Wednesday, January 31, 2024

Thought for the Day - 31st January 2024 (Wednesday)

If anybody accosts a person and asks him, "Who are you?", out of his identification with the body he gives his name in reply. In answer to further questions, he introduces himself as a doctor, a farmer, or student, or the like. When the enquiry goes further, he identifies himself with his nationality as an American, an Indian, a Pakistani or so on. When you examine these answers deeply, you will find that none of them gives the truth. He got his name from his parents. It did not belong to him at birth. His identification with one or other of his professions is not true because he is not the profession. What then is the truth about him? "I am the Atma. That is my true Self." That is the truth. But people identify themselves with their names, professions and nationality and do not base their lives on the Atma. No driver of a car identifies with the car. Likewise, the body is a car and the Atma is the driver. Forgetting one's true role as a driver, one is identifying one's self with the body, which is only a vehicle.


-- Divine Discourse, Aug 23, 1995.

The body is Shivam (auspicious) as long as Atma dwells in it: it becomes Shavam (dead body) once Atma leaves it.


Jika siapapun mendatangi seseorang dan menanyakannya, "Siapakah anda?", karena identifikasinya dengan badan maka dia menyebutkan namanya sebagai jawaban. Untuk jawaban berikutnya, dia memperkenalkan dirinya sebagai dokter, petani, atau pelajar, atau yang lainnya. Ketika penyelidikan lebih jauh, dia mengidentifikasi diri dengan kewarganegaraannya sebagai warga negara Amerika, India, Pakistan atau yang lainnya. Ketika engkau memeriksa jawaban yang diberikan tadi secara mendalam, engkau akan mendapatkan bahwa tidak ada jawaban yang diberikan itu adalah benar. Dia mendapatkan nama dari pemberian orang tuanya. Nama itu bukan miliknya saat lahir. Identifikasi dirinya dengan salah satu pekerjaan bukanlah benar karena dia sendiri bukanlah sebuah pekerjaan. Lantas apa yang sejatinya benar tentang dirinya? "aku adalah Atma. Itu adalah Diri Sejati diriku." Itu adalah kebenaran. Namun orang-orang mengidentifikasi diri mereka dengan nama, pekerjaan dan kewarganegaraan dan tidak berdasarkan pada hidup mereka pada Atma. Tidak ada supir yang mengidentifikasi dirinya dengan mobil. Sama halnya, badan adalah sebuah mobil dan Atma adalah supirnya. Dengan melupakan peran sesungguhnya seseorang sebagai supir, seseorang mengidentifikasi dirinya dengan badan, yang mana hanya merupakan sarana saja.


-- Divine Discourse, Aug 23, 1995.

Badan adalah Shivam (suci) selama Atma masih ada di dalamnya: badan menjadi Shavam (mayat) saat Atma meninggalkan badan.


Thought for the Day - 30th January 2024 (Tuesday)

One must constantly strive to get rid of evil tendencies. Inherited evil traits rooted in the mind must be given up at the sacrificial altar. Of these traits, the worst are hatred and envy. They arise from intense selfishness. They are qualities of a leopard and should not find a place in a human being. Some people try to pretend they have overcome anger, hatred, jealousy and pride. The devices adopted by such persons are only the cunning tricks of the fox. As these traits make their appearance from time to time, they should be immediately cast off. This calls for continuous internal yajna (sacrificial worship), as against the external yajna which is performed only once a year at one particular place. Internal yajna must be performed at all times, in all places and under all circumstances. The sacrificial altar for this yajna is within each one of us. Whenever an evil thought or desire occurs, it should be mercilessly scotched. Only by constant vigilance and continuous endeavour, divine grace can be earned.


- Divine Discourse, Oct 10, 1983.

Only when evil traits are banished can Divinity manifest itself in all its glory.


Seseorang harus secara tanpa henti berusaha untuk melenyapkan kecendrungan jahat. Sifat-sifat jahat yang diwariskan dan mengakar dalam pikiran harus dibuang di atas altas yajna. Dari sifat-sifat jahat ini, yang paling jahat adalah kebencian dan iri hati. Keduanya muncul dari sifat mementingkan diri sendiri yang kuat. Kebencian dan iri hati adalah sifat dari macan tutul dan seharusnya tidak mendapat tempat dalam diri manusia. Beberapa orang mencoba untuk berpura-pura bahwa mereka telah mengatasi kemarahan, kebencian, kecemburuan dan kesombongan. Perangkat yang digunakan oleh orang-orang seperti itu hanyalah tipuan licik dari rubah. Karena sifat-sifat jahat ini muncul dari waktu ke waktu, maka sifat jahat ini harus segera dilenyapkan. Usaha ini memerlukan yajna di dalam diri secara terus menerus, berbeda dengan pelaksanaan yajna di luar diri yang dilaksanakan sekali dalam setahun pada tempat tertentu. Yajna di dalam diri harus dilaksanakan sepanjang waktu, di semua tempat dan dalam berbagai keadaan. Altar untuk melaksanakan yajna ini adalah di dalam diri setiap orang dari kita. Kapanpun pikiran jahat muncul atau keinginan timbul, hal ini harus dibasmi tanpa ampun. Hanya dengan kewaspadaan secara terus menerus maka Rahmat Tuhan dapat diterima.


- Divine Discourse, Oct 10, 1983.

Hanya ketika sifat-sifat jahat dibasmi maka ke-Tuhan-an mewujudkan kualitas-Nya sendiri dengan segala kemualiaan-Nya


Friday, January 26, 2024

Thought for the Day - 25th January 2024 (Thursday)

The green vitality of a tree is a sign of the Divine Will, which sends its roots deep into the soil. The roots keep the tree safe from storms, holding it fast against the violent tug of winds. So too, if the roots of love in man go down into the springs of the Divine within him, no storm of suffering can shake him and crash him into disbelief. As a lump of sugar sweetens every drop of water in the cup, the eye of love makes every person in the world friendly and attractive. The simple milkmaids of Gokul saw each other as Krishna; such was their overwhelming love for the Divine Incarnation. The Bhagavata, where their love and the love of many other devotees of the Lord are described, is a textbook of Divine Love, Bhakti. Mahabharatha, which describes the exploits and excellences of Krishna, is a textbook of Dharma, of ethics, of social and political life, as corrected and straightened by the supremacy of the Right. Begin loving service, this day, this moment. Each act will urge you to the next, for the thrill is so inspiring!


- Divine Discourse, May 24, 1967.

Love gives rise to truth. Love begets peace. When you have love, you practise non-violence. Love is the under-current in all these.


Energi hidup hijau pada pohon adalah tanda kehendak Tuhan yang menancapkan akarnya jauh ke dalam tanah. Akar menjaga pohon itu aman dari badai, menopangnya tetap kuat melawan tarikan angin yang kencang. Begitu juga, jika akar kasih dalam diri manusia turun ke bawah jauh ke dalam sumber Tuhan yang ada di dalam dirinya, maka tidak akan ada badai berupa penderitaan dapat menggoyahkannya dan menghempaskannya ke dalam keraguan. Seperti halnya segumpal gula yang memberikan rasa manis pada setiap tetes air yang ada di dalam cangkir, pandangan kasih membuat setiap orang di dunia menjadi ramah dan menarik. Para pemerah susu yang sederhana di Gokula memandang satu sama lainnya sebagai Krishna; begitulah kasih mereka yang begitu luar biasa pada inkarnasi Tuhan. Naskah suci Bhagavata, yang menggambarkan kasih mereka dan kasih banyak bhakta lainnya pada Tuhan dijelaskan, adalah sebuah naskah suci kasih Tuhan atau Bhakti. Mahabharatha, yang mana menjelaskan ekploitasi dan keunggulan dari Sri Krishna, adalah sebuah buku teks tentang Dharma, etika, kehidupan sosial dan politik, yang dikoreksi dan diselaraskan oleh supremasi kebenaran. Mulailah kasih dalam pelayanan, hari ini, saat ini. Setiap perbuatan akan mendorongmu pada tindakan berikutnya, karena kegembiraan itu begitu menginspirasi!


