Monday, March 31, 2014

Thought for the Day - 31st March 2014 (Monday)

On a stage, there are a number of lights. One is turned towards an actor in the role of a king. Another is focussed on a beggar. Yet another light is on a man reading the Ramayana. The fourth one lights up a fighting scene. Here, although the lights illumine a variety of scenes, they remain unaffected by the behaviour of the actors; they simply bear witness to the actions but no blame attaches to them for what the actors do. The characters alone are affected by what they do. Similarly Time is a witness to what everyone is doing. This Time is available equally to all. Your primary duty is to make right use of this Time. For this purpose, there is no need for you to wait for the beginning of a new year. Every moment is a manifestation of Time. The second is the basis for the year. Hence every second should be filled with purposeful action.

Di atas panggung, ada beberapa lampu. Salah satu lampu mengarah pada seorang aktor yang berperan sebagai raja. Lampu lainnya difokuskan pada seorang pengemis. Dan lampu yang lainnya mengarah pada seorang pria yang membaca Ramayana. Lampu yang keempat menyoroti adegan pertempuran. Di sini, meskipun lampu menerangi berbagai adegan, lampu tetap tidak terpengaruh oleh perilaku para aktor, mereka hanya menjadi saksi tindakan tetapi tidak ada kesalahan yang melekat kepada mereka atas tindakan yang dilakukan sang aktor. Karakter dipengaruhi oleh apa yang mereka lakukan. Demikian pula Sang Waktu adalah saksi atas apa yang semua orang lakukan. Sang Waktu ini tersedia sama bagi semuanya. Tugas utamamu adalah untuk menggunakan waktu ini dengan baik. Untuk tujuan ini, tidak perlu bagimu untuk menunggu awal tahun baru. Setiap saat adalah manifestasi dari Sang Waktu. Detik adalah dasar bagi tahun. Oleh karena itu setiap detik harus diisi dengan tindakan yang bermanfaat. (Divine Discourse 27 March 1990)


Sunday, March 30, 2014

Thought for the Day - 30th March 2014 (Sunday)

The difference between Rama and Ravana can be understood in three key aspects. Rama embodied the following characteristics: He rejoiced in the wellbeing of the whole Universe (Sarva Loka Hithe Ratah). He was the embodiment of wisdom (Sarva Jnana Sampannah). He was filled with all the virtues (Sarve Samuditha Gunaihi). You must learn and practice this important lesson for the welfare of this world. Lord Rama promoted the well-being of all by adhering to Truth and setting an example of righteous conduct. From His life, we must also understand the supreme importance of upholding Truth in our daily life. All of you tend to speak a great deal. We must keep up the promises we make and live up to what we say or preach. Introspect within yourselves as to how truthful is ur speech. Without truth, speech has no value.

Perbedaan antara Rama dan Rahwana dapat dipahami dalam tiga aspek kunci. Rama terwujud dalam karakteristik sebagai berikut: Beliau bersukacita dalam kesejahteraan seluruh Alam semesta (Sarva Loka Hithe Ratah). Beliau adalah perwujudan dari kebijaksanaan (Sarva Jnana Sampannah). Beliau dipenuhi dengan semua kebajikan (Sarve Samuditha Gunaihi). Engkau harus belajar dan mempraktikkan pelajaran penting ini untuk kesejahteraan dunia. Sri Rama meningkatkan kesejahteraan semuanya dengan mengikuti Kebenaran dan memberi contoh perilaku yang benar. Dari hidup-Nya, kita juga harus memahami pentingnya menegakkan Kebenaran dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalian semuanya cenderung untuk berbicara banyak. Kita harus menjaga janji-janji yang kita buat dan menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang kita katakan atau apa yang kita ajarkan. Engkau hendaknya mengintrospeksi dirimu sendiri agar senantiasa mengatakan kebenaran. Tanpa kebenaran, kata-kata tidak akan memiliki nilai. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 2, Ch 8, June 15, 1989)


Saturday, March 29, 2014

Thought for the Day - 29th March 2014 (Saturday)

One Sankaranti day, Rukmini, Sathyabhama, Jambavati, Gopikas, and Draupadi among others were with Lord Krishna, joyously munching sugarcane. Krishna, in order to test them, pretended as if His finger was cut. God always tests His devotees. Test is nothing but a taste of God. If the devotee is successful in the test, he/she receives God’s bounteous Grace. God does not conduct tests as a sign of hatred or enmity; He always does it out of intense love and compassion. As soon as Krishna’s finger was cut, it started bleeding. Sathyabhama asked a servant to quickly get a piece of cloth. Rukmini ran herself. Draupadi saw this and immediately tore a piece of her own sari and tied it to Lord Krishna’s thumb to stop the bleeding. Witnessing this, Rukmini and Sathyabama were ashamed that their love and actions did not match Draupadi’s love. Later Lord Krishna showered infinite grace when Draupadi needed it the most.

Suatu hari di hari Sankaranti, Rukmini, Sathyabhama, Jambavati, Gopika, dan Draupadi bersama-sama dengan Sri Krishna, bergembira mengunyah tebu. Untuk menguji mereka, Sri Krishna, berpura-pura seolah-olah jari-Nya terpotong. Tuhan selalu menguji bhakta-Nya. Ujian tidak lain adalah rasa Tuhan. Jika bhakta berhasil dalam ujian, ia akan menerima Rahmat Tuhan yang murah hati. Tuhan tidak melakukan ujian sebagai tanda kebencian atau permusuhan, Beliau selalu melakukannya dari cinta dan kasih sayang yang intens. Begitu jari Sri Krishna terpotong, jari itu mengeluarkan darah. Sathyabhama meminta seorang pelayan untuk mengambil sepotong kain. Rukmini sendiri berlari. Draupadi melihat hal ini, segera merobek sepotong sarinya sendiri dan mengikatnya ke ibu jari Sri Krishna untuk menghentikan pendarahan. Menyaksikan hal ini, Rukmini dan Sathyabama merasa malu bahwa cinta dan tindakan mereka tidak sesuai dengan cinta Draupadi. Kemudian Sri Krishna mencurahkan anugerah tak terbatas ketika Draupadi sangat membutuhkannya.  (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 2, Ch 3, June 30, 1996)

Friday, March 28, 2014

Thought for the Day - 28th March 2014 (Friday)

When in a helpless state people cry to God lamenting “Oh God, why do you put me to such suffering, anxiety and worry, and test me like this?” God does not give us any pleasure or pain. Whatever you go through is your own making. God is just the postman; He hands over all the covers that are addressed to you. He will deliver anything – card, money order or the covers that are meant for you. Whatever results or effects the contents have on you have nothing to do with the postman. In the same manner, all that you experience is the result of your own actions. They are not given by God. There is something fundamental about pleasure and pain. It is we who have deserved that experience based on our actions done either in this life or in the previous one. In difficult times, pray to God selflessly with a sacred and pure heart for His ‘Special Grace’ to protect and help you.

