Tuesday, May 30, 2017

Thought for the Day - 30th May 2017 (Tuesday)

The core of this Universe is the Supreme Self (Paramatma). We can describe the Universe but the Supreme Self is beyond all description. Both the cognisable and the non-cognisable have emanated from the same One Indivisible Consciousness. Each is full and complete in itself. The individual consciousness is the manifestation of the Cosmic Consciousness. When the material sheath falls off, it merges in its source. The Vedas declare, “This is full, that is full. From the full emerges the full. When the Full is taken from the full, the full remains full”. So the Cosmos, the World, the Individual - all are embodiments of the Full. Nothing is fractional or incomplete. Hence all is indeed Divine. But this awareness of the immanence of the Universal can come to your experience when the ‘I’ consciousness is forgotten. When the ‘I’ in you disappears, you automatically become fit to know the ‘non-I’.

Inti dari alam semesta ini adalah pribadi yang tertinggi (Paramatma). Kita dapat menjelaskan alam semesta namun pribadi yang tertinggi melampaui segala penjelasan. Keduanya yaitu yang teridentifikasi dan tidak bisa teridentifikasi muncul dari Satu kesadaran yang tidak nampak. Masing-masing adalah sempurna dan lengkap dalam dirinya sendiri. Kesadaran individu adalah perwujudan dari kesadaran kosmik. Ketika lapisan material lepas maka akan menyatu dengan sumbernya. Weda menyatakan, “Ini adalah sempurna, itu adalah sempurna. Dari yang sempurna muncul yang sempurna. Ketika yang sempurna diambil dari yang sempurna, maka yang sempurna tetap sempurna”. Begitu juga dengan kosmos, dunia, Individual – semuanya adalah perwujudan dari yang sempurna. Tidak ada terpecah atau tidak lengkap. Oleh karena itu semuanya sejatinya adalah illahi. Namun kesadaran yang universal ini dapat engkau alami ketika kesadaran ‘aku’ dilupakan. Ketika ‘aku’ dalam dirimu menghilang maka secara otomatis engkau menjadi layak untuk mengetahui ‘yang bukan aku’. (Divine Discourse, Apr 5, 1981)


Thought for the Day - 29th May 2017 (Monday)

Though humanity has achieved incalculable progress in science and technology, the mind of every individual is still polluted with greed, envy and gross selfishness. Egotism has struck deep roots in the heart and has grown to demonic proportions. People have become puppets, yielding to every pull of the string. They crave all things that confer temporary happiness on them and accumulate things that cater to their sense of power. They examine every item from their own selfish point of view. They are therefore enslaved by the monsters – envy, pride, fear and prejudice. True knowledge alone can save mankind from ruinous downfall. Sai has reiterated the four goals laid down in the Vedas. They are Truth, Righteousness, Peace and Love. Humanity must understand the importance of these four goals as foundational pillars, accept them, adore them and practice them in daily living. Only then Divinity latent within can shine forth in all its glory.

Meskipun manusia telah mencapai kemajuan yang tidak terhitung dalam pengetahuan serta teknologi, pikiran setiap individu masih tercemar dengan ketamakan, kebencian, dan egoisme yang kotor. Egoisme telah mengakar begitu mendalam di dalam hati dan telah tumbuh berkembang ke arah iblis. Manusia telah menjadi boneka dengan menyerah pada setiap tarikan senar. Manusia mendambakan semua hal yang memberikan kesenangan sementara dan mengumpulkan hal-hal yang memenuhi rasa kekuasaan mereka. Mereka memeriksa setiap item dari sudut pandang egoisme mereka sendiri. Maka dari itu mereka diperbudak oleh monster seperti – iri hati, kesombongan, ketakutan, dan berprasangka. Hanya pengetahuan yang sejati yang dapat menyelamatkan manusia dari kejatuhan yang menghancurkan. Sai telah mengulang empat tujuan yang dinyatakan dalam Weda. Keempatnya itu adalah kebenaran, kebajikan, kedamaian, dan kasih. Manusia harus memahami pentingnya keempat tujuan ini sebagai pilar dasar, menerimanya, memuliakannya, dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan demikian keillahian yang tersembunyi di dalam diri dapat bersinar dalam segala kemuliaannya. (Divine Discourse, Mar 8, 1981)


Thought for the Day - 28th May 2017 (Sunday)

The Sadhana (spiritual practice) of selfless service to better another being’s condition is superior to the Sadhana aimed at one’s own liberation. Worship God in His manifestation as mankind. Every one is a child of God, whatever the colour, caste, creed, and language. This sense of unity has to be fostered. Serving to fellow beings, is indeed worshipping God! You have in you both the talent and the desire to uplift your fellow beings. The country needs your service urgently today. In simple language, persuade fellow-beings to give up habits that undermine their health and peace, and promote in them the qualities of mutual aid, truthfulness and nonviolence! God welcomed the urge to manifest the Cosmos. “Ekoham Bahusyam (I am One; I shall become Many)”, He said to Himself. You must also feel the need to blossom and expand. Derive bliss in the process, possess it and share it, in order to increase it.

Sadhana (latihan spiritual) dari pelayanan tanpa mementingkan diri sendiri untuk keadaan yang lebih baik bagi orang lain adalah lebih unggul daripada Sadhana yang bertujuan untuk kebebasan diri sendiri. Memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai umat manusia. Setiap orang adalah seorang anak Tuhan, apapun warna kulitnya, kastanya, keyakinannya, dan bahasanya. Rasa akan kesatuan ini harus dikembangkan. Melayani sesama sejatinya adalah memuja Tuhan! Engkau memiliki keduanya yaitu bakat dan keinginan untuk mengangkat sesamamu. Bangsa membutuhkan pelayananmu dengan sangat mendesak pada hari ini. Dalam bahasa sederhana, membujuk sesamamu untuk melepaskan kebiasaan yang merusak kesehatan dan kedamaian mereka, dan meningkatkan dalam diri mereka kualitas untuk saling membantu, penuh kebenaran dan tanpa kekerasan! Tuhan menyambut baik keinginan untuk mewujudkan kosmos. “Ekoham Bahusyam (Aku adalah satu; Aku akan menjadi banyak)”, Beliau berkata pada diri-Nya sendiri. Engkau juga harus merasakan kebutuhan untuk mekar dan berkembang. Dapatkan kebahagiaan dalam prosesnya, miliki dan bagilah kebahagiaan dalam upaya untuk bisa meningkatkannya. (Divine Discourse, Jan 4, 1987)


Thought for the Day - 27th May 2017 (Saturday)

A person who strays away from righteousness (dharma) meets with greater harm than even physical slavery. There is dread hue and cry now about invasion and bondage to the enemy if you are not alert enough and united enough. But the loss of dharma is an even greater calamity, for what is life worth if one cannot live up to the talents with which one is endowed? These principles are called eternal (sanatana) because their origins are not dated, their author is not identifiable; they are the revelations made in the clarified intellects of impartial sages. They are basic and eternal. They do not represent temporary vagaries. Dharma is not a matter of time and space, to be modified and adjusted to the needs and pressures of the moment. It means a number of fundamental principles that should guide mankind in its progress toward inner harmony and outer peace.

