Wednesday, May 30, 2012

Thought for the Day - 30th May 2012 (Wednesday)

I must condemn the absence of gratitude which is rampant amongst people today. People today are humble and obedient until their wishes are fulfilled. Once their desires are satisfied, they sometimes even try to ruin the person who helped to realize it. This behaviour does not befit human beings. One must be conscious of benefits derived and be eager to repay the debt, or at least be keen to avoid causing harm to the person who helped them while in distress. Today however, with pomp and pride, people
reveal that they are ignorant, filled with egoism and conceit. Running after momentary joy, they exile themselves from the Kingdom of God. The value of human birth is to attain divinity. Contemplate on this unique good luck of a human birth you are gifted with. Dedicate your days to thoughts of God, and to ideas that elevate and inspire. Welcome opportunities to express gratitude, broaden your heart and deepen your faith.

Aku menyatakan bahwa tindakan yang tidak bersyukur/tidak berterima kasih yang merajalela di antara orang-orang saat ini, adalah tindakan yang salah. Saat ini, orang-orang bersikap rendah hati dan patuh sampai keinginan mereka terpenuhi. Setelah keinginan mereka terpenuhi, kadang-kadang mereka bahkan mencoba merugikan orang-orang yang telah membantu untuk mewujudkan keinginannya. Perilaku seperti ini tidaklah pantas dilakukan. Seseorang harus sadar manfaat yang telah diperoleh dan berkeinginan untuk membalas budi, atau setidaknya menjauhi mereka yang menyebabkan kerugian pada orang-orang yang telah membantu mereka ketika dalam kesulitan. Akan tetapi, saat ini, dengan keangkuhan dan kebanggaan, yang dipenuhi dengan egoisme dan kesombongan, orang-orang tidak menyadari hal tersebut. Setelah menjalani kebahagiaan yang bersifat sementara, mereka menjauhkan diri dari Kerajaan Tuhan. Kelahiran manusia adalah untuk mencapai keilahian. Engkau seharusnya merenungkan keberuntungan yang telah diberkati Tuhan yaitu kelahiran sebagai manusia. Dedikasikanlah hari-harimu dengan selalu merenungkan Tuhan. Manfaatkanlah kesempatan dengan baik untuk menyampaikan rasa terima kasih/rasa syukur dari lubuk hati yang paling dalam serta dengan keyakinan yang mendalam.

Tuesday, May 29, 2012

Thought for the Day - 29th May 2012 (Tuesday)

Life is not a mathematical formula, where 2 plus 2 always equals 4. To some, it may be 3, and to others, 5. It depends on how each values the number ‘2’. In the spiritual path, each one has to move forward from where they already are, with the light of the lamp which every one holds in their own hands. Strive to diagnose your own character and discover the faults that are infesting it; do not try to analyse the qualities of others and seek to spot their defects. This self-examination is very necessary to bring to light the deficiencies that will undermine your spiritual career. Demons are typically too conceited to bend before the Lord; they put too much trust in arms and numbers, ignoring the subtler and stronger forces of the spirit, which can annihilate the vices within oneself. Never try to hide your faults; be ashamed of them and endeavour to cleanse them fast.

Hidup tidak bisa disamakan dengan rumus matematika, di mana 2 ditambah 2 selalu sama dengan 4. Bagi beberapa orang, mungkin hasilnya sama dengan 3, dan bagi yang lainnya bisa jadi hasilnya sama dengan 5. Hal ini tergantung pada nilai '2 ' yang ditambahkan. Di jalan spiritual, setiap orang dapat melangkah maju dari langkah yang sudah ada, dengan cahaya lampu yang dipegang di tangan masing-masing. Engkau hendaknya mengenali karaktermu sendiri dan menemukan kesalahan-kesalahanmu, janganlah mencoba untuk menganalisis sifat-sifat orang lain dan berusaha untuk melihat kesalahan mereka. Pemeriksaan diri ini sangat diperlukan agar engkau bisa mengatasi kekurangan yang dapat merusak langkah-langkah spiritual-mu. Para demon/iblis biasanya terlalu sombong untuk membungkuk di hadapan Tuhan, mereka menaruh kepercayaan terlalu banyak pada senjata, mengabaikan kekuatan spiritual, yang dapat memusnahkan kejahatan dalam diri sendiri. Janganlah pernah mencoba untuk menyembunyikan kesalahanmu, hendaknya engkau malu jika engkau memiliki kesalahan dan berusaha untuk segera memurnikannya.


Thought for the Day - 28th May 2012 (Monday)

The Law of Karma is not an irreversible iron law. Dedication to the divine and purification of thoughts, words and deeds invite divine benediction. The effects of karma can be modified and its rigour, mitigated through grace. When vices hold sway over your heart, it becomes foul and sooty. The flames of desire, anger and miserliness (kaama, krodha and lobha) leave char within your heart. Do not despair or lose heart if vices trouble you. There is no place where God is not present. There is no being to whom He denies blessings. Grace manifests itself by quenching the flames within your heart and confers bliss which desire, anger and miserliness can never confer. God is immanent and eternal. Follow the path and obey the ideals laid down by the Lord with relentless discipline. Your mind will be purified and divine grace will be reflected therein.

Hukum Karma bukanlah suatu hukum yang tidak bisa diubah. Engkau hendaknya mendedikasikan dirimu pada divine/ilahi dan memurnikan pikiran, perkataan, dan perbuatan sehingga bisa mengundang berkah Tuhan. Efek dari karma dapat dimodifikasi dan kekakuannya, bisa diatasi melalui berkat Tuhan. Ketika keburukan/sifat-sifat buruk mempengaruhi hatimu, hal itu bisa mencemarkan atau tidak memurnikan hati. Api keinginan, kemarahan, dan ketamakan (kaama, krodha dan lobha) meninggalkan bekas hitam di dalam hatimu. Janganlah engkau putus asa atau berkecil hati jika sifat-sifat buruk mengganggumu. Tidak ada suatu tempat dimana Tuhan tidak hadir. Tidak ada satu makhluk-pun yang bisa mengingkari berkat-Nya. Rahmat Tuhan bisa mendinginkan api dalam hatimu dan menganugerahkan kebahagiaan, yang tidak pernah bisa diberikan oleh keinginan, kemarahan, dan ketamakan. Tuhan adalah imanen/tetap ada dan abadi. Hanya ikutilah jalan dan patuhilah ideal yang ditetapkan oleh Tuhan dengan disiplin yang ketat. Batinmu akan dimurnikan dan rahmat Tuhan akan tercermin di dalamnya.


Sunday, May 27, 2012

Thought for the Day - 27th May 2012 (Sunday)

Each one gets the result that their spiritual practice (sadhana) deserves, that their acts in this and previous births grant them. In the epic Ramayana, the demon king Ravana had scholarship, strength, wealth, power, authority and even the grace of God - but the virus of lust and pride which lodged in his mind brought about his destruction, despite all attainments. He could not dwell in peace and joy for a moment after the infection started to work. Life is a constant campaign against many foes, it is a battle with obstacles, temptations, hardships and hesitations. These enemies are present within every being and so the battle is incessant and perpetual. Each one differs from another, in this struggle against the inner attackers. Like the virus that thrives on the bloodstream, the vices of lust, greed, hate, malice, pride and envy sap the energy and faith of human beings and reduce them to untimely fall. Hence, always remember this - Virtue is strength, vice is weakness.