- Divine Discourse, May 24, 1967.

Kasih melahirkan kebenaran. Kasih melahirkan kedamaian. Ketika engkau memiliki kasih, engkau mempraktekkan tanpa kekerasan. Kasih adalah kekuatan yang mendasari semuanya ini.

Thought for the Day - 24th January 2024 (Wednesday)

In past ages, many sages, kings and ascetics left home and dwelt in the solitude of the forests and having earned unlimited bliss themselves, they taught others the source of their bliss, namely, the Divine that is encased in the human. Remove the vices of lust and hatred, and put out the raging flames of anger and greed; then, they said, the innate shantam and soukhyam (tranquillity and happiness), the swarupam and swabhavam (one's own form and nature) of man, will manifest unhindered! Shantam is the swarupam, soukhyam is the swabhavam of man. Individual reconstruction is much more important than the construction of temples. Multiply virtues, not buildings; practise what you preach, that is the real pilgrimage; cleanse your minds of envy and malice, that is the real bath in holy water. Of what avail is the name of the Lord on the tongue, if the heart within is impure?


- Divine Discourse, Mar 24, 1965.

The good and evil in the world can be changed only by the change in men’s actions. Transformation of society must start with transformation of individuals.


Di masa lalu, banyak orang suci, raja dan pertapa meninggalkan rumah serta tinggal sendirian dalam hutan dan setelah mendapatkan kebahagian yang tidak terbatas, mereka mengajarkan yang lain sumber dari kebahagiaan mereka dapatkan, yaitu Tuhan yang terbungkus di dalam diri manusia. Hilangkan sifat buruk nafsu dan kebencian, dan padamkan kobaran api kemarahan dan ketamakan; kemudian, mereka berkata, shantam dan soukhyam (ketenangan dan kebahagiaan) bawaan, swarupam dan swabhavam (wujud dan sifat) manusia akan terwujud tanpa hambatan! Shantam adalah swarupam, soukhyam adalah swabhavam dari manusia. Rekontruksi individu adalah jauh lebih penting daripada pembangunan tempat suci. Perbanyak kebajikan, dan bukan bangunan; jalankan apa yang engkau katakan, itu adalah perjalanan suci yang sejati; bersihkan pikiranmu dari iri hati dan kesombongan, itu adalah mandi air suci yang sejati. Apa gunanya menyebut nama Tuhan di lidah, jika hati di dalam diri tidak suci?


- Divine Discourse, Mar 24, 1965.

Kebaikan dan kejahatan di dunia dapat dirubah hanya dengan merubah perbuatan manusia. Perubahan masyarakat harus dimulai dengan perubahan pada individu.

Thought for the Day - 22nd January 2024 (Monday)

The satwik (the pure and good), love all as embodiments of God and engage themselves in humble service. Pundalika was one such. He was massaging the feet of his old mother when God appeared before him! He did not interrupt the service, for he was serving the same God, in his mother! Tukaram declared to Pundalika that it was God who manifested before him, but Pundalika did not waver. He asked God to wait for a while until he had finished the service of the God he had started serving. The prompting inside man to love his mother is an expression of the Divine Nature in him. If there was no spark of the Divine in man, he would not have loved at all. A person who loves is a theist, whether he goes to a temple or church, or not. Pundalika was not guilty of sacrilege, for he was actually worshipping God in His most accessible Form - his mother. You have to proceed from the known to the unknown! 


- Divine Discourse, May 24, 1967.

God showers His grace on those who make their parents happy.


Kualitas satwik (murni dan baik), mengasihi semuanya sebagai perwujudan dari Tuhan dan libatkan diri dalam pelayaan dengan kerendahan hati. Pundalika adalah contoh dalam hal ini. Pundalika sedang memijat kaki ibunya yang sudah tua ketika Tuhan muncul dihadapannya! Pundalika tidak menghentikan pelayanannya, karena dia juga sedang melayani Tuhan yang sama dalam diri ibunya! Tukaram menyatakan kepada Pundalika bahwa Tuhan sendiri yang sedang menampakkan diri-Nya di hadapan Pundalika, namun Pundalika tidak goyah. Pundalika meminta Tuhan untuk menunggu sebentar sampai dia selesai pelayanan pada Tuhan yang telah dia mulai. Dorongan dalam diri manusia untuk mengasihi ibunya adalah sebuah ungkapan kualitas ke-Tuhan-an di dalam dirinya. Jika tidak ada percikan ke-Tuhan-an di dalam diri manusia, dia sama sekali tidak akan mengasihi. Orang yang mengasihi adalah seorang teis, apakah dia pergi ke kuil atau gereja, atau tidak. Pundalika tidaklah bersalah melakukan penistaan, karena Pundalika sesungguhnya sedang memuja Tuhan dalam wujud yang mudah dijangkaunya yaitu wujud ibunya. Engkau harus melanjutkan dari yang diketahui pada yang tidak diketahui! 


- Divine Discourse, May 24, 1967.

Tuhan mencurahkan karunia-Nya pada mereka yang membuat orang tuanya bahagia.

Thought for the Day - 21st January 2024 (Sunday)

If you wish to understand your true nature, you have to do three things: Bend the body, mend the senses, end the mind. The first step is to "bend the body" - you should not allow the ego to develop within your body. Cultivate humility and do your duties sincerely. "Mend the senses" calls for examining how the senses behave, whether they are tending to go astray, and correcting and restraining them when necessary. "End the mind" calls for quieting the vagaries of the mind. How is this to be done? It is by turning the mind in a different direction. For example, there is a lock and key. When the key is turned towards the left, the lock gets locked. If the key is turned towards the right the lock is opened. In man, the heart is the lock. The mind is the key. When the mind is turned Godward the heart develops detachment. When the mind is turned towards the world, the heart develops attachment. Thus both detachment and attachment result from the way the mind functions. When the mind is directed towards Prakruti (Nature or the phenomenal world), bondage ensues. When you turn your mind towards Divinity, you experience bliss. "End the mind" means turning the mind Godward. All you have to do is to dedicate every action of yours to the Divine. Then everything becomes easy and a source of bliss. 


- Divine Discourse, May 06, 1988.

Devotion and an attitude of surrender, which is the best fruit of devotion, will give you great courage to meet any emergency!


