Tuesday, January 31, 2012

Thought for the Day - 31st January 2012 (Tuesday)

Avatara Purushas (divine advents) have no merit or demerit accumulated in former births, unlike ordinary mortals. They do not have any balances to pay off in a birth. Theirs is a Leela (divine play), a birth taken on. The goodness of the good and the wickedness of the bad provide reasons for an Avatar of the Lord. As a result of the advent of the Lord, the good will be happy and the bad will suffer. The Avatar, however has no joy or grief, even when enveloped in the body it has assumed. The Avatar is not constituted of the five elements; it is chinmaya not mrinmaya - spiritual not material; it can never be disturbed by egoism or the sense of ‘mine’ and ‘thine’; it is untouched by the delusion born of ignorance. Though men may mistake an Avatar as just human, that does not affect the Avatar’s nature; an Avatar comes for a task and is always bound to accomplish it.

Purushas Avatara (Tuhan yang menjelma ke dunia) tidak memiliki kebaikan atau kekurangan yang terakumulasi dari kelahiran sebelumnya, tidak seperti manusia biasa. Mereka tidak memiliki sisa saldo untuk membayar kelahiran sebelumnya. Mereka memiliki Leela (permainan Tuhan), maka kelahiran diambil. Kebaikan dan kejahatan merupakan alasan Tuhan menjelma sebagai Awatara. Sebagai akibat dari kedatangan Tuhan ke dunia (sebagai Awatara), yang baik akan mengalami kebahagiaan dan yang jahat akan mengalami penderitaan. Tetapi Awatara tidak memiliki kebahagiaan atau penderitaan, bahkan ketika Awatara terbungkus oleh badan manusia. Awatara tidak tersusun dari lima elemen, itu adalah chinmaya bukan mrinmaya - spiritual bukan material; tidak pernah bisa diganggu oleh egoisme atau perasaan 'milikku' dan 'kepunyaanku', tidak tersentuh oleh khayalan kelahiran dan ketidaktahuan. Meskipun menjelma sebagai manusia, hal itu tidak mempengaruhi sifat Awatara karena Awatara datang untuk melaksanakan tugas-Nya dan selalu terikat untuk menyelesaikan misi-Nya tersebut.


Monday, January 30, 2012

Thought for the Day - 30th January 2012 (Monday)

Be silent yourself; that will induce silence in others. Do not fall into the habit of shouting, talking loudly or for long. Reduce contacts to the minimum. Carry with you an atmosphere of quiet contemplation, wherever you happen to be. There are some who live in a perpetual tornado of noise. Whether they are in an exhibition, a fair, a hotel, a temple or even in Prashanthi Nilayam; their wagging tongues do not stop. Such people will not proceed far on the Godward path. There are others who relish disputes and arguments; they are never content with obvious facts; they must create doubts where none existed before, and shake faith. They dispute whether Rama is superior to Krishna, or whether Krishna is a fuller incarnation of Godhead! These thoughts are not helpful either, for a spiritual aspirant. Winnow the real from the apparent. Look inward for the kernel, the meaning and purpose of life.

Saat engkau diam/ hening; maka akan mendorong orang lain untuk diam/ hening. Jangan menjadikan kebiasaan yang tidak baik seperti berteriak, berbicara keras, atau berbicara terlalu lama. Kurangi kontak seminimal mungkin. Bawalah selalu suasana perenungan yang tenang, di manapun engkau berada. Ada beberapa orang yang terus-menerus hidup dalam angin taufan (tornado). Apakah mereka berada di sebuah pameran, pekan raya, hotel, temple atau bahkan di Prashanthi Nilayam; lidah mereka bergoyang-goyang tiada berhenti. Orang-orang seperti itu tidak akan maju menuju jalan Tuhan. Ada orang lain yang menikmati perselisihan dan argumen, mereka tidak pernah puas dengan fakta-fakta yang jelas, mereka harus menciptakan keraguan di mana tidak ada sebelumnya, dan menggoncang keyakinan. Mereka memperdebatkan apakah Rama lebih unggul dari Krishna, atau apakah Krishna adalah inkarnasi yang lebih sempurna! Pikiran-pikiran ini tidak berguna bagi para peminat spiritual. Pisahkanlah yang nyata dari yang tampak nyata atau benar, tetapi tidak selalu demikian. Carilah ke dalam inti, makna dan tujuan hidup.


Sunday, January 29, 2012

Thought for the Day - 29th January 2012 (Sunday)

What exactly do people mean when they say the Sun has risen or that it has set? It is so far as their vision is concerned; that is all, is it not? The Sun does not rise or set. The incarnation of God is also like that. In the Geetha, Krishna said: “I am not born, nor do I die. Men of ordinary intellect consider that I am born many times and that I do many deeds during each birth. Whenever there is a need for the uplift of the world, I become manifest, assuming a name and form, that is all. So I am conscious of all My appearances, all My manifestations. I am almighty, I am Sarvajna (all knowing). Not only I, even you know everything. But your Jnana (wisdom) is overwhelmed by ajnana (ignorance). I am Jnana itself. I remain as almighty and as Sarvajna as ever. I am birthless, immortal”. 

