Thursday, July 31, 2014

Thought for the Day - 31st July 2014 (Thursday)

Naxalites (terrorists) are not merely the people who hold guns and pistols. Anyone who hurts others in thoughts, words and deeds is a naxalite. Three important things that all of you must pay attention to are your thoughts, words and deeds. When there is a thought, the word follows and then the body acts. In the arena of thoughts, never think evil of others. Next is word. Never use harsh words, do not humiliate others and never try to deceive others with your words. If one is killed with a knife or a pistol, they die immediately. But if you hurt a person with words, he or she will be pained till their death. Medicines exist for all external injuries, however no medicine or doctor can heal the wound or injury inflicted through words. Therefore the harm done by words is more dangerous and takes a long time to heal. Spiritual ways alone can alter the harm done by thoughts, words and deeds.

Naxalities (teroris) bukan hanya orang-orang yang memegang senjata dan pistol. Siapapun yang menyakiti orang lain dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan adalah seorang teroris. Tiga hal penting yang harus engkau perhatikan adalah pikiran, kata-kata, dan perbuatan-mu. Ketika ada pikiran, maka kata-kata akan mengikutinya, dan selanjutnya badan bertindak. Dalam arena pikiran, jangan pernah berpikir buruk pada orang lain. Berikutnya adalah kata-kata. Jangan gunakan kata-kata kasar, jangan mempermalukan orang lain, dan jangan pernah mencoba untuk menipu orang lain dengan kata-katamu. Jika seseorang dibunuh dengan pisau atau pistol, mereka segera mati. Tetapi jika engkau menyakiti seseorang dengan kata-kata, ia akan sedih sampai kematian-nya. Obat-obatan yang ada, semuanya untuk menyembuhkan luka luar, namun tidak ada obat atau dokter dapat menyembuhkan luka atau cedera yang ditimbulkan melalui kata-kata. Oleh karena itu luka dengan kata-kata lebih berbahaya dan membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkannya. Hanya jalan spiritual yang dapat menyembuhkan luka yang diakibatkan pikiran, perkataan, dan perbuatan. (My Dear Students, Vol 5, Ch 2, March 9, 1993)


Wednesday, July 30, 2014

Thought for the Day - 30th July 2014 (Wednesday)

Inference is one method of verification or understanding. We see smoke at a distant hill. From the smoke that emanates, it is easy to decipher that there must be fire somewhere in the hill. Although you see only the smoke, we infer the existence of the “unseen” from the presence of what is seen. This type of verification is called Anumaana Pramana (Inferential Proof). These methods of verification – direct or inferential proof is applicable only to the external universe. To determine the Divine Principle, one must depend only upon the Shabdha Pramana, or the Vedas. When the Divine is described as the One without the attributes, eternal, ever existing, pure and free, self-effulgent, etc. – all these appellations will not make Brahman visible to you. You must follow the teachings and realize the existence of the Divine within you and around you.

Inferensi/menarik kesimpulan merupakan salah satu metode verifikasi atau pemahaman. Kita melihat asap di sebuah bukit yang jauh. Dari asap yang keluar, mudah untuk menguraikan bahwa harus ada api di suatu tempat di bukit. Meskipun engkau hanya melihat asap, kita menyimpulkan adanya yang "tak terlihat" dari adanya apa yang dilihat. Jenis verifikasi/pembuktian ini disebut Anumaana Pramana (bukti inferensial). Metode verifikasi ini - bukti langsung atau bukti inferensial hanya berlaku untuk alam semesta eksternal. Untuk menentukan Prinsip Ilahi, seseorang harus tergantung hanya pada Shabdha Pramana, atau Weda. Ketika Tuhan digambarkan sebagai Yang Esa tanpa atribut, abadi, selalu ada, murni dan bebas, bercahaya, dll - semua sebutan ini tidak akan membuat Brahman terlihat oleh-mu. Engkau harus mengikuti ajaran-Nya dan menyadari keberadaan Ilahi dalam dirimu dan di sekitarmu. (My Dear Students, Vol 2, Ch 15, Mar 1, 1981)


Tuesday, July 29, 2014

Thought for the Day - 29th July 2014 (Tuesday)

Ignorance has a very powerful influence on the mind. Arjuna said to Krishna, “The mind is very powerful, however it has a wavering nature.” Lord Krishna said, “A bee has the strength to drill a hole in the hardest variety of wood. However when it enters a lotus, if the lotus closes its petals, then even with all its might, the bee cannot come out of it. Similarly once the all-powerful mind comes to the lotus feet of the Lord it becomes powerless and surrenders. However potent or wavering one’s mind may be, it can be and must be controlled with spiritual practice (Sadhana). When Jesus was nailed in the Cross, his followers were deeply pained and in great grief. He said, “Just as this body had a dress, this body is just an attire for the soul. Do not grieve”. He taught his followers, “Do not harm anyone or hurt anyone. Treat everyone alike.” Everyone must practice these teachings.

Ketidaktahuan memiliki pengaruh yang sangat kuat pada pikiran. Arjuna berkata kepada Sri Krishna, "Pikiran sangat kuat, namun memiliki sifat mudah tergoyahkan." Sri Krishna berkata, "Seekor lebah memiliki kekuatan untuk membuat lubang di berbagai kayu yang keras. Namun ketika memasuki bunga teratai, jika teratai menutup kelopaknya, bahkan dengan segala dayanya, lebah tidak bisa keluar dari teratai tersebut. Demikian pula setelah pikiran yang sangat kuat datang ke kaki padma Tuhan, maka pikiran menjadi tanpa daya dan pasrah. Bagaimanapun kuat atau goyahnya pikiran seseorang, hal itu harus dikendalikan dengan praktik spiritual (Sadhana). Ketika Yesus dipaku di kayu Salib, pengikutnya sangat sedih dan sangat berduka. Dia berkata, "Sama seperti badan ini memiliki pakaian, badan ini hanya sebuah pakaian bagi jiwa. Janganlah engkau bersusah hati ". Dia mengajarkan pengikutnya, "Jangan menyakiti siapa pun atau melukai siapa pun. Perlakukanlah semua orang sama. "Setiap orang harus mempraktikkan ajaran-ajaran ini. (My Dear Students, Vol 2, Ch 15, Mar 1, 1981)


Monday, July 28, 2014

Thought for the Day - 28th July 2014 (Monday)

We generally consider direct perception as the most important type of evidence. We are able to see our body, the number of hands, legs, eyes we have and so on. This is one type of proof. Consider another example: We boil milk. After heating, we add some yoghurt to it in the night and wake up the next morning to find that the whole milk has turned into curd (Yoghurt). Though our eyes don’t see the transformation process, our own action provides us the proof and we don’t need anyone else to convince us that the change from milk to curd has really occurred, though the change process was not visible directly to our eyes. So too, though the Soul (Atma) is invisible, and we cannot see it, we must have faith in its existence. Several great sages and saints have had the direct experience of Divinity in their present lives and have conveyed the teachings to us.

Kita umumnya menganggap penglihatan langsung sebagai tipe yang paling penting dari bukti. Kita dapat melihat badan kita, jumlah tangan, kaki, mata, dan sebagainya yang kita miliki. Ini adalah salah satu jenis bukti. Pertimbangkan contoh lainnya: Kita merebus susu. Setelah proses pemanasan, kita menambahkan beberapa yoghurt ke dalamnya di malam hari dan bangun keesokan harinya kita menemukan bahwa susu telah berubah menjadi dadih (Yoghurt). Meskipun mata kita tidak melihat proses perubahannya, tindakan kita sendiri memberikan kita bukti dan kita tidak butuh orang lain untuk meyakinkan kita bahwa perubahan dari susu menjadi dadih telah benar-benar terjadi, meskipun proses perubahan itu tidak terlihat langsung oleh mata kita. Demikian juga, meskipun Jiwa (Atma) tidak terlihat, dan kita tidak bisa melihatnya, kita harus memiliki keyakinan akan keberadaannya. Beberapa orang bijak yang agung dan orang-orang suci telah memiliki pengalaman langsung dengan Tuhan dalam kehidupan mereka saat ini dan telah menyampaikan ajaran-ajaran-Nya kepada kita. (My Dear Students, Vol 2, Ch 15, Mar 1, 1981)


Sunday, July 27, 2014

Thought for the Day - 27th July 2014 (Sunday)

When you walk on the road in an evening and suddenly find a thick piece of long rope lying on the ground, instinctively you think of it as a snake and get scared! Where did this fear come from? How does it disappear? Did the snake change into a rope for your fear to disappear? No! The rope is still a rope, you mistook it to be a snake! The hallucination effect you had is a result of the worldly point of view. Realize that the whole world is a manifestation of the Divine (Brahman). Your vision is blurred by ignorance, illusion and hallucination, which sees the world as material objects and not as Divine Creations. Know that all you see in the world and think as real is actually unreal and false. The spiritual point of view clarifies your vision, and will let you experience truth as truth and will remove any fear.

