Thursday, February 28, 2013

Thought for the Day - 28th February 2013 (Thursday)

Everyone must make their exit someday - that moment should not be one of anguish; one must depart with a smile and a bow. In order to accomplish that, a lot of preparation is necessary. Leaving all that has been accomplished and accumulated during a long lifetime is a very hard task. So prepare for it from now, by discarding attachment to one thing after another. You see many things in your dreams, and you may even acquire power and position. When you awaken, you do not cry over the loss of those, even though they were very real and gave you real joy and satisfaction during your dream. You tell yourself, “It was just a dream” and move on with life! What prevents you from treating with similar nonchalance, all the possessions you gather during the waking state? Cultivate that attitude and depart with a smile, when the curtain is drawn!

Suatu hari nanti, setiap orang tentu saja akan meninggalkan dunia ini - ketika saat itu tiba, seseorang tidak boleh berada dalam kesedihan yang mendalam, kita harus berangkat dengan tersenyum. Untuk mencapai itu, banyak persiapan yang diperlukan. Meninggalkan semua yang telah dicapai dan telah terakumulasi selama seumur hidup adalah pekerjaan yang sangat sulit. Jadi persiapkanlah hal itu dari sekarang, dengan meninggalkan keterikatan satu demi satu. Engkau mengalami banyak hal dalam mimpimu, dan engkau bahkan bisa memperoleh kekuasaan dan posisi. Ketika engkau terbangun, engkau tidak menangisi hilangnya semuanya itu, meskipun hal tersebut sangat nyata dan memberimu kebahagiaan dan kepuasan selama engkau bermimpi. Engkau mengatakan pada dirimu sendiri, "Itu hanyalah sebuah mimpi" dan hidup terus berlanjut! Sikap apa yang hendaknya diambil agar engkau dapat memiliki sikap tak acuh yang sama, terhadap semua harta benda yang telah engkau kumpulkan selama hidup? Kembangkanlah sikap itu dan berangkatlah dengan tersenyum, ketika akhir itu tiba!


Wednesday, February 27, 2013

Thought for the Day - 27th February 2013 (Wednesday)

Do not be carried away by the cynicism of critics – that should serve only to encourage you. Examine the faults that may lie dormant in you and work sincerely to get rid of them. Do not merely give platform speeches on the excellence of qualities such as charity, service, sympathy, equality, secularism, etc. Descend from the platform and practise at least a few ideals sincerely. When your neighbour is in the throes of a serious illness, do not rest content with the idea that you are happily free. You are not free if even one is suffering or bound. Remember that the food you give to each living being reaches the Supreme Divine Himself, the service you do to any being, anywhere in the globe, fills the Lord with joy.

Jangan terpengaruh oleh sinisme kritik - yang seharusnya dipakai untuk membesarkan hatimu. Periksalah kesalahan yang barangkali ada dalam dirimu dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyingkirkan-nya. Jangan semata-mata hanya memberikan pidato di atas mimbar tentang kualitas-kualitas yang baik seperti kemurahan hati, pelayanan, simpati, persamaan, sekularisme, dll. Turunlah dari mimbar dan praktikkanlah setidaknya beberapa ideal dengan sungguh-sungguh. Bila tetanggamu menderita penyakit yang serius, janganlah engkau merasa senang hati karena engkau berbahagia (tidak menderita sakit). Engkau sesungguhnya tidak benar-benar bebas meskipun seseorang sedang mengalami penderitaan. Ingatlah bahwa makanan yang engkau berikan kepada setiap makhluk hidup akan sampai pada Tuhan, pelayanan yang engkau lakukan bagi setiap makhluk, di manapun di dunia ini, dapat menyenangkan Tuhan.

Tuesday, February 26, 2013

Thought for the Day - 26th February 2013 (Tuesday)

Keep your faith in the Lord undiminished. You can then safely move about in the world and no harm will come to you. When one loses one’s way and strays into the wilderness, believing in the world, then the Avatars come to warn and guide. Your attitude must be like the village women, who carry pots of water in their heads, one over the other and keeping their balances even when talking and walking along a winding lane. They do not forget or ignore the burden or their goal and destination. They are always vigilant, conscious of the hardships on the way – the stones and the pits. It is the inner concentration that will pay you rich dividends!

Jagalah keyakinanmu kepada Tuhan agar tidak berkurang. Engkau kemudian dapat melangkah dengan aman di dunia dan tidak akan ada bahaya yang akan datang kepadamu. Ketika seseorang kehilangan jalan dan tersesat di dalam hutan belantara kehidupan ini, maka Avatar segera datang untuk memperingatkan dan membimbing. Sikapmu hendaknya seperti perempuan desa, yang membawa jambangan air di atas kepala mereka, membawa yang lainnya di tangannya dan menjaga keseimbangan bahkan ketika berbicara dan berjalan di sepanjang jalan yang berkelok-kelok. Mereka tidak lupa atau mengabaikan beban atau tujuan dan sasaran mereka. Mereka selalu waspada, menyadari akan kesulitan di jalan - batu dan lubang-lubang. Inilah konsentrasi batin yang akan membawamu pada keuntungan yang berharga!

Monday, February 25, 2013

Thought for the Day - 25th February 2013 (Monday)

What do people know of the motives that prompt the Lord and His actions? Some found fault with Sage Narada for repeating the name of the Lord, always, without intermission. But until Sayujyam (merging in the Absolute), the name has to be used; the idea of separation will end only with mergence, not before that. Do not waver or doubt when once you are convinced. Seek to understand and satisfy yourself. After that, do not be misled. When the Sun is over your head there will be no shadow; similarly when faith is steady in your head it should not cast any shadow of doubt

Apa yang orang-orang  ketahui dari motif yang mendorong Tuhan dan tindakan-Nya? Beberapa orang merasakan kesalahan pada Narada karena mengulang-ulang Nama Tuhan, selalu, tanpa istirahat. Tetapi sampai Sayujyam (menyatu dengan Sang Absolut), Nama Tuhan harus selalu dichantingkan; pikiran untuk melepaskan Nama Tuhan akan berakhir hanya ketika menyatu dengan-Nya, bukan sebelum itu. Janganlah goyah atau ragu saat engkau telah memiliki keyakinan. Berusahalah untuk memahami dan memuaskan dirimu sendiri. Setelah itu, jangan keliru. Ketika matahari berada di atas kepalamu, tidak akan ada bayangan; sama halnya ketika keyakinanmu telah mantap engkau seharusnya tidak memasukkan bayangan keraguan apapun.

