Monday, May 30, 2016

Thought for the Day - 30th May 2016 (Monday)

Brahman or Divinity is present in your own heart and is functioning as a witnessing consciousness all through. To imagine and to deceive ourselves into thinking that there is no one seeing us do a bad thing is not correct. Whether anyone sees it or not, the aspect of Brahman which has been described as one which has thousands of heads and thousands of eyes is always watching you and the good and bad that you do. Without recognising and understanding this basic truth that God is always with you, you spend a great deal of time and energy thinking that God is somewhere outside and that you should find Him elsewhere. In the Bhagavad Gita, this is the reason why God has been described as being present wherever you go.

Tuhan adalah hadir dan bersemayam di dalam hatimu sendiri dan berfungsi sebagai kesadaran yang menyaksikan semuanya. Untuk membayangkan dan menipu diri kita sendiri ke dalam pemikiran bahwa tidak ada yang melihat kita dalam melakukan perbuatan yang buruk adalah tidak benar. Apakah ada seseorang yang melihatnya atau tidak, aspek Tuhan yang telah dijabarkan sebagai Beliau yang memiliki ribuan kepala dan ribuan mata adalah selalu sedang mengawasimu dan kebaikan serta keburukan yang engkau lakukan. Tanpa menyadari dan memahami dasar kebenaran ini bahwa Tuhan adalah selalu denganmu sedangkan engkau menghabiskan waktu dan energi dengan memikirkan bahwa Tuhan ada di luar sana dan engkau harus menemukan-Nya di luar sana. Dalam Bhagavad Gita, inilah alasan mengapa Tuhan dijabarkan hadir kemanapaun engkau pergi. [Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains 1976, Ch 3]


Thought for the Day - 29th May 2016 (Sunday)

In order to save His devotees, God takes many different actions in several ways. Devotees, unable to recognise and understand the inner meaning of such actions, think that God is giving them unnecessary difficulties. People only have external vision. God has inner vision. Paramatma is always caring for the well-being of His people. Even if a son, who has been brought up with much care by the mother, makes a mistake, the mother will correct the son and punish if appropriate. When we see this, we feel that a mother who has brought up the son with such care, love, and tenderness is harsh in punishing the child; but the mother does so with affection. In the same manner—God, the universal father, will punish His devotees, when needed, with love. Do not mistake it to be God desiring to punish people. God is always full of grace.

Dalam upaya untuk menyelamatkan bhakta-Nya, Tuhan mengambil berbagai jenis tindakan dalam berbagai cara. Bhakta, tidak mampu memahami dan mengerti maksud yang ada dibalik tindakan itu, dengan berpikir bahwa Tuhan sedang memberikan kepada mereka kesulitan-kesulitan yang tidak perlu. Manusia hanya memiliki pandangan ke luar saja. Tuhan memiliki pandangan ke dalam. Paramatma selalu peduli pada kesejahteraan manusia. Walaupun seorang anak yang dibesarkan oleh ibunya dengan penuh perhatian; melakukan sebuah kesalahan, sang ibu akan memperbaiki anak itu dan menghukumnya yang sesuai. Ketika kita melihat hal ini, kita merasa bahwa seorang ibu yang telah membesarkan anaknya dengan penuh perhatian, kasih, dan kelembutan adalah kasar dengan menghukum anaknya; namun ibu melakukan ini juga dengan kasih. Dalam hal yang sama - Tuhan, ayah universal akan menghukum bhakta-Nya ketika diperlukan dan dengan kasih. Jangan salah dengan menganggap bahwa Tuhan memiliki keinginan untuk menghukum manusia. Tuhan adalah selalu penuh dengan rahmat. [Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan, 1976, Ch 3]


Saturday, May 28, 2016

Thought for the Day - 28th May 2016 (Saturday)

When born from the mother’s womb, you did not have a necklace of pearls or gold. You neither had a necklace of diamond nor one of emerald round your neck. But, whatever good or bad deeds you may have done in your past are brought along with you when you are born. This is the invisible garland which everyone wears round one’s neck. By doing a good act, you cannot get an evil result and by doing a bad act, you cannot accumulate good. Whatever kind of work you do, the result will correspond to that. Therefore, it follows that today you should make up your mind to do only good things and thus you will reap, in your future lives, the benefit of only good things. You should do good and thus aspire to get good for yourself.

Ketika kita lahir dari rahim ibu, engkau tidak memiliki kalung yang terbuat dari permata atau emas. Engkau juga tidak memiliki kalung dari zamrud yang melingkar di lehermu. Namun, apapun perbuatan baik atau buruk yang telah engkau lakukan di kehidupanmu yang lalu akan tetap bersamamu ketika engkau lahir. Inilah yang disebut dengan kalung yang tidak terlihat yang mana setiap orang memakainya di leher mereka masing-masing. Dengan melakukan perbuatan yang baik, engkau tidak bisa mendapatkan hasil yang buruk dan dengan melakukan perbuatan yang jahat, engkau tidak akan bisa mendapatkan kebaikan. Apapun jenis pekerjaan yang engkau lakukan, hasilnya akan sesuai dengan perbuatan itu. Maka dari itu, hal ini selalu mengikuti sehingga hari ini engkau harus menanamkan di dalam pikiranmu untuk hanya melakukan hal-hal yang baik sehingga engkau akan mendapatkan hanya keuntungan yang baik di kehidupan yang akan datang. Engkau seharusnya melakukan yang baik dan bisa mengharapkan untuk bisa mendapatkan kebaikan bagi dirimu sendiri. [Summer Showers in Brindavan, 1974, Vol 1, Ch 3]


Friday, May 27, 2016

Thought for the Day - 27th May 2016 (Friday)

Lord Krishna made a sacred determination that he would bring peace and happiness to all by setting a personal example. He radiated happiness, irrespective of whether he was in a battlefield, cremation ground or in a peaceful place. This was a great quality of Lord Krishna. We sing only in our happy moments, but Lord Krishna was singing even in a battlefield and was exuding happiness. He was always in bliss. Look at the root meaning of the name Krishna: ‘One who is an object of attraction to everyone is Krishna.” The other meaning is ‘Karshayateethi Krishna - Krishna is one who ploughs the field’. Realise that the field that Krishna ploughs is the field of your heart. By ploughing your heart, He generates the fruits of peace and distributes them amongst the human beings. Such is the ideal picture of Krishna which we should form in our mind.

