Saturday, October 21, 2017

Thought for the Day - 21st October 2017 (Saturday)

What exactly is the meaning of ‘Sai Baba’? Sai means Sahasrapadma (the thousand petalled lotus), it means Sakshatkara (realisation or direct experience of the Lord), Ayi means mother, and Baba means father. Thus, ‘Sai Baba’ means He who is both Father and Mother and the Goal of all yogic endeavour; the ever-merciful Mother, the All-wise Father, and the Goal of all spiritual efforts. My advent is to establish righteousness (dharma samsthapana). When you are groping in a dark room, you must seize the chance when someone brings a lamp into the room. You should hurriedly collect your belongings that are scattered there, or discover where they are located, or do whatever else you need to do with the light. Similarly make the best of the chance when the Lord descends in a human form and save yourself from disaster. The undue importance that you now attach to the satisfaction of sensual desires must diminish as a result of your association with sacred books and saintly personages.


Jangan berlari mengikuti segenap orang yang mengulang-ulang materi yang ada dalam buku dan memakai jubah dengan meminta-minta. Periksa setiap tingkah laku mereka, niat, nasihat mereka dan hubungan diantara apa yang mereka katakan dan lakukan. Berpeganglah pada keyakinanmu; jangan merubah kesetiaanmu secara langsung saat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi atau seseorang membisikkan tentang orang lain! Jangan menurunkan gambar Sai Baba dari altar dan mengganti dengan gambar yang lain karena rasa kecewa untuk pertama kali. Tinggalkan semua pada-Nya; biarkan kehendak-Nya yang terjadi — itu yang seharusnya menjadi sikapmu. Jika engkau tidak melewati kekerasan dan kelembutan, bagaimana engkau dapat dikuatkan? Sambutlah cahaya dan bayanganya, matahari dan juga hujan. Jangan berpikir bahwa hanya mereka yang memuja sebuah gambar dengan perlengkapan yang mewah adalah bhakta. Siapapun yang berjalan lurus sepanjang jalan moral, siapapun yang berbuat seperti yang mereka katakan dan berbicara seperti yang mereka lihat, siapapun yang menjadi sangat tersentuh pada penderitaan orang lain dan berbahagia atas suka cita yang lainnya – mereka adalah bhakta, mungkin lebih hebat dari bhakta. [Divine Discourse, Feb 26, 1961]

-BABA

Friday, October 20, 2017

Thought for the Day - 20th October 2017 (Friday)

What exactly is the meaning of ‘Sai Baba’? Sai means Sahasrapadma (the thousand petalled lotus), it means Sakshatkara (realisation or direct experience of the Lord), Ayi means mother, and Baba means father. Thus, ‘Sai Baba’ means He who is both Father and Mother and the Goal of all yogic endeavour; the ever-merciful Mother, the All-wise Father, and the Goal of all spiritual efforts. My advent is to establish righteousness (dharma samsthapana). When you are groping in a dark room, you must seize the chance when someone brings a lamp into the room. You should hurriedly collect your belongings that are scattered there, or discover where they are located, or do whatever else you need to do with the light. Similarly make the best of the chance when the Lord descends in a human form and save yourself from disaster. The undue importance that you now attach to the satisfaction of sensual desires must diminish as a result of your association with sacred books and saintly personages.


Apa makna yang sebenarnya dari ‘Sai Baba’? Sai berarti Sahasrapadma (bunga teratai dengan ribuan kelopak), ini berarti Sakshatkara (realisasi atau pengalaman langsung dengan Tuhan), Ayi berarti ibu, dan Baba berarti ayah. Jadi, ‘Sai Baba’ berarti Beliau yang merupakan keduanya yaitu Ayah dan Ibu serta tujuan dari semua usaha dari para Yogi; Ibu yang sangat pemurah hati, Ayah yang sangat bijaksana, dan tujuan dari semua usaha spiritual. Kedatangan-Ku adalah untuk menegakkan kembali kebajikan (dharma samsthapana). Ketika engkau meraba-raba dalam ruangan yang gelap, engkau harus meraih kesempatan ketika seseorang membawakan pelita ke dalam ruangan itu. Engkau harus dengan segera mengumpulkan barang-barangmu yang berserakan disana, atau menemukan dimana barang-barang itu diletakkan, atau melakukan yang lain yang engkau butuhkan dengan cahaya. Sama halnya, maka lakukan yang terbaik dengan kesempatan ketika kedatangan Tuhan dalam wujud manusia untuk menyelamatkanmu dari bencana. Kepentingan yang tidak perlu saat sekarang bahwa engkau terikat pada kepuasan akan keinginan sensual dan itu harus berkurang sebagai hasil dari pergaulanmu dengan buku-buku suci dan mereka yang suci. [Divine Discourse, Feb 26, 1961] [Divine Discourse, Nov 4,2002]

-BABA

Thought for the Day - 19th October 2017 (Thursday)

Do not be carried away by others’ opinions – either good or bad. Develop your own line of thinking, based on your conscience. Develop self confidence. Where there is self-confidence, there will be self-satisfaction. Where there is self-satisfaction, there will be self-sacrifice. And through self-sacrifice comes self-realisation. Self-confidence is the foundation for the building; it remains below the surface of the earth. Self-satisfaction represents the walls, self-sacrifice is the roof, and the life in this house is self-realisation. Without the foundation of self-confidence, self-realisation cannot be achieved. Therefore, build up your self-confidence slowly. In this process, start early, drive slowly and reach your goal of self-realisation safely. First and foremost, develop love. It is easier to cultivate love than all other qualities. There is nothing in this world which cannot be achieved with love.


Jangan terbawa oleh pendapat orang lain – apakah itu baik atau buruk. Kembangkan pemikiranmu sendiri berdasarkan pada kesadaranmu. Kembangkan rasa percaya diri. Dimana ada rasa percaya diri maka disana akan ada rasa kepuasan diri. Dimana ada rasa kepuasan diri maka disana akan ada sifat rela berkorban. Dan melalui sifat rela berkorban kemudian muncul realisasi diri. Rasa percaya diri adalah pondasi dari bangunan; dimana pondasi itu tetap ada di bawah tanah. Kepuasan diri melambangkan temboknya, rela berkorban adalah atapnya, dan kehidupan yang ada di dalam rumah itu adalah realisasi diri. Tanpa adanya pondasi berupa kepercayaan diri maka realisasi diri tidak dapat diraih. Maka dari itu, bangunlah kepercayaan diri secara perlahan. Dalam proses ini, mulai lebih awal, lakukan secara perlahan dan raihlah tujuanmu yaitu realisasi diri dengan selamat. Pertama dan terpenting, kembangkanlah cinta kasih. Adalah lebih mudah meningkatkan kasih daripada sifat yang lainnya. Tidak ada di dunia yang tidak dapat dicapai dengan kasih. [Divine Discourse, Nov 4, 2002]

-BABA

Wednesday, October 18, 2017

Thought for the Day - 18th October 2017 (Wednesday)

Narakasura is present in everyone as lust, hate, greed and as fear and grief, which are against the very nature of humanity. Just as an umbrella with a silk cover cannot protect you from rain but the one with a waterproof cover can, so too in this storm-driven world incessantly flushed by torrential rain, an umbrella with desire-proof and anger-proof coating is very essential. There is great latent power inherent in every¬one, and when that power is made explicit (vyakta), a human being deserves to be called individual (vyakthi). When the latent qualities from within you manifest, the demons will automatically be destroyed. Your reality is Atma; your quality is bliss (ananda). Krishna is the Super or Omni Self (Paramatma) and Satyabhama (Krishna’s consort) represents the individual self (jiva). On this auspicious day, Paramatma destroys the evil propensities with the active collaboration of the individual self! Remember, the individual self can defeat evil with the active grace of the Lord.