Jika engkau ingin memahami sifat sejatimu, engkau harus melakukan tiga hal: Bungkukkan badan, perbaiki indera, akhiri pikiran. Langkah pertama adalah "bungkukkan badan " – engkau seharusnya tidak membiarkan ego berkembang di dalam dirimu. Tingkatkan sifat kerendahan hati dan jalankan kewajibanmu dengan tulus. "Perbaiki indera " menyampaikan dengan tegas untuk memeriksa bagaimana Indera berperilaku, apakah Indera tersebut cendrung menyimpang, dan memperbaiki serta menahan Indera tersebut ketika dibutuhkan. "Akhiri pikiran " menegaskan untuk menenangkan gejolak pikiran. Bagaimana hal ini bisa dilakukan? Dengan mengarahkan pikiran pada arah yang berbeda. Mengambil contoh kunci dan gembok. Ketika kunci diputar ke arah kiri, maka gembok akan terkunci. Jika kunci diputar ke arah kanan  maka gembok akan terbuka. Dalam diri manusia, hati adalah gemboknya, sedangkan pikiran adalah kuncinya. Ketika pikiran diarahkan kearah Tuhan maka hati mengembangkan tanpa keterikatan. Ketika pikiran diarahkan pada dunia, hati mengembangkan keterikatan. Jadi keduanya yaitu tanpa keterikatan dan keterikatan adalah hasil dari cara pikiran difungsikan. Ketika pikiran diarahkan ke arah Prakruti (alam atau duniawi), maka perbudakan terjadi. Ketika engkau mengarahkan pikiranmu pada Tuhan, engkau mengalami kebahagiaan. "Akhiri pikiran " berarti mengarahkan pikiran pada jalan Tuhan. Yang perlu engkau lakukan hanyalah mendedikasikan setiap perbuatanmu pada Tuhan. Kemudian segalanya menjadi mudah dan menjadi sumber kebahagiaan. 


- Divine Discourse, May 06, 1988.

Bhakti dan sikap tanpa keterikatan, yang merupakan buah terbaik dari bhakti, akan memberikanmu keberanian yang besar untuk menghadapi setiap keadaan darurat!


Saturday, January 20, 2024

Thought for the Day - 20th January 2024 (Saturday)

The scientist is one who has an external vision. The one who has an internal vision is a saint. If you draw the figure of a circle, that which ends wherefrom it started in the full circle has been described as Poornam (the full or the whole). The Full Circle represents spirituality. For, in it the end and the beginning are the same. Spirituality knows no difference between beginning and end. To understand what is science, you cut the full circle into two halves. The left half is a semicircle which resembles the English letter "C”. "C" is science, that is, it begins at one point and ends at another. Between these two points, there is a big gap, which is called agamyagocharam -  it is beyond reach, invisible and incomprehensible. Matter and Spirit may be regarded as two semicircles. Scientists are only investigating Matter and are ignoring the Spirit. The two parts have been described in Vedantic parlance as Prakruti and Paramatma (Nature and God). The scientist is the one who enquires into the nature of creation. The saint is one who seeks to know the Creator. Once you understand the Creator, you can understand the whole of creation. 


- Divine Discourse, May 06, 1988.

Spirituality = Spirit of Love. Science = Split of Love.


Ilmuwan adalah seseorang yang memiliki pandangan ke luar. Seseorang yang memiliki pandangan ke dalam adalah seorang guru suci. Jika engkau menggambar sebuah lingkaran, titik itu berakhir persis dimana titik itu dimulai sehingga membentuk lingkaran penuh yang dijelaskan sebagai Poornam (penuh atau utuh). Lingkaran penuh melambangkan spiritualitas. Karena, dalam lingkaran antara awal dan akhir adalah sama. Spiritualitas tidak mengenal perbedaan antara awal dan akhir. Untuk memahami apa itu ilmu pengetahuan, engkau potong lingkaran penuh itu menjadi setengah bagian. Setengah bagian kiri yang melambangkan abjad "C”. "C" adalah ilmu pengetahuan, yang mana dimulai dari satu titik dan berakhir pada titik lainnya. Diantara kedua titik itu, ada sebuah kesenjangan yang besar, yang mana disebut dengan agamyagocharam -  itu di luar jangkauan, tidak terlihat dan sulit dipahami. Materi dan Jiwa bisa dianggap sebagai dua setengah lingkaran. Para ilmuwan hanya meneliti materi dan mengabaikan Jiwa. Kedua setengah lingkaran ini telah dijelaskan dalam bahasa Wedanta sebagai Prakruti dan Paramatma (Alam dan Tuhan). Ilmuwan adalah seseorang yang menyelidiki sifat ciptaan. Sedangkan guru suci adalah seseorang yang mencari untuk mengetahui sang Pencipta. Saat engkau memahami sang Pencipta, engkau dapat memahami seluruh ciptaan. 


- Divine Discourse, May 06, 1988.

Spiritualitas = Jiwa dari kasih sayang. Ilmu pengetahuan = Pemisah kasih sayang.

Thought for the Day - 19th January 2024 (Friday)

God, who is the embodiment of love, can be attained only through love, just as the effulgent Sun can be seen only through its own light! There is nothing more precious in this world than Divine love. God is beyond all attributes. Hence His love also is beyond attributes - Gunatita. But, human love, because it is governed by gunas (attributes), results in attachment and aversion. Love should not be based on expectations of a reward or return. Love based on such expectations makes it a business deal. Love is not an article of commerce. It is not like a loan and getting it back. It is a spontaneous offering. Pure love of this kind can emanate only from a pure heart. Prema should be like a mariner's compass. Wherever the compass may be placed, the needle will point only to the north. Likewise, man's love, in all circumstances, should be directed towards God. That alone is true love. It should be unaffected by pleasure or pain. It makes no difference between ‘mine’ and ‘thine’. Love has to be acquired only through love and not by any other means whatsoever. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1995.

Love has no birth and no death. It is everpresent. It shines in the heart when all worldly feelings are driven away from it.


Tuhan yang merupakan perwujudan dari kasih, hanya dapat dicapai melalui kasih, seperti halnya matahari yang bersinar hanya dapat dilihat melalui sinarnya! Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini daripada kasih Tuhan. Tuhan adalah melampaui semua sifat. Oleh karena itu kasih-Nya juga melampaui semua sifat - Gunatita. Namun, kasih sayang manusia karena diatur oleh guna (sifat), menghasilkan keterikatan dan kebencian. Kasih seharusnya tidak berdasarkan pada harapan pada imbalan atau balasan. Kasih yang berdasarkan pada harapan membuatnya menjadi sebuah bentuk bisnis. Kasih bukanlah sebuah benda yang diperdagangkan. Kasih bukanlah sebuah pinjaman dan mendapatkannya kembali. Kasih adalah sebuah persembahan yang bersifat spontan. Kasih yang murni seperti ini hanya dapat muncul dari hati yang murni. Prema seharusnya menjadi seperti Kompas para pelaut. Dimanapuan Kompas itu diletakkan, jarumnya hanya akan menunjukkan arah utara. Sama halnya, kasih sayang manusia dalam keadaan apapun juga, seharusnya diarahkan pada Tuhan. Hanya itu yang bisa disebut kasih sejati. Kasih ini seharusnya tidak terpengaruh oleh kesenangan atau penderitaan. Kasih tidak membuat perbedaan antara ‘milikku’ dan ‘milikmu’. Kasih harus dapat diraih hanya melalui kasih dan bukan sarana yang lainnya. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1995.

Kasih tidak lahir dan mati. Kasih itu bersifat selalu ada. Kasih bersinar di hati ketika semua perasaan duniawi dihilangkan darinya.

Thought for the Day - 18th January 2024 (Thursday)

What people have to learn today is to give up attachments to the things of the world and seek the love of God. When one cultivates the love of God, renouncing worldly things becomes as simple as leaving hold of a handkerchief. Clinging to property is difficult. Giving it up is easy when people have understood the meaning of God's love. Let people, wherever they may be, in villages or towns, cultivate faith in God, develop love and share it with one and all. Then they will experience ineffable bliss. Liberation will not come through meditation or penance. Love is the only means. When you render service with love, it will become meditation, penance and all else. Love is the fifth Purushartha, the supreme goal of life. Love is also the panacea for all the ills that affect society today. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1995.

