Thursday, February 29, 2024

Thought for the Day - 29th February 2024 (Thursday)

The ear, skin, eye, tongue, nose — these five senses are able to cognise sound, touch, form, taste, and smell respectively. Objects of knowledge are cognised only through these five. The world is experienced through these instruments, which stand intermediate between the knower and the knowable. The inner capacity to understand objects is named the mind (manas). The mind moves out through the senses and attaches itself to objects. At that time, by that very occurrence, the mind assumes the form of that object; this is called a function (vritti). The mind is non-intelligent (achetana), so its transformations and manipulations (vikaras) are also non-intelligent, non-vital. A wooden doll has only the property of wood; a sugar doll, the property of sugar. The unintelligent mind cannot achieve knowledge of the supreme Intelligence (Chetana) which pervades the Universe. Just as the unintelligent chariot is directed by a charioteer, a charioteer must direct the unintelligent mind (manas), seated in the mind and having it as His vehicle. The motive force that activates the inner instruments, the senses of action, the senses of knowledge, the five vital airs (pranas) — that force is God! 


- Ch 8, Kena Upanishad, Upanishad Vahini.

You have faith in the driver of your car, in the engineer who built your house. So too, believe in the Inner Motivator, the Atman within, the Voice of God.


Telinga, kulit, mata, lidah, hidung – kelima Indera ini mampu mengenali suara, sentuhan, wujud, rasa, dan bau berturutan. Objek-objek pengetahuan hanya dapat diketahui melalui kelima Indera ini. Dunia ini dapat dialami melalui sarana ini, yang mana menjadi perantara antara yang mengetahui dan dapat diketahui. Kapasitas batin untuk memahami objek-objek yang ada disebut dengan pikiran (manas). Pikiran bergerak keluar melalui Indera dan melekatkan dirinya pada objek tersebut. Pada saat itu, melalui kejadian itu, pikiran mengambil bentuk dari objek itu; ini disebut dengan sebuah fungsi (vritti). Pikiran adalah tidak cerdas (achetana), jadi perubahan dan manipulasinya (vikaras) juga tidak cerdas, tidak bersifat vital. Boneka kayu hanya memiliki kualitas kayu; boneka gula memiliki sifat gula. Pikiran yang tidak cerdas tidak bisa mencapai pengetahuan kecerdasan tertinggi (Chetana) yang mana meliputi alam semesta. Seperti halnya kereta yang tidak cerdas diarahkan oleh seorang Kusir, Kusir ini harus mengarahkan pikiran yang tidak cerdas (manas), dan duduk didalamnya dan menjadikan manas itu sebagai kereta-Nya. Kekuatan pendorong yang mengaktifkan peralatan batin, Indera penggerak, Indera pengetahuan, lima udara vital (prana) – kekuatan itu adalah Tuhan! 


- Ch 8, Kena Upanishad, Upanishad Vahini.

Engkau memiliki keyakinan pada supir mobilmu, pada insinyur yang membangun rumahmu. Begitu juga, miliki keyakinan pada motivator dalam diri, Atma di dalam diri, suara Tuhan. 

Thought for the Day - 28th February (Wednesday)

The universe is an instrument to reveal the majesty of God. The inner firmament in the heart of man is also equally a revelation of His glory. He is the Breath of one’s breath. Since He has no specific form, He cannot be indicated by words. Nor can His mystery be penetrated by other senses. He is beyond the reach of asceticism, beyond the bounds of Vedic rituals. He can be known only by an intellect cleansed of all trace of attachment and hatred, of egotism, the sense of possession. Only spiritual wisdom can grant self-realisation. Meditation can confer concentration of faculties; through that concentration, spiritual wisdom can be won, even while in the body. The Brahman activates the body through the five vital airs (pranas). It condescends to reveal itself in that same body as soon as inner consciousness attains the requisite purity. For, the Atma is immanent in the inner and outer senses just as heat is in fuel and butter in milk. Now, individual consciousness is like damp fuel, soaked in the foulness of sensory desires and disappointments. When the pool in the heart becomes clear of slimy overgrowth, Atma shines in its pristine splendour! 


- Ch 4, Mundaka Upanishad, Upanishad Vahini.

If you lack purity of heart, you will not be able to understand the principle of Atma, irrespective of your educational qualifications.


Alam semesta adalah sebuah sarana untuk mengungkapkan keagungan Tuhan. Cakrawala batin di dalam hati manusia adalah sama juga mengungkapkan keagungan Tuhan. Tuhan adalah nafas dari nafas seseorang. Karena Tuhan tidak memiliki wujud tertentu, maka Tuhan tidak bisa ditunjukkan dengan kata-kata. Misteri Tuhan juga tidak bisa diungkapkan oleh Indera yang lain. Tuhan adalah melampaui pencapaian dari olah tapa, melampaui batasan-batasan dalam ritual Weda. Tuhan hanya bisa diketahui melalui kecerdasan yang bersih dari semua jejak keterikatan dan kebencian, egoisme, dan rasa kepemilikan. Hanya kebijaksanaan spiritual yang dapat memberikan kesadaran diri sejati. Meditasi dapat memberikan kemampuan konsentrasi; melalui konsentrasi tersebut kebijaksanaan spiritual dapat dicapai, walaupun saat masih hidup. Brahman mengaktifkan tubuh melalui lima udara yang vital (prana). Brahman merendahkan diri-Nya untuk mengungkapkan diri-Nya dalam tubuh yang sama segera setelah kesadaran batin mencapai kemurnian yang diperlukan. Karena, Atma adalah ada di dalam dan di luar Indera seperti halnya panas dalam bahan bakar dan mentega dalam susu. Sekarang, kesadaran individu adalah seperti bahan bakar yang berisi air, terendam dalam keinginan Indera dan kekecewaan. Ketika kolam di dalam hati menjadi bersih dari jumlah lumpur yang berlebih, Atma bersinar dengan kemuliaan-Nya yang murni! 


- Ch 4, Mundaka Upanishad, Upanishad Vahini.

