Wednesday, September 30, 2009

Thought for the Day - 30th September 2009 (Wednesday)


In rendering service, one should have no thought of one’s self. One should only consider how well one can render the service as an offering to the Divine. One should note the difference between Karma (action) and Karma Yoga (action as spiritual discipline). Ordinary activity is motivated by self interest or the desire to achieve some objective. In Karma Yoga, the action is desireless. Ordinary Karma is the cause of birth, death and rebirth, whereas Karma Yoga leads to freedom from birth. You should regard all service as a form of Karma Yoga – rendering service without any expectation of reward, and without even the feeling that one is ‘serving’ others. Any service done to anyone is actually service to the Divine.

Dalam memberikan pelayanan, seseorang seharusnya tidak memikirkan dirinya sendiri. Seseorang seharusnya hanya memikirkan seberapa banyak seseorang dapat memberikan pelayanan sebagai persembahan kepada Tuhan. Seseorang seharusnya memperhatikan perbedaan antara Karma (tindakan) dan Karma Yoga (tindakan sebagai disiplin rohani). Aktivitas yang dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri atau keinginan untuk mencapai suatu tujuan. Dalam Karma Yoga, perbuatan yang dilakukan adalah tanpa keinginan atau tidak mengharapkan imbalan apapun. Karma merupakan penyebab kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali, sebaliknya Karma Yoga membebaskan diri dari kelahiran kembali. Engkau seharusnya menganggap semua pelayanan sebagai bentuk dari Karma Yoga – memberikan pelayanan tanpa mengharapkan imbalan apapun, dan tanpa merasakan bahwa seseorang melayani orang lain. Pelayanan apapun yang dilakukan kepada siapapun sebenarnya merupakan pelayanan kepada Tuhan.

-BABA

Tuesday, September 29, 2009

Thought for the Day - 29th September 2009 (Tuesday)


Goodness, compassion, tolerance – through these virtues one can perceive the Divinity in oneself and in others. Softness of heart is often condemned as weakness, cowardice and want of intelligence; they say that the heart has to be hardened against pity and charity, but that way lies war, destruction and downfall. Love alone confers lasting happiness and peace. Sharing can alone reduce grief and multiply joy. People are born to share, to serve, to give and not to grab.

Kebaikan, belas kasihan, toleransi – melalui sifat-sifat baik ini seseorang dapat merasakan Ketuhanan di dalam dirinya dan juga pada orang lain. Kelembutan hati sering dicap sebagai suatu kelemahan, sikap pengecut dan kurang cerdas, mereka berkata bahwa hati harus keras melawan rasa kasihan dan kemurahan hati, tetapi di jalan tersebut terdapat peperangan, kejatuhan dan kehancuran. Kasih menganugerahkan kebahagiaan dan kedamaian abadi. Berbagi dapat mengurangi kesedihan dan melipatgandakan kebahagiaan. Orang-orang dilahirkan untuk berbagi, melayani, memberi, dan tidak mengambil.

-BABA

Monday, September 28, 2009

Thought for the Day - 28th September 2009 (Monday)


There is no need to retire into a forest or a cave to know your inner Truth and to conquer your lower nature. In fact, while living in isolation, one has no chance to exercise restraint on one's anger and other weaknesses and so the victory achieved there may not be long lasting or genuine. Win the battle of life; be in the world but yet be away from its shackles. That is the victory which you have to achieve.

Tidak perlu menarik diri untuk tinggal di hutan atau di dalam gua untuk mengetahui kebenaran batin dan untuk menaklukkan sifat dasarmu yang kurang baik. Sesungguhnya, selagi tinggal dalam pengasingan, seseorang tidak memiliki kemungkinan untuk menahan diri dari kemarahan dan kelemahan-kelemahan lainnya sehingga kemenangan yang diperoleh tidak akan tahan lama atau abadi. Menangkan pertempuran dalam hidup, engkau berada di dunia ini, tetapi lepaskan diri dari belenggu-belenggunya. Itulah kemenangan yang harus engkau capai.

-BABA

Sunday, September 27, 2009

Thought for the Day - 27th September 2009 (Sunday)


It is best that you imprint on your heart the dual nature of the world that is a mixture of pleasure and pain, joy and grief, victory and defeat. Practice the constant presence of God and learn to offer all your activities at the feet of the Lord as an act of worship. Then they will be cleansed of all faults. Life sustained by food is short; life sustained by Atma is eternal. Do not lay claim to long life, but to divine life. Do not strive for more years of stay on the earth, but for more virtues in the heart.

Tanamkan dalam hatimu bahwa dunia ini merupakan perpaduan antara kesenangan dan penderitaan, suka cita dan duka cita, kemenangan dan kekalahan. Persembahkan seluruh aktivitasmu di kaki padma Tuhan sebagai suatu pemujaan dan biasakan untuk merasakan kehadiran Tuhan secara terus-menerus. Kemudian mereka akan dibersihkan dari segala kesalahan. Hidup ditopang oleh makanan yang bersifat sementara, serta oleh Atma yang abadi. Jangan meminta umur panjang, melainkan untuk kehidupan illahi. Jangan berusaha untuk lebih lama tinggal di bumi, tetapi untuk lebih banyak kebajikan-kebajikan di dalam hati.

