Wednesday, November 30, 2016

Thought for the Day - 30th November 2016 (Wednesday)

Company of the pious (Satsanga) leads you to gradually withdraw from entangling worldly activities. When a bit of cold coal is placed in the midst of glowing cinders and when the fire is fanned, the coal too glows with fire. Fire of Wisdom (Jnana agni) operates similarly. Individual effort and Divine Grace are both interdependent. Without effort, there will be no conferment of grace; without grace there can be no taste in the effort. To win that precious Grace from the Lord, all you need is only faith and virtues. You need not praise Him to win His favour. Praise feeds the fire of egoism and fogs genuine faith. God does not like mere external verbal praise and offerings of kind. He is yours and you are His. The entire mankind is God’s family. Knock with faith: the doors of Grace will open. Open your door! The Sun’s rays waiting outside will flow silently in and flood your room with light.

Bergaul dengan orang yang baik (Satsanga) menuntunmu secara teratur untuk menarikmu dari keterlibatan dalam kegiatan duniawi. Ketika batu bara yang dingin ditempatkan di tengah-tengah bara api yang hangat dan ketika api dihembuskan maka batu bara itu juga akan berpijar dengan api. Api kebijaksanaan (Jnana agni) bekerja dengan cara yang sama. Usaha individu dan karunia Tuhan keduanya saling tergantung. Tanpa adanya usaha, maka tidak akan ada curahan karunia; tanpa karunia maka tidak akan ada  rasa di dalam usaha. Untuk bisa mendapatkan karunia yang begitu berharga dari Tuhan, semua yang engkau perlukan hanyalah keyakinan dan kebajikan. Engkau tidak perlu untuk memuji-Nya untuk bisa mendapatkan hati-Nya. Pujian hanya memberikan bahan bakar bagi egoisme dan mengaburkan keyakinan yang murni. Tuhan tidak suka pada pujian luar yang bersifat verbal saja dan persembahan jenis ini. Beliau adalah milikmu dan engkau adalah milik-Nya. Seluruh umat manusia adalah keluarga Tuhan. Ketuklah pintu dengan keyakinan: pintu karunia akan terbuka. Bukalah pintumu! Maka cahaya matahari yang sedang menunggu di luar akan masuk secara tenang dan menerangi kamarmu dengan cahaya. (Divine Discourse, Mar 27 1966)


Thought for the Day - 29th November 2016 (Tuesday)

Youth and students should go to the four corners of the country, cleanse the place and keep away from doctors by themselves being clean. If the aim is to do good to others, then God Himself will take care of the selfless aim of doing good. This is the essence of Vyasa’s eighteen Puranas. To be able to do good to others is a great virtue (punya) and to be able to keep away from doing harm to others is also a merit. Therefore, even if you are not able to do good, just sit quietly and keep silent; but do no harm to others. You must take care to see that all the five organs are without any blemish. You should not see any bad with your eyes. You should not talk anything unworthy with your mouth; and you should not touch anything unclean. You should thus keep all your five organs in a sathwik (or sacred) state.

Para pemuda dan pelajar seharusnya pergi ke empat penjuru negeri, bersihkan tempat dan jaga agar tidak pergi ke dokter dengan menjaga diri tetap bersih. Jika tujuannya adalah untuk melakukan kebaikan bagi yang lainnya maka Tuhan sendiri akan menjaga tujuan berbuat baik yang tanpa mementingkan diri sendiri itu. Ini adalah intisari dari 18 purana dari Wyasa. Untuk mampu melakukan kebaikan bagi yang lainnya adalah sebuah kebajikan yang sungguh luar biasa (punya) dan mampu menjauh dari menyakiti yang lainnya adalah juga sebuah kebaikan. Maka dari itu, bahkan jika engkau tidak mampu berbuat baik, cukup duduk diam dan menjaga ketenangan; namun jangan menyakiti yang lainnya. Engkau harus tetap menjaga agar semua lima organ tidak tercemar dan ternoda. Engkau seharusnya tidak melihat keburukan apapun juga dengan matamu. Engkau seharusnya tidak mengatakan apapun juga yang tidak berguna dengan mulutmu; dan engkau seharusnya tidak menyentuh apapun yang tidak bersih. Engkau seharusnya tetap menjaga semua lima organ dalam keadaan suci (sathwik). (Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 15)


Monday, November 28, 2016

Thought for the Day - 28th November 2016 (Monday)

Come out of the well of ego into the sea of Universal Spirit, of which you are a part. Force your mind to breathe the grander atmosphere of the Eternal, by reminding it of God and His Glory, every second, with every breath, when you repeat any one of His many names. Or engage yourself in some work, which will take you out of your narrow self into the vaster magnificence, where you dedicate the fruit of your actions (karma) to God, where you devote your time and energy to share your joy, skill or knowledge with your fellow-beings. Or keep yourself surrounded always by persons devoted to the higher life - those who will encourage you to move forward towards the goal. Through these means, attain Chitta Suddhi (purity of mind) and then the Truth will be reflected clearly therein.

Keluarlah dari sumur ego untuk menuju pada lautan jiwa yang universal yang mana engkau adalah bagian darinya. Paksa pikiranmu untuk meniupkan suasana yang agung dari keabadian dengan mengingatkannya pada Tuhan dan kemuliaan-Nya, setiap detik dalam setiap tarikan nafas ketika engkau mengulang-ulang salah satu dari banyak nama-Nya. Atau melibatkan dirimu dalam berbagai pekerjaan yang mana akan mengeluarkanmu dari diri yang sempit menuju pada kemegahan yang luas, dimana engkau mendedikasikan buah dari perbuatanmu (karma) kepada Tuhan, dimana engkau mengabdikan waktumu dan energimu untuk berbagi suka cita, keahlian atau pengetahuan dengan sesamamu. Atau tetap membuat dirimu dikelilingi oleh orang-orang yang berbhakti pada kehidupan yang lebih mulia – mereka yang akan mendorongmu untuk bergerak maju pada tujuan. Melalui sarana ini akan mencapai Chitta Suddhi (kesucian pikiran) dan kebenaran yang akan tercermin jelas di dalamnya. (Divine Discourse, 27 Mar 1966)


Thought for the Day - 27th November 2016 (Sunday)

Today, the commodities available are limited, and desires are unlimited. As our wants and desires are increasing beyond availability, there is an economic imbalance in the world. Many people are attempting to fix this by increasing the availability of commodities. Instead, if people learn to curb their wants and desires, there is neither need for increase in effort nor expenditure. This aspect of decreasing our desires and wants is called ‘Vairagya’ (detachment) in scriptures. The word Vairagya does not mean that you should run away from your family, sit in a forest, close your nose and put yourself to physical torture. The true meaning of detachment (vairagya) is you must stay in the society, do your duties, and learn to contain your desires and wants. Our life is a long journey. In this long journey of life, make every effort to diminish your wants and desires. Practice of Vairagya also includes taking sufficient food, avoiding wastage.

