Sunday, April 29, 2018

Thought for the Day - 29th April 2018 (Sunday)

At first look, everyone appears to be a devotee, but individuals respond differently to different circumstances. If you keep a ball of iron and dry leaf side by side, when there is no wind both of them will be firm and steady. But when a breeze blows the dry leaf will be carried away for miles together. The iron ball will remain firm and steady. If one has true love and firm faith in God, one will be like an iron ball, steady and undisturbed. If one is like a leaf, running away on account of difficulties and problems, how can you claim to be a true devotee? Develop pure and steady love and faith. Light has value only when there is darkness; otherwise it has no value by itself. Therefore, in times of trouble and sorrow, whenever problems arise, evoke the principle of Divinity, which will shed illumination and light in moments of darkness!


Pada pandangan pertama, setiap orang kelihatan sebagai seorang bhakta, namun secara individu memberikan respon secara berbeda pada keadaan yang berbeda. Jika engkau memegang sebuah bola besi dan daun kering secara bersamaan, saat tidak ada angin maka keduanya akan tetap stabil dan seimbang. Namun saat ada angin sepoi-sepoi, daun kering akan terbang beberapa jauh jaraknya. Bagaimanapun juga bola besi akan tetap stabil. Jika seseorang memiliki kasih yang sejati dan keyakinan yang mantap pada Tuhan, maka seseorang akan seperti bola besi yang stabil dan tidak tergoyahkan. Sebaliknya, jika seseorang adalah seperti selembar daun, melarikan diri karena berbagai kesulitan dan masalah yang ada, bagaimana seseorang dapat menyatakan diri sebagai seorang bhakta yang sejati? Kembangkan kasih yang suci dan teguh serta keyakinan. Cahaya hanya memiliki nilai saat di kegelapan; jika tidak maka cahaya tidak memiliki nilai dengan sendirinya. Maka dari itu, dalam saat-saat masalah dan penderitaan, kapanpun masalah itu muncul, bangkitkan prinsip keilahian. Tuhan akan memberikan penerangan dan cahaya pada saat-saat kegelapan! [Divine Discourse, 17 Feb, 1985]

-BABA

Saturday, April 28, 2018

Thought for the Day - 28th April 2018 (Saturday)

Temples are centres of discipline, where aspirants are guided step by step to attain a vision of truth. They are schools for training of the spirit, academies for promotion of scriptural studies, institutes of super-science, and laboratories for testing the values of life. They are hospitals for the treatment and cure not only of the ‘birth-death disease’, which has persisted for ages, but even the much more patent ‘mental disorders’ that trouble those who do not know the secret of acquiring peace. Temples are gymnasia where people are reconditioned and their hesitant faith, waning conviction, and the upsurging egotism is cured. The purpose of temple is to awaken the Divinity in humanity (Madhavatwa in manavatwa), inducing people to believe that the physical frames in which they live are themselves houses of God.

Tempat suci adalah pusat disiplin, dimana para peminat spiritual dituntun langkah demi langkah untuk mencapai sebuah pandangan akan kebenaran. Tempat suci adalah sekolah untuk latihan bagi jiwa, akademi untuk memperoleh kemajuan dalam pembelajaran naskah suci, institut dari super sains, dan laboratorium untuk menguji nilai kehidupan. Tempat suci adalah rumah sakit untuk perawatan dan penyembuhan tidak hanya untuk penyakit ‘kelahiran-kematian’ yang telah berlangsung selama berbagai zaman, namun juga untuk hal yang lebih jelas yaitu ‘gangguan batin’ yang mengganggu mereka yang tidak mengetahui rahasia dalam mendapatkan kedamaian. Tempat suci adalah gedung olahraga dimana orang-orang diperbaharui dan keyakinan mereka yang masih bimbang dan semakin menyusut, serta ego yang semakin meningkat disembuhkan. Tujuan dari tempat suci adalah untuk membangkitkan keilahian dalam diri manusia (Madhavatwa dalam manavatwa), mempengaruhi manusia untuk percaya bahwa kerangka fisik dimana mereka tinggal adalah rumah Tuhan. [Dharma Vahini, Ch 10]

-BABA

Friday, April 27, 2018

Thought for the Day - 27th April 2018 (Friday)

Death is imagined by some as a terror-striking God riding a monster-buffalo, pouncing on you with a noose. No! The noose is your own making! He does not pounce; he gives advance notice of his arrival to take you - intimations like grey hair, falling teeth, failing vision, hearing deafness, shrinking skin, etc. He does not ride any beast; he is only another name for Time. It is Time that creeps steadily towards you and shears the cord of life. So utilise the capacity for action (karma) with which you are endowed, to liberate yourself. The Law of karma holds out hope for you; as the karma, so the consequence. Do not bind yourself further by seeking the fruit of action. Offer the act at the feet of God. Let it glorify Him. Be unconcerned with the success or failure of the endeavour. Then death will not bind you, but will come as a liberator!


Kematian dibayangkan oleh beberapa orang sebagai Dewa kematian yang memberikan teror mengendarai kerbau hitam, menyambarmu dengan sebuah jerat. Bukan! Jerat itu adalah buatanmu sendiri! Beliau tidak menjeratmu; beliau memberikanmu pemberitahuan lebih awal akan kedatangannya untuk menjemputmu – pemberitahuannya seperti rambut mulai uban, gigi mulai copot, pandangan kabur, pendengaran berkurang, kulit yang menyusut, dsb. Beliau tidak menunggang binatang buas apapun; beliau hanya nama lain dari waktu. Adalah waktu yang bergerak dengan pelan secara pasti menujumu dan memotong tali kehidupan. Jadi pergunakan kapasitas untuk bertindak (karma) yang mana telah diberikan kepadamu, untuk membebaskan dirimu. Hukum karma memberikan harapan untukmu; sebagaimana karmanya maka begitulah akibatnya. Jangan mengikat dirimu sendiri lebih jauh dengan mencari buah dari tindakan itu. Persembahkan tindakan itu di kaki padma Tuhan. Biarkan tindakan itu memuliakan-Nya. Jangan memberikan perhatian dengan keberhasilan atau kegagalan dari usaha itu. Kemudian kematian tidak akan mengikatmu, namun akan datang sebagai pembebas! [Divine Discourse, Mar 23, 1966]

-BABA

Thursday, April 26, 2018

Thought for the Day - 26th April 2018 (Thursday)

Animal qualities are fast increasing in man. Animals have a season and a reason but humans have none. Today humans have become worse than animals. Human qualities like compassion, kindness, love and forbearance are absent. One should be free from evil thoughts which are the root cause of worries. This requires abhyasa (constant and sustained practice). One can control the mind and attain peace by abhyasa. It is only in a peaceful mind that noble thoughts arise. The mind should be under one’s control. Master the mind and be a mastermind. Unfortunately, instead of controlling the mind, people have become slaves of their senses. That is the main cause of unsteadiness. Moreover, people have body attachment, which is the reason they get easily disturbed if people find fault with them. Why should one worry about the body when it is like a water bubble? You should get rid of body attachment.


