Thursday, March 31, 2016

Thought for the Day - 31st March 2016 (Thursday)

Without faith in God, all other possessions are of no avail. Take the example of Duryodhana, who was the lord of an empire. Both Duryodhana and Arjuna went to Krishna before the Kurukshetra battle. Duryodhana wanted only Krishna's army on his side. Arjuna was content to have Krishna alone on his side. This was enough to secure for him victory in the war. All the armies Duryodhana had were of no avail. Duryodhana relied on the clever strategies of his uncle, Shakuni. He had no faith in the divine intelligence of Krishna. The lesson that everyone must learn from this episode is that they must rely, not on their cleverness but on the guidance of their higher intelligence, which transcends ordinary reason and thinking. They should seek the support of That which sustains everything in creation. Place your trust in God.

Tanpa keyakinan pada Tuhan, maka semua kepemilikan kita adalah sia-sia. Lihatlah contoh dari Duryodhana, yang merupakan putra mahkota kerajaan. Keduanya yaitu Duryodhana dan Arjuna pergi untuk menemui Sri Krishna sebelum peperangan di Kurukshetra. Duryodhana hanya menginginkan pasukan Krishna ada bersamanya. Arjuna merasa sangat bersyukur bisa memiliki Krishna saja di sisinya. Ini adalah sudah cukup untuk bisa mendapatkan kemenangan dalam peperangan. Semua pasukan dari Duryodhana menjadi tidak ada artinya sama sekali. Duryodhana bergantung pada kepintaran meracik strategi yang dimiliki oleh pamannya yaitu Shakuni. Ia tidak memiliki keyakinan pada kecerdasan illahi dalam diri Sri Krishna. Pelajaran dari hal ini adalah setiap orang seharusnya tidak bergantung pada kepintaran mereka namun pada tuntunan dari kecerdasan yang lebih tinggi yang melebihi kemampuan argumentasi dan berpikir biasa. Mereka harus mencari dukungan dari Tuhan yang menopang segala sesuatu di dalam ciptaan. Taruhlah keyakinanmu pada Tuhan. (Divine Discourse, Feb 5, 1984)


Thought for the Day - 30th March 2016 (Wednesday)

There is no love between the husband and the wife before they are married. There is no love between the mother and the child before the birth of the child. The son, though he loved his mother with all his heart, flings her body onto the burning pyre and consigns her to the flames without any mercy after death. How can such love be called true Love? All such relationships can at best be termed attachment and not Love. Attachments come in the middle and pass off in the middle. But Divine Love existed even before birth and will last after death. Attachments are like passing clouds that sail away quickly. True Love is uncontaminated, unsoiled, unadulterated, unpolluted, eternal, perennial, pure and unsullied. It is only Divine Love that is not tainted by selfishness and self-interest, and exists before birth and lasts after death. All other kinds of love are stained by selfishness.

Tidak ada cinta kasih diantara suami dan istri sebelum mereka menikah. Tidak ada kasih sayang diantara ibu dan anak sebelum kelahiran anak itu. Sang anak, walaupun ia menyayangi ibunya dengan sepenuh hati, ia tetap akan menaruh tubuh ibunya pada tumpukan kayu bakar yang menyala dan menyerahkan ibunya pada api tanpa ada rasa kasihan setelah meninggal. Bagaimana kasih sayang itu dapat disebut dengan kasih sayang yang sejati? Semua hubungan itu dapat dikatakan sebagai keterikatan dan bukan cinta kasih. Keterikatan datang di pertengahan dan menghilang di pertengahan juga. Namun kasih Tuhan ada bahkan sebelum kelahiran dan akan tetap ada bahkan setelah kematian. Keterikatan adalah seperti awan yang berlalu yang melayang begitu cepatnya. Kasih yang sejati adalah murni, tidak kotor, tidak palsu, tidak tercemar, kekal, abadi, suci, dan tidak ternoda. Hanya kasih Tuhan yang tidak ternoda oleh kepentingan diri sendiri dan ada sebelum kelahiran dan juga setelah kematian. Semua jenis kasih yang lainnya dinodai oleh kepentingan diri sendiri. (Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains, 1996, Ch 1)


Thought for the Day - 29th March (Tuesday)

Geetha says: Shraddhavan labhate jnanam (The persevering seeker secures wisdom). This means that without perseverance and earnestness, no success can be achieved. You must develop interest and devote attention to the path shown by elders and to the knowledge taught by scriptures. You must pay heed to what the elders say. If you have no earnestness (shraddha) you cannot achieve anything, despite your worldly qualifications. Despite ages of evolution and considerable progress in scientific knowledge, people are unable to make significant progress towards the Divine because of absence of strenuous striving in the spiritual sphere. Study of the scriptures and reciting God's names may be good acts in themselves. But if there is no love for God from within, which is the basis of all sadhana (spiritual discipline), any amount of recitation, listening or reading of scriptures are of no use.

Dalam Gita dijelaskan: Shraddhavan labhate jnanam (peminat spiritual yang tekun mendapatkan kebijaksanaan). Hal ini berarti bahwa tanpa ketekunan dan kesungguhan maka tidak ada keberhasilan yang dapat diraih. Engkau harus mengembangkan ketertarikan dan mencurahkan perhatian pada jalan yang telah diperlihatkan oleh para sesepuh dan pada pengetahuan yang diajarkan oleh naskah-naskah suci. Engkau harus memberikan perhatian terhadap apa yang dikatakan oleh para sesepuh. Jika engkau tidak memiliki kesungguhan (shraddha) maka engkau tidak akan bisa mencapai apapun juga, walaupun dengan kualifikasi duniawi. Meskipun usia dari evolusi dan kemajuan yang besar dalam pengetahuan ilmiah, manusia tidak mampu membuat kemajuan yang berarti menuju pada Tuhan karena tidak adanya usaha yang kuat dalam bidang spiritual. Mempelajari naskah suci dan mengulang-ulang nama Tuhan mungkin perbuatan yang baik bagi diri mereka sendiri. Namun jika tidak ada cinta kasih pada Tuhan dari dalam yang merupakan dasar dari semua latihan spiritual (sadhana), betapapun banyaknya mengulang-ulang, mendengarkan, atau membaca naskah suci adalah tidak ada gunanya. (Divine Discourse, Feb 5, 1984)


Monday, March 28, 2016

Thought for the Day - 28th March 2016 (Monday)

Everyone must face the consequences of their misdeeds, one day or other, because every action has a reaction, resound and reflection. The awareness of this fact on the part of one and all will bring abundant peace and harmony. Human beings are endowed with endless strength. Your body is indeed a massive generator. Your face is like a television-set, with vivid expressions. But human beings have lost their value in the world today. It is human beings who lend value to a diamond. It is a human being who unearths a raw stone and turns it into a priceless diamond after processing and polishing it. Though people have been able to transform a cheap raw stone into an invaluable diamond, they themselves choose to have no intrinsic value in spite of contributing much to the value-addition of the diamond.