Ketika engkau berjalan di malam hari dan tiba-tiba menemukan sepotong tali panjang tergeletak di tanah, secara naluriah engkau menganggap tali tersebut sebagai ular dan engkau merasa takut! Dari mana rasa takut ini berasal? Bagaimana kemudian ia menghilang? Apakah ular berubah menjadi tali karena engkau takut lalu menghilang? Tidak! Tali tetap sebagai tali, engkau mengira tali sebagai ular! Efek halusinasi yang engkau miliki adalah hasil dari titik pandang duniawi. Sadarilah bahwa seluruh dunia adalah manifestasi dari Tuhan (Brahman). Visimu nampak kabur karena ketidaktahuan, ilusi, dan halusinasi, yang melihat dunia sebagai objek material, bukan sebagai ciptaan Tuhan. Ketahuilah bahwa semua yang engkau lihat di dunia dan berpikir itu sebagai nyata, sebenarnya itu tidak nyata dan palsu. Sudut pandang spiritual memperjelas visimu, dan akan membiarkan engkau mengalami kebenaran sebagai kebenaran dan akan menghilangkan rasa takut. (My Dear Students, Vol 5, Ch 1, Dec 25, 1980)


Saturday, July 26, 2014

Thought for the Day - 26th July 2014 (Saturday)

The alarm clock wakes us by ringing the alarm at the right time. Similarly great sages of ancient times woke up human beings from the slumber of ignorance, warned them at the appropriate time and in the correct manner. They often gave powerful messages that warned all to stop ignoring and start recognizing the Omnipresent Divinity. Words of such great souls must constantly ring in your hearts and guide and illumine your lives. Jesus Christ proclaimed that everyone is an embodiment of Divinity in this human form and every being is a messenger of God. He demonstrated in his life that every ounce of this human body till the last drop of blood must be dedicated to the service of humanity. Jesus declared, “A heart filled with love and compassion is the real temple of the Lord!” Your true offering to the Loving Divine would be the dedication of your life to practice their teachings with your heart and soul.

Jam alarm membangunkan kita dengan dering alarm pada waktu yang tepat. Demikian pula para bijak yang agung zaman dahulu membangunkan manusia dari tidur kebodohan, memperingatkan mereka pada waktu yang tepat dan dengan cara yang benar. Mereka sering memberi pesan kuat yang memperingatkan semuanya untuk tidak mengabaikan Tuhan dan mulai memahami bahwa Tuhan ada dimana-mana. Kata-kata mereka yang berjiwa agung tersebut harus terus-menerus berdering di dalam hatimu dan membimbing serta menerangi kehidupanmu. Yesus Kristus menyatakan bahwa setiap orang adalah perwujudan Tuhan dalam bentuk manusia dan setiap makhluk adalah utusan Tuhan. Beliau menunjukkan dalam hidupnya bahwa setiap ons badan manusia ini sampai titik darah penghabisan harus didedikasikan untuk kepentingan umat manusia. Yesus menyatakan, "Hati yang penuh dengan cinta-kasih dan kasih sayang adalah temple/tempat suci yang sesungguhnya dari Tuhan!" Persembahanmu yang sejati pada Tuhan hendaknya mengabdikan kehidupanmu untuk mempraktikkan ajaran-ajaran mereka dengan hati dan jiwamu. (My Dear Students, Vol 5, Ch 1, Dec 25, 1980)


Friday, July 25, 2014

Thought for the Day - 25th July 2014 (Friday)

Is there any object in the world without a creator? Consider a loud speaker. It has the power to broadcast sound, way beyond any individual’s voice and must take someone with required knowledge and skill to design and produce it. He or she may be in Germany, Switzerland or Japan, and perhaps invisible to you! Without that person, would this loudspeaker have come into existence? No! Similarly for everything that you enjoy in this world, there is a Creator. The stars that twinkle, the Sun and the Moon that illumine the world have been created by a Supreme Infinite Power. It is obvious to us that no ordinary person can create these super objects and ensure they are still working, after billions of years. Scriptures (Vedas) describe to us that this Super Power is Aprameya (One beyond description, beyond all proofs and limitations). The primary objective of every being in this Universe must be to seek and understand this Infinite Power.

Apakah ada benda di dunia ini tanpa sang pencipta? Bayangkanlah sebuah pengeras suara. Ia memiliki kekuatan untuk menyiarkan suara, jauh melampaui suara setiap individu dan harus menggunakan seseorang dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk merancang dan memproduksinya. Dia mungkin berada di Jerman, Swiss, atau Jepang, dan mungkin engkau tidak mengenalnya! Tanpa orang tersebut, apakah loudspeaker ini ada? Tidak! Demikian pula untuk segala sesuatu yang engkau nikmati di dunia ini, ada Sang Pencipta. Bintang-bintang yang berkelap-kelip, Matahari dan Bulan yang menerangi dunia telah diciptakan oleh Kekuatan  Agung Tak Terbatas. Hal ini jelas bagi kita bahwa bukan orang biasa yang dapat membuat benda-benda yang super dan memastikan mereka masih bekerja, setelah miliaran tahun. Kitab Suci (Weda) menjelaskan kepada kita bahwa Super Power ini adalah Aprameya (yang tak terlukiskan, melampaui semua bukti dan keterbatasan). Tujuan utama dari setiap makhluk di alam semesta ini adalah mencari dan memahami Kekuatan yang Tak Terbatas ini. (My Dear Students, Vol 2, Ch 15,Mar 1, 1981)


Thursday, July 24, 2014

Thought for the Day - 24th July 2014 (Thursday)

The moment a bad thought comes, you must teach your mind, “Oh mind, are you on the path of human values or on the path of an animal? This thought is an animal thought – you are not an animal.” Train your mind saying, “Oh mind, human beings are not meant to eat, sleep and enjoy pleasures. Shed all animal qualities, give up previous habits and old ways. You must get away from all evil”. If you thus teach your mind, its speed will be lessened and the flow of thoughts will change. You must consistently teach your mind to transform your thoughts. There will be difficulties in the process. But let them come – the one who works hard and passes through these hardships will enjoy abundant peace. Without effort, there cannot be gain or pleasure. Hence don’t worry about difficulties.

