Saturday, December 16, 2017

Thought for the Day - 16th December 2017 (Saturday)

Sage Patanjali defines Yoga as the control (nirodha) of the agitations (vrittis) of your mind (chitta). When your mind is stilled and is free from waves produced by the wind of desire, then you become a Yogi! Lord Krishna is called Yogeeshwara in the Gita, for, as the highest Yogi He is the ocean that is unaffected by the waves which agitate the surface. Indeed, young Lord Krishna danced on the hood of the serpent Kaliya and forced it to vomit its poison! The inner significance is that He rendered the poisonous snake (sensual desires) harmless! Yoga that enables you to practice sense control and not merely breath control, is the best way to attain the Yogeeshwara. Transcend the ‘many-consciousness’ (anekatwa bhava) and cultivate ‘One Consciousness’ (ekatwa bhava)! That will end strife, grief, pain and pride. See all as many expressions of the One Lord, as manifold bulbs of various colours and wattage lit by the same current.


Guru suci Patanjali menjelaskan Yoga sebagai pengendalian (nirodha) dari kegelisahan (vrittis) pikiranmu (chitta). Ketika pikiranmu tenang dan bebas dari gelombang yang dihasilkan oleh angin keinginan, kemudian engkau menjadi seorang Yogi! Sri Krishna disebut sebagai Yogeeshwara di dalam Gita, karena Sri Krishna sebagai Yogi yang tertinggi dimana Beliau adalah lautan yang tidak terpengaruh dengan gejolak yang ada di permukaan. Malahan, Sri Krishna waktu kecil menari di atas kepala ular berbisa Kaliya dan memaksa ular itu untuk memuntahkan racunnya! Makna yang ada di dalam kisah ini adalah Sri Krishna membuat bisa ular itu (keinginan sensual) menjadi tidak berbahaya! Yoga yang memungkinkan bagimu untuk melatih pengendalian indria dan tidak hanya pengendalian pernafasan, adalah jalan terbaik untuk mencapai Yogeeshwara. Berjalanlah untuk melampaui ‘kesadaran yang beranekaragam’ (anekatwa bhava) dan tingkatkan ‘kesadaran akan kesatuan’ (ekatwa bhava)! Hal itu akan mengakhiri perselisihan, kesedihan, penderitaan, dan kesombongan. Lihatlah semuanya sebagai banyak ekspresi dari Tuhan yang satu, seperti halnya berbagai jenis warna dari tegangan bola lampu yang dialiri oleh arus listrik yang sama. [Divine Discourse, May 10, 1969]

-BABA

Friday, December 15, 2017

Thought for the Day - 15th December 2017 (Friday)

Spiritual striving (sadhana) will reveal the true identity of the Omnipresent Divine Self. But be careful; Sadhana can foster even pride and envy as a byproduct of progress. You calculate how much or how long you have done Sadhana and are tempted to look down on another, whose record is less. You are proud that you have recited or written the name of Lord ten million times; you talk about it whenever you get the chance so that others may admire your faith and fortitude. But it is not the millions that count; what matters is the purity of mind that results from genuine concentration on the Name. Your Sadhana must not be like carrying water in a cane basket! You get no water however often or long you walk. Each vice is a hole in the cane basket. Keep the heart pure and whole. You must also carefully cleanse from your heart malice, greed, hate and anger.


Usaha Spiritual (sadhana) akan membukakan identitas yang sebenarnya dari diri sejati ilahi yang hadir dimana-mana. Namun berhati-hatilah; Sadhana bahkan dapat meningkatkan kesombongan dan iri hati sebagai hasil dari kemajuan. Engkau menghitung berapa banyak atau berapa lama engkau telah menjalankan latihan spiritual (Sadhana) dan tergoda untuk melihat rendah yang lainnya dimana catatan tentang sadhana yang dilakukan kurang dari dirimu. Engkau menjadi sombong bahwa engkau telah mengulang-ulang atau menuliskan nama suci Tuhan puluhan juta kali; engkau berbicara tentang hal ini kapanpun engkau mendapatkan kesempatan sehingga yang lain akan memuji keyakinan dan keuletanmu. Namun bukan jutaan kali itu yang dihitung; yang terpenting adalah kesucian pikiran yang didapat dari pemusatan pikiran yang benar pada nama suci Tuhan. Latihan spiritualmu seharusnya tidak seperti membawa air dengan keranjang dari rotan! Engkau tidak akan mendapatkan air bagaimanapun juga seringnya atau lamanya engkau berjalan. Setiap sifat buruk adalah sebuah lubang di keranjang rotan itu. Tetap jaga hati menjadi suci dan utuh. Engkau juga harus berhati-hati membersihkan hatimu dari kesombongan, ketamakan, kebencian, dan kemarahan. [Divine Discourse, Jan 13, 1969]

-BABA

Thursday, December 14, 2017

Thought for the Day - 14th December 2017 (Thursday)

Your mind is too full of the world and your stomach demands too much of your time and energy. Desires and wants are multiplying faster than your capacity to satisfy them, and your dreams are far too fanciful, leading you into false victories and absurd adventures. Engrossed in the analysis of the material world, you have lost all sense of spirit, sweetness and sublimity. Under this new dispensation, truth is yet another word in the dictionary. Compassion is reduced to a meaningless travesty. People lack self-confidence. Even at the slightest provocation, you are rapidly transformed into a wild and vicious beast. Humility, patience, reverence - these are as invalid as a flameless lamp in the far distance. The only hope you have in today’s dreadful darkness is the name of God. That is the raft which will take you across this stormy sea, darkened by hate and fear, and churned by anxiety and terror. Take it with all earnestness and steadfast faith.


Pikiranmu sudah terlalu penuh dengan dunia dan perutmu meminta terlalu banyak untuk waktu dan energimu. Keinginan dan kebutuhan terus meningkat semakin cepat daripada kapasitasmu untuk memuaskan semuanya itu, dan impianmu adalah terlalu aneh, menuntunmu pada keberhasilan yang semu dan petualangan yang tidak masuk akal. Berminat pada analisa dunia material, engkau telah kehilangan semua rasa semangat, rasa manis, dan keagungan. Dibawah sistem baru ini, kebenaran adalah kata lain dalam kamus. Rasa welas asih menurun menjadi sebuah parodi yang tanpa makna. Manusia kurang memiliki rasa percaya diri. Bahkan hanya dengan sedikit hasutan maka engkau dengan cepat berubah menjadi seekor binatang buas yang kejam dan ganas. Sifat kerendahan hati, kesabaran, penghormatan – semuanya ini menjadi tidak berarti seperti halnya lampu yang tidak menyala di kejauhan. Satu-satunya harapan yang engkau miliki pada kegelapan yang sangat mengerikan pada saat sekarang adalah nama suci Tuhan. Itu adalah rakit yang akan membawamu menyebrangi lautan yang penuh badai ini yang digelapkan oleh kebencian dan ketakutan, dan dikacaukan oleh kecemasan dan terror. Ambillah nama Tuhan ini dengan penuh kesungguhan dan keyakinan yang teguh. [Divine Discourse, Feb 26, 1968]

-BABA

Wednesday, December 13, 2017

Thought for the Day - 13th December 2017 (Wednesday)

Do not grieve, nor be the cause of grief. The very embodiment of Ananda (Bliss) is in you, as in others, as in all else. In spite of a multiplicity of containers, the contained is the same. That is the principle of Sat, Chit and Ananda (Being, Awareness, Bliss). The minutest atom and the mightiest star - both are basically one. All are, in truth, Brahman or Divine. You read in the sacred books that Lord Vishnu has the Garuda (Eagle) as His carrier, that Shiva has the Nandi (Bull) as His vehicle, that Lord Brahma rides on a Hamsa (Swan), that Lord Subrahmanya travels on a peacock, and that Shani has the crow as his vehicle. Ganesha rides on a mouse, though he is stupendously corpulent and has the head of an elephant! This does not mean that the Gods are helpless without these animals and birds as instruments of locomotion. It only reveals that no bird or beast is to be despised, for the Divine is using each as His instrument. Seen as deha (body), all are distinct; seen as dehi (the embodiment), Brahman, all are One.