Narakasura adalah ada dalam diri setiap orang dalam bentuk nafsu birahi, kebencian, ketamakan dan ketakutan serta kesedihan, yang mana merupakan kebalikan dari sifat dasar manusia. Sama halnya dengan payung dengan penutup sutera tidak bisa melindungimu dari hujan tapi dengan penutup anti air dapat melindungimu, begitu juga dalam badai dunia ini yang bergejolak secara terus menerus dengan hujan yang begitu lebat maka sebuah payung dengan pelindungnya berupa anti keinginan dan anti kemarahan adalah sangat mendasar. Ada sebuah kekuatan besar yang terpendam serta menjadi pembawaan sejak lahir dalam diri setiap orang, dan ketika kekuatan itu dibuat terlihat dengan jelas (vyakta), seorang manusia layak disebut dengan seorang individual (vyakti). Ketika kualitas yang terpendam dari dalam diri itu diwujudkan, maka raksasa secara otomatis akan dihancurkan. Kenyataanmu yang sejati adalah Atma; kualitasmu adalah kebahagiaan (ananda). Sri Krishna adalah bersifat Super atau kepribadian yang tertinggi (Paramatma) dan Satyabhama (permaisuri Krishna) melambangkan diri individu (jiwa). Pada hari yang suci ini, Paramatma menghancurkan kecendrungan jahat dengan kerjasama aktif dari diri individu! Ingatlah, diri individu dapat mengalahkan kejahatan dengan karunia aktif dari Tuhan. (Sathya Sai Speaks, Vol 3, Dec 1963)
-BABA

Thought for the Day - 17th October 2017 (Tuesday)

When the qualities of an asura (demon) enter nara (man), he becomes Narakasura. In such a person, you find only bad qualities and evil feelings. Such a person does not join the company of the noble and does not make efforts to reach God, but makes friendship with only wicked people. Such a mentality is the consequence of evil deeds over a number of births. Ravana had acquired all types of knowledge like Rama. But unlike Rama, he joined bad company, entertained bad thoughts, and indulged in wicked deeds. Hence, people revere Rama and abhor Ravana. One is revered or ridiculed on the basis of one's conduct. Understand that none should lead a self-centred life. Wherever a good activity is taking place, wherever a prayer meeting is held, take part in them with enthusiasm. The scriptures guide us, “Give up bad company. Join the company of the noble. Perform meritorious deeds day and night.”


Ketika sifat raksasa (asura) memasuki manusia (nara), maka manusia itu akan menjadi Narakasura. Pada orang itu, engkau hanya menemukan sifat-sifat buruk dan perasaan yang jahat. Orang seperti itu tidak bergabung dalam pergaulan orang-orang yang baik dan tidak melakukan usaha untuk mencapai Tuhan, namun membuat pertemanan dengan orang yang jahat saja. Itu adalah mentalitas yang muncul akibat dari perbuatan jahat dari beberapa kelahiran. Ravana telah memiliki semua jenis pengetahuan seperti halnya Rama. Namun tidak seperti Rama, ketika Ravana bergabung dalam pergaulan yang tidak baik, memiliki pikiran yang buruk dan terlibat dalam melakukan perbuatan yang jahat. Oleh karena itu, orang-orang memuja Rama dan membenci Ravana. Seseorang dimuliakan atau dihina berdasarkan pada tingkah lakunya. Pahamilah bahwa seharusnya tidak ada seorangpun yang menjalani hidup yang mementingkan diri sendiri. Dimanapun perbuatan baik dilakukan, dimanapun doa dilantunkan, maka ikuti semuanya itu dengan semangat. Naskah suci menuntun kita, “lepaskan pergaulan yang tidak baik. Bergabunglah dalam pergaulan mereka yang mulia. Jalankan perbuatan yang bermanfaat siang dan malam.” (Divine Discourse, Nov 4, 2002)

-BABA

Monday, October 16, 2017

Thought for the Day - 16th October 2017 (Monday)

Now, engage yourself in spiritual discipline, spiritual thoughts and spiritual company. Forget the past. At least from now on, seek to save yourself. Never yield to doubt or unsteadiness. That is a sign of ignorance. Have faith in any one Name and the Form indicated by that name. If you revere Shiva and hate Vishnu, the plus and the minus cancel out and the net result is zero. I will not tolerate the slightest hatred of any Name or Form. The wife has to revere the husband, but that does not mean that she has to hate his parents, brothers or sisters. You can never attain the Lord through hatred of one or more of His many Forms and Names. If you throw contempt at the God that another reveres, the contempt falls on your own God. Avoid factions, quarrelling, hating, scorning and fault-finding; they recoil on you. Remember everyone is a pilgrim towards the same goal; some travel by one road, some by another.


Sekarang, libatkan dirimu dalam displin spiritual, pemikiran spiritual, dan pergaulan spiritual. Lupakanlah masa lalu. Setidaknya mulai dari sekarang dan seterusnya, carilah untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Jangan pernah menyerah pada keraguan atau keadaan tidak tenang. Itu adalah tanda dari kebodohan. Miliki keyakinan pada satu nama dan wujud yang ditunjukkan oleh nama itu. Jika engkau memuja Dewa Shiva dan membenci Wishnu, tambah dan kurang membatalkannya dan hasil bersihnya adalah nol. Aku tidak akan memberikan toleransi pada kebencian sedikitpun pada nama atau wujud. Istri harus memuliakan suami, namun bukan berarti bahwa sang istri harus membenci orang tua atau saudaranya. Engkau tidak akan bisa mencapai Tuhan melalui kebencian pada satu atau lebih dari nama dan wujud-Nya. Jika engkau melempar kebencian pada Tuhan dan memuja yang lainnya, maka kebencian itu akan sampai pada Tuhanmu sendiri. Hindari konflik, pertengkaran, kebencian, mencemooh, dan mencari kesalahan; semuanya itu membawa kemunduran pada dirimu. Ingatlah setiap orang adalah peziarah menuju pada tujuan yang sama; beberapa berjalan dengan satu jalan, beberapa yang lain dengan jalan yang lainnya. (Divine Discourse, Oct 10, 1964)

-BABA

Sunday, October 15, 2017

Thought for the Day - 15th October 2017 (Sunday)

God loves the flower of peace (Shanti). This flower of peace should not be interpreted to mean that you should be silent towards whoever is attacking you or blaming you. It is not that at all! If you are unmoved and unperturbed in spite of anyone finding faults in you, that is real Shanti. If you can fill your heart with love, you will always be peaceful. Through our own bad qualities, we lose peace. With truthful thoughts, you will have peace. With untruthful thoughts, you lose peace. It is only when you are free from all thoughts that you can have true peace. Your own bad thoughts are responsible for all your pain and sorrow. Through good thoughts and ideas, you will become a sadhu (saint). Sadhu does not mean one who merely wears an orange robe, shaves the head and wears holy beads (Rudrakshas). Every person who has good thoughts and good ideas is a sadhu.