Saat pikiran buruk datang, engkau harus mengajarkan pikiranmu, "Oh pikiran, engkau berada di jalan nilai-nilai kemanusiaan atau di jalan hewani? Pemikiran ini merupakan pemikiran hewan - engkau bukanlah binatang. "Latihlah pikiranmu untuk mengatakan," Oh pikiran, manusia tidak dimaksudkan hanya untuk makan, tidur dan menikmati kesenangan belaka. Lepaskanlah semua kualitas hewani, tinggalkanlah kebiasaan sebelumnya dan cara-cara lama. Engkau harus menjauh dari segala keburukan". Jika engkau mengajarkan pikiranmu seperti itu, kecepatan pikiranmu akan berkurang dan aliran pikiran akan berubah. Engkau harus konsisten mengajarkan pikiranmu untuk melakukan transformasi, meskipun engkau akan menemui kesulitan dalam prosesnya. Tetapi biarlah kesulitan itu muncul - orang yang bekerja keras dan melewati kesulitan ini akan menikmati kedamaian yang berlimpah. Tanpa usaha, tidak mungkin ada  pencapaian atau kebahagiaan. Oleh karena itu janganlah khawatir tentang kesulitan. (My Dear Students, Vol 5, Ch 2, March 9, 1993)


Wednesday, July 23, 2014

Thought for the Day - 23rd July 2014 (Wednesday)

Even animals react based on your feelings. As is the feeling so is the reaction. Every being goes by these three: reaction, reflection and resound. It is only the evil tendencies, the bad feelings amongst human beings which cause wild reaction from animals. Two sons born in the same family constantly fight. What is the reason for hatred? Their own minds are responsible for their temperament. Never have bad temperament. You must always cultivate and develop noble feelings. All of you have good upbringing, good family and good education. You must upkeep the name, honour and reputation of your family and the University you studied. To earn a good name, you must have good friendship. “Tell me who your friends are, I shall tell you who you are” is a famous quote. As is the company, so you are. Therefore always seek and keep good company – it is your good fortune to have and be in good company.

Bahkan hewan-pun bereaksi berdasarkan perasaanmu. Bagaimana perasaannya demikianlah reaksinya. Setiap makhluk berjalan dengan tiga hal berikut: reaksi, refleksi, dan gema. Karena kecenderungan sifat-sifat buruk dan perasaan buruk di antara manusia yang menyebabkan reaksi liar dari hewan. Dua anak laki-laki yang lahir dalam keluarga yang sama senantiasa berkelahi. Apa alasan untuk kebencian tersebut? Pikiran mereka sendiri bertanggung jawab untuk temperamen mereka. Janganlah pernah memiliki temperamen yang buruk. Engkau harus selalu memupuk dan mengembangkan perasaan mulia. Kalian semua memiliki latar belakang yang baik, keluarga yang baik, dan pendidikan yang baik. Engkau harus menjaga nama, kehormatan, dan reputasi keluarga dan universitas tempatmu belajar. Untuk mendapatkan nama baik, engkau harus memiliki pergaulan yang baik. "Katakan siapa teman-temanmu, Aku akan mengatakan siapa engkau" adalah kutipan terkenal. Bagaimana pergaulanmu, demikianlah engkau. Oleh karena itu selalulah mencari dan menjaga pergaulan yang baik - itu adalah keberuntunganmu untuk memiliki dan berada dalam pergaulan yang baik. ( My Dear Students, Vol 2, Ch 14, 22 Aug 2007)


Tuesday, July 22, 2014

Thought for the Day - 22nd July 2014 (Tuesday)

God alone possesses the strength to create anything and everything, both permanent and impermanent. God is all knowing and omnipresent. He created this world with His Divine Will (Sankalpa). God is the basis of all creation. Gold is the basis of jewellery; if there is no gold, then there is no jewel. Clay is the basis of the pot; if there is no clay, then there is no creation. Similarly, if there is no God, then there is no creation. God is omnipresent, omnipotent and omnipresent. Everything around us is Divine. People, in their ignorance, forget this Divine Principle (Atma). In order to jostle human beings from their deep slumber of ignorance and greed, great sages and Divine Incarnations descend on earth. Whenever ego and pride becomes second nature of human beings and ignorance reigns supreme, moreover when demonic nature of human beings are at peak, Divine Incarnations (Avatars) descend on earth to restore righteousness to its pristine glory.

Hanya Tuhan yang memiliki kekuatan untuk menciptakan sesuatu dan segala sesuatu, baik yang permanen dan tidak permanen. Tuhan mengetahui segalanya dan ada di mana-mana. Beliau menciptakan dunia ini sesuai dengan kehendak-Nya (Sankalpa). Tuhan adalah dasar dari semua ciptaan. Emas adalah dasar dari perhiasan; jika tidak ada emas, maka tidak ada permata. Tanah liat adalah dasar untuk membuat belanga; jika tidak ada tanah liat, maka tidak ada belanga yang bisa dibuat. Demikian pula, jika tidak ada Tuhan, maka tidak ada penciptaan. Tuhan itu mahakuasa dan ada di mana-mana. Segala sesuatu di sekitar kita adalah Tuhan. Orang-orang, dalam ketidaktahuan mereka, melupakan Prinsip Tuhan (Atma) ini. Untuk membangunkan manusia dari tidur mereka dalam kebodohan dan keserakahan, para bijaksana yang agung dan inkarnasi Tuhan turun ke bumi. Setiap kali ego dan kebanggaan menjadi sifat kedua manusia dan kebodohan menguasai manusia, dan ketika sifat manusia yang buruk berada di puncaknya, maka inkarnasi Tuhan (Avatar) turun ke bumi untuk mengembalikan kebenaran pada keasliannya. (My Dear Students, Vol 5, Ch 1, Dec 25, 1980)


Monday, July 21, 2014

Thought for the Day - 21st July 2014 (Monday)

Everyone is very interested about their future. What is future? It is based on the past. Don’t brood over the past and don’t worry about the future. Past is past. What is the use in thinking about it or worrying about something that is dead and gone? Just forget it! Present is very important. Live in the moment and follow the present. Often many think of the past or of the future and ruin the present. Many times you feel you were happy in the past and are unhappy now. To what extent were you happy then? Has your attitude changed since the past? Has the dirtiness in your mind been cleansed? Believe that you are happy now; you have sufficiency in everything. Your mind is right now blessed. You must always “Help Ever and Hurt Never”. Bhagawan wants you to appreciate the importance of the “present” and work for your progress, living in the present, living in the moment.

Setiap orang sangat tertarik tentang masa depan mereka. Apa itu masa depan? Masa depan didasarkan pada masa lalu. Janganlah memikirkan masa lalu dan janganlah mengkhawatirkam masa depan. Masa lalu adalah masa lalu. Apa gunanya memikirkan hal itu atau khawatir tentang sesuatu yang sudah mati dan sudah pergi? Lupakan saja! Masa kini sangat penting. Jalanilah kehidupan masa kini dan ikutilah masa kini. Banyak orang memikirkan masa lalu atau masa depan dan merusak masa sekarang. Banyak dari kalian merasa bahagia di masa lalu dan merasa tidak bahagia di masa sekarang. Sejauh mana engkau merasakan kebahagiaan itu? Apakah sikapmu berubah karena masa lalu? Apakah kekotoran dalam pikiranmu dibersihkan? Percayalah bahwa saat ini engkau merasa bahagia; engkau memiliki kecukupan dalam segala hal. Pikiranmu sekarang diberkati. Engkau harus "Selalu membantu, tidak pernah menyakiti". Bhagawan ingin engkau menghargai pentingnya "masa kini" dan bekerja untuk kemajuanmu, hidup di masa sekarang, hidup di saat ini. (My Dear Students, Vol 2, Ch 14, 22 Aug 2007)


Sunday, July 20, 2014

Thought for the Day - 20th July 2014 (Sunday)

Just as the cultivation season is the most important time for the farmer, the youth is the most important time in the life of a student. The farmer waits for the opportune moment to sow his seeds so that he can reap rich harvest. Time is a very critical element for the success of the crop. During the cultivation season, the farmer does not care about food, water or sleep, and works hard with his entire focus on achieving a good harvest. He believes that a good crop is the only source of all happiness. So too, for the student (Vidhyarthi), the period of their education is like the cultivation season. It is the most important time and is the very basis of their lives. They must dedicate all their time, without worrying even about hunger, thirst and sleep, or loss and gain and must only focus on building their good character and gaining full and complete knowledge.