Hari ini, barang-barang tersedia terbatas dan keinginan adalah tidak terbatas. Ketika keinginan kita meningkat melampaui ketersediaan, maka disana akan ada ketidakseimbangan ekonomi di dunia. Banyak orang tergoda untuk memperbaiki hal ini dengan meningkatkan ketersediaan barang. Jika sebaliknya, manusia belajar untuk mengendalikan keinginan dan hasratnya, tidak ada keperluan untuk meningkatkan usaha dan pengeluaran. Aspek ini dalam mengurangi keinginan dan hasrat kita disebut dengan ‘Vairagya’ (tanpa keterikatan) di dalam naskah suci. Kata Vairagya tidak berarti bahwa engkau harus meninggalkan keluargamu, duduk di dalam hutan, menutup hidungmu, dan menempatkan dirimu dalam penyiksaan fisik. Makna yang sebenarnya dari tanpa keterikatan (vairagya) adalah engkau harus tinggal di dalam masyarakat, menjalankan kewajibanmu, dan belajar untuk menahan hasrat dan keinginanmu. Hidup kita adalah sebuah perjalanan yang panjang. Dalam perjalanan hidup yang panjang ini, lakukan usaha untuk menghilangkan keinginan dan hasratmu. Manjalankan Vairagya juga terkait dalam makan yang secukupnya dan menghindari pemborosan. (Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 15)


Saturday, November 26, 2016

Thought for the Day - 26th November 2016 (Saturday)

You had a house and lived in it. You take great care to see that it is comfortable, charming and impressive. You get angry when some poster is pasted on its walls! Then one day you sell it. It is no longer the object of your attachment. Indeed, even if lightning strikes it you are not disturbed! Now you call the money you got yours; you put it in a bank and become attached to the passbook issued by the bank. You keep it in an iron safe and scan its pages lovingly. The money you gave the bank may be loaned by them to someone you do not like, but you do not care. You have the pass book with you. Now what exactly is yours? To which are you attached so deeply? The house, the money, or the pass book? You were attached to prestige, comfort, show, and greed - things that arose in your mind as desire; you were attached to your own ego, basically. That was the thing which induced you to claim these things, one after the other, as yours! Each of you must take up some spiritual effort in order to cleanse the mind of lust and greed, of envy and hate.

Engkau memiliki sebuah rumah dan tinggal di dalamnya. Engkau merawatnya dengan luar biasa agar rumah itu kelihatan nyaman, mempesona, dan keren. Engkau menjadi marah ketika beberapa poster ditempelkan di dinding! Kemudian suatu hari engkau menjual rumah itu. Dan rumah itu bukan lagi objek yang membuatmu terikat. Bahkan, ketika petir menyambar rumah itu, namun engkau tetap tidak terganggu! Sekarang uang yang engkau dapatkan menjadi milikmu; engkau menyimpannya di bank dan menjadi terikat pada buku tabungan yang dikeluarkan oleh bank. Engkau menyimpan buku tabungan itu di brankas besi dan membaca setiap halaman dengan senang. Uang yang engkau simpan di bank dipinjam oleh mereka yang engkau tidak suka, namun engkau tidak peduli. Engkau masih menyimpan buku tabungannya. Sekarang, apa yang menjadi milikmu sebenarnya?  Pada apa saja engkau sangat terikat begitu dalam? Rumah, uang, atau buku tabungan itu? Engkau diikat oleh gengsi, kenyamanan, pamer, dan tamak – hal-hal yang muncul dalam pikiranmu adalah sebagai keinginan; pada dasarnya engkau terikat pada egomu sendiri. Itulah hal yang yang menyebabkanmu menyatakan hal ini, satu demi satu sebagai milikmu! Setiap orang darimu harus melakukan usaha spiritual untuk membersihkan pikiran dari nafsu dan ketamakan, dari benci dan iri hati. (Divine Discourse, March 27, 1966)


Thought for the Day - 25th November 2016 (Friday)

You should make your own conscience secure, and you should have confidence in yourself. Your conscience is your guide and it should dictate your behavior. Either for the good or for the bad, it is your conscience that is responsible. The guilt in you causes the bad; the strength and confidence in you should, therefore, do such things which will promote your confidence in your own self. That is why I have repeatedly told you, that you should follow the four F’s. “Follow the Master” and that is your conscience. The second thing is to “Face the devil”. The third is “Fight to the end”. Then you should “Finish the game”. If you remember all these four injunctions such that they are resounding every moment in you, there can be nothing more sacred than this in your life.

Engkau harus membuat suara hatimu aman, dan engkau harus memiliki kepercayaan dalam dirimu sendiri. Suara hatimu adalah penuntunmu dan ini seharusnya menentukan tingkah lakumu. Baik untuk kebaikan atau untuk kejahatan maka suara hatimu yang bertanggung jawab. Rasa bersalah dalam dirimu menyebabkan kesukaran; kekuatan dan kepercayaanmu menjadi keharusan, jadi lakukan sesuatu hal yang akan menaikkan suara hatimu dalam dirimu. Itulah sebabnya mengapa Aku telah mengatakan kepadamu berulang kali, bahwa engkau harus mengikuti empat ‘F’. “Ikuti sang guru” dan itu merupakan suara hatimu. Yang kedua adalah “Menghadapi kejahatan”. Yang ketiga adalah “Bertarunglah sampai akhir”. Kemudian engkau harus “Menyelesaikan permainan”. Jika engkau mengingat semua bagian nasehat ini sehingga keempat bagian ini bergema setiap saat dalam dirimu, maka tidak akan ada yang lebih suci daripada hal ini di dalam hidupmu. (Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 15)


Thursday, November 24, 2016

Thought for the Day - 24th November 2016 (Thursday)

Remember, there is no special merit in so-called spiritual exercises. Every act in your daily life must be sanctified by performing it as an offering to God. A farmer tilling his field should feel that he is tilling the field of his heart. While sowing seeds, he should sow the seeds of good qualities in his heart. While watering the field, he should think he is watering the field of his heart with love. In this way, everyone must pursue the spiritual path without the aid of rosary or going to the forest. Irrespective of physical and ideological differences, the Divine principle (Atma) is common to all. You must recognise that every being in the Universe is integrally related to society like different organs in a body. Humanity itself is a limb of Nature and Nature is a limb of God. If this integral relationship is understood, where is the ground for hatred? Hence conduct yourself in an exemplary manner.

