Monday, August 31, 2009

Thought for the Day - 31st August 2009 (Monday)


As a preliminary to Seva (selfless service) you have to attain purity of heart. You must examine your motives and skills, your intentions and qualifications, and discover for yourself what you hope to achieve through Seva. You should ferret out any trace of egoism, and also the desire for fame. You have to get rid of all sense of mine and thine and burn to ashes the pride that comes from the feeling that you are offering service to someone poorer and less fortunate. Give up pride of status, wealth, scholarship and position, and practise humility, obedience, discipline and compassion.

Sebagai langkah awal untuk melakukan Seva (pelayanan tanpa pamrih), engkau harus memurnikan hatimu terlebih dahulu. Engkau harus mempelajari motifmu melakukan seva dan kemampuanmu, tujuanmu melakukan seva serta kualifikasi (kecakapan) yang engkau miliki, dan temukan sendiri apa yang engkau harapkan untuk dicapai melalui Seva. Engkau seharusnya menghapus setiap jejak egoisme, dan juga keinginan untuk kemasyuran. Engkau harus menyingkirkan semua perasaan “milikku” dan “kepunyaanmu” dan membakar kebanggaanmu menjadi abu yang berasal dari perasaan bahwa engkau memberikan pelayanan kepada orang miskin dan orang yang kurang beruntung. Serahkanlah kebanggaan, kekayaan, kesarjanaan dan jabatan ini, dan sebagai gantinya, praktekkanlah sifat rendah hati, ketaatan, disiplin dan kasih sayang.

-BABA

Sunday, August 30, 2009

Thought for the Day - 30th August 2009 (Sunday)


Giving up narrow ideas and feelings, people should show compassion towards their fellow-beings. Compassion is the hallmark of Bhakthi (devotion). No one can hope to please God without showing Daya (compassion) towards his fellow-men. A loving heart is the temple of God. God cannot dwell in a heart without compassion. There is nothing greater in the world than Prema-drishti (vision imbued with universal love). They alone are good who see the unity in the apparent diversity. Men have to realize that they are sparks of the Divine. They have to develop sacred thoughts and lead ideal lives. They must seek to promote the welfare of society.

Serahkan gagasan-gagasan dan perasaan yang sempit, orang-orang haruslah menunjukkan kasih kepada sesamanya. Kasih adalah tanda Bhakti (devotion). Siapapun juga tidak dapat berharap menyenangkan Tuhan tanpa menunjukkan Daya (Kasih) kepada sesamanya. Hati yang dipenuhi kasih adalah kuil Tuhan. Tuhan tidak bisa menghuni hati yang kering kasih sayang. Tiada sesuatupun di dunia ini yang lebih agung daripada Prema drishti (pandangan penuh kasih universal). Mereka dengan sifat seperti itu sudah baik; yang melihat kesatuan dalam keberagaman Manusia harus menyadari bahwa mereka adalah percikan Tuhan. Mereka harus mengembangkan pikiran suci dan menjalankan hidup yang ideal. Mereka harus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

-BABA

Thought for the Day - 29th August 2009 (Saturday)


Without unwavering faith in an all-knowing God, life becomes dry and drab, darkened by the ever-present shadow of despair and doom. Love for God and fear of sin are the two primary needs for a happy life. Without these two, man becomes a monster. Man must be ever ready to sacrifice his selfish needs for the sake of the larger community. There is nothing as glorious as renunciation. Be honest, be detached, and with God installed in your heart march forward to offer your talents and skills in discharging your duties. Do not strive for your happiness alone, but strive for the happiness of all.

Tanpa keyakinan yang teguh kepada Tuhan, hidup menjadi kering dan membosankan, digelapkan oleh bayangan keputusasaan dan malapetaka yang tidak berkesudahan. Cintai Tuhan dan takut berbuat dosa adalah dua hal utama yang diperlukan untuk hidup yang bahagia. Tanpa kedua hal ini, manusia diibaratkan menjadi monster. Manusia haruslah siap mengorbankan egonya demi kepentingan orang banyak. Tiada yang lebih mulia daripada tidak mementingkan diri sendiri. Jujurlah, lepaskan kemelekatan dan bersama Tuhan hidupkan dan gerakkan hatimu untuk mengabdikan bakat dan kemampuanmu dalam melaksanakan tugas-tugasmu. Jangan hanya berjuang untuk kebahagiaanmu sendiri tapi berjuanglah juga untuk kebahagiaan semuanya.

-BABA

Friday, August 28, 2009

Thought for the Day - 28th August 2009 (Friday)


Every object in creation has five aspects, namely, Sath, Chith, Ananda, Rupa and Nama, consciousness, bliss, form and name). The first three are eternal principles, whereas name and form are ephemeral. Sath, Chith and Ananda are the basis for name and form. People attribute various names and forms to God on the basis of their own feelings. They forget the three main principles of Sath, Chith and Ananda, and assume name and form to be the sole reality. In reality, name and form are not permanent. But people are overwhelmed by name and form, and ignore the eternal principles of Sath, Chith and Ananda. Consequently, they are deluded and tend to forget the mighty power of God behind the name and form.

