyarakat, mengumpulkan sumbangan dan menjalankan tempat suci. Ingatlah, Tuhan benar-benar peduli pada ketulusan, kesederhanaan dan suka cita yang mantap dalam perenungan akan Nama dan wujud-Nya; tidak ada yang lainnya! [Divine Discourse - August 19, 1964]

-BABA

Monday, August 7, 2017

Thought for the Day - 7th August 2017 (Monday)

A millionaire pays income-tax with tears in his eyes; a headmaster joyfully gives up the furniture and laboratory appliances of his school when he is transferred to some other place. Why? Because the headmaster knows that he is only the caretaker, not the owner. He is not attached to these articles; he knows that they belong to the government. So too, feel that your family, house, property, car, etc. are all the Lord's property and that you are only the trustee; be ready to give them up without a murmur at a moment's notice. Sacred scriptures contain the drugs to cure attachment and endow you with the strength of detachment. Sacrifice (Tyaga) does not mean that you should not value things; you may even care for them. But always remember that they are transient, that the joy they give is trivial and temporary. Know their real worth; do not over-estimate them. Do not develop attachment (moha) towards them.


Seorang jutawan membayar pajak penghasilan dengan tetesan air mata; seorang kepala sekolah penuh suka cita melepaskan semua perabotan dan perlengkapan laboratorium yang ada di sekolahnya ketika ia dipindahkan ke tempat yang lainnya. Mengapa? Karena kepala sekolah mengetahui bahwa ia hanya seorang pengurus saja dan bukan pemiliknya. Ia tidak terikat dengan barang-barang ini, ia mengetahui bahwa barang-barang itu milik pemerintah. Begitu juga, rasakan bahwa keluarga, rumah, kekayaan, mobil, dsb semuanya adalah milik Tuhan dan engkau hanya sebagai penjaganya saja; bersiaplah melepaskan semuanya itu tanpa mengeluh pada saat pemberitahuan itu. Naskah suci mengandung obat untuk menyembuhkan keterikatan dan memberikanmu kekuatan untuk tidak terikat. Pengorbanan (Tyaga) tidak berarti bahwa engkau tidak menghargai benda-benda itu; engkau mungkin peduli dengan benda-benda itu. Namun selalu ingat bahwa semua benda-benda itu adalah bersifat sementara, bahwa suka cita yang diberikan oleh benda-benda itu juga adalah sementara. Ketahuilah manfaatnya yang sebenarnya; jangan terlalu memperhatikan semuanya itu. Jangan mengembangkan keterikatan (Moha) kepada semuanya itu. [Divine Discourse - August 19, 1964]

-BABA

Sunday, August 6, 2017

Thought for the Day - 6th August 2017 (Sunday)

To divest oneself of all contacts with others, and tread a lonely path is a sign of weakness, of fear and not of courage. Lively association alone produces morality, justice, compassion, sympathy, love, tolerance, equanimity and many other qualities that toughen and train the character, and mould the personality of an individual. Culture is the consequence of the co-mingling of hearts and heads. A group of individuals, who are charged with hatred or contempt towards each other, cannot produce any beneficial effect on any in the group; Sama-chintha, that is, a common outlook or rather a common inward-vision is the essential factor. Common belief systems, opinions and attitudes is key. This Sama-chintha must result in a flood of divine bliss that envelops and brightens an entire community. The consciousness that one is Divine and that everyone else is equally so, is the best bond for a community, that bliss is the best atmosphere to nurture and sustain communities.


Untuk melepaskan diri dari semua kontak dengan yang lainnya, dan menapaki sebuah jalan sendiri adalah tanda dari sebuah kelemahan, ketakutan, dan ketidakberanian. Hidup dalam perkumpulan saja yang dapat menghasilkan moralitas, keadilan, welas asih, simpati, kasih, toleransi, ketenangan hati, dan banyak lagi kualitas yang dapat menguatkan dan melatih karakter, serta membentuk kepribadian seorang individu. Budaya adalah akibat dari saling mempengaruhi antara hati dan kepala. Satu kelompok yang dikuasai oleh kebencian atau penghinaan satu dengan yang lainnya, tidak akan bisa menghasilkan dampak yang berguna apapun di kelompok manapun; Sama-chintha, yaitu pandangan bersama atau introspeksi ke dalam diri adalah faktor yang mendasar. Kesamaan kepercayaan, pendapat, dan sikap adalah kunci. Sama-chintha ini harus menghasilkan sebuah luapan kebahagiaan illahi yang menyelimuti dan mencerahkan seluruh masyarakat. Kesadaran bahwa seseorang adalah illahi dan setiap orang adalah sama, adalah ikatan yang terbaik bagi sebuah masyarakat, kebahagiaan itu adalah suasana yang terbaik untuk memelihara dan menjaga masyarakat. [Divine Discourse, April 1973]