-BABA

Saturday, September 26, 2009

Thought for the Day - 26th September 2009 (Saturday)


Man is mortal and the Divine is immortal. In the mortal human being, there is the immortal Divine Spirit. In the field of the heart, there is a Kalpatharu (wish-fulfilling tree). The tree is surrounded by bushes and briars. When these are removed, the tree will become visible. This wish-fulfilling tree is within each person, but it is encompassed by the bad qualities in man. When these qualities are eliminated, the celestial tree will be recognised. This is the Sadhana (spiritual exercise) that each one has to perform. This is not the quest for something new. It is to experience what is yours. The entire cosmos is within you.

Manusia tidak kekal dan hanya Tuhan-lah yang kekal. Dalam tubuh manusia yang tidak kekal, terdapat Atma yang kekal abadi. Dalam ladang hati, terdapat Kalpatharu (pohon yang dapat memenuhi keinginan). Pohon ini dikelilingi oleh semak-semak dan pohon berduri. Ketika semak-semak ini dibersihkan, pohon Kalpatharu akan tampak jelas. Pohon pemenuh keinginan ini ada dalam diri setiap orang, tetapi diliputi oleh sifat-sifat buruk manusia. Ketika sifat-sifat buruk ini dibersihkan, pohon surgawi akan disadari keberadaannya. Ini adalah Sadhana (latihan spiritual) yang harus dilakukan setiap orang. Ini bukanlah mencari sesuatu yang baru. Hal ini adalah untuk mengalami apa yang jadi milikmu. Seluruh alam semesta berada dalam dirimu.

-BABA

Friday, September 25, 2009

Thought for the Day - 25th September 2009 (Friday)


The world is made up of objects. It is inert. In the waking sense, the senses cognise all these objects. But the senses are also inert. The eyes that see, the ears that hear, the tongue that speaks and the nose that smells - all of them are Jada (inert). In fact, the entire body is inert. But all these inert objects are able to function because of the presence of Chaitanya (consciousness) in the mind. Thus we have to realise that the entire phenomenal universe is Jada.

Dunia ini terdiri dari benda-benda, yang bersifat lembam (inert). Dalam keadaan terjaga, indera mengenali keseluruhan dari objek duniawi ini. Tetapi indera juga bersifat lembam (inert). Mata yang melihat, telinga yang mendengar, mulut yang berbicara, dan hidung yang mencium bau – semuanya adalah Jada (lembam). Bahkan, seluruh badan ini juga lembam. Tetapi semua objek-objek dunia yang bersifat lembam ini, dapat berfungsi disebabkan karena adanya Chaitanya (kesadaran) dalam pikiran. Jadi kita harus menyadari bahwa seluruh alam semesta yang luar biasa ini adalah Jada.

-BABA

Thursday, September 24, 2009

Thought for the Day - 24th September 2009 (Thursday)


From time to time, the Divine power assumes numerous forms. In devotees, it shines as the Jnana-Agni (fire of wisdom). In non-devotees, it burns as Krodha-Agni (the fire of anger) or the Kama-Agni (fire of desire). Man today has this fire (of anger, etc) in his heart and has become a victim of fear and delusions. All other types of fire subside in due course of time, but these fires (of anger, etc.) never completely cease. They may flare up at any moment. How, then, are these fires to be extinguished once for all? Vairagya (detachment) and Prema (love) are the two requisites to extinguish these fires. It is only through Prema (love) that man can acquire peace.

Dari waktu ke waktu, kekuasan Tuhan mengambil berbagai wujud. Untuk bhakta, hal ini bercahaya sebagai Jnana-Agni (api kebijaksanaan). Untuk non-bhakta, hal ini membakar seperti Krodha-Agni (api kemarahan) atau Kama-Agni (api keinginan). Manusia saat ini mempunyai api ini (kemarahan, dll) di dalam hatinya dan telah menjadi korban ketakutan dan khayalan. Semua jenis api mereda pada waktunya, tetapi api ini (kemarahan, dll) tidak pernah benar-benar berhenti. Suatu waktu, api ini (kemarahan, dll) mungkin dapat meledak dengan tiba-tiba. Bagaimana kemudian semua api ini dapat dipadamkan? Vairagya (tanpa keterikatan) dan Prema (kasih) adalah dua syarat untuk memadamkan api ini. Hanya melalui Prema (kasih) manusia dapat memperoleh kedamaian.

-BABA

Wednesday, September 23, 2009

Thought for the Day - 23rd September 2009


Man is a part of the human community. Mankind is a part of nature. Nature is a limb of God. Man has not recognised these inter-relationships. Today men are forgetting their obligations. The Cosmos is an integral organism of interrelated parts. When each one performs his duty, the benefits are available to all. Man is entitled only to perform his duties and not to the fruits thereof. Man is a kind of stage-director of what goes on in Nature. But forgetting his responsibilities, man fights for rights. It is foolish to fight for rights without discharging one's duties. All the chaos and conflicts in the world are due to men forgetting their duties. If everyone discharge their duties diligently, the world will be peaceful and prosperous.

Manusia merupakan bagian dari suatu komunitas. Manusia bagian dari alam. Alam adalah ciptaan Tuhan. Manusia tidak menyadari hubungan timbal balik ini. Saat ini manusia melupakan kewajibannya. Alam semesta merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi dari bagian-bagian yang saling terkait. Ketika masing-masing melakukan kewajibannya, semua mendapatkan manfaatnya. Manusia hanya berhak untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan bukan hasil yang ditimbulkannya. Manusia adalah pemain sandiwara dari apa yang terjadi di alam., Manusia berusaha untuk mendapatkan hak-haknya, tetapi melupakan tanggung jawabnya. Adalah suatu kebodohan untuk memperjuangkan hak tanpa melakukan suatu kewajiban. Segala kekacauan dan konflik di dunia ini disebabkan karena manusia melupakan kewajibannya. Jika seseorang melaksanakan kewajibannya dengan benar, dunia ini akan damai dan sejahtera.

