Tuesday, June 30, 2009

Thought for the Day - 30th June 2009 (Tuesday)


Ahimsa (non-violence) means not causing harm to anyone, but it is not merely refraining from inflicting injuries on others with one’s limbs or weapons. Non-violence also has to be practiced with purity of mind, tongue and body. There should be no ill-feelings, for that too is a form of violence. To cause bodily harm to another is violence, but so is speaking harshly. Your speech should be sweet, pleasing and wholesome. All your actions should be helpful to others.

Ahimsa (tanpa kekerasan) berarti tidak menyakiti siapapun, tetapi itu bukan hanya tidak melukai orang lain dengan tangan ataupun dengan senjata. Tanpa kekerasan juga harus dipraktekkan dengan kemurnian pikiran, lidah dan tubuh, serta tidak menyakiti perasaan, karena hal itu juga merupakan bentuk kekerasan. Menyakiti orang lain adalah kekerasan, juga berbicara dengan kasar. Cara bicaramu harus manis, menyenangkan dan bermanfaat. Semua tindakanmu seharusnya berguna bagi orang lain.

-BABA

Monday, June 29, 2009

Thought for the Day - 29th June 2009 (Monday)


The Universe is visible to the naked eye. It is called Prapancha because it is a manifestation of the Pancha Bhutas (five elements). There is no world without the five elements. They are the very forms of the Divine. That is why people reverentially refer to the five elements, namely, earth, water, air, fire and ether, as Bhudevi, Gangadevi, Vayudeva, Agnideva and Shabda Brahman, respectively. The five elements are present in every being. The Spirit or the Atma which is the very form of God, is not visible to the naked eye, but the Pancha Bhutas can be seen, heard, felt and experienced by one and all. They are highly potent. Man is the embodiment of the five elements. He is their master. One who understands the principle of these five elements becomes God Himself.

Alam semesta dapat dilihat dengan mata biasa. Alam semesta disebut Prapanca karena merupakan manifestasi dari Panca Bhuta (lima unsur). Tidak ada dunia tanpa kelima unsur-unsur tersebut. Hal itu adalah wujud dari Ketuhanan. Itulah mengapa orang-orang menunjukkan rasa hormat mengacu pada lima unsur-unsur yakni bumi, air, udara, api dan eter, berturut-turut sebagai Bhudevi, Gangadevi, Vayudeva, Agnideva dan Shabda Brahman. Kelima unsur-unsur tersebut berada dalam setiap mahluk. Jiwa atau Atma yang merupakan bentuk yang sebenarnya dari Tuhan, tidak terlihat dengan mata biasa, tetapi Panca Bhuta dapat dilihat, didengar, dirasakan dan dialami oleh setiap orang. Mereka berpengaruh kuat. Manusia merupakan penjelmaan dari lima unsur. Dia adalah penguasa dari kelima unsur tersebut. Seseorang yang memahami prinsip lima unsur ini menjadi Tuhan itu sendiri.

-BABA

Sunday, June 28, 2009

Thought for the Day - 28th June 2009 (Sunday)


What is the message of SAI? ‘S’ stands for Spirituality, ‘A’ for Association and ‘I’ for Individual. It means that you must give first priority to spirituality; next, to society (association) and only lastly attend to one's individual interest. But, today man follows the reverse order, i.e., he holds his individual interest above his social responsibilities and gives least priority to spirituality. Consequently, he is distancing himself from God. In the first instance, man should take to the path of spirituality and then serve society, understanding the principle of unity. Only then will there be progress at the individual level.

Apa yang dimaksud dengan pesan SAI? ‘S’ berarti Spiritual, ‘A’ untuk Asosiasi dan ‘I’ untuk Individu. Ini berarti bahwa engkau harus memberikan prioritas pertama untuk spiritual; selanjutnya kepada masyarakat dan akhirnya memperhatikan kepentingan individu. Tetapi, saat ini manusia mengikuti urutan yang terbalik, misalnya, dia menganggap kepentingan individu diatas kepentingan pada masyarakat dan memberikan prioritas terakhir pada spiritual. Akibatnya, dia menjauhkan dirinya dari Tuhan. Pertama-tama, manusia seharusnya mengikuti jalan spiritual dan selanjutnya melayani masyarakat, memahami prinsip persatuan. Hanya dengan demikian akan ada kemajuan di tingkat individu.

-BABA

Saturday, June 27, 2009

Thought for the Day - 27th June 2009 (Saturday)


Caught in the coils of the 'created,' man is blind to the fact that he is part of the Divine Creator. Identifying himself with the physical sheath in which he is encased, he is blind to the unity of all beings in the One Universal Absolute. Man has written and studied countless texts on spiritual discipline and discovery, and confounded the confusion, indulging in dialectical rivalries and argumentation. But, he who has put at least a page or two of these tomes into practise, is rendered silent and innocent of any desire for fame or victory. He is happy in the depths of his being. He ploughs the field of his heart, sows the seeds of love and reaps the harvest of fortitude and equanimity.

Terkait dengan ciptaan yang begitu rumit, manusia tidak bisa melihat kenyataan bahwasanya ia sendiri adalah bagian dari Sang Pencipta itu. Menyelediki dirinya dengan hanya pakaian fisik yang membungkusnya, tentu manusia tidak bisa melihat kesatuan semua makhluk dalam suatu kebenaran yang sesungguhnya. Manusia telah menulis dan belajar naskah-naskah yang tak terbilang jumlahnya dalam kaitannya dengan disiplin dan penemuan spiritual, lalu ia tersesat dalam kebingungan dalam persaingan dan argumentasi. Akan tetapi, ia yang telah mempraktekkan setidaknya satu atau dua halaman dari buku–buku yang ia baca tersebut, dengan menyerahkannya dalam diam dan tanpa berpikir panjang atas keinginan untuk kemasyuran atau ketenaran, maka ia akan mengalami kebahagiaan. Ia yang membajak ladang hatinya, menabur benih kasih dan memetik hasil panen dari ketabahan dan ketenangan hati.