Ingatlah, tidak ada kebaikan khusus yang disebut dengan latihan spiritual. Setiap perbuatan dalam hidupmu sehari-hari harus disucikan dengan menjalankan perbuatan itu sebagai persembahan kepada Tuhan. Seorang petani mengerjakan ladangnya seharusnya merasakan bahwa ia sedang mengerjakan ladang hatinya. Ketika sedang menyemai benihnya, ia seharusnya menyemai benih dari perbuatan baik di dalam hatinya. Ketika sedang mengairi ladangnya, ia seharusnya berpikir bahwa ia sedang mengairi ladang hatinya dengan kasih. Dengan cara seperti ini, setiap orang harus mengejar jalan spiritual tanpa bantuan dari tasbih atau pergi ke dalam hutan. Tanpa tergantung dengan perbedaan fisik dan ideologis, prinsip keillahian (Atma) adalah sama untuk semuanya. Engkau harus menyadari bahwa setiap makhluk di alam semesta ini adalah terkait utuh pada masyarakat, sepertinya halnya organ yang berbeda di dalam tubuh. Umat manusia sendiri adalah sebuah bagian dari alam dan alam adalah bagian dari Tuhan. Jika hubungan yang utuh ini dipahami maka dimana tempat untuk kebencian? Oleh karena itu jalankan hidupmu agar dapat diteladani. - Divine Discourse, Nov 23, 1992


Wednesday, November 23, 2016

Thought for the Day - 23rd November 2016 (Wednesday)

Embodiments of Divine Love! Everyone aspires for happiness and wants to avoid sorrow. But in this world, truth and untruth, righteousness and unrighteousness, justice and injustice pass and change with time. One should have faith in the ultimate principle out of which both good and evil arise. Everyday one experiences happiness and sorrow, welcomes affections and aversions and invites worries and misery. How can one be at peace under these conditions? The true man is one who believes in equanimity - in the same way as one welcomes happiness, one should be able to welcome sorrows also. You should trust the Divine and experience His love in your hearts. If you want to be respected by everyone, you should respect everyone. Whether rich or poor, noble or ignoble, everyone has self-respect. One should put in effort to safeguard one’s self-respect. One who has true self-respect respects all. There is nothing new that I can tell you today. Everyone should attain bliss and conquer sorrow; develop true love and experience Divinity. This is My principal message to you today.

Perwujudan kasih Tuhan! Setiap orang mengharapkan kebahagiaan dan ingin menghindari kesedihan. Namun di dunia ini, kebenaran dan ketidakbenaran, kebajikan dan kejahatan, keadilan dan ketidakadilan akan berlalu serta berubah sesuai berjalannya waktu. Seseorang harus memiliki keyakinan pada prinsip yang tertinggi terlepas dari keduanya yaitu munculnya kebaikan dan kejahatan. Setiap hari seseorang mengalami kebahagiaan dan kesedihan, menerima kasih sayang dan rasa tidak suka dan mengundang kecemasan dan penderitaan. Bagaimana seseorang mendapatkan kedamaian dalam keadaan seperti ini? Manusia yang sejati adalah seseorang yang percaya pada ketenangan hati – dengan cara yang sama ketika seseorang menerima kebahagiaan maka ia seharusnya juga mampu menerima kesedihan. Engkau harus percaya pada Tuhan dan mengalami kasih-Nya di dalam hatimu. Jika engkau ingin dihormati oleh setiap orang, engkau harus menghormati setiap orang. Apakah mereka kaya atau miskin, mulia atau hina, karena setiap orang memiliki rasa harga diri. Seseorang harus berusaha untuk menjaga harga dirinya. Seseorang yang memiliki rasa harga diri yang sejati maka ia akan menghargai semuanya. Tidak ada yang baru yang dapat Aku katakan kepadamu hari ini. Setiap orang seharusnya mencapai kebahagiaan dan menaklukkan kesedihan; kembangkan kasih yang sejati dan mengalami keillahian. Ini adalah pesan utama-Ku kepadamu hari ini.  - Divine Discourse, Nov 23, 2001


Tuesday, November 22, 2016

Thought for the Day - 22nd November 2016 (Tuesday)

Education is an ornament for you, it is your secret wealth that confers prosperity and fame. It is one's unfailing kinsman in foreign travel. More than wealth, this secures the respect of rulers. Education is the basis for leading a purposeful life in the physical world, in the realm of the mind and in society. It equips you with mental strength and steadiness to face the challenges in life and understand the myriad manifestations in Nature. Only when you understand the power of your mind, you can recognise the relationship between the world and society. Education should promote discrimination and humility, and enable you to recognise your obligations to your parents and others who have made you who you are today. Gratitude is a supreme virtue. Be grateful to your parents. Broaden your vision. Be aware of the Divinity that is inherent in every being. Cultivate the spirit of love and fill your life with joy.

Pendidikan adalah sebuah perhiasan bagimu, ini adalah harta rahasiamu yang memberikan kesejahteraan dan kemashyuran. Pendidikan adalah kerabat yang sejati dalam perjalanan ke luar negeri. Melebihi dari kekayaan, pendidikan memberikan penghormatan dari penguasa. Pendidikan adalah dasar dalam menjalani hidup yang berguna di dunia, dalam alam pikiran dan masyarakat. Pendidikan melengkapimu dengan kekuatan mental dan ketabahan dalam menghadapi tantangan hidup dan memahami beribu-ribu manifestasi di alam. Hanya ketika engkau mengerti kekuatan dari pikiranmu, engkau dapat menyadari hubungan diantara dunia dan masyarakat. Pendidikan seharusnya memajukan kemampuan membedakan dan kerendahan hati, dan memungkinkan bagimu untuk menyadari kewajibanmu kepada orang tuamu dan yang lainnya yang telah membuatmu jadi hari ini. Rasa syukur adalah kebajikan yang tertinggi. Beryukurlah kepada orang tuamu. Perluaslah pandanganmu. Menyadari keillahian yang melekat dalam diri setiap makhluk. Tingkatkan semangat kasih dan isilah hidupmu dengan suka cita. (Divine Discourse, Nov 22 1988)


Monday, November 21, 2016

Thought for the Day - 21st November 2016 (Monday)

Students! Embodiments of love! Where the six qualities of zeal, determination, courage, intelligence, ability and heroism are present, there Divine help will manifest! In any field, at any time, for anyone who is endowed with all these six precious qualities, success is assured. They will ensure your all-round prosperity. However these qualities confront various difficulties from time to time. Just as a student faces various exams to graduate, these noble qualities are also subject to trials. Such trials should be regarded as stepping stones to one's high achievements. These trials are in the form of losses, troubles, pains, sufferings and calumny. You must overcome these troubles with courage and self-confidence and go ahead. Without self-confidence the six qualities cannot be acquired. Students should develop self-confidence and embark on the journey of life with faith in God.

Para pelajar! Perwujudan kasih! Dimana ada enam kualitas seperti semangat, determinasi, keberanian, kecerdasan, kemampuan, dan kepahlawanan, maka disana bantuan Tuhan akan terwujud! Dalam bidang apapun, pada saat kapanpun, bagi siapapun juga yang diberkati dengan semua keenam sifat yang berharga ini maka keberhasilan pasti dapat diraih, selain itu keenam sifat itu memastikan kesejahteraanmu. Bagaimanapun juga sifat-sifat ini menghadapi berbagai kesulitan dari waktu ke waktu. Seperti halnya seorang pelajar menghadapi berbagai jenis ujian untuk bisa lulus, sifat-sifat yang mulia ini adalah juga mengalami percobaan. Percobaan itu seharusnya dianggap sebagai batu loncatan untuk pencapaian seseorang yang lebih tinggi. Percobaan ini ada dalam bentuk kerugian, masalah, rasa sakit, penderitaan, dan fitnah. Engkau harus mengatasi masalah-masalah ini dengan berani dan percaya diri dan tetap maju. Tanpa rasa percaya diri maka keenam sifat itu tidak akan dapat diraih. Para pelajar seharusnya mengembangkan rasa percaya diri dan memulai perjalanan kehidupan dengan yakin kepada Tuhan. (Divine Discourse, Jan 14, 1997)


Thought for the Day - 20th November 2016 (Sunday)

No one should consider themselves as insignificant or unimportant. Everyone, small or big, is a vital part of the whole and has an essential role in the world, like all the parts in a rocket. Any small defective part may cause the rocket to explode. Likewise in this vast Cosmos every being has a significant role to play to ensure its smooth functioning. Today, there is no unity, purity or awareness of Divinity. When there is discord between thought, word and deed, humanness is undermined. Unity must be promoted to foster humanness. We celebrate many festivals and birthdays. It is not the festivities that are important, not the dresses or the speeches. Feelings are what are important. Without purity of thought, purity of wisdom cannot be got. Seek to purify your minds. Cultivate selfless love towards all and engage yourself in social service. Service to the villagers is service to Rama (Grama Seva is Rama Seva).