Apa yang sebenarnya orang-orang maksudkan ketika mereka mengatakan Matahari telah terbit atau Matahari telah tenggelam? Bukankah hal ini terkait dengan sejauhmana pandangan mereka? Matahari tidaklah terbit atau tenggelam. Inkarnasi Tuhan juga seperti itu. Dalam Geetha, Krishna berkata: "Aku tidak lahir, Aku juga tidak mengalami kematian. Orang-orang intelek menganggap bahwa Aku dilahirkan berkali-kali dan Aku melakukan banyak perbuatan di setiap kelahiran masing-masing. Kapanpun dunia memerlukan, Aku menjelma, dengan mengambil Nama dan Wujud. Jadi Aku sadar dengan semua kemunculan-Ku, semua perwujudan-Ku. Aku Mahakuasa, AKu Sarvajna (mengetahui semuanya). Bukan hanya Aku, bahkan engkau juga mengetahui segalanya. Tapi Jnanamu (kebijaksanaan) dikalahkan oleh ajnana (kebodohan). Aku adalah Jnana itu sendiri. Aku Mahakuasa dan Aku mengetahui segalanya. Aku abadi, tidak mengenal kelahiran ".


Saturday, January 28, 2012

Thought for the Day - 28th January 2012 (Saturday)

You are pure and indestructible; you are beyond the ups and downs of life; you are the true, the eternal, the unchanging Brahmam (Divine Self). A mere five-minute inquiry will convince you that you are not the body, the senses, the mind or the intelligence, the name or the form; but that you are the Aatma Itself - the same Aatma that appears as all this variety. Once you get a glimpse of this truth, hold on to it; do not allow it to slip. Make it your permanent possession. Look upon all with love, respect and faith in their sincerity. Treat your servants kindly. Do not entertain hatred or contempt in your heart. Repent for the errors that you commit and decide never to repeat them; pray for strength to carry out your resolutions. Do not find fault with others. Purify your heart by being good to all. 

Engkau murni dan tidak bisa dihancurkan, engkau berada jauh di luar pasang surut kehidupan, engkau adalah kebenaran, kekal, Brahman yang tidak berubah (Diri Ilahi). Sebuah penyelidikan hanya lima menit saja akan meyakinkanmu bahwa engkau bukanlah badan, indera, pikiran atau kecerdasan, nama atau bentuk, tetapi bahwa engkau adalah Atma - Atma yang sama yang muncul pada semua varietas ini. Setelah engkau mendapatkan pandangan sekilas tentang kebenaran ini, berpeganglah pada hal itu, jangan sampai tergelincir. Buatlah kepunyaanmu untuk selama-lamanya. Pandanglah semuanya dengan cinta-kasih, penuh hormat, dan keyakinan dalam ketulusan mereka. Perlakukan pembantumu dengan baik. Jangan ada kebencian atau merendahkan di dalam hatimu. Sesalilah kesalahan yang engkau perbuat dan pastikan engkau tidak akan mengulang kesalahan tersebut kembali, berdoalah agar engkau mendapatkan kekuatan untuk melaksanakan resolusimu tersebut. Janganlah mencari kesalahan pada  orang lain. Murnikanlah hatimu dengan melihat kebaikan pada semuanya.


Friday, January 27, 2012

Thought for the Day - 27th January 2012 (Friday)

If Arjuna was an individual like others, he could not have been an effective instrument, a recipient and transmitter of great teachings. He is a hero who has defeated not merely the outer foes, but even the inner ones. Weak hearts cannot grasp the Geetha and put it into practice. It is with this full knowledge that Krishna selected Arjuna and showered on him His overpowering grace. Once Krishna said: "Arjuna, you are My closest Bhaktha (devotee); you are also My dearest friend. That is the reason why I taught you this supreme, secret teaching." Reflect on this! To get the title from the Lord Himself is the highest credential and good fortune, which reflects how pure-hearted and deserving Arjuna was. Bhakthi (devotion) must be won by implicit obedience. But being a devotee alone is not sufficient. Hence Krishna uses the word mithra (friend). The friend has no fear; that makes him a more perfect recipient.

Jika Arjuna adalah individu biasa seperti yang lainnya, dia tidak akan bisa menjadi instrumen yang efektif, penerima dan transmitter/ pemancar ajaran-ajaran yang agung. Arjuna adalah seorang pahlawan yang telah mengalahkan bukan hanya musuh-musuh luar, tetapi bahkan yang ada dalam batin. Hati yang lemah tidak dapat memahami Geetha dan mempraktekkannya. Maka dengan penuh kepercayaan, Krishna telah memilih Arjuna dan mencurahkan rahmat-Nya. Suatu ketika Krishna berkata: "Arjuna, engkau adalah Bhaktha-ku yang terdekat, engkau juga teman kesayangan-Ku. Itulah alasannya mengapa Aku mengajarkan hal yang tertinggi ini, ajaran rahasia." Renungkanlah hal ini! Untuk mendapatkan hak dari Tuhan sendiri adalah merupakan kepercayaan tertinggi dan nasib baik, yang mencerminkan bagaimana hati yang murni dari Arjuna, sehingga layak mendapatkan berkat ini. Bhakthi (pengabdian) harus dimenangkan dengan ketaatan yang penuh. Tetapi hanya menjadi seorang Bhakta saja tidaklah cukup. Oleh karena itu Krishna menggunakan kata Mithra (teman). Teman tidak akan mengenal rasa takut; yang membuatnya menerima sepenuhnya.


Thursday, January 26, 2012

Thought for the Day - 26th January 2012 (Thursday)

Victory at the election ensures power only for a specific period. When that period ends, the politician has to contest once again and seek votes. So too, good acts done with attachment will ensure a place in Heaven, but when the deposit is spent out, one will have to return to Earth. A person visiting a city with some cash in hand is the master of all the bazaars, cinema halls, hotels and taxis, but only to the extent the money lasts. When the purse is rendered empty, one has to escape back into his village or city of origin, perhaps as a ticketless traveller, harassed by policemen at every halt! No, heaven is no solution for the hunger of the soul! The river must reach the sea, not the desert sands; the waters have to merge with water. That is the consummation named Kaivalya or Saayujya. Keep that goal of merging with the One Lord, ever in your focus and have your wavering mind continuously in leash.