-BABA

Tuesday, September 22, 2009

Thought for the Day - 22nd September 2009 (Tuesday)


Faith can grow only by long cultivation and careful attention. Have faith; faith will grant you all that you need. There is not task that I cannot accomplish. You have faith in Lord Rama and Krishna, since you have read books written about them. You have not demanded direct proofs of Divinity from them. Have you? Have faith first, then you will get proof enough. Take up the discipline of the recital of the Name. Why drag out your existence as a mere consumer of food? Eat, but transform food into good deeds, good thoughts, sweet speech. Move, but do not cause pain to others or add to their misery.

Keyakinan dapat tumbuh hanya dengan usaha yang panjang dan kesabaran. Milikilah keyakinan; dengan keyakinan yang engkau miliki, semua keinginanmu akan tercapai.. Tidak ada pekerjaan yang tidak dapat Aku selesaikan. Engkau dapat memiliki keyakinan pada Sri Rama dan Sri Krishna hanya dengan membaca buku yang menceritakan tentang riwayat mereka. Engkau tidak perlu hidup dalam jaman mereka. Milikilah keyakinan, maka engkau akan langsung percaya akan kebesaran Sri Rama dan Sri Krishna. Latihlah disiplin spiritual dengan pengucapan Nama Tuhan secara teratur. Mengapa kehidupanmu berlalu semata-mata hanya untuk makan? Makanlah, akan tetapi ubahlah makanan yang engkau makan menjadi perbuatan yang baik, pikiran yang baik, serta kata-kata yang manis. Bergeraklah, tetapi janganlah menyakiti orang lain atau menambahkan penderitaan pada mereka.

-BABA

Monday, September 21, 2009

Thought for the Day - 21st September 2009 (Monday)


Illness, both physical and mental, is a reaction on the body caused by poisons in the mind. An uncontaminated mind alone can ensure continuous good health. Vices breed disease. Bad thought, bad habits and bad company are fertile grounds in which disease thrives. A sense of elation and exultation keeps the body free from ill-health. The evil habits in which people indulge, are the chief causes of disease, physical as well as mental. Greed affects the mind; disappointments make people depressed. You can justify your existence as a human being only by the cultivation of virtues. Then you can become a worthy candidate for Godliness. It is progress in virtue that announces the progress of man towards divinity. Virtues also confer freshness, skill and long years of youthfulness.

Penyakit, baik fisik dan mental, adalah suatu reaksi dari tubuh yang disebabkan oleh racun dalam pikiran. Pikiran yang tidak tercemar dapat memastikan kesehatan yang baik secara terus-menerus. Memelihara kebiasaan yang buruk menyebabkan penyakit. Pemikiran buruk, kebiasaan buruk, dan pergaulan yang buruk merupakan penyebab berkembangnya penyakit dengan subur. Perasaan gembira dan suka cita memelihara badan terbebas dari penyakit – atau sehat. Kebiasaan yang buruk dimana orang-orang menurutkan kehendaknya sesuka hati, adalah penyebab utama timbulnya penyakit, baik fisik maupun mental. Keserakahan mempengaruhi pikiran, kekecewaan membuat orang-orang tertekan. Engkau dapat menyatakan keberadaanmu sebagai manusia hanya dengan mengembangkan kebajikan. Kemudian engkau dapat menjadi seseorang yang berguna bagi keilahian. Hal ini adalah kemajuan dalam kebajikan, yang menandai kemajuan manusia menuju keilahian. Kebajikan juga menganugerahkan kesegaran dan keahlian serta umur panjang dan awet muda.

-BABA

Sunday, September 20, 2009

Thought for the Day - 20th Septembr 2009 (Sunday)


People imagine that spirituality means meditating on God, bathing in sacred waters and visiting holy shrines, but this is not the correct meaning of spirituality. Spirituality means destroying the animal nature in man and awakening him to his divine consciousness. Spirituality implies recognizing that one’s manifold capacities emanate from the Spirit and not from the mind, then utilizing them for achieving spiritual strength. It means acknowledging that all powers come from the Divine.

Orang-orang membayangkan bahwa spiritualitas berarti bermeditasi pada Tuhan, mandi di air suci dan mengunjungi tempat-tempat suci, ini bukanlah arti yang sebenarnya dari spiritualitas. Spiritualitas berarti menghancurkan sifat hewani dalam diri manusia dan membangkitkan dirinya dalam kesadaran Tuhan. Spiritualitas berarti menyadari bahwa bermacam-macam kapasitas yang dimiliki seseorang berasal dari Atma dan bukan dari pikiran, kemudian memanfaatkannya untuk mencapai kekuatan rohani. Ini berarti menyadari bahwa semua kekuatan berasal dari Tuhan.

-BABA


Saturday, September 19, 2009

Thought for the Day - 19th September 2009 (Saturday)


It is only God, the embodiment of love, who is always with you and in you. Bereft of love, man cannot exist. Love is your life. Love is the light that dispels the darkness of ignorance. One who does not cultivate love will be born again and again. Punarapi Jananam Punarapi Maranam. Whoever is born will die one day and whoever dies will be born again. Birth and death are the Prabhava (effect) of the objective world. As he is deluded by the Prabhava, man is subjecting himself to Pramada (danger).