Sama seperti musim bertanam adalah waktu yang paling penting bagi petani, pemuda adalah waktu yang paling penting dalam kehidupan para pelajar. Petani menunggu saat yang tepat untuk menabur benih sehingga ia bisa menuai panen yang berlimpah. Waktu adalah unsur yang sangat penting untuk keberhasilan tanaman. Selama musim tanam, petani tidak peduli tentang makanan, air atau tidur, dan bekerja keras dengan seluruh perhatian pada pencapaian panen yang baik. Ia percaya bahwa tanaman yang baik adalah satu-satunya sumber dari segala kebahagiaan. Demikian juga, bagi siswa (Vidhyarthi), masa pendidikan mereka dapat diibaratkan seperti musim tanam. Inilah waktu yang paling penting dan merupakan dasar kehidupan mereka. Mereka harus mendedikasikan seluruh waktu mereka, tanpa khawatir bahkan tentang kelaparan, kehausan, dan tidur, atau kerugian dan keuntungan dan hanya harus fokus pada pembangunan karakter yang baik dan memperoleh pengetahuan yang lengkap dan sempurna. (My Dear Students, Vol 5, Ch 1, Dec 25, 1980)


Saturday, July 19, 2014

Thought for the Day - 19th July 2014 (Saturday)

Bodies are different and names are different, but the indweller or the Self that is present in everyone is one and the same. When you want to call someone, you call him or her by their name. Each one of you has an unique name only for identity purposes; it should not be considered more significant than that. Lord Krishna declared clearly in the Bhagavad Gita that you are the embodiment of the Lord. Do not limit yourself as a mere human being. Let anyone call you by any name. The real truth is, the Self-same Lord is present in you and in everyone. God dwells everywhere (Ishavasyam Idam Sarvam) and in everyone. Hence remember! You do not merely represent the name that you are given, but are truly Divine - “I am I” is your real name! God dwells in all of you (Ishwarah Sarva Bhoothanam). Hence practice the principle, “All are One, Be alike to everyone.”

Badan yang berbeda dan nama yang berbeda, tetapi yang bersemayam atau Atma yang ada dalam setiap orang adalah satu dan sama. Bila engkau ingin memanggil seseorang, engkau memanggilnya dengan nama mereka. Masing-masing dari engkau memiliki nama yang unik hanya untuk tujuan identitas; itu tidak boleh dianggap lebih penting dari itu. Sri Krishna menyatakan dengan jelas dalam Bhagavad Gita bahwa engkau adalah perwujudan Tuhan. Jangan membatasi dirimu sebagai seorang manusia biasa. Biarkan orang memanggilmu dengan nama apapun. Kebenaran sejati adalah, Atma yang sama, Tuhan ada dalam dirimu dan dalam diri setiap orang. Tuhan ada di mana-mana (Ishavasyam Idam Sarvam) dan pada semua orang. Oleh karena itu ingatlah! Engkau tidak hanya mewakili nama yang diberikan, tetapi benar-benar merupakan (perwujudan) Tuhan- "Aku adalah aku" adalah nama sejatimu! Tuhan ada di dalam diri kalian semua (Ishwarah Sarva Bhoothanam). Oleh karena itu praktikkanlah prinsip, " Semuanya adalah satu, berlakulah sama untuk semua orang." (My Dear Students, Vol 2, Ch 13, June 7, 2007)


Friday, July 18, 2014

Thought for the Day - 18th July 2014 (Friday)

God descends for the people and among the people with love, compassion and affection, and mixes with the Individual Consciousness (Jeeva Prajna) so that Divine Consciousness (Deva Prajna) may be attained. Such rare opportunities are bestowed upon individuals as a result of the good deeds of past several lives. A Guru is truly like God. Guru teaches in order to build the character of the devotee, so he or she can have a good future. A good devotee/student is he or she, who has utmost devotion towards their Guru and surrenders at their Master’s feet. Arjuna personified an ideal devotee who surrendered completely to his Master, Lord and Guru, Sri Krishna. Arjuna said to Krishna, “I will do whatever You tell me to do”. This is a classic act, an example of complete surrender to God. Students today must follow Arjuna as their role model and achieve complete surrender of their lives to service and betterment of the society.

Tuhan turun bagi orang-orang dan di antara orang-orang dengan cinta-kasih, belas kasihan, dan kasih sayang, dan bercampur dengan Kesadaran Individual (Jeeva Prajna) sehingga Kesadaran Ilahi (Deva Prajna) dapat dicapai. Kesempatan langka tersebut diberikan kepada individu sebagai akibat dari perbuatan baik dari beberapa kehidupan di masa lampau. Seorang Guru adalah benar-benar seperti Tuhan. Guru mengajar untuk membangun karakter para bhakta, sehingga ia dapat memiliki masa depan yang baik. Seorang bhakta/pelajar yang baik adalah mereka yang memiliki pengabdian sepenuhnya terhadap Guru mereka dan berpasrah di kaki Guru mereka. Arjuna dipersonifikasikan sebagai seorang bhakta yang ideal yang menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Master, Tuhan, dan Guru-nya, Sri Krishna. Arjuna berkata kepada Krishna, "Aku akan melakukan apa pun yang Engkau katakan yang harus aku lakukan". Ini adalah tindakan klasik, contoh penyerahan total kepada Tuhan. Para siswa saat ini harus mengikuti Arjuna sebagai contoh mereka dan mencapai penyerahan total hidup mereka untuk melayani masyarakat dan untuk kemajuan masyarakat. (My Dear Students, Vol 5, Ch 1, Dec 25, 1980)


Thursday, July 17, 2014

Thought for the Day - 17th July 2014 (Thursday)

Just as all rivers merge in the ocean, all branches of education end in spiritual education. You must experience that kind of totality and merge with Divinity. Traditions and truths are being separated into various groups and the vicious syndrome of dislike for one person towards the other has come into existence. However, not just in the past, even in the present, there are quite a few people who conduct themselves as per the traditional rules and guidelines with purity to attain the ultimate goal in life. The means to liberation, in Krita Yuga was Meditation (Dhyanam), in Tretha Yuga was performing ritualistic worship (Yagna), in Dwapara Yuga it was worship (Archana), and in the present Kali Yuga, it is chanting the Name of the Lord (Namasmarana). Any or all of these methods, when followed with utmost sincerity and devotion, will help one achieve the ultimate goal of life which is Liberation (Moksha).

Sama seperti semua sungai yang menyatu ke laut, semua cabang pendidikan berakhir dengan pendidikan spiritual. Engkau harus mengalami totalitas seperti itu dan menyatu dengan Divinity. Tradisi dan kebenaran dipisahkan menjadi berbagai kelompok dan menimbulkan sindrom buruk, yang satu tidak menyukai yang lainnya. Namun, bukan hanya di masa lalu, bahkan di masa sekarang, ada beberapa orang yang berperilaku sesuai dengan aturan dan pedoman tradisional dengan kemurnian untuk mencapai tujuan akhir dalam hidup. Sarana untuk pembebasan, di Krita Yuga adalah Meditasi (Dhyanam), di Tretha Yuga melakukan ritual (Yagna), di Dwapara Yuga melakukan ibadah (Archana), dan di masa sekarang, Kali Yuga, dengan mengulang-ulang Nama Tuhan (Namasmarana). Salah satu atau semua metode ini, jika diikuti dengan ketulusan dan pengabdian, akan membantu seseorang mencapai tujuan akhir hidup yaitu Pembebasan (Moksha). (My Dear Students, Vol 5, Ch 1, Dec 25, 1980)


Wednesday, July 16, 2014

Thought for the Day -16th July 2014 (Wednesday)

Many of you do not consider the sacred values of Sathya, Dharma, Shanthi, Prema and Ahimsa as inner current that are present within you. In fact, they form the basic foundation of human life. Without the basic fundamentals, the more knowledge you acquire, the greater and longer you continue to be a fool, if you do not invest effort to realize your true nature. Truth is present and latent within everyone. It is a precious gift from God. Whether you recognize these facts or not, and even if you consider them as irrelevant, these facts remain. Hence now onwards, you must install Truth deeply in your heart. Love is the natural fruit of developing Truth. If you grow in truthfulness, then as a result, Love blossoms from within. Along with Sathya and Prema, comes Ahimsa. Truth sustains Ahimsa or Non-Violence. You will find that the value of Non-violence is often absent, in every person, wherever and whenever Love is absent.