Sri Krishna membuat sebuah keteguhan hati yang suci bahwa Beliau akan membawakan kedamaian dan kebahagiaan pada semuanya dengan memberikan keteladanan sendiri. Sri Krishna menyebarkan kebahagiaan, tanpa tergantung apakah Beliau ada di medan tempur, tempat pembakaran mayat atau di tempat yang penuh kedamaian. Ini merupakan sifat yang sungguh luar biasa dari Sri Krishna. Kita hanya bernyanyi pada saat senang saja, namun Sri Krishna sedang menyanyi bahkan di dalam medan perang dan memancarkan kebahagiaan. Beliau selalu dalam kebahagiaan. Lihatlah makna yang ada di balik nama Krishna: ‘Seseorang yang merupakan objek daya tarik bagi setiap orang adalah Krishna.” Makna yang lainnya adalah ‘Karshayateethi Krishna - Krishna adalah seseorang yang membajak ladang’. Sadarilah bahwa ladang yang Krishna sedang bajak adalah ladang hatimu. Dengan membajak ladang hatimu, Beliau membangkitkan buah dari kedamaian dan menyebarkannya diantara umat manusia. Itulah ideal gambar Sri Krishna yang seharusnya kita wujudkan di dalam pikiran kita. [Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains 1976, Ch 3]


Thursday, May 26, 2016

Thought for the Day - 26th May 2016 (Thursday)

If you have the misapprehension that God (Brahman) outside is causing good or bad to you, or that He is giving some punishment to you, it is not the right attitude. This power or strength which we attempt to describe by the word ‘Brahman’ is not something which is external to and outside you. It is present in you and is in your own self. The fruits that you get will correspond to whatever seeds you plant. If the seed is of one kind and if you have the ambition to obtain a different fruit, how is it possible? You may be very clever, but all the cleverness is of no avail if you are not giving up your mean qualities. Whatever good or bad you may have done, the aspect of Brahman is not going to break the good and bad into separate parts. God is going to give you an unbroken garland of all the good and all the bad that you have accumulated.

Jika engkau memiliki kesalahpahaman bahwa Tuhan (Brahman) ada diluar diri yang menyebabkan kebaikan dan keburukan kepadamu atau Tuhan yang sedang memberikan hukuman bagimu maka semuanya ini adalah sikap yang salah. Kekuatan yang kita coba jelaskan dengan kata ‘Brahman’ bukanlah sesuatu yang ada di luar dirimu, namun kekuatan ini ada di dalam dirimu dan kekuatan ini adalah dirimu yang sejati. Buah yang engkau panen akan sesuai dengan benih yang engkau tanamkan. Jika menanam satu jenis benih, lantas bagaimana engkau bisa mengharapkan mendapatkan buah yang berbeda, bagaimana ini bisa mungkin terjadi? Engkau mungkin pintar, namun semua kepintaran tidak ada gunanya jika engkau tidak melepaskan sifat-sifat burukmu. Apapun kebaikan atau keburukan yang telah engkau lakukan, aspek dari Tuhan adalah tidak akan memecah kebaikan dan keburukan menjadi beberapa bagian. Tuhan akan memberikanmu sebuah kalung bunga yang utuh dari semua kebaikan dan semua keburukan yang telah engkau kumpulkan. [Summer Showers in Brindavan, 1974, Vol 1, Ch 3]


Wednesday, May 25, 2016

Thought for the Day - 25th May 2016 (Wednesday)

Lord Krishna and Balarama (His elder brother) were willing to do hard work and showed that prosperity can be achieved through hard work. Lord Krishna was all-knowing, all-powerful, and Divinity incarnate, yet He worked as a charioteer for Arjuna. Krishna was one who recognised the importance of service to the community; and by His own example showed that service to others was important. Everyday, after the war of Mahabharata, Lord Krishna took the horses to the river, washed them and tended their wounds and applied medicines. Lord Krishna demonstrated that hard work and compassion to all living beings constitute the duty of all human beings.

Sri Krishna dan Balarama (kakak Sri Krishna) sangat rela bekerja keras dan memperlihatkan bahwa kesejahteraan dapat diraih melalui kerja keras. Sri Krishna adalah yang maha tahu, maha kuasa dan inkarnasi Tuhan, namun Beliau rela bekerja sebagai kusirnya Arjuna. Sri Krishna adalah yang telah menyadari pentingnya pelayanan kepada masyarakat; dan dengan keteladanan-Nya memperlihatkan bahwa pelayanan kepada yang lainnya adalah penting. Setiap hari setelah perang Mahabharata, Sri Krishna membawa kuda-kudanya ke sungai, memandikannya dan mengobati luka-lukanya dengan memberikan obat. Sri Krishna memperlihatkan bahwa kerja keras dan kasih sayang kepada semua makhluk hidup merupakan kewajiban semua umat manusia. [Summer Roses on Blue Mountains 1976, Ch 3]


Tuesday, May 24, 2016

Thought for the Day - 24th May 2016 (Tuesday)

You should never undertake to discuss the good and bad in others. If you entertain bad qualities in your mind, it will lead you to a bad path and you will surely fall. People who entertain bad ideas will certainly be destroyed in course of time despite any amount of wealth or knowledge that they may possess. An individual, who endeavours to keep away the bad in oneself and attempts to promote the good, will make real progress. If you use a thousand eyes for locating the faults in others and spend all your time in this process, your heart will get impure and will develop bad ideas. Our heart is like a camera lens. The object on which we concentrate our attention gets imprinted on the mind. Youth and elders alike should try to see that qualities like jealousy, hatred and lack of forbearance never enters their minds.

Engkau seharusnya jangan pernah ikut dalam mendiskusikan kebaikan dan keburukan yang ada pada diri orang lain. Jika engkau mempunyai sifat-sifat yang buruk di dalam pikiranmu maka ini akan menuntunmu pada jalan yang buruk dan pastinya membuatmu akan terjatuh. Mereka yang memiliki gagasan yang buruk pastinya akan dihancurkan pada waktunya meskipun betapa banyak jumlah kekayaan atau pengetahuan yang dimilikinya. Seorang individu yang berusaha untuk menjauhkan yang buruk dari dirinya dan meningkatkan kebaikan maka akan membuat kemajuan yang sejati. Jika engkau menggunakan ribuan mata untuk melihat kesalahan pada diri yang lain dan menghabiskan seluruh waktumu dalam proses ini maka hatimu akan menjadi tidak murni dan akan berkembang gagasan yang tidak baik. Hati kita adalah seperti lensa kamera. Objek dimana kita memusatkan perhatian kita akan terpatri di dalam pikiran kita. Para pemuda dan yang sudah dewasa seharusnya mencoba untuk melihat bahwa sifat-sifat seperti cemburu, kebencian, dan kurangnya kesabaran tidak akan pernah memasuki pikiran mereka. [Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan, 1974, Vol 1, Ch 2]


Monday, May 23, 2016

Thought for the Day - 23rd May 2016 (Monday)

On a platform we parrot words like Truth, Love and Nonviolence, but in our daily life we do not have faith in Truth, we do not practice Non-violence, and we don’t follow the path of Discrimination (buddhi). Young people today must learn to put these values into practice sincerely. Your lives depend upon three things — your words, thoughts, and deeds. Whatever desires you get, you will exhibit them and take them to your mind. For getting a thought, mind is the basis. The thought that comes to your mind will be exposed to the world as words through your mouth. Once you utter words from your mouth and expose the thought that has come to your mind, now to put that into practice, you take action. It is only when there is a harmony between your thoughts, words and action that you will be able to recognise your own true nature.