Sunday, February 24, 2013

Thought for the Day - 24th February 2013 (Saturday)

Make four resolutions about your life hereafter and live in joy. 1. Practise Purity - Desist from wicked thoughts, bad habits and mean activities that weaken your self-respect. 2. Do Service – Serve others, for they are the reflections of the same entity of which you yourself are another reflection. No one of you has any authenticity on your own, except with reference to your Creator, the Lord. 3. See Mutuality – Feel always the kinship with all creation. See the same current flowing through all objects in the Universe. 4. Live in Truth – Do not deceive yourself or others by distorting your experience.

Engkau hendaknya membuat empat resolusi pada kehidupan-mu selanjutnya dan hiduplah dalam sukacita. Keempat resolusi tersebut adalah: 1. Mempraktikkan kemurnian - Dengan cara menghentikan pikiran-pikiran yang buruk, kebiasaan-kebiasaan yang buruk dan aktivitas-aktivitas yang melemahkan harga dirimu. 2. Melakukan pelayanan - Layanilah orang lain, karena mereka adalah entitas yang sama dan juga merupakan bayanganmu sendiri. Tidak ada seorangpun dari engkau mempunyai otentisitas atas dirimu sendiri, kecuali dengan mengacu pada Sang Pencipta, yaitu Tuhan. 3. Lihatlah Mutualitas - Selalu merasakan kekerabatan dengan semua ciptaan. Engkau hendaknya melihat arus yang sama mengalir melalui semua benda di alam semesta. 4. Jalanilah kehidupan dalam Kebenaran - Jangan menipu diri sendiri atau orang lain dengan menyimpang dari apa yang engkau alami.


Saturday, February 23, 2013

Thought for the Day - 22nd & 23rd February 2013

Date: Friday, February 22, 2013

The greatest obstacle in the path of surrender is egoism (ahamkaram) and Attachment or Possessiveness (mamakaram). This is ingrained in your personality since ages and its tentacles go deeper and deeper with the experience of every succeeding life. It can be removed only by the twin detergents of discrimination and renunciation. Devotion is the water to wash away this dirt of ages, and the soap of japam, dhyaanam and yoga (repetition of God's name, meditation and communion) will help to remove it quicker and more effectively. Slow and steady progress will surely win the race in this one; quicker means of travel can spell disaster. Proceed step by step in your spiritual practices - placing one steady step before you take the next. Do not waver or slide back two paces with one step forward. Cultivate deep faith - that will make your progress steady!

Hambatan terbesar dalam surrender  (pasrah total) adalah egoisme (ahamkaram) dan kemelekatan atau posesif (mamakaram). Hal ini sudah mendarah daging dan mengakar dalam kepribadianmu sejak zaman dahulu kala dengan keberhasilan kehidupan yang engkau alami. Hal ini hanya dapat dibersihkan dengan deterjen kembar yaitu diskriminasi dan renunciation (melepaskan kehidupan duniawi). Pengabdian (bhakti) adalah air yang digunakan untuk membersihkan kotoran pada zaman ini, sabunnya adalah japam, dan dhyaanam serta yoga yang akan membantu untuk membersihkannya lebih cepat dan lebih efektif. Kemajuan yang mantap secara perlahan-lahan pasti akan memenangkan hambatan ini; artinya dengan cara lebih cepat dapat mengatasi segala cobaan. Engkau hendaknya meneruskan langkah demi langkah dalam praktek spiritualmu - ambillah satu langkah yang mantap sebelum engkau mengambil langkah berikutnya. Janganlah goyah atau tergelincir dua langkah dari satu langkah maju yang telah dilakukan. Kembangkanlah keyakinan yang mendalam - yang akan membuat kemajuan langkah spiritualmu lebih mantap!

Date: Saturday, February 23, 2013

Have you not heard the story of the lion suffering from a wound in the foot? A slave who was fleeing through the forest saw it and when he approached it with sympathy, the lion put out its paw. He then slowly pulled out the thorn that had caused all that pain and left the place, only to be arrested later and taken to Rome. There, they decided to throw him into the amphitheatre and let loose upon him a lion that had been recently captured. It was, however, the same lion which the slave had saved and so, its gratitude did not allow it to harm its saviour. See, even animals exhibit gratitude, not only the pet animals, but even the wild ones like the lion. Express your gratitude to the Creator who has poured into you nectar that grants immortality! Be grateful to the Lord for endowing you with powers of discrimination, detachment and evaluation.

Apakah engkau tidak pernah mendengar kisah penderitaan singa yang terluka kakinya? Seorang budak yang melarikan diri melalui hutan melihatnya dan ketika ia mendekati singa tersebut dengan penuh simpati, singa itu kemudian memberikan kakinya. Dia kemudian perlahan-lahan mengeluarkan duri yang telah menyebabkan semua rasa sakit dari singa itu dan meninggalkan tempat itu, selanjutnya ia ditangkap kemudian dibawa ke Roma. Di sana, mereka memutuskan untuk melemparkannya ke amphitheater (gedung pertunjukan) dan membiarkannya dengan seekor singa yang telah ditangkap baru-baru ini. Ternyata disana ada singa yang sama yang telah diselamatkannya dan singa tersebut berterima kasih kepadanya dengan tidak menyakiti sang juru selamatnya. Lihatlah, bahkan hewan mampu memperlihatkan rasa terima kasih, tidak hanya hewan peliharaan, tetapi bahkan hewan liar seperti singa. Engkau hendaknya mengucapkan rasa terima kasih-mu kepada Sang Pencipta yang mana Beliau telah memberkati kita dengan nektar keabadian! Bersyukurlah kepada Tuhan karena Beliau memberkati engkau dengan kekuatan diskriminasi, tanpa kemelekatan, dan evaluasi.

Thursday, February 21, 2013

Thought for the Day - 21st February 2013 (Thursday)

In the present, practice of devotion, worship and rituals are for the sake of better comforts and more luxury for the individuals themselves. Devotion has degenerated into a business deal. Often one prays, “Please give me this, I shall give You so much.” If they feel one shrine promises more, the current shrine is given up. If even in the new shrine, one does not get quick returns, then they quickly look elsewhere to some ‘other’ God who gives more profit! Many people wander in this manner. Some also think, “If I stand amongst many others, God will not notice me. I must stand in a unique position and shout to attract His attention!” Do not behave foolishly! Hold fast to noble ideals. Do not try to bring down the Almighty to your limited vision. Rise up, strengthen your detachment and establish yourself in discrimination, then your goal is brought nearer.