-BABA

Friday, June 26, 2009

Thought for the Day - 26th June 2009 (Friday)


Once the organs of the body like eyes, ears, limbs became jealous of the tongue, saying that they make all efforts for securing food, but the tongue enjoys this. They stopped working and never sent any food. Tongue is the one that tastes the food and passes only palatable items of food inside, which is converted by the internal organs into energy giving blood. The tongue does not retain it. But for this vital part played by the tongue, the other organs would not be able to function at all. When the other organs became jealous of the tongue and stopped sending food with a view to harm it, they spelt their own ruin by such action, as they could not function when there was no food and consequently no supply of energy for these organs to function. Similarly, jealousy on the part of a person ultimately results in his own ruin.

Suatu kali bagian organ dari tubuh seperti mata, telinga, tangan merasa iri kepada lidah, mereka menyatakan bahwa merekalah yang telah berusaha untuk mencari dan mengumpulkan makanan namun hanya lidah sendiri yang menikmatinya. Mereka memutuskan untuk berhenti bekerja dan tidak akan pernah mengirimkan makanan apapun juga. Lidah adalah satu-satunya organ yang bertugas mengecap makanan dan hanya mengirimkan makanan yang lezat saja ke dalam tubuh, yang kemudian dirubah menjadi energi yang disebarkan oleh darah. Lidah tidak menyimpan makanan itu untuk dirinya saja. Begitu pentingnya peran lidah sehingga organ lain tidak akan berjalan dengan baik tanpa sumbangsihnya. Ketika organ lain cemburu pada lidah dan berhenti mengirim makanan dengan harapan untuk menyakiti lidah, itu sama artinya dengan menyakiti diri mereka sendiri karena mereka tidak punya energi untuk bekerja. Sama halnya jika kalian iri pada seseorang maka hasil akhirnya adalah menyakiti dirimu sendiri.

-BABA

Thursday, June 25, 2009

Thought for the Day - 25th June 2009 (Thursday)


The true dwelling place of God is the heart of man. You don’t need to go in search of God. Not being able to recognize your innate divinity is Ajnana (ignorance). You have to enquire into the reason for this ignorance. This is mainly because you follow the Pravritthi Marga (outward path) all your life under the influence of the sense organs, which are drawn towards external objects. You are not making any effort to follow the Nivritthi Marga (inward path). Thus, you are fully engrossed in the outward activities and are completely neglecting the inward path. You see everything from a worldly point of view and do not recognize the divinity that pervades it. You have to make an effort to change your vision from outward to inward to perceive this divinity.

Tempat tinggal Tuhan yang sejati adalah dalam hati manusia. Engkau tidak perlu mencari Tuhan. Tidak mampu mengenali keilahian bawaan sejak lahir adalah Ajanana (kebodohan). Engkau harus menyelidiki alasan kebodohan ini. Hal ini terutama karena engkau mengikuti Pravritthi Marga (jalan duniawi) seluruh kehidupanmu dibawah pengaruh dari organ-organ indera, yang mengacu pada objek-objek duniawi. Engkau tidak membuat usaha untuk mengikuti Nivritthi Marga (jalan batin). Dengan demikian, engkau tenggelam dalam kegiatan duniawi dan sepenuhnya melalaikan jalan batin. Engkau melihat semuanya dari sudut pandang duniawi dan tidak mengenali keilahian yang meresapi hal itu. Engkau harus berupaya untuk mengubah pandanganmu ke dalam batin untuk merasakan keilahian ini.

-BABA

Wednesday, June 24, 2009

Thought for the Day - 24th June 2009 (Wednesday)


Prema (Love) has been described as beyond speech and mind. It is said to be Anirvachaneeyam (indescribable). This love cannot be got through scholarship, wealth or physical prowess. God, who is the embodiment of love, can be attained only through love, just as the effulgent sun can be seen only by its own light. There is nothing more precious in this world than Divine love. God is beyond all Gunas (attributes). Hence, His love too is beyond attributes. Since human love is governed by attributes, it results in either attachment or aversion. Love should not be based on expectations of reward or return. Love based on such expectations makes it a business deal. Love is not an article of commerce; it is not like lending a loan and getting it back. It is a spontaneous offering. Pure love of this kind can emanate only from a pure heart.

Prema (Kasih) telah digambarkanmelampaui pikiran dan cara berbicara. Hal ini dapat dikatakan menjadi Anirvachaneeyam (tidak terlukiskan). Kasih ini tidak dapat diperoleh melalui ilmu pengetahuan, kekayaan atau keahlian fisik. Tuhan, yang merupakan perwujudan kasih, dapat dicapai hanya melalui kasih, sama seperti cahaya matahari dapat terlihat hanya dengan cahaya itu sendiri. Tidak ada sesuatupun yang lebih berharga di dunia ini daripada kasih Tuhan. Keberadaan Tuhan melampaui semua Gunas (semua kualitas dan sebutan yang ada). Oleh karena itu, kasih-Nya juga melampaui semua kualitas dan sebutan yang ada. Sejak kasih manusia ditentukan oleh berbagai bentuk kualitas yang ada, maka hasilnya adalah keterikatan atau tanpa ketulusan. Kasih seharusnya tidak didasarkan pada harapan untuk mendapatkan penghargaan atau keuntungan. Kasih yang seperti ini hanyalah sebuah bisnis belaka. Kasih bukanlah benda yang diperdagangkan; ini bukanlah seperti meminjamkan sesuatu dan mendapatkkannya kembali. Ini merupakan persembahan secara spontan. Kasih yang murni semacam ini hanya berasal dari hati yang murni.