Hanya Tuhan, yang merupakan perwujudan kasih, yang selalu bersamamu dan di dalam dirimu. Tanpa kasih, manusia tidak akan ada. Kasih adalah kehidupanmu. Kasih adalah cahaya yang menghalau kegelapan. Seseorang yang tidak memupuk kasih akan mengalami kelahiran berulang-ulang. Punarapi Jananam Punarapi Maranam. Siapapun yang lahir, suatu hari nanti akan mati dan siapapun yang mati akan mengalami kelahiran kembali. Kelahiran dan kematian adalah Prabhava (efek) dari objek duniawi. Ketika manusia diperdaya oleh Prabhava, manusia menjadi objek dirinya sendiri menuju Pramada (bahaya).

-BABA

Friday, September 18, 2009

Thought for the Day - 18th September 2009 (Friday)


What is Mano-Nigraham (control of the mind)? Nigraham (control) really means being indifferent to the vagaries of the mind. It is difficult to control the mind, just as it is difficult to confine air in one's grasp. How can anyone control the mind which is all-pervading in the vastness of its range and comprehension? When it is realised that the mind is made up of thoughts and doubts, the elimination of the thoughts is the means of restraining the mind. Thoughts are associated with desires. As long as desires remain, one cannot have Vairagya (detachment). It is necessary to limit desires. When there is no restraint, excessive desire becomes an evil. It leads to misery. When we strive to control desire, in due course, it develops into Vairagya (non-attachment or renunciation).

Apa itu Mano-Nigraham (pengendalian pikiran)? Nigraham (pengendalian) sesungguhnya berarti memikirkan sesuatu hal. Adalah sangat sulit untuk mengendalikan pikiran, sama sulitnya dengan membatasi udara dalam suatu genggaman. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengontrol pikirannya yang meliputi semuanya dalam luasnya jangkauan dan pemahaman? Ketika hal tersebut disadari bahwa pikiran terdiri dari pemikiran dan keragu-raguan, pembersihan pemikiran berarti mengendalikan pikiran. Pemikiran berhubungan dengan keinginan. Selama kita masih mempunyai keinginan, seseorang tidak akan mengalami Vairagya (tanpa keterikatan). Hal ini diperlukan untuk membatasi keinginan. Ketika tidak ada pengendalian diri, keinginan yang berlebihan menjadi suatu kejahatan. Hal ini mengarah pada penderitaan. Ketika kita berusaha untuk mengendalikan keinginan, pada waktunya, hal tersebut berkembang menjadi Vairagya (tanpa keterikatan).

-BABA

Thursday, September 17, 2009

Thought for the Day - 17th September 2009 (Thursday)


The right attitude of the devotee should be one of total surrender. As one devotee declared, “I am offering to you the heart which you gave me. I have nothing I can call my very own. All are yours. I offer to you what is already yours.” As long as this spirit of total surrender is not developed, man will have to be born again and again. One should offer one's heart to the Divine and not be content with making offerings like flowers and fruits.

Sikap yang benar dari seorang Bhakta seharusnya menjadi orang yang pasrah sepenuhnya. Seperti yang dinyatakan oleh seorang Bhakta,”Aku persembahkan kepada-Mu hati yang telah Engkau berikan. Aku tidak mempunyai apapun yang dapat kusebut sebagai milikku. Semuanya adalah milik-Mu. Aku persembahkan kepada-Mu apa yang sudah menjadi milik-Mu.” Selama semangat kepasrahan total ini tidak dikembangkan, manusia harus lahir berkali-kali. Seseorang seharusnya mempersembahkan hatinya kepada Tuhan dan tidak berpuas diri dengan menghaturkan persembahan seperti bunga dan buah-buahan.

-BABA

Wednesday, September 16, 2009

Thought for the Day - 16th September 2009 (Wednesday)


A bamboo is valued in terms of its thickness and height. The sugarcane gets its value from its juice. The worth of a human being is based on his Buddhi (intellect). The more the intellect develops, the better one becomes. As the intellect declines, the human descends to the level of animal. Man's worth has declined today because he does not recognise the importance of the intellect and of conduct based on proper discrimination. The form is human, but the thinking is at the animal level. Man has earned the appellation of "two-legged animal." Having acquired the human form, man should conduct himself with intelligence. This is achieved through Thyaga (renunciation) and Yoga (spiritual discipline).

Sebuah bambu dinilai dari ketebalan dan tingginya. Tebu mendapatkan nilai dari sari buah yang dihasilkannya. Nilai manusia didasarkan pada Buddhi (akal-budi). Semakin berkembang akal-budi nya, maka semakin baik manusianya. Ketika akal-budi mengalami kemerosotan, manusia turun ke level binatang. Nilai manusia saat ini telah mengalami kemerosotan disebabkan karena manusia tidak menyadari pentingnya akal-budi dan tingkah laku yang didasarkan pada kemampuan membedakan yang tepat. Wujudnya adalah manusia, tetapi pemikirannya pada tingkat binatang. Manusia telah mendapatkan gelar dengan sebutan “binatang berkaki dua.” Setelah mendapatkan wujud sebagai manusia, manusia seharusnya bertingkah laku dengan menggunakan akalnya. Hal ini dapat dicapai melalui Thyaga (tanpa keterikatan) dan Yoga (disiplin spiritual)

-BABA

Tuesday, September 15, 2009

Thought for the Day - 15th September 2009 (Tuesday)


Detachment, faith and love – these are the pillars upon which peace rests. Of these, faith is crucial, for without it all spiritual discipline is empty. Detachment alone can make spiritual discipline effective, and love is what leads one quickly to God. Faith feeds the agony of separation from God; detachment canalises it along the path of God, and love lights the way. God will grant you what you need and deserve; there is no need to ask, no reason to grumble. Be content. Nothing can happen against His will.