Sifat binatang dengan cepat meningkat dalam diri manusia. Binatang memiliki musim dan alasan namun manusia tidak memilikinya. Hari ini manusia telah menjadi lebih buruk daripada binatang. Sifat manusia seperti welas asih, kebaikan, kasih, dan kesabaran telah hilang. Seseorang seharusnya bebas dari pikiran yang jahat yang merupakan akar penyebab dari kecemasan. Hal ini memerlukan abhyasa (praktik yang terus menerus). Seseorang dapat mengendalikan pikiran dan mencapai kedamaian dengan abhyasa. Hanya dalam pikiran penuh kedamaian maka pikiran yang mulia akan muncul. Pikiran seharusnya ada dibawah kendali. Kuasai pikiran dan jadilah penguasa pikiran. Sangat disayangkan, bukannya mengendalikan pikiran, manusia telah menjadi budak dari indrianya. Itu adalah penyebab utama dari keadaan tidak tenang. Lagi pula, manusia memiliki keterikatan pada tubuh, yang mana adalah alasan mereka dengan gampang terganggu jika yang lain menemukan kesalahan mereka. Mengapa seseorang harus menjadi cemas pada tubuh ketika tubuh adalah seperti gelembung air? Engkau seharusnya melepaskan keterikatan tubuh. [Divine Discourse, May 26, 2001]

-BABA

Wednesday, April 25, 2018

Thought for the Day - 25th April 2018 (Wednesday)

I don’t want your devotion; I only want your transformation. You should understand that the purpose of this human body is to serve others (Paropakarartham Idam Shariram). Involve yourself in such activities which will benefit others and give them happiness. Resolve to tread the path of service. Scriptures teach that neither by penance nor by pilgrimage nor by study of scriptures nor by devotion can one cross the ocean of life. You can achieve liberation only by serving the pious. The path of service is superior to all other spiritual practices like japa, dhyana and yoga. Only through service can you please God. Some people indulge in meaningless activities in the name of devotion and waste their time. True devotion lies in performing actions that will sanctify time. I am not asking you to serve the whole world in a big way. It is enough if you keep God in your heart and serve as your capacity permits you with love.


Aku tidak menginginkan bhaktimu; Aku hanya menginginkan perubahanmu. Engkau harusnya mengerti bahwa tujuan tubuh manusia ini adalah untuk melayani yang lainnya (Paropakarartham Idam Shariram). Libatkan dirimu dalam kegiatan yang seperti itu yang akan memberikan keuntungan dan kebahagiaan pada mereka. Putuskan untuk menempuh jalan pelayanan. Naskah suci mengajarkan bahwa bukan dengan penebusan dosa atau perziarahan atau mempelajari naskah suci ataupun dengan bhakti seseorang dapat menyebrangi lautan kehidupan. Engkau dapat mencapai kebebasan hanya dengan melayani yang baik. Jalan pelayanan adalah lebih hebat daripada semua latihan spiritual seperti japa, dhyana dan yoga. Hanya melalui pelayanan engkau dapat menyenangkan Tuhan. Beberapa orang melibatkan diri dalam tindakan yang tidak berguna dalam nama bhakti dan menyia-nyiakan waktu mereka. Bhakti yang sejati terdapat dalam melakukan perbuatan yang akan menyucikan waktu. Aku tidak memintamu untuk melayani seluruh dunia dengan cara yang besar. Adalah cukup jika engkau menempatkan Tuhan di dalam hatimu dan melayani sesuai dengan kapasitasmu dengan kasih. [Divine Discourse, Apr 14, 2001]

-BABA

Tuesday, April 24, 2018

Thought for the Day - 24th April 2018 (Tuesday)

What message can I give you for the day? As I see you, My heart overflows with love. When I see so many of you expressing your love for Me, there is no limit to My joy. I have not sent out invitations to any one of you. My love has drawn you to Me. Your love for God and God’s love for you is the true message and exchange that can happen between God and His devotee. Be happy and blissful. Increase your spiritual dimensions. My love is your greatest wealth and good fortune. This is My greatest gift to you. Take good care of this precious gift. This is My blessing to you on this day. Live with the firm conviction that there is one Divinity resident in all. May you all have steady devotion, and sacred, long, and happy life! May all your difficulties be removed! May you experience unalloyed bliss! May you have all this!


Apa pesan yang dapat Aku berikan kepadamu hari ini? ketika Aku melihatmu, hati-Ku dipenuhi dengan kasih. Ketika Aku melihat begitu banyak darimu mengungkapkan kasihmu untuk-Ku, maka tidak ada batas untuk suka cita-Ku. Aku tidak mengirim undangan kepada siapapun darimu. Kasih-Ku telah menarikmu kepada-Ku. Kasihmu untuk Tuhan dan kasih Tuhan untukmu adalah pesan sejati dan pertukaran yang dapat terjadi diantara Tuhan dengan bhakta-Nya. Hiduplah berbahagia. Tingkatkan dimensi spiritualmu. Kasih-Ku adalah kekayaan dan keberuntunganmu yang paling besar. Ini adalah hadiah yang paling besar untukmu. Jaga dengan baik hadiah yang berharga ini. Ini adalah berkat-Ku untukmu hari ini. hiduplah dengan keyakinan yang mantap bahwa hanya ada satu Tuhan yang bersemayam di dalam semuanya. Semoga engkau semua memiliki bhakti yang teguh, dan suci dan hidup berbahagia! Semoga semua kesulitan dihilangkan! Semoga engkau mengalami kebahagiaan yang suci! Semoga engkau memiliki semuanya ini! [Divine Discourse, Nov 23, 2000]

-BABA

Thought for the Day - 23rd April 2018 (Monday)

What I have taken as a sankalpa (resolve) will surely be fructified. But I need not take on a sankalpa if I do not wish to. My own thoughts, sankalpas and ideas depend on how the devotees conduct themselves. My grace is available in full measure for the benefit of all the devotees. Since I move about like an ordinary individual talking and playing with you, many people do not understand My true nature. In this context, even people with great strength of mind cannot recognise the true nature of this Sai and the difference between the outward appearance and the real internal aspect. My objective is to establish unity in mankind and to reveal to them the aspect of divinity which is Brahman, the only goal which one should look for. It is also My duty to make you realise the kind of relationship that should exist between man and man, and that divinity is present and latent in all human beings.


Apa yang telah Aku ambil sebagai sankalpa (ketetapan hati) pastinya akan terpenuhi. Namun Aku tidak perlu mengambil sebuah sankalpa jika Aku tidak menginginkannya. Pikiran, sankalpa, dan gagasan-Ku sendiri tergantung dari bagaimana bhakta menuntun dirinya sendiri. Rahmat-Ku selalu tersedia secara penuh untuk keuntungan semua bhakta. Karena Aku bergerak seperti halnya manusia biasa dengan berbicara dan bermain denganmu, banyak orang tidak memahami sifat sejati-Ku. Dalam konteks ini, bahkan mereka yang memiliki kekuatan pikiran yang hebat tidak bisa menyadari sifat sejati Sai ini dan perbedaan antara penampilan luar dan aspek di dalam yang sejati. Tujuan-Ku adalah membangun kesatuan pada manusia dan mengungkapkan pada manusia aspek keilahian yaitu Brahman, satu-satunya tujuan seseorang yang harus dicari. Ini juga merupakan kewajiban-Ku untuk membuatmu menyadari bentuk hubungan yang seharusnya ada diantara manusia dan manusia, dan keilahian itu ada dan tersembunyi di semua manusia. [Summer Showers in Brindavan, 1974, Ch 32.]