Jangan bersedih hati, atau juga menjadi sebab dari kesedihan. Perwujudan dari Ananda (kebahagiaan) adalah ada di dalam dirimu, seperti halnya juga di dalam diri yang lain, dan juga dalam semua yang lainnya. Sekalipun ada berbagai jenis wadah yang ada namun isi di dalamnya adalah sama. Itu adalah prinsip dari Sat, Chit, dan Ananda (keberadaan, kesadaran, kebahagiaan). Atom yang paling kecil dan bintang yang paling kuat – keduanya pada dasarnya adalah satu. Semuanya adalah, dalam kebenaran adalah Brahman atau Tuhan. Engkau membaca dalam kitab suci bahwa Sri Wisnu memiliki burung Garuda sebagai wahana Beliau, sedangkan Dewa Shiva memiliki Nandi sebagai wahana Beliau, dan Dewa Brahma memiliki Hamsa (angsa), serta Dewa Subrahmanya berkeliling dengan merak, sedangkan Shani memiliki burung gagak sebagai wahana-Nya. Ganesha menunggangi tikus, walaupun Dewa Ganesha sangat perkasa dan memiliki kepala gajah! Ini tidak berarti bahwa Tuhan adalah tidak berdaya tanpa binatang dan burung ini sebagai wahana-Nya. Ini hanya untuk mengungkapkan bahwa tidak ada burung atau binatang yang layak untuk dipandang hina atau rendah, karena Tuhan menggunakan masing-masing dari binatang dan burung itu sebagai wahana-Nya. Dilihat sebagai deha (tubuh), semuanya  adalah berbeda; dilihat sebagai (yang bersemayam di dalamnya) yaitu Brahman maka semuanya adalah Satu. (Divine Discourse, Jan 13, 1969.)

-BABA

Thought for the Day - 12th December 2017 (Tuesday)

Millions recite the Lord’s Name, but few have steady faith! Fewer seek the bliss (Ananda) that contemplation on the glory of God within, the Atma, can confer. Some people complain that recitation (japam) has not cured their pain, grief or greed! It is because they mechanically recite prayers and meditate out of habit or for social conformity or to gain reputation for religiousness! When people who have learnt the precious scriptures revealing Atma-vidya (science of the Self) do not put into practice what they repeat orally and have no faith in the assertions, what profit can they get from it? The canker of doubt has undermined their reverential attitude to the scripture. They devalue the scriptures into money-or-fame-earning devices, and when they do not get money or fame through them, they are disappointed. They envy those who follow secular avocations. But if they only develop faith, scriptures themselves will foster them and ensure for them a happy and contented life.


Jutaan orang melantunkan nama Tuhan, namun hanya sedikit yang memiliki keyakinan yang teguh! Hanya sedikit yang mencari kebahagiaan (Ananda) dalam merenungkan kemuliaan Tuhan di dalam diri yaitu Atma. Beberapa orang mengeluh bahwa mengulang-ulang nama Tuhan (japam) belum menyembuhkan penderitaan, kesedihan, atau ketamakan yang mereka alami! Hal ini terjadi karena mereka melantunkan doa hanya bersifat mekanis saja dan bermeditasi karena kebiasaan atau untuk persesuaian sosial atau untuk mendapatkan reputasi religius! Ketika mereka yang telah belajar naskah suci yang berharga dalam mengungkapkan Atma-vidya (pengetahuan tentang diri sejati) tidak mempraktikkan apa yang mereka katakan secara lisan dan tidak memiliki keyakinan dalam pernyataan yang ada dalam naskah suci, apa keuntungan yang dapat mereka dapatkan dari hal ini? Kebusukan dari keraguan telah meruntuhkan sikap hormat mereka kepada naskah suci. Mereka menurunkan nilai dari naskah suci sebagai alat untuk menghasilkan uang atau ketenaran, saat mereka tidak mendapatkan uang atau ketenaran melalui naskah-naskah suci itu maka mereka menjadi kecewa. Mereka iri hati pada mereka yang mengikuti kegemaran duniawi. Namun hanya jika mereka mengembangkan keyakinan, naskah suci sendiri yang akan membantu perkembangan mereka dan memastikan mereka dengan sebuah hidup yang bahagia dan menyenangkan. (Divine Discourse, Feb 23, 1968)

-BABA

Thought for the Day - 11th December 2017 (Monday)

In fishing, the angler uses a rod and a line; that line has a float from which hangs inside the water a sharp hook with a worm. The fish is drawn by the worm to the hook, the float shakes, the angler feels the pull of the fish on the line, and he draws it on the land, where it is helpless and unable to breathe. Your body is the rod, your yearning or the eager longing is the line, your intelligence is the float, discrimination is the hook and knowledge is the worm; a clever angler thus catches the fish of the Divine (Atma)! When you get spiritual wisdom, you are drawn to the Divine (Kaivalyam). Kaivalyam is the state in which you experience the Lord as all-comprehensive, as Will, as Activity, as Bliss, as Intelligence and as Existence. To be firmly established in this Divine State, you must suppress your ignorance (tamas), sublimate your passions (rajas) and assiduously cultivate purity (sathwa).


Dalam memancing, pemancing menggunakan sebuah tongkat dan tali; tali itu memiliki sebuah pelampung dimana kail tajam dengan cacing ada di dalam air. Ikan menjadi tertarik pada cacing yang ada pada kail tersebut, pelampung tersebut menjadi bergoyang dan pemancing merasa ada tarikan ikan pada tali itu, dan pemancing menarik tali itu ke daratan, dimana ikan itu tidak berdaya dan tidak mampu bernafas. Tubuhmu adalah tongkat, kerinduanmu atau hasratmu adalah tali, kecerdasanmu adalah pelampung, kemampuan membedakan adalah kail dan pengetahuan adalah cacing; seorang pemancing yang pintar akan menangkap ikan yaitu Atma! Ketika engkau mendapatkan kebijaksanaan spiritual, engkau ditarik pada Tuhan (Kaivalyam). Kaivalyam adalah keadaan dimana engkau mengalami Tuhan sebagai yang meliputi semuanya, sebagai kehendak, sebagai aktifitas, sebagai kebahagiaan, sebagai kecerdasan, dan sebagai keberadaan. Untuk dapat berada dalam keadaan ilahi dengan mantap, engkau harus menekan kebodohanmu (tamas), menghaluskan nafsumu (rajas), dan dengan tekun menumbuhkan kesucian (sathwa). (Divine Discourse, Feb 26, 1968)

-BABA

Thought for the Day - 10th December 2017 (Sunday)

Every morning ask yourself this question: "What is the grand victory I must strive for in this life, for which these struggles are preparing me? Remind yourself that your body is the chariot, intellect (buddhi) is the charioteer, desires are the roads which you tread drawn by the rope of sensual attachments, and liberation (moksha) is the goal; the Divine Self within should be your Guide and Goal. If you yearn to escape the consequences of birth and death, cleanse your mind so effectively that it is nearly eliminated! This is possible only when you identify yourself with the Indweller within you (Dehi), rather than with the body (Deha)! Your body is the casket of the Atma, earned as a reward for one’s activities of mind and body. When you live in the consciousness of the omnipresent Divine, you live in love - love surging within and through you, to everyone around you. You will naturally experience love, peace and joy, always!