Ketika orang dalam keadaan tak berdaya menangis kepada Tuhan meratap "Oh Tuhan, mengapa Engkau menempatkan saya pada penderitaan seperti ini, kecemasan dan khawatir, dan menguji saya seperti ini?" Tuhan tidak memberikan kita kebahagiaan atau penderitaan. Apa pun yang engkau hadapi itu karena perbuatanmu sendiri. Tuhan hanya sebagai tukang pos, Dia menyampaikan ke alamat yang sesuai dengan yang tertulis pada sampul. Dia akan memberikan apapun - kartu, wesel, atau sampul/surat yang ditujukan kepadamu. Apa pun hasil atau efek yang akan mengenaimu tidak ada hubungannya dengan tukang pos. Dengan cara yang sama, semua yang engkau alami adalah hasil dari tindakanmu sendiri. Itu semua bukan diberikan oleh Tuhan. Ada sesuatu yang mendasar tentang kesenangan dan kesedihan. Apapun yang kita alami berdasarkan tindakan yang kita lakukan, baik dalam kehidupan ini atau dalam kehidupan sebelumnya. Dalam masa-masa sulit, berdoalah kepada Tuhan dengan tulus dengan hati yang suci dan murni agar Beliau memberikan 'Rahmat khusus' untuk melindungi dan membantumu. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 3, Ch 3, June 30, 1996)

Thursday, March 27, 2014

Thought for the Day - 27th March 2014 (Thursday)

There is immeasurable strength and great power within us. Today, we have many satellites which go into space. Who created them? It is our scientists. How did they achieve this? This is because of the power that is already manifest in them. They worked hard and further developed that capability in them, and then the power to achieve the goal manifested. So too, if you develop that power through hard work, you too can accomplish great things. In every being, there is complete Divine Power. How can we use that power to attain God? Assume there is a small drop of water. When under hot Sun, it evaporates within a moment. However if you pour these few drops of water into the sea, they merge and become one with the ocean. So too, with adequate effort, if you lose your individual identity to the Supreme, then you too merge in Him and become One with Him.

Ada kekuatan yang tak terukur dan kekuatan besar dalam diri kita. Saat ini, kita memiliki banyak satelit yang bisa pergi ke luar angkasa. Siapa yang menciptakannya? Para ilmuwan kita. Bagaimana mereka mencapai hal ini? Hal ini karena kekuatan yang sudah ada pada diri mereka. Mereka bekerja keras dan lebih lanjut mengembangkan kemampuan yang ada di dalamnya, dan kemudian kekuatan untuk mencapai tujuan diwujudkan. Demikian juga, jika engkau mengembangkan kekuatan tersebut melalui kerja keras, engkau juga dapat mencapai hal-hal besar. Dalam setiap makhluk, ada Kekuatan Ilahi yang sempurna. Bagaimana kita bisa menggunakan kekuatan itu untuk mencapai Tuhan? Asumsikan ada setetes air. Ketika air tersebut berada di bawah panas matahari, air itu akan menguap dalam beberapa saat. Namun, jika engkau menuangkan beberapa tetes air ke laut, mereka bergabung dan menjadi satu dengan lautan. Demikian juga, dengan usaha yang memadai, jika engkau kehilangan identitas pribadi-mu, maka engkau juga menyatu dengan-Nya dan menjadi satu dengan-Nya. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 3, Ch 2, March 19, 1998)

Wednesday, March 26, 2014

Thought for the Day - 26th March 2014 (Wednesday)

Human beings are the most precious objects in the Creation of the Lord. They are way more valuable than all the wealth in the world. In fact it is man who imparts value to all objects. But we fail to recognise this because people are attracted to all the visible objects of the world experienced by the senses, and are unaware of the Spirit within them. For accomplishing anything in this world, three things are essential – First, mastery over the senses; second, control over the mind; and third, maintaining perfect bodily health. When all the three requisites are present, you can most certainly achieve your aim. Put appropriate effort and attain a lot of goodness with the power you already possess! Do not lose your power by indulging in sensual pleasures without self-control. You can accomplish anything with these three things.

Manusia adalah makhluk paling berharga dalam Ciptaan Tuhan. Mereka jauh lebih berharga daripada semua kekayaan di dunia ini. Bahkan manusia adalah yang menanamkan nilai untuk semua objek. Tetapi kita tidak menyadari hal ini karena orang-orang tertarik pada semua benda yang terlihat di dunia yang dirasakan oleh indera, dan tidak menyadari Spirit/Jiwa dalam diri mereka. Untuk mencapai apa pun di dunia ini, tiga hal yang penting - Pertama, penguasaan atas indera, kedua, mengendalikan pikiran, dan ketiga, menjaga kesehatan badan jasmani. Ketika ketiga syarat tersebut terpenuhi, engkau pasti bisa mencapai tujuanmu. Engkau hendaknya menempatkan usaha yang tepat dan melakukan berbagai kebaikan dengan kekuatan yang sudah engkau miliki! Jangan sampai engkau kehilangan kekuatan dengan menuruti kesenangan sensual tanpa pengendalian diri. Engkau dapat mencapai apa pun dengan tiga hal tersebut. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 2, Ch 8, June 15, 1989)

Tuesday, March 25, 2014

Thought for the Day - 25th March 2014 (Tuesday)

As long as you are in this world, you must follow your duties sincerely. You must respect your parents and teachers, take care of your spouse and children. These are our worldly duties that must be performed sincerely. At times, you may have to disobey others for the sake of God. There is nothing wrong in doing so, provided you have truly established your relationship with the Divine. Meera, Prahlada, Bharatha, have all tread this path and have disobeyed worldly commands out of genuine love for God, for the sake of God. When you have God by your side, who gives you everything, why do you bother about other worldly aspects? When you have a wish fulfilling tree, why do you go elsewhere? Never give up God. You must be ready to do anything for Him. Your focus and whole hearted effort must be to attain God.

Selama engkau berada di dunia ini, engkau harus melaksanakan tugasmu dengan sungguh-sungguh. Engkau harus menghormati orang tua dan guru, memperhatikan/peduli pada pasangan dan anak-anak-mu. Inilah tugas duniawi kita yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kadang-kadang, engkau mungkin tidak mematuhi orang lain demi Tuhan. Tidak ada yang salah dalam melakukannya, asalkan engkau telah benar-benar menunjukkan hubunganmu dengan Tuhan. Meera, Prahlada, Bharatha, semuanya menapaki jalan ini dan tidak mematuhi perintah duniawi, demi Tuhan. Jika Tuhan berada disampingmu, yang memberikan engkau segalanya, mengapa bimbang tentang aspek-aspek duniawi lainnya? Jika engkau memiliki pohon yang bisa mengabulkan semua keinginan, mengapa engkau pergi ke tempat lain? Jangan pernah meninggalkan Tuhan. Engkau harus siap melakukan apa pun bagi-Nya. Seluruh hati dan perhatianmu harus untuk mencapai Tuhan. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 3, Ch 2, March 19, 1998)

Monday, March 24, 2014

Thought for the Day - 23rd March & 24th March 2014

Date: Sunday, March 23, 2014

We think that we are weak. Thinking in this manner is a big mistake. We are not weak. There is no one who is as powerful as a human being. Despite being powerful, people are afraid of many things. They are even afraid or worried about small ailments. Why this fear? Why is a person afraid? This is due to an inherent mistake. If there is no error or mistake, there will be no fear. That mistake is to think and act such that ‘we are the body’. We are not this body. Body, mind, senses and intelligence are instruments and you are the Master. Master your mind and become a mastermind. Enquire into the activities of your daily life and understand and experience the Truth. Become the Master, then you can merge in everything and experience Divinity.

Kita beranggapan bahwa kita adalah manusia yang lemah. Beranggapan seperti ini, merupakan suatu kekeliruan besar. Kita tidaklah lemah. Tidak ada siapa-pun yang memiliki kekuatan seperti manusia. Mengabaikan kekuatan sebagai manusia, orang-orang takut akan banyak hal. Mereka bahkan takut atau khawatir pada penyakit yang sangat remeh. Mengapa takut akan hal ini? Mengapa manusia merasa takut? Hal ini disebabkan oleh kesalahan inherent. Jika tidak ada kesalahan atau kekeliruan, maka tidak akan ada rasa takut. Kesalahan tersebut adalah karena kita beranggapan  'kita adalah badan'. Kita bukanlah badan. Badan, pikiran, indera, dan intelegensi adalah instrumen dan engkau adalah Master-nya. Kuasailah pikiran, jadilah penguasa pikiran. Engkau hendaknya melaksanakan dan melakukan tindakan sehari-hari, memahami, dan mengalami Kebenaran. Menjadilah Master, maka engkau akan menyatu dan mengalami Divinity. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 3, Ch 2, March 19, 1998)

Date: Monday, March 24, 2014

No object can be enjoyed without undergoing the process of transformation and refinement (Samskara). Take the example of paddy. The paddy that is grown and harvested in the field cannot be consumed as such. It has to be converted into rice through the process of winnowing and thrashing. Once the process is complete, the value of the original paddy increases significantly. The process of transformation makes the object more useful and valuable. The utility value of cotton when spun and transformed into cloth is significantly higher, thanks to the transformation process. Take the example of gold. Again, there is a significant increase in its value when it is transformed to the shiny yellow metal, from its original form in the gold mine. Such being the case, how much more necessary it is for the human being to be transformed?