-BABA

Monday, April 23, 2018

Thought for the Day - 22nd April 2018 (Sunday)

You cannot attain God by your wealth. God can be attained only through devotion. Satyabhama in her pride hoped to possess Krishna all for herself by her wealth. She chose to weigh Him against the huge amount of gold she possessed, and failed. Narada made her realise her folly by showing that a single basil (Tulasi) leaf offered by Rukmini with real devotion exceeded all the wealth of Satyabhama. Satyabhama symbolises desire while Rukmini represents devotion. Krishna says that He is pleased with the offering of a leaf, a flower, a fruit or water. Do not take this literally. Your body is the leaf, the flower is the blossom of your heart, your mind is the fruit, and the tears of joy is the water - these are the acceptable offerings to God. You will have everything in life if you have love in you. Never hate anybody. Make this your goal in life. This is My message for you today!


Engkau tidak bisa mencapai Tuhan dengan kekayaanmu. Tuhan dapat dicapai hanya melalui bhakti. Satyabhama dengan bangganya berharap untuk memiliki Sri Krishna seutuhnya untuk dirinya saja dengan kekayaan yang dimilikinya. Dia memilih untuk menimbang Sri Krishna dengan besarnya emas yang dimilikinya, dan hasilnya gagal. Narada membuatnya menyadari kebodohannya dengan memperlihatkan bahwa sehelai daun tulasi yang dipersembahkan oleh Rukmini dengan bhakti sejati melewati semua kekayaan dari Satyabhama. Satyabhama adalah lambang dari keinginan sedangkan Rukmini adalah lambang bhakti. Sri Krishna berkata Beliau disenangkan dengan persembahan sehelai daun, bunga, buah, dan air. Jangan mengartikan hal ini secara harafiah. Tubuhmu adalah daun, bunga adalah mekarnya hatimu, pikiranmu adalah buah dan air mata suka cita adalah air – ini adalah persembahan yang diterima oleh Tuhan. Engkau akan memiliki segalanya dalam hidup jika engkau memiliki kasih di dalam dirimu. Jangan pernah membenci siapapun juga. Buatlah hal ini sebagai tujuan dalam hidupmu. Ini adalah pesan-Ku untukmu hari ini! [Divine Discourse, Nov 23, 2000]

-BABA

Thought for the Day - 21st April 2018 (Saturday)

You must crave for the vision of God; only then you are entitled to the status of human-ness. To do so, you must conquer your mind. Remember, true human is one who is the ruler of the mind (manas), not its slave! Every human (manava) must endeavour to reach the Divine (Madhava)! To earn the vision and grace of God, you have to pray to the Personified Power with Name and Form; it is your yearning that decides in what form the Lord appears. You call and He will answer! If you are not earnest, or if you feel indifferent and say, “Let Him come when He wills, in the Form He likes and with the Name He prefers”, He will not come at all! Call on Him with anguish, and He will immediately respond!


Engkau harus sangat mengharapkan pandangan akan Tuhan; hanya dengan demikian engkau disebut dengan status kemanusiaan. Untuk melakukannya, engkau harus menaklukkan pikiranmu. Ingatlah, manusia sejati adalah seseorang yang menguasai pikiran (manas), bukan sebagai budaknya! Setiap manusia (manava) harus berusaha untuk mencapai Tuhan (Madhava)! Untuk mendapatkan pandangan dan karunia Tuhan, engkau harus berdoa pada perwujudan kekuatan dengan nama dan wujud; adalah kerinduanmu yang memutuskan apa wujud Tuhan yang muncul. Engkau memanggil dan Beliau akan menjawabnya! Jika engkau tidak bersungguh-sungguh, atau jika engkau merasa tidak tertarik dan berkata, “Biarkan Tuhan datang ketika Beliau berkehendak, dalam wujud yang Beliau senangi dan dengan nama yang Beliau pilih”, Beliau tidak akan datang sama sekali! Panggil Beliau dengan kesedihan yang mendalam, dan Beliau akan segera menjawabnya! [Divine Discourse, May 1963]

-BABA

Thought for the Day - 20th April 2018 (Friday)

You want to study well, pass and get a first-class. After that you want to get a good position, get married and lead a happy family life. And then you desire for children, and want that they be intelligent and do well in life. There is no limit for such desires. The most important reason for bondage is giving too much freedom to the mind. For example, when an animal is tethered to a post, it will not be able to go to another place and spoil it. It will not be able to show anger or violence or do harm to any person. But if it is untied and let loose, it can roam over various fields, destroy the crops and cause loss and harm to others. For the mischief it does, it gets beaten. Similarly, the mind must be bound by certain regulations and limits. As long as one lives within certain limits and disciplines, as well as particular rules and regulations, one will be able to maintain a good name and lead a happy and useful life.


Engkau ingin belajar dengan baik, lulus dan mendapat peringkat pertama. Setelah engkau mendapat posisi yang yang baik, menikah dan membentuk keluarga yang bahagia. Dan kemudian engkau menginginkan anak, dan engkau ingin anak-anak yang cerdas dan menjalani hidup dengan baik. Tidak ada batas untuk keinginan seperti itu. Alasan yang paling penting untuk perbudakan adalah dengan memberi terlalu banyak kebebasan pada pikiran. Sebagai contoh, ketika seekor binatang ditambatkan pada sebuah tonggak, maka binatang itu tidak akan mampu pergi ke tempat yang lain dan merusaknya. Binatang itu tidak akan mampu memperlihatkan amarahnya atau menyakiti siapapun juga. Namun jika engkau tidak mengikatnya dan melepaskannya, maka binatang itu bisa berlarian di berbagai ladang, menghancurkan panen dan menyebabkan kerugian dan menyakiti yang lainnya. Untuk kenakalan yang dilakukannya, maka binatang itu akan dipukul. Sama halnya, pikiran harus diikat oleh beberapa aturan dan batasan tertentu. Selama seseorang hidup di dalam batasan dan disiplin tertentu, serta aturan dan peraturan tertentu, seseorang akan mampu menjaga nama baik dan menjalani hidup yang bahagia dan berguna. [Divine Discourse, Feb 17, 1985]

-BABA

Friday, April 20, 2018

Thought for the Day - 19th April 2018 (Thursday)

You now have multitudes of claimants for the status and benefits of a person with devotion; you can see them on the roads to holy rivers or cities, or singing spiritual songs wearing all the paraphernalia of devotion. But the claim to be a devotee of the Lord, a votary of the Highest, can be admitted only if the passions and emotions are pure and if the character is virtuous. The tongue may utter the Name of the Lord, the ear may be open when the Lord’s glory is recited, and the hand may scatter flowers on the image of God, but the tongue may not know or relish the taste, the ear may not pine, or the hand may not yearn. These can happen only when the heart is aware of the Supreme, and when the mind is thrilled recollecting the glory of God. Otherwise one is like the spoon which dips into sour and sweet with equal alacrity and insensitivity. It does not refuse or relish any of the tastes.