Seseorang yang menyimpang dari kebajikan (dharma) menemui bahaya yang lebih besar daripada bahkan dengan perbudakan fisik. Ada rona ketakutan dan tangisan sekarang tentang invansi dan perbudakan pada musuh jika engkau tidak cukup waspada dan bersatu. Namun kehilangan dharma adalah sebuah bencana yang lebih besar lagi, karena apakah hidup seseorang menjadi berguna jika seseorang tidak bisa hidup sesuai dengan bakat yang diberikan kepadanya? Prinsip-prinsip dharma ini disebut abadi (sanatana) karena asal usulnya adalah tidak ada tanggalnya, penyusunnya tidak dapat diidentifikasi; prinsip dharma ini adalah wahyu yang dibuat dalam kecerdasan yang jelas dan bersifat tidak memihak dari para guru suci. Prinsip dharma ini adalah mendasar dan kekal serta tidak mewakili tingkah laku yang aneh yang bersifat sementara. Dharma bukan soal ruang dan waktu, untuk bisa dimodifikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan serta tekanan pada waktu itu. Dharma berarti sejumlah prinsip mendasar yang seharusnya menuntun manusia dalam kemajuannya menuju pada keharmonisan batin dan kedamaian di luar. (Divine Discourse, Apr 1, 1963)


Friday, May 26, 2017

Thought for the Day - 26th May 2017 (Friday)

Prahlada was immersed in the thought of his beloved Lord, when he was thrown downhill, trampled by the elephant and tortured at the direction of his father. He paid no heed, for he heeded only his Lord; he needed only his Lord. The cowherd maidens lost all attachment to the world and to the senses when they listened to Krishna’s flute; they yearned for the sublime spiritual merger with the infinite Lord. By the purification of impulses, one gets into the higher stage where the mystery of the Divine is grasped — this is the realm-of-spirituality (salokya) stage. Then by contemplation of the Divine, the stages of proximity to Divinity (Sameepyam) and likeness of the form of Divinity (Sarupyam), are won. Many great mystic poets like Jayadeva attained this height and sang in that strain. But if you sing that song in the same way, Krishna will not appear. He wants sincerity, not imitation.

Prahlada tenggelam dalam memikirkan Tuhan yang disayanginya, ketika ia dilempar dari atas bukit, diinjak-injak oleh gajah dan disiksa atas perintah ayahnya. Prahlada tidak memperdulikannya karena ia hanya peduli pada Tuhannya, ia hanya memerlukan Tuhannya saja. Para gadis pengembala sapi kehilangan semua keterikatannya pada duniawi serta pada indria ketika mereka mendengarkan alunan seruling Krishna; mereka merindukan untuk menyatu dalam spiritual yang luhur dengan Tuhan yang tidak terbatas. Dengan pemurnian dari dorongan hati, seseorang bisa masuk pada tahap yang lebih tinggi ketika misteri Tuhan dipahami — ini adalah tahap alam spiritual (salokya). Kemudian dengan kontemplasi pada Tuhan, dilanjutkan dengan tahap kedekatan pada Tuhan (Sameepyam) dan persamaan wujud Tuhan (Sarupyam), dapat diraih. Banyak pujangga yang hebat seperti Jayadeva mencapai ketinggian ini dan bernyanyi dalam alunan itu. Namun jika engkau melantunkan lagu itu dengan cara yang sama, Krishna tidak akan muncul. Karena Krishna menginginkan ketulusan dan bukan imitasi. (Divine Discourse, March 1963)


Thursday, May 25, 2017

Thought for the Day - 25th May 2017 (Thursday)

The passionate and ignorant (Rajasic and Tamasic) forces besieging your heart are bent on your downfall. Just as they give calcium and vitamin tablets to cure anaemia, take Repetition-of-the-Name tablets to get rid of mental anaemia and other illnesses. The Lord’s Name is the Narasimha for the Hiranyakasipu of the mind (the Avatar Narasimha slew the evil Hiranyakasipu). There are some throat pastilles or lozenges, which you have to keep in your mouth and swallow slowly in order to relieve a cough; similarly, keep the Lord’s Name on your tongue and imbibe its taste slowly to get rid of the troublesome upsurge of passions and emotions. Keep the Name lit on the tongue; it will illumine your interior and also the exterior. It will cleanse your mind as well as minds of those who listen to the Name when you recite it. Keeping it on the tongue is like keeping a lamp lit on the entrance doorstep of your house.

Kekuatan yang penuh gairah dan kedunguan (Rajasik dan Tamasik) mengepung hatimu akan membawa pada kejatuhanmu. Sama seperti mereka memberikan tablet kalsium dan vitamin untuk menyembuhkan anemia, ambillah tablet pengulangan nama Tuhan untuk menghilangkan anemia batin dan penyakit lainnya. Nama Tuhan adalah Narasimha bagi Hiranyakasipu dari pikiran (Avatar Narasimha menghancurkan Hiranyakasipu yang jahat). Ada beberapa permen pelega tenggorokan yang harus engkau simpan di dalam mulutmu dan menelannya secara perlahan-lahan untuk meredakan batuk; sama halnya, jaga nama Tuhan agar tetap di lidahmu dan rasakan rasanya secara perlahan untuk menghilangkan gangguan gairah nafsu dan emosi. Tetap jaga nama Tuhan menerangi lidah dan cahayanya akan menerangi di dalam batin dan juga luar dirimu. Ini akan membersihkan pikiranmu sama halnya dengan pikiran mereka yang mendengarkan nama Tuhan ketika engkau mengulang-ulang-Nya. Dengan tetap menjaga nama Tuhan di lidah adalah seperti halnya tetap menjaga cahaya lampu di pintu masuk rumahmu. (Divine Discourse, Apr 29, 1963)


Thought for the Day - 24th May 2017 (Wednesday)

Do not grieve that the Lord is testing you and putting you through the ordeal of undergoing the tests, for it is only when you are tested that you can assure yourself of success or become aware of your limitations. You can then concentrate on the subjects in which you are deficient and pay more intensive attention, so that you can pass in them too when you are tested again. Don’t study for the examination at the last moment; study well in advance and be ready with the necessary essential knowledge and with the courage and confidence born out of the well-acquired knowledge and skill. What you have studied well in advance must be rolled over and over in the mind, just previous to the examination; that is all that should be done. This is the pathway to victory.

