Sunday, February 28, 2010

Thought for the Day - 28th February 2010 (Sunday)


Food when left unconsumed for long becomes stale and emits foul smell. So too, when our faults are not corrected, they will have a negative impact on our own lives. We must persist in the internal cleansing process, either by our own efforts or by heeding to the advice of those sympathetic souls who have succeeded in cleansing themselves. If we do not do it, like the plate of cooked food left aside too long, our life will begin to degenerate.


Makanan ketika dibiarkan tidak dikonsumsi terlalu lama, akan menjadi basi dan mengeluarkan bau busuk. Demikian pula, ketika kesalahan kita tidak diperbaiki, ia akan memiliki dampak negatif pada kehidupan kita sendiri. Kita harus terus berada dalam proses pemurnian batin, baik dengan usaha kita sendiri atau dengan memperhatikan nasehat dari mereka yang telah berhasil memurnikan diri mereka sendiri. Jika kita tidak melakukannya, maka dapat diibaratkan bagaikan sepiring makanan yang dibiarkan begitu saja terlalu lama, hidup kita akan mulai rusak.

-BABA

Saturday, February 27, 2010

Thought for the Day - 27th February 2010


The magnet does draw iron filings towards itself, but it cannot attract pieces of iron covered with dust and rust. The dust and the rust on the pieces of the iron must be washed away in order for the magnet to attract them. Of course, talks are good, alas, only their practice is paralyzed! Unless this illness is cured, the manifestation of education and scholarship cannot happen. When the mind is polished and pure, there will be harmony in thought, word and deed. This harmony in thought, word and deed is the best proof of the worth of any human being.


Magnet dapat menarik serbuk besi, tetapi magnet tidak dapat menarik besi yang ditutupi dengan debu dan karat. Debu dan karat tersebut hendaknya dibersihkan terlebih dahulu agar magnet dapat menarik besi tersebut. Tentu saja, berbicara itu baik, namun sayang, apabila tidak dilaksanakan! Kalau penyakit ini tidak disembuhkan, pendidikan dan kesarjanaan tidak akan berlaku. Ketika pikiran kita baik dan murni, akan ada keselarasan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Keselarasan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan ini adalah bukti terbaik dari kelebihan setiap manusia.

-BABA

Friday, February 26, 2010

Thought for the Day - 26th February 2010 (Friday)


Those who struggle to uphold truth are the real devotees of God. The essence of the Vedas lies in establishing this truth. Truth is the basis for all other human values such as love, peace, righteousness and non-violence. Love does not descend from somewhere above. Love emerges from the hearts of people. It is also the undercurrent in all human beings. Love is verily the source of all virtues and all virtues merge in love. In fact, God permeates all beings in the form of love. Live a life suffused with love.


Mereka yang berjuang untuk menegakkan kebenaran adalah bhakta Tuhan yang sejati. Inti sari dari Veda terletak dalam membuktikan kebenaran ini. Kebenaran adalah dasar bagi semua nilai-nilai kemanusiaan seperti cinta-kasih, kedamaian, kebenaran dan tanpa-kekerasan. Cinta-kasih tidak diturunkan dari suatu tempat diatas sana. Cinta-kasih muncul dari hati setiap seorang. Hal ini merupakan sifat sejati yang ada pada setiap manusia. Cinta-kasih adalah sumber dari semua kebajikan dan semua kebajikan menyatu dalam cinta-kasih. Sesungguhnya, Tuhan meresapi semua makhluk dalam wujud cinta-kasih. Jalani hidup dengan cinta-kasih.

-BABA

Thursday, February 25, 2010

Thought for the Day - 25th February 2010 (Thursday)


Whenever you feel overwhelm ed by the burden of worldly responsibilities and anxieties and are unable to pray to God, it is because you have condemned yourself as undeserving or you may not have faith in the Lord. But, do not give up! You must desire and adopt every means to attain joy, peace of mind and lead an exemplary life. With the gift of life as a human being, one should not disown one’s human nature. You must firmly resolve that you will not allow yourself to sink into depths of demonic beings or the level of beasts! The spiritual path can and will awaken, strengthen and sustain your desire and resolution!

