Monday, March 24, 2014

Thought for the Day - 23rd March & 24th March 2014

Date: Sunday, March 23, 2014

We think that we are weak. Thinking in this manner is a big mistake. We are not weak. There is no one who is as powerful as a human being. Despite being powerful, people are afraid of many things. They are even afraid or worried about small ailments. Why this fear? Why is a person afraid? This is due to an inherent mistake. If there is no error or mistake, there will be no fear. That mistake is to think and act such that ‘we are the body’. We are not this body. Body, mind, senses and intelligence are instruments and you are the Master. Master your mind and become a mastermind. Enquire into the activities of your daily life and understand and experience the Truth. Become the Master, then you can merge in everything and experience Divinity.

Kita beranggapan bahwa kita adalah manusia yang lemah. Beranggapan seperti ini, merupakan suatu kekeliruan besar. Kita tidaklah lemah. Tidak ada siapa-pun yang memiliki kekuatan seperti manusia. Mengabaikan kekuatan sebagai manusia, orang-orang takut akan banyak hal. Mereka bahkan takut atau khawatir pada penyakit yang sangat remeh. Mengapa takut akan hal ini? Mengapa manusia merasa takut? Hal ini disebabkan oleh kesalahan inherent. Jika tidak ada kesalahan atau kekeliruan, maka tidak akan ada rasa takut. Kesalahan tersebut adalah karena kita beranggapan  'kita adalah badan'. Kita bukanlah badan. Badan, pikiran, indera, dan intelegensi adalah instrumen dan engkau adalah Master-nya. Kuasailah pikiran, jadilah penguasa pikiran. Engkau hendaknya melaksanakan dan melakukan tindakan sehari-hari, memahami, dan mengalami Kebenaran. Menjadilah Master, maka engkau akan menyatu dan mengalami Divinity. (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 3, Ch 2, March 19, 1998)
-BABA


Date: Monday, March 24, 2014

No object can be enjoyed without undergoing the process of transformation and refinement (Samskara). Take the example of paddy. The paddy that is grown and harvested in the field cannot be consumed as such. It has to be converted into rice through the process of winnowing and thrashing. Once the process is complete, the value of the original paddy increases significantly. The process of transformation makes the object more useful and valuable. The utility value of cotton when spun and transformed into cloth is significantly higher, thanks to the transformation process. Take the example of gold. Again, there is a significant increase in its value when it is transformed to the shiny yellow metal, from its original form in the gold mine. Such being the case, how much more necessary it is for the human being to be transformed?

Tidak ada objek yang dapat dinikmati tanpa menjalani proses transformasi dan perbaikan (Samskara). Ambil salah satu contoh yaitu padi. Padi yang ditanam dan dipanen tidak dapat langsung dikonsumsi. Padi harus diubah menjadi beras melalui proses menampi dan memukul berulang-ulang. Setelah prosesnya selesai, nilai orisinil padi meningkat secara signifikan. Proses transformasi membuat objek lebih berguna dan berharga. Nilai utilitas/kegunaan kapas saat dipintal dan berubah menjadi kain secara signifikan lebih tinggi, berkat proses transformasi. Ambil contoh lain yaitu emas. Sekali lagi, ada peningkatan yang signifikan pada nilai-nya ketika ditransformasikan ke logam kuning mengkilap, dari bentuk aslinya di tambang emas. Seperti kejadian tersebut, berapa banyak lagi yang diperlukan manusia untuk bertransformasi? (Divine Discourse, “My Dear Students”, Vol 2, Ch 8, June 15, 1989)

-BABA

No comments: