Sunday, May 31, 2015

Thought for the Day - 31st May 2015 (Sunday)

The human body is a cover, a receptacle for the Atma. Elements like water and wind are intimately bound up with the body. Therefore, the Atma Principle, which is the core, is not cognised. People have lost awareness of this Principle, which is Truth. The Atma is in the body, but not of it. The Atma Principle, though active in the body, does not belong to the body. The ability of the eyes to see and the ears to hear are given by the Atma. The eyes and ears are sustained by the Omni-Consciousness, the Divine Principle. Your Soul (Divine Self) is the real ‘You’, the Will (Sankalpa). The elements (ether, wind, fire, water, and earth) that constitute the cosmos operate only as prompted by the supreme wisdom, which energizes them. The entire world of living beings - both fixed and moving are sustained by supreme wisdom. That supreme wisdom is Atma, the Brahman and the visible, objective world.

Tubuh manusia adalah sebuah kain penutup dan sebuah wadah bagi Atma. Unsur-unsur seperti air dan angin sangat erat terikat dengan tubuh. Maka dari itu, prinsip Atma yang merupakan intisari adalah tidak diketahui. Orang-orang telah kehilangan kesadaran akan prinsip ini yang merupakan kebenaran. Atma ada di dalam tubuh dan bukan merupakan tubuh. Prinsip Atma walaupun bersifat aktif di dalam tubuh tapi bukan milik tubuh. Kemampuan mata untuk melihat dan telinga untuk mendengarkan diberikan oleh Atma. Mata dan telinga ditopang oleh prinsip Tuhan yang merupakan kesadaran semesta. Jiwamu (keillahian diri) adalah sejati “Engkau”, kehendak (sankalpa). Unsur-unsur seperti akasa, angin, api, air, dan tanah yang mendasari komos hanya berjalan oleh kebijaksanaan tertinggi. Seluruh dunia dari makhluk hidup – baik yang diam dan bergerak ditopang oleh kebijaksanaan yang tertinggi. Kebijaksanaan yang tertinggi itu adalah Atma, Brahman yang terlihat dalam bentuk dunia yang sebenarnya (objektif). (Sutra Vahini, Ch 5)


Saturday, May 30, 2015

Thought for the Day - 30th May 2015 (Saturday)

You pray to God for trivial worldly things. Distinguish clearly between earthly happiness and divine bliss. Ask for selfless love, which you do not have, but He has in plenty. Pray for love, peace and bliss. God is the embodiment of bliss; His love is supreme without a parallel. He knows what is good for you and will give it. He is a witness to all your thoughts, words and actions. Therefore surrender wholeheartedly unto Him, and lead an ideal life. You are all embodiments of the Divine. So love all and never hurt anyone. If you harm anyone, you are harming the Divine. Love is as vital for a human as fire is vital for a lump of coal to sparkle. Get rid of all your weaknesses by concentrating on Divine Love, as grace is ever flowing and confers the greatest strength. God is the Cosmic Director and all humans are mere actors. So perform your role to please Him!

Engkau berdoa kepada Tuhan hanya untuk benda-benda duniawi yang sepele. Bedakan dengan jelas antara kesenangan duniawi dengan kebahagiaan illahi. Mintalah cinta kasih yang tulus yang engkau tidak miliki dan yang Tuhan banyak memilikinya. Berdoalah untuk cinta kasih, kedamaian, dan kebahagiaan. Tuhan adalah perwujudan dari kebahagiaan; cinta kasih-Nya adalah yang tertinggi tanpa ada yang menyamainya. Tuhan mengetahui apa yang baik bagimu dan Beliau akan memberikannya. Tuhan adalah sebagai saksi dari semua pikiran, perkataan, dan tindakanmu. Maka dari itu berserah dirilah sepenuhnya kepada-Nya dan jalanilah hidup yang ideal. Engkau semuanya adalah perwujudan dari keillahian. Jadi kasihi semuanya dan jangan pernah menyakiti siapapun juga. Jika engkau menyakiti seseorang, itu berarti engkau menyakiti Tuhan. Cinta kasih adalah bersifat sangat penting dan vital bagi manusia sama halnya dengan api bagi batubara untuk bercahaya. Hilangkan semua kelemahanmu dengan konsentrasi pada kasih Tuhan sebagai rahmat yang selamanya mengalir dan memberikan kekuatan yang terbesar. Tuhan adalah sutradara agung dan semua umat manusia hanyalah pemeran belaka. Jadi mainkan peranmu untuk menyenangkan-Nya! (Divine Discourse, 17 July 1997)


Friday, May 29, 2015

Thought for the Day - 29th May 2015 (Friday)

Vikshepa is an affliction of the mind that consists of worldly distractions; various spiritual exercises (sadhanas) are undertaken to overcome it and realise the Divine. The sadhanas include meditation, concentration and performance of good deeds for achieving purity of mind. When one succeeds in overcoming Vikshepa, one is confronted with avarana (akin to a thick covering in which one is enveloped). This covering is known as maya (delusion). It envelops everything in the universe. The eyes with which one can see everything that is outside cannot see themselves. Likewise, Maya, which reveals the entire universe, cannot reveal the Divine. Because we are enveloped in Maya, we seek worldly pleasures and do not seek our own Divine essence. ‘Yaddhrushyam than-nashyathi - Whatever is perceptible, is perishable.’ In the pursuit of fleeting and impermanent pleasures, we are throwing away the permanent, the unchanging and the real elements in human life.

Vikshepa adalah sebuah penderitaan dari pikiran yang terdiri dari ganggungan duniawi; berbagai jenis latihan spiritual (Sadhana) dilakukan untuk mengatasi hal ini dan menyadari keillahian. Latihan spiritual (sadhana) termasuk meditasi, konsentrasi, dan melakukan perbuatan baik adalah untuk bisa mendapatkan kemurnian pikiran. Ketika seseorang berhasil dalam mengatasi Vikshepa maka ia akan dihadapkan dengan Aravana (mirip dengan penutup tebal yang membungkus seseorang). Pembungkus ini disebut dengan maya (khayalan). Maya membungkus segala sesuatu yang ada alam semesta ini. Maya digunakan seseorang untuk melihat segalanya yang ada di luar namun tidak bisa melihat di dalam dirinya sendiri. Sama halnya, Maya yang mengungkapkan seluruh alam semesta, tidak bisa mengungkapkan Tuhan. Karena kita dibungkus oleh Maya, kita mencari kesenangan duniawi dan tidak mencari dasar keillahian di dalam diri kita. “Yaddhrushyam than-nashyathi – Apapun yang nampak jelas, adalah mudah rusak’. Dalam mengejar kesenangan sesaat dan tidak kekal, kita sedang membuang yang kekal dan tidak berubah yang merupakan unsur yang sebenarnya dalam kehidupan manusia. (Divine Discourse, 17 March 1983)


Thought for the Day - 28th May 2015 (Thursday)

The Gayatri mantra is the royal road to Divinity. There is no fixed time or regulation for reciting it. Nevertheless, the young celibates (Brahmacharis) would do well to recite it during the morning and evening Sandhya (twilight hours) to derive the greatest benefit. However because the Divine is beyond time and space, anytime and anyplace is appropriate for repeating God's name. The Bhagavata declares: "Sarvadaa, sarvatra, sarva kaleshu Hari chintanam - Contemplate on God always, at all places and at all times." You must learn to think of God in whatever you see, whatever you do and whatever you touch. You must realise that you are playing temporary roles on the cosmic stage. You must get back to your true Divine Selves when the play is over. By regularly reciting the Gayatri, you must purify your lives and be an example to the world in righteous living.