Setiap pagi tanyakan dirimu sendiri pertanyaan ini: "Apa kemenangan besar yang harus saya usahakan dalam hidup ini, yang mana perjuangan ini sedang mempersiapkan saya? Ingatkan dirimu sendiri bahwa tubuhmu adalah kereta, kecerdasan (buddhi) adalah saisnya, keinginan adalah jalan yang engkau tempuh yang ditarik dengan tali keterikatan sensual dan kebebasan (moksha) adalah tujuannnya; diri yang sejati di dalam diri seharusnya menjadi penuntun dan tujuan. Jika engkau merindukan untuk melepaskan diri dari konsekuensi kelahiran dan kematian, bersihkan pikiranmu dengan sangat efektif sehingga sepenuhnya bisa dibersihkan! Hal ini mungkin hanya ketika engkau mengidentifikasi dirimu sendiri dengan Yang bersemayam di dalam dirimu (Dehi), daripada mengidentifikasi diri dengan tubuh (Deha)! Tubuhmu adalah pembungkus dari Atma, yang diperoleh sebagai hadiah dari aktifitas pikiran dan tubuh seseorang. Ketika engkau hidup dalam kesadaran Tuhan yang ada dimana-mana, engkau hidup dalam kasih – kasih yang menggelora dari dalam diri dan melalui dirimu kepada setiap orang di sekitarmu. Engkau secara alami selalu akan mengalami kasih, kedamaian, dan suka cita! (Divine Discourse, Jan 13, 1969)

-BABA

Thought for the Day - 9th December 2017 (Saturday)

The cow transforms grass and gruel into sweet strength-giving milk and gives it away in plenty to its master. Develop that quality, that power to transform the food you consume into sweet thoughts, words and deeds of compassion for all. When your heart is filled with virtues, the Lord will shower His Grace abundantly. Draupadi earned the Lord’s Grace through her devotion and virtues. Without steadfastness and depth of faith, none can receive Grace. Endeavour to earn Grace by observing the discipline that I am keen you should follow. Give up your old worldly ways of earning and spending, saving and accumulating with greed, lust, malice and pride. Do not waste time in idle gossip. Talk softly and sweetly, and talk as little as possible. Serve all as brothers and sisters adoring the Lord in them. Engage in sadhana; move every step as befits a person striving to realise God.



Sapi merubah rumput dan bubur menjadi susu yang manis dan menguatkan serta memberikan susu itu dalam jumlah banyak kepada majikannya. Kembangkan kualitas itu, kekuatan untuk merubah makanan yang engkau makan menjadi pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan penuh welas asih bagi semuanya. Ketika hatimu diliputi dengan keluhuran budi, Tuhan akan mencurahkan karunia-Nya dengan berlimpah. Draupadi mendapatkan karunia Tuhan melalui bhakti dan keluhuran budinya. Tanpa keyakinan yang mantap dan teguh, tidak ada seorangpun yang dapat menerima karunia. Berusahalah untuk bisa mendapatkan karunia dengan menjalankan disiplin yang Aku harapkan engkau ikuti. Singkirkan cara hidup duniawimu yang lama dalam mencari dan menghabiskan, menyimpan, dan mengumpulkan dengan ketamakan, nafsu, kesombongan, dan keangkuhan. Jangan menghabiskan waktu dalam gosip yang kosong. Berbicaralah dengan lembut dan sopan, dan berbicara sesedikit mungkin. Layani semuanya sebagai saudara dan memuja Tuhan yang bersemayam dalam diri mereka. Jalani sadhana; bergeraklah dalam setiap langkah selayaknya seseorang berusaha untuk menyadari Tuhan. (Divine Discourse, Jan 11, 1968)

-BABA

Friday, December 8, 2017

Thought for the Day - 8th December 2017 (Friday)

You may have witnessed chariot festivals (Rathotsavam) in pilgrimage centers. Huge temple chariots are gorgeously decorated with flags and festoons, stalwart bands of men draw them along the roads to the music of blowpipes and conches, and dancing groups and chanters precede it, adding to the exhilaration of the occasion. Thousands crowd around the holy chariot. Their attention is naturally drawn towards the entertainment, but they feel happiest only when they fold their palms and bow before the Idol in the chariot. The rest is all subsidiary, even irrelevant. So too in the process of life, body is the chariot, and the Atma is the Idol installed therein. Earning and spending, laughing and weeping, hurting and healing, and the various acrobatics in daily living are but subsidiary to the adoration of God and the union with God.


Engkau mungkin telah menyaksikan perayaan kereta suci (Rathotsavam) di pusat perziarahan. Kereta dari tempat suci yang besar dihias sangat indah dengan bendera dan rangkaian bunga, banyak bhakta yang menarik kereta suci itu sepanjang jalan dengan iringan musik dari terompet dan kerang, serta kelompok penari dan lantunan kidung suci mengawalinya, menambahkan kebahagiaan pada perayaan itu. Ribuan orang mengelilingi di sekitar kereta suci itu. Perhatian mereka secara alami tertuju pada pertunjukan, namun mereka merasa paling sangat gembira hanya ketika mereka mencakupkan tangan mereka dan menunduk menunjukkan bhakti kehadapan wujud Tuhan yang ada di dalam kereta suci itu. Sedangkan sisa yang lainnya adalah sebagai tambahan saja, bahkan tidak relevan. Begitu juga proses dalam hidup, tubuh adalah kereta suci itu dan Atma adalah wujud Tuhan yang ada di dalamnya. Menghasilkan dan menghabiskan, tertawa dan menangis, tersakiti dan tersembuhkan, dan berbagai jenis akrobat dalam kehidupan sehari-hari hanyalah sebagai tambahan dari pemujaan kepada Tuhan dan penyatuan pada Tuhan. (Divine Discourse, Jan 13, 1969)

-BABA

Thursday, December 7, 2017

Thought for the Day - 7th December 2017 (Thursday)

Life must be spent in accumulating and safeguarding virtue, not riches. Listen and ruminate over the stories of the great moral heroes of the past, so that their ideals may be imprinted on your hearts. Nowadays, virtue is becoming rare in the individual, family, society and community, as well as in all fields, be it economic, political and even 'spiritual’. So also, there is a decline in discipline, which is the soil on which virtue grows. Respect one and all. Unless each one is respected, whatever be their status, economic condition, or spiritual development, there can be no peace and happiness in life. This respect can be aroused only by the conviction that the same atma (Self) that is in you is playing the role of the other person. See that atma in others, feel that they too have hunger, thirst, yearning and desires as you have; develop sympathy and the anxiety to serve and be useful.