Jika engkau kurang kemurnian hati, engkau tidak akan mampu memahami prinsip Atma, apapun kualifikasi pendidikanmu.

Thought for the Day - 27th February (Tuesday)

When the chanting of the Name is done in community singing, it should be in a form in which the entire group can participate easily. The tune, the rhythm, etc. should be such that all can follow the bhajan. If the lead singer takes up a song that is not familiar to others, the response from the group will be poor. There will be no enthusiasm or genuine participation. Their minds will be distracted. When all the devotees participate in the bhajan, the vibrations that are produced will generate joy and harmony. Many who organise mass singing on special occasions are not aware what kind of bhajans should be sung then. A person who has an individual style of his own may sing as he likes in private, but he is not suitable for community singing. There are some rules to be observed in conducting community bhajans. Alapana (elaboration of a raga) may be done in kirtana (individual singing), but it is wholly out of place in community bhajans. Hence, in such bhajans the accent should be entirely on the Name.


- Divine Discourse, Nov 08, 1986.

Always keep chanting the Name of God and you will never be able to forget Him at any time.


Ketika pelantunan nama suci Tuhan dilakukan dalam komunitas banyak orang, maka bhajan seharusnya dilaksanakan agar mudah diikuti oleh seluruh peserta. Maka dari itu nada, ritme, dalam bhajan disesuaikan sedemikian rupa agar semuanya dapat mengikuti bhajan. Jika pemimpin lagu melantunkan lagu bhajan yang tidak akrab di telinga bhakta lainnya, maka respon dari peserta bhajan akan buruk. Tidak akan ada semangat atau partisipasi yang murni. Pikiran mereka akan terganggu. Ketika semua bhakta berpartisipasi dalam bhajan, getaran yang dihasilkan akan menghasilkan suka cita dan keharmonisan. Banyak orang yang melaksanakan bhajan untuk banyak orang pada perayaan tertentu tidak menyadari jenis bhajan apa yang harus dilantunkan. Seseorang yang memiliki gaya tersendiri bisa menyanyi dengan sesuka hatinya secara pribadi, namun dia tidak sesuai untuk bhajan bersama. Ada beberapa aturan yang harus diikuti dalam melaksanakan bhajan bersama. Alapana (penguraian raga) dapat dilakukan dalam kirtana (bhajan sendiri), namun sama sekali tidak cocok dilakukan dalam bhajan bersama. Karena itu, dalam bhajan seperti itu penekanannya sepenuhnya pada nama suci Tuhan. 


- Divine Discourse, Nov 08, 1986.

Selalulah melantunkan nama suci Tuhan dan engkau tidak akan pernah bisa melupakan nama-Nya kapanpun juga.


Thought for the Day - 24th February 2024 (Saturday)

Winnow the real from the apparent. Look inside the event for the kernel, the meaning. Dwell over on your Atmic reality; you are pure, you are indestructible; you are unaffected by the ups and downs of life; you are the true, the eternal, the unchanging Brahman, the entity which is all this. A mere five-minute inquiry will convince you that you are not the body or the senses, the mind or the intelligence, the name or the form, but that you are the Atma Itself, the same Atma that appears as all this variety. Once you get a glimpse of this truth, hold on to it; do not allow it to slip. Make it your permanent possession. As a first step towards the acquisition of this Viveka (wisdom) and Vairagya (detachment), enter from now on into a discipline of Namasmarana - the incessant remembrance of God through the Name of the Lord.


- Divine Discourse, Jan 30, 1965.

Namasmarana is an exercise that can be practised at all times and places by all, irrespective of creed or caste or gender or age or economic and social status.


Menampi yang nyata dari yang kelihatan. Lihatlah ke dalam peristiwa untuk mencari inti yaitu makna sejatinya. Renungkan kenyataan sejatimu yaitu Atma; engkau adalah murni, engkau adalah tidak terhancurkan; engkau tidak terpengaruh oleh pasang dan surut kehidupan; engkau adalah Brahman yang sejati, kekal dan tidak berubah, entitas dari semuanya ini. Hanya dengan penyelidikan lima menit akan meyakinkanmu bahwa engkau bukanlah badan atau indera, pikiran atau kecerdasan, nama atau wujud, namun engkau adalah Atma itu sendiri, Atma yang sama yang muncul dalam semua jenis ragam ini. Begitu engkau mendapatkan kebenaran ini, peganglah erat; jangan sampai terlepas. Jadikan itu sebagai milikmu yang permanen. Sebagai langkah awal menuju pada proses mendapatkan Viveka (kebijaksanaan) dan Vairagya (tanpa keterikatan) ini, mulailah dari sekarang dengan disiplin dari Namasmarana – mengingat Tuhan tanpa henti melalui nama suci-Nya.


- Divine Discourse, Jan 30, 1965.

Namasmarana adalah sebuah latihan yang dapat dipraktekkan sepanjang waktu dan tempat oleh semuanya, tanpa memandang keyakinan atau kasta atau jenis kelamin atau usia atau status ekonomi dan sosial.

Thought for the Day - 21st February 2024 (Wednesday)

Now this country is pursuing priya (pleasant) instead of hita (beneficial) and that is the reason for all this distress and discontent. Indian Culture has always emphasised the hard way, the beneficial way; but, people are now after cultures that cater to the senses - the outer, external, frill and fancies, the mirages and the momentaries! Indian culture advises the control of the senses, not catering to them! The car is driven by means of a wheel which is inside it; when that wheel is turned, the outer wheels move. So also, the inner wheel has to be turned in man, so that he may progress. Trying to move the outer wheels is a sign of ignorance; it is a waste of precious energy. Inner concentration is to be developed in preference to outer distraction. Cultivate quietness, simplicity, and humility, instead of noise, complexity, and conceit. Of the twenty-four hours which comprise a day, use six for earning and spending, six for contemplation of God, six for sleep and six for service to others. You are now spending not even five minutes in the contemplation of God and you are not ashamed. What a tragedy!