Setiap orang mendapatkan hasil dari praktek spiritual (sadhana) yang sesuai dengan yang dilakukannya, yang merupakan hasil perbuatan mereka baik pada kehidupan sekarang maupun kehidupan sebelumnya. Dalam epik Ramayana, raja Rahwana memiliki ilmu pengetahuan, kekuatan, kekayaan, kekuasaan, wewenang dan bahkan berkat Tuhan - tetapi virus nafsu dan kebanggaan yang bersarang di pikirannya membawa kehancuran baginya, menghancurkan semua yang telah dicapainya. Dia tidak bisa mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan sesaat setelah virus tersebut mulai bekerja. Hidup dapat diibaratkan sebagai suatu kampanye yang terus-menerus untuk melawan banyak musuh, suatu pertempuran dengan hambatan, godaan, kesulitan, dan keragu-raguan. Musuh-musuh tersebut ada dalam setiap makhluk sehingga pertempuran terjadi terus-menerus tiada henti. Dalam perjuangan melawan para penyerang batin tersebut, setiap orang berbeda dengan yang lainnya. Seperti virus yang berkembang pada aliran darah, sifat buruk dari nafsu, keserakahan, kebencian, kedengkian, kesombongan, dan iri hati melemahkan energi dan keyakinan manusia dan dapat membawa manusia pada tingkat yang rendah. Oleh karena itu, selalu ingat akan hal ini - Kebajikan adalah kekuatan, keburukan/sifat-sifat buruk adalah kelemahan.


Saturday, May 26, 2012

Thought for the Day - 26th May 2012 (Saturday)

The difference between human and demon (Maanava and Daanava) is just this – human beings should have morality, self-control and compassion (Dharma, Dhama and Daya). Demons do not have these, nor do they consider them as desirable characteristics; they ignore them and pay no heed to the prompting of these virtues. On the contrary, these three are in fact the essential qualities of every man. Every being in the universe is a pilgrim on the path from demon to human to divine. The number of stages in this journey is as many as the number of hearts in this universe! Each pilgrim moves at their own speed and with the Name and Form that inspires them.

Perbedaan antara manusia dan iblis (Maanava dan Daanava) adalah  manusia memiliki moralitas, pengendalian diri, dan kasih sayang (Dharma, Dhama dan Daya). Demon/iblis tidak memiliki sifat-sifat tersebut dan tidak menganggapnya sebagai karakteristik yang diperlukan, mereka mengabaikannya  dan tidak mengindahkan dorongan-dorongan kebajikan. Sebaliknya, ketiga sifat-sifat tersebut (moralitas, pengendalian diri, dan kasih sayang) sebenarnya merupakan kualitas penting dari setiap orang. Setiap makhluk di alam semesta ini merupakan peziarah dalam perjalanan dari demon/iblis ke manusia dan akhirnya sampai pada tingkat divine/ ilahi. Jumlah tahapan dalam perjalanan ini adalah sebanyak jiwa/makhluk  di alam semesta ini! Setiap peziarah bergerak dengan kecepatannya masing-masing dan dengan Nama dan Wujud Tuhan yang menginspirasi mereka.


Friday, May 25, 2012

Thought for the Day - 25th May 2012 (Friday)

Everyone has their own strengths and weaknesses, foibles and fears, skills and handicaps, so no one prescription can be suggested for all. It is necessary for every individual to do a rigorous self-examination to remove all evil from oneself. A patient has to take the prescribed drugs and follow the instructions that are beneficial to cure the ailment. The patient cannot ask for sweet medicines and comfort. So too people are normally attached to physical comfort and objective pleasure and try to hide their defects, instead of trying to remove them. People buy dark coloured clothes, so that they may not reveal its dirt; they do not prefer white clothes, for they show plainly their soiled condition. But, do not try to hide your dirt in darkness; be repentful of soiled natures and endeavour to cleanse them fast.

Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan, kekurangan dan ketakutan, keterampilan dan cacat, sehingga tidak ada satu resep-pun yang dapat disarankan bagi semuanya. Setiap orang sangat perlu untuk melakukan pemeriksaan batin dengan teliti untuk menghapus segala keburukan yang ada pada dirinya sendiri. Seorang pasien harus mengambil resep, dan mengikuti petunjuk untuk menyembuhkan penyakitnya. Pasien tersebut tidak dapat meminta obat yang manis atau obat yang menyenangkannya. Demikian juga orang-orang biasanya terikat pada kenyamanan fisik dan kesenangan obyektif dan mencoba untuk menyembunyikan cacat mereka, daripada mencoba untuk menghilangkannya. Orang-orang membeli pakaian yang berwarna gelap, sehingga ia bisa menyembunyikan kotoran yang menempel pada pakaian tersebut,  mereka tidak menyukai pakaian yang berwarna putih, karena pakaian dengan warna putih akan menunjukkan dengan jelas jika ada kotoran yang menempel. Tetapi, janganlah engkau mencoba untuk menyembunyikan kotoran-mu dalam kegelapan; engkau hendaknya berusaha untuk membersihkannya sesegera mungkin.


Thursday, May 24, 2012

Thought for the Day - 24th May 2012 (Thursday)

When you want breeze, you start the fan; when you want light, you switch on the lamp; when you want to cook, you light the stove; when you want to address a vast audience, you arrange a mike and loudspeakers and switch them on. If it is printing you require, you operate the printer with a knob. Consider these as separate operations and you will notice that they are unrelated to one another. Light and air, heat and sound, are unconnected; they are distinct in every way, it would seem. But for all these, the Kartha, the energizer, is the same - the electric current. The expressions and manifestations may be different; but the basis, the inspiration, the latent potency, or the base is the same. Like electricity, God too operates through all instruments, and awards the consequences of all the activities done by everyone; He is the inner motivator of all beings.

Bila engkau menginginkan angin sepoi-sepoi, engkau dapat menyalakan kipas angin, bila engkau ingin cahaya, engkau dapat menghidupkan lampu, saat engkau ingin memasak, engkau menyalakan kompor, ketika engkau ingin berbicara pada orang banyak, engkau mengatur mikrofon dan pengeras suara dan menyalakannya. Jika mencetak yang engkau perlukan, engkau mengoperasikan printer. Pikirkanlah bahwa semuanya ini terpisah dengan cara pengoperasiannya dan engkau akan melihat bahwa hal itu tidak berhubungan satu sama lain. Cahaya dan udara, panas dan suara, adalah tidak berhubungan, terlihat bahwa hal tersebut berbeda dalam segala hal. Tetapi semuanya ini, Kartha, sumber energinya adalah sama yaitu arus listrik. Ekspresi dan manifestasi mungkin berbeda, tetapi dasar, inspirasi, ataupun potensi latennya, adalah sama. Seperti listrik, Tuhan juga beroperasi melalui semua instrumen, dan menyerahkan semua  konsekuensi hasil perbuatannya pada semua orang; Beliau adalah inner motivator bagi semua makhluk.