Kemenangan yang didapat pada saat pemilihan umum memastikan kekuasaan hanya untuk periode tertentu. Ketika periode itu berakhir, politisi harus kontes sekali lagi dan mencari suara. Demikian juga, perbuatan baik dilakukan dengan keterikatan nntuk memastikan tempat di Surga, tetapi ketika deposit/ simpanan telah dihabiskan, seseorang harus kembali ke Bumi. Seseorang pergi ke kota dengan uang tunai di tangannya bisa leluasa bepergian dengan taksi mengunjungi semua pasar-pasar, bioskop, serta menginap di hotel, tetapi hanya sebatas uang yang dipegang. Ketika uang di dompet telah habis digunakan, orang tersebut harus kembali ke tempat asalnya (desa atau kota), boleh jadi tidak memiliki tiket, dan mendapatkan kesulitan serta bisa jadi diberhentikan polisi di setiap halte! Tidak, surga bukanlah solusi bagi kelaparan jiwa! Sungai harus mencapai laut, bukan padang pasir, air harus menyatu dengan air. Itulah penyempurnaan yang dinamakan Kaivalya atau Saayujya. Capailah tujuan dengan menyatu dengan Tuhan, engkau harus fokus dan ikatlah pikiranmu yang goyah pada tali.


Wednesday, January 25, 2012

Thought for the Day - 25th January 2012 (Wednesday)

From the reign of adharma (unrighteousness), the world has to enter the era of Dharma (righteousness). Special effort is called for when you cultivate a crop; no effort is necessary when weeds and wild grass are allowed to grow. The valuable crop of Sahajadharma (innate righteousness) has to be cultivated with all care and attention. When Dharma is practised, adharma will decline by itself. No special exertion is needed for its removal. Dharma, since it is associated with truth, is indestructible. To make the Dharma that has become hidden, visible once again, its practice must be intensified. That is Dharmasthaapana (establishing righteousness). Using Arjuna as an instrument, Lord Krishna brought to light the codes of conduct and modes of thought which were laid down from the very beginning and revived their practice. This is not work that can be carried out by ordinary men. So the universal Lord Himself assumed the task and instructed the world through Arjuna.

Sejak merajalela-nya adharma (ketidakbenaran), dunia telah memasuki era Dharma (kebenaran). Upaya-upaya khusus dilakukan ketika engkau mengolah tanaman, tidak ada upaya yang diperlukan agar gulma dan rumput liar dibiarkan tumbuh. Tanaman berharga Sahajadharma (kebenaran yang dibawa sejak lahir) harus dibudidayakan dengan penuh perawatan dan perhatian. Ketika Dharma dipraktekkan, adharma akan menurun dengan sendirinya. Tidak ada upaya khusus yang diperlukan untuk menghilangkannya. Dharma, karena hal ini terkait dengan kebenaran, tidak bisa dihancurkan. Untuk membuat Dharma yang telah tersembunyi, menjadi terlihat lagi, pelaksanaannya harus diintensifkan. Itulah Dharmasthaapana (membangun kebenaran). Menggunakan Arjuna sebagai instrumen, Krishna membawa kode-kode cahaya perilaku dan cara-cara berpikir yang telah ditetapkan dari awal dan kembali mempraktekkannya. Ini bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan oleh orang biasa. Jadi Tuhan yang universal sendiri memikul tugas ini dan memerintahkan dunia melalui Arjuna.


Tuesday, January 24, 2012

Thought for the Day - 24th January 2012 (Tuesday)

Persist in your Sadhana (spiritual discipline) till you reach the goal. Once the walls are completely built, the scaffolding is removed; so too, when the vision of Reality is attained, the various forms of Sadhana (like meditation, contemplation, worship, devotional singing, etc.) adopted by you can be dispensed with. Congenial company is most necessary for you to persist in your Sadhana. You will be shaped by the company you keep; you will be fouled by the foul thoughts of the people among whom you move. So be ever vigilant of the company you keep; the pure water that falls as rain from the sky is changed into a hundred tastes and colours by the soil on which it falls. Be alert! You must also look out for every chance to dwell on noble thoughts, do elevating tasks and curb the downward pull of the ego. 

Tetaplah melakukan Sadhana (disiplin spiritual) sampai engkau mencapai tujuan. Setelah dinding benar-benar dibangun, maka  scaffolding (struktur sementara di luar gedung yang terbuat dari papan kayu dan tiang logam) dapat dihilangkan, demikian juga, ketika visi Realitas dicapai, berbagai bentuk Sadhana (seperti meditasi, kontemplasi, ibadah, menyanyikan kemuliaan Tuhan/ Bhajan, dll) yang engkau pakai dapat dilepaskan (tidak dilakukan lagi). Pergaulan yang sesuai sangat engkau perlukan dalam melakukan sadhana. Engkau akan dibentuk oleh pergaulan yang dilakukan; engkau akan dipenuhi dengan pikiran buruk orang-orang yang bergerak didalamnya. Jadi tetaplah waspada dengan pergaulanmu; air murni yang jatuh sebagai hujan dari langit berubah menjadi seratus rasa dan warna sesuai dengan tanah dimana air tersebut terjatuh. Waspadalah! Engkau juga harus melihat keluar untuk setiap kesempatan untuk memikirkan pikiran-pikiran yang mulia, tingkatkanlah dalam melakukan kewajiban dan turunkanlah ego.