Hidup harus dihabiskan dalam mengumpulkan dan melindungi kebajikan dan bukan kekayaan. Dengarkan dan renungkan kisah-kisah pahlawan moralitas yang luhur dari masa lalu, sehingga idealisme mereka dapat terpatri di dalam hatimu. Pada saat sekarang, kebajikan menjadi jarang dalam individu, keluarga, masyarakat, dan komunitas, sama halnya juga dalam semua bidang, baik dalam ekonomi, politik, dan bahkan dalam bidang 'spiritual’. Begitu juga adanya penurunan dalam disiplin, yang merupakan ladang tempat tumbuhnya kebajikan. Hormati semuanya. Jika setiap orang tidak dihormati, apapun status, keadaan ekonomi, atau perkembangan spiritual mereka, tidak akan ada kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup. Rasa hormat ini hanya dapat dimunculkan melalui keyakinan bahwa Atma yang sama (Diri sejati) yang bersemayam dalam dirimu sedang memainkan peran sebagai orang lain. Lihatlah bahwa Atma dalam diri yang lain, rasakan bahwa mereka juga memiliki rasa lapar, haus, kerinduan, dan keinginan seperti yang engkau miliki; kembangkan rasa simpati dan keinginan untuk melayani dan menjadi berguna. (Divine Discourse, Feb 22, 1968)

-BABA

Thought for the Day - 6th December 2017 (Wednesday)

There is only one royal road for the spiritual journey - Love, love for all beings as manifestation of the same Divinity that is the very core of oneself. This faith alone ensures the constant presence of God with you, and endows you with all the joy and courage you need to fulfill your life’s pilgrimage to God. When the reservoir is full of water and you turn on the taps, then the buckets will be filled. Cultivate love and devotion, then your activities will be saturated with compassion and charity, and yield the golden harvest of joy and peace. Love must be unselfish and universal. You judge for yourself whether your love is narrow or broad, and whether your devotion is shallow or deep. Are you content with your achievement? Examine it yourself and pronounce the verdict on yourself, using your own discrimination.


Hanya ada satu jalan besar untuk perjalanan spiritual - kasih, kasih bagi semua makhluk adalah sebagai perwujudan dari kualitas ke-Tuhanan yang sama yang menjadi inti dari seseorang. Hanya dengan keyakinan ini memastikan kehadiran Tuhan secara terus menerus denganmu dan memberkatimu dengan semua suka cita dan dukungan yang engkau perlukan untuk meraih perjalanan hidupmu mencapai Tuhan. Ketika tangki penyimpan air sudah penuh dan engkau membuka kerannya maka ember akan terisi dengan air. Tingkatkan kasih dan bhakti, kemudian kegiatanmu akan disucikan dengan welas asih dan kemurahan hati, dan menghasilkan panen berupa suka cita dan kedamaian. Kasih harus tidak mementingkan diri sendiri dan bersifat universal. Engkau menilai dirimu sendiri apakah kasihmu bersifat sempit atau luas, dan apakah bhaktimu adalah dangkal atau dalam. Apakah engkau puas dengan pencapaianmu? Periksa dirimu sendiri dan ucapkan hasilnya pada dirimu sendiri, menggunakan diskriminasimu sendiri. [Divine Discourse, Jan 13, 1970]

-BABA

Thought for the Day - 5th December 2017 (Tuesday)

Despite the many Navaratris and Shivaratris (auspicious festivals) you attend at holy places, unless you illumine your heart and make it shine clear and pure, it will be shrouded in darkness, immersed in ratri (night) only. You may say that progress is possible only through My Grace, but though My heart is soft as butter, it melts only when there is some warmth in your prayer. Unless you make some disciplined effort and do some sadhana (spiritual activities), grace cannot descend on you. The yearning and the agony of unfulfilled aim melts My heart. That anguish (aavedana) wins grace. Sadhana must make you calm, unruffled, poised, and balanced. Your mind must be cool and comforting as moonlight, for Moon is the deity holding sway over mind. Be calm in speech, and in your responses to malice, cavilling and praise.


Meskipun banyak perayaan Navaratris dan Shivaratris (perayaan suci) yang engkau hadiri di tempat suci, kecuali jika engkau menerangi hatimu dan membuatnya bersinar jelas dan suci, maka hanya akan diselimuti dengan kegelapan dan tenggelam dalam ratri (malam). Engkau mungkin berkata bahwa kemajuan hanya bisa terjadi melalui rahmat-Ku, namun walaupun hati-Ku lembut seperti halnya mentega, hanya meleleh ketika ada kehangatan dalam doa yang dilantunkan. Kecuali engkau melakukan beberapa usaha dengan disiplin dan melakukan beberapa sadhana (aktifitas spiritual), rahmat tidak bisa turun padamu. Kerinduan dan penderitaan akan tujuan yang tidak terpenuhi meluluhkan hati-Ku. Kesedihan itu (aavedana) akan bisa mendatangkan rahmat. Sadhana harus membuatmu tenang dan seimbang. Pikiranmu harus sejuk dan menenangkan seperti halnya sinar rembulan, karena bulan adalah penguasa dari pikiran. Tenang dalam berbicara, dan dalam tanggapanmu terhadap kedengkian, pertengkaran dan pujian. [Divine Discourse, 13 Jan, 1969]

-BABA

Monday, December 4, 2017

Thought for the Day - 4th December 2017 (Monday)

Some people, afraid of cynical criticism by unbelievers, are reluctant to walk the streets in groups singing the glory of God during early morning hours! When you have the very Embodiment of Fearlessness installed in your heart, why should the slightest tremor of fear affect you? You came into this world alone, with no companion, isn't it? During the years of life, you gathered wife and children, kith and kin, and friends and acquaintances who attached themselves to you. When you return to the realm from which you came, you enter it alone with no one to keep company. So too let the journey with Nagarasankirtan be. Come into the street alone, collect kith and kin if they come unto you, move with them unconcerned and unaffected, revel in your own sweet solitariness, and finally enter your home with the satisfaction that your job is well done. Fellows may laugh at you as insane but this insanity is infectious and very soon, even the irreverent will be initiated into the fold.