Tidak ada objek yang dapat dinikmati tanpa menjalani proses transformasi dan perbaikan (Samskara). Ambil salah satu contoh yaitu padi. Padi yang ditanam dan dipanen tidak dapat langsung dikonsumsi. Padi harus diubah menjadi beras melalui proses menampi dan memukul berulang-ulang. Setelah prosesnya selesai, nilai orisinil padi meningkat secara signifikan. Proses transformasi membuat objek lebih berguna dan berharga. Nilai utilitas/kegunaan kapas saat dipintal dan berubah menjadi kain secara signifikan lebih tinggi, berkat proses transformasi. Ambil contoh lain yaitu emas. Sekali lagi, ada peningkatan yang signifikan pada nilai-nya ketika ditransformasikan ke logam kuning mengkilap, dari bentuk aslinya di tambang emas. Seperti kejadian tersebut, berapa banyak lagi yang diperlukan manusia untuk bertransformasi? (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 2, Ch 8, June 15, 1989)


Saturday, March 22, 2014

Thought for the Day - 22nd March 2014 (Saturday)

The entire visible universe is a cosmic university. At birth, people are akin to animals. Then, parents teach the child how to develop its human faculties. If parents do not undertake this task adequately, the child will remain an animal. The great sages and saints felt that it was not enough to develop the human qualities alone, and therefore envisaged a system of Cultural Training (Samskaras) for the spiritual development of the child. What is Samskara? It is systems of practice by which the bad tendencies in a human being are got rid of and good tendencies are inculcated. They are intended to transform the outward looking tendency (Pravritti) into inward looking tendency (Nivritti). Samskaras also assist in developing human qualities and eliminating all remnants of animal nature in human beings.

Seluruh alam semesta nampak sebagai sebuah universitas kosmik. Saat lahir, orang-orang mirip seperti hewan. Kemudian, orang tua mengajarkan anak-anak bagaimana mengembangkan kemampuan manusia. Jika orang tua tidak melakukan tugas ini secara memadai, anak akan tetap seperti hewan. Para bijak mulia dan orang-orang suci merasa bahwa tidak cukup hanya mengembangkan kualitas manusia saja, dan karena itu dikembangkan sistem Pelatihan Budaya (Samskaras) untuk pengembangan spiritual anak. Apa itu Samskara? Samskara adalah suatu sistem untuk menyingkirkan kecenderungan-kecenderungan buruk dan menanamkan kecenderungan-kecenderungan yang baik dalam diri manusia. Hal ini dimaksudkan untuk mengubah kecenderungan pandangan keluar (Pravritti) ke kecenderungan pandangan kedalam  (Nivritti). Samskara juga membantu dalam mengembangkan sifat-sifat manusia dan menghilangkan semua sisa-sisa sifat-sifat hewan pada manusia. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 2, Ch 8, June 15, 1989)

Friday, March 21, 2014

Thought for the Day - 21st March 2014 (Friday)

At times, your mind becomes a monkey, a mad monkey, jumping and bumping all over. It might be difficult to control your mind. In those moments, tell yourself, “I am not a monkey; I am part of ‘mankind’.” You must have and exhibit kindness from within you. Cultivate love and develop kindness. All of you must start the day with love, fill the day will love and end the day with love. This is the way to God. Always be happy. There should not be anyone with castor-oil faces. You must lead a happy life and be cheerful always. Not just on your birthday should you be happy, you must lead your life in happiness all the time. When you have love for God, you will not do things that God does not approve of. So, your life will always be happy. Follow God, live in Love and Truth. Then you will attain true happiness and enjoy bliss.

Kadang-kadang, pikiranmu menjadi seperti monyet, monyet gila, melompat dan melonjak-lonjak ke segala arah. Mungkin sulit untuk mengendalikan pikiranmu. Dalam keadaan seperti itu, katakan kepada dirimu sendiri, "Saya bukan monyet; Saya bagian dari 'manusia'." Engkau harus memiliki dan menunjukkan kebaikan dari dalam dirimu sendiri. Tumbuhkanlah cinta-kasih dan kembangkanlah kebaikan. Kalian semua harus memulai hari dengan cinta-kasih, mengisi hari dengan cinta-kasih, dan mengakhiri hari dengan cinta-kasih. Inilah jalan menuju Tuhan. Selalulah berbahagia. Tidak boleh siapa pun memperlihatkan wajah bersedih. Engkau harus senantiasa menjalani kehidupan ini dengan ceria dan berbahagia. Bukan hanya pada hari ulang tahun saja engkau berbahagia, engkau harus menjalani kehidupanmu dalam kebahagiaan sepanjang waktu. Bila engkau memiliki cinta-kasih untuk Tuhan, engkau tidak akan melakukan hal-hal yang tidak disetujui Tuhan. Jadi, hidupmu akan selalu berbahagia. Ikutilah Tuhan, hiduplah dalam Kasih dan Kebenaran. Maka engkau akan mencapai kebahagiaan sejati dan menikmati kebahagiaan. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 1, Ch 7, Apr 10, 2000)


Thursday, March 20, 2014

Thought for the Day - 20th March 2014 (Thursday)

The Gopikas lived their lives, doing everything as God’s work. They would get up early in the morning, and chant the name of Krishna even as they put curd in the pot. Then as they began churning curds, they would continuously utter the many names of Lord Krishna. Chanting Krishna’s name was like the Shruthi (musical scale), their jingling bangles became the rhythm, the sound of churning was the pitch and what they uttered became a mellifluous song. Where did the butter they churned come from? It came from the curds, though it was not visible in the beginning. Just like one can get butter out of milk, with effort you too who have come from God must merge in Him. Understand this principle well and you can experience Him anywhere and everywhere, all the time.

Para Gopika menjalani kehidupan mereka, melakukan segala sesuatu sebagai pekerjaan Tuhan. Mereka akan bangun pagi-pagi, dan menyebut nama Sri Krishna bahkan saat mereka menempatkan dadih ke dalam pot/periuk. Kemudian ketika mereka mulai mengaduk dadih, mereka terus akan mengucapkan nama Sri Krishna. Men-chanting-kan nama Sri Krishna adalah seperti Shruthi (tangga nada musik), gelang gemerincing mereka menjadi irama, suara mengaduk dadih adalah nada dan apa yang mereka ucapkan menjadi sebuah lagu merdu. Dari mana mentega berasal? Ini berasal dari dadih, meskipun tidak terlihat pada awalnya. Sama seperti seseorang bisa mendapatkan mentega dari susu, dengan usahamu sendiri engkau juga yang berasal dari Tuhan harus menyatu dengan-Nya. Pahamilah prinsip ini dengan baik  maka engkau dapat mengalami-Nya di mana saja dan di mana-mana, sepanjang waktu. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 3, Ch 2, March 19, 1998)

Wednesday, March 19, 2014

Thought for the Day - 19th March 2014 (Wednesday)

Look at a beautiful building. How is it strong? It has walls, which gives it support. But how do the walls get the support? There is a foundation beneath it. The walls are able to stand strong because the foundation is solid. What is the use of the walls and foundation without a roof? You can live in a place, only when there is a roof. So too, to lead a happy life and accomplish Self-Realization, you must have Self-confidence as the foundation, Self-satisfaction as the walls and Self-sacrifice as your roof. So first and foremost, develop Self-confidence. Where there is faith, there is love. Where there is love, there is peace. Where there is peace, there is truth. Where there is truth, there is bliss. Where there is bliss, there is God. And where there is God, there is everything. Never forget this principle and develop Self-confidence.