Monday, January 23, 2012

Thought for the Day - 23rd January 2012 (Monday)

A crocodile's strength depends on it being in water; the strength of Dharma (Right Conduct) depends on it being practised. Dharma will be weak when it is taken out of practice and thrown on the sands of words. Sathya is a matter of speech and it gets strength when it is consistently practised. The term ‘Strength’ here has two meanings: Animal (Asuric) strength and Dharmic strength. In the epic Mahabharatha, Bhima (the second of the five Pandava brothers) had physical strength, but as his elder brother Dharmaja was by his side, Bhima's strength became Dharmic. The Pandavas were saved by their adherence to Dharma! But for their right conduct, they would have suffered defeat right in the very beginning. And why did the Kauravas (the hundred brothers whom the Pandavas fought against) lose in spite of their undoubted strength? They lacked Dharmic strength. All that they could rely on was sheer animal strength. 

Kekuatan seekor buaya apabila buaya tersebut berada di dalam air, kekuatan Dharma (Tindakan yang Benar/ kebajikan) tergantung jika Dharma itu dipraktekkan. Dharma akan lemah jika tidak dipraktekkan lagi dan hanya dilempar dalam pasir kata-kata. Sathya berarti kata-kata dan itu akan memiliki kekuatan ketika dipraktekkan secara konsisten. Istilah 'Kekuatan' memiliki dua makna: kekuatan Hewan (Asuric) dan kekuatan Dharma. Dalam epik Mahabharatha, Bima (kedua dari lima bersaudara Pandawa) memiliki kekuatan fisik, tetapi sebagai kakaknya Dharmaja ada di sampingnya, kekuatan Bhima menjadi dharma. Pandawa diselamatkan oleh kepatuhan mereka terhadap Dharma! Tetapi untuk bertindak benar/ melakukan kebajikan, pada awalnya mereka menderita kekalahan. Dan mengapa para Korawa (seratus saudara yang berperang melawan Pandawa) kehilangan kekuatan meskipun kekuatan mereka tidak diragukan? Ini disebabkan karena mereka tidak memiliki kekuatan dharma. Mereka semua hanya mengandalkan kekuatan hewan belaka.


Sunday, January 22, 2012

Thought for the Day - 22nd January 2012 (Sunday)

The One God is the inner motivator (Sarvaantharyaami) of all beings. If He is within all, why is He not visible to all, you may ask. Let me give you an example. Picture a rosary of different types of beads: coral, pearl, tulasi, rudraaksha, crystal, conch, etc. The string passes through each rosary and holds all the beads together but it is visible only in the transparent beads. So too, you have to make yourself transparent, free from wish and will, that hide and befogs the Lord Within. Then you can see the Inner Motivator. To earn this transparency, purity of intention, impulse and instinct is essential. You can achieve it by systematic and sincere spiritual discipline. A ladder has to be as tall as the height you want to reach. So too, your spiritual practices (sadhana) has to be pursued till you experience Him.

Satu Tuhan adalah motivator batin (Sarvaantharyaami) dari semua makhluk. Engkau mungkin bertanya, jika Beliau ada dalam semuanya, mengapa Beliau tidak terlihat oleh semuanya. Aku akan  memberi contoh. Bayangkanlah sebuah tasbih dari berbagai jenis manik-manik: karang, mutiara, tulasi, rudraaksha, kristal, kerang, dll. Tali/ benang yang melewati setiap tasbih dan memegang semua manik-manik bersama-sama tetapi yang terlihat hanyalah manik-manik transparan. Demikian juga, engkau harus membuat dirimu transparan, bebas dari keinginan dan harapan, yang menyembunyikan dan mengabuti Tuhan yang bersemayam dalam dirimu. Setelah itu, engkau dapat melihat Motivator batin. Untuk mendapatkan transparansi ini, kemurnian, impuls/ dorongan dan insting/ naluri sangat penting. Engkau dapat mencapai hal itu dengan disiplin spiritual yang sistematis dan dengan ketulusan. Sebuah tangga harus setinggi tinggi yang ingin engkau jangkau. Demikian juga, praktek-praktek spiritualmu (sadhana) harus dikejar sampai engkau benar-benar mengalami keberadaan-Nya.


Saturday, January 21, 2012

Thought for the Day - 21st January 2012 (Saturday)

Right Conduct (Dharma) is the quality which makes a human out of an animal. This Sahajadharma (natural conduct) of human beings has been overpowered in course of time; those who supported and encouraged it, and derived joy from it have declined in numbers. This is akin to the weed overpowering the crop. So the 'establishment of Dharma' is a matter of weeding of the field! In this iron age (Kaliyuga), Dharma has been reduced to mere words. Dharma is not manipulation of words. "Sathyam Vada, Dharmam Chara" (Speak Truth and Practice Righteousness) - has been the clarion call of the Upanishads, the repositories of Indian culture. However in the present times, "Dharmam vada," (Speak about Right Conduct) has become the order of the day! That is the first step in the decline of Dharma! Know that that which is not practised cannot possess strength. Understand this truth and practise Dharma in your lives.

Melakukan Tindakan yang benar (Dharma) adalah kualitas yang membuat manusia tidak menjadi binatang. Sahajadharma (perilaku alami) manusia ini telah mengalahkan perjalanan waktu; mereka yang didukung dan didorong, dan diperoleh sukacita yang berasal dari hal tersebut telah mengalami penurunan jumlah. Hal ini mirip dengan gulma yang mengalahkan tanaman induk. Maka 'pembentukan Dharma' dapat diibaratkan dengan penyiangan ladang/ sawah (menyiangi ladang/ sawah dari gulma/ tanaman pengganggu)! Dalam zaman besi (Kaliyuga), Dharma telah mengalami penurunan dengan kata-kata belaka. Dharma bukanlah manipulasi kata-kata. "Satyam Vada, Dharmam Chara" (ucapkanlah Kebenaran dan lakukanlah Kebajikan) - telah disampaikan dalam Upanishad, wadah kebudayaan India. Namun di masa sekarang, "Dharmam vada," (mengucapkan kebenaran) telah menjadi pesanan! Itulah langkah pertama penurunan Dharma! Ketahuilah bahwa apa yang tidak dilakukan tidak bisa memiliki kekuatan. Pahamilah kebenaran ini dan praktekkanlah Dharma dalam kehidupanmu.