Tanpa keterikatan, keyakinan, dan cinta-kasih – inilah pilar penyangga kedamaian. Dari ketiga hal tersebut, keyakinan adalah yang terpenting, karena tanpa keyakinan semua disiplin rohani tidak ada artinya. Tanpa keterikatan dapat membuat disiplin spiritual efektif, dan cinta-kasih merupakan jalan tercepat menuju Tuhan. Keyakinan mengobati penderitaan keterpisahan dari Tuhan; tanpa keterikatan memperbesar keyakinan di sepanjang jalan Tuhan, dan cinta-kasihlah yang menyinarinya. Tuhan akan memberikan apa yang engkau perlukan dan apa yang sepantasnya engkau dapatkan; engkau tidak perlu memintanya, tidak ada alasan untuk menggerutu. Berpuaslah! Tidak ada apapun yang dapat menentang kehendak-Nya.

-BABA

Monday, September 14, 2009

Thought for the Day - 14th September 2009 (Monday)


What is the meaning of ‘Ceiling on Desires’? People become deluded by unlimited desires, and live in a dream world. It is most important to keep one's desires under control, to put a ceiling on them. People are spending too much money. Instead of spending inordinately for their own pleasure, one should be spending for the relief of the poor and the needy. This is the meaning of the ‘Ceiling on Desires’ programme. Do not make the mistake of thinking that giving away money is all that is needed, giving away to others while allowing your own desires to continue to multiply. Curtail your desires, for materialistic desires lead to a restless and disastrous life. Desires are a prison. One can be freed only by limiting one’s wants.

Apakah arti dari ‘Ceiling on Desire (pembatasan kenginan)’? Orang-orang menjadi disulap dengan keinginan-keinginan yang tidak terbatas, dan hidup dalam dunia mimpi. Adalah sangat penting untuk menjaga keinginan-keinginan seseorang dibawah control, untuk dibatasi. Orang-orang menghabiskan terlalu banyak uang. Daripada menghabiskan keinginan dengan tidak terkendali untuk kesenangan mereka sendiri, seseorang seharusnya memberikan bantuan kepada orang miskin dan orang yang membutuhkan. Ini adalah arti dari program ‘Ceiling on Desires (pembatasan keinginan)’. Jangan membuat kekeliruan dengan berpikir bahwa pemberian uang tersebut adalah semua yang diperlukan, memberikan kepada orang lain sementara membiarkan keinginanmu sendiri berlipat ganda. Batasi keinginanmu, karena keinginan materialistis mengakibatkan bencana dan hidup tidak tenang. Keinginan adalah penjara. Seseorang dapat dibebaskan dari penjara ini hanya dengan membatasi keinginannya.

-BABA

Sunday, September 13, 2009

Thought for the Day - 13th September 2009 (Sunday)


Visions are only reflections of divine vibrations in the mind, aroused by Sadhana (spiritual practice). They are milestones, signposts; they happen on the road to the goal. They do not, they cannot accompany you right to the end. You will have to travel alone and overcome obstacles. Grace from your own self is the most important and essential help for spiritual progress. I might grant you grace without limit, but of what use can that be if your heart is not clean and if your head is full of ego? Cleanse your heart with Prema (love) and remove ego through service.

Visi hanyalah refleksi dari getaran illahi dalam pikiran, ditimbulkan oleh Sadhana (praktek spiritual). Hal tersebut merupakan tanda-tanda, penunjuk jalan; yang terdapat pada jalan menuju tujuan. Mereka tidak dapat menyertaimu terus sampai akhir. Engkau akan melakukan perjalanan itu dan mengatasi rintangan itu sendirian. Rahmat dari dirimu sendiri adalah hal yang terpenting dan esensial membantu untuk kemajuan spiritual. Aku mungkin memberimu rahmat tanpa batas, tetapi apa gunanya hal tersebut, jika hatimu tidak suci dan jika kepalamu penuh dengan ego? Sucikan hatimu dengan Prema (cinta-kasih) dan hilangkan ego melalui pelayanan.

-BABA

Saturday, September 12, 2009

Thought for the Day - 12th September 2009 (Saturday)


The word 'Vairagya' literally means that which is opposed to Raga (attachment). Vairagya does not mean that you should give up everything and retire in to a forest. Vairagya really means you should stay where you are, in whatever station of life you are in, and understand the subtle nature of things, while giving up worldly desires. It means that by using discrimination you should know what to accept and what to reject. You should strive to recognise the divinity in every object you see and enjoy it. Vairagya is not merely giving up things. It consists in enjoying, without attachment, things which were previously enjoyed with attachment. That is real Vairagya. That is the mark of a true human being.

Kata ‘Vairagya’ secara harfiah berarti yang berlawanan dengan Raga (keterikatan). Vairagya tidak berarti bahwa engkau seharusnya memberikan segalanya dan menjadi pertapa di dalam hutan. Vairagya sesungguhnya berarti bahwa engkau seharusnya sadar dimanapun engkau berada, dalam lingkungan apapun engkau hidup, dan memahami sifat nyata dari benda-benda, serta menyerahkan keinginan-keinginan duniawi. Hal ini berarti bahwa dengan menggunakan diskriminasi (kemampuan membedakan) engkau seharusnya mengetahui apa yang harus diterima dan apa yang harus di tolak. Engkau seharusnya berusaha untuk mengenali keilahian dalam setiap objek yang engkau temui dan dalam setiap objek yang engkau nikmati. Vairagya tidaklah semata-mata menyerahkan segalanya. Vairagya adalah menikmati tanpa keterikatan, hal-hal yang sebelumnya dinikmati dengan keterikatan. Inilah Vairagya yang sebenarnya. Ini adalah tanda manusia sejati.