Tidak ada seorangpun yang seharusnya menganggap diri mereka sebagai orang yang tidak penting atau tidak berguna. Setiap orang, besar atau kecil, adalah bagian yang vital bagi semuanya dan memiliki sebuah peran yang mendasar di dunia ini, seperti halnya semua bagian dalam sebuah roket. Betapapun kecil ada bagian yang rusak akan menyebabkan roket itu meledak. Sama halnya dalam alam yang sangat luas ini dimana setiap makhluk memiliki peran yang penting dimainkan untuk memastikan kelancaran fungsinya. Hari ini, tidak ada persatuan, kesucian atau kesadaran keillahian. Ketika ada perbedaan diantara pikiran, perkataan, dan perbuatan maka kemanusiaan dilemahkan. Persatuan harus ditingkatkan untuk memajukan kemanusiaan. Kita banyak merayakan perayaan dan ulang tahun. Bukan pestanya yang penting, bukan pakaian atau pidatonya. Perasaan adalah yang penting. Tanpa kesucian dari pikiran maka kesucian dari kebijaksanaan tidak dapat diraih. Carilah untuk memurnikan pikiranmu. Tingkatkan kasih yang tanpa mementingkan diri sendiri kepada semuanya dan libatkan dirimu dalam pelayanan sosial. Pelayanan kepada penduduk desa adalah pelayanan kepada Rama (Grama Seva adalah Rama Seva). (Divine Discourse, 23 Nov 1992)


Saturday, November 19, 2016

Thought for the Day - 19th November 2016 (Saturday)

In the present times, many men look down upon women and treat them as mere servitors. This is a big mistake. The more a man respects women, the more he will be respected. Men should not behave in an arrogant way towards women thinking themselves to be more strong and powerful. Today people are conferred various titles of repute like Padmashri, Padma Vibhushan, etc. But the titles conferred on women since ancient times are Grihalakshmi (Goddess of the house), Illalu, Dharmapatni (righteous consort), Ardhangani (one half of the man), etc. These are very high and sacred titles. How can women with such exalted titles to their credit be inferior to men? Every man should see to it that the women at their homes do not shed tears. The husband has the right to point out the mistakes of his wife, but he must not use harsh words and hurt her feelings. Never use harsh words with anyone. Talk sweetly and softly. Your family will attain peace and prosperity once you observe these principles.

Pada saat sekarang, banyak laki-laki memandang rendah wanita dan memperlakukan mereka sebagai pelayan mereka. Ini adalah kesalahan yang besar. Semakin laki-laki menghormati wanita, maka ia akan semakin dihormati. Laki-laki seharusnya tidak bertingkah laku arogan kepada wanita dengan berpikir bahwa mereka lebih kuat dan hebat. Saat sekarang orang-orang diberikan berbagai jenis gelar nama baik seperti Padmashri, Padma Vibhushan, dsb. Namun gelar penghargaan yang diberikan untuk wanita dari zaman dulu adalah Grihalakshmi (Dewi dalam rumah), Illalu, Dharmapatni (permaisuri kebajikan), Ardhangani (setengah laki-laki), dsb. Semuanya ini adalah gelar yang sangat tinggi dan suci. Bagaimana dapat wanita dengan gelar yang mengagungkan itu bisa lebih rendah dari laki-laki? Setiap orang seharusnya memahami hal ini bahwa para wanita di dalam rumah mereka jangan meneteskan air mata. Suami memiliki hak untuk menyampaikan kesalahan istrinya, namun ia tidak seharusnya menggunakan kata-kata yang kasar dan menyakiti perasaannya. Jangan pernah menggunakan kata-kata kasar kepada siapapun juga. Berbicaralah dengan sopan dan lembut. Keluargamu akan mencapai kedamaian dan kesejahteraan saat engkau menjalankan prinsip-prinsip ini. (Divine Discourse, August 11, 2000)


Thought for the Day - 18th November 2016 (Friday)

Today the food you eat, water you drink and air you inhale are all polluted. People themselves are highly polluted because their minds are filled with negative feelings and worldly desires. No doubt, you can have desires, but they should be under limits. Many human hearts are a den of evil qualities like anger, hatred, greed, jealousy, pomp and show. Love alone can drive away these negative qualities. Desire, anger, greed, jealousy, etc., arise only out of body attachment and improper food habits. So control your attachment and desires. The letters that you write will appear blue when the pen is filled with blue ink and red when it is filled with red ink. Similarly all that you see, hear and say will be negative if your heart has negative feelings. Hence fill your heart with love. Then all that you see, hear, say and do will be suffused with love and you will experience a world suffused with love.

Saat sekarang makanan yang engkau makan, air yang engkau minum, dan udara yang engkau hirup semuanya tercemar. Manusia sendiri yang paling tercemar oleh pikiran mereka yang diliputi dengan pikiran buruk dan keinginan duniawi. Tidak diragukan, engkau boleh memiliki keinginan, namun keinginan tersebut harus ada dalam batas. Banyak hati manusia menjadi sarang dari sifat jahat seperti kemarahan, kebencian, ketamakan, kecemburuan, kesombongan, dan pamer. Hanya kasih yang dapat menghilangkan sifat-sifat negatif ini. Keinginan, kemarahan, ketamakan, kecemburuan, dsb hanya muncul dari keterikatan pada tubuh dan kebiasaan makan yang tidak tepat. Jadi kendalikan keterikatan dan keinginanmu. Huruf akan berwarna biru ketika pena diisi dengan tinta warna biru dan berwarna merah ketika pena diisi dengan tinta merah. Sama halnya, semua yang engkau lihat, dengar dan katakan akan menjadi negatif jika di dalam hatimu memiliki perasaan yang negatif. Oleh karena itu, isilah hatimu dengan kasih. Kemudian semua yang engkau lihat, dengar, katakan dan lakukan akan diliputi dengan kasih dan engkau akan mengalami sebuah dunia diliputi dengan kasih. (Divine Discourse, Aug 11, 2000)


Thursday, November 17, 2016

Thought for the Day - 17th November 2016 (Thursday)

All religions teach one basic discipline - the removal from the mind of the blemish of egoism, of running after little joy. Every religion teaches human beings to fill his heart with the glory of God, and evict the pettiness of conceit. It trains you in methods of detachment and discrimination, so that you can aim high and attain liberation. Believe that all hearts are motivated by the one and only God; that all faiths glorify the one and only God; that all names in all languages and all forms you can conceive, denote the one and only God; and that His adoration is best done by means of love. Cultivate that attitude of Oneness (Eka-bhava), between people of all creeds, all countries and all continents. That is the message of love I bring. That is the message I wish you to take to heart. Foster love, live in love, spread love - that is the spiritual exercise which will yield the maximum benefit.