Dedicate your minds to God. In due course, you will merge in the Divine and become one with God.


Apa yang manusia harus pelajari hari ini adalah melepaskan keterikatan pada benda-benda duniawi dan mencari kasih Tuhan. Ketika seseorang memupuk kasih pada Tuhan, melepaskan benda-benda duniawi menjadi semudah melepaskan sapu tangan. Terikat pada kepemilikan adalah sulit. Melepaskannya adalah mudah ketika manusia telah mengerti makna dari kasih Tuhan. Biarkan manusia, dimanapun mereka berada, apakah di desa atau di kota, pupuklah keyakinan pada Tuhan, kembangkan kasih dan bagilah kasih dengan semuanya. Kemudian mereka akan mengalami kebahagiaan yang tidak terlukiskan. Pembebasan tidak akan datang melalui meditasi atau penebusan dosa. Kasih adalah satu-satunya sarana. Ketika engkau memberikan pelayanan dengan kasih, maka pelayanan ini akan menjadi meditasi, penebusan dosa dan semua yang lainnya. Kasih adalah bagian kelima dari Purushartha yaitu tujuan tertinggi dari hidup. Kasih juga adalah obat mujarab bagi semua penyakit yang menjangkiti masyarakat pada saat sekarang. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1995.

Dedikasikan pikiranmu pada Tuhan. Pada saatnya nanti, engkau akan menyatu dengan Tuhan dan menjadi satu dengan-Nya.

Thought for the Day - 17th January 2024 (Wednesday)

Two things are essential for students: prema (love) and tyaga (sacrifice). Adhere to these two ideals. Love all. Be prepared for any kind of sacrifice. Without the spirit of sacrifice, life has no meaning. For the sake of helping others or for promoting the welfare of the society, you must be ready even to give up your lives. To realise God, continually yearn for Him. You must constantly pray for the opportunity to experience God. Ramakrishna Paramahamsa used to feel sad if he did not have the vision of the Mother on any day. Pine for God at all times. When you get God's grace, all the planets will be in your favour. You must ceaselessly try to win God's grace. Never give up the search. Do your duty and God's grace will follow. Pray from the depth of your heart for the well-being of all people. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1997.

For the plant of life, you have to provide the water of love and the manure of sacrifice to enable it to grow well.


Dua hal mendasar bagi pelajar: prema (kasih) dan tyaga (pengorbanan). Patuhi dua ideal ini. Kasihi semuanya. Bersiaplah untuk pengorbanan apapun juga. Tanpa adanya semangat berkorban, hidup menjadi tanpa makna. Untuk kepentingan membantu orang lain atau untuk memupuk kesejahtraan masyarakat, engkau harus siap bahkan menyerahkan hidupmu. Untuk menyadari Tuhan, teruslah merindukan-Nya. Engkau harus tanpa henti berdoa untuk kesempatan mengalami Tuhan. Ramakrishna Paramahamsa dulunya merasa sedih karena tidak memiliki pandangan pada Sang Ibu Ilahi di suatu hari. Rindukan Tuhan sepanjang waktu. Ketika engkau mendapatkan Rahmat Tuhan, semua planet akan mendukungmu. Engkau harus terus menerus mencoba mendapatkan karunia Tuhan. Jangan pernah menyerah untuk mencari. Jalankan kewajibanmu dan Rahmat Tuhan akan mengikuti. Berdoalah dari kedalaman hatimu untuk kesejahtraan semua orang. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1997.

Untuk tumbuhan kehidupan, engkau harus menyediakan air kasih dan pupuk pengorbanan agar tumbuhan itu tumbuh dengan baik.

Thought for the Day - 16th January 2024 (Thursday)

The inner meaning of the Sun's northward journey must be properly understood. The north is represented by Himachala. ‘Hima’ means snow. It is pure, untainted and extremely cool. All these endow it with the quality of Prashanti (everlasting perfect peace). ‘Achala’ means that which is steady and unshakeable. Himachala does not refer to the physical Himalayan region. It represents that which is cool, peaceful and steady. The Sun symbolises the vision of man. The northward movement of the Sun is a call to human beings to turn their vision towards that which is cool, peaceful and unchanging. This means that men should direct their vision inward. This is the lesson taught by the Sun! Man's vision should not be confined solely to the external objects and worldly things which are transient and perishable. Man has been given this vision so that he may see the pure and sacred Divine consciousness abiding in his heart. The northward motion of the Sun - Uttarayana - is the appropriate occasion for developing this inward vision. This is the royal road for the spiritual aspirant to realise the Supreme. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1994.

Every effort should be made to direct the vision inwards towards the pure and sacred Indwelling Self.


Makna batin dari perjalanan matahari ke arah utara harus dipahami dengan benar. Utara adalah diwakili oleh Himachala. ‘Hima’ yang berarti salju. Salju adalah murni, tidak ternoda dan begitu sangat dingin. Semuanya ini memberikan salju dengan kualitas Prashanti (kedamaian sempurna yang kekal). ‘Achala’ berarti yang bersifat mantap dan tidak tergoyahkan. Himachala tidak mengacu pada daerah Himalaya secara fisik. Ini melambangkan yang bersifat dingin, penuh kedamaian dan tidak tergoyahkan. Matahari adalah simbul dari pandangan manusia. Pergerakan ke arah utara adalah panggilan bagi manusia untuk mengarahkan pandangannya menuju pada kualitas yang bersifat dingin, penuh kedamaian dan tidak berubah. Hal ini berarti bahwa manusia harus mengarahkan pandangannya ke dalam diri. Ini adalah hikmah yang diajarkan oleh Matahari! Pandangan manusia seharusnya tidak hanya dibatasi oleh objek-objek di luar diri dan duniawi yang bersifat sementara dan mudah hancur. Manusia telah diberkati dengan pandangan sehingga manusia dapat melihat kesadaran Tuhan yang suci dan murni yang bersemayam di dalam hatinya. Pergerakan matahari ke arah utara atau Uttarayana – adalah saat yang tepat dalam mengembangkan pandangan ke dalam diri. Ini jalan megah bagi peminat spiritual untuk menyadari Yang Mahakuasa. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1994.

Segala usaha harus dilakukan untuk mengarahkan pandangan menuju pada Diri Sejati yang suci dan murni yang bersemayam di dalam diri.

Thought for the Day - 15th January 2024 (Monday)

The day of Makara Sankranti has a very special significance. Sankranti means - San (coming together); Kranti (a big change). The entry of the Sun into Makararasi (Capricorn) heralds the beginning of a great change from this day. It marks the entry into a Divine phase. It signifies the attempt to turn man's mind towards God. It is a day when we pray to the Sun, who is the presiding deity for the eyes, to direct our vision to the pure and the holy, the sacred and the Divine. The real meaning of Purusharthas (goals of human life) is to make use of the time and the circumstances as they arise for making one's life meaningful and sublime. We have to effect a remarkable spiritual transformation in the world today. Only then the observance of Makara Sankranti has a meaning. External changes with no change in one's outlook and attitude will not signify kranti (radical change). When we bring about a great spiritual transformation, then there will be real peace. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1985.

Kranti (change) and Shanti (peace) both reside within your own heart! Discover them within you – it is your duty!