Friday, January 20, 2012

Thought for the Day - 20th January 2012 (Friday)

You should cultivate an attitude of inseparable attachment to the Lord, Who is your very Self. If He be a flower, consider yourself a bee that savours its honey; if He is a tree, be a creeper that clings to it; if a cliff, then feel that you are a cascade running over it; if He is the sky, be a tiny star that twinkles in it. Above all, be conscious of the truth that you and He are bound by Supreme Love. If you feel this acutely, with subtle intelligence, then the journey will be quick and the goal can be achieved. There is a difference between subtle and gross intelligence. Sthula buddhi (external knowledge or gross intelligence) keeps you walking, but the subtle intelligence will make you fly to your destination. The gross is too much tied to body consciousness where as the subtle transcends the body and will lighten your burden. 

Engkau hendaknya mengembangkan sikap keterikatan yang tak terpisahkan pada Tuhan, Siapa Dirimu sesungguhnya. Jika Dia menjadi bunga, anggaplah dirimu sebagai lebah yang menikmati madu bunga tersebut, jika Dia sebagai pohon, menjadilah tanaman merambat yang menempel pada pohon tersebut, jika Dia sebagai tebing, rasakanlah engkau sebagai air terjun yang mengalir di atasnya, jika Dia adalah langit, jadilah bintang kecil yang berkerlap-kerlip di langit tersebut. Di atas segalanya, sadarilah akan kebenaran bahwa engkau dan Dia terikat dengan Cinta-Kasih yang Agung. Jika engkau benar-benar merasakan hal ini, dengan batinmu, maka perjalananmu akan lebih cepat dan tujuanmu dapat tercapai. Ada perbedaan antara kecerdasan batin dengan kecerdasan luar. Sthula buddhi (pengetahuan eksternal atau kecerdasan luar) membuat engkau berjalan, tetapi kecerdasan batin akan membuat engkau terbang menuju tujuanmu. Kecerdasan luar terlalu banyak terkait dengan kesadaran badan sedangkan kecerdasan batin melampaui badan dan akan meringankan bebanmu.


Thursday, January 19, 2012

Thought for the Day - 19th January 2012 (Thursday)

Take the five elements, the components of this Prapancha (Universe). Of these, water has movement and coldness as its Dharma; combustion and light are the Dharma of fire. Each of the five elements have their unique Dharma. Humanity for man and animality for animals - these guard them from decline. How can fire be fire, if it has no power of combustion and light? It must manifest the Dharma to be itself. When it loses that, it becomes as lifeless as a piece of charcoal. Similarly man too has some natural characteristics that are his very life-breath; one can be identified as 'human' only when these abilities are present. To preserve and foster such qualities and abilities, certain modes of behaviour and lines of thought are laid down. This is called Dharma. These qualities are not imported from somewhere outside, nor can it be removed. It is your own genuine nature, your uniqueness. 

Gunakanlah lima elemen, komponen dari Prapancha (Alam semesta) ini. Dari jumlah tersebut, air memiliki gerakan dan dingin adalah Dharmanya, pembakaran dan cahaya adalah Dharma dari api. Masing-masing dari lima elemen memiliki Dharma mereka masing-masing yang unik. Perikemanusiaan adalah Dharma bagi manusia dan ke-hewani-an adalah Dharma bagi hewan – Dharma ini menjaga mereka dari kemerosotan. Bagaimana api bisa disebut sebagai api, jika tidak memiliki kekuatan pembakaran dan cahaya? Masing-masing harus menunjukkan Dharmanya sendiri. Ketika kehilangan hal tersebut, api akan mati menjadi sepotong arang. Demikian pula manusia juga memiliki beberapa karakteristik alami yang merupakan nafas kehidupannya, seseorang dapat diidentifikasi sebagai 'manusia' hanya ketika memiliki kemampuan ini. Untuk menjaga dan mengembangkan kualitas dan kemampuan seperti tersebut, ditetapkan cara-cara berperilaku tertentu dan garis-garis pemikiran yang tepat. Inilah yang disebut Dharma. Kualitas ini tidak diimpor dari suatu tempat yang berada di luar dirimu, juga tidak dapat dihilangkan. Ini adalah sifat asli dirimu sendiri, keunikanmu sendiri.


Wednesday, January 18, 2012

Thought for the Day - 18th January 2012 (Wednesday)

All the fear, anxiety, cruelty and injustice that is injuring the world today is caused by the wrong type of material education. Even those who promise to cure the disease of the body, treat it as if its different parts are fit subjects for a separate study and treatment. All nature is the body of God and must be looked upon as One. Spiritual education draws attention to the unity behind all the apparent multiplicity. To celebrate an occasion or a festival, you may have dusted and cleaned your houses and their surroundings, painted and whitewashed the walls, drawn auspicious designs on the floor or put floral wreaths over your doors - all this is simply outer decoration. To be truly happy, you must decide to remove the evils of egoism, greed, hatred and jealousy within you. Then you will truly become aware of the light within you, and the Atma (Supreme Soul) will dawn on you in all its glory. 