Semua agama mengajarkan satu prinsip disiplin – bersihkan pikiran dari cacat cela egoisme yang mengejar sedikit suka cita. Setiap agama mengajarkan umat manusia untuk mengisi hatinya dengan kemuliaan Tuhan, dan mengusir kepicikan dari kesombongan. Ini melatihmu dalam metode untuk tanpa keterikatan dan diskriminasi, sehingga engkau dapat menggapai ketinggian dan mencapai kebebasan. Percaya bahwa semua hati dimotivasi oleh Tuhan saja;bahwa semua keyakinan memuliakan Tuhan saja; bahwa semua nama dalam semua bahasa dan semua wujud yang dapat engkau pahami hanya menunjukkan Tuhan saja; dan memuja-Nya yang terbaik adalah dengan sarana kasih. Tingkatkan sikap akan kesatuan (Eka-bhava), diantara orang-orang dari semua keyakinan, semua negara dan semua benua. Itu adalah pesan kasih yang Aku bawa. Itu adalah pesan yang Aku harapkan engkau membawanya ke dalam hati. Kembangkan kasih, hiduplah dalam kasih, sebarkan kasih – itu adalah latihan spiritual yang akan mendapatkan keuntungan yang maksimal. (Divine Discourse, 4 July 1968)


Wednesday, November 16, 2016

Thought for the Day - 16th November 2016 (Wednesday)

Select any name of His that appeals to you, select any form of His. Every day when you awaken to the call of the brightening east, recite the name, meditate on the form; have the name and the form as your companion, guide and guardian throughout the toils of the waking hours. When you retire for the night offer grateful homage to God in that form with that name, for being with you, by you, beside you, before you, behind you, all day long. If you stick to this discipline, you cannot falter or fail. Endeavour always to promote the joy and happiness of your fellow countrymen; gladly share their joy and happiness. Resolve to carry on the quest of your own reality. Resolve to live in the inspiration of the constant remembrance of God. Cultivate love and share love. I bless that you achieve success in this endeavour and derive great joy therefrom.

Pilihlah nama Tuhan yang mana saja yang  menarik bagimu, pilihlah wujud Beliau yang mana saja. Setiap hari ketika engkau bangun dari panggilan di pagi hari, lantunkan nama-Nya dan renungan wujud-Nya; miliki nama dan wujud sebagai temanmu, penuntun, dan penjaga dalam kerja keras saat jaga. Ketika engkau istirahat di malam hari maka berikanlah penghormatan atas rasa syukur kepada Tuhan dalam wujud dan nama yang engkau pilih, karena Beliau telah bersamamu, disampingmu, di depanmu, dibelakangmu sepanjang hari. Jika engkau memantapkan diri dalam disiplin ini, engkau tidak bisa bimbang atau gagal. Selalulah berusaha untuk menyebarkan suka cita dan kebahagiaan kepada sesamamu; dengan senang hati bagilah suka cita dan kebahagiaan mereka. Putuskan untuk melakukan pencarian pada kenyataanmu yang sejati. Putuskan untuk hidup dalam inspirasi pada perenungan Tuhan secara terus menerus. Tingkatkan kasih dan bagilah kasih. Aku memberkati bahwa engkau mencapai keberhasilan dalam usaha dan mendapatkan suka cita yang besar darinya. (Divine Discourse, July 4, 1968)


Tuesday, November 15, 2016

Thought for the Day - 15th November 2016 (Tuesday)

Parents and children must join together and sing the glory of God. Embodiments of love, your life must be dedicated to God: as a first step, you must devote a few minutes everyday to the adoration of His glory and enjoying the depth of that glory. Gradually, when the sweetness of the habit heartens you, you will devote more and more time and feel increasingly content. The purpose of 'living' is to achieve ‘living in God’. Everyone is entitled to that consecration and consummation. You are the Truth; do not lose faith; do not belittle yourselves. You are Divine, however often you slide from humanity to animality or even lower. Cultivate Love; share that love with all. How can you give one person less and another more, when they are both the same as you? If you forget the basic Divinity, hatred sprouts and envy raises its hood. See the divine (Atma) in all. Then Love sprouts, and peace descends like dew.

Orang tua dan anak-anak harus bergabung bersama-sama dalam melantunkan nama Tuhan. Perwujudan kasih, hidupmu harus didedikasikan pada Tuhan: sebagai langkah awal, engkau harus meluangkan waktumu beberapa menit setiap hari untuk memuja kemuliaan-Nya dan menikmati kedalaman dari kemuliaan itu. Secara perlahan, ketika rasa manis dari kebiasaan membesarkan hatimu, maka engkau akan meluangkan lebih banyak waktu lagi dan merasa lebih bersyukur. Tujuan dari “kehidupan” adalah untuk mencapai ‘Hidup dalam Tuhan’. Setiap orang berhak atas penyucian dan penyempurnaan itu. Engkau adalah kebenaran; jangan kehilangan keyakinan; jangan meremehkan dirimu sendiri. Engkau adalah illahi, bagaimanapun juga seringnya engkau terjatuh dari kemanusiaan menuju pada kebinatangan atau bahkan yang lebih rendah. Tingkatkan kasih; bagilah kasih itu dengan semuanya. Bagaimana engkau dapat memberikan seseorang sedikit dan yang lainnya lebih, ketika mereka berdua adalah sama dengan dirimu? Jika engkau melupakan keillahian yang mendasar, kebencian akan tumbuh dan iri hati menaikkan kepalanya. Lihatlah illahi (Atma) dalam semuanya. Kemudian kasih akan tumbuh dan kedamaian akan turun seperti embun. (Divine Discourse, July 4, 1968)


Monday, November 14, 2016

Thought for the Day - 14th November 2016 (Monday)

An insidious disease is now rampant amongst most people, namely, disbelief. It sets fire to the tiny shoots of faith and reduces life into cinders and ashes. You have no criterion to judge, yet you pretend to judge. Doubt, anger, poison, illness — all these have to be scotched before they grow. Repeat the Lord’s Name, whether you have faith or not. That will itself induce faith; that will itself create the evidence on which faith can be built. You attach importance to quantity, but the Lord considers only quality. He does not calculate how many measures of ‘sweet rice’ you offered but how many sweet words you uttered, and how much sweetness was present in your thoughts. Offer Him the fragrant leaf of devotion, the flowers of your emotions and impulses which are freed from the pests of lust, anger, etc. Give Him fruits grown in the orchard of your mind, sour or sweet, juicy or dry, bitter or sweet.

