Tuesday, June 27, 2017

Thought for the Day - 27th June 2017 (Tuesday)

The question, "Where does God exist," is often trotted out by people nowadays. By unceasing recitation of the name of God, Prahlada knew that God is everywhere! It is not correct to assert, "He is only here" or that "He is not there." The realisation of this eternal Truth can dawn upon you only after intense spiritual practice (Sadhana). You may see all kinds of attractive articles in a departmental store or mall; they cannot be yours merely by wishing for it or asking for it from the shopkeeper. Only those articles for which you pay can be secured by you. Similarly, you may be very interested in ‘Realisation’, but for you to secure it, you must be willing to pay the price. Take courage and defeat your inner foes of lust, greed, hate and pride, and you will surely secure undisputed mastery over yourself and reach your goal!


Pertanyaan, "Dimana Tuhan berada," adalah sering ditanyakan oleh manusia pada saat sekarang. Dengan tanpa henti mengulang-ulang nama Tuhan, Prahlada mengetahui bahwa Tuhan ada dimana-mana! Adalah tidak benar dengan menyatakan, "Tuhan hanya ada disini" atau "Tuhan tidak ada disana." Kesadaran akan kebenaran yang kekal ini dapat muncul dalam dirimu hanya setelah engkau menjalankan latihan spiritual (sadhana) dengan disiplin tinggi. Engkau bisa melihat begitu banyak barang yang menarik di dalam mall; semua barang itu tidak bisa menjadi milikmu hanya dengan berharap memilikinya atau memintanya kepada penjaga toko. Hanya barang-barang yang telah engkau bayar yang dapat menjadi milikmu. Sama halnya, engkau mungkin sangat tertarik dengan ‘pencerahan’, namun untuk engkau bisa mendapatkannya, engkau harus membayar harganya. Miliki keberanian dan kalahkan musuh di dalam diri seperti nafsu, ketamakan, kebencian dan kesombongan maka pastinya engkau tidak diragukan lagi dapat menguasai dirimu sendiri dan mencapai tujuanmu! (Divine Discourse, Jan 1, 1967)

-BABA

Thought for the Day - 26th June 2017 (Monday)

We eat food today just as we have been doing all these years. We are looking at the same faces today that we have been seeing all these days. Are we asking ourselves, why do we see the same face again and again? We feed the same stomach which we had fed with food yesterday and the day before. Do we ever question why do we have to feed the same stomach again today? We easily understand and accept these normal tasks, but why do we think and question our traditions and customs and even the act of praying to God every day? Our sacred scriptures and divine stories from the past are to guide and save us. Times may change, the world may change, new epochs may come, but Divinity is one and the same, and is unchanging. Most of you seek things that are ever-changing. Why don’t you seek things that are permanent and unchanging?


Kita makan makanan setiap hari walaupun kita telah melakukannya sepanjang tahun. Kita memandang wajah yang sama setiap hari yang telah kita lihat sepanjang hari. Apakah kita menanyakan diri kita sendiri, mengapa kita melihat wajah yang sama berulang kali? Kita memberikan makan perut yang sama kemarin dan hari sebelumnya. Apakah kita pernah menanyakan mengapa kita harus memberikan makanan pada perut yang sama hari ini? Kita dengan mudah mengerti dan menerima kegiatan yang normal ini, namun mengapa kita berpikir dan menanyakan tradisi dan kebiasaan kita serta bahkan kegiatan ibadah kepada Tuhan setiap harinya? Naskah suci dan juga cerita suci kita dari masa lalu adalah untuk menuntun dan menyelamatkan kita. Waktu boleh berubah, dunia boleh berubah, zaman baru bisa datang, namun keillahian adalah satu dan sama dan tidak berubah. Kebanyakan darimu mencari hal yang selalu berubah. Mengapa engkau tidak mencari hal-hal yang kekal dan tidak berubah? (Summer Showers in Brindavan, 1977, Ch 1)

-BABA

Thought for the Day - 25th June 2017 (Sunday)

Islam means surrender to God. It teaches that God's Grace can be won through justice and righteous living; and not through wealth, scholarship or power. All who in a spirit of surrender and dedication, live in peace and harmony in society are in fact, followers of Islam. Islam insists on full co-ordination between thought, word and deed. Muslim holy men and sages have been emphasizing the need to inquire into the validity of the 'I' which feels it is the body and the 'I' which feels it is the mind, and reach the conclusion that the real 'I' is the self yearning for the Omni Self, God. During the Ramzan month, the fast and the prayers are to awaken and manifest this realisation. No matter which religion you follow, remember that the emphasis should be on unity, harmony and equal-mindedness. Therefore cultivate love, tolerance and compassion, and demonstrate this Truth in daily activity. This is the message I give you with My blessings.


Islam berarti berserah diri kepada Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa rahmat Tuhan bisa didapatkan melalui keadilan dan hidup yang benar; dan bukan dengan kekayaan, kesarjanaan, atau kekuasaan. Semua yang ada dalam semangat berserah diri dan dedikasi, hidup dalam kedamaian dan kerukunan dalam masyarakat, sejatinya adalah pengikut Islam. Islam sangat menekankan sepenuhnya pada koordinasi diantara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Para orang-orang suci dalam Islam telah menekankan perlunya untuk menyelidiki kebenaran akan ‘aku’ yang merasa sebagai tubuh dan ‘aku’ yang merasa sebagai pikiran, dan mencapai kesimpulan bahwa ‘aku’ yang sejati adalah kerinduan dalam diri pada Tuhan yang ada dimana-mana. Selama bulan suci Ramadhan, puasa dan doa adalah untuk membangkitkan dan mewujudkan kesadaran ini. Tidak masalah agama yang engkau ikuti, ingatlah bahwa penekanannya harus pada kesatuan dan pandangan yang sama. Maka dari itu tingkatkan cinta kasih, toleransi, dan welas asih serta menjalankan kebenaran ini dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah pesan yang Aku berikan kepadamu dengan rahmat-Ku. (Divine Discourse, July 12, 1983)

-BABA

Thought for the Day - 24th June 2017 (Saturday)

The third flower that God loves the most is the flower of compassion (daya) towards all living creatures. Live in amity with everyone, but do not have too much connection with people. The fourth special and significant flower that God dearly loves is that of forbearance (Kshama). The Pandavas suffered a lot at the hands of the Kauravas. But never did Dharmaraja lose forbearance. It was the virtue of forbearance that always won for Pandavas the protection of Krishna and made them an ideal to the rest of the world. God loves the offering of ever-blooming flowers of nonviolence, sense-control, compassion and forbearance (ahimsa, indriyanigraha, daya and kshama). God will be pleased with you and confer boons on you only when you offer Him the ‘flowers’ which are dear to Him. No benefit accrues from offering flowers, which fade and decay everyday.