Pada masa sekarang ini, mempraktikkan pengabdian (bhakti), ibadah dan ritual hanya demi kemewahan dan kenyamanan yang lebih baik bagi individu itu sendiri. Pengabdian telah merosot menjadi sebuah transaksi bisnis. Seringkali seseorang berdoa, "Mohon berikan saya ini, saya akan memberikan kepada-Mu lebih banyak." Jika mereka merasa suatu kuil/tempat suci dapat memberikan harapan yang lebih banyak, kuil yang sekarang ditinggalkan. Jika bahkan di kuil yang baru, seseorang tidak mendapatkan keuntungan yang cepat, maka mereka dengan cepat mencari tempat lain untuk mencari Tuhan 'lainnya' yang memberikan lebih banyak keuntungan! Banyak orang berjalan dengan cara ini. Beberapa juga berpikir, "Jika saya berada di antara banyak orang lainnya, Tuhan tidak akan melihat saya. Saya harus ada dalam posisi yang unik dan berteriak untuk menarik perhatian-Nya! "Jangan berperilaku bodoh! Berpegang teguh-lah pada ideal yang mulia. Jangan mencoba untuk menurunkan kemahakuasaan-Nya dengan visi-mu yang terbatas. Bangkitlah, pertebal ketidakmelekatanmu dan perkuat dirimu dalam diskriminasi, maka tujuanmu akan dibawa lebih dekat.

Wednesday, February 20, 2013

Thought for the Day - 20th February 2013 (Wednesday)

You must be convinced that 'you' are but the shadow of the Absolute. Of course, it is only at the end of a long and systematic process of Sadhana (spiritual efforts) that you will reach and stay fixed in the state of that Truth; until then, you are likely to identify yourself with this body and forget that the body which casts a shadow is itself a shadow. The first step in that Sadhana is the adherence to Dharma (righteousness) in every individual and social act. The Dharma which is followed in relation to the objective world will automatically lead on to Dharma in the spiritual field also; only you must stick to it through thick and thin. Steadfastness is needed in the path of Righteousness. That alone is the sign of true surrender.

Engkau harus yakin bahwa 'engkau' tidak lain hanyalah bayangan dari Absolut. Tentu saja, itu berakhir dari proses yang panjang dan sistematis dari Sadhana (upaya spiritual) yang akan engkau capai dan tinggal dalam keadaan Kebenaran itu, sampai kemudian, engkau mengidentifikasi dirimu sendiri dengan badan ini dan lupa bahwa badan yang menyingkirkan bayangan itu sendiri sebagai bayangan. Langkah pertama dalam Sadhana adalah kepatuhan terhadap Dharma (kebajikan) dalam setiap tindakan individu dan sosial. Dharma yang dilakukan dalam kaitannya dengan dunia obyektif secara otomatis juga akan mengarah ke Dharma di bidang spiritual; hanya engkau harus menaatinya dalam semua keadaan, tidak peduli betapa sulitnya. Keteguhan sangat diperlukan di jalan Dharma.  Itulah tanda dari penyerahan diri (pasrah total) yang sejati.

Tuesday, February 19, 2013

Thought for the Day - 19th February 2013 (Tuesday)

Wavering and indecisiveness will affect you, if you want to practice Righteousness. If you are not stabilized in the Knowledge of the Self, you will not have a good sense of direction for your actions, nor will you achieve true victory. That is why the Geetha lays so much emphasis on the necessity to know both the kshethra (field or the body) and the kshethrajna (the Knower in the body). Know both, and then, you are entitled to the title, Amrithasya Puthraah: "Children of Immortality." Through devotion to God alone, this knowledge can be attained. Devotion also purifies your heart and elevates your inner feelings and gives you a broad, universal vision and brings to you the Grace of God. Plants cannot rise up to drink the life giving fluid from clouds, hence the clouds come down and pour as rain.

Perasaan bimbang dan ragu-ragu akan mempengaruhimu, jika engkau ingin mempraktikkan  Dharma. Jika engkau tidak mantap dalam Knowledge of the Self (Pengetahuan Atma), engkau tidak akan memiliki perasaan yang baik terhadap arah atas tindakanmu, engkau juga tidak akan mencapai kemenangan sejati. Itulah sebabnya Geetha menekankan pada kebutuhan untuk mengetahui keduanya baik kshethra (ladang atau badan jasmani) dan kshethrajna (yang Mengetahui badan jasmani). Pahamilah keduanya dengan baik dan kemudian, engkau berhak mendapatkan gelar, Amrithasya Puthraah: "Anak-anak Keabadian." Hanya melalui pengabdian kepada Tuhan, pengetahuan ini dapat dicapai. Pengabdian juga memurnikan hati dan meningkatkan perasaan batinmu dan memberikan kepadamu visi yang luas, dan juga Berkat Tuhan. Tumbuhan tidak bisa bangkit untuk meminum air dari awan, oleh karena itu awan turun dan air jatuh sebagai hujan.

Monday, February 18, 2013

Thought for the Day - 18th February 2013 (Monday)

God is Supreme Energy (Mahashakthi) and the individual is Deluding Power (Mayashakthi). In this impermanent and ever transforming world, God is the only permanent and fixed entity. In order to realize Him, who is eternal and true, one has no option but to attach oneself to that Source and Sustenance, and offer Him loving devotion and dedicated service. This path is the destiny of one and all, irrespective of age, scholarship, caste, creed, gender or status. When walking along the road, you can watch your shadow, falling on mud, dirt, thorn, sand, wet or dry patches of land. Has anyone ever worried or is affected by the fate of their shadow? No! Everyone knows that the experience of shadow is not eternal and real. So too, you are but the shadow of the Absolute. Internalize this truth – this is the only remedy for all sorrow, travail and pain.