Wednesday, May 23, 2012

Thought for the Day - 23rd May 2012 (Wednesday)

When you try to cook a meal, you may have with you all the materials you need – rice, dal (lentils), salt, lime, spices, vegetables, etc. But unless you have fire to cook these, the dish cannot be prepared. So too, all forms of worship, contemplation, yoga or meditation are ineffective if the knowledge of one's basic Reality and Identity is not there to warm up the process. The Atma is the source and spring of all joy and peace; this has to be cognised and dwelt upon. Without this realisation, human life is an opportunity that is lost. Awareness of one’s true identity is the sign of wisdom, the lighting of the lamp which scatters darkness.

Ketika engkau mempersiapkan untuk memasak makanan, engkau tentu saja harus mempersiapkan semua bahan yang engkau butuhkan - beras, dal (lentil), garam, limau, rempah-rempah, sayuran, dll. Tetapi jika tungku masak-mu tidak ada apinya, maka hidangan tersebut tidak akan dapat dibuat . Demikian juga, semua bentuk ibadah, yoga, kontemplasi, ataupun meditasi tidak akan efektif jika pengetahuan tentang Realitas dasar dan identitas diri tidak dikembangkan dalam proses tersebut. Atma adalah sumber dan mata air dari semua sukacita dan kedamaian. Tanpa menyadari hal ini, kesempatan sebagai manusia dalam kehidupan ini telah disia-siakan. Kesadaran akan identitas sejati seseorang adalah tanda kebijaksanaan, bagaikan cahaya lampu yang mengusir kegelapan.


Tuesday, May 22, 2012

Thought for the Day - 22nd May 2012 (Tuesday)

Life is raised on four pillars – Righteousness, Wealth, Desire and Liberation (Dharma, Artha, Kama and Moksha). When two key pillars, Righteousness and Liberation, are lost, it is a struggle to survive with the remaining two - Desire and Wealth. Then, naturally grief, greed, pretence and anxiety afflict human beings. Each pillar must cooperate and complement the other three pillars. Righteousness must interpenetrate and strengthen Wealth and Desire, so that Liberation can be attained. Through Righteousness alone, wealth for living must be obtained and it should be used for Righteous purposes. Desire must be directed to Liberation from bondage – not to forging of new chains or adding further links in the chain of birth and death. Devoid of Righteousness and Desire for Liberation, human beings will be reduced to the level of beasts and birds.

Kehidupan didasarkan pada empat pilar yaitu: Kebenaran, Kekayaan, Keinginan, dan Pembebasan (Dharma, Artha, Kama dan Moksha). Bilamana dua pilar utama, Kebenaran dan Pembebasan, hilang, engkau harus berjuang untuk bertahan hidup dengan dua pilar sisanya yaitu Keinginan dan Kekayaan. Kemudian, secara alami kesedihan, keserakahan, kepura-puraan, dan kecemasan menimpa manusia. Setiap pilar harus bekerja sama dan melengkapi tiga pilar lainnya. Kebenaran harus saling meresapi dan memperkuat Kekayaan dan Keinginan, sehingga Pembebasan akan dapat dicapai. Dalam mencari Artha/Kekayaan untuk kehidupan, harus dengan Kebenaran dan harus digunakan untuk tujuan yang Benar. Keinginan harus langsung ditujukan untuk Pembebasan (bebas dari keterikatan) – bukan menambah rantai baru atau menambahkan link lebih lanjut dalam rantai kelahiran dan kematian. Tanpa Kebenaran dan Keinginan untuk Pembebasan, manusia akan menuju ke tingkat binatang dan burung.


Monday, May 21, 2012

Thought for the Day - 21st May 2012 (Monday)

The body is subject to destruction, sooner or later. Everyone is aware of this. Yet everyone is apprehensive of death; no one is eager to face the last moment. All that is born has to die someday - death is inevitable and unavoidable! To unlock the key to this paradoxical experience, ask thus: What is it that meets with death? What is it that leaves and what is it that remains? The answer: it is the body that dies and falls. What does not perish is the Atma. You delude yourselves into thinking that it is the Atma or "you" that dies; that is incorrect. The Atma (Self) has nothing to do with death or birth. It is eternal, true and pure. Realize and remember that you are the eternal, true and pure Atma - you are not the body.

Badan jasmani ini, cepat atau lambat, pasti akan hancur. Setiap orang menyadari hal ini. Namun semua orang khawatir tentang kematian; tidak ada yang bersemangat untuk menghadapi saat-saat terakhir. Semua yang lahir harus mati suatu hari nanti - kematian tidak bisa dihindari dan tidak dapat dielakkan! Untuk mengetahuinya ada pertanyaan sebagai berikut: Apa yang mengalami kematian? Apa yang tetap ada dan apa yang tersisa? Jawabannya adalah: yang mengalami kematian adalah badan jasmani, Atma tidak akan pernah mengalami kematian. Engkau berpikir bahwa yang mati adalah Atma; ini adalah pernyataan yang tidak benar. Atma tidak mengenal kematian ataupun kelahiran. Atma memiliki sifat yang kekal dan murni. Engkau hendaknya menyadari dan selalu ingat bahwa engkau bukanlah badan jasmani, engkau adalah Atma yang bersifat kekal dan murni.


Sunday, May 20, 2012

Thought for the Day - 20th May 2012 (Sunday)

When fire rages and gets destructive, you immediately try to put it out by throwing sand and water, is it not? In most buildings, people keep a stock of these in readiness. Are you aware that you have six flames burning inside you? They are lust, anger, greed, attachment, pride and hatred. They can emerge any time. What do you have in store to put them out? Always keep a ready stock of Truth, Right Conduct, Peace, Love and Non-Violence in plenty. These five will help you scotch the flames of your six enemies, whenever they are lit; these values are very effective extinguishers.

Ketika api mengamuk dan merusak, bukankah, engkau akan segera mencoba untuk memadamkannya dengan melemparkan pasir dan air? Pada bangunan-bangunan yang besar, orang-orang telah menyiapkan hal ini. Apakah engkau menyadari bahwa engkau memiliki enam api dalam dirimu? Mereka adalah nafsu, kemarahan, keserakahan, kemelekatan, kesombongan dan kebencian. Mereka semuanya itu dapat muncul setiap saat. Apa yang engkau perlukan untuk memadamkan api tersebut? Engkau hendaknya selalu menyimpan Kebenaran, Kebajikan, Kedamaian, Cinta-kasih, dan Tanpa-Kekerasan dalam jumlah yang banyak. Kelima hal tersebut akan membantumu untuk membasmi enam api tersebut, kapanpun api tersebut menyala; kelima nilai-nilai ini adalah alat pemadam yang sangat efektif.