Banyak dari kalian tidak menganggap nilai-nilai suci Sathya, Dharma, Shanthi, Prema, dan Ahimsa sebagai arus batin yang ada dalam dirimu. Sesungguhnya, semua nilai itu membentuk fondasi dasar kehidupan manusia. Tanpa dasar fundamental, semakin banyak pengetahuan yang engkau peroleh, semakin besar dan lebih lama engkau terus menjadi bodoh, jika engkau tidak menanamkan upaya untuk menyadari sifat sejatimu. Kebenaran ada dan laten dalam semua orang. Inilah karunia yang berharga dari Tuhan. Apakah engkau mengakui fakta ini atau tidak, dan bahkan jika engkau tidak menganggapnya sebagai tidak relevan, fakta-fakta ini tetap ada. Oleh karena itu sekarang dan seterusnya, engkau harus menanamkan Kebenaran mendalam dalam hatimu. Cinta-kasih adalah buah alami untuk mengembangkan Kebenaran. Jika engkau tumbuh dalam kebenaran, maka sebagai akibatnya, cinta-kasih berkembang dari dalam diri. Seiring dengan tumbuhnya Sathya dan Prema, maka muncul Ahimsa. Kebenaran menopang Ahimsa atau tanpa-Kekerasan. Engkau akan menemukan bahwa nilai tanpa-kekerasan sering tidak ada, pada setiap orang, dimanapun dan kapanpun cinta-kasih tidak ada. (My Dear Students, Vol 2, Ch 13, June 7 2007)


Tuesday, July 15, 2014

Thought for the Day - 15th July 2014 (Tuesday)

Love (Prema) cannot be affected or modified by considerations of caste or creed, or religion; it cannot be tarnished by envy, malice or hate. Preserve Love from being poisoned by these evils; endeavor to cultivate hatred-lessness and distinction-free feelings. The root of all religions, the substance of all scriptures, the rendezvous of all roads, the inspiration of all individuals is the Principle of Love (Prema). It is the firmest foundation for every human being's mission of Life. It is the Light that ensures world peace and prosperity. Fill every word of yours with Love. The word that emerges from your tongue should not stab like the knife, nor wound like an arrow, or hit like the hammer. It has to be a foundation of sweet nectar, a counsel of consoling spiritual wisdom (Vedantic), and a soft path of blossoms; it must shower peace and joy.

Cinta-kasih (Prema) tidak dapat dipengaruhi atau diubah oleh pertimbangan kasta atau keyakinan, atau agama; tidak dapat ternodai oleh iri hati, kedengkian atau kebencian. Pertahankanlah Cinta-kasih dari racun-racun yang disebabkan oleh kejahatan tersebut; berusahalah untuk mengurangi kebencian dan rasa perbedaan. Akar dari semua agama, substansi semua kitab suci, tempat pertemuan dari semua jalan, inspirasi dari semua individu adalah Prinsip Cinta-kasih (Prema). Inilah dasar yang kokoh untuk misi setiap manusia menjalani Kehidupan. Inilah cahaya yang menjamin kedamaian dan kemakmuran dunia. Isilah setiap  ucapanmu dengan Cinta-kasih. Kata-kata yang muncul dari lidahmu hendaknya tidak menusuk seperti pisau, atau melukai seperti anak panah, atau memukul seperti palu. Ini harus menjadi dasar dari manisnya nektar, nasihat yang menghibur kebijaksanaan spiritual (Vedanta), dan jalan pengembangan yang lembut; ini harus memancarkan kedamaian dan sukacita. (Divine Discourse, 2 Jul 1985)


Monday, July 14, 2014

Thought for the Day - 14th July 2014 (Monday)

Let God be your Guru, your path, your Lord. Adore Him, obey His commands, offer Him your grateful homage, and hold Him fast in your memory. This is the one and only way, and the easiest way to realize Him as your own reality. This reality is cognisable everywhere. It is evident within yourself, when you earnestly seek it. You can experience it, even while performing selflessly your duty to yourself and others. I shall indicate to you today, four directives for sanctifying your lives and purifying your mind, so that you can contact the God within you. They are: Give up the company of the wicked (Thyaja durjana samsargam); Welcome the chance to be among the good (Bhaja Sadhu Samagamam); Do good deeds both day and night (Kuru punyam ahoraatram); Remember and discriminate which is lasting or otherwise (Smara nitya-anityatam).

Biarlah Tuhan menjadi Guru-mu dan  jalan-mu. Pujalah Beliau, patuhi perintah-Nya, persembahkan kepada-Nya rasa syukur-mu, dan tempatkanlah Beliau senantiasa dalam memorimu. Ini adalah satu-satunya cara, dan cara yang termudah untuk menyadari Beliau sebagai realitasmu sendiri. Realitas ini hendaknya disadari di mana-mana. Hal ini akan sangat jelas dalam dirimu, ketika engkau sungguh-sungguh mencarinya. Engkau bisa mengalaminya, bahkan saat engkau melaksanakan kewajiban tanpa pamrih baik untuk diri sendiri dan orang lain. Aku akan menunjukkan kepadamu hari ini, empat arahan untuk menyucikan hidupmu dan memurnikan pikiranmu, sehingga engkau dapat berhubungan dengan Tuhan di dalam dirimu. Empat hal tersebut adalah: Meninggalkan pergaulan dengan orang-orang yang berkelakuan buruk (Thyaja durjana samsargam); Menyambut kesempatan untuk menjadi seorang yang baik (Bhaja Sadhu Samagamam); Senantiasa melakukan perbuatan yang baik, siang dan malam (Kuru punyam ahoraatram); Memahami dan bisa membedakan mana yang abadi atau sebaliknya (Smara nitya-anityatam). (Divine Discourse, 2 Jul 1985)


Sunday, July 13, 2014

Thought for the Day - 13th July 2014 (Sunday)

To hate or injure other beings is as bad as hating and injuring oneself. The reason being that the injurer is as much a living being with God as the core, as the injured is. Until you become aware of your own Divinity (Deva-tatwa) so long as you are conscious of your distinct individuality (Jiva-tatwa) - till you feel you are you and God is God, you struggle, with some attitudes and objectives. This is called the Sadhaka stage. During that stage, you must endeavour to equip yourself with the qualities of love, sympathy and compassion. For, without these, Yoga and Jnana (wisdom) cannot be secured. Love is vital, it is divine. To render an act fit to be offered to God and pure enough to win His Grace, it must be a manifestation of Love. The brighter the manifestation, the nearer you are to God.

Membenci atau melukai makhluk lain sama artinya dengan membenci dan melukai diri sendiri. Alasannya melukai makhluk hidup, dimana Tuhan sebagai intinya, kita sendiri juga terluka. Sampai engkau menyadari Divinity-mu sendiri (Deva-tatwa) selama engkau menyadari individualitasmu yang berbeda (Jiva-tatwa) - sampai engkau merasa bahwa engkau adalah engkau dan Tuhan adalah Tuhan, engkau berjuang, pada berbagai sikap dan tujuan. Ini disebut dengan tahapan Sadhaka. Selama tahapan itu, engkau harus berusaha untuk melengkapi dirimu dengan kualitas cinta-kasih, simpati dan kasih sayang. Sebab, tanpa ini, Yoga dan Jnana (kebijaksanaan) tidak dapat diperoleh. Cinta-kasih itu penting, karena cinta-kasih adalah Tuhan. Untuk membuat suatu tindakan yang layak untuk dipersembahkan kepada Tuhan dan kemurnian yang cukup untuk memenangkan Berkat-Nya, kita harus memiliki rasa Cinta-kasih. Semakin banyak engkau memancarkan cinta-kasih, semakin dekat engkau dengan Tuhan. (Divine Discourse, 29 Jul 1969)


Saturday, July 12, 2014

Thought for the Day -12th July 2014 (Saturday)

Poornima means the effulgent fullmoon. Guru is One who removes darkness and delusion from the heart and illumines it with the higher wisdom. The Moon and the Mind are interrelated, as object and image. On this day, the Moon is full, fair and cool, its light pleasant and peaceful; the light of the Mind too has to be pleasing and pure. In the firmament of your heart, the moon is the Mind. Sensual desires and worldly activities are the clouds, thick and heavy which mar your joy at the light of the moon. Let the strong breeze of love scatter the clouds away and confer on you the cool glory of moonlight. When devotion shines full, the sky in the heart becomes a bowl of beauty and life is transformed into a charming avenue of Ananda (bliss). That beauty of heart, that bliss in life can be won through the Mind, if the lesson of this day is remembered and realised.