Tuhan adalah Supreme Energy (Mahashakthi) dan individu adalah Deluding Power (Mayashakthi). Dalam dunia yang bersifat sementara dan selalu berubah ini, Tuhan adalah satu-satunya yang bersifat permanen dan tetap. Untuk menyadari keberadaan-Nya, yang kekal dan benar, seseorang tidak memiliki pilihan selain mendekatkan diri pada sang Sumber dan sang Pemberi, dan mempersembahkan kepada-Nya pengabdian dan pelayanan yang tulus. Inilah jalan yang hendaknya dilaksanakan oleh semuanya, terlepas dari usia, pendidikan, kasta, keyakinan, jenis kelamin ataupun status. Ketika berjalan di sepanjang jalan, engkau dapat melihat bayanganmu, jatuh di lumpur, tanah, duri, pasir, tanah basah ataupun kering. Apakah ada orang yang khawatir atau dipengaruhi oleh nasib bayangan mereka? Tidak ada! Semua orang mengetahui bahwa bayangan tidak kekal dan tidak nyata. Demikian juga, engkau tidak lain hanyalah bayangan dari Sang Absolute. Sadarilah kebenaran ini - inilah satu-satunya obat bagi semua kesedihan, penderitaan dan rasa sakit.

Sunday, February 17, 2013

Thought for the Day - 17th February 2013 (Sunday)

Never once in the Mahabharatha did Dhuryodhana observe the principles of righteousness towards the Pandava brothers; at last, he had to face the inevitable doom, when Bheema challenged him for the duel which was to lay him low. At that moment, Dhuryodhana, the author of the deceitful gambling game, the house of lac which was set on fire, the insult heaped on the honoured Queen, the slaughterer of Abhimanyu by a pack of ferocious foes who fell upon him - the dark designer of all these iniquities, took refuge in Dharma and started quoting texts. Dharma is not a handy excuse to escape the evil consequences of one’s actions. Righteousness is not to be treated as a means of escape; it is a means of living.

Dalam Mahabharatha Dhuryodhana tidak pernah sekalipun mematuhi prinsip-prinsip kebenaran terhadap Pandawa bersaudara, pada akhirnya, ia harus menghadapi takdir yang tak terelakkan, ketika Bima menantangnya untuk duel yang membuatnya dikalahkan secara kejam. Pada saat itu, Dhuryodhana: licik dalam permainan judi, rumah kardus yang dibakar, penghinaan pada Ratu yang dihormati, pembantaian Abimanyu yang tidak ber-perikemanusiaan - perencana dari semua kesalahan, mencari perlindungan pada Dharma dan mulai mengutip teks-teks suci. Dharma bukanlah sesuatu yang dapat memaafkan untuk menghindari akibat buruk dari suatu tindakan. Dharma tidak boleh diperlakukan sebagai sarana untuk melarikan diri; Dharma adalah cara/alat dalam menjalani kehidupan.


Saturday, February 16, 2013

Thought for the Day - 16th February 2013 (Saturday)

Devotion to God is not to be calculated on the basis of the institutions one has started or helped, the temples one has built or renovated, the donations one has given, nor does it depend on the number of times one has written or recited the Names of the Lord, or the time and energy one spent in the worship of Lord. These are not vital - they are not even secondary! Devotion is Divine Love, unsullied by any tinge of desire for the benefit that flows from it or the fruit or consequence of that love. Love knows no particular reason for its manifestation. Divine Love is akin to the love of the river for the sea, the creeper for the tree, the spring for the cliff down which it flows. It is an unchanging loving attitude, a desirable bent of the mind, standing steady through joy and grief, ever sweet - in good times and bad!

Pengabdian (bhakti) kepada Tuhan tidak akan dihitung atas dasar lembaga yang telah dibangun atau dibantu, kuil-kuil yang telah dibangun atau direnovasi, sumbangan yang telah diberikan, juga tidak tergantung pada berapa kali seseorang telah menulis atau mengucapkan Nama Tuhan, ataupun berapa waktu dan energi yang dihabiskan dalam memuja Tuhan. Semuanya ini tidaklah penting! Pengabdian adalah Kasih Ilahi, tak ternoda oleh semburat keinginan untuk manfaat yang mengalir dari itu atau buah atau konsekuensi dari cinta-kasih itu. Cinta-kasih Tuhan tidak mengenal alasan tertentu untuk mewujudkannya. Cinta-kasih Tuhan dapat diibaratkan seperti cinta-kasih sungai pada laut, tumbuhan menjalar pada pohon, sumber mata air pada tebing dimana airnya mengalir. Inilah cinta-kasih yang tak akan berubah, berdiri stabil melalui sukacita dan kesedihan, selalu manis - di saat yang baik dan buruk!


Friday, February 15, 2013

Thought for the Day - 15th February 2013 (Friday)

The mother spends more time tending the sick child; she asks the older children to look after themselves but feeds the infant with her own hands. That does not mean that she has no love towards the grown-ups. So too, do not think that because God does not ostensibly shower attention on a person, that he or she is not receiving God’s Love and Grace. In God’s view, there is no one senior or junior amongst devotees. Note this also - in this Avatar (Divine Incarnation), the wicked will not be destroyed; they will be corrected, reformed, educated and led back to the path from which they have strayed. The white-ant infested tree will not be cut; it will be saved.

Sang ibu menghabiskan lebih banyak waktu untuk merawat anak yang sakit, dia meminta anak-anak yang lebih tua untuk merawat diri mereka sendiri, tetapi memberi makan bayi dengan tangannya sendiri. Itu bukan berarti bahwa ia tidak memiliki kecintaan terhadap anak-anaknya yang lebih tua. Demikian juga, janganlah berpikir bahwa Tuhan tidak mencurahkan perhatiannya pada seseorang, bahwa ia tidak menerima Kasih dan Berkat Tuhan. Dalam pandangan Tuhan, tidak ada yang senior atau junior di antara para devotee (bhakta). Mohon diperhatikan - dalam zaman Avatar (inkarnasi Tuhan) ini, orang yang jahat tidak akan dimusnahkan, mereka akan diperbaiki, direformasi, dididik dan diarahkan kembali ke jalan dari mana mereka telah tersesat. Anai-anai yang mengerumuni pohon, tidak akan dipotong; melainkan tetap dipelihara.


Thursday, February 14, 2013

Thought for the Day - 14th February 2013 (Thursday)

The Lord is everyone’s Father, in whose property each and everyone can claim a share. In order to get it, you must reach a certain stature; achieve a certain standard of intelligence. The infirm and the idiotic are not fit recipients of a worldly property. God’s property is His grace and love. So, to attain a share of His property, you must have devotion and discrimination. With these two, you are entitled to claim your share of Grace, which is your right. Bring with you devotion and take from the Lord, spiritual strength. This is a transaction that pleases Him. Bring to Him all you have – your sorrow and grief, worries and anxieties and take from Him, joy and peace, courage and confidence!