Setiap orang harus menghadapi akibat dari tingkah lakunya yang salah pada suatu hari nanti karena setiap perbuatan memiliki sebuah reaksi, gema dan pantulan. Kesadaran akan kenyataan ini bagi setiap orang akan membawa kedamaian dan keharmonisan yang berlimpah. Manusia diberkati dengan kekuatan yang tiada akhir. Tubuhmu sebenarnya adalah sebuah generator yang sangat besar. Wajahmu adalah seperti televisi dengan ekspresi yang hidup. Namun manusia telah kehilangan nilai mereka di dunia saat sekarang. Adalah manusia yang memberikan nilai pada sebuah berlian. Adalah manusia yang menggali dan menemukan sebuah batu yang kasar dan merubahnya menjadi berlian yang tidak ternilai harganya setelah mengalami proses dan pemolesan. Walaupun manusia telah mampu merubah sebuah batu yang murah menjadi berlian yang tidak ternilai, namun manusia sendiri memilih untuk tidak memiliki nilai yang sebenarnya sekalipun telah memberikan begitu banyak nilai tambahan pada berlian. (Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains, 1996, Ch 1)


Sunday, March 27, 2016

Thought for the Day - 27th March 2016 (Sunday)

Whenever the children go astray, wittingly or unwittingly, parents must quickly correct their faults and bring them to the righteous path. The obligations of parents do not end with providing food, schooling and knowledge of worldly matters. The children should also be provided with right values. They should not be made to think that the acquisition of wealth is the be-all and end-all of life. Wealth will not accompany anyone when they leave the world. Wealth is necessary only for meeting your essential needs. Too much wealth is an embarrassment like an oversized shoe. Too little of it is likely to be painful, like a tight fitting shoe. So, it is desirable to have only that amount of wealth that is adequate for your basic needs. It is deplorable that today, in the mad pursuit of money, people are forgetting all human qualities.

Kapanpun anak-anak menjadi nakal dan tersesat, dengan sengaja atau tidak sengaja maka orang tua harus dengan cepat memperbaiki kesalahan mereka dan membawa mereka kembali ke jalan yang benar. Kewajiban dari orang tua tidak berakhir hanya dengan menyediakan makanan, sekolah, dan pengetahuan duniawi saja. Anak-anak juga harus disediakan dengan nilai-nilai yang benar. Mereka seharusnya tidak dibentuk pola pikirnya bahwa mengumpulkan kekayaan adalah segala-galanya dan tujuan dari hidup. Kekayaan tidak akan mengikuti seseorang ketika mereka meninggalkan dunia ini. Kekayaan diperlukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarmu. Terlalu banyak kekayaan adalah keadaan yang memalukan seperti halnya memakai sepatu yang kebesaran. Sedikit memiliki kekayaan adalah sangat menyakitkan seperti memakai sepatu yang kekecilan. Jadi, adalah hal yang diinginkan hanya memiliki jumlah kekayaan yang cukup bagi kebutuhan dasarmu. Adalah sangat tercela pada saat sekarang dalam tergila-gila mengejar uang, manusia melupakan semua kualitas kemanusiaannya. (Divine Discourse, Feb 5, 1984)


Saturday, March 26, 2016

Thought for the Day - 26th March 2016 (Saturday)

Can any high-powered bulb equal the matchless brilliance of the Sun? Can any pump in the world supply as much water as we get from a heavy downpour? Can any fan in the world give as much coolness as given by the Wind-God? The gifts of God are abundant, bountiful and beyond compare. We pay tax for many facilities we enjoy, like water-tax to the corporation, tax to the electricity department for providing power, etc. But what taxes are we paying to the great Lord who provides us with endless power, light and wind? When we pay tax to the different departments for services provided, is it not our duty to pay the tax of gratitude to God? We do not show any gratitude to God who has gifted us the five elements, which never get depleted. In fact, our foremost duty should be to express our gratitude to God, who gives us so much in endless abundance.

Dapatkah bola lampu apapun yang bertegangan tinggi disamakan dengan kecemerlangan yang tidak tertandingi dari matahari? Dapatkah pompa apapun di dunia yang dapat menyamai banyaknya air yang didapat dari hujan yang deras? Dapatkah kipas apapun yang ada di dunia memberikan kesejukan seperti yang diberikan oleh angin? Hadiah dari Tuhan adalah berlimpah-limpah, banyak, dan tidak bisa dibandingkan. Kita membayar pajak dari banyak kenikmatan yang kita dapatkan, seperti pajak air pada PDAM, pajak listrik pada PLN karena sudah menyediakan listrik, dsb. Namun apa jenis pajak yang kita bayarkan kepada Tuhan yang telah menyediakan kita tenaga yang tidak ada akhirnya, cahaya dan angin? Ketika kita membayar pajak pada departemen yang berbeda atas pelayanan yang diberikan, bukankah merupakan kewajiban kita juga untuk membayar pajak terima kasih dan syukur kepada Tuhan? Kita tidak memperlihatkan rasa syukur dalam bentuk apapun kepada Tuhan yang telah memberikan kita lima unsur yang mana tidak pernah habis. Sejatinya, kewajiban kita yang paling penting adalah menyampaikan rasa syukur atau terima kasih kita kepada Tuhan yang telah memberikan begitu banyak kelimpahan yang tiada akhirnya kepada kita. (Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains, 1996, Ch 1)


Friday, March 25, 2016

Thought for the Day - 25th March 2016 (Friday)

Dhritarashtra had a hundred sons, the Kauravas. He knew very well that they were a wicked lot, and also knew that his brother's sons, the Pandavas, were wedded to righteousness (Dharma). He was also aware that the Kauravas were inflicting many indignities and injuries on them. Vyasa warned him thus many times: "Dhritarashtra! I do not say that for you to love your sons is wrong. But you must not shower misplaced affection on your sons. Do not behave like a blind ignorant man. By showing your unrestricted love for a bad son, you are causing harm to the community and the country." The doting father did not heed to sage's advice. Consequently, he got involved in many sinful actions. Through blind infatuation for his sons, what did Dhritarashtra achieve? In the final outcome, he had no one even to perform his funeral obsequies. The Pandavas had to render this service to him. It is not wrong to love children. But parents should learn how to love them.

Dhritarashtra memiliki seratus putra yaitu para Kaurava. Ia sangat mengetahui dengan baik bahwa putra-putranya sangat jahat dan juga mengetahui bahwa keponakannya yaitu para Pandava, disatukan dengan kebajikan (Dharma). Ia juga menyadari bahwa para Kaurava memberikan banyak penghinaan dan penderitaan pada mereka. Guru suci Wyasa memperingatkannya berulang kali akan hal ini: "Dhritarashtra! Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa menyayangi putra-putramu adalah salah. Namun engkau seharusnya tidak menaburkan kasih sayang yang salah tempat pada putra-putramu. Jangan bersikap seperti seorang manusia dungu yang buta. Dengan memperlihatkan kasih sayang yang tidak terbatas pada seorang putra yang jahat, engkau sedang menyebabkan penderitaan pada masyarakat dan bangsa." Ayah yang bodoh dan terlalu sayang pada anak-anaknya ini tidak memperdulikan nasihat dari guru suci ini. Sebagai akibatnya, ia terlibat dalam berbagai perbuatan yang penuh dosa. Dengan keadaan tergila-gila yang buta pada putra-putranya, apa yang Dhritarashtra dapat raih? Hasil akhirnya adalah tidak ada satu orang putranya pun yang melakukan upacara pemakamannya. Para Pandava harus melakukan pelayanan ini baginya. Adalah tidak salah dalam menyayangi anak-anak. Namun orang tua harus belajar bagaimana cara menyayangi mereka. (Divine Discourse, 5 Feb 1984)


Thought for the Day - 24th March 2016 (Thursday)

All of you should earnestly investigate the presence of Divinity in human life. Awareness of your duty is equal to the awareness of Divinity in daily living. In the modern world, nobody has a sense of gratitude. Some of you fail to show gratitude even to doctors who heal you when you were sick. You argue that you need not be grateful to the Doctor because it is their duty to cure a suffering patient. But remember, as a patient, you too have a duty. Flagrant violation of duty leads you nowhere. It is your duty to show gratitude to the mother who nourished you in the womb and fostered your wellbeing. Strange, but many even question why they should be grateful to the mother, who, in their opinion, is duty bound to take care of her children. Please internalise that it is your primary duty to take care of your mother who gave birth to you and raised you.