Bilamana engkau merasa dibanjiri oleh beban tanggung jawab dan masalah-masalah duniawi dan engkau tidak sanggup berdoa kepada Tuhan, ini disebabkan karena engkau telah menyalahkan dirimu sendiri sebagai yang tidak pantas untuk mendapatkannya atau engkau tidak mempunyai keyakinan terhadap Tuhan. Tetapi, jangan menyerah! Engkau harus memohon dan menggunakan segala cara untuk mencapai kebahagiaan, kedamaian pikiran, dan menjalani kehidupan yang baik. Dengan karunia hidup sebagai manusia, seseorang hendaknya tidak mengingkari sifat alami manusia. Engkau harus memiliki keteguhan sikap bahwa engkau tidak akan membiarkan dirimu terjerumus dalam makhluk rendah atau pada tingkat binatang. Dengan jalan spiritual akan dapat membangkitkan, memperkuat, dan mendukung keinginan dan resolusimu!

-BABA

Wednesday, February 24, 2010

Thought for the Day - 24th February 2010 (Wednesday)


Spiritual exercises such as Pooja (worship), Bhajans (singing the name of God), Dhyana (meditation) are activities prompted by devotion to take you to a higher plane. Controversy about their efficacy should not be indulged in by those who are unaware of the heights to which they can lead to. These can be gained and judged only through actual practice. The proof lies in one's personal experience alone.

Latihan spiritual seperti puja (pemujaan terhadap Tuhan), Bhajans (menyanyikan Nama Tuhan), Dhyana (meditasi) adalah kegiatan yang didorong oleh bhakti untuk membawamu ke taraf tertinggi. Mereka yang tidak menyadari ketinggian yang mampu dicapai dengan latihan-latihan tersebut seharusnya tidak memperdebatkan keberhasilan hal tersebut. Ini dapat diperoleh dan dinilai hanya melalui latihan yang sungguh-sungguh. Kebenaran ini terletak pada pengalaman pribadi seseorang.

-BABA

Tuesday, February 23, 2010

Thought for the Day - 23rd February 2010


When one desires to rid coal of its black colour, what can soap and water do? Nor can washing it in milk help. The only means is to put it in a fire. That will turn it into a heap of white ash. In the same manner, when one is anxious to destroy the darkness of ignorance and the dirt of desire, the knowledge of the Self is required. Darkness can be ended only with the help of Light. We cannot overwhelm darkness by attacking it with more darkness. Knowledge of the Self is the illumination that one needs to destroy the inner darkness. Each one of you must win it for yourself through steady faith and ardent devotion.


Ketika seseorang mempunyai keinginan untuk membersihkan warna hitam pada arang, apakah dapat dilakukan dengan air dan sabun? Tentu saja tidak. Bahkan mencucinya dengan air susupun tidak akan bisa membantu. Satu-satunya cara adalah dengan membakarnya. Ini akan membuat arang tersebut menjadi setumpuk abu putih. Dengan cara yang sama, kebodohan dan nafsu hanya dapat dihancurkan dengan pengetahuan tentang diri sejati. Kegelapan hanya dapat disingkirkan dengan bantuan cahaya. Kita tidak dapat menyingkirkan kegelapan dengan kegelapan. Pengetahuan tentang diri sejati adalah pelita yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mengusir kegelapan batin yang ada di dalam dirinya. Kalian harus memilikinya melalui keyakinan yang mantap dan semangat pengabdian.

-BABA

Monday, February 22, 2010

Thought for the Day - 22nd February 2010 (Monday)


Poison bearing insects will be at home only in dark, dirty places. Inside a room kept scrupulously clean no snake, no scorpion, no poison-bearing-insect can enter. So too, the sacred wisdom cannot enter hearts which are dark and dirty. Instead, poisonous breeds like anger will find these hearts as congenial resorts. The sublime significance of Vidya or Higher Learning can be grasped by one, when the mind is pure. It can be communicated to one only when the pure mind sheds its revealing light.

Serangga yang beracun hanya akan ada di tempat-tempat yang gelap dan kotor. Di dalam ruangan, jagalah agar ruangan tetap bersih tanpa adanya ular, kalajengking, serta tanpa serangga beracun yang bisa masuk. Demikian juga kebijaksanaan suci tidak dapat memasuki hati yang gelap dan kotor. Sebaliknya kecenderungan beracun seperti kemarahan akan dengan mudah menempati hati seperti ini. Makna luhur dari Vidya atau Pengetahuan Tertinggi dapat dipahami oleh seseorang ketika pikirannya murni. Ini dapat disampaikan kepada seseorang hanya ketika pikiran murni memancarkan cahayanya.

