Thursday, December 31, 2009

Thought for the Day - 31st December 2009 (Thursday)


Man is equipped with a return-ticket when he takes birth. Holding it in his grasp, he earns and spends, rises and falls, sings and dances, weeps and wails, forgetting the end of the journey. But, though he forgets, the wagon of life moves towards the cemetery, which is its terminus. It brings no glory to man if he is tied helplessly to the wheel of birth and death. His glory and greatness consist in disentangling himself from that revolving wheel.

Manusia yang lahir pasti suatu saat akan kembali. Dalam menjalani hidupnya akan merasakan naik turunnya kehidupan, kebahagiaan dan kesedihan yang menyebabkan lupa akan tujuan hidupnya. Akan tetapi walaupun manusia lupa, waktu terus berjalan dan menggiring manusia ke akhir hidupnya. Manusia tidak akan mencapai tujuan akhirnya jika masih terikat dengan roda kelahiran dan kematian. Dengan kemuliaan dan Kebesaran Tuhan, manusia dapat melepaskan diri dari roda kelahiran dan kematian ini untuk mencapai tujuan akhir dengan selamat.

-BABA

Thought for the Day 30th December 2009 (Wednesday)


The service activities that we undertake are meant to experience unity in society. It is a great mistake if you think that you are serving others. In fact, you should not consider anybody as ‘other’, for all are the embodiments of divinity. But man is not making efforts to realise this truth. Hence, he is subjected to difficulties. Once man realises that God is all-pervasive, he will be free from suffering. In order to get rid of suffering, man has to practise the principle of unity in society. Once he understands the principle of unity, he can attain the Cosmic principle.

Kegiatan pelayanan yang kita lakukan dimaksudkan untuk mengalami kesatuan dalam masyarakat. Jika engkau berpikir bahwa engkau melayani orang lain, ini adalah kekeliruan besar. Engkau seharusnya tidak menganggap seseorang sebagai ‘orang lain’, karena semuanya adalah perwujudan keilahian. Tetapi manusia tidak membuat usaha-usaha untuk menyadari kebenaran ini. Oleh karena itu, ia mengalami kesulitan. Ketika manusia menyadari bahwa Tuhan meliputi segalanya, manusia akan menjadi bebas dari penderitaan. Untuk menyingkirkan penderitaan, manusia harus mempraktekkan prinsip kesatuan dalam masyarakat. Saat manusia memahami prinsip kesatuan, manusia dapat mencapai prinsip Alam semesta.

-BABA

Tuesday, December 29, 2009

Thought for the Day - 29th December 2009 (Tuesday)


The questions that haunt us and pressurise us while we live- whence have we come, to where are we proceeding, how did the universe originate, etc. All religions try to answer these questions. Man has set down in all lands certain rules and regulations in order to secure orderly and smooth running of his daily schedule of activities, directed to the actual process of living. Since they have become part of the code of conduct, they are also described as 'Discipline'.

Banyak pertanyaan yang muncul mengenai saat kita hidup, darimana kita datang, kemana kita akan pergi dan bagaimana alam semesta ini terbentuk, dll. Semua agama berusaha untuk menjawab semua pertanyaan ini. Manusia di seluruh daerah telah menetapkan aturan tertentu dan peraturan dengan tujuan untuk melindungi dan memperlancar kegiatannya sehari-hari mengarah pada proses hidup yang nyata. Ketika mereka mempraktikkan pedoman prilaku, pastilah akan mempraktikkan disiplin hidup.

-BABA

Monday, December 28, 2009

Thought for the Day - 28th December 2009 (Monday)


He is a true devotee who considers God’s happiness as his own. He always aspires to give happiness to the Lord and does not want to cause any inconvenience to Him. You should never cause inconvenience to God in the name of devotion. Consider that God’s happiness is your happiness and your happiness is God’s happiness. Imbibe this spirit of oneness. Today most of the devotees are selfish. They have only Swartha Bhakti (devotion intended for selfish gains). They are concerned with their own happiness and not that of God's. You should see to it that your love is always pure. God is the embodiment of love. Such divine love is present in all. Share your love with everyone. This is what God expects from you.

Dia yang menganggap kebahagiaan Tuhan sebagai kebahagiaannya sendiri adalah Bhakta sejati. Ia selalu menginginkan untuk memberikan kebahagiaan pada Tuhan dan tidak ingin menimbulkan ketidaknyamanan pada Beliau. Engkau seharusnya tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada Tuhan atas nama pengabdian. Anggaplah bahwa kebahagiaan Tuhan adalah kebahagiaanmu dan kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Tuhan. Camkanlah semangat kesatuan ini. Saat ini sebagian besar Bhakta bersifat mementingkan diri sendiri. Mereka hanyalah Swartha Bhakti (Bhakta yang mengharapkan keuntungan untuk dirinya sendiri). Mereka memusatkan perhatiannya untuk kebahagiaan mereka sendiri dan bukan pada Tuhan. Engkau seharusnya memastikan bahwa kasihmu kepada Tuhan selalu murni. Tuhan merupakan perwujudan cinta-kasih. Kasih Tuhan yang demikian itu berada dalam semuanya. Bagilah cinta-kasih ini kepada setiap orang. Inilah yang diharapkan Tuhan darimu.

-BABA

Thought for the Day - 27th December 2009 (Sunday)


Man does not live by food alone. In fact he lives by the power of the Atma. So you must use your strength of body and mind, wealth and education with intelligence, in order to realize the power of the soul. Without discrimination, what is the use of physical strength? Everyday, when you take food, you are offering eatables to the fire that God has put in you to digest food. You have to eat in a prayerful mood, in profound gratitude. The Gita says that the fire that cooked the meal is God; the meal is God, the eater is God; the purpose of eating is to carry on the work entrusted by God, or pleasing to God; and the fruit of that work is, progress towards God.

Manusia bukan saja hidup hanya dari makanan. Sebenarnya manusia hidup dengan kekuatan atma. Jadi, engkau harus menggunakan kekuatan tubuh dan pikiran, kekayaan dan pendidikan dengan kecerdasan, dalam mewujudkan kekuatan jiwa. Tanpa kemampuan untuk membedakan, apalah gunanya kekuatan fisik? Setiap hari, ketika engkau makan, engkau mempersembahkan makanan kepada api yang telah disediakan Tuhan dalam dirimu untuk mencerna makanan tersebut. Engkau harus makan dalam suasana yang dipenuhi dengan doa, serta rasa syukur yang mendalam. Dalam Bhagavad Gita dikatakan bahwa api yang memasak makanan adalah Tuhan, makanan adalah Tuhan, yang menikmatinya adalah Tuhan, tujuan makan adalah untuk melanjutkan pekerjaan yang dipercayakan oleh Tuhan, atau yang menyenangkan Tuhan, dan buah dari pekerjaan itu adalah kemajuan menuju Tuhan.