Bunga ketiga yang Tuhan sangat sukai adalah bunga welas asih (daya) kepada semua makhluk hidup. Hiduplah dengan bersahabat baik dengan setiap orang, namun jangan terlalu banyak hubungan dengan orang-orang. Bunga yang keempat yang spesial dan penting yang Tuhan sangat sukai adalah ketabahan (Kshama). Para Pandawa mengalami banyak penderitaan di tangan para Kaurava. Namun Dharmaraja tidak pernah kehilangan akan ketabahan. Karena sifat mulia dari ketabahan yang selalu mendapatkan perlindungan dari Sri Krishna untuk para Pandava dan menjadikan mereka sebagai ideal bagi seluruh dunia. Tuhan mencintai persembahan bunga yang mekar yaitu tanpa kekerasan, pengendalian indria, welas asih, dan ketabahan (ahimsa, indriyanigraha, daya, dan kshama). Tuhan akan disenangkan olehmu dan memberkatimu dengan karunia hanya kaetika engkau mempersembahkan kepada-Nya ‘bunga’ yang disenangi oleh-Nya. Tidak ada keuntungan yang di dapat dengan mempersembahkan bunga yang layu dan busuk setiap hari. (Divine Discourse, Aug 22, 2000)

-BABA

Saturday, June 24, 2017

Thought for the Day - 23rd June 2017 (Friday)

Today science has advanced to a great extent! Human beings have undertaken space travel. People want to know what is there in space, they are curious to know what is there in the moon and even wish to travel to the Sun. But what is the use? First recognise the Divinity within yourself. Open the doors of your heart. Develop love more and more. Understand the truth. Experience God. There lies the bliss. It is very easy to know God, but very few understand this. You must make every effort to understand the immanent Divinity. The divinity within is covered by ego and anger. Therefore, it is said, real knowledge dawns only when attachment is destroyed (Moham hithva punar vidya). Where does this attachment come from? Excessive desires lead to attachment. You will experience divinity everywhere when you enquire deep within!


Pada saat sekarang ilmu pengetahuan telah berkembang maju dalam skala yang sangat besar! Manusia melakukan perjalanan ke luar angkasa! Manusia ingin mengetahui apa yang ada di luar angkasa, manusia memiliki rasa ingin tahu apa yang ada di bulan dan bahkan berharap melakukan perjalanan ke matahari. Namun apa gunanya? Pertama ketahuilah keillahian yang ada di dalam dirimu sendiri. Bukalah pintu hatimu. Kembangkan cinta kasih semakin besar dan semakin besar. Pahamilah kebenaran, alami Tuhan. Disana ada kebahagiaan. Adalah sangat gampang untuk mengetahui Tuhan, namun hanya beberapa orang saja yang mengerti akan hal ini. Engkau harus melakukan setiap usaha untuk mengerti keillahian yang tetap ada. Keillahian yang ada di dalam diri ditutupi oleh ego dan kemarahan. Maka dari itu, dikatakan bahwa pengetahuan yang sejati muncul hanya ketika keterikatan dihancurkan (Moham hithva punar vidya). Darimana datangnya keterikatan ini muncul? Keinginan yang terlalu banyak menuntun pada keterikatan. Engkau akan mengalami keillahian dimana saja ketika engkau menyelidiki secara mendalam di dalam diri! (Divine Discourse Mar 14, 1999)

-BABA

Thursday, June 22, 2017

Thought for the Day - 22nd June 2017 (Thursday)

Think for a while, what benefit will you gain by listening to gossip and talking unnecessarily about unsacred things? Nothing! In fact, you will be polluting your heart in the process. All that you see and hear gets imprinted on your heart. Once your heart is polluted, your life will become meaningless. The other day, while speaking to the devotees from Visakhapatnam, I quoted this example: “Human heart is like a pen. The colour of the words that you write will be the same as the colour of the ink in the pen.” Hence, teach your ears to listen to the stories of the Lord instead of listening to vain gossip. Only when you fill your heart with selfless love, all that you think, say and do will be suffused with love. Remember, God expects you to fill your heart with love and lead a sacred life.

Pikirkanlah sejenak, apa keuntungan yang akan engkau dapatkan dengan mendengarkan gosip dan membicarakan sesuatu yang tidak suci? Tidak ada sama sekali! Sesungguhnya, engkau akan mencemari hatimu dalam proses ini. Semua yang engkau lihat dan dengarkan akan terpatri di dalam hatimu. Sekali hatimu telah tercemar, hidupmu akan menjadi tidak ada gunanya. Di lain waktu, ketika sedang berbicara dengan para bhakta dari Visakhapatnam, Aku mengutip contoh ini: “Hati manusia adalah seperti sebuah pena. Warna-warni dari kata yang engkau tulis akan sama dengan warna tinta yang ada dalam pena.” Oleh karena itu, ajarkan telingamu untuk mendengarkan cerita Tuhan daripada mendengarkan gosip yang sia-sia. Hanya ketika engkau mengisi hatimu dengan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, maka semua yang engkau pikirkan, katakan dan lakukan akan diliputi dengan kasih. Ingatlah, Tuhan mengharapkan engkau mengisi hatimu dengan kasih dan menjalani hidup yang suci. - Divine Discourse, Aug 22, 2000

BABA

Thought for the Dai 21st June 2017 (Wednesday)

Embodiments of Love! Why should you search for God when He is everywhere? You are God! All spiritual practices (Sadhana) will go in vain if you do not know your true identity. First know who you are! Instead of asking others, “Who are you?” better ask yourself, “Who am I?” You say, “This is my book!” Who is this ‘I’? This feeling of ‘I, my’ is illusion (maya). All this is matter. All this is negative. You are the master of this material world. Master your mind and be a mastermind. You should make every effort to know your true identity. To know your true self, first give up body attachment. When you say, “this is my handkerchief,” ‘you’ are separate from your ‘handkerchief’. Similarly, when you say, “this is my body, my mind”, are you not separate from the body and the mind? The question that still remains is, “who am I?” Constant enquiry on these lines would lead you to Self-realisation.


Perwujudan kasih! Mengapa engkau harus mencari Tuhan ketika Tuhan ada dimana-mana? Engkau adalah Tuhan! Semua latihan spiritual (Sadhana) akan menjadi sia-sia jika engkau tidak tahu identitas sejatimu. Pertama ketahuilah siapa dirimu! Daripada menanyakan orang lain dengan, “Siapakah anda?” lebih baik tanyakan pada dirimu sendiri, “Siapakah aku?” Engkau mengatakan, “Ini adalah bukuku!” Siapakah ‘aku’ ini? Perasaan akan ‘aku’, ‘milikku’ adalah khayalan (maya). Semunya ini adalah materi saja. Semuanya ini adalah negatif. Engkau adalah penguasa dari dunia material ini. Kuasai pikiranmu dan jadilah penguasa pikiran. Engkau harus melakukan usaha untuk mengetahui identitas sejatimu. Untuk mengetahui jati dirimu, pertama lepaskan keterikatan. Ketika engkau berkata, “Ini adalah sapu tanganku,” ‘engkau’ adalah terpisah dari ‘sapu tangan’ mu. Sama halnya, ketika engkau berkata, “Ini adalah tubuhku, pikiranku”, bukankah engkau terpisah dari tubuh dan pikiran? Pertanyaan yang masih tetap ada adalah , “Siapakah aku?” selalulah menanyakan serta mencari tahu jawaban ini akan menuntunmu pada pencerahan diri. (Divine Discourse, Mar 14, 1999)

-BABA

Tuesday, June 20, 2017

Thought for the Day - 20th June 2017 (Tuesday)

Offer to God the flower of sense control (indriya nigraha). All spiritual practices will prove futile if you lack sense control. Lack of sense control is the main cause of all the unrest and agitation that you find in the world today. How can you control the senses? First, you should exercise control over the tongue. You must control your tongue as it always craves for a variety of delicacies. Ask this question, “O tongue, how many bags of rice, wheat and vegetables have you devoured! How many delicacies have you consumed! Fie on you if you are still not satisfied!” Eat only to satisfy your hunger and sustain the body. Do not give undue importance to taste. Likewise, tell your eyes to see God instead of watching unsacred things on the television or media. Teach your ears to listen to the stories of the Lord instead of listening to vain gossip.