Semua rasa takut, kecemasan, kekejaman, dan ketidakadilan yang melanda dunia saat ini disebabkan oleh jenis materi pendidikan yang salah. Bahkan mereka yang berjanji untuk menyembuhkan penyakit pada badan, memperlakukannya sebagai bagian yang berbeda yang merupakan subjek yang terpisah antara studi dan pengobatan. Semua alam ini adalah badan Tuhan dan harus dipandang sebagai Satu. Pendidikan spiritual menarik kesatuan di balik semua keberagaman. Untuk merayakan suatu kejadian atau festival, engkau mungkin membersihkan debu dan membersihkan rumah serta lingkungan sekitar, dinding dicat putih, membuat desain yang menarik di lantai, atau meletakkan rangkaian bunga di atas pintu rumahmu - semua ini hanyalah dekorasi luar. Agar menjadi benar-benar bahagia, engkau harus memutuskan untuk menghapus sifat-sifat buruk seperti egoisme, kebencian, keserakahan, dan iri hati dalam dirimu. Setelah itu, engkau akan benar-benar menyadari cahaya dalam dirimu, dan Atma (Jiwa Agung) akan terlihat nyata dalam dirimu dalam segala kemuliaan.


Tuesday, January 17, 2012

Thought for the Day - 17th January 2012 (Tuesday)

God created this Universe on His own initiative and ordained various codes for its upkeep and smooth running. There were rules of correct conduct for every individual and groups of people. These form the tenets of Dharma (Righteous Conduct). The word Dharma is derived from the root, Dhr, meaning 'wear'. Dharma means that which is worn or practiced. It is the holy apparel (Pithambara) of the Lord. Dharma guards both honour and dignity; protects and gives beauty and joy, lending charm to life. As clothes maintain the dignity of the person who wears them, Dharma protects the dignity of every country and its people. Every single country in the world, has its own special Dharma or unique duty. Every country (desha) is a part of the body (Deha) of the Lord, and is protected by the Dharma that is practised.

Tuhan menciptakan alam semesta ini atas inisiatif-Nya dan diciptakan berbagai macam kode untuk pemeliharaannya dan agar berjalan dengan baik. Telah pula ditetapkan aturan perilaku yang benar untuk setiap individu dan untuk sekelompok orang. Hal ini diwujudkan dengan prinsip-prinsip Dharma (Perilaku yang Benar/ Kebajikan). Kata Dharma berasal dari akar kata, Dhr, yang berarti 'pakai'. Dharma berarti bahwa yang dipakai atau yang dipraktekkan. Inilah pakaian suci (Pithambara) dari Tuhan. Dharma menjaga kehormatan dan martabat; melindungi dan memberikan keindahan dan kebahagiaan, serta memberikan keindahan dalam hidup. Seperti pakaian yang dapat melindungi martabat orang yang mengenakannya, Dharma melindungi martabat setiap negara dan rakyatnya. Setiap negara di dunia, memiliki kewajiban/ Dharmanya masing-masing atau memiliki kewajiban yang unik/ khusus. Setiap negara (desha) adalah bagian dari badan (Deha) Tuhan, dan dilindungi oleh Dharma yang dipraktekkan.


Monday, January 16, 2012

Thought for the Day - 16th January 2012 (Monday)

Human birth is granted to a living being as the crown of one’s achievement during many lives. Know that this life is very unsteady; death is always stalking and nobody knows when it will snatch one away. Do not delay in choosing the right goal of life and deciding on the best means of achieving it. Turn away from the outer world and its attractions, to the inner realm of consciousness. This inward journey will be rewarded well with the precious treasure of ecstasy. The sea scatters on the shore only shells and foam. But if one dares to dive into the depths they will be rewarded with coral and pearls. This should be your real mission. If you miss this, you live and die as an animal that has no knowledge of its inner springs of joy. If you discover the inner spring of joy, you will be Aathmaa Raama - happy, content, peaceful and loving. 

Kelahiran sebagai manusia diberikan kepada makhluk hidup sebagai berkat yang dicapai seseorang selama beberapa kali kelahiran. Ketahuilah bahwa hidup ini begitu tidak tentu, kematian selalu mengintai dan tidak ada yang mengetahui kapan kematian akan merenggut seseorang. Janganlah menunda dalam memilih tujuan hidup yang benar dan memutuskan cara terbaik untuk mencapainya. Berbaliklah dari dunia luar dan daya tarik duniawi, menuju alam kesadaran batin. Perjalanan batin ini akan diberkati dengan baik dengan kebahagiaan yang luar biasa. Air laut tercerai-berai menjadi busa. Tetapi jika seseorang berani untuk menyelam ke kedalaman laut, mereka akan dihadihi dengan karang dan mutiara. Ini hendaknya menjadi misimu yang sesungguhnya. Jika engkau melewatkan hal ini, dapat diibaratkan engkau hidup dan mati sebagai hewan yang tidak memiliki pengetahuan tentang sumber kebahagiaan sejati. Jika engkau menemukan sumber kebahagiaan sejati, engkau akan menjadi Aathmaa Raama - bahagia, puas, damai, dan penuh kasih.


Sunday, January 15, 2012

Thought for the Day - 15th January 2012 (Sunday)

Think about this: when you are well, no one inquires about your health. But if you are struck with illness or sorrow, you are bombarded with anxious queries. Why this anxiety? Because man’s fundamental nature is to be happy and healthy. Your nature is joy. So when you are happy and healthy, no one is surprised or worried. Grief and sorrow are unnatural, and are the result of a delusion that has overwhelmed one’s nature. If you do a task as an assumed duty, you will find it difficult to put up with the troubles and travails that may come along with it. The task will also induce conceit, or the feeling 'I am the doer’, resulting in exhaustion or elation, disgust or pride. On the other hand when karma (action) is performed as your nature you can have fortitude. 