Jangan bersedih hati ketika Tuhan mengujimu dan menempatkanmu dalam percobaan untuk menjalani ujian, karena hanya ketika engkau diuji maka engkau dapat memastikan dirimu sendiri pada keberhasilan atau menjadi sadar akan keterbatasanmu. Engkau kemudian dapat berkonsentrasi pada bagian dimana engkau kurang dan memberikan perhatian lebih sehingga engkau dapat lulus dari ujian ketika engkau diuji kembali. Jangan belajar untuk ujian pada saat-saat terakhir; belajarlah dengan baik di awal dan jadilah siap dengan pengetahun penting yang diperlukan dan dengan keberanian dan keyakinan lahir dari pengetahuan dan keahlian yang dipersiapkan dengan baik. Apa yang engkau pelajari dengan baik sebelumnya harus terus dingat dalam pikiran, sesaat sebelum ujian; itulah yang seharusnya dilakukan. Ini adalah jalan menuju kemenangan. (Shivaratri Discourse, Mar 1963)


Tuesday, May 23, 2017

Thought for the Day - 23rd May 2017 (Tuesday)

The greatest disease is the absence of peace. When the mind is peaceful, your body will be healthy. So everyone who craves for good health must pay attention to their emotions, feelings, and motives that animates them. Just as you wash clothes, you must wash your mind free from dirt every day. To cleanse your mind you should mix in good company and avoid dirt elements like falsehood, injustice, indiscipline, cruelty, hate, etc. Truth, righteousness, peace, love - these form the clean elements. If you inhale the pure air of clean elements, your mind will be free from evil viruses and bacilli, and you will be mentally sturdy and physically strong. As Swami Vivekananda said, you should have nerves of steel and muscles of iron. You must brim in hope and joy as your unshakable resolution, not display despair and dejection.

Penyakit yang paling berbahaya adalah tidak adanya kedamaian. Ketika pikiran penuh kedamaian, tubuhmu akan sehat. Jadi, setiap orang yang mencari kesehatan yang baik harus memperhatikan emosi, perasaan dan niat yang menjiwai mereka. Sama halnya engkau mencuci baju maka engkau harus mencuci pikiranmu bebas dari kotoran setiap harinya. Untuk membersihkan pikiranmu, engkau harus bergaul dalam pergaulan yang baik dan menjauhi unsur-unsur kotoran seperti kebohongan, tanpa disiplin, ketidakadilan, kekejaman, kebencian, dsb. Kebenaran, kebajikan, kedamaian, kasih – ini bentuk unsur-unsur yang bersih. Jika engkau menghirup nafas dari unsur yang bersih, pikiranmu akan bebas dari virus dan bakteri jahat, dan engkau akan memiliki mental dan fisik yang kuat. Seperti yang Swami Vivekananda katakan, engkau seharusnya memiliki syaraf baja dan otot besi. Engkau harus penuh dengan harapan dan suka cita sebagai ketetapan hatimu yang mantap, tidak memperlihatkan rasa putus asa dan keputusasaan. (Divine Discourse, Sep 21, 1960)


Monday, May 22, 2017

Thought for the Day - 22nd May 2017 (Monday)

Many of you grieve: “It is said that getting the audience of a holy person is destruction of sin (darshanam papa nashanam). Well, I have had darshan not once but many times, and yet, my evil fate has not left me and I am suffering even more than before!” True, you may have come and had darshan, and have sowed fresh seeds secured from the holy places — seeds of love, faith, devotion, good company, godly thoughts, remembering God’s name, etc.; and you have learnt the art of intensive cultivation and soil preparation. You have now carefully sown the seeds in well-prepared fields of cleansed hearts. Now, until the new harvest, when the fresh produce comes in, don’t you have to consume the grain already stored in previous harvests? The troubles and anxieties you experience now are the crop collected in your previous harvests, so do not grieve and lose heart!

Banyak dari dirimu yang bersedih : “Dikatakan bahwa bergaul dengan orang-orang yang suci adalah menghancurkan dosa (darshanam papa nashanam). Saya telah mendapatkan tidak hanya sekali namun banyak sekali darshan, namun kualitas buruk dalam diri saya tidak hilang dalam diri saya dan saya sedang mengalami penderitaan bahkan lebih dari sebelumnya!” Benar, engkau mungkin telah datang dan mendapatkan darshan, dan menabur benih segar dari tempat suci — benih-benih kasih, keyakinan, bhakti, pergaulan yang baik, pikiran yang baik, mengingat nama Tuhan, dsb. Dan engkau mungkin telah belajar seni budidaya yang intensif dan persiapan lahan. Sekarang engkau harus hati-hati menabur benih-benih itu pada lahan hati yang telah dipersiapkan dengan baik. Sampai panen baru terjadi, ketika hasil bumi baru masuk, bukankah engkau harus menikmati beras yang telah disimpan dari hasil panen sebelumnya? Masalah dan kecemasan yang engkau alami sekarang adalah panen yang dikumpulkan dari produksi sebelumnya, jadi jangan bersedih hati dan kehilangan harapan! (Shivaratri Discourse, Mar 1963)


Sunday, May 21, 2017

Thought for the Day - 21st May 2017 (Sunday)

Life is not gifted to you to enjoy food and become fat yourself. The body is the basic instrument for the practice of righteousness (Dharma). Give food to the starving. Dedicate your entire time to service and for the proper discharge of your duties. God is omnipresent; He is everywhere and within you. You are Divine! You must develop the spirit of sacrifice (tyaga). You must serve others through your body and cherish good and noble thoughts in your mind. You must use your wealth for supporting educational and service institutions to help the people. This is the way to lead a purposeful and sublime life. God alone can transform your spiritual efforts into a transcendental experience. Ensure your spiritual practices (Sadhana) are not for any selfish reason. It must promote the good of others. Give up selfishness, cultivate selfless love for others, and thus sanctify your lives. Then you will experience Sakshatkara, the vision of the Divine, from within you.

Hidup tidak diberikan kepadamu untuk menikmati makanan dan menjadi gemuk. Tubuh adalah alat atau sarana yang mendasar untuk menjalankan kebajikan (Dharma). Memberikan makanan pada yang kelaparan. Dedikasikan seluruh waktumu untuk melayani dan menjalankan kewajibanmu dengan benar. Tuhan bersifat ada dimana-mana; Tuhan ada dimana saja dan di dalam dirimu. Engkau adalah illahi! Engkau harus mengembangkan semangat pengorbanan (tyaga). Engkau harus melayani yang lain dengan tubuhmu dan menghargai gagasan yang baik dan mulia di dalam pikiranmu. Engkau harus menggunakan kekayaanmu untuk mendukung institusi pendidikan dan pelayanan untuk membantu manusia. Ini adalah cara untuk menjalani hidup yang berguna dan luhur. Hanya Tuhan yang dapat merubah usaha spiritualmu menjadi pengalaman transsendental. Pastikan latihan spiritualmu (Sadhana) bukan untuk kepentingan diri sendiri. Namun harus meningkatkan kebaikan yang lainnya. Lepaskan sifat mementingkan diri sendiri, tingkatkan kasih yang tulus untuk yang lainnya dan sucikan hidupmu. Kemudian engkau akan mengalami Sakshatkara, pandangan illahi dari dalam dirimu. (Divine Discourse, Jul 7, 1990)


Saturday, May 20, 2017

Thought for the Day - 20th May 2017 (Saturday)

You attach importance to quantity, but the Lord considers only quality. He does not calculate how many measures of ‘sweet rice’ you offered but how many sweet words you uttered, how much sweetness you added in your thoughts. Offer Him the fragrant leaf of devotion, the flowers of your emotions and impulses, freed from the pests of lust, anger, etc. Give Him fruits grown in the orchard of your mind, sour or sweet, juicy or dry, bitter or sugary. Once you decide that the orchard in your mind is His, all fruits will naturally be sweet! The very act of your seeking refuge and protection (sharanagati) will render them acceptable to the Lord, so they cannot be bitter. And for water, what can be purer and more precious than your tears shed not in grief, but in rapture at the chance to serve the Lord and to walk along the path that leads to Him!

