Saturday, December 31, 2016

Thought for the Day - 31st December 2016 (Saturday)

People make every effort to accumulate wealth. An equal effort is needed to acquire the wealth of love. Human beings today invest their assets of love in pitiful ventures. Instead they should invest all their love in the divine bank of devotion. This deposit is not only safe but will yield you increasing returns in terms of bliss. Your heart is the bank where your love for God should be deposited. Deposits elsewhere are insecure. Deposits of money may be in danger of being lost. But the deposit in your heart is immune from any kind of theft or loss. Make your deposit safe by insuring it within your heart. This love has been characterised as the form of eternal nectar (amrita-swarŇępa). Nectar pleases only the palate. But Divine Love confers eternal bliss which is sweeter than nectar. Resolve to acquire this nectarous love.


Manusia melakukan setiap usaha untuk mengumpulkan kekayaan. Usaha yang sama juga diperlukan untuk memperoleh kekayaan cinta kasih. Manusia pada saat sekarang menginvestasikan cinta kasih mereka yang bernilai pada usaha yang menyedihkan. Sebaliknya mereka seharusnya menginvestasikan seluruh kasih mereka pada bank bhakti Illahi. Deposito ini tidak hanya aman namun juga akan memberikanmu keuntungan kembali dalam bentuk kebahagiaan. Hatimu adalah bank itu dimana cinta kasihmu untuk Tuhan harus disimpan. Tempat penyimpanan yang lain adalah tidak aman. Menyimpan uang mungkin berbahaya karena kehilangan. Namun penyimpanan di dalam hatimu adalah bebas dari berbagai jenis pencurian atau kehilangan. Buatlah penyimpananmu menjadi aman dengan mengasuransikannya di dalam hatimu. Cinta kasih ini telah dikenali sebagai bentuk dari nektar yang kekal (amrita-swarupa). Nektar hanya menyenangkan langit-langit mulut. Namun kasih Tuhan memberikan kebahagiaan yang kekal dimana kebahagiaan ini lebih manis daripada nektar. Miliki ketetapan hati untuk mendapatkan kasih nektar ini. (Divine Discourse, Nov 23, 1996)

-BABA

Thought for the Day - 30th December 2016 (Friday)

Divine Love is the only panacea for all your troubles and miseries arising from insatiable desires and frustrated ambitions. If you are really filled with devotion, manifest your love for God who is the embodiment of love. If you are genuinely hungering and thirsting for God, partake of Divine love to appease your hunger and quench your thirst. God’s love is like a lighthouse beacon. It shows you the right path. Divert the boat of your life towards the lighthouse of Divine Love. You are then bound to gain the shore of bliss. You do not need to do any special type of penance. Fill your mind with love. While attending to your daily chores, regard all of them as offerings to the Divine. God is omnipresent. See God in everything and every being. Let steadfast love be enshrined in your heart. As Tukaram said, “Dil me Ram, hath me kam” (Rama in your heart and work in your hands).


Kasih Tuhan adalah satu-satunya obat mujarab untuk semua masalah dan kesengsaraan yang muncul dari keinginan yang tidak pernah puas dan ambisi yang gagal. Jika engkau benar-benar diliputi dengan bhakti, wujudkan kasihmu untuk Tuhan yang merupakan perwujudan dari kasih. Jika engkau sejatinya lapar dan haus akan Tuhan maka ambillah kasih Tuhan untuk meredakan laparmu dan memuaskan rasa hausmu. Kasih Tuhan adalah seperti lampu penerang rumah yang mana memperlihatkan kepadamu jalan yang benar. Mengalihkan perahu hidupmu menuju ke arah cahaya kasih Tuhan. Engkau kemudian akan dipastikan mencapai tepi laut kebahagiaan. Engkau tidak memerlukan latihan spiritual tertentu. Isilah pikiranmu dengan kasih. Ketika engkau menjalankan kewajibanmu sehari-hari maka anggaplah bahwa semuanya itu adalah sebagai persembahan kepada Tuhan. Tuhan adalah ada dimana-mana. Lihatlah Tuhan dalam segalanya dan dalam setiap makhluk. Biarkan kasih yang mantap terpatri di dalam hatimu. Seperti Tukaram berkata, “Dil me Ram, hath me kam” (Rama di dalam hatimu dan bekerja dengan tanganmu). (Divine Discourse, Nov 23, 1996)

-BABA

Thought for the Day - 29th December 2016 (Thursday)

Wealth (Artha) is one of the Purusharthas or legitimate objects of human endeavour. The four purusharthas are Dharma, Artha, Kama and Moksha. They have been listed so in that order on purpose. Righteousness (Dharma) must direct and control the process of earning wealth (Artha) and liberation (Moksha) is to be the regulating factor of desire (kama). All wealth accruing from sources tainted by unrighteousness (Adharma) is to be treated with contempt and is unworthy of you. All desires that do not subserve the one supreme need for liberation are to be given up as beneath your dignity. So the spiritual basis, Dharma and Moksha, must be the root of Artha and Kama. Without this order, earning degenerates into plundering; desire degenerates into death.


Kekayaan (Artha) adalah salah satu dari Purushartha atau objek sah yang diusahakan oleh manusia. Keempat purushartha adalah Dharma, Artha, Kama, dan Moksha. Keempatnya itu diurut sedemikian rupa untuk sebuah tujuan. Kebajikan (Dharma) harus mengarahkan dan mengendalikan proses dalam mendapatkan kekayaan (Artha) dan kebebasan (Moksha) adalah faktor yang mengatur keinginan (Kama). Semua kekayaan yang berasal dari sumber yang dinodai oleh kejahatan (Adharma) adalah menjijikkan dan tidak layak bagimu. Semua keinginan yang tidak membantu untuk kebutuhan seseorang yang tertinggi yaitu kebebasan adalah tidak pantas untukmu. Jadi dasar spiritual yaitu Dharma dan Moksha harus menjadi akar dari Artha dan Kama. Tanpa urutan seperti ini maka penghasilan merosot menjadi penjarahan dan keinginan merosot menjadi kematian. (Divine Discourse, Jul 14, 1966)

-BABA

Wednesday, December 28, 2016

Thought for the Day - 28th December 2016 (Wednesday)

The most valuable message the scriptures convey is this: Carry on your legitimate duties, discharge your obligations, and live up to your rights; but do not allow attachment to grow. Be like a trustee so far as family, riches, reputation, knowledge and skills are concerned. Leave them gladly aside, when the call of death comes. Death is pictured by some as a terror-striking God who rides a monster-buffalo, and pounces on you with a noose (Lord Yama in Indian scriptures). No, the noose is of your own making. He does not pounce; he gives advance notice of his arrival to take you - in the form of intimations like grey hair, falling teeth, failing vision, deafness, wrinkles, etc. He does not ride any beast; he is only another name for Time. It is Time that creeps steadily towards you and shears the cord of life. So utilise your capacity for karma (action) which you are endowed with to liberate yourself from the clutches of Time.