Semua darimu seharusnya dengan jelas menyelidiki kehadiran Tuhan dalam hidup manusia. Kesadaran akan kewajibanmu adalah sama dengan kesadaran akan keillahian dalam hidup sehari-hari. Dalam dunia modern, tidak ada seorangpun memiliki rasa terima kasih. Beberapa darimu gagal memperlihatkan rasa terima kasih bahkan kepada dokter yang menyembuhkanmu ketika engkau sakit. Engkau mengatakan bahwa engkau tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada dokter karena itu sudah merupakan kewajibannya untuk menyembuhkan penderitaan pasien. Namun ingatlah, sebagai seorang pasien, engkau juga memiliki sebuah kewajiban. Pelanggaran yang menyolok dari kewajiban tidak akan membawamu kemanapun juga. Merupakan kewajibanmu untuk memperlihatkan rasa terima kasih kepada ibu yang memeliharamu di dalam kandungan dan membantu perkembangan kesejahteraanmu. Sangat aneh, namun banyak yang menanyakan mengapa mereka harus memberikan rasa terima kasih kepada ibu yang menurut pendapat mereka merupakan tugas dari ibu untuk menjaga anak-anaknya. Tolong hayati bahwa merupakan kewajibanmu yang utama untuk merawat ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu. (Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains, 1996, Ch 1)


Wednesday, March 23, 2016

Thought for the Day - 23rd March 2016 (Wednesday)

When you become conscious of the light, acquire wisdom and realise the meaning of existence, you will be transported from agony to ecstasy. Light here does not signify the light of the Sun, the Moon or the lamp, but that of the heart. Wisdom does not refer to scientific wisdom, but enlightenment brought about by the transformation of the heart. What about existence? Awareness of your own true reality is the proper meaning of existence. The awareness of your reality lies in the realisation that you are not the body, the mind or the senses. True realisation lies in understanding the fact that you are based on a transcendental principle that goes beyond the boundaries of matter. One should earnestly investigate the presence of Divinity in human life. Awareness of one’s own duty is tantamount to the awareness of Divinity in human life.

Ketika engkau menjadi sadar akan cahaya, mendapatkan kebijaksanaan dan menyadari makna dari kehidupan, maka engkau akan dipindahkan dari penderitaan yang mendalam menuju kegembiraan yang luar biasa. Cahaya dalam hal ini bukan berarti cahaya matahari, cahaya lampu, atau bulan, namun cahaya hati. Kebijaksanaan bukan mengacu pada kebijaksanaan ilmiah, namun pencerahan yang dihasilkan dari perubahan di dalam hati. Bagaimana dengan kehidupan? Kesadaran akan sifat dirimu yang sejati adalah makna yang cocok untuk kehidupan. Kesadaran akan jati dirimu terdapat pada kesadaran bahwa engkau bukanlah badan, pikiran, atau indera. Kesadaran yang sejati terdapat dalam mengerti kenyataan bahwa engkau adalah berdasarkan pada prinsip yang ada di luar pengertian manusia serta melampaui batasan keadaaan. Seseorang seharusnya dengan jelas melakukan penyelidikan kehadiran Tuhan dalam hidup manusia. Kesadaran akan tugas dan kewajibannya adalah sama dengan kesadaran akan Tuhan dalam hidup manusia. (Summer Showers Ch1, May 20, 1996)


Thought for the Day - 22nd March 2016 (Tuesday)

Good company can elevate one to the level of Divinity, whereas bad company can degenerate one to the level of an animal. You should make efforts to rise above the human level. No effort is needed for your downward fall. To become bad is very easy. Young people today entertain bad thoughts and feelings, and perform bad actions, thereby wasting their precious young age. Unfortunately, people today associate with bad company, because of which their good feelings and actions are turned into bad feelings and actions — ultimately making their lives very miserable. Though it may appear to be very difficult to attain the higher level, you should still make efforts to reach higher levels. Your thoughts are the root cause of everything. Therefore, you should have only noble, sacred, pure, and meaningful thoughts.

Pergaulan yang baik dapat meningkatkan seseorang pada tingkat keillahian, sedangkan pergaulan yang buruk dapat menjerumuskan seseorang pada tingkat binatang. Engkau harus membuat usaha untuk bangkit dan berada di atas tingkat manusia. Sedangkan tidak memerlukan usaha apapun untuk bisa terjerumus ke bawah. Untuk menjadi tidak baik adalah sangat gampang. Anak-anak muda hari ini memperlihatkan gagasan dan perasaan yang tidak baik, dan melakukan perbuatan yang tidak baik, dengan demikian mereka menyia-nyiakan masa muda mereka yang sangat berharga. Namun sangat disayangkan, manusia saat sekarang bergaul dalam pergaulan yang tidak baik, sehingga perasaan dan perbuatan baik mereka berubah menjadi perasaaan dan perbuatan yang tidak baik— pada akhirnya membuat hidup mereka menjadi sangat menyedihkan. Walaupun kelihatan sangat sulit untuk bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi, engkau harus terus membuat usaha untuk bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi. Pikiranmu adalah akar penyebab dari semuanya. Maka dari itu, engkau harus hanya memiliki pikiran yang mulia, suci, murni, dan berguna. (Divine Discourse, 8 July 1996)


Tuesday, March 22, 2016

Thought for the Day - 21st March 2016 (Monday)

It is the foremost duty of students to transform every activity of life into one of strength and beauty. But unfortunately, the education system of today fails to nourish the qualities of wholesomeness, unity and love, which are the hallmarks of true education. Students must realise that their lifespan is fast melting away like ice, whether they care to improve or not. Students of today are blind to the goal of life; many do not even feel the pain of not knowing the purpose of life. Only one in a million strives to realise the essence of life. This striving is the steppingstone for the realisation of the purpose of life. Many people feel that the acquisition of food, clothing, shelter, wealth, conveniences, and comforts constitute the very purpose of life. Life remains a tragedy as long as people toil under this kind of delusion. The day you realise the purpose of life, you undergo a total transformation, from agony (vedhana) to freedom from pain (nirvedhana).

