Wednesday, March 31, 2010

Thought for the Day - 31st March 2010 (Wednesday)


Education is now sought after for securing a means of livelihood. The attempt of many parents and their children is to learn some skills which will fetch them a good job in a business establishment for a decent salary. Of course, man must live and live comfortably. So, it is necessary that some useful skill is mastered. But, man needs things much more satisfying, much more essential than comfort. He must have faith in himself, so that he may respect himself. This Atma Vishwasa (confidence in the Self) lies at the very root of joy.

Pendidikan saat ini dicari untuk mendapatkan mata pencaharian. Usaha dari banyak orang tua dan anak-anaknya adalah untuk mempelajari beberapa keterampilan yang akan digunakan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik pada sebuah perusahaan dengan gaji yang layak. Tentu saja, manusia harus hidup serta hidup dengan nyaman. Jadi, perlu dikuasai beberapa keterampilan yang berguna. Tetapi manusia membutuhkan sesuatu yang jauh lebih memuaskan, jauh lebih penting dari sekedar kenyamanan. Manusia harus memiliki keyakinan dalam dirinya, sehingga ia dapat menghargai dirinya sendiri. Atma Vishwasa (keyakinan dalam diri) ini ada pada kebahagiaan yang paling dalam.

-BABA

Tuesday, March 30, 2010

Thought for the Day - 30th March 2010 (Tuesday)


The expression “God is no where" can remain unchanged; there is no need to confront or contradict that expression. The only thing necessary is to read the letter "w" in "where", in conjunction with the previous word "no", so that it becomes, "God is now here!" The negative suddenly becomes positive! Similarly, by merely unifying your vision towards God, the distinctions and differences you see in the world disappear and the many becomes one. Great devotees from all the religions have realized this truth by their unwavering faith won through the purification of the mind.

Ungkapan “Tuhan tidak dimana-mana” bisa tetap, tidak mengalami perubahan, tidak perlu menentang atau membantah ungkapan tersebut. Satu-satunya hal yang diperlukan adalah dengan membaca huruf “w” pada “where”, dalam rangkaian dengan kata sebelumnya "no”, sehingga menjadi, “God is now here!” (Tuhan ada disini). Tiba-tiba yang negatif menjadi positif! Demikian pula, hanya dengan menyatukan pandanganmu menuju Tuhan, perbedaan dan pertentangan yang engkau lihat di dunia ini lenyap dan semuanya menjadi satu. Bhakta agung dari semua agama telah menyadari kebenaran ini dengan keyakinan yang mantap mereka menang melalui pemurnian pikiran.

-BABA

Monday, March 29, 2010

Thought for the Day - 29th March 2010 (Monday)


Look at the blossoms in the garden. When the gardener plucks the flowers, the buds exult that tomorrow is their turn to be gathered into his hands, and their faces are so full of joy when they unfold in that hope. Do they feel any sadness? Do their faces droop? Are they any less bright? No. The moment they know that the next day it is their turn, they make themselves ready with great gusto and excitement. So also, one must be ready on the path of Sadhana (spiritual practice), enthusiastically remembering the Name of the Lord, without worrying and feeling sad about when we may have to depart from the earthly plane.

Lihatlah bunga-bunga di taman. Ketika tukang kebun memetik bunga-bunga tersebut, tunas-tunas bermekaran bahwa besok adalah giliran mereka untuk dipetik, dan rupa bunga-bunga itu penuh dengan kegembiraan ketika mengungkapkan harapan tersebut. Apakah mereka merasakan kesedihan? Apakah mereka menjadi layu? Apakah mereka kurang bercahaya? Tidak. Saat mereka mengetahui bahwa hari berikutnya adalah giliran mereka, mereka membuat diri mereka siap dengan penuh semangat dan kegembiraan. Begitu juga, seseorang harus siap di jalan Sadhana (praktek spiritual), dengan penuh semangat mengingat Nama Tuhan, tanpa perlu khawatir dan merasa sedih ketika kita mungkin harus meninggalkan pesawat duniawi ini.

-BABA

Sunday, March 28, 2010

Thought for the Day - 28th March 2010 (Sunday)


The Vedas lay down four goals before man: Dharma (righteousness), Artha (wealth), Kama (desire) and Moksha (liberation). But they have to be pursued in pairs, Dharma and Artha together and Kama and Moksha together. That is to say, Artha has to be earned through Dharma, and Kama has to be for Moksha. But man takes these four separately and ends up losing everything. He puts them into separate compartments and adopts distinct plans to achieve them. He gives up Dharma and Moksha as beyond him and wastes his life pursuing only Artha and Kama. This leads him to ruin.