Saturday, May 19, 2012

Thought for the Day - 19th May 2012 (Saturday)

The recognition of one’s innate Divinity, and the regulation of one’s daily life in accordance with that Truth are the guiding stars for those who are caught in the currents of strife and struggle. Without that Self-Knowledge life becomes a farce, a mockery! Acquiring this awareness of the Self makes life earnest, sweet and fruitful. Many people are not aware of this noble goal in the pilgrimage of life. They put their faith in things outside themselves and plan to derive joy from and through them, and end up experiencing pain and disaster. Know that all joys spring only from the heart within you. When you experience joy from worldly objects or people, realize that it is your own joy being reflected back to you.

Mengenali innate Divinity (sifat ke-Tuhanan masing-masing) serta menjalani pola kehidupan yang sesuai dengan kebenaran tersebut adalah bagaikan bintang yang berfungsi sebagai pedoman/petunjuk dalam menjalani kehidupan ini. Tanpa adanya Pengetahuan Atma, kehidupan menjadi tak bermakna ibarat seperti pertunjukan sandiwara belaka. Dengan berbekal kesadaran Atma, maka hidup akan menjadi berarti dan indah. Banyak orang tidak menyadari tujuan mulia ini dalam perjalanan kehidupan. Mereka menempatkan keyakinan mereka dalam hal-hal di luar diri mereka sendiri dan mengharapkan untuk memperoleh sukacita dari hal-hal tersebut, dan akhirnya mengalami penderitaan. Ketahuilah bahwa semua kesenangan hanya brsumber dari hati (dalam dirimu sendiri). Bila engkau mengalami sukacita dari benda-benda duniawi atau dari orang lain, engkau hendaknya menyadari bahwa itu adalah perasaan sukacita-mu sendiri yang direfleksikan kembali padamu.


Friday, May 18, 2012

Thought for the Day - 18th May 2012 (Friday)

Each person eats to satisfy one’s hunger. So too, each one of you must discover the best way to appease your spiritual hunger as well. Do not be led away by the scorn or recommendations of others. Consult your own reality that you create by quietening your senses and controlling your mind; there is a voice that you can hear in that silence. The true sign of your having listened to that voice is your behaviour! A large tree is held and fed by its small roots that dive into the silent earth. So too, if you go deep into the silence of your inner consciousness, your spiritual blossoming is assured.

Setiap orang makan dengan tujuan untuk memuaskan rasa laparnya. Demikian juga, masing-masing dari engkau seharusnya menemukan cara terbaik untuk memenuhi rasa lapar spiritualmu. Janganlah engkau dipengaruhi oleh celaan atau pujian dari orang lain. Periksalah realitasmu sendiri dengan cara menenangkan inderamu dan mengendalikan pikiranmu, sehingga dengan demikian, engkau bisa mendengar suara hati dalam keheningan tersebut. Apa yang engkau dengar dari suara hatimu hendaknya tercermin pada perilakumu! Pohon yang besar ditunjang dan diberi makanan oleh akar kecil yang menyelam ke dalam bumi. Demikian pula, jika engkau pergi jauh ke dalam keheningan kesadaran batin-mu, maka bisa dipastikan spiritualmu akan mekar  dihatimu.


Thursday, May 17, 2012

Thought for the Day - 17th May 2012 (Thursday)

Service, in all its forms, wherever undertaken, is essentially spiritual discipline; a form of mental clean-up. If one does not consider service thus, the urge to serve is bound to ebb and grow dry, or it may meander into pride and pomp. Just think for a moment - are you serving God or is God serving you? When you offer milk to a hungry child, or a blanket to a shivering brother on the pavement, you are but placing a gift of God, into the hands of another gift of God! You are reposing the gift of God in a repository of the Divine Principle! Always remember - God serves! And He allows you to claim that you have served! Without His will, not even a single blade of grass can quiver in the breeze. Fill every moment with gratitude to the Giver and the Recipient of all gifts!

Pelayanan, dalam segala bentuk, dimanapun dilakukan, adalah disiplin spiritual yang utama; merupakan suatu bentuk pembersihan mental. Jika seseorang tidak menganggap pelayanan seperti itu, dorongan untuk melayani akan surut dan tumbuh kering, atau mungkin menuju ke arah kesombongan dan kemegahan semata. Coba pikirkanlah sejenak - apakah engkau melayani Tuhan atau Tuhan melayanimu? Bila engkau memberikan susu pada anak yang kelaparan, atau memberikan selimut pada seseorang yang menggigil kedinginan di jalanan, engkau tidak lain menempatkan karunia Tuhan ke tangan orang lain! Engkau meletakkan karunia Tuhan dalam repositori dari Prinsip Ilahi! Engkau hendaknya mengingat bahwa Tuhan-lah yang melayani, dan Beliau-lah yang memungkinkanmu untuk menyatakan bahwa engkau-lah yang telah melayani! Tanpa kehendak-Nya, bahkan sehelai rumput-pun tidak bisa bergerak tertiup angin. Isilah setiap saat dengan bersyukur kepada Sang Pemberi dan Sang Penerima semua hadiah!

Wednesday, May 16, 2012

Thought for the Day - 16th May 2012 (Wednesday)

Do not be upset by calamities, instead take them as acts of Grace. If someone loses a hand in an accident, that person must believe that it was the Lord’s Grace that saved his or her life. When you believe that nothing can happen without His resolve, you will realize that everything that occurs in your life, has a value added to it. You may be neglecting a creeper in your backyard, but if a sage passes by and says that it is a rare drug that can cure one from snake bite, you will erect a fence around it and not allow children to pluck its leaves even for fun, is it not? Understand thoroughly that the Lord is the cause, the source of all. And with this knowledge, deal with everyone in a humble and reverent manner. This is the path that will lead you quickly to the goal.

Janganlah engkau marah dengan terjadinya bencana, sebaliknya terimalah bencana itu sebagai berkat Tuhan. Jika seseorang kehilangan tangannya dalam suatu kecelakaan, orang itu harus percaya bahwa itu adalah Rahmat Tuhan yang menyelamatkan hidupnya. Jika engkau percaya bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, engkau akan menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupmu, memiliki suatu nilai tambah. Engkau mungkin mengabaikan suatu tanaman menjalar di halaman belakang rumahmu, tetapi jika seorang bijaksana lewat dan mengatakan bahwa tanaman itu adalah obat langka yang dapat menyembuhkan seseorang dari gigitan ular, bukankah engkau akan mendirikan pagar di sekitarnya dan tidak membiarkan anak-anak untuk memetik daun bahkan bermain-main disana? Engkau hendaknya memahami secara menyeluruh bahwa Tuhan adalah penyebab, sumber dari semuanya, dan dengan pengetahuan ini, engkau hendaknya berhubungan dengan semua orang dengan rendah hati dan penuh hormat. Inilah jalan yang bisa membuatmu dengan cepat sampai ke tujuan.