Tuhan menyayangi bunga kedamaian (Shanti). Bunga kedamaian  ini seharusnya tidak dimaknai bahwa engkau harus diam kepada siapapun yang menyerangmu atau menyalahkanmu. Bukan itu sama sekali! Jika engkau tidak bergeming dan tidak terganggu sekalipun ada orang yang mencari kesalahanmu, itu adalah kedamaian yang sejati. Jika engkau dapat mengisi hatimu dengan kasih, engkau akan selalu menjadi damai. Karena sifat-sifat buruk kita maka kita kehilangan kedamaian. Dengan pikiran yang tidak baik, engkau kehilangan kedamaian. Hanya ketika engkau bebas dari semua pikiran maka engkau bisa memiliki kedamaian yang sejati. Pikiranmu sendiri adalah yang bertanggung jawab dari semua rasa sakit dan penderitaaan. Dengan pikiran dan gagasan yang baik, engkau akan menjadi seorang sadhu (orang suci). Sadhu tidak berarti seseorang yang hanya memakai pakaian berwarna oranye, menggunduli kepalanya dan memakai japa mala (Rudrakshas). Setiap orang yang memiliki pikiran baik dan gagasan yang baik adalah seorang sadhu. (Divine Discourse, 12 May, 1981)

-BABA

Thought for the Day - 14th October 2017 (Saturday)

Develop divine love (Prema) towards the Lord, the Embodiment of Supreme Divine Love. Never give room for doubts, hesitations and questions to test the Lord’s Love. “Why have my troubles not ended? How come this situation is happening to me?” Do not think that God does not care for you or He does not know you. You may not get what you want, when you want, but do not be under the impression that God does not love you or care for you. Do not get shaken in mind; never allow faith to decline. That will only add to the grief you already suffer from. Hold fast to your chosen deity – Shiva, Rama or Sai Baba. Do not lose the contact and company, for only when coal is in contact with the live embers, it can also become one. Cultivate nearness to Me in your heart and you will be rewarded with a fraction of Supreme Divine Love.


Kembangkan kasih Tuhan (Prema) pada Tuhan, perwujudan dari kasih Tuhan yang tertinggi. Jangan pernah memberikan ruang untuk keraguan, bimbang, dan menanyakan untuk menguji kasih Tuhan. “Mengapa kesulitan dan masalahku tidak berakhir? Bagaimana situasi seperti ini bisa terjadi padaku?” jangan berpikir bahwa Tuhan tidak peduli padamu atau Tuhan tidak mengetahui tentang dirimu. Engkau mungkin tidak mendapatkan apa yang engkau inginkan, ketika engkau menginginkannya, namun jangan memiliki pikiran bahwa Tuhan tidak menyayangimu atau tidak peduli kepadamu. Jangan membuat pikiranmu menjadi terguncang; jangan pernah izinkan keyakinan menjadi memudar. Hal itu hanya akan menambahkan duka cita pada penderitaan yang sudah engkau alami. Pegang dengan kuat nama serta wujud Tuhan yang telah engkau pilih – Shiva, Rama, atau Sai Baba. Jangan kehilangan kontak dan hubungan, karena hanya ketika batubara bersentuhan dengan bara api yang hidup, batubara dan api dapat menjadi satu. Tingkatkan kedekatan dengan-Ku di dalam hatimu dan engkau akan diberkati dengan sebuah pecahan dari kasih Tuhan yang tertinggi. (Divine Discourse, 10 Oct, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 13th October 2017 (Friday)

Imagine your son and servant is at home. If your son is pilfering some things or developing bad habits, you will try and control him by correcting, scolding, and persuading him to return to good ways but will never take him and hand him over to the police – will you? On the other hand, if your servant steals a small spoon, at once, you will consider handing him over to the police, isn’t it? What is the inner significance from this situation? The reason for the difference in behavior is the narrow idea 'this boy is my son’. Because the servant does not belong to you, there is no consideration for forbearance and patience! Cultivate the broad idea 'everyone is mine', then, love, patience and forbearance will grow abundantly.


Bayangkan putramu dan pelayan ada di dalam rumah. Jika putramu mengambil sesuatu atau mengembangkan kebiasaan buruk, engkau akan mencoba dan mengendalikannya dengan memperbaiki, memarahi, dan membujuknya untuk kembali ke jalan yang baik namun tidak akan pernah melaporkan putramu ke polisi, bukan? Sebaliknya, jika pelayanmu mencuri sebuah sendok kecil, sekali saja, maka engkau akan melaporkannya ke polisi. Apa makna yang ada di dalam situasi ini? Alasan dibalik perbedaan dalam penanganan adalah karena gagasan yang sempit 'anak ini adalah putra saya’. Karena pelayan bukan milikmu, maka tidak ada pertimbangan untuk kesabaran dan ketabahan! Tingkatkan gagasan yang luas 'setiap orang adalah milikku', kemudian kasih, kesabaran, dan ketabahan akan berkembang dan tumbuh secara melimpah. (Divine Discourse, May 12, 1981)

-BABA

Thursday, October 12, 2017

Thought for the Day - 12th October 2017 (Thursday)

The eagle is pestered by crows so long as it has a fish in its beak. They swish past it to steal the fish out of its mouth. They pursue the bird wherever it sits for a little rest. At last, it gives up the attachment to the fish and drops it from its beak; the crows fly behind it and leave the eagle free. So leave off sense pleasures and the crows of pride, envy, malice, and hatred will fly away. Practise renunciation from now on so that you may set out on the journey when the call comes. No one knows when that will happen. Else, at that moment, you will be in tears, when you think of the house you have built, the property you have accumulated, the fame you have amassed, the trifles you have won, and so on. Know that all this is for the fleeting moment. Develop attachment for the Lord, who will be with you wherever you go. Only the years that you have lived with the Lord have to be counted as life, the rest are all out of count.


Elang diganggu oleh gagak selama elang membawa ikan di dalam paruhnya. Burung gagak terbang melintasinya agar bisa mencuri ikan yang ada di paruhnya dan selalu mengejarnya dimanapun burung elang hinggap untuk istirahat. Pada akhirnya, elang melepaskan keterikatan pada ikan itu dan menjatuhkannya dari paruhnya; burung gagak langsung mengejar ikan itu dan meninggalkan burung elang dengan bebas. Jadi lepaskan kesenangan indria dan burung gagak berupa kesombongan, iri hati, kedengkian, dan kebencian akan terbang menjauh. Berlatihlah untuk melepaskan keterikatan dari sekarang sehingga engkau dapat memulai perjalanan ketika panggilan datang. Tidak ada seorangpun mengetahui kapan hal itu akan terjadi. Kalau begitu, pada saat itu, engkau akan bersedih meneteskan air mata, ketika engkau memikirkan rumah yang telah engkau bangun, kekayaan yang telah engkau kumpulkan, kemashyuran yang telah engkau miliki, hal-hal sepele yang telah engkau menangkan, dan sebagainya. Ketahuilah bahwa semuanya ini adalah untuk saat yang sebentar. Kembangkan keterikatan pada Tuhan, yang mana Beliau akan bersamamu kemanapun engkau pergi. Hanya tahun-tahun yang telah engkau jalani dengan Tuhan dapat disebut dengan kehidupan, sedangkan sisanya tidak terhitung lagi. (Divine Discourse, Oct 10, 1964)

-BABA

Wednesday, October 11, 2017

Thought for the Day - 11th October 2017 (Wednesday)

The flower of ‘compassion to all living beings’ (Sarvabhute Daya Pushpam) is very dear to God. From the seed of Divinity grows the tree of creation. In this tree, the fruits are human beings who are Jeevatma. In each of these human fruits, Divinity is present as a seed. In Bhagavad Gita, Lord Krishna said, "Beejam Maam Sarva Bhutanam" (I am the seed in all living beings in the form of Atma, the soul). Recognising the truth that God is present in the form of Atma in all living beings, being compassionate to all is what God expects from you everyday. God loves the flower of forbearance (Kshama) very much. It is truly the highest quality of a human being. Often you develop narrow ideas, thinking of 'I', 'my family', and treat others as different from 'me'. When you truly love, you develop patience and forbearance. Expand your love to encompass all living beings, that will fructify as forbearance.