Setiap objek dalam ciptaan memiliki 5 aspek yakni Sath, Cith, Ananda, Rupa, dan Nama (kehidupan, kesadaran, kebahagiaan, wujud dan nama). Tiga aspek pertama adalah prinsip yang kekal, sedangkan nama dan wujud bersifat sementara. Sath, Cith, dan Ananda adalah dasar dari nama dan wujud. Orang –orang menghubungkan berbagai nama dan wujud Tuhan berdasarkan pada perasaan mereka. Mereka lupa tiga prinsip utama dari Sath, Chith dan Ananda, dan menganggap nama dan wujud sebagai satu-satunya realitas. Pada kenyataannya, nama dan wujud tidaklah abadi. Tetapi orang-orang terlena akan nama dan wujud, dan mengabaikan prinsip kekal dari Sath, Cith, dan Ananda. Karena itulah, mereka disulap dan cenderung untuk melupakan kekuatan luar biasa Tuhan dibalik nama dan wujud.

-BABA

Thought for the Day - 27th August 2009 (Thursday)


Spiritual love has to be distinguished from love or attachment related to the body, the mind or the intellect. The latter are related to the world and are a source of sorrow. True love is pure, selfless, free from ego and is full of bliss. Worldly attachments are not real love at all. They are transient, whereas the everlasting, pure love arises from the heart. How is it that man is unable to recognise this all-pervading love? It is because man's heart has become barren and polluted. The heart is filled with all kinds of desires and there is no room in it for pure, unsullied love to enter. It is only when worldly attachments are expelled from the heart that there will be room for true love to abide in it and to grow.

Cinta-kasih spiritual harus dibedakan dari cinta-kasih atau keterikatan yang berkaitan dengan badan, pikiran atau intelek. Hal tersebut berkaitan dengan dunia dan merupakan sumber dari kesedihan. Kasih sejati itu murni, tidak mementingkan diri sendiri, bebas dari ego dan penuh dengan kebahagiaan. Keterikatan terhadap dunia ini bukanlah kasih sejati. Ia bersifat sementara, sedangkan kasih yang murni yang muncul dari hati itulah yang abadi. Bagaimana mungkin manusia tidak mampu menyadari kasih yang meliputi segalanya ini? Hal itu disebabkan karena hati manusia telah kering dan tercemar. Hati dipenuhi dengan berbagai jenis keinginan dan tidak ada ruang didalamnya untuk kemurnian, sehingga kasih yang tercemar memasuki hati. Hanya ketika keterikatan terhadap duniawi tersebut dikeluarkan dari hati maka akan ada ruang untuk kasih sejati untuk bersemayam di dalamnya dan berkembang.

-BABA

Thursday, August 27, 2009

Thought for the Day - 26th August 2009 (Wednesday)


Education must lead to illumination; the darkness of ignorance and the dusk of doubt will flee before that splendour. Then it is easy to cultivate good thoughts and feelings in the heart thus illumined. Education does not end with the accumulation of information; it must result in transformation of the habits, character and aspirations of the individual. Knowledge has to be tested in daily life. Now, man has no inkling of the most precious heritage that he has within him. He is interested in everyone except his own self. If only he becomes aware of his self, he can have vast strength, abiding peace and great joy added unto himself.

Pendidikan harus menuntun kita ke arah pencerahan yang melenyapkan segala bentuk kebodohan dan keraguan. Setelah itu, pikiran dan perasaan yang baik akan berkembang. Hasil akhir dari pendidikan bukanlah pengetahuan, akan tetapi harus ada perubahan pada sikap, karakter dan tujuan hidup dari setiap individu. Ilmu pengetahuan harus dapat berguna pada kehidupan sehari-hari. Saat ini manusia tidak menyadari sesuatu yang berharga yang dia miliki di dalam dirinya. Manusia lebih tertarik dengan yang ada di luar dirinya . Jika manusia menyadari tentang dirinya yang sejati, dia akan memiliki kekuatan yang luar biasa, selain kedamaian dan kebahagiaan yang berkembang di dalam dirinya.

-BABA

Tuesday, August 25, 2009

Thought for the Day - 25th August 2009 (Tuesday)


Without the sanction of the Lord, man cannot achieve anything in the world. The Divine is the basis for everything. Man, however, is filled with conceit that he is the one who is doing everything. This pride is the cause of his ruin. It is the cause of his frustration and disappointment. Man today is basing his life on nature and is hence forgetting God. This is a grievous mistake. You must place your faith in God, the Creator of the universe, and then enjoy what nature provides. Faith in God is the primary requisite for man.

Tanpa kehendak Tuhan, manusia tidak dapat mencapai apapun di dunia ini. Tuhan adalah sumber dari segalanya. Karena kesombongannya, manusia merasa bahwa dirinyalah sebagai pelaku. Kesombongan ini merupakan penyebab kehancurannya. Hal ini merupakan penyebab dari kegagalan dan ketidakpuasan yang dialami manusia. Saat ini manusia mendasarkan hidupnya pada dunia dan karenanya melupakan Tuhan. Hal ini adalah kekeliruan besar. Engkau harus percaya sepenuhnya pada Tuhan, pencipta alam semesta ini, dan selanjutnya menikmati apa yang diberikan alam ini. Kepercayaan kepada Tuhan adalah syarat utama bagi manusia.