Tuesday, May 15, 2012

Thought for the Day - 15th May 2012 (Tuesday)

An empty iron box gets value when it contains jewels. So too the body will be honoured when it contains the jewel of Divine consciousness and the gems called virtues. Life has to be lived through for the opportunities it provides to unfold human values. Otherwise one becomes a burden upon earth, a mere consumer of food. Life is a steady march towards the goal; it is not a meaningless term of imprisonment or a casual picnic. Even if you have no steady faith in God or in any particular Name or Form of that Immanent Power, start by controlling the vagaries of the mind, the pulls of the ego, and the attractions of sense-attachments. Be helpful to others; then your conscience itself will appreciate you and keep you happy and content, though others may not thank you.

Sebuah almari besi yang kosong akan menjadi sangat bernilai jikalau didalamnya tersimpan perhiasan, demikian juga badan jasmani ini akan dihormati hanya jikalau di dalamnya terdapat perhiasan dalam wujud kesadaran Ilahi dan permata yang disebut kebajikan. Kehidupan ini haruslah dijalani dengan tujuan untuk mencari kesempatan guna membangkitkan nilai-nilai kemanusiaan. Jikalau tidak,  maka manusia hanya  merupakan beban bagi bumi ini,sebab ia tak lain hanya menghabiskan jatah makanan yang tersedia. Kehidupan ini adalah perjalanan yang terus-menerus menuju suatu tujuan; kehidupan ini bukanlah suatu hukuman penjara ataupun suatu piknik santai. Bahkan jika engkau tidak memiliki keyakinan yang mantap pada Tuhan atau pada Nama Tuhan tertentu atau Wujud Tuhan tertentu, mulailah dengan mengendalikan pikiran, menarik ego, dan daya tarik indera. Engkau hendaknya membantu orang lain; sehingga hati nuranimu sendiri akan menghargaimu dan membuatmu merasa bahagia dan puas, meskipun mungkin orang lain tidak menghargaimu.


Monday, May 14, 2012

Thought for the Day - 14th May 2012 (Monday)

Remember always that it is easy to do what is pleasant but difficult to be engaged in what is beneficial. Not all that is pleasant is profitable. Success comes to those who give up the path strewn with roses, and brave the hammer blows and the sword-thrusts of the path fraught with danger. As a matter of fact, no road is a bed of roses. Life is a battlefield - a Dharmakshetra, where duties and desires are always in conflict. Smother the fiery fumes of desire, hatred and anger, that rise up in your hearts. It is sheer cowardice to yield to them as they turn you into beasts.

Ingatlah selalu bahwa sangatlah mudah untuk melakukan apa yang menyenangkan, tetapi sangat sulit untuk melakukan apa yang bermanfaat. Tidak semua yang menyenangkan adalah menguntungkan. Keberhasilan datang kepada mereka yang mampu meninggalkan jalan yang penuh dengan mawar dan berani dengan pukulan palu dan berani pada tikaman pedang serta jalan yang penuh dengan bahaya. Kenyataannya, tidak ada jalan yang penuh dengan kebun bunga mawar. Hidup adalah medan pertempuran (sebuah Dharmakshetra), dimana tugas dan keinginan selalu dalam konflik. Padamkanlah api keinginan, kebencian dan kemarahan yang muncul dalam hatimu. Janganlah engkau menyerah pada musuh-musuh tersebut (keinginan, kebencian, dan kemarahan) yang mengubahmu ke dalam sifat-sifat binatang.


Sunday, May 13, 2012

Thought for the Day - 13th May 2012 (Sunday)

As the carpenter shapes the wood, the blacksmith moulds the iron and the goldsmith creates beautiful ornaments out of gold, the Lord too shapes every being in His own way. Know that the Lord is the basis for the existence of every being in this Universe. With this knowledge lose all fear. Exercise discrimination at all times and use the spiritual wisdom you possess, to your advantage. The tiny sparrow sits on the storm tossed bough, because it knows that its wings are strong. It does not depend upon the swaying branch to sustain it. Similarly fully rely on the grace of God, earn it and keep it. Then whatever be the magnitude of the calamity you face, you can survive it without any harm.

Sebagaimana tukang kayu yang membentuk kayu, pandai besi membentuk besi, dan tukang emas membuat ornamen/perhiasan indah dari emas, Tuhan juga membentuk setiap makhluk dengan cara-Nya sendiri. Ketahuilah bahwa Tuhan adalah dasar bagi keberadaan setiap makhluk di alam semesta ini. Dengan pengetahuan ini hilangkanlah semua rasa takut. Setiap saat, engkau hendaknya mempraktekkan diskriminasi (kemampuan membedakan) dan menggunakan kebijaksanaan spiritual yang engkau miliki, untuk kemajuan spiritualmu. Burung gereja kecil yang duduk di dahan pohon, karena mengetahui bahwa sayapnya kuat, ia tidak tergantung pada dahan pohon walaupun dahan itu bergoyang-goyang, ia tidak takut, ia yakin sayapnya kuat. Demikian pula, engkau hendaknya sepenuhnya bergantung pada berkat Tuhan, sehingga bagaimanapun besarnya bencana yang engkau hadapi, engkau dapat bertahan hidup tanpa merugikan yang lainnya.


Saturday, May 12, 2012

Thought for the Day - 11th May 2012 (Friday)

People prefer to burn the sandalwood tree for sale as charcoal, as they do not know the value of sandalwood. The goals people set before themselves, are to win comforts and peace. That surely is the proper thing to do, but they stop after this step in the journey, mistaking the pseudo for real. One believes that if they get two full meals a day, a few yards of cloth to wear and a roof over their head with a few sundry superfluities, they have reached the goal in life! They may have certainly reached a milestone, but the joy one derives from that milestone is paltry. This joy is mixed with grief and it easily turns into pain; it is harmful to others and has in it, some pride, envy, malice, greed and other harmful ingredients. Do not neglect the grand opportunity and take this life to be just human. Dedicate this life to discover the immortal Self present within you.

Orang-orang lebih suka membakar kayu cendana untuk dijual sebagai arang, karena mereka tidak mengetahui nilai dari kayu cendana yang sesungguhnya. Orang-orang menetapkan tujuan agar diri mereka mendapatkan kenyamanan dan kedamaian. Hal itulah yang sebenarnya mesti dilakukan, tetapi mereka berhenti setelah langkah ini dalam perjalanan dan mereka keliru menganggap yang semu sebagai yang nyata. Seseorang meyakini bahwa jika mereka makan dua kali sehari, mengenakan pakaian, dan memiliki rumah yang bisa melindungi mereka,  mereka menganggap telah mencapai tujuannya dalam hidup! Mereka mungkin telah mencapai kejadian penting tertentu, tetapi kebahagiaan bisa jadi berasal dari suatu kejadian yang tidak  penting. Kebahagiaan ini bercampur dengan kesedihan dan bisa dengan mudah berubah menjadi penderitaan; hal ini dapat merugikan orang lain dan di dalamnya terdapat  sifat-sifat buruk seperti kebanggaan, iri hati, kebencian, keserakahan, dansifat-sifat  lainnya yang berbahaya. Jangan mengabaikan suatu kesempatan besar dan menjalani kehidupan ini hanya sekedar sebagai manusia saja. Engkau hendaknya mendedikasikan hidup ini untuk menemukan Yang Abadi yang ada dalam dirimu.