Poornima berarti bulan yang bersinar penuh. Guru adalah Yang menghilangkan kegelapan dan kebodohan dari hati dan menerangi dengan kebijaksanaan yang lebih tinggi. Bulan dan Pikiran saling berkaitan, seperti objek dan bayangan. Pada hari ini, Bulan penuh, terang dan menyejukkan, cahayanya menyenangkan dan mendamaikan; cahaya dari Pikiran juga harus menyenangkan dan murni. Dalam cakrawala hatimu, bulan adalah Pikiran. Keinginan duniawi dan aktivitas duniawi dapat diibaratkan dengan awan, tebal dan berat yang merusak kebahagiaanmu pada cahaya bulan. Biarlah angin cinta-kasih yang kuat mengusir awan menjauh dan memberikan kepadamu kemuliaan cahaya bulan yang menyejukkan. Ketika pengabdian bersinar penuh, langit di hatimu menjadi semangkuk keindahan dan kehidupan berubah menjadi jalan Ananda (kebahagiaan) yang menyenangkan. Keindahan hati dan kebahagiaan dalam hidup tersebut dapat dimenangkan melalui Pikiran, jikalau pelajaran hari ini disampaikan dan disadari. (Divine Discourse, 29 July 1969)


Friday, July 11, 2014

Thought for the Day - 11th July 2014 (Friday)

Grief and joy, and pain and pleasure alternate like the dark and bright fortnight by God's decree, to foster equanimity and to lead man towards reality beyond both. If you do not attempt to transform yourself but resort to blaming God for your sorrows, it is incorrect! You blame God because you announce yourself as a devotee too soon, and expect plentiful grace. Grace cannot be claimed as such; first God must accept you! Use your talent of discrimination to sift the trash and discard it in preference to the valuable. Engage in selfless service; flee from bad persons and win the friendship of the good and noble, who will cleanse you and heal you. Man is consumed by time; God is the master of time. So take refuge in God. Let God be your Guru, your path, your Lord.

Duka dan suka, serta kesedihan dan kesenangan datang secara bergantian seperti gelap dan terang yang datang silih berganti sesuai dengan ketentuan Tuhan, untuk mendorong keseimbangan dan untuk mengarahkan manusia menuju realitas melampaui keduanya. Jika engkau tidak mencoba untuk mengubah dirimu sendiri tetapi mengambil jalan untuk menyalahkan Tuhan atas penderitaanmu, itu tidak benar! Engkau menyalahkan Tuhan karena engkau terlalu cepat menyatakan dirimu sebagai bhakta, dan mengharapkan rahmat yang berlimpah. Berkat Tuhan tidak dapat diminta seperti tersebut; pertama-tama Tuhan harus menerimamu! Gunakanlah kemampuan diskriminasi-mu untuk menyaring sampah, membuang yang tidak bernilai  dan memilih hanya yang berharga. Terlibat dalam pelayanan tanpa pamrih; menghindarkan diri dari orang-orang yang berperilaku buruk dan memenangkan persahabatan yang baik dan mulia, inilah yang akan memurnikan dan menyembuhkanmu. Manusia dikonsumsi oleh waktu; Tuhan adalah penguasa waktu. Jadi berlindunglah pada Tuhan. Biarkan Tuhan menjadi Gurumu, jalanmu, dan Tuhanmu. (Divine Discourse, 2 Jul 1985)


Thursday, July 10, 2014

Thought for the Day - 10th July 2014 (Thursday)

The Gita offers valuable advice to help one swim across the sea of sorrow. Bear no ill-will against any living being (Adweshta Sarva Bhoothaanaam), always be engaged in promoting the wellbeing of all (Sarva Bhootha hithe rathaah), and consider foe and friend alike (Samah shathrou cha mithre cha) - these are jewels contained in the Gita, highlighting the means to develop Universal Love. By declaring that none should have ill feeling towards the entire world of living beings, the Gita is teaching an invaluable lesson that the Divine is in all beings and objects, as an active illumining Principle, appropriately called Atma. The Vedic assertions also firmly establish this profound Truth. All are enveloped in God (Ishaavasyamidham Sarvam); the inner core of all beings is He (Sarva Bhootha antharatma).

Gita memberikan nasihat berharga untuk membantu seseorang berenang melintasi lautan kesedihan. Janganlah menyakiti setiap makhluk hidup (Adweshta Sarva Bhoothaanaam), selalulah terlibat dalam meningkatkan kesejahteraan semuanya (Sarva Bhootha hithe rathaah),  dan menganggap musuh dan teman sama (Samah shathrou cha mithre cha) - inilah permata yang terkandung dalam Gita, sarana untuk mengembangkan cinta-kasih Universal. Dengan menyatakan bahwa tidak seorangpun memiliki perasaan buruk terhadap seluruh makhluk di dunia, Gita mengajarkan sebuah pelajaran berharga bahwa Tuhan ada di dalam semua makhluk dan benda-benda, dasar yang menerangi semuanya yang disebut dengan Atma. Veda juga dengan tegas menyatakan Kebenaran yang mendalam ini. Semuanya diselimuti oleh Tuhan (Ishaavasyamidham Sarvam); inti dari semua makhluk adalah Beliau (Sarva Bhootha antharatma). (Divine Discourse, 29 July 1969)


Wednesday, July 9, 2014

Thought for the Day - 9th July 2014 (Wednesday)

When Yajnavalkya resolved to go into the forest to live as an ascetic, he called his two wives before him and proposed to divide the riches he had earned between them. Before accepting her share, Maitreyi asked her husband whether the riches will help her to realise Truth and achieve immortality. When she understood that they will not, and in fact they are mere hindrances, she refused to be burdened. Nachiketa refused the gifts of empire, affluence, and years of healthy life. Prahladha taught the same lesson to his playmates. Buddha solved the mystery of suffering through renunciation of attachment as the first step in his Sadhana. All of them had implicit faith in the existence of God; their lives revolved on the axis of that faith.

Ketika Yajnavalkya memutuskan untuk pergi ke hutan, hidup sebagai seorang pertapa, ia memanggil kedua istrinya dan mengusulkan untuk membagi kekayaan yang telah mereka dapatkan. Sebelum menerima bagiannya, Maitreyi bertanya pada suaminya apakah kekayaan akan membantunya untuk mewujudkan Kebenaran dan mencapai keabadian. Ketika dia memahami bahwa kekayaan tidak bisa mencapai hal itu, dan pada kenyataannya hanya sebagai rintangan, ia menolak untuk dibebani. Nachiketa menolak hadiah dari kerajaan, kemakmuran, dan hidup sehat. Prahladha mengajarkan pelajaran yang sama untuk teman mainnya. Buddha memecahkan misteri penderitaan melalui penolakan terhadap kemelekatan sebagai langkah pertama dalam Sadhana-Nya. Semua dari mereka memiliki keyakinan yang tersirat dalam keberadaan Tuhan; hidup mereka berputar pada sumbu keyakinan itu. (Divine Discourse, July 19, 1970)


Tuesday, July 8, 2014

Thought for the Day - 8th July 2014 (Tuesday)

Silence is the first step in Sadhana, which makes the other steps easy. It promotes self-control, lessens chances of anger, hate, malice, greed and pride. Besides, you can hear His footsteps, only when silence reigns in the mind. Cleanliness opens the door to Godliness. Inner and outer cleanliness are essential to install God within your heart. Service saves you from the agony you get when another suffers; it broadens your vision, widens your awareness, and deepens your compassion. All are waves on the sea originate from the same sea and also merge in it. Seva teaches you to be firm in this knowledge. Practice Love. Practice Hatelessness. None must be looked down upon as secondary, inferior or unimportant. Everyone has their allotted role in the drama designed by the Almighty. Do not slight, insult or injure anyone; for, He is in every being and your slight thus becomes a sacrilege.