-BABA

Monday, August 24, 2009

Thought for the Day - 24th August 2009 (Monday)


We become what we contemplate. By constant thought an ideal gets imprinted on our heart. When we fix our thoughts all the time on the evil that others do, our mind gets polluted by the evil. When, on the contrary, we fix our mind on the virtues or well-being of others, our mind is cleansed of wrong and entertains only good thoughts. No evil thought can penetrate the mind of a person wholly given to love and compassion. The thoughts we indulge in shape our nature; along with others, they affect us too.

Kita adalah apa yang kita pikirkan. Perlahan tapi pasti pikiran yang baik akan berbekas di hati. Jika kita selalu tertuju pada sesuatu yang tidak baik, maka pikiran kita akan menjadi buruk. Dilain pihak, jika kita selalu tertuju pada kebajikan, maka pikiran kita akan menjadi jernih dan hanya terdapat yang baik saja. Orang yang penuh dengan cinta kasih dan penyabar tidak akan pernah berpikir buruk. Setiap pikiran yang kita pikirkan akan mempengaruhi kita secara langsung.

-BABA

Sunday, August 23, 2009

Thought for the Day - 23rd August 2009 (Sunday)


What is the inner significance of worshipping the elephant-faced deity Ganesha? The elephant is a symbol of might and magnitude. The elephant's foot is larger than that of any other animal. The elephant can make its way through the densest jungle. In this way, it signifies the quality of a leader who shows the way for others. The elephant is also known for its faithfulness and gratitude. These are the lessons man should learn from the elephant. Intelligence without gratitude is valueless. Every man should be grateful to those who have helped him.

Apa makna dari pemujaan terhadap Dewa bermuka gajah, Ganesha? Gajah merupakan simbol kekuatan dan kebesaran. Gajah mempunyai kaki yang lebih besar dibandingkan dengan hewan-hewan lainnya. Gajah juga dapat membuat jalan melewati hutan yang lebat. Dengan cara ini, menandakan kualitas dari seorang pemimpin yang menunjukkan jalan bagi yang lainnya. Gajah juga dikenal dengan kesetiaan dan rasa terima kasihnya. Hal ini merupakan sebuah pelajaran kepada manusia yang harus mengambil pelajaran dari gajah. Kecerdasan tidak akan bermakna tanpa rasa terima kasih. Setiap manusia seharusnya berterima kasih kepada mereka yang telah membantunya.

-BABA

Saturday, August 22, 2009

Thought for the Day - 22nd August 2009 (Saturday)


The entire universe has been created out of the Will of God. God creates the universe and sustains it. The universe ultimately merges in God, the source of its origin. The universe is known as Vishwam. The correct meaning of Vishwam is that which is self-expansive and full of bliss. Vishwam is not merely a manifestation of physical matter; it is a direct manifestation of God. It is the very embodiment of the Cosmic Personality, with all His limbs. God is the primal cause behind the universe. The universe is the reflection of God. Vishwam and Vishnu (God) are not different from each other. This can be understood only through Viveka (discrimination).

Seluruh alam semesta ini telah diciptakan sepenuhnya atas kehendak Tuhan. Tuhan menciptakan alam semesta dan menyediakan segala yang diperlukan untuk keberlangsungannya. Pada akhirnya, alam semesta akan menyatu dengan Tuhan yang merupakan sumber dari segalanya. Alam Semesta sendiri dikenal sebagai Vishwam. Vishwam berarti sesuatu yang dapat mengembangkan diri dan penuh dengan berkah.Vishwam bukan hanya manifestasi dari benda fisik, akan tetapi ia adalah manifestasi dari Tuhan itu sendiri. Ini adalah perwujudan Tuhan dengan seluruh kuasanya. Tuhan adalah pencipta alam semesta ini. Alam Semesta sendiri merupakan refleksi dari Tuhan. Vishwam dan Vishnu adalah sama. Hal ini dapat dipahami hanya melalui Viveka (kemampuan membedakan).

-BABA

Friday, August 21, 2009

Thought for the Day - 21st August 2009 (Friday)


Peace cannot be found in the external world but within oneself. One should realize that the whole universe is pervaded by the Divine. Today the world is filled with strife. It is not possible to make a distinction between a human being and a demon. Man, who evolved from the animal, instead of proceeding towards Divinity, is regressing to animality. Man's primary duty is to uphold the human values of Truth, Righteousness, Peace and Love. However, man today is enveloped in attachment and hatred. The moment he casts them off, he will realize his divinity.

Kedamaian hanya dapat ditemukan di dalam diri sendiri, bukan di luar. Seseorang seharusnya menyadari bahwa seluruh alam semesta diliputi oleh Tuhan. Saat ini dunia ini dipenuhi dengan perselisihan. Hal ini menyulitkan kita untuk membedakan antara manusia dan iblis. Manusia yang mengabaikan nilai-nilai ketuhanan, pasti akan menurun menjadi bersifat binatang. Kewajiban utama manusia adalah untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, kedamaian dan cinta kasih. Namun manusia saat ini dipenuhi dengan keterikatan dan kebencian. Pada saat manusia menyingkirkan sifat-sifat tersebut, manusia dapat menyadari keilahian-Nya.