Thought for the Day - 12th May 2012 (Saturday)

The great child devotee, Prahlada, knew the truth that this entire world is filled with God. So when the Lord appeared before him and was eager to grant him a boon, he asked not for long life, wealth or fame but to assuage the pain and sorrow of all beings. Prahlada knew that God was manifest as every being in this Universe and serving God was to serve those manifestations and give them relief and joy. So too your tongue must justify its presence by sweet soothing words, and your hand by soft and harmless acts. The body must be spent in upa-vaasa, meaning doing acts that take you nearer to God. True Upavasa on holy days means not mere fasting, it connotes that all your thoughts, deeds and words on that day, must be about God, you should spend the day ‘near’ Him, ín Him, and for Him.

Bhakta agung, Prahlada, mengetahui kebenaran bahwa seluruh dunia ini dipenuhi oleh Tuhan. Jadi ketika Tuhan muncul didepannya dan ingin memberinya anugerah, ia tidak meminta umur panjang, kekayaan, ataupun ketenaran tetapi untuk mengurangi rasa sakit dan penderitaan semua makhluk. Prahlada mengetahui bahwa Tuhan bermanifestasi pada setiap makhluk di alam semesta ini dan melayani mereka dengan memberikan bantuan dan kebahagiaan pada mereka sama halnya dengan melayani Tuhan. Demikian juga lidahmu harus digunakan untuk berkata-kata yang lembut dan menenangkan, dan tanganmu hendaknya melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan tidak berbahaya. Badan ini harus digunakan untuk upa-vaasa, yang berarti melakukan perbuatan yang membawamu lebih dekat pada Tuhan. Upavasa Sejati yang dilakukan pada hari-hari suci bukan hanya berarti berpuasa (tidak makan dan minum), dalam hal ini upavasa mengandung arti semua pikiran, perbuatan, dan perkataan pada hari itu, harus ditujukan pada Tuhan, engkau hendaknya melewatkan hari itu 'dekat' dengan Tuhan, dalam Tuhan, dan untuk Tuhan.


Thursday, May 10, 2012

Thought for the Day - 10th May 2012

Love for the Lord should not degenerate into fanaticism and hatred of other names and forms. In the current times, this type of cancer is affecting many eminent people; you must do well to avoid it. Believe that all who revere the Lord and walk in fear of sin are your brothers and sisters, your nearest kith and kin. Their dress or language or skin colour or the methods they adopt to express their reverence and fear to the Divine are not at all important. Sugar dolls are valued for the sugar, not for the shapes given by the manufacturer, be it elephant, dog, lion, cat, rat, jackal or whatever. People buy the sugar doll for its sweetness, not the shape. So too, people are drawn to the same God, as He is sweet and grants bliss.

Mencintai Tuhan hendaknya  tidak boleh berubah menjadi fanatisme dan kebencian pada suatu Nama dan Wujud yang lain. Pada zaman sekarang ini, kanker  jenis ini banyak mempengaruhi orang-orang terkemuka; engkau harus menghindari hal ini. Percayalah bahwa semua yang memuja Tuhan dan yang berjalan dalam ketakutan akan dosa, semuanya adalah saudara-mu, sanak dan kerabat terdekat. Pakaian yang mereka kenakan atau bahasa atau warna kulit atau metode yang mereka lakukan untuk mengungkapkan rasa hormat dan takut kepada Tuhan sama sekali tidak penting. Boneka yang terbuat dari gula dinilai karena gulanya, bukan karena bentuk yang diberikan oleh produsennya, baik itu gajah, anjing, singa, kucing, tikus, serigala, atau apa pun. Orang membeli boneka gula itu, karena rasa manisnya, bukan karena bentuknya. Demikian juga, orang tertarik pada Tuhan yang sama, sebagaimana Beliau manis dan memberikan kebahagiaan.


Thought for the Day - 9th May 2012 (Wednesday)

When you hold a currency note in your hand and say proudly, “This is mine”, that note laughs at you, for it says, “Oh, how many thousands have I known, who have taken pride like this!” Consider all objects that you collect here, in this life, as given on “trust” to be used in this caravanserai, during your pilgrimage in the field of action (Karmakshetra). You have to return them when you leave – they belong to another. The body is but a tent in the journey of life. Don’t fondle the delusion - ‘my body’. Pine for the Indweller, Dehi. Discover the immortal “I” and know that it is the spark of God, present in you. Live in the companionship of the Supreme.

Ketika engkau memegang uang kertas di tanganmu dan mengatakan dengan bangga, "Ini adalah milikku", uang kertas menertawakanmu, dan mengatakan “Oh, sudah ribuan orang yang ku-kenal, yang membanggakan dirinya seperti ini!”Perlakukanlah semua obyek-obyek (materi) yang engkau kumpulkan dalam kehidupan ini, seolah-olah sebagai ‘titipan’ untuk digunakan selama perjalananmu di medan kehidupan ini. Engkau harus mengembalikannya ketika engkau meninggalkan dunia ini – ia milik orang lain. Badan ini tidak lain adalah sebuah tenda dalam perjalanan hidup. Jangan ber-ilusi bahwa ini adalah 'badanku'. Rindukanlah Penghuni sejati di dalam dirimu, Dehi. Temukan Sang  "Aku" yang maha abadi dan ketahuilah bahwa itu adalah percikan Tuhan, ada dalam dirimu. Hiduplah dalam persahabatan dengan Yang Agung.


Tuesday, May 8, 2012

Thought for the Day - 8th May 2012 (Tuesday)

I must warn you against two infectious diseases that are rampant today. They are selfishness and the habit of reviling others. Investigate and examine, then you have the right to pronounce judgement. When you truly do this you will realize that the Self is better served, by serving others than criticising them. You will soon come to the conclusion that there are far more useful ways of spending the little time you have here in this life than ridiculing or praising others. Do not concern yourself with the faults and excellences of others. Instead care earnestly and sincerely about your own faults. Foster more carefully and sincerely, your own best qualities. This is my advice to you today.

Aku harus memperingatkanmu terhadap dua penyakit menular yang merajalela saat ini. Penyakit  itu adalah egois (mementingkan diri sendiri) dan kebiasaan mencaci-maki orang lain. Engkau hendaknya menyelidiki dan memeriksanya terlebih dahulu, baru kemudian engkau memiliki hak untuk menilai. Ketika engkau benar-benar melakukan hal ini, engkau akan menyadari bahwa Sang Diri (Atma) lebih baik dilayani, dengan cara melayani orang lain daripada mengkritik mereka. Engkau akan segera sampai pada suatu kesimpulan bahwa ada cara yang jauh lebih bermanfaat untuk menghabiskan waktu yang sedikit ini daripada mengejek atau memuji orang lain. Janganlah engkau mengkonsentrasikan dirimu pada kesalahan dan keunggulan orang lain. Sebaliknya engkau hendaknya peduli dengan sungguh-sungguh pada kesalahanmu sendiri. Kembangkanlah kualitas-kualitas terbaikmu dengan lebih hati-hati dan sungguh-sungguh. Inilah saran-Ku hari ini padamu.