Beberapa orang takut akan kritik yang bersifat mengejek oleh mereka yang tidak percaya dan akhirnya enggan untuk berjalan di jalanan dalam kelompok yang melantunkan kemuliaan Tuhan di pagi hari! Ketika engkau memiliki tanpa rasa takut yang kuat di dalam hatimu, mengapa getaran rasa takut mempengaruhimu? Engkau datang ke dunia ini sendiri dan tidak ada yang menemani. Selama tahun-tahun kehidupan, engkau mendapatkan istri dan anak-anak, kerabat, dan sahabat serta kenalan yang terikat pada dirimu. Ketika engkau kembali pada pangkuan ke tempat asalmu, engkau kembali sendiri dan tidak ada yang menemani. Begitu juga dengan perjalanan dari Nagarasankirtan. Datang ke jalan sendirian, mendapatkan kerabat jika mereka datang kepadamu, berjalan bersama dengan mereka tidak ambil pusing dan tidak terpengaruh, bersuka ria dalam kesendirian di jalan dan pada akhirnya pulang ke rumah dengan kepuasan bahwa pekerjaanmu selesai dengan baik. Orang-orang lain mungkin menertawakanmu sebagai orang gila namun kegilaan ini adalah menular dan dengan segera bahkan mereka yang tidak sopan akan bergabung dalam kelompok. [Divine Discourse, Jan 13, 1970]

-BABA

Sunday, December 3, 2017

Thought for the Day - 3rd December 2017 (Sunday)

Man walks with two legs: iha and para (this world and the other), dharma and Brahman, righteousness and God! If one is totally engrossed in this world, the person is choosing to travel all through one’s life with a handicap, hopping on one leg. That is fraught with trouble; the person may fall any moment and break the shin. And one does! Goodness in this world and Godliness for the life after death - equal attention needs to be given to both. One must be vigilant while taking a step, whichever foot it may be. Both are essential for a happy journey through life. You have to put the right foot, the Brahman step, when you enter the region of realisation. By then the senses have to be conquered. Go means senses and Go-pi means a person who has subdued the senses, as a result of surrender to Go-pala, the master of the senses. Krishna once told Arjuna that he can enter Vrajamandala (the region where the Gopis lived), only after mastering his emotions and impulses, and his tendency to yield to the senses.


Manusia berjalan dengan dua kaki: iha dan para (dunia ini dan yang lainnya), dharma dan Brahman, kebajikan, dan Tuhan! Jika seseorang sepenuhnya asyik di dunia ini, itu berarti orang tersebut memilih untuk melakukan perjalanan sepanjang hidupnya dengan seseorang yang cacat dengan berjalan pada satu kaki. Itu adalah penuh dengan masalah; orang itu mungkin jatuh pada waktu kapan saja dan merusakkan tulang keringnya. Dan itu yang terjadi! Dua hal ini yaitu kebaikan di dunia ini dan ke-Tuhanan untuk hidup setelah kematian – perhatian yang sama perlu diberikan pada keduanya. Seseorang harus waspada ketika sedang mengambil langkah, kaki manapun yang dipakai. Keduanya adalah mendasar untuk perjalanan yang menyenangkan melalui kehidupan. Engkau harus melangkahkan kaki yang tepat, langkah Brahman, ketika engkau memasuki wilayah kesadaran. Pada saat itu indera harus ditaklukkan. Go berarti indera dan Go-pi berarti seseorang yang telah menaklukkan indera, sebagai hasil dari berserah diri pada Go-pala yaitu penguasa indera. Sekali Sri Krishna berkata kepada Arjuna bahwa ia dapat memasuki Vrajamandala (wilayah dimana para Gopis hidup), hanya setelah menguasai emosi dan dorongan hatinya, dan kecenderungannya untuk menyerah pada indera. [Divine Discourse, Jan 13, 1968]

-BABA

Thought for the Day - 2nd December 2017 (Saturday)

Learn a lesson from the tree. When it is heavy with fruits it does not raise its head aloft in pride, it bends low, stoops, as if it does not take any credit for its accomplishment and as if it is helping you to pluck the fruit. Similarly, learn a lesson from the birds. They feed those who cannot fly far. The bird relieves the itch of the buffalo by scratching it with its beak; they help and serve each other, with no thought of reward. How much more alert must you be, than the birds and trees with your superior skills and faculties? Remember, service is the best cure for egoism, and so you must engage in it to relieve pain and grief to the extent you can. Try to assuage, as far as you can, the distress of others; when done sincerely, it is the best spiritual practice for a true spiritual aspirant.
Belajarlah sebuah nilai dari pohon. Ketika saatnya berbuah yang lebat, pohon tidak menegakkan kepalanya dalam kesombongan malahan pohon menundukkan kepalanya serta membungkuk rendah, seolah-olah tidak mengambil pujian atas keberhasilannya dan membantumu untuk dapat memetik buahnya. Sama halnya, belajarlah sebuah nilai dari burung. Mereka memberikan makan pada burung-burung yang tidak bisa terbang jauh. Burung-burung juga menghilangkan rasa gatal pada kerbau dengan menggaruknya dengan paruhnya; mereka saling membantu dan saling melayani, tanpa memikirkan imbalannya. Berapa banyak lagi engkau harus menjadi siap sedia daripada burung dan pohon dengan keahlian dan kemampuan yang lebih besar yang engkau miliki? Ingatlah, pelayanan adalah penyembuhan terbaik untuk egoisme maka engkau harus terlibat untuk mengurangi penderitaan dan kesedihan  sejauh yang engkau bisa. Cobalah untuk meredakan, sepanjang yang engkau bisa, kesusahan orang lain; ketika dilakukan dengan tulus, maka ini adalah latihan spiritual yang terbaik bagi seorang peminat spiritual sejati. [Divine Discourse, Jan 13, 1968]

-BABA

Saturday, December 2, 2017

Thought for the Day - 1st December 2017 (Friday)

Many of you are yearning to get nectar (amrit) from Me. But of what benefit is it merely to swallow a few drops of nectar created by Me? It is when the satwik (pure) quality wins and subdues the rajasik and the tamasik (passionate and ignorant) qualities in the battles that go on in every heart, that amrit arises therein! This amrith that confers immortality must be won through your own spiritual practices (Sadhana). People practising meditation are taught an exercise called urdhva-drishti (upward vision) in which the two eyes are directed upwards, to a point between the eyebrows. Urdhva means upward and drishti means look, so the term means, not a mere physical exercise, but a lifetime of effort to direct your mind to avoid and abstain from lower desires, and to uplift itself to nobler thoughts. Such an effort will win amrit, it will flow from the spring of the heart!
Banyak darimu yang merindukan untuk mendapatkan nektar (amrit) dari-Ku. Namun apa keuntungan hanya dengan meminum beberapa tetes nektar yang Aku ciptakan? Pada saat kualitas satwik (suci) menang dan menundukkan kualitas rajasik dan tamasik (penuh gairah dan bodoh) dalam peperangan yang terjadi di dalam setiap hati, disanalah muncul amrita! Amrita ini yang memberikan keabadian harus dimenangkan melalui latihan spiritualmu (Sadhana). Orang-orang menjalankan meditasi diajarkan sebuah latihan yaitu urdhva-drishti (pandangan ke atas) dimana kedua mata diarahkan ke atas pada sebuah titik diantara alis. Urdhva berarti ke atas dan drishti berarti melihat, jadi istilah itu berarti, tidak hanya sebatas latihan fisik, namun usaha sepanjang hidup untuk mengarahkan pikiranmu untuk menghindari dan menjauhkan diri dari keinginan rendahan, dan untuk mengangkat pikiran pada ide yang lebih mulia. Usaha seperti itu akan memenangkan amrita, ini akan mengalir dari sumbernya yaitu hati! [Divine Discourse, Jan 11, 1968]

-BABA

Thursday, November 30, 2017

Thought for the Day - 30th November 2017 (Thursday)

The bee hovers around the lotus, it sits upon it, it drinks the nectar; while drinking the sweet intoxicating honey, it is silent, steadfast, concentrated, and forgetful of all else. That pure love (prema) is experienced by the inner I, which is the reflection of the real I, your Divine Soul (Atma). Every individual behaves exactly like the bee when they are immersed in the presence of God. The hum of the bee ceases and it is silent once the drinking of the nectar begins. So also, people argue, fight, condemn, and assert only until they discover the sweet essence of Divinity (rasa). The Divine rasa or essence is prema rasa, the sweetness of pure love. Where there is love, there can be no fear, no anxiety, no doubt, and no ashanti (absence of peace). When you are afflicted with restlessness and agitation, you can be sure that your love is narrow, restricted, and it has some ego or selfishness mixed in it.