-BABA

Friday, September 11, 2009

Thought for the Day - 11th September 2009 (Friday)


There is no greater Sadhana (spiritual exercise) than service. Service is the principle means for acquiring divine grace. Without being a devoted follower, you cannot become a worthy leader. If you are not willing to do work, you cannot attain divinity. Each one has to realize this truth. Service to society is the highest good. It is Truth, Right Conduct, Peace, Love and Non-violence that give happiness. These are the five principles that sustain life. Under no circumstances should these principles be given up. Render service to society with these principles in your mind, and with broad-minded dedication to the well-being of all.

Tidak ada sadhana (latihan spiritual) yang lebih mulia daripada melakukan pelayanan. Pelayanan adalah cara terbaik untuk mencapai rahmat Tuhan. Tanpa menjadi Bhakta yang baik, engkau tidak bisa menjadi pemimpin. Jika engkau tidak bersedia melakukan suatu pekerjaan dengan baik, maka engkau tidak akan mendapatkan keilahian. Setiap orang harus menyadari kebenaran ini. Melayani masyarakat merupakan kebajikan tertinggi. Hanya dengan kebenaran, kebajikan, kedamaian, cinta kasih, dan tanpa kekerasanlah yang dapat memberi kebahagiaan tertinggi. Kelima prinsip ini selalu menopang kehidupan. Dalam keadaan apapun kelima prinsip ini haruslah dilaksanakan. Pelayanan pada masyarakat yang dilandasi oleh kelima prinsip tersebut akan memberikan kesejahteraan bagi semuanya.

-BABA

Thursday, September 10, 2009

Thought for the Day - 10th September 2009 (Thursday)


Grasp as the bow the great weapon furnished by the Upanishads, and fix in it an arrow sharpened by meditation. Draw it with the mind concentrated on Brahman (Godhead), and hit the target, the immortal Brahman without losing aim. Pranava (the sound of 'Om') is the bow, Atma (soul) is the arrow, Brahman is the target. So, the Sadhaka (spiritual aspirant) must, like the expert archer, be unaffected by things that agitate the mind. He should pay one-pointed attention to the target. Then, he will attain oneness with the object of meditation.

Genggamlah busur senjata agung yang disediakan oleh Upanishads, pertajamlah anak panahnya dengan meditasi. Bayangkan dengan pikiran terpusat pada Brahman (Tuhan) dan capailah sasaran tersebut, yaitu Brahman yang abadi tanpa kehilangan tujuan. Pranava (suara ‘Om’) adalah busurnya, Atma (jiwa) adalah anak panahnya, Brahman adalah sasarannya. Jadi, Sadhaka (pencari spiritual) harus seperti pemanah ahli, tidak terpengaruh oleh berbagai hal yang mengganggu pikiran. Sadhaka seharusnya mengarahkan perhatiannya pada sasaran. Selanjutnya, dia akan mencapai kesatuan dengan objek meditasi.

-BABA

Wednesday, September 9, 2009

Thought for the Day - 9th September 2009 (Wednesday)


Be aware that all things belong to God. So no one can claim anything as one’s own. But people claim everything, declaring, "it is mine". Indeed, nothing belongs to anyone. People are immersed in the false and foolish concept of ownership; possessiveness is rampant in every thought and action, and that leads to the inflation of the ego. Egoism has to be utterly eradicated. Possessiveness should be banished. You came with empty hands, and you go back with empty hands.

Sadarilah bahwa segala sesuatu adalah milik Tuhan. Jadi, tidak ada satu orang pun yang dapat menyatakan sesuatu sebagai miliknya. Tetapi orang-orang mengklaim sesuatu, menyatakan,”ini kepunyaanku.” Memang, tidak ada milik siapa pun. Orang-orang ditenggelamkan dalam kekeliruan dan kebodohan tentang konsep kepemilikan; keinginan yang amat besar untuk memiliki sesuatu semakin menjadi-jadi dalam pikiran dan tindakan, dan mengarah ke inflasi ego. Egoisme (sifat mementingkan diri sendiri) sepenuhnya harus dihilangkan. Keinginan untuk memiliki sesuatu seharusnya dibuang. Engkau datang dengan tangan kosong, dan engkau kembali juga dengan tangan kosong.

-BABA

Tuesday, September 8, 2009

Thought for the Day - 8th September 2009 (Tuesday)


Through Sathsang (holy company) you develop freedom from delusion, and then you develop faith in truth and thus attain liberation itself. Just as the tame elephants surround the wild tusker and rope him before taming him, the spiritual minded will bring the doubter around. The company of the good and the godly will slowly chasten and cleanse the persons prone to straying away from the straight path towards self-realization.