-BABA

Thursday, August 20, 2009

Thought for the Day - 20th August 2009 (Thursday)


It is attachment to property or position born out of a sense of possessiveness that is the cause of man's sorrow and unhappiness. Man must strive to get rid of this feeling of "I" and "mine" in order to experience enduring happiness. When everything appears to be going well, man forgets everything including himself. His ego gets inflated as a result of his achievements and acquisitions. He should realize that he is only a temporary beneficiary of what he possesses and has no permanent title to them. He should regard power or position as a moral responsibility carrying the obligation to discharge the duties relating to it. It is only when all actions are done in this spirit of moral imperative that man can experience genuine happiness and satisfaction.

Keterikatan pada harta atau tempat lahir karena keinginan yang amat besar untuk memiliki sesuatu itulah yang menyebabkan manusia mengalami kesedihan dan ketidakbahagiaan. Manusia harus berusaha keras untuk menghilangkan perasaan “Aku” dan “kepunyaanku” agar supaya mengalami kebahagiaan abadi. Ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik, manusia melupakan semuanya termasuk dirinya sendiri. Egonya meningkat sebagai hasil dari keberhasilannya dan sesuatu yang dicapainya. Manusia seharusnya menyadari bahwa ia hanyalah ahli waris sementara dari apa yang ia miliki dan tidak memiliki sebutan permanen untuk hal tersebut. Ia seharusnya menganggap kekuasaan atau jabatan sebagai tanggung jawab moral untuk melaksanakan tugasnya yang berkaitan dengan hal tersebut. Hanya ketika semua tindakan ini dilakukan dengan semangat moral, maka manusia dapat merasakan kebahagiaan dan kepuasaan sejati

-BABA

Wednesday, August 19, 2009

Thought for the Day - 19th August 2009 (Wednesday)


Self-realization should be the goal of human existence. It has to be reached through three stages: Self-confidence, self-satisfaction and self-sacrifice. Man should regard himself as the master of the body, the senses and the mind. He has to use the intellect to experience his oneness with the divine, the cosmic all-pervading consciousness. The flame of Prajnana (constant integrated awareness) which is in everyone is covered by the ash of worldly desires. When the ash is blown off, the fire of Brahman (Absolute Divinity) reveals itself in all its glory.

Realisasi diri seharusnya menjadi tujuan dari keberadaan manusia. Hal tersebut harus dicapai melalui tiga tahapan, yaitu: percaya terhadap diri sendiri, perasaan puas terhadap diri sendiri, mengorbankan kepentingan diri sendiri. Manusia seharusnya menganggap dirinya sebagai penguasa dari badan, indera dan pikirannya. Manusia harus menggunakan akal budinya untuk memperoleh pengalaman tentang keesaan Tuhan, kesadarn yang meliputi seluruh alam semesta. Cahaya dari Prajnana yang ada pada setiap orang ditutupi oleh debu dari keinginan-keinginan duniawi. Ketika debu itu telah ditiup, api dari Brahman (Tuhan) menunjukkan dirinya dalam semua kemuliaan-Nya.

-BABA

Tuesday, August 18, 2009

Thought for the Day - 18th August 2009 (Tuesday)


Vedanta (Vedic philosophy) declares: "Brahman is Sathya (Truth); the Cosmos is Mithya (illusory)". Your primary concern must be to understand whether you are real or unreal or what in you is real and what is unreal. It is only when you have recognised the truth of your own being that you can recognise the world as illusory and your own self as the only reality. The realized person asserts: "I am Brahman". Wherefrom has this statement emanated? What does it mean? It is a spontaneous expression and not the result of a thought or feeling. The "I" is boundless Infinite. When the finite individual merges in the Infinite "I", the "I" alone remains.

Vedanta (filsafat Veda) menyatakan: “ Brahman adalah Sathya (Kebenaran); alam semesta adalah Mithya (khayal)”. Perhatianmu yang utama seharusnya ditujukan untuk memahami apakah engkau nyata atau khayal atau apa yang nyata di dalam dirimu dan apa yang khayal. Hanya ketika engkau telah menyadari kebenaran dari dirimu sendiri bahwa engkau dapat menyadari dunia ini sebagai khayal dan hanya dirimu sendirilah yang nyata. Orang yang menyadari hal ini menegaskan: “Aku adalah Brahman”. Darimana pernyataan ini berasal? Apa artinya? Ini merupakan ekspresi spontan dan bukan hasil dari pikiran atau perasaan. Sang “Aku” sejati bersifat tidak terbatas. Ketika individu yang terbatas menyatu dengan sang “Aku” yang tidak terbatas maka yang tersisa dari penyatuan ini – hanyalah sang “Aku”.

-BABA

Monday, August 17, 2009

Thought for the day - 17th August 2009 (Monday)


All that one sees in the entire universe is a manifestation of Brahman (Godhead). Some people ask: "How can we petty human beings be equal to the all encompassing Brahman?" This is not correct. You are that omnipotent, all-pervading Brahman. Due to your worldly attitude, you are not recognising the Reality. You are separating yourself from the Divine. All that you see is Brahman. To search for God as something different from you is a mistake. But this truth is not easily recognised by man. When you look at the ocean, its endless series of waves and the frothing foam on the waves, they all appear separate from each other. But the truth is they are all one. The water in the waves and in the foam comes from the same ocean and has the same qualities as the ocean.