Lebah terbang melayang di sekitar bunga teratai dan meminum nektarnya; sambil minum madu manis yang memabukkan, lebah itu tenang, tidak tergoyahkan, fokus dan melupakan semua yang lainnya. Cinta kasih yang murni itu (prema) dialami oleh sang diri di dalam, yang mana merupakan pantulan dari jati diri yang sejati, jiwa ilahimu (Atma). Setiap individu bertingkah laku sama persis dengan lebah ketika mereka tenggelam dalam kehadiran Tuhan. Suara dengung lebah berhenti dan tenang saat minum nektar dimulai. Begitu juga, manusia berdebat, bertengkar, menyalahkan, dan memaksakan hanya sampai manusia menemukan intisari manis dari ke-Tuhanan (rasa). Cita rasa ke-Tuhanan atau intisari adalah prema rasa, rasa paling manis dari cinta kasih yang murni. Dimana ada kasih, maka tidak akan ada rasa takut, tidak ada kecemasan, tidak ada keraguan, dan tidak adanya ashanti (hilangnya kedamaian). Ketika engkau menderita kegelisahan dan keresahan, engkau dapat memastikan bahwa cinta kasihmu masih sempit, terbatas, dan juga masih ada ego atau mementingkan diri sendiri yang tercampur di dalamnya. [Divine Discourse, Feb 26, 1968]

-BABA

Thought for the Day - 29th November 2017 (Wednesday)

Do not demean your talents; when you dive deep into yourselves you can discover the source of all strength. Ants creeping over a huge rock, millions of them, can carve a deep groove along their path. The minute feet of the ant have that power. You might have seen on the walls around the village wells, deep holes produced on granite slabs by the continuous placing of water pots! The pots are made of mud, but over years they erase even the hardest granite! The embodiment of the Self (Atma-swarupa) that you are is not an embodiment of insignificance (alpa-swarupam)! The Atma is not anaemic. It is a powerful dynamo, capable of generating enormous power. Your spiritual teacher (Guru) shows you the goal (guri); but, you must generate the power yourself, by your own spiritual effort.


Jangan merendahkan bakatmu; ketika engkau menyelam ke dalam dirimu sendiri maka engkau dapat menemukan sumber dari semua kekuatan. Semut merambat di atas sebuah batu yang besar, jutaan dari semut dapat mengukir alur yang dalam sepanjang jalan yang mereka lalui. Kaki-kaki kecil dari semut memiliki kekuatan itu. Engkau mungkin telah melihat pada dinding di sekitar sumur di desa, lubang dalam yang terbentuk pada lempingan granit dengan terus-menerus menempatkan pot air! Pot itu terbuat dari lumpur, namun selama bertahun-tahun pot ini bahkan lebih keras daripada granit! Perwujudan diri sejati (Atma-swarupa) bahwa engkau bukanlah perwujudan dari yang tidak berarti (alpa-swarupam)! Atma bukanlah kurang energi. Atma adalah dinamo yang sangat kuat, mampu menghasilkan energi yang sangat besar. Guru spiritualmu (Guru) memperlihatkan kepadamu tujuan (guri); namun, engkau harus menghasilkan energi sendiri, dengan usaha spiritualmu sendiri. [Divine Discourse, Nov 23, 1964]

-BABA

Tuesday, November 28, 2017

Thought for the Day - 28th November 2017 (Tuesday)

Lord Krishna demonstrated that if you practise the spiritual exercise of living in the constant presence of God, you are bound to achieve victory. Take Him as your charioteer; He will steer you through the heaviest of odds. He has no favourites or rivals. Like fire, He spreads warmth to all near Him. If you do not feel the warmth, do not blame Him: blame yourself! Hiranyakashipu said, 'He is nowhere' and so, God was nowhere for him; Prahlada asserted 'He is everywhere,' and He appeared from the pillar to prove him true. God did not run into the pillar to come out of it! He was there all along, just as in everything else! He just made Himself visible! I am also like that; if you accept Me and say yes, I too respond and say, “Yes, yes, yes”! If you deny and say, no, I also echo, “no”. Come, examine, experience and have faith; that is the best way to profit from Me.


Sri Krishna mengungkapkan bahwa jika engkau menjalankan latihan spiritual dengan hidup dalam kesadaran Tuhan maka engkau dipastikan akan mencapai kemenangan. Jadikan Tuhan sebagai pengemudimu; Tuhan akan mengemudikanmu melalui rintangan yang paling berat. Tuhan tidak memiliki yang disenangi atau yang disaingi. Seperti halnya api, Tuhan menyebarkan kehangatan kepada semua yang dekat dengan-Nya. Jika engkau tidak merasakan kehangatan, jangan menyalahkan Tuhan; namun salahkan dirimu sendiri! Hiranyakashipu berkata, 'Tuhan tidak ada dimana-mana (nowhere)' dan demikian Tuhan tidak ada bagi Hiranyakasipu; Prahlada menegaskan 'Tuhan ada dimana-mana,' dan Tuhan muncul dari pilar untuk membuktikan kebenarannya. Tuhan tidak masuk ke dalam pilar dan kemudian keluar dari pilar! Tuhan memang ada disana, sama halnya Tuhan ada di dalam segalanya! Tuhan hanya membuat diri-Nya dapat dilihat! Aku juga seperti itu; jika engkau menerima-Ku dan mengatakan ya, Aku juga menjawab dan berkata, “Ya, ya, ya”! Jika engkau menyangkal dan mengatakan, tidak, Aku juga menjawab hal yang sama, “tidak”. Datang, uji, alami, dan miliki keyakinan; itu adalah jalan terbaik untuk mendapatkan keuntungan dari-Ku. [Divine Discourse, Nov 23, 1964]

-BABA

Thought for the Day - 27th November 2017 (Monday)

I will tell you today what is beneficial to you, which you must put into daily practice. Develop renunciation with regards to your own needs and wishes. Examine each on the touchstone of essentiality. When you pile up things in your apartment, you only promote darkness and dust; so also, do not collect and store too many materials in your mind. Travel light. Have just enough to sustain life and maintain health. The pappu (dish of lentils) must have only enough uppu (salt) to make it relishing; do not spoil the 'dal' with extra salt. Life becomes difficult to bear, if you add too much desire to it. Limit your desires to your capacity and amongst them, choose those that grant lasting joy. Do not run after fashion and public approval and strain your resources. Stick to your own code of rules that regulate your life based on your spiritual progress. Place the needs and joys of others first, as more important than yours!


