Saturday, November 29, 2014

Thought for the Day - 29th November 2014 (Saturday)

By praying to God and asking for trivial and petty things, people demean the Lord’s Divine estate. No one appreciates the valuable, sacred and divine favour God may choose to confer on a deserving devotee. Hence never seek from God, nor desire, nor pray for some petty trifles. More precious and desirable than everything else is God's love. If you wish to ask for anything from God pray to Him thus, "O Lord! Let me have You alone." To crave for anything other than Divine Love is like asking for coffee powder from the Kalpataru (Wish-fulfilling Tree)! For, once you have secured the Lord, you will naturally get everything you want! While praying to God for His grace, do not indulge in extravagant praise and flattery to win His approbation and seek His favours; that prayer then acquires a commercial tinge! Pray sincerely and earnestly from within.

Dengan berdoa kepada Tuhan dan meminta hal-hal yang sepele dan kecil, orang-orang merendahkan Tuhan. Tidak ada yang menghargai nikmat yang berharga, suci dan Ilahi yang Tuhan berikan bagi bhakta-Nya yang layak mendapatkannya. Oleh karena itu janganlah pernah mencari dari Tuhan, atau menginginkan, atau berdoa untuk hal-hal yang sepele dan kecil. Yang lebih berharga dan diinginkan daripada segala sesuatu yang lainnya adalah kasih Tuhan. Jika engkau ingin meminta sesuatu dari Tuhan berdoalah kepada-Nya seperti berikut, "Ya Tuhan! Biarkan aku hanya memiliki engkau." Untuk mendambakan apa pun selain Cinta-kasih Tuhan dapat diibaratkan seperti meminta kopi bubuk dari Kalpataru (pohon pengabul keinginan)! Sebab, sekali engkau telah mendapatkan berkat Tuhan, secara alami engkau akan mendapatkan semua yang engkau inginkan! Saat berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan berkat-Nya, janganlah memperturutkan diri dalam pujian berlebihan dan sanjungan untuk memenangkan persetujuan-Nya dan mencari nikmat-Nya; doa yang seperti itu mendapatkan semburat komersial! Berdoalah dengan tulus dan sungguh-sungguh dari dalam hatimu. (Divine Discourse, Oct 9, 1989)


Friday, November 28, 2014

Thought for the Day - 28th November 2014 (Friday)

Have faith that Truth will save you in the long run; stick to it, regardless of what might befall. For if you are true, the sense of guilt will not gnaw your insides and cause pain. It is cowardice that makes you hide the truth; it is hatred that sharpens the edge of falsehood. Be bold and there is no need for a lie. Be full of love and there is no need for subterfuge. The easiest habit is speaking the truth, honesty; for if you start telling lies, you will have to keep count of them and remember how many you have told to whom, and be always alert not to contradict one lie with another! Love a person and you need no longer deceive the person with a lie; you will feel that the loved one deserves the truth and nothing less than the truth. Love saves a good deal of bother.

Milikilah keyakinan bahwa Kebenaran akan menyelamatkanmu dalam jangka panjang; engkau hendaknya menaatinya, tanpa menghiraukan apa yang mungkin menimpa. Karena jika engkau benar, rasa bersalah tidak akan menggerogoti dirimu dan tidak menyebabkan penderitaan. Hanya pengecut yang membuat engkau menyembunyikan kebenaran; itu adalah kebencian yang mempertajam tepi kepalsuan. Beranilah maka tidak akan ada suatu kebohongan. Penuhilah dengan cinta-kasih maka tidak perlu ada akal-akalan. Kebiasaan yang paling mudah dilakukan adalah berbicara kebenaran dan kejujuran; karena jika engkau mulai berbohong, engkau harus memperhatikan jumlah kebohongan yang telah engkau lakukan dan mengingat berapa banyak engkau telah mengatakan kebohongan kepada orang lain, dan akan selalu mengingatkan untuk tidak bertentangan antara satu kebohongan dengan kebohongan lainnya! Engkau hendaknya mengasihi orang lain dan engkau tidak perlu lagi menipu orang lain dengan kebohongan; engkau akan merasa bahwa orang yang mengasihi layak mendapatkan kebenaran dan tidak lain hanya kebenaran. Cinta-kasih akan menyelamatkanmu dari berbagai gangguan. (Divine Discourse, March 3, 1958)


Thursday, November 27, 2014

Thought for the Day -27th November 2014 (Thursday)

The one who is filled with love has great peace of mind, is pure at heart and is unruffled by any adverse circumstances, failures or losses. This fortitude is derived from love of the Lord, and it endows one with self-confidence. Self-confidence generates an immense internal power. Everyone has to develop this power to experience the bliss of the Self (Atma-Ananda). Love should be free from feelings of expectation of any return or reward. Love which arises out of a desire for something in return is not true love. Utterly selfless and motiveless love should be developed. This is the bounden duty of all. You should not pray to God seeking this favour or that, for your vision is limited. None of you can fathom what immensely precious, Divine and magnificent treasures lie when you secure the treasure-house of Divine Grace.

Orang yang dipenuhi dengan cinta-kasih memiliki ketenangan pikiran, kemurnian hati dan ketenangan dengan keadaan yang tidak sesuai, kegagalan atau kerugian. Ketabahan ini berasal dari cinta-kasih Tuhan, dan menganugerahi seseorang dengan kepercayaan diri. Percaya diri menghasilkan kekuatan internal yang sangat besar. Setiap orang harus mengembangkan kekuatan ini untuk mengalami kebahagiaan Atma (Atma-Ananda). Cinta-kasih harus bebas dari perasaan harapan, pamrih atau hadiah. Cinta-kasih yang muncul dari keinginan untuk sesuatu sebagai balasannya bukanlah cinta-kasih sejati. Cinta-kasih yang benar-benar tanpa pamrih dan tanpa motif harus dikembangkan. Inilah kewajiban yang hendaknya dilakukan semuanya. Engkau tidak harus berdoa kepada Tuhan mencari bantuan ini atau itu, karena visi-mu terbatas. Tidak satu pun dari engkau dapat memahami apa harta yang sangat berharga,Tuhan dan harta terbesar terletak pada ketika engkau mengamankan harta Ilahi (berkat Tuhan). (Divine Discourse, Oct 9, 1989)


Thought for the Day - 26th November 2014 (Wednesday)

All of you have a whole set of animals within: the dog, the fox, the ass, and the wolf. You must choose to suppress the tendencies of all these beasts and encourage the human qualities of love and friendship to shine. Above all, begin the cultivation of virtues; that is more important and beneficial than mere book-learning. This will give real Ananda (bliss); that is the essence of all knowledge, the culmination of all learning. Treat everyone as your own and even if you cannot do them any good, desist from causing them any injury. Light the lamp of love inside the niche of your heart and the nocturnal birds of greed and envy will fly away, unable to bear the light. An unbending person is infected with egoism of the worst type; Love (Prema) makes you humble, it makes you bend and bow when you see greatness and glory. Use that capacity and derive the best advantage out of it.