Di atas panggung kita meniru perkataan seperti kebenaran, kasih sayang, dan tanpa kekerasan, namun di dalam kehidupan kita sehari-hari kita tidak memiliki keyakinan dalam kebenaran, kita tidak menjalankan tanpa kekerasan dan kita tidak mengikuti jalan yang membedakan antara benar dan salah (buddhi). Anak-anak muda hari ini harus belajar untuk menerapkan nilai-nilai ini secara tulus. Hidupmu tergantung dari tiga hal yaitu : perkataan, pikiran, dan tindakanmu. Apapun yang engkau ingin engkau dapatkan, engkau akan memperlihatkannya dan membawakannya ke dalam pikiran. Untuk bisa mendapatkan ide atau gagasan maka pikiran adalah dasarnya. Gagasan yang muncul dari pikiranmu akan ditampilkan kepada dunia sebagai perkataan yang keluar dari mulutmu. Sekali engkau mengucapkan perkataan dari mulutmu dan menampilkan gagasan yang datang dari pikiranmu, sekarang engkau menjalankannya dalam bentuk tindakan. Hanya ketika ada keharmonisan diantara pikiranmu, perkataan, dan tindakan maka engkau akan mampu menyadari jati diri sejatimu. (Summer Roses on Blue Mountains 1976, Ch 2)


Sunday, May 22, 2016

Thought for the Day - 22nd May 2016 (Sunday)

Many men are accustomed to shaving and they know that if they press the razor too hard they will cut the skin and if they do not press at all, it will not be possible to remove the unwanted hair. Only when they apply moderate pressure they will be able to attain the necessary result. The human mind is like a razor’s edge. Without controlling the mind too rigidly and without allowing it to go too freely, we should encourage it to do good acts, and we should control it when there is any tendency to participate in bad deeds. Only when your mind behaves in a manner in which it ought to, you can conduct yourself as a human being. Hence you must discriminate and distinguish between good and bad acts, and guide the mind in a moderate manner between the two extremes.

Banyak laki-laki dewasa yang terbiasa dalam mencukur dan mereka mengetahui bahwa jika mereka menekan pisau cukur terlalu keras maka mereka akan melukai kulit dan jika mereka tidak menekan pisau cukur itu maka tidak akan mungkin bisa membersihkan rambut yang tidak diinginkan. Hanya ketika mereka memberikan tekanan yang sesuai maka mereka akan mampu mendapatkan hasil yang diinginkan. Pikiran manusia adalah seperti tepi pisau cukur. Dengan tanpa mengendalikan pikiran secara teguh dan tanpa mengijinkannya berkeliaran secara bebas, kita seharusnya mendorong pikiran untuk melakukan perbuatan yang baik, dan kita seharusnya mengendalikannya ketika ada kecendrungan dari pikiran untuk berbuat yang tidak baik. Hanya ketika pikiranmu bertingkah laku sesuai dengan yang engkau harapkan, maka engkau dapat memimpin dirimu sebagai seorang manusia. Oleh karena itu engkau harus membedakan antara perbuatan yang baik dan buruk dan menuntun pikiran dengan cara yang baik diantara dua kutub yang ekstrim ini. (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan 1974, Ch 2)


Saturday, May 21, 2016

Thought for the Day - 21st May 2016 (Saturday)

There are four categories of intelligence — selfish, the selfish-selfless, the purely selfless and Soul (Atma) based. The first category is always thinking of what is good for one’s own self and makes decisions. It is like the intelligence of a crow. This is very common today in the world. The second category will think of one’s own good along with the good of others. This appears as the ordinary way of life. The third, always thinks that others must get the same kind of happiness one wishes for oneself. In that context, realising that the human body is given for the sake of causing benefit to others; this third category of persons will always try to do good to others. The fourth category — the Atma Buddhi is always concerned with the aspect of dharma and the necessity for safeguarding it. They consider themselves as messengers of God; and forgetting their own selfish interests, always think of sacrifice and do good to the rest of the world.

Ada empat jenis dalam kecerdasan— mementingkan diri sendiri, mementingkan diri-orang lain, benar-benar tanpa mementingkan diri, dan berdasarkan pada jiwa (Atma). Kategori yang pertama adalah selalu memikirkan apa yang baik bagi dirinya sendiri dan setelah itu membuat keputusan. Ini adalah seperti pola pikir burung gagak. Kategori ini sangat lumrah di dunia saat sekarang. Kategori yang kedua akan memikirkan kebaikan dirinya dan juga kebaikan yang lainnya. Hal ini kelihatan seperti jalan hidup manusia pada umumnya. Kategori yang ketiga, selalu memikirkan bahwa yang lain harus mendapatkan kebahagiaan yang sama dengan yang diinginkan bagi dirinya. Dalam konteks ini, menyadari bahwa tubuh manusia diberikan untuk kepentingan memberikan keuntungan bagi yang lainnya; manusia kategori yang ketiga ini akan selalu mencoba melakukan hal yang baik bagi yang lainnya. Kategori yang keempat — Atma Buddhi adalah selalu terfokus pada aspek dharma dan perlunya untuk menjaga dharma. Mereka menganggap bahwa diri mereka sendiri adalah duta dari Tuhan; dan melupakan kepentingan diri mereka sendiri, dan selalu memikirkan untuk berkorban dan melakukan kebaikan bagi seluruh dunia. (Summer Roses on Blue Mountains 1976, Ch 2)


Friday, May 20, 2016

Thought for the Day - 20th May 2016 (Friday)

In the Gita, our body is described as the Kshetra and the Lord who resides in it is called the Kshetragna. Devotees who have a sacred heart and who entertain sacred thoughts go on pilgrimage to sacred places (also called Kshetras). They are undertaking a pilgrimage to such centres only because they believe those places to be sacred. If they are not sacred, there is no need for them to undertake such a pilgrimage at such expense of money and energy. As in this analogy, because the human body is sacred people establish connections between each other. If truly the body of an individual does not undertake a sacred task and lead a sacred life, no one will want to have any relationship with it. Therefore anyone who claims to keep the body sacred should make an attempt to indulge only in good actions, good thoughts, and good deeds.

Di dalam Gita dijelaskan, tubuh kita dijabarkan sebagai Kshetra dan Tuhan yang ada di dalamnya disebut dengan Kshetragna. Para bhakta yang memiliki hati yang suci dan yang memiliki pikiran yang suci menempuh perjalanan suci ke tempat-tempat suci (juga disebut Kshetra). Mereka sedang melakukan perziarahan ke pusat kesucian karena mereka percaya bahwa tempat-tempat itu adalah suci. Jika tempat-tempat itu tidak suci maka tidak ada gunanya bagi mereka untuk melakukan perziarahan dengan mengeluarkan banyak uang dan energi. Sama dengan perumpamaan ini, karena tubuh manusia adalah suci maka manusia mengadakan hubungan satu dengan yang lainnya. Jika benar-benar bahwa tubuh seorang individu tidak melakukan sebuah tugas yang suci dan menjalankan hidup yang suci, tidak ada seorangpun yang akan mau memiliki hubungan dengannya. Maka dari itu, siapapun yang menyatakan untuk menjaga tubuh tetap suci seharusnya melakukan suatu usaha untuk hanya terlibat dalam perbuatan yang baik, pikiran yang baik, dan perbuatan yang baik saja. (Summer Showers in Brindavan, 1974, Vol 1, Ch 2.)