-BABA

Tuesday, June 23, 2009

Thought for the Day - 23rd June 2009 (Tuesday)


When Bhaktas (devotees) pray to Bhagawan (God) sincerely making all their actions as offering to God, they will certainly receive appropriate grace from the Divine. There are nine types of devotion. Shravanam (listening to the glory of the Lord), Keerthanam (singing), Vishnusmaranam (remembering), Padasevanam (adoration), Vandanam (saluting), Archanam (worshipping), Dasyam (obedient service), Sneham (friendship) and Atmanivedanam (self-surrender). In whichever way you offer worship, God responds in the same way. When you surrender all your actions, you will surely receive His Grace.

Ketika para Bhakta (pemuja) berdoa kepada Bhagavan (Tuhan) dengan sunguh-sungguh menjadikan tindakan mereka sebagai persembahan kepada Tuhan, mereka pasti akan menerima rahmat Tuhan sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Ada sembilan bentuk bhakti. Shravanam (mendengarkan kemuliaan Tuhan), Keerthanam (melantunkan nama serta kemuliaan Tuhan), Vishnusmaranam (menyadari dan mengingat kebesaran Tuhan), Padasevanam (melakukan pemujaan terhadap Tuhan), Vandanam (menghormati Tuhan), Archanam (menyembah Tuhan), Dasyam (melayani Tuhan dengan penuh ketaatan), Sneham (menjalin persahabatan dengan-Nya) dan Atmanivedanam (memasrahkan diri pada-Nya). Jalan yang mana saja yang engkau puja, Tuhan merespon dengan cara yang sama. Ketika engkau menyerahkan seluruh perbuatanmu, engkau pasti akan menerima rahmat-Nya.

-BABA

Monday, June 22, 2009

Thought for the Day - 22nd June 2009 (Monday)


Why do you repeat the word “Shanti” (peace) thrice? You pray that you may have peace at all the three levels - physical, mental and spiritual. You are not one, but three: the one you think you are - physical body, the one others think you are - mind and the one you really are - Atma. All the three aspects of your being must be in a state of peace. This can be achieved only through love. The evil traits of hatred, jealousy and pride should be cast aside. These are not human qualities, but animal traits. You are a human being. Love is the chief quality of man, truth is his basis and righteousness is his very life. When you cultivate these three, you will definitely attain peace.

Mengapa engkau mengulang kata “Shanti” (damai) sebanyak tiga kali? Engkau berdoa agar engkau memiliki kedamaian pada tiga tingkatan yaitu – fisik, mental, dan spiritual. Engkau bukanlah satu, namun engkau adalah tiga: yaitu pertama engkau adalah apa yang engkau pikirkan, kedua engkau adalah badan jasmani, ketiga engkau adalah apa yang orang lain pikirkan tentang dirimu – semuanya itu ada dalam bentuk pikiran dan siapa sesungguhnya dirimu adalah – Atma. Ketiga aspek ini harus dalam keadaan damai. Hal ini dapat dicapai hanya melalui kasih. Sifat-sifat buruk dari kebencian, kecemburuan dan kebanggaan seharusnya disingkirkan. Ini bukanlah kualitas manusia, tetapi ciri-ciri binatang. Engkau adalah manusia. Kasih adalah sifat utama manusia, kebenaran sebagai dasarnya dan kebajikan adalah kehidupan yang sesungguhnya. Ketika engkau menanamkan ketiga hal tersebut, engkau pasti akan mencapai kedamaian.

-BABA

Sunday, June 21, 2009

Thought for the Day - 21st June 2009 (Sunday)


Why does man wail when he arrives into the world, whimper throughout his life and groan out, into the beyond, lamenting that his sojourn here was a waste of years? Man does so, because he is unaware of his glory, of his high destiny! He is the Divine poured into the human mould. It is the privilege of man alone, to be able to become aware of this precious truth! This is the message of the Upanishads to man, echoed in scriptures, and in the declarations of countless saints. Yet, man turns a deaf ear to it, perhaps, due to his own misfortune created by his own misdeeds in past lives. What an inexhaustible source of bliss lies within you! You only have to develop the mind that will respond to the call, that will recognise the Truth.

Mengapa manusia meratap ketika ia lahir di dunia, merengek selama hidupnya dan mengeluhkan hal-hal yang tidak berguna, menyesal dan menganggap persinggahan di dunia merupakan hal yang sia-sia? Manusia berbuat seperti ini, karena ia tidak menyadari keutamaannya, tidak sadar akan takdir mulianya! Manusia adalah unsur-unsur Tuhan yang tertuang dalam bentuk manusia. Merupakan sebuah perjalanan suci dari manusia itu sendiri untuk menyadari kebenaran yang sangat berharga ini. Ini adalah pesan dari Upanishad yang digaungkan oleh kitab-kitab suci, yang di deklarasikan oleh orang-orang suci yang tidak terhitung banyaknya. Namun manusia tidak menghiraukannya, mungkin ini merupakan kemalangan oleh tingkah laku mereka sendiri yang tidak benar yang telah dilakukan di kehidupannya yang lalu. Sadarilah bahwa terdapat sumber abadi yang tiada habis dalam dirimu. Engkau hanya perlu untuk mengembangkan kesadaran untuk menindaklanjuti panggilan ini, kesadaran untuk mengenali kebenaran ini.