- Divine Discourse, Mar 16, 1966.

The ladder must be as tall as the height you want to reach; your sadhana too must continue until the goal is attained!


Sekarang negara ini sedang mengejar priya (kesenangan) daripada hita (kegunaan) dan itu adalah alasan untuk semua penderitaan dan ketidakpuasan. Kebudayaan India selalu menekankan pada jalan yang sulit, jalan yang bermanfaat; namun, masyarakat sekarang menyukai budaya yang melayani indera - duniawi, di luar diri, hiasan dan keinginan, khayalan dan kenikmatan sesaat! Budaya India menekankan pada pengendalian indera, dan bukannya melayani indera! Mobil dikemudikan dengan sarana roda yang ada di dalamnya; ketika roda itu berputar maka roda di luar juga berputar. Begitu juga, roda di dalam diri manusia harus diputar, sehingga manusia mengalami kemajuan. Mencoba untuk menggerakkan roda di luar adalah sebuah tanda dari ketidaktahuan; ini menyia-nyiakan energi yang begitu berharga. Kosentrasi di dalam diri harus dikembangkan daripada gangguan di luar. Tingkatkan keheningan, kesederhanaan, dan kerendahan hati, bukannya kebisingan, kerumitan dan kesombongan. Dari 24 jam yang menyusun satu hari, gunakan enam jam untuk mencari dan menggunakan nafkah, enam jam untuk merenungkan Tuhan, enam jam untuk istirahat dan enam jam untuk melayani yang lain. Engkau sekarang bahkan tidak menggunakan lima menit dalam perenungan pada Tuhan dan engkau tidak merasa malu. Betapa tragisnya!


- Divine Discourse, Mar 16, 1966.

Tangga harus setinggi dengan ketinggian yang ingin engkau capai; sadhanamu juga harus berlanjut sampai tujuan dicapai!

Tuesday, February 20, 2024

Thought for the Day - 20th February 2024 (Tuesday)

Do not grieve that the Lord is testing you and putting you through the ordeal of undergoing the tests, for it is only when you are tested that you can assure yourself of success or become aware of your limitations. You can then concentrate on the subjects in which you are deficient and pay more intensive attention so that you can pass in them too when you are tested again. Don’t study for the examination at the last moment; study well in advance and be ready with the necessary knowledge, and the courage and confidence born out of that knowledge and skill. What you have studied well in advance must be rolled over and over in your mind, just before the examination; that is all that should be done! This is the pathway to victory!


- Divine Discourse, Shivaratri, Mar 1963.

Test is the taste of God. Never fear any test.


Jangan menjadi bersedih ketika Tuhan sedang mengujimu dan menempatkanmu dalam kesulitan dalam menghadapi ujian, hanya ketika engkau diuji maka engkau dapat memastikan dirimu berhasil atau menjadi sadar akan batasanmu. Engkau kemudian dapat memusatkan pikiran pada pelajaran yang kurang dan memberikan perhatian lebih intensif sehingga engkau dapat lulus dari ujian ketika engkau diuji kembali. Jangan belajar untuk ujian pada saat-saat terakhir; belajarlah dengan baik jauh-jauh hari dan bersiap dengan pengetahuan yang dibutuhkan, dan keberanian serta kepercayaan diri muncul dari pengetahuan dan ketrampilan. Apa yang telah engkau pelajari dengan baik dari jauh-jauh hari harus diingat terus menerus dalam pikiranmu tepat sebelum ujian; hanya itu yang harus dilakukan! Ini adalah jalan menuju keberhasilan!


- Divine Discourse, Shivaratri, Mar 1963.

Ujian adalah rasa dari Tuhan, Jangan pernah takut pada ujian apapun.

Thought for the Day - 18th February 2024 (Sunday)

All things in the cosmos are the gifts of God. They are manifestations of His will. Some of them, however, have to be used carefully. When they are used intelligently after due enquiry, they can serve as boon-companions and give us happiness. Indiscriminate and reckless use of these things may turn them into our worst enemies. For example, there are objects like fire, a knife and electric current. It is only when they are used in the right way that you can benefit from them. If fire is not handled properly, it can cause great harm. A knife is helpful only when it is used carefully. Electricity serves us in many ways - by lighting bulbs, running fans, etc. Because of its multifarious uses, if one tries to be friendly towards it by touching a live wire, he will get a shock. In the same manner, man's sense organs have to be used extremely carefully. When the senses are used on the right lines, they are of immense help. But if they are used in the wrong way, they can cause great harm.


- Divine Discourse, Jun 29, 1989

As the senses are God-given gifts, abuse of the senses by excesses will not only mean transgressing the divinely ordained limits but will also lead to many harmful consequences.


Segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah karunia dari Tuhan, semuanya ini adalah ciptaan dari kehendak Tuhan. Beberapa dari ciptaan ini, bagaimanapun juga, harus digunakan secara hati-hati. Ketika ciptaan ini digunakan dengan cerdas setelah diselidiki, maka semuanya itu dapat menjadi teman yang bermanfaat dan memberikan kebahagiaan. Penggunaan ciptaan Tuhan secara sembarangan dan sembrono menjadikan semuanya itu sebagai musuh terburuk bagi manusia. Sebagai contoh, ada objek seperti api, pisau, dan aliran Listrik. Hanya ketika semuanya itu digunakan dengan cara yang benar maka akan memberikan manfaat. Jika api tidak diperlakukan dengan tepat, maka api dapat menyebabkan penderitaan yang sangat besar. Sebilah pisau menjadi sangat berguna hanya ketika digunakan dengan hati-hati. Listrik melayani manusia dalam banyak bentuk – untuk menyalakan lampu, menghidupkan kipas angin, dsb. Karena kegunaannya yang beragam, jika seseorang mencoba menyentuh kabel listrik maka dia akan tersetrum. Sama halnya, organ Indera manusia harus digunakan dengan sangat hati-hati. Ketika Indera digunakan dengan cara yang benar, maka Indera akan sangat membantu. Namun jika Indera digunakan secara salah, maka Indera dapat menyebabkan penderitaan.