Kewajiban utama pelajar adalah untuk merubah setiap aktifitas dalam hidup menjadi kekuatan dan keindahan. Namun sangat disayangkan, sistem pendidikan saat sekarang gagal memelihara kualitas kebaikan, kesatuan, dan kasih yang mana merupakan tanda khusus dari pendidikan yang sebenarnya. Para pelajar harus menyadari bahwa masa hidup adalah sangat cepat meleleh seperti halnya es krim, apakah mereka peduli atau tidak dalam meningkatkannya. Para pelajar saat sekarang buta akan tujuan dari hidup; banyak dari mereka bahkan tidak merasakan sakit dari tidak mengetahui tujuan dari hidup. Hanya satu dari sejuta yang berusaha keras untuk menyadari intisari dari kehidupan. Usaha keras ini adalah sebagai batu loncatan untuk kesadaran akan tujuan hidup. Banyak orang merasa bahwa memperoleh makanan, pakaian, perlindungan, kekayaan, dan kenyamanan yang membangun inti dari tujuan hidup. Hidup akan tetap menjadi sebuah tragedi sepanjang manusia bekerja keras dibawah jenis khayalan ini. Hari dimana engkau menyadari tujuan hidup, engkau mengalami perubahan yang total dari penderitaan yang mendalam (vedhana) menuju bebas dari rasa sakit (nirvedhana). (Summer Showers Ch1, May 20, 1996)


Sunday, March 20, 2016

Thought for the Day - 20th March 2014 (Sunday)

Parents today lavish too much affection on their children. But such affection alone is not enough. There should be both ‘love’ and ‘law’. Only when both love and restraint are present will the love prove beneficial. For all the evil habits of children, who are naturally innocent and uninformed, the parents are primarily responsible. Parents today do not make any efforts to teach proper ways of behaviour to the children. They pamper the children by giving them money and gifts freely. They want their children to become officers, to earn large incomes, acquire wealth and lead a life of comfort and ease. But they do not consider for a moment how they should make the children realise the need to develop good qualities. It is up to parents to teach the children to cultivate right attitudes and moral qualities. Parents should feel happy only when they see their children leading blameless lives, acquiring a good name and behaving properly.

Orang tua saat sekarang mencurahkan terlalu banyak kasih kepada anak-anak mereka. Namun kasih saja tidaklah cukup. Disana seharusnya ada keduanya yaitu ‘kasih’ dan ‘hukum’. Hanya ketika keduanya yaitu kasih dan pengendalian ada maka kasih akan menjadi bermanfaat. Untuk semua kebiasaan jahat dalam diri anak-anak yang sejatinya sifat mereka adalah lugu dan polos, orang tua utamanya adalah yang bertanggung jawab. Orang tua saat sekarang tidak melakukan usaha apapun untuk mengajarkan dengan benar tentang tingkah laku pada anak-anak mereka. Mereka memanjakan anak-anak dengan memberikan mereka uang dan hadiah secara cuma-cuma. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi pegawai, mendatangkan pendapatan yang besar, memperoleh kekayaan, dan menjalani hidup yang menyenangkan dan mudah. Namun mereka tidak menyadari sesaat saja bagaimana mereka seharusnya membuat anak-anak menyadari kebutuhan dalam mengembangkan sifat-sifat yang baik. Ini adalah tergantung dari orang tua untuk mengajarkan anak-anak dalam meningkatkan sikap yang benar dan kualitas moral. Orang tua seharusnya merasa senang hanya ketika mereka melihat anak-anak mereka menjalani hidup yang suci, mendapatkan nama baik, dan bertingkah laku dengan layak. (Divine Discourse, Feb 5, 1984)


Saturday, March 19, 2016

Thought for the Day - 19th March 2016 (Saturday)

Human life by itself is very sacred. But it becomes good or bad according to the company with which it is associated. When you keep iron in dust, it gets rusted. But when the same iron is put in fire, it gets rid of its rust, becomes soft, and starts shining. Particles of dust rise up in the sky in the company of wind but fall down into gutter when they are associated with rainwater. The dust particles do not have wings to fly up in the sky, nor have they feet to jump down. Both, their rise and their fall happen by the effect of the company. Your good or bad depends upon the type of company you join. Good company makes you sacred and divine. Bad company gives rise to bad feelings and bad thoughts, which prompt you to perform bad deeds. Therefore, it is essential for you to join good company and develop your humanness.

Kehidupan manusia sendiri adalah sangat suci. Namun hal ini menjadi baik atau buruk tergantung dari pergaulan yang diikuti. Ketika engkau membiarkan besi di dalam debu maka besi itu akan berkarat. Namun ketika besi yang sama diletakkan pada api maka karat dari besi itu akan menghilang dan besi itu menjadi lembut dan mulai bersinar. Partikel-partikel dari debu terbang di langit karena bergabung dengan angin namun partikel debu juga akan jatuh ke dalam selokan ketika partikel debu itu bergabung dengan air hujan. Partikel debu tidak memiliki sayap untuk terbang di atas langit dan juga tidak memiliki kaki untuk melompat ke bawah. Untuk keduanya yaitu kebangkitan dan kejatuhan mereka disebabkan oleh pengaruh dari pergaulan. Kebaikan dan keburukanmu tergantung dari jenis pergaulan yang engkau ikuti. Pergaulan yang baik membuatmu menjadi suci dan illahi. Pergaulan yang buruk membangkitkan perasaan-perasaan dan pikiran buruk, yang mendorongmu untuk melakukan perbuatan yang buruk. Maka dari itu, adalah sangat mendasar bagimu untuk bergabung dalam pergaulan yang baik dan mengembangkan nilai kemanusiaanmu. (Divine Discourse, 8 July 1996)


Friday, March 18, 2016

Thought for the Day - 18th March 2016 (Friday)

Dharma and Jnana (right conduct and spiritual wisdom) are two eyes given to you to discover your uniqueness and your innate Divinity. Dharma indicates the right path which every individual, group or society should follow. Dharma destroys the one who violates it and protects the one who protects it. The edifice of Dharma is erected on the foundation of Truth. Nyaya (justice) is an essential attribute of Dharma. A society, nation or an individual shines with glory only when they adhere to justice, acquire wealth by the pursuit of agriculture, business or any other profession, and acquire merit and divine grace by adhering to morality (neethi) and righteousness (Dharma). While Dharma leads to right action, it is necessary also to acquire Jnana. All the sufferings and problems in life arise from the sense of duality. Once the feeling of \'I\' and \'mine\' is got rid of, consciousness of the all-pervading Divinity can be realised.

Dharma dan Jnana (kebajikan dan kebijaksanaan spiritual) adalah dua mata yang diberikan kepadamu untuk mengungkapkan keunikan dan keillahian dalam dirimu. Dharma menunjukkan jalan yang benar yang mana setiap individu, kelompok atau masyarakat harus ikuti. Dharma menghancurkan mereka yang melanggar Dharma dan melindungi mereka yang melindungi Dharma. Bangunan besar dari Dharma dibangun di atas dasar kebenaran. Nyaya (keadilan) adalah sebuah sifat yang mendasar dari Dharma. Sebuah masyarakat, bangsa atau seorang individu dapat bersinar dengan kemuliaannya hanya ketika mereka menjunjung tinggi keadilan, mendapatkan kekayaan dalam pertanian, bisnis atau pekerjaan yang lainnya dan mendapatkan kebaikan serta rahmat Tuhan dengan setia pada moralitas (neethi) dan kebajikan (Dharma). Ketika Dharma menuntun pada perbuatan yang benar, maka adalah perlu juga untuk mendapatkan Jnana. Semua penderitaan dan masalah di dalam hidup muncul dari dualitas yang ada pada indera. Sekali perasaan akan “aku” dan “milikku” dilepaskan maka kesadaran Tuhan yang meresapi semuanya dapat disadari. (Divine Discourse, 19 Jan 1984)