Hari Makara Sankranti memiliki sebuah makna yang sangat khusus. Sankranti berarti - San (datang bersama); Kranti (sebuah kesempatan besar). Masuknya matahari menuju Makararasi (Capricorn) menandai dimulainya kesempatan yang sangat besar mulai dari hari ini. Ini menandai masuknya fase ilahi. Ini juga menandakan usaha untuk mengarahkan pikiran manusia menuju Tuhan. Ini adalah hari ketika kita berdoa kepada matahari, yang merupakan kekuatan Tuhan yang ada pada mata, untuk mengarahkan pandangan kita pada hal yang suci dan murni, yang sakral dan ilahi. Makna sesungguhnya dari Purushartha (tujuan manusia) adalah untuk menggunakan waktu dan keadaan yang ada untuk menjadikan hidup bermakna dan mulia. Kita harus melakukan transformasi spiritual yang luar biasa di dunia pada saat ini. Hanya dengan demikian, perayaan Makara Sankranti memiliki sebuah makna. Perubahan di luar diri tanpa adanya perubahan pada pandangan dan sikap seseorang tidak akan menandakan kranti (perubahan radikal). Ketika kita membuat perubah spiritual yang luar biasa, kemudian baru akan ada kedamaian yang sejati. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1985.

Kranti (perubahan) dan Shanti (kedamaian) keduanya berada di dalam hatimu sendiri! Temukan keduanya di dalam dirimu – ini adalah kewajibanmu!

Thought for the Day - 14th January 2024 (Sunday)

Sankranti festival should be regarded as the day on which man turns his vision towards God. Man's life may be compared to a stalk of sugarcane. Like the cane, which is hard and has many knots, life is full of difficulties. But these difficulties must be overcome to enjoy the bliss of the Divine, just as sugarcane must be crushed and its juice converted into jaggery to enjoy the permanent sweetness of jaggery. Enduring bliss can be got only by overcoming trials and tribulations. Gold cannot be made into an attractive jewel without it being subjected to the process of melting in a crucible and being beaten into the required shape. When I address devotees as Bangaru (Golden one), I am considering you as precious beings. But only by going through the vicissitudes of life with forbearance can you become attractive jewels. You should not allow yourselves to be overwhelmed by difficulties. Develop self-confidence and have firm faith in God. With unshakeable faith, dedicate yourselves to the service of your fellowmen and lead exemplary lives. 


- Divine Discourse, Jan 15, 1992.

With self-confidence, you can accomplish anything and secure joy. You will be able to face any difficulties and overcome them.


Perayaan Sankranti seharusnya dianggap sebagai hari dimana manusia mengarahkan pandangannya pada Tuhan. Hidup manusia dapat dianggap sebagai batang tebu. Seperti tebu yang keras dan memiliki banyak simpul, hidup penuh dengan kesulitan. Namun kesulitan-kesulitan ini harus diatasi untuk menikmati kebahagiaan Tuhan, seperti halnya tebu harus digiling dan sarinya dirubah menjadi gula untuk bisa menikmati rasa manisnya yang permanen. Kebahagiaan yang kekal hanya bisa didapat dengan mengatasi cobaan dan penderitaan. Emas tidak bisa dibuat menjadi permata yang menarik tanpa mengalami proses peleburan dan ditempa dalam wadah sesuai yang diinginkan. Ketika Aku menyebut bhakta dengan Bangaru (seperti emas), Aku menganggap dirimu sebagai individu yang berharga. Namun hanya dengan melewati perubahan hidup dengan kesabaran maka engkau dapat bisa menjadi permata yang menarik. Engkau seharusnya tidak membiarkan dirimu diliputi dengan kesulitan. Kembangkan kepercayaan diri dan memiliki keyakinan yang mantap pada Tuhan. Dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan, dedikasikan dirimu untuk pelayanan pada sesamamu dan menjalani hidup yang patut diteladani. 


- Divine Discourse, Jan 15, 1992.

Dengan kepercayaan diri, engkau dapat mencapai apapun dan mendapatkan suka cita. Engkau akan mampu menghadapi kesulitan apapun dan mengatasi semuanya itu.

Thought for the Day - 13th January 2024 (Saturday)

Be at least human, even if you do not aspire to become divine! Being human is at least better than the status of beasts, for they do not remember the past, nor plan for the future. Cattle do not know that they are ploughing for the sake of sowing, nor bringing home the harvest when the mowing is finished. Man piles upon his head the past and the future, and since he is not quite sure, he goes to the additional bother of 'insurance!' Man is burdened with desires; he plans to brighten the future and wipe out the past. The tiny seed of desire grows soon into a mighty tree; so you must fry the seed in the fire of tapas (penance), so it may not sprout. The fire of detachment will fry the seed of desire down to the last trace of life in it! Mere transitory fits of renunciation will not succeed in preventing sprouting. Detachment must be supplemented by the knowledge of the hollowness of the objective world. 


- Divine Discourse, Oct 04, 1967.

Your mind should be immersed in the feelings of nondualism and your body should translate it into action


Setidaknya jadilah manusia, bahkan jika engkau tidak berhasrat untuk mencapai keilahian! Dengan menjadi manusia setidaknya lebih baik daripada status sebagai hewan buas, karena hewan buas tidak ingat masa lalu, tidak juga merencanakan masa depan. Hewan ternak tidak mengetahui bahwa mereka membajak untuk kepentingan menabur benih dan juga tidak tahu membawa hasil panen pulang ketika pemotongan sudah selesai. Manusia menumpuk di kepalanya masa lalu dan masa depan, dan sejak manusia tidak begitu yakin, manusia beralih pada masalah tambahan yaitu ‘asuransi!’ Manusia dibebani dengan keinginan; manusia merencanakan masa depan yang cerah dan menghapus masa lalu. Benih kecil keinginan tumbuh dengan cepat menjadi pohon yang begitu besar; jadi engkau harus menggoreng benih itu dalam nyala api tapa, sehingga benih itu tidak jadi bertunas. Api tanpa keterikatan akan menggoreng benih keinginan sampai ke sisa-sisa hidup terakhir yang ada di dalamnya! Pelepasan keduniawian yang bersifat sementara tidak akan berhasil mencegah tumbuhnya tunas. Tanpa keterikatan harus dilengkapi dengan pengetahuan kekosongan dari dunia objektif. 


- Divine Discourse, Oct 04, 1967.

Pikiranmu seharusnya tenggelam dalam perasaan tanpa dualitas dan tubuhmu harus menerjemahkannya ke dalam tindakan

Thought for the Day - 12th January 2024 (Friday)

While you are students, you must feel that studying is your first and only duty. Be witness to what’s happening outside the classroom; do not rush out and get distracted. Try to identify the One in the many; become strong, physically, mentally and spiritually; imbibe as much as possible the wisdom gathered in the past; cultivate skills by which you can serve society. The heart soaked in compassion is verily the altar of God. If you forget these ideals and allow greed, conceit and hate to take root in your hearts, you are lowering yourselves to the level of beasts. As a first step in educational progress, revere your parents and have love and gratitude towards them. It is through them that you have this wonderful chance of life on earth. They are custodians of culture, the earliest teachers who instilled virtue into you! Have compassion in your hearts for the unfortunate brothers and sisters, who are unlearned, ill or suffering. Try your best to open their eyes, to cure their ills and to alleviate their distress. 


- Divine Discourse, Mar 23, 1975.

Only the youth are capable of protecting this world. It is the youth and youth alone who can set this world right.