-BABA

Saturday, June 20, 2009

Thought for the Day - 20th June 2009


You have to make your love pure. To do so, you must develop Kshama (forbearance), which implies remaining serene, patient and observing self-restraint under all circumstances, doing good to all, even to those who may want to harm you. There is nothing greater than Kshama. Kshama is equivalent to truth itself. It is the heart of Dharma (righteousness). It is non-violence in practice. Kshama is contentment, compassion; truly, it is everything in all the worlds. Only when you have developed Kshama will you be able to attain the Lord.

Engkau harus memurnikan kasihmu. Untuk melakukannya, engkau harus mengembangkan Kshama (pengendalian diri), yang menyiratkan ketenangan, kesabaran dan pengendalian diri dalam segala keadaan, melaksanakan hal-hal baik kepada semuanya, bahkan juga kepada mereka yang mungkin ingin menyakitimu. Tiada ada apapun yang lebih utama dari Kshama. Kshama setara dengan kebenaran itu sendiri. Ia adalah jantungnya Dharma (kebenaran). Ini adalah tanpa kekerasan dalam praktek. Kshama adalah kepuasan hati, perasaan iba; benar-benar hal ini adalah segalanya di dunia ini. Hanya ketika engkau mengembangkan Kshama engkau akan mampu mencapai Tuhan.

-BABA

Friday, June 19, 2009

Thought for the Day - 19th June 2009 (Friday)


Without God, there is no universe. To ask for physical proof of the existence of bliss or love or the fragrance of a flower is impracticable. To deny the reality of love on the ground that it has no recognizable form is meaningless. Love may have no form, but the mother who exhibits love has a form. All beings are manifestations of the Cosmic Divine. The forms are different, but the spirit that animates them all is One, like the current that illumines bulbs of different colours and wattage. Cultivate this feeling of oneness and do not be critical of any faith or religion. Dedicate your lives to the service of your fellow beings. Thereby, you will be redeeming your lives.

Tanpa Tuhan, tidak akan ada alam semesta. Untuk meminta bukti fisik adanya kebahagiaan atau kasih atau keharuman dari suatu bunga, hal ini tidaklah mungkin. Untuk menyangkal kenyataan adanya kasih dalam suatu tempat bahwa itu tidak memiliki wujud yang dapat dikenal adalah tidak ada artinya. Kasih mungkin tidak mempunyai wujud, tetapi ibu yang memperlihatkan kasih mempunyai wujud. Semua makhluk adalah manifestasi dari Tuhan. Wujud-wujudnya berbeda, tetapi jiwa yang menghidupkan mereka semua adalah Satu, seperti arus lisrik yang menerangi bola lampu dengan perbedaan warna dan jumlah watt. Pahami hal ini yang merupakan sifat keesaan Tuhan dan jangan mengkritik kepercayaan atau agama apapun. Persembahkan hidupmu untuk melayani sesama umat manusia. Dengan demikian, engkau menyelamatkan hidupmu.

-BABA

Thursday, June 18, 2009

Thought for the Day - 18th June 2009 (Thursday)


Character is the true ornament of man. The loss of this ornament is the source of all his suffering and misery. Man does not realize the purpose for which he has been created by God. God’s creation is pregnant with profound truths, mysteries and ideals. But man has forgotten these ideals. He is unable to appreciate the significance of his legacy. Of all the powers in the world, human power is the greatest. Man assigns value to everything in this world, but he is unable to recognize his own value.

Karakter adalah perhiasan sejati manusia. Kehilangan perhiasan ini adalah sumber dari semua penderitaan dan kesengsaraan. Manusia tidak menyadari tujuannya diciptakan oleh Tuhan. Ciptaaan Tuhan dipenuhi dengan kebenaran yang mendalam, misteri-misteri dan tujuan akhir. Tetapi manusia telah melupakan tujuan akhir ini. Ia tidak mampu untuk menghargai makna warisannya. Dari semua kekuatan di dunia, kekuatan manusia adalah yang terbesar. Manusia memberikan nilai kepada segalanya di dunia ini, tetapi ia tidak mampu untuk mengenali nilainya sendiri.

-BABA

Wednesday, June 17, 2009

Thought for the Day - 17th June 2009


The importance of the mind in the process of transformation should be properly understood, because it is the mind that is the cause of both bondage and liberation. Your own actions are the cause of your happiness or sorrow. Do not blame others for your condition. Every thought, every word and every action has its reflection, resound and reaction. It is a sign of weakness to blame others for your troubles. You have to bear the consequences of your own actions. If they are unbearable, pray to God for relief. God alone can give relief in such cases.

Pentingnya pikiran dalam proses transformasi seharusnya dipahami dengan baik, karena pikiranlah yang menyebabkan keterikatan dan kebebasan. Perbuatan-perbuatanmu sendiri adalah penyebab kebahagiaan atau kesedihanmu. Jangan menyalahkan orang lain untuk kondisimu. Setiap pikiran, perkataan dan perbuatan memiliki cerminan dan merupakan reaksi dari apa yang telah engkau pikirkan, katakan, atau perbuat. Ini merupakan tanda kelemahan untuk menyalahkan orang lain untuk masalah-masalahmu. Engkau harus menanggung akibat dari perbuatan-perbuatanmu sendiri. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, berdoalah kepada Tuhan untuk meminta bantuan-Nya. Tuhan sendiri akan memberikan bantuan pada keadaan tersebut.