Melalui Sathsang (pergaulan dengan orang-orang suci), engkau mengembangkan kebebasan dari khayal, dan kemudian engkau mengembangkan keyakinan dalam kebenaran dan dengan demikian mencapai kebebasan itu sendiri. Seperti gajah-gajah jinak mengepung yang liar dan mengikatnya sebelum menjinakkannya, pikiran spiritual akan membawa yang ragu-ragu di sekelilingnya. Pergaulan yang baik dan luhur perlahan-lahan akan menyucikan dan membersihkan kecendrungan orang-orang untuk menyimpang dari jalan lurus menuju kesadaran diri

-BABA

Monday, September 7, 2009

Thought for the Day - 7th September 2009 (Monday)


Man forgets his true nature because of attachment and egoism. Man should develop unwavering faith in God. Faith should be like your life-breath, which goes on at all times without respite. Breathing goes on irrespective of whatever work you may be doing and whatever be the state of your mind. Likewise, in all situations and at all times, your faith in God should never leave you. It should not change according to whether your desires are fulfilled or not. Like your life breath, your faith should remain steady, through joy and sorrow, loss and gain, pain and pleasure. Treat whatever happens as good for you. Develop that sense of fortitude.

Manusia melupakan sifat sejatinya karena kemelekatan dan egoismenya. Manusia seharusnya mengembangkan keyakinan yang tak tergoyahkan pada Tuhan. Keyakinan seharusnya seperti nafas kehidupan, yang berlangsung sepanjang waktu tanpa henti. Bernafas berlangsung terus tanpa tergantung dengan pekerjaan apapun yang engkau lakukan atau apapun keadaan pikiranmu. Demikian juga, dalam segala situasi dan setiap saat, keyakinanmu pada Tuhan seharusnya tidak pernah meninggalkanmu. Hal tersebut seharusnya tidak boleh berubah, apakah keinginanmu terpenuhi atau tidak. Seperti nafas kehidupanmu, keyakinanmu harus tetap stabil, melalui suka dan duka, kehilangan dan keberuntungan, penderitaan dan kesenangan. Perlakukanlah apa pun yang terjadi yang terbaik untukmu. Kembangkanlah ketabahan hati.

-BABA

Sunday, September 6, 2009

Thought for the Day - 6th September 2009 (Sunday)


God will respond to your prayers for succour only when you respond sympathetically to the needs of others. Life should not be wasted in selfish activities, blind to others' distress and deaf to others' groans. Treat joy and grief equally - this according to Lord Krishna is Samathwam (equanimity). Practise this equanimity - this is the way to win His Grace. You may not be rewarded materially for your compassionate acts but there is no greater reward than the joy that you derive by alleviating other's sorrow.

Tuhan akan menjawab doa-doamu untuk memberi pertolongan hanya ketika engkau menanggapi dengan penuh simpati apa yang dibutuhkan orang lain. Hidup seharusnya tidak disia-siakan dalam kegiatan yang mementingkan diri sendiri, tidak melihat penderitaan orang lain, dan tidak mendengar keluh kesah orang lain. Perlakukanlah kegembiraan dan duka cita dengan sama – hal ini menurut Shri Krishna adalah Samathwam (ketenangan hati). Praktekkan ketenangan hati ini – hal ini adalah cara untuk mendapatkan Rahmat-Nya. Engkau mungkin tidak akan diberikan imbalan untuk tindakan-tindakan penuh kasih yang telah engkau lakukan tetapi tidak ada pahala yang lebih besar daripada kegembiraan yang engkau peroleh dengan mengurangi kesedihan orang lain.

-BABA

Saturday, September 5, 2009

Thought for the Day - 5th September 2009 (Saturday)


You should be prepared to face every challenge of life with courage. Courage is the key to success. Life is bound to offer all kinds of difficulties, but you should not quail before them. Face every ordeal with fortitude. Nowadays, people get easily depressed and confused when they encounter difficulties. Depression leads to frustration. This is not the way to face the challenges of life. You should develop the courage to go through the adventure of life. Adhering to truth, cherishing love in your heart, cultivating fortitude, face life with firm determination and steady vision. Such a life will result in fulfilment. The rewards of life can only be got through strenuous effort.

Engkau seharusnya siap menghadapi setiap tantangan hidup dengan keberanian. Keberanian adalah kunci untuk mencapai kesuksesan. Hidup ini dikelilingi oleh berbagai macam kesulitan, tetapi engkau seharusnya tidak gentar menghadapi itu semua. Hadapilah setiap cobaan dengan ketabahan. Saat ini, orang-orang sangat mudah mengalami depresi dan bingung ketika mereka menghadapi kesulitan. Depresi menyebabkan frustrasi. Ini bukanlah suatu cara untuk menghadapi tantangan dalam hidup. Engkau seharusnya mengembangkan keberanian untuk melewati setiap petualangan dalam hidup. Jalankan kebenaran, tanamkan kasih dalam hatimu, tumbuhkan ketabahan, hadapi hidup dengan kebulatan tekad dan visi yang mantap. Kehidupan seperti itulah yang akan menghasilkan pemenuhan dalam hidup dan hanya dapat dicapai melalui usaha yang keras.

-BABA

Friday, September 4, 2009

Thought for the Day - 4th September 2009 (Friday)


Food is an important factor which determines the state of mind: alertness and sloth, the worry and calm, the brightness and dullness of man. When the mind is fed on Rajasic food that induces passion and emotion, activity and adventure, it gallops into the world with the plunge of desire! It brings man deeper into the morass of suffering. When it is fed on Tamasic food, which dulls and induces sloth, the mind becomes callous, inert and useless for uplifting man. Every activity of man is dependent on the energy he derives from the intake of food. The success of the Sadhana (spiritual exercises) that one undertakes depends upon the quantity and quality of the food taken by the Sadhaka (spiritual aspirant).