Engkau sekarang melihat banyak orang yang mengaku mendapatkan banyak keuntungan dan status dari seseorang dengan bhakti; engkau dapat melihat mereka di jalan sampai pada sungai suci atau kota, atau melantunkan lagu-lagu rohani memakai semua perlengkapan bhakti. Namun, pengakuan menjadi bhakta Tuhan adalah sebuah pengungkapan yang tertinggi, hanya dapat disampaikan jika hasrat dan emosi suci dan jika karakter adalah mulia. Lidah mungkin menyebutkan nama Tuhan, telinga mungkin terbuka saat nama Tulan dilantunkan, tangan mungkin menaburkan bunga di altar Tuhan, namun lidah mungkin tidak tahu atau menikmati rasa yang ada, telinga mungkin tidak berhasrat sekali, atau tangan mungkin tidak berminat. Hal ini dapat terjadi hanya ketika hati sadar akan yang tertinggi, dan ketika pikiran sangat berhasrat dalam mengingat kembali kemuliaan Tuhan. Jika tidak seseorang adalah seperti sendok yang masuk ke dalam rasa asam dan manis dengan keserakahan dan kekurangpekaan yang sama. Sendok tidak menolak atau menikmati rasa yang ada. [Divine Discourse, Mar 23, 1966]

-BABA

Wednesday, April 18, 2018

Thought for the Day - 18th April 2018 (Wednesday)

Self is nothing but the principle of the all pervasive Atma (Divine Self). There is only one Self. Hence the scriptures state God is one without a second (Ekam eva Advitiyam Brahma). It is rather surprising that people are unable to believe this principle of unity. You have faith in what is broadcast on television and radio, but do not have faith in the Self. One without faith in the Self is verily blind. In this world every being is an embodiment of Divinity. Whomsoever you salute, it reaches God! Likewise, whomsoever you criticise, the criticism too reaches God. So do not criticise or hate anybody. There are many people who undertake spiritual practices like recitations, meditation and yoga. No doubt these are sacred activities and one may undertake them. But it is very essential to recognise the principle of unity. There is only one God and He is omnipresent. Why are you not able to believe this all-pervasive Divinity?


Diri yang sejati tiada lain adalah prinsip dari Atma (keilahian dalam diri) yang meliputi segalanya. Hanya ada satu diri yang sejati. Oleh karena itu naskah suci menyatakan Tuhan adalah satu tidak ada duanya (Ekam eva Advitiyam Brahma). Adalah mengejutkan dimana manusia tidak mampu meyakini prinsip kesatuan ini. Engkau memiliki keyakinan pada apa yang disiarkan di televisi dan radio, namun tidak memiliki keyakinan pada diri yang sejati. Seseorang yang tanpa keyakinan pada diri sejati adalah benar-benar buta. Di dunia ini setiap makhluk adalah perwujudan dari keilahian. Siapapun juga yang engkau hormati maka rasa hormat itu akan mencapai Tuhan! Sama halnya, siapapun yang engkau kritik, kritikan itu juga akan mencapai Tuhan. Jadi jangan mengeritik atau membenci siapapun juga. Ada banyak orang yang menjalankan latihan spiritual seperti mengulang-ulang nama Tuhan, meditasi dan Yoga. Tidak diragukan lagi semuanya itu adalah kegiatan yang suci dan seseorang boleh melakukannya. Namun adalah sangat mendasar untuk mengetahui prinsip kesatuan. Hanya ada satu Tuhan dan Beliau yang ada dimana-mana. Mengapa engkau tidak mampu meyakini keilahian yang meresapi segalanya ini? [Divine Discourse, Apr 14, 2001]

-BABA

Tuesday, April 17, 2018

Thought for the Day - 17th April 2018 (Tuesday)

Today people ignore the law of action and act as they please. It is easy to indulge in sinful deeds but is extremely difficult to bear the bad results they yield! Good and evil, happiness and misery, merit and sin depend on your actions. As is the action, so is the result. Hence the Upanishads teach - “Salute the action” (Tasmai Namah Karmane). Offer salutations to the actions you perform, so they become sacred, bring you good name and contribute to the welfare of the world. Since time immemorial, Bharatiyas offer respect to action, be it big or small, before undertaking it. A dancer pays her respects to the anklets she wears before commencing her performance. An illiterate lorry driver offers his obeisance to the steering wheel before driving the vehicle. Why salute the action? It is to discriminate and choose right actions and to give up the sense of ego or doership! This is the sacredness that our culture imparts to action.


Hari ini manusia mengabaikan hukum perbuatan dan bertindak sesuai dengan apa yang mereka senangi. Adalah mudah untuk larut dalam perbuatan yang penuh dosa namun sangatlah sulit sekali untuk menanggung hasil buruk yang dihasilkannya! Kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan penderitaan, pahala dan dosa tergantung dari perbuatanmu. Sebagaimana perbuatannya maka begitulah hasilnya. Oleh karena itu dalam Upanishad diajarkan  - “Hormati perbuatan” (Tasmai Namah Karmane). Persembahkan rasa hormat pada perbuatan yang engkau lakukan, sehingga perbuatan itu menjadi suci, serta memberikanmu nama baik dan memberikan sumbangsih bagi kesejahteraan dunia. Sejak zaman dahulu, para penduduk Bharatiya memberikan rasa hormat sebelum melakukan perbuatan, apakah perbuatan itu kecil atau besar. Seorang penari memberikan rasa hormat pada gelang kaki yang dipakainya sebelum memulai pertunjukkan tariannya. Seorang supir truk yang buta huruf memberikan hormat pada kemudinya sebelum menjalankan mobilnya. Mengapa memberikan hormat pada perbuatan? Adalah untuk membedakan dan memilih perbuatan yang benar dan melepaskan perasaan ego atau perasaan diri yang melakukan! Ini adalah kesucian dimana kebudayaan kita menanamkan pada perbuatan. [Divine Discourse, Apr 14, 2001]

-BABA

Monday, April 16, 2018

Thought for the Day - 16th April 2018 (Monday)

Human body is meant to serve others, not to indulge in selfish deeds. As selfishness has become part and parcel of our lives, we indulge in many sinful activities. Eschew selfishness, take to selfless service. Give up attachment towards the body. Become attached to the Self. Understand that the same Self (Atma) exists in everyone. Though you find several bulbs glowing in a big hall, the current that is passing through them is the same. Bodies are like bulbs; the principle of Atma is the current that is present in them. With such a feeling of oneness, make efforts to alleviate the suffering of your fellow beings. Sage Vyasa has given the essence of 18 Puranas in the dictum: Paropakaraya Punyaya, Papaya Parapeedanam (one attains merit by serving others and commits sin by hurting them). So, practice ‘Help ever, hurt never’. There is no higher spiritual practice than this. This is the foundation for self-realisation!