Thursday, May 19, 2016

Thought for the Day - 19th May 2016 (Thursday)

A prescribed quality is exhibited or worn as a cloak by every entity in creation. This quality is also called its dharma. Just as a student in a particular class can be promoted to a higher class by effort, an individual by promoting one's own natural dharma, and giving attention to something higher and nobler, can earn promotion to a higher level. A piece of iron is worth only a few pennies, but by making suitable changes to it, you produce a watch worth a thousand rupees. Observe here that it is the Samskara, or the change that we give to the substance, that brings the value to it and not the inherent value of the untreated material. Even an ordinary person can get an opportunity to elevate oneself to the position of a realised sage (Paramahamsa), by seeking the company of elevated beings.

Sebuah kualitas ditunjukkan atau dipakai seperti halnya jubah oleh setiap satuan di ciptaan ini. Kualitas ini juga disebut dengan dharmanya. Sama halnya seorang murid pada kelas tertentu dapat dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi dengan usaha, seorang individu dengan meningkatkan dharma hidupnya dan memberikan perhatian pada sesuatu yang lebih tinggi dan mulia, maka individu tersebut bisa mendapatkan kenaikan untuk tingkat yang lebih tinggi. Sepotong besi hanya bernilai beberapa sen saja, namun dengan memberikan perubahan pada besi itu maka engkau menghasilkan sebuah jam tangan yang bernilai ribuan rupee. Amatilah disini bahwa ini adalah Samskara, atau perubahan yang kita berikan pada bahan aslinya yang mana memberikan nilai padanya dan bukan nilai yang melekat pada bahan yang masih mentah. Bahkan manusia biasa bisa mendapatkan sebuah kesempatan untuk meningkatkan dirinya sendiri pada posisi seorang manusia suci yang tercerahkan (Paramahamsa), dengan mencari pergaulan pada mereka yang tercerahkan. (Summer Roses on Blue Mountains 1976, Ch 2)


Thought for the Day - 18th May 2016 (Wednesday)

The Vedas advocate us to sacrifice everything, and through sacrifice we would be able to have vision of the Divine within. The creation and its maintenance depends only on sacrifice. If there is no sacrifice, there will be no life, and the society will not remain intact. Even from a worldly perspective, if we do not give out the breath that we take in, we cannot live. If blood is not constantly flowing from one place to another every instant, we cannot live. Unless the clouds give up the water they have gathered, they cannot remain as clouds. That is why it is said, what you cannot get by your knowledge and effort can be got by sacrifice. If we think that something is good and welcome it, some bad too may come in the process. That which gives you happiness when it comes will also cause sorrow when it goes away from you. Whether it is the good or the bad, we have to sacrifice continuously.

Weda menganjurkan kepada kita untuk mengorbankan segala sesuatu, dan melalui pengorbanan kita akan mampu memiliki pandangan tentang Tuhan di dalam diri. Ciptaan dan pemeliharaannya hanya tergantung pada pengorbanan. Jika tidak ada pengorbanan maka tidak akan ada kehidupan dan masyarakat tidak akan tetap utuh. Bahkan dari pandangan duniawi, jika kita tidak menghembuskan udara yang kita hirup maka kita tidak akan bisa hidup. Jika darah secara terus-menerus tidak mengalir  dari satu tempat ke tempat yang lainnya setiap saat maka kita tidak akan bisa hidup. Kecuali awan melepaskan air yang telah dikumpulkannya maka awan tidak akan tetap sebagai awan. Itulah sebabnya mengapa dikatakan, apa yang tidak dapat engkau dapatkan dari pengetahuan dan usahamu dapat dicapai hanya dengan pengorbanan. Jika kita berpikir bahwa sesuatu itu adalah baik dan kita menerimanya, beberapa yang tidak baik juga mungkin datang dalam proses. Itu yang memberikanmu kebahagiaan ketika datang, juga akan menyebabkan penderitaan ketika itu meninggalkanmu. Apakah itu baik atau buruk, kita harus berkorban secara terus menerus. (Summer Showers in Brindavan, 1974, Vol 1, Ch 2.)


Tuesday, May 17, 2016

Thought for the Day - 17th May 2016 (Tuesday)

Children without good qualities, education without character building as its objective, and life which has no morality, are purposeless. An individual without peace of mind and the world which has no moon shining in it are similar. Every item of creation in this world has some distinctive feature and a character of its own. If any item gives up this distinctive aspect, it will destroy itself. For example, fire has the ability and quality to burn. Water has the ability to flow. Man has got the quality of human nature, and an animal has the quality of being brutal. When the ability to burn disappears, you cannot call it fire. When the ability to flow disappears, you cannot call it water. Similarly when the inner vision or the basic human nature disappears in an individual, you cannot call him a human being. Being humane is the natural quality of a human being.

Anak-anak tanpa sifat-sifat yang baik, pendidikan tanpa pembangunan karakter sebagai tujuannya, dan hidup yang tidak memiliki moralitas, semuanya ini adalah tidak berguna. Seorang individu tanpa kedamaian pikiran dan dunia tanpa bulan yang menyinarinya adalah sama. Setiap bagian dari ciptaan di dunia ini memiliki beberapa keistimewaan khusus dan sebuah karakternya sendiri. Jika saja setiap bagian ini melepaskan aspek keistimewaanya maka ini akan menghancurkan dirinya sendiri. Sebagai contoh, api memiliki kemampuan dan kulitas membakar. Air memiliki kemampuan untuk mengalir. Manusia memiliki kualitas yaitu sifat-sifat manusia dan seekor binatang memiliki kualitas menjadi brutal. Ketika kemampuan membakar itu hilang maka engkau tidak bisa menyebutnya lagi dengan api. Ketika kemampuan mengalirnya juga menghilang maka engkau tidak bisa menyebutnya dengan air. Sama halnya ketika pandangan batin di dalam atau sifat-sifat manusia yang mendasar menghilang dalam diri seorang individu maka engkau tidak bisa menyebutnya dengan seorang manusia. Menjadi penyayang adalah sifat alami dari manusia. (Summer Roses on Blue Mountains 1976, Ch 2)


Monday, May 16, 2016

Thought for the Day - 16th May 2016 (Monday)

Bharatiyas lead lives of hope. The Bharatiya culture teaches that one must never lose hope. To suffer from lack of faith and to lose hope is not only losing all the strength within, but it also amounts to demeaning the human birth. Utsaham (Enthusiasm) and Shraddha (earnestness and interest) are things which will show the way for the progress of man. Every individual having such Utsaham and Shraddha is sure to achieve success and attain glory in any kind of work undertaken. It is also said that one who possesses this Shraddha will attain wisdom too (Shraddhavan Labhate Jnanam). So we should make an attempt to go through the journey of our life with interest and enthusiasm.