Veda meletakkan empat tujuan pada manusia: Dharma (kebajikan), Artha (kekayaan), Kama (keinginan), dan Moksha (pembebasan). Tetapi hal tersebut harus dilaksanakan dengan berpasangan, Dharma dan Artha bersama-sama serta Kama dan Moksha bersama-sama. Artinya, Artha harus didapatkan melalui Dharma, Kama harus untuk mencapai Moksha. Tetapi manusia menggunakan keempatnya secara terpisah dan akhirnya kehilangan segalanya. Manusia menempatkan ini dalam bagian-bagian yang terpisah dan mengambil rencana-rencana yang berbeda untuk mencapainya. Dia menempatkan Dharma dan Moksha di luar dirinya dan menyia-nyiakan hidupnya hanya pada pengejaran Artha dan Kama. Hal ini akan mengarah pada kehancuran.

-BABA

Saturday, March 27, 2010

Thought for the Day - 27th March 2010 (Saturday)


Desires breed wishes. Wishes cause birth and also death. If you are devoid of desires, you need not go through birth and death. The next birth is the result of unfulfilled desires in this life and is determined by them. However, the desire to know God, to love God and be loved by God is a desire that does not bind. When awareness of God dawns in all its splendor, every worldly, sensual desire is reduced to ashes. The individual Self will then turn towards Universal Self and delight itself in supreme everlasting peace.

Keinginan-keinginan terus menerus berkembang. Keinginanlah yang menyebabkan kelahiran dan juga menyebabkan kematian. Jika engkau tidak memiliki keinginan, engkau tidak perlu lagi melewati kelahiran dan kematian. Kelahiran berikutnya adalah hasil dari keinginan yang tidak terpenuhi selama kehidupan ini. Tetapi keinginan untuk mengetahui Tuhan, mencintai Tuhan, dan dicintai oleh Tuhan adalah keinginan yang tidak mengikat. Ketika kesadaran akan Tuhan muncul dalam segala kemuliannya, setiap keinginan duniawi, serta kesenangan duniawi, dilebur menjadi abu. Pribadi yang individual akan menuju Pribadi Universal dan mencapai pencerahan menuju kedamaian abadi yang tertinggi.

-BABA

Friday, March 26, 2010

Thought for the Day - 26th March 2010 (Friday)


For achieving the success in any task, Sadbhava or righteousness is very important. Without fear of sin, righteousness cannot originate and love for God too will not develop. From this fear of sin arises devotion which leads to worshipping the Lord. Your body is a caravan serai, your mind its watchman and soul is the pilgrim. For a hassle-free journey to eternity, there is nothing as reliable as remembering the Name of the Lord. Once the sweetness of the Name has been experienced, you will not have any exhaustion, unrest or sloth. You will complete your pilgrimage joyfully, enthusiastically and with deep conviction.


Untuk mencapai keberhasilan dalam setiap pekerjaan, Sadbhava atau kebajikan adalah yang sangat penting. Tanpa takut akan berbuat dosa, kebajikan tidak dapat diwujudkan dan cinta-kasih pada Tuhan juga tidak akan berkembang. Dari rasa takut akan dosa ini, maka muncullah bhakti yang menuntun kita untuk memuja Tuhan. Tubuhmu diibaratkan sebuah mobil karavan yang berkelana dari tempat yang satu ke tempat yang lain, pikiranmu adalah penjaganya dan jiwamu adalah sang peziarahnya. Untuk perjalanan menuju keabadian, tidak ada yang dapat diandalkan selain mengingat Nama Tuhan. Begitu manisnya Nama Tuhan telah dialami, engkau tidak akan mengalami kelelahan, ketidaknyamanan, atau kemalasan. Engkau akan menyelesaikan perjalanan dengan gembira, penuh semangat, dan dengan keyakinan yang mendalam.

-BABA

Wednesday, March 24, 2010

Thought for the Day - 25th March 2010 (Thursday)


Wealth acquired through the grace of Mother Veda is the most potent wisdom in itself. For this reason, the ancient seers prayed to God thus, "Dear Lord, you are the very embodiment of Veda. Burden me not with worldly riches, but grant me the wisdom that is the source of Paramaishwarya (highest treasure). I shall be fully content with that wealth and since it is capable of being utilized for your service, you too will be glad when I have it!"