Mantra Gayatri adalah jalan raya menuju Tuhan. Tidak ada penentuan waktu dan peraturan dalam melantunkan mantra Gayatri. Namun demikian, para pencari pengetahuan akan melantunkan mantra Gayatri pada waktu pagi hari dan malam hari (waktu senja) untuk bisa mendapatkan manfaat yang terbaik. Bagaimanapun juga karena Tuhan adalah melampaui waktu dan ruang, kapanpun juga dan dimanapun juga adalah boleh untuk mengulang-ulang nama Tuhan. Dalam Bhagavata disebutkan: "Sarvadaa, sarvatra, sarva kaleshu Hari chintanam – Selalulah memusatkan pikiran kepada Tuhan di semua tempat dan sepanjang waktu." Engkau harus belajar memikirkan Tuhan dalam apapun yang engkau lihat, apapun yang engkau kerjakan dan apapun yang engkau sentuh. Engkau harus menyadari bahwa engkau sedang memainkan peran sementara di panggung kosmik. Engkau harus kembali ke diri illahimu yang sejati ketika permainan telah usai. Dengan secara teratur melantunkan mantra Gayatri, engkau harus memurnikan hidupmu dan menjadi teladan bagi dunia dengan hidup yang benar. (Divine Discourse, 17 Mar 1983)


Wednesday, May 27, 2015

Thought for the Day - 27th May 2015 (Wednesday)

Youth today are becoming exceedingly greedy and totally selfish, harboring feelings of hatred and jealousy. Their lifestyle of enjoying worldly and carnal pleasures (bhoga) will result in diseases (roga). In ancient times, youth and saints alike, lead a life of sacrifice and sense control (thyaga and yoga) and enjoyed peace and joy. When going on a tour, people like to carry sufficient money for expenses and when they finish the journey or reach the goal, they deposit or hand over the remainder to a trustworthy friend and sleep soundly. All of you are blessed with the wealth of love from the moment of your birth. In this field of worldly activity (Karmakshetra), it is very difficult to safeguard the treasure of love (Prema). Therefore you need to find a faithful friend to hand it over - and the only true friend is God. So hand over the wealth of your love to God, and lead a secured life filled with peace and joy.

Para pemuda hari ini menjadi sangat serakah dan benar-benar egois, menyimpan perasaan benci dan iri hati. Gaya hidup mereka adalah menikmati kesenangan duniawi dan jasmani (bhoga) yang akan menghasilkan penyakit (roga). Pada zaman dahulu, para pemuda dan orang suci adalah sama-sama menjalani kehidupan dalam pengorbanan dan pengendalian indria (tyaga dan yoga) dan menikmati kedamaian dan suka cita. Ketika ada sebuah perjalanan, orang-orang suka membawa uang yang cukup untuk biaya perjalanan dan ketika mereka menyelesaikan perjalanan atau telah mencapai tujuan, mereka menyimpan atau menyerahkan uang yang tersisa kepada mereka yang dapat dipercaya dan mereka dapat tidur dengan nyenyak. Semua dari kalian telah diberkati dengan kekayaan berupa cinta kasih yang diberikan pada saat lahir ke dunia. Dalam aktivitas duniawi (Karmakshetra), adalah sangat sulit untuk menjaga harta karun cinta kasih (Prema). Maka dari itu engkau perlu menemukan teman yang sangat dapat dipercaya dan menyerahkan kepadanya – dan satu-satunya teman sejati adalah Tuhan. Jadi berikan kekayaan cinta kasihmu kepada Tuhan dan jalanilah hidup yang aman penuh dengan kedamaian dan suka cita. [Divine Discourse, July 17, 1997]


Tuesday, May 26, 2015

Thought for the Day - 26th May 2015 (Tuesday)

There are three aspects in human beings called Mala, Vikshepa and Avarana. Of these, Mala represents the fruits of actions done in previous births and is the cause of ashanthi (mental disquiet). Until you eliminate this, it will give rise to trouble and sorrow. When you get rid of the burden of the evil effects of karma or past action, you can attain peace. To get rid of Mala, you must engage yourself in sacred tasks. The Lord judges you by the sincerity of your thoughts, not by the forms of your worship. The Lord sees your devotion (bhakthi) and not your power (shakti). He cares for your qualities (gunas) and not your caste, creed or lineage (kula). He looks at your heart (chittam) and not at your wealth (vittham). You must strive to purify your heart and engage yourself in righteous action, with devotion and integrity. No spiritual discipline (sadhana) will serve its purpose if you are involved in sinful deeds.

Ada tiga aspek dalam diri manusia yang disebut dengan Mala, Vikshepa, dan Avarana. Dari ketiga aspek ini, Mala melambangkan hasil dari perbuatan yang dilakukan pada kehidupan sebelumnya dan yang menyebabkan ashanthi (kegelisahan mental). Sampai engkau bisa menghapuskan bagian ini, maka ini akan menimbulkan masalah dan penderitaan. Ketika engkau melepaskan beban dari akibat buruk dari karma atau perbuatan yang dulu, maka engkau bisa mendapatkan kedamaian. Untuk bisa melepaskan Mala, engkau harus melibatkan dirimu dalam perbuatan yang mulia. Tuhan menilai dirimu dengan ketulusan dari pikiranmu dan bukan dari bentuk pemujaanmu. Tuhan melihat cinta kasihmu kepada Tuhan (bhakthi) dan bukan kekuatanmu (shakti). Beliau peduli pada kualitas di dalam dirimu (guna) dan tidak pada suku bangsa, keyakinan atau garis keturunanmu (kula). Tuhan melihat ke dalam hatimu (chittam) dan bukan pada kekayaanmu (vittham). Engkau harus berusaha untuk menyucikan hatimu dan melibatkan dirimu dalam perbuatan yang baik dengan penuh bhakti dan integritas. Tidak ada latihan spiritual (sadhana) yang akan mencapai tujuannya jika engkau terlibat di dalam perbuatan yang penuh dosa.  [Divine Discourse, 17 March 1983]


Monday, May 25, 2015

Thought for the Day - 25th May 2015 (Monday)

So long as a person is puffed up with pride, none, not even their spouse and children will love them. You must shed your ego and arrogance, even to be loved by your own family. You will definitely suffer grief and misery as long as you are prone to anger. It is only when you give up anger, you can be happy. So long as you go on multiplying your desires, you will continue to be in want. Control your desires, you will attain prosperity. Greed makes a person unhappy and miserable. When greed and miserliness are given up, you can lead an enjoyable and peaceful life. The human race, the whole world and the objects therein are interrelated by the bond of love. God is love and resides in the heart of every one as the Embodiment of love. Based on this truth we pray, "Samastha-Loka-Sukhino Bhavanthu" (May all the beings in all the worlds be happy).

Selama manusia menyombongkan diri dengan keangkuhan, tidak akan ada yang mencintai mereka bahkan pasangan dan anak mereka. Engkau harus melepaskan ego dan keangkuhanmu, bahkan untuk disayangi oleh keluargamu sendiri. Engkau pastinya akan menderita kesedihan dan kesengsaraan selama engkau cepat marah. Hanya ketika engkau melepaskan amarahmu, engkau dapat menjadi bahagia. Selama engkau masih terus meningkatkan keinginanmu maka engkau akan terus menginginkan apapun juga. Kendalikan keinginanmu, engkau akan mencapai kesejahtraan. Ketamakan membuat seseorang menjadi tidak bahagia dan sengsara. Ketika ketamakan dan sifat kikir dilepaskan, engkau dapat masuk pada kehidupan yang menyenangkan dan penuh kedamaian. Umat manusia, seluruh dunia dan benda-benda di dalamnya saling berkaitan dalam ikatan cinta kasih. Tuhan adalah cinta kasih dan bersemayam di dalam hati setiap orang sebagai perwujudan dari cinta kasih. Berdasarkan kebenaran ini maka kita berdoa, "Samastha-Loka-Sukhino Bhavanthu" (Semoga semua makhluk hidup di dunia berbahagia). [Divine Discourse, July 17, 1997]


Thought for the Day - 24th May 2015 (Sunday)

The world is a scriptural text. Time is a great preacher. There is no greater teacher than your heart. God is the greatest friend. With full faith in these four entities, lead your life on this earth. Prema (love) is the natural possession of every human being. It is the fruit of the tree of life. There are certain impediments to taste a fruit. You first have to remove the skin and the rind covering the pulp inside and also cast off the seed. The fruit of love is covered by the thick skin of ego. You have to peel off this skin of ‘mine’ and ‘thine’. Then only you can taste the sweet juice. That is why the Vedas describe God as Raso Vai Saḥ (Supreme Sweet Essence). So develop pure love, and through it establish unity with the Divine. The path of love is the shortest and the fastest road to realize the Divine.