Pesan yang paling bermakna yang disampaikan dalam naskah suci adalah: jalankan dan laksanakan kewajibanmu yang sah dan penuhilah hakmu; namun jangan izinkan keterikatan untuk berkembang. Jadilah seperti seorang pengawas sejauh tentang keluarga, kekayaan, reputasi, pengetahuan, dan keahlian. Lepaskan semuanya itu dengan gembira ketika panggilan kematian datang. Kematian digambarkan oleh beberapa orang sebagai dewa kematian yang mengendarai kerbau raksasa dan menyambarmu dengan tali (Dewa Yama dalam naskah suci India). Bukan, tali itu adalah buatanmu sendiri. Dewa kematian tidak menyambarmu namun Beliau memberikan peringatan lebih awal kedatangannya untuk membawamu pergi – dalam wujud pemberitahuan seperti rambut uban, gigi yang ompong, keburaman pandangan, menjadi tuli, keriput, dsb. Dewa kematian tidak menunggang binatang liar; Beliau hanya nama lain dari sang waktu. Adalah waktu yang bergerak dengan pelan dan pasti menuju ke arahmu dan memotong tali kehidupan. Jadi gunakan kapasitasmu untuk berbuat (karma) yang mana engkau diberkati dengan membebaskan dirimu dari cengkeraman Waktu. (Divine Discourse, Mar 23, 1966)

-BABA

Thought for the Day - 27th December 2016 (Tuesday)

Like a lighted lamp, God’s grace spreads all around on everyone who approaches Him and loves to be near Him; but if you interpose a shade which shuts out the light from you, you only have yourself to blame if grace does not shine. Open the doors of your heart, so that Sun may shine through, disinfect the vices therein and illumine its corners. You must initiate that little effort, at least. The Sun will not open your doors and enter. To get the correct programme and enjoy, you must switch on and tune the receiver. That effort cannot be dispensed with. Believe, Strive, Succeed - this is the essence of the scriptures. God is immanent in the Universe. He is the core of every being, as butter is in every drop of the milk. You can see Him, provided you curdle this Universe with viveka (discrimination), churn it with vairagya (detachment) and collect it with sraddha (earnestness).


Seperti halnya lampu penerangan, rahmat Tuhan menyebar ke semuanya pada setiap orang yang mendekati-Nya dan sangat berhasrat untuk berada dekat dengan-Nya; namun jika engkau menempatkan sebuah bayangan yang mana mencegah cahaya masuk kepadamu maka engkau menyalahkan jika rahmat itu tidak bersinar. Bukalah pintu hatimu sehingga cahaya matahari dapat masuk ke dalamnya dan membasmi kuman yang ada di dalam dan menerangi sudut-sudut ruangan hatimu. Setidaknya engkau harus memulai usaha yang kecil. Matahari tidak akan membuka pintumu dan memasukinya. Untuk bisa mendapatkan tayangan televisi yang bagus dan bisa menikmatinya maka engkau harus menghidupkan dan menyetel salurannya. Usaha itu tidak bisa ditiadakan. Percayalah, berusahalah, dan berhasillah – ini adalah intisari dari naskah suci. Tuhan tetap ada di alam semesta ini. Tuhan adalah inti dari setiap makhluk, seperti halnya mentega dalam setiap tetesan susu. Engkau dapat melihat-Nya, mengentalkan alam semesta ini dengan Viveka (kemampuan membedakan), mengaduknya dengan vairagya (tanpa keterikatan), dan mengumpulkannya dengan sraddha (kesungguhan). (Divine Discourse, Mar 23, 1966)

-BABA

Thought for the Day - 26th December 2016 (Monday)

What is it that people should acquire today? It is the broadening of the heart so that it may be filled with all-embracing love. Only then the sense of spiritual oneness of all mankind can be experienced. Out of that sense of unity will be born the love for God. This love will generate pure bliss in the heart that is boundless, indescribable and everlasting. For all forms of bliss, love is the source. A heart without love is like a barren land. Foster love in your hearts and redeem your lives. Whatever be your scholarship or wealth, they are valueless without love. Without devotion all other accomplishments are of no avail for realising God. People aspire for liberation. True liberation is freedom from desires. Today one cannot go to forests for penance or engage themselves in meditation and other spiritual exercises. The easiest spiritual path is dedicating all actions to God.


Apa yang seharusnya orang-orang capai hari ini? Hendaknya perluaslah hati sehingga dapat diisi dengan semua rangkulan cinta-kasih. Hanya setelah itu, maka rasa kesatuan spiritual seluruh umat manusia dapat dialami. Dari rasa kesatuan akan lahir cinta-kasih kepada Tuhan. Cinta-kasih ini akan menghasilkan kebahagiaan murni di hati yang tak terbatas, tak terlukiskan, dan abadi. Semua bentuk kebahagiaan, sumbernya adalah cinta-kasih. Hati tanpa cinta-kasih dapat diibaratkan seperti tanah tandus. Pupuklah cinta-kasih dalam hatimu dan bebaskanlah hidupmu. Bagaimanapun pendidikanmu atau kekayaanmu, semuanya itu tidak akan bernilai tanpa cinta-kasih. Tanpa pengabdian, semua pencapaian lainnya tidak akan berguna untuk mencapai Tuhan. Orang-orang menginginkan untuk pembebasan. Pembebasan sejati adalah bebas dari keinginan. Saat ini seseorang tidak dapat pergi ke hutan untuk penebusan dosa atau melibatkan diri dalam meditasi dan latihan spiritual lainnya. Jalan spiritual yang paling mudah adalah mendedikasikan semua tindakan kepada Tuhan. (Divine Discourse, Dec 25, 1994)

-BABA

Thought for the Day - 25th December 2016 (Sunday)

When Jesus was born in a manger, three kings were led by a star to Jesus' birthplace. One of them, seeing infant Jesus observed: "This child will love God." The second one said: "No, God will love Him." The third one said: "Verily He is God Himself." The true significance of these three statements is - "To love God is to be His Messenger. To be loved by God is to be God’s child. The final state is to be one with God.” And Jesus said, "I and my Father are One." These three statements are applicable to all of you. Understand that you are also a messenger of God. When can you afford to call yourself ‘God’s child’? God does only pure actions, selflessly for the sake of all without any trace of self-interest in Him. To become God’s messenger and God’s child, and attain oneness with Him, manifest the qualities of the Father and divinise yourself.


Ketika Yesus lahir di kandang kuda, tiga raja yang dipimpin oleh bintang menuju ke tempat-Nya lahir. Salah satunya, melihat bayi Yesus mengamati: "Anak ini akan menjadi kekasih Tuhan." Yang kedua berkata: "Tidak, Tuhan akan mencintai-Nya." Yang ketiga berkata: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan itu sendiri." Pentingnya tiga pernyataan tersebut adalah - "Untuk mencintai Tuhan jadilah Utusan-Nya." Untuk dicintai oleh Tuhan jadilah anak Tuhan. Pernyataan terakhir adalah menjadi satu (menyatu) dengan Tuhan.” Dan Yesus berkata: ". Aku dan Bapa-Ku adalah satu." Ketiga pernyataan tersebut berlaku bagi kalian semua. Pahamilah bahwa engkau juga seorang utusan Tuhan. Kapan engkau boleh menyebut dirimu sebagai 'anak Tuhan'? Tuhan hanyalah melakukan tindakan murni, tanpa pamrih demi semuanya, tanpa jejak kepentingan dalam Diri-Nya. Untuk menjadi utusan Tuhan dan anak Tuhan, dan mencapai kesatuan dengan-Nya, wujudkanlah kualitas Bapa dan ketuhanan dalam dirimu. (Divine Discourse, Dec 25, 1994)

-BABA

Saturday, December 24, 2016

Thought for the Day - 24th December 2016 (Saturday)

Two thousand years ago, when narrow pride and thick ignorance defiled mankind, Jesus came as an embodiment of Love and compassion and lived amongst men, holding forth the highest ideals of life. You must pay attention to the lessons He elaborated throughout His life. 'I am the Messenger of God,' He declared first. Yes. All of you too must accept that role of messenger and live as examples of Divine Love and Charity. Jesus knew that God wills all. So, even on the cross, when He suffered agony, He bore no ill-will towards anyone and He exhorted those with Him to treat all as instruments of God’s Will. "All are one; be alike to everyone" - practise this attitude in your daily lives. As you celebrate Christmas, bring to mind the words He uttered, the advice He offered, the warning He gave, and decide to direct your daily lives along the path He laid down. His words must be imprinted on your hearts and you must resolve to practise all that He taught.