Engkau terikat serta mementingkan pada jumlah (kuantitas), namun Tuhan hanya mempertimbangkan kualitas. Tuhan tidak menghitung serta mengukur berapa banyak ‘nasi manis’ yang engkau berikan namun berapa banyak perkataan manis yang engkau ucapkan dan berapa banyak rasa manis yang engkau tambahkan dalam pikiranmu. Persembahkan kepada Tuhan daun yang harum dari bhaktimu, bunga dari emosi dan dorongan hati, yang bebas dari hama nafsu, amarah, dsb. Berikan kepada Tuhan buah yang tumbuh di kebun buah pikiranmu, masam atau manis, banyak air atau kering, pahit atau manis. Sekali engkau memutuskan bahwa kebun bunga di dalam pikiranmu adalah milik-Nya, semua buah yang ada secara alami akan menjadi manis! Setiap tindakanmu dalam mencari perlindungan (sharanagati) akan dapat diterima oleh Tuhan, jadi tindakanmu itu tidak akan menjadi pahit. Dan untuk air, apa yang bisa lebih murni dan lebih berharga daripada air matamu yang tercurah bukan dalam kesedihan, namun dalam mengambil kesempatan untuk melayani Tuhan dan berjalan sepanjang jalan yang menuntun kepada-Nya! (Divine Discourse, Feb 8, 1963)


Friday, May 19, 2017

Thought for the Day - 19th May 2017 (Friday)

All the five elements have been created by the will of the Supreme. They must be used with reverential care and vigilant discrimination. Reckless use of any of them will only rebound on you with tremendous harm. Nature outside must be handled with discretion, caution and awe. It is the same with our inner ‘nature’ and internal instruments too! Of these, two are capable of vast harm - the tongue and one’s lust. Since lust is aroused and inflamed by the food consumed and the drink taken in, the tongue needs greater attention. While your eye, ear and nose have single uses, the tongue makes itself available for two purposes: to judge taste and to utter word - symbols of communication. You must control the tongue with double care, since it can harm you in two ways. Sage Patanjali, the author of Yoga Sutras has declared that when tongue is conquered, victory is yours!

Semua kelima unsur telah diciptakan oleh kehendak yang Maha Agung. Kelima unsur itu harus digunakan dengan hormat dan diskriminasi yang teliti. Penggunaan secara sembarangan dari kelima unsur ini hanya akan memantul kepadamu dengan kerusakan yang sangat hebat sekali. Alam yang ada di luar harus diperlakukan dengan kebijaksanaan, hati-hati dan perasaan takjub. Adalah sama dengan alam batin dan juga sarana batin! Dalam keduanya ini, ada dua yang bisa memberikan penderitaan yang besar – lidah dan nafsu seseorang. Karena nafsu dibangkitkan oleh makanan serta minuman yang dikonsumsi, lidah memerlukan perhatian yang lebih besar. Ketika mata, telinga dan hidungmu hanya memiliki satu kegunaan saja, lidah menjadikan dirinya memiliki dua tujuan: untuk menilai rasa dan mengucapkan kata-kata – simbol komunikasi. Engkau harus mengendalikan lidah dengan perhatian ganda, karena lidah dapat menyakitimu dengan dua cara. Reshi Patanjali, penyusun dari Yoga Sutra telah menyatakan bahwa ketika lidah ditaklukkan maka kemenangan adalah millikmu! (Divine Discourse, Nov 23, 1968)


Thought for the Day - 18th May 2017 (Thursday)

Good and bad, wealth and poverty, praise and blame go together in this world. You cannot derive happiness out of happiness (na sukhat labhate sukham). Happiness comes only out of sorrow. A wealthy man today may become a pauper tomorrow. Similarly, a pauper may become a rich man some day or other. Today you are being praised, but tomorrow you may be criticised. To consider praise and blame, happiness and sorrow, prosperity and adversity with equal-mindedness is the hallmark of a true human being. The Gita declares, “Remain equal-minded in happiness and sorrow, gain and loss, victory and defeat (sukha dukhe same kritva labhalabhau jayajayau). You can truly enjoy your life as a human being only when you consider both sorrow and happiness, profit and loss with equanimity. There is no value for happiness without sorrow. Therefore, welcome sorrow if you want to experience real happiness.

Baik dan buruk, kekayaan dan kemiskinan, pujian dan celaan berjalan bersama di dunia ini. Engkau tidak bisa mendapatkan kebahagiaan dari kebahagiaan (na sukhat labhate sukham). Kebahagiaan hanya datang dari penderitaan. Seseorang yang kaya hari ini mungkin menjadi miskin esok hari. Sama halnya, seseorang yang miskin mungkin menjadi orang kaya suatu hari nanti. Hari ini engkau sedang dipuji, namun besok engkau mungkin dikritik. Menganggap pujian dan celaan, kebahagiaan dan penderitaan, kesejahteraan dan kemalangan dengan pikiran yang seimbang adalah tanda dari manusia yang sejati. Bhagavad Gita menyatakan, “Dengan tetap tenang dalam kebahagiaan dan penderitaan, keuntungan dan kehilangan, kemenangan dan kekalahan (sukha dukhe same kritva labhalabhau jayajayau). Engkau sejatinya dapat menikmati hidupmu sebagai manusia hanya ketika engkau menganggap keduanya yaitu penderitaan dan kebahagiaan, keuntungan dan kerugian dengan ketenangan hati. Tidak ada nilai dari kebahagiaan tanpa adanya penderitaan. Maka dari itu, sambutlah penderitaan jika engkau ingin mengalami kebahagiaan yang sejati. (Divine Discourse, Jul 9, 1996)


Wednesday, May 17, 2017

Thought for the Day - 17th May 2017 (Wednesday)

Unbelief is the insidious disease that is now rampant amongst people. It sets fire to the tiny shoots of faith and reduces life to cinders and ashes. You have no criterion to judge, yet you pretend to judge. Doubt, anger, poison, illness — all these must be destroyed before they grow. Repeat Rama’s name, whether you have faith or not. That will itself induce faith and create the evidence on which faith can be built. In addition, if you aspire to be a devotee, you must eschew attachment and aversion. You should not be proud if you sing well or decorate your worship room tastefully. There must be a steady improvement in your habits and attitudes; otherwise, spiritual discipline is a vain pastime. Your homes must be immersed in the highest peace (shanti) — undisturbed by any streak of hatred, malice, pride, or envy. No worship or penance can equal the efficacy of obedience, obedience to the command given for your liberation.