Persembahkan kepada Tuhan pengendalian indria (indriya nigraha). Semua latihan spiritual akan menjadi sia-sia belaka jika engkau kurang dalam pengendalian indria. Kurangnya pengendalian indria adalah penyebab utama dari semua kegelisahan dan pergolakan yang engkau temui di dunia saat sekarang. Bagaimana engkau dapat mengendalikan indriamu? Pertama, engkau harus melatih pengendalian pada lidahmu. Engkau harus mengendalikan lidahmu karena lidah selalu mencari segala makanan yang bersifat lezat. Tanyakan pertanyaan ini, “O lidah, berapa banyak karung nasi, gandum, dan sayuran yang telah engkau telan? Berapa banyak makanan lezat yang telah engkau makan? Menjijikkan bagimu jika engkau belum puas juga!” Makan hanya untuk memuaskan rasa laparmu dan menopang tubuh. Jangan memberikan perhatian yang tidak pantas pada rasa. Sama halnya, katakan pada matamu untuk melihat Tuhan daripada menonton sesuatu yang tidak suci di televisi atau media. Ajarkan telingamu untuk mendengarkan cerita Tuhan daripada mendengarkan gosip yang tidak ada gunanya. (Divine Discourse, Aug 22, 2000)

-BABA

Thought for the Day - 19th June 2017 (Monday)

Today man has taken to many paths to acquire wisdom. All the knowledge that one has acquired is not true knowledge in the strict sense of the term. Knowledge of the spirit, Atmic knowledge, is the true knowledge. That is Brahma Jnana (Knowledge of the Divine). Work, worship, and wisdom - all begin with service. No matter what service it is, if it is done with love and divine feelings, it becomes worship (upasana). What is wisdom? All actions related to our senses, the fleeting objects of the material world,speak of our ignorance. Wisdom dawns the moment the mind is withdrawn. The thoughtless state between two consecutive thoughts is Brahma Jnana. You are not able to experience this thoughtless state of Brahman and are carried away by fleeting, ephemeral, and momentary things. True wisdom dawns when all thoughts are decimated. Bhagawan's philosophy requires you to practice unity in work, worship, and wisdom.

Manusia pada saat sekarang telah mengambil banyak jalan untuk mendapatkan kebijaksanaan. Semua pengetahuan yang seseorang dapatkan bukanlah pengetahuan yang sejati dalam arti yang sesungguhnya. Pengetahuan tentang jiwa, pengetahuan Atma adalah pengetahuan yang sejati. Itu adalah Brahma Jnana (pengetahuan Tuhan). Kerja, ibadah, dan kebijaksanaan – semua mulai dengan pelayanan. Tidak masalah jenis pelayanan, jika pelayanan dilakukan dengan kasih dan perasaan illahi maka pelayanan itu menjadi pemujaan (upasana). Apa itu kebijaksanaan? Semua perbuatan yang terkait dengan indria kita, pada objek duniawi yang cepat berlalu, berbicara tentang kebodohan kita. Kebijaksanaan muncul pada saat pikiran ditarik mundur. Keadaan tanpa pikiran diantara dua pikiran yang berurutan adalah Brahma Jnana. Engkau tidak mampu mengalami keadaan tanpa pikiran Brahman dan terbawa oleh benda-benda yang bersifat cepat berlalu, sementara, dan sebentar. Kebijaksanaan sejati muncul ketika pikiran dihilangkan. Filosofinya Bhagawan mengharuskanmu untuk menjalankan kesatuan dalam kerja, ibadah, dan kebijaksanaan. (Divine Discourse, Mar 14, 1999)

-BABA

Thought for the Day - 18th June 2017 (Sunday)

Embodiments of Love! God does not expect you to perform rituals nor study the scriptures. All that He desires from you is eight types of ‘flowers’. The flower of ahimsa (nonviolence) is the first of the eight flowers you should offer to God. Nonviolence means not causing harm to any living creature in thought, word or deed. Doctors perform surgeries on patients to cure them of their ailments. During surgery, doctors cut the body with a knife. You cannot call it an act of violence because it is beneficial to the patient. Some people argue that even cutting vegetables is an act of violence because the vegetables and trees have life in them. No doubt, vegetables and trees have life, but they do not have the mind. Consequently, they do not suffer any pain. One with the mind experiences pain and pleasure. Humans, animals, birds and insects are endowed with the mind, not the trees and vegetables.


Perwujudan Kasih! Tuhan tidak mengharapkanmu untuk melaksanakan ritual atau mempelajari naskah suci. Semua yang Tuhan inginkan darimu adalah delapan jenis ‘bunga’. Bunga ahimsa (tanpa kekerasan) adalah bunga pertama yang harus engkau persembahkan kepada Tuhan. Tanpa kekerasan berarti tidak menyebabkan rasa sakit pada makhluk hidup apapun dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dokter melakukan pembedahan pada pasien untuk menyembuhkan mereka dari penyakit. Saat operasi, dokter membedah tubuh dengan pisau. Engkau tidak dapat menyebut hal ini sebagai tindakan kekerasan karena ini adalah berguna bagi pasien. Beberapa orang mendebat bahkan memotong sayuran adalah tindakan kekerasan karena sayuran dan pohon memiliki kehidupan di dalamnya. Tidak diragukan, sayuran dan pohon memiliki kehidupan, namun keduanya tidak memiliki pikiran. Akibatnya, mereka tidak merasakan rasa sakit. Apapun yang memiliki pikiran mengalami rasa sakit dan kesenangan. Manusia, binatang, burung, dan serangga diberkati dengan pikiran dan bukan pohon dan sayuran.  (Divine Discourse, Aug 22, 2000)

-BABA

Sunday, June 18, 2017

Thought for the Day - 17th June 2017 (Saturday)

The world is one vast society. Every individual in it is part of this society, bound to it by the love that draws an individual to another, to be kith and kin. This love is there, deep in the heart of every individual. Only, it is unrecognised, ignored, doubted, denied, and argued away. It is the secret source of all empathy and service; it creates the urge to live in and for society. It is Universal Love (Vishwa-Prema) that flows from one spark of the Divine to all sparks. When the eyes shine illumined by the highest wisdom, Jnana, they see all as One. Then the individual realises - Sarvam Brahmamayam Jagath (All is pervaded by Divinity in this apparently changing and transforming world). To experience this One revealed as present in all, at all times, you must develop faith and discipline your mind. Your mind must shed its fancies and foibles; then you will know and experience the Truth.