Tubuh manusia adalah sarana untuk melayani yang lain, bukan digunakan untuk perbuatan yang mementingkan diri sendiri. Karena sifat mementingkan diri sendiri telah menjadi bagian atau paket hidup kita, kita menurutkan kesenangan diri dalam banyak perbuatan yang penuh dosa. Jauhkan diri dari sifat mementingkan diri sendiri, ambil pelayanan yang tidak mementingkan diri sendiri. Lepaskan keterikatan pada tubuh. Jadilah terikat pada diri yang sejati. Pahami bahwa diri sejati (Atma) yang sama ada di dalam diri setiap orang. Walaupun engkau menemukan beberapa bola lampu bersinar di ruang yang besar, arus listrik yang mengalirinya adalah sama. Tubuh adalah seperti bola lampu; prinsip Atma adalah arus yang ada di dalamnya. Dengan perasaan kesatuan yang sama seperti itu, buatlah usaha untuk meringankan penderitaan sesamamu. Resi Vyasa telah memberikan intisari dari 18 Purana dalam pernyataan: Paropakaraya Punyaya, Papaya Parapeedanam (seseorang mendapatkan kebaikan dengan melayani yang lain dan melakukan dosa dengan menyakiti yang lain). Jadi, jalankan ‘Selalu menolong, tidak pernah menyakiti’. Tidak ada praktik spiritual yang lebih tinggi daripada ini. Ini adalah dasar untuk mencapai kesadaran diri! [Divine Discourse, Apr 14, 2001]

-BABA

Thought for the Day - 15th April 2018 (Sunday)

Today is no different from yesterday. If you do good now, you will reap its benefits in future. So, sanctify your actions. Remember, immortality is not attained through action, progeny or wealth. It is attained only by sacrifice! The bliss you get from sacrifice is eternal. It is true wealth and can never diminish! To acquire such everlasting wealth, invest your time in the contemplation of God. Divinity must pervade all that you see, hear and feel. Love is the greatest wealth and treasure. Let every action of yours be filled with love. Love begets sacred rewards. Let the whole world be filled with love. Love alone can safeguard countries and make them prosperous. Live in the constant company of all-pervasive Divinity. Why fear when I am with you, in you and around you? If you have faith, God will protect you wherever you are!


Hari ini adalah tidak berbeda dari kemarin. Jika engkau melakukan kebaikan sekarang, engkau akan mendapatkan manfaatnya di masa depan. Jadi, sucikan perbuatanmu. Ingat, keabadian tidak dapat dicapai melalui perbuatan, keturunan, atau kekayaan. Hal ini hanya dapat dicapai dengan pengorbanan! Kebahagiaan yang engkau dapatkan dari pengorbanan adalah bersifat kekal. Ini adalah kekayaan yang sejati dan tidak akan pernah bisa berkurang! Untuk mendapatkan kekayaan yang kekal seperti itu, investasikan waktumu dalam perenungan pada Tuhan. Tuhan meliputi semua yang engkau lihat, dengar, dan rasakan. Kasih adalah kekayaan dan harta yang paling besar. Biarkan setiap perbuatanmu diliputi dengan kasih. Kasih menurunkan rahmat yang suci. Biarkan seluruh dunia diliputi dengan kasih. Hanya kasih yang menjaga bangsa dan membuatnya sejahtera. Hiduplah selalu dalam pergaulan yang diliputi dengan keilahian. Mengapa takut jika Aku bersamamu, di dalam dirimu dan di sekitarmu? Jika engkau memiliki keyakinan, Tuhan akan melindungimu dimanapun engkau berada! [Divine Discourse, Apr 14, 2001]

-BABA

Thought for the Day - 14th April 2018 (Saturday)

Today marks the commencement of the (Tamil and Kerala) New Year. Many such New Years have come and gone by. Everyone expects the new year to confer on them and the world at large peace, happiness and prosperity. But the welfare of the world depends on your conduct and behavior. Your conduct depends on your mind. The nature of the mind depends on thoughts. Only when your thoughts are based on truth, will the world flourish. If you aspire for the welfare of the world, see to it that your thoughts and actions are in accordance with your aspirations. If you have anger in you, you cannot escape misery. One with desires can never attain happiness. Less luggage, more comfort. Desires are your luggage. Reduce them in order to lead a comfortable life. A greedy person can never attain prosperity. Give up greed and you will be happy, prosperous and blissful!


Hari ini ditandai sebagai permulaan tahun baru Tamil dan Kerala. Banyak tahun baru telah datang dan lewat. Setiap orang mengharapkan tahun baru memberikan mereka dan dunia yang lebih luas dengan kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan yang besar. Namun kesejahteraan dunia tergantung dari tingkah laku dan sikapmu. Tingkah lakumu tergantung dari pikiranmu. Sifat asli dari pikiran tergantung dari ide atau gagasan. Hanya ketika gagasanmu berdasarkan kebenaran, maka dunia akan tumbuh dengan subur. Jika engkau mengharapkan kesejahteraan dunia, lihatlah agar gagasan dan perbuatanmu selaras dengan harapanmu. Jika engkau memiliki amarah dalam dirimu, engkau tidak bisa lepas dari penderitaan. Seseorang dengan keinginan tidak pernah bisa mencapai kebahagiaan. Sedikit barang-barang bawaan, akan lebih nyaman. Keinginan adalah barang bawaanmu. Kurangi keinginan itu dalam upaya mengarah pada hidup yang nyaman. Seseorang yang rakus tidak pernah bisa mencapai kesejahteraan. Lepaskan ketamakan dan engkau akan senang, sejahtera dan penuh kebahagiaan! [Divine Discourse, April 14, 2001]

-BABA

Thought for the Day - 13th April 2018 (Friday)

If there is a boil on the body, you apply ointment on it and cover it with a bandage until it heals. If you do not apply ointment and tie the bandage around this wound, it is likely to become septic and cause great harm later. Now and then you must clean it with pure water, apply ointment again and put on a new bandage. In the same way, in our life, there is this boil which has come up in our body in the form of 'I'. If you want to really cure this boil of 'I', you will have to wash it every day with the waters of love, apply the ointment of faith on it and tie the bandage of humility around it. The bandage of humility, the ointment of faith, and the waters of love will surely cure this disease that erupted with this boil of 'I’.


Jika ada bisul di badan, engkau menaruh obat salep di atasnya dan menutupnya dengan perban sampai sembuh. Jika engkau tidak memberinya obat salep dan mengikat perban di sekitar luka, maka bisul itu seperti menjadi infeksi dan menyebabkan rasa sakit yang lebih besar nantinya. Kadang-kadang engkau harus membersihkannya dengan air bersih, memberikan obat salep lagi dan menutup dengan perban yang baru. Sama halnya, dalam hidup kita, ada sebuah bisul yang telah muncul dalam badan kita dalam bentuk “keakuan”. Jika engkau benar-benar ingin menyembuhkan bisul “keakuan” ini, engkau harus membersihkannya setiap hari dengan air cinta kasih, memberikannya obat salep keyakinan, dan menutupnya dengan perban kerendahan hati. Perban kerendahan hati, obat salep keyakinan dan air cinta kasih pastinya akan menyembuhkan penyakit bisul “keakuan” ini. [Divine Discourse, Feb 17, 1985]

-BABA

Friday, April 13, 2018

Thought for the Day - 12th April 2018 (Thursday)

Your determination to acquire bliss and peace should not flicker like the flame of a lamp placed on a gusty window. You must learn how to attain them from the scriptures composed by saints or from the wise who have won them. Then you must adhere to the path, however sharp the criticism, and whoever be the one callously condemning it. Cynical laughter cannot harm the aspirant! Can a storm shake the Himalayan range? Let not your faith in the goal or the road quake before trouble or trial, toil or travail, distress or despair. They are but passing clouds, casting temporary shadows, hiding for a little time the glory of the sun or moon. Do not get distracted by doubt or despondency. Build the mansion of your life on four firm pillars: virtue, wealth, desire and liberation (dharma, artha, kama and moksha), the goals of human effort laid down by the ancient sages, each pillar bound strong and safe with every other.