-BABA

Saturday, August 5, 2017

Thought for the Day - 5th August 2017 (Saturday)

Ravana had vast knowledge of spiritual texts. His ten heads represent the learning he had earned from the six Shastras (scriptures) and the four Vedas. But he never put that knowledge to any use. He craved for the possession of Prakriti (material objects) alone; he wanted to master the world of matter, the objective world. But he was not tamed by the spirit. He discarded the Purusha, the Lord; he was content with the possession at Lanka, of Prakriti (Matter), represented by Mother Sita. That was why he fell. Like the monkey which could not pull its hand from out of the narrow-necked pot, because it first held in its grasp a handful of groundnuts which the pot contained, people too are suffering today, as they are unwilling to release their hold on the handful of pleasurable things they have grasped from the world. One is led into the wrong belief that the accumulation of material possessions will endow them with joy and calm. But Divine Love alone can give that everlasting joy.


Ravana memiliki pengetahuan yang luas tentang teks spiritual. Kepalanya yang berjumlah sepuluh melambangkan pelajaran yang telah ia dapatkan dari enam sastra (naskah suci) dan empat Weda. Namun Ravana tidak pernah menggunakan pengetahuan itu untuk kegunaan apapun juga. Ia hanya menginginkan memiliki Prakriti (objek-objek material); ia ingin menguasai dunia materi, dunia objektif ini. Namun ia tidak dijinakkan oleh jiwa. Ia membuang yang namanya Purusha, yaitu Tuhan; ia puas dengan kepemilikannya di Lanka, yaitu Prakriti (duniawi), dilambangkan oleh Ibu Sita. Itulah sebabnya mengapa Ravana terjatuh. Seperti halnya monyet yang tidak bisa mengeluarkan tangannya keluar dari botol yang berleher sempit, Karena tangannya penuh memegang kacang tanah yang ada di dalam botol, manusia juga sedang menderita saat sekarang, ketika mereka tidak ada keinginan untuk melepaskan genggaman penuh dari tangan mereka pada benda-benda yang menyenangkan yang mereka dapatkan dari dunia ini. Seseorang dibawa pada keyakinan yang salah bahwa mengumpulkan benda-benda material akan memberikan mereka suka cita dan ketenangan. Namun hanya kasih Tuhan yang dapat memberikan suka cita yang kekal. [Divine Discourse, Feb 28, 1964]

-BABA

Friday, August 4, 2017

Thought for the Day - 4th August 2017 (Friday)

You have all the resources you need in yourself. You can tap them by identifying, manifesting and sharing them with others. You are Sath, Chith and Ananda (Being, Awareness, Bliss Absolute); You are Shiva-Shakti Swarupa (form of divine-energy). Do not cultivate the conviction that you are merely human; be assured that you are destined for Divinity. When Divinity takes on the human form as described in the Ramayana, Mahabharata, and Bhagavatha, you must interpret the actions as providing examples and lessons, and not as human stories enacted for entertainment! The five Pandava brothers are five qualities in human character, all observing the norms set by the eldest, who is the noblest and the most righteous. In Ramayana, Lord Rama is a shining example of uncompromising adherence to the principle of righteousness, whatever be the temptation! Rama was charged with love that transcended caste, creed, and even extended to birds and animals. Love is the key to open the doors locked by egoism and greed.


Engkau memiliki semua sumber daya yang engkau perlukan dalam dirimu sendiri. Engkau dapat menggunakan semuanya itu dengan mengidentifikasi, mewujudkan, dan membaginya dengan yang lain. Engkau adalah Sath, Chith, dan Ananda (eksistensi, kesadaran, kebahagiaan yang absolut); engkau adalah Shiva-Shakti Swarupa (wujud dari energi Tuhan). Jangan meningkatkan keyakinan bahwa engkau hanya manusia biasa saja; yakinlah bahwa engkau ditakdirkan untuk keillahian. Ketika keillahian mengambil wujud manusia seperti yang dijelaskan dalam Ramayana, Mahabharata, dan Bhagavatha, engkau harus menerjemahkan tindakan itu sebagai pemberian contoh dan pelajaran, dan bukan sebagai cerita manusia yang berlaku sebagai hiburan! Kelima saudara dari Pandava adalah lima kualitas dalam karakter manusia, semuanya mengamati norma yang ditentukan oleh kakak yang tertua, yang paling mulia dan paling baik. Dalam Ramayana, Sri Rama adalah contoh yang cemerlang dari kepatuhan yang mutlak pada prinsip kebajikan, apapun bentuk godaannya! Sri Rama diliputi dengan kasih yang melampaui kasta, keyakinan, dan bahkan meluas sampai pada burung dan binatang. Kasih adalah kunci untuk membuka pintu yang dikunci oleh ego dan ketamakan. [Divine Discourse, April 1973]