Thursday, March 17, 2016

Thought for the Day - 17th March 2016 (Thursday)

There are no limitations of time or space for the establishment of oneself in the contemplation of the Omnipresent Lord. For this, there is nothing like a holy place or a special time. Wherever the mind revels in contemplation of the Divine that is the holy place! Whenever it does so, that is the auspicious moment! Then and there, one must meditate on the Lord. Hence scriptures reveal, ‘To meditate on God, there is no fixed time or place. When and where the mind so desires, then and there is the time and place!’ (Na kaala niyamo yathra, na deshasya sthalasya cha Yathrasya ramathe chittham, thathra dhyanena kevalam.) The world can achieve prosperity through disciplined souls whose hearts are pure and who represent the salt of the earth. To promote the welfare of the world, from this very minute, everyone should pray for the advent of such holy personages, and deserve the blessings of the great, and forget the sufferings of your daily living.

Tidak ada batasan waktu atau ruang bagi seseorang untuk merenungkan Tuhan yang Maha Ada. Untuk ini, tidak ada tempat suci tertentu atau waktu khusus melakukan ini. Dimanapun juga pikiran senang merenungkan Tuhan maka itulah tempat yang suci! Kapan saja engkau memikirkan Tuhan maka itu adalah waktu yang bertuah! Di situ dan pada waktu itulah engkau harus bermeditasi kepada Tuhan. Oleh karena itu naskah suci mengungkapkan, ‘Untuk bermeditasi kepada Tuhan, tidak ada waktu atau tempat yang tetap. Kapan dan dimana saja pikiran menginginkannya, maka itulah saatnya dan disitulah tempatnya!’ (Na kaala niyamo yathra, na deshasya sthalasya cha Yathrasya ramathe chittham, thathra dhyanena kevalam.) Dunia dapat mencapai kemakmuran melalui jiwa-jiwa yang disiplin yang memiliki hati yang suci dan mereka yang melambangkan garam dunia. Untuk meningkatkan kesejahteraan dunia, mulai dari menit ini setiap orang harus berdoa untuk kedatangan jiwa-jiwa yang suci dan berusahalah agar layak memperoleh berkat dari mereka, dan lupakanlah penderitaan dalam hidupmu sehari-hari. (Prema Vahini, Ch 73)


Wednesday, March 16, 2016

Thought for the Day - 16th March 2016 (Wednesday)

Dharma when wedded to great a soul called Truth (Sathya), the children of Earnestness (Shraddha), Compassion (Daya), Peace (Shanti), Prosperity (Pushti), Contentment (Shanthushti), Progress (Vriddhi), Modesty (Lajja), Honour (Gouravam) and Liberation (Mukthi) will arise. Carefully examine yourself, if you are from the above Dharma lineage or from that of Ignorance (Mithya) and Unrighteousness (Adharma). When you assiduously practice Dharma, the Divinity within you will manifest itself spontaneously. Do not limit Dharma to mere words. You are the very embodiment of righteousness. But you will not be worthy of this appellation if you do not lead a life of Dharma. Everyone must realise that to attain oneness with Divinity is the goal of human life. Hence it is your primary duty to develop faith in the Divine. With faith, you will lead a life devoted to Dharma, Sathya and Neethi (Righteousness, Truth and Justice), and achieve the purpose of your birth.

Ketika Dharma dipadukan pada jiwa yang agung disebut dengan kebenaran (Sathya), anak-anak dari kesungguhan (Shraddha), welas asih (Daya), kedamaian (Shanti), kesejahtraan (Pushti), kepuasan hati (Shanthushti), kemajuan (Vriddhi), kesederhanaan (Lajja), kehormatan (Gouravam) dan kebebasan (Mukthi) akan muncul. Secara hati-hati periksalah dirimu sendiri, jika engkau berasal atas garis keturunan Dharma atau dari kebodohan (Mithya) dan ketidakbenaran (Adharma). Ketika engkau dengan tekun menjalankan Dharma, keillahian di dalam dirimu akan mewujudkan dirinya secara spontan. Jangan membatasi Dharma hanya pada kata-kata saja. Engkau sejatinya adalah perwujudan dari kebajikan. Namun engkau tidak akan memiliki makna akan sebutan ini jika engkau tidak menuntun hidupmu pada Dharma. Setiap orang harus menyadari bahwa mencapai kesatuan dengan keillahian adalah tujuan dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, adalah merupakan tugasmu yang utama untuk mengembangkan keyakinan pada Tuhan. Dengan keyakinan ini maka engkau akan menjalani hidup yang di dedikasikan pada Dharma, Sathya dan Neethi (kebajikan, kebenaran dan keadilan),dan mencapai tujuan dari kelahiranmu. (Divine Discourse, 19 Jan 1984)


Tuesday, March 15, 2016

Thought for the Day - 15th March 2016 (Tuesday)

Devote your time to the service of the world, with faith in the Lord, regardless of its fruits. Then you become blessed. Otherwise, though the body may be inactive, the mind will be very busy, committing acts on its own. People with such minds fall prey to karma in spite of their not doing anything! When a person has the mind fixed on contemplation of God and the pursuit of truth, though the body and senses do acts that are of service to the world, they won’t be affected by them; though they do actions (karma), they are still non-doers of action. This is the lesson from Bhagavad Gita. The heart of the person who doesn’t strive to cultivate the mind with holy thoughts is certain to be the paradise of evil and wickedness. Everyone who hopes to rise to greatness, seeks one-pointedness and aspires for salvation, must bear this in mind. Spiritual wisdom alone is the cause of liberation.

Persembahkan waktumu dalam pelayanan kepada dunia, dengan keyakinan kepada Tuhan, tanpa menghiraukan hasilnya. Kemudian engkau menjadi terberkati. Jika tidak, walaupun badan tidak aktif namun pikiran akan sangat sibuk melakukan perbuatannya sendiri. Manusia yang memiliki pikiran yang seperti ini akan menjadi mangsa dari karma sekalipun mereka tidak melakukan apapun juga. Ketika seseorang memiliki pikiran yang terpatri dalam perenungan kepada Tuhan dan mengejar kebenaran, meskipun badan dan indera melakukan perbuatan yaitu melayani dunia, namun mereka tidak akan terpengaruh oleh kegiatan tersebut; walaupun mereka melakukan perbuatan (karma), mereka masih bukanlah pelaku dari tindakan itu. Ini adalah pelajaran dari Bhagavad Gita. Hati dari seseorang yang tidak berusaha untuk meningkatkan pikiran dengan ide-ide yang suci pastinya akan menjadi surga bagi iblis dan kejahatan. Setiap orang yang berharap untuk kejayaan, mencari pemusatan pikiran dan berharap untuk keselamatan, harus memusatkan hal ini di dalam pikiran. Hanya kebijaksanaan spiritual yang menjadi penyebab dari kebebasan. (Prema Vahini, Ch 72)


Monday, March 14, 2016

Thought for the Day - 14th March 2016 (Monday)

Do not feel proud about your cleverness or intelligence or about your ability to win laurels in studies. Good character and righteous thinking are more valuable than scholastic achievements, wealth, power or intellectual abilities. Utilise your intelligence and thoughts for achieving bliss which comes from leading a life of righteousness and goodness. Let your life be dedicated to ideals. The Lord is secured and bound only by the intensity of your devotion. The Ganges of true devotion must flow from your heart. Everything that is associated with Divinity has its origin in the heart. Hence the heart should be emptied of all evil and kept pure and unsullied by right action. It may not be possible to escape the consequences of one\'s good and bad actions. But even a mountain of sin can be wiped out by winning the grace of the Divine. Hence one should strive to earn the love of God, which is all-embracing and all-powerful.