Bunga ‘cinta kasih kepada semua makhluk hidup’ (Sarvabhute Daya Pushpam) adalah yang sangat disenangi oleh Tuhan. Dari benih ke-Tuhan-an tumbuh menjadi pohon ciptaaan. Dalam pohon ini, buahnya yaitu umat manusia yang merupakan Jeevatma. Dalam setiap buah berupa umat manusia ini, ke-Tuhan-an hadir sebagai benihnya. Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna berkata, "Beejam Maam Sarva Bhutanam" (Aku adalah benih dalam semua makhluk hidup dalam wujud jiwa, Atma). Menyadari kebenaran ini bahwa Tuhan bersemayam dalam wujud Atma di dalam semua makhluk hidup, memiliki kasih sayang kepada semuanya adalah apa yang Tuhan harapkan kepadamu setiap harinya. Tuhan sangat mencintai bunga ketabahan (Kshama). Ini sejatinya adalah kualitas manusia yang tertinggi. Sering engkau mengembangkan pikiran yang sempit, memikirkan tentang 'aku', 'keluargaku', dan memperlakukan orang lain sebagai berbeda dari ‘aku’. Ketika engkau benar-benar mengasihi, engkau mengembangkan kesabaran dan ketabahan. Perluas kasihmu untuk meliputi semua makhluk hidup, itu akan menghasilkan yang namanya ketabahan. (Divine Discourse, May 12, 1981)

-BABA

Thought for the Day - 10th October 2017 (Tuesday)

When you go to a temple, you see the idol, and very soon, your thoughts are with your footwear you left outside at the gate! This simple thought reveals the depth of concentration you have achieved. Unless you take care of every single aspect, you cannot experience the benefits from your spiritual practices (sadhana)! A water-filled-pot with one, a few or many holes is useless for carrying or storing water, isn’t it? Hence, you cannot achieve liberation by merely going to sacred places, or seeing, touching and conversing with great souls. You must put in your full and complete effort to follow the instructions and their directions. Following the path of Radha, Meera, Gouranga and Thukaram, you must feel an inseparable affinity with the Lord, as inseparable as the sea and the wave. Remember, you are really of the same essence, the same taste, the same quality as the sea, though you have the name and form of the wave.


Ketika engkau pergi ke tempat suci, engkau dapat melihat sebuah arca suci dan segera pikiranmu memikirkan sandalmu yang tertinggal di luar gerbang! Pikiran yang sederhana ini mengungkapkan kedalaman konsentrasi yang telah engkau capai. Jika engkau tidak memperhatikan setiap aspek, engkau tidak bisa mengalami keuntungan dari kemajuan latihan spiritualmu (sadhana)! Sebuah pot yang ada satu atau banyak lubang adalah tidak berguna untuk menyimpan air di dalamnya, bukan? Oleh karena itu, engkau tidak bisa mencapai kebebasan hanya dengan mengunjungi tempat suci atau melihat, menyentuh, dan bercakap-cakap dengan jiwa-jiwa yang hebat. Engkau harus memberikan usaha yang sepenuhnya untuk mengikuti instruksi dan arahan mereka. Mengikuti jalan dari Radha, Meera, Gouranga, dan Thukaram, engkau harus merasakan kedekatan yang terpisahkan dengan Tuhan, seperti halnya tidak terpisahnya antara lautan dan gelombangnya. Ingatlah, engkau sejatinya adalah intisari yang sama, rasa yang sama, kualitas yang sama dengan lautan, walaupun engkau memiliki nama dan wujud sebagai ombak. (Divine Discourse, Oct 10, 1964)

-BABA

Monday, October 9, 2017

Thought for the Day - 9th October 2017 (Monday)

Broadening your heart and making it bigger and bigger, you should make it as big as God Himself. A balloon, in its initial stage, is tiny. If you go on blowing air into it, it becomes bigger and bigger and later explodes. Though beginning with the ideas of 'I' and 'mine', if you ultimately move on to the place that, "all are mine and all are one”, gradually you will become broader in your vision, and then you burst and merge into God who is omnipresent. You should recognise the truth that your life should consist of making the journey from the position of 'I' to the position of 'We'. If all the time you simply stay in the place of 'I', you will remain where you are. This creation is like the bridge which connects man with God. 'I' is one hill. 'God' is another hill. The bridge between the two is the aspect of creation. If you break and destroy the bridge, you can never reach the destination. I am hoping that you plunge into society and do service, and thereby use the bridge to reach God.


Perluas hatimu dan buatlah menjadi semakin besar dan semakin besar, engkau seharusnya membuat hatimu sebesar Tuhan itu sendiri. Sebuah balon pada awalnya adalah sangat kecil. Jika engkau meniupkan udara ke dalam balon itu maka balon itu akan menjadi semakin besar dan semakin besar dan akhirnya meletus. Walaupun dimulai dengan pemikiran 'aku' dan 'milikku', jika engkau pada akhirnya bergerak pada tujuan yaitu, "semua adalah milikku dan semuanya adalah satu”, secara perlahan engkau akan memiliki pandangan yang lebih luas, dan kemudian engkau akan terbuka sepenuhnya dan menyatu dalam kualitas Tuhan yang ada dimana-mana. Engkau harus menyadari kebenaran bahwa hidupmu seharusnya terkait dalam perjalanan dari posisi 'aku' menuju pada posisi 'kita'. Jika seluruh waktu engkau tetap tinggal di posisi 'aku', engkau akan tetap di tempat engkau berada. Ciptaan ini adalah seperti jembatan yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. 'aku' adalah satu bukit. 'Tuhan' adalah bukit yang lainnya. Jembatan diantara keduanya adalah aspek dari ciptaan. Jika engkau menghancurkan dan memutuskan jembatan itu maka engkau tidak akan pernah bisa mencapai tujuan. Aku berharap bahwa engkau terjun ke masyarakat dan melakukan pelayanan, dan dengan demikian menggunakan jembatan untuk mencapai Tuhan. (Divine Discourse, May 12, 1981)

-BABA

Sunday, October 8, 2017

Thought for the Day - 8th October 2017 (Sunday)

A fatal weakness that most people fall for is ‘dambha’ (conceit, egoism or pride), the desire to be talked about, to be praised! People take delight in tom-tomming their achievements and capabilities. They desire that their names and deeds are published in daily newspapers in big bold letters for all to see. Don’t fall for this clamour! This actually makes one ludicrous and pitiable. Do not strive to get attention in the newspapers. Instead, you must strive to earn status in the realm of God; earn fame in the company of the good and godly, progress in humility, and in reverence of elders and parents. If you are forever stuck in the primary class repeating the alphabets, when will you understand the teaching of the scholars from the scriptures? Spiritual subject is beyond the reach of your senses and you must garner strength to listen and cherish them dearly in your minds. I desire that you practice them and live in joy!


