Saturday, October 31, 2009

Thought for the Day - 31st October 2009 (Saturday)


When hardships overwhelm you, know that it is the consequence of your own past deeds. Do not blame the Lord and develop a grouse against Him. Do not pay heed to trouble or take it as such. Rather engage yourself in the service of others and perform meritorious deeds. Continue relying on the name of the Lord for support. That is the sign of wisdom.

Ketika engkau mengalami penderitaan, ketahuilah bahwa hal tersebut sebagai akibat dari perbuatanmu di masa lalu. Jangan menyalahkan Tuhan dan mengeluh kepada-Nya. Jangan memikirkan masalah atau mengindahkannya. Lebih baik libatkan dirimu dalam pelayanan pada orang lain dan lakukan perbuatan yang bermanfaat. Teruslah bergantung pada Nama Tuhan sebagai sandaran. Itu adalah tanda kebijaksanaan.

-BABA

Friday, October 30, 2009

Thought for the Day - 30th October 2009 (Friday)


The Sadhaka (spiritual aspirant) must be vigilant not to lose his temper on trivial and petty matters, for that will retard his progress. Anger must be sublimated by systematic effort. One must resist the impulse to enter into discussions and arguments, for this breeds a spirit of rivalry and leads one towards feelings of anger and vengeance. Anger is at the root of all wrong behaviour. Hence, cultivate love towards all beings and thus keep undesirable habits and tendencies at bay.

Sadhaka (pencari spiritual) harus waspada untuk menghindari kehilangan kesabaran dan munculnya sifat-sifat buruk lainnya, karena akan menghambat kemajuan spiritualnya. Sifat marah harus dikendalikan dengan usaha yang keras. Para bhakta harus menghindari masuk ke dalam diskusi dan argument yang berlebihan, sehingga akan menjauhkan kita dari kemarahan dan sifat picik lainnya. Kemarahan merupakan sumber dari kebiasaan buruk lainnya. Oleh karena itu, kembangkanlah cinta kasih kepada sesama dan buanglah jauh-jauh semua sifat-sifat buruk.

-BABA

Thursday, October 29, 2009

Thought for the Day - 29th October 2009 (Thursday)


A sincere seeker and devotee can have no interest in the worldly pleasures and passions. These inferior desires have to be renounced, for they lie at the root of all misery. What exactly is Moksha or liberation? It is the Shanti (unruffled peace) obtained through the Sadhana (spiritual endeavour) of Chittha Shuddhi or cleansing of the heart. It is the negation of the impressions one gets through the senses.

Pencari Tuhan dan bhakta sejati tidak akan tertarik pada kesenangan dan keinginan duniawi. Keinginan ini harus kita tinggalkan, karena inilah akar permasalahan dari semua penderitaan. Apakah sebenarnya makna dari Moksa atau pembebasan? Moksa adalah kedamaian (Shanti) yang diperoleh lewat Sadhana dengan Chittha Shuddhi atau memurnikan hati. Pemurnian ini hanya didapatkan dengan pengekangan indera.

-BABA

Wednesday, October 28, 2009

Thought for the Day - 28th October 2009 (Wednesday)


You have to develop human values. Without this, you are human merely in form. Man is filled with qualities such as anger, desire, greed, jealousy, etc. These are animal qualities. Anger is the nature of a dog. Wavering mind is the quality of a monkey. You are neither a dog nor a monkey. When you are in a fit of anger, remind yourself that you are not a dog and your anger will diminish. Many animal qualities are rampant in human beings today. What we need to cultivate are the human qualities of compassion, truth, forbearance, empathy, etc.

Engkau harus mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan. Tanpa nilai-nilai kemanusiaan ini, engkau hanyalah sekedar berwujud manusia. Manusia dipenuhi dengan kualitas seperti kemarahan, keinginan, ketamakan, iri hati, dll. Ini semua adalah kualitas binatang. Kemarahan adalah sifat alami dari anjing. Pikiran yang ragu-ragu adalah sifat dari kera. Engkau bukanlah anjing, maupun kera. Ketika engkau sedang marah, ingatkan dirimu sendiri bahwa engkau bukanlah anjing maka kemarahanmu akan berkurang. Saat ini, banyak sifat-sifat binatang merajalela pada manusia. Apa yang kita perlukan untuk menumbuhkan sifat-sifat manusia adalah belas kasihan, kebenaran, kesabaran, empati, dll.