Kalian semua memiliki sifat-sifat hewan seperti anjing, rubah, keledai, dan serigala. Engkau harus memilih untuk menekan kecenderungan hewani ini dan mendorong sifat-sifat manusia yaitu cinta-kasih dan persahabatan untuk bersinar. Di atas semuanya itu, mulailah mengembangkan kebajikan; yang lebih penting dan bermanfaat dari sekadar mempelajari buku. Hal ini akan memberikan Ananda (kebahagiaan) sejati; yang merupakan esensi dari semua pengetahuan, puncak dari semua pembelajaran. Perlakukanlah setiap orang seperti dirimu sendiri dan bahkan jika engkau tidak dapat melakukan apapun yang baik, janganlah membuat mereka terluka. Burung malam keserakahan dan iri hati akan terbang menjauh, karena tidak tahan dengan cahaya lampu cinta-kasih di dalam relung hati. Orang yang keras kepala terinfeksi dengan egoisme; Cinta-kasih (Prema) membuatmu rendah hati, yang membuat engkau menunduk ketika engkau melihat kebesaran dan kemuliaan. Engkau hendaknya menggunakan kapasitas itu dan memperoleh keuntungan terbaik dari itu. (Divine Discourse, March 3, 1958)


Tuesday, November 25, 2014

Thought for the Day - 25th November 2014 (Tuesday)

You must become heroes in action. It does not behoove of you to spend your time in idle talk, without involving yourself in some solid work for the benefit of the nation. Bend your body and work hard to attain glory. A seed that is sown in the soil, loses its shape to ultimately become a gigantic tree. That tree yields sweet fruits. Similarly it is only when you destroy your ego and lose your identity, real fruit of your actions come out. Therefore, remove your attachment to your body (dehabhimana) and develop attachment to the country (deshabhimana). Love is a quality permeating every living being. Truth is verily the embodiment of Divinity. It is in you, with you, around you, everywhere, protecting you always, at all times. You need not search for God in some distant place. Truth is the very embodiment of God. Do not ever move away from Truth.

Engkau hendaknya menjadi pahlawan dalam tindakan. Tidaklah tepat jika engkau menghabiskan waktumu dengan omong kosong belaka, tanpa melibatkan diri dalam beberapa pekerjaan yang mendalam untuk kepentingan bangsa. Tundukkanlah badanmu dan bekerja keras untuk mencapai kemuliaan. Benih yang ditabur di tanah, kehilangan bentuknya untuk akhirnya menjadi pohon yang besar, pohon yang menghasilkan buah yang manis. Demikian pula hanya ketika engkau menghancurkan egomu dan kehilangan identitasmu, buah asli dari tindakanmu keluar. Oleh karena itu, hilangkanlah keterikatanmu pada badan jasmanimu (dehabhimana) dan kembangkanlah keterikatan pada negara (deshabhimana). Cinta-kasih adalah sifat yang bisa diserap setiap makhluk hidup. Kebenaran adalah perwujudan dari Tuhan. Tuhan ada dalam dirimu, denganmu, di sekitarmu, di mana-mana, melindungimu selalu, setiap saat. Engkau tidak perlu mencari Tuhan di beberapa tempat yang jauh. Kebenaran adalah perwujudan Tuhan. Jangan pernah menjauh dari kebenaran. (Divine Discourse, 22 Nov 2002)


Monday, November 24, 2014

Thought for the Day -24th November 2014 (Monday)

Life will be unfulfilled by merely spending time. When you enquire earnestly whether duty comes first or right comes first, several people insist upon ‘rights’. Ask yourself - Where did ‘rights or entitlements’ come from? When you perform your duty, its fruit, in the shape of rights, accrues to you! How can a child exist without the mother? So also, when you perform your duties sincerely, the result of that action comes as rights. When you enquire into the fact whether rain comes first or the flow of water, it becomes clear that flow of rainwater follows rain. Without rain, there cannot be a flow. The flow can be compared to one’s ‘rights’ and rain to ‘duty’. Therefore accord your highest priority to your duties!

Hidup tidak akan terpenuhi hanya dengan menghabiskan waktu. Ketika engkau menyelidiki dengan sungguh-sungguh manakah yang didahulukan apakah kewajiban atau hak, beberapa orang bersikeras bahwa hak yang lebih penting'. Tanyalah pada dirimu sendiri - darimana hak 'berasal? Ketika engkau melakukan kewajibanmu, buahnya, dalam bentuk hak, menjadi milikmu! Bagaimana bisa seorang anak ada tanpa ibu? Begitu juga, ketika engkau melakukan kewajibanmu dengan tulus, hasilnya muncul sebagai hak. Ketika engkau menyelidiki fakta apakah hujan yang turun pertama atau adanya aliran air, menjadi jelas bahwa aliran air hujan kemudian hujan. Tanpa hujan, tidak mungkin ada aliran air. Aliran air dapat diibaratkan dengan 'hak' seseorang dan hujan adalah 'kewajiban'. Oleh karena itu berikanlah prioritas tertinggi untuk kewajibanmu! (Divine Discourse, 22 Nov 2002)


Sunday, November 23, 2014

Thought for the Day - 23rd November 2014 (Sunday)

Many must be thinking about the gift to offer Swami on His Birthday. The present given to God must be pure, steady and selfless Love. You can rejoice that you have given the Lord a real gift only when you love your fellowmen, share their sufferings, and engage in serving them. Adopt villages and make them ideal villages. Rich and powerful have plentiful servants. The distressed, the poverty-stricken, and the diseased have no one to serve them. Go to them and be their friends and relatives, their closest well-wishers. Let them welcome you as such. Do not pour spirituality into the ears of those who are tortured by hunger and afflicted by pain. First satiate their hunger. Serve them as God and give food, clothes, and medicines and then teach them spirituality. I bless you with long life, good health, bliss, peace and prosperity. May you devote your physical, mental, intellectual and spiritual strength and skills for the service of the Universe.

Banyak orang berpikir tentang hadiah untuk dipersembahkan pada Swami di hari Ulang Tahun-Nya. Hadiah yang dipersembahkan kepada Tuhan harus murni, stabil dan tanpa mengharapkan balasan. Engkau dapat bersukacita bahwa engkau telah benar-benar diberikan hadiah oleh-Nya hanya ketika engkau mengasihi sesama-mu, berbagi penderitaan mereka, dan terlibat dalam melayani mereka. Mengadopsi desa dan membuat desa tersebut menjadi ideal. Orang kaya dan berkuasa memiliki pelayan yang berlimpah. Orang yang tertekan, miskin, dan yang sakit tidak memiliki satu orang pun untuk melayani mereka. Engkau hendaknya menjadi kerabat dan teman yang paling dekat bagi mereka. Biarlah mereka menyambutmu seperti itu. Janganlah engkau menuangkan spiritualitas ke telinga mereka yang sedang disiksa oleh kelaparan dan menderita oleh rasa sakit. Pertama, engkau hendaknya memuaskan rasa lapar mereka. Melayani mereka sebagai Tuhan dan memberikan makanan, pakaian, dan obat-obatan, dan setelah itu barulah mengajarkan mereka spiritualitas. Aku memberkatimu dengan umur panjang, kesehatan yang baik, kebahagiaan, kedamaian dan kemakmuran. Semoga engkau mencurahkan fisik, mental, kekuatan intelektual dan spiritual, dan keterampilan-mu untuk melayani Semesta. (Divine Discourse, 23 Nov 1982)


Saturday, November 22, 2014

Thought for the Day - 22nd November 2014 (Saturday)