Sebuah kelemahan yang fatal bahwa kebanyakan orang jatuh ke dalam ‘dambha’ (kecongkakan, egoisme, atau kesombongan), keinginan untuk dibicarakan dan dipuji! Orang-orang sangat senang dalam mengatakan prestasi dan kemampuan mereka pada banyak orang. Mereka ingin bahwa nama dan perbuatan mereka dimuat dalam harian surat kabar dengan huruf besar dan dicetak tebal agar semua orang dapat membacanya. Jangan jatuh dalam keriuhan ini! Hal ini sejatinya membuat seseorang menggelikan dan menyedihkan. Jangan berusaha untuk mencari perhatian dengan surat kabar. Malahan, engkau harus berusaha untuk mendapatkan status dalam kerajaan Tuhan; dapatkan nama baik di dalam pergaulan dengan yang baik dan saleh, melangkah maju dalam kemanusiaan, dan menghormati yang lebih tua dan juga orang tua. Jika engkau selamanya ada di kelas satu dan hanya belajar abjad saja, kapan engkau akan memahami ajaran dari para cendekiawan dalam naskah-naskah suci? Pelajaran spiritual adalah di luar jangkauan indriamu dan engkau harus mengumpulkan kekuatan untuk mendengarkan dan menikmatinya di dalam pikiranmu. Aku menginginkan bahwa engkau menjalankan semuanya itu dan hidup dalam suka cita! (Divine Discourse, Oct 10, 1964)

-BABA

Saturday, October 7, 2017

Thought for the Day - 7th October 2017 (Saturday)

Offer the flower of non-violence (ahimsa) to God. We regard ahimsa to mean not to cause harm and hurt to other living beings. The true meaning of ‘Ahimsa’ is to not cause hurt and harm through thoughts, words or deeds. The control of your sense organs is another flower that must be offered to God. Our senses run without any control. If running horses are not controlled, they pose a danger. God has created each organ of the human body for a specific purpose. It is only when we use these sensory organs along the right path for which they have been created will we be entitled to God's grace. Our inner strength will decrease rapidly with agitation or unnecessary sorrow; body also suffers illness due to mental agitations and distractions. One ages very quickly through excitement and sorrow. The reason for your not preserving this sacred instrument in sound condition is lack of control over these sensory organs. Hence the second flower of sensory control should be used for worshipping God.


Persembahkan Bunga tanpa kekerasan (ahimsa) kepada Tuhan. Kita menganggap ahimsa sebagai tidak menyebabkan penderitaan dan menyakiti makhluk lainnya. Arti yang sebenarnya dari ‘Ahimsa’ adalah tidak menjadi sebab akan penderitaan dan rasa sakit melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Pengendalian organ-organ indriamu adalah bunga lain yang harus engkau persembahkan kepada Tuhan. Indria kita bergerak dengan cepat tanpa pengendalian apapun juga. Jika kuda pacuan berlari tanpa kendali maka itu akan menjadi sebuah mara bahaya. Tuhan telah menciptakan setiap organ dalam tubuh manusia untuk tujuan khusus. Hanya ketika kita menggunakan organ-organ indria ini di jalan yang benar sesuai dengan tujuannya diciptakan maka kita berhak akan karunia Tuhan. Kekuatan dalam diri kita akan merosot dengan cepat melalui agitasi atau kesedihan yang tidak perlu; tubuh juga menderita penyakit karena pergolakan dan gangguan batin. Usia manusia sangat cepat melalui suka dan duka cita. Alasan bagimu untuk tidak menjaga alat yang suci ini adalah kurangnya pengendalian pada organ-organ indria. Oleh karena itu, bunga kedua adalah pengendalian indria harus digunakan untuk memuja Tuhan. (Divine Discourse, May 12, 1981)

-BABA

Friday, October 6, 2017

Thought for the Day - 6th October 2017 (Friday)

In temples or homes, you may have seen people breaking coconuts to offer to God. If you try to break the nut just as it fell from the tree, will it break? No! The fibrous outer cover must be removed to first expose the shell. The fibre protects the shell and lets it grow, preventing blows from the environment. Liberation results from breaking the mind filled with vagaries and wishes. But how can you break it when the fibrous armour of sensual desires encompasses it? So, carefully and persistently, remove them and dedicate your mind to God! Smash it open in His presence. At that very moment, you are set free! The toughest fibre is anger; it is indeed the stickiest dirt! When you get angry, you forget everything and quickly descend to the lowest depth. You lose all discrimination during the agitation. Be Aware! Cultivate virtues assiduously. Virtue is your life-breath, character is the backbone.


Dalam tempat suci atau di rumah, engkau mungkin melihat orang-orang memecahkan kelapa untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Jika engkau mencoba untuk memecahkan kelapa sama halnya saat kelapa itu jatuh dari pohon, akankah kelapa itu pecah? Tidak! Serat luar yang membungkus kelapa itu harus dilepaskan pertama untuk menyingkapkan tempurungnya. Serat itu melindungi tempurungnya dan membiarkannya tumbuh, mencegah benturan dari lingkungan. Kebebasan diperoleh dari memecah pikiran yang diisi dengan ketidaktetapan dan keinginan. Namun bagaimana engkau dapat memecahkannya ketika serabut baju pelindungnya yaitu keinginan sensual menutupinya? Jadi, secara hati-hati dan terus menerus, lepaskan serabut itu dan dedikasikan pikiranmu kepada Tuhan! Hancurkan serabut itu dan buka tempurungnya di hadapan Tuhan. Pada saat itu juga, engkau dibebaskan! Serabut yang paling kuat adalah amarah; amarah adalah kotoran yang paling  lengket! Ketika engkau marah, engkau lupa segalanya dan dapat cepat jatuh pada level yang paling bawah. Engkau kehilangan semua kemampuan membedakanmu selama pergejolakan itu. Waspadalah! Tingkatkan kebajikan dengan tekun. Kebajikan adalah nafas hidupmu, karakter adalah tulang belakangmu. (Divine Discourse, Oct 10, 1964)

-BABA

Thursday, October 5, 2017

Thought for the Day - 5th October 2017 (Thursday)

Are the flowers you offer in worship created by you? You bring flowers which were created by the Will (sankalpa) of God on some tree or garden and offer it back to the Creator Himself. What is the greatness in offering flowers created by God and giving them back to God Himself? Many people bathe in the Ganges, take the water from the Ganges into their palms and offer it back to the Ganges itself. Is there any merit in this? Let me suggest a better alternative to offer to God. From the tree of your life, select the fruits that you have carefully nurtured and grown, blossoming in the form of good qualities from within, and offer them to God! There is some distinctiveness in that! To promote these good qualities, you may have had to undergo several troubles. But remember, it is through troubles these good qualities have grown and your mind now naturally acquires divine concentration!


Apakah engkau yang menciptakan bunga yang engkau persembahkan dalam pemujaan? Engkau mempersembahkan bunga yang diciptakan oleh kehendak Tuhan (sankalpa) dan tumbuh pada beberapa pohon atau kebun serta mempersembahkannya kembali kepada Tuhan sendiri. Apa kehebatan dalam mempersembahkan bunga yang diciptakan oleh Tuhan dan mempersembahkannya kembali kepada Tuhan? Banyak orang mandi di sungai Gangga, mengambil air dari sungai Gangga dengan tangan mereka dan kemudian mempersembahkan air itu kembali kepada sungai Gangga sendiri. Apakah ada kebaikan dalam hal ini? Aku sarankan sebuah alternatif yang lebih baik untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Dari pohon hidupmu, pilihlah buah yang telah dengan hati-hati engkau rawat dan tumbuh, merekah dalam kualitas yang baik dari dalam dan kemudian mempersembahkannya kepada Tuhan! Ada beberapa kekhasan dalam hal itu! Untuk mengembangkan kualitas yang baik ini, engkau mungkin telah mengalami beberapa masalah. Namun ingatlah, hanya melalui masalah kualitas baik ini dapat tumbuh dan pikiranmu sekarang secara alami mendapatkan fokus pada Tuhan! - Divine Discourse, May 12, 1981

-BABA

Wednesday, October 4, 2017

Thought for the Day - 4th October 2017 (Wednesday)

The world around is full of sorrow and strife; you are trying to avoid them and derive a little joy and peace somehow, overlooking the grief and disappointment. Your efforts are like digging a well in a sand heap. The deeper you dig, the faster it caves in, and then, you begin the whole process at a slightly different place! When piles of sensual desires overwhelm you and drag you down to grief, you think of a way out! The only way to get everlasting joy is through Bhakti (devotion); that is the best among the yuktis (the paths dictated by intelligence). That alone gives the shakti (the strength). The seed of devotion grows only in a well-prepared ground. The method of preparation is given in the Vedas. It clearly articulates the code of conduct, the method of living and the ideals to be followed. Adhere to the code of conduct. Even if you have not been able to study the Vedas, listen to the words of those who follow its teachings and have been overcome by the joy of that experience!