Dua ribu tahun yang lalu, ketika kesombongan yang sempit dan kebodohan yang tebal mengotori manusia, Jesus datang sebagai perwujudan dari cinta kasih dan hidup diantara manusia dengan menjunjung idealisme hidup yang tertinggi. Engkau harus memberikan perhatian pada pelajaran yang disampaikan melalui hidup Jesus. Pertama Jesus berkata, 'Aku adalah utusan Tuhan. Semua darimu juga harus menerima peran itu sebagai duta dan hidup sebagai teladan dari kasih illahi dan amal. Jesus mengetahui bahwa Tuhan yang berkehendak untuk semuanya. Jadi, bahkan saat disalib ketika Jesus menderita rasa sakit yang mendalam, beliau tidak memiliki kehendak buruk kepada siapapun juga dan beliau mendesak bagi mereka yang bersamanya untuk memperlakukan semuanya sebagai instrumen dari kehendak Tuhan. "Semua adalah satu; bersikap samalah kepada setiap orang" - jalankan sikap ini dalam kehidupanmu sehari-hari. Saat engkau merayakan Natal, bawalah ke dalam pikiran dari perkataan yang Jesus katakan, nasehat yang Beliau berikan, peringatan yang Beliau sampaikan dan putuskanlah untuk mengarahkan hidupmu sehari-hari sepanjang jalan yang telah beliau tunjukkan. Perkataan Jesus harus terpatri di dalam hatimu dan engkau harus memutuskan untuk menjalankan semua yang Beliau ajarkan. (Divine Discourse 24-Dec-1980)

-BABA

Thought for the Day - 23rd December 2016 (Friday)

Jesus taught that God is Love. Instead of recognising this basic truth, people are allowing hatred, envy and other evil qualities to pollute their love. You are gifted with the quality of love, not to express it for selfish purposes but to direct it towards God. Jesus clearly declared that there was nothing great about returning good for good. You should do good even to those who harm you. Love is the means of developing devotion and achieving liberation, apart from other things. Only the love of God is real love. The royal road for man is to realise the divinity within and in everyone. Where there is faith there is Love; Where there is Love there is Peace; Where there is Peace there is Truth; Where there is Truth there is Bliss; Where there is Bliss there is God. Hence, faith has to be strengthened.


Jesus mengajarkan bahwa Tuhan adalah cinta kasih. Bukannya menyadari kebenaran yang mendasar ini, manusia mengijinkan kebencian, iri hati, dan sifat-sifat buruk yang lainnya untuk mencemari kasih mereka. Engkau diberkati dengan kualitas kasih yang mana bukan diungkapkan untuk tujuan kepentingan diri sendiri namun seharusnya diarahkan pada Tuhan. Jesus dengan jelas menyatakan bahwa tidak ada yang lebih hebat daripada mengembalikan kebaikan untuk kebaikan. Engkau harus melakukan kebaikan bahkan untuk mereka yang menyakitimu. Kasih adalah sarana untuk mengembangkan bhakti dan mendapatkan kebebasan, terpisah dari yang lainnya. Hanya kasih untuk Tuhan adalah kasih yang sejati. Jalan utama bagi manusia untuk menyadari keillahian di dalam diri dan dalam diri setiap orang. Dimana ada keyakinan maka disana ada kasih; dimana ada kasih maka disana ada kedamaian; dimana ada kedamaian maka disana ada kebenaran; dimana ada kebenaran maka disana ada kebahagiaan; dimana ada kebahagiaan maka disana ada Tuhan. Oleh karena itu, keyakinan harus dikuatkan.  (Divine Discourse 25-Dec-1988)

-BABA

Friday, December 23, 2016

Thought for the Day - 22th December 2016 (Thursday)

Of what use is a mountain of bookish knowledge, if you cannot secure real happiness as a human being? Will not God take care if one places faith in the Divine? What is it that is achieved by ceaseless preoccupation with earning a living, forgetting the all-pervading Lord? Everybody clamours for peace saying, "I want peace." But can peace be found in the external world, which is only filled with pieces? Peace has to be found within oneself by getting rid of the ‘I’ and desire. Peace is being destroyed by the ego and by insatiable desires. Restrain your desires. You have to reduce desires and cultivate vairagya (detachment) so that you can have real peace of mind. Man is haunted by endless worries of many kinds. Only by turning one’s mind towards God can one get rid of the worries. While the Lord is ever by the side of man, he is searching for God all over the world. By exploring the external, you can never purify the internal.


Apakah gunanya begitu banyak pengetahuan dari buku jika engkau tidak dapat mengamankan kebahagiaan yang sejati sebagai manusia? Bukankah Tuhan menjaga ketika seseorang menempatkan keyakinan kepada Tuhan? Apa yang akan diraih dengan keasyikan secara terus menerus dengan mencari nafkah dan melupakan Tuhan yang meresapi semuanya? Setiap orang ramai berkata untuk kedamaian, "aku ingin kedamaian." Namun dapatkah kedamaian ditemukan di dunia luar yang hanya diisi dengan kepingan-kepingan saja? Kedamaian harus dapat ditemukan di dalam diri sendiri dengan menghilangkan sang "aku" dan keinginan. Kedamaian dihancurkan oleh ego dan keinginan yang tidak pernah puas. Kendalikan keinginanmu. Engkau harus mengurangi keinginan dan meningkatkan vairagya (tanpa keterikatan) sehingga engkau mendapat kedamaian pikiran yang sejati.  Manusia dihantui oleh berbagai bentuk kecemasan yang tidak ada akhirnya.  Hanya dengan mengarahkan pikiran seseorang kepada Tuhan maka seseorang dapat melenyapkan kecemasan. Ketika Tuhan selalu berada di sisi manusia namun manusia mencari Tuhan ke seluruh dunia. Dengan melakukan penyelidikan di dunia luar maka engkau tidak akan pernah bisa menyucikan di dalam diri. (Divine Discourse, Dec 25, 1989)

-BABA

Thursday, December 22, 2016

Thought for the Day - 21st December 2016 (Wednesday)

The centre of every home must be the shrine room; the fragrance of flower and incense emanating from there must pervade the home and purify it. The mother must set the example in making the shrine the heart of the household. She must enforce discipline over the children in personal cleanliness, in humility and hospitality, in good manners and acts of service. She must persuade the children by example and precept to revere elders and to allot some time both in the morning and evening for prayer, and silent meditation. The shrine room must be clean and consecrated; special festival days should be observed, so that their significance will impress the young minds. However self-centred and haughty the husband is, by systematic regulation of the domestic time-table with worship of God as its focal point, he will soon realise how a God-centered home is a home of peace and joy. He too will follow soon and be a pillar of faith.