A real student is one who contemplates and understands the value of the education being received. Higher knowledge (Vijnana) and Supreme wisdom (Prajnana) are not merely products of education that can be acquired by learning or listening. Everyone can develop these sacred powers through culture and refinement gained through education and consistent practice. What is culture? Culture is the conscious effort put in by every being to achieve a transformation in their daily lives from untruth to truth, from non-conformance to scriptures to conformance to scriptural authority, and from evanescence to eternity. It is a spiritual journey towards Divinity. Human beings are embodiments of truth. Everyone must persevere to protect the practice of Truth (Sathya) and Righteousness (Dharma), which in turn will protect the Universe. If you succeed in doing so, the whole world will enjoy peace and prosperity. (Divine Discourse, 21 Nov 2002)

Seorang pelajar sejati adalah orang yang merenungkan dan memahami nilai pendidikan yang diterimanya. Pengetahuan yang lebih tinggi (Vijnana) dan kebijaksanaan Agung (Prajnana) bukan hanya produk dari pendidikan yang dapat diperoleh dengan belajar atau mendengarkan. Setiap orang dapat mengembangkan kekuatan-kekuatan suci melalui kebudayaan dan pemurnian yang diperoleh melalui pendidikan dan praktik yang konsisten. Apakah yang dimaksud dengan kebudayaan? Kebudayaan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh setiap makhluk untuk mencapai transformasi dalam kehidupan sehari-hari dari ketidakbenaran menuju kebenaran, dari ketidaksesuaian dengan kitab suci menuju ke sumber kitab suci, dan dari yang bersifat sementara menuju pada keabadian. Inilah perjalanan spiritual menuju Tuhan. Manusia adalah perwujudan dari kebenaran. Setiap orang harus dengan gigih mempraktikkan Kebenaran (Sathya) dan Kebajikan (Dharma), yang pada gilirannya akan melindungi alam semesta. Jika engkau berhasil melakukannya, seluruh dunia akan menikmati kedamaian dan kemakmuran.


Thought for the Day - 21st November 2014 (Friday)

Modern education is mere bookish knowledge, confined to what is contained in the texts. Today many are pursuing such secular education only (i.e., value neutral). Secular education alone is not enough. It must be supplemented with spiritual education. Spiritual education has its effect on one’s heart, and is called Educare. Educare means bringing out the latent Divinity, that is hidden in the heart of human beings and establishing it as an ideal to the whole world. Through Educare, you must develop the principle of love and students must follow the path of truth. True education is that which is suffused with truth and love. Secular education is for making a living, whereas spiritual education is for reaching the goal of life. It is the duty of students as well as educators to harmonize the secular education with spiritual education. This is the prime necessity today. (Divine Discourse, 20 Nov 2002)

Pendidikan modern hanya terbatas pada pengetahuan buku belaka, terbatas pada apa yang terkandung dalam teks/buku. Saat ini banyak yang mengejar pendidikan sekuler seperti tersebut (yaitu, nilai netral). Pendidikan sekuler saja tidaklah cukup, harus dilengkapi dengan pendidikan spiritual. Pendidikan spiritual berpengaruh pada hati seseorang, dan disebut dengan Educare. Educare berarti membawa keluar Divinity yang laten, yang tersembunyi dalam hati manusia dan membangun yang ideal untuk seluruh dunia. Melalui Educare, engkau harus mengembangkan prinsip cinta-kasih dan siswa harus mengikuti jalan kebenaran. Pendidikan yang benar adalah yang diliputi dengan kebenaran dan cinta-kasih. Pendidikan sekuler adalah untuk mencari nafkah, sedangkan pendidikan spiritual adalah untuk mencapai tujuan hidup. Inilah tugas siswa serta pendidik untuk menyelaraskan pendidikan sekuler dengan pendidikan spiritual. Inilah kebutuhan utama saat ini.


Thought for the Day - 20th November 2014 (Thursday)

Do not find faults with others. If you point an accusing finger at someone, remember three fingers are pointing to you. Wear the ornament of Truth to adorn your neck (Sathyam Kantasya Bhushanam). Charity is the true ornament that make your hands beautiful and elegant (Hasthasya Bhushanam Dhanam). Thus you must sanctify each limb of your body by engaging in sacred activities. Your eyes should look at only sacred things. Do you know what an enormous power is latent in your eyes? There are crores of light rays in them. In olden days, people used to invoke the grace of Sun God to have a better vision. When you perform Surya-namaskar (worship of Sun God) and invoke His grace, the light rays in your eyes will become more effulgent and inspire you. People aspire to attain liberation. What is liberation? Help ever, hurt never - that is true liberation. To get rid of attachment (moha) is true liberation (moksha). (Divine Discourse, Nov 19, 2002)

Janganlah mencari dan menemukan kesalahan orang lain. Jika engkau menunjuk jari menyalahkan seseorang, ingatlah tiga jari lainnya menunjuk padamu. Kenakan ornamen Kebenaran untuk menghiasi lehermu (Sathyam Kantasya Bhushanam). Kemurahan hati adalah ornamen sejati yang membuat tanganmu indah dan elegan (Hasthasya Bhushanam Dhanam). Dengan demikian engkau harus menyucikan setiap anggota badanmu dengan terlibat dalam kegiatan yang suci. Matamu hanya harus melihat hal-hal yang suci. Apakah engkau tahu apa kekuatan yang sangat besar yang laten di matamu? Ada jutaan sinar cahaya di dalamnya. Di masa lalu, orang-orang menggunakannya untuk memohon anugerah Dewa Matahari agar memiliki visi yang lebih baik. Ketika engkau melakukan Surya-namaskar (memuja Dewa Matahari) dan mendapatkan berkat-Nya, sinar cahaya di matamu akan menjadi lebih berkilau dan menginspirasimu. Orang-orang berkeinginan untuk mencapai pembebasan. Apa itu pembebasan? Selalulah menolong, jangan pernah menyakiti - inilah pembebasan sejati. Untuk menghilangkan keterikatan (moha) adalah pembebasan sejati (moksha).


Wednesday, November 19, 2014

Thought for the Day - 19th November 2014 (Wednesday)

Women should look after their homes diligently and conduct themselves in a pleasing manner. Treat your guests in a cordial manner and to the extent possible. Empathise with those who are in difficulties, comfort and console them with soothing words. Those who talk harsh words are verily demons. If you hurt others’ feelings, you will be hurt twice as much and you cannot escape from the consequences of your actions. Embodiments of Love! These teachings are simple to practice in your daily life. But do not take them lightly - they can confer on you liberation! It is your good fortune (adrishtam) to know them! What is good fortune? A-drishtam is that which cannot be seen. You may not be able to see the results of your noble conduct and meritorious deeds, but they will confer on you all happiness and comforts in due course of time. (Divine Discourse, Nov 19 2002)

Perempuan hendaknya menjaga rumah mereka tetap rapi dan melakukannya sendiri dengan cara yang menyenangkan. Perlakukanlah tamu-mu dengan cara yang ramah dan sebaik mungkin. Engkau hendaknya ber-empati dengan orang-orang yang mengalami kesulitan, memberikan kenyamanan dan menghibur mereka dengan kata-kata yang menenangkan. Mereka yang berbicara dengan kata-kata yang kasar sesungguhnya adalah iblis. Jika engkau menyakiti perasaan orang lain, engkau akan terluka dua kali lebih banyak dan engkau tidak bisa lepas dari konsekuensi tindakanmu. Perwujudan kasih! Ajaran ini sangat sederhana untuk dipraktikkan dalam kehidupannu sehari-hari. Tetapi janganlah menganggapnya enteng - karena dapat memberikan pembebasan padamu! Inilah keberuntunganmu (adrishtam) mengenalnya! Keberuntungan apa? Drishtam adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat. Engkau mungkin tidak dapat melihat hasil perilaku mulia dan kebajikan yang telah engkau lakukan, tetapi hal tersebut akan memberikan semua kebahagiaan dan kenyamanan padamu pada waktunya nanti.