-BABA


Saturday, December 26, 2009

Thought for the Day - 26th December 2009 (Saturday)


In the use of sense organs, there must be due regard for moderation and purity. This applies to food as well as to other things, which you may consume. Today man is behaving like a patient who is clamouring for the medicines that he relish, not for the medicines that can cure him according to the doctors who are the experts. The patient chooses the diet and the regimen which are congenial to him; he bids adieu to the directions given by the doctor, for they restrict and regulate.

Dalam menggunakan organ indera, harus diperhatikan keseimbangan dan kesucian. Hal ini juga berlaku bagi makanan serta hal-hal lain yang engkau konsumsi. Saat ini manusia bertindak seperti seorang pasien yang menuntut obat-obatan yang ia sukai, bukan untuk obat-obatan yang dapat menyembuhkannya sesuai dengan petunjuk dokter ahli. Pasien memilih diet dan cara hidup yang menyenangkan untuk dirinya, ia mengabaikan petunjuk yang diberikan oleh dokter, karena petunjuk tersebut membatasi dan mengaturnya.

-BABA

Friday, December 25, 2009

Thought for the Day - 25th December 2009 (Friday)


When Jesus was born three wise men followed a star to reach his place of birth. Seeing the new-born babe they bowed to the divine child in their hearts. One sage told Mary: "He loves God." The second sage said: "God loves him." The third man said: "He is God." What is the inner significance of these three pronouncements about Jesus? The first statement implies that Jesus is a messenger of God. A messenger may love his master, but the master may not so easily love his messenger. The second statement implies that he is the son of God, for a father loves his son most dearly. The third statement proclaims the unity of the Father and Son. It means that as the Son of God he is entitled to ascend to his Father's place.

Ketika Yesus dilahirkan 3 orang bijaksana diikuti sebuah bintang menuju tempat kelahiran-Nya. Melihat bayi yang baru lahir tersebut mereka menundukkan kepala dalam hati pada anak Ilahi tersebut. Orang bijaksana pertama mengatakan pada Bunda Maria: “Beliau mengasihi Tuhan.” Orang bijaksana kedua mengatakan: “Tuhan mengasihi-Nya.” Orang bijaksana ketiga mengatakan: “Beliau adalah Tuhan.” Apa makna mendalam dari ketiga pernyataan tentang Yesus tersebut? Pernyataan pertama menyiratkan bahwa Yesus adalah utusan Tuhan. Seorang utusan mungkin mencintai tuan-Nya, tetapi tuan-Nya mungkin tidak begitu dengan mudah mencintai utusannya. Pernyataan kedua menyiratkan bahwa Beliau adalah anak Tuhan, karena seorang ayah mengasihi anaknya yang paling dicintai-Nya. Pernyataan ketiga menyatakan kesatuan antara Ayah dan Anak. Hal ini berarti bahwa sebagai Anak Tuhan Beliau berhak untuk naik ke tempat Bapa-Nya.

-BABA

Thursday, December 24, 2009

Thought for the Day - 24th December 2009 (Thursday)


If a man wishes to be happy, the first exercise he must do is to remove from his mind every bad thought, feeling and habit. Grief and joy are obverse and reverse sides of the same experience. Joy is when grief ends; grief is when joy ends. What exactly is grief? It is merely a reaction to the loss of something gained or the failure to gain something desired. Therefore, the only way to escape grief and sorrow is to conquer desire for the illusory. The secret of happiness is not in doing what one likes but in liking what one has to do. Whatever work you have to do, you should do it with pleasure and liking.

Jika manusia ingin menjadi bahagia, latihan pertama yang harus dilakukannya adalah menghilangkan setiap pikiran buruk, perasaan buruk, serta kebiasaan buruk dari pikirannya. Kesedihan dan kegembiraan adalah sisi depan dan belakang dari pengalaman yang sama. Suka cita adalah ketika kesedihan berakhir; kesedihan adalah ketika kegembiraan berakhir. Apa sebenarnya kesedihan itu? Kesedihan hanyalah suatu reaksi terhadap suatu kehilangan atau kegagalan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari kesedihan dan penderitaan adalah menaklukkan keinginan khayal. Rahasia kebahagiaan adalah tidak melakukan apa yang disukai tetapi menyukai apa yang harus dilakukan. Apapun pekerjaan yang engkau lakukan, engkau seharusnya melakukannya dengan senang dan suka hati.

-BABA

Wednesday, December 23, 2009

Thought for the Day - 23rd December 2009 (Wednesday)


You are all endowed with Viveka (discrimination), you have a conscience whispering Dharma (righteousness) into your ear; so you are to select and choose yourself. Polish your mind and the sublime grandeur of the Lord will be reflected in your heart. Just as you feed the body and care for its upkeep and maintenance, the Chitta (consciousness), the Buddhi (intellect) have also to be fed with good nourishing food. If you don't, then they will be hungry and run after all kinds of foul food. Give them proper nourishment and they will function well, which is to illumine the Atma and help you realize that the Atma is in all.

Engkau semua diberkati dengan Viveka (kemampuan membedakan), engkau mempunyai hati nurani yang membisiki Dharma (kebajikan) ke dalam telingamu; jadi engkau memilih dan memutuskannya sendiri. Poleslah hatimu dan keagungan Tuhan yang luhur akan tercermin dalam hatimu. Sama halnya seperti engkau memberi makanan pada badan dan memelihara badan dengan perawatan dan pemeliharaan, Chitta (kesadaran), Buddhi (akal budi) juga harus diberikan makanan dengan makanan yang bergizi. Jika engkau tidak memberikannya, maka mereka akan menjadi lapar dan bergerak setelah semua jenis makanan membusuk. Berikan mereka makanan yang tepat dan mereka akan berfungsi dengan baik, yaitu untuk menerangi Atma dan membantu engkau untuk menyadari bahwa Atma ada di dalam semuanya.