Dunia adalah satu masyarakat yang luas. Setiap individu yang ada di dalamnya adalah bagian dari masyarakat, terikat padanya dengan kasih yang menarik seorang individu dengan yang lainnya, menjadi sanak keluarga. Cinta kasih ini ada di kedalaman hati dari setiap individu. Hanya saja, kasih ini belum disadari, diabaikan, diragukan, disangkal, dan dibantah. Kasih ini adalah sumber rahasia dari semua empati dan pelayanan; kasih ini juga menciptakan dorongan untuk hidup dalam dan untuk masyarakat. Kasih ini adalah kasih yang bersifat universal (Vishwa-Prema) yang mengalir dari satu percikan cahaya illahi kepada semua percikan yang lainnya. Ketika mata diterangi oleh cahaya kebijaksanaan yang tertinggi (jnana), maka mereka akan melihat semuanya sebagai Brahmamayam Jagahth (semua diresapi oleh keillahian dalam dunia yang rupanya berubah dan berganti). Untuk dapat mengalami yang Esa menampakkan dalam semuanya maka sepanjang waktu engkau harus mengembangkan keyakinan dan disiplin di dalam pikiranmu. Pikiranmu harus melepaskan khayalan dan kelemahannya; kemudian engkau akan mengetahui dan mengalami kebenaran. (Divine Discourse, Feb 4, 1973)

-BABA

Friday, June 16, 2017

Thought for the Day - 16th June 2017 (Friday)

At times you may feel weak because you yield to anger and sorrow much more easily than others. I ask you to take extra pains to overcome these two. Repetition of the Lord’s Name is the best antidote for this, and if only all of you would take it up, the Lord would rush to your rescue. Never hate or feel envy towards anyone. Pardon the other person’s faults but deal harshly with your own! The Lord’s Name will instill the faith that everything is God’s Will and teach that you have no right to exult or despair. When you go to a doctor, you must take the prescribed medicine and follow the advice and instructions. There is no use blaming the doctor if you default. How can the doctor cure you if you do not take the medicine or stick to the dietary regulations? Do as I say, follow My advice, and then observe the result.


Kadang-kadang engkau merasa lemah karena engkau menyerah kepada kemarahan dan penderitaan jauh lebih gampang daripada yang lainnya. Aku memintamu untuk mengambil usaha lebih banyak untuk bisa mengatasi kedua hal ini. Namasmaranam adalah penangkal racun yang terbaik untuk hal ini, dan jika hanya semua darimu mau melakukannya maka Tuhan akan dengan segera datang untuk menyelamatkanmu. Jangan pernah benci atau merasa iri hati kepada siapapun juga. Maafkanlah kesalahan yang lainnya namun perbaiki kesalahanmu dengan keras! Nama Tuhan akan menanamkan keyakinan bahwa segala sesuatunya adalah kehendak Tuhan dan mengajarkan bahwa engkau tidak memiliki hak untuk bersuka ria atau putus asa. Ketika engkau pergi ke dokter, engkau harus menebus obat dari resep dokter dan mengikuti nasihat dan perintahnya. Tidak ada gunanya untuk menyalahkan dokter jika engkau gagal. Bagaimana dokter bisa menyembuhkanmu jika engkau tidak minum obatnya atau ikut dalam diet yang telah diatur? Lakukan apa yang Aku katakan, ikuti nasihat-Ku dan kemudian perhatikan hasilnya. (Divine Discourse, Aug 2, 1958)

-BABA

Thursday, June 15, 2017

Thought for the Day - 15th June 2017 (Thursday)

The greatest disease is the absence of peace. So everyone who craves for good health must pay attention to the emotions, feelings and motives that animate you. Just as you give clothes for a wash, you have to wash the mind free from dirt again and again; otherwise the dirt accumulates to form a habit, then it is difficult for the washerman as well as harmful to the clothes. Cleaning should be a daily process; you should see that no dirt settles upon the mind. That requires you to move about in such company where falsehood, injustice, indiscipline, cruelty and hate, which form the dirt are avoided. Truth, righteousness, peace, nonviolence and love — these form the clean elements. If you inhale the pure air of these latter, your mind will be free from evil bacilli and you will be mentally sturdy and physically strong.


Penyakit yang paling buruk adalah tidak adanya kedamaian. Jadi setiap orang yang mencari kesehatan yang baik harus memberikan perhatian pada emosi, perasaan, dan niat yang menjiwaimu. Seperti halnya engkau memberikan pakaian untuk dicuci, engkau juga harus mencuci pikiran berulang kali agar bebas dari kotoran; kalau tidak kotoran tersebut akan terkumpul dan membentuk kebiasaan, kemudian menjadi sulit bagi tukang cuci-mencucinya dan juga dapat merusak pakaian. Membersihkan seharusnya menjadi proses harian; engkau harus melihat bahwa tidak ada kotoran yang menempel dalam pikiran. Hal ini mengharuskanmu untuk meninggalkan serta menghindari pergaulan yang diliputi kebohongan, ketidakadilan, ketidakdisiplinan, kejam, dan kebencian yang mana membentuk kotoran. Kebenaran, kebajikan, kedamaian, tanpa kekerasan, dan cinta kasih – semuanya ini membentuk unsur-unsur yang bersih. Jika engkau menghirup udara yang bersih dari unsur-unsur ini, maka pikiranmu akan bebas dari basil yang jahat dan mental serta fisikmu juga akan kuat. (Divine Discourse, Sep 21, 1960)

-BABA

Wednesday, June 14, 2017

Thought for the Day - 14th June 2017 (Wednesday)

Treat others the same way as you would like them to treat you. Never brood over the past. When grief overpowers you, do not recollect similar incidents from your past and add to your grief; instead, recollect happy incidents! Draw consolation and strength from such memories and raise yourself above the surging waters of sorrow. Seek the light always; be full of confidence and zest. Do not yield to despair, for it can never produce results. It only worsens the problem, for it darkens the intellect and plunges you in doubt. Take up the path of spiritual practice very enthusiastically. Half-hearted, halting steps will not yield fruit. It is like cleaning a slushy area by a stream of water. If the current of the stream is slow, the slush cannot be cleared. The stream must flow full and fast, driving everything before it, so that the slush might be scoured clean.