Sebuah penyakit yang tersembunyi dan membahayakan sedang merajalela diantara banyak orang, penyakit itu adalah ketidakpercayaan. Penyakit ini membakar tunas kecil keyakinan dan mengurangi kehidupan ke dalam sisa arang dan abu. Engkau tidak memiliki ukuran untuk memberikan penilaian, namun engkau berpura-pura memberikan penilaian. Keraguan, amarah, racun, penyakit — semuanya ini harus dibasmi sebelum semuanya itu tumbuh. Tetap lakukan pelantunan nama Tuhan, apakah engkau memiliki keyakinan atau tidak. Latihan ini sendirinya akan meningkatkan keyakinan; dan juga dengan sendirinya akan menciptakan bukti yang mana keyakinan dapat dibangun. Engkau terikat pada kuantitas, namun Tuhan hanya melihat pada kualitas. Tuhan tidak menghitung berapa banyak ‘beras manis’ yang engkau persembahkan namun berapa banyak kata-kata yang manis (sopan) yang engkau katakan, dan berapa banyak rasa manis di dalam pikiranmu. Persembahkan kepada-Nya daun wangi dari bhakti, bunga dari emosimu, dan gerak hati yang bebas dari hama nafsu, amarah, dsb. Persembahkan kepada-Nya buah yang tumbuh di pikiranmu, masam atau manis, penuh air atau kering, pahit atau manis. (Divine Discourse, February 8, 1963)


Sunday, November 13, 2016

Thought for the Day - 13th November 2016 (Sunday)

Nothing else can give you the bliss, courage and strength that you derive from namasmarana (chanting of the Divine Name). Even if some people make fun of you, do not bother about it. You may be young or old, rich or poor, everybody must do namasmarana. Sing the glory of God wholeheartedly without any inhibition, with full concentration and total dedication. Do not be afraid of anyone. Only then can you experience divine bliss. Begin this sacred namasmarana right from this moment. Take care to see the Name emerges from the core of your heart. Play on the veena of your heart and sing the glory of God. Ensure that you do not have evil thoughts as they produce discordant notes. Only then you will become the recipient of divine grace and energy. I bless you to lead a blissful life! You don’t need to search for bliss outside. It is within you. From today, let your devotion and sense of surrender grow more. Be fearless and sing the glory of the Lord wherever you are and lead the life of a true human being.

Tidak ada yang lainnya yang dapat memberikanmu kebahagiaan, keberanian, dan kekuatan yang engkau dapatkan dari namasmarana (melantunkan nama Tuhan). Bahkan jika beberapa orang menertawakanmu, jangan terganggu dengan hal itu. Engkau mungkin saja muda atau tua, kaya, atau miskin, setiap orang harus menjalankan namasmarana. Lantunkan kemuliaan Tuhan sepenuh hati tanpa adanya hambatan, dengan penuh konsentrasi dan penuh dedikasi. Jangan takut pada siapapun juga. Hanya dengan demikian engkau dapat mengalami kebahagiaan illahi. Mulailah menjalankan namasmarana yang suci ini saat sekarang juga. Berhati-hatilah untuk melihat nama muncul dari inti hatimu. Mainkanlah alat musik vena dari hatimu dan lantunkan kemuliaan Tuhan. Pastikan bahwa engkau tidak memiliki pikiran yang jahat karena pikiran jahat itu menghasilkan nada yang sumbang. Hanya dengan demikian engkau akan menjadi penerima dari rahmat dan energi Tuhan. Aku memberkatimu untuk menjalani hidup yang penuh kebahagiaan! Engkau tidak perlu mencari kebahagiaan di luar. Kebahagiaan itu ada di dalam dirimu. Mulai dari sekarang, biarkan bhakti dan rasa berserah dalam dirimu semakin berkembang. Jangan takut dan lantunkan kemuliaan Tuhan dimanapun engkau berada dan jalani hidup sebagai manusia yang sejati. (Divine Discourse, April 14, 2002)


Thought for the Day - 12th November 2016 (Saturday)

Today many people do not attach importance to reciting Lord’s Name. It is a great mistake. Many are facing a lot of problems because they are not doing namasmarana. In the present age (Kali) chanting the divine name alone can redeem your lives. There is no other refuge! Singing the Lord’s glory is highly sacred. There are many snakes of wicked qualities in the anthill of your heart. When you recite the divine name, all the ‘snakes’ of bad qualities will come out. Namasmarana is like nadaswaram which attracts snakes and brings them out of anthills. Let this mellifluous name (nadaswaram) be your breath of life (jeevanaswaram). Repeat God’s name incessantly in order to get rid of evil qualities. Let each and every street reverberate with the singing of divine glory. Let each and every cell of your body be filled with divine name.

Saat sekarang manusia tidak menganggap penting dalam melantunkan nama Tuhan. Ini adalah kesalahan yang sangat besar. Banyak yang menghadapi banyak masalah karena mereka tidak menjalankan namasmarana. Di zaman sekarang (Kali) hanya dengan melantunkan nama Tuhan yang dapat menyelamatkan hidupmu. Tidak ada tempat berlindung lagi! Melantunkan kemuliaan Tuhan adalah sangat suci sekali. Ada banyak ular dalam bentuk sifat-sifat buruk di gundukan hatimu. Ketika engkau melantunkan nama Tuhan maka semua ‘ular’ sifat buruk itu akan keluar. Namasmarana adalah seperti nadaswaram yang menarik ular dan membawanya keluar dari gundukan itu. Biarkan nama yang manis ini (nadaswaram) menjadi nafas hidupmu (jeevanaswaram). Mengulang-ulang nama Tuhan secara berkelanjutan untuk melepaskan sifat-sifat jahat. Biarkan setiap jalan bergema dengan kidung kemuliaan Tuhan. Biarkan setiap sel dari tubuhmu diliputi dengan nama Tuhan. (Divine Discourse, April 14, 2002)


Thought for the Day - 11th November 2016 (Friday)

Your home (griha) must resound to the name of Govinda; otherwise, it is just a cave (guha), where wild animals dwell. The soul needs a house, and your body itself is its house. In that house too, the Lord’s name must be heard, or else it is a mud pot (ghata), not a human being’s body. Then your homes will be immersed in the highest peace (shanti)! Obedience to the Lord’s command is the secret to your liberation. Once you decide that the orchard in your mind belongs to Him, all fruits will be sweet! Your seeking refuge for protection (saranagathi) will render all fruits acceptable to the Lord, so they cannot be bitter. And for water, what can be purer and more precious than your tears — shed not in grief, but in rapture at the chance to serve the Lord and to walk along the path that leads to Him!

Rumahmu (griha) harus menggemakan nama Govinda; jika tidak maka ini hanyalah sebuah gua dimana binatang buas tinggal. Jiwa memerlukan sebuah rumah dan tubuhmu sendiri adalah rumah bagi jiwa itu. Dalam rumah itu juga, nama Tuhan harus diperdengarkan, jika tidak maka ini hanyalah bejana tanah liat (ghata), dan bukan tubuh manusia. Kemudian rumahmu akan tenggelam dalam kedamaian yang tertinggi (shanti)! Mematuhi perintah Tuhan adalah rahasia untuk kebebasanmu. Sekali engkau memutuskan bahwa kebun buah di dalam pikiranmu adalah milik-Nya, maka semua buahnya akan menjadi manis! Pencarian perlindungan (saranagathi) akan membuat semua buah dapat diterima oleh Tuhan, jadi buah-buah itu tidak akan menjadi pahit. Dan untuk airnya, apa yang dapat lebih suci dan berharga daripada air matamu sendiri — bukan air mata penderitaan, namun rasa gembira atas kesempatan untuk melayani Tuhan dan berjalan bersama di jalan yang mengarah kepada-Nya! (Divine Discourse, February 8, 1963)


Thought for the Day - 10th November 2016 (Thursday)

Arjuna earned the Spiritual Instruction (Geeta upadesh) from the Lord Himself, because he experienced deep sorrow (Vishada), detachment (Vairagya), surrender (Sharanagati) and the single-minded-concentration on the Lord (Ekagrata). When the yearning for Liberation becomes intense beyond expression, you can set aside all social conventions, worldly norms, etc. which does not subserve that high purpose. Just as Prahlada gave up his father, Bhishma countered his Guru, Meera deserted her husband and Shankaracharya won his mother over with deceit. To develop that taste for liberation, Namasmarana is the best path. Let the sweetness of the Lord’s Name saturated with the sugar of His splendor play on your tongue and mind always. This simple but supremely powerful exercise can be practiced by all at all times, irrespective of caste, creed, gender, social or economic status.