Dunia adalah teks dari naskah suci. Waktu adalah pengkhotbah yang baik. Tiada ada guru yang lebih baik daripada hatimu. Tuhan adalah teman yang terbaik. Jalanilah hidupmu di dunia dengan penuh keyakinan dalam empat entitas ini. Cinta kasih (prema) adalah milik setiap manusia dimana cinta kasih adalah buah dari pohon kehidupan. Ada beberapa rintangan dalam upaya untuk mencicipi buah tersebut. Pertama, engkau harus membuang kulit luar yang membungkus isi dari buah itu dan juga membuang biji yang ada di dalamnya. Buah cinta kasih ditutupi oleh kulit luar yang tebal yang disebut dengan ego. Engkau harus mengupas kulit yang disebut dengan ‘milikku’ dan milikmu’. Kemudian engkau hanya merasakan jusnya yang manis. Itulah sebabnya mengapa di dalam Weda Tuhan disebut dengan Raso Vai Sah (intisari manis yang tertinggi). Jadi kembangkanlah cinta kasih yang murni dan melalui cinta kasih ini bangunlah kesatuan dengan illahi. Jalan cinta kasih adalah jalan yang terpendek dan tercepat untuk menyadari keillahian. [Divine Discourse, July 17, 1997]


Saturday, May 23, 2015

Thought for the Day - 23rd May 2015 (Saturday)

The attitude of the worshipper and the worshipped is the seed of devotion (bhakthi). First, the worshipper’s mind is attracted by the special qualities of the object of worship. The worshipper tries to acquire these special qualities. This is spiritual discipline (Sadhana). In the early stages of spiritual discipline, the distinction between worshipper and worshipped is clear, but as the sadhana progresses, it diminishes and, when attainment is reached, there is no distinction whatsoever. Whatever be the object of worship that you love and seek through sadhana, have firm faith that you and He are one. You must entertain only one wish: the realisation of the Lord (Iswara Sakshatkara). Give no room in the mind for any other wish. Then regardless of joy and sorrow, without any worry about your own satisfaction, you will engage in spiritual discipline firmly, uninterruptedly, with full conviction; and once you understand the Reality, you will have full contentment.

Sikap dari pemuja dan yang dipuja adalah benih dari cinta kasih kepada Tuhan (bhakthi). Pertama-tama, pikiran pemuja ditarik pada sifat-sifat khusus dari objek yang dipuja. Pemuja mencoba untuk memperoleh sifat-sifat yang khusus ini. Ini adalah disiplin latihan spiritual (Sadhana). Dalam tahap awal dari disiplin spiritual, perbedaan antara pemuja dan yang dipuja adalah jelas, namun ketika disipilin spiritual semakin berkembang maka perbedaan itu akan berkurang dan ketika pencapaian telah dapat diraih maka tidak ada lagi perbedaan apapun juga. Apapun objek ibadah yang engkau cintai dan cari dalam disipilin spiritual, milikilah keyakinan yang kuat bahwa engkau dan Ia adalah satu. Engkau harus  hanya mempunyai satu keinginan yaitu kesadaran akan Tuhan (Iswara Sakshatkara). Jangan berikan ruang di dalam pikiran untuk keinginan yang lainnya. Kemudian terlepas dari suka dan duka, tanpa cemas lagi tentang kepuasan sendiri, engkau akan terlibat di dalam disipilin spiritual yang mantap, tanpa putus dan dengan penuh keyakinan; dan sekali engkau mengerti kenyataan ini, maka engkau akan dipenuhi dengan kepuasan hati. [Prema Vahini, Ch 39]


Friday, May 22, 2015

Thought for the Day - 22nd May 2015 (Friday)

Everything is suffused with love (Prema). So we can unhesitatingly declare that the Supreme Lord is the form of love (prema-swarupa). In all living things, love manifests itself in various forms and is known through many names such as love for offspring, affection, devotion to God, desire (vaatsalya, anuraaga, bhakthi, ishtam) etc., based on the direction in which it is channelised. But whatever the form, the essence is the same. On the basis of this knowledge and experience, it is clear that the supreme Lord is the inner Atma of all created things (Sarva-butha-antar-atma). That which teaches the highest knowledge of this unity is known as nondualism (a-dvaitha); that which teaches the principle of the lover and the Loved is known as dualism (dvaita); that which teaches about all three, love, lover, and loved — or nature (prakriti), individual (jiva), and Brahman— is known as qualified nondualism (visishta-advaita). But these three are one.

Segala sesuatunya diliputi oleh cinta kasih (Prema). Jadi kita dapat menyatakan tanpa adanya keraguan bahwa Tuhan yang tertinggi dalam wujud cinta kasih (prema-swarupa). Di dalam semua makhluk hidup, cinta kasih mewujudkan dirinya dalam berbagai bentuk dan diketahui melalui banyak nama seperti cinta kasih pada anak cucu, kasih sayang, rasa bhakti kepada Tuhan, keinginan (vaatsalya, anuraaga, bhakthi, ishtam) dsb., berdasarkan pada arah kemana cinta kasih itu disalurkan. Namun apapun wujudnya, intisari dari semuanya adalah sama. Dengan berdasarkan pada pengetahuan dan pengalaman ini, sangatlah jelas bahwa Tuhan yang tertinggi adalah Atma yang ada di dalam diri dari semua ciptaan (Sarva-butha-antar-atma). Hal ini mengajarkan kepada kita pengetahuan yang tertinggi tentang kesatuan yang dikenal dengan nama tanpa dualitas (a-dvaitha); dan juga yang mengajarkan tentang prinsip yang mencintai dengan yang dicintai disebut dengan dualitas (dvaita); juga mengajarkan kita tentang ketiganya yaitu cinta, yang mencintai, dan yang dicintai – atau alam (prakriti), individu (jiwa), dan Brahman – dikenal sebagai tanpa dualitas yang bermutu (visishta-advaita). Namun ketiga bagian itu adalah satu adanya. [Prema Vahini, Ch 38]


Thursday, May 21, 2015

Thought for the Day - 21st May 2015 (Thursday)

The jivi (individual self) believing that it is divided from the whole, the Universal, is subject to desire and despair, love and hate, grief and joy, and is attracted by the world of name and form. Such a person is characterised as ‘bound’, and urgently needs liberation. To be liberated, you must give up dependence and attachment to the creation (prakriti). The blind cannot be saved by the blind. How can a person who is as helpless as the other, remove their poverty, suffering, and pain? The poor approach the affluent; the visually impaired seek guidance from those that can see. So too, one who is bound and blinded by the dualities of creation must take refuge in the inexhaustible treasure of compassion, power, and wisdom, namely, the Divine Soul (Atma). Then, you will be rid of destitution and grief, and revel in the wealth of spiritual bliss (Ananda).

Jiwa (diri individu) yang percaya bahwa ia dibagi dari yang utuh, universal, adalah tunduk pada keinginan dan rasa putus asa, cinta dan benci, kesedihan dan suka cita, dan ditarik oleh dunia dari rupa dan nama. Orang tersebut ditandai sebagai “terikat” dan sangat membutuhkan kebebasan. Untuk bisa mendapatkan kebebasan, engkau harus melepaskan ketergantungan dan keterikatan pada ciptaan (prakriti). Seorang yang buta tidak akan bisa diselamatkan oleh orang yang buta. Bagaimana seseorang yang tidak berdaya seperti yang lainnya, menghilangkan kemiskinan, penderitaan, dan rasa sakit? Mereka yang miskin mendekati yang kaya; mereka yang tuna netra mencari bimbingan dari mereka yang bisa melihat. Begitu juga, seseorang yang terikat dan dibutakan oleh dualitas ciptaan harus berlindung di dalam kekayaan welas asih, kekuatan, dan kebijaksanaan yang tidak akan habis yaitu pada Atma. Kemudian, engkau akan terbebas dari kemiskinan dan kesedihan serta bersuka cita di dalam kekayaan berupa kebahagiaan spiritual (Ananda). [Sutra Vahini, Ch 6.]


Wednesday, May 20, 2015

Thought for the Day - 20th May 2015 (Wednesday)

People worship the Supreme Lord (Paramatma) as existing in some faraway place – say Ayodhya or Dwaraka and nowhere else, or as found in places where some image or picture exists and nowhere else. They worship that form itself as complete (Purna). Of course, it is not wrong to do so. What is wrong is to proclaim that only their belief is the truth, that the names and forms that they have ascribed are the only names and forms of the Divine, and that all other forms and names are worthless and inferior. It should be realized that the names and forms that are the ideals of others are as dear and sacred to those others as such names and forms are to one-self. Everyone should acquire the vision that all forms of the ideal are equally valid and true, without giving room to senseless hatred. Without internalizing this wisdom, it is impossible to realize the Divine.