Perlakukan orang lain sama halnya seperti engkau ingin mereka memperlakukan dirimu. Jangan pernah memikirkan hal-hal yang sudah berlalu. Ketika duka cita menyergapmu, jangan mengingat kejadian yang sama di masa lalumu dan menambahkan kesedihan; sebaliknya, ingatlah kejadian yang menyenangkan! Datangkan hiburan dan kekuatan dari ingatan-ingatan itu dan angkatlah dirimu untuk ada di atas gelombang air penderitaan. Selalu cari cahaya; jadilah penuh dengan kepercayaan dan semangat. Jangan menyerah pada keputusasaan, karena putus asa tidak akan pernah dapat menghasilkan. Rasa putus asa hanya memperburuk masalah karena rasa putus asa menggelapkan kecerdasan dan menenggelamkanmu dalam keraguan. Ambillah jalan spiritual dengan penuh semangat. Setengah hati, langkah yang terhenti-henti tidak akan memberikan hasil. Hal ini seperti membersihkan lumpur bersalju dengan aliran air. Jika aliran airnya pelan maka lumpur bersalju itu tidak akan bisa dibersihkan. Aliran airnya harus penuh dan cepat, membersihkan apapun yang ada di depannya, sehingga lumpur salju itu dapat dibersihkan. (Divine Discourse Aug 2, 1958)

-BABA

Tuesday, June 13, 2017

Thought for the Day - 13th June 2017 (Tuesday)

Remember to keep the sword of love in the sheath of wisdom and control your senses rigorously by discrimination and detachment. Discrimination guides you to choose your pursuits and friends wisely. It clarifies to you the relative importance of objects and ideals. Detachment saves you from troubles due to attachment and injects a sense of relief, at times of elation or despair. Detachment and discrimination hold before you the impermanence of the world and permanence of the bliss of Reality. The grace of the Lord is always flowing like how the electric current flows through the wire. Fix a bulb, and your home will be illumined. The bulb is the spiritual exercise you perform; home is your heart. Come to Me gladly; dive into the sea and discover its depth; there is no use dipping near the shore and swearing that the sea is shallow and has no pearls. Dive deep and you will secure your desire.


Ingatlah untuk menyimpan pedang cinta kasih dalam selubung kebijaksanaan dan kendalikan indriamu secara ketat dengan diskriminasi dan tanpa keterikatan. Diskriminasi (kemampuan membedakan) menuntunmu untuk memilih pencarian dan sahabatmu dengan bijak. Diskriminasi juga menjelaskan kepadamu kepentingan relatif dari objek-objek dan keinginan. Tanpa keterikatan menyelamatkanmu dari masalah yang disebabkan karena keterikatan dan menyuntikkan rasa lega pada saat gembira atau putus asa. Tanpa keterikatan dan diskriminasi memperlihatkan dihadapanmu ketidakkekalan dunia dan kekekalan dari kebahagiaan akan kenyataan yang sejati. Karunia Tuhan selalu mengalir seperti halnya bagaimana arus listrik mengalir melalui kabel. Pasanglah lampunya dan rumahmu akan diterangi. Lampu itu adalah latihan spiritual yang engkau jalankan; rumah adalah hatimu. Datanglah kepada-Ku dengan senang; menyelamlah ke dalam lautan dan temukan kedalamannya; tidak ada gunanya menyelam dekat pesisir pantai dan mengatakan bahwa laut itu adalah dangkal dan tidak memiliki mutiara. Menyelamlah ke dalam dan engkau akan mendapatkan keinginanmu. (Divine Discourse, Jul 22, 1958)

-BABA

Monday, June 12, 2017

Thought for the Day - 12th June 2017 (Monday)

Today, physical comfort, individual advancement and personal progress are held as desirable goals. Though everyone cares about themselves only, nobody can live in isolation. Suppose one is sitting at a dinner table with sumptuous food served. If he learns at that time that his child is injured in a road-accident, won’t he rush to the road, without caring for hunger and delicious food? The call of loved ones is louder and stronger than any call from within. Despite this fact, people continue to believe in their ego, in exclusive individuality. The family is essential for the blossoming of human personality. For homes to flourish, a community is needed to keep it safe and happy. When the activities of safeguarding or sustaining society is rendered weak, families tend to disintegrate and individuals suffer! So you must share your knowledge, empathy, and love with one and all.


Pada hari ini, kenyamanan fisik, kemajuan individual, dan perkembangan diri dianggap sebagai tujuan yang diinginkan. Walaupun setiap orang hanya peduli dengan dirinya sendiri, tidak ada seorangpun yang dapat hidup dalam pengasingan. Seandainya seseorang sedang duduk di meja makan dengan makanan mewah yang disajikan, namun jika pada saat itu ia mendapatkan berita bahwa anaknya mendapatkan kecelakaan di jalan raya, bukankah ia akan segera bergegas menuju ke jalan dan tanpa peduli lagi dengan rasa lapar dan makanan enak? Panggilan dari yang disayangi adalah lebih kuat dan keras daripada panggilan yang dari dalam diri. Meskipun dengan kenyataan ini, orang-orang tetap percaya pada ego mereka, yaitu individu yang bersifat ekslusif. Keluarga adalah mendasar untuk mekarnya kepribadian manusia. Rumah sebagai tempat untuk tumbuh dengan subur maka sebuah masyarakat diperlukan untuk tetap menjaganya aman dan senang. Ketika tindakan dalam usaha melindungi atau menopang masyarakat menjadi lemah maka keluarga cenderung menjadi hancur dan penderitaan dalam individu! Jadi engkau harus membagi pengetahuan, empati, dan cinta kasihmu dengan semuanya. (Divine Discourse, Feb 4, 1973)

-BABA

Sunday, June 11, 2017

Thought for the Day - 11th June 2017 (Sunday)

Silence is the only language of the realised. Practice moderation in speech. That will help you in many ways. It will develop unconditional love (prema), for most misunderstandings and factions arise out of carelessly spoken words. When the foot slips, the wound can be healed, but when the tongue slips, the wound it causes in the heart of another will fester for life. The tongue is liable to four big errors: uttering falsehood, scandalising, finding fault with others, and excessive articulation. These have to be avoided if there has to be peace (shanti) for the individual as well as for society. The bond of universal brotherhood will be tightened if people speak less and speak sweet. Hence, silence was prescribed as a vow for spiritual aspirants by the spiritual texts. You are all spiritual aspirants at various stages of the road, so this discipline is valuable for you also.


Hening adalah hanya satu-satunya bahasa bagi mereka yang tercerahkan. Jalankan sikap tidak berlebihan dalam berbicara. Hal ini akan membantu dalam banyak hal. Hal ini juga akan mengembangkan kasih yang tanpa syarat (prema) karena kebanyakan kesalahpahaman dan perselihan dalam kelompok muncul dari perkataan yang ceroboh. Ketika kaki terpeleset maka lukanya dapat disembuhkan, namun ketika lidah terpeleset maka luka yang ditimbulkan di dalam hati yang lainnya akan membusuk dalam kehidupan. Lidah memungkinkan untuk melakukan empat kesalahan besar, yaitu : mengucapakan kebohongan, skandal, mencari kesalahan pada diri orang lain dan terlalu banyak bicara. Keempat hal ini harus dihindarkan jika kita mengharapkan adanya kedamaian (shanti) dalam level individu dan juga masyarakat. Ikatan persaudaraan yang bersifat universal akan dikuatkan jika manusia sedikit bicara dan berbicara dengan lembut. Oleh karena itu, keheningan dijelaskan sebagai janji bagi peminat spiritual oleh wejangan spiritual. Engkau semuanya adalah peminat spiritual dalam berbagai tingkatan jalan, jadi disiplin ini juga penting bagimu. (Divine Discourse, Jul 22, 1958)

-BABA

Saturday, June 10, 2017

Thought for the Day - 10th June 2017 (Saturday)

Recognising the supremacy of action, you must see that everything you do is pure and holy. Action is not limited to what you do with your hands. What you hear, what you see, what you speak and even what you think — all of these constitute action. This means that the things you see, the words you hear, the thoughts you think and the words you speak must all be pure. All that you take in through your five senses should be wholesome and pure! Only then can you have a ‘satvic’ (pure) nature. Devotion should not be confined to bhajans or exhibiting a yearning for Swami. You are the architect of your own destiny. Fill every one of your actions with devotion, suffuse them with righteousness and dedicate them to the Divine. If you follow this, your life will become sanctified and you may not have a rebirth at all. This is My benediction to all of you.