Ketidakpercayaan adalah penyakit yang berbahaya dan merajalela di kalangan manusia. Ketidakpercayaan ini memantik api pada tunas kecil keyakinan dan menjadikannya bara api dan abu. Engkau tidak memiliki standar untuk menilai namun engkau berpura-pura menilai. Keraguan, kemarahan, racun, penyakit — semuanya ini harus dihancurkan sebelum semuanya ini tumbuh. Lakukan pengulangan nama Rama, apakah engkau memiliki keyakinan atau tidak. Hal itu sendiri akan meningkatkan dan menciptakan petunjuk tentang keyakinan yang mana yang dapat dibangun. Sebagai tambahan, jika engkau berminat menjadi seorang bhakta, engkau harus menjauhkan diri dari keterikatan dan kebencian. Engkau seharusnya tidak merasa bangga jika engkau menyanyi dengan bagus atau menghias ruang pujamu dengan indah. Harus ada peningkatan yang teratur dalam kebiasaan dan sikapmu; jika tidak, disiplin spiritual adalah sebuah hiburan yang sia-sia. Rumahmu harus diliputi dengan kedamaian (shanti) yang tertinggi  — tidak diganggu oleh berbagai unsur kebencian, kedengkian, kesombongan atau iri hati. Tidak ada pemujaan atau penebusan dosa yang sama dengan keampuhan dari ketaatan pada perintah yang diberikan untuk kebebasanmu. (Divine Discourse, Feb 8,1963)


Tuesday, May 16, 2017

Thought for the Day - 16th May 2017 (Tuesday)

The word surrender has been misinterpreted and people promote idleness in the name of surrender. We think that we have surrendered our mind and body to the Lord. Your mind is not under your own control, how then can you hold it and give it to the Lord? You have no control over your own body too. So to say that you have surrendered your mind and body to the Lord is untrue! The flute is a very good example of an instrument close to the Lord and the one great quality in the flute is its complete surrender. There is nothing left inside the flute – it has no residual desires and is completely hollow. Like the flute has nine holes, our body also has nine holes. If we successfully remove the pulp of desire from our body, then there is no doubt that our body-flute will also become nearer and dearer to the Lord.

Kata berserah diri telah disalahartikan dan orang-orang meningkatkan kemalasan atas nama berserah diri. Kita berpikir bahwa kita telah menyerahkan pikiran dan tubuh kita kepada Tuhan. Pikiranmu tidak ada dibawah kendalimu, lantas bagaimana engkau dapat memegangnya dan mempersembahkannya kepada Tuhan? Engkau tidak memiliki pengendalian atas tubuhmu juga. Jadi dengan mengatakan bahwa engkau telah menyerahkan pikiran dan tubuhmu kepada Tuhan adalah tidak benar! Seruling adalah contoh yang sangat bagus sebagai sebuah alat yang dekat dengan Tuhan dan salah satu kualitas yang hebat dari seruling adalah berserah diri sepenuhnya. Tidak ada yang tersisa di dalam seruling – tidak ada keinginan yang ditinggalkan dan sepenuhnya berlubang. Seperti halnya seruling dengan sembilan lubang, tubuh kita juga memiliki sembilan lubang. Jika kita dengan berhasil menghilangkan ampas keinginan dari tubuh kita, maka kemudian tidak ada keraguan lagi bahwa seruling tubuh kita juga akan menjadi dekat dan disayang oleh Tuhan. (Summer Showers in Brindavan 1974, Vol 1, Ch 3)


Thought for the Day - 15th May 2017 (Monday)

Everyone must be interested in knowing about the experiences of ideal ones who struggled to arrive at the Truth; for all should have an ideal to strive for, a goal to be reached. For saplings to grow, soil is essential; for ideals to get implanted, knowledge of the struggles and successes of saints and sages is essential. These experiences are not uniform; each spiritual aspirant has a different story to tell, depending upon their equipment and enthusiasm. So the vision and the glory are different, though all are divine. Take the case of Sage Agastya. He is reported to have drunk the ocean completely in one sip. The real meaning of this is, he dried up the ocean of the objective world (samsara), with its waves of grief and joy, prosperity and adversity, success and failure. ‘Drinking the ocean’ is not a special feat; it is a parable explaining that though he was a married man with a son, he conquered all attachments of the world.

Setiaap orang pasti tertarik untuk mengetahui pengalaman seseorang yang ideal yang berjuang untuk sampai pada kebenaran; karena semuanya harus memiliki ideal yang harus diperjuangkan, sebuah tujuan yang diraih. Untuk tunas pohon bisa tumbuh maka tanah adalah mendasar; untuk ideal bisa ditanam, pengetahuan dalam perjuangan dan keberhasilan guru suci adalah mendasar. Pengalaman-pengalaman mereka tidaklah sama; setiap peminat spiritual memiliki cerita berbeda yang diceritakan, tergantung pada perlengkapan dan semangat mereka. Jadi visi dan kemuliaannya adalah berbeda, walaupun semuanya adalah illahi. Ambillah contoh Rishi Agastya. Beliau dikisahkan pernah meminum lautan dalam sekali tegukan. Makna yang sejati dari hal ini adalah, beliau mengeringkan lautan dunia objektif (samsara), dengan gelombangnya adalah kesedihan dan suka cita, kesejahteraan dan kemalangan, keberhasilan dan kegagalan. ‘Meminum lautan’ bukanlah sebuah perbuatan yang spesial; ini adalah sebuah perumpamaan menjelaskan bahwa walaupun beliau adalah berumah tangga dengan seorang putra, beliau dapat menaklukkan semua keterikatan pada dunia. (Divine Discourse, Feb 8, 1963)


Sunday, May 14, 2017

Thought for the Day - 14th May 2017 (Sunday)

Devote your time to the service of the world with faith in the Lord, regardless of its fruits. Then you become blessed. Otherwise though the body may be inactive, the mind will be very busy, committing acts on its own. People with such minds fall prey to karma (consequences) in spite of their not doing anything! When a person has the mind fixed on contemplation of God and the pursuit of truth, though the body and senses do acts that are of service to the world, they won’t be affected by them; though they do actions they are still non-doers of action. This is the lesson from Bhagavad Gita. The heart of the person who doesn’t strive to cultivate the mind with holy thoughts is certain to be the paradise of evil and wickedness. Everyone who hopes to rise to greatness, who seeks one-pointedness and aspires for salvation must bear this in mind.

Persembahkan waktumu untuk pelayanan pada dunia dengan keyakinan kepada Tuhan dan tanpa mengharapkan hasilnya. Kemudian engkau menjadi terberkati. Kalau tidak, tubuh mungkin tidak aktif namun pikiran akan sangat sibuk melakukan perbuatannya sendiri. Orang-orang dengan pikiran seperti itu akan menjadi mangsa dari karma (konsekuensi) sekalipun tidak melakukan apa-apa! Ketika seseorang memiliki pikiran terpatri kepada Tuhan dan dalam pengejaran kebenaran, walalupun tubuh dan indria melakukan perbuatan pelayanan pada dunia, maka tubuh dan pikiran tidak akan terpengaruh oleh dunia; walaupun mereka melakukan perbuatan namun mereka bukanlah sebagai pelakunya. Ini adalah pelajaran dari Bhagavad Gita. Hati seseorang yang tidak berusaha untuk meningkatkan pikiran dengan ide atau gagasan yang suci dipastikan menjadi surga bagi kejahatan. Setiap orang yang berharap untuk bangkit menuju kebesaran, yang mencari keterpusatan dan keinginan untuk keselamatan harus mengingat hal ini di dalam pikiran. (Prema Vahini, Ch 72)


Thought for the Day - 13th May 2017 (Saturday)

The Lord is attained only through supreme devotion (para-bhakthi). Supreme devotion can be acquired only through spiritual wisdom (jnana). Spiritual wisdom can be cultivated only through faith (shraddha), and faith comes only through love. So how is love to be cultivated? Through two methods: (1) Always consider the faults of others, however big, to be insignificant and negligible. Always consider your own faults, however insignificant and negligible, to be big, and feel sad and repentant. By these means, you avoid developing bigger faults and defects, and acquire the qualities of brotherliness and forbearance. (2) Whatever you do, do it remembering that God is omnipresent. He sees, hears and knows everything. Discriminate between the true and the false, and speak only the truth. Discriminate between right and wrong, and do only the right. Endeavour every moment to be aware of the omnipotence of God.