Segala yang terlihat di seluruh alam semesta merupakan manifestasi dari Brahman (Tuhan). Beberapa orang bertanya: “Bagaimana mungkin kita manusia yang kecil ini dapat menyamai Brahman?” Hal ini tidaklah benar. Engkau adalah maha kuasa, meliputi seluruh Brahman. Karena sikap duniawi mu, engkau tidak menyadari Realitas ini. Engkau memisahkan dirimu dari Tuhan. Semua yang engkau lihat adalah Brahman. Untuk mencari Tuhan sebagai sesuatu yang berbeda darimu adalah keliru. Tetapi kebenaran ini tidak mudah disadari oleh manusia. Ketika engkau memperhatikan laut, engkau akan melihat rangkaian gelombang dan buih/ busa pada gelombang tak henti-hentinya, semuanya muncul terpisah satu sama lainnya. Tetapi kebenarannya mereka semuanya adalah satu. Air dalam gelombang laut dan buih/ busa dari laut yang sama mempunyai kualitas yang sama seperti lautan.

-BABA

Sunday, August 16, 2009

Thought for the Day - 16th August 2009 (Sunday)


All men in all countries are pilgrims proceeding along the path to God. The progress of each is decided by the discipline adopted, the character formed, the ideal kept in view, the leadership chosen and the faith implanted. Just as trees and plants, birds and beasts differ from one region to another, the rituals, practices, disciplines and ideals may differ from community to community; each is good for that region and that stage of development. You cannot transplant one, from one human community to another. The atmosphere in which you have grown up is the most congenial for you.

Semua orang di seluruh negeri adalah peziarah di sepanjang jalan menuju Tuhan. Kemajuan dari masing-masing peziarah ini ditentukan oleh disiplin yang dijalankan, karakter yang terbentuk, cita-cita yang dituju, kepemimpinan yang dipilih, dan keyakinan yang ditanamkan. Seperti halnya pepohonan dan tanaman, burung-burung dan binatang-binatang dari satu daerah berbeda dengan daerah yang lain, ritual, latihan-latihan, disiplin dan idealisme mungkin berbeda dari suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya; masing-masing baik untuk daerah tersebut dengan tahap perkembangannya. Engkau tidak dapat mengambil salah satunya dari satu kehidupan masyarakat untuk masyarakat yang lainnya. Lingkungan dimana engkau tumbuh adalah yang paling cocok untukmu.

Saturday, August 15, 2009

Thought for the Day - 15th August 2009 (Saturday)


Man should strive to become good and virtuous. Only when a man is filled with good thoughts and feelings, and performs good deeds will his life become meaningful. You have to busy yourselves with activity in order to use your time and skill to the best advantage. That is your duty, and duty is God. Every man should recognise that the body has been given to him to render service to others. One must use the body for promoting the welfare of society. A mind that is not utilized for imparting joy to others or a body that is not used in service of others is totally useless. The way to love God is to love all and serve all.

Manusia seharusnya berusaha untuk menjadi baik dan berbudi luhur. Hanya ketika seorang manusia dipenuhi dengan pikiran dan perasaan yang baik, serta melakukan perbuatan baik maka hidupnya menjadi bermakna. Engkau harus menyibukkan dirimu dengan kegiatan agar supaya menggunakan waktu dan kemampuanmu dalam kesempatan yang terbaik. Ini adalah kewajibanmu, dan kewajiban adalah Tuhan. Setiap manusia seharusnya menyadari bahwa badan telah diberikan kepadanya untuk melayani orang lain. Seseorang harus menggunakan badannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pikiran yang tidak digunakan untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain atau badan yang tidak dipergunakan untuk melayani orang lain benar-benar tidak berguna. Cara untuk mengasihi Tuhan adalah mengasihi semua dan melayani semua.

-BABA

Friday, August 14, 2009

Thought for the Day - 14th August 2009 (Friday)


When Sri Krishna was being weighed in a balance, all the jewels of Sathyabhama could not balance His weight. Rukmini then came and declared that the mere chanting of the name of Krishna would be equal to His weight. By the weight of an additional offering of a leaf, a flower or a little water, the scales will be tilted against Krishna. So saying she placed a Tulasi (Basil) leaf on the scale. And lo! It went down. Such is the power of the Lord's name and a love-filled offering to the Lord. The Lord is not swayed by wealth or scholarship, power or position. Love alone can move Him.

Ketika Shri Krishna menimbang berat badan-Nya dengan berat semua perhiasan Sathyabama, ternyata seberapapun perhiasan Sathyabama tidak mampu membuat timbangan seimbang dan menyamai berat badan Shri Khrisna. Kemudian datanglah Rukmini, Beliau mengatakan bahwa hanya dengan menyanyikan Nama Shri Krishna tidaklah akan mampu menyamai berat-Nya. Dengan menambahkan persembahan selembar daun, setangkai bunga atau setetes air, maka timbangan akan menjadi lebih seimbang. Setelah itu Rukmini menambahkan selembar daun Tulasi pada timbangan yang berisi perhiasan Sathyabhama. Dan lho! Timbangan itu turun. Demikianlah kekuatan dari nama Tuhan dan persembahan penuh kasih kepada Tuhan. Tuhan tidak dipengaruhi oleh kekayaan atau kesarjanaan, kekuasaan atau jabatan. Kasih itu sendiri dapat menuju Tuhan.