-BABA

Tuesday, October 27, 2009

Thought for the Day - 27th October 2009 (Tuesday)


The present state of affairs is due to men losing faith in themselves and in the Shastras (Vedic scriptures). Even those who claim to have faith do not conduct themselves according to the Shastras. Consequently, virtues and goodness have declined in the world, and wickedness has gained the upper hand. If the current scenario is to be transformed and the world is to enjoy peace and security, everyone must cultivate faith in the Shastras and practise the injunctions enjoined therein.

Keadaan yang kacau seperti sekarang ini disebabkan oleh orang-orang kehilangan kepercayaan pada diri mereka sendiri dan pada Shastras (Kitab Suci Weda). Bahkan mereka yang mengaku percaya pada Weda tidak mempraktekkan ajaran-ajarannya. Akibatnya, kebajikan dan kebaikan menurun di dunia ini, dan kejahatan merajalela. Jika keadaan sekarang dapat dirubah, maka dunia akan menjadi damai dan aman. Setiap orang harus menumbuhkan kepercayaan pada Kitab Suci Weda dan mempraktekkan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya.

-BABA

Monday, October 26, 2009

Thought for the Day - 26th October 2009 (Sunday)


Every act done with the consciousness of the body is bound to be egoistic. Selfless service can never be accomplished while being immersed in body consciousness. Consciousness of Deva (God) instead of Deha (body) will bring forth the splendour of Prema (Divine Love) from within the heart. With this idea as the inspiration and guide, man can achieve much good. We must cultivate the attitude that everything is as per God's will, that all is His Leela (Divine sport).

Setiap tindakan yang dilaksanakan dengan kesadaran badan akan cenderung bersifat mementingkan diri sendiri (egois). Saat tindakan tersebut dibenamkan dalam kesadaran badan, pelayanan tanpa pamrih tidak akan dapat dicapai. Kesadaran Deva (Tuhan) bukannya Deha (badan) akan membawa kecemerlangan Prema (Kasih Tuhan) dari dalam hati. Dengan gagasan ini sebagai inspirasi dan panduan, manusia dapat mencapai banyak kebaikan. Kita harus menumbuhkan sikap bahwa segala sesuatu adalah sesuai kehendak Tuhan, bahwa semua adalah Leela-Nya (permainan Tuhan).

-BABA

Sunday, October 25, 2009

Thought for the Day - 25th October 2009


Wherever there is a vacuum in any heart, love flows into it and is glad that it can fill the emptiness. It is never held back; it is offered in abundance without guile or deceit. It does not wear the cloak of falsehood, flattery or fear. The tendrils of love aspire to cling only to the garments of God. It senses that God resides in all His splendour in every heart. To discover that seat of God is real devotion.

Dimanapun ada kehampaan dalam hati, kasih mengalir ke dalamnya dan dengan senang hati mengisi kekosongan tersebut. Hal ini tidak pernah terhalangi, diberikan berlimpah tanpa kebohongan atau tipu daya. Tidak mengenakan jubah kepalsuan, pujian atau ketakutan. Sulur kasih ingin berpegang hanya pada jubah Tuhan. Dia merasakan bahwa Tuhan dengan segala kemuliaan-Nya berada dalam setiap hati. Untuk menemukan kediaman Tuhan tersebut adalah bhakti yang sesungguhnya.

-BABA

Friday, October 23, 2009

Thought for the Day - 24th October 2009 (Saturday)


The human birth is very difficult to attain. The body is like a caravanserai, the mind is the watchman, and the Jeeva (individual soul) is the pilgrim. And so none of these has any kinship with the others. The pilgrim is bound for the city of salvation, Mokshapuri. For a trouble-free journey, there is nothing as reliable as Namasmarana, the remembrance of the name of the Lord.