Orang-orang memuja Tuhan yang Maha Esa (Paramatma) sebagai Tuhan yang berada di tempat yang sangat jauh - dengan berkata Ayodhya atau Dwaraka dan tempat yang lain, atau tempat lain seperti yang dilukiskan sesuai dengan yang ada di gambar atau lukisan. Mereka memuja wujud itu sebagai wujud yang paling sempurna (Purna). Tentu saja bahwa adalah tidak salah meyakini hal itu. Apa yang salah adalah dengan menyatakan bahwa hanya keyakinan mereka adalah kebenaran dan hanya nama serta wujud yang berasal dari mereka  merupakan satu-satunya nama dan wujud Tuhan, sedangkan nama dan wujud yang lainnya adalah tidak bernilai dan rendah. Perlu disadari bahwa nama dan wujud yang menjadi idaman bagi yang lainnya adalah sama baik dan suci seperti nama dan wujud bagi dirinya sendiri. Setiap orang seharusnya mendapatkan pandangan bahwa semua wujud yang dipuja adalah sama benar dan sah, tanpa memberikan ruang kepada kebencian yang tidak ada gunanya. Tanpa internalisasi kebijaksanaan ini, adalah tidak mungkin untuk menyadari Tuhan. (Prema Vahini, Ch 36)


Tuesday, May 19, 2015

Thought for the Day - 19th May 2015 (Tuesday)

Though religions have distinct names and doctrines, in essence, all are one. They emphasize the common core. Unfortunately, the apparent differences amongst religions have subverted the amity of all men. All religious dogmas, except a few, can easily be harmonized and reconciled. The experience and wisdom of great seers who expounded universal love are not appreciated, accepted, and respected. The same God is extolled and adored in various names through varied ceremonial rituals. In every age, for every race or community, God has sent prophets to establish peace and goodwill. All great people are images of God. They form one single caste in the realm of God; they belong to one nation, the divine fellowship. The principle of harmonizing is the very heart of all religions and faiths. Interest yourself in understanding the practices and beliefs of others. This cleanses your mind. Then, with a loving heart, you will attain the Divine Presence.

Walaupun agama memiliki nama dan doktrin yang berbeda namun pada dasarnya semuanya adalah satu. Semua agama menekankan pada intisari yang umum. Namun sangat disayangkan, semua perbedaan yang ada diantara agama telah menumbangkan persahabatan dari semua manusia. Semua ajaran agama dapat dengan mudah dipadukan dan disesuaikan, mungkin ada beberapa bagian kecil yang tidak bisa disesuaikan. Pengalaman dan kebijaksanaan para guru-guru suci yang telah menguraikan secara terperinci tentang cinta kasih universal adalah tidak tidak dihargai, diterima, dan dihormati. Tuhan yang sama dimuliakan dan dipuja dalam berbagai nama melalui berbagai kegiatan upacara suci. Di dalam setiap zaman, untuk setiap ras dan masyarakat, Tuhan telah mengirimkan guru-guru suci untuk menegakkan kembali kedamaian dan kehendak baik. Semua guru-guru suci itu adalah perwujudan dari Tuhan. Mereka membentuk satu suku dalam kerajaan Tuhan; mereka adalah milik dan satu bangsa, yaitu persekutuan Tuhan. Prinsip harmonisasi adalah menjadi intisari dari semua agama dan keyakinan. Kembangkan minat di dalam dirimu untuk memahami praktik dan keyakinan yang lainnya. Hal ini akan membersihkan pikiranmu. Kemudian dengan hati welas asih maka engkau akan dapat mencapai kehadiran Tuhan. (Sutra Vahini, Ch 4)


Monday, May 18, 2015

Thought for the Day - 18th May 2015 (Monday)

The scriptures are as affectionate as a mother. They teach lessons like a mother would do for her children, in conformity with the level of intelligence and the needs of time and circumstance. A mother with two children gives the strong and healthy one every item of food for which it clamours, but she takes great care not to overfeed the unwell child and gives it only items that can restore it soon to health. Can we, on that account, accuse mother of being partial to one and prejudiced against the other in conferring love? Scriptures also teach you the secret and value of work (karma). All must be instructed on how to transform work into beneficial activity. Yet, work is not all. Human life lasts but a moment; it is a bubble on water. Upon this ephemeral bubble of life, do not build a structure of desires and attachments. Wisdom warns that it might collapse or crumble any moment.

Naskah-naskah suci adalah seperti ibu yang penuh dengan kasih sayang. Naskah-naskah suci mengajarkan pelajaran seperti halnya ibu yang akan melakukan apapun untuk anak-anaknya, sesuai dengan tingkat kecerdasan dan kebutuhan waktu dan keadaan. Seorang ibu dengan dua anak memberikan setiap bagian makanan kepada anaknya yang kuat dan sehat, namun ibu ini juga akan memberikan perhatian yang sangat besar dengan tidak memberikan makanan terlalu sering bagi anaknya yang kurang sehat dan hanya memberikan makanan yang dapat mengembalikan kesehatan anaknya. Dapatkah kita menuduh sang ibu dalam situasi ini bersikap pilih kasih pada satu anak dan merugikan anak yang lainnya dalam memberikan kasih sayang? Naskah-naskah suci juga mengajarkanmu rahasia dan nilai sebuah kerja (karma). Semua harus diajarkan tentang bagaimana merubah kerja menjadi kegiatan yang bermanfaat. Namun, kerja bukanlah segalanya. Kehidupan manusia hanyalah sementara, ini seperti gelembung di atas air. Karena hidup hanya sebentar saja, jangan membangun bangunan keinginan dan keterikatan. Kebijaksanaan memperingatkan bahwa bangunan ini mungkin akan runtuh atau hancur setiap saat. (Sutra Vahini, Ch 4)


Sunday, May 17, 2015

Thought for the Day - 17th May 2015 (Sunday)

Where have your good old human qualities gone? Truth, tolerance, morality, discipline - when would you accept them? Arise, awake! Establish the Kingdom Divine (Rama-Rajya), resplendent with mansions of truth, right conduct, and peace. Remember and learn from the rule of divine personages, and their characteristics. Quench the burning flames of ignorance, peacelessness, injustice, and envy with the waters of love, forbearance, and truth. Love your fellow brethren. Develop the feeling of mutuality. Sweep away all jealousy and anger. All of you must realise your own faults and understand that there is no use in searching for faults in others. It is a mere waste of time; it also breeds quarrels. So give up that trait. If you miss this opportunity, when will you ever do it? Don’t yield to dejection, but put an end to all the unrighteousness activities of your past. Repent sincerely and tread the path of prayer to God and doing good deeds, and develop brotherly love.

Kemanakah sirnanya kualitas baik manusia yang sebenarnya? Kebenaran, toleransi, moralitas, disiplin - kapan engkau mau menerima semua sifat itu kembali? Bangun dan bangkit! Bangunlah kerajaan illahi (Rama-Rajya), gemerlapan dengan bangunan-bangunan besar kebenaran, kebajikan dan kedamaian. Mengingat dan belajar dari teladan para tokoh illahi dan karakteristik mereka. Padamkanlah nyala api kebodohan, tanpa kedamaian, ketidakadilan, dan iri hati dengan air cinta kasih, kesabaran, dan kebenaran. Sayangilah saudaramu. Kembangkan perasaan kebersamaan. Sapulah dengan bersih semua kualitas kecemburuan dan kemarahan. Semua dari engkau harus menyadari kesalahanmu sendiri dan memahami bahwa tidak ada gunanya mencari kesalahan orang lain. Hal ini hanyalah membuang-buang waktu saja; dan ini juga akan memunculkan pertengkaran. Jadi lepaskanlah semua sifat-sifat buruk itu. Jika engkau kehilangan kesempatan ini, kapan engkau akan pernah melakukannya? Jangan menyerah pada kekesalan, namun akhiri semua kegiatan masa lalumu yang tidak baik. Bertobatlah dengan tulus dan menapaki jalan doa kepada Tuhan dan melakukan perbuatan yang baik, serta kembangkan kasih persaudaraan. (Prema Vahini Ch 34)


Saturday, May 16, 2015

Thought for the Day - 16th May 2015 (Saturday)

Your inborn desires and impressions (samskaras) make or mar you, the individual (jivi). The Samskaras are the steps that take all individual souls to the goal. Your thoughts make you experience and wade through gain, loss and grief. Only through noble thoughts and righteous actions you can attain the Lord. So, every individual must be fully engaged in good action (sath-karmas). Righteous Conduct is the most authentic form of worship (puja). It is the best form of remembering the Lord. It is the highest devotional song. It spreads love, without distinction and difference. When one’s duty is done righteously and selflessly, it becomes a loving service to the Lord. Be engaged in such noble actions (karmas). Revel uninterruptedly in the thoughts of the Lord. This is the royal road to the goal you have to reach.