Pusat dari setiap rumah harusnya adalah kamar suci: wangi bunga dan dupa memancar dari sana harus meliputi dan menyucikan rumah. Ibu harus memberikan teladan dalam membuat tempat suci dari hati sebuah keluarga. Ibu harus menerapkan disiplin pada anak-anak pada kebersihan dalam diri, dalam kerendahan hati dan keramahtamahan, dalam tingkah laku yang baik dan tindakan pelayanan. Ibu harus meyakinkan anak-anak dengan teladan dan aturan dalam menghormati yang lebih tua dan menyediakan waktu baik di pagi dan malam hari untuk berdoa serta duduk diam. Kamar suci harus bersih dan suci; hari-hari perayaan spesial harus dijalankan sehingga maknanya akan mengesankan dalam pikiran anak-anak muda. Betapapun egois dan angkuhnya suami maka dengan peraturan yang sistematis dari jadwal di dalam rumah dengan memuja Tuhan sebagai titik fokusnya, suami segera akan menyadari bagaimana rumah yang terpusat pada Tuhan adalah rumah dari kedamaian dan suka cita. Suami segera juga akan ikut dan menjadi pilar dari keyakinan. (Divine Discourse, July 26, 1969)

-BABA

Thought for the Day - 20th December 2016 (Tuesday)

Desires that cling to the mind are the blemishes that tarnish the inner consciousness. Control your senses; do not yield to their insistent demands for satisfaction. When a corpse is placed on a pyre, and when it is lit, both the corpse and the pyre are reduced to ashes. So too, when senses are negated, mind too disappears. When mind disappears, delusion dies and liberation is achieved. Faith in God is the best reinforcement for spiritual victory. When you revel in contemplation of the Lord’s splendour, nothing material can attract you. All else will seem inferior; the company of the godly and humble alone will be relished. When you act with faith and surrender, grace flows through you into every act of yours. Then they will no longer be yours, they are His, and you will have no concern about the consequences thereof. All words, thoughts and actions emanating from you will be saturated with love and conducive to peace.


Keinginan-keinginan yang melekat pada pikiran menodai dan mencemari  kesadaran dalam diri. Kendalikan inderamu; jangan memberikan pada tuntutan dari indera yang tanpa henti untuk kepuasannya. Ketika sebuah mayat ditaruh diatas tumpukan kayu bakar dan ketika dinyalakan maka keduanya yaitu mayat dan kayu bakar akan menjadi abu. Begitu juga, ketika indera ditiadakan maka pikiran juga akan lenyap, khayalan akan mati dan kebebasan dapat dicapai. Keyakinan pada Tuhan adalah penguatan yang terbaik untuk keberhasilan spiritual. Ketika engkau bersuka ria dalam perenungan pada kemuliaan Tuhan, tidak akan ada material yang dapat menarikmu. Semuanya akan kelihatan menjadi kecil; hanya pergaulan yang baik dan rendah hati yang akan dinikmati.  Ketika engkau berbuat dengan keyakinan dan berserah diri, karunia mengalir melaluimu dalam setiap tindakanmu. Kemudian perbuatanmu tidak akan menjadi milikmu dan semuanya itu akan menjadi milik-Nya dan engkau tidak akan cemas lagi dengan akibat dari perbuatanmu. Semua perkataan, pikiran, dan perbuatan yang berasal darimu akan dipenuhi dengan kasih dan menghasilkan kedamaian. (Divine Discourse, Mar 17, 1966)
-BABA

Thought for the Day - 19th December 2016 (Monday)

It is not enough if your home budget is balanced; you must learn the art of having a balanced view of life, which will not be affected by triumphs and troubles, gains or losses, victory or defeat. This balance can be got only by reliance on God and faith in the indwelling God. You must learn to steer clear of hatred, malice, greed, anger, anxiety, pride and other obstacles that come in the way of your inner peace. Education must render you a monarch of your talents and your tools for acquiring knowledge. The eye, the ear, the tongue, etc. are like wild horses that have no bridle between the teeth; learn the art of meditation (dhyana) through which the senses can be controlled and the will directed inwards towards the mastery of feelings and emotions. You must heed one discipline - controlling of your senses; if you give them free rein, they will drag you into calamity.


Adalah tidak cukup jika neraca keuangan rumahmu seimbang; engkau harus belajar seni dalam memiliki keseimbangan dalam pandangan hidup yang mana tidak akan terpengaruh oleh keberhasilan atau masalah, keuntungan atau kerugian, kemenangan atau kekalahan. Keseimbangan ini hanya bisa didapatkan dengan menaruh kepercayaan kepada Tuhan dan yakin pada Tuhan yang bersemayam di dalam diri. Engkau harus belajar untuk menghindari kebencian, kesombongan, ketamakan, kemarahan, kecemasan, keangkuhan, dan hambatan yang lainnya yang muncul di jalan kedamaian di dalam dirimu. Pendidikan harus memberikanmu sebuah kuasa akan bakatmu dan saranamu untuk mendapatkan pengetahuan. Mata, telinga, lidah, dsb adalah seperti kuda liar yang tidak memiliki kekang diantara gigi; belajarlah seni meditasi (dhyana) dimana indera dapat dikendalikan dan akan diarahkan ke dalam untuk menguasai perasaan dan emosi. Engkau harus memperhatikan satu disiplin – yaitu pengendalian inderamu; jika engkau memberikan inderamu kebebasan dan tanpa kendali maka mereka akan menyeretmu pada bencana. (Divine Discourse, July 26, 1969)

-BABA

Thought for the Day - 18th December 2016 (Sunday)

Many educated women are converting their homes into a hotel, with cook, gardener and maids, who clutter the home! She makes herself a scintillating doll, darting in and through the rooms and is often a millstone round the husband’s neck, whom she leads about and lords over, to his discomfiture. She engages herself in spending money, shopping for wayward fancy things and idles away time in lazy lounging and medicating herself for imaginary illness. Beware! Mothers must look after their children during their early years; if the child is handed over to servants, they will learn their habits of living and speech, and will weep only when they die, not when the mother dies! For, the child starts loving the maid more than the mother who takes care of them! The mother must herself prepare food at home; for, food prepared with love and served with a smile is much more sustaining and strengthening than food purchased from elsewhere!