Kekayaan yang di peroleh melalui anugerah Ibu Veda adalah kebijaksanaan yang paling tinggi. Untuk alasan ini, para pencari spiritual jaman dulu berdoa pada Tuhan,”Ya Tuhan, Engkau sesungguhnya adalah perwujudan Veda. Perhatianku bukanlah pada kekayaan duniawi, tetapi berilah aku kebijaksanaan yang merupakan sumber Paramaishwarya (kekayaan tertinggi). Aku akan mengisi sepenuhnya dengan kekayaan tersebut dan karenanya dapat dimanfaatkan untuk melayani Engkau, Engkau juga akan senang ketika aku memilikinya.”

-BABA

Tuesday, March 23, 2010

Thought for the Day - 24th March 2010 (Wednesday)


You should make right use of the eyes, ears and tongue, which God has gifted to you. Whoever is able to control these will achieve greatness. One should therefore cultivate these virtues and attain divinity. This is the primary objective and fundamental basis of all education. Those bereft of these virtues are verily demons. This is the essence and the message of Ramayana. Never neglect these teachings. They are for emancipation and redemption of mankind. Put them into practice in your life.


Engkau seharusnya menggunakan mata, telinga, dan lidah dengan baik, yang telah dianugerahkan Tuhan kepadamu. Siapapun yang mampu mengendalikan inderanya akan mencapai keagungan. Oleh karena itu seseorang seharusnya memupuk kebajikan dan mencapai Ketuhanan. Ini adalah tujuan utama dan dasar dari semua pendidikan. Mereka yang kehilangan kebajikan ini sesungguhnya adalah setan. Ini adalah intisari dan pesan dari kitab Ramayana. Jangan pernah mengabaikan ajaran-ajaran ini. Ajaran ini adalah untuk membebaskan dan menyelamatkan umat manusia. Praktekkanlah dalam hidupmu.

-BABA

Monday, March 22, 2010

Thought for the Day - 23rd March 2010 (Tuesday)


What is the use in planning a well when the house has caught fire? When will it be dug? When will water become available and when will the fire be extinguished? Isn't it an impossible task? If at the very start, a well was dug, how helpful it would be during critical situations? Beginning to contemplate on God during one’s last moments is like beginning to dig the well after the house has caught fire. No one knows what is in store the next moment. Therefore, from now on, engage in contemplation of God and perform your spiritual practices. Physical stamina is very necessary for Sadhana (spiritual practice), so look after your body with utmost care. But remember that over-tending is also harmful.


Apa gunanya merencanakan membuat sumur, bila rumah telah terbakar? Kapan sumur akan digali? Kapan air akan tersedia dan kapan api akan dipadamkan? Bukankah ini pekerjaan yang tidak mungkin? Jika di awal, sumur digali, bukankah dapat membantu pada saat yang kritis? Mulai merenungkan Tuhan pada saat-saat terakhir sama seperti mulai menggali sumur setelah rumah terbakar. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi selanjutnya. Oleh karena itu, mulai saat ini, libatkanlah dirimu dalam merenungkan Tuhan dan lakukan praktek spiritual. Stamina fisik sangat diperlukan dalam Sadhana (praktek spiritual), sehingga rawatlah tubuhmu dengan penuh perhatian. Tetapi ingatlah, bahwa merawat tubuh dengan berlebihan, juga berbahaya.

-BABA

Thought for the Day - 22nd March 2010 (Monday)


The human body is a world in itself. The body is a tree. Love of the Self is the root. Desires are the branches it sends forth. Qualities, attributes and modes of behavior that are based on the basic nature are the flowers from the tree. Joy and grief are the fruits thereof. Blood flows through and animates every part of the body. So too, Divinity is flowing in and through and activating every spot in the world.

Tubuh manusia adalah alam itu sendiri. Tubuh ibarat sebatang pohon. Cinta-kasih Ilahi adalah akarnya. Keinginan-keinginan adalah cabang-cabang yang menjalar keluar. Kualitas, sifat dan cara bertingkah laku yang didasarkan pada sifat sejati adalah bunganya. Kegembiraan dan kesedihan adalah buahnya. Darah mengalir melalui dan mengaliri setiap bagian dari tubuh. Demikian juga, Tuhan mengalir di dalam tubuh dan melalui serta mengaktifkan setiap tempat di dunia.