Keinginan dan kesanmu yang dibawa sejak lahir (samskaras) yang membentuk dan merusakmu pada level individu (jivi). Samskaras adalah langkah-langkah yang membawa semua jiwa menuju pada tujuan. Pikiranmu membuatmu mengalami dan melangkah melalui berbagai keuntungan, kerugian, dan kesedihan. Hanya melalui pikiran-pikiran yang mulia dan perbuatan yang baik yang dapat membuatmu mencapai Tuhan. Jadi, setiap individu sepenuhnya harus terlibat dalam perbuatan yang baik (sath-karmas). Kebajikan adalah wujud ibadah (puja) yang paling dapat dipercaya. Ini adalah bentuk yang terbaik untuk mengingat Tuhan dan merupakan nyanyian kebhaktian yang paling tinggi. Kebajikan menyebarkan kasih yang tanpa pembedaan dan perbedaan. Ketika kewajiban seseorang dijalankan dengan benar dan tulus, maka itu akan menjadi pelayanan yang penuh kasih kepada Tuhan. Terlibatlah di dalam kegiatan yang mulia seperti itu. Bersuka cita yang tanpa putus dalam memikirkan Tuhan. Ini adalah jalan megah pada tujuan yang harus engkau raih. (Prema Vahini, Ch 29)


Friday, May 15, 2015

Thought for the Day - 15th May 2015 (Friday)

Every living being starts on food and yearns slowly to reach the peak of spiritual bliss. Let all your efforts and undertakings be directed to the acquisition of spiritual bliss. The Taithiriya Upanishad clearly elucidates spiritual bliss as the urge for birth, growth, decay, and death. It calls out that all are born in spiritual bliss, will live for it, and will die in order to attain it. However how can Brahman be spiritual bliss (ananda)? Scriptures clarify, ‘Om ithyekaaksharam Brahman - Om, the one imperishable letter is Brahman.’ It is also said, Atma (Divine Self in individual) is Brahman (Divine). Therefore the three terms Atma, Brahman, and Om are all indistinguishably the same. The Scriptures (Brahma Sutras) reveal that the outer universe, which has Divine (Brahman) as the base and the inner universe are identical and cannot be differentiated.

Setiap makhluk hidup dimulai dengan makanan dan berhasrat secara perlahan untuk meraih puncak kebahagiaan spiritual. Mari gunakan seluruh usaha dan tindakanmu untuk diarahkan agar bisa meraih kebahagiaan spiritual. Taithiriya Upanishad dengan jelas menguraikan kebahagiaan spiritual sebagai dorongan untuk kelahiran, pertumbuhan, pembusukan, dan kematian. Hal ini sebagai panggilan bahwa semua lahir dalam kebahagiaan spiritual, hidup di dalamnya, dan akan meninggal dalam upaya untuk meraihnya. Akan tetapi bagaimana bisa Brahman berada dalam kebahagiaan spiritual (ananda)? Kitab-kitab suci menjelaskan, ‘Om ithyekaaksharam Brahman - Om, huruf yang bersifat kekal adalah Brahman.’ Hal ini juga dijelaskan bahwa Atma (keillahian dalam diri setiap individu) adalah Brahman (Tuhan). Maka dari itu ketiga sebutan yaitu Atma, Brahman, dan Om semuanya adalah bersifat sama dan tidak ada bedanya. Naskah suci (Brahma Sutras) mengungkapkan bahwa alam semesta luar dimana (Brahman) sebagai dasarnya dan alam semesta yang ada di dalam adalah sama dan tidak dapat dibedakan. (Sutra Vahini, Ch 2)


Thursday, May 14, 2015

Thought for the Day - 14th May 2015 (Thursday)

When you face hardships and struggle in life, cling and hold on to the Lord. To instill courage in an infant, its mother persuades it to walk a few steps and turn, but she won’t allow it to fall. If it totters and is about to lose balance, she hurries behind and catches it! The Lord too has His eyes fixed on each individual (jivi). He has in His hand the string of the kite, which is humanity! Sometimes He may pull it, and at other times He may loosen the grip! Whatever He does, be confident and carefree, for it is He who holds the string of your life. That solid faith will fill you with the essence of love (prema-rasa). The string is the bond of love and grace and every individual (kite) is thus bound to the Lord. All you must do is to walk the path so that the bond of love and grace is strong.

Ketika engkau menghadapi kesulitan dan perjuangan di dalam hidup, berpegang teguhlah pada Tuhan. Untuk menanamkan keberanian pada seorang bayi, maka ibunya akan membujuk anaknya untuk berjalan beberapa langkah dan berbalik, namun ibunya tidak akan membiarkan bayinya jatuh. Jika bayinya mulai berjalan terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan, maka ibunya akan bergegas dari belakang dan memegangnya! Tuhan juga memiliki penglihatan yang tertuju pada masing-masing individu (jivi). Beliau memegang tali dari layang-layang itu yaitu kemanusiaan! Kadang-kadang Beliau mungkin menarik tali itu, dan pada saat yang lain Beliau akan melonggarkan pegangan pada tali itu! Apapun yang Beliau lakukan, jadilah percaya diri dan riang, karena Beliau yang memegang tali hidupmu. Keyakinan yang mantap akan memenuhimu dengan intisari dari cinta kasih (prema-rasa). Tali adalah ikatan cinta kasih dan karunia, sedangkan setiap individu (layang-layang) adalah terikat kepada Tuhan. Semua darimu harus berjalan di jalan yang ada sehingga ikatan cinta kasih dan karunia menjadi kuat. (Prema Vahini, Ch 29)


Wednesday, May 13, 2015

Thought for the Day - 13th May 2015 (Wednesday)

Twenty hammer strokes might not succeed in breaking a stone, but the twenty-first stroke might break it. Does this mean that the twenty blows were of no avail? No. The final success was a result of the cumulative effect of all the strokes. Your mind is constantly engaged in a struggle with the world, both internal and external. Needless to say, you may not succeed always. But by immersing yourself in good work and saturating your mind with the love of God, you will attain everlasting bliss. When your mind dwells on the Lord, you will be drawn only toward good deeds automatically. The object of all spiritual practices is to destroy the mind, and some day, just as the twenty-first blow broke the stone, one good deed will succeed in destroying your mind. So no good deed is a waste, every little act counts. Infuse every moment of life with love. Then evil tendencies dare not hamper your path.

Dua puluh pukulan tidak berhasil untuk memecahkan batu, namun pukulan yang ke dua puluh satu mampu memecahkan batu itu. Apakah ini berarti bahwa dua puluh pukulan awal adalah sia-sia? Tidak, keberhasilan yang akhirnya diraih adalah hasil dari kumpulan dari semua pukulan. Pikiranmu adalah selalu terlibat dalam sebuah perjuangan dengan dunia, baik bersifat ke dalam maupun ke luar. Tiada gunanya dikatakan, engkau mungkin tidak selalu berhasil. Namun dengan membenamkan dirimu sendiri ke dalam pekerjaan yang baik dan memenuhi pikiranmu dengan kasih Tuhan, engkau akan mendapatkan kebahagiaan selamanya. Ketika pikiranmu terpatri kepada Tuhan, maka engkau hanya akan ditarik secara otomatis pada perbuatan-perbuatan yang baik saja. Objek dari semua latihan spiritual adalah untuk menghancurkan pikiran dan pada suatu hari nanti, sama seperti halnya dua puluh satu pukulan dapat memecahkan batu itu, satu perbuatan baik akan berhasil menghancurkan pikiranmu. Jadi, perbuatan yang tidak baik adalah tidak ada gunanya, setiap tindakan kecil tetap dihitung. Tuangkan setiap saat di dalam kehidupan dengan kasih. Kemudian kecendrungan jahat tidak berani menghambat perjalananmu. (Prema Vahini, Ch 28)


Tuesday, May 12, 2015

Thought for the Day - 12th May 2015 (Tuesday)

Life is eternally stalked by death. Yet people don’t tolerate the very mention of the word ‘death’. It is deemed inauspicious to hear that word. Anything maybe uncertain, death is certain. It is impossible to change that law. However insufferable it is, every living thing received a ticket to death at birth and every moment is proceeding nearer and nearer to it. The samsar (life) train you are journeying on is taking you to that destination, whether you sit quiet or lie down or read or meditate or sing in the journey. Recognise this truth and turn your mind over to good mental tendencies (samskaras). Everyone must examine themselves rigorously, spot defects, and endeavour to correct them. When people uncover and realise their own defects, it is like being reborn. People then start anew, from a new childhood. This is the genuine moment of awakening.