Banyak wanita yang berpendidikan sedang merubah rumah mereka menjadi sebuah hotel, dengan tukang masak, tukang kebun dan pembantu yang mengacaukan rumah mereka! Sedangkan dia membuat dirinya sendiri seperti sebuah boneka yang berkilauan, berjalan dengan cepat masuk dan keluar rumah dan sering sebagai batu gerinda yang mengelilingi leher suaminya, yang mana dia mengatur dan berkuasa di rumah dan menjadi gangguan bagi suaminya. Banyak wanita yang menghabiskan uang, berbelanja barang-barang yang mewah dan bermalas-malasan serta menyia-nyiakan waktu dan mengobati dirinya sendiri untuk penyakit khayalan. Berhati-hatilah! Ibu harus merawat anak-anaknya pada masa-masa awal kehidupan mereka; jika anak diberikan kepada pembantu maka anak-anak akan belajar kebiasaan, cara hidup, perkataan dan hanya akan menangis ketika pembantu itu meninggal dan bukan ketika ibunya meninggal! Karena anak-anak mulai menyayangi pembantu lebih daripada ibu yang merawat mereka! Ibu harus mempersiapkan sendiri makanan di rumah; karena makanan yang disiapkan dengan kasih dan disajikan dengan senyuman adalah jauh lebih mendukung dan menguatkan daripada makanan yang dibeli dimana saja! (Divine Discourse, 26 July 1969)
-BABA


Saturday, December 17, 2016

Thought for the Day - 17th December 2016 (Saturday)

A human being is not just a creature with hands, feet, eyes, ears, head and a trunk. One is much more than the total of all these organs and parts. These are merely like the crude image that comes out of the mould. Later, they must be ground, scraped, polished, perfected, smoothed, and softened through the higher impulses of the intellect, and pure intentions and ideals. Then one becomes the ideal candidate for Divinity, which is one’s true destiny. The impulses will be rendered pure and the intentions will be raised to the higher level, if and when one decides to dedicate all deeds, words and thoughts to the Lord. For this, faith in One Supreme Intelligence, which conceived, conserves and consumes this Universe, is essential. The next step is to be convinced of one's own helplessness and distress at one's own grief. Then surrender to that Intelligence is easily achieved.


Seorang manusia tidak hanya makhluk dengan tangan, kaki, mata, telinga, kepala, dan anggota tubuh. Manusia adalah jauh lebih daripada semua organ-organ ini dan bagiannya. Semuanya ini hanyalah seperti bentuk kasar yang baru keluar dari cetakan. Selanjutnya, bentuk kasar ini harus diasah, digores, dipoles, disempurnakan, dirapikan, dan diperhalus melalui dorongan dari kecerdasan dan tujuan, dan ideal yang suci. Kemudian seseorang menjadi calon yang ideal untuk keillahian, yang merupakan tujuan akhir seseorang. Dorongan hati akan dibentuk menjadi suci dan tujuan akan diangkat pada tingkat yang lebih tinggi, jika dan ketika seseorang memutuskan untuk mendedikasikan seluruh perbuatan, perkataan dan pikiran kepada Tuhan. Untuk hal ini, keyakinan adalah bersifat mendasar pada kecerdasan yang tertinggi, yang menciptakan, memelihara dan melebur alam semesta ini. Langkah selanjutnya adalah untuk diyakinkan pada ketidakmampuan kita sendiri dan kesulitan dari penderitaan. Kemudian berserah diri pada kecerdasan yang tertinggi itu menjadi lebih mudah didapatkan. (Divine Discourse Mar 17, 1966)

-BABA

Friday, December 16, 2016

Thought for the Day - 16th December 2016 (Friday)

India's culture seeks to strike roots through mothers and the children on their laps. Women have been its custodians and promoters; men have a secondary role. And among women, girl students who will be women leaders in the coming days, must understand and practise this culture, so that it may be preserved and it may flourish. The keenness to acquire education is now very evident among the daughters of the nation and so, great hope can be placed on them in this field of reconstruction. Education must be for life, not for a living. Women in Indian history have proved throughout the centuries that they have the courage, the vision, and the intelligence needed to dive into the depths of spiritual science and discipline. Meera, Aandal, Maitreyi, Gargi, Sulabha, Choodala and Mahadevi are sterling examples of mighty heroines who undertook the spiritual adventure of God-realisation.


Kebudayaan India mencoba untuk menyebar dan meningkat melalui ibu dan anak-anak di pangkuan mereka. Para wanita telah menjadi penjaga dalam memajukan kebudayaan India; sedangkan para laki-laki memiliki peran yang kedua. Diantara para wanita, para pelajar putri yang akan menjadi pemimpin wanita di masa-masa yang akan datang, harus mengerti dan menjalankan kebudayaan ini, sehingga kebudayaan ini dapat dilestarikan dan dikembangkan. Ketekunan untuk mendapatkan pendidikan saat sekarang menjadi sangat jelas di kalangan putri-putri bangsa sehingga harapan besar dapat diletakkan di pundak mereka dalam pembangunan kembali. Pendidikan harus untuk kehidupan dan bukan hanya untuk mencari nafkah. Para wanita dalam sejarah India telah membuktikan selama berabad-abad bahwa mereka memiliki keberanian, pandangan dan kecerdasan yang diperlukan untuk menyelam ke dalam pengetahuan spiritual dan disiplin. Meera, Aandal, Maitreyi, Gargi, Sulabha, Choodaladan Mahadevi adalah teladan yang sejati dari pahlawan yang perkasa yang melakukan pertualangan spiritual untuk kesadaran Tuhan. (Divine Discourse, July 26, 1969)

-BABA

Thought for the Day - 15th December 2016 (Thursday)

To get happiness and peace, you must develop a pure and unsullied mind, free from egoism and its progenies – lust, greed, anger, hatred, envy and the rest. For this, you must seek noble company (satsanga), perform good deeds (satkarma), entertain only good thoughts (sat alochana) and read only noble and elevating books (sat granthas). You may see a thousand good things or listen to a thousand inspirational speeches or read a thousand good books, but unless you put at least one of their teachings into practice, the blemishes in the mirror of your heart will not be wiped off! The Lord cannot be reflected if the mirror of the heart is not clean. Remember, you are but a wave of the sea. Know this, and you are free. Constant practice with full faith will transmute a human (Nara) into God (Narayana), for Divinity is your real nature, your real essence!


Untuk bisa mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian, engkau harus mengembangkan pikiran yang suci dan tidak ternoda, pikiran yang bebas dari ego dan keturunannya seperti– nafsu, tamak, amarah, benci, iri hati, dan yang lainnya. Untuk hal ini, engkau harus mencari pergaulan yang mulia (satsanga), melakukan perbuatan baik (satkarma), hanya menampilkan pikiran yang baik saja (sat alochana) dan membaca buku yang suci yang mengangkat kesadaran (sat granthas). Engkau mungkin melihat ribuan hal yang baik atau mendengarkan ribuan pidato yang menginspirasi atau membaca ribuan buku yang baik, namun jika engkau tidak menjalankan setidaknya satu dari ajaran itu maka noda dalam cermin hatimu tidak akan terhapus! Tuhan tidak bisa dilihat dalam cermin hati yang tidak bersih. Ingatlah, engkau adalah gelombang lautan. Ketahuilah hal ini dan engkau akan bebas. Tetap berlatih terus menerus dengan penuh keyakinan akan mengubah manusia (Nara) menjadi Tuhan (Narayana), karena keillahian adalah sifatmu yang sebenarnya, intisarimu yang mendasar! (Divine Discourse Mar 17, 1966)

-BABA

Thursday, December 15, 2016

Thought for the Day - 14th December 2016 (Wednesday)

An individual, according to ancient scriptures is not merely a coordinated collection of limbs, senses and sensations. He is all these, and is governed by intelligence, which is sharpened by the modes and memories earned through many births. That intelligence in itself is an instrument with a limited range of efficiency; there are many goals it cannot achieve. These precious goals can be reached only through the descent of the Grace and Power from above. Complete surrender of the ego to that Divine Power will win grace for you in bounty. Vibheeshana was capable of that surrender and so he was immediately accepted and he received the Lord’s Grace. Sugreeva took much longer to reach that stage, for his faith to Lord Rama was clogged by doubts. He thought: ‘Does Lord Rama have the skill He professes to possess? Can He kill such a formidable adversary such as Vali?’ He surrendered only when his doubts were cleared.