Renungkanlah hal ini: ketika engkau sehat, tidak ada seorangpun yang menanyakan kesehatanmu. Tetapi jika engkau tertimpa suatu penyakit atau mengalami penderitaan, engkau dihujani dengan berbagai pertanyaan yang mengkhawatirkan. Mengapa ada kekhawatiran seperti ini? Karena sifat dasar manusia adalah untuk menjadi bahagia dan sehat. Sifat sejatimu adalah sukacita. Jadi, ketika engkau bahagia dan sehat, tidak ada yang terkejut atau khawatir. Penderitaan dan kesedihan bukanlah sifat alami manusia, dan merupakan hasil dari khayalannya. Jika engkau melakukan pekerjaan sesuai dengan yang dibebankan padamu, engkau akan menyelesaikan masalah dan menerima dengan tanpa mengeluh kesulitan dan masalah yang dihadapi sepanjang melakukan pekerjaan tersebut. Suatu pekerjaan juga akan menyebabkan kesombongan, atau perasaan 'Aku adalah pelaku', sehingga akan ada kelelahan atau kegembiraan, kebencian atau kebanggaan. Di sisi lain ketika karma (tindakan) yang dilakukan dianggap sebagai sifat sejatimu, engkau akan memiliki ketabahan.


Saturday, January 14, 2012

Thought for the Day - 14th January 2012 (Saturday)

Consider the service the Sun (Surya) does to this world! This is within the daily experience of all. The Sun is the source of all life forms on this planet. Without His rays, the earth will be a desolate waste. He draws up into the sky the waters of seas and lakes, and from the clouds showers rain on the crops. He is the Dharmadevatha (God of righteousness), scattering His rays equally on all. The service He does and the happiness He contributes is something no one else can. Despite doing this for millions of years, without any pride, He moves about unattached to the consequences of His energising mission of service. The Sun is thus teaching us that when one is oneself, there will be no exhaustion or elation, disgust or pride. That is, the task of Surya is not something imposed from outside and taken up under compulsion. That is why it is performed systematically, and smoothly. 

Pikirkanlah pelayanan Matahari (Surya) tidak hanya untuk dunia ini! Inilah pengalaman yang kita alami sehari-hari. Matahari adalah sumber dari semua bentuk kehidupan di planet ini. Tanpa sinar-Nya, bumi akan menjadi muram. Matahari membawa air laut dan danau ke langit, air laut tersebut membentuk awan, dan dari awan menjadi hujan yang bisa menyirami tanaman sehingga bisa menghasilkan panen. Dia adalah Dharmadevatha (Dewa kebenaran), sebaran sinar-Nya menyinari semuanya. Pelayanan dan kebahagiaan yang diberikan oleh Matahari, tidak bisa seorangpun yang bisa melakukannya. Meskipun melakukan hal ini selama jutaan tahun, tanpa penghargaan, Dia bergerak karena terikat untuk bergerak karena konsekuensi dari misi pelayanan energi-Nya. Demikianlah Matahari, mengajarkan pada kita bahwa ketika melakukan pelayanan, tidak merasa lelah atau gembira, serta tidak ada kebencian atau kebanggaan. Artinya, tugas Surya adalah bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar dan bukan pula dilakukan di bawah paksaan. Itulah mengapa hal tersebut dilakukan secara sistematis, dan lancar.


Friday, January 13, 2012

Thought for the Day - 13th January 2012 (Friday)

The more riches you accumulate the more bound you become and get into more worry, anxiety and fear. There can be no peace of mind for a person burdened by riches. People ignorantly seek this restlessness (ashaanthi) as they do not know where to acquire true peace (Shanthi). An educated person must have the virtue of Shanthi as the first qualification. This implies, not being affected by praise or blame, failure or success. It is the ego that makes one feel glad or sad. Therefore control the ego by extending love to every living being. Ego is lovelessness. A person afflicted with ego cannot rejoice when others are happy, and feel pained when others are miserable. Only a selfless and egoless person can share the happiness of others and take positive steps to alleviate others’ misery. God will ever be on the side of selfless persons and there is nothing that they cannot achieve.

Semakin banyak engkau mengumpulkan kekayaan, maka engkau  akan menjadi lebih terikat, engkau merasakan kecemasan, khawatir, dan ketakutan. Tidak ada kedamaian pikiran bagi seseorang yang terbebani oleh kekayaan. Orang-orang yang bodoh mencari kegelisahan ini (ashaanthi) karena mereka tidak mengetahui di mana mereka mendapatkan kedamaian sejati (Shanthi). Seorang terpelajar harus memiliki Shanthi sebagai kualifikasi yang pertama. Hal ini berarti, tidak terpengaruh oleh pujian atau cemoohan, kegagalan atau kesuksesan. Ini adalah ego yang membuat orang merasa senang atau sedih. Oleh karena itu kendalikanlah ego dengan memperluas cinta-kasih bagi setiap makhluk hidup. Ego tidak mengenal cinta-kasih. Seseorang dengan ego tidak bisa bersukacita ketika orang lain bahagia, dan tidak akan merasakan kesedihan ketika orang lain menderita. Hanya orang yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki ego dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain dan mengambil langkah positif untuk meringankan penderitaan orang lain. Tuhan sesungguhnya berada di sisi orang yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak ada yang mereka tidak bisa capai.