Makanan adalah faktor penting yang menentukan keadaan pikiran: kewaspadaan dan kelambanan (kemalasan), kekhawatiran dan ketenangan, kecemerlangan dan kebodohan pada manusia. Ketika makanan yang bersifat Rajasik yang penuh nafsu dan emosi, penuh aktivitas dan petualangan, memasuki pikiran, maka kita memiliki banyak keinginan-keinginan duniawi! Hal ini membawa manusia lebih dalam pada penderitaan. Ketika kita memakan makanan yang bersifat Tamasik, yang menyebabkan kebodohan dan kemalasan, kita menjadi tidak berperasaan, lamban dan tidak berguna untuk meningkatkan kualitas manusia. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia bergantung pada energi yang berasal dari asupan makanan. Keberhasilan Sadhana (latihan spiritual) yang dilakukan seseorang tergantung pada kuantitas dan kualitas makanan yang di makan oleh Sadhaka (pencari spiritual).

-BABA

Thought for the Day - 3rd September 2009 (Thursday)


Devotion to the Lord is really a form of discipline for reaching the goal. The seeker should not stop with the acquisition of devotion, nor pay so much attention to the love he has for the Lord, but rather to the love and grace the Lord bestows on him. One should always be eager to find out what behaviour and what actions will be most pleasing to the Lord. Inquire about that, yearn for that, and carry out the things that will secure that objective. Whatever a devotee undertakes, plans or observes should draw down the grace of God. The devotee should test every thought and feeling on the touchstone of the Lord’s declared preferences.

Bhakti kepada Tuhan benar-benar merupakan suatu bentuk disiplin untuk mencapai suatu tujuan. Si pencari Tuhan seharusnya tidak boleh berhenti dengan sesuatu yang diperolehnya, maupun memberikan perhatian yang banyak pada kasih yang dimilikinya pada Tuhan, melainkan juga untuk kasih dan berkat Tuhan yang dilimpahkan kepadanya. Seseorang seharusnya selalu berusaha untuk menemukan apa perilaku dan tindakan yang dilakukan untuk menyenangkan Tuhan. Menanyakan hal tersebut, merindukan hal tersebut, melaksanakan hal–hal yang berkenaan untuk tujuan tersebut. Apapun juga yang dilakukan oleh para Bhakta (devotee), rencana-rencana atau pengamatan, seharusnya didasarkan pada berkat Tuhan. Bhakta (devotee) seharusnya menguji setiap pikiran dan perasaan pada batu ujian dari Tuhan.

-BABA

Thought for the Day - 2nd September 2009 (Wednesday)


The grace of God cannot be won through the gymnastics of reason, the contortions of yoga, or the denials of asceticism. Love alone can win it; love that needs no requital; love that knows no bargaining; love that is paid gladly to the All-Loving; and love that is unwavering. Love alone can overcome obstacles however many and mighty. There is no strength more effective than purity; no bliss more satisfying than Love; no joy more restoring than Bhakti (devotion to God) and no triumph more praiseworthy than surrender.

Rahmat Tuhan tidak dapat dicapai melalui olah tubuh, gerakan-gerakan yoga, atau penyangkalan tapa brata. Kasih sendirilah yang dapat memenangkannya; kasih tidak memerlukan balasan; kasih juga tidak mengenal tawar-menawar; kasih yang diberikan dengan senang hati pada semuanya; dan kasih yang teguh tidak tergoyahkan. Kasih itu sendiri dapat mengatasi hambatan bagaimanapun besarnya hambatan tersebut. Tidak ada kekuatan yang lebih efektif daripada kemurnian; tidak ada suka cita yang lebih memuaskan daripada Kasih; tidak ada kesenangan yang lebih memulihkan daripada Bhakti dan tidak ada kemenangan yang lebih patut dipuji daripada penyerahan total (surrender).

-BABA

Tuesday, September 1, 2009

Thought for the Day - 1st September 2009 (Tuesday)


There is no being without a trace of love. Love leads to Ananda (Supreme bliss), pure and lasting. Many seek this Ananda through their relationships with other individuals, others try to attain it by amassing fame, power and riches and a few others attempt to gain it by renunciation of material possessions and desire for worldly pleasures. Detachment alone can confer Ananda. The Upanishads proclaim that Thyaga (sacrifice) alone can grant Amrithathwa (Bliss of Immortality). One must give up all attachment and affection and, in the heart thus liberated, install God in all His glory. This is the only means to earn everlasting, undiminished Ananda.

Semua mahluk hidup pasti dilandasi oleh cinta kasih. Cinta kasih ini akan menuntun kita menuju Ananda (Kebahagiaan tertinggi) yang murni dan abadi. Kebanyakan orang mencari Ananda ini dengan kegiatan duniawi seperti: mencari teman sebanyak-banyaknya, berusaha untuk menjadi terkenal, berusaha untuk mencari kekayaan sedangkan sisanya berusaha untuk mencapainya melalui pengekangan diri terhadap harta dan kesenangan duniawi. Ketidakterikatanlah yang sebenarnya dapat menuntun kita menuju Ananda. Di dalam Upanisad dinyatakan bahwa Thyaga (pengorbanan) dapat membimbing kita menuju Amrithathwa (Kebahagiaan yang kekal). Kita harus melepaskan semua keterikatan dan di hati yang bebas dari keterikatan itu kita semayamkan Tuhan dengan segala kemuliaannya. Inilah satu-satunya jalan untuk meraih Ananda

-BABA