-BABA

Thursday, August 13, 2009

Thought for the Day - 13th August 2009 (Thursday)


The Lord declared in the Bhagavath Gita, "Whenever there is decline of Dharma, and Adharma raises its hood, I incarnate Myself". Sathya (Truth) and Dharma (Righteousness) are eternal. They remain unchanged through all the three periods of time – past, present and future. It may be asked: What is the need to propagate ideals that are eternal? When righteousness is not practiced, it appears as if it has decayed. But Dharma cannot decay or disappear, it is imperishable. It is the practice of righteousness that declines, not righteousness itself. It is like the sun being covered by a cloud. The sun is not apparently visible. But it is always there and shines brightly again when the cloud moves away.

Tuhan menyatakan dalam Bhagavath Gita,”Bilamana terjadi kemerosotan Dharma, dan Adharma merajalela, Aku sendiri akan menjelma”. Sathya (Kebenaran) dan Dharma (Kebajikan) adalah abadi. Hal tersebut tidak akan berubah – dulu, sekarang, dan nanti. Mungkin dipertanyakan: apa yang diperlukan untuk mengembangkan teladan ini terus-menerus? Ketika kebajikan tidak dipraktekkan, tampak seolah-olah Dharma telah hancur. Tetapi Dharma tidak dapat hancur atau hilang, Dharma itu abadi. Praktek kebajikanlah yang menyimpang, bukan kebajikan itu sendiri. Diibaratkan seperti matahari yang diselimuti oleh awan. Matahari tidak memperlihatkan rupanya. Tetapi matahari selalu ada dan bersinar terang kembali ketika awan bergerak menjauh.

-BABA

Wednesday, August 12, 2009

Thought for the Day - 12th August 2009 (Wednesday)


The sanctification of the five senses is the way to Truth. If the senses are polluted, of what avail are spiritual exercises? When the water in a tank is polluted, all taps will give only polluted water. Your heart is the tank. When the heart is polluted, the senses are bound to be sullied. When the heart is filled with good thoughts and feelings, all that comes out of the senses - your speech, your vision, your actions - will be pure. The secret of spiritual wisdom is not to be got from scholars or by study. Spiritual understanding can only come from mastery of the senses.

Penyucian panca indera merupakan cara untuk menuju Kebenaran. Ketika indera tercemar, apa manfaat dari latihan spiritual? Sama halnya ketika air dalam tangki tercemar, semua keran hanya akan mengalirkan air yang tercemar pula. Hatimu adalah tangki air tersebut. Ketika hati tercemar, indera juga tercemar. Ketika hati diisi dengan pikiran dan perasaan yang baik, semua yang keluar dari indera – cara bicara, pandangan, dan tindakan yang engkau lakukan – akan murni. Rahasia kebijaksanaan spiritual tidak didapatkan dari kesarjanaan atau dengan pendidikan. Pemahaman spiritual hanya didapat dengan penguasaan indera.

-BABA

Tuesday, August 11, 2009

Thought for the Day - 11th August 2009 (Tuesday)


Deha Vasana (attachment to the body) impels one to seek physical strength and health and an attractive physique. All the efforts to make up one's face will not serve to alter its natural features. Only that which has been given by the Lord will be enduring. You must be content with that. While taking as much care of the body as is essential, you should not have excessive attachment to that which is inherently perishable and temporary. The body must be taken care of only for realizing the Divinity within. It is no doubt necessary to maintain good health as long as one lives, but obsessive concern for the body is misconceived.

Deha Vasana (keterikatan terhadap badan) mendorong seseorang untuk memperoleh kekuatan fisik dan kesehatan serta bentuk badan yang menarik. Segala usaha untuk merias wajah seseorang tidak akan membantu mengubah wajah aslinya. Hanya apa yang telah diberikan oleh Tuhan akan kekal. Engkau harus puas dengan hal tersebut. Walaupun melakukan perawatan terhadap badan adalah penting, engkau seharusnya jangan berlebihan terhadap keterikatan yang fana dan sementara ini. Badan harus dirawat hanya untuk mewujudkan keilahian di dalamnya. Tidak perlu keraguan untuk memelihara kesehatan semasa hidup, tetapi perhatian yang berlebihan terhadap badan adalah keliru.

-BABA

Monday, August 10, 2009

Thought for the Day - 10th August 2009 (Monday)


When the obstacles in the path of truth are laid low, deliverance is achieved. That is why Moksha (liberation) is something that can be won, here and now; one need not wait for the dissolution of the physical body for that. Action must not be felt as a burden, for that feeling is a sure sign that the particular action is ill-advised. No deed that helps your progress will weigh heavily on you. It is only when you go counter to your innermost nature that you feel it a burden. A time comes when you look back on your achievement and sigh at the futility of it all. Entrust your mind to the Lord, before it is too late, and let Him shape it as He thinks best.