Tuhan hanya dapat dicapai melalui bhakti yang tertinggi (para-bhakthi). Bhakti yang tertinggi hanya dapat didapat melalui kebijaksanaan spiritual (jnana). Kebijaksanaan spiritual dapat ditingkatkan hanya melalui keyakinan (shraddha), dan keyakinan hanya datang melalui cinta kasih. Bagaimana cinta kasih ini bisa ditingkatkan? Melalui dua metode: (1) Selalu menganggap kesalahan orang lain, seberapapun besarnya menjadi tidak berarti dan sepele. Selalu menganggap kesalahanmu sendiri, seberapapun kecilnya atau sepele, menjadi besar dan merasa sedih dan menyesal. Dengan cara ini, engkau menghindari diri dari mengembangkan kesalahan dan cacat cela yang lebih besar, dan mendapatkan kualitas persaudaraan dan kesabaran. (2) Apapaun yang engkau lakukan, lakukanlah dengan mengingat bahwa Tuhan ada dimana-mana. Tuhan melihat, mendengar dan mengetahui segalanya. Bedakan diantara yang benar dan salah, berbicaralah hanya kebenaran. Bedakan dinatara yang benar dan salah, dan lakukan hanya yang benar saja. Berusahalah setiap saat untuk menyadari kemahakuasaan Tuhan. (Prema Vahini, Ch 19)


Thought for the Day - 12th May 2017 (Friday)

Gladly share your education and wealth with your fellow human beings. God is the real owner of the wealth you acquire. Remember, the money you earn belongs to God’s Trust. You are His Trustee and accordingly, make proper utilisation of your wealth. Do not hanker over money or other forms of wealth. Instead, constantly contemplate on God. You don’t have to go to caves or forests or ashrams in search of Him. Wherever you are, He is with you. Develop this faith and win over your demonic qualities. Do not forget that what ultimately comes with you is not your wealth or education, but the sin or merit you have accumulated through your actions. Share at least a morsel of what you eat with others. Never forget to practice selfless love and service. Help yourself and help others, this is indeed the greatest spiritual practice (sadhana). Without following these principles, there is no peace and joy, anywhere in the world!

Dengan senang hati bagilah pendidikan dan kekayaanmu dengan sesamamu. Tuhan adalah pemilik yang sebenarnya dari kekayaan yang engkau dapatkan. Ingatlah, uang yang engkau dapatkan adalah milik dari kepercayaan Tuhan. Engkau adalah yang dipercayakan oleh-Nya dan oleh karena itu gunakan kekayaan itu dengan benar. Jangan menginginkan uang berlebih atau bentuk kekayaan yang lainnya. Sebaliknya, secara tanpa henti merenungkan Tuhan. Engkau tidak perlu pergi ke dalam hutan atau gua atau ashram untuk mencari Tuhan. Dimanapun engkau berada, Tuhan ada bersamamu. Kembangkan keyakinan ini dan kuasai sifat jahatmu. Jangan lupa bahwa apa yang akhirnya datang padamu bukanlah kekayaan atau pendidikanmu, namun dosa atau kebaikan yang engkau kumpulkan melalui perbuatanmu. Bagikan setidaknya sepotong apa yang engkau makan dengan yang lainnya. Jangan pernah lupa untuk melatih cinta kasih yang tidak mementingkan diri sendiri dan pelayanan. Bantulah dirimu sendiri dan yang lain, ini sebenarnya adalah latihan spiritual (sadhana) yang paling hebat. Tanpa mengikuti prinsip ini, tidak akan ada kedamaian dan suka cita dimanapun di dunia! (Divine Discourse, Jan 1, 2004)


Thought for the Day - 11th May 2017 (Thursday)

You consider helping people in difficulties is service. No. It is not as simple as that. Your body should be constantly engaged in serving others. The human body consists of several limbs. All these limbs are meant to be engaged in serving your fellowmen and not for other activities. Unfortunately we are forgetting this basic fact. Every limb in the body has been granted by God for Karmopasana (worshipping God through service). Karmopasana is the only means by which the human life can be sanctified. We are building several temples. We are undertaking various spiritual practices. But all these sadhanas can give us only temporary satisfaction, not eternal joy. Our ancient sages have been able to achieve eternal joy through a conscious effort. Therefore, you must develop firm faith in the truth that nothing can provide eternal joy, except service to humanity. Undertake service to the suffering humanity. Service is not merely confined to health services. Service encompasses every possible help to fellow human beings.

Engkau menganggap bahwa membantu orang dalam kesulitan adalah pelayanan. Bukan, hal ini bukan sesederhana itu. Tubuhmu harus terus-menerus terlibat dalam melayani yang lainnya. Tubuh manusia terdiri dari beberapa anggota bagian tubuh. Semua bagian anggota tubuh adalah dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kepada sesamamu dan bukan untuk kegiatan yang lainnya. Sangat disayangkan bahwa kita melupakan kenyataan yang mendasar ini. Setiap bagian tubuh telah diberikan oleh Tuhan untuk Karmopasana (memuja Tuhan melalui pelayanan). Karmopasana adalah satu-satunya sarana dimana hidup manusia dapat disucikan. Kita sedang membangun beberapa tempat suci. Kita melakukan berbagai latihan spiritual. Namun semua latihan spiritual ini dapat memberikan kita hanya kepuasan sementara, dan bukan suka cita yang kekal. Para guru suci kita zaman dahulu telah mampu mencapai suka cita yang kekal melalui usaha sadar. Maka dari itu, engkau harus mengembangkan keyakinan yang mantap pada kebenaran bahwa tidak ada apapun yang dapat memberikan kita suka cita yang kekal, kecuali melayani umat manusia. Lakukan pelayanan pada mereka yang menderita. Pelayanan tidak hanya terbatas pada pelayanan kesehatan. Pelayanan meliputi setiap kemungkinan untuk membantu sesama manusia. (Divine Discourse, Jan 1, 2004)


Thursday, May 11, 2017

Thought for the Day - 10th May 2017 (Wednesday)

You are unnecessarily struggling and planning several schemes, thinking about them day and night. In spite of all your struggles, what has to go out of your hands will go. Divinity in all the human beings is one and the same. The body is like a water bubble. The mind is like a mad monkey. If you follow this mad monkey, you will get into trouble. In the same manner, if you believe in the body, you do not know when this body, which is like a water bubble, will burst. Nothing is permanent. Only the Divine Self (Atma) is eternal and immortal. ‘I’, ‘Self’, ‘God’ are all different names by which God, the Atmaswarupa is called. God incarnated as Rama, Krishna and the like, and underwent several difficulties to demonstrate great ideals. Finally, every one of them left their mortal coil. The physical bodies of the Avatars undergo changes, but the Divine Soul (Atma) in their bodies remains the same. It is omnipresent, eternal, changeless and transcends time.