Hidup selamanya dikejar oleh kematian. Namun orang-orang tidak tahan setiap mengatakan tentang kata ‘kematian’. Ini dianggap sebagai hal yang sial mendengar kata ini. Apapun mungkin bersifat tidak pasti, namun kematian adalah pasti. Adalah tidak mungkin untuk mengubah hukum ini. Betapapun tidak tertahankannya hal ini, setiap makhluk hidup menerima sebuah tiket kematian pada saat lahir dan setiap saat sedang melanjutkan semakin dekat dan semakin dekat dengan kematian. Samsara (hidup) melatihmu menempuh perjalanan ini untuk menuju pada tujuan itu, apakah engkau duduk tenang atau berbaring atau membaca atau meditasi atau bernyanyi dalam perjalanan ini. Sadarilah kebenaran ini dan ubahlah pikiranmu pada kecenderungan mental yang baik (samskara). Setiap orang harus memeriksa diri mereka sendiri secara ketat, bagian yang cacat dan berusaha untuk memperbaiki semuanya itu. Ketika orang-orang mengungkap dan menyadari cacat mereka sendiri, hal ini seperti lahir kembali. Orang-orang kemudian mulai lagi, mulai dari masa anak-anak yang baru. Ini adalah saat-saat kebangkitan yang asli. (Prema Vahini, Ch 27)


Monday, May 11, 2015

Thought for the Day - 11th May 2015 (Monday)

When the rains pour on the mountain peaks and water hurries down the side, no river emerges. However, when the water flows in a single direction, first a brook, then a stream, a torrent, and finally a flooded river is formed, and the rains reach the sea. Water that runs in one direction reaches the sea; water that flows in four directions soaks in and is lost. Mental tendencies (samskaras) are like this. Of what use are they if they are all over the place? The holy stream of noble inborn desires must flow full and steady along the fields of holy thoughts and finally at the moment of death abide in the great ocean of bliss. Worthy indeed is the one who reaches such a goal! Hence from now on, use your hands and feet to perform good deeds selflessly and fix your mind on Him. Chant His name from within and practice your duty (swadharma) with utmost sincerity.

Ketika hujan jatuh di puncak gunung dan air bergegas turun ke berbagai sisi, tidak ada sungai yang terbentuk. Namun, ketika air mengalir dalam satu arah, pertama terbentuk selokan, lalu sungai kecil, aliran air yang deras, dan akhirnya terbentuk sungai yang meluap, dan hujan mencapai laut. Air yang mengalir dalam satu arah mencapai laut; air yang mengalir dalam empat arah membasahi tanah dan hilang. Kecenderungan mental (samskara) adalah seperti ini. Apa gunanya jika mereka ada pada semua tempat? Aliran suci keinginan bawaan harus mengalir penuh dan stabil pada sepanjang pikiran suci dan akhirnya pada saat kematian tinggal di dalam lautan besar kebahagiaan. Orang yang berguna, layak mencapai tujuan tersebut! Oleh karena itu mulai sekarang, gunakanlah tangan dan kaki untuk melakukan perbuatan baik tanpa pamrih dan pusatkan pikiranmu pada-Nya. Lantunkan nama-Nya dari dalam hatimu dan praktikkan kewajibanmu (Swadharma) dengan ketulusan. (Prema Vahini, Ch 28)


Sunday, May 10, 2015

Thought for the Day - 10th May 2015 (Sunday)

It is an arduous process for people to become aware of the ‘One’ that is their core. The gross body is the product of the food consumed. But within, there is a subtler force, an inner vibration named vital air (prana). The mind (manas) within is subtler still, and deeper and subtler than the mind is the intellect (vijnana). Beyond the intellect, people have in them the subtlest sheath of spiritual bliss (ananda). When one delves into this region of spiritual bliss, the reality, the Brahman or the One can be experienced. That awareness is indeed the most desirable. In the Taittiriya Upanishad, while teaching his son Brighu the Brahman phenomenon, Varuna says, “Son! Brahman cannot be seen through the eyes. Know that Brahman is that which enables the eyes to see and the ears to hear. He can be known only through extreme yearning in a cleansed mind and concentrated thought. No other means can help.”

Adalah proses yang sulit bagi orang-orang untuk menyadari 'Yang Esa' yang merupakan inti mereka. Badan kasar merupakan produk dari makanan yang dikonsumsi. Tetapi di dalamnya, ada kekuatan halus, getaran batin yang disebut udara (prana). Pikiran (manas) berada di dalamnya, dan lebih dalam dan lebih halus dari pikiran adalah intelek (vijnana). Melampaui intelek, orang-orang memiliki selubung yang paling halus yaitu kebahagiaan spiritual (ananda). Ketika seseorang menyelidiki wilayah kebahagiaan spiritual ini, realitas, Brahman, atau Yang Esa dapat dialami. Kesadaran inilah yang paling diinginkan. Dalam Taittiriya Upanishad, saat mengajar anaknya Brighu perwujudan Brahman, Varuna mengatakan, "Anakku! Brahman tidak dapat dilihat melalui mata. Ketahuilah bahwa Brahman adalah yang memungkinkan mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar. Dia bisa diketahui hanya melalui kerinduan yang mendalam pada pikiran yang murni dan penuh konsentrasi. Tidak ada cara lainnya yang bisa membantu. (Sutra Vahini, Ch 2)


Saturday, May 9, 2015

Thought for the Day - 9th May 2015 (Saturday)

In Taittiriya Upanishad, Varuna directed his son Brighu to enter upon spiritual exercises that would ultimately reveal the Truth. Brighu, with full faith in his father’s words, immersed himself in concentrated spiritual practices. When he returned and declared what he had come to know, that food was Brahman, his father told him that his answer was not right. So Brighu continued the spiritual practices and came back with deeper answers, that Prana or vital air is Brahman, then the Mind, and later that the Intellect (Vijnana) is. But each time he was sent back by his father to search deeper. After undergoing a fifth course of spiritual practices, he became aware that spiritual bliss (ananda) was Brahman. Brighu stayed in the bliss of that awareness and never needed to consult his father again. The father then, himself sought Brighu, and congratulated him and said, “Son! You have merged in that vision.” Every being must march on to the goal, from food to bliss.