Keheningan adalah langkah pertama dalam Sadhana, yang membuat langkah-langkah yang lainnya menjadi mudah. Ini mendorong pengendalian diri, mengurangi kemarahan, kebencian, kedengkian, keserakahan, dan kesombongan. Selain itu, engkau dapat mendengar langkah kaki-Nya, hanya ketika keheningan menguasai pikiranmu. Kemurnian membuka pintu ketuhanan. Kemurnian batin dan luar sangat penting untuk menginstal Tuhan di dalam hatimu. Pelayanan menyelamatkanmu dari penderitaan yang engkau terima ketika orang lain menderita; itu memperluas visi-mu, memperlebar kesadaranmu, dan memperdalam kasih sayangmu. Semua gelombang di laut berasal dari laut yang sama dan juga menyatu di dalamnya. Seva/pelayanan mengajarkan kepadamu untuk mantap dalam pengetahuan ini. Praktikkanlah Cinta-kasih. Praktikkanlah tanpa kebencian. Tidak seorang pun dipandang rendah sebagai yang kedua, inferior atau tidak penting. Setiap orang memiliki peran mereka yang diberikan dalam drama yang dirancang oleh Yang Maha Kuasa. Janganlah meremehkan, menghina atau melukai siapa pun; karena, Beliau ada di setiap makhluk dan menghina artinya melanggar kesucian. (Divine Discourse, 19 July 1970)


Monday, July 7, 2014

Thought for the Day - 7th July 2014 (Monday)

The scriptures declare that body is the temple and God is installed therein. Hence, consider your body as a vessel for cooking food, given on loan for hosting the festival of life. Can we return it to God, the Owner, in a worse condition? Should we not scrub it clean and return it bright and free from rust and dust? When the festival of life began, we received a pure, fresh and bright body from Him, innocent of evil. We have now inflicted dents, leaks and other signs of damage, through lust, greed, hatred, anger and envy. Do not return His property in poor condition. You must return it to Him, as pure as He gave it, to be most worthy of His Grace. Remember the purpose of your birth; and leverage your full potential and capability to achieve it. Wear the garland of devotion around your neck and saturate your thought, word and deed with Divine Love.

Kitab suci menyatakan bahwa badan jasmani adalah tempat suci dan Tuhan terinstal di dalamnya. Oleh karena itu, anggaplah badan jasmanimu sebagai wadah untuk memasak makanan, dipinjamkan sebagai tuan rumah festival kehidupan. Bisakah kita mengembalikannya pada Tuhan, Sang Pemilik, dalam kondisi yang lebih buruk? Tidak-kah seharusnya kita menggosok badan jasmani dengan bersih dan mengembalikannya dalam kondisi yang cemerlang dan bebas dari karat dan debu? Ketika festival kehidupan dimulai, kita menerima badan jasmani dalam keadaan murni, segar, dan cerah dari-Nya, serta tidak berdosa. Sekarang kita telah mengakibatkannya menjadi penyok, bocor dan tanda-tanda lain dari kerusakan, melalui nafsu, keserakahan, kebencian, kemarahan, dan iri hati. Janganlah mengembalikan properti-Nya dalam kondisi yang buruk. Engkau harus mengembalikannya kepada-Nya, semurni ketika Beliau memberikannya, agar layak mendapatkan berkat-Nya. Ingatlah tujuan kelahiranmu; dan memanfaatkan sepenuhnya potensi dan kemampuanmu untuk mencapainya. Engkau hendaknya mengenakan garland (karangan bunga) pengabdian di lehermu dan memenuhi pikiran, perkataan, dan perbuatanmu dengan Cinta-kasih Tuhan. (Divine Discourse, 22 Jan 1982)


Sunday, July 6, 2014

Thought for the Day - 6th July 2014 (Sunday)

It is often declared that knowledge is power. No! No! Character is power. Nothing can be more powerful on earth than character. Riches, scholarship, status, authority, etc. are all frail and flimsy before it. There is no dearth of books today; nor is there lack of gurus. Educational institutions spread knowledge everywhere. The Sun of Knowledge (Jnaana Bhaskara) is showering His rays in plenty to all alike. But, one can hardly find those who have imbibed the nectarous wisdom thus offered and are dwelling in the ecstasy it can confer. The mountain range with lust, anger, hatred, envy and pride as the peaks, shuts out the splendor of the Sun. Charity, compassion, fortitude, sympathy, and sacrifice, arise from the higher levels of consciousness while opposite tendencies breed in the lower levels. Remember, a strong virtuous character cannot be earned from any book; it is earned only through intimate involvement with society.

Seringkali dikatakan bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Tidak! Karakter adalah kekuatan. Tidak ada kekuatan yang lebih kuat daripada karakter di bumi ini. Kekayaan, ilmu pengetahuan, status, wewenang, dll semuanya itu lebih lemah dibandingkan dengan katakter. Saat ini, kita tidak kekurangan buku, demikian juga dengan guru. Lembaga pendidikan menyebarkan pengetahuan di mana-mana. Sinar pengetahuan (Jnaana Bhaskara) menghujani sinar-Nya yang berlimpah sama untuk semuanya. Tetapi, seseorang hampir tidak dapat menemukan orang-orang yang telah menyerap nektar kebijaksanaan tersebut. Pegunungan dengan puncak nafsu, kemarahan, kebencian, iri hati, dan kebanggaan menutupi kemegahan Matahari. Kemurahan hati, kasih sayang, ketabahan, simpati, dan pengorbanan, timbul dari tingkat kesadaran yang lebih tinggi, sementara kecenderungan yang berlawanan berkembang biak di tingkat yang lebih rendah. Ingatlah, karakter yang baik tidak dapat diperoleh dari buku apa pun; itu diperoleh hanya melalui keterlibatan yang mendalam dengan masyarakat. (Divine Discourse, 22 Jan 1982)


Saturday, July 5, 2014

Thought for the Day - 5th July 2014 (Saturday)

You must regard the prosperity and joy of others in the community as your own. Only then will India or any other country deserve prosperity and joy. Your happiness is bound up with the happiness of Society. Your physical, mental and intellectual strength and skills have to be dedicated, not merely to your own progress, but equally to the progress of Society. You must try to benefit yourself and the Society through such service. Use the strength, skills, and spirit of service for such work. A machine gets rested if it is not put to use; the human machine too gets rusted if it is not put to constant meaningful work. The pulse is not the correct indicator of your being alive; work and activity is the evidence and the value of real living. Your role is to translate your strength into activity along the path of duty.

Engkau harus menganggap kemakmuran dan kebahagiaan orang lain dalam masyarakat seperti kebahagiaanmu sendiri. Hanya setelah itu India atau negara lainnya layak mendapatkan kemakmuran dan kebahagiaan. Kebahagiaanmu berhubungan dengan kebahagiaan masyarakat. Kekuatan fisik, mental, intelektual, dan keterampilan harus didedikasikan bukan hanya untuk kemajuanmu sendiri, tetapi juga untuk kemajuan masyarakat. Engkau harus mencoba agar menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat melalui pelayanan tersebut. Gunakanlah kemampuan, keterampilan, dan semangat pelayanan untuk pekerjaan tersebut. Mesin akan rusak jika tidak dimanfaatkan; mesin manusia juga akan berkarat jika tidak digunakan dengan baik secara konstan. Denyut nadi bukanlah indikator yang tepat yang menunjukkan bahwa engkau masih hidup; kerja dan aktivitas adalah bukti dan nilai hidup yang sesungguhnya. Peranmu adalah untuk menggunakan kemampuanmu dalam aktivitas di sepanjang jalan dharma. (Divine Discourse, 22 Jan 1982)


Friday, July 4, 2014

Thought for the Day - 4th July 2014 (Friday)

What or who is God? When the answer to this question is sought, one discovers that God is the glory immanent in Nature. The earth rotates on its axis at a speed of thousand miles an hour. As a consequence, we have alternations of day and night, which helps us to live on this globe. Besides, it moves around the sun at the rate of 66,000 miles an hour, causing the seasons which bring rains for crops and vegetation which sustain human life. The earth does not profit in the least by these rotations but human beings survive, enjoy life and prosper on account of them. Nature must indeed be laughing at the sterile frenzies, the endless pursuits, and the countless miseries to which human beings submit themselves to, in their search for achieving the unachievable! You must search in Nature the sacred lessons it holds for you; then, you will understand how deep and how everlasting is the Truth that it conveys to you!