Tekadmu untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian seharusnya tidak berkelap-kelip seperti halnya cahaya pelita yang ditempatkan di jendela dengan hembusan angin yang kuat. Engkau harus belajar bagaimana untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian dari naskah suci yang disusun oleh orang suci atau dari orang bijak yang telah mampu mendapatkan keduanya ini. Kemudian engkau harus mengikuti jalan tersebut, bagaimanapun juga tajamnya kritikan, dan siapapun yang tidak punya perasaan yang menyalahkan. Tawa yang sinis dan mengejek tidak dapat menyakiti para peminat spiritual! Dapatkah badai mengguncang gugusan gunung Himalaya? Jangan biarkan keyakinanmu pada tujuan atau jalan tersebut berguncang dihadapan masalah atau cobaan, kerja keras atau penderitaan, kesulitan atau putus asa. Semuanya ini hanyalah awan yang berlalu, menebarkan bayangan sementara, menyembunyikan hanya sebentar saja kemuliaan dari matahari dan rembulan. Jangan menjadi terganggu dengan keraguan atau kesedihan. Bangunlah rumah besar hidupmu dengan empat tiang yang kokoh: kebajikan, kekayaan, keinginan, dan kebebasan (dharma, artha, kama, dan moksha), tujuan dari usaha manusia telah ditetapkan oleh orang-orang suci zaman dahulu, setiap tiang terikat kuat  dan aman satu dengan yang lainnya. [Divine Discourse, Mar 23, 1966]

-BABA

Wednesday, April 11, 2018

Thought for the Day - 11th April 2018 (Wednesday)

Seek the company of the good, the seekers, the aspirants, and the detached. Then you will see the light. Listen to holy discourses and read sacred books. Your effort and the atmosphere of the place - these two will lead you to success. Markandeya held tight the Shivalinga and so the noose of Yama (God of death) bound him and Shiva; hence young Markandeya was saved. The story teaches you to be ever in contact with God, for you do not know when the noose will be thrown. Attach yourself to the Highest, call it by any name, conceive it in any form. But, remember, without righteousness (Dharma) you cannot attain God. Learn the means of winning grace and earning purity from those who know - the elders and scholars who have put their learning into practice. Grace can wipe off the past; Sat-prayatna, Sat-sanga and Sadhachara (good effort, good company and good practices) will ensure happiness in future!


Carilah pergaulan yang baik, para peminat dan pencari spiritual, dan yang tidak lagi terikat. Kemudian engkau akan melihat cahaya. Dengarkan wejangan-wejangan yang suci dan baca buku-buku suci. Usahamu dan getaran dari tempat – keduanya ini akan menuntunmu pada keberhasilan. Markandeya memeluk dengan erat Shivalinga sehingga jerat dari Yama (Dewa kematian) mengikatnya dan Shiva; oleh karena itu Markandeya muda diselamatkan. Cerita ini mengajarkanmu untuk selalu terhubung dengan Tuhan, karena engkau tidak mengetahui kapan jerat itu akan dilemparkan. Ikatkan dirimu pada yang Tertinggi, panggil Beliau dengan nama apa saja, pahami Beliau dalam wujud apapun. Namun, ingatlah bahwa tanpa kebajikan (Dharma) engkau tidak bisa mencapai Tuhan. Belajarlah sarana untuk mendapatkan karunia-Nya dan dapatkan kesucian dari mereka yang tahu – yang lebih tua dan cendekiawan yang telah menjalankan ajaran mereka. Karunia dapat membersihkan masa lalu; Sat-prayatna, Sat-sanga dan Sadhachara (usaha yang baik, pergaulan yang baik, dan latihan yang baik) akan memastikan kebahagiaan di masa depan! (Divine Discourse, Apr 1, 1965)

-BABA

Thought for the Day - 10th April 2018 (Tuesday)

The worst action you can do is to do the opposite of what you preach. To deny by the hand what you dole out of your mouth! If you cannot act up to your declarations, keep quiet; do not go about advising and advertise yourself as a hypocrite! Do not preach virtue while decrying it in deed. Righteousness (dharma) is steady and unchanging; it can never decline. Only those who must practice dharma are declining in faith and steadfastness! Every individual is judged by their practice, never by their precepts that they pour forth eloquently. Ask yourself the question honestly: "What use have I made of the spiritual experience that I have received so far? How much have I benefited?" Introspect! A seed grows slowly into a huge spreading tree. So too, through tiny acts, soft words, genuine and kind deeds, you must elevate yourself into a Divine Being!


Tindakan yang paling buruk yang engkau lakukan adalah melakukan sesuatu bertentangan dengan apa yang engkau sampaikan. Menyangkal dengan tangan terkait apa yang sudah dikatakan oleh mulutmu! Jika engkau tidak dapat bertindak sesuai dengan perkataanmu, diamlah; jangan menyibukkan dirimu dengan menyampaikan dan menyatakan dirimu sendiri sebagai seorang yang munafik! Jangan berkhotbah kebaikan sedangkan dalam tindakan berlawanan dengan itu. Kebajikan (dharma) adalah mantap dan tidak berubah; dharma tidak pernah bisa mengalami kemerosotan. Hanya mereka yang mempraktikkan dharma yang sedang mengalami kemerosotan dalam keyakinan dan ketabahan! Setiap individual dinilai dari praktik mereka, jangan pernah menilai dari ceramah yang disampaikan dengan lancar. Tanyakan dirimu sendiri pertanyaan dengan jujur: "Apa kegunaan yang telah saya buat dalam pengalaman spiritual yang telah saya terima sejauh ini?” Berapa banyak saya telah mendapatkan keuntungan?" Introspeksi diri! Sebuah benih tumbuh dengan pelan menjadi sebuah pohon besar yang menyebar. Begitu juga, melalui tindakan-tindakan kecil, perkataan yang lembut, perbuatan yang sungguh-sungguh dan baik, engkau harus meningkatkan dirimu sendiri menjadi makhluk ilahi! (Divine Discourse, Mar 31, 1965)

-BABA

Tuesday, April 10, 2018

Thought for the Day - 9th April 2018 (Monday)

Develop renunciation towards your own needs and wishes. Examine each on the touchstone of essentiality. When you pile up things in your apartments, you only promote darkness and dust; so also, do not collect and store too many materials in your mind. Travel light. Have just enough to sustain life and maintain health. The pappu (dish made of lentils) must have only enough uppu (salt) to make it relishing; that is to say, do not spoil the dish by adding too much salt. Life becomes too difficult to bear if you put too much desire into it. Limit your desires to your capacity and even among them, have only those that will grant lasting joy. Do not run after fashion and public approval and strain your resources beyond repair. Also, stick to your own dharma and the code of rules that regulate life or the stage you have reached.