Tuesday, November 18, 2014

Thought for the Day - 18th November 2014 (Tuesday)

People today speak about God having forgotten them. This is not true. Most often, it is the devotee who gives up God. It is the devotee who forgets Him. It is their own feelings that are reflected in their utterances. People forget God and indulge in the world and one day they suddenly declare that God has forgotten and forsaken them. Separation from God is the primary cause for people wallowing in sensuous pleasures. Mind is the cause of one’s pleasure and pain. It must be directed towards God to secure freedom from pleasure and pain. You stray away from God and think God is moving away from you. God can and will never forget His devotee. God is never away from you. He is always with you, caring for you and waiting for you to turn to Him. (My Dear Students, Vol 5, Ch 14, 14 Jan 1996)

Saat ini, orang-orang mengatakan Tuhan telah melupakan mereka. Hal ini tidaklah benar. Yang paling sering, adalah bhakta yang meninggalkan Tuhan, bhakta yang melupakan-Nya. Ini adalah perasaan mereka sendiri yang tercermin dalam ucapan-ucapan mereka. Orang-orang melupakan Tuhan dan mengejar objek-objek duniawi dan suatu hari mereka tiba-tiba menyatakan bahwa Tuhan telah melupakan dan meninggalkan mereka. Memisahkan diri dari Tuhan adalah penyebab utama bagi orang-orang berkubang dalam kenikmatan duniawi. Pikiran adalah penyebab kebahagiaan dan penderitaan seseorang. Ini harus diarahkan menuju Tuhan agar terbebas dari kebahagiaan dan penderitaan. Engkau menjauh dari Tuhan dan berpikir Tuhan sedang bergerak menjauh darimu. Tuhan tidak bisa dan tidak akan pernah lupa bhakta-Nya. Tuhan tidak pernah jauh darimu. Dia selalu bersamamu, merawatmu, dan menunggumu untuk kembali kepada-Nya. (My Dear Mahasiswa, Vol 5, Ch 14, 14 Jan 1996)


Monday, November 17, 2014

Thought for the Day - 17th November 2014 (Monday)

There are many Nobel laureates. How many remember them? But the great benefactors of mankind, the men of noble qualities, are cherished by all mankind. For instance, Kolkata produced many great intellectuals, who after a time are not remembered at all. But Ramakrishna Paramahamsa, a noble soul from that city, even though he was illiterate, is enshrined in the hearts of millions all over the world. Is education responsible for it? Likewise if many noble persons are instilled in the hearts of people, what is the reason? They have earned their good name by their faith in God, their character, magnanimity and spirit of sacrifice. This means that together with concern for worldly things, there should be devotion to God as well. Together with education Samskara is essential. What is the meaning of culture (Samskara)? Refinement of action is true culture - Samyak Kriti Iti Samskara. (My Dear Students, Vol 5, Ch 14, 14 Jan 1996)

Ada banyak pemenang Hadiah Nobel. Berapa banyak orang yang mengingat mereka? Tetapi para dermawan besar umat manusia, orang-orang dengan kualitas yang mulia, merekalah yang dihargai oleh semua umat manusia. Misalnya, Kolkata menghasilkan banyak intelektual besar, yang setelah beberapa waktu tidak diingat sama sekali. Tetapi Ramakrishna Paramahamsa, seseorang yang berjiwa mulia dari kota itu, meskipun dia buta huruf, ia diabadikan dalam hati jutaan orang di seluruh dunia. Apakah pendidikan yang bertanggung jawab untuk hal tersebut? Begitu juga jika banyak orang mulia yang ditanamkan dalam hati orang-orang, apa alasannya? Mereka telah mendapatkan nama baik mereka dengan keyakinan mereka kepada Tuhan, karakter mereka, kemurahan hati dan semangat pengorbanan. Ini berarti bahwa bersama-sama dengan kepedulian terhadap hal-hal duniawi, harus juga ada pengabdian kepada Tuhan. Bersama-sama dengan pendidikan, Samskara adalah penting. Apa arti budaya (Samskara)? Pemurnian tindakan adalah Samskara sejati - Samyak Kriti Iti Samskara. (My Dear Mahasiswa, Vol 5, Ch 14, 14 Jan 1996)


Thought for the Day - 16th November 2014 (Sunday)

The supreme virtue in every human being is to forget their individual differences and move with everyone in a spirit of harmony and equality. What lends beauty to sports and games is this spirit of unity. Unfortunately many people today derive only physical fitness and strength from sports and games, not the spirit of love and unity! Fulfillment in life can never be attained from physical health and strength alone. Even if your stomach is full, you can be happy only when both your body and mind are healthy. Young people must understand this truth and not be focused only on physique and beauty. The Divine has endowed everyone with physical, mental and spiritual potencies of many kinds. Your mind is the source of infinite powers. A subdued mind can help you realize the Divine. Recognize the magnitude of your internal powers and leverage them in your daily lives. (My Dear Students, Vol 5, Ch 14, 14 Jan 1996)

Kebajikan tertinggi dalam setiap manusia adalah melupakan perbedaan masing-masing dan bergerak dengan semua orang dalam semangat keharmonisan dan kesamaan. Betapa indahnya olahraga dan permainan dalam semangat persatuan. Sayangnya banyak orang saat ini hanya mengambil kebugaran fisik dan kekuatan dari olahraga dan permainan, bukan semangat cinta-kasih dan kesatuan! Pemenuhan dalam kehidupan tidak pernah dapat dicapai dari kesehatan dan kekuatan fisik. Bahkan jika perutmu sudah terisi, engkau bisa bahagia hanya ketika keduanya baik badan dan pikiran sehat. Orang-orang muda harus memahami kebenaran ini dan tidak terfokus hanya pada fisik dan kecantikan/ketampanan. Tuhan telah memberkati semua orang dengan berbagai potensi fisik, mental, dan spiritual. Pikiranmu adalah sumber kekuatan yang tak terbatas. Pikiran yang tenang dapat membantumu mewujudkan Ilahi. Sadarilah betapa besarnya kekuatan internalmu dan memanfaatkannya dalam kehidupanmu sehari-hari. (My Dear Mahasiswa, Vol 5, Ch 14, 14 Jan 1996)


Saturday, November 15, 2014

Thought for the Day - 15th November 2014 (Saturday)

A flower has many petals. These petals appear distinct from each other. But all petals have emerged from the same single stem. The stem is the seat of the Atma, from which the petals have emanated. But we view the flower as a single object. The flower is one, but the petals are many. Same analogy is applicable to the endless number of waves arising on the ocean. The waves are many and distinct. But they are of the same stuff as the ocean. From the waves arises the foam, which has the same properties as the waves and the ocean though different in form and name. All the three are based on the ocean. This is the logical basis for Advaita (philosophy of non-dualism). The Atma is the basis for everything. Ignoring this truth people pursue the myriad ephemeral objects of the phenomenal world, but ultimately all come to a realisation of the Atmic Principle. (Divine Discourse, 10 Sep 1996)