-BABA

Tuesday, December 22, 2009

Thought for the Day - 22nd December 2009 (Tuesday)


Man will never gain happiness by giving a free rein to his senses. Man allows the mind - mere bundle of thoughts and desires - to guide his actions, instead of the intellect, which can discriminate, probe and analyse. While the mind will follow blindly every whim and fancy, the intellect helps man to identify one's duty and responsibility. Two things are essential for happy life: Dhaanya and Dhyana- Dhaanya or grains for sustenance of the body and Dhyana or contemplation of the Lord and merging in His glory.

Manusia tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dengan memberikan kebebasan kepada inderanya. Manusia semata-mata memenuhi pikirannya dengan kumpulan pemikiran dan keinginan-keinginan untuk mengarahkan tindakan-tindakannya, bukannya pada akal budinya, yang dapat membedakan, menyelidiki dan menganalisis. Ketika pikiran mengikuti dengan membabibuta setiap keinginan dan khayalan, akal budi membantu manusia untuk mengidentifikasi tugas dan tanggung jawab seseorang. Dua hal penting untuk hidup bahagia adalah: Dhaanya dan Dhyana – Dhaanya atau pokok-pokok untuk kelangsungan badan dan Dhyana atau kontemplasi pada Tuhan dan menyatu dalam keagungan-Nya.

-BABA

Monday, December 21, 2009

Thought for the Day - 21st December 2009 (Monday)


Life sustained by food is short; life sustained by the Atma is eternal. Do not lay claim to long life; but to Divine life. Do not pine for more years on earth, but for more virtues in the heart. The Buddha knew and made known to the world, the Truth. Everything is grief. Everything is empty. Everything is ephemeral and polluted. So the wise man has to do the duties assigned to him with discrimination, diligence and detachment. Play the role but keep your identity unaffected.

Hidup ditopang oleh makanan yang bersifat sementara, serta oleh Atma yang abadi. Jangan meminta umur panjang, melainkan untuk kehidupan illahi. Jangan berusaha untuk lebih lama tinggal di bumi, tetapi untuk lebih banyak kebajikan-kebajikan di dalam hati. Sang Buddha mengetahui dan memberitahukan pada dunia, suatu Kebenaran. Semuanya adalah kesedihan. Semuanya hampa. Semuanya tercemar dan bersifat fana. Jadi, orang bijaksana harus melaksanakan kewajibannya yang diberikan kepadanya dengan kemampuan untuk memilah, ketekunan dan ketidakterikatan. Mainkan peranmu tetapi pertahankan jangan sampai identitasmu terpengaruh.

-BABA

Sunday, December 20, 2009

Thought for the Day - 20th December 2009 (Sunday)


Life is a mosaic of pleasure and pain - grief is an interval between two moments of joy. Peace is the interlude between two wars. You have no rose without a thorn; the diligent picker will avoid the pricks and gather the flowers. There is no bee without the sting; cleverness consists in gathering the honey nevertheless. Troubles and travails will haunt you. But you must not allow them to deflect you from the path of duty and dedication. The world today is afflicted with anxiety, fear, depression, hatred, greed and suspicion. The only way the world can be set right is for man to realise his high destiny; for every man yearns for two boons - attainment of joy and escape from sorrow.

Hidup adalah sebuah kepingan kesenangan dan kesedihan – kesedihan adalah interval antara dua moment yaitu kesedihan dan kesenangan. Perdamaian merupakan saat antara dua peperangan. Engkau tidak mempunyai bunga mawar tanpa durinya; pemetik bunga akan berhati-hati menghindari tusukan duri tersebut dan mengumpulkan bunganya. Tidak ada lebah tanpa sengatan lebah; namun demikian pengumpul madu yang pandai akan mengumpulkan madu tanpa terkena sengatan lebah. Masalah dan kerja keras akan membayangi engkau. Tetapi engkau seharusnya jangan membiarkan hal tersebut untuk membelokkanmu dari kewajiban dan dedikasimu. Dunia saat ini menderita karena kecemasan, ketakutan, depresi, kebencian, keserakahan, dan kecurigaan. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan manusia di dunia adalah menyadari takdirnya yang tertinggi; karena setiap manusia merindukan dua anugerah – pencapaian kebahagiaan dan melarikan diri dari kesedihan.

-BABA

Friday, December 18, 2009

Thought for the Day - 19th December 2009 (Saturday)


You must practice moderation in food, sleep and exercise. Good food taken in moderate quantities at regular intervals; that is the prescription. Sathwic food promotes self-control and intelligence more than Rajasic and Tamasic. Sleep too, must be regulated and moderated; it is as important as work and food. The food must be clean and pure and derived through pure means, and the strength derived from it must be directed towards holy ends.

Engkau harus mempraktekkan makan, tidur, dan berolahraga dengan seimbang. Makanan yang baik yang dikonsumsi dalam jumlah yang tepat secara berkala, adalah resepnya. Makanan satwik meningkatkan pengendalian diri dan kecerdasan melebihi dari makanan yg bersifat Rajas dan Tamas. Demikian halnya dengan tidur, harus diatur dan seimbang; hal ini sama pentingnya baik dalam bekerja maupun makan. Makanan harus bersih dan murni dan didapatkan melalui cara yang murni, dan kekuatan yang didapatkan dengan ini harus diarahkan ke hal-hal yang suci.

-BABA

Thought for the Day - 18th December 2009 (Friday)


The Atma is unaffected by any subject or object. Even if the senses, mind, intelligence are inactive, that will not affect the Atma. They have nothing to do with the Atma, which you really are. To know the Atma as such an entity, unaffected and unattached is the secret of Jnana (wisdom). Man is fundamentally happy and healthy. His nature is joy. So when he is happy and healthy, no one is surprised or worried. But, grief and sorrow are strange to his make-up. They are the result of a delusion that has overwhelmed his nature. So people get worried and set about finding out how he got so deluded.

Atma tidak dipengaruhi oleh subjek ataupun objek. Bahkan jika indera, pikiran, serta kecerdasan sedang tidak aktif, hal tersebut tidak akan mempengaruhi Atma. Hal tersebut tidak ada hubungannya dengan Atma, yang sesungguhnya adalah engkau. Untuk mengetahui Atma sebagai suatu kesatuan (entitas) seperti itu, yang tidak dipengaruhi dan tidak terikat adalah rahasia dari Jnana (kebijaksanaan). Manusia pada dasarnya sehat dan bahagia. Sifat alaminya adalah suka cita. Jadi ketika manusia sehat dan bahagia, tidak ada seorang pun yang heran dan khawatir. Tetapi, kesedihan dan penderitaan adalah sesuatu hal yang asing dalam kehidupan manusia. Hal tersebut merupakan hasil dari khayalan yang merupakan kodrat alaminya. Jadi orang-orang menjadi khawatir dan mencari tahu bagaimana ia menjadi tertipu.