-BABA

Tuesday, June 16, 2009

Thought for the Day - 16th June 2009 (Tuesday)


Simple faith in the words of the wise is more profitable than years of study and discussion. Contemplate on the Vedic dictum - Tat Twam Asi (You are That). As you ruminate over it, meanings will dawn upon you without the help of any commentary. Commentaries only tend to confuse you. Think of 'Tat' ("That" standing for Divinity), analyse 'Twam' (you), and then you will be convinced that 'Asi' (are) is the only solution. You are in the Light; the Light is in you; you are the Light - these are three successive steps to realisation.

Memiliki kepercayaan yang sederhana pada kata-kata dari orang bijaksana lebih berguna dibandingkan dengan studi dan diskusi yang dilakukan selama bertahun-tahun. Renungkan pernyataan Veda – Tat Twam Asi (Engkau adalah Aku). Ketika engkau merenungkan lebih dalam tentang hal tersebut, akan makna yang lebih jelas kepadamu tanpa bantuan penjelasan-penjelasan, penjelasan tersebut cenderung hanya membuatmu keliru. Berpikir tentang ‘Tat’ (Hal tersebut mewakili Tuhan), menganalisa ‘Twam’ (engkau), dan selanjutnya engkau akan diyakinkan bahwa ‘Asi” (adalah) adalah satu-satunya solusi. Engkau di dalam Cahaya; Cahaya di dalam dirimu; engkau adalah Cahaya – hal ini adalah tiga langkah berturut-turut untuk merealisasikannya.

-BABA

Monday, June 15, 2009

Thought for the Day - 15th June 2009 (Monday)


By Dhyana (meditation), you develop Jnana (spiritual wisdom) and by Japam (recitation of God's Name) you develop Bhakti (devotion) and by both, you cleanse your heart of the canker of ego. You can link yourselves with God, by a chain of love, through the recitation of the name, in silence and with full awareness of the meaning and its nuances. Each time you utter the Divine Name; the more the links the longer the chain, the firmer the bond. But, each link has to be well forged out of well tempered steel. One false link, that is to say, the Name once uttered in sloth or slight, indifference or anger, resentment or rancour, will constitute a weak link and the bond will not bind.

Dengan Dhyana (meditasi), engkau mengembangkan Jnana (kebijaksanaan spiritual) dan dengan Japam (pengulangan nama Tuhan) engkau mengembangkan Bhakti dan dengan keduanya, engkau membersihkan hatimu dari karat yang berasal dari ego. Engkau dapat menghubungkan dirimu dengan Tuhan, dengan rantai kasih, melalui pengulangan nama Tuhan, dalam keheningan dan dengan penuh kesadaran akan arti dan nuansa-nuansanya. Setiap kali engkau memanjatkan Nama Tuhan; semakin banyak sambungan semakin panjang rantai, semakin kokoh ikatan. Tetapi, setiap mata rantai harus ditempa dengan baik di tempat pandai besi. Satu mata rantai yang keliru, dapat dikatakan, sekali Nama-Nya diucapkan dalam kemalasan atau meremehkan, ketidakpedulian atau kemarahan, kebencian atau dendam akan menghasilkan rantai yang lemah dan ikatan itu tidak akan mengikat.

-BABA

Sunday, June 14, 2009

Thought for the Day - 14th June 2009 (Sunday)


Every object in nature, every incident in time, is really speaking, teaching you a lesson. Lord Dakshinamurthy was one morning walking in slow steps along the beach. He saw the waves slowly, but systematically, carrying towards the shore a bit of straw, passing it on from one crest to another, until it was deposited on land! The sea is a broad expanse, it is deep and mighty. But, yet, it is constantly engaged in purging itself from all extraneous things. You too must therefore not permit even a small desire to enter the mind. Force it out of your being, so that it can do you no harm. Eternal vigilance is the price of peace and happiness.

Setiap benda di alam, setiap peristiwa pada suatu waktu, sebenarnya berbicara, mengajarkan engkau suatu pelajaran. Pada suatu pagi, Tuhan Dakshinamurthy berjalan-jalan di pantai. Beliau melihat jerami yang perlahan-lahan terbawa ombak ke daratan. Lautan adalah sebuah ruang yang luas, dalam dan menyimpan kekuatan dahsyat. Akan tetapi, lautan selalu membersihkan dirinya dari berbagai benda. Demikian juga engkau seharusnya tidak memperbolehkan keinginan sekecil apapun memasuki pikiranmu. Keluarkanlah keinginan-keinginan dari dirimu, sehingga keinginan-keinginan tersebut tidak dapat membahayakanmu. Kewaspadaan abadi adalah harga dari kedamaian dan kebahagiaan.

-BABA

Saturday, June 13, 2009

Thought for the Day - 13th June 2009 (Saturday)


Bhakti (devotion) means Paripurna Prema (all-encompassing love). This love is motiveless. Love based on an ulterior motive cannot be real love. As a river seeks to join the ocean by a natural impulse, as a creeper winds itself naturally around a tree to climb upwards, the devotee's love is a spontaneous expression of the yearning to realize God, free from worldly desires of any kind. It proclaims that it needs no one except God. It is oblivious to all other things. It regards the Divine as the One that pervades everything. You must realise that the Divine is present in everything. Only when you can recognise the omnipresence of the Divine will you be able to experience the Divine.