Para penduduk Bharat menjalani hidup dalam harapan. Kebudayaan Bharat mengajarkan bahwa seseorang harus tidak pernah kehilangan harapan. Menderita karena kurangnya keyakinan dan hilangnya harapan adalah tidak hanya kehilangan semua kekuatan di dalam diri, namun ini juga sama besarnya seperti merendahkan kelahiran sebagai manusia. Utsaham (semangat) dan Shraddha (kesungguhan dan ketertarikan) adalah hal-hal yang akan menunjukkan jalan kemajuan bagi manusia. Setiap individu yang memiliki Utsaham dan Shraddha adalah pastinya dapat mencapai keberhasilan serta meraih kemuliaan dalam apapun jenis pekerjaan yang dilakukan. Ini juga dikatakan bahwa seseorang yang memiliki Shraddha ini juga akan mencapai kebijaksanaan (Shraddhavan Labhate Jnanam). Jadi kita seharusnya membuat sebuah usaha dalam menempuh perjalanan hidup kita dengan ketertarikan dan semangat. (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan, 1974, Vol 1, Ch 2.)


Thought for the Day - 15th May 2016 (Sunday)

The country is not made up of dust. It is a conglomeration of human beings. It is the human beings that give it the name of a country. If there are no human beings, it is not called a country. A country is very much like a human body. The divine strength of the country is the human nature in the body. If there is no divine strength in the human body, what is the use of this body? A body devoid of divine strength is equivalent to dust. The human form and human qualities are like the negative and the positive. If the unity and the oneness of these two aspects are not properly brought about, then both of them are useless. To make an attempt to transform the human nature in yourself and elevate it to divine nature should be the purpose of all the education that you wish to have.

Bangsa dan negara bukan dibangun dari debu. Ini merupakan percampuran dari umat manusia. Adalah manusia yang memberikan nama negara atau bangsa. Jika tidak ada manusia, maka ini tidak disebut dengan negara atau bangsa. Sebuah negara adalah hampir sama dengan tubuh manusia. Kekuatan Tuhan pada sebuah negara adalah sifat alami manusia dalam tubuh. Jika tidak ada kekuatan Tuhan dalam tubuh manusia, lantas apakah gunanya tubuh ini? Sebuah tubuh tanpa adanya kekuatan Tuhan adalah sama dengan debu. Wujud manusia dan sifat manusia adalah seperti negatif dan positif. Jika kesatuan dan persatuan diantara dua aspek ini tidak diciptakan dengan baik maka kedua aspek itu menjadi tidak berguna. Untuk membuat sebuah usaha dalam merubah sifat manusia di dalam dirimu sendiri dan mengangkatnya pada sifat keillahian seharusnya yang menjadi tujuan dari semua pendidikan yang ingin engkau dapatkan. (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan 1974, Ch 1)


Saturday, May 14, 2016

Thought for the Day - 14th May 2016 (Saturday)

Ramayana is replete with many lessons for mankind. It reveals that worldly tendencies lead us to sorrow, whereas spiritual tendencies lend contentment and happiness to mankind. Unfortunately, people today do not wish to follow the example of the great devotees of God, who live in eternal Bliss. To people, desire (abheeshta) has become dearer than ideals (adarsha). Desires are ephemeral, whereas ideals are eternal. During their life in the forest, Sita rightfully remarked to Rama that the three evils, namely, untruth, lust, and violence are the cause of all evils in the world. Sensual pleasures are like passing clouds. These pleasures give temporary joy, whereas Atmic realisation bestows eternal Bliss. There is no sorrow for those people who live in the Bliss of God.

Ramayana adalah penuh dengan hikmah dan pelajaran bagi umat manusia. Ramayana juga mengungkapkan bahwa kecenderungan duniawi menuntun kita pada penderitaan sedangkan kecenderungan spiritual memberikan kepuasan hati dan kebahagiaan bagi umat manusia. Sangat disayangkan, manusia saat sekarang tidak menginginkan untuk mengikuti teladan dari bhakta Tuhan yang agung yang hidup dalam kebahagiaan kekal. Bagi manusia, keinginan (abheeshta) sudah menjadi yang disayang daripada ideal (adarsha). Keinginan adalah bersifat sementara, sedangkan ideal adalah bersifat kekal. Selama masa hidupnya di dalam hutan, Sita berkata dengan sungguh-sungguh kepada Rama bahwa tiga kejahatan yaitu, kebohongan, nafsu birahi, dan kekerasan adalah penyebab semua kejahatan di dunia. Kenikmatan sensual adalah seperti awan yang berlalu. Kenikmatan ini memberikan suka cita sementara, sedangkan kesadaran Atma memberikan kebahagiaan yang kekal. Tidak ada penderitaan bagi mereka yang hidup dalam kebahagiaan Tuhan. (Summer Showers in Brindavan 1996, Ch 5)


Friday, May 13, 2016

Thought for the Day - 13th May 2016 (Friday)

Today we see human forms, but the human nature and human qualities are dormant in this form. Most people are behaving very much like an animal. The qualities which are precious and which characterise the human being are morality, adherence to truth, dharma, and the like. If these are not evident, then the human nature does not shine at all. We should promote human qualities. We should not cultivate simply the human form and appearance. You not enshrining sacred Divinity in your heart and thereby becoming distant from it, and also you letting your body go where it likes, are not human qualities at all. Enshrine Divinity in your heart and make it sacred. Then you can use the human form to its fullest potential.

Hari ini kita melihat wujud manusia, namun sifat manusia dan kualitas manusia tidak aktif dalam wujud ini. Kebanyakan orang bersikap seperti binatang. Sifat-sifat manusia yang begitu berharga dan yang menandakan sebagai manusia adalah moralitas, menjunjung kebenaran, dharma, dan sejenisnya. Jika bagian ini tidak menjadi jelas, maka sifat manusia tidak akan bersinar sama sekali. Kita harus meningkatkan kualitas manusia. Kita seharusnya tidak meningkatkan hanya wujud manusianya dan penampilan saja. Engkau tidak mengabadikan keillahian yang suci di dalam hatimu dan dengan demikian menjadi jauh dari keillahian itu, dan engkau juga membiarkan tubuhmu pergi kemanapun yang disukainya, semuanya ini sama sekali bukanlah kualitas dari manusia. Semayamkan Tuhan di dalam hatimu dan buatlah ini suci. Kemudian engkau dapat menggunakan wujud manusia dengan potensi yang ada sepenuhnya. (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan 1974, Ch 1)


Thought for the Day - 12th May 2016 (Thursday)

When Divinity dons the garb of a human body, people are thickly blanketed by illusion and become blind to the Divine Principle. Even Yashoda was no exception to this. Once Balarama complained to Mother Yashoda that Krishna was eating mud. When questioned by Yashoda, little Krishna made a startling statement, “Oh mother dear! Am I an infant to eat mud?” Poor Yashoda failed to fathom the depth of this wonderful divine revelation. She demanded that Krishna open His mouth, so that she could verify herself. Little Krishna opened His mouth wide. To her utter shock and amazement, Yashoda saw heavenly spheres revolving in Krishna’s mouth. That instant she realised that Krishna was verily God Himself. However as soon as Krishna closed His mouth and stood before her with an innocent look, she forgot about His Divinity, hugged Him, and treated Him like an ordinary child.