Engkau tidak perlu berusaha keras dan merencanakan beberapa rencana dalam memikirkannya siang dan malam. Terlepas dari semua perjuanganmu, apa yang harus terlepas dari tanganmu akan pergi. Keillahian dalam semua manusia adalah satu dan sama. Tubuh adalah seperti gelembung air. Pikiran adalah seperti monyet liar. Jika engkau mengikuti monyet liar ini maka engkau akan mendapatkan masalah. Dalam hal yang sama, jika engkau percaya pada tubuh dan engkau tidak mengetahui kapan tubuh ini yang seperti gelembung air akan lenyap. Tidak ada yang bersifat kekal. Hanya diri yang sejati (Atma) adalah kekal dan abadi. ‘Aku’, ‘Diri sejati’, ‘Tuhan’ adalah semua nama berbeda dari Tuhan yang disebut dengan Atmaswarupa. Tuhan mengambil inkarnasi sebagai Rama, Krishna, dan sejenisnya, serta mengalami beberapa kesulitan untuk menunjukkan ideal yang sungguh luar biasa. Pada akhirnya, setiap orang dari inkarnasi ini meninggalkan badan fisik-Nya. Badan fisik dari Awatara mengalami perubahan, namun jiwa yang illahi (Atma) yang ada di dalam tubuh mereka tetap sama yang bersifat ada dimana-mana, kekal, tidak berubah, dan melampaui waktu. (Divine Discourse, Jan 1, 2009)


Thought for the Day - 9th May 2017 (Tuesday)

It is indeed foolishness to single out a particular day in a year and celebrate only that day with great joy. Everything in this objective world is impermanent and unreal. Hence we must contemplate on the eternal truth and reality. We should not waste our time brooding over the past or anticipating the future. It is great foolishness to worry about the future or the past, forgetting the present. The present is only real. Past is past, you cannot get it back, however much you pray for it. The future is hidden in the womb of time. Unable to internalise this truth, people worry about past and future. Hence, from now, give importance to the present. It is important that you consider every minute of your every day and celebrate it with new joy! Indeed, for a true devotee, every day is new; every day is a festival day!

Merupakan kebodohan dengan mengambil satu hari tertentu dalam satu tahun dan merayakan pada hari itu dengan penuh suka cita. Segala sesuatu di dunia ini adalah bersifat tidak kekal dan tidak nyata. Oleh karena itu kita harus memusatkan pikiran pada kebenaran yang kekal dan sejati. Kita seharusnya tidak menyia-nyiakan waktu kita untuk memikirkan masa lalu atau memikirkan masa depan. Sungguh merupakan kebodohan dengan cemas tentang masa depan dan masa lalu namun melupakan masa sekarang. Masa sekarang yang nyata. Masa lalu sudah berlalu, dan engkau tidak bisa mendapatkannya kembali, bagaimanapun besarnya engkau berdoa untuk mendapatkannya. Masa depan disembunyikan dalam rahim waktu. Karena tidak mampu menyadari kebenaran ini, orang-orang cemas dengan masa lalu dan juga masa depan. Oleh karena itu, mulai dari sekarang, berikan perhatian pada masa sekarang. Adalah penting bahwa engkau menganggap setiap menit dari harianmu dan merayakannya dengan suka cita yang baru! Sejatinya, untuk bhakta yang sejati, setiap hari adalah baru; setiap hari adalah perayaan! (Divine Discourse, Jan 01, 2004)


Monday, May 8, 2017

Thought for the Day - 8th May 2017 (Monday)

You should realise that for every action there is a consequence. The results of each action depend on the nature of the action, just as the nature of the tree depends on the seed which is sowed. The consequences of one’s actions are inescapable and it is for this reason that the Emperor Manu laid down that all should observe righteousness (Dharma). The consequences of actions may appear sooner or later but they are bound to occur. When you constantly think of God and perform all actions with divine feelings, you will experience the full blossoming of the human qualities. You cannot avoid actions. You must transform work into worship. You have to perform work in this spirit. You cannot substitute prayer for work. You have to combine both work and worship. Hence from now on, consider your every action as dedicated to God.

Engkau harus menyadari bahwa untuk setiap perbuatan maka akan ada konsekuensinya. Hasil dari setiap perbuatan tergantung dari  sifat dasar dari perbuatannya, seperti halnya sifat dasar dari pohon tergantung dari benih yang di tabur. Konsekuensi dari perbuatan seseorang adalah tidak dapat dielakkan dan karena alasan ini Maharaja Manu menentukan bahwa semuanya harus menjalani kebajikan (Dharma). Konsekuensi dari perbuatan bisa muncul cepat atau lambat namun pasti akan terjadi. Ketika engkau secara terus menerus memikirkan Tuhan dan menjalankan semua perbuatan dengan perasaan kasih Tuhan maka engkau akan mengalami sepenuhnya mekarnya sifat-sifat kemanusiaan. Engkau tidak bisa menghindari perbuatan. Engkau harus melakukan kerja dalam semangat ini. Engkau tidak bisa mengganti doa untuk kerja. Engkau harus menggabungkan keduanya baik doa dan kerja dan juga ibadah. Oleh karena itu dari saat sekarang, pastikan setiap perbuatanmu didedikasikan kepada Tuhan. (Divine Discourse, Aug 31, 1992)


Thought for the Day - 7th May 2017 (Sunday)

Develop the quality of love. Do not hate anyone. Develop the faith that whatever happens to you is good for you. Think that whenever you encounter any difficulty or suffering, you alone are responsible for it. On the other hand, if you insult anyone knowingly or unknowingly, that someone else may punish you some day. Pleasure and pain are the products of your own making. The merit or sin you commit, follows you like a shadow always. Many today give sermons to others, without they themselves following what they advice. What value will your advice have? Whenever you read or listen to a noble thought, it is of no value to you until you practice it assiduously. Help your fellow human beings at least in a small measure. You will be helped in return when you need it most. Never blame others for the difficulties you face. Never abuse anyone. Love all and treat everyone as your brothers and sisters.