Bhakti berarti Paripurna Prema (segalanya diliputi kasih). Kasih ini tidak didasarkan pada suatu motif tertentu. Kasih yang didasarkan pada motif yang tersembunyi bukanlah kasih sejati. Seperti sebuah sungai berusaha untuk menyatu dengan lautan dengan dorongan yang alami, seperti angin berhembus secara alami di sekitar pohon untuk naik ke atas, ungkapan kasih dari Bhakta (pemuja) merupakan ekspresi spontan dari kerinduan untuk menyadari keberadaan Tuhan, bebas dari segala keinginan-keinginan duniawi. Hal ini menyatakan bahwa segala kebutuhan kita tidak seorang pun dapat memenuhinya kecuali Tuhan. Engkau harus menyadari bahwa Tuhan berada dalam segala hal. Hanya ketika engkau dapat menyadari bahwa Tuhan ada dimana-mana, engkau mampu merasakan Ketuhanan tersebut.

-BABA

Friday, June 12, 2009

Thought for the Day - 12th June 2009 (Friday)


God is said to be a stealer of hearts! The whole world is God's. All of you belong to Him, though you may not know it. Therefore, He can take anything from anyone. He is the Master of the ether, wind, fire, water and earth; He can change the sky into the earth and the earth into the sky. He can also take hold of the hearts of people and fill them with Love. Once people taste the sweetness of His Love, they will not desire anything else. That is why He is called Chittha Chora (stealer of hearts). Pray to Him, "O God! Enter my heart too and fill it with Love, so that I may love all your children, in all lands. Never covet what belongs to others. Do not talk about others but, if you must, talk only of the good in them.

Tuhan disebut dengan pencuri hati! Seluruh dunia ini adalah milik Tuhan. Engkau semua adalah milik-Nya, meskipun engkau mungkin tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, Beliau dapat mengambil apapun dari siapapun. Beliau adalah Master dari eter, angin, api, air dan bumi; Beliau dapat mengubah langit menjadi bumi dan bumi menjadi langit. Beliau juga dapat menguasai hati manusia dan mengisi mereka dengan kasih. Setelah seseorang merasakan manisnya Kasih Tuhan, mereka tidak akan menginginkan hal yang lain. Itulah sebabnya Beliau disebut dengan Chittha Chora (pencuri hati). Berdoalah kepada-Nya,”O Tuhan! Masuklah ke dalam hatiku dan penuhi hati ini dengan Kasih, sehingga Aku dapat mencintai semua anak-anak mu, di segala tempat. Jangan pernah mendambakan apa yang dimiliki oleh orang lain. Jangan membicarakan orang lain tetapi, jika engkau harus membicarakannya, katakanlah hanya yang baik tentang mereka.

-BABA

Thursday, June 11, 2009

Thought for the Day - 11th June 2009 (Thursday)


There is only one important thing that you have to take note of - give up the delusion that the Divine is in some remote place. Have the faith that you are God. When you have the faith that you are Divine, you will never go astray. You will pursue the right path. Believe that God is in every human being. Have the firm faith that Divinity is present in every human form. Perform right actions befitting the human form. Eschew selfishness, and the attachments and hatred arising from it. The way to get rid of selfishness is adoration of God.

Hanya ada satu hal penting yang harus diperhatikan – melepaskan khayalan bahwa Tuhan berada jauh di tempat terpencil. Milikilah keyakinan bahwa engkau adalah Tuhan. Ketika engkau mempunyai keyakinan bahwa engkau adalah Tuhan, engkau tidak akan pernah tersesat. Engkau akan mengikuti jalan yang benar. Percayalah bahwa Tuhan ada dalam diri setiap manusia. Milikilah keyakinan yang kuat bahwa ketuhanan berada dalam setiap wujud manusia. Laksanakan tindakan-tindakan benar sesuaikan dengan wujud manusia. Hindari sifat mementingkan diri sendiri, dan keterikatan dan kebencian yang timbul darinya. Cara untuk menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri adalah pemujaan terhadap Tuhan.

-BABA

Wednesday, June 10, 2009

Thought for the Day - 10th June 2009 (Wednesday)


There is no action in the world which is devoid of consequence. This is the law of nature. For instance, when a finger is cut by a knife, immediately the finger starts bleeding. The result of the cut is instantaneous. However, when you sow a seed, it becomes a sapling after some days. But to bear fruit, it takes some years. Thus, every action has a consequence, but the time interval between action and result varies. One who is aware of this truth is unlikely to commit any wrong deeds because he knows that good deeds produce good results and bad deeds lead to bad consequences. Recognition of the law of Karma will make men lead proper lives.

Tidak ada perbuatan di dunia ini yang tanpa akibat. Ini adalah hukum alam. Sebagai contoh, ketika jari terpotong oleh pisau, segera jari tersebut mengeluarkan darah. Hasil yang seketika akibat jari yang terpotong. Namun, ketika engkau menabur benih, ia menjadi tunas-tunas muda setelah beberapa hari. Tetapi untuk berbuah, diperlukan waktu beberapa tahun. Dengan demikian, setiap perbuatan memiliki konsekuensi, tetapi interval waktu antara perbuatan dan hasil bervariasi. Seseorang yang menyadari kebenaran ini tidak mungkin untuk melakukan perbuatan yang salah sebab ia mengetahui bahwa perbuatan baik menimbulkan hasil yang baik dan perbuatan buruk mengakibatkan konsekuensi buruk. Pengakuan terhadap hukum Karma ini akan membuat manusia menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya.