-BABA

Thursday, December 17, 2009

Thought for the Day - 17th December 2009 (Thursday)


A time honoured proverb says "Na Sukhaath Labhyathe Sukham" - Real and lasting happiness cannot be won through physical pleasures. Lasting happiness can come only by the discipline of the mind and faith in the Lord which cannot be diminished by good or bad fortune. Man has to use the power of discrimination given to him to fight the evil forces within him and to foster the Divine elements in him by his own effort, by listening to the voice of his conscience. Man has to use the freedom to discriminate between right and wrong, good and evil.

Pepatah zaman dahulu mengatakan “Na Sukhaath Labhyathe Sukham" – Kebahagiaan yang nyata dan abadi tidak dapat diraih melalui kesenangan-kesenangan fisik. Kebahagiaan abadi dapat diperoleh hanya dengan disiplin pikiran dan keyakinan pada Tuhan yang tidak dikurangi dengan nasib baik atau buruk. Manusia harus menggunakan kemampuan membedakan yang diberikan kepadanya untuk melawan kekuatan-kekuatan jahat dalam dirinya dan mengembangkan unsur-unsur Ketuhanan yang ada dalam dirinya dengan usahanya sendiri, dengan mendengarkan suara hati nuraninya. Manusia harus menggunakan kemampuan membedakan antara yang benar dan salah, serta antara yang baik dan jahat.

-BABA

Wednesday, December 16, 2009

Thought for the Day - 16th December 2009 (Wednesday)


Education has to cultivate humility and discipline; but today it is yielding a harvest of pride and envy. ‘Vidya’ means: ‘vid’ (Light) and ‘ya’ (that which gives). So education has to shed light and illumine the darkness in the mind and the intellect. It does not indicate mere bookish knowledge. It has to clarify the kinship of man with man and his intimate relationship with nature. It must harmonize one's earlier experiences with one's present ones, and guide one to profitable and beneficial experiences in the future. It must validate the knowledge gained from these books by these experiences and in the process make man grow, until he becomes Divine.

Pendidikan seharusnya menanamkan disiplin dan kerendahan hati; tetapi saat ini pendidikan menuai hasil bangga dan iri hati. ‘Vidya’ berarti: ‘vid’ (Cahaya) dan ‘ya’ (yang memberikan). Jadi pendidikan itu untuk memberikan cahaya dan menerangi kegelapan dalam pikiran dan akal budi. Ini bukanlah sekedar mengacu pada pengetahuan buku. Hal ini menjelaskan hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam. Harus ada harmonisasi pengalaman seseorang sebelumnya dengan yang sekarang dan menuntun manusia pada pengalaman-pengalam an yang menguntungkan dan berguna di masa depan. Hal ini harus menjelaskan hubungan pengetahuan yang didapat dari buku-buku ini dengan pengalaman tersebut dalam proses menjadikan manusia berkembang, sampai ia menyadari Ketuhanan.


BABA

Tuesday, December 15, 2009

Thought for the Day - 15th December 2009 (Tuesday)


We should do our might to enhance the reputation of our country, its culture, and language. But, let not that pride lead you to dislike other languages and cultures. The languages by which thoughts are expressed may be varied, but the thoughts, emotions and feelings are the same. The language of the heart is the same, but when it comes to the tongue, it may take various forms.

Kita seharusnya melakukan sesuatu untuk meningkatkan reputasi negara, budaya, serta bahasa kita. Tetapi janganlah kebanggaan tersebut membawamu tidak menyukai bahasa dan kebudayaan negara lain. Bahasa yang dinyatakan oleh pikiran mungkin bervariasi, tetapi pikiran, emosi, dan perasaan adalah sama. Bahasa hati adalah sama, tetapi ketika bahasa tersebut diucapkan oleh lidah, bahasa tersebut mungkin mengambil berbagai bentuk.

-BABA

Monday, December 14, 2009

Thought for the Day - 14th December 2009 (Monday)


So long as man lives a life devoted to objective pleasures and objective victories, he cannot escape sorrow, fear and anxiety. There is no object without fault or failing; there is no pleasure that is unmixed with pain; there is no act that is not tainted with egoism. So be pure and develop detachment, which will save you from grief. The sorrows of life cannot be ended through hatred and injustice; these will only breed more of the same species. The sorrows will yield only to nobler and higher thoughts and experiences germinating from the pure heart, where the Lord resides.

Sepanjang kehidupan manusia, jika hidupnya ditujukan untuk tujuan kesenangan dan kemenangan, ia tidak dapat melarikan diri dari kesedihan, ketakutan, dan kecemasan. Tidak ada objek tanpa kesalahan atau kegagalan; tidak ada kesenangan yang tidak berbaur dengan rasa sakit; tidak ada tindakan yang tidak dinodai dengan egoisme. Jadi, kembangkanlah kemurnian hati dan ketidakterikatan, yang akan menyelamatkan engkau dari kesedihan. Penderitaan dalam hidup tidak dapat diakhiri melalui kebencian dan ketidakadilan; ini hanya akan menumbuhkan lebih banyak lagi hal yang sejenis. Penderitaan semata-mata akan memberikan pengalaman yang membuat pikiran lebih luhur dan mulia yang berasal dari hati yang murni, dimana Tuhan berada.

-BABA

Sunday, December 13, 2009

Thought for the Day - 13th December 2009 (Sunday)


Those who seek to impart the values of Sathya (Truth), Dharma (Righteousness), Shanti (Peace), Prema (Love) and Ahimsa (Non-violence) to others, must try first to practise them themselves whole-heartedly. To imagine that values can be installed by teaching is a mistake. Such learning will have no permanent effect. Educationists must take note of this fact. If transformation is to be effected in students, the process must start from a very early age.