Di dalam Taittiriya Upanishad, Dewa Varuna memerintahkan putranya yaitu Bhrigu untuk menjalankan latihan spiritual yang pada akhirnya nanti akan mengungkapkan kebenaran. Brighu, dengan penuh keyakinan dengan perkataan ayahnya, membenamkan dirinya dalam kosentrasi sepenuhnya pada latihan spiritual. Ketika ia datang kembali setelah menjalani latihan spiritual dan berkata bahwa ia telah mengetahui bahwa makanan adalah Brahman, ayahnya mengatakan bahwa jawabannya adalah tidak benar. Jadi Brighu melanjutkan kembali latihan spiritualnya dan datang kembali lagi dengan jawaban yang lebih dalam, ia mengatakan bahwa udara yang sangat vital atau Prana adalah Brahman, kemudian pikiran dan selanjutnya adalah intelek (Vijnana) adalah Brahman. Namun setiap jawaban yang disampaikannya maka ayahnya meminta Bhrigu untuk mencari jawaban yang lebih dalam. Setelah menjalani latihan spiritual bagian yang kelima, ia menyadari bahwa kebahagiaan spiritual (ananda) adalah Brahman. Brighu tinggal dalam kebahagiaan akan kesadaran itu dan tidak pernah memerlukan nasehat ayahnya lagi. Ayahnya kemudian mencari Bhrigu dan memberikan ucapan selamat untuknya sambil berkata, “Putraku! Engkau telah menyatu dengan pandangan itu.” Setiap makhluk harus melangkah menuju pada tujuan itu mulai dari makanan menuju pada kebahagiaan. (Sutra Vahini, Ch 2)


Friday, May 8, 2015

Thought for the Day - 8th May 2015 (Friday)

The inborn desires (samskaras) in life result in some tendencies that are stronger than the rest and stand out. The feeling that dominates the moment of death works with great force in your next lives. Therefore direct the entire current of life toward acquisition of the mental tendency (samskara) that will make your end a sweet Divine consummation. This truth must guide you for the journey of this life too, for inborn desires are the wherewithal for this journey as well as the next. Therefore from now, always keep death, which is inevitable, before the eye of memory. With this approach engage yourself in this life with good wishes for all, with strict adherence to truth, seeking always the company of the good, and with the mind always fixed on the Lord. Avoid evil deeds, hateful and harmful thoughts, and attachment to the world. If you live thus, your last moment will be pure, sweet, and blessed.

Keinginan yang dibawa sejak lahir (samskara) di dalam hidup adalah hasil dari beberapa kecenderungan yang lebih kuat daripada yang lainnya dan menonjol. Perasaan yang menguasai pada saat kematian bekerja lebih hebat dengan kekuatan yang sangat besar pada kehidupanmu yang akan datang. Maka dari itu, arahkan semua daya di dalam kehidupan   ke arah pencapaian dalam kecondongan mental (samskara) yang membuat akhir hidupmu mendapatkan penyatuan yang indah dengan Tuhan. Kebenaran ini harus menuntunmu dalam perjalanan di dalam hidup ini juga, karena keinginan yang dibawa sejak lahir adalah alat yang diperlukan juga untuk perjalanan pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu mulai dari sekarang, selalulah melihat kematian yang tidak bisa dihindari dalam ingatan kita. Dengan pendekatan ini libatkan dirimu di dalam hidup ini dengan memiliki harapan yang baik kepada semuanya, menjunjung tinggi kebenaran, selalu mencari pergaulan yang baik, dan dengan pikiran yang selalu tertuju kepada Tuhan. Hindari perbuatan yang jahat, pikiran penuh dengan kebencian dan keterikatan pada duniawi. Jika engkau hidup seperti ini maka akhir-akhir hayatmu akan menjadi suci, indah dan terberkati. (Prema Vahini, Ch 27)


Thursday, May 7, 2015

Thought for the Day - 7th May 2015 (Thursday)

God is wisdom. God dwells in all beings. God is known by various names and of these, the greatest and the most fitting is Satchitananda. Sat means that which remains unchanged in all the three periods of time – the past, the present, and the future. Strict adherence to Truth would enable you to experience Sat. Chit means total awareness or complete knowledge; it is that which enables one to experience Divinity in all its aspects. Once Sat and Chit are experienced, Ananda or bliss would follow automatically. The human body is temporary; the pleasure that it can give also is fleeting. It is meaningless to seek eternal bliss by way of instruments that are impermanent. The body only gives temporary, bodily pleasure, and the mind can at best give only mental satisfaction for a little while. Therefore you must seek that which is permanent - Bliss. God is Truth, God is Bliss. Hence seek God and live in Bliss.

Tuhan adalah kebijaksanaan. Tuhan bersemayam di dalam semua makhluk hidup. Tuhan disebut dengan banyak nama dan dari begitu banyak nama, nama yang terbesar dan yang paling tepat adalah Satchitananda. Sat mengandung makna yang tidak mengalami perubahan dalam tiga periode waktu – masa lalu, masa kini dan masa depan. Dengan taat menjunjung tinggi kebenaran akan memungkinkan bagimu untuk bisa mengalami Sat. Chit berarti kesadaran total atau pengetahuan yang sempurna; hal ini memungkinkan bagi seseorang untuk dapat merasakan keilahiaan di dalam semua aspeknya. Sekali Sat dan Chit dapat dialami, maka Ananda atau kebahagiaan akan datang secara otomatis. Tubuh manusia bersifat sementara; kesenangan yang didapat juga cepat berlalu. Adalah tidak ada gunanya mencari kebahagiaan yang kekal dengan menggunakan sarana yang tidak kekal. Tubuh hanya memberikan hal yang sementara saja, kesenangan badan, dan pikiran dapat memberikan yang terbaik hanya pada kepuasan batin dalam waktu sebentar saja. Maka dari itu engkau harus mencari sesuatu yang bersifat kekal - Kebahagiaan. Tuhan adalah kebenaran, Tuhan adalah kebahagiaan. Oleh karena itu carilah Tuhan dan hiduplah dalam kebahagiaan. (Divine Discourse, 21 May 2000)


Wednesday, May 6, 2015

Thought for the Day - 6th May 2015 (Wednesday)

The Vedas say, “Mathru devo bhava: Revere your Mother as God.” You must revere your mother, who has brought you up with love, care and sacrifice. If one’s heart is so hard that it does not melt at the pleadings of their mother, it deserves nothing but ridicule. Always, always, love and respect your mother, your motherland, your mother-tongue and follow its culture. Never develop hatred against others, their languages or culture. Nourish and enrich your mother-tongue and motherland with all your energy and progress as much as you can, without any hesitation. Keep yourself fit for this by making the best use of all available opportunities. Develop your character as well as intelligence and health. The most reliable source of strength is within you, not in money, kinsmen, or physical acumen, but in yourself - the Soul (Atman). Know it, delve into it, draw sustenance from it, and then see it in all and serve it in all.

Dalam Weda dinyatakan, “Mathru devo bhava: Hormatilah ibumu sebagai Tuhan.” Engkau harus menghormati ibumu yang telah membesarkanmu dengan kasih sayang, sangat peduli dan berkorban untukmu. Jika hati seseorang terlalu keras sehingga tidak luluh pada permohonan dari ibu mereka maka mereka tidak layak mendapatkan apapun selain hanya cemohan saja. Selalu, selalu, sayangi dan  hormati ibumu, ibu pertiwimu, bahasa ibumu dan ikuti kebudayannya. Jangan pernah mengembangkan kebencian terhadap yang lain, bahasa atau budaya mereka. Pelihara dan pupuklah bahasa ibu dan ibu pertiwimu dengan semua energy yang engkau miliki dan kembangkanlah sebanyak yang kamu bisa, dan tanpa adanya keraguan. Jagalah dirimu tetap mantap untuk hal ini dengan menggunakan sebaik-baiknya kesempatan yang ada. Kembangkanlah karaktermu dan juga  kecerdasan dan kesehatanmu. Sumber yang dapat engkau andalkan ada di dalam dirimu dan bukan pada uang, kerabat atau kekuatan phisik, namun ada di dalam dirimu – yaitu jiwa (Atman). Ketahuilah tentang Atman, galilah lebih dalam tentang Atman, dapatkanlah dukungan darinya dan kemudian lihatlah Atman di dalam   semuanya dan layanilah Atman yang ada di dalam semuanya. (Divine Discourse, 27 Nov 1965)


Tuesday, May 5, 2015

Thought for the Day - 5th May 2015 (Tuesday)

Everyone wants to be happy. Such a desire is natural and it springs from the fact that your true nature is bliss. Bliss is God but somehow people don’t get that! You are born of joy (ananda), the basis of your life is ananda, and your goal must also be ananda. Truly speaking, it is not difficult to know what the basis and goal of life should be. Prahlada got it! He realised that God is Omnipresent and saw unity in diversity. He clearly perceived Narayana to be the substratum of everything in creation and happily surrendered to Him. His father Hiranyakasipu was just the opposite. He saw diversity in unity and became deluded by the multiplicity of forms in Creation, each with its own name. Clearly understand that you originate from God, that your life’s undercurrent is God, and your final destination also is God. Bliss should be the goal in your life, and seek it in all earnestness.