Apa atau siapakah Tuhan? Bila jawaban atas pertanyaan ini dicari, seseorang menemukan bahwa Tuhan Yang Maha Mulia tetap ada di Alam semesta. Bumi berputar pada porosnya dengan kecepatan seribu mil per jam. Akibatnya, ada pergantian siang dan malam, yang membantu kita untuk hidup di dunia ini. Selain itu, bumi bergerak mengelilingi matahari dengan kecepatan 66.000 kilometer per jam, menyebabkan adanya musim yang menimbulkan hujan sehingga tanaman bisa tumbuh dan mampu menopang kehidupan manusia. Bumi tidak mendapatkan keuntungan sedikit pun oleh rotasi ini tetapi manusia bisa bertahan hidup, menikmati hidup dan sejahtera karena hal ini. Alam semesta memang harus berbahagia dalam hiruk-pikuk duniawi, pengejaran tak berujung, dan penderitaan yang tak terhitung jumlahnya yang manusia berikan, dalam pencarian mereka untuk mencapai sesuatu yang tak mungkin tercapai! Engkau harus mencari di Alam semesta ini pelajaran suci yang hendaknya engkau jadikan pegangan; kemudian, engkau akan memahami seberapa dalam dan seberapa abadinya Kebenaran yang disampaikannya kepadamu! (Divine Discourse, 22 Jan 1982)


Thursday, July 3, 2014

Thought for the Day - 3rd July 2014 (Thursday)

Lord Krishna declares in the Bhagavad Gita, "There is nothing in the three worlds that I am obliged to do, nothing unaccomplished that I have to accomplish, but I am still engaged in activity (karma)”. Lord Krishna says this, for, if God is inactive, the Cosmos will come to a grinding halt. You too, must take the lead and follow it. Translate your strength into activity along the path of duty. The young follow the lead of elders. So elders must consistently hold on to ideals and work towards their realization so that the entire universe can attain prosperity and peace. Mother Earth teaches her children this lesson of service and sacrifice. Good conduct must be the main key to the life of every being. Remember, it is the 'way of living,' the path of virtue, that keeps you in the memory of people long after death.

Sri Krishna menyatakan dalam Bhagavad Gita, "Tidak ada dalam tiga dunia yang harus Aku lakukan, tidak ada yang harus Aku selesaikan, tetapi Aku  terlibat dalam aktivitas/kerja (karma)". Sri Krishna mengatakan, karena jika Tuhan diam, Alam semesta akan berhenti berputar. Engkau juga harus menjalani dan mengikutinya. Engkau hendaknya menggunakan kemampuanmu dalam kegiatan di sepanjang jalan dharma. Para pemuda mengikuti jejak para tetua. Jadi para tetua harus konsisten berpegang pada ideal dan bekerja menuju realisasi mereka sehingga seluruh alam semesta dapat mencapai kemakmuran dan kedamaian. Ibu pertiwi mengajarkan anak-anaknya pelajaran pelayanan dan pengorbanan ini. Perilaku yang baik harus menjadi kunci utama bagi kehidupan setiap makhluk. Ingatlah, itu adalah ' cara hidup, 'jalan kebajikan, yang engkau simpan lama dalam memori setelah kematian. (Divine Discourse, 22 Jan 1982)


Wednesday, July 2, 2014

Thought for the Day - 2nd July 2014 (Wednesday)

All of you are pilgrims in the journey towards the city of liberation. Every life is but a stage in the journey, your body is a rest-house for a short stay during the pilgrimage. The mind is the caretaker in the place of our rest. Do not treat the Mind as a Master or Owner, but take care of it so that the house we are privileged to occupy is not damaged or polluted. We must treat the watchman politely and not destroy its interiors. A restless mind is an important source of ill-health. Many are constantly afflicted with some source of worry or other, never free from anxiety. Why? Because they are identifying themselves with the body! One acquires their body, through their past activities and deeds, caused by the twin pulls of love and hate. You can escape from this cycle, if you realize the Oneness of the Divine being present in you and in everyone.

Kalian semua adalah peziarah dalam perjalanan menuju kota pembebasan. Setiap kehidupan hanyalah tahapan dalam perjalanan, badan jasmanimu adalah rumah peristirahatan sebagai tempat tinggal sementara selama perjalanan suci ini. Pikiran adalah penjaga di tempat peristirahatan kita. Jangan memperlakukan Pikiran sebagai master atau pemilik, tetapi jagalah dia sehingga rumah itu menjadi tempat istimewa untuk ditempati, tidak rusak atau tercemar. Kita harus memperlakukan penjaganya sopan dan tidak merusak interiornya. Pikiran yang tidak tenang merupakan sumber utama kesehatan yang buruk. Banyak orang menderita berbagai kekhawatiran atau lainnya, tidak pernah bebas dari kecemasan. Mengapa? Karena mereka mengidentifikasi dirinya sebagai badan jasmani! Seseorang memperoleh badan jasmaninya, melalui kegiatan dan perbuatan masa lalu mereka, yang disebabkan oleh tarikan cinta-kasih dan kebencian. Engkau dapat melarikan diri dari siklus ini, jika engkau menyadari keesaan Tuhan yang ada dalam dirimu dan dalam diri setiap orang. (Divine Discourse, 20 Nov 1982)


Tuesday, July 1, 2014

Thought for the Day - 1st July 2014 (Tuesday)

Virtuous living, beneficial thoughts, elevating ideals and righteous conduct can confer not only good health, but what is even more precious, Aatmaananda, the ecstatic Awareness of the Reality itself. When one yearns for the happiness and prosperity of all mankind, he or she is blessed with the wisdom and strength to mark out the way and lead them towards it. The person sees one’s chosen God in everyone. Every act of theirs will be as pure, as sincere and as sacred as an offering to God. A very effective way to conquer all sources of physical and mental disease and debility is awareness of one's Divine (Aatmic) Reality. That will bring about an upsurge of Love and Light, for, when one recognises that he or she is the Atma, one would cognize the same Atma in all, and share in the joy and grief, strength and weakness of all.

Menjalani kehidupan yang baik, memikirkan hal-hal yang bermanfaat, meningkatkan ideal, dan berperilaku yang benar dapat memberi tidak hanya kesehatan yang baik, tetapi apa yang bahkan lebih berharga, Aatmaananda, Kebahagiaan yang luar biasa, Realitas atma. Ketika seseorang merindukan kebahagiaan dan kesejahteraan seluruh umat manusia, ia diberkati dengan kebijaksanaan dan kekuatan untuk menetapkan batasan-batasan dan membatasi arah dan memimpin mereka ke arah itu. Orang-orang melihat seseorang yang dipilih Tuhan dalam diri setiap orang. Setiap tindakan mereka akan murni, tulus dan suci sebagai persembahan kepada Tuhan. Sebuah cara yang sangat efektif untuk menaklukkan semua sumber penyakit fisik dan mental dan kelemahan adalah kesadaran Ilahi (Aatmic). Itu akan membawa meningkatnya Cinta-kasih dan Cahaya, karena ketika seseorang menyadari bahwa ia adalah Atma, seseorang sepenuhnya akan disadari Atma yang sama pada semuanya, dan berbagi sukacita dan kesedihan, kekuatan dan kelemahan pada semuanya. (Divine Discourse, 20 Nov 1982)