Tuhan adalah Ayah bagi setiap orang, yang mana setiap orang bisa meng-klaim untuk memiliki bagian dari harta milik-Nya. Untuk mencapai tujuan tersebut, engkau harus mencapai standar tertentu, mencapai standar intelegensi tertentu. Orang yang lemah dan idiot tidak pantas untuk menerima harta-benda duniawi. Harta-kekayaan Tuhan adalah Berkat-Nya dan cinta-kasih-Nya. Jadi, untuk mendapatkan bagian dari harta-Nya, engkau harus memiliki pengabdian (bhakti) dan diskriminasi. Dengan memiliki keduanya, engkau berhak untuk menuntut bagianmu (Berkat Tuhan), yang merupakan hak-mu. Bawalah pengabdianmu pada Tuhan dan engkau akan mendapatkan kekuatan spiritual dari-Nya. Inilah transaksi yang menyenangkan Beliau. Bawalah kepada-Nya semua yang engkau miliki - kesedihan dan penderitaan, kekhawatiran dan kecemasan dan ambillah dari-Nya, sukacita dan kedamaian, serta keberanian dan kepercayaan diri!


Wednesday, February 13, 2013

Thought for the Day - 13th February 2013 (Wednesday)

The Lord has declared in the Geetha, “Mama maaya” or “My illusion”. This implies that the world is His handiwork, His Divine sport & glory (leela & mahima). It is devised as a training ground, an inspiration for those who desire to see Him, Who is its Source, Director, & Master. Once you see the world as the stage for His play, then you will no longer be misled, nor distracted, nor deceived by any tricks or stage effects. From illusion, you must get interested in the Author, the Master. The play is real only as long as it lasts, when you are in the theatre. So too, the world is just a mirage! A mirage does not originate from rain. It will not reach any lake or sea. It was not there before the sunrise, nor will it be there after the sunset. It is just an intervening phenomenon, it is best left alone! So too, God truly is more real than the world, this is the essence of Indian scriptures.

Tuhan telah menyatakan dalam Geetha, "Mama Maaya" atau "ilusi-Ku". Hal ini menyiratkan bahwa dunia adalah hasil karya-Nya, permainan Ilahi-Nya & kemuliaan-Nya (leela & mahima). Dunia ini merupakan tempat untuk melakukan praktik spiritual, inspirasi bagi mereka yang ingin melihat-Nya, Dia yang merupakan Sumber, Sutradara, & Sang Master. Setelah engkau melihat dunia sebagai panggung permainan-Nya, maka engkau tidak akan lagi disesatkan, atau bimbang, atau terpedaya oleh trik atau efek panggung. Dari ilusi, engkau harus tertarik pada Sang Pencipta, Sang Master. Permainan (drama) ini nyata hanya selama permainan itu berlangsung, ketika engkau berada di atas panggung teater. Demikian juga, dunia ini hanyalah fatamorgana! Fatamorgana bukanlah berasal dari hujan, sehingga tidak akan mencapai danau atau laut manapun. Fatamorgana tidak ada sebelum matahari terbit, juga tidak ada setelah matahari terbenam. Ini hanya sebuah fenomena pembiasan cahaya, suatu hal yang keliru! Demikian juga, Tuhan lebih nyata daripada dunia ini, inilah inti dari kitab-kitab suci India.


Tuesday, February 12, 2013

Thought for the Day - 12th February 2013 (Tuesday)

Detachment (vairagya) is a result of the Lord’s Grace; it needs years of yearning and struggle. Meanwhile begin today with the first step, which is cleansing of your mind and cultivation of virtues. Even if you are unable to start or follow these, at least do not laugh at those who do and discourage them. Do not depend upon others for doing your work or have someone attend to your personal wants. Do them yourself – that is the mark of being truly self-reliant and free! Never accept anything free from anyone. You must pay it back, in service or work. Thus, you will make yourselves self-respecting individuals. Receiving a favour means getting bound to the giver. Grow in self-respect and dignity. That is the best service you can do to yourself.

Tanpa kemelekatan (Vairagya) merupakan hasil dari Berkat Tuhan; perlu bertahun-tahun kerinduan dan perjuangan. Oleh karena itu, mulai saat ini lakukanlah langkah yang pertama, yaitu memurnikan pikiranmu dan mengembangkan kebajikan. Bahkan jika engkau tidak dapat memulai atau mengikuti hal tersebut, setidaknya janganlah menertawakan mereka melakukannya ataupun janganlah mencegah mereka untuk melakukannya. Jangan tergantung pada orang lain untuk melakukan pekerjaanmu atau meminta seseorang untuk melakukan keinginan pribadi-mu. Lakukanlah sendiri - itu adalah ciri orang yang mandiri! Jangan pernah menerima apa pun dari siapa pun. Engkau harus membayarnya kembali di kemudian hari dalam bentuk pelayanan ataupun pekerjaan. Dengan demikian, engkau akan membuat dirimu sebagai individu yang memiliki harga diri. Menerima bantuan berarti semakin terikat pada sang pemberi. Hiduplah dengan harga diri dan bermartabat. Itulah pelayanan terbaik yang dapat engkau lakukan untuk dirimu sendiri.


Monday, February 11, 2013

Thought for the Day - 11th February 2013 (Monday)

All of you are under the sentence of imprisonment in the world of birth and death (samsara). When a prisoner is taken from one place to another, he is accompanied by two constables. So too, when you move from one prison (body) to another, the constables, egoism (ahamkaram) and attachment (mamakaram) accompany you. In the prison, you have to do the work you are ordered to, and do it well. You cannot argue that rewards are not distributed justly, and also you are not entitled to desist from your allotted task. If you do, your sentence will be extended or you will be transferred to another jail. On the other hand, if you quietly accept the sentence and go about your work without clamour or murmur, your term will be reduced, you may be released! Become aware of your sentence, adopt good attitude and earnestly practise the means to set yourself free!