Dunia di sekitar kita adalah penuh dengan penderitaan dan perselisihan; engkau sedang mencoba untuk menghindari semuanya itu dan mendapatkan sedikit suka cita dan kedamaian, mengabaikan duka cita dan kekecewaan. Usahamu adalah seperti sedang menggali sebuah sumur di tumpukan pasir. Semakin dalam engkau menggalinya, semakin cepat sumur itu runtuh, dan kemudian engkau memulai keseluruhan proses di tempat yang sedikit berbeda! Ketika tumpukan keinginan sensual menguasaimu dan menarikmu jatuh dalam duka cita maka engkau memikirkan jalan keluarnya! Satu-satunya cara untuk mendapatkan suka cita yang kekal adalah melalui Bhakti; itu adalah yang terbaik diantara yukti (jalan diarahkan oleh kecerdasan). Hanya itu yang memberikan shakti (kekuatan). Benih bhakti hanya tumbuh pada tanah yang telah dipersiapkan dengan baik. Metode persiapannya diberikan dalam Weda. Dalam hal ini dengan jelas menyampaikan tentang pedoman perilaku, metode hidup dan ideal yang diikuti. Patuhi pedoman perilakunya. Bahkan jika engkau tidak mampu mempelajari Weda, dengarkan perkataan mereka yang mengikuti ajarannya dan telah dikuasai dengan suka cita dari pengalaman itu! (Divine Discourse, 10 Oct, 1964)

-BABA

Tuesday, October 3, 2017

Thought for the Day - 3rd October 2017 (Tuesday)

We worship God with flowers, offer ritual adoration (puja) and pay obeisance. There is something sacred and superior than this! It is to offer God a pure mind and good conduct. This is called Paraa Bhakti. By worshiping God with puja and flowers, the spiritual aspirant remains stationary in their journey to God; failing to rise to a higher position is unwise. The worldly flowers always fade, lose fragrance and develop unpleasant odours. Instead of worshipping with worldly, impermanent flowers and receiving transient rewards from God, worship Him with what is lasting to attain a much higher stage. The first flower to offer God is non-violence (ahimsa). The second is control of senses (dhama). The third is compassion to all living beings (daya). The fourth is forbearance (kshama). The fifth is peace (shanti). The sixth is tapas (penance). The seventh is meditation (Dhyana). And the eighth is the flower of Truth (Sathya).


Kita memuja Tuhan dengan bunga, mempersembahkan ritual pemujaan, dan memberikan penghormatan. Ada sesuatu yang suci dan lebih tinggi kedudukannya daripada ini! Yaitu mempersembahkan kepada Tuhan sebuah pikiran dan tingkah laku yang murni. Ini yang disebut dengan Paraa Bhakti. Dengan memuja Tuhan dengan sarana puja dan bunga, para peminat spiritual tetap tidak bergerak dalam perjalanan menuju Tuhan; dan gagal untuk naik pada posisi yang lebih tinggi adalah tidak bijak. Bunga duniawi selalu memudar, kehilangan wanginya dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Daripada memuja Tuhan dengan bunga dunia seperti itu yang bersifat tidak kekal, dan menerima penghargaan sementara dari Tuhan, kita seharusnya memuja Tuhan dengan yang bersifat kekal untuk mencapai tempat yang lebih tinggi. Bunga pertama yang dipersembahkan kepada Tuhan adalah tanpa kekerasan (ahimsa). Bunga kedua adalah pengendalian indria (dhama). Bunga ketiga adalah welas asih kepada semua makhluk (daya). Bunga keempat adalah ketabahan (kshama). Bunga kelima adalah kedamaian (shanti). Bunga keenam adalah tapa (penebusan dosa). Bunga ketujuh adalah meditasi (Dhyana). Dan bunga kedelapan adalah kebenaran (Sathya). (Divine Discourse, May 12, 1981)

-BABA

Monday, October 2, 2017

Thought for the Day - 2nd October 2017 (Monday)

Putlibai, Gandhi mother observed a vow wherein she would not take food until she heard a cuckoo sing. One day, she waited long and the song of a cuckoo was not heard. Worried that his mother is sticking to her vow and not taking food, young Gandhi went behind the house and mimicked a cuckoo singing. He came inside and told his mother to have her food as the cuckoo sang. Mother Putlibai felt very sad as she knew her son was lying. She cried, “O God! What sin have I committed to give birth to a son who speaks untruth?” Realising the immense grief he caused to his mother by uttering a lie, Gandhi took a vow that he would never indulge in falsehood thenceforth. Mothers, train your children in moral values and do not overlook your children’s mistakes. You must reform them whenever they stray away from the right path and reward them for their good deeds.


Putlibai, ibu dari Gandhi menjalankan sebuah tirakat dimana ia tidak akan makan sampai ia mendengar nyanyian burung kukuk. Pada suatu hari, ia menunggu lama dan nyanyian burung kukuk tidak terdengar. Merasa cemas bahwa ibunya akan terus berpuasa dan tidak makan, maka Gandhi kecil pergi ke belakang rumah dan menirukan nyanyian burung kukuk. Gandhi kecil masuk ke dalam rumah dan mengatakan kepada ibunya untuk makan karena burung kukuk sudah berbunyi. Ibu Putlibai merasa sedih karena mengetahui bahwa anaknya sedang berbohong. Ia menangis, “O Tuhan! Apa dosa yang telah hamba lakukan dengan melahirkan anak yang berbicara dusta?” menyadari duka cita yang mendalam yang dialami oleh ibunya karena kebohongannya maka saat itu Gandhi melakukan sebuah sumpah bahwa ia tidak akan pernah berbicara kebohongan lagi. Ibu, latihlah anak-anakmu dalam nilai-nilai moralitas dan jangan mengabaikan kesalahan anak-anakmu. Engkau harus merubah mereka kapanpun mereka menyimpang dari jalan yang benar dan menghargai mereka untuk perbuatan baiknya. (Divine Discourse, May 6, 2001)

-BABA

Sunday, October 1, 2017

Thought for the Day - 1st October 2017 (Sunday)

You can redeem your life only when you understand wherefrom you came, your role presently and your destination. To accomplish this, first learn the righteous usage of your sense organs (Indriyas). For instance, consider your nostrils. They are designed to be used to breathe and smell objects and discard that is foul-smelling. Did you ever realise that the respiratory process also conveys a significant spiritual message when you inhale and exhale air every second? It contains the precious mantra, ‘So-hum’, which is called Hamsa Gayatri and is the essence of non-dualism (Advaita). So-Ham should remind you the message of identity between God (So) and you (Aham). Why do you forget this and instead of using your nose for sacred goals, use it to take snuff? By abusing, you make it the root-cause of various respiratory diseases. Most ailments people suffer today are due to the use of sense organs for improper purposes. Hence, recognise the critical role of the senses and use them righteously.