Mengenali keunggulan dari tindakan, engkau harus melihat bahwa segala sesuatu yang engkau lakukan adalah suci dan murni. Perbuatan tidak dibatasi hanya pada apa yang dilakukan oleh tanganmu saja. Apa yang engkau dengar, apa yang engkau lihat, apa yang engkau katakan dan bahkan apa yang engkau pikirkan – semuanya ini mendasari perbuatan. Hal ini berarti bahwa hal-hal yang engkau lihat, kata-kata yang engkau dengarkan, ide atau gagasan yang engkau pikirkan, dan perkataan yang engkau ucapkan semuanya harus suci. Semua yang engkau serap melalui lima indriamu seharusnya bermanfaat dan suci! Hanya dengan demikian maka engkau bisa memiliki sifat alami yang satvik atau murni. Bhakti seharusnya tidak hanya dibatasi pada bhajan saja atau mengungkapkan kerinduan pada Swami. Engkau adalah arsitek pada nasibmu sendiri. Isilah setiap tindakanmu dengan bhakti, liputi setiap perbuatanmu dengan kebajikan dan persembahkan semuanya kepada Tuhan. Jika engkau mengikuti ini maka hidupmu akan menjadi suci dan engkau mungkin sama sekali tidak perlu lahir kembali. Ini adalah doa-Ku untukmu semuanya. (Divine Discourse, Feb 21, 1988)

-BABA

Friday, June 9, 2017

Thought for the Day - 9th June 2017 (Friday)

A true human being is one who faces life’s difficulties with fortitude and overcomes them. For this, what is required is strength of the Spirit. Without spiritual strength, all other things are valueless. Whatever spiritual discipline you may practise or not, cultivate love for all. Offer that love as a divine offering to all. Only through love can world unity be promoted. It is because of the absence of love that all kinds of differences arise. Love is God. Live in Love. Make this the ruling principle of your life. Embodiments of Divine Love! Remember always that God permeates everything in the cosmos. Everything you experience is Divine. Everything you see is Divine. What you eat is Divine. The air you breathe is Divine. You cannot see the air, nor can you grasp it. Likewise you cannot grasp God. The eyes cannot see Him. He can only be experienced in the heart. He is beyond the mind.


Seorang manusia yang sejati adalah seseorang yang menghadapi kesulitan hidup dengan ketabahan dan mengatasi segala kesulitan itu. Untuk hal ini, apa yang diperlukan adalah kekuatan dari jiwa (spirit). Tanpa adanya kekuatan spiritual, semua benda yang lainnya adalah tidak ada nilainya. Apapun jenis latihan spiritual yang mungkin engkau jalankan atau tidak maka tingkatkan kasih bagi semuanya. Persembahkan kasih kepada semuanya seperti persembahan kepada Tuhan bagi semuanya. Hanya dengan melalui cinta kasih maka persatuan dunia dapat ditingkatkan. Hanya karena tidak adanya cinta kasih maka semua bentuk perbedaan mulai muncul. Kasih adalah Tuhan. Hiduplah dalam kasih. Buatlah prinsip ini menjadi aturan dalam hidupmu. Perwujudan kasih illahi! Ingatlah selalu bahwa Tuhan meresapi semuanya yang ada di alam semesta ini. Segala sesuatu yang engkau alami adalah illahi. Segala sesuatu yang engkau lihat adalah illahi. Apa yang engkau makan adalah illahi. Udara yang engkau hirup adalah illahi. Engkau tidak bisa melihat udara dan juga memegangnya. Sama halnya engkau tidak bisa memahami Tuhan. Mata tidak bisa melihat-Nya. Tuhan hanya bisa dialami di dalam hati. Tuhan adalah melampaui pikiran. (Divine Discourse, Mar 24, 1989)

-BABA

Thursday, June 8, 2017

Thought for the Day - 8th June 2017 (Thursday)

The Divine is totally free from self-interest; whatever He does is utterly blameless and is solely for the welfare of the world. There is nothing beyond His powers. He is the creator, the protector and the destroyer. When God chooses to protect, no one asks why He protects. On the other hand, when God does not protect, people question His inaction and when the Lord punishes, people ask, “Why does God inflict punishment?” Indeed, such questions are motivated by selfishness and self-interest. Every Divine action is just and righteous. Your duty is to pray to God and secure His Grace. When Sakkubai wanted to join the pilgrims going to Pandharpur, Lord Krishna decided to show to the world her good reputation, and duty-consciousness towards her husband and in-laws. So Krishna assumed her form and subjected Himself to all kinds of harassments from her mother-in-law, while the real Sakkubai was blissfully away in Pandharpur. The Lord is ever ready to subject Himself to any hardship to uphold Dharma and shower Grace on His devotees.


Tuhan adalah sepenuhnya bebas dari kepentingan diri; apapun yang Tuhan lakukan sepenuhnya suci dan semata-mata untuk kesejahteraan dunia. Tidak ada apapun yang melampaui kekuatan-Nya. Tuhan adalah sang pencipta, pelindung, dan juga pelebur. Ketika Tuhan memilih untuk melindungi, maka tidak ada yang menanyakan mengapa Beliau memberikan perlindungan. Sebaliknya, ketika Tuhan tidak memberikan perlindungan, manusia menanyakan mengapa Tuhan diam dan ketika Tuhan memberikan hukuman, manusia bertanya, “Mengapa Tuhan memberikan hukuman?” sejatinya pertanyaan yang seperti itu didorong oleh sifat mementingkan diri sendiri dan kepentingan diri. Setiap perbuatan serta tindakan Tuhan adalah tepat dan benar. Kewajibanmu adalah berdoa kepada Tuhan dan mendapatkan karunia-Nya. Ketika Sakkubai ingin bergabung dalam perjalanan suci ke Pandharpur, Sri Krishna memutuskan untuk memperlihatkan kepada dunia reputasi baik yang dimilikinya dan kesadaran akan tugasnya kepada suami dan mertuanya. Jadi Sri Krishna berpura-pura mengambil wujud Sakkubai dan mengijinkan diri-Nya sendiri untuk menerima semua bentuk gangguan dari mertua Sakkubai, sedangkan Sakkubai yang asli sedang dalam keadaan bahagia berada di Pandharpur. Tuhan selalu siap untuk membuat diri-Nya sendiri menerima segala bentuk kesulitan untuk menegakkan Dharma dan melimpahkan karunia kepada bhakta-Nya. (Divine Discourse, Feb 21, 1988)