-BABA

Thursday, August 3, 2017

Thought for the Day - 3rd August 2017 (Thursday)

Your life should not be a wasteful round of eating, drinking and sleeping; you have the Atma (soul) as your reality and so learn to become aware of that unfailing source of bliss. By properly using your intelligence, you can tap that spring and be supremely blissful. Happiness can be won only by proceeding towards God, not by following the urges of the senses. Of the twenty four hours that are available to you each day, let Me advise you to devote a small fraction to meditation or prayers or reading scriptures or listening to discourses on the divine sport (leelas) of the Lord. Think of God, and the gratitude you owe to Him for the human life He has gifted you and the various material, moral and intellectual talents He has endowed you with before you commence any task. You will certainly experience great benefit, and you will have peace, joy and success in your endeavours through Divine Grace.


Hidupmu seharusnya tidak disia-siakan hanya untuk makan, minum, dan tidur; engkau memiliki Atma (jiwa) sebagai kenyataanmu, jadi belajarlah untuk menjadi sadar pada sumber kebahagiaan yang tidak ada habisnya. Dengan menggunakan kecerdasanmu dengan tepat, engkau dapat membuka sumber itu dan menjadi penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan dapat dicapai hanya dengan bergerak menuju ke arah Tuhan, dan tidak dengan mengikuti desakan dari indria.  Dari waktu yang ada 24 jam bagimu setiap harinya, Aku menasehatimu untuk menyediakan waktu yang singkat untuk meditasi atau doa atau membaca naskah suci atau mendengarkan kisah suci tentang kegiatan Tuhan. Pikirkan tentang Tuhan dan bersyukurlah atas semua yang Tuhan berikan untuk kehidupan manusia dan juga berbagai jenis materi, bakat moral dan bakat kecerdasan dimana Tuhan telah berikan kepadamu sebelum engkau melakukan tugas apapun. Engkau pastinya akan mengalami keuntungan yang luar biasa dan engkau akan memiliki kedamaian, suka cita dan keberhasilan dalam setiap usahamu melalui karunia Tuhan. [Divine Discourse, Mar 16, 1973]

-BABA

Wednesday, August 2, 2017

Thought for the Day - 2nd August 2017 (Wednesday)

A heart saturated with love of God can never entertain thoughts of violence. It is sheer hypocrisy to kneel before God and then force others to kneel before you. God is love, God is peace and God is strength. How can a person be in contact with God and yet be proud and acrimonious? Agitated and angry? Weak and vacillating? His claim to be in contact with God is only a laughable foible; it cannot be true. A tree is judged by its fruit. Leaders must develop universal love, not limited to political boundaries which change from decade to decade, or religious labels affixed and erased to suit temporary needs. The prayer that rose from millions in this country from all its temples, holy seafronts, shrines and altars for centuries is: Sarve janah sukhino bhavanthu - Let all the beings of the world be happy and prosperous, and Samastha lokaah sukhino bhavanthu - May all the worlds have peace and prosperity.


Sebuah hati yang diliputi dengan kasih pada Tuhan tidak akan pernah bisa memikirkan kekerasan. Merupakan kemunafikan semata dengan berlutut di hadapan Tuhan dan kemudian menekan yang lainnya untuk berlutut di hadapanmu. Tuhan adalah kasih, Tuhan adalah kedamaian dan Tuhan adalah kekuatan. Bagaimana seseorang bisa terhubung dengan Tuhan namun masih merasa sombong dan keras? Gelisah dan marah? Lemah dan bimbang? Pernyataannya terkait terhubung dengan Tuhan hanyalah tipuan yang menggelikan; ini tidaklah benar. Sebuah pohon dinilai dari buahnya. Pemimpin harus mengembangkan kasih yang universal, tidak terbatas pada batas-batas politik yang akan berubah dari satu dekade ke dekade lainnya, atau label agama yang dipasang dan dihapus disesuaikan dengan keperluan yang sementara. Doa yang meningkat dari jutaan orang di negeri ini dan dari semua tempat sucinya, pinggir laut yang suci, dan altar selama berabad-abad adalah: Sarve janah sukhino bhavanthu – Semoga semua makhluk  di dunia bahagia dan sejahtera, dan Samastha lokaah sukhino bhavanthu – semoga semua dunia memiliki kedamaian dan kesejahteraan. (Divine Discourse, April 1973)