Ketika Tuhan mengenakan pakaian badan manusia, manusia benar-benar diselimuti oleh ilusi tebal dan menjadi buta pada prinsip-prinsip Tuhan. Bahkan Yashoda tanpa kecuali mengalami hal yang sama. Sekali saat Balarama mengeluh kepada Ibu Yashoda bahwa Krishna sedang makan lumpur. Ketika ditanyakan oleh Yashoda, Krishna kecil membuat sebuah pernyataan yang mengejutkan, “Oh ibu yang tersayang! Apakah Saya adalah seorang bayi yang makan lumpur?” Yashoda yang malang gagal memahami kedalaman dari rahasia Tuhan yang indah ini. Ibu Yashoda tetap memaksa agar Krishna membuka mulut-Nya, sehingga ia dapat membuktikannya sendiri. Krishna kecil membuka mulut-Nya dengan lebar. Ibu Yashoda menjadi terkejut dan takjub melihat bola surgawi sedang berputar di dalam mulut Krishna. Saat itu juga Ibu Yashoda menyadari bahwa Krishna benar-benar adalah Tuhan itu sendiri. Bagaimanapun juga ketika Krishna menutup mulut-Nya dan berdiri dihadapan ibu Yashoda dengan wajah yang lugu, ibu Yashoda kembali lupa akan keillahian Krishna dengan memeluk-Nya dan memperlakukan-Nya seperti anak biasa. (Summer Showers 1996, Ch 3)


Thought for the Day - 11th May 2016 (Wednesday)

The Ramayana unfolds the story of Rama. It is also the story of Divinity. Further, the Ramayana is the epic that unfolds the story of Sita, which is that of the individual self. The third aspect of the Ramayana is the annihilation of Ravana. The destruction of Ravana signifies the destruction of ignorance. Ignorance is extinguished when we realise perfectly the relationship between the individual self and the Absolute Self. There are three syllables ‘ra, aa, and ma’ in the word Rama. ‘Ra’ signifies the principle of fire; ‘aa’ signifies the principle of the Sun; ‘ma’ signifies the principle of the Moon. The Sun principle dispels the darkness of ignorance. The Moon principle cools the inner heart. And the fire principle destroys illusion.

Ramayana membentangkan cerita tentang Rama. Ini juga cerita tentang keillahian. Lebih lanjut, Ramayana adalah epos yang menceritakan tentang Sita, yang mana merupakan diri individu. Aspek yang ketiga dari Ramayana adalah penghancuran Ravana. Kehancuran dari Ravana bermakna kehancuran dari kebodohan. Kebodohan dapat dihilangkan ketika kita menyadari dengan sempurna hubungan diantara diri individu dan yang maha kuasa. Ada tiga suku kata ‘ra, aa, dan ma’ dalam kata Rama. ‘Ra’ berarti prinsip api; ‘aa’ berarti prinsip matahari; ‘ma’ berarti prinsip bulan. Prinsip matahari menghilangkan kegelapan kebodohan. Prinsip bulan menyejukkan di dalam hati. Dan prinsip api menghancurkan khayalan. (Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains, 1976, Ch 1)


Thought for the Day - 10th May 2016 (Tuesday)

Earning money cannot be the sole purpose of education. Acquiring good qualities can be the only purpose of education. From our birth till the body perishes, we are making many attempts to earn money and acquire food. In this process of amassing wealth, we are adopting several methods which are adopted by the birds and animals. To acquire food, different kinds of strength, abilities, and skills are used by us; just as the very same skills are used by animals and birds! It is not right that we use all our knowledge and skill for doing just what the animals and birds also do. In the process of spending all our energies in acquiring food, we are going far away from the aspect of the Divine principle (Atma) which is the very purpose of this special birth.

Mendapatkan uang tidak bisa menjadi tujuan utama dari pendidikan. Mendapatkan sifat-sifat yang baik hanyalah tujuan dari pendidikan. Dari kelahiran kita sampai badan jasmani ini hancur, kita sedang melakukan banyak usaha untuk mendapatkan uang dan makanan. Dalam proses mengumpulkan kekayaan, kita sedang mengadopsi beberapa metode yang mana juga diadopsi oleh unggas dan binatang. Untuk mendapatkan makanan, berbagai jenis kekuatan yang berbeda, kemampuan dan keahlian kita gunakan; sama halnya dengan unggas dan binatang yang menggunakan keahlian yang hampir sama! Bukan merupakan hal yang benar bagi kita untuk menggunakan semua pengetahuan dan keahlian kita hanya untuk melakukan apa yang juga dilakukan oleh unggas dan binatang. Dalam proses menghabiskan semua energi kita dalam mendapatkan makanan, kita sedang berjalan semakin jauh dari aspek prinsip keillahian (Atma) yang mana merupakan tujuan utama dari kelahiran yang khusus ini. (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan 1974, Ch 1)


Tuesday, May 10, 2016

Thought for the Day - 9th May 2016 (Monday)

Mother Sumitra's twin children, Lakshmana and Shatrughna, arrived in the world crying. Sumithra tried various strategies but failed to soothe their inconsolable grief. Sage Vasishta then suggested keeping Lakshmana in the cradle with Rama, and Shatrughna in the cradle with Bharatha. Sumithra did accordingly and found that both stopped crying immediately, started drinking milk and playing in the cradle. The Sage explained thus, “Oh noble mother, a branch is a part of the tree. Humans are part of Divinity and cannot live without Him. Lakshmana did not rest until he was united with Rama and Shatrughna could not bear separation from Bharatha. The Individual cannot live apart from the Absolute Self, which is its source. A fish cannot exist away from water, even if it is placed in a golden bowl studded with precious stones. Similarly, the individual self is restless until it reaches the Absolute Self, which is its source.”
Ibu Sumitra memiliki anak-anak kembar yaitu Lakshmana dan Shatrughna, dan lahir ke dunia dengan menangis. Sumithra mencoba berbagai cara namun semuanya gagal untuk menenangkan kesedihan mereka yang tidak terhiburkan. Resi Vasishta kemudian menyarankan untuk membiarkan Lakshmana di dalam ayunan dengan Rama, dan Shatrughna dalam ayunan dengan Bharatha. Sumithra melakukan sesuai dengan saran itu dan mendapatkan keduanya berhenti menangis, mulai minum susu dan bermain di ayunan. Resi Vasistha menjelaskan, “Oh ibu yang mulia, dahan adalah bagian dari sebuah pohon. Manusia adalah bagian dari keillhian dan tidak bisa hidup tanpanya. Lakshmana tidak bisa istirahat sampai bisa bersama dengan Rama dan Shatrughna tidak dapat rasa terpisah dari Bharatha. Individu tidak bisa terpisah dari Tuhan yang mana merupakan sumbernya. Seekor ikan tidak bisa hidup jauh dari air, walaupun ditempatkan di sebuah mangkuk emas yang dihiasi dengan batu permata. Sama halnya, individu akan menjadi gelisah sampai bisa mencapai Tuhan yang merupakan sumbernya.” (Summer Showers 1996, Ch 3)