Jangan merasa bangga dengan kepintaranmu atau kecerdasanmu atau kemampuanmu dalam meraih rangkaian keberhasilan dalam pendidikanmu. Karakter yang baik dan pikiran yang mulia adalah lebih berguna daripada pencapaian dalam pelajaran, kekayaan, kekuasaan, atau kemampuan intelektual. Gunakan kecerdasan dan pikiranmu untuk bisa mencapai kebahagiaan yang mana berasal dari menjalankan hidup yang baik dan mulia. Jadikan hidupmu untuk didedikasikan pada hidup yang ideal. Tuhan hanya dapat dicapai dan diikat dengan kehebatan bhaktimu. Aliran Gangga dari bhakti yang sejati harus mengalir dari hatimu. Segala sesuatu yang dihubungkan dengan keillahian adalah berasal dari hati. Oleh karena itu, hati harus dikosongkan dari semua kejahatan dan dijaga kemurniannya serta tidak ternoda dengan perbuatan benar. Adalah mungkin tidak bisa seseorang melepaskan diri dari akibat dari perbuatan baik dan buruk. Namun bahkan sebuah dosa yang menggunung dapat disapu bersih dengan mendapatkan rahmat Tuhan. Oleh karena itu seseorang seharusnya berusaha untuk mendapatkan kasih Tuhan yang mencakup semuanya dan maha kuasa. (Divine Discourse, Jan 13, 1984)


Thought for the Day - 13th March 2016 (Sunday)

Do not feel proud about your cleverness or intelligence or about your ability to win laurels in studies. Good character and righteous thinking are more valuable than scholastic achievements, wealth, power or intellectual abilities. Utilise your intelligence and thoughts for achieving bliss which comes from leading a life of righteousness and goodness. Let your life be dedicated to ideals. The Lord is secured and bound only by the intensity of your devotion. The Ganges of true devotion must flow from your heart. Everything that is associated with Divinity has its origin in the heart. Hence the heart should be emptied of all evil and kept pure and unsullied by right action. It may not be possible to escape the consequences of one\'s good and bad actions. But even a mountain of sin can be wiped out by winning the grace of the Divine. Hence one should strive to earn the love of God, which is all-embracing and all-powerful.

Jangan merasa bangga dengan kepintaranmu atau kecerdasanmu atau kemampuanmu dalam meraih rangkaian keberhasilan dalam pendidikanmu. Karakter yang baik dan pikiran yang mulia adalah lebih berguna daripada pencapaian dalam pelajaran, kekayaan, kekuasaan, atau kemampuan intelektual. Gunakan kecerdasan dan pikiranmu untuk bisa mencapai kebahagiaan yang mana berasal dari menjalankan hidup yang baik dan mulia. Jadikan hidupmu untuk didedikasikan pada hidup yang ideal. Tuhan hanya dapat dicapai dan diikat dengan kehebatan bhaktimu. Aliran Gangga dari bhakti yang sejati harus mengalir dari hatimu. Segala sesuatu yang dihubungkan dengan keillahian adalah berasal dari hati. Oleh karena itu, hati harus dikosongkan dari semua kejahatan dan dijaga kemurniannya serta tidak ternoda dengan perbuatan benar. Adalah mungkin tidak bisa seseorang melepaskan diri dari akibat dari perbuatan baik dan buruk. Namun bahkan sebuah dosa yang menggunung dapat disapu bersih dengan mendapatkan rahmat Tuhan. Oleh karena itu seseorang seharusnya berusaha untuk mendapatkan kasih Tuhan yang mencakup semuanya dan maha kuasa. (Divine Discourse, Jan 13, 1984)


Saturday, March 12, 2016

Thought for the Day - 12th March 2016 (Saturday)

Many state that service to humanity (manava-seva) is service to God (Madhava-seva). It is true. Although the service of humanity is holy, unless it is merged in the bigger ideal of divinity in everyone, people won’t benefit, however huge the service. Quoting the slogan is useless if service is done with an eye on name and fame and the fruits of one’s action. Only when you constantly contemplate on the Lord, follow true and righteous means in execution, and work with faith in the essential divinity of people, then the service to humanity truly becomes service to God. Without thoughts of God how can service to God originate? All such talk is mere show. In fact those who are immersed in the uninterrupted contemplation of the Lord need not do any other task at all. The fruit of their prayer itself can make the world holy. However all can’t be thus engaged, so others must prepare for that stage by purifying their mind and diminishing their desires.

Banyak orang yang menyatakan bahwa melayani umat manusia (manava-seva) adalah melayani Tuhan (Madhava-seva). Ini adalah benar. Walaupun pelayanan kepada umat manusia adalah suci, kecuali jika pelayanan ini menyatu ke dalam ideal yang lebih luhur yaitu keillahian yang ada di dalam diri setiap orang, manusia tidak akan mendapat manfaat betapapun besarnya pelayanan itu. Hanya dengan mengulang-ulang pepatah adalah tidak berguna jika pelayanan dilakukan dengan sebuah pandangan akan nama dan ketenaran serta pamrih akan hasil dari perbuatan itu. Hanya ketika engkau secara terus menerus merenungkan tentang Tuhan, mengikuti cara yang benar dan baik dalam pelaksanaannya, dan bekerja dengan keyakinan pada keillahian yang mendasar pada manusia, kemudian pelayanan kepada manusia sejatinya menjadi pelayanan kepada Tuhan. Tanpa memikirkan tentang Tuhan bagaimana mungkin hal yang engkau lakukan menjadi pelayanan kepada Tuhan? Semua perkataan itu hanyalah pamer saja. Sejatinya mereka yang tenggelam dalam perenungan kepada Tuhan secara terus menerus sama sekali tidak perlu melakukan pekerjaan yang lain. Hasil dari doa mereka saja dapat membuat dunia menjadi suci. Bagaimanapun juga tidak semua orang dapat melakukan hal ini, jadi yang lain harus mempersiapkan diri untuk tahapan itu dengan menyucikan pikiran mereka dan mengurangi keinginan mereka. (Prema Vahini, Ch 71)


Friday, March 11, 2016

Thought for the Day - 11th March 2016 (Friday)

The game of life you play is akin to the Mahabharatha war. On one side were the forces of evil, the Kauravas, and on the other the powers of good, the Pandavas. They played the game of life with the empire as the football. Until achieving complete victory, Lord Krishna was the sole chief for the righteous Pandavas, who completely surrendered to Him. The wicked Kauravas lost their commanders one after the other in the battle. The real contest today within you is the one between the evil qualities of desire, hatred, envy, pride, etc. and good qualities like truth, virtue, peace, non-violence and love. Your body is the battlefield. One team’s captain is the embodiment of good qualities. The captain of the other is the embodiment of mundane desires. Those who adhere to ever changing and worldly desires will attain defeat. Only those who attach themselves to the unchanging and eternal Divine can hope for enduring success in life.