- Divine Discourse, Jun 29, 1989.

Karena Indera adalah anugerah Tuhan, penyalahgunaan Indera secara berlebihan tidak hanya melanggar batas yang ditetapkan namun juga akan menuntun pada banyak akibat yang merugikan.


Thought for the Day - 17th February 2024 (Saturday)

Narada declared: "Love is beyond the scope of words." How can an ordinary man, living in this phenomenal world, understand such love? This love is an expression of Divinity. Like the mariner's compass, it always points to the Divine wherever it may be present. As oil makes a lamp burn, love illumines life itself. What is termed love in ordinary worldly life is not real love at all. It is only one or the other form of attachment based on human relationships in the family or in society. True love is pure, selfless, free from pride, and full of bliss. Such love can be got only through love. All worldly attachments are not real love at all. They are transient. The everlasting, pure love arises from the heart. In fact, it is ever-existing and all-pervading. How is it that man is unable to recognise such all-pervading love? It is because man's heart today has become barren and polluted. The heart is filled with all kinds of desires and there is no room in it for pure, unsullied love to enter. It is only when the worldly attachments are expelled from the heart that there will be room for real love to abide in it and grow.


-  Divine Discourse, Jul 27, 1996.

Although inherently love is present in every cell of the human being it does not manifest itself because of the pollution of the heart.


Narada menyatakan: "Kasih adalah melampaui jangkauan dari kata-kata." Bagaimana seorang manusia biasa yang hidup dalam dunia yang luar biasa ini dapat memahami kasih yang seperti itu? Kasih ini adalah ungkapan dari keilahian. Seperti kompas pelaut yang selalu mengarah pada Tuhan dimanapun dia berada. Seperti halnya minyak yang membuat sebuah lampu menyala, kasih menerangi kehidupan itu sendiri. Apa yang disebut kasih dalam duniawi adalah sama sekali bukan kasih sejati. Ini hanyalah bentuk dari satu atau lain dari keterikatan yang berdasarkan pada hubungan manusia dalam keluarga atau dalam masyarakat. Kasih sejati adalah murni, tanpa pamrih, bebas dari kesombongan, dan penuh dengan kebahagiaan. Kasih seperti itu hanya bisa di dapat melalui kasih. Semua bentuk keterikatan duniawi sama sekali bukanlah kasih sejati. Semuanya itu bersifat sementara. Kasih yang kekal dan murni muncul dari hati. Sejatinya, kasih itu selalu ada dan meliputi semuanya. Bagaimana manusia tidak mampu menyadari kasih yang meliputi semuanya itu? Ini karena hati manusia hari ini menjadi tandus dan tercemar. Hati yang diliputi dengan semua jenis keinginan dan tidak ada ruang di dalamnya bagi kasih yang murni dan tidak ternoda untuk bisa masuk. Hanya ketika keterikatan duniawi dikeluarkan dari hari maka akan ada ruang bagi kasih sejati untuk tinggal di dalamnya dan bertumbuh.


-  Divine Discourse, Jul 27, 1996.

Meskipun pada hakekatnya kasih ada di dalam setiap sel dari manusia, namun kasih tidak terwujud karena tercemarnya hati.


Thought for the Day - 15th February 2024 (Thursday)

Once a preceptor summoned all his disciples and told them that he was going to give them something extremely sweet which they should protect from insects and rodents. The disciples resorted to various devices to safeguard the guru's gift. However, one of them ate the sweet, digested it and derived considerable strength and energy from it. What is the lesson to be drawn from this story? It means that the teachings learnt from the preceptor are not to be merely preserved in safety. The nectarous message of the preceptor should be enshrined in the heart. It should be made part of one's being. Then the recipient acquires vigour and strength. In the same manner, whatever you see or hear or read should be taken to heart and then put into practice. Only then will you have the full satisfaction of benefiting from the teachings. Hearing is not enough. You must take in and digest what you have listened to. It must be put into practice in daily life.


-  Divine Discourse, Jul 27, 1996.

How can one expect to experience the bliss simply by preaching and not practising what he preaches?


Sekali seorang guru memanggil semua muridnya dan mengatakan kepada mereka bahwa dia akan memberikan mereka sesuatu yang sangat manis yang harus mereka lindungi dari serangga dan hewan pengerat. Para murid menggunakan berbagai jenis cara untuk melindungi pemberian dari guru mereka. Namun, salah satu dari mereka makan manisan itu, menelannya dan mendapatkan banyak kekuatan dan energi dari manisan itu. Apa hikmah yang diambil dari kisah ini? Ini bermakna bahwa ajaran yang dipelajari dari guru tidak sekedar disimpan dengan aman. Pesan-pesan berharga dari guru seharusnya diabadikan di dalam hati. Ini harus dibuat menjadi bagian dari keberadaan seseorang. Kemudian penerima mendapatkan semangat dan kekuatan. Sama halnya, apapun yang engkau lihat atau dengar atau baca harus direnungkan dengan secara mendalam kemudian dipraktekkan. Hanya dengan demikian engkau akan memiliki kepuasan penuh dalam memperoleh manfaat dari ajaran sang guru. Mendengarkan saja tidaklah cukup. Engkau harus menerima dan mencerna apa yang engkau telah dengarkan. Hal ini harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.


-  Divine Discourse, Jul 27, 1996.

Bagaimana seseorang dapat berharap untuk mengalami kebahagiaan hanya dengan mewacanakannya dan tidak mempraktekkan apa yang diwacanakan? 