Kembangkan tanpa keterikatan pada kebutuhan dan keinginanmu sendiri. Periksa setiap bagian dengan batu uji yang bersifat mendasar. Ketika engkau menumpuk benda-benda di dalam kamarmu, engkau hanya akan menambah kegelapan dan debu; sama halnya, jangan mengumpulkan dan menyimpan terlalu banyak hal di dalam pikiranmu. Lakukan perjalanan dengan ringan. Miliki hanya cukup untuk menopang hidup dan kesehatan. Pappu (makanan yang terbuat dari lentil) harus diberikan cukup uppu (garam) untuk membuatnya bisa dinikmati; seperti yang dikatakan, jangan menyia-nyiakan makanan dengan menambah terlalu banyak garam. Hidup menjadi terlalu sulit untuk dilalui jika engkau menaruh terlalu banyak keinginan di atasnya. Batasi keinginanmu pada kapasitasmu dan diantara keinginan tersebut, miliki hanya yang dapat memberikanmu suka cita yang kekal. Jangan mengejar mode dan persetujuan publik serta membebani sumber dayamu melampaui perbaikan. Juga, berpeganglah pada dharmamu sendiri dan aturan pedoman yang mengatur hidup atau tahapan yang telah engkau capai. (Divine Discourse, Aug 19, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 8th April 2018 (Sunday)

Take My own instance. I never exult when I am extolled, nor shrink when I am reviled. Few have realised My purpose and significance, but I am not worried. When things that are not in Me are attributed to Me, why should I worry? When things that are in Me are mentioned, why should I exult? "Syeeki Sarvamu yes, yes, yes" (for Sai it is always yes!). If you say, "Yes, you are the Lord," Yes, I am the Lord to you, if you say "No", I too echo the same. I am Anandam, Shantam, Dhairyam (Bliss, Peace and Courage). Take Me as your Atma tatwam (Inner Atmic Reality); you won't be wrong. Resolve from this day to see only the good in others, and to develop the good in yourselves. That is the best sadhana (spiritual endeavour). Nurturing anger and hatred in the heart is like carrying a pot with many holes for bringing water. Discard anger, hate, envy and greed; do it by dwelling always on the Name that summarises and signifies the Glory of God.


Ambillah contoh dari-Ku. Aku tidak pernah bersuka ria ketika Aku dipuji, dan tidak juga menjadi bersedih ketika Aku dicerca. Sedikit yang telah menyadari tujuan-Ku dan signifikansinya, namun Aku tidak merasa cemas. Ketika sifat itu tidak ada pada-Ku dan dihubungkan dengan-Ku, mengapa Aku harus cemas? Ketika kualitas itu ada pada diri-Ku dan disebutkan, mengapa Aku harus bersuka ria? "Sayeeki Sarvamu ya, ya, ya" (untuk Sai adalah selalu ya!). Jika engkau berkata, "Ya, Swami adalah Tuhan," Ya, Aku adalah Tuhan bagimu, jika engkau mengatakan "Tidak", Aku juga memberikan gema yang sama. Aku adalah Anandam, Shantam, Dhairyam (kebahagiaan, kedamaian dan keberanian). Jadikan Aku sebagai Atma tatwam bagimu (kenyataan Atma di dalam batin); engkau tidak akan salah. Putuskan mulai hari ini untuk hanya melihat kebaikan dalam diri yang lain, dan untuk mengembangkan kebaikan di dalam dirimu sendiri. Itu adalah latihan spiritual (sadhana) yang terbaik. Memelihara kemarahan dan kebencian di dalam hati adalah seperti membawa sebuah wadah dengan banyak lubang untuk membawa air di dalamnya. Buang kemarahan, kebencian, iri hati dan ketamakan; lakukan ini dengan selalu menyelam dalam nama yang menandakan dan menyampaikan kemuliaan Tuhan. (Divine Discourse, Mar 30, 1965)

-BABA

Saturday, April 7, 2018

Thought for the Day - 7th April 2018 (Saturday)

You have to give up your pursuit of sensory objects if you seek lasting peace and joy. Material wealth brings along with it not only joy but grief as well. Accumulation of riches and multiplication of wants only lead to alternation between joy and grief. Attachment is the root of both joy and grief; detachment is the saviour. Attachment (ashakti) is death (maraka). Non-attachment (anashakti) is liberating (taraka). A millionaire pays income tax with tears in his eyes, while a headmaster joyfully gives up the furniture and laboratory appliances of his school when he is transferred to some other place. Why? The headmaster knows that he is only the caretaker, not the owner. He is not attached to these articles; he knows that they belong to the government. So, too, feel that your family, house, property, car, etc. are all the Lord's property and you are just a trustee; be unattached and be ready to give them up without any murmur, at a moment's notice!


Engkau harus melepaskan pengejaranmu pada objek-objek yang berhubungan dengan indera jika engkau mencari kedamaian dan suka cita yang kekal. Kekayaan material tidak hanya membawa suka cita namun juga duka cita. Pengumpulan kekayaan dan bertambahnya keinginan hanya menuntun pada pergonta-gantian diantara suka dan duka cita. Keterikatan adalah akar dari keduanya yaitu suka dan duka cita; tanpa keterikatan adalah sebagai juru selamat. Keterikatan (ashakti) adalah kematian (maraka). Tanpa keterikatan (anashakti) adalah kebebasan (taraka). Seorang yang milioner membayar pajak penghasilan dengan meneteskan air mata, sedangkan seorang kepala sekolah dengan penuh suka cita melepaskan peralatan dan perlengkapan laboratorium dari sekolahnya ketika dia dipindahkan ke tempat yang lain. Mengapa? Kepala sekolah mengetahui bahwa dia hanya sebagai pengurus saja, dan bukan pemilik. Dia tidak terikat pada benda-benda itu; dia mengetahui bahwa semuanya itu adalah milik pemerintah. Begitu juga, rasakan bahwa keluarga, rumah, properti, mobilmu, dan sebagainya, semuanya adalah milik Tuhan dan engkau hanya yang dipercayakan; jadilah tidak terikat dan siap untuk melepaskan semuanya itu tanpa adanya suara keluhan pada saat pemberitahuan datang! (Divine Discourse, Aug 19, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 6th April 2018 (Friday)

The Vedas are called Sruti because they must be heard with attention. Listening (sravanam) implants ideas: it inspires you to take stock of your condition, to note your deficiencies and failings, and even your excellences and merits. The ear has great potentiality to correct, reform and guide. Listen to the Ramayana and the Mahabharata; it is a precious chance that many are not benefitting from now! Discover for yourselves the greatness of Rama, Krishna, Meera and Radha. Dwell on their lives and the examples they place before you; correct your habits, your outlook, your attitude to the world, to society, and to yourself. That is the path to salvation. The ear fills the head, the head directs the arm, and the arm acts. So hear good things, do good things and share good things. That gives joy and contentment.