-BABA

Sunday, March 21, 2010

Thought for the Day - 21st March 2010 (Sunday)


The Rig Veda teaches unity. It exhorts all living beings to have good thoughts that are directed towards good ends. It insists that all hearts must be charged with the same good feelings. All beings must tread the path of Truth, for all are manifestations of the same Divinity. Some people believe that the lesson of unity of mankind is new and progress towards it is praiseworthy. In Rig Vedic times, the concept was proclaimed much more clearly and emphatically than it is now. All are sparks of the same flame of Divinity. The Rig Veda also demands that difference and distinction should not be imposed and a universal, inclusive outlook must be cultivated.

Rig Veda mengajarkan kesatuan. Ini mendorong semua makhluk hidup memiliki pikiran yang baik yang diarahkan pada tujuan yang baik. Ini menegaskan bahwa semua hati harus diisi dengan perasaan baik yang sama. Semua makhluk harus menapaki jalan Kebenaran, karena semuanya adalah manifestasi dari Tuhan yang sama. Beberapa orang menganggap bahwa pelajaran dari kesatuan umat manusia adalah sesuatu yang baru dan kemajuan itu patut dihargai. Pada masa Rig Veda, konsep ini dinyatakan jauh lebih jelas dan tegas dibandingkan dengan saat ini. Semua adalah percikan api yang sama dari Tuhan. Rig Veda juga mengharapkan bahwa perbedaan dan pertentangan tidak seharusnya dipaksakan dan bersifat universal, pandangan inklusif ini harus dikembangkan.

-BABA

Saturday, March 20, 2010

Thought for the Day - 20th March 2010 (Saturday)


People tend to delay doing their duties. But for undertaking spiritual practices, there is no yesterday and no tomorrow. This very moment is the moment. If you have engraved this understanding in your heart, then you can merge in Lord Shiva. If this truth is not assimilated, and you get immersed in aims of today and tomorrow, and it lays the foundation for worldly attachment! Then you will be born again and again to have the Darshan of Yama (God of Death)! Those who realize this truth will not fail even to the slightest extent in their spiritual practices. It is the right of every aspirant to have the vision of Shiva (Lord of Auspiciousness).

Orang-orang cenderung menunda melakukan kewajiban mereka. Tetapi untuk melakukan praktek spiritual, tidak ada hari kemarin dan tidak ada hari esok. Saat ini adalah saatnya. Jika engkau mengukir pemahaman ini di hatimu, maka engkau dapat menyatu dengan Dewa Siwa. Jika kebenaran ini tidak diterima, dan engkau tenggelam dalam tujuan hari ini dan esok, dan meletakkan dasar bagi keterikatan duniawi! Selanjutnya engkau akan dilahirkan berulang-ulang dan mendapatkan Darshan Dewa Yama (Dewa Kematian)! Mereka yang menyadari kebenaran ini tidak akan gagal sedikitpun dalam praktek spiritual. Ini adalah hak setiap pencari spiritual untuk mendapatkan penglihatan Dewa Siwa.

-BABA

Friday, March 19, 2010

Thought for the Day - 19th March 2010 (Friday)


A life lived without mastering one's senses does not deserve the name. You have been endowed with many capabilities and if you do not control your senses and direct them properly, then that life is wasted. Vidya or true education helps you to achieve success in this process. Vidya promotes humility and through humility, you acquire the deservedness to engage in professions. Deservedness confers prosperity. A prosperous person has the capacity for undertaking acts of charity and right living. Right living will confer happiness here and hereafter.

Hidup tanpa mengendalikan indera bukanlah sebuah kehidupan yang pantas. Engkau telah dianugerahi dengan berbagai kemampuan dan jika engkau tidak mengendalikan inderamu dan mengarahkannya dengan benar, maka hidup adalah sia-sia. Vidya atau pendidikan sejati akan membantumu untuk mencapai keberhasilan dalam proses ini. Vidya mengembangkan kerendahan hati dan melalui kerendahan hati, engkau mendapatkan kelayakan dalam menjalani pekerjaan. Kelayakan menganugerahkan kesejahteraan. Seseorang yang hidupnya sejahtera mempunyai kemampuan untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik dan menjalani hidup dengan benar. Menjalani hidup dengan benar akan menganugerahkan kebahagiaan saat ini dan juga di masa yang akan datang.

-BABA

Thursday, March 18, 2010

Thought for the Day - 18th March 2010 (Thursday)


The syllable ‘man’ in the word ‘Manthra’ indicates the process of probing through the mind. The syllable ‘thra’ means that which has the capacity to liberate or save. In short, ‘Manthra’ is that which saves you, when your mind dwells upon it. While rites, rituals and sacrifices are performed, you should remind yourself of their nature and significance. You must repeat the Manthras to attain the goals you pray for. If you recite them mechanically without learning the meaning, they yield no fruit. You can reap the full reward, only when you recite them with the knowledge of their meaning and their significance.