Aku akan mengatakanmu hari ini bahwa apa yang menguntungkan bagimu, yang mana engkau harus jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Kembangkan melepaskan keakuan untuk kebutuhan dan keinginanmu sendiri. Periksa masing-masing pada batu uji yang bersifat mendasar. Ketika engkau menimbun barang-barang di dalam apartemenmu, engkau hanya menebalkan debu dan kegelapan; begitu juga, jangan mengumpulkan dan menyimpan terlalu banyak barang di dalam pikiranmu. Berjalanlah dengan ringan. Milikilah secukupnya untuk menopang hidup dan menjaga kesehatan. Pappu (makanan kacang-kacangan) hanya harus berisi cukup uppu (garam) untuk membuatnya menjadi bisa dinikmati; jangan menyia-nyiakan 'dal' dengan garam yang berlebihan. Hidup menjadi sulit dihadapi, jika engkau menambahkan terlalu banyak keinginan. Batasi keinginanmu pada kapasitasmu dan diantara semuanya itu pilih yang dapat memberikan suka cita yang kekal. Jangan mengikuti kebiasaan dan persetujuan masyarakat umum serta memaksakan sumber dayamu. Berpegang teguh pada pedoman hidupmu yang mengatur hidupmu berdasarkan pada kemajuan spiritualmu. Tempatkan kebutuhan dan suka cita yang lain pertama, sama lebih pentingnya dari milikmu! [Divine Discourse, Aug 19, 1964]

-BABA

Monday, November 27, 2017

Thought for the Day - 26th November 2017 (Sunday)

Everyone is now seeking comfort and pleasure; that seems to be the be-all and end-all. If you tell people that they can eat whatever they like and as much as they like, they are delighted; if you add that they might develop, as a consequence, some illness or other, they will treat you as an enemy! No regimen or control is popular. But strength is derived only from control, from restraint and regulation. People become tough and capable of endurance only if they welcome hardships. Struggle, and you get the strength to succeed. Seek the basis for the seen in the unseen. The tall skyscraper has a deep base reaching into the earth. This seen world has as its base the unseen Paramathma (Supreme Lord)! Your body is the god-gifted instrument through which you can search, investigate, and discover that base.


Setiap orang sekarang sedang mencari kenyamanan dan kesenangan; hal itu kelihatan menjadi segalanya dan tujuan dari semuanya. Jika engkau meminta orang-orang bahwa mereka dapat makan apapun yang mereka sukai dan sebanyak yang mereka mau maka mereka akan menjadi sangat senang; jika engkau menambahkan dengan bahwa mereka bisa mendapatkan beberapa penyakit atau yang lainnya sebagai dari akibat makan maka mereka akan menganggapmu sebagai musuh! Tidak ada aturan atau pengendalian adalah popular saat sekarang. Namun kekuatan hanya bisa didapatkan melalui pengendalian, pengaturan, dan pengekangan. Manusia menjadi kuat dan mampu serta memiliki ketahanan hanya jika manusia menerima penderitaan. Berjuanglah maka engkau akan mendapatkan kekuatan untuk berhasil. Carilah dasar untuk dapat melihat yang tidak terlihat. Gedung pencakar langit memiliki dasar yang dalam di dalam tanah. Dunia yang nampak ini memiliki dasarnya yang tidak kelihatan yaitu Paramathma (Tuhan yang tertinggi)! Tubuhmu adalah pemberian dari Tuhan dimana sebagai sarana yang dapat engkau pakai dalam mencari, menyelidiki, dan mengungkapkan dasarnya. [Divine Discourse, Nov 23, 1964]

-BABA

Thought for the Day - 25th November 2017 (Saturday)

You might say that the karma from previous birth must be consumed in this birth and that no amount of grace can save you. Evidently someone has taught you to believe so. I assure you, you need not suffer from karma like that. When severe pain torments you, the doctor gives you a morphine injection (pain-killer), and you do not feel the pain though it is there in your body. Grace is like morphine; the pain is not felt, though you go through it! Grace takes away the malignity of the karma which you undergo. Just like dated drugs are declared ineffective after a certain date, with Grace, the effect of karma is rendered null, though the account is there! Hence, it is wrong to say the ‘Lalata likhitam’ (fate written on the forehead) cannot be rendered ineffective. Grace can surpass anything; nothing can stand in its way. Remember, it is the grace of the ‘All-mighty’!


Engkau mungkin berpikir bahwa karma dari kelahiran yang lalu harus diterima dalam kelahiran ini dan tidak ada rahmat yang dapat menyelamatkanmu. Dengan jelas seseorang telah mengajarkanmu untuk mempercayainya. Aku meyakinkan dan menjaminmu bahwa engkau tidak perlu menderita dari karma seperti itu. Ketika rasa sakit yang sangat menyakitkan menyiksamu maka dokter memberikanmu suntikan penghilang rasa sakit, dan engkau tidak merasa sakit walaupun rasa sakit itu ada di dalam dirimu. Rahmat Tuhan adalah seperti suntikan penghilang rasa sakit; rasa sakit itu tidak dirasakan lagi walaupun engkau mengalaminya! Rahmat Tuhan menghilangkan penyakit karma yang engkau alami. Sama halnya seperti tanggal kadaluarsa pada obat dimana obat tidak akan efektif pada tanggal tertentu, dengan rahmat Tuhan maka pengaruh dari karma dijadikan menjadi nol walaupun catatan karma itu masih ada! Oleh karena itu, adalah salah mengatakan ‘Lalata Likhitam’ (takdir tertulis di dahi) tidak bisa dijadikan tidak berlaku. Rahmat dapat melampaui apapun; tidak ada apapun yang dapat menghalanginya. Ingatlah, ini adalah rahmat Yang Maha Kuasa [Divine Discourse, Nov 23, 1964]

-BABA

Friday, November 24, 2017

Thought for the Day - 24th November 2017 (Friday)

In the present times, there is none fully good, and so who deserves the protection of God? All are tainted by wickedness! Will anyone survive if God decides to uproot evil? Therefore I have to correct the buddhi (intellect) by various means; I have to counsel, help, command, condemn and standby as friend and well-wisher to all, so that they may give up evil propensities, recognise the straight path, tread it and reach the goal. I have to reveal to the people the worth of the Vedas and the scriptural texts, which lay down the norms. The easiest path to self-realisation is the surrender of the ego. Arjuna surrendered and so the war he was engaged was transformed into a yajna, a sacrifice! Daksha performed a yajna, but was so full of egoism and chose not to surrender! So his yajna was transformed into a war filled with hate. Do not pit your tiny ego against the Almighty; leave it to His Will and you will enjoy lasting peace.