Ketika engkau sebagai pelajar, engkau harus merasa bahwa belajar adalah satu-satunya kewajibanmu. Jadilah saksi terhadap apa yang sedang terjadi di luar ruang kelas; jangan bergegas ke luar kelas dan menjadi terganggu. Cobalah untuk mengidentifikasi Yang Esa diantara yang banyak; jadilah kuat secara fisik, mental dan spiritual; seraplah sebanyak mungkin kebijaksanaan yang dikumpulkan di masa lalu; tingkatkan ketrampilan yang mana engkau bisa gunakan untuk melayani masyarakat. Hati yang terendam dalam welas asih sejatinya adalah altar Tuhan. Jika engkau melupakan ideal-ideal ini dan mengijinkan ketamakan, kesombongan dan kebencian mengakar di dalam hatimu, engkau sedang menurunkan derajat dirimu pada tingkat hewan buas. Sebagai Langkah awal dalam kemajuan pendidikan, hormati orang tua dan miliki kasih dan rasa syukur kepada mereka. Adalah melalui orang tua engkau memiliki kesempatan hidup yang begitu indah di dunia. Mereka adalah penjaga budaya, guru yang pertama yang menanamkan nilai-nilai kebaikan di dalam dirimu! Miliki welas asih di dalam hatimu terhadap saudara-saudarimu yang malang, mereka yang tidak terpelajar, mereka yang sakit dan menderita. Cobalah dengan kemampuanmu yang terbaik untuk membukakan mata mereka, untuk menyembuhkan penyakit mereka dan meringankan kesusahan mereka. 


- Divine Discourse, Mar 23, 1975.

Hanya generasi muda yang mampu melindungi dunia ini. Ini adalah hanya generasi muda yang dapat memperbaiki dunia ini.

Thought for the Day - 11th January 2024 (Thursday)

Students! Remember that wealth lost can be regained, health lost can be recovered, but time lost is lost forever. Hence, do not waste time. Time is God. Sanctify the time given to you by worthy deeds, experience bliss and share it with others. Sports and Arts are intended to give pleasure. But the commercialisation of sports and music has lowered their value, together with the decline in human values. There should be no room for hatred or jealousy in games and sports. Our Institute students should engage themselves in sports for health and enjoyment. The participation of students coming from different regions and different backgrounds in games should be conducive to the promotion of unity. Even games should be regarded as sacred. Thereby, the participants become holy.


- Divine Discourse, Jan 14, 1993.

To develop powers of concentration, sports and games are very essential. They serve to promote physical fitness and mental health.


Para pelajar! Ingat bahwa kehilangan kekayaan bisa diraih kembali, kehilangan Kesehatan dapat dipulihkan kembali, namun kehilangan waktu adalah kehilangan selamanya. Oleh karena itu, jangan menyia-nyiakan waktu. Waktu adalah Tuhan. Sucikan waktu yang diberikan kepadamu dengan perbuatan-perbuatan yang berguna, mengalami kebahagiaan dan berbagai kebahagiaan itu dengan yang lainnya. Olahraga dan seni dimaksudkan untuk memberikan kesenangan. Namun komersialisasi olahraga dan musik telah menurunkan nilai keduanya, bersama-sama dengan kemerosotan dalam nilai-nilai kemanusiaan. Seharusnya tidak ada ruang bagi kebencian atau kecemburuan dalam permainan dan olahraga. Dalam institusi kita para pelajar seharusnya melibatkan diri mereka dalam olahraga untuk Kesehatan dan kesenangan. Keikutsertaan pada pelajar yang berasa dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda dalam permainan harus kondusif untuk meningkatkan persatuan. Bahkan permainan harus dipandang sebagai hal yang sakral. Dengan demikian, para peserta menjadi suci. 


- Divine Discourse, Jan 14, 1993.

Untuk mengembangkan kekuatan konsentrasi, olahraga dan permainan adalah sangat mendasar. Keduanya dapat meningkatkan kesehatan fisik dan batin.

Thought for the Day - 10th January 2024 (Wednesday)

Serve people with no thought of high or low; no service activity is high or low, all are equal in the eyes of the Lord; it is the readiness, the joy, efficiency, skill with which you rush to do it that matters! If you do not serve man, who’s your kith and kin, who has the same feelings, impulses and instincts as you, who is before you, alive and gladly accepting your service with a smile of gratitude, how can you serve Madhava (God), who is so far above and beyond you, so different and distant, so potent and mysterious? Train yourselves to serve God by serving man, in whom there is God installed in the heart! Convince yourselves that the service of man is worship of God. If you send away someone who runs towards your house for shelter from the rain back into the open street, isn’t that inhuman, to say the least? if you don’t do all that lies within your power to alleviate the pain another is suffering from, are you fit to be called human?


- Divine Discourse, Oct 04, 1967.

In rendering service, there should be a recognition of the omnipresence of the Divine in all human beings


Layani orang dengan tanpa pikiran tinggi atau rendah; tidak ada aktifitas pelayanan yang bersifat tinggi atau rendah, semuanya adalah sama di mata Tuhan; yang penting adalah kesiapan, suka cita, efisiensi, ketrampilan yang engkau gunakan untuk bergegas melakukan pelayanan! Jika engkau tidak melayani manusia, yang merupakan sanak saudaramu, yang memiliki perasaan yang sama, dorongan dan naluri yang sama denganmu, yang ada dihadapanmu, hidup dan dengan senang hati menerima pelayananmu dengan senyum rasa syukur, bagaimana engkau dapat melayani Tuhan (Madhava), yang ada melampaui dirimu, begitu berbeda dan jauh, begitu kuat dan misterius? Latihlah dirimu untuk melayani Tuhan dengan melayani manusia, dimana ada Tuhan yang bersemayam di dalam hatinya! Yakinkan dirimu bahwa pelayanan kepada manusia adalah ibadah kepada Tuhan. Jika engkau mengusir seseorang yang datang ke rumahmu untuk berlindung dari hujan untuk kembali ke jalanan, bukankah itu tidak manusiawi? Jika engkau tidak melakukan dengan semua kemampuanmu untuk meringankan penderitaan orang lain, apakah engkau layak disebut manusia? 


- Divine Discourse, Oct 04, 1967.

Dalam memberikan pelayanan, harus ada kesadaran akan kemahahadiran Tuhan di dalam diri semua umat manusia. 

Thought for the Day - 9th January 2024 (Tuesday)

First, practise the attitude of “I am Yours”. Let the wave discover and acknowledge that it belongs to the sea. This first step is not as easy as it looks. The wave takes a long time to recognise that the vast sea beneath it gives it its existence. Its ego is so powerful that it will not permit it to be so humble, as to bend before the sea. “I am Yours; You are the Master. I am a servant; You are sovereign. I am bound.” This mental attitude will tame the ego. Make every activity worthwhile. This is the religious outlook named marjala-kishora — the attitude of the kitten to its mother, mewing plaintively for succour and sustenance, removing all trace of the ego. The next step is: “You are mine,” where the wave demands the support of the sea as its right. The Lord has to take the responsibility of guarding and guiding the individual. The individual is important and worthy to be saved, and the Lord is bound to fulfil the need of the devotee. Surdas said, “You are mine; I will not leave You; I shall imprison You in my heart; you shall not escape.” The next stage is: “You are I” — I am but the image and You are the Reality. I have no separate individuality; there is no duality. All is One. Duality is but a delusion.


- Divine Discourse, Sep 08, 1963.

The Lord rushes toward the devotee way faster than the devotee rushing toward Him.