-BABA

Tuesday, June 9, 2009

Thought for the Day - 9th June 2009 (Tuesday)


It is conduct that is most important for every person. Conduct is determined by the state of the mind. Instead of giving way to the promptings of the senses, every action should be done as a sacred offering to the Divine. One should be indifferent to censure or praise. Such equanimity can come only from unwavering faith in God. Lacking this faith and filled with the conceit that he is the doer of everything, man gets immersed in sorrow and trouble. The one who boasts about his achievements should equally recognise that he is the author of his misfortunes. He cannot claim to be the doer and at the same time deny responsibility for the consequences of his actions. Hence, in all your actions whether good or bad, do your duty, leaving the results to God.

Berikut adalah pengertian terpenting tentang perbuatan/tindakan yang dilakukan oleh setiap orang. Bahwa perbuatan manusia itu ditentukan oleh keadaan pikiran. Daripada memberikan jalan kepada indera dengan cepat, setiap perbuatan/tindakan seharusnya dilakukan sebagai persembahan suci kepada Tuhan. Seseorang seharusnya bersikap biasa saja apakah ia dipuji ataupun dikritik. Ketenangan hati seperti ini hanya di dapat dari keyakinan yang kuat kepada Tuhan. Sikap kurang yakin terhadap Tuhan dan penuh dengan kesombongan bahwa dia adalah pelaku dari segalanya, manusia tenggelam dalam penderitaan dan kesulitan. Seseorang yang menyombongkan diri tentang keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapainya seharusnya menyadari dengan sama bahwa dia juga pelaku dari kemalangannya itu. Manusia tidak dapat menyatakan dirinya sebagai pelaku dan pada saat yang sama menolak tanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi dari perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya. Oleh karena itu, dalam segala perbuatanmu apakah itu baik atau buruk, lakukan kewajibanmu, serahkan hasilnya kepada Tuhan.

-BABA

Monday, June 8, 2009

Thought for the Day - 8th June 2009 (Monday)


The world is today suffering from disorder and violence because people have lost Atma-Vishwasa (faith in the Self). They are fostering attachment to the body and ignoring the Spirit. Man should not follow the senses which are wayward, the body which is perishable, or the mind which is fickle. He must follow the conscience, which tells him what is right or wrong. Man has to rise above the animal nature. He has to express his divine potencies. For this, man has to acquire knowledge of the Divine Self. Atma is the all-pervading Universal Consciousness. It is immanent in everyone. Only as long as this consciousness is present in the human body, it is called Shivam (auspiciousness). Once the consciousness leaves the body, it becomes Shavam (a corpse).

Dunia saat ini mengalami kekacauan dan kekerasan karena orang-orang telah kehilangan Atma – Vishwasa (keyakinan pada Atma). Mereka memelihara keterikatan pada badan dan mengabaikan Spirit (Atma). Manusia seharusnya tidak menuruti indera yang sulit dikendalikan, tubuh yang mudah rusak, atau pikiran yang berubah-ubah. Manusia harus mengikuti hati nurani, yang mengatakan kepadanya apa yang benar atau salah. Manusia harus meningkat di atas sifat binatang. Dia harus mengekspresikan potensi ketuhanan yang ada dalam dirinya. Oleh karenanya, manusia harus memperoleh pengetahuan tentang Ketuhanan. Atma meliputi seluruh kesadaran universal, yang tetap ada pada setiap orang. Hanya sepanjang kesadaran ini ada di dalam tubuh manusia, hal ini disebut Shivam. Begitu kesadaran tersebut meninggalkan tubuh, ia menjadi Shavam (mayat).

-BABA

Sunday, June 7, 2009

Thought for the Day - 7th June 2009 (Sunday)


Love should come from within, not enforced from the outside. Love must be spontaneous. The attitude of petitioning God for favours should be given up. Love of God should not be based on seeking favours in exchange for prayers and offerings to God. Love is the most important element. Through love alone can you unify the world. It is the absence of love that is the cause of hatred. It is this hatred that undermines human nature.

Kasih seharusnya datang dari dalam diri, bukan dari luar. Kasih harus spontan. Perilaku selalu memohon kebaikan dari Tuhan seharusnyalah ditiadakan. Kasih pada Tuhan seharusnya tidak didasarkan pada apa yang engkau dapat sebagai hasil dari doa-doa dan persembahan kepada Tuhan. Kasih adalah elemen yang paling penting. Melalui kasih itu sendiri engkau dapat mempersatukan dunia. Ketiadaan kasih menyebabkan kebencian. Kebencian ini dapat merusak sifat manusia

-BABA

Saturday, June 6, 2009

Thought for the Day - 6th June 2009 (Saturday)


Dhrishti (sight) decides attachment, sorrow, passion, etc. You are the noblest being ever created, and so, you have to develop the vision that sees no high or low, that sees all as suffused with divinity, and therefore, not different from one another. Adi Shankara declared, "Make your Dhrishti charged with Jnana (wisdom); then, the seen will appear in its true light as Brahman". The God in you is in each of them, too. Do not imagine the others to be distinct, they are only you, in so many different forms. The world is filled with your kith and kin; all are sparks from the same flame.

Dhristi (penglihatan) menentukan keterikatan, kesedihan, hawa nafsu, dll. Engkau adalah mahluk paling mulia yang pernah diciptakan, dengan demikian, engkau seharusnya mengembangkan pandangan tidak ada perbedaan dimana-mana, melihat segalanya diliputi oleh Ketuhanan, dan oleh karena itu, tidak ada perbedaan satu dengan yang lainnya. Adi Shankara menyatakan,”Buatlah Dhrishtimu diisi dengan Jnana (kebijaksanaan); kemudian, yang terlihat akan muncul dalam kebenaran yang bercahaya sebagai Brahman”. Tuhan yang juga berada di dalam setiap orang. Jangan membayangkan yang lainnya berbeda, mereka adalah engkau, dalam berbagai wujud yang berbeda. Dunia ini dipenuhi dengan teman dan kaum kerabat; semuanya merupakan percikan dari api yang sama.