Lihatlah suatu gedung yang bagus. Bagaimana gedung tersebut bisa berdiri kokoh? Gedung itu memiliki dinding, yang menyangganya. Tetapi bagaimana dinding bisa menyangganya? Ada suatu pondasi di bawahnya. Dinding bisa berdiri kuat karena pondasinya yang kokoh. Apa gunanya dinding dan pondasi tanpa atap? Engkau dapat tinggal di suatu tempat, hanya jika tempat itu ada atapnya. Demikian juga, untuk menjalani hidup yang bahagia dan mencapai Self-Realization, engkau harus memiliki  Self-confidence sebagai pondasinya, Self-satisfaction sebagai dinding dan Self-sacrifice sebagai atapnya. Jadi pertama dan terpenting, kembangkanlah  Self-confidence ‘percaya diri’. Di mana ada keyakinan, disana ada cinta-kasih. Di mana ada cinta-kasih, disana ada kedamaian. Di mana ada kedamaian, disana ada kebenaran. Di mana ada kebenaran, disana ada kebahagiaan sejati. Dimana ada kebahagiaan sejati, disana ada Tuhan. Dan di mana ada Tuhan, disana ada semuanya. Jangan lupa akan prinsip ini dan kembangkanlah Self-confidence ‘kepercayaan diri’. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 1, Ch 7, Apr 10, 2000)

Tuesday, March 18, 2014

Thought for the Day - 18th March 2014 (Tuesday)

Some people ask, “If we spend all the time praying to God, then who will do our jobs? How can we run our family?” I will show you a very easy way - do your job, thinking that the job also belongs to God. Do not keep your mind on it thinking it is ‘my job’. Think that all the actions that you do, you are doing it for God. Offer everything at His Feet. Believe and tell yourself, “Whatever I am doing, I am doing it out of love for God”. Then, you need not give up anything. Face the examinations and do your work in a spirit of total devotion and dedication. When you do all your work as God’s work, then you will get the right reward. Never think, “This is my work and that is God’s work”; such mindset will deprive you of the right rewards. Realize that everything is God’s work.

Beberapa orang bertanya, "Jika kita menghabiskan semua waktu untuk berdoa kepada Tuhan, lalu siapa yang akan melakukan pekerjaan kita? Bagaimana kita bisa mengatur keluarga kita?” "Aku akan menunjukkan kepada-mu cara yang sangat mudah - lakukan pekerjaanmu, berpikirlah bahwa pekerjaan itu juga milik Tuhan. Janganlah menyimpan dalam pikiranmu bahwa itu adalah 'pekerjaan saya'. Pikirkan bahwa semua tindakan yang engkau lakukan, engkau melakukannya untuk Tuhan. Persembahkan segala sesuatunya di Kaki-Nya. Yakinlah dan katakan pada dirimu sendiri, "Apa pun yang saya lakukan, saya melakukannya karena cinta kepada Tuhan". Kemudian, engkau tidak perlu meninggalkan apa pun. Hadapilah ujian dan lakukan pekerjaanmu dengan semangat bhakti dan dedikasi total. Ketika engkau melakukan semua pekerjaanmu sebagai pekerjaan Tuhan, maka engkau akan mendapatkan pahala yang tepat. Jangan pernah berpikir, "Ini adalah pekerjaan saya dan itu adalah pekerjaan Tuhan"; mindset tersebut akan membuat engkau tidak akan mendapatkan pahala yang tepat. Sadarilah bahwa segala sesuatu adalah pekerjaan Tuhan. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 3, Ch 2, March 19, 1998.)

Monday, March 17, 2014

Thought for the Day - 17th March 2014 (Monday)

God does not exist in any foreign land; do not search for Him anywhere – He lives within your own body. Similarly sin too does not exist in any external place. Both, sin and merit exist in your own actions. Hence perform good actions and speak good words. If your kerchief falls down and someone picks it up for you, you tell him ‘Thank you’, is it not? So too, you must use your tongue to express your gratitude to God. God has gifted us many wonderful things. For example, when it rains, there is plenty of water flowing through canals, rivers, tanks, etc. All the forms of Nature – Earth, Sound, Water, Air and Fire are Forms of God. You must express your utmost gratitude to them. Never forget the good done to you by others – Be a grateful person.

Tuhan tidak ada di negeri yang jauh, jangan mencari-Nya di mana saja - Beliau bersemayam di dalam badanmu sendiri. Demikian pula, dosa juga tidak ada di luar dirimu. Keduanya, baik dosa dan pahala ada dalam tindakanmu sendiri. Oleh karena itu engkau hendaknya melakukan tindakan yang baik dan mengucapkan kata-kata yang baik. Jika sapu tanganmu jatuh dan seseorang mengambilnya untukmu, bukankah engkau mengatakan  'Terima kasih', padanya? Demikian juga, engkau harus menggunakan lidahmu untuk mengekspresikan rasa terima kasihmu kepada Tuhan. Tuhan telah memberkati kita banyak hal yang mengagumkan. Sebagai contoh, saat hujan, ada banyak air yang mengalir melalui kanal-kanal, sungai, kolam, dll. Semua bentuk Alam - Bumi, Suara, Air, Udara, dan Api adalah Wujud Tuhan. Engkau harus mengucapkan terima kasih kepada mereka. Janganlah lupa hal-hal baik yang dilakukan orang lain padamu - Jadilah orang yang senantiasa bersyukur. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 1, Ch 7, Apr 10, 2000.)

Sunday, March 16, 2014

Thought for the Day - 16th March 2014 (Sunday)

Gayathri is the Mother of all scriptures (Vedas). She exists, wherever Her name is chanted. She is very powerful. The One who nourishes the individual being is Gayathri. She bestows pure thoughts on anyone who worships Her. She is the embodiment of all Goddesses. Our very breath is Gayathri, our faith in existence is Gayathri. Gayathri has five faces, they are the five life principles. She has nine descriptions, they are ‘Om, Bhur, Bhuvah, Swah, Tat, Savitur, Varenyam, Bhargo, Devasya’. Mother Gayathri nourishes and protects every being and She channelizes our senses in the proper direction. ‘Dheemahi’ means meditation. We pray to her to inspire us with good intelligence. ‘Dheeyo Yonah Prachodayat’ - We beseech her to bestow on us everything we need. Thus Gayathri is the complete prayer for protection, nourishment and finally, liberation.

Gayathri adalah Ibu dari semua kitab suci (Veda). Beliau ada, di mana pun Nama-Nya diucapkan. Beliau memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia yang memelihara individu adalah Gayathri. Beliau melimpahkan pikiran murni pada siapa pun yang menyembah-Nya. Dia adalah perwujudan dari semua Dewi. Napas kita adalah Gayathri, keyakinan kita adalah Gayathri. Gayathri memiliki lima wajah, yaitu lima prinsip-prinsip kehidupan. Beliau memiliki sembilan deskripsi, yaitu 'Om, Bhur, Bhuvah, Swah, Tat, Savitur, Varenyam, Bhargo, Devasya'. Ibu Gayathri memelihara dan melindungi setiap makhluk dan Beliau mengarahkan indera kita dalam arah yang benar. 'Dhiimahi' berarti meditasi. Kita berdoa kepada-Nya untuk menginspirasi kita dengan kecerdasan yang baik. 'Dheeyo Yonah Prachodayat' - Kita memohon kepada-Nya untuk memberikan pada kita semua apa yang kita butuhkan. Jadi Gayathri adalah doa lengkap untuk perlindungan, makanan dan akhirnya, pembebasan. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 3, Ch 2, March 19, 1998.)