Pada saat sekarang, tidak ada seorangpun yang benar-benar baik, dan siapa yang layak berhak mendapatkan perlindungan dari Tuhan? Semuanya dinodai oleh kejahatan! Akankah ada yang dapat bertahan hidup jika Tuhan memutuskan untuk menghancurkan kejahatan? Maka dari itu Aku telah memperbaiki buddhi (kecerdasan) dengan berbagai jenis sarana; Aku harus menasihati, membantu, memerintahkan, menghukum, dan bersiap-siap sebagai teman dan mengharapkan kebahagiaan bagi semuanya, sehingga melepaskan kecenderungan jahatnya, menyadari jalan yang lurus, menapaki jalan itu dan mencapai tujuan. Aku harus mengungkapkan kepada manusia nilai luhur dari Weda dan naskah suci, yang memuat semua norma-norma yang ada. Jalan yang paling gampang untuk mencapai kesadaran diri adalah menyerahkan ego. Arjuna berserah diri, sehingga perang yang dijalaninya dirubah menjadi sebuah Yajna, sebuah kurban suci! Daksha melakukan sebuah Yajna, namun penuh dengan ego dan memilih untuk tidak berserah diri! Sehingga Yajnanya dirubah menjadi perang yang diliputi dengan kebencian. Jangan mengadu egomu yang sangat kecil melawan Yang Maha Kuasa; serahkan ego itu pada kehendak-Nya dan engkau akan menikmati kedamaian yang kekal. [Divine Discourse, Nov 23, 1964]

-BABA

Thought for the Day - 23rd November 2017 (Thursday)

Embodiments of the Divine Self! You are celebrating today as the Birthday of Swami, and deriving divine bliss (ananda) through various programs carried on with enthusiasm; but in fact, I have no wish to consider this as a special day! Such desire, does not exist in Me at any time, in this or any other sojourn. I need nothing, however great or small, in this Universe! I have come with one purpose: To reveal to everyone of you the mystery of your reality and the goal of your life! What you should place before Me as offering is Pure Love from within. When you offer Me that, I derive Ananda! From today, spend your days and years in activities that help and care for those who are in dire need, and make this human existence of yours worthwhile and fruitful. Conduct yourself appropriately and realise the goal of your life. My blessings to you!


Perwujudan diri yang ilahi! Hari ini engkau sedang merayakan ulang tahun Swami, dan mendapatkan kebahagiaan ilahi (ananda) melalui berbagai jenis program yang dilakukan dengan semangat; namun sejatinya, Aku tidak menganggap hari ini sebagai hari yang istimewa! Keinginan seperti itu, tidak ada pada diri-Ku pada kapanpun juga, dalam persinggahan ini atau yang lainnya. Aku tidak membutuhkan apapun, betapa besar atau kecilnya, di alam semesta ini! Aku telah datang dengan satu tujuan: untuk mengungkapkan kepada setiap orang darimu tentang misteri kenyataanmu yang sejati dan tujuan dari hidupmu! Apa yang seharusnya engkau letakkan di depan-Ku sebagai persembahan adalah kasih yang suci dari dalam diri. Ketika engkau mempersembahkan itu pada-Ku, maka Aku mendapatkan Ananda! Mulai dari hari ini, lewatkan hari-harimu dan tahun-tahunmu dalam kegiatan untuk membantu dan merawat orang-orang yang sangat membutuhkan, dan buatlah keberadaanmu sebagai manusia menjadi berguna dan bermanfaat. Atur dirimu sendiri dengan tepat dan sadari tujuan hidupmu. Karunia-Ku adalah untukmu! [Divine Discourse, Nov 23, 1974]

-BABA

Thought for the Day - 22nd November 2017 (Wednesday)

It is essential for students to understand why morality and spirituality have disappeared from society. Education without character, science without human values, commerce without ethics, and politics without truth are responsible for the erosion of virtue. Students have a duty to develop patriotism and restore these forgotten values. Today’s education makes one clever but does not instill virtue. Students transform their heads (mastakam) into books (pustakam) without practising human values. There is no benefit in turning your head into a book or vice versa. Recognise the path of Truth and demonstrate it in day-to-day living. The world needs people imbued with integrity. All that is learned must culminate in behaviour. Life today is based on show, expenditure, and comfort. Humanity’s problems can be solved not by money or science but by humanity alone. People must transform themselves to live as human beings.


Adalah bersifat mendasar bagi para pelajar untuk mengerti mengapa moralitas dan spiritualitas telah lenyap dari masyarakat. Pendidikan tanpa karakter, ilmu pengetahuan tanpa nilai-nilai kemanusiaan, perdagangan tanpa etika, dan politik tanpa kebenaran semuanya ini yang bertanggung jawab pada merosotnya nilai-nilai kebajikan. Para pelajar memiliki sebuah kewajiban untuk mengembangkan cinta tanah air dan memulihkan kembali nilai-nilai yang telah dilupakan. Pendidikan saat sekarang membuat seseorang pintar namun tidak menanamkan kebajikan. Para pelajar merubah kepala mereka (mastakam) menjadi buku-buku saja (pustakam) tanpa menjalankan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak ada untungnya merubah kepalamu menjadi sebuah buku atau sebaliknya. Sadarilah jalan kebenaran dan perlihatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dunia memerlukan orang-orang yang penuh dengan integritas. Semua yang dipelajari harus berujung pada tingkah laku. Kehidupan sekarang didasarkan pada pamer, pengeluaran, dan kenyamanan. Masalah kemanusiaan tidak dapat dipecahkan dengan uang atau pengetahan namun hanya oleh umat manusia saja. Manusia harus merubah diri mereka sendiri untuk hidup sebagai manusia.  (Divine Discourse, May 20, 1991)

-BABA

Tuesday, November 21, 2017

Thought for the Day - 21st November 2017 (Tuesday)

Sanctify your life by developing sense control. It is only because people have no control over their senses and no limit to their desires that there is a lot of unrest and agitation in society. Many people roam about in society like animals. You should not become so. Whenever some evil thoughts arise in you, you should remind yourself that you are a human being and not an animal. Anger is an animal quality. When animals get angry, they fight with one another. Unfortunately, today human beings are also fighting among themselves like animals. Animals have a reason and a season, but human beings have no reason, no season and behave worse than animals. Being a human being, you should cultivate human qualities and do not get angry! Even if anger overpowers you, you should try to become calm and quiet. Do not lose your cool. When you cultivate calmness, you will never become agitated and restless.


Sucikan hidupmu dengan mengembangkan pengendalian indria. Hanya karena manusia tidak memiliki pengendalian indria dan tidak ada batas pada keinginan mereka maka dari itu muncul banyak kegelisahan dan pergolakan dalam masyarakat. Banyak orang hidup di masyarakat seperti halnya binatang. Engkau seharusnya tidak menjadi seperti itu. Kapanpun pikiran jahat muncul dalam dirimu, engkau harus mengingatkan dirimu sendiri bahwa engkau adalah manusia dan bukan seekor binatang. Kemarahan adalah sifat seekor binatang, mereka bertengkar satu dengan yang lainnya. Namun sangat disayangkan, hari ini manusia juga bertengkar diantara mereka seperti halnya binatang. Binatang memiliki alasan dan musim, namun manusia tidak memiliki alasan dan musim serta bertingkah laku lebih buruk daripada binatang. Dengan menjadi manusia, engkau seharusnya meningkatkan sifat manusia dan jangan menjadi marah! Bahkan jika kemarahan menguasaimu, engkau seharusnya mencoba untuk tenang dan diam. Jangan kehilangan ketenanganmu. Ketika engkau meningkatkan ketenangan, engkau tidak akan pernah menjadi meradang dan gelisah. (Divine Discourse, May 2, 2006)

-BABA