-BABA

Friday, June 5, 2009

Thought for the Day - 5th June 2009 (Friday)


Brahman is the immovable Totality, the Eternal, the True, the Pure and the Attributeless. Just as the road, though itself stationary, enables the car to move over it, the Brahman principle is the basis for the existence and activities of Jivis (individual beings). In fact, there is only One that appears as two. Look outward, it is Jivi; look inward, it is God. The outer vision makes you forget; the inner makes you remember. When man seeks to rise to the divinity which is his reality, he struggles to recollect and experience his true nature. When he grovels in the lower levels of consciousness and is enmeshed in the world, he is caught in the coils of forgetfulness. Removing selfish desires and expanding one's urge to love and serve is the most effective way to merge in the Supreme Consciousness.

Brahman itu tidak Bergerak, Abadi, Benar, Murni, dan tanpa Atribut. Sama seperti sebuah jalan, meskipun tidak dapat bergerak dengan sendirinya, jalan ini memungkinkan mobil bergerak melewatinya, prinsip Brahman adalah dasar untuk keberadaan dan aktivitas dari Jivi (mahluk individu). Dalam kenyataannya, hanya ada satu yang muncul sebagai dua. Lihatlah diluar dirimu, itu adalah Jivi; lihatlah dalam dirimu, itu adalah Tuhan. Pandangan seperti ini membuatmu lupa, batinmulah yang membuatmu ingat. Ketika manusia berusaha bangkit menuju sifat Ketuhanan yang merupakan sifat sejatinya, manusia berjuang untuk mengingat kembali dan mengalami kebenaran sejatinya. Ketika manusia merendahkan dirinya pada tingkat yang lebih rendah dari kesadarannya dan terperangkap dalam keduniawian, maka dia menjadi lupa tentang siapa dia yang sebenarnya.Menghilangkan keinginan-keinginan yang mementingkan diri sendiri dan mengembangkan keinginan untuk mengasihi dan melayani merupakan cara yang paling efektif untuk menyatu dengan Kesadaran Tertinggi.

-BABA

Thursday, June 4, 2009

Thought for the Day - 4th June 2009 (Thursday)


When you perform any action, you seldom think about the long-term consequences. You are preoccupied with the concerns of the moment. But when you are finally confronted with the results, you become frightened. Whether the results are pleasant or unpleasant, they are inescapable. If sugar is dissolved in water, even if you think it is poison, it will only do you good. But if poison is added to water and you drink it, thinking that it is sugarcane juice, it will be fatal. The results are based on your actions and not on your fancies.

Ketika engkau melaksanakan setiap tindakan, engkau jarang berpikir tentang konsekuensi-konsekuensi jangka panjang dari tindakan tersebut. Engkau asyik dengan perhatian yang sesaat. Tetapi ketika akhirnya engkau berhadapan dengan akibatnya, engkau menjadi takut. Apakah akibatnya tersebut menyenangkan atau tidak menyenangkan, hal itu tidak dapat dielakkan. Jika gula dilarutkan dalam air, sekalipun jika engkau berpikir air gula tersebut racun, maka itu akan tetap menjadi baik untukmu. Tetapi jika racun ditambahkan dalam air dan engkau meminumnya, berpikir bahwa hal tersebut adalah air gula, maka akibatnya akan fatal. Hasil didasarkan pada tindakan-tindakanmu dan bukan pada khayalanmu.

 

-BABA

Thought for the Day - 3rd June 2009


Why does man wail when he arrives into the world, whimper throughout his life and groan out, into the beyond, lamenting that his sojourn here was a waste of years? Man does so, because he is unaware of his glory, of his high destiny! He is the Divine poured into the human mould. It is the privilege of man alone, to be able to become aware of this precious truth! This is the message of the Upanishads to man, echoed in scriptures, and in the declarations of countless saints. Yet, man turns a deaf ear to it, perhaps, due to his own misfortune created by his own misdeeds in past lives. What an inexhaustible source of bliss lies within you! You only have to develop the mind that will respond to the call, that will recognise the Truth.

Mengapa manusia meratap ketika ia lahir di dunia, merengek selama hidupnya dan mengeluhkan hal-hal yang tidak berguna, menyesal dan menganggap persinggahan di dunia merupakan hal yang sia-sia? Manusia berbuat seperti ini, karena ia tidak menyadari keutamaannya, tidak sadar akan takdir mulianya! Manusia adalah unsur-unsur Tuhan yang tertuang dalam bentuk manusia. Merupakan sebuah perjalanan suci dari manusia itu sendiri untuk menyadari kebenaran yang sangat berharga ini. Ini adalah pesan dari Upanishad yang digaungkan oleh kitab-kitab suci, yang di deklarasikan oleh orang-orang suci yang tidak terhitung banyaknya. Namun manusia tidak menghiraukannya, mungkin ini merupakan kemalangan oleh tingkah laku mereka sendiri yang tidak benar yang telah dilakukan di kehidupannya yang lalu. Sadarilah bahwa terdapat sumber abadi yang tiada habis dalam dirimu. Engkau hanya perlu untuk mengembangkan kesadaran untuk menindaklanjuti panggilan ini, kesadaran untuk mengenali kebenaran ini.

 

-BABA