Thought for the Day - 8th May 2016 (Sunday)

Imagine a golden necklace around your mother or sister’s neck. When you look at this form of an ornament, you call it a necklace; but when you look at the basic material in it, you say it is made up of gold. It cannot be that gold is one thing and the necklace is a different thing. It is not possible to make a necklace without gold. So when you call it a gold ornament, it only demonstrates the oneness of the basic material that is the gold, and the name and form, namely the necklace. In the same manner, by recognising the oneness of humanity on the one hand and the underlying divinity on the other hand, we should be able to proclaim the greatness of our culture and spiritual education.

Bayangkan sebuah kalung emas di leher ibu atau kakakmu. Ketika engkau melihat bentuk dari perhiasan ini, engkau menyebutnya dengan kalung; namun ketika engkau melihat pada bahan dasar dari kalung tersebut, engkau mengatakan bahwa kalung itu terbuat dari emas. Adalah tidak mungkin dimana emas dan kalung adalah bagian yang berbeda. Tidak mungkin membuat sebuah kalung tanpa emas. Jadi ketika engkau menyebutnya sebuah perhiasan emas, ini hanya memperlihatkan kesatuan dari bahan dasar yaitu emas dan nama serta wujudnya kita sebut dengan kalung. Dalam hal yang sama, dengan menyadari kesatuan dari kemanusiaan di satu bagian dan keillahian yang mendasari adalah bagian yang lainnya, kita seharusnya mampu untuk menyatakan kebesaran dari kebudayaan serta pendidikan spiritual kita. (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan 1974, Ch 2)


Saturday, May 7, 2016

Thought for the Day - 7th May 2016 (Saturday)

In this world, there are many types of relationships, but none equals the relationship that exists between the mother and the child. It is because of this intimate relationship with the mother that one’s own country is called motherland. Similarly one’s own language is called mother tongue, and not father tongue. Among the parents, the first place is given to the mother; next comes the father. Not only in day-to-day life but also in the field of spirituality, mothers and women are given the highest regard. For example, when we mention the names of divine couples such as Sita Rama, Radha Krishna, Lakshmi Narayana, etc., the names of the goddesses come first. What is the inner significance of this? Mother represents Nature, which is the manifest aspect of Divinity.

Di dunia ini, ada banyak jenis hubungan, namun tidak ada satupun yang sama dengan hubungan yang ada antara ibu dan anak. Ini karena hubungan yang sangat mendalam dengan ibu makanya negeri kita sendiri di sebut dengan ibu pertiwi. Sama halnya bahasa sendiri disebut dengan bahasa ibu, dan bukannya bahasa ayah. Diantara orang tua, tempat pertama diberikan kepada ibu, selanjutnya adalah ayah. Tidak hanya berkaitan dengan kehidupan dari hari ke hari namun juga dalam kehidupan spiritual, ibu dan perempuan diberikan penghormatan yang tertinggi. Sebagai contoh, ketika kita menyebutkan nama Tuhan seperti halnya Sita Rama, Radha Krishna, Lakshmi Narayana, dsb, maka nama Dewi disebutkan terlebih dahulu. Apakah makna yang terkandung di dalamnya dari hal ini? Ibu melambangkan alam yang mana merupakan perwujudan dari aspek keillahian. (Divine Discourse, 6 May 1999)


Friday, May 6, 2016

Thought for the Day - 6th May 2016 (Friday)

Never look down upon any woman. They are most virtuous. With all sacred feelings in your heart, respect women and be respected. Love and Respect your mother, obey her commands. Never disrespect your mother or hurt her feelings. Try to satisfy her in all respects. Only then will the seed of devotion sprout in you. Mother protects her children in many ways. Even after death, she will come back and help you. Everyone should follow the dictum, Mathru Devo Bhava (Mother is God) in letter and spirit, and receive their mother's love. Mother Easwaramma was full of love and sacrifice and she led a life of fulfillment and peace. In order to propagate this sacred ideal, this day is being celebrated as Easwaramma Day. This is to emphasise that each one of you should make your mother happy. If your mother is happy, Swami is happy.

Jangan pernah memandang remeh kepada perempuan. Mereka adalah yang paling bagus dalam moralitas. Dengan semua perasaan suci di dalam hatimu, hormatilah para perempuan dan dihormati. Sayangi dan hormati ibumu, taati perintahnya. Jangan pernah tidak menghormati ibumu atau menyakiti perasaannya. Cobalah untuk memuaskannya dalam segala hal. Hanya dengan demikian benih bhakti akan tumbuh di dalam dirimu. Ibu melindungi anak-anaknya dalam berbagai cara. Bahkan setelah meninggal, ibu akan datang kembali dan membantumu. Setiap orang seharusnya mengikuti pernyataan ini “Mathru Devo Bhava” (Ibu adalah Tuhan) dalam isi dan maknanya, menerima kasih ibu mereka. Ibu Easwaramma adalah penuh dengan kasih dan pengorbanan dan beliau menjalani kehidupan diliputi kepuasan dan kedamaian. Dalam upaya untuk menyebarkan ideal yang suci ini, hari ini dirayakan sebagai perayaan Easwaramma. Hal ini adalah untuk menekankan bahwa setiap orang darimu seharusnya membuat ibumu senang. Jika engkau membuat ibu senang maka Swami juga akan senang. (Divine Discourse, 6 May 1999)


Thought for the Day - 5th May 2016 (Thursday)

There may be a wicked son, but not a wicked mother. It is because of the noble feelings of the mothers that sons become virtuous, intelligent, attain exalted positions and earn name and fame. It is the mother who fosters and nourishes you. It is she who knows your choices and preferences, and fulfils all your needs. So be grateful to your mother always. First and foremost, you should show gratitude to your parents, love them, and respect them. Your blood, your food, your head, and your money are all the gifts of your parents. You do not receive these gifts directly from God. All that is related to God is only indirect experience. It is only the parents whom you can see directly and experience their love. So, consider your parents as God. God will be pleased and will manifest before you only when you love and respect your parents.