Kalian semua berada di bawah hukuman penjara di dunia kelahiran dan kematian (samsara). Ketika seorang tahanan dibawa dari satu tempat ke tempat lain, ia didampingi oleh dua orang polisi. Demikian juga, ketika engkau berpindah dari satu penjara (badan jasmani) ke penjara yang lainnya, para polisi, yaitu egoisme (ahamkaram) dan kemelekatan (mamakaram) menemanimu. Di penjara, engkau harus melakukan pekerjaan yang diperintahkan kepadamu, dan melakukannya dengan baik. Engkau tidak dapat membantah bahwa imbalan tidak didistribusikan secara adil, dan juga engkau tidak berhak untuk berhenti dari tugas yang diberikan kepadamu. Jika engkau melakukannya, hukumanmu akan diperpanjang atau engkau akan dipindahkan ke penjara lain. Di sisi lain, jika engkau sepenuhnya menerima hukuman dan melakukan pekerjaanmu tanpa keributan atau menuntut, masa hukumanmu akan berkurang, dan engkau mungkin akan dibebaskan! Sadarilah hukumanmu, ambillah sikap-sikap yang baik dan sungguh-sungguh melakukan praktik spiritual untuk membebaskan dirimu sendiri!


Sunday, February 10, 2013

Thought for the Day - 10th February 2013 (Sunday)

A person once told Dr. Johnson, the famous English thinker, that he could seldom get time to recite the Name of God, what with the hundreds of things he had to do from morning till nightfall and even far into the night. Dr. Johnson replied with another question. He asked how millions of people found space to live upon the face of the earth, which is two-thirds water and the rest is too full of mountains, deserts, forests, icy regions, river beds, marshes and similar impossible areas. The questioner said that man somehow struggled to find living space. So too, said Dr. Johnson, man must somehow find a few minutes a day for prayer to the Lord. Keep the Name and Form of your choice ever in your consciousness. The Name must be as constant as breathing. And for this, practice is essential.

Seseorang pernah mengatakan kepada Dr Johnson, seorang pemikir Inggris terkenal, bahwa ia jarang bisa mendapatkan waktu untuk menchantingkan Nama Tuhan, karena ratusan hal yang harus ia lakukan dari pagi sampai malam dan bahkan sampai larut malam. Dr Johnson menjawab dengan pertanyaan lain. Dia bertanya bagaimana jutaan orang menemukan ruang untuk hidup di atas muka bumi, yang dua pertiganya adalah air dan sisanya terlalu penuh pegunungan, padang pasir, hutan, daerah es, sungai, rawa-rawa dan daerah lainnya yang serupa yang tidak mungkin untuk ditinggali. Penanya mengatakan bahwa manusia bagaimanapun juga hendaknya berjuang untuk menemukan ruang hidup. Demikian juga, kata Dr Johnson, manusia bagaimanapun caranya harus menemukan beberapa menit sehari untuk berdoa kepada Tuhan. Simpanlah Nama dan Wujud Tuhan pilihanmu dalam kesadaranmu. Nama Tuhan tersebut harus dichantingkan secara konstan seperti bernapas. Dan untuk ini, praktek sangatlah penting.


Saturday, February 9, 2013

Thought for the Day - 9th February 2013 (Saturday)

You are as distant from the Lord, as you think you are; as near Him, as you feel you are. The distance from Me to you is the same as the distance from you to Me, is it not? You complain that I am far from you, though you are approaching nearer and nearer. How can that be? I am as near you, as you are near to Me! Nearness to the Lord is won by Devotion, which cannot be steady until you get rid of the feelings of ‘I’ and ‘Mine’. Look upon joy and grief as teachers of hard-work and balance. Grief is a friendly reminder, a good taskmaster, even a better teacher than joy. The Lord grants both protection and punishment – for, how can He be the Lord, if He does not insist on strict accounting and strict obedience?

Engkau merasa jauh dari Tuhan, apa yang engkau pikirkan, demikianlah jadinya; jika engkau merasa dekat dengan-Nya, maka demikianlah yang engkau rasakan. Bukankah jarak antara Aku denganmu sama dengan jarak antara engkau dengan-Ku? Engkau mengeluh bahwa Aku jauh dari-mu, meskipun engkau sedang mendekat semakin dekat. Bagaimana itu bisa terjadi? Aku dekat denganmu, seperti engkau dekat dengan-Ku! Kedekatan dengan Tuhan dapat dicapai dengan Devotion (bhakti), yang tidak bisa stabil sampai engkau menyingkirkan perasaan 'aku' dan 'milikku'. Anggaplah sukacita dan kesedihan sebagai guru dari kerja keras dan keseimbangan. Kesedihan adalah pengingat yang baik, pemberi tugas yang baik, bahkan guru yang lebih baik daripada sukacita. Tuhan memberikan keduanya, perlindungan dan hukuman - karena, bagaimana Ia menjadi Tuhan, jika Dia tidak menuntut tagihan dan kepatuhan yang tepat?


Friday, February 8, 2013

Thought for the Day - 8th February 2013 (Friday)

A renunciant couple were once proceeding through a thick jungle on a pilgrimage to an inaccessible shrine. The husband saw on the footpath a precious stone, shining brilliantly when the Sun’s rays fell upon it from between the leaves. He hastily threw some sand over it with the movement of his foot, so that his wife may not be tempted to pick it up and become a slave to the tinsel. The wife saw the gesture and chided the husband for still retaining in his mind, a distinction between sand and gold. For her, both were the same. This habit of judging and labelling others is a prevalent practice today. What can you know of the inner working of another's mind?

Suatu ketika, sepasang renunciant (orang yang telah melepaskan kehidupan duniawi) berjalan melalui hutan lebat berziarah ke kuil (tempat suci) yang sangat sulit dicapai. Sang suami melihat di jalan setapak, batu mulia bersinar cemerlang ketika sinar matahari jatuh di atasnya di antara dedaunan. Sang suami kemudian dengan terburu-buru melemparkan beberapa pasir di atasnya dengan gerakan kakinya, sehingga istrinya tidak mungkin tergoda untuk mengambilnya dan menjadi budak benda tersebut. Sang istri melihat gerakan suaminya dan mencela suaminya karena masih menyimpan dalam pikirannya, perbedaan antara pasir dan emas. Baginya, keduanya adalah sama. Inilah kebiasaan menghakimi dan memberikan label/menamai orang lain yang biasanya dipraktekkan saat ini. Apa yang dapat engkau ketahui dari kerja batin pikiran orang lain?