-BABA

Wednesday, June 7, 2017

Thought for the Day - 7th June 2017 (Wednesday)

Today cynicism and apathy are rampant and people are caught up in meaningless worries, endless desires and unattainable ambitions, and have no peace of mind. People have forgotten their divine essence. Spiritual illumination alone can reveal the right path to everyone who is groping in the darkness of ignorance and peaceless-ness. Divinity is inherent in humanity. Humanity must discover its basic human qualities. What is humanness? Essentially it means unity in thought, word and deed. True human qualities can grow only in a loving heart, just like a seed can grow in fertile soil and not on a piece of rock. Hence all of you must develop compassion and equanimity. Divinity is all pervading and is present within and outside every being. Every one of you is an embodiment of the Divine. Like God you are also embodiments of Love. Expand your love by sharing it with all without narrow-mindedness and make your life purposeful and worthy!


Hari ini sinisme dan apati merajalela dan manusia terperangkap dalam kecemasan yang tidak ada gunanya, keinginan yang tanpa akhir dan ambisi yang tidak dapat tercapai, serta tidak memiliki kedamaian pikiran. Manusia telah melupakan intisari kualitas keillahian mereka. Hanya penerangan spiritual yang dapat membukakan jalan yang benar kepada setiap orang yang sedang meraba-raba dalam kegelapan dari kebodohan dan tanpa adanya kedamaian. Keillahian merupakan menjadi sifat dari manusia. Umat manusia harus menemukan sifat dasar dari kemanusiaan itu. Apa itu nilai-nilai kemanusiaan? Pada dasarnya ini berarti kesatuan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Kualitas manusia yang sejati dapat tumbuh hanya dalam hati yang penuh welas asih, seperti halnya sebuah benih dapat tumbuh dalam tanah yang subur dan bukan pada bongkahan batu. Oleh karena itu semua darimu harus mengembangkan kualitas welas asih dan ketenangan hati. Keillahian adalah meliputi semuanya dan bersemayam di dalam diri dan juga di luar diri setiap makhluk hidup. Setiap orang darimu adalah perwujudan dari keillahian. Seperti halnya Tuhan maka engkau juga adalah perwujudan cinta kasih. Perluas kasihmu dengan membaginya kepada semuanya tanpa pikiran yang sempit dan buatlah hidupmu berguna dan berfaedah. (Divine Discourse Mar 24, 1989)

-BABA

Thought for the Day - 6th June 2017 (Tuesday)

Born in society, brought up in society, educated by society and deriving countless benefits from society, what are you doing for society? Social service should be regarded as an expression of gratitude to society for what it has done for us. Without society we cannot survive. The God-given body should be employed for practising Dharma (prescribed duties). Women should treat even their daily chores as a form of concentrated work. If they are unable to attend a Satsang (spiritual gathering) on account of household duties, they should not feel miserable. Discharge of duties at home is as sacred as attending a satsang. Only if you do your duties at home properly will you be able to render proper service outside. In whatever work you do at home, whether sweeping the floor or making chapatis, convert it into a form of spiritual exercise. Infuse every action with love of the Divine and dedicate it to God.


Lahir dalam masyarakat dan besar dalam masyarakat, mendapatkan pendidikan dari masyarakat dan memperoleh keuntungan yang tidak terhingga dari masyarakat, lantas apa yang engkau lakukan untuk masyarakat? Pelayanan sosial seharusnya dipersembahkan sebagai rasa terima kasih kepada masyarakat terhadap apa yang telah diberikan kepada kita. Tanpa masyarakat maka kita tidak bisa bertahan. Tuhan memberikan tubuh seharusnya digunakan untuk menjalankan Dharma (dijelaskan sebagai kewajiban). Wanita seharusnya memperlakukan bahkan kegiatannya sehari-hari sebagai bentuk dari kerja yang terpusat. Jika mereka tidak mampu untuk hadir dalam Satsang (perkumpulan spiritual) karena kewajiban di rumah, mereka seharusnya tidak merasa sedih. Melaksanakan kewajiban di rumah adalah sama sucinya dengan menghadiri satsang. Hanya jika engkau melaksanakan kewajibanmu di rumah dengan baik maka engkau akan mampu melakukan pelayanan di luar. Apapun pekerjaan yang engkau lakukan di rumah, apakah itu menyapu lantai atau membuat makanan chapati, maka ubahlah semua kegiatan itu dalam bentuk latihan spiritual. Masukkan ke dalam setiap perbuatan dengan kasih Tuhan dan persembahkan kepada Tuhan. (Divine Discourse, Mar 23, 1989)

-BABA

Thought for the Day - 5th June 2017 (Monday)

Develop the quality of forgiveness (Kshama) and refrain from harshness in speech. You must realise that if you give up forbearance and forgiveness, you will have no peace. Whatever anyone may do to you, do not bother about it. What is it you lose on account of their ill behavior? If you resort to retaliation, you will only worsen your condition! You have no idea either of your strength or weakness. Face such situations bravely and do not allow yourself to be agitated over them. You must win over the other by your forbearance. Make forbearance your life-breath and your ideal. You all have the sweet essence of kindness, peace and compassion in you abundantly. With God’s grace, you are free from grief and bad qualities – Do not let them in! Foster the spirit of kindness and love. Treat life as a game and emerge victorious by leading an ideal-filled life. This is the victory you must achieve!


Kembangkan kualitas memaafkan (Kshama) dan menahan diri dari perkataan yang kasar. Engkau harus menyadari bahwa jika engkau melepaskan kualitas kesabaran dan memaafkan, engkau tidak akan memiliki kedamaian. Apapun yang orang lain bisa lakukan pada dirimu maka jangan pedulikan hal itu. Apa yang akan hilang dari dirimu karena perilaku buruk mereka? Jika engkau melakukan pembalasan maka engkau hanya akan memperburuk keadaan! Engkau tidak mengetahui apakah itu adalah kekuatan atau kelemahanmu. Hadapilah situasi yang seperti itu dengan berani dan jangan berikan dirimu menjadi gelisah terhadap hal itu. Engkau harus menang atas yang lain dengan kesabaranmu. Jadikanlah kesabaran sebagai nafas hidupmu dan idealmu. Engkau semua memiliki intisari kebaikan, kedamaian, dan welas asih yang indah di dalam dirimu secara berlimpah. Dengan rahmat Tuhan, engkau bebas dari duka cita dan kualitas yang buruk – jangan biarkan kedua sifat itu memasuki dirimu! Kembangkan semangat kebaikan dan cinta kasih. Perlakukan hidup sebagai sebuah permainan dan raihlah kemenangan dengan menjalani hidup yang ideal. Ini adalah kemenangan yang harus engkau capai! (Divine Discourse Jan 14, 1997)

-BABA

Thought for the Day - 4th June 2017 (Sunday)

When you call yourself a member of Sri Sathya Sai Seva Dal, you must always serve remembering that you are serving the Lord. Remember in what spirit Hanuman served Sri Rama. You should not imagine that because he was a monkey he lacked intelligence or other qualities. He has been described as ‘tranquil, virtuous and strong.’ When questioned by the demons in Ashokavana in Lanka as to who he was and where he had come from, Lord Hanuman replied, “I am the servant of Rama”. He did not boast about his valour or knowledge but was content to describe himself as a humble and devoted servant of the Lord. Bear in mind the maxim, “Without being a kinkara (one who is ready to carry out the Lord's command) you cannot become Sankara (The Divine).” Transform your life through service, without giving any room for arrogance or self-interest. Firmly install in your heart the feeling that wherever and whenever you serve, you serve the Lord alone. Only then, serving fellow-beings becomes equal to serving God!