Kelahiran sebagai manusia sangat sulit dicapai. Badan ini seperti sebuah penginapan, pikiran adalah penjaganya, dan Jeeva (jiwa individu) adalah peziarah. Dan dengan demikian tidak ada satu pun dari semua ini mempunyai hubungan kekerabatan dengan yang lainnya. Peziarah terikat pada kota pembebasan, Mokshapuri. Agar bebas masalah dalam perjalanan, tidak ada sesuatu pun yang seampuh Namasmaranam, pengucapan Nama Tuhan.

-BABA

Thought for the Day - 23rd October 2009 (Friday)


God will decide what to give, when to give, and where. Hence, all actions should be dedicated to God, and He will decide what the devotee is fit to receive. When everything is left to God out of pure love and total faith, God will take care of the devotee. People today lack such firm faith. In the path of devotion, many ordeals have to be overcome. Great devotees in the past faced such ordeals with faith and fortitude. Ultimately they secured the grace of the Divine and experienced bliss. For achieving anything in life, two things are essential: firm faith and pure love.

Tuhanlah yang memutuskan akan memberikan apa, kapan, dan dimana. Oleh karena itu, seluruh tindakan seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan, dan Beliau akan memutuskan apakah seorang bhakta patut untuk menerimanya. Ketika segala sesuatunya dipersembahkan kepada Tuhan dengan cinta-kasih yang murni dan penuh keyakinan, Tuhan akan menjaga bhaktanya. Orang-orang saat ini kurang memiliki keyakinan pada Tuhan. Dalam jalan bhakti, banyak cobaan yang harus diatasi. Bhakta besar di masa lalu menghadapi cobaan tersebut dengan keyakinan dan ketabahan. Pada akhirnya semua itu menjamin rahmat Tuhan dan rasa suka cita. Untuk mencapai sesuatu dalam hidup, ada dua hal yang penting yaitu keyakinan yang teguh dan cinta-kasih yang murni.

-BABA

Thursday, October 22, 2009

Thought for the Day - 22nd October 2009 (Thursday)


When a man's inner self is filled with love, his life becomes full of bliss and he is always hale and hearty. Today, man suffers from numerous ailments the root cause of which is a diseased mind. There is no death for the mind, though when the body is facing death the mind thinks it is dying. The mind, it has been said, is the cause of one's bondage or liberation. Bad thoughts beget bondage. Good thoughts lead to liberation. Hence, everyone should develop good thoughts and perform good deeds. Such good feelings can arise only out of love.

Ketika bathin manusia dipenuhi dengan cinta-kasih, hidupnya menjadi penuh dengan suka cita dan ia selalu sehat walafiat. Saat ini, manusia menderita berbagai penyakit yang akar penyebabnya adalah pikiran yang sakit. Tidak ada kematian bagi pikiran, walaupun ketika tubuh menghadapi kematian, pikiran berpikir ia sedang sekarat. Seperti yang telah dikatakan, pikiran adalah penyebab perbudakan atau pembebasan seseorang. Pikiran buruk mengakibatkan perbudakan. Pikiran baik mengarah pada pembebasan. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya mengembangkan pikiran yang baik dan melakukan perbuatan yang baik. Perasaan baik seperti itu bisa muncul hanya karena cinta-kasih.

-BABA

Wednesday, October 21, 2009

Thought for the Day - 21st October 2009 (Wednesday)


Know that Paramatma (God) is the goal of man. Direct all attention to that goal. Control the mind that wanders away from it. This is the essence of the teachings of all the Shastras (scriptures). Be bound to the Atma in you. Take refuge in it. Meditate on it without interruption. Then the worldly bonds would loosen themselves, for the bond with which you attach yourself to the Lord has the power of unbinding all other bonds.

Ketahuilah bahwa Paramatma (Tuhan) adalah tujuan manusia. Arahkan semua perhatian pada tujuan tersebut. Kendalikan pikiran yang berasal dari hal-hal yang menyimpang. Ini adalah inti sari dari semua ajaran Shastra (Kitab suci). Menyatulah dengan Atma dalam dirimu. Berlindunglah didalamnya. Renungkan hal itu tanpa henti. Kemudian ikatan duniawi akan dilepaskan, karena keterikatanmu kepada Tuhan memiliki kekuatan untuk melepaskan semua ikatan lainnya.