Sebuah bunga memiliki banyak kelopak. Kelopak ini muncul berbeda satu sama lain. Tetapi semua kelopak telah muncul dari batang tunggal yang sama. Batang merupakan tempat Atma, dari mana kelopak berasal. Tetapi kita melihat bunga sebagai objek tunggal. Bunga itu satu, namun kelopaknya banyak. Analogi yang sama berlaku untuk jumlah tak berujung gelombang yang timbul di laut. Gelombang tersebut banyak dan berbeda. Tetapi asalnya sama dari laut. Dari gelombang timbul busa, yang memiliki sifat yang sama seperti gelombang dan laut meskipun berbeda dalam bentuk dan nama. Ketiganya dasarnya adalah laut. Inilah dasar logis untuk Advaita (filsafat non-dualisme). Atma merupakan dasar untuk segalanya. Mengabaikan kebenaran ini orang-orang mengejar objek-objek duniawi yang bersifat sementara, tetapi akhirnya semuanya sampai pada realisasi Prinsip Atma. (Wacana Ilahi, 10 Sep 1996)


Friday, November 14, 2014

Thought for the Day - 14th November 2014 (Friday)

You have immense potency within you. Like the light that illumines, your vision must be pure, sacred and pleasing. Do not taint or pollute the blessing of sight by looking at undesirable objects, or by looking with bad thoughts. A magnetic energy circulates in you. Although this energy is present throughout the body, its presence is conspicuous in the hand. Hence the hands should be employed for good purposes. They should never be used for harming others. The ears listen to gossip, slander and evil talk. The result is that the power of hearing gets polluted. Also the power of speech. This power finds expression in sound waves and it has to be used with great care. The words one utters should be examined to see that they do not excite, irritate or anger others. Bad words come back to the speaker with double strength. Hence one's speech should be soft and sweet. (My Dear Students, Vol 5, Ch 14, 14 Jan 1996)

Engkau memiliki potensi besar dalam dirimu. Seperti cahaya yang menerangi, visimu harus murni, suci, dan menyenangkan. Jangan menodai atau mencemari berkat penglihatan dengan melihat benda-benda yang tidak diinginkan, atau melihat dengan pikiran yang buruk. Sebuah energi magnetik beredar pada dirimu. Meskipun energi ini ada di seluruh badan, kehadirannya ada mencolok pada tangan. Oleh karena itu tangan harus digunakan untuk tujuan yang baik. Tangan tidak boleh digunakan untuk merugikan orang lain. Telinga mendengarkan gosip, fitnah dan membicarakan hal-hal yang buruk. Maka hasilnya kekuatan pendengaran akan tercemar. Demikian juga dengan kemampuan bicara. Kekuatan ini terungkap dalam gelombang suara dan itu harus digunakan dengan hati-hati. Kata-kata yang terucap harus diperiksa agar tidak membuat naik darah, menjengkelkan atau membuat kemarahan pada orang lain. Kata-kata yang buruk akan kembali ke si pembicara dengan kekuatan ganda. Oleh karena itu ucapan seseorang harus lembut dan manis. (My Dear Mahasiswa, Vol 5, Ch 14, 14 Jan 1996)


Thursday, November 13, 2014

Thought for the Day - 13th November 2014 (Thursday)

Desire and disappointments are the order of the day. Human life for most people seems to be full of fear. Various types of fears haunt wherever one is, whatever one does. How can one escape fear? Even the little objects of happiness which one seems to derive from life, is coupled with fear of losing them soon! Sin and merit, joy and sorrow, profit and loss, light and darkness are pairs of opposites that every being undergoes during their lives. Truly speaking, the absence of one (sorrow), indicates the presence of other (joy)! Saint Adi Shankara further clarified, “Where there is no attachment, there will be no fear!” How can one attain that state? By attaining proximity with the Divine! He further exhorted, “Banish fear by cultivating detachment (Vairagya) and journeying towards the Self. It is through Self-Realization that you can understand the true nature of fear and overcome it. (My Dear Students, Vol 3, Ch 17)
Harapan dan kekecewaan datang silih berganti. Kehidupan manusia bagi kebanyakan orang penuh dengan ketakutan. Berbagai jenis ketakutan menghantui dimanapun seseorang berada, apa pun yang dilakukan. Bagaimana seseorang bisa melarikan diri ketakutan? Bahkan jika kebahagiaan kecil yang didapatkan seseorang, digabungkan dengan rasa takut,  maka kebahagiaan tersebut akan segera hilang! Dosa dan pahala, suka dan duka, untung dan rugi, terang dan gelap adalah pasangan yang saling bertentangan yang mana setiap makhluk mengalaminya selama hidup mereka. Sesungguhnya, jika salah satunya tidak ada (misalnya kesedihan), menunjukkan adanya yang lainnya (yaitu sukacita)! Adi Shankara lanjut menjelaskan, "Di mana tidak ada keterikatan, maka tidak akan ada rasa takut!" Bagaimana seseorang bisa mencapai keadaan itu? Dengan mencapai kedekatan dengan Tuhan! Lebih lanjut beliau menyampaikan, "Usirlah rasa takut dengan mengembangkan tanpa keterikatan (Vairagya) dan perjalanan menuju Sang Diri. Melalui Self-Realisasi engkau dapat memahami sifat sejati rasa takut sehingga engkau akan bisa mengatasinya.. (My Dear Mahasiswa, Vol 3, Ch 17)

Thought for the Day - 12th November 2014 (Wednesday)

The hard working farmer has no fear of starvation. The one who chants the Lord’s Name has no fear of worldly worries. The person of a few words will be free from enmity. Through excessive talk, people fall prey to quarrels. Everyone must cultivate moderation in speech. Restraint in speech is conducive to friendly feelings. The one who is careful in behavior, doing all actions after due deliberation, will have no fear of danger. True education consists in knowing how to lead a peaceful life. To embark on or have a successful career, you must aspire for world peace. For you are part of the world and your well-being is intimately tied to that of the world. Give up all narrow feelings and acquire unity and fellowship. (My Dear Students, Vol 5, Ch 14, 14 Jan 1996)
Seorang petani pekerja keras tidak akan takut kelaparan. Orang-orang  yang menchantingkan Nama Tuhan tidak takut akan kekhawatiran duniawi. Orang-orang yang  sedikit bicara akan terbebas dari musuh. Melalui pembicaraan yang berlebihan, akan menjadi bahan pertengkaran. Setiap orang harus membatasi dalam hal berbicara. Mengendalikan diri dalam hal berbicara adalah kondusif untuk perasaan yang ramah. Orang yang berhati-hati dalam perilaku, melakukan semua tindakan setelah melalui pertimbangan, tidak akan menghadapi bahaya. Pendidikan sejati adalah untuk mengetahui bagaimana menjalani kehidupan yang damai. Untuk memulai atau memiliki karir yang sukses, engkau harus menginginkan kedamaian dunia. Karena engkau adalah bagian dari dunia dan kesejahteraanmu sangat terkait dengan dunia. Tinggalkanlah semua perasaan sempit, maka engkau akan memperoleh kesatuan dan persahabatan. (My Dear Mahasiswa, Vol 5, Ch 14, 14 Jan 1996)

Tuesday, November 11, 2014

Thought for the Day - 11th November 2014 (Tuesday)

You may encounter any number of losses and difficulties in life. You may undergo a lot of suffering. But, you should never give up truth, faith and love. Loss, suffering and difficulties are like the waves in the ocean of life. They just come and go. But the water of the ocean is permanent. Hence develop the faith of ‘water’, i.e., Divinity. The power of the divine name is unparalleled. Do not take it lightly. God’s name is the real diamond. Keep it safe and secure. Do not ever be bothered by pain and suffering, losses and difficulties. Your thoughts are like the passing clouds. Once you seek refuge in the lotus feet of the Lord, never give it up. Wherever you go, the divine feet will protect you. If you install the divine name firmly in your heart, your life will become sanctified. That is devotion (bhakti). That is your power (sakthi). That is liberation (mukti).