-BABA

Thought for the Day - 1st August 2017 (Tuesday)

Find out the difficulties and troubles burdening others and help them to the extent you can to tide over them; and also to lead their lives such that they may not recur. Learn to live with others sharing your joys and sorrows; be forbearing, not overbearing. When you live together in amity, the village will be happy and safe; and when the villages are well-knit and strong, the nation too will be strong and impregnable. Jealousy, anger, hatred and greed will disintegrate a nation and make it fall into disorder and distress. Drive away the divisive forces that keep one away from another, and prevent hearty cooperation and mutual help. Inculcate discipline in the field of Sadhana also and insist on people performing their duty to themselves and to their destiny. Devotion is like the head, duty is the trunk and discipline is the feet. Let devotion be linked with duty and led by discipline; then, success is certain.


Cari tahu kesulitan dan masalah yang membebani yang lain dan bantu mereka sejauh engkau bisa mengatasinya; dan juga menuntun hidup mereka sehingga hal itu tidak terulang kembali. Belajarlah untuk hidup dengan yang lain dalam berbagi suka dan duka; jadilah sabar, dan bukan suka memaksakan. Ketika engkau hidup bersama-sama dalam persahabatan, desa akan menjadi tentram dan aman; dan ketika desa-desa memiliki hubungan yang baik dan kuat, maka bangsa juga akan kuat dan tidak akan terkalahkan. Rasa cemburu, marah, benci, dan tamak akan memecah bangsa dan membuat bangsa itu jatuh ke dalam kekacauan dan penderitaan. Jauhkan kekuatan yang memecah belah yang membuat seseorang terpisah dari yang lainnya, dan jagalah kerjasama yang tulus dan saling membantu. Tingkatkan disiplin dalam bidang latihan spiritual juga (sadhana) dan memastikan mereka menjalankan kewajiban untuk diri mereka sendiri dan juga untuk takdir mereka. Bhakti adalah seperti kepala, kewajiban adalah badan, dan disiplin adalah kaki. Biarkan bhakti dikaitkan dengan kewajiban dan dipimpin oleh disiplin; kemudian keberhasilan sudah pasti bisa diraih. (Divine Discourse, Mar 16, 1973)

-BABA

Thought for the Day - 31st July 2017 (Monday)

The study of texts might remove some wrong notions and induce some right resolutions. But it cannot confer the vision of Reality. Meditation is key to the Atmic treasure which is your real wealth. Your ego always obstructs, even when you meditate. When Sister Nivedita asked for advice from Swami Vivekananda on how to gain one-pointedness during meditation, he said, "Do not allow Margaret Noble to come between you and God!" Margaret Noble was herself. Nivedita means ‘offering’. So Swami Vivekananda advised, "Offer yourself fully to God." This total offering cannot emerge from scholarship. The scholar is polluted by ego; he delights in tabulating pros and cons, raises doubts, disturbs faith and mixes secular and worldly matters with spiritual. Many worship God for worldly gains. Prayers to God must be for spiritual progress. Therefore, cultivate virtues without delay and be free from evil habits, thoughts, words and deeds. Grow in love. This is the way to Ananda (bliss).


Mempelajari teks mungkin dapat menghilangkan beberapa gagasan yang salah dan memunculkan pemecahan yang tepat. Namun hal ini tidak bisa memberikan pandangan pada kenyataan yang sejati. Meditasi adalah kunci untuk harta karun Atma yang merupakan kekayaanmu yang sejati. Egomu akan selalu mengganggu bahkan saat engkau meditasi. Ketika saudari Nivedita meminta nasehat pada Swami Vivekananda tentang bagaimana bisa mendapatkan pemusatan pikiran saat meditasi, beliau berkata, "Jangan ijinkan Margaret Noble untuk muncul diantara dirimu dan Tuhan!" Margaret Noble adalah dirinya sendiri. Nivedita berarti ‘persembahan’. Jadi Swami Vivekananda menasehati, "Persembahkan dirimu sendiri sepenuhnya kepada Tuhan." Persembahan yang total ini tidak bisa muncul dari kesarjanaan. Para sarjana dicemari dengan ego; ia menjadi sangat senang dalam menelaah pro dan kontra, menimbulkan keraguan, mengganggu keyakinan dan mencampur hal-hal duniawi dengan spiritual. Banyak yang memuja Tuhan untuk keuntungan duniawi. Doa kepada Tuhan harus untuk kemajuan spiritual. Maka dari itu, tingkatkan sifat mulia tanpa menunda lagi dan bebas dari kebiasaan, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang jahat. Tumbuhlah dalam kasih. Ini adalah jalan menuju Ananda (kebahagiaan). (Divine Discourse, Jul 27, 1980)