Thursday, January 12, 2012

Thought for the Day - 12th January 2012 (Thursday)

The whole world is intimately associated with the Sun God. He is the visible manifestation of the Lord. In India, Sun God (Surya) is considered highly sacred and granted the unique status of a great Guru. Sun is also the source of time. The Sun limits and regulates the number of years each one lives. He performs His duty without thought of reward, and is humble and steady. Imagine the patience with which the Sun puts up with all that extreme heat, and gives sufficient warmth to the human body, every single day. Human beings are so full of activity and intelligence on account of the solar energy that is imbibed. If the Sun is idle even for a moment, the whole world will go cold and dark. The actions of the great is the ideal that the rest have to keep in view. This also shows that all in the world are bound by the obligation of karma (activity).

Seluruh dunia sangat erat berhubungan dengan Dewa Matahari. Ia adalah manifestasi nyata dari Tuhan. Di India, Dewa Matahari (Surya) dianggap sangat sakral dan diberikan status yang unik sebagai seorang Guru besar. Matahari juga merupakan sumber waktu. Matahari membatasi dan mengatur jumlah usia masing-masing kehidupan. Ia melakukan tugas-Nya tanpa memikirkan imbalan, rendah hati, dan melakukan tugasnya secara terus-menerus. Bayangkan Matahari dengan penuh kesabaran memberikan panasnya yang luar biasa pada semuanya, dan memberikan kehangatan yang cukup bagi badan  manusia, setiap hari. Manusia begitu penuh aktivitas dan dengan kecerdasan yang dimilikinya bisa menyimpan energi surya yang di serap. Jika matahari bermalas-malasan (tidak melaksanakan tugasnya), bahkan untuk sesaat, seluruh dunia akan terasa dingin dan gelap. Tindakan yang mulia tersebut adalah suatu teladan, dan hal ini juga menunjukkan bahwa semua di dunia terikat oleh kewajiban karma (aktivitas).

Wednesday, January 11, 2012

Thought for the Day - 11th January 2012 (Wednesday)

Although the food and habits may be different among nations, the spirit of harmony and unity displayed in sports is a gratifying example to all. It is a distinctive quality of sports that differences are forgotten and persons engage themselves in games in a divine spirit of friendliness and camaraderie. Sports help the players not only to improve their health but also to experience joy. However, one should not be content with realising these benefits alone. Mankind has another body besides the physical. It is the subtle body, otherwise known as the mind. It is equally essential to promote purity of the mind and develop large heartedness. True humanness blossoms only when the body, the mind and the spirit are developed harmoniously. The enthusiasm and effort which you display in sports should also be manifested in the spheres of morality and spirituality.

Meskipun makanan dan kebiasaan mungkin berbeda antara bangsa-bangsa, semangat harmoni/ kerukunan dan kesatuan ditampilkan dalam olahraga adalah contoh yang menyenangkan untuk semuanya. Inilah sifat khas dari olahraga dimana perbedaan dilupakan dan orang-orang yang melibatkan diri dalam permainan dalam semangat ilahi dengan keramahan dan persahabatan. Olahraga membantu para pemain tidak hanya untuk meningkatkan kesehatan mereka tetapi juga untuk mengalami sukacita. Akan tetapi, seseorang tidak boleh puas dengan menyadari manfaat ini sendirian. Manusia memiliki badan lain selain badan fisik. Ini adalah badan halus, atau dikenal sebagai pikiran (mind). Adalah sama pentingnya untuk meningkatkan kemurnian pikiran dan mengembangkan kebesaran hati. Kemanusiaan sejati akan berkembang hanya ketika badan, pikiran, dan jiwa dikembangkan secara harmonis. Antusiasme dan usaha yang menampilkan olahraga juga harus diwujudkan dalam lingkup moralitas dan spiritualitas.

Tuesday, January 10, 2012

Thought for the Day - 10th January 2012 (Tuesday)

The impressions of the senses, mind, and intelligence have nothing to do with the Atma (Divine Self), which you really are. The Atma is unaffected by any subject or object or pleasures. To know the Atma as such an entity, unaffected and unattached, is the secret of Jnana (Wisdom). This awareness will guide you in both the outward (Pravritti marga) and inward (Nivritti marga) paths. This knowledge will not block action but will fill it with purpose and meaning. It will build up faith, inspire a moral life and take man to the realm of deliverance along the road of Nishkama Karma, action that is not prompted by desires. For the achievement of liberation, Jnana is the direct road. Therefore, it is incomparably sacred. And naturally, it follows that ignorance is undoubtedly the most despicable. "See the Universal in the particular; see the particular in the Universal - that is the essence of Jnana," declared Krishna in the Geeta.

Pengaruh dari indera, pikiran, dan kecerdasan tidak ada hubungannya dengan Atma, yang sesungguhnya adalah engkau. Atma tidak terpengaruh oleh subjek atau objek atau kesenangan. Untuk mengetahui Atma sebagai suatu kesatuan (entitas), tidak terpengaruh dan tidak terikat, adalah rahasia Jnana (Kebijaksanaan). Kesadaran ini akan menuntun-mu pada kedua jalan yaitu jalan eksternal (Pravritti marga) dan jalan internal (Nivritti marga). Pengetahuan ini tidak akan menghalangi tindakan tetapi akan mengisinya sesuai dengan kegunaan dan maknanya. Hal ini akan membangun keyakinan, menginspirasi kehidupan moral, dan membawa seseorang ke alam pembebasan sepanjang jalan Nishkama Karma, tindakan tanpa ada keinginan untuk mendapatkan hasil. Jnana adalah jalan langsung untuk mencapai pembebasan. Oleh karena itu, jalan ini adalah jalan suci yang tiada bandingannya. Dan tentu saja, maka tidak diragukan lagi bahwa ketidaktahuan/ kebodohan adalah yang paling hina. "Lihatlah yang Universal pada yang partikular; lihatlah yang partikular dalam Universal - inilah inti dari Jnana," demikian sabda Sri Krishna dalam Geeta.