Thursday, February 7, 2013

Thought for the Day - 7th February 2013 (Thursday)

A lame man and a blind man became friends and they moved from one place to another, with the lame man riding on the shoulder of the blind. One day, the lame man saw a field of yellow cucumber and suggested to the blind man that they pick a few and eat their fill. The blind man asked, “Brother, have they fenced the crop?” The lame man said, “No!” The blind man said, “Then let us move on, you know there are sweet and bitter varieties – if these vegetables are left unguarded – they must be bitter!” The blind man, by his intellect, was able to discover that they were bitter even without tasting them. He used the intelligence to perceive the truth faster and clearer. Make the intellect the Master of your mind and you will not fail; you will fail only when the senses establish mastery over the mind. Clarify your intelligence through spiritual discipline.

Suatu ketika, seorang pria lumpuh dan orang buta berteman dan mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain, dimana si lumpuh naik di bahu si buta. Suatu hari, si lumpuh melihat ladang mentimun dan menyarankan kepada si buta agar mereka memetik beberapa buah dan memakannya. Si buta bertanya, "Saudaraku, apakah tanaman tersebut dipagari?" Si lumpuh berkata, "Tidak!" Si buta menjawab, "Kalau begitu mari kita melanjutkan perjalanan, engkau mengetahui ada varietas manis dan pahit - jika tanaman  tersebut tidak dijaga - pasti rasanya pahit "Si buta, dengan inteleknya, mampu mengetahui bahwa mentimun tersebut terasa pahit bahkan tanpa mencicipinya! Dia menggunakan kecerdasannya untuk memahami kebenaran lebih cepat dan lebih jelas. Buatlah intelek sebagai Master dari pikiranmu dan engkau tidak akan gagal, engkau akan menemui kegagalan hanya ketika indera menguasai pikiran. Engkau hendaknya memurnikan intelekmu melalui disiplin spiritual.

Wednesday, February 6, 2013

Thought for the Day - 6th February 2013 (Wednesday)

A child told its mother as it went to bed at night, “Mother, wake me up when I am hungry.” The mother answered, “There is no need, your hunger will itself wake you up.” So too, when the hunger for God arises, it will itself activate you to seek the fulfilment. God has endowed you with hunger and illness, and He provides the food and medicine. Your duty is to see that you get the right hunger and the right illness and use the appropriate food or drug! Man must be yoked to the world and broken; that is the training which will teach that the world is unreal. When you touch fire and get the sensation of burning, you withdraw your hand instantly. Unless you touch it, you will be aware only of its light. It is light and heat both; just as this world is both true and false, that is to say, unreal.

Seorang anak memberitahukan ibunya ketika akan pergi tidur di malam hari, “Ibu, bangunkan saya ketika saya lapar.” Ibunya menjawab, "Tidak perlu anakku, rasa lapar itu akan membangunkanmu." Demikian juga, ketika rasa lapar pada Tuhan muncul, dengan sendirinya hal itu akan mengaktifkanmu untuk mencari pemenuhan akan rasa lapar tersebut. Tuhan telah memberikan engkau rasa lapar dan sakit, dan Beliau menyediakan makanan dan obat-obatan untuk meredakan rasa lapar dan sakit tersebut. Tugasmu adalah memeriksa bahwa engkau mendapatkan rasa lapar yang tepat dan rasa sakit yang tepat dan menggunakan makanan yang tepat atau obat yang tepat! Manusia hendaknya menghubungkan dunia dan kerusakannya; yaitu latihan yang akan mengajarkan bahwa dunia ini tidak nyata. Ketika engkau menyentuh api dan mendapatkan sensasi rasa terbakar, engkau akan langsung menarik tanganmu. Jika engkau tidak menyentuhnya, engkau hanya akan mengetahui cahayanya saja. Jika engkau menyentuhnya engkau mengetahui keduanya yaitu cahayanya dan rasa panas dari api; demikian juga dunia ini, ada yang benar dan ada yang salah, inilah yang disebut dengan tidak nyata.

Tuesday, February 5, 2013

Thought for the Day - 5th February 2013 (Tuesday)

There are three types of devotion: The Vihanga method, where like a bird swooping down upon the ripe fruit on the tree, the devotee is too impatient and by the very impatience one exhibits, loses the fruit, which falls from one’s hold. The Markata method is akin to a monkey which grabs one fruit and then chooses another and tugs at that, giving way to unsteadiness as it is unable to decide which fruit it wants. So too, the devotee of this type hesitates and changes the goal much too often and thus loses all chances of success. The third and ideal type is the Pipeelika method, where like the ant, which slowly but steadily proceeds towards the sweetness, the devotee also moves directly, with undivided attention towards the Lord and wins His Grace.

Ada tiga jenis pengabdian (bhakti): Metode Vihanga, di mana seperti burung yang menyambar buah yang matang di pohon, para devotee (bhakta) tidak sabar dan karena ketidaksabarannya, kehilangan buah tersebut. Berikutnya adalah metode Markata, metode ini mirip dengan seekor monyet yang mengambil satu buah dan kemudian memilih buah yang lainnya lalu merenggut buah tersebut, cara ini menandakan ke-tidakstabil-an karena tidak dapat memutuskan buah mana  yang diinginkan. Para devotee jenis ini ragu-ragu dan terlalu sering mengubah tujuan  sehingga dengan demikian kehilangan semua peluang keberhasilan. Jenis ketiga dan yang ideal adalah metode Pipeelika, di mana seperti semut, yang perlahan tetapi pasti menuju tujuannya (mendapatkan gula-gula/manisan), para devotee juga bergerak secara langsung, dengan penuh perhatian  menuju Tuhan dan memenangkan Berkat-Nya.

Monday, February 4, 2013

Thought for the Day - 4th February 2013 (Monday)

Spiritual discipline is more arduous than physical discipline. Imagine the tremendous amount of effort undergone by the lady who runs along a wire stretched across the ring underneath a circus tent. The gain is just a few rupees after all. The same steadfastness and systematic effort aimed at a higher reward can endow you with mental balance and you can maintain your equilibrium under the most adverse or the most testing circumstances. But for such spiritual achievements the intellect and other instruments of perception are more important than the limbs. The intellect is the key. Make the intellect the master of your mind and you will not fail. You will fail only when the senses establish mastery over the mind.