Engkau dapat menyelamatkan hidupmu hanya ketika engkau mengerti darimana engkau berasal, apa peranmu saat sekarang, dan tujuan akhirmu. Untuk mencapai hal ini, pertama belajarlah dalam penggunaan yang benar dari organ-organ indriamu. Sebagai contoh, perhatikan lubang hidungmu. Lubang hidung itu dirancang untuk digunakan bernafas dan mencium objek serta menolak bau yang busuk. Apakah engkau pernah menyadari bahwa proses pernafasan juga menyampaikan pesan spiritual yang penting ketika engkau menarik dan menghembuskan nafas setiap detik? Hal ini mengandung mantra yang sangat berharga yaitu, ‘So-hum’, yang disebut dengan Hamsa Gayatri dan merupakan intisari dari tanpa dualitas (Advaita). So-Ham seharusnya mengingatkanmu pesan untuk mengidentifikasi diantara Tuhan (So) dan dirimu (Aham). Mengapa engkau lupa hal ini dan bukannya menggunakan hidungmu untuk tujuan yang suci, malah digunakan untuk menghirup tembakau? Dengan menyalahgunakannya, engkau menjadikan hidung sebagai penyebab dasar dari berbagai jenis penyakit pernafasan. Sebagian besar penyakit yang membuat manusia menderita saat sekarang disebabkan oleh penggunaan organ indria yang tidak tepat. Oleh karena itu, sadari peran penting dari indria dan gunakan indria dengan benar. (Divine Discourse, Oct 6, 1997)

-BABA

Thought for the Day - 30th September 2017 (Saturday)

Swami frequently exhorts the devotees, “Lead your life’s journey with the help of human values.” Let your daily life be suffused with truth (Sathya), righteousness (Dharma), peace (Shanthi) and love (Prema). God is Truth (Atma). Dharma is the duty that every one of us must perform earnestly. Hence, discharge your dharma with truth. These two are in fact the only spiritual practice (Sadhana) you must undertake. These two alone will protect you in every way, all the time. They alleviate all sorrows and difficulties. No human being, during the course of his or her life’s sojourn in this physical world should give up truth and righteousness (Sathya and Dharma). Truth must be experienced in one’s heart, while righteousness has to be reflected in one’s deeds. Never forget, Love is God. Whatever activity you undertake with love, it becomes a success.


Swami sering menasihati para bhakta, “Jalani perjalanan hidupmu dengan bantuan dari nilai-nilai kemanusiaan.” Biarlah hidupmu sehari-hari diliputi dengan kebenaran (Sathya), kebajikan (Dharma), kedamaian (Shanthi), dan cinta kasih (Prema). Tuhan adalah kebenaran (Atma). Dharma adalah kewajiban yang setiap orang dari kita harus jalankan dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, jalankan dharmamu dengan kebenaran. Kedua hal ini sejatinya adalah satu-satunya latihan spiritual (Sadhana) yang harus engkau lakukan. Hanya kedua hal ini yang akan melindungimu dalam setiap jalan, sepanjang waktu. Keduanya meringankan semua penderitaan dan kesulitan. Tidak ada manusia, selama perjalanan hidupnya di dunia fisik ini melepaskan kebenaran dan kebajikan (Sathya dan Dharma). Kebenaran harus dialami dalam hati seseorang, sedangkan kebajikan harus diterjemahkan dalam perbuatan seseorang. Jangan pernah lupa bahwa kasih adalah Tuhan. Apapun perbuatan yang engkau lakukan dengan kasih maka hal itu menjadi sebuah keberhasilan. (Divine Discourse, Vijayadashami, Oct 21, 2007)

-BABA

Thought for the Day - 29th September 2017 (Friday)

‘Navaratri’ means nine nights. Darkness is associated with night. What is this darkness? It is the darkness of ignorance. The purpose of the Navaratri celebrations is to enable you to win over darkness which has enveloped you. When a reference is made to Devi, it signifies the unified form of Durga, Lakshmi and Saraswathi. Lakshmi, who is the embodiment of all prosperity, is represented by the heart. The mouth represents Saraswathi. Purity in action (Kriya Shuddhi) is represented by Durga. To secure the grace of the Lord, you must cultivate purity of the heart, purity in speech and purity in action. This triple purity is described in Vedantic parlance as ‘Tripurasundari’. Observe Navratri to get rid of the darkness within you, by cultivating the triple purity of thought, word and deed. On this sacred occasion of Navarathri, you must also revere Nature. Natural resources like water, air, power and minerals must be used economically, without misuse, abuse or waste.


‘Navaratri’ berarti sembilan malam. Kegelapan dihubungkan dengan malam. Apa yang dimaksud kegelapan ini? Ini adalah kegelapan dari kebodohan. Tujuan dari perayaan Navaratri adalah untuk memungkinkan bagimu mengatasi kegelapan yang telah membungkusmu. Ketika sebuah hubungan ditujukan kepada Devi, maka ini berarti penyatuan dari wujud Durga, Lakshmi, dan Saraswathi. Lakshmi, yang merupakan perwujudan dari semua kesejahteraan, dilambangkan dengan hati. Mulut adalah lambang dari Saraswathi. Kesucian dari tindakan (Kriya Shuddhi) dilambangkan oleh Durga. Untuk bisa mendapatkan rahmat Tuhan, engkau harus meningkatkan kesucian hati, kesucian dalam perkataan dan kesucian dalam tindakan. Ketiga kesucian ini dijelaskan dalam Wedanta sebagai ‘Tripurasundari’. Melihat perayaan Navratri adalah untuk menghilangkan kegelapan di dalam dirimu, dengan meningkatkan ketiga kesucian dari pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dalam perayaan suci Navarathri, engkau juga harus memuja alam. Sumber daya alam seperti air, udara, kekuatan, dan mineral harus digunakan secara ekonomis. Tanpa menyalahgunakan atau menyia-nyiakannya. (Divine Discourse, Sep 27, 1992)

-BABA

Thursday, September 28, 2017

Thought for the Day - 28th September 2017 (Thursday)

The command of the Vedas, "Matru devo bhava; Pitru devo bhava (May the mother be your God; may the father be your God)", is repeated ad nauseum today, but, there is no sign of reverence towards the parents anywhere. A generation that does not respect and foster its parents is bound to end in disaster. Parents suffer great hardships and deny various comforts for themselves in order to put their children through school and college, but the children are ungrateful; they taunt and tease, they cause mental pain and physical hunger to their parents by ridiculing their habits and attitudes, and dismissing their advice with neglect. When the creators of your physical equipment and mental make-up are thus treated with sacrilege, how can one expect you to adore the Creator of the Universe, the God who provides for all? Honour your parents, so that your children learn to honour you.