Monday, May 7, 2012

Thought for the Day - 7th May 2012 (Monday)

Some consider themselves great because they have vast property or wealth. But the real wealth and genuine greatness is virtue which earns the grace of God. In the epic Mahabharatha, the Kauravas had everything that the world honoured and envied - arms, ambition, friends, allies, forces and riches. But God was not on their side, for they were wicked. In the end, they reaped disaster and disgrace. From this, you can infer that all the things that the world prides on having, are momentary pleasures. They appear to give happiness when they come, but leave us with grief when they disappear and the joy is temporary. However the grace of God persists without change at all times and all places. It is pure, uncontaminated, unchanging, complete and mighty. Endeavour to earn this grace and the joy that flows from it.

Beberapa orang menganggap dirinya sebagai orang hebat karena mereka memiliki properti atau kekayaan yang banyak. Tetapi kekayaan dan kebesaran sejati adalah kebajikan yang didapatkan karena berkat Tuhan. Dalam epik Mahabharatha, Korawa memiliki segalanya, bahkan dunia hormat  dan iri padanya – Korawa memiliki segalanya yaitu: senjata, ambisi, teman, sekutu, kekuatan, dan kekayaan. Tetapi Tuhan tidak berada di pihak mereka, karena mereka jahat. Pada akhirnya, mereka menuai bencana dan mendapatkan penghinaan. Dari sini, engkau dapat menyimpulkan bahwa semua hal yang membanggakan yang engkau miliki di dunia ini, adalah kesenangan sesaat. Kesenangan muncul untuk memberikan kebahagiaan hanya sesaat, tetapi kemudian meninggalkan kita dengan kesedihan; ketika ia datang ia memberikan kebahagiaan tetapi ketika ia menghilang, ia mendatangkan kesedihan. Namun berkat Tuhan tetap ada dan tidak mengenal perubahan waktu dan tempat. Berkat Tuhan itu, murni, tidak tercemar, tidak berubah, sempurna, dan penuh kuasa. Berusahalah untuk mendapatkan berkat Tuhan ini dan kebahagiaan akan mengalir dari berkat itu.


Sunday, May 6, 2012

Thought for the Day - 6th May 2012 (Sunday)

The scriptures teach, “Maathru devo bhava”, meaning ‘Revere your Mother as God’. You must revere your mother, who has brought you up with love, care and sacrifice. However famous one may be, if one does not honour their mother, they do not deserve respect. A person whose heart is so hard that it does not melt at the pleadings of the mother, deserves nothing but ridicule. This feeling of love and respect should also apply to the country which gave birth to you. You must hold your country in high esteem and follow its culture. Revere your own mother-tongue and learn to use it well. At the same time, you should not develop dislike or hatred against other languages or countries. Make yourselves a fit instrument to protect, love and care for your mother and motherland.

Kitab suci mengajarkan, "Maathru devo bhava", yang berarti 'Hormati ibumu sebagai Tuhan’. Engkau harus menghormati ibumu, yang telah menuntunmu dengan cinta-kasih, perhatian, dan pengorbanan. Bagaimananpun  terkenalnya seseorang, jika ia tidak menghormati ibunya, mereka tidak layak untuk dihormati. Seseorang yang hatinya begitu keras sehingga tidak mencair pada permintaan ibunya, tidak pantas mendapatkan apapun selain ejekan. Engkau juga harus mengarahkan perasaan cinta dan hormat pada negara yang telah melahirkanmu. Engkau harus menjunjung tinggi negaramu dan mengikuti budayanya. Hormati bahasa ibumu dan belajarlah untuk menggunakannya dengan baik. Pada saat yang sama, engkau hendaknya tidak mengembangkan perasaan tidak suka atau benci terhadap bahasa lain atau negara lain. Buatlah dirimu sebagai instrumen yang sesuai untuk melindungi, mengasihi, dan memelihara ibu serta ibu pertiwi.


Saturday, May 5, 2012

Thought for the Day - 5th May 2012 (Saturday)

The heart contains the precious treasure of bliss (Ananda) but people do not know the key to open the lock! The key to open the door to bliss is Namasmarana - repetition of the Name of the Lord with a pure heart. Purify the heart with the instruments of Truth, Right Conduct, Peace and Love (Sathya, Dharma, Shanthi, Prema). Always endeavour to do good to others, to think well and speak well of them. This practice will wear away your egoism, and attachment to things that cater to your pleasures. Do not behave like birds and beasts, ever engaged in earning a living or rearing a family. Struggle for higher and nobler goals using the talents with which you are endowed!

Hati mengandung harta berharga yaitu kebahagiaan (Ananda) tetapi orang-orang tidak mengetahui kuncinya untuk membuka pintu kebahagiaan tersebut! Kunci untuk membuka pintu kebahagiaan adalah Namasmarana - pengulangan nama Tuhan dengan hati yang murni. Murnikanlah hatimu dengan instrumen Kebenaran, Kebajikan, Kedamaian, dan Cinta-kasih (Sathya, Dharma, Shanthi, Prema). Selalulah berusaha untuk berbuat baik pada orang lain, berpikir yang baik dan berbicara yang baik dengan mereka. Praktik seperti ini akan mengikis egoisme-mu (sifat mementingkan diri sendiri), dan keterikatan pada hal-hal yang memenuhi kesenanganmu. Janganlah engkau berperilaku seperti burung dan binatang, hanya menyibukkan diri dalam mencari nafkah atau membesarkan sebuah keluarga. Engkau hendaknya berjuang untuk tujuan yang lebih tinggi dan lebih mulia dengan menggunakan talenta yang telah diberikan padamu!


Friday, May 4, 2012

Thought for the Day - 4th May 2012 (Friday)

Do not aspire to be a servant of God, working for wages; you reduce yourself to that level if you ask for this and that from Him in return for the praise that you offer or the sacrifice you do! Also, let go of the bargaining attitude in your mind, and do not feel disappointed that God did not give you desirable objects in return for all the troubles you took to please Him. Do not calculate profit, do not count on returns, do not plan for the consequences! Do, since it is your duty and you have to do! That is true puja (worship). Dedicate the deed as well as the consequences to Him. Then you become His own and not a labourer demanding wages. That is the highest level a devotee (bhaktha) can attain through sadhana (spiritual effort).