-BABA

Tuesday, October 20, 2009

Thought for the Day - 20th October 2009 (Tuesday)


If you wish to lead an ideal life, you have to follow the example of the Avatars (Divine incarnations). Avatars may appear in human form, but you should not equate them with ordinary mortals. In physical form, both may appear alike. But there is a fundamental difference. You should not mistake the cotton fruit for the mango. When man strays away from the path of righteousness, God comes in human form to reform him. Birds, beasts and insects lead lives according to their specific nature. It is only man who has given up all righteousness, forgotten his divine essence and degraded his humanness. The Avatar has to protect the good, reform the erring and punish the wicked.

Jika engkau ingin menjalani kehidupan yang ideal, engkau harus mengikuti contoh dari Avatar (penjelmaan Tuhan). Avatar mungkin menjelma dalam wujud manusia, tetapi engkau seharusnya tidak menyamakan mereka dengan manusia biasa. Dalam bentuk fisik, keduanya mungkin sama. Tetapi ada perbedaan yang mendasar. Engkau seharusnya dapat membedakan antara buah kapas dengan buah mangga. Ketika manusia menyimpang dari jalan kebenaran, Tuhan menjelma dalam wujud manusia untuk mereformasi umatnya yang menyimpang tersebut. Burung-burung, binatang buas dan serangga menjalani kehidupan mereka sesuai dengan sifat alaminya. Walaupun manusia adalah mahluk yang telah diberkati dengan semua kebenaran, akan tetapi ia dapat melupakan hakikat ketuhanannya sehingga dapat menurunkan sifat kemanusiaannya. Avatar harus melindungi yang baik, memperbaiki yang salah, dan menghukum yang jahat.

-BABA

Monday, October 19, 2009

Thought for the Day - 19th October 2009 (Monday)


The rope is mistaken to be a snake and the perceiver flees in fear. This tells us that the eye is but a window through which the soul sees the external world. The soul is the motive force of all the senses. Of what use is the eye, when you do not possess 'Samadrishti'. 'Sama' means Brahman, the Absolute Reality; 'Samadrishti' means seeing only Brahman, the One, in all things at all times. This Ekathwam (Oneness) is the fundamental truth. All other experiences are false. Dwell on that in your meditation. Fix it in your inner consciousness. That is the path of Liberation.

Seutas tali disangka ular dan yang melihat lari ketakutan. Ini menandakan bahwa mata adalah jendela jiwa untuk mengamati dunia luar. Jiwa adalah kekuatan pendorong dari seluruh indera. Apalah fungsi mata, apabila ia tidak menguasai ‘Samadrishti’. Sama berarti Brahman, Realitas Absolut; ‘Samadrishti’ berarti melihat hanya Brahman, Sang Esa, di setiap makhluk/benda di setiap saat. Ekathwam (Keesaan) ini adalah kebenaran yang mendasar. Semua pengalaman yang lain bersifat palsu. Renungkanlah ini dalam meditasimu. Letakkanlah hal ini dalam kesadaran bathinmu. Itulah jalan Pembebasan.

-BABA

Sunday, October 18, 2009

Thought for the Day - 18th October 2009 (Sunday)


Deepavali is a festival which is designed to celebrate the suppression of the Ego by the Higher Self. Man is plunged in the darkness of ignorance and has lost the power of discrimination between the permanent and the evanescent. When the darkness of ignorance caused by Ahamkara (ego) is dispelled by the light of Divine knowledge, the effulgence of the Divine is experienced.

Deepavali adalah festival yang dirancang untuk merayakan pemusnahan Ego oleh Diri Sejati. Manusia terjerumus dalam gelap kebodohan dan telah kehilangan kemampuan membedakan antara yang fana dan kekal. Ketika gelap kebodohan yang disebabkan oleh Ahamkara (ego) dihalau dengan cahaya pengetahuan Illahi, kecemerlangan Ketuhanan akan dialami.