Pertama, praktekkan sikap “hamba adalah milik-Mu”. Biarkan ombak itu sendiri menyadari dan mengakui bahwa dirinya adalah milik dari lautan. Langkah pertama adalah tidak mudah seperti kelihatannya. Ombak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui bahwa lautan yang luas dibawahnya yang memberikan keberadannya. Ego dari ombak adalah begitu sangat kuat yang mana tidak mengijinkan dirinya untuk menjadi rendah hati, hingga membungkuk di depan lautan. “hamba adalah milik-Mu; Engkau adalah tuan. Hamba hanyalah pelayan; Engkau adalah penguasa. Hamba terikat.” Sikap batin seperti ini akan menjinakkan ego. Buatlah setiap aktifitas menjadi bermanfaat. Ini adalah pandangan agama yang disebut dengan marjala-kishora — sikap anak kucing kepada ibunya, mengeong dengan sedih meminta pertolongan dan makanan, menghilangkan semua jejak ego. Langkah berikutnya adalah: “Engkau adalah milikku,” dimana ombak meminta dukungan lautan sebagai haknya. Tuhan harus mengambil tanggung jawab untuk menjaga dan membimbing individu. Individu adalah penting dan berharga untuk diselamatkan, dan Tuhan terikat untuk memenuhi kebutuhan dari bhakta. Surdas berkata, “Engkau adalah milik hamba; hamba tidak akan meninggalkan-Mu; hamba akan menempatkan-Mu di dalam hatiku; Engkau tidak akan bisa melarikan diri.” Langkah berikutnya adalah: “Dirimu adalah diriku” — hamba hanyalah gambar dan diri-Mu adalah kenyataan itu. Hamba bukanlah individu terpisah; tidak ada dualitas. Semuanya adalah Satu. Dualitas hanyalah sebuah khayalan.


- Divine Discourse, Sep 08, 1963.

Tuhan akan bergegas menuju bhakta lebih cepat daripada bhakta bergegas menuju Tuhan.

Thought for the Day - 8th January 2024 (Monday)

Treat everyone as your brother and sister. There may be differences of opinion at times but that should not lead to hatred and enmity. The Pandavas are an outstanding example of this. When the Pandavas were in exile, Krishna visited them. On finding only Dharmaraja, Krishna enquired about the whereabouts of the other brothers. Dharmaraja replied that four of them had gone to fetch food and the remaining hundred were in Hastinapur. Krishna chided Dharmaraja for considering the Kauravas also as his brothers. To this, Dharmaraja replied, “Krishna, don’t you know this? When there is an internal conflict among ourselves we are five and they are a hundred in number. But when there is an external threat, we all unite and are 105 in number.” Differences should not divide us. Members of the Sai Organisation should foster such unity. Let there not be any conflicts. Live like children of the same family. Get a good name, so that there is no other organisation comparable to the Sai Organisation in the world. Develop love and work unitedly.


- Divine Discourse, Nov 20, 1998.

Follow the maxim: Brotherhood of Man and Fatherhood of God.


Perlakukan setiap orang sebagai saudara laki-laki dan saudara perempuanmu. Kadang-kadang mungkin ada perbedaan pendapat namun itu seharusnya tidak mengarah pada kebencian dan permusuhan. Pandawa adalah contoh yang luar biasa terkait akan hal ini. Ketika pandawa sedang masa pembuangan, Sri Krishna mengunjungi mereka. Ketika hanya menemui Dharmaraja, Sri Krishna menanyakan tentang keberadaan saudara yang lainnya. Dharmaraja menjawab bahwa keempat saudara yang lainnya sedang pergi untuk mencari makan dan seratus saudara lainnya masih ada di Hastinapura. Sri Krishna menegur Dharmaraja karena menganggap para Kaurava juga adalah saudaranya. Dalam hal ini, Dharmaraja menjawab, “Sri Krishna, tidakkah Engkau tahu hal ini? Ketika ada konflik internal diantara kita sendiri dimana kita berlima dan mereka berjumlah seratus. Namun ketika ada ancamana dari luar, kita semua bersatu dan jumlah kami adalah 105.” Perbedaan seharusnya tidak memecah kami. Anggota dari organisasi Sai seharusnya memupuk kesatuan yang seperti itu. Jangan sampai ada konflik. Hiduplah seperti anak-anak dalam keluarga yang sama. Dapatkan nama baik, sehingga tidak ada organisasi lainnya yang dapat dibandingkan dengan organisasi Sai di dunia. Kembangkan kasih dan kerja sama dalam persatuan.


- Divine Discourse, Nov 20, 1998.

Ikuti pepatah: semua manusia adalah saudara dan Tuhan adalah bapak dari semua manusia.

Thought for the Day - 7th January 2024 (Sunday)

Never accept anything ‘free’ from others; pay it back, in service or work. That will make you self-respecting individuals. Receiving a favour means getting bound to the giver. Grow with self-respect and dignity. That is the best service you can do to yourself. ‘Uncle’ Moon is ‘uncle’ to all the children of the world. So also, the Lord is everyone’s Father, in whose property everyone can claim a share. But to get it, you must reach a certain age, a certain standard of intelligence and discrimination. The infirm and the idiotic, He will not consider fit to receive His property! His property is Grace, Love. If you have discrimination and renunciation, you can claim your share, as your right! Bring devotion, keep it here and take from here spiritual strength! The more such business is done, the more pleased am I. Bring what you have, namely, your sorrows and griefs, worries and anxieties, and take from Me joy and peace, courage and confidence! 


- Divine Discourse, Shivaratri 1955.

Offer your love to Him and receive His grace in the form of peace, happiness and liberation


Jangan pernah menerima apapun ‘gratis’ dari orang lain; bayarlah itu kembali, dalam pelayanan atau pekerjaan. Itu akan membuatmu menjadi pribadi yang menghargai diri sendiri. Menerima sebuah bantuan berarti menjadi terikat dengan pemberi. Tumbuhlah dengan harga diri dan martabat. Itu adalah pelayanan terbaik yang engkau dapat lakukan pada dirimu sendiri. ‘Paman’ adalah bulan bagi setiap anak-anak di dunia. Begitu juga, Tuhan adalah bapak bagi setiap orang orang, yang di dalam harta-Nya setiap orang dapat memperoleh bagiannya. Namun untuk bisa mendapatkannya, engkau harus mencapai usia tertentu, standar kecerdasan dan kemampuan membedakan tertentu. Dia yang lemah dan bodoh, tidak akan layak untuk mendapatkan harta-Nya! Harta-Nya adalah Rahmat, kasih. Jika engkau memiliki kemampuan membedakan dan tanpa keterikatan, engkau dapat mengklaim bagianmu, sebagai hakmu! Bawalah bhakti, simpan disini dan bawa pulang dari sini yaitu kekuatan spiritual! Semakin banyak transaksi seperti ini dilakukan maka semakin senang diri-Ku. Bawalah apa yang engkau miliki yaitu penderitaan dan kesedihanmu, kecemasanmu, dan bawalah dari-Ku suka cita dan kedamaian, keberanian dan keyakinan! 


- Divine Discourse, Shivaratri 1955.