Ketika engkau menyebut dirimu sendiri sebagai anggota dari Sri Sathya Sai Seva Dal, engkau harus selalu mengingat bahwa engkau sedang melayani Tuhan. Ingatlah bagaimana semangat dari Hanuman melayani Sri Rama. Engkau seharusnya tidak membayangkan bahwa Hanuman adalah seekor kera yang kurang memiliki kecerdasan atau kualitas yang lainnya. Hanuman telah dijelaskan sebagai ‘yang tenang, berbudi luhur dan kuat.’ Ketika Hanuman ditanyakan oleh para raksasa di Ashokavana di Lanka terkait siapa dirinya dan darimana ia berasal, Hanuman menjawab, “Aku adalah pelayan dari Sri Rama”. Hanuman tidak membanggakan keberanian atau pengetahuannya namun dengan penuh rasa syukur menyebut dirinya sendiri sebagai bhakta yang rendah hati dan pelayan yang berbhakti pada Sri Rama. Tetap ingat dalam pikiran peribahasa, “Tanpa pernah menjadi seorang kinkara (seseorang yang siap untuk menjalankan perintah Tuhan) engkau tidak bisa menjadi Sankara (illahi).” Ubahlah hidupmu melalui pelayanan, tanpa memberikan ruang sedikitpun pada arogansi atau kepentingan diri sendiri. Dengan mantap tanamkan di dalam hatimu perasaan bahwa dimanapun dan kapanpun engkau melayani, engkau hanyalah melayani Tuhan. Hanya dengan demikian, melayani sesama menjadi sama dengan melayani Tuhan! (Divine Discourse, Mar 23, 1989)

-BABA

Saturday, June 3, 2017

Thought for the Day - 3rd June 2017 (Saturday)

Education must assume full responsibility and impact students’ moral and spiritual life. Imparting technical skills and worldly information alone is not enough; moral and spiritual education must supplement them. People pay huge attention today only to their own selfish interests. This must change. Your attitude must be not what you can get from others, but what you can give to others – make that your focus! The idea that a posh bungalow with expensive furniture, exquisite dining table or a heavy pay package from abroad is the ideal to be worked for should be given up. This ideal breeds evil. Inspire youth to set as their ideal - hands dedicated to hard work, heads dedicated to service and hearts dedicated to compassion. Your goal must be that no one should suffer harm or pain through your words or deeds. For when another is hurt by us, what really happens is insult and injury to our own true human nature.


Pendidikan harus mengambil tanggung jawab penuh dan memberikan pengaruh yang kuat dalam kehidupan moral dan spiritual murid. Hanya menyampaikan keahlian bersifat teknis dan informasi duniawi tidaklah cukup; moral dan pendidikan spiritual harus ditambahkan pada mereka. Manusia memberikan perhatian yang sangat besar hari ini pada kepentingan mereka sendiri. Hal ini harus dirubah. Sikapmu seharusnya tidaklah seperti apa yang bisa engkau dapatkan dari orang lain, namun apa yang dapat engkau berikan pada orang lain – buatlah itu yang menjadi fokusmu! Ide tentang bungalo (rumah peristirahatan di luar kota) yang mewah dengan perabotan yang mahal, meja makan yang sangat indah atau paket pembayaran yang berat dari luar negeri adalah ideal yang harus dihilangkan. Ideal ini mengembangkan kejahatan. Berikan inspirasi untuk para pemuda untuk menentukan ideal mereka – dimana tangan didedikasikan untuk bekerja keras, kepala didedikasikan untuk melayani dan hati didedikasikan untuk mengasihi. Tujuanmu seharusnya bahwa tidak ada seorangpun yang menderita atau sakit hati karena perkataan dan perbuatanmu. Karena ketika yang lain disakiti oleh kita, apa yang sebenarnya yang terjadi adalah menghina dan melukai sifat kemanusiaanmu yang sejati. (Divine Discourse, Mar 8, 1981)

-BABA

Friday, June 2, 2017

Thought for the Day - 2nd June 2017 (Friday)


The present day education has only a means of livelihood as its aim. It is job-oriented, not truth-oriented, not God-oriented. Life must be lived in love, peace and bliss. Therefore, even while in schools and colleges, boys and girls must know about the ever peaceful, ever blissful, ever loving Eternal Soul (Atma). The body, the senses, the mind, the reason and intellect are all unreal in the sense of temporary existence. Raising the standard of living is not as important as raising the level of consciousness. Education today highlights accumulation of things. Indeed, giving up is equally essential. Renunciation is not a loss; it is highly profitable, because you acquire joy thereby. Renunciation means freedom; it is surrender to God, love and freedom. God can be realised only through the expansion of Love. Students and youth must lead lives anchored in righteousness and wisdom, and be shining examples of simplicity, humility and mutual service.
Pendidikan saat sekarang hanya menjadi sarana untuk mencari nafkah sebagai tujuannya. Ini adalah berorientasi pada pekerjaan dan bukan berorientasi pada kebenaran dan Tuhan. Hidup harus hidup dalam kasih, kedamaian dan kebahagiaan. Maka dari itu, bahkan ketika masih di sekolah atau kampus, para pelajar baik putra dan putri harus mengetahui jiwa yang kekal (atma) yang selalu penuh kedamaian, penuh kebahagiaan dan penuh kasih. Tubuh, indria, pikiran, akal budi, dan kecerdasan semuanya adalah tidak nyata dalam arti keberadaan yang sementara. Meningkatkan standar hidup adalah tidak sepenting dalam meningkatkan tingkat kesadaran. Pendidikan saat sekarang hanya menyoroti akumulasi dari benda-benda duniawi. Sejatinya, ketidakterikatan pada benda-benda duniawi adalah sama-sama mendasar. Tanpa keterikatan adalah bukan kehilangan; ini adalah benar-benar menguntungkan, karena engkau akan mendapatkan suka cita. Tanpa keterikatan berarti kebebasan; ini adalah berserah diri kepada Tuhan, cinta kasih, dan kebebasan. Tuhan dapat disadari hanya melalui perluasan cinta kasih. Para pelajar dan pemuda harus menjalani hidup yang berlabuh pada kebajikan dan kebijaksanaan, dan menjadi contoh yang bersinar dalam kesederhanaan, kerendahan hati, dan saling melayani. (Divine Discourse, Feb 8 1987)

-BABA