Engkau mungkin mengalami sejumlah kerugian dan kesulitan dalam hidup. Engkau mungkin mengalami banyak penderitaan. Tetapi, engkau tidak seharusnya meninggalkan kebenaran, keyakinan, dan cinta-kasih. Kehilangan, penderitaan, dan kesulitan dapat diibaratkan seperti ombak di lautan kehidupan. Mereka hanya datang dan pergi. Tetapi air laut bersifat permanen. Oleh karena itu kembangkanlah keyakinan 'air', yaitu, Divinity. Kekuatan nama Tuhan tidak tertandingi. Janganlah menganggapnya remeh. Nama Tuhan adalah berlian sejati. Jagalah dengan hati-hati. Jangan pernah terganggu oleh rasa sakit dan penderitaan, kerugian dan kesulitan. Pikiranmu dapat diibaratkan seperti awan yang berlalu. Setelah engkau mencari perlindungan di kaki teratai Tuhan, jangan pernah meninggalkannya. Ke mana pun engkau pergi, kaki Tuhan akan melindungimu. Jika engkau menginstal nama Tuhan dengan mantap dalam hatimu, hidupmu akan disucikan. Itulah pengabdian (bhakti). Itulah kekuatanmu (sakthi). Itulah pembebasan (mukti).


Thought for the Day - 10th November 2014 (Monday)

While performing your duties in your house or outside, constantly remind yourself, “Whatever I do, think or speak, everything belongs to God.” The proper attitude should be, ‘Sarva karma Bhagavath preethyartham’. Take for example, the process of cooking. You add different ingredients to the dish being cooked in definite proportions and try to make them tasty. But the real taste comes only when the job of cooking is done as an offering to God. The food becomes divine when it is offered to God. On the other hand, if the various items are cooked with the attitude, ‘I am doing this job as a routine; I am cooking these items for my family members to partake’, it does not reach God. Hence undertake every act in your life as an offering to God, chanting His Name. Whatever you think, speak or do, consider it as God’s command, God’s work.

Sambil melakukan tugasmu di rumahmu atau di luar rumah, secara terus-menerus ingatkanlah dirimu sendiri, "Apa pun yang saya lakukan, berpikir atau berbicara, segala sesuatunya adalah milik Tuhan." Sikap yang tepat seharusnya, 'Sarva karma Bhagavath preethyartham'. Ambil contoh, proses memasak. Engkau menambahkan bahan-bahan yang berbeda untuk hidangan yang dimasak dalam proporsi yang tepat dan mencoba untuk membuatnya menjadi lezat. Tetapi rasa yang sesungguhnya, hanya datang ketika pekerjaan memasak dilakukan sebagai persembahan kepada Tuhan. Makanan menjadi ilahi ketika dipersembahkan kepada Tuhan. Di sisi lain, jika berbagai item yang dimasak dengan sikap, "Saya melakukan pekerjaan ini sebagai rutinitas; saya memasak item ini untuk anggota keluarga saya', maka hal itu tidak akan mencapai Tuhan. Oleh karena itu lakukanlah setiap tindakan dalam hidupmu sebagai persembahan kepada Tuhan, nyanyikan Nama-Nya. Apapun yang engkau pikirkan, katakan atau, lakukan sebagai perintah Tuhan, pekerjaan Tuhan.

Sunday, November 9, 2014

Thought for the Day - 9th November 2014 (Sunday)

Human life is highly sacred, noble and divine. It should not be wasted in unworthy pursuits. Take to the sacred path and sanctify your time by chanting the divine name. There is no need to allocate a specific time or place for Namasmarana. You can do it wherever you are and whatever you are doing. One needs to pay tax for water, electricity, etc., but there is no tax for Namasmarana. Nobody can stop you from doing it. It is very simple, yet most effective. Many people do not realise its immense value as it is so easy to practise. They think incorrectly that God can be attained only through severe austerities. Chant the divine name without troubling yourself or causing trouble to others. Cultivate love for God. Do not criticise or ridicule anybody. Give happiness to all by sharing your love selflessly. This is true spiritual practice. Follow this simple path, experience ananda and sanctify your lives.

Kehidupan manusia sangat sakral, mulia, dan ilahi. Ini tidak boleh disia-siakan dalam kegiatan yang tidak berguna. Engkau hendaknya mengambil jalan yang suci dan menyucikan waktumu dengan mengucapkan nama Tuhan. Tidak perlu untuk mengalokasikan waktu tertentu atau tempat tertentu untuk Namasmarana. Engkau dapat melakukannya di manapun engkau berada dan apa pun yang engkau lakukan. Kita membayar pajak untuk air, listrik, dll, yang kita pergunakan, tetapi tidak ada pajak untuk Namasmarana. Tidak ada yang bisa menghentikanmu dari melakukannya. Ini sangat sederhana, namun yang paling efektif. Banyak orang yang tidak menyadari betapa besar manfaat yang didapatkan dari melakukan praktik yang mudah tersebut. Mereka berpikir salah bahwa Tuhan dapat dicapai hanya melalui pertapaan yang hebat. Chantingkanlah nama Tuhan tanpa menyusahkan dirimu sendiri atau menyebabkan masalah kepada orang lain.Pupuklah kasih untuk Tuhan. Janganlah mengkritik atau mengejek siapa pun. Berikan kebahagiaan bagi semua orang dengan berbagi cinta-kasih tanpa pamrih. Inilah latihan spiritual yang sejati. Ikutilah jalan yang sederhana ini, maka engkau akan mengalami ananda dan menyucikan hidupmu.


Thought for the Day - 8th November 2014 (Saturday)

Akhanda Bhajan involves constant contemplation on God in the morning, evening or even during the night time. No doubt, many people today are repeating the holy name; but not with love and steady faith. Some are concerned about how others are singing, whether their tune is in order, etc. This equates to doing namasankirtan with a wavering mind; no transformation will occur with such namasankirtan, despite doing it for hours together. It must be done with absolute concentration and steady faith to achieve transformation. To attain purity that pulverizes all negativity, it is not enough if chanting of the divine name is confined to a limited period. Hence global Akhanda Bhajan is held for 24 hours, every year. Consider yourself very fortunate to participate in an Akhanda Bhajan. If only you make good use of it, your life will be sanctified. Practice Namasmarana and make it a continuous spiritual exercise throughout your life.

Akhanda Bhajan melibatkan kontemplasi secara terus-menerus pada Tuhan di pagi, malam atau bahkan sepanjang malam. Tidak diragukan lagi, banyak orang saat ini mengulang-ulang nama suci Tuhan; tetapi tidak dengan cinta-kasih dan keyakinan yang mantap. Beberapa orang memperhatikan bagaimana orang lain menyanyi, apakah tune-nya sesuai, dll. Hal ini setara dengan melakukan namasankirtan dengan pikiran yang goyah; tidak akan ada perubahan yang terjadi dengan namasankirtan tersebut, meskipun melakukannya selama berjam-jam bersama-sama. Namasankirtan hendaknya dilakukan dengan konsentrasi penuh dan keyakinan yang mantap untuk mencapai transformasi. Untuk mencapai kemurnian yang dapat menghancurkan semua negativitas, tidak cukup jika menchantingkan nama Tuhan terbatas pada jangka waktu terbatas. Oleh karena itu global Akhanda Bhajan diadakan selama 24 jam, setiap tahun. Engkau sangat beruntung dapat berpartisipasi dalam Akhanda Bhajan. Kalau saja engkau melakukan hal tersebut dengan baik, hidupmu akan disucikan. Praktikkanlah Namasmarana dan membuatnya menjadi latihan spiritual yang terus menerus sepanjang hidupmu.