Thought for the Day - 14th February 2024 (Wednesday)

Selfish Love (Svartha-Prema) is like a lamp kept in a room. The lamp illumines only the room. This selfish love is confined to limited people and doesn’t extend to others. Samanjasa-Prema is like light from the moon. This moonlight is visible both outside and inside. The light is dim and not very effulgent. This kind of love extends to a wider group but is not very intense. Third is Parartha-Prema. It is like sunlight. It illumines both inside and outside with brilliance. But it’s not continuous such that the sun is not visible at night. But it is also not a permanent absence, because the sun rises again. Likewise, this selfless love may appear to be absent sometimes, but will appear again! The fourth one is Yatartha-Prema or Atma-Prema. This love is present always, inside and outside, in all places and at all times, in all circumstances. This is Divine Love. It is imperishable. It is eternal. It is immanent in everyone. When this love is manifested by a person, he achieves the peace that passeth understanding.


-  Divine Discourse, Jul 27, 1996.

Enjoy the love I confer on you. It is totally free from self-interest. Receiving selfless love, make your love unselfish.


Kasih yang mementingkan diri sendiri (Svartha-Prema) adalah seperti sebuah lampu yang disimpan di dalam kamar. Lampu itu hanya menerangi kamar. Kasih yang mementingkan diri sendiri ini hanya terbatas pada orang-orang tertentu saja dan tidak berlaku pada yang lainnya. Samanjasa-Prema adalah seperti cahaya dari rembulan. Cahaya rembulan ini dapat terlihat di luar maupun di dalam. Cahaya rembulan ini redup dan tidak terlalu terang. Jenis kasih ini meluas ke kelompok yang lebih luas namun tidak terlalu intens. Bagian ketiga adalah Parartha-Prema. Ini adalah seperti cahaya mentari. Cahaya matahari ini menerangi keduanya yang di dalam dan di luar dengan terang benderang. Namun Cahaya matahari tidak berkelanjutan karena matahari tidak terlihat di malam hari. Namun tidak selamanya hilang, karena matahari akan terbit kembali. Sama halnya, kasih yang tidak mementingkan diri sendiri mungkin terkadang kelihatan tidak ada, namun akan muncul kembali! Bagian keempat adalah Yatartha-Prema atau Atma-Prema. Kasih ini adalah selau ada, di dalam dan di luar, di semua tempat dan sepanjang waktu. Ini adalah kasih Tuhan. Ini tidak dapat dihancurkan. Ini bersifat kekal. Kasih Tuhan ini tetap ada di dalam diri setiap orang. Ketika kasih ini diwujudkan oleh seseorang, maka dia mencapai kedamaian yang melampaui pemahaman.


-  Divine Discourse, Jul 27, 1996.

Nikmati kasih yang Aku curahkan kepadamu. Kasih ini sepenuhnya bebas dari kepentingan pribadi. Dengan menerima kasih yang tanpa pamrih, jadikan kasihmu juga tidak egois.


Thought for the Day - 13th February 2024 (Tuesday)

A curious paradox is now gaining force in this land: it is fraught with dire consequences. Though the world has become a very small globe, as a result of fast means of communication and transport, man has not yet learnt the art of living together in close proximity, as brothers, as children of the One God. The closer men are brought, the larger the differences appear! Thus, the little world is now riddled with problems of conflicting cultures, competing creeds and contesting ambitions. The sorrows of one state spread fast into all its neighbours and infect the whole world. The world has become one vast battlefield. When infectious diseases leap over boundaries, and slay men without distinction, immediate steps are taken to control the havoc and relief is despatched in haste to the scene of disaster. But, the infection of greed and hate cannot be held in check so quickly by any Government. Let us try to answer the question - "What kind of Government is the best?" The answer is: "That Government is best, which helps us to govern ourselves." Make your Conscience the ruler, do not depend on the external ruler.


-  Divine Discourse, May 13, 1970.

Whether it be in a political organisation or in regard to a personal matter, or national issues, you should act according to the dictates of your conscience, without any other concern.


Sebuah paradok aneh sedang berlaku di negeri ini: hal ini penuh dengan konsekuensi yang mengerikan. Walaupun dunia telah menjadi bumi yang sangat kecil, sebagai akibat dari sarana komunikasi dan tranportasi yang cepat, manusia belum belajar seni dalam hidup Bersama dalam jarak yang berdekatan, sebagai saudara, sebagai anak-anak dari satu Tuhan. Semakin dekat manusia, semakin jauh perbedaan yang muncul! Jadi, dunia yang kecil ini sekarang penuh dengan masalah budaya yang saling bertentangan, persaingan keyakinan dan perlombaan ambisi. Penderitaan suatu negara menyebar dengan cepat ke seluruh negara tetangga dan menular pada seluruh dunia. Dunia telah menjadi satu medan tempur yang luas. Ketika penyakit menular melampaui batas-batas negara, dan membunuh manusia tanpa membeda-bedakan, langkah-langkah segera diambil untuk mengendalikan malapetaka dan bantuan segera dikirim ke lokasi bencana. Namun, infkesi dari ketamakan dan kebencian tidak bisa diketahui dengan cepat oleh pemerintah manapun. Marilah kita mencoba menjawab pertanyaan ini - "Apa jenis pemerintahan yang terbaik?" Jawabannya adalah: "Pemerintahan yang terbaik adalah yang membantu kita mengatur diri kita sendiri." Jadikan hati nuranimu sebagai pengendali, jangan tergantung pada pengatur di luar diri.


-  Divine Discourse, May 13, 1970.

Apakah itu berkaitan dengan organisasi politik atau urusan pribadi, atau urusan negara, engkau seharusnya bertindak sesuai dengan hati nuranimu, tanpa ada hal lainnya.

Thought for the Day - 12th February 2024 (Monday)

The question must be asked, of everyone who is caring for the body - "For what purpose are you caring for this body? What is it that you hope to achieve?" The body is the sheath, the scabbard for the sword, the Jivi (soul), the I that is within it, but not of it. The purpose of this scabbard is to discover the unity of the Universe. When you say this is the auditorium shed, you see this shed as one, though it is really the coming together of many pillars, trusses, sheets, bricks, mortar, nuts, bolts and paint! You feel you are one though you are an organisation of many limbs and instruments of knowledge, hands, feet, head, muscle, nerve, eye, tongue, teeth, etc. So also, the Universe is but one, though you may be able to distinguish stars and planets, rock, tree and bird and birch, ant and antler in it. Whatever there is, Sarvam Brahmamayam - all is Brahman. It is all Sat Chit Ananda, no more, no less. The realisation of this great Truth is the only purpose of man.