Janganlah engkau menjadi seorang “pegawai” Tuhan, bekerja hanya demi gaji; engkau merendahkan dirimu sendiri ke tingkat itu jika engkau meminta ini dan itu dari-Nya sebagai imbalan atas doa/pujian yang engkau persembahkan atau pengorbanan yang engkau lakukan! Engkau juga hendaknya melepaskan sikap tawar-menawar dalam pikiranmu, dan tidak merasa kecewa ketika Tuhan tidak memberikan objek-objek duniwai  yang engkau inginkan sebagai imbalan atas semua yang telah engkau lakukan untuk menyenangkan Beliau. Janganlah menghitung keuntungan,  janganlah mengharapkan hasil, serta jangan pula merencanakan atas konsekuensinya! Lakukanlah itu sebagai suatu kewajiban yang harus engkau lakukan! Itulah pemujaan/ibadah yang benar, mendedikasikan perbuatan serta konsekuensi kepada-Nya. Kemudian engkau akan menjadi milik-Nya dan bukan sebagai seorang pekerja/pegawai yang menuntut upah/gaji. Itulah level tertinggi pemuja (bhaktha) yang dapat dicapai melalui sadhana.


Thursday, May 3, 2012

Thought for the Day - 3rd May 2012 (Thursday)

Cultivate an atmosphere of love and co-operation with one and all, and you can ensure joy for ever more. Do not seek arguments to keep away from others; seek rather ways of working together for the common good. The sense of ‘I’ and ‘mine’ scotch love and co-operation. Reduce them to the minimum and then start serving the needy and the distressed. Develop character as well as intelligence and health. The most reliable source of strength is not in money, or kinsmen, or physical acumen, but in yourself, the Atman. Delve deep and draw sustenance from it; see it in all; serve it in all. Discipline is another key trait. Every individual and every nation must learn to control the wild nature of passions and emotions; yielding to them brings only ruin. Discipline, self-control, desire to serve - these are the weapons that even the weakest can use, and win the battle of life.

Engkau hendaknya mengembangkan suasana cinta-kasih dan kerjasama dengan semuanya, sehingga engkau dapat mengalami sukacita. Jangan mencari argumen untuk menjauhkan diri dari orang lain, carilah bagaimana cara bekerja sama untuk kebaikan bersama. Perasaan 'aku' dan 'kepunyaanku'  dapat menghalangi cinta-kasih dan kerjasama. Kurangilah perasaan aku dan kepunyaanku seminimal mungkin dan kemudian mulailah melayani orang yang membutuhkan dan orang yang mengalami kesulitan. Engkau hendaknya mengembangkan karakter yang baik seperti halnya  engkau mengembangkan kecerdasan dan memelihara kesehatan. Sumber kekuatan yang paling dapat di percaya, bukanlah dalam bentuk uang, ataupun kerabat, ataupun kecerdasan fisik, tetapi adalah dirimu sendiri yang sejati, yaitu Atman. Engkau hendaknya menggali ini sedalam-dalamnya sehingga engkau bisa mendapatkan manfaatnya.  Disiplin tidak lain merupakan kunci yang dibawa sejak lahir. Setiap individu dan setiap bangsa harus belajar untuk mengendalikan nafsu dan emosi; karena sifat-sifat tersebut akan membawa kehancuran. Disiplin, pengendalian diri, keinginan untuk melayani - inilah senjata yang bahkan orang yang paling lemah pun dapat menggunakannya, dan memenangkan perjuangan hidup.


Wednesday, May 2, 2012

Thought for the Day - 2nd May 2012 (Wednesday)

Many kites may fly high in the sky, but they are all lifted and kept high by the same air, the same wind; the kites have no separate will of their own. Pots of water in which the Sun is reflected may be many, but the Sun is one! The very same current runs through and activates all appliances. This is the meaning of the scriptures quote “Ïsaavaasyam idam sarvam” - God is present in everyone in equal measure, nothing more nothing less! Service is best built on this strong foundation of “Thath-Thwam-asi” - That and This are the same; there is only One, there is no other! All help that you give, is help given to yourself; all service is to the Self alone. When another is poor, you cannot be rich. When another is in distress, you cannot have joy. Always remember that help and service that is rendered to the deserving, is done to the Self alone.

Banyak layang-layang dapat terbang tinggi di langit, tetapi layang-layang tersebut dapat terbang tinggi dengan udara yang sama, angin yang sama; layang-layang tidak akan terpisah dari angin. Jambangan/pot air di mana Matahari dapat tercermin mungkin banyak, tetapi Matahari adalah satu! Arus listrik yang sama mengalir dan mengaktifkan semua peralatan. Inilah arti dari kutipan Kitab Suci "Ïsaavaasyam idam Sarvam" – Tuhan ada dalam diri setiap orang dalam kadar yang sama, tidak kurang, tidak lebih! Pelayanan yang terbaik adalah pelayanan yang dibangun pada fondasi yang kuat dari "Thath-Thwam-asi" - Itu dan ini adalah sama, hanya ada satu, tidak ada yang lain! Semua bantuan yang engkau berikan, sebenarnya ditujukan pada dirimu sendiri; semua pelayanan yang dilakukan hanyalah untuk Tuhan. Ketika orang lain menderita kemiskinan, engkau tidak bisa merasakan kekayaan. Ketika yang lainnya dalam kesulitan, engkau tidak akan mengalami sukacita. Ingatlah selalu bahwa bantuan dan pelayanan yang diberikan pada orang lain, dilakukan hanya untuk Tuhan.


Tuesday, May 1, 2012

Thought for the Day - 1st May 2012 (Tuesday)

Speech is the armament of every human being. Animals have fleetness of foot, sharpness of claw, fang, horn, tusk, beak, talon, etc. But human beings are gifted with speech as a faculty, as their armament. The very first lesson in the primer, for a spiritual aspirant is “Control of Speech.” Through the sweetness of your speech, you can disarm all opposition and defeat all the designs of hatred. Sweetness makes you Pashupathi (Divine). Harshness makes you pashu (Bestial). Mere outward politeness or sweetness is hypocrisy. Sincere speech must flow from the real sweetness of heart, a heart filled with love. Remove all evil from the pellucid lake of your mind and make it a fit abode for the Divine.

Kemampuan berbicara adalah senjata dari setiap manusia. Hewan memiliki kaki yang bisa berlari dengan cepat, kuku yang tajam, taring, tanduk, gading, paruh, cakar, dll. Tetapi manusia diberikan kemampuan berbicara sebagai kecakapannya, yang merupakan senjatanya. Pelajaran utama dan pertama bagi  para peminat  spiritual adalah "mengendalikan ucapan." Melalui manisnya/indahnya kata-kata yang engkau ucapkan, engkau dapat dengan mudah menang dari semua oposisi/ lawan-lawanmu dan mengalahkan semua bentuk kebencian. Keindahan kata-kata yang disampaikan itu membuat engkau menjadi Pashupathi (Ilahi), sedangkan kata-kata yang kasar  membuat engkau menjadi  pashu (Binatang). Kesopanan lahiriah belaka yang engkau tunjukkan sama halnya dengan engkau bermuka dua. Kata-kata yang tulus harus mengalir dari hati yang mulia, hati yang dipenuhi dengan cinta-kasih. Engkau hendaknya menghapus segala sifat-sifat buruk dari danau bening pikiranmu dan membuatnya menjadi tempat tinggal yang sesuai untuk Divine/Ilahi.