-BABA

Thought for the Day - 30th July 2017 (Sunday)

Devotion should not be confined to the four walls of the shrine-room, or the few minutes you perform meditation (Dhyana). It is a full time spiritual practice (Sadhana). Your devotion has to be expressed as worship of every living being as a living embodiment of Divinity. See God in every one, even in persons whom you regard as your enemies. Practise that broad and inclusive type of Love. How can you derive happiness by showing love and reverence to a stone idol that does not respond or reflect the feelings? Living beings will return appreciation and gratitude and wish you well. You can see joy growing in their faces. That will confer satisfaction on you. If you cannot educate yourself to love your fellow man, how can you follow the path of dedication to God?


Bhakti seharusnya tidak terbatas pada empat dinding dari ruang doa, atau beberapa menit engkau melakukan meditasi (Dhyana). Bhakti adalah latihan spiritual (sadhana) yang sepenuh waktu. Bhaktimu harus diungkapkan sebagai pemujaan terhadap setiap makhluk hidup sebagai perwujudan hidup dari keillahian. Lihatlah Tuhan dalam diri setiap orang, bahkan pada orang yang engkau anggap sebagai musuhmu. Jalankan jenis kasih yang luas dan menyeluruh. Bagaimana engkau bisa mendapatkan kebahagiaan hanya dengan memperlihatkan kasih dan penghormatan pada arca yang tidak memberikan jawaban atau memantulkan perasaan? Makhluk hidup akan memberikan respon kembali dalam bentuk penghargaan dan terima kasih dan berharap engkau baik. Engkau dapat melihat suka cita muncul di wajahnya. Itu akan memberikan kepuasan pada dirimu. Jika engkau tidak bisa mendidik dirimu sendiri untuk mengasihi sesamamu, bagaimana engkau dapat mengikuti jalan dedikasi pada Tuhan? (Divine Discourse, Mar 16 1973)

-BABA

Saturday, July 29, 2017

Thought for the Day - 29th July 2017 (Saturday)

Nurture the will to give, the will to renounce the little for the big and the momentary for the sake of the momentous! The Sevadal badge you wear is not a decoration item which can be secured without a price. It is a symbol of high character, generous feelings and steady and sincere endeavour. It is the external indicator of internal enthusiasm and strength, skill and faith. As iron is drawn by the magnet, and when you allow these qualities to shine through you, it will draw the dejected, the downcast and the distressed towards you. If you are proud and self-centred, blind to the kinship that binds all in fraternal love, the badge is a betrayal. Mere sentiment and empathy are of no use; they must be regulated by intelligence and skill. It is not the quantity of service you do that matters; nor is the variety. It is the inner joy, the love that you radiate that is important.


Peliharalah kemauan untuk memberi, kemauan untuk melepaskan yang kecil untuk yang besar dan sebentar demi untuk yang sangat penting! Lencana atau tanda Sevadal yang engkau pakai bukanlah hiasan yang bisa didapat tanpa adanya sebuah harga. Ini adalah simbol dari karakter yang tinggi, perasaan bermurah hati, dan usaha yang mantap dan tulus. Ini adalah petunjuk luar dari semangat yang ada di dalam diri dari kekuatan, keahlian, dan keyakinan. Seperti halnya besi ditarik oleh magnet, dan ketika engkau memberikan ruang bagi bersinarnya sifat-sifat ini di dalam dirimu, maka ini akan mengambil rasa sedih, putus asa, dan tertekan pada dirimu. Jika engkau bangga dan egois, buta terhadap pertalian kekerabatan yang mengikat semuanya dalam kasih persaudaraan, maka tanda itu adalah sebuah pengkhianatan. Hanya perasaan dan empati adalah tidak ada gunanya; keduanya harus diatur oleh kecerdasan dan keahlian. Bukan hal yang penting berapa jumlah pelayanan yang engkau lakukan dan bukan juga jenis pelayanannya. Ini adalah berkaitan dengan suka cita di dalam diri, kasih yang engkau pancarkan itu adalah yang penting. (Divine Discourse, May 19, 1969)

-BABA