Arjuna mendapatkan tuntunan spiritual (Geeta upadesh) dari Tuhan sendiri, karena ia mengalami penderitaan yang mendalam (Vishada), tanpa keterikatan (Vairagya), berserah diri (Sharanagati) dan konsentrasi yang terpusat pada Tuhan (Ekagrata). Ketika kerinduan untuk kebebasan menjadi begitu kuat dan tidak bisa diungkapkan, engkau dapat menyingkirkan semua kebiasaan sosial, norma-norma duniawi, dsb yang mana tidak tepat lagi bagi tujuan yang tinggi. Seperti halnya Prahlada tidak mengikuti ayahnya, Bhishma bertentangan dengan gurunya, Meera meninggalkan suaminya dan Shankaracharya bisa membujuk ibunya dengan tipuan. Untuk mengembangkan hasrat untuk kebebasan, Namasmarana adalah jalan yang paling baik. Biarkan rasa manis dari nama Tuhan penuh dengan gula dari kemuliaan-Nya selalu bermain-main di lidah dan pikiranmu. Latihan yang sederhana namun sangat kuat ini dapat dijalankan oleh semuanya sepanjang waktu, tanpa tergantung dengan kasta, keyakinan, jenis kelamin, status sosial, atau ekonomi. (Divine Discourse, 16 Mar 1966)


Wednesday, November 9, 2016

Thought for the Day - 9th November 2016 (Wednesday)

Of the 24 hours in a day, use six for earning and spending, six for contemplation of God, six for sleep and six for service to others. Most of you don’t even have five minutes to truly contemplate on the Lord, and you are not ashamed. What a tragedy! Ponder over your present condition (sthiti), the direction you are heading (gathi), your capabilities (shakthi) and your inclinations and tendencies (mathi). Then enter upon the path of spiritual practice, step by step, so you approach the goal steadily and swiftly, day by day. Indian culture advises the control of the senses, not catering to them. The car is driven by means of a wheel which is inside it, so that when the inner steering wheel is turned, the outer wheels move. Trying to move the outer-wheels alone is a sign of ignorance! Inner concentration must be developed in preference to outer distraction. Cultivate quietness, simplicity, and humility, instead of noise, complexity and conceit.

Dalam 24 jam sehari, gunakan 6 jam untuk pemasukan dan pengeluaran, 6 jam untuk merenungkan Tuhan, 6 jam untuk tidur dan 6 jam untuk pelayanan kepada yang lain. Kebanyakan darimu bahkan tidak memiliki 5 menit untuk benar-benar memusatkan pikiran kepada Tuhan dan engkau tidak merasa malu. Betapa tragisnya! Merenungkan keadaanmu sekarang (sthiti), arah yang engkau tuju (gathi), kemampuanmu (shakthi) dan kecenderungan dan dorongan hatimu (mathi). Kemudian masukilah jalan latihan spiritual, langkah demi langkah sehingga engkau mendekati tujuan dengan mantap dan cepat dari hari ke hari. Budaya India menyarankan pengendalian indra dan bukan memberikan makan indra tersebut. Mobil dikemudikan dengan bantuan roda, jadi ketika setir di dalam diputar maka roda di luar juga ikut berputar. Dengan mencoba hanya dengan memutar roda yang ada di luar adalah tanda dari kebodohan! Konsentrasi di dalam harus dikembangkan daripada gangguan yang ada di luar. Tingkatkanlah ketenangan, kesederhanaan, dan kerendahan hati daripada kegaduhan, keruwetan, dan kecongkakan. (Divine Discourse, Mar 16, 1966)


Tuesday, November 8, 2016

Thought for the Day - 8th November 2016 (Tuesday)

People today suffer intensely from the fever of the senses and try the quack remedies of recreations, pleasures, vacations, picnics, banquets, dances, etc. only to find that the fever abates but returns after an interval – it does not subside. All the varieties in taste, colour, smell of the various food delicacies, when you consider fairly and squarely, are a mere drug to cure the illness of hunger. All the drinks that people have invented are but drugs to alleviate the illness of thirst. What you term luxury (bhoga) today, is a thing that drags people into excitement and insane pursuits. A fever will go away only when the hidden virus is rendered ineffective. So too, the virus or illness of your mind will die only when the rays of wisdom (Jnana) falls upon it. Discern and always try to prefer the beneficial (hitha) to the pleasant (priya), for the pleasant might lead you down the sliding path into the bottomless pit.

Manusia pada saat sekarang menderita dengan sungguh-sungguh dari demam indra dan mencoba obat mujarab dengan rekreasi, kesenangan, liburan, piknik, perjamuan, menari, dsb hanya untuk meredakan demam itu namun demam itu muncul kembali dalam beberapa saat kemudian – demam itu tidaklah reda. Semua jenis dalam rasa, warna, aroma, dari berbagai jenis makanan yang enak, ketika engkau memikirkannya dengan wajar dan jujur, maka itu hanyalah obat untuk menyembuhkan penyakit lapar. Semua minuman yang manusia temukan hanyalah obat untuk meredakan penyakit haus. Apa yang engkau katakan mewah (bhoga) hari ini, adalah sesuatu yang menyeret manusia pada kegembiraan dan pengejaran yang gila. Demam akan menghilang hanya ketika virus yang tersembunyi dibuat menjadi tidak berdaya. Begitu juga, virus atau penyakit dari pikiranmu hanya akan mati ketika pancaran kebijaksanaan (Jnana) meneranginya. Memahami dan selalu mencoba untuk memilih bermanfaat (hitha) daripada yang menyenangkan (priya), karena yang menyenangkan mungkin membawamu jatuh meluncur pada jalan menuju jurang maut. (Divine Discourse, Mar 16, 1966)


Monday, November 7, 2016

Thought for the Day - 7th November 2016 (Monday)

If our love, belief and affection are confined to our nearest kith and kin, that will be the lowest kind of selfish love. On the other hand, if you stretch a little beyond the narrow region of your family and extend your faith and belief to your countrymen, then it becomes intermediate. If you treat the entire world as one and regard all the people living in it as one, and extend your faith and sympathy to all of them, then it is the highest kind of selfless love. Gradually we should move  from the limited circle of our family to the wider circle of our country and then expand to the Universe. When we talk of humanity, it should not be confined to a small group of people. There is only one caste, and that is the caste of humanity, and when we talk of humanity, we must extend our selfless love to all species in the Universe too.