Mereka yang berusaha untuk menanamkan nilai-nilai Sathya (Kebenaran), Dharma (Kebajikan), Shanti (kedamaian), Prema (Love) dan Ahimsa (tanpa kekerasan) kepada orang lain, pertama-tama harus mencoba mempraktekkan pada diri mereka sendiri dengan sepenuh hati. Adalah suatu kekeliruan jika membayangkan bahwa nilai-nilai tersebut dapat dipelajari. Pembelajaran semacam itu tidak akan memiliki efek yang permanen. Para pendidik harus memperhatikan kebenaran ini. Jika transformasi ini akan dilakukan pada siswa, proses ini harus dimulai dari usia yang sangat dini.

-BABA

Saturday, December 12, 2009

Thought for the Day - 12th December 2009


Sorrows and disasters are the clouds that flit across the sky; they cannot injure the blue depths of space of faith. Look upon joy and sorrow as teachers of hardihood and balance. Grief is a friendly reminder, a good taskmaster, even a better teacher than joy. Do not flinch in the face of grief. Welcome the test because thereafter you are awarded the certificate. It is to measure your progress that tests are imposed.

Kesedihan dan bencana adalah awan-awan yang melayang di langit; mereka tidak dapat melukai birunya angkasa kepercayaan. Pandanglah suka dan duka sebagai guru dalam keberanian dan keseimbangan. Duka cita adalah peringatan yang baik, pemberi tugas yang baik, bahkan guru yang terbaik dibandingkan dengan suka-cita. Jangan menjauhkan diri dalam menghadapi kesedihan. Jalanilah ujian hidup karena setelahnya engkau akan mendapat sertifikat. Ujian ada untuk mengukur kemajuanmu.

-BABA

Friday, December 11, 2009

Thought for the Day - 11th December 2009 (Friday)


Everything is constantly changing in the world. This ever-changing world is based upon the unchanging Divine. It is only when the Aadhaara (Divine basis) is understood can one derive bliss from the experience of what is based on it. In whatever action men do and whatever paths they pursue, they should be conscious of the Divine. The chief source of Ananda (bliss) is dedication to God; nothing else can give that genuine and lasting joy. Become conscious of your kinship with the Lord. That kinship is not a mere fancy or a faked theory. It has come down since ages, from the beginning of time itself. It will persist till the very end of time.

Di dunia ini semuanya mengalami perubahan. Dunia yang senantiasa berubah ini didasarkan pada Tuhan yang kekal (tidak berubah). Hanya ketika Aadhaara (asas Tuhan) dipahami seseorang dapat memperoleh kebahagiaan dari pengalaman dari apa yang didasarkan pada hal tersebut. Apapun yang manusia lakukan, jalan apapun yang manusia pilih untuk mengejar kebahagiaan, mereka seharusnya sadar akan keberadaan Tuhan. Sumber utama Ananda (kebahagiaan) adalah pengabdian pada Tuhan; tidak ada yang lain yang dapat memberikan sukacita dan kebahagiaan abadi. Sadarilah pertalianmu dengan Tuhan. Pertalian tersebut bukan sekedar angan-angan atau teori yang palsu. Hal tersebut telah turun-temurun sejak berabad-abad lalu, dari awal dimulainya waktu itu sendiri. Hal ini akan bertahan hingga akhir waktu.

-BABA

Thursday, December 10, 2009

Thought for the Day - 10th December 2009 (Thursday)


When man thinks, speaks and acts along virtuous lines, his conscience will be clean and he will have peace. Whoever subdues his egoism, conquers his selfish desires, destroys his bestial feelings and impulses and gives up the natural tendency to regard the body as self, is surely on the path of Dharma. He knows that the goal of Dharma is the merging of the wave in the sea; the merging of the self in the Higher self.

Ketika manusia berpikir, berbicara, dan bertindak di sepanjang garis kebajikan, hati nuraninya akan menjadi bersih dan ia akan memiliki kedamaian. Siapapun yang dapat menundukkan egoismenya, menaklukkan keinginan pribadinya, menghancurkan sifat hewaniahnya, dan mendorong serta menyerahkan kecenderungan alami untuk menganggap badan sebagai sang diri, pasti berada di jalan Dharma. Dia tahu bahwa tujuan dari Dharma adalah menyatukan gelombang di lautan; menyatukan sang diri dalam sang Diri Tertinggi (Tuhan).

-BABA

Wednesday, December 9, 2009

Thought for the Day - 9th December 2009


Life on earth is, as on the ocean, ever restless, with the waves of joy and grief, and of loss and gain, the swirling currents of desires and the whirlpools of passion, greed and hate. To cross the ocean, the only reliable raft is a heart filled with the Love of God and man. Man is born for a high destiny, as the inheritor of a rich heritage. He should not fritter away his days in low pursuits and vulgar vanities. His destiny is to know the Truth, live in it and for it. The Truth alone can make man free and happy. If he is not prompted by this high purpose, life is a waste and a mere tossing on the waves, for the sea of life is never calm.

Kehidupan di bumi ini seperti kehidupan di laut, tidak pernah tenang, dengan gelombang kegembiraan dan kesedihan, keuntungan dan kerugian, berputar-putar di pusaran keinginan dan nafsu, keserakahan dan kebencian. Hanya rakit yang diandalkan yang dapat menyeberangi lautan ini, yaitu hati yang dipenuhi dengan Cinta-kasih pada manusia dan Tuhan. Manusia dilahirkan karena takdir tertinggi, sebagai pewaris dari warisan yang kaya. Dia seharusnya tidak membuang-buang waktunya dalam pengejaran yang rendah dan kesia-siaan. Takdirnya adalah untuk mengetahui Kebenaran, hidup untuk kebenaran dan hidup dalam kebenaran. Kebenaran itu sendiri dapat menjadikan manusia bebas dan bahagia. Jika manusia tidak didorong dengan tujuan tertinggi ini, hidup adalah sia-sia dan hanya diombang-ambingkan oleh gelombang, pada lautan kehidupan yang tidak pernah tenang.

-BABA

Tuesday, December 8, 2009

Thought for the Day - 8th December 2009 (Tuesday)


Moral and spiritual values have to be honoured as much as, if not more than, economic and material values. Life must be a harmonious blend of these values with emphasis on moral strength. The honour of a nation depends on the morality of that nation. A nation without morality will be doomed. Morality has to be grown in the heart by feeding it with love. Then only can we have justice, security, law and order. If love declines among the people, nations will weaken and mankind will perish. 