-BABA

Saturday, October 17, 2009

Thought for the Day - 17th October 2009 (Saturday)


He who thinks of the Lord with devotion can overcome any kind of Karma (consequences of past actions). With the grace of the Lord, one can experience even the otherwise unattainable bliss. Do not doubt the usefulness of Sadhana (spiritual exercise). Unshaken Bhakti (devotion) will win the grace of the Lord. If complete faith is placed in the Lord at all times, why should He deny you His grace? Generally men do not fully and unswervingly rely on the Lord. Faith is the product of peace and patience, not of haste and hurry.

Dia yang berpikir tentang Tuhan dengan rasa bhakti (pengabdian) dapat mengatasi segala jenis Karma (akibat dari perbuatan di masa lalu). Dengan rahmat Tuhan, seseorang bahkan dapat mengalami kebahagiaan yang tak terhingga. Jangan meragukan manfaat dari Sadhana (latihan spiritual). Bhakti yang tidak tergoyahkan akan memenangkan rahmat Tuhan. Jika keyakinan yang mantap ditujukan kepada Tuhan sepanjang waktu, mengapa Beliau harus menolak untuk memberikanmu rahmat-Nya? Pada umumnya manusia tidak sepenuhnya mempercayai Tuhan. Keyakinan adalah hasil dari kedamaian dan kesabaran, bukan dari tindakan tergesa-gesa dan terburu-buru.

-BABA

Friday, October 16, 2009

Thought for the Day - 16th October 2009 (Friday)


The pilgrim must traverse and go beyond the vast wastelands of worldly desires, overcome the thick slushy overgrowths of anger and hate, and negotiate the cliffs of ego and malice so that he can relax on the lush green pastures of harmony and love. Having thus become master of his inner foes, he must rest in the silence of his own heart, with all the agitations of his inner realm stilled. When the seeker is fixed thus in the undisturbed calm of his deepest consciousness, the flame of wisdom lights itself. At that moment, the seeker realizes that he is one with Universe, that he is the Indivisible Brahman.

Para peziarah harus menjelajah dan pergi melampaui tanah luas keinginan-keinginan duniawi, mengatasi menjalarnya kemarahan dan kebencian, dan menyingkirkan karang-karang ego dan kedengkian sehingga ia dapat beristirahat di padang rumput yang subur dengan keselarasan dan cinta-kasih. Dengan demikian ia menjadi penguasa dari musuh-musuhnya, ia harus beristirahat dalam keheningan hatinya sendiri, dimana semua pergolakan di dalamnya ditenangkan. Ketika para pencari spiritual telah mantap dalam ketenangan tak tergoyahkan yang berasal dari kesadarannya yang paling dalam, lampu kebijaksanaan dalam dirinya menyala. Pada saat itu, para pencari spiritual menyadari bahwa ia adalah satu dengan yang Universal (Tuhan), bahwa ia tak terpisahkan dengan Brahman.

-BABA

Thursday, October 15, 2009

Thought for the Day - 15th October 2009 (Wednesday)


Jnana (knowledge) does not mean mere acquaintance with books. Nor is it worldly knowledge. Only the person who has recognised that the individual is not distinct from the universal is a real Jnani (man of wisdom). True wisdom consists in awareness of the unity of the individual and the Samashti (collective whole). How can a man who is not aware of his humanness recognise the Divinity within himself? Hence the first requisite is the recognition by everyone of his human essence.

Jnana (ilmu pengetahuan) tidak berarti hanya sekedar mempelajari buku-buku. Juga bukan pengetahuan duniawi. Seorang Jnani sejati (orang yang bijaksana) adalah orang yang telah menyadari bahwa setiap individu tidak berbeda dari yang universal (Tuhan). Kebijaksanaan yang sejati adalah kesadaran akan kesatuan individu dan Samashti (kesadaran seluruh manusia). Bagaimana bisa seseorang yang tidak menyadari tentang kemanusiaan akan menyadari Ketuhanan dalam dirinya? Oleh karena itu syarat pertama yang harus dimiliki adalah setiap orang harus menyadari esensi dari manusia itu sendiri.

-BABA

Tuesday, October 13, 2009

Thought for the Day - 14th October 2009 (Wednesday)


The body and mind are very closely interlinked and are vital to man's evolution. A complete man is one who has both a pure mind and a healthy body. The body must cetrainly be fostered and protected, but no attachment must be developed towards it. The Atma within the body is more fundamental. While the body is bound to perish sometime, the Atma within is eternal. A healthy body and a pure mind in turn combine to give 'Lavanya' - true beauty. True beauty is that of the character and not of the body. It is this Lavanya that gives one an eternal youthful countenance and bliss.