Persembahkan kasihmu kepada Tuhan dan terimalah Rahmat-Nya dalam bentuk kedamaian, kebahagiaan dan pembebasan

Thought for the Day - 4th January 2024 (Thursday)

Three types of devotion: (1) The bird method where, like a bird swooping down the ripe fruit on the tree, the devotee is too impatient and, by that very impatience, loses the fruit, which falls off from his hold! (2) The monkey method where, like a monkey that pulls towards it one fruit after another and by sheer unsteadiness is unable to decide which fruit it wants, devotee hesitates and changes his aim too often and loses all chances of success. (3) The ant method, where like the ant that slowly and steadily proceeds toward sweetness, the devotee moves direct, with undivided attention, towards the Lord and wins His Grace! Devotion and faith are the two oars that take you in the boat across the sea of worldly life. A child told its mother when it went to bed at night, “Mother! Wake me up when I’m hungry.” The mother answered, “There is no need, your hunger will itself wake you!” So too, when hunger for God comes, it will itself activate you and make you seek the food you need! 


- Divine Discourse, Shivaratri 1955.

Unless man marches on in the spiritual path, he cannot be at peace with himself and his fellowmen.


Ada tiga jenis bhakti: (1) Metode burung, dimana seperti halnya seekor burung yang terbang menukik mengarah pada buah matang yang ada di pohon, bhakta juga tidak sabar dan karenanya kehilangan buah tersebut yang jatuh dari genggamannya! (2) Metode kera, dimana seekor kera memetik satu buah dan buah yang lainnya dan karena tidak adanya pengendalian diri sehingga tidak mampu memutuskan buah mana yang diinginkannya, bhakta merasa ragu-ragu dan begitu sering merubah tujuannya yang membuat kehilangan semua kesempatan untuk berhasil. (3) Metode semut, dimana seperti halnya semut yang secara perlahan dan mantap bergerak menuju arah manis, bhakta juga bergerak dengan perhatian yang terpusat menuju pada Tuhan dan mendapatkan Rahmat-Nya! Bhakti dan keyakinan adalah dua kayuh yang membawamu dalam perahu menyebrangi lautan kehidupan duniawi. Seorang anak mengatakan pada ibunya ketika pergi tidur di malam hari, “Ibu! Bangunkan saya ketika saya lapar.” Ibunya menjawab, “Tidak perlu anakku, karena rasa laparmu sendiri yang akan membangunkanmu!” Begitu juga ketika rasa lapar pada Tuhan muncul, rasa lapar ini akan mengakatifkanmu dan membuatmu mencari makanan yang engkau butuhkan! 


- Divine Discourse, Shivaratri 1955.

Kecuali manusia terus maju menapaki jalan spiritual, manusia tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan sesamanya.

Thought for the Day - 3rd January 2024 (Wednesday)

Now, people read and study all kinds of unintelligible Vedantic texts and struggle with commentaries and notes and translations to grasp their sense. It is being poured down their throats, but the portion does not get down to soften the heart. It is not translated into practice. The truths of the Vedanta are put on for public exhibition, as in a drama, where appropriate dresses are worn on the stage but taken off when the actor moves off the stage. They do not adhere to them all the time to derive the Bliss of the Soul (Atmananda), which they can give. It is chiefly a matter of careful, well-timed, regulated discipline; it cannot be got by spurts and skips; it has to be climbed step by step, each step being used as a foothold for the next. Virtues must be cultivated in the home; each member sharing in the joy with the rest, each one seeking opportunities to help others. This attitude must be stuck to, so it stays as character! How can a vessel with mouth facing down be filled with water? It must be open to receive good impulses. Learn each lesson by systematic study. Application and effort alone will give success. 


- Divine Discourse, Sep 21, 1960.

Always remember the inseparable relationship between unity, purity, and divinity and strive to achieve that.


Saat sekarang, orang-orang membaca dan mempelajari semua jenis naskah-naskah Weda yang sulit dipahami dan berjuang memahaminya lewat komentar, terjemahan serta catatan yang ada. Pembelajaran naskah Weda dituangkan ke kerongkongan mereka, namun porsinya tidak turun melembutkan hati. Hal ini tidak diterjemahkan ke dalam praktek. Kebenaran dari Wedanta dijadikan sebagai bahan pamer di depan umum, sebagai bagian dalam drama, seperti pakaian yang sesuai dikenakan di atas panggung namun dilepaskan ketika sang aktor turun dari panggung. Mereka tidak mematuhi ajaran Wedanta itu sepanjang waktu untuk mendapatkan kebahagiaan jiwa (Atmananda), yang dapat diberikan. Pemahaman ajaran Wedanta utamanya terkait dengan disiplin yang teliti, tepat waktu, dan teratur; itu tidak bisa dicapai dengan tergesa-gesa dan ketidakteraturan; ini harus dilakukan secara bertahap, setiap Langkah digunakan sebagai sebuah pijakan bagi langkah berikutnya. Sifat-sifat mulia harus dipupuk di dalam rumah; setiap anggota keluarga berbagi dalam suka cita dengan yang lainnya, setiap orang mencari kesempatan untuk membantu yang lainnya. Sikap ini harus dipegang teguh, sehingga ini menjadi karakter! Bagaimana bisa sebuah mangkuk yang mulutnya menghadap ke bawah bisa terisi dengan air? Bejana ini harus dibuka untuk menerima dorongan yang baik. Belajarlah setiap hikmah dengan pembelajaran secara sistematis. Hanya dengan penerapan dan usaha akan memberikan keberhasilan. 


- Divine Discourse, Sep 21, 1960.

Selalulah ingat hubungan yang tidak terpisahkan diantara kesatuan, kesucian dan ke-Tuhan-an serta berusahalah untuk mencapainya.

Thought for the Day - 2nd January 2024 (Tuesday)

Worship the Lord and offer Him these flowers (nonviolence, sense control, compassion, fortitude, peace, austerity, meditation and truth). Now, when other flowers are used, devotion does not last after one comes out of the altar room! When one crosses that door-step, anger, hatred and anxiety possess him and degrade him. Without developing the qualities indicated by the eight flowers how can any one win the grace of God? Engaged in ‘Asatya Narayana Vrata’ (False Satyanarayana vow) on all 364 days, what is the good you hope to get doing true Satya Narayana Vrata on the 365th day of the year? When you claim to be Sai devotees, justify the claim by cultivating these flowers of virtue and offering them to God.


- Divine Discourse, Oct 06, 1981.

True worship consists in regarding all the forms as one and worshipping the Divine in the form of Love and Truth.


Pujalah Tuhan dan persembahkan kepada Tuhan bunga-bunga ini yaitu : tanpa kekerasan, pengendalian Indera, welas asih, ketabahan, kedamaian, tapa brata, meditasi dan kebenaran. Sekarang, ketika bunga yang lain digunakan, bhakti menjadi tidak bertahan lama setelah seseorang keluar dari ruang doa! Ketika seseorang melewati ambang pintu itu, maka kemarahan, kebencian dan kecemasan merasuki dan menjatuhkannya. Tanpa mengembangkan kualitas-kualitas yang ditunjukkan oleh delapan bunga itu, bagaimana seseorang bisa mendapatkan rahmat Tuhan? Dengan terlibat dalam ‘Asatya Narayana Vrata’ (tirakat Satyanarayana palsu) selama 364 penuh, apa kebaikan yang engkau harapkan bisa diperoleh dengan menjalankan Satya Narayana Vrata yang benar di hari ke 365? Ketika engkau menyatakan menjadi bhakta Sai, benarkan pernyataan itu dengan menanam bunga-bunga kebajikan ini dan mempersembahkannya kepada Tuhan. 


- Divine Discourse, Oct 06, 1981.

Ibadah yang sejati terdapat dalam menganggap semua bentuk sebagai satu kesatuan dan memuja Tuhan dalam wujud kasih dan kebenaran.