Jika kasih, keyakinan, dan welas asih kita dibatasi pada kerabat dan sahabat kita yang terdekat, maka itu menjadi jenis kasih yang mementingkan diri yang paling rendah. sebaliknya, jika engkau membentangkan sedikit ruang lingkupnya di luar wilayah yang sempit keluarga dan membuatnya semakin besar keyakinan dan kepercayaanmu pada sesama warga negara, maka kasih itu menjadi level menengah. Jika engkau memperlakukan seluruh dunia sebagai satu adanya dan menganggap semua orang yang hidup adalah satu, dan memperbesar keyakinan dan simpatimu kepada semuanya, maka ini adalah jenis yang tertinggi dari kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Secara teratur kita seharusnya bergerak dari lingkaran keluarga kita pada lingkaran yang lebih besar pada bangsa kita dan kemudian membesar pada alam semesta. Ketika kita berbicara tentang kemanusiaan, ini seharusnya tidak dibatasi pada kelompok kecil manusia. Hanya ada satu kasta, dan itu adalah kasta kemanusiaan, dan ketika kita berbicara kemanusiaan, kita harus memperbesar kasih tanpa mementingkan diri kita kepada semua spesies di alam ini juga.(Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 15)


Sunday, November 6, 2016

Thought for the Day - 6th November 2016 (Sunday)

People travel into the sky and soar to the very heights of the empty skies. They dive into the depths of the ocean; and in many other ways, people are doing incredible things. With the help of science and technology, they are discovering and inventing things which were not previously accessible to common human beings. They are making every effort to learn and understand several phenomena but are only partially succeeding in this objective. In fact, people are inventing complicated and sophisticated computers and machines, and through these are trying to conquer the universe. After acquiring all these strengths and capacities, if people do not have the wisdom to use them well for their happiness and peaceful living, all these inventions become useless.

Manusia melakukan perjalanan ke atas langit dan membumbung tinggi jauh sekali pada langit yang hampa. Mereka juga menyelam ke kedalaman lautan; dan dalam banyak bentuk lainnya, manusia melakukan hal-hal yang sungguh menakjubkan. Dengan bantuan pengetahuan dan teknologi, mereka sedang mengungkapkan dan menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh manusia biasa. Mereka melakukan segala daya upaya untuk mempelajari dan memahami beberapa fenomena namun hanya sebagian yang berhasil dalam tujuan ini. Sejatinya, manusia menciptakan komputer dan mesin yang rumit serta canggih, dan melalui sarana ini sedang mencoba menaklukan alam semesta. Setelah mendapatkan semua bentuk kekuatan dan kapasitas ini, jika manusia tidak memiliki kebijaksanaan untuk menggunakan semuanya ini dengan baik untuk kebahagiaan dan hidup yang damai maka semua penemuan ini menjadi tidak berguna. (Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 15)


Thought for the Day - 5th November 2016 (Saturday)

Every individual’s struggle against their inner foes is different. Each person gets the result according to their Sadhana (spiritual practices), based on the deservedness of their acts in this and their previous births. Life is not a mechanical formula, where 2 plus 2 always makes 4. To some, 2 plus 2 may be 3 or 5, depending on their ‘personal valuation’ of 2. In the spiritual path, each one must move forward from where they already are at their own pace, in the light of the lamp which each one is holding in the hand. Identify defects that would undermine your spiritual career, and fix them to advance in your journey unto Him. People buy clothes with deep colour, so that they may not reveal dust or dirt; they do not prefer white clothes, for they show plainly their soiled condition. But, do not try to hide your dirt in darkness; be ashamed of soiled natures and endeavour to cleanse them fast.

Setiap individu berjuang melawan musuh di dalam dirinya secara berbeda. Setiap orang mendapatkan hasil sesuai dengan latihan spiritual (sadhana) mereka, berdasarkan pada kelayakan dari perbuatan mereka pada saat ini dan juga kelahiran yang terdahulu. Hidup bukanlah sebuah formula yang bersifat mekanis, dimana 2 ditambah 2 selalu hasilnya 4. Untuk beberapa bagian, 2 ditambah 2 mungkin 3 atau 5, tergantung pada penaksiran mereka sendiri tentang angka 2. Dalam jalan spiritual, setiap orang harus bergerak maju darimana tempat dimana mereka sekarang dengan membawa cahaya lampu di tangan mereka sendiri. Ketahuilah kesalahan yang mana akan meruntuhkan perjalanan spiritualmu, dan perbaiki kesalahan tersebut untuk memajukan perjalananmu menuju kepada-Nya. Kebanyakan orang membeli pakaian dengan warna-warna yang pekat sehingga baju itu tidak menampakkan debu dan kotoran; mereka tidak memilih baju warna putih karena baju putih memperlihatkan dengan mudah keadaan yang kotor. Namun, jangan mencoba untuk menyembunyikan kotoran dalam kegelapan; miliki rasa malu pada kualitas yang kotor dan berusahalah untuk membersihkannya dengan cepat. (Divine Discourse, 16 Mar 1966)


Friday, November 4, 2016

Thought for the Day - 4th November 2016 (Friday)

Many are unable to understand the sacredness of the selfless love and devotion of the Gopikas and misinterpret all their actions attributing them wrong meanings. Gopikas had noble thoughts; their love and devotion to Lord Krishna was absolutely selfless. It is for this reason that even after so many centuries they remain fresh in the minds of millions in India. The Bhagavata preaches the sacredness of devotion to Lord Krishna. There is no hatred, jealousy, or anger in divine love; that is why it can give happiness to the entire world. We should accept selfless love as an essential type of devotion and promote it in our country. It must be an ideal so far as our relationship with God is concerned. Discard any unsacred thoughts or selfishness from your hearts, from this very moment, and cultivate selfless divine love and purify your heart.

Banyak yang tidak mampu memahami kesucian dari kasih yang tanpa mementingkan diri sendiri dan bhakti dari para Gopika dan salah mengerti tentang semua perbuatan mereka dengan menghubungkannya dengan arti yang salah. Para Gopika memiliki pikiran yang mulia; kasih dan bhakti mereka kepada Sri Krishna benar-benar tulus. Karena alasan ini bahkan setelah beberapa abad berlalu mereka masih tetap segar dalam ingatan jutaan orang India. Bhagavata mengajarkan kesucian dari bhakti kepada Sri Krishna. Tidak ada kebencian, kecemburuan, atau amarah dalam kasih Tuhan; itulah sebabnya mengapa kasih Tuhan dapat memberikan kebahagiaan kepada seluruh dunia. Kita harus menerima kasih yang tanpa mementingkan diri sendiri sebagai jenis bhakti yang mendasar dan meningkatkannya di dalam bangsa kita. Harus menjadi ideal ketika terkait hubungan dengan Tuhan. Buang pikiran yang tidak suci atau yang mementingkan diri sendiri dari dalam hatimu mulai dari sekarang dan tingkatkan kasih illahi yang tanpa mementingkan diri sendiri dan juga kesucian di dalam hatimu. (Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 14)