Tubuh dan pikiran saling terkait sangat erat dan sangat penting bagi perkembangan manusia. Manusia sempurna adalah seseorang yang mempunyai kedua-duanya yaitu pikiran yang murni dan tubuh yang sehat. Tubuh tentu saja harus dipelihara dan dijaga, tetapi tidak perlu mengembangkan keterikatan dalam hal ini. Atma yang ada di dalam tubuhlah yang lebih penting. Walaupun suatu waktu tubuh akan mati, Atma yang berada di dalamnya kekal. Tubuh yang sehat dan pikiran yang murni nantinya akan menyatu untuk memberikan 'Lavanya' - keindahan sejati. Keindahan sejati adalah karakter dan bukan berasal dari tubuh. Inilah Lavanya yang memberikan seseorang keawetmudaan dan kebahagiaan abadi.

-BABA

Thought for the Day - 13th October 2009 (Tuesday)


Keep this thought in your mind, "I am not a mere man, I am the embodiment of Divinity." Have this conviction fixed in your mind and you will realise this truth. As it is said, Brahmavid Brahmaiva Bhavathi (the knower of Brahman becomes verily Brahman). If you perceive yourself as Divine, you become Divine. If you consider yourself a human being, you will remain so. While your form is that of a human being, there is the Atmic principle in you. To recognise this Atman, you have to keep your heart pure and empty of negativity.

Renungkan hal ini dalam pikiranmu, "Aku bukanlah manusia biasa, aku adalah perwujudan Tuhan." Milikilah keyakinan ini dalam pikiranmu dan engkau akan menyadari kebenaran ini. Seperti dikatakan, Brahmavid Brahmaiva Bhavathi (yang mengetahui Brahman menjadi Brahman). Jika engkau menganggap dirimu sebagai Tuhan, engkau menjadi Tuhan. Jika engkau menganggap dirimu sebagai manusia, maka engkau akan tetap seperti itu. Walaupun wujudmu adalah manusia, ada prinsip Atma dalam dirimu. Untuk menyadari Atman ini, engkau harus menjaga hatimu tetap murni dan menghilangkan sifat-sifat negatif.

-BABA

Monday, October 12, 2009

Thought for the Day - 12th October 2009 (Monday)


Sound is the first attribute of God. The hymns of the Vedas constitute Naadha Brahman (God in the form of sound), which is highly potent. Even if you cannot chant the Vedas, mere listening to the recitation of the Vedas is itself capable of purifying your mind and elevating you to a higher level. Though the child does not know the meaning of the lullaby sung by its mother, it is induced to sleep hearing the tune. Similarly, listening to the chanting of the Vedas with undivided attention will confer upon you immense benefit. If you ruminate over it and practise its teachings in your life, you can imagine the magnitude of the bliss you will attain.

Suara adalah atribut pertama dari Tuhan. Lagu-lagu pujian dalam Weda merupakan Naadha Brahman (Tuhan dalam bentuk suara), yang sangat ampuh. Bahkan jika engkau tidak dapat melantunkan Weda, hanya dengan mendengarkan pembacaan Weda itu sendiri mampu memurnikan pikiranmu dan mengangkatmu ke tingkat yang lebih tinggi. Meskipun anak tidak tahu makna dari lagu nina-bobok (lagu pengantar tidur) yang dinyanyikan oleh ibunya, maka anak dibujuk untuk tidur ketika mendengar lagu tersebut. Demikian juga, mendengarkan nyanyian Weda dengan penuh perhatian akan memberi manfaat yang besar. Jika engkau merenungkan dan mempraktekkan ajaran-ajarannya dalam kehidupanmu, engkau dapat membayangkan betapa besarnya kebahagiaan yang akan engkau dapatkan.