Nilai-nilai moral dan spiritual harus dihargai sebesar-besarnya, tidak lebih dari nilai-nilai ekonomi dan materi. Kehidupan harus harmonis merupakan perpaduan antara nilai-nilai ini dengan menekankan pada kekuatan moral. Kehormatan suatu negara tergantung pada moralitas negara tersebut. Suatu negara tanpa moralitas akan menjadi hancur. Moralitas harus tumbuh dalam hati dengan mengisi hati dengan cinta-kasih. Selanjutnya kita dapat memiliki keadilan, keamanan, hukum dan ketertiban. Jika cinta-kasih merosot diantara orang-orang, suatu negara akan lemah dan umat manusia akan hancur.

-BABA


Monday, December 7, 2009

Thought for the Day - 7th December 2009 (Monday)


Gratitude is a supreme virtue. Ingratitude is a grievous sin. There is no means of atonement for the ungrateful person. A man without this supreme virtue of gratitude is worse than a cruel animal. Having received his wealth, education and skills from society, if he does not serve the cause of society, his wealth, education and skills are but a sheer waste. Man is a creature of society and owes everything to society. If you wish to safeguard your future, you have to be grateful to those who have helped you in your difficult times and enabled you to obtain your personal needs.

Bersyukur adalah kebajikan tertinggi. Tidak bersyukur adalah dosa yang menyedihkan. Tidak ada pengampunan bagi orang-orang yang tidak bersyukur. Manusia yang tidak bersyukur lebih buruk daripada binatang buas. Setelah menerima kekayaan, pendidikan dan keterampilan dari masyarakat, jika manusia tidak melayani masyarakat, kekayaannya, pendidikannya dan keterampilannya hanyalah sampah belaka. Manusia adalah mahluk sosial dan berhutang pada masyarakat. Jika engkau ingin masa depanmu terjamin, engkau harus bersyukur kepada mereka yang membantumu dalam masa-masa sulit dan memungkinkanmu untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan pribadimu.

-BABA

Sunday, December 6, 2009

Thought for the Day - 6th December 2009 (Sunday)


The secret of peace lies in service and love towards all beings. The best form of service is to promote the growth of sages and seekers who are the practitioners of the good life. Do not speak disparagingly of the servants of God; do not obstruct the charity of the generous; do not discourage the study of the scriptures even if you cannot promote any of them.

Rahasia dari kedamaian terletak pada pelayanan dan cinta-kasih pada semua mahluk. Bentuk terbaik dari pelayanan adalah memajukan perkembangan orang-orang bijaksana dan para pencari Tuhan yang melaksanakan kehidupan yang baik. Jangan berbicara merendahkan pada hamba Tuhan; jangan menghalangi kemurahan hati dari para dermawan; jangan mengecilkan hati orang-orang yang mempelajari kitab suci sekalipun engkau tidak dapat mengembangkan salah satu dari hal tersebut.

-BABA

Saturday, December 5, 2009

Thought for the Day - 5th December 2009 (Saturday)


There is in everyone a spark of Truth; no one can live without that spark. There is in everyone a flame of Love; life becomes a dark void without it. That spark, that flame is God, for He is the source of all Truth and all Love. Man seeks the Truth; he seeks to know the reality because his very nature is derived from God who is Truth. He seeks Love, to give it and share it, for his nature is God and God is Love.

Dalam diri setiap orang terdapat percikan Kebenaran, tidak ada seorangpun dapat hidup tanpa percikan ini. Dalam diri setiap orang terdapat cahaya Cinta-kasih, hidup menjadi gelap tanpa cahaya ini. Percikan dan cahaya tersebut adalah Tuhan, karena Beliau adalah sumber segala Kebenaran dan Cinta-kasih. Manusia mencari Kebenaran, ia berusaha untuk mengetahui kenyataan ini karena sifat ini yaitu Kebenaran berasal dari Tuhan. Manusia mencari Cinta-kasih, untuk memberi dan berbagi, karena sifat sejatinya adalah Tuhan dan Tuhan adalah Cinta-kasih.

-BABA

Friday, December 4, 2009

Thought for the Day - 4th December 2009 (Friday)


If we sow a thought today, we reap an act tomorrow. If we sow an act today, we reap a habit tomorrow. If we sow a habit today, we reap a character tomorrow. If we sow a character today, we reap a destiny tomorrow. You do not lose much if a finger is so damaged that it needs to be cut off. The body can still function and be a fit instrument. Even if you lose a limb, you can function and benefit with the help of your other faculties. But if you lose your character, then everything is lost. The crisis of character which is at the root of all the troubles everywhere, has come about as a result of the neglect of this aspect of education. Wisdom thrives when man is afraid of vice and sin and is attached to the Divine.

Jika kita menabur pemikiran hari ini, kita menuai tindakan besok. Jika kita menabur tindakan hari ini, kita menuai kebiasaan besok. Jika kita menabur kebiasaan hari ini, kita menuai karakter besok. Jika kita menabur karakter hari ini, kita menuai takdir besok. Engkau tidak banyak kehilangan jika jarimu harus dipotong karena cedera parah. Tubuh tetap dapat berfungsi dan menjadi instrument yang sesuai. Bahkan jika engkau kehilangan anggota tubuh, tubuh dapat berfungsi dan berguna dengan bantuan indera yang lainnya. Tetapi jika engkau kehilangan karakter, maka engkau kehilangan segalanya. Dimana-mana, krisis karakterlah yang merupakan akar penyebab semua masalah, hal ini terjadi sebagai akibat mengabaikan aspek-aspek pendidikan. Kebijaksanaan tumbuh dengan subur ketika manusia takut pada dosa dan tidak melakukan perbuatan buruk serta dekat pada Tuhan.

-BABA

Thursday, December 3, 2009

Thought for the Day - 3rd December 2009 (Thursday)


Man has to understand that he is the cause of his own happiness or misery, and that all he seeks or loves are not for their sake, but for his own sake. Hence, he has to understand by deep inquiry his own true nature. Realising the ephemeral nature of all worldly objects, man should recognise that enduring happiness can be got only by developing love for God. I do not condemn worldly happiness. I feel glad when people are happy. But, please do not believe that this happiness is permanent.

Manusia harus memahami bahwa ia adalah penyebab kebahagiaan atau kesengsaraan pada dirinya sendiri, dan bahwa semua yang ia cari atau yang ia cintai bukanlah demi kepentingan mereka yang dicintainya, melainkan demi dirinya sendiri. Oleh karenanya, ia harus memahami melalui penyelidikan yang mendalam sifat sejati dirinya sendiri. Menyadari kefanaan dari seluruh objek duniawi, manusia seharusnya sadar bahwa kebahagiaan abadi hanya di dapat dengan mengembangkan kasih kepada Tuhan. Aku tidak menyalahkan kebahagiaan duniawi. Aku merasa senang ketika orang-orang merasa bahagia. Tetapi, jangan percaya bahwa kebahagiaan tersebut abadi.