Saturday, March 15, 2014

Thought for the Day - 15th March 2014 (Saturday)

Not by work or wealth or progeny, but only by sacrifice can one attain immortality. All the scriptures explain the value of sacrifice. Understand its inner significance and practice it. Devotion should not be confined to visiting temples and saluting God therein. Devotion exists everywhere. Wherever you sit, you can utter the Name of the Lord. There is no place without Love, Love exists everywhere. Some love their mother or father, others their wife or children. There are yet others who love God. Loving God alone is true devotion. The love for any worldly person can at best be selfish – there is no one who loves another person without a selfish reason. God alone loves you without selfishness, expecting nothing in return. Therefore develop faith and devotion to God.

Bukan dengan pekerjaan atau kekayaan atau keturunan, tetapi hanya dengan pengorbanan, seseorang bisa mencapai keabadian. Semua kitab suci menjelaskan arti dari pengorbanan. Pahamilah makna batin-nya dan mempraktikkannya. Pengabdian/bhakti tidak harus terbatas pada mengunjungi kuil-kuil dan memuja Tuhan yang ada di dalamnya. Pengabdian/bhakti ada di mana-mana. Di mana pun engkau duduk, engkau dapat mengucapkan nama Tuhan. Tidak ada tempat tanpa Cinta-kasih, Cinta-kasih ada di mana-mana. Beberapa orang mencintai ibu atau ayah mereka, yang lainnya mencintai istri atau anak-anak mereka. Ada yang lain lagi yang mengasihi Tuhan. Pengabdian/bhakti yang sejati adalah mereka yang hanya mencintai Tuhan. Cinta-kasih yang ditujukan untuk orang lain  adalah mementingkan diri sendiri - tidak ada seorang pun yang mencintai orang lain tanpa alasan untuk kepentingan diri sendiri. Tuhan sendiri mengasihi engkau tanpa keegoisan, tanpa mengharapkan apa pun sebagai imbalan. Oleh karena itu kembangkanlah keyakinan dan ketaqwaan kepada Tuhan. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 3, Ch 2, March 19, 1998.)

Friday, March 14, 2014

Thought for the Day - 14th March 2014 (Friday)

You often desire that you must have peace. In fact, every being wants peace, but not many have it. They only see pieces everywhere. From where will you get peace? It is present right there, within you. Fill your heart completely with love – then you will merge in the peace present within your heart. There will be no agitation. An agitation-free mind will confer peace on you. What is truth? All that comes out of a loving heart is truth. What is Righteousness (Dharma)? All actions that emerge from the core of your heart, all actions done out of selfless love is Dharma. Hrud+Daya = Hrudaya. Love and Compassion must pervade your heart. Have faith that your heart is your temple and there is no bigger temple than that. In fact it is a permanent and pure place for the Lord, only you have to keep it that way.

Engkau sering berkeinginan bahwa engkau harus memiliki kedamaian. Sesungguhnya, setiap makhluk menginginkan kedamaian, tetapi tidak banyak yang memilikinya. Mereka hanya menemui piece di mana-mana. Dari mana engkau akan mendapatkan kedamaian? Kedamaian ada di sana, di dalam dirimu. Isilah hatimu dengan cinta-kasih - maka engkau akan menyatu dengan kedamaian dalam hatimu. Tidak akan ada agitasi (pergolakan). Dengan pikiran yang bebas dari agitasi (pergolakan) akan memberikan kedamaian padamu. Apakah yang dimaksud dengan kebenaran? Semua yang keluar dari hati yang penuh kasih adalah kebenaran. Apakah Kebajikan (Dharma)? Semua tindakan yang muncul dari hatimu yang paling dalam, semua tindakan yang dilakukan karena cinta-kasih tanpa pamrih adalah Dharma. Hrud + Daya = Hrudaya. Cinta dan Kasih harus meliputi hatimu. Milikilah keyakinan bahwa hatimu adalah merupakan temple ‘kuil’ dan tidak ada temple ‘kuil’  yang lebih besar dari itu. Bahkan itulah tempat yang permanen dan murni untuk Tuhan, hanya engkau harus menjaganya secara terus-menerus. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 1, Ch 7, Apr 10, 2000.)

Thursday, March 13, 2014

Thought for the Day - 13th March 2014 (Thursday)

What is the objective of ‘studying’? You must study to become steady. When you have a steady mind, you can prosper. Your mind should not move like the pendulum of a clock. See to it that the Divine Love in your heart is steady. The goal of education should not be to just acquire theoretical knowledge but to practically apply it in your life. Your education should be for life and not for a mere living. Birds and animals lead life without ‘studying’, but your education must result in you developing a strong and good character. In this life, the only high aspiration you must have is for God. Many people collect a lot of information from newspapers and other sources, trying to find out what happened in Germany, USA, etc. These are good to know, but not very important. The aim of education should be to concentrate your mind onto a higher ideal and not merely to become like a library which is a conglomeration of all kinds of facts.

Apa tujuan dari 'belajar'? Engkau harus belajar untuk menjadi mantap. Bila engkau memiliki pikiran yang mantap, engkau akan sukses. Pikiranmu hendaknya jangan bergerak seperti bandul jam. Engkau juga hendaknya memastikan bahwa Cinta-kasih Tuhan dalam hatimu mantap. Tujuan pendidikan seharusnya tidak hanya untuk memperoleh pengetahuan teoritis tetapi menerapkannya dalam kehidupanmu. Pendidikanmu hendaknya untuk kehidupan dan bukan hanya untuk penghidupan belaka. Burung dan hewan menjalani hidup tanpa 'belajar', tetapi pendidikanmu harus mengakibatkan engkau mengembangkan karakter yang kuat dan baik. Dalam hidup ini, satu-satunya cita-cita tinggi yang engkau harus miliki adalah untuk Tuhan. Banyak orang mengumpulkan banyak informasi dari surat kabar dan sumber lain, mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi di Jerman, USA, dll. Semua ini baik untuk mengetahuinya, tetapi tidak terlalu penting. Tujuan pendidikan hendaknya memusatkan pikiranmu ke ideal yang lebih tinggi dan tidak hanya menjadi seperti sebuah perpustakaan yang merupakan campuran dari segala macam fakta. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 1, Ch 7, Apr 10, 2000.)

Wednesday, March 12, 2014

Thought for the Day - 12th March 2014 (Wednesday)

Take a glass of water, at the bottom of which is sugar. Even though there is sugar in the water, as long as it remains below, the water would not taste sweet. However if you take a spoon and mix the sugar with water, now sweetness pervades the entire tumbler. It is the same with our hearts too. Our heart is like the cup. The Atmic principle is sugar and the worldly desires are the tasteless water in the cup. You drink this tasteless water of the world and say that there is no sweetness. But how can you get the taste? Only when you take the spoon of intelligence, place it inside the cup of the heart and mix with discrimination between the temporary and permanent, then sweetness pervades.

Ambillah segelas air, di bagian bawahnya adalah gula. Meskipun ada gula di dalam air tersebut, selama gula tetap berada di bawah, air tidak akan terasa manis. Namun, jika engkau mengambil sendok dan mencampur gula dengan air, sekarang manisnya akan meliputi seluruh gelas. Ini juga sama dengan hati kita. Hati kita dapat diibaratkan seperti cangkir. Prinsip atma adalah gula dan keinginan duniawi adalah air tawar dalam cangkir. Engkau meminum air tawar dunia ini dan mengatakan bahwa itu tidak ada manisnya. Tetapi bagaimana engkau bisa mendapatkan rasanya (manis)? Hanya ketika engkau mengambil sendok intelegensi, menempatkannya di dalam cangkir hatimu, dan mencampurnya dengan diskriminasi antara yang sementara dan permanen, maka rasa manis akan menyebar. (“My Dear Students”, Vol 2, Apr 10, 2000.)