-  Divine Discourse, Oct 09, 1970.

The feeling of oneness is essential for enjoying bliss based on the realisation of divinity in everyone


Pertanyaan yang harus ditanyakan setiap orang yang peduli pada tubuh - "apa tujuan engkau merawat tubuh ini? Apa harapan yang ingin engkau capai?" Tubuh adalah sarung, sarung dari pedang yaitu Jivi (jiwa), dimana Aku yang ada di dalamnya, namun Aku bukan bagian dari sarung itu. Tujuan keberadaan sarung itu adalah untuk mengungkapkan kesatuan alam semesta. Ketika engkau mengatakan ini adalah gudang auditorium, engkau melihat gudang ini sebagai satu kesatuan, walaupun sebenarnya terbangun dari banyak pilar, rangka, batu bata, campuran semen, mur, baut dan cat! Engkau merasakan bahwa engkau adalah satu walaupun engkau ada dalam organisasi dari banyak organ dan instrumen pengetahuan, tangan, kaki, kepala, otot, syaraf, mata, lidah, gigi, dsb. Begitu juga, alam semesta adalah satu, walapun engkau mungkin mampu membedakan antara bintang dan planet, bebatuan, pohon dan burung, semut dan  serta hewan bertanduk di dalamnya. Apapun yang ada, Sarvam Brahmamayam – semuanya adalah Brahman. Ini semuanya adalah Sat Chit Ananda, tidak lebih, tidak kurang. Realisasi dari kebenaran agung ini adalah satu-satunya tujuan manusia.


-  Divine Discourse, Oct 09, 1970.

Perasaan kesatuan adalah mendasar untuk menikmati kebahagiaan berdasarkan pada realisasi keilahian dalam diri setiap orang

Thought for the Day - 11th February 2024 (Sunday)

Do not forget God. What you should forget is the mundane world. God is omnipresent in all forms, everywhere, as declared in the Purusha Sukta. It is foolish to search for God, who is within you and outside you. When Ramakrishna Paramahamsa was asked whether he had seen God and could show Him to them, he replied - "I have seen God. But how can you see God if you don't pine for him in the same manner in which you pine for your wife and children and wealth? Pray to Him, yearn for Him and be prepared to sacrifice everything for Him. Then you will experience the vision of God." God cannot be perceived by the spiritually blind, just as a blind man cannot understand what is meant by the whiteness of milk. God is infinite bliss. He is formless, but He can assume any form He wills. How can anyone attempt to describe the nature of God? Contemplate on God with a pure heart. There is no greater spiritual exercise. 


-  Divine Discourse, Jul 12, 1995.

See the good in others and the faults in yourselves. Revere others as having God installed in them; revere yourself also as the seat of God.


Jangan melupakan Tuhan. Apa yang seharusnya engkau lupakan adalah duniawi ini. Tuhan adalah ada dimana-mana dalam semua wujud, di setiap tempat, seperti yang disebutkan dalam Purusha Sukta. Adalah sebuah ketidaktahuan dengan mencari Tuhan, yang mana Tuhan ada di dalam dirimu dan juga di luar dirimu. Ketika Ramakrishna Paramahamsa ditanyakan apakah dia pernah melihat Tuhan dan dapat memperlihatkan Tuhan kepada mereka, Ramakrishna menjawab - "aku telah melihat Tuhan. Namun bagaimana engkau dapat melihat Tuhan jika engkau tidak merindukannya seperti engkau merindukan istri dan anak-anak dan kekayaanmu? Berdoalah kepada-Nya, rindukan Tuhan dan bersiaplah untuk mengorbankan segalanya untuk Tuhan. Kemudian engkau akan mengalami pandangan Tuhan." Tuhan tidak bisa dilihat oleh orang yang buta secara spiritual, seperti halnya orang buta tidak bisa mengerti apa makna dari putihnya susu. Tuhan adalah kebahagiaan yang tidak terbatas. Tuhan adalah tanpa wujud, namun Tuhan dapat mengambil wujud apapun yang Tuhan kehendaki. Bagaimana seseorang dapat mencoba untuk menjabarkan sifat alami Tuhan? Renungkan Tuhan dengan kemurnian hati. Tidak ada Latihan spiritual yang lebih hebat. 


-  Divine Discourse, Jul 12, 1995.

Lihat kebaikan dalam diri orang lain dan kesalahan di dalam dirimu sendiri. Hormati orang lain karena Tuhan bersemayam di dalam diri mereka; hormati dirimu sendiri juga sebagai takhta Tuhan.


Thought for the Day - 7th February 2024 (Wednesday)

A little reflection will give the attitude necessary to develop detachment. You have a house in the city; you lived in it for some years; you call it yours and are proud of it; you protest angrily when a poster is pasted on its walls; you took great care to see that it’s comfortable, charming, and impressive. Then one day you sell it. It’s no longer the object of your attachment! Even when lightning strikes it, you aren’t disturbed. Now, the fields you purchased with the sale proceeds become yours and they attract all your attachments! When flood waters invade those fields, you are very concerned and run everywhere trying to save them from harm! Next, you sell them and call the money yours; put it in a bank and you become attached to it! The money you gave the bank may be loaned by them to someone you don’t like, but you don’t care. Now what exactly is yours? To which were you attached so deeply? The house, fields, money? To none of these things. You were attached to prestige, comfort, show, greed: things that arose in your mind as desire, as urges; to your own ego, basically. That was the thing which induced you to claim these things, one after the other, as yours! 


- Divine Discourse, Mar 27, 1966.