Setiap orang ingin bahagia. Keinginan seperti ini adalah alami dan ini muncul dari sebuah kenyataan bahwa sifat sejatimu adalah kebahagiaan. Kebahagiaan adalah Tuhan namun entah bagaimana orang-orang tidak memilikinya! Engkau lahir dari kebahagiaan (ananda), dasar dari hidupmu adalah ananda, dan tujuanmu juga harus ananda. Ketahuilah, tidak sulit untuk mengetahui apa dasar dan tujuan dari hidup seharusnya. Prahlada telah mendapatkannya! Ia menyadari bahwa Tuhan ada dimana-mana dan melihat kesatuan dalam keanekaragaman. Ia dengan jelas dapat merasakan Narayana sebagai dasar dari segala sesuatu di dalam ciptaan dan dengan bahagia menyerahkan diri kepada-Nya. Ayahnya yang bernama Hiranyakasipu bertentangan dengannya. Hiranyakasipu melihat keanekaragaman di dalam kesatuan dan menjadi tertipu oleh berbagai jenis bentuk di dalam ciptaan yang mana setiap bagian memiliki namanya masing-masing. Dengan jelas engkau harus mengerti bahwa engkau berasal dari Tuhan dan kekuatan yang menopang hidupmu adalah Tuhan dan tujuan akhir hidupmu juga adalah Tuhan. Kebahagiaan seharusnya menjadi tujuan di dalam hidupmu dan carilah kebahagiaan ini dengan penuh kesungguhan. (Divine Discourse, May 21 2000)


Monday, May 4, 2015

Thought for the Day - 4th May

People are so deeply involved in their lives that sometimes the span of 24 hours appears too short for a day. Drinking, eating, reading, walking, sitting, hating, dreaming, boasting, praising, weeping, laughing, craving, hoping — these fill up your day. All these activities are intimately attached to the mind. Thus your life is a collection of inborn desires (samskaras), which impacts your character. The events and activities that transpired in your life, both good and bad, that you may have forgotten through other subsequent events – did leave a residual trace of their consequences in your mind. When you try to recall the day’s events at bed-time, you remember a few – not everything. When such is the case with the happenings of a single day, what shall be said of the events in life of several months or years? When your end nears, you will remember only very few deep-rooted impressions. Hence, disciplined striving throughout the life is essential for a joyful consummation.

Orang-orang begitu dalam melibatkan hidup mereka yang kadang-kadang menghabiskan waktu 24 jam dalam sehari kelihatan begitu pendek. Minum, makan, membaca, berjalan, duduk, membenci, bermimpi, membual, memuji, menangis, tertawa, memohon dan berharap – semua hal ini mengisi hari-harimu. Semua kegiatan ini secara kuat melekat di dalam pikiranmu. Jadi hidupmu merupakan kumpulan dari keinginan yang dibawa sejak lahir (samskaras), yang mana akan memberikan pengaruh yang kuat pada karaktermu. Dua bentuk peristiwa yang terjadi di dalam hidupmu yaitu baik dan buruk yang mungkin engkau telah lupakan karena ada peristiwa lainnya yang terjadi – sebenarnya meninggalkan bekas dari hasil kejadian itu di dalam pikiranmu. Ketika engkau mencoba untuk mengingatnya kembali pada waktu tidur, engkau hanya dapat mengingatnya sebagian saja – dan tidak semuanya. Ketika kejadian itu hanya terjadi satu hari saja, apa yang dapat disampaikan pada kejadian di dalam hidup beberapa bulan atau tahun? Ketika masa hidupmu di dunia akan berakhir, engkau hanya akan mengingat sangat sedikit kesan yang sangat mendalam. Oleh karena itu, disiplin dan berusaha dengan keras dalam seluruh kehidupan adalah sangat mendasar bagi penyempurnaan yang menggembirakan. (Prema Vahini, Ch 26)


Sunday, May 3, 2015

Thought for the Day - 3rd May 2015 (Sunday)

Buddhists chant, ‘Buddham saranam gacchami. Dharmam saranam gacchami. Sangam saranam gacchami’. These three maxims imply that firstly, you must sharpen the intellect and the capacity for spiritual discrimination. Next, intelligence must be used in the service of society. Thirdly, service must be based on righteousness. If you follow this, you will experience Bliss. Never harm any living creature in any way, whatsoever. Nonviolence is the supreme dharma. Never ever hurt or injure another person in your thought, word, or action. You may wonder: “Is such a thing possible?” Yes it is! With resolution and absolute determination, there is nothing in this world that cannot be achieved. Fear is a great obstacle to achievement. When you realise that the same Divinity resides in all, you will never be afraid of anything or anyone. The more you love your fellow beings, the greater will be your bliss and joy. “Help ever, hurt never” – this is the essence of Buddha’s teaching.

Umat Buddha melantunkan, ‘Buddham saranam gacchami. Dharmam saranam gacchami. Sangam saranam gacchami’. Tiga kalimat suci ini menyatakan secara tidak langsung bahwa yang pertama, engkau harus menajamkan intelektual dan kapasitas untuk diskriminasi spiritual. Selanjutnya, kecerdasan harus digunakan untuk melayani masyrakat. Sedangkan yang ketiga, pelayanan harus didasarkan pada kebajikan. Jika engkau mengikuti ini, engkau akan mengalami kebahagiaan. Jangan pernah melukai semua makhluk hidup dalam keadaan apapun juga. Tanpa kekerasan adalah dharma yang tertinggi. Jangan pernah menyakiti atau mencelakai orang lain di dalam pikiran, perkataan atau tindakan. Engkau mungkin berpikir: “apakah semuanya itu bisa dilakukan?” Ya, bisa! Dengan ketetapan hati dan keteguhan hati yang tidak tergoyahkan, tidak ada di dunia ini yang tidak dapat diraih. Rasa takut adalah hambatan yang paling besar untuk meraih keberhasilan. Ketika engkau menyadari bahwa Tuhan yang sama bersemayam di dalam diri semua orang, engkau tidak akan pernah takut pada apapun atau siapapun. Semakin besar rasa kasih sayangmu kepada yang lainnya, maka semakin besar engkau bisa merasakan kebahagiaan dan suka cita. “Selalulah menolong, Jangan pernah menyakiti” – ini adalah intisari dari ajaran Buddha. (Divine Discourse, 21 May 2000)


Saturday, May 2, 2015

Thought for the Day - 2nd May 2015 (Saturday)

You may undertake any number of spiritual practices, but never forget God’s name even for a moment. Then you will be protected. Never do anything that will take you away from God. You can achieve anything through prayer. You need not pray loudly; it is sufficient if you pray mentally. Some people misunderstand that God will not rescue them if they do not pray loudly. God resides in your heart. He listens to your prayers all the time. If you aspire to attain His grace, you must contemplate on Him incessantly. Worldly difficulties come and go. Do not attach much importance to them. Through prayer you can overcome any difficulties. Only God’s grace is true and everlasting. God protected the lives of many devotees and alleviated their suffering in response to their prayers. So, make every effort to earn the grace of God.

Engkau mungkin menjalankan berbagai latihan spiritual, namun jangan pernah melupakan nama Tuhan walaupun hanya sesaat saja, maka engkau akan dilindungi. Jangan pernah melakukan apapun juga yang membuatmu jauh dari Tuhan. Engkau dapat meraih apapun dengan doa.  Engkau tidak perlu berdoa dengan keras-keras; adalah cukup jika engkau berdoa di dalam hati. Beberapa orang salah mengerti bahwa Tuhan tidak akan menyelamatkan mereka jika mereka tidak melantunkan doa dengan keras-keras. Tuhan bersemayam di dalam hatimu. Beliau mendengarkan semua doamu sepanjang waktu. Jika engkau berhasrat untuk bisa mendapatkan rahmat-Nya, engkau harus memusatkan pikiranmu pada-Nya secara berkesinambungan. Kesulitan duniawi datang dan pergi. Jangan terikat terlalu besar dan memberikan perhatian yang sangat besar kepada hal ini. Melalui doa engkau dapat mengatasi semua bentuk kesulitan duniawi. Hanya rahmat Tuhan yang nyata dan kekal. Tuhan melindungi banyak kehidupan dari pemuja-Nya dan mengurangi penderitaan mereka untuk menjawab doa-doa mereka. Jadi, lakukanlah berbagai usaha untuk bisa mendapatkan rahmat Tuhan. (Divine Discourse, 21 July 2005)