Tuesday, March 11, 2014

Thought for the Day - 11th March 2014 (Tuesday)

In the Bhagavad Gita, the Lord declares, “Whenever righteousness (Dharma) declines, I make My advent in the world. Dharma will never perish.” It is the practice of Dharma which is becoming weaker day by day, and not Dharma as such. Many times clouds cover the Sun. In such a scenario, the people on earth may not be able to see the Sun. Just because people cannot see, does it mean that the Sun doesn’t exist? No, Sun exists! Temporarily the Sun is hidden by the clouds; therefore people are unable to see it. Nobody can say that the Sun has perished, can they? Similarly, Sathya and Dharma have the effulgence of the Sun. Truth is the Sun, Dharma is the effulgence of the Sun. They are interdependent like matter and energy. Matter and energy cannot exist without each other. Similarly Sun and its radiance are reflection of each other. Sathya, the Sun and Dharma, its effulgence redeem the world.

Dalam Bhagavad Gita, Tuhan menyatakan, "Setiap kali kebenaran (Dharma) menurun, Aku akan datang ke dunia. Dharma tidak akan hancur." Praktik Dharma lemah hari demi hari dan Dharma bukan seperti itu. Suatu waktu, awan menutupi Matahari. Dalam skenario seperti itu, orang-orang di bumi mungkin tidak dapat melihat Matahari. Hanya karena orang tidak dapat melihat Matahari, apakah itu berarti matahari tidak ada? Tidak demikian, Matahari tetap ada! Untuk sementara, Matahari disembunyikan oleh awan, sehingga orang-orang tidak dapat melihatnya. Tidak ada yang dapat mengatakan bahwa Matahari telah mati, dapatkah mereka mengatakan demikian? Demikian pula, Sathya dan Dharma memiliki cahaya Matahari. Kebenaran adalah Matahari, Dharma adalah cahaya dari Matahari. Mereka saling terkait seperti materi dan energi. Materi dan energi tidak akan ada tanpa satu sama lain. Demikian pula Matahari dan cahayanya merupakan cerminan dari satu sama lain. Sathya, Matahari, dan Dharma, cahayanya dapat menyelamatkan dunia. ('My Dear Students', Vol 3, Ch 2)


Monday, March 10, 2014

Thought for the Day - 10th March 2014 (Monday)

All materials in this world will disappear after some time. The principle of Atma alone is imperishable. What is the Atmic Principle? That which pervades the entire body is Atma. You should try to broaden your mind by which you can merge in Divine Consciousness. For example, take a balloon and blow it. It grows bigger and bigger. As it gradually increases size, it also becomes thinner. After a point it becomes so thin than it bursts. Where does the air in that balloon go? It merges with the air outside, which is present everywhere. Thus conscience merges with the consciousness which is present everywhere. This is referred to as liberation, the final goal or emancipation. You can give it many names; they are not important. The goal is important. You must try to achieve this unity with Consciousness, and you can attain this by practising spirituality at all times with all your determination.

Semua materi di dunia ini akan hancur setelah beberapa waktu. Hanya prinsip Atma yang kekal. Apakah Prinsip atma itu? Yang melingkupi seluruh badan adalah Atma. Engkau hendaknya mencoba untuk memperluas pikiranmu dengan mana engkau dapat menyatu dalam Kesadaran Ilahi. Sebagai contoh, ambillah balon dan meniupnya. Maka balon akan menjadi semakin besar. Karena secara bertahap ukurannya meningkat, balon itu juga menjadi lebih tipis. Setelah pada titik tertentu, balon itu menjadi sangat tipis dan kemudian meletus (pecah). Kemanakah udara dalam balon itu pergi? Ia menyatu dengan udara luar, yang ada di mana-mana. Demikian juga, kesadaran akan menyatu dengan kesadaran yang ada di mana-mana. Hal ini disebut sebagai pembebasan, tujuan akhir atau emansipasi. Engkau dapat memberikannya dengan banyak nama, itu tidak penting. Yang terpenting adalah tujuannya. Engkau harus mencoba untuk mencapai kesatuan dengan Kesadaran Ilahi, dan engkau dapat mencapai hal ini dengan mempraktikkan spiritualitas setiap saat dengan penuh kebulatan tekad. (Divine Discourse, 'My Dear Students', Vol 2, Ch 7, Apr 10, 2000)


Sunday, March 9, 2014

Thought for the Day - 9th March 2014 (Sunday)

Some students aim to just pass the examination or get perhaps 60%. Low aim is a crime. Who will tolerate or accept any work that is done 40% or 50%? Low marks tend to speak poorly of yourself – so never aim low, you must aim high. You should target a high 98%, then you will definitely cross at least 75%. ‘Success begets Success’, so in any examination, begin answering easy questions first, properly numbering and tracking them. Then, you will feel encouragement from within to continue to write, and slowly be able to handle even the difficult questions as well. On the other hand, if you begin with tough questions, then you may get depressed quickly in the limited time. Depression leads to confusion, which in turn leads to loss of memory. Then, even if you know the answer, you will not be able to answer correctly. So to have the right kind of enthusiasm you must answer easy questions first.

Beberapa siswa hanya bertujuan untuk lulus ujian atau hanya untuk mendapatkan nilai 60%. Tujuan yang rendah adalah suatu kesalahan. Siapa yang akan mentolerir atau menerima suatu pekerjaan yang dilakukan 40% atau 50%? Dengan tujuan yang rendah seperti itu, engkau telah merendahkan dirimu sendiri - jadi janganlah memiliki tujuan yang rendah, engkau harus memiliki tujuan yang tinggi. Engkau hendaknya memiliki target yang tinggi yaitu 98%, maka engkau dengan pasti akan melewati setidaknya 75%. 'Sukses melahirkan Sukses', sehingga dalam ujian apapun, mulailah menjawab pertanyaan yang mudah terlebih dahulu, dan mengecek nomor demi nomor dengan baik. Kemudian, engkau akan merasakan adanya dorongan dari dalam untuk terus menulis (menuliskan jawabannya), dan perlahan-lahan mampu mengatasi bahkan untuk pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Di sisi lain, jika engkau mulai menjawab untuk pertanyaan-pertanyaan sulit terlebih dahulu, maka engkau bisa jadi akan mengalami depresi dalam waktu yang singkat. Depresi menyebabkan kebingungan, yang pada gilirannya menyebabkan hilangnya memori/daya ingatanmu. Kemudian, bahkan jika engkau mengetahui jawabannya, engkau tidak akan mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Jadi agar engkau memiliki antusiasme, engkau harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mudah terlebih dahulu. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 3, Chapter 1).

Saturday, March 8, 2014

Thought for the Day - 8th March 2014 (Saturday)

We call many our friends. But who is our true friend? As long as you have money in your pocket, or if your parents are in a good position, everyone will greet you “Hello, Hello” and treat you nicely. If things change and you do not have money, nobody will even tell you “Goodbye!” When the tank is full, all frogs go there. If it is empty, you will not find even a single frog! However, God is not like that. He has a tank that is ever full of selfless love. In any situation, His tank is full of nectarous sweet love. Changes in your position, place or time or status will not matter to Him. Why do you give up such a true friend and struggle to attain worldly, temporary and untrue friends, whose friendship is ephemeral and lasts for only a short time? Pray that you win an eternal friendship with the Lord.