Disiplin spiritual jauh lebih berat daripada disiplin fisik. Bayangkan sejumlah besar upaya yang dialami wanita yang berjalan di sepanjang kawat membentang di gelanggang sirkus. Setelah semuanya selesai, ia hanya mendapatkan bayaran beberapa rupee saja. Ketabahan dan upaya sistematis yang sama bertujuan untuk mendapatkan ganjaran yang lebih tinggi dapat memberikan kepadamu keseimbangan mental dan engkau dapat menjaga keseimbanganmu bahkan ketika berada pada keadaan paling tidak menguntungkan ataupun ketika mendapatkan ujian yang sangat berat. Tetapi untuk mencapai disiplin  spiritual seperti  itu, pemahaman intelek  dan instrumen lainnya lebih penting daripada anggota badan (fisik). Intelek adalah kuncinya. Engkau harus membuat intelek-mu sebagai master (tuan) dari pikiranmu dan engkau tidak akan menemui kegagalan. Engkau akan mengalami kegagalan hanya ketika indera menguasai pikiranmu.

Sunday, February 3, 2013

Thought for the Day - 3rd February 2013 (Sunday)

A brahmin was once crossing a river bed, and some men were washing clothes. Finding a nice new silk shawl on his shoulder, they fell upon him in a group, shouting that it belonged to the palace and had been given to them to be washed, but had been stolen and not been traced. The poor brahmin screamed “Narayana, Narayana” when they rained blows on him. Immediately Lord Narayana rose from His seat, walked forward, stopped and returned to His seat! His surprised consort asked Him the reason for His strange behaviour. Lord Narayana said, “I wanted to help that poor brahmin who has fallen into a den of scoundrels, but he has started beating them blow for blow – My help is no longer needed!” Leaving everything to His will is truly the highest form of devotion and the easiest way to win His Grace.

Suatu ketika seorang Brahmin melintasi dasar sungai, dan ada beberapa orang yang sedang mencuci pakaian. Sang Brahmin menemukan selendang sutra baru di bahunya, para tukang cuci berteriak bahwa itu milik istana dan telah diberikan kepada mereka untuk dicuci, tetapi telah dicuri dan belum ditemukan. Brahmin miskin tersebut berteriak "Narayana, Narayana" ketika mereka menghujani pukulan pada dirinya. Segera Tuhan Narayana bangkit dari duduk-Nya, berjalan menuju ke Brahmin, berhenti dan kembali ke tempat duduk-Nya! Permaisuri-Nya terkejut dan bertanya kepada-Nya alasan untuk perilaku aneh yang dilakukan-Nya. Narayana berkata, "Aku ingin membantu Brahmin miskin yang telah jatuh ke dalam kumpulan orang-orang yang tidak jujur tersebut, tetapi sang Brahmin telah mulai memukuli mereka - bantuan-Ku tidak lagi diperlukan!" Menyerahkan segala sesuatu kepada kehendak-Nya merupakan bentuk pengabdian (bhakti) tertinggi dan cara termudah untuk memenangkan Rahmat-Nya.

Saturday, February 2, 2013

Thought for the Day - 2nd February 2013 (Saturday)

You will all doubtlessly agree when I say that Divine Bliss is your greatest need. However, you cannot buy it from anywhere! It has to be earned the hard way, doing good deeds, moving in good company, desisting from evil and keeping the mind attached to the Glory of God. Good and bad cannot be kept together in the same place. The Sun once remarked that he had no enemies left and someone told him that there still was one – Darkness! Then, he sent his rays, the emissaries, to seek out the foe. But wherever they went, they only saw light and darkness was nowhere to be found. They returned and reported – there was no such thing as darkness upon the earth. So too, you must gain victory of good over bad within you by persisting vigorously in your spiritual practices.

Tidak akan diragukan lagi, kalian semua akan setuju ketika Aku mengatakan bahwa Kebahagiaan Ilahi adalah kebutuhan terbesar-mu. Namun, engkau tidak bisa membelinya dari manapun! Ini harus diperoleh dengan cara yang keras, dengan melakukan perbuatan baik, melakukan pergaulan yang baik, berhenti melakukan keburukan dan menjaga pikiran senantiasa melekat pada Kemuliaan Tuhan. Baik dan buruk tidak dapat disimpan bersama-sama di tempat yang sama. Suatu ketika, Sang Mentari pernah mengatakan bahwa ia tidak punya musuh dan seseorang mengatakan kepadanya bahwa ia memiliki satu musuh yaitu Kegelapan! Kemudian, ia mengirim cahayanya, para utusan, untuk mencari musuh tersebut. Tetapi di mana pun mereka melangkah, mereka hanya melihat cahaya dan kegelapan tidak bisa ditemukan. Mereka kembali dan melaporkan - tidak ada yang namanya kegelapan di atas bumi. Demikian juga, engkau harus mendapatkan kemenangan kebaikan atas keburukan dalam dirimu dengan penuh semangat bertahan dalam praktek spiritual-mu.

Friday, February 1, 2013

Thought for the Day - 1st February 2013 (Friday)

The Lord is a Mountain of Love. Any number of ants carrying away particles of sweetness cannot exhaust His plenty. He is an Ocean of Mercy without a limiting shore. And devotion is the easiest way to win His Grace and also to realize that He pervades everything; in fact, He is everything! Sharanagathi (total surrender) or leaving everything to His Will, is the highest form of devotion. Devotion and the attitude of surrender, which is its final fruit, will give you great courage to meet any emergency; such courage is what is called Renunciation. When Devotion is just emerging as a sapling, a fence is needed to protect the tender plant. That fence is religion and its rules, restrictions, directions and commands.

Tuhan adalah Gunung Cinta-kasih. Sejumlah semut membawa sejumlah partikel yang manis tidak akan bisa menghabiskan demikian banyak-Nya. Beliau adalah Samudra Kasih/Rahmat tanpa batas pantai. Dan pengabdian adalah cara termudah untuk memenangkan Rahmat-Nya dan juga untuk menyadari bahwa Beliau meliputi segalanya, bahkan, Beliaulah segalanya! Sharanagathi (pasrah total) adalah bentuk pengabdian (bhakti) yang tertinggi. Pengabdian dan sikap pasrah, merupakan buah akhir, yang akan memberikan keberanian besar jika menghadapi keadaan bahaya, keberanian seperti itu adalah apa yang disebut dengan Renunciation (praktek meninggalkan kehidupan duniawi). Ketika Pengabdian baru saja muncul sebagai pohon muda, pagar diperlukan untuk melindungi tanaman tersebut. Pagarnya adalah agama, aturan-aturan,  arah dan petunjuk.