Ketika halangan dan rintangan di jalan musnah, maka akan dicapai pembebasan. Itulah mengapa Moksha (pembebasan) merupakan sesuatu yang harus dicapai, disini dan sekarang; seseorang tidak perlu menunggu kematian untuk hal ini. Perbuatan mestinya jangan dirasakan sebagai suatu beban, karena perasaan tersebut adalah tanda pasti bahwa perbuatan itu keliru. Tidak ada perbuatan berat yang membantu kemajuanmu. Hanya ketika engkau bertentangan dengan sifat batinmu, engkau akan merasakannya sebagai beban. Ketika waktunya tiba engkau melihat kembali keberhasilanmu dan menyesali kegagalan dari semuanya. Serahkan pikiranmu kepada Tuhan, sebelum itu terlambat, dan biarlah Beliau menentukan hasil yang terbaik.

-BABA

Sunday, August 9, 2009

Thought for the Day - 9th August 2009 (Sunday)


To be established in Dhyana (meditation), a spiritual aspirant should control his senses and passions, and perform action without any desire for the fruit of the action. Whoever is adept in this can easily see with the mind's eye the form of Brahman (Divinity) as soon as he hears the exposition of its nature. When Vairagya (detachment) is rooted deep, the heart becomes pure and withdrawal of the senses from the objective world becomes possible.

Untuk tetap mantap dalam Dhyana (meditasi), seorang peminat spiritual seharusnya mengendalikan indera dan nafsunya, serta melakukan kegiatan tanpa adanya keinginan akan buah dari tindakan itu. Bagi siapapun yang ahli dalam melakukan hal ini maka dia akan mampu melihat Brahman (Tuhan) dengan mata pikirannya segera setelah dia mengetahui kemuliaan-Nya. Ketika Vairagya (tanpa kelekatan) benar-benar menyatu dalam diri, maka hati kita menjadi murni dan memungkinkan untuk menarik semua indria dari dunia ini.

-BABA

Saturday, August 8, 2009

Thought for the Day - 8th August 2009 (Saturday)


There are different kinds of Jnana (knowledge). What is implied by the 'Jnana' is the knowledge of the Atma. It is not concerned with the physical, sensory or worldly knowledge. Atma Jnana (knowledge of the Atma) can be got only by enquiring into the nature of the Atma and not by any other means. It cannot be taught by preceptors or learnt by studying texts. It cannot be received from anyone or offered to anyone. It has to emerge from the inner consciousness. Preceptors and texts can only help to some extent. The aspirant who seeks Atma Jnana has to embark on self-enquiry to experience this Self-awareness. He should explore and investigate the whole gamut of spiritual experience and arrive at the Ultimate Reality.

Ada berbagai jenis Jnana (pengetahuan). Apa yang disiratkan oleh ‘Jnana’ adalah pengetahuan tentang Atma. Hal itu tidak berhubungan dengan fisik, inderawi atau pengetahuan duniawi. Atma Jnana (pengRata Penuhetahuan tentang Atma) hanya dapat diperoleh dengan penyelidikan sifat Atma dan bukan dengan cara lainnya. Hal ini tidak diperoleh dari pengajaran oleh seorang guru atau dipelajari dari naskah-naskah. Tidak dapat diterima dari siapapun atau diberikan kepada siapapun. Pengetahuan ini harus muncul dari kesadaran batin. Guru dan naskah-naskah hanya dapat membantu dengan batasan tertentu. Pencari spiritual yang mencari Atma Jnana (pengetahuan tentang Atma) harus memulai penyelidikan diri untuk mengalami kesadaran Atma. Dia seharusnya mencari dan menyelidiki keseluruhan dari semua pengalaman spiritual dan sampai pada tujuan akhir.

-BABA

Friday, August 7, 2009

Thought for the Day - 7th August 2009 (Friday)


Considering the material world as the only reality, man loses himself in the pursuit of material objects. But, if the truth about these material objects is fully explored, it will be found that they have no reality at all. They are temporary and ephemeral. They do not have the stamp of permanent reality. They do not confer enduring bliss. Every human being seeks to enjoy bliss. To realize everlasting bliss, man has to make the requisite effort. He should find out - "Who am I?" When he has found the answer to this question, there will be no need for him to understand what is Sath-Chith-Ananda (Being-Awareness-Bliss). He will realize that he is the very embodiment of Sath-Chith-Ananda.

Menganggap benda-benda duniawi sebagai satu-satunya yang nyata, manusia kehilangan dirinya dalam pencarian objek-objek duniawi. Tetapi, jika kebenaran tentang objek-objek duniawi ini sepenuhnya diselidiki, maka akan ditemukan bahwa hal tersebut tidak memiliki realitas sama sekali. Hal itu bersifat sementara dan tidak kekal. Objek-objek duniawi tersebut tidak mempunyai sifat yang kekal dan tidak menganugerahkan kebahagiaan abadi. Setiap manusia berusaha mencari kebahagiaan. Untuk mewujudkan kebahagiaan abadi, manusia harus melakukan upaya-upaya yang diperlukan. Manusia seharusnya mengetahui – “Siapa saya?” Ketika manusia telah menemukan jawaban atas pertanyaan ini, tidak ada keharusan untuk memahami apa itu Sath-Chith-Ananda (Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan). Dia akan menyadari bahwa dia juga perwujudan Sath-Chith-Ananda.