Kembangkanlah kualitas cinta kasih. Jangan membenci siapapun juga. Kembangkan keyakinan bahwa apapun yang terjadi pada dirimu adalah baik untukmu. Pikirkan bahwa kapanpun engkau mengalami kesulitan atau penderitaan, engkau sendiri yang bertanggung jawab pada hal itu. Sebaliknya, jika engkau menghina siapapun juga secara sengaja maupun tidak sengaja, maka orang lain akan menghukummu suatu saat nanti. Kesenangan dan penderitaan adalah hasil dari kegiatanmu. Kebaikan atau dosa yang engkau lakukan, mengikutimu selalu seperti halnya bayangan. Banyak orang sekarang memberikan ceramah pada orang lain, tanpa mereka menjalankan nasihat itu bagi dirinya sendiri. Lantas, apa nilai yang dimiliki nasihat yang diberikan? Kapanpun engkau membaca atau menulis sebuah pikiran yang mulia, maka hal ini tidak akan ada gunanya kecuali engkau menjalankannya dengan tekun. Bantulah sesamamu setidaknya dalam ukuran yang kecil. Engkau akan dibantu kembali ketika engkau benar-benar memerlukan bantuan. Jangan pernah menyalahkan yang lain atas kesulitan yang engkau hadapi. Jangan pernah bersikap kasar kepada siapapun juga. Kasihi semuanya dan perlakukan setiap orang sebagai saudara dan saudarimu. (Divine Discourse, Jan 01, 2004)


Thought for the Day - 6th May 2017 (Saturday)

There are many noble mothers in this world. But Mother Easwaramma was the chosen one. I chose her to be My mother! As Sai’s glory began to spread far and wide, she came to Me one day and said, “Swami, I am pained to see small children of our village walking all the way to Bukkapatnam to attend school. Please construct a small school.” Conforming to her wish, I established a small school. After some time, she wanted a small hospital also to be established here. She said she could not bear to see the mothers taking the trouble of carrying their children to Bukkapatnam for medical treatment. Accordingly I got a small hospital built. The small school that I established has become a big university today. The small hospital that I constructed has become a Super Specialty Hospital. These mighty tasks could be accomplished as a result of the Sathya Sankalpa (genuine noble wish) of Mother Easwaramma and Nitya Sankalpa (Eternal Divine Will) of Sai.

Ada banyak ibu yang mulia di dunia ini. Namun Ibu Easwaramma adalah yang terpilih. Aku memilihnya untuk menjadi ibu-Ku! Ketika kemuliaan Sai mulai tersebar ke seluruh dunia, beliau datang kepada-Ku pada suatu hari dan berkata, “Swami, ibu merasakan kesedihan melihat anak-anak kecil di desa kita berjalan jauh ke Bukkapatnam untuk bisa bersekolah. Tolong bangunlah sebuah sekolah kecil.” Mengabulkan permintaannya, Aku mendirikan sebuah sekolah kecil. Setelah beberapa waktu, beliau menginginkan rumah sakit kecil juga agar dibangun disini. Beliau berkata bahwa beliau tidak bisa tahan melihat para ibu susah payah untuk membawa anak-anaknya ke Bukkapatnam untuk mendapatkan pengobatan. Sesuai dengan permintaannya maka Aku membangun rumah sakit kecil. Sekolah kecil yang Aku bangun telah menjadi universitas yang besar saat sekarang. Rumah sakit kecil yang Aku bangun telah menjadi rumah sakit super spesial. Semuanya ini bisa terjadi hanya karena adanya Sathya Sankalpa (harapan yang murni serta mulia) dari Ibu Easwaramma dan Nitya Sankalpa (kehendak Tuhan yang kekal) dari Sai. (Divine Discourse, May 6 2001)


Thought for the Day - 5th May 2017 (Friday)

Mother is not just an ordinary woman; she is verily God. Scriptures give mothers an exalted position in the Universe. Worship her and attain her grace. Once you have the blessings of your mother, you can achieve anything in this world. Never disobey or displease her. Never cause displeasure to your mother. Never hurt her feelings. Then God will help you in all your endeavours. Even today, there is no dearth of noble mothers. They feel pained to see their children straying away from the right path. They leave no stone unturned to correct them. A woman’s prayer is more powerful than a thousand prayers of men because women are pure and tender-hearted. Never look down upon women. Treat all elderly women as your mother and the younger ones as your sisters. The world will remain safe and secure only when men have such noble feelings.

Ibu bukanlah wanita biasa; ibu sejatinya adalah Tuhan. Naskah suci memberikan ibu pada sebuah tempat yang mengagungkan di alam semesta ini. Muliakan ibu dan dapatkan restunya. Sekali engkau memiliki restu dari ibumu, engkau dapat mencapai apapun juga di dunia ini. Jangan pernah tidak mematuhi atau membuat ibumu tidak bahagia. Jangan pernah menyebabkan perasaannya tersinggung. Jangan pernah menyakiti perasaannya. Kemudian Tuhan akan menolongmu dalam setiap usaha yang engkau lakukan. Bahkan saat sekarang, tidak ada kekurangan pada ibu yang mulia. Mereka merasa sedih melihat anak-anak mereka menyimpang dari jalan kebenaran. Mereka berusaha keras untuk memperbaiki anak-anaknya. Doa seorang wanita adalah lebih ampuh daripada doa dari ribuan pria karena wanita adalah suci dan berhati lembut. Jangan pernah memandang rendah wanita. Perlakukan semua wanita yang lebih tua sebagai ibumu dan yang lebih muda sebagai adikmu. Dunia akan menjadi aman dan terkendali hanya ketika laki-laki memiliki perasaan yang luhur ini.  (Divine Discourse, May 6 2001)


Thursday, May 4, 2017

Thought for the Day - 4th May 2017 (Thursday)

The more you grind the sandalwood, the more it yields sandal paste. The more you crush the sugarcane, the more it yields sweet juice. As the gold is heated more and more, it becomes purer and shines with added brilliance. Likewise, the good qualities in a noble person blossom more and more as one passes through the vicissitudes of life. Embodiments of Love! The difficulties of life do not cause any hindrance to a person pursuing a noble course of life. In spite of these, he always remains at peace and contemplates on God constantly. Of all the living beings, to be born a human being is the rarest occurrence (Jantunam Narajanma Durlabham), so this life that you are gifted with is indeed a great good fortune. Having been blessed with such a human birth, you should develop noble thoughts and experience bliss within. Only then will you be truly fortunate.

Semakin engkau menggiling kayu cendana maka semakin banyak menghasilkan pasta kayu cendana. Semakin banyak engkau menghancurkan tebu maka semakin banyak mendapatkan rasa manis. Seperti emas yang terus dipanaskan maka emas itu akan menjadi semakin murni dan bersinar dengan kecemerlangan. Sama halnya, sifat yang baik pada diri orang yang mulia semakin berkembang lagi dan lagi ketika orang itu melewati perubahan dalam hidup. Perwujudan kasih! Kesulitan dalam hidup tidak menyebabkan gangguan pada seseorang yang mengejar jalan hidup yang mulia. Meskipun demikian, ia selalu tetap dalam keadaan damai dan memusatkan pikiran secara terus menerus kepada Tuhan. Dari semua makhluk hidup, untuk lahir sebagai manusia adalah kesempatan yang sangat jarang bisa didapat (Jantunam Narajanma Durlabham), jadi hidup ini yang merupakan anugerah sesungguhnya adalah keberuntungan yang sangat besar. Dengan diberkati kelahiran sebagai manusia, engkau seharusnya mengembangkan pikiran yang mulia dan mengalami kebahagiaan di dalam diri. Hanya dengan demikian engkau akan benar-benar beruntung. (Divine Discourse, May 06, 2001)