-BABA

Sunday, October 11, 2009

Thought for the Day - 11th October 2009


Worship God in any form or with any name. In fact, God has thousands of names and a myriad forms. Ek Prabhu Ke Anek Naam (the one Lord has many names). While worshipping the Lord with a thousand names, you should be fully aware that it is the same Divinity you are addressing. Rama, Krishna, Allah, Jesus, etc., all are names denoting the same Divinity. Unity alone is the reality. Ekam Sath Viprah Bahudha Vadanthi (Truth is one, but the wise ones refer to it by many names). Hold this faith firmly in your heart and make your life worthwhile and remain ever in bliss.
Pujalah Tuhan dalam Wujud atau dengan Nama apapun. Sesungguhnya, Tuhan memiliki ribuan Nama dan Wujud. Ek Prabhu Ke Anek Naam (satu Tuhan, memiliki banyak Nama). Pada saat memuja Tuhan dengan ribuan Nama, engkau harus sepenuhnya menyadari bahwa hal tersebut ditujukan kepada Tuhan yang sama. Rama, Krishna, Allah, Yesus, dan sebagainya, semua Nama menunjukkan Tuhan yang sama. Kesatuan itu sendiri adalah realitas. Ekam Sath Viprah Bahudha Vadanthi (Kebenaran itu satu, tetapi orang-orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama). Pegang teguh keyakinan ini dalam hatimu dan buatlah hidupmu berharga serta tetaplah selalu dalam suka cita.

-BABA

Saturday, October 10, 2009

Thought for the Day - 10th October 2009 (Saturday)


What is the purpose of human birth? It is not merely to eat, drink and make merry. Paropakarartham Idam Shariram (human body is meant to serve others). Man should dedicate himself to the service of society. God has endowed man with all powers. But, he is bound by the senses, which lead him to both good and evil ways. Hence, it is the foremost duty of man to make proper use of the senses. One who lacks sense control is worse than an animal. Firstly, one should get rid of one's animal qualities. Only then, can one rise to the level of the Divine.

Apa tujuan kelahiran manusia? Tujuannya bukan semata-mata hanya untuk makan, minum dan bersuka-ria. Paropakarartham idam Shariram (tubuh manusia dimaksudkan untuk melayani orang lain). Manusia harus mengabdikan dirinya untuk melayani masyarakat. Tuhan telah menganugerahkan manusia dengan segala kemampuan. Tetapi, manusia terikat oleh indera, yang membawanya ke jalan yang baik dan buruk. Oleh karena itu, adalah tugas utama manusia untuk menggunakan inderanya dengan tepat. Orang yang tidak mampu menguasai inderanya lebih buruk daripada binatang. Pertama-tama, kita harus menyingkirkan sifat-sifat hewaniah tersebut. Baru setelah itu, seseorang dapat naik ke tingkat Ilahi.

-BABA

Friday, October 9, 2009

Thought for the Day - 9th October 2009 (Friday)


It is the sense of duality of 'mine' and 'thine' which accounts for all the joys and sorrows, likes and dislikes experienced by man. This duality is rooted in selfishness, which makes one think that as long as one is alright, it does not matter what happens to the world. Such a self-centred person, who regards his body, his wealth and his family as all that matter to him, is deluded, for he looks upon truth as untruth and the false as true. To get rid of this deep-seated malaise, men have to engage themselves in service. They have to realise that the body has not been given to serve one's own interests but to serve others.

Ini adalah arti dari dualitas 'kepunyaanku' dan 'kepunyaanmu' yang menyebabkan semua kegembiraan dan kesedihan, serta suka dan tidak suka yang dialami oleh manusia. Dualitas ini berakar pada sifat mementingkan diri sendiri, yang membuat orang berpikir bahwa selama seseorang baik-baik saja, tidak ada persoalan yang terjadi di dunia. Seperti orang yang mementingkan diri sendiri, yang memperhatikan tubuhnya, kekayaannya dan keluarganya sebagai seluruh persoalannya, tertipu, karena ia melihat kebenaran sebagai ketidakbenaran dan kepalsuan sebagai kebenaran. Untuk menyingkirkan kekhawatiran yang berlebihan ini, manusia harus melibatkan diri dalam pelayanan. Mereka harus menyadari bahwa tubuh diberikan bukan untuk melayani kepentingan diri sendiri tetapi untuk melayani orang lain.

-BABA