-BABA

Sunday, February 21, 2010

Thought for the Day - 21st February 2010 (Sunday)


Give up the feelings "I" and "you". Only then can you understand the glory of that which is neither “I” nor “mine”. This does not mean you renounce everything. Deal with the world as duty demands, in a spirit of detachment. The acid test by which an activity can be confirmed as holy and sacred is to examine whether it promotes attachment or bondage. The activity is unholy or sinful if it arises from or promotes greed. With the intent of fulfilling your legitimate duties, pray to God to keep you alive for a hundred years. You will not incur blame. This is the lesson from true education.


Lepaskan perasaan “aku” dan “engkau”. Hanya dengan demikian engkau dapat memahami kemuliaan yang bukan “aku” ataupun “kepunyaanku”. Ini tidak berarti engkau melepaskan segalanya. Berhubungan dengan dunia sebagai tuntutan kewajiban, dalam semangat ketidakterikatan. Pengujian yang mendalam dimana suatu kegiatan dinyatakan suci dan sakral adalah dengan menyelidiki apakah hal itu meningkatkan keterikatan atau perbudakan. Kegiatan tersebut tidak suci atau penuh dosa jika meningkatkan keserakahan. Dengan tekad memenuhi tugas-tugas yang merupakan kewajibannya, berdoa kepada Tuhan agar engkau tetap hidup selama seratus tahun. Engkau tidak akan dipersalahkan. Ini adalah pelajaran dari pendidikan sejati.


-BABA

Saturday, February 20, 2010

Thought for the Day - 20th February 2010 (Saturday)


Vidya is the process of education which teaches one that the cosmos is the manifestation of the Lord's Sport. “Ishaavaasyam Idam Jagath” - the whole world is the residence of the Lord! Therefore, no one should entertain a sense of personal possession or even a trace of egoism. Renounce the feeling of attachment, feel the presence of the Lord everywhere. Welcome the bliss that the Lord confers on you and experience it with thankfulness, without being bound by desires. This is the message of the ancient sages and seers.

Vidya adalah proses pendidikan yang mengajarkan seseorang bahwa alam semesta ini adalah manifestasi dari permainan Tuhan. "Ishaavaasyam idam Jagath" - seluruh dunia adalah kediaman Tuhan! Oleh karena itu, manusia seharusnya tidak memupuk rasa keakuan atau bahkan jejak egoisme. Lepaskan keterikatan ini dan rasakan kehadiran Tuhan di mana-mana. Sambutlah suka cita yang Tuhan anugerahkan kepadamu dan rasakan hal tersebut dengan rasa syukur, tanpa terikat oleh keinginan-keinginan. Ini adalah pesan dari orang bijak dan para spiritualis di jaman dulu.

-BABA

Friday, February 19, 2010

Thought for the Day - 19th February 2010 (Friday)


Sound is the very core of the Vedas. Sound is associated with harmony and melody, and hence the Vedas have to be listened to. It is not to be analyzed, judged and commented upon; but when you listen to it, you will derive ecstasy. Hence the Vedas are called Sruthi (that which is to be heard). Therefore, mere listening to its recital creates the awareness of the Divine and confers bliss on the one who listens. The bliss thus earned manifests in one's words and deeds, and radiates bliss all around.

Suara adalah inti dari Weda. Suara dihubungkan dengan harmoni dan melodi, dan oleh karena itu Weda harus didengarkan. Weda bukan untuk dianalisa, dinilai, dan dikritik; tetapi ketika engkau mendengarkannya, engkau akan memperoleh suka cita yang luar biasa. Karena itu Weda disebut dengan Sruthi (yang diperdengarkan). Oleh karena itu, hanya dengan mendengarkan kisahnya, menganugerahkan kesadaran Tuhan dan sukacita pada orang yang mendengarnya. Sukacita tersebut kemudian terwujud dalam kata-kata dan perbuatan dan memancar di sekelilingnya.

-BABA

Thursday, February 18, 2010

Thought for the Day - 18th February (Thursday)


While struggling in the spiritual path, you must take the Lord Himself as your protector. To instill courage in the child, the mother persuades the child to walk a few steps and turn about, but she will not allow it to fall. If it totters and is about to lose balance, she hurries from behind it and holds it before it falls. God too has his eyes fixed on you, His devotee. He has in His hand the string with which He holds you like a kite. The string is the bond of love and grace. He may give it a pull and sometimes, He may loosen the hold. Whatever He does, be confident and carefree, for it is He who holds you and gives you the strength.