Kita mengatakan banyak memiliki teman. Tetapi siapakah sesungguhnya teman sejati kita? Selama engkau memiliki uang di saku-mu, atau jika orang tua-mu berada dalam posisi yang baik, semua orang akan menyambutmu "Hello, Hello" dan memperlakukan engkau dengan baik. Jika hal-hal berubah dan engkau tidak mempunyai uang, tak seorangpun bersamamu bahkan mereka akan mengatakan "Selamat tinggal!" Ketika tangki penuh berisi air, semua katak akan pergi ke sana. Jika tangki itu kosong, engkau tidak akan menemukan bahkan seekor katak-pun! Namun, Tuhan tidak seperti itu. Beliau memiliki tangki yang selalu penuh kasih tanpa pamrih. Dalam situasi apapun, tank-Nya penuh dengan cinta-kasih dan penuh dengan nektar yang manis. Perubahan posisi, tempat atau waktu atau status tidak akan berpengaruh kepada-Nya. Mengapa engkau meninggalkan teman sejati dan berjuang untuk mencapai hal-hal duniawi yang bersifat sementara dan bukan merupakan teman sejati, persahabatan yang bersifat sementara dan hanya berlangsung selama waktu yang singkat? Berdoalah agar engkau memenangkan persahabatan abadi dengan Tuhan. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 2, Ch 7, April 10, 2000)


Friday, March 7, 2014

Thought for the Day - 7th March 2014 (Friday)

At times, you may feel dissatisfied with the answers you wrote, even though you have spent a lot of time reading. Why? Because when you are preparing for examinations, mere reading is not sufficient. You may read at home and feel confident of writing well in the exam hall, but that doesn’t work. You must necessarily practice at home what you do in the examination hall. That is why you should often practice writing the answers. Many things which you do not understand clearly while reading, becomes easier to comprehend when you write. The more you write and practice at home, the better you will do in the examination hall. I will also share another secret for your success: In the examination hall, before receiving the question paper, you should first pray. Receive the question paper after your prayer. Then slowly read the question paper and start answering the easy questions first and the difficult ones towards the end.

Kadang-kadang, engkau mungkin merasa tidak puas dengan jawaban yang engkau tulis, meskipun engkau telah menghabiskan banyak waktu untuk membaca. Mengapa? Karena ketika engkau sedang mempersiapkan ujian, hanya membaca saja tidaklah cukup. Engkau dapat membaca di rumah dan merasa yakin menulis dengan baik di ruang ujian, tetapi itu saja tidaklah cukup. Engkau harus selalu mempraktikkan di rumah apa yang engkau lakukan di ruang ujian. Itulah mengapa engkau harus sering berlatih menulis jawaban. Banyak hal yang engkau tidak mengerti dengan jelas saat membaca, menjadi lebih mudah untuk memahaminya ketika engkau menuliskannya. Semakin banyak engkau menulis dan mempraktikkannya di rumah, semakin baik yang bisa engkau kerjakan di ruang ujian. Aku juga akan berbagi rahasia lainnya untuk keberhasilanmu: Di ruang ujian, sebelum menerima lembaran soal, terlebih dahulu engkau harus berdoa. Ambillah lembaran soal setelah engkau berdoa. Lalu perlahan-lahan membaca lembaran soal dan mulai menjawab pertanyaan yang mudah terlebih dahulu, setelah itu dilanjutkan dengan soal yang lebih sulit. (Divine Discourse, 'My Dear Students', Vol 3, Ch 1, 'Success in Examinations')


Thursday, March 6, 2014

Thought for the Day - 6th March 2014 (Thursday)

In a story, Birbal tells Akbar, “Sweet talk is the sweetest thing in the world; nothing else, not milk, honey or jaggery comes close to it. A sweet word is the most valuable thing; through it one we can win a person over, give great joy and even attain a higher status. When crows caw at us, we throw stones at them. Whereas, when cuckoos sing, we respect them. Neither is the cuckoo going to give us a crown, nor will the crow punish us. When one’s speech is good, one earns a good name. Hence, a sweet word is indeed the sweetest thing in the world.” You must always talk to others in a manner which would give them contentment and joy. This is the essence of all scriptures. It is not enough to listen to, learn or chant Vedas, scriptures and Puranas (ancient spiritual texts), you must give joy and satisfaction to others.

Dalam suatu cerita, Birbal memberitahu Akbar, "Berbicara yang manis adalah hal yang paling manis di dunia, tidak ada yang lain, bukan susu, madu atau jaggery. Perkataan yang manis adalah hal yang paling berharga; melalui perkataan yang manis, kita bisa mendapatkan simpati seseorang, memberikan sukacita yang besar dan bahkan mencapai status yang lebih tinggi. Ketika burung gagak bersuara (menggaok) pada kita, kita melemparkan batu ke arahnya. Di sisi lain, ketika burung kukuk bernyanyi, kita mengagumiinya. Tidak satupun dari mereka, baik burung kukuk tidak memberikan hadiah, dan burung gagak-pun tidak membuat kesalahan. Ketika seseorang berbicara dengan perkataan yang baik, seseorang akan mendapatkan nama baik. Oleh karena itu, perkataan yang manis memang hal yang paling manis di dunia." Engkau harus selalu berbicara dengan orang lain dengan cara yang akan memberikan mereka kepuasan dan sukacita. Inilah esensi dari semua kitab suci. Tidak cukup hanya mendengarkan, belajar atau melantunkan Veda, kitab suci dan Purana (teks spiritual kuno), engkau harus memberikan sukacita dan kepuasan kepada orang lain. (My Dear Students’, Vol 3, Chapter 1, Mar 19, 1998)


Wednesday, March 5, 2014

Thought for the Day - 5th March 2014 (Wednesday)

Prayer is for the mind, just as food is for the body. Wholesome food gives health and strength to the body. Prayer purifies your mind and strengthens your spirit. If bhajans are done in an ostentatious manner, ego gets bloated. Young people must proceed from tamas, the darkness of ignorance, to tapas, spiritual austerities. Be steadfast in pursuing whatever you choose. There is no point in doing meditation for two days and giving up on the third day. If you start practicing meditation, it must become an integral part of your life. You cannot assume you are meditating by merely closing your eyes. You must progress until you feel united with the God present within your heart. Along with meditation, you must acquire the knowledge and skills to lead your professional life. You must always maintain the same discipline and strength of character, wherever you are.

Doa adalah untuk batin, sama halnya dengan makanan yang diperuntukkan bagi badan jasmani. Makanan yang sehat memberikan kesehatan dan kekuatan bagi badan jasmani. Doa memurnikan batin dan memperkuat jiwamu. Jika bhajan dilakukan dengan sikap pamer pada orang lain, maka akan muncul ego. Para pemuda harus memulai dari tamas, kegelapan kebodohan, menuju tapas, pertapaan spiritual. Engkau hendaknya mantap dalam mengejar apapun yang engkau pilih. Tidak ada gunanya melakukan meditasi selama dua hari lalu berhenti pada hari ketiga. Jika engkau mulai mempraktikkan meditasi, ia harus menjadi bagian integral dari kehidupanmu. Engkau tidak bisa menganggap dirimu bermeditasi hanya dengan menutup mata. Engkau harus meningkat sampai engkau merasa menyatu dengan Tuhan yang ada di dalam hatimu. Seiring dengan meditasi, engkau harus memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk menjalankan kehidupanmu. Engkau harus selalu menjaga disiplin yang sama dan kekuatan karakter, di manapun engkau berada. (“My Dear Students”, Vol 2, Ch 5, Mar 11, 1984)


Tuesday, March 4, 2014

Thought for the Day - 4th March (Tuesday)

We often say, “I am performing all actions in this world for the sake of God”. Is it real? Are you doing all the tasks to please God, or is it for your own self? Contemplate on this. Every devotee (Sadhaka) does many different activities, for their own sake and not for the sake of God. Listening, singing the glory of the Lord, chanting His name, serving the divine feet, salutation, worship, servitude, friendship and Self-surrender – all these nine forms of devotion, are for your own good, and not for God’s benefit. Consider this example. You are eating an apple. Is it for the benefit of the apple, that you are eating it? No, it is for your own health! Similarly your actions, worship or meditation is only for your own happiness and satisfaction. The only thing God cares for is purity and steadfastness. Purity in thought, word and actions is all that matters to God.