Perintah dalam Weda, "Matru devo bhava; Pitru devo bhava (Perlakukan Ibu seperti Tuhan; perlakukan ayah seperti Tuhan)", diulang secara terus menerus pada saat sekarang, namun tidak ada penghormatan kepada orang tua dimanapun juga. Sebuah generasi yang tidak menghormati dan memelihara orang tuanya dipastikan berakhir dalam bencana. Orang tua menderita kesulitan yang sangat besar dan menolak berbagai jenis kenyamanan untuk diri mereka sendiri dalam upaya menyekolahkan anak-anak mereka sampai universitas, namun anak-anak tidak memiliki rasa terima kasih; mereka mencela dan mengolo-olok, mereka menyebabkan penderitaan mental dan kelaparan fisik pada orang tua mereka dengan menertawakan kebiasaan dan sikap orang tua mereka, dan menolak serta mengabaikan nasehat mereka. Ketika pencipta dari peralatan fisik dan mentalmu diperlakukan dengan penghinaan, bagaimana seseorang dapat mengharapkanmu untuk memuliakan pencipta alam semesta, Tuhan yang menyediakan semuanya? Hormati orang tuamu, sehingga anak-anakmu belajar menghormatimu. (Divine Discourse, Feb 15, 1969)

-BABA

Thought for the Day - 27th September 2017 (Wednesday)

When the mirror of the mind is soiled, it cannot perceive anything in its true state. This is the reason why man is unable to recognise his own true nature. Hence it is necessary to cleanse the mirror of impurities on it. How is this to be done? By regulating one's food and recreational habits. It is important to ensure that the food that is eaten is obtained by righteous means. Many of the ills which people suffer today are due to the fact that the things they consume have been got by unrighteous means. So to purify your mind the first prerequisite is pure food. But it may not always be possible to ensure purity in every meal, in every respect and at all times. To overcome this difficulty, make an offering of your meal to God and accept it as a gift from God. Before eating, when food is offered to God, it becomes Prasada (gift from God). All impurities in the food are thereby removed. This helps the process of cleansing the mind. This practice must be kept up continuously.


Ketika cermin pikiran kotor maka tidak akan bisa menerima apapun yang dalam keadaan benar. Inilah sebabnya mengapa manusia tidak mampu menyadari sifatnya yang sejati. Oleh karena itu adalah perlu untuk membersihkan cermin dari ketidakmurniannya. Bagaimana cara melakukannya? Dengan mengatur kebiasaan makan dan rekreasi. Adalah penting untuk memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi didapat dengan cara yang benar. Banyak manusia sakit dan menderita saat sekarang karena sesuatu yang mereka makan diperoleh dari cara yang tidak benar. Jadi untuk menyucikan pikiran syarat pertama adalah kesucian makanan. Namun tidak bisa selalu dapat memastikan kesucian di dalam setiap makanan dalam segala hal dan setiap waktu. Untuk mengatasi kesulitan ini, jadikan makananmu sebagai persembahan kepada Tuhan dan menerima makanan itu sebagai karunia dari Tuhan. Sebelum makan, ketika makanan dipersembahkan kepada Tuhan maka makanan ini menjadi Prasada (berkat dari Tuhan). Semua ketidakmurnian yang ada dalam makanan menjadi dilhilangkan. Hal ini membantu proses membersihkan pikiran. Praktek ini harus terus dilakukan. (Divine Discourse, May 25, 1990)

-BABA

Tuesday, September 26, 2017

Thought for the Day - 26th September 2017 (Tuesday)

Embodiments of Love! There is nothing bad in Creation. If some things appear so, it is entirely due to faulty vision. The latent bad feelings within create the impression that certain things are bad. Hence it is important to develop pure and loving feelings. Always be immersed in the thought of God and constantly chant His Name. Be ever saturated with the divine feeling. If dutifully followed, spiritual practices are guaranteed to remove all the contamination within you. Never indulge in bad actions, never criticise others, blame others, or accuse others. Bad thoughts pollute the air and also infect others; this is how bad vibrations spread. Hence scrupulously avoid bad company and inappropriate behaviour. Always avoid bad thoughts, inappropriate looks, feelings and actions. Instead, be ever sacred and do only good. Make every possible effort to venerate and revere the elements in a suitable manner. Your every breath must resonate the chant of God’s Name. Always sing His Glory.


Perwujudan kasih! Tidak ada yang buruk dalam ciptaan ini. Jika beberapa hal kelihatan seperti itu, maka ini sepenuhnya karena kesalahan dalam pandanganmu. Perasaan buruk yang terpendam di dalam diri akan menciptakan kesan bahwa sesuatu hal itu adalah buruk. Oleh karena itu adalah sangat penting untuk mengembangkan perasaan yang suci dan penuh kasih. Selalulah tenggelam dalam pikiran pada Tuhan dan secara terus menerus melantunkan nama Tuhan. Selalulah penuhi dirimu dengan perasaan illahi. Jika diikuti dengan taat maka praktik spiritual menjamin dalam melenyapkan semua kontaminasi di dalam dirimu. Jangan pernah terlibat dalam perbuatan yang tidak baik, jangan pernah memberikan kritik kepada yang lain, atau menyalahkan yang lain. Pikiran buruk mencemari udara dan juga menginfeksi yang lainnya; ini adalah betapa buruknya vibrasi yang disebarkan. Oleh karena itu dengan cermat jauhi pergaulan yang tidak baik dan perilaku yang tidak pantas. Selalu hindari pikiran yang buruk, pandangan yang tidak pantas, perasaan dan perbuatan yang tidak layak. Sebaliknya, selalulah suci dan hanya melakukan kebaikan. Buatlah setiap usaha yang memungkinkan untuk memuliakan dan menghormati unsur-unsur yang ada dengan cara yang sesuai. Setiap nafasmu harus beresonansi dengan lantunan nama Tuhan. Selalulah menyanyikan kemuliaan Tuhan. (Divine Discourse, May 15, 2000)

-BABA

Monday, September 25, 2017

Thought for the Day - 24th September 2017 (Sunday)

The word ‘yajna’ means sacrifice; that is the primary purpose of the yajna. You sacrifice riches, comfort, power (all that promotes the ego) and merge in the Infinite. That is the attainment and the end. Yajnas are useful because they support the ideal of sacrifice, and condemn acquisition. They emphasise discipline, rather than distraction. They insist on the concentration of the mind, the tongue and the hand on Godhead. Cynics count the bags of grain and the kilograms of ghee, and ask for more bags and kilograms of contentment and happiness in return! The effects of yajna on the character and the consciousness cannot be measured or weighed in metres or grams. It is immeasurable, though actual and experienceable. The grain and ghee offered in the sacred fire to the accompaniment of Vedic formulae give thousandfold returns; they will cleanse and strengthen the atmosphere all over the world.


Kata ‘yajna’ berarti pengorbanan; itu adalah tujuan utama dari yajna. Engkau mengorbankan kekayaan, kenyamanan, kekuatan (semua hal ini yang meningkatkan ego) dan menyatu dalam yang tidak terbatas. Itu adalah pencapaian dan juga akhir. Yajna berguna karena mendukung pengorbanan yang ideal dan mengecam perolehan. Yajna menekankan pada disiplin dan bukannya gangguan. Yajna menekankan pada konsentrasi pikiran, lidah, dan tangan pada keillahian. Orang-orang sinis menghitung jumlah gandum dan ghee, serta meminta lebih banyak kepuasan dan kesenangan sebagai gantinya! Akibat dari yajna pada karakter dan kesadaran tidak bisa diukur atau ditimbang dalam meter atau gram. Hal ini tidak dapat diukur, walaupun bersifat aktual dan dapat dialami. Gandum dan ghee dipersembahkan dalam api suci yang diikuti dengan lantunan mantra Weda memberikan seribu kali lipat; semuanya ini akan membersihkan dan menguatkan atmosfer seluruh dunia. (Divine Discourse, Dasara, Oct 7, 1970)

-BABA