Permainan kehidupan yang engkau mainkan adalah sama dengan perang Mahabharatha. Di satu sisi adalah kekuatan jahat yaitu para Kaurava, dan di sisi yang lainnya adalah kekuatan baik yaitu para Pandava. Mereka memainkan permainan kehidupan dengan wasit seperti halnya pertandingan sepak bola. Sampai mencapai kemenangan yang sepenuhnya, Sri Krishna adalah satu-satunya pemimpin bagi para Pandava yang baik hati dimana mereka sepenuhnya berserah sepenuhnya kepada Beliau. Para Kaurava yang jahat kehilangan komandan mereka satu per satu dalam peperangan. Pertempuran yang sesungguhnya saat sekarang ada di dalam dirimu diantara satu sisi sifat yang jahat seperti keinginan, kebencian, iri hati, kesombongan, dsb, dan satu sisi sifat yang baik seperti kebenaran, kebaikan, kedamaian, tanpa kekerasan, dan cinta kasih. Tubuhmu adalah medan perang. Kapten dari team kebaikan adalah perwujudan dari sifat-sifat yang baik sedangkan kapten dari team yang lain adalah perwujudan dari keinginan duniawi. Bagi mereka yang mengikuti keinginan duniawi yang selalu berubah akan mengalami kekalahan. Hanya mereka yang melekatkan diri mereka pada keillahian yang bersifat kekal dan tidak berubah dapat berharap pada keberhasilan yang abadi di dalam hidup. (Divine Discourse, 13 Jan 1984)


Thursday, March 10, 2016

Thought for the Day - 10th March 2016 (Thursday)

When there is no possibility of achieving and acquiring devotion, charity, peace, and truth, the great and good people who desire to achieve them pray to the Lord within themselves. When the Lord’s will, the needs of spiritual seekers, and the teachings of great persons unite, the happiness of the world will be assured and undiminished. If all humanity prays at one time for unrest, injustice, disorder, and falsehood to be transformed into peace, truth, love, and mutual service, things will certainly become better. There is no other way out. Worrying is fruitless. This is no occasion for despair. It is against the essential nature of people to plead weakness and want of strength. Therefore giving up the search for other means, people must try prayer, service to others, and mutual love and respect. They should delay no longer; they will soon acquire contentment and joy.

Ketika ada ketidakmungkinan untuk mencapai dan mendapatkan bhakti, derma, kedamaian, dan kebenaran maka orang-orang yang suci dan agung yang menginginkan untuk bisa mendapatkan semuanya itu berdoa kepada Tuhan di dalam hati mereka. Ketika kehendak Tuhan, kebutuhan dari penekun spiritual dan ajaran dari para orang-orang yang suci menyatu maka kebahagiaan dunia akan dapat dipastikan dan tidak berkurang. Jika semua umat manusia berdoa serempak agar kegelisahan, ketidakadilan, kekacauan, dan kebohongan diubah menjadi kedamaian, kebenaran, kasih sayang, dan saling melayani maka segalanya akan menjadi lebih baik. Tidak ada jalan keluar yang lain. Merasa cemas adalah tidak ada gunanya. Ini bukan saatnya untuk putus asa. Adalah bertentangan dengan sifat dasar dari manusia mengakui kelemahan dan menginginkan kekuatan. Maka dari itu berhentilah untuk mencari cara yang lain, manusia harus mencoba berdoa, melayani yang lain, dan saling menyayangi dan menghormati. Mereka seharusnya tidak menunggu lagi; mereka akan segera memperoleh kepuasan batin dan suka cita. (Prema Vahini, Ch 70)


Thought for the Day - 9th March 2016 (Wednesday)

Embodiments of Love, consider for a moment, where from the rain comes. It comes from the clouds. Clouds come from water vapour, rising from the sea. Rain water becomes a channel on the earth, changes itself into a rivulet and merges into a big river, and finally reaches the sea as its destination. A pot made out of clay when broken, is cast on the ground, and in course of time, becomes clay again. Water from the sea joins the sea, clay from the earth, goes back to earth again, but why does a human being alone forget the source He came from? The only besetting evil in human being is the sense of ‘mine’ (Mamakara), the acquisitive and possessive feeling. This is the root-cause for all other evils. You must remember that you are truly divine. You inhale and exhale 21,600 times – it is a natural reminder of the message of ‘SO-HAM’ (I am God) which is the truth about your divine reality.

Perwujudan kasih, pikirkanlah sebentar darimana hujan itu turun. Hujan turun dari awan. Awan terbentuk dari uap air yang menguap dari laut. Air hujan menjadi sebuah saluran di bumi, merubah dirinya menjadi sebuah anak sungai dan menyatu dalam sebuah sungai besar, dan pada akhirnya mencapai lautan sebagai tujuan akhirnya. Sebuah periuk terbuat dari tanah liat dan ketika periuk itu pecah dilempar ke tanah dan seiring berjalannya waktu maka periuk itu kembali menjadi tanah liat. Air datang dari laut dan menyatu kembali ke laut, tanah liat dari bumi dan akan kembali ke bumi juga, namun mengapa manusia sendiri yang lupa sumber darimana ia berasal? Satu-satunya kemalangan yang menimpa manusia adalah rasa ‘milikku’ (Mamakara), ketamakan, dan perasaan memiliki. Ini adalah akar dari semua kejahatan yang lain. Engkau harus ingat bahwa engkau sesungguhnya adalah illahi. Engkau menarik nafas dan menghembuskan nafas sebanyak 21.600 kali – ini adalah pengingat alami dari pesan ‘SO-HAM’ (aku adalah Tuhan) yang mana adalah kebenaran tentang kenyataan dirimu yang sejati. (Divine Discourse, 6-Mar-1989)


Tuesday, March 8, 2016

Thought for the Day - 8th March 2016 (Tuesday)

Truly, the prayers of the great act as an invitation even for the advent of the Lord. In the external world, when the subjects need any convenience or help, they approach the rulers and inform them of their request. So also, in the internal state, when there is no possibility of achieving and acquiring devotion, charity, peace, and truth, the great and good people who desire to achieve them pray to the Lord within themselves. Then, listening to their prayers, He Himself comes into the world and showers His grace on them. Ramayana and Bhagavata reveal that Lord Rama and Krishna incarnated as an answer to the prayers of the sages. Thus prayers should be offered again and again for the realisation of the task. No one should become desperate and give up prayers if they don’t result immediately in the advent of the Lord.