Thought for the Day - 7th November 2014 (Friday)

Lord Krishna in the Gita says, “You are all part of My Divinity. Hence you should follow Me. My love is divine and sacred. So is yours!” (Mamaivamso jeevaloke jeevabhutah sanatanah). If you truly follow this principle, you will automatically achieve purity. Where there is purity, there is Divinity. Since time immemorial, each and every one of you are part of Me; you are My very own. Never forget this truth. If you develop faith in this truth, it will amount to reading all the scriptures. Every human being follows Dharma (Righteousness). Where did this Dharma come from? It has come from feeling (bhava), which in turn emanated from faith (vishwas). Where faith is, there Dharma is! That faith is Truth. Dharma is verily the embodiment of Divinity. Truth is God; Faith is God; Love is God; Live in Love. Only when you cultivate Truth, Faith and Love, you can achieve anything.

Sri Krishna dalam Gita mengatakan, "Kalian semua adalah bagian dari Divinity-Ku. Oleh karena itu, engkau harus mengikuti Aku. Cinta kasih-Ku adalah ilahi dan suci. Demikian juga engkau! "(Mamaivamso jeevaloke jeevabhutah sanatanah). Jika engkau benar-benar mengikuti prinsip ini, secara otomatis engkau akan mencapai kesucian. Di mana ada kemurnian, disana ada Divinity. Sejak zaman dahulu, kalian semua adalah bagian dari Aku; engkau adalah Diri-Ku. Janganlah lupa akan kebenaran ini. Jika engkau mengembangkan keyakinan dalam kebenaran ini, itu sama artinya dengan membaca semua kitab suci. Setiap manusia mengikuti Dharma (Kebajikan). Darimana Dharma ini berasal? Ia telah datang dari perasaan (bhava), yang pada gilirannya berasal dari keyakinan (vishwas). Dimana ada keyakinan, disana ada Dharma! Keyakinan itu adalah Kebajikan. Dharma sesungguhnya adalah perwujudan Divinity. Kebajikan adalah Tuhan; Keyakinan adalah Tuhan; Kasih adalah Tuhan; Hiduplah dalam Kasih. Hanya ketika engkau mengembangkan Kebajikan, Keyakinan, dan Cinta-kasih, engkau dapat mencapai apapun.


Thursday, November 6, 2014

Thought for the Day - 6th November 2014 (Thursday)

Always attend to your duties with a pleasant and smiling face. There is no use putting a ‘castor oil face’. Happiness is union with God. That is real Divinity. When you are confronted with difficult situations do not get upset and constantly worry thinking, “Oh My! How do I cross this situation?”. Such worry will only worsen the situation. Repose your faith in God. Think that difficulties are opportunities for your advancement. If you develop this attitude, your life will be sanctified. Whoever does Namasmarana, whatever name they take and wherever they are, their life will be sanctified. They will be free from sin. Do not be too much concerned or bogged down with raga and tala (tune and rhythm). There is only one Raga, that is Hridayaraga (the tune of your own heart). That is ‘So… ham’ (“I am I”). Tune your life Unto Him. Then, whatever activity you undertake, it becomes a success.

Selalulah kerjakan tugasmu dengan wajah yang menyenangkan dan tersenyum. Tidak ada gunanya memperlihatkan 'wajah cemberut'. Kebahagiaan adalah penyatuan dengan Tuhan. Itulah Divinity yang sejati. Ketika engkau dihadapkan dengan situasi sulit janganlah marah dan terus-menerus khawatir memikirkan, "Oh Tuhan! Bagaimana cara mengatasi situasi ini?". Khawatir seperti itu hanya akan memperburuk situasi. Engkau hendaknya menaruh kepercayaanmu pada Tuhan. Berpikirlah bahwa kesulitan adalah kesempatan untuk kemajuanmu. Jika engkau mengembangkan sikap ini, hidupmu akan disucikan. Siapapun yang melantunkan Namasmarana, nama apapun yang mereka ambil dan dimanapun mereka berada, hidup mereka akan disucikan. Mereka akan bebas dari dosa. Jangan terlalu banyak khawatir dengan raga dan tala (lagu dan irama). Hanya ada satu Raga, yaitu Hridayaraga (lagu yang berasal dari hatimu sendiri). Itulah "So ... Ham '("Aku adalah aku"). Arahkanlah hidupmu kepada-Nya. Kemudian, aktivitas apa pun yang engkau lakukan akan menjadi berhasil.


Wednesday, November 5, 2014

Thought for the Day - 5th November 2014 (Wednesday)

Today the world is facing a lot of problems because people are not doing enough Namasamarana. Let each and every street reverberate with the singing of the divine glory. May each and every cell of your body be filled with the Divine Name. Nothing else can give you the bliss, courage and strength that you derive from Namasamarana. Even if others make fun of you, ignore it, let it go! Everyone young or old, rich or poor, must do Namasamarana. Do it with all your mind and total dedication. Sing to the Lord without any inhibitions; only then can you experience divine bliss. You do not need any musical instruments - it is enough if you call Him from the core of your heart. Take care that you do not have evil thoughts as they will produce discordant notes. Then you will receive divine grace and energy.

Saat ini dunia sedang menghadapi banyak masalah karena orang-orang tidak melakukan Namasmarana. Biarlah setiap orang dan setiap jalan bergema dengan nyanyian kemuliaan Tuhan. Semoga setiap orang dan setiap sel tubuhmu dipenuhi dengan Nama Tuhan. Tidak ada lagi yang bisa memberikan kebahagiaan, keberanian dan kekuatan kepadamu selain yang berasal dari Namasmarana. Bahkan jika orang lain mengolok-olok engkau, abaikan saja, biarkan saja! Semua orang, muda atau tua, kaya atau miskin, harus melakukan Namasmarana. Lakukanlah Namasmarana dengan segenap akal budimu dan dedikasi yang penuh. Nyanyikanlah bagi TUHAN tanpa hambatan; hanya setelah itu, maka engkau dapat mengalami kebahagiaan ilahi. Engkau tidak memerlukan alat musik - sudah cukup jika engkau menyebut-Nya dari kedalaman hatimu. Berhati-hatilah agar engkau tidak memiliki pikiran buruk karena hal itu akan menghasilkan nada sumbang. Setelah itu, engkau akan menerima rahmat dan energi Tuhan.