-BABA

Wednesday, December 2, 2009

Thought for the Day - 2nd December 2009 (Wednesday)


You must become like the flute in the Lord's hands. Let the breath of the Lord pass through you, producing delightful music that melts the hearts of everyone. Surrender yourself to Him; become hollow, i.e., egoless; then He will Himself come and pick you up caressingly and apply you, the flute, to His lips and blow His sweet breath through you. Allow Him to play whatever song He likes.

Engkau harus menjadi seperti seruling di tangan Tuhan. Biarkan nafas Tuhan mengalir melalui dirimu, menghasilkan musik yang menyenangkan hati semua orang. Pasrahkan dirimu pada-Nya, jadilah kosong, tanpa ego, maka Beliau sendirilah yang akan datang dan menjemputmu, membelai dan menggunakanmu, sebagai seruling, menuju bibir-Nya dan meniup nafas manis-Nya melalui engkau. Biarkan Beliau memainkan lagu apa saja yang Beliau sukai.

-BABA

Tuesday, December 1, 2009

Thought for the Day - 1st December 2009 (Tuesday)


Creation has to be viewed as a Cosmic Stage. God is the director and dramatis personae in this play. He assigns all the roles of the characters in the play. All creatures in the world are manifestations of the Divine. The good and evil in the world are expressions of the Divine consciousness. Man should not be misled by these expressions. Behind all the various actions of the actors, the Divine director is at work. It should be realised that though names and forms may vary, languages and nationalities may be different, the human race is one in its divine essence.

Dunia ini harus dipandang sebagai Panggung Alam Semesta. Tuhan adalah sutradaranya dan para pelaku adalah pemainnya. Beliau memberikan semua peran dari tokoh-tokoh dalam drama ini. Semua mahluk di dunia ini adalah manifestasi dari Tuhan. Kebaikan dan kejahatan di dunia merupakan ekspresi dari kesadaran Tuhan. Manusia tidak seharusnya dibimbangkan oleh pernyataan tersebut. Dibalik semua tindakan dari berbagai aktor, sutradara Ilahi (Tuhan) sedang bekerja. Haruslah disadari bahwa meskipun nama dan bentuk mungkin berbeda, bahasa dan kebangsaan mungkin berbeda, ras manusia adalah satu dalam hakekat Ilahi.

-BABA

Monday, November 30, 2009

Thought for the Day - 30th November 2009 (Monday)


Delusion causes evil feelings to arise in your heart and mind. One may be evil-minded, yet with the blessings of elders and in the company of noble souls, one can easily get rid of evil tendencies and develop virtues. People undertake various spiritual practices to attain divinity. Thyaja Durjana Samsargam; Bhaja Sadhu Samagamam; Kuru Punyam Ahorathram; Smara Nityam Anityatham (Shun bad company; seek good company, perform righteous deeds always and discriminate between the permanent and the ephemeral).

Khayalan menyebabkan perasaan buruk muncul dari pikiran dan hatimu. Seseorang mungkin akan berpikiran buruk, namun dengan berkat dari orang tua dan pergaulan dengan orang-orang yang berjiwa mulia, seseorang dapat dengan mudah menghilangkan kecenderungan buruk dan mengembangkan kebajikan. Orang-orang melaksanakan berbagai macam praktek spiritual untuk mencapai keilahian (ketuhanan). Thyaja Durjana Samsargam; Bhaja Sadhu Samagamam; Kuru Punyam Ahorthram; Smara Nityam Anityatham (hindari pergaulan yang buruk; carilah pergaulan yang baik, selalu lakukan perbuatan yang baik dan bedakan antara yang kekal dan sementara).

-BABA

Sunday, November 29, 2009

Thought for the Day - 29th November 2009 (Sunday)


What for is man born in this world? Is it merely to roam around and indulge in the pleasures of the world? Understand that worldly pleasures are not permanent. All that happens to you in future will be in accordance with your conduct today. Everything is reaction, reflection and resound. The good deeds that you perform today will yield good results in the time to come. If you do bad deeds today, you cannot expect to be rewarded with good results in future. The results of your past bad deeds will always keep haunting you.

Untuk apa manusia dilahirkan di dunia ini? Apakah semata-mata untuk menjelajah dan menurutkan kesenangan duniawi? Pahamilah bahwa kesenangan duniawi bersifat sementara. Semua kejadian yang engkau alami di masa yang akan datang sesuai dengan tindakan yang engkau lakukan saat ini. Segalanya merupakan gema, reaksi, dan cerminan. Perbuatan baik yang engkau lakukan hari ini akan mendatangkan hasil yang baik di masa yang akan datang. Jika saat ini engkau melakukan perbuatan buruk, janganlah engkau berharap untuk dihargai dengan hasil yang baik di masa yang akan datang. Hasil perbuatan burukmu di masa yang lalu, akan selalu membayangimu.

-BABA

Saturday, November 28, 2009

Thought for the Day - 28th November 2009 (Saturday)


The clouds of Maya (delusion) cannot darken the inner consciousness of the following four categories of noble persons: (1) those who revel in the glory and mystery of God; (2) those who know and make known that God is the master of Maya and the wielder of the forces that destroy delusion; (3) those who are engaged in good deeds executed with faith and devotion; and (4) those who endeavour to maintain Sathya (Truth) and Dharma (Righteousness).

Awan Maya (khayalan) tidak dapat menggelapkan kesadaran batiniah dari empat kategori orang-orang mulia seperti berikut ini: (1) orang-orang yang mendapatkan kepuasan dalam keagungan dan misteri Tuhan; (2)orang-orang yang mengetahui dan memberitahukan bahwa Tuhan adalah penguasa Maya dan menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan khayalan; (3) orang-orang yang terlibat dalam perbuatan baik yang dilaksanakan dengan penuh keyakinan dan bhakti; dan (4) orang-orang yang berusaha untuk mencapai Sathya (Kebenaran) dan Dharma (Kebajikan).