Seorang individu, sesuai dengan naskah suci kuno bukanlah hanya sebuah gabungan dari anggota bagian tubuh, indera, dan sensasi. Manusia adalah semuanya ini dan diperintah oleh kecerdasan yang dipertajam oleh watak dan ingatan yang diperoleh dalam banyak kelahiran. Kecerdasan itu sendiri sebagai sarana dengan rentang efisiensi yang terbatas; ada banyak tujuan yang tidak dapat diraih. Tujuan yang berharga ini dapat diraih hanya melalui turunnya karunia dan kekuatan dari atas. Menyerahkan ego sepenuhnya pada kehendak kekuatan illahi akan bisa mendapatkan rahmat dan karunia. Wibhishana adalah mampu dalam hal berserah sehingga Beliau dapat langsung diterima dan mendapatkan karunia Tuhan. Sugreeva memerlukan waktu yang lama untuk bisa mencapai tahapan itu, karena keyakinannya pada Sri Rama disumbat oleh keraguan. Ia berpikir: ‘Apakah Sri Rama memiliki keahlian yang Beliau katakan? Dapatkah Beliau membunuh musuh yang tangguh seperti Vali?’ Sugriva hanya berserah ketika keraguannya dihilangkan. (Divine Discourse, 17 Mar 1966)

-BABA

Thought for the Day - 13th December 2016 (Tuesday)

A true human being is one who follows and practices the principle of righteousness (dharma). Burning is the nature (dharma) of fire. Coolness is the dharma of ice. Fire is no fire without burning. Ice is no ice without coolness. Similarly, the dharma of a human being lies in performing actions with the body and following the commands of the heart. Every act performed with thought, word, and deed in harmony is an act of righteousness (dharma). A righteous (dharmic) life is a divine life. We say the word dharma without knowing its true nature and majesty. Dharma is of various kinds: dharma of a householder, a celibate, a recluse, and a renunciate. But the dharma of the heart is the supreme dharma. This dharma of the heart is verily the dharma of life as well. The Ramayana enshrines in itself the very essence of the dharma of the individual, family, and society. In fact every human, who embodies the ideals of Rama, in a way, is Rama Himself. Hence, it is imperative on the part of every individual to cultivate the ideals of Rama.


Manusia yang sejati adalah seseorang yang mengikuti dan menjalankan prinsip kebajikan (dharma). Membakar adalah sifat asli (dharma) dari api. Mendinginkan adalah dharma dari es. Api bukanlah api jika tanpa membakar. Es bukan lagi es jika tanpa mendinginkan. Sama halnya, dharma dari manusia terdapat dalam menjalankan perbuatan dengan badan dan mengikuti perintah hati. Setiap tindakan yang dilakukan dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang selaras adalah sebuah kebajikan (dharma). Sebuah hidup yang berlandaskan dharma (dharmic) adalah kehidupan illahi. Kita menyebut kata dharma tanpa mengetahui sifat aslinya dan kemuliaannya. Dharma ada beberapa jenis: dharma berumah tangga, masa menuntut ilmu, pertapa, dan mengasingkan diri. Namun dharma dari hati adalah dharma yang tertinggi. Dharma dari hati ini adalah sesungguhnya adalah dharma hidup juga. Ramayana mengabadikan dalam dirinya sendiri intisari yang terdalam dari dharma sebagai individual, keluarga, dan masyarakat. Sejatinya setiap manusia yang mewujudkan ideal dari Rama adalah Rama sendiri. Oleh karena itu, adalah sangat penting pada setiap bagian dari setiap individu untuk meningkatkan ideal dari Rama. (Summer Roses on Blue Mountains 1996, Ch 2)

-BABA

Wednesday, December 14, 2016

Thought for the Day - 12th December 2016 (Monday)

Remember, if you pray to God with a pure heart, God will use someone to respond to your prayer. It is indeed small-mindedness to ask questions such as, “Where is God”, “How will He help me?” and so on. By raising such inappropriate questions, only our faith is weakened. That is the reason, the great sage Sri Ramakrishna Paramahamsa said, “If you want to pray to God sincerely, you must be like an innocent child.” Lord Jesus also gave the same message. He used to say: "Even if I am like a child for even a brief moment of the day, how pure can I become!" It is such innocence and purity that we must possess in our hearts. There is no use in preaching to others, if your own thoughts and conduct have not changed. Engage yourself in Sadhana to cleanse your heart and mind to fill them with pure thoughts and loving feelings.


Ingatlah, jika engkau berdoa kepada Tuhan dengan hati yang suci, Tuhan akan menggunakan seseorang untuk menjawab doamu. Merupakan pikiran yang sempit dengan menanyakan pertanyaan seperti “Dimana Tuhan?”, “Bagaimana Tuhan akan menolong saya?” dan sebagainya. Dengan mengajukan pertanyaan yang tidak layak itu, maka keyakinan kita akan dilemahkan. Itulah alasan guru suci Sri Ramakrishna Paramahamsa berkata, “Jika engkau ingin berdoa kepada Tuhan dengan tulus, engkau harus seperti anak yang lugu.” Yesus juga memberikan pesan yang sama, Beliau biasanya berkata, “Bahkan jika Aku bisa seperti anak-anak hanya untuk satu hari saja, betapa menjadi sucinya diri-Ku!” Bentuk kesucian dan keluguan itulah yang harusnya kita miliki di dalam hati kita. Tidak ada gunanya untuk menasehati yang lainnya. jika pikiran dan tingkah lakumu sendiri belum berubah. Libatkan dirimu sendiri dalam Sadhana untuk membersihkan hati dan pikiranmu dan mengisinya dengan pikiran dan perasaan yang suci dan penuh kasih. (Divine Discourse, Jan 7, 1988)

-BABA

Thought for the Day - 11th December 2016 (Sunday)

Just as the human body will collapse without the spinal column, human life also will sink without morality and spirituality. Your spinal column is made of thirty-three rings, and it supports the entire human body. Similarly, moral and spiritual principles constitute the very rings of the backbone of human life. What is immortality? The removal of immorality is immortality. Human life, which is mortal, is bound to perish one day or the other. Hence we must strive for morality, which is imperishable. This moral splendour is the need of the hour. My earnest wish is that youth should cultivate moral splendour and strive for the welfare and upliftment of the country especially when selfishness and self-interest are so rampant. Students and youth must evince keen interest in the moral and spiritual principles of the Ramayana and fully benefit from it. Elders too should mould their lives in consonance with morality and spirituality.