Sejatinya, doa dari orang-orang yang suci dan agung merupakan sebuah undangan untuk kedatangan Tuhan. Di dunia lahiriah, ketika masyarakat memerlukan bantuan atau kemudahan maka mereka mendekati pihak yang berwenang dan menyampaikan permintaan mereka. Begitu juga dalam dunia batin, ketika tidak ada kemungkinan untuk mencapai dan mendapatkan bhakti, derma, kedamaian, dan kebenaran maka orang-orang yang agung yang menginginkan untuk mendapatkan semua kualitas itu akan berdoa kepada Tuhan di dalam hati mereka. Kemudian, setelah mendengar doa dari mereka yang agung maka Tuhan sendiri datang ke dunia dan mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka. Ramayana dan Bhagavata mengungkapkan bahwa Sri Rama dan Sri Krishna mengambil inkarnasi ke dunia sebagai jawaban atas doa-doa para orang-orang yang suci. Jadi doa seharusnya diucapkan terus menerus untuk mencapai tujuan. Tidak ada seorang pun yang boleh putus asa dan berhenti berdoa bila doa tersebut tidak memberikan hasil segera akan kedatangan Tuhan. (Prema Vahini, Ch 70)


Thought for the Day - 7th March 2016 (Monday)

Who is Lord Shiva, and where is He to be found? Many answers are given, including Kailash as His place of residence. The true answer is, ‘Isavasyam Idam Sarvam’ (All this is pervaded by Isa). He is omnipresent. There is no place, object or being where God is not present. Correct your outlook and recognise this unity in the apparent diversity around you. When God is omnipresent, what need is there to go in search of Him? The search is meaningless. If one gets rid of attachment and hatred, one will experience the Divinity inherent within. This is the sadhana (spiritual exercise) one has to do today - to get rid of desire and hatred which conceal the God within. Many people ask: \"Swami! Show us the way.\" All you have to do is to go back to the source from which you came. Where is the need for seeking the way? The Bhagavatha has declared that it is the natural destiny of every living being to go back to where each one came from.

Siapakah Dewa Shiva, dan dimana Beliau bisa ditemukan? Banyak jawaban yang telah diberikan, termasuk di Kailash sebagai tempat kediaman-Nya. Jawaban yang benar adalah, ‘Isavasyam Idam Sarvam’ (semuanya diliputi oleh Isa). Tuhan adalah ada dimana-mana. Tidak ada tempat, benda atau makhluk dimana Tuhan tidak ada. Perbaikilah pandanganmu dan sadarilah kesatuan yang ada dalam keanekaragaman yang muncul di sekitarmu. Ketika Tuhan ada dimana-mana, apa gunanya pergi untuk mencari-Nya? Pencarian menjadi tidak bermakna. Jika seseorang telah lepas dari keterikatan dan kebencian maka seseorang akan mengalami keillahian di dalam dirinya. Ini adalah sadhana (latihan spiritual) yang seseorang harus lakukan hari ini – melepaskan keinginan dan kebencian yang menyembunyikan Tuhan di dalam diri. Banyak orang bertanya: "Swami! Perlihatkan kepada kami jalan." Semua yang harus engkau lakukan adalah kembali ke sumber darimana engkau berasal. Dimana perlunya untuk mencari jalan? Bhagavatha telah menyatakan bahwa takdir yang alami bagi setiap makhluk kembali dimana ia berasal. (Divine Discourse, 6 March 1989)


Thought for the Day - 6th March 2016 (Sunday)

Arms and bombs cannot save the world. God’s Grace alone can save the world. Hence your foremost duty is to pray for His grace. Prayer is supremely important and this awareness is needed in your daily living, at every step. Never forget that nothing is as powerful as the Lord’s Name to protect you. When you sing alone, your heart is merged in the song. When many sing together, the prayer acquires a divine power. Hence Guru Nanak commended community singing. With melody and rhythm, you must impart feeling to your song to make the bhajan a sacred offering. A tune (raga) without feeling (bhava) is a disease (roga). Giving up conceit and exhibitionism, sing bhajans in a spirit of humility and devotion, with the full awareness of the power of the Lord’s Name. This is the right way to do bhajans. When all participants sing in unison, sacred vibrations are produced, and the divine energies released fill the whole universe.

Senjata dan bom tidak dapat menyelamatkan dunia. Hanya rahmat Tuhan yang dapat menyelamatkan dunia. Oleh karena itu kewajibanmu yang utama adalah berdoa untuk mendapatkan rahmat-Nya. Doa adalah sangat penting sekali dan kesadaran ini diperlukan di dalam hidupmu sehari-hari dan dalam setiap langkah. Jangan pernah melupakan bahwa tidak ada apapun yang sama kuatnya dengan nama Tuhan untuk melindungimu. Ketika engkau menyanyi sendiri, hatimu akan menyatu dengan lagu itu. Ketika banyak orang yang bernyanyi bersama-sama, doa ini mendapatkan kekuatan Tuhan. Oleh karena itu, Guru Nanak memuji kelompok bernyanyi bersama-sama. Dengan melodi dan irama, engkau harus memberi perasaan pada nyanyianmu untuk membuat bhajan menjadi sebuah persembahan yang suci. Sebuah ketukan (raga) tanpa perasaan (bhava) adalah sebuah penyakit (roga). Lepaskanlah perasaan sombong dan pamer, lantunkanlah bhajan dalam semangat kerendahan hati dan bhakti serta penuh dengan kesadaran akan kekuatan dari nama Tuhan. Inilah jalan yang benar untuk melakukan bhajan. Ketika semua peserta melantunkan bhajan dalam kekompakan, getaran suci akan dapat dihasilkan dan energi Tuhan mengalir serta memenuhi seluruh alam semesta. (Divine Discourse, Feb 13, 1991)


Sunday, March 6, 2016

Thought for the Day - 5th March 2016 (Saturday)

Police and rulers can overcome only external foes; they have no power to destroy the internal enemies. The internal foes, the six enemies (arishadvarga) that operate inside a person, can be uprooted only by the teachings of the Lord, love of God, and the company of the holy and the great. The world suffers harm at the hands of wicked people when the police and the authorities fail in their duties. Similarly, the world is enveloped in darker ignorance when ‘great’ spiritual aspirants give up the path of world welfare, become victims of sense enjoyment and nurture ambition to earn name and fame. Spiritual elders are the rulers of the internal state; administrative authorities are the rulers of the external state. The whole world will bask in peace and joy only when worldly authorities and spiritual aspirants realise their duties and perform them with the right attitudes, with the welfare of all at heart, remembering the omnipotence of the Lord.

Polisi dan pihak yang berwenang hanya dapat mengatasi musuh yang ada di luar; mereka tidak memiliki kekuatan untuk menghancurkan musuh-musuh yang ada di dalam diri. Musuh di dalam diri yaitu enam kekaburan batin (arishadvarga) yang bekerja di dalam diri seseorang dapat dicabut hanya dengan ajaran Tuhan, kasih kepada Tuhan, dan pergaulan dengan yang suci dan mulia. Dunia mengalami penderitaan di tangan orang yang jahat ketika polisi dan pihak berwenang gagal menjalankan tugasnya. Sama halnya, dunia diliputi oleh kebodohan yang lebih pekat ketika penekun spiritual yang ‘hebat’ melepaskan jalan untuk kesejahteraan dunia dan menjadi korban dari kenikmatan indera dan memelihara ambisi untuk mendapatkan nama dan ketenaran. Pemimpin spiritual mengatur keadaan di dalam diri; pemerintah mengatur dunia luar. Seluruh dunia akan diberkati dengan kedamaian dan suka cita hanya ketika pemerintah dan penekun spiritual menyadari tugas mereka dan menjalankkan dengan sikap yang benar, dengan kesejahteraan semuanya di dalam hati, mengingat kemahakuasaan Tuhan. (Prema Vahini, Ch 69)