-BABA

Friday, November 27, 2009

Thought for the Day - 27th November 2009 (Friday)


When you are confronted with problems and difficulties you should not get upset, and become victims of depression which is a sign of weakness. In such a situation, you should bring tolerance and an attitude of forgiveness into play and should not get agitated giving rise to anger, hatred and revengeful attitude. You are embodiments of strength and not weakness. Therefore, in times of despair, you should be filled with the feeling of forbearance and be ready to forgive and forget. This quality of Kshama (forgiveness) is the greatest power for a human being. If one loses this quality, he becomes demonic.

Ketika engkau dihadapkan pada masalah dan kesulitan engkau seharusnya tidak kecewa, dan menjadi korban depresi yang merupakan tanda kelemahan. Dalam situasi seperti ini, engkau seharusnya mampu bersikap penuh toleransi dan bersedia memaafkan, dan bukannya menjadi gelisah yang kemudian akan memicu kemarahan, kebencian, dan sikap balas dendam. Engkau adalah perwujudan dari kekuatan dan bukan kelemahan. Oleh karena itu, pada saat putus asa, engkau seharusnya dipenuhi dengan perasaan sabar dan siap untuk memaafkan dan melupakan. Ini adalah kualitas dari Kshama (memaafkan) yang merupakan kekuatan terbesar bagi manusia. Jika seseorang kehilangan kualitas ini, ia akan menjadi jahat.

-BABA

Thursday, November 26, 2009

Thought for the Day - 26th November 2009 (Thursday)


Be always saturated with love. Do not use poisonous words against anyone, for words are more fatal than even arrows. Speak softly and sweetly. Sympathise with the suffering and the ignorant. Do your best to apply the salve of soothing words and render timely help. Do not damage anyone’s faith in virtue and Divinity. Encourage others to have that faith by demonstrating in your own life that virtue is its own reward and that Divinity is all-pervasive and all-powerful.

Selalu dipenuhi dengan cinta-kasih. Jangan menggunakan kata-kata beracun kepada siapapun, karena kata-kata lebih mematikan daripada anak panah. Berbicaralah yang manis dan lemah lembut. Bersimpatilah pada orang-orang yang tidak tahu dan yang menderita. Lakukan yang terbaik dengan menyampaikan kata-kata yang menenangkan dan memberikan bantuan tepat pada waktunya. Jangan merusak keyakinan seseorang dalam kebajikan dan ketuhanan. Doronglah orang lain untuk memiliki keyakinan tersebut dengan menunjukkan hidup dalam kebajikan adalah anugerah dan bahwa Tuhan meresapi segalanya dan penuh dengan segala kekuatan.

-BABA

Wednesday, November 25, 2009

Thought for the Day - 25th November 2009 (Wednesday)


What does Ahimsa (non-violence) signify? It is not merely refraining from causing harm to others. It also implies refraining from causing harm to oneself. In the matter of speech, one must examine whether one’s words cause pain to others. One must see that one’s vision is not tainted with evil intentions or thoughts. Nor should one listen to evil talk either. All these things cause harm to a person. Hence one should see to it that one gives no room for bad vision, bad hearing, bad speech, bad thoughts or bad actions. And how do you determine what is bad? By consulting your conscience. Whenever you act against the dictates of your conscience, bad results will follow.

Apa makna dari Ahimsa (tanpa kekerasan)? Ahimsa bukan hanya sekedar menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain. Hal ini juga berarti menahan diri untuk tidak menyakiti diri sendiri. Dalam hal berbicara, seseorang harus memeriksa apakah kata-katanya menyebabkan rasa sakit pada orang lain. Seseorang harus melihat bahwa pandangannya tidak dicemari dengan niat buruk atau pikiran yang buruk. Juga tidak boleh untuk mendengarkan pembicaraan yang buruk. Semua hal tersebut dapat menyakiti seseorang. Oleh karena itu seseorang seharusnya memastikan untuk tidak memberikan ruang bagi cara pandang yang buruk, pendengaran yang buruk, perkataan yang buruk, pikiran yang buruk, atau tindakan yang buruk. Dan bagaimana engkau menentukan mana yang buruk? Dengan berkonsultasi dengan hati nuranimu. Setiap kali engkau bertindak melawan hati nuranimu, hasil yang buruklah yang akan mengikutimu.

-BABA

Tuesday, November 24, 2009

Thought for the Day - 24th November 2009 (Tuesday)


One should be constantly contemplating on the principle of Brahma Sathyam, Jagath Mithya (reality of God and impermanence of the world). One must avoid the company of bad people; and even too much friendship with the good. Attachment of this nature will drag one away from the path to God. Give up attachment to the momentary. Once you have achieved this Udaaseenata (attitude of being unaffected), you will have unshakeable Shanti (peace), self-control and purity of mind.


Seseorang seharusnya merenungkan prinsip Brahma Sathyam, Jagath Mithya (realitas Tuhan dan dunia yang fana) secara terus-menerus. Seseorang harus menghindari pergaulan dengan orang-orang yang buruk dan persahabatan yang terlalu erat walaupun dengan orang-orang yang baik. Keterikatan ini akan membuat orang jauh dari jalan Tuhan. Buanglah keterikatan sesaat. Ketika engkau telah mencapai Udaaseenata (sikap yang tak terpengaruhi), engkau akan mendapatkan Shanti (kedamaian), pengendalian pikiran dan kemurnian pikiran yang mantap.

Monday, November 23, 2009

Thought for the Day - 23rd November 2009


Men cannot comprehend the Formless and the Attributeless Absolute. Avatars (Divine Incarnations) appear in human form to enable humanity to experience the Formless in a form which is accessible to them and helpful to them. An Avatar assumes the form that is beneficial to and within the reach of human beings. An effort must be made to understand the nature of divinity. It is only when God comes in human form can human beings have the full opportunity to experience and enjoy the Divine.

Manusia tidak dapat memahami Tuhan yang Tanpa Wujud dan Absolut. Avatar (penjelmaan Tuhan) menjelma dalam wujud manusia untuk memungkinkan manusia mengalami Yang Tak Berwujud dalam sebuah wujud yang dapat mereka terima dan dapat membantu mereka. Avatar mengambil wujud yang bermanfaat dan dapat dijangkau oleh manusia. Manusia harus berusaha untuk memahami sifat-sifat ketuhanan. Hanya jika Tuhan menjelma dalam wujud manusialah, manusia memiliki kesempatan penuh untuk mengalami dan menikmati ketuhanan tersebut.

-BABA