Seperti halnya tubuh manusia akan roboh tanpa adanya tulang belakang, hidup manusia juga akan tenggelam tanpa adanya moralitas dan spiritual. Tulang belakangmu dibuat dari 33 cincin dan ini menopang seluruh tubuh manusia. Sama halnya, moral dan prinsip spiritual membentuk setiap cincin dari tulang belakang kehidupan manusia. Apa itu keabadian? Menghilangkan kejahatan adalah keabadian. Kehidupan manusia yang bersifat jasmani dipastikan meninggal suatu saat nanti. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk moralitas yang bersifat tidak terhancurkan. Kemuliaan moral ini adalah yang dibutuhkan saat sekarang. Aku mengharapkan para pemuda seharusnya meningkatkan kemuliaan moral dan berusaha untuk kesejahteraan dan mengangkat bangsa khususnya ketika kepentingan diri sendiri dan rasa ego begitu merajalela. Para pelajar dan pemuda harus menunjukkan dengan jelas ketertarikan yang kuat dalam moral dan prinsip spiritual dari Ramayana dan mendapatkan keuntungan penuh dari hal ini. Mereka yang sudah tua juga harus membentuk hidup mereka selaras dengan moralitas dan spiritual. (Summer Roses on Blue Mountains 1996, Ch 1)

-BABA

Thought for the Day - 10th December (Saturday)

Dharma (Righteousness) is not a casual word to be bandied about. Repeating often quoted phrases such as “Righteousness is that which sustains” (Dharayateeti Dharmaha) or Righteousness protects its protectors (Dharmo Rakshati Rakshitaha) is a very common practice, but is not enough. What is needed is the practice of righteousness. Right conduct alone constitutes Dharma. The person who leads a righteous life is bound to find peace. Whoever goes into towns and villages to propagate righteousness must remember and practice these four important injunctions, “Do not cause harm to anyone”, “Do not abuse anybody”, “Perform your duties with loving devotion” and “Make your heart pure”. Even though most of our actions are related to worldly concerns, realisation of Divine is the goal. The only way to sanctify all our actions while leading our daily life is to do every act as an act of worship, as an offering to the Divine. Thus your whole life will be transformed into a sacred existence.
Dharma (kebajikan) bukanlah sebuah kata yang begitu saja dijadikan topik pembicaraan. Dengan sering mengutip ungkapan seperti “Kebajikan adalah penopang” (Dharayateeti Dharmaha) atau kebajikan melindungi yang melindungi kebajikan itu sendiri (Dharmo Rakshati Rakshitaha) adalah merupakan praktik yang umum namun ini tidaklah cukup. Apa yang diperlukan adalah menjalankan kebajikan itu sendiri. Hanya kebajikan saja yang membentuk Dharma. Seseorang yang menjalani hidup dalam kebajikan adalah dipastikan mendapatkan kedamaian. Siapapun juga yang pergi ke kota dan desa untuk menyebarkan kebajikan harus mengingat dan menjalankan empat peringatan yang penting ini yaitu “Jangan menyakiti siapapun juga”, jangan memperlakukan kasar siapapun juga”, jalankan kewajibanmu dengan bhakti yang penuh kasih”, dan “buatlah hatimu tetap suci”. Walaupun kebanyakan dari perbuatan kita terkait dengan hal-hal duniawi, namun kesadaran Tuhan adalah tujuannya. Satu-satunya cara untuk menyucikan semua perbuatan kita ketika kita sedang menjalankan kewajiban kita sehari-hari adalah dengan menjalankan setiap perbuatan sebagai ibadah, seperti sebuah persembahan kepada Tuhan. Jadi seluruh hidup akan dirubah menjadi sebuah keberadaan yang suci. (Divine Discourse, Jan 7, 1988)

-BABA

Saturday, December 10, 2016

Thought for the Day - 9th December 2016 (Friday)

A game of football is played by two teams, with each team striving to score a goal by shooting the ball to the goal post. Life is also a game between the two goal posts of secular and spiritual education. While playing football, one kicks the ball as long as it is filled with air. Once the football is deflated, no one will kick it. The air in the football signifies the presence of ego. A person swayed by ego would have to receive blows until they become devoid of ego. Only a deflated ball is picked up by the hands, whereas an inflated ball is kicked mercilessly. Similarly, a person who has destroyed the ego is well respected, whereas the person who allows free sway of ego becomes the target of all sorts of attacks. Only when you are free from ego can you transform yourself into an ideal person. Secular things come and go, whereas spiritual gains stay forever.


Sebuah pertandingan sepak bola dimainkan oleh dua team dimana setiap team berusaha untuk mencetak gol dengan menembak bola ke gawang. Hidup juga adalah sebuah pertandingan diantara dua gawang yaitu pendidikan duniawi dan spiritual. Ketika sedang bermain sepakbola, seseorang bisa menendang bola selama bola itu masih terisi dengan udara di dalamnya. Sekali bola itu kempes maka tidak ada yang akan menendangnya. Udara dalam bola sama halnya dengan keberadaan ego. Seseorang yang digoyangkan oleh ego akan menerima hantaman sampai mereka menjadi tanpa ego. Hanya bola yang kempes diambil dengan tangan sedangkan bola yang berisi udara akan ditendang tanpa ampun. Sama halnya, seseorang yang telah menghancurkan ego adalah dihormati, sedangkan seseorang yang memberikan ego dengan bebas menggoyangnya akan menjadi sasaran dari semua serangan. Hanya ketika engkau bebas dari ego maka engkau dapat merubah dirimu sendiri menjadi seseorang yang ideal. Benda-benda duniawi datang dan pergi, sedangkan keuntungan spiritual tinggal selamanya. (Summer Roses on Blue Mountains 1996, Ch 1)

-BABA

Thursday, December 8, 2016

Thought for the Day - 8th December 2016 (Thursday)

Your life should be marked by discipline and morality, wherever you live. Lead your life in consonance with the command of your conscience. Your actions should remain the same, whether observed or unobserved, noticed or unnoticed. Though it is hard to restrain your mind, it can be diverted. When the mind steeped in the secular world is diverted toward Divinity, it gains in moral strength. The mind steeped in the worldly matters makes you a prisoner of the world, whereas a mind steeped in God liberates you. Your heart is the lock and your mind is the key. When you turn the key to the left, it locks. But if you turn it right, it unlocks. It is the turning of the key that makes the difference. Hence your mind is the cause for your liberation and bondage. What then is liberation (moksha)? It is not an air-conditioned mansion, but a state devoid of delusion (moha).