Tuesday, November 4, 2014

Thought for the Day - 4th November 2014 (Tuesday)

A man was performing a marriage in a village. Due to the insufficiency of cooking vessels, the person went to a rich man to borrow them for the occasion. The rich man generously loaned them and the vessels were used to cook a feast to serve the guests attending the wedding. After the function, can the dirty vessels be returned to the owner? No! The vessels must be cleaned inside and outside thoroughly and then be returned. This is true also for the vessel present within you, loaned by God - your heart! All of you are pilgrims in the journey of life. Just as you cannot misuse the borrowed vessel or return it unclean, your heart too must be maintained and returned pure and clean. Do not use the God-gifted heart and limbs to undertake unholy actions and get involved in unnecessary relationships, growing more in bondage. Lead a pure life.
Seorang laki-laki melakukan pernikahan di sebuah desa. Karena kekurangan wadah untuk memasak makanan, orang tersebut pergi ke salah satu orang kaya untuk meminjamkan kepada mereka untuk acara ini. Orang kaya yang murah hati meminjamkannya kepada mereka dan wadah tersebut digunakan untuk memasak untuk keperluan pesta untuk melayani tamu yang menghadiri pernikahan. Setelah digunakan, dapatkah wadah yang kotor tersebut dikembalikan kepada pemiliknya? Tidak! Wadah tersebut harus dibersihkan luar dan dalam dengan cermat dan baru kemudian dikembalikan. Hal ini juga berlaku bagi wadah yang ada dalam dirimu, dipinjamkan oleh Tuhan - yaitu hatimu! Engkau semua adalah peziarah dalam perjalanan hidup. Sama seperti engkau tidak dapat menyalahgunakan wadah yang dipinjam atau mengembalikannya dalam kondisi yang kotor, hatimu juga harus dijaga dan dikembalikan murni dan bersih. Jangan gunakan hati dan anggota badan yang diberikan Tuhan untuk melakukan tindakan yang tidak suci dan terlibat dalam hubungan yang tidak perlu, berkembang dalam keterikatan. Engkau hendaknya menjalani hidup yang murni.


Thought for the Day - 3rd November 2014 (Monday)

Adi Shankara remarked to his disciples that young people were more keen on sensuous pleasures than enquire about the Soul (Atma). It is piteous that people are more attached to the body, which is a container of many filthy objects. They are carried away by the external physical attractions of the body, without understanding its impermanence. How long can youth last? His message is a strong warning to the young to be very careful in the life they lead and encourages them to shed body-consciousness. You must practice recognising the Divine Principle present in all beings, even though they may be called by different names and appear different. Youth must hold fast to God as their only true Friend and Supporter. Once you have firm faith, the Divine will Himself manifest and reveal Himself to you.

Adi Shankara mengatakan kepada murid-muridnya bahwa kaum muda lebih tertarik pada kesenangan duniawi daripada menyelidiki tentang Jiwa (Atma). Ini sangat menyedihkan bahwa orang-orang lebih terikat pada badan jasmani, yang merupakan wadah dari banyak objek-objek yang kotor. Mereka terbawa oleh daya tarik fisik eksternal badan jasmani, tanpa memahami ketidakkekalan-nya. Berapa lama engkau mengalami masa muda? Pesannya adalah peringatan keras untuk kaum muda agar berhati-hati dalam menjalani kehidupan mereka dan mendorong mereka untuk melepaskan kesadaran badan. Engkau harus mempraktikkan mengenali Divine Principle (Prinsip Ilahi) yang ada pada semua makhluk, meskipun mereka dapat disebut dengan nama yang berbeda dan tampak berbeda. Pemuda harus berpegang teguh kepada Tuhan sebagai Teman dan Pendukung sejati mereka. Setelah engkau memiliki keyakinan yang teguh, Tuhan sendiri akan menunjukkan dan mengungkapkan diri-Nya kepadamu.


Sunday, November 2, 2014

Thought for the Day - 2nd November 2014 (Sunday)

Today many parents, even those highly educated, are acting without any sense of discrimination – discouraging children from worshipping God and participating in bhajans. They tell them that they would have ample time to think of God, post retirement. This is a grave mistake. You can remember God in old age, only when you practice thinking of Him from early on. Childhood is a very sacred and golden phase in human life - do not misuse it! Gayatri Mantra is the embodiment of Mother Principle. Practice chanting it every day – in the morning, afternoon and evening. When your back is towards the Sun, your shadow will be in front of you. It will fall behind you only when you stand facing the Sun. Similarly illusion (maya), which is like your shadow, will overpower you when you turn your mind away from God. You can easily overcome illusion, when you turn your mind towards God.

Saat ini banyak orang tua, bahkan mereka yang berpendidikan tinggi, bertindak tanpa rasa diskriminasi - menjauhkan anak-anak dari memuja Tuhan dan berpartisipasi dalam bhajan. Orang tua mereka memberitahu anak-anak mereka bahwa mereka akan memiliki cukup waktu untuk merenungkan Tuhan, setelah masa pensiun. Ini adalah kesalahan besar. Engkau dapat mengingat Tuhan di usia tua, hanya ketika engkau mempraktikkan merenungkan Beliau dari awal. Masa kanak-kanak merupakan fase yang sangat suci dan masa emas dalam kehidupan manusia - jangan menyalahgunakannya! Gayatri Mantra adalah perwujudan dari Prinsip Ibu. Praktikkanlah setiap hari - di pagi, siang dan sore hari. Ketika punggungmu ke arah Matahari, bayanganmu akan berada di depanmu. Bayanganmu akan jatuh di belakangmu hanya ketika engkau berdiri menghadap Matahari. Demikian pula ilusi (maya), yang seperti bayanganmu, akan mengalahkan engkau ketika engkau menjauhkan pikiranmu dari Tuhan. Engkau dapat dengan mudah mengatasi ilusi, saat engkau mengarahkan pikiranmu terhadap Tuhan.


Saturday, November 1, 2014

Thought for the Day - 1st November 2014 (Saturday)

The body is made up of five elements and is not real at any time. Body is like a water bubble. The bubble is born in water, sustained in water and ultimately merges in the water. Similarly the Self is born from Divine Consciousness (Sachidananda) and merges ultimately in the Divine. Birth and death are scenes in this drama of life; do not consider them to be true. In your sleep you may have seen many mansions, but when you are awake, you don’t see any of them! The buildings you see during your day are not visible to you when you are asleep. Hence both are untrue – day-dreams and night-dreams at best! The only fact in it is that ‘you’ are present in both times. Similarly though you have a human form, in reality you are Divine. Therefore sanctify this birth by leading a pure and sacred life. Don’t accumulate the dirt of worldly life.

Badan jasmani terdiri dari lima elemen dan setiap saat bersifat tidak nyata. Badan dapat diibaratkan seperti gelembung air. Gelembung lahir dalam air, hidup dalam air dan akhirnya menyatu di dalam air. Demikian juga Sang Atma lahir dari Kesadaran Ilahi (Sachidananda) dan akhirnya menyatu dengan Ilahi. Kelahiran dan kematian adalah adegan dalam drama kehidupan ini; janganlah menganggapnya menjadi nyata. Dalam tidurmu, engkau mungkin telah melihat banyak rumah besar, tetapi ketika engkau bangun, engkau tidak melihat salah satu dari hal tersebut! Bangunan-bangunan yang engkau lihat sepanjang hari ketika engkau terjaga tidak terlihat olehmu ketika engkau tidur. Oleh karena itu keduanya tidak nyata - mimpi di siang hari dan mimpi di malam hari! Satu-satunya fakta adalah bahwa engkau ada pada keduanya. Demikian pula meskipun engkau memiliki wujud manusia, pada kenyataannya engkau adalah Ilahi. Oleh karena itu, engkau hendaknya menyucikan kelahiran ini dengan menjalani hidup yang murni dan suci. Janganlah menumpuk kotoran dari kehidupan duniawi.