Mungkin ada anak yang jahat, namun tidak ada ibu yang jahat. Ini disebabkan karena perasaan yang mulia dari ibu bahwa anaknya dapat menjadi baik, cerdas, mencapai kedudukan tinggi, dan mendapatkan nama dan ketenaran. Adalah ibu yang menjaga perkembangan dan memeliharamu. Adalah ibu yang mengetahui pilihan dan kesukaanmu dan memenuhi semua kebutuhanmu. Jadi selalulah bersyukur kepada ibumu. Pertama dan terpenting, engkau harus memperlihatkan rasa terima kasih kepada orang tuamu, kasihi mereka dan hormati mereka. Darahmu, makananmu, kepalamu, dan uangmu semuanya adalah pemberian dari orang tuamu. Engkau tidak menerima karunia ini langsung dari Tuhan. Semua yang terkait dengan Tuhan hanyalah pengalaman yang tidak langsung. Hanyalah orang tua yang engkau dapat lihat secara langsung dan mengalami cinta mereka. Jadi, angaplah orang tuamu sebagai Tuhan. Tuhan akan merasa senang dan akan mewujudkan diri-Nya di depanmu hanya ketika engkau menyayangi dan menghormati orang tuamu. (Divine Discourse, 6 May 1999)


Wednesday, May 4, 2016

Thought for the Day - 4th May 2016 (Wednesday)

God descends and takes on the human form only to change the lives of humans by His own example. Only humans descend to the depths of degradation by their utter disregard of their dharma (code of conduct) and Divinity. Birds and beasts firmly adhere to their own respective dharmas. There is no need for the Avatar to arise amongst birds and beasts since dharma has not declined in them. Lord Krishna declared, “I come down for the protection of the good” (Paritranaya sadhunam). God always protects the virtuous. There is no use merely lisping Rama’s name. Emulate Rama and transform yourselves by following the path of Love. However deep and great your scholastic eminence may be, one cannot achieve anything without undergoing the transformation of the mind.

Tuhan datang dan mengambil wujud manusia hanya untuk merubah kehidupan manusia dengan teladan yang diberikan oleh-Nya. Hanya manusia yang mengalami penurunan sampai pada tahap kemerosotan dengan sama sekali mengabaikan dharma mereka (pedoman perilaku) dan keillahian. Para burung dan binatang buas dengan mantap menjunjung tinggi dharma mereka masing-masing. Tidak ada gunanya  bagi Avatar untuk bangkit diantara burung dan binatang buas karena dharma tidak mengalami kemerosotan di antara mereka. Sri Krishna menyatakan, “Aku datang untuk melindungi yang baik” (Paritranaya sadhunam). Tuhan selalu melindungi yang berbudi luhur. Tidak ada gunanya melulu menggerakkan bibir untuk nama Rama. Berusahalah menyamai  Rama dan ubahlah dirimu sendiri dengan mengikuti jalan kasih sayang. Bagaimanapun dalam dan hebatnya keunggulan pendidikan yang seseorang miliki, seseorang tidak bisa mencapai apapun tanpa mengalami perubahan di dalam pikiran. (Divine Discourse, Summer Roses on Blue Mountains, 1996, Ch 2)


Tuesday, May 3, 2016

Thought for the Day - 3rd May 2016 (Tuesday)

Most God fearing people believe in Karma philosophy, that fruits we reap, are a result of our own actions. Because of our strong faith in the doctrine of Karma, we readily come forward to do good deeds, and hesitate or abstain from doing bad acts. To lose hope is not a characteristic feature of cultured people. To suffer from lack of faith and to lose hope is a weakness; by entertaining such weaknesses, one will lose all the human strength one has. Enthusiasm and care will show the way for the prosperity of human beings. Every individual with these qualities will surely achieve success and attain glory in any work that they undertake. Hence lead your journey of life with interest and enthusiasm.

Kebanyakan manusia yang hidup dengan saleh percaya akan filsafat Karma, bahwa buah yang kita petik adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Karena kekuatan dari keyakinan kita pada doktrin dari hukum karma, kita siap untuk melangkah maju untuk melakukan perbuatan yang baik dan ragu-ragu atau menjauhkan diri dari melakukan perbuatan yang buruk. Kehilangan harapan bukanlah karakteristik atau ciri dari manusia yang berbudaya. Menderita karena kurangnya keyakinan dan kehilangan harapan adalah sebuah kelemahan; dengan menjalankan kelemahan yang seperti itu, seseorang akan kehilangan semua kekuatan manusianya yang dimilikinya. Semangat dan kepedulian akan memperlihatkan untuk kesejahteraan bagi umat manusia. Setiap individu dengan kualitas-kualitas ini pastinya akan mencapai keberhasilan dan mencapai kemuliaan dalam setiap pekerjaannya yang mereka lakukan. Oleh karena itu tuntunlah perjalanan hidupmu dengan perhatian dan semangat. (Divine Discourse, Summer Showers in Brindavan 1974, Ch 2)


Thought for the Day - 2nd May 2016 (Monday)

We should not delude ourselves into thinking that the Avatar is a simple human form like ourselves. His form may be human; but His majesty and magnificence are Infinite. The principle of Rama is most sacred, sublime and glorious. There is nothing in the world that cannot be achieved by cultivating the Rama Principle (Rama Thathwa). Though thousands of years have elapsed since Ramayana took place, the Rama Principle is deeply imprinted in the hearts of the people. It is ever fresh, ever new and embraces infinitude itself. The Rama Principle is contained in the smallest of the small and the largest of the large. It is not confined to the name and form. It is a transcendental principle, which transcends time itself. True seekers will understand the true nature of humanity by realizing the Rama Principle.

Kita seharusnya tidak menipu diri kita sendiri dengan berpikir bahwa Avatar adalah hanya manusia biasa seperti halnya diri kita sendiri. Wujud-Nya mungkin manusia; namun kemuliaan dan kecemerlangan-Nya adalah tidak terhingga. Prinsip Rama adalah paling suci, luhur dan agung. Tidak ada apapun di dunia ini yang tidak bisa diraih dengan meningkatkan prinsip dari Rama (Rama Tatwa). Walaupun ribuan tahun telah berlalu sejak Ramayana terjadi, prinsip Rama telah terpatri sangat mendalam di dalam hati manusia. Prinsip Rama adalah selalu segar, baru, dan mencakup dirinya sendiri yang tidak terbatas. Prinsip Rama terdapat pada yang paling kecil dari yang kecil  dan paling luas dari yang luas serta tidak terbatas pada nama dan wujud. Ini merupakan prinsip yang bersifat di luar pengertian yang mana melampaui waktu itu sendiri. Peminat spiritual yang sejati akan memahami sifat sejati dari manusia dengan menyadari prinsip Rama. (Summer Showers Ch2, May 20, 1996.)