Hidupmu seharusnya ditandai dengan disiplin dan moralitas dimanapun engkau hidup. Jalanilah hidupmu selaras dengan tuntunan dari suara hatimu. Perbuatanmu seharusnya tetap sama, apakah diamati atau tidak diamati, diperhatikan atau tidak diperhatikan. Walaupun adalah sulit untuk mengendalikan pikiranmu namun pikrian dapat dialihkan. Ketika pikiran sepenuhnya terpusat pada duniawi dan dialihkan menuju pada Tuhan maka ini akan memberikanmu kekuatan moral. Pikiran yang terpusat pada duniawi membuatmu menjadi tawanan di dunia, sedangkan pikiran yang terpusat pada Tuhan akan membebaskanmu. Hatimu adalah gembok dan pikiranmu adalah kuncinya. Ketika engkau memutar kuncinya ke kiri maka gemboknya akan terkunci. Namun jika engkau memutarnya ke kanan maka gemboknya akan terbuka. Ini terkait dengan arah putar kuncinya yang membuat perbedaan. Oleh karena itu, pikiranmu adalah penyebab bagi terbebasnya dirimu dari perbudakan. Apa itu kebebasan (moksha)? Ini bukan tempat yang berAC, namun sebuah keadaan sama sekali tanpa khayalan (moha). (Summer Roses on Blue Mountains 1996, Ch 1)

-BABA

Wednesday, December 7, 2016

Thought for the Day - 7th December 2016 (Wednesday)

Culture is universal in its scope and significance. We should not claim and contend that Indian culture is superior to all the other cultures of the world. Instead, we should have firm faith in the injunctions like: a) “All are one. Be alike to everyone.” b) “Together we shall live. Together we shall move. Together we shall grow in splendour. Together we shall live in amity and harmony, without conflict and skirmish.” We should foster the noble sentiments expressed in vedic statements of this kind. Unfortunately, the educational institutions of today do not nourish these noble sentiments in students. They are purely academically oriented and disregard the finer values of life. Secular learning should be coupled with spirituality. It is only such a harmonious blend of the secular and the spiritual that would lend beauty and radiance to life. We should not learn merely to fill our bellies but also to fill our hearts with bliss. The food eaten fills only the stomach but does not fill the mind, but spiritual food fills the mind and gives eternal Bliss.


Kebudayaan adalah universal dalam jangkauan dan maknanya. Kita seharusnya tidak menyatakan dan berpendapat bahwa kebudayaan India adalah yang paling hebat dibandingkan dengan kebudayaan yang lainnya di dunia. Sebaliknya, kita seharusnya memiliki keyakinan yang mantap dalam kutipan seperti: a) “Semuanya adalah satu. Bersikaplah sama kepada setiap orang.” b) “Bersama-sama kita akan hidup. Bersama-sama kita akan bergerak. Bersama-sama kita akan tumbuh dalam kemuliaan. Bersama-sama kita akan hidup dalam persahabatan dan keharmonisan, tanpa adanya konflik dan perkelahian.” Kita seharusnya mengembangkan perasaan yang mulia seperti yang dinyatakan dalam Weda. Namun sangat disayangkan, institusi pendidikan saat sekarang tidak menanamkan perasaan-perasaan mulia ini pada pelajar. Institusi pendidikan murni berorientasi pada akademis saja dan bersikap acuh pada nilai kehidupan yang lembut. Pembelajaran duniawi harus disandingkan dengan spiritual. Hanya dalam keharmonisan campuran dari duniawi dan spiritual ini maka akan memancarkan keindahan hidup. Kita seharusnya tidak hanya belajar melulu untuk mengisi perut kita namun juga untuk mengisi hati kita dengan kebahagiaan. Makanan yang kita makan hanya mengisi perut saja tapi tidak mengisi pikiran, namun makanan spiritual mengisi pikiran dan memberikan kebahagiaan yang kekal. (Ch 1, Summer Roses on Blue Mountains 1996)

-BABA

Tuesday, December 6, 2016

Thought for the Day - 6th December 2016 (Tuesday)

To develop kshama (forbearance), you must practice four kinds of purity – 1. Dravya Soucham (purity of materials); 2. Manasika Soucham (purity of mind); 3. Vak Soucham (purity in speech); 4. Kriya Soucham (purity in action or purity of body). Purity of materials covers all things used by a person, from clothes, food and cooking utensils to houses, and all the varied things used by a person. Everything that is in daily use should be completely pure. Purity of the mind calls for total elimination of attachments and aversions from the mind. Purity in speech implies avoidance of falsehood, and avoiding abusive language, slanderous gossip and speech that causes pain to others. A vile tongue fouls the mind and dehumanises man. The body has to be purified by performing Achamana with water (this ritual involves uttering the names of the Lord thrice and drinking three spoonfuls of water from the palm).


Untuk mengembangkan kshama (kesabaran), engkau harus menjalankan empat jenis penyucian – 1. Dravya Soucham (kesucian benda materi); 2. Manasika Soucham (kesucian pikiran); 3. Vak Soucham (kesucian perkataan); 4. Kriya Soucham (kesucian perbuatan atau kesucian tubuh). Kesucian benda atau materi melingkupi semua benda yang digunakan oleh manusia, dari pakaian, makanan, dan alat masak dan semua berbagai jenis benda yang digunakan oleh manusia. Segala sesuatu yang digunakan sehari-hari seharusnya sepenuhnya suci. Kesucian pikiran terkait dalam melepaskan keterikatan sepenuhnya dan antipati yang ada dalam pikiran. Kesucian dalam perkataan mengandung makna menghindari kebohongan dan menghindari bahasa yang menghina, gosip yang memfitnah dan perkataan yang menyebabkan rasa sakit pada yang lainnya. Sebuah lidah yang busuk mengotori pikiran dan menurunkan derajat manusia. Tubuh harus disucikan dengan menjalankan Achamana dengan air (ritual ini mencakup melantunkan nama Tuhan tiga kali dan minum tiga sendok makan air dari tangan). (Divine Discourse, Jan 7, 1988)

-BABA

Thought for the Day - 5th December 2016 (Monday)

Culture lies in seeing unity in diversity, with a deep-seated faith in the unity of life. Nourish faith in the feeling of the caste of humanity and the culture of love. Here love does not refer to the bodily affection that marks the relationship between a wife and husband, between children and parents, or between friends. The son, though he loved his mother with all his heart, flings her body onto the burning pyre and consigns her to flames without any mercy after her death. How can such love be called true Love? All such relationships can at best be termed ‘attachment’! Attachments, like passing clouds that sail away, come in the middle and pass off in the middle. But Love existed even before birth and will last after death. There is no love between husband and wife before their wedding or between the mother and the child before its birth. Only Divine Love exists before birth and lasts after death.


Kebudayaan terdapat dalam melihat kesatuan dalam keanekaragaman, dengan keyakinan yang kuat dalam kesatuan pada kehidupan. Peliharalah keyakinan dalam perasaan terkait kasta kemanusiaan dan kebudayaan dengan cinta kasih. Dalam hal ini cinta kasih tidak mengacu pada cinta pada tubuh yang ditandai dengan hubungan suami istri, diantara anak-anak dan orang tua, atau diantara sahabat. Seorang putra walaupun ia menyayangi ibunya dengan sepenuh hati, akan menaruh tubuh ibunya diatas tumpukan kayu bakar dan membakarnya tanpa ampun setelah ibunya meninggal. Bagaimana kasih seperti ini dapat disebut sebagai kasih yang sejati? Semua bentuk hubungan itu dapat dikategorikan sebagai ‘keterikatan’! seperti halnya awan yang berlalu yang mana muncul di pertengahan dan berlalu di pertengahan juga. Namun kasih ada bahkan sebelum kelahiran dan akan tetap ada setelah kematian. Tidak ada kasih diantara suami dan istri sebelum pernikahan mereka atau diantara ibu dan anak sebelum kelahirannya. Hanya kasih Tuhan yang ada sebelum kelahiran dan tetap ada setelah kematian. (Ch 1, Summer Roses on Blue Mountains 1996)

-BABA