Where there is no attachment, there is no fear


Sedikit perenungan akan memberikan sikap yang diperlukan untuk mengembangkan tanpa keterikatan. Engkau memiliki rumah di dalam kota; engkau tinggal di dalamnya untuk beberapa tahun; engkau mengatakan rumah itu adalah milikmu dan bangga dengan rumah itu; engkau marah ketika poster di tempel di dinding rumahmu; engkau sangat perhatian untuk kenyamanan, keindahan dan kemewahan rumah itu. Kemudian pada suatu hari engkau menjualnya. Rumah itu bukan lagi objek dari keterikatanmu! Bahkan ketika rumah itu disambar petir, engkau tidak akan terganggu sama sekali. Sekarang, tanah yang engkau beli dari hasil penjualan menjadi milikmu dan tanah itu menarik semua keterikatanmu! Ketika air banjir menggenangi tanah itu, engkau menjadi sangat perhatian dan berlarian kemana-mana untuk mencoba menyelamatkan tanah itu dari kerusakan! Selanjutnya, engkau menjual tanah itu dan menyebut uang penjualan itu adalah milikmu; menaruh uang itu di Bank dan engkau menjadi terikat padanya! Uang yang engkau simpan di bank mungkin dipinjamkan pada seseorang yang tidak engkau sukai, namun engkau tidak peduli. Sekarang apa sesungguhnya yang menjadi milikmu? Pada hal apakah engkau menjadi terikat begitu mendalam? Rumah, tanah, uang? Tidak pada satupun. Engkau terikat pada gengsi, kenyamanan, pamer, ketamakan: hal-hal yang muncul dalam pikiranmu sebagai keinginan, sebagai dorongan; pada egomu sendiri, pada dasarnya. Hal itulah yang mendorongmu untuk mengklaim hal-hal ini, satu demi satu sebagai milikmu! 


- Divine Discourse, Mar 27, 1966.

Dimana tidak ada keterikatan, disana tidak ada ketakutan


Thought for the Day - 6th February 2024 (Tuesday)

Render your hearts cool with delight; share the delight with others; adore God in this delectable form. When you go into the qualifications needed for seva, you will know that a pure heart - uncontaminated by conceit, greed, envy, hatred or competition is essential; also what is required is faith in God, as the spring of vitality, virtue, and justice. Seva is the worship you offer to the God in the heart of everyone. Do not ask another which country or state you belong to, or which caste or creed you profess. See your favourite form of God in that other person; as a matter of fact, that person is not 'other' at all. It is His image, as much as you are. You are not helping some 'one individual'; you are adoring Me, in that person. I am before you in that form; so, what room is there for the ego in you to raise its hood? Duty is God; Work is worship. Even the tiniest work is a flower placed at the Feet of God. 


- Divine Discourse, Mar 04, 1970.

Whatever you do as service, to whomsoever you offer the act, believe that it reaches the God in that person.


Buatlah hatimu tenang dengan kegembiraan; berbagilah kegembiraan dengan yang lainnya; pujalah Tuhan dalam wujud yang indah ini. Ketika engkau melihat syarat yang dibutuhkan untuk seva, engkau akan mengetahui bahwa hati yang murni – yang tidak ternoda dengan kesombongan, ketamakan, iri hati, kebencian atau persaingan adalah mendasar.; yang juga diperlukan adalah keyakinan pada Tuhan, sebagai sumber dari kekuatan, Kebajikan dan keadilan. Seva adalah pemujaan yang engkau persembahkan kepada Tuhan di dalam hati setiap orang. Jangan menanyakan orang lain dari negara mana engkau berasal, atau dari kasta atau keyakinan mana engkau berasal. Pandanglah wujud Tuhan yang engkau puja pada orang lain itu; sebagai sebuah fakta, orang itu sama sekali bukanlah 'orang lain'. Ini adalah gambar-Nya, sama seperti dirimu. Engkau tidak sedang menolong 'satu individu'; engkau sedang memuja Aku dalam diri orang itu. Aku ada dihadapanmu dalam wujud itu; jadi, apa ada ruang bagi ego dalam dirimu untuk mengangkat kepalanya? Kewajiban adalah Tuhan; kerja adalah ibadah. Bahkan kerja yang paling kecil adalah sebuah bunga yang dipersembahkan di kaki Tuhan. 


- Divine Discourse, Mar 04, 1970.

Apapun yang engkau lakukan sebagai pelayanan, kepada siapapun engkau berikan pelayanan itu, percayalah bahwa pelayanan itu mencapai Tuhan di dalam orang itu.

Thought for the Day - 4th February 2023 (Sunday)

Repeat Soham (I am He), with every breath: 'So' when you take in and 'ham', when you exhale, 'So' means ‘He’ and 'ham,' means ‘I’ and when you complete the inhalation and exhalations, feel that 'So', namely, the Lord, and 'ham', namely, 'I' i.e., (you) are One! Later, after long practice, the idea of He and I as two separate entities will disappear and there will be no more So and ham. Those sounds will be reduced to O and M, it will be Om or Pranava. Repeat that sound afterwards with every breath and that will save you from bondage to birth and death, for it is the Pranavopasana (contemplation on Pranava) recommended in Vedas. This Soham recitation is a good means of restraining the mind from running away. Let the mind be ever attached to the Lord; then, it will not flee towards all directions. That is the meaning of Krishna’s exhortation: Sarva dharman parityajya mam ekam sharanam vraja - Giving up all other activities, surrender fully to Me.


- Divine Discourse, May 22, 1965. 