Kita sering mengatakan, "Saya melakukan semua tindakan di dunia ini demi Tuhan". Apakah itu benar? Apakah engkau melakukan semua pekerjaan untuk menyenangkan Tuhan, atau itu untuk dirimu sendiri? Renungkanlah hal ini. Setiap bhakta (Sadhaka) melakukan banyak kegiatan yang berbeda, untuk kepentingan mereka sendiri dan bukan demi Tuhan. Mendengarkan, menyanyikan kemuliaan Tuhan, melantunkan nama-Nya, melayani kaki padma Tuhan, salut/menghargai/menghormati, ibadah, bekerja untuk Tuhan, persahabatan, dan pasrah pada-Nya - semuanya ini, sembilan bentuk bhakti/pengabdian, adalah untuk kebaikanmu sendiri, dan bukan untuk kepentingan Tuhan. Perhatikan contoh berikut ini. Engkau memakan apel. Apakah untuk kepentingan apel, engkau memakan apel tersebut? Tidak, itu untuk kesehatanmu sendiri! Demikian pula tindakan, ibadah, atau meditasi yang engkau lakukan, hanya untuk kebahagiaan dan kepuasanmu sendiri. Tuhan hanya peduli pada kemurnian dan keteguhan. Kemurnian dalam pikiran, ucapan dan tindakan adalah yang terpenting bagi Tuhan. (“My Dear Students”, Vol 2, Chapter 7, April 10, 2000.)


Monday, March 3, 2014

Thought for the Day 2nd & 3rd March 2014

Date: Sunday, March 02, 2014

If you throw a pebble in a pond, a small ripple originates and spreads until the end of the river. You may or may not be able to see, but the ripple starts right at the point where the stone meets the water. Similarly, in the lake of your mind, when you throw a stone of thought, ripples of thought waves start spreading throughout your body. The same ripple reflects in your eyes, brain, ears, heart and also in your hands and legs. Hence you must be very careful with the kind of thoughts that you permit to pervade your personality. When you get pure thoughts, all your senses will be purified by it. However, if you get bad thoughts, your senses will be perverted and this will quickly spread to your eyes, heart, hand and brain. Always have pure thoughts. If you do so, your body, senses and actions will be purified.

Jika engkau melemparkan kerikil ke kolam, sebuah riak kecil berasal dari kerikil tersebut dan menyebar sampai batas akhir kolam. Engkau mungkin tidak dapat melihatnya, namun riak dimulai tepat pada titik di mana batu kerikil bertemu air. Demikian pula, di dalam danau pikiranmu, ketika engkau melemparkan batu pikiran, riak gelombang pikiran mulai menyebar ke seluruh tubuhmu. Riak yang sama memantul di mata, otak, telinga, jantung dan juga di tangan dan kakimu. Oleh karena itu engkau harus berhati-hati dengan jenis pikiran yang engkau izinkan untuk menyerap ke dalam kepribadianmu. Ketika engkau mendapatkan pikiran yang murni, semua inderamu akan dimurnikan. Namun, jika engkau mendapatkan pikiran yang buruk, inderamu akan ternodai dan ini akan cepat menyebar ke mata, hati, tangan dan otak. Selalulah memiliki pikiran yang murni. Jika engkau melakukannya, tubuh, indera, dan tindakanmu akan dimurnikan. (“My Dear Students”, Vol 2, Apr 10, 2000.)


Date: Monday, March 03, 2014

Meditation is not merging the form in your mind. It is merging your mind with the Form, so that the mind doesn’t exist. There are three stages in this process – The Ooha (imagining the Form), Bhava (experiencing the Divine) and finally Sakshatkara (Realization). In the initial stages, the devotee imagines one’s favourite Divine Form, as they have seen before. Over time, the image vanishes in the mind and they begin experiencing the Form. This process takes longer and slowly, the devotee starts experiencing the Lord from the toe to the head. The impressions last longer and grow deeper and gradually, the image of the Lord that is firmly implanted becomes an inner reality. While the imagining stage gives only momentary joy, the experiencing stage results in complete identification of the seeker with the Lord. Thus, over time, awareness of the Divine results in oneness with the Divine (Brahmavid Brahmaiva Bhavathi).

Meditasi bukanlah menyatukan suatu Wujud (Tuhan) ke dalam pikiranmu, namun menyatukan pikiranmu dengan Wujud (Tuhan), sehingga pikiranmu menjadi tidak ada. Ada tiga tahapan dalam proses ini - Ooha (membayangkan Wujud Tuhan), Bhava (mengalami) dan akhirnya Sakshatkara (Realisasi). Pada tahap awal, bhakta membayangkan salah satu Wujud Tuhan yang paling disukai, karena mereka telah melihatnya sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, Wujud Tuhan hilang dalam pikiran dan mereka mulai mengalami Wujud Tuhan tersebut. Proses ini memakan waktu lama dan perlahan-lahan, bhakta mulai mengalami Tuhan dari ujung kaki ke kepala. Pada tahapan ini, Wujud Tuhan bertahan lebih lama dan tumbuh lebih dalam dan secara bertahap, Wujud Tuhan benar-benar tertanam menjadi realitas batin. Walaupun pada tahap membayangkan hanya memberikan kebahagiaan sesaat, pada tahap mengalami, memberikan identifikasi lengkap pada pencari spiritual dengan Tuhan. Dengan demikian, dari waktu ke waktu, kesadaran pada Tuhan akan menghasilkan kesatuan dengan Tuhan (Brahmavid Brahmaiva Bhavathi). (“My Dear Students”, Vol 2, Chapter 5, Mar 11, 1984.)


Saturday, March 1, 2014

Thought for the Day - 1st March 2014 (Saturday)

During meditation, care must be taken to keep the back straight and steady without bending forward or backward or sideward. If you bend or move, misdirection of highly potent energy (Kundalini) can occur resulting in mental derangement. Also wear loose clothes. Your eyes must concentrate on the tip of the nose. They must be half-open, so you are neither distracted nor falling asleep. Free your mind from bad thoughts and fill it with sacred ones. To achieve this, you must control your senses. Your ears must be trained to listen only to noble and elevating ideas, and to eschew evil speech and gossip. Your eyes must be tuned to see the Divine. The restless mind must be restrained by making it concentrate on inhalation and exhalation while incessantly repeating the Mantra, ‘So-Ham’ (I am He). Through these postures and activities, your life-breath is controlled and this will ensure that the great power of Yoga is revealed unto you.

Selama meditasi, perhatian harus diarahkan untuk menjaga punggung lurus dan tidak berubah, tanpa membungkuk ke depan atau ke belakang atau ke samping. Jika engkau membungkuk atau bergerak, energi yang sangat kuat (Kundalini) akan bergerak ke arah yang tidak tepat, sehingga mengakibatkan kekacauan mental. Juga gunakanlah pakaian yang longgar. Matamu harus berkonsentrasi pada ujung hidung dan setengah terbuka, sehingga perhatianmu tidak terganggu atau tidak tertidur. Bebaskanlah pikiranmu dari pikiran buruk dan mengisinya dengan pikiran-pikiran yang suci. Untuk mencapai hal ini, engkau harus mengendalikan indera. Telingamu harus dilatih hanya untuk mendengarkan ide-ide yang mulia dan menjauhkan diri dari pembicaraan yang buruk dan gosip. Matamu harus diarahkan untuk melihat Tuhan. Pikiran yang tidak tenang harus dikendalikan dengan membuatnya berkonsentrasi pada menghirup dan menghembuskan nafas sambil tiada henti-hentinya mengulangi Mantra, 'So- Ham' (Aku adalah Dia). Melalui sikap badan dan kegiatan ini, napas-mu dikendalikan dan ini akan memastikan bahwa kekuatan besar dari Yoga terungkap padamu. (“My Dear Students”, Vol 2, Chapter 5, Mar 11 1984.)