Suku kata ‘man’ dalam kata ‘Manthra’ menunjukkan proses penyelidikan melalui pikiran. Suku kata ‘thra’ berarti yang memiliki kemampuan untuk membebaskan atau menyelamatkan. Singkatnya, ‘Manthra’ adalah yang menyelamatkan engkau, ketika pikiranmu merenungkan hal tsb. Sewaktu upacara, ritual, dan pengorbanan dilakukan, engkau seharusnya mengingatkan dirimu sendiri tentang sifat dan makna dari upacara, ritual, dan pengorbanan yang dilakukan. Engkau harus mengulang Manthra untuk mencapai tujuan dalam berdoa. Jika engkau mengucapkan Manthra tanpa mempelajari maknanya, Manthra yang engkau ucapkan tidak akan membuahkan hasil. Engkau bisa mendapatkan pahala penuh, hanya ketika engkau mengucapkan manthra dengan pengetahuan tentang arti dan maknanya.


-BABA

Wednesday, March 17, 2010

Thought for the Day - 17th March 2010 (Wednesday)


Only after the feelings of 'I' and 'mine' are uprooted, one becomes a devotee. The heart of such a devotee will be filled with compassion and the urge to do good to the world. It is the supreme bliss they attain thereby which impels them to act in this way. They crave for nothing else but being one with their sweet Lord. With this single goal in mind, regardless of joy and sorrow, without any concern about their own satisfaction, they engage themselves in spiritual practices steadfastly, incessantly and with conviction, and after understanding the Reality, they attain full contentment.

Hanya setelah perasaan “aku” dan “kepunyaanku” ditaklukkan, seseorang menjadi bhakta. Hati bhakta seperti itu akan dipenuhi dengan perasaan belas kasihan dan keinginan untuk berbuat baik pada dunia. Ini adalah kebahagiaan tertinggi yang mereka capai sehingga mendorong mereka untuk bertindak dengan cara ini. Mereka tidak mendambakan apapun, selain menyatu dengan Tuhan mereka yang terkasih. Dengan satu tujuan ini dalam pikiran, tanpa memperhatikan suka dan duka, tanpa memperhatikan kepuasan diri mereka sendiri, mereka melibatkan diri dalam praktek spiritual dengan mantap, terus-menerus, dan dengan keyakinan, dan setelah memahami Realitas ini, mereka mencapai kepuasan penuh.


-BABA

Monday, March 15, 2010

Thought for the Day - 16th March 2010 (Tuesday)


True Ugadi is the day when man gives up bad qualities, fills his heart with love and takes to the path of sacrifice. Do not limit the celebration of Ugadi to merely putting on new clothes and partaking of delicious items. Today you may wear a new shirt, but how long will it remain new? Tomorrow it becomes old. Today's newspaper becomes a waste paper tomorrow. Our life is like a newspaper. Once you have finished reading a newspaper, you do not like to read it again and again. You have been given this birth which is like a newspaper, and have gone through varied experiences of pleasure and pain. Enough is enough. You should pray, "Oh God! You have given me this 'newspaper' and I have gone through the experiences of this life. I don't want to have another birth."

Ugadi adalah hari ketika manusia melenyapkan sifat-sifat buruk yang ada dalam dirinya, mengisi hatinya dengan cinta-kasih dan melakukan pengorbanan. Jangan membatasi perayaan Ugadi semata-mata hanya mengenakan pakaian baru dan menyantap makanan yang lezat. Saat ini engkau mungkin mengenakan pakaian baru, tapi berapa lama itu akan tetap baru? Besok ia menjadi usang. Koran hari ini, menjadi sampah keesokan harinya. Hidup kita bagaikan koran. Setelah engkau selesai membaca koran tersebut, engkau tidak ingin membacanya berulang-ulang. Engkau telah diberikan kelahiran ini bagaikan sebuah koran, dan telah melalui berbagai pengalaman baik pengalaman yang menyenangkan maupun menyedihkan. Sudah cukup. Engkau harus berdoa,”Ya Tuhan! Engkau telah memberikanku “koran” ini dan aku telah melewati pengalaman-pengalaman hidup ini. Aku tidak ingin mengalami kelahiran yang lain.”

-BABA