Place the mind completely at His service. Then, He will save you from falling


Ulangi Soham (aku adalah Tuhan), dengan setiap nafas: 'So' ketika engkau menghirup nafas dan 'ham', ketika engkau menghembuskan nafas, 'So' berarti ‘Dia’ dan 'ham,' berarti ‘aku’ dan ketika engkau menyelesaikan tarikan dan hembusan nafas, rasakan bahwa 'So', yaitu Tuhan, dan 'ham', yaitu aku (dirimu) adalah Satu! Kemudian, setelah latihan lama, gagasan dari Tuhan dan aku sebagai dua entitas yang terpisah akan lenyap dan tidak akan ada lagi So dan ham. Suara itu akan berkurang menjadi O dan M, dan itu menjadi Om atau Pranava. Ulangi suara itu setelahnya pada setiap tarikan nafas dan itu akan menyelamatkanmu dari jeratan kelahiran dan kematian, karena ini adalah Pranavopasana (perenungan pada Pranava) yang direkomendasikan dalam Weda. Pengulangan Soham adalah sebuah sarana yang bagus dalam menahan pikiran agar tidak berkeliaran. Jadikan pikiran selamanya terikat pada Tuhan; kemudian, pikiran tidak akan berkeliaran ke segala arah. Itulah makna dari nasehat Sri Krishna: Sarva dharman parityajya mam ekam sharanam vraja – hentikan semua aktifitas lainnya, berserah diri sepenuhnya kepada-Ku. 


- Divine Discourse, May 22, 1965. 

Tempatkan pikiran sepenuhnya pada pelayanan-Nya. Kemudian, Tuhan akan menyelamatkanmu dari kejatuhan

Thought for the Day - 3rd February 2024 (Saturday)

The first debt every individual owes is to the Divine. The second is to the sages. The third is to one's parents. A debt is an obligation arising out of what one has received from others. We can easily identify these debts in the human body from the different divine forces that are present nourishing and protecting it. This divine energy permeates the entire body; it is called the Rasa (Divine Essence). We owe a debt of gratitude to the Divine who has not only endowed us with this precious human body but also sustains it. We shall be able to enjoy these gifts of the Divine only if we discharge this debt to the Divine. How is this to be done? It is by rendering service to other bodies saturated with the same Divine, by doing righteous deeds and consecrating all actions in the service of society. The debt to the Divine has to be discharged in full in this life itself or during many future lives. The earlier we repay this debt, the sooner we shall realise Divinity.


- Divine Discourse, Oct 10, 1983.

Every devotee has to have as one’s aides firm faith in God on one side and purity of character on the other.


Hutang pertama yang setiap individu miliki adalah hutang pada Tuhan. Hutang kedua kepada para guru suci. Hutang ketiga kepada orang tua kandung. Hutang adalah sebuah kewajiban yang muncul dari apa yang seseorang terima dari orang lain. Kita dapat dengan mudah mengidentifikasi hutang-hutang ini dalam tubuh manusia dari berbagai kekuatan Tuhan yang berbeda yang hadir untuk memelihara dan melindunginya. Energi Tuhan ini meliputi seluruh tubuh dan disebut dengan Rasa (intisari Tuhan). Kita berhutang budi pada Tuhan yang tidak hanya memberkati kita dengan tubuh manusia yang berharga ini namun juga memeliharanya. Kita bisa menikmati semua karunia Tuhan ini hanya jika kita melunasi hutang itu kepada Tuhan. Bagaimana cara meluinasinya? Dengan melakukan pelayanan kepada orang lain yang diliputi dengan energi Tuhan yang sama, dengan melakukan perbuatan yang baik serta memusatkan semua perbuatan pada pelayanan kepada masyarakat. Hutang kepada Tuhan harus dilunasi seluruhnya dalam hidup ini atau dalam banyak kehidupan mendatang. Semakin cepat kita membayar hutang ini, semakin cepat kita akan menyadari ke-Tuhan-an.


- Divine Discourse, Oct 10, 1983.

Setiap bhakta harus memiliki keyakinan yang teguh pada Tuhan di satu sisi dan kemurnian karakter di sisi lainnya. 

Thought for the Day - 2nd February 2024 (Friday)

Man is fundamentally Divine, and so, naturally, the more he manifests the Divine attributes of Love, Justice, Truth and Peace, the more joy he is able to enjoy and impart. The less he manifests them, the more ashamed he ought to be that he is living counter to his heritage. The Tree of Life must be watered at the roots, but now, those who plan to raise the standard of living water the branches, the leaves and the blossoms. The roots are the virtues; they must be fostered so that the flowers of actions, words and thoughts may bloom in fragrance and yield the fruit of seva (service), full of the sweet juice of ananda (bliss). Planning for food, clothing and shelter is only promoting the well-being of the cart; plan also for the horse, the mind of man which must use the food, the clothing, the shelter and other material instruments for the high purpose of 'escaping from the ego into the universal'.


- Divine Discourse, Aug 03, 1966.

If you are a master of your feelings and impulses, you can be anywhere, engaged in any profession. You will have peace.


Manusia pada dasarnya adalah Tuhan, dan demikian secara alami, semakin banyak manusia mewujudkan sifat-sifat Tuhan yaitu kasih, keadilan, kebenaran dan kedamaian, maka semakin besar suka cita yang manusia dapat nikmati dan berikan. Semakin sedikit manusia mewujudkan sifat-sifat Tuhan tersebut, seharusnya manusia merasa lebih malu karena hidup bertentangan dengan warisannya. Pohon kehidupan harus disirami pada akar-akarnya, namun sekarang, mereka yang berencana untuk menaikkan taraf hidup malah menyirami cabang, daun dan bunga. Akar dari pohon kehidupan itu adalah kebajikan; Kebajikan harus dipupuk sehingga bunga dalam wujud tindakan, perkataan dan pikiran dapat mekar dalam keharuman dan menghasilkan buah pelayanan (seva), penuh dengan intisari rasa jus kebahagiaan (ananda). Perencanaan untuk makanan, pakaian dan tempat tinggal hanya untuk meningkatkan kesejahtraan dari gerobaknya saja; rencanakan juga untuk kudanya yaitu pikiran manusia yang mana harus menggunakan makanan, pakaian, tempat tinggal dan sarana material lainnya untuk tujuan mulia yaitu 'melepaskan diri dari ego menuju pada universal'.


- Divine Discourse, Aug 03, 1966.

Jika engkau menguasai perasaan dan dorongan hatimu, engkau bisa ada dimana saja menjalankan profesi apapun. Engkau akan memiliki kedamaian.