Weda disebut dengan Sruti karena Weda harus didengar dengan perhatian. Mendengarkan (sravanam) menanamkan ide; hal ini mengilhamimu untuk memeriksa keadaanmu, untuk mencatat kekurangan dan kegagalanmu, dan bahkan kelebihan dan keunggulanmu. Telinga memiliki potensi sangat besar untuk memperbaiki, mereformasi, dan menuntun. Mendengarkan Ramayana dan Mahabharata; ini merupakan kesempatan yang berharga dimana banyak yang tidak mendapatkannya sekarang! Temukan untuk dirimu sendiri kemuliaan dari Rama, Krishna, Meera, dan Radha. Meresapi dalam kehidupan dari tokoh besar ini dan teladan yang mereka tunjukkan di hadapanmu; perbaiki kebiasaanmu, pandangamu, sikapmu pada dunia, pada masyarakat dan pada dirimu sendiri. Itu adalah jalan keselamatan. Telinga mengisi kepala, kepala langsung mengarahkan ke tangan dan tangan melakukan tindakan. Jadi  dengarkan hal yang baik, lakukan hal yang baik dan berbagi hal yang baik. Itu memberikanmu suka cita dan kepuasan.(Divine Discourse, Mar 30, 1965)

-BABA

Thursday, April 5, 2018

Thought for the Day - 3rd March 2018 (Tuesday)

The conquest of the ego is a hard task; years of persistent effort are needed to get success in this endeavour. Think of this example – Have you tried to break the coconut as soon as it comes from the coconut tree? The shell is covered compactly by a coat of fibre. You cannot break the nut by hitting even with a crowbar. Take off the fibrous armour, then breaking it is easy. When you take a coconut to be offered in the temple, you remove the fibre, and then offer it to God by breaking it into two halves. This is the symbol for destroying the ego and surrendering to the Lord. So also in life, you must remove the fibre of desire for sense-objects and then, go before the Lord devoid of desire and anger (kama and krodha); there you declare that you are egoless by breaking the coconut into two. You are then accepted!

Penaklukan ego adalah pekerjaan yang sulit; usaha yang berkesinambungan selama bertahun-tahun sangat diperlukan untuk bisa berhasil dalam usaha ini. Coba pikirkan contoh ini – pernahkah engkau mencoba memecahkan kelapa langsung saat jatuh dari pohonnya? Tempurung kelapa tertutupi sepenuhnya dengan lapisan serabut. Engkau tidak bisa memecahkannya bahkan dengan menggunakan linggis. Lepaskan dan kupas serabut yang menutupinya, kemudian memecahkan kelapa itu menjadi lebih mudah. Saat engkau membawa kelapa untuk dipersembahkan di tempat suci, engkau melepaskan serabutnya, dan kemudian mempersembahkan kelapa itu kepada Tuhan dengan memecahkannya menjadi dua bagian. Ini adalah simbol dari menghancurkan ego dan menyerahkannya kepada Tuhan. Begitu juga dalam hidup, engkau harus melepaskan serabut keinginan pada objek-objek yang diterima oleh indera dan kemudian sujud di hadapan Tuhan sama sekali tanpa keinginan dan kemarahan (kama dan krodha); disana engkau menyatakan bahwa engkau tanpa ego dengan memecahkan kelapa menjadi dua. Engkau kemudian dapat diterima! [Divine Discourse, Mar 29, 1965]

-BABA

Thought for the Day - 5th April 2018 (Thursday)

Many people say that the world today is afflicted with sorrow, losses and difficulties. I do not subscribe to this view - indeed, they are just our illusion! In fact, there is no unrest or sorrow in this world. I just see peace everywhere. When there is peace in our heart, we will be able to witness peace all round. Unrest, sorrow, anger, and so on, are the reaction, reflection and resound of the state of our inner being. Sorrows and difficulties, anger and unrest are of our own creation. They are not natural phenomena in the world. It is lack of love that is responsible for all the differences, arguments and conflicts in the world, especially in the present times. Love is the foremost quality of a human being. And faith is the basis for that love. In the spelling of the word Love, ‘L’ stands for ‘Lord’. Thus, Love truly originates from the Lord!


Banyak orang berkata bahwa dunia hari ini dilanda dengan penderitaan, kehilangan, dan kesulitan. Aku tidak setuju dengan pandangan ini – sesungguhnya itu semua hanyalah khayalan kita saja! Sejatinya, tidak ada kegelisahan atau penderitaan di dunia ini. Aku hanya melihat kedamaian dimana saja. Saat ada kedamaian di dalam hati kita, kita akan mampu menyaksikan kedamaian secara keseluruhan. Kegelisahan, penderitaan, kemarahan, dan sebagainya adalah reaksi, pantulan, dan gema dari keadaan di dalam diri seseorang. Penderitaan dan kesulitan, kemarahan dan kegelisahan adalah ciptaan kita sendiri. Semuanya itu bukanlah fenomena alam di dunia. Ini karena kurangnya kasih yang menyebabkan semua perbedaan, perdebatan, dan konflik di dunia, khususnya pada saat sekarang. Kasih adalah kualitas yang utama manusia. Dan keyakinan adalah dasar untuk kasih itu. Dalam mengeja kata kasih (Love), ‘L’ berarti ‘Lord’--Tuhan. Jadi, kasih sejatinya berasal dari Tuhan! (Divine Discourse, Dec 26, 2007)

-BABA

Wednesday, April 4, 2018

Thought for the Day - 4th April 2018 (Wednesday)

You must offer the Lord, not the flowers that plants grow; that will reward the plant, not you! The Lord wants you to offer the lotus that blooms in the lake of your heart, the fruit that ripens on the tree of your earthly career, not the lotus and the fruit available in the marketplace! You may ask, "Where can we find the Lord?" Well, He has given His address, in Chapter 18, Sloka 61 of the Bhagavad Gita. He declares, "O Arjuna, the Lord resides in the heart of all beings" (Ishwara Sarva Bhutanam hriddese, Arjuna, thisthathi). Now, after knowing this, how can you look down on any living being in contempt or how can you revel in hating or indulge in the pastime of ridiculing? Every individual is charged with the Divine Presence, moved by Divine attributes. Love, honour, friendliness - these are what each one deserves from you. Give these in full measure.


Engkau harus mempersembahkan kepada Tuhan, bukan bunga yang dihasilkan oleh tanaman; itu akan menjadi pahala untuk tanaman dan bukan dirimu! Tuhan menginginkanmu untuk mempersembahkan bunga teratai yang mekar di danau hatimu, buah yang matang di pohon karir duniawimu, bukan bunga teratai atau buah yang tersedia di pasar! Engkau mungkin bertanya, "Dimana kita dapat menemukan Tuhan?" Tuhan telah memberikan alamat-Nya dalam bab 18, Sloka 61 Bhagavad Gita. Tuhan menyatakan, "O Arjuna, Tuhan bersemayam di dalam hati semua makhluk" (Ishwara Sarva Bhutanam hriddese, Arjuna, thisthathi). Sekarang, setelah mengetahui hal ini, bagaimana engkau dapat memandang remeh makhluk hidup apapun dalam penghinaan atau bagaimana engkau dapat bersenang-senang dalam membenci atau menikmati kesenangan dalam mengejek? Setiap individu diliputi dengan kehadiran Tuhan, bergerak dengan perlengkapan Tuhan. Kasih, kehormatan, keramahan – semua ini adalah apa yang setiap orang layak diterima darimu. Berikan semua ini sepenuhnya. [Divine Discourse, Apr 16, 1964]

-BABA