-BABA

Thursday, August 6, 2009

Thought for the Day - 6th August 2009 (Thursday)


A 'Manishi' (ordinary man) gets transformed into a 'Maharishi' by engaging in selfless service. Truly speaking, the merit that can be obtained from service cannot be acquired even by the practice of rigorous austerities. Service brings human beings closer to each other and promotes affection and friendship. Without this feeling of friendship and love towards one's fellowmen, one cannot attain intimacy with the Lord. Install in your heart the feeling that the service you render to your fellowmen is service to God.

‘Manishi (manusia biasa) dapat menjadi seorang ‘Maharishi’ dengan melibatkan diri dalam pelayanan. Berbicara yang sebenarnya, nilai yang dapat dicapai dari pelayanan tidak dapat diperoleh bahkan dengan latihan yang keras. Pelayanan membawa manusia lebih dekat satu dengan yang lainnya dan meningkatkan kasih dan persahabatan. Tanpa rasa persahabatan dan kasih terhadap orang lain, seseorang tidak dapat mencapai kedekatan dengan Tuhan. Tanamkan di dalam hatimu perasaan bahwa pelayanan yang engkau berikan kepada orang lain adalah pelayanan terhadap Tuhan.

-BABA

Wednesday, August 5, 2009

Thought for the Day - 5th August 2009 (Wednesday)


Most people in the world do not understand the purpose of life. Preoccupied with the pursuit of external objects, men do not strive to explore the inner realms of the Atma. Standing on the seashore, one can see only the waves on the surface and not the pearls lying in the depths below. Only the brave man who can dive deep into the ocean will be able to gather the pearls and not others. Likewise, Atma Jnana (knowledge of the Atma) can be gained only by those who turn away from the exploration of the phenomenal world to inquire into the truth of the Spirit.

Sebagian besar orang-orang di dunia ini tidak memahami tujuan hidupnya. Asyik dengan pengejaran objek-objek duniawi, orang-orang tidak berusaha untuk mempelajari pengetahuan tentang Atma. Ketika seseorang berdiri di pantai, seseorang hanya dapat melihat gelombang pada permukaan dan tidak melihat mutiara yang berada di kedalaman laut. Hanya orang yang berani yang dapat menyelam ke dalam laut dan dapat mengumpulkan mutiara tersebut dan bukan yang lainnya. Demikian pula, Atma Jnana (pengetahuan tentang Atma) hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang berpaling dari penjelajahan duniawi untuk menyelidiki kebenaran Atma.

-BABA

Tuesday, August 4, 2009

Thought for the Day - 4th August 2009 (Tuesday)


The Upanishads declare that immortality can be experienced only through Thyaga (renunciation or sacrifice). This renunciation does not mean giving up hearth and home, kith and kin. It means giving up the transient and impermanent things of the world. This calls for discrimination between what is permanent and what is perishable, what is good and what is bad. Only then can man discover the Divine principle within him.

Dalam Upanishads dinyatakan bahwa kehidupan yang kekal hanya dapat dialami melalui Thyaga (tidak mementingkan diri sendiri atau pengorbanan). Pengorbanan ini tidak berarti meninggalkan keluarga dan rumah, serta teman-teman dan sanak saudara. Ini artinya meninggalkan kefanaan dan sesuatu yang bersifat sementara di dunia ini. Panggilan ini untuk membedakan antara apa yang kekal dan apa yang fana, serta apa yang baik dan apa yang buruk. Baru setelah itu manusia dapat menemukan prinsip Ketuhanan dalam dirinya.

-BABA

Monday, August 3, 2009

Thought for the Day - 3rd August 2009 (Monday)


The ultimate purpose of all spiritual exercises is to realize the love of the Divine. To foster love is the purpose of all spiritual endeavour. Under no circumstances should love be given up or ignored. Where there is love, there can be no hatred, grief or want. See that your love for God does not fluctuate according to whether your wishes are fulfilled or not. Love of God alone can confer enduring bliss. There is nothing greater than love in this world. Everything has a price. The price to be paid for everlasting happiness is Divine love.

Tujuan utama dari seluruh latihan spiritual adalah untuk menyadari kasih Tuhan. Mengembangkan kasih adalah tujuan dari seluruh usaha spiritual. Bagaimanapun juga tidak seharusnya kasih ditinggalkan atau diabaikan. Dimana ada kasih, disana tidak ada kebencian, kesedihan, atau keinginan. Engkau seharusnya mengusahakan agar kasihmu kepada Tuhan tidak berubah apakah keinginanmu sudah terpenuhi atau tidak. Kasih Tuhan akan menganugerahkan kebahagiaan abadi. Tidak ada sesuatu yang lebih agung dari kasih di dunia ini. Segala sesuatu mempunyai harga. Harga yang harus dibayar untuk kebahagiaan abadi adalah kasih Tuhan.

-BABA