Saat engkau berjuang di jalan spiritual, engkau harus menggunakan Tuhan sendiri sebagai pelindung. Untuk menanamkan keberanian pada anak, ibu meyakinkan anak untuk berjalan beberapa langkah dan berbalik, tetapi ia tidak akan membiarkan anaknya jatuh. Jika si anak terhuyung-huyung seolah-olah mau jatuh dan kehilangan keseimbangan, si ibu bergegas dari belakang dan memegang si anak sebelum ia terjatuh. Tuhan juga mempunyai mata yang tertuju padamu, bhakta-Nya. Beliau mempunyai tali di tangan-Nya memegangmu seperti layang-layang. Tali tersebut adalah tali ikatan cinta dan anugerah. Beliau mungkin menarik tali tersebut dan kadang-kadang Beliau mungkin mengendurkan pegangannya. Apapun yang dilakukan-Nya, percayalah dan jangan khawatir, sebab Beliaulah yang memegangmu dan Beliau pulalah yang memberikan kekuatan.

-BABA

Wednesday, February 17, 2010

Thought for the Day - 17th February 2010 (Wednesday)


Twenty hammer-strokes might not succeed in breaking a rock; the twenty first stroke might break it. But does that mean that the twenty blows were of no avail? No, each of those twenty strokes contributed its share to the final success. The final result was the cumulative effect of all the twenty one strokes. Infuse every moment of your life with love for God. Then, evil tendencies will not hamper your path. The object of all spiritual practices is the annihilation of the mind and some day, some good deed will succeed in annihilating it completely. This triumph is the result of all the good deeds done in the past. So, never give up and, remember, no good deed will be a waste!

Duapuluh pukulan palu mungkin belum bisa memecahkan sebongkah batu; pukulan keduapuluh satu mungkin dapat memecahkan batu tersebut. Tapi, apakah itu berarti dua puluh pukulan yang pertama sia-sia? Tidak, masing-masing dari dua puluh pukulan yang pertama tersebut memberi peranan sehingga menggapai keberhasilan di bagian terakhir. Hasil akhir adalah efek kumulatif dari dua puluh satu pukulan semuanya. Tanamkan setiap saat dalam hidupmu dengan cinta-kasih untuk Tuhan. Maka, kecenderungan buruk tidak akan menghambat jalanmu. Sasaran dari semua praktek spiritual adalah dihancurkannya kejahatan dalam pikiran dan suatu saat nanti, suatu perbuatan baik akan berhasil menghancurkannya. Kemenangan ini adalah hasil dari perbuatan baik yang telah dilakukan di masa lalu. Jadi, jangan pernah menyerah dan ingat tidak ada perbuatan baik yang tidak berguna!

-BABA

Tuesday, February 16, 2010

Thought for the Day - 16th February 2010 (Tuesday)


When the rains pour on the mountain peaks and the water hurries down on all the sides, no river emerges. However, when the water flows in a single direction, first there is a brook, then a stream, then a torrent and finally a flooded river is formed and the river merges with the sea. So too, your mind and actions must flow full and steady along the fields of holy thoughts. The hands should be used to perform good deeds. Have the Lord's Name within and perform your prescribed duties. Worthy indeed is the one who marches in such a manner to the ultimate goal!

Ketika hujan turun di puncak gunung dan air segera turun di semua tempat, tidak ada sungai yang terbentuk. Namun, ketika air mengalir dalam satu arah, pertama akan muncul selokan, lalu sungai, selanjutnya arus deras dan akhirnya terjadi banjir dan sungai menyatu dengan laut. Demikian juga, pikiran dan tindakanmu harus mengalir penuh dan mantap dalam pemikiran-pemikiran mulia. Tangan seharusnya digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Bawalah Nama Tuhan dalam dirimu dan kerjakan kewajiban yang telah ditugaskan. Orang yang benar-benar mulia adalah orang yang berjalan dengan sikap sedemikian rupa sampai tujuan akhir.

-BABA

Monday, February 15, 2010

Thought for the Day - 15th February 2010 (Monday)


For a drowning man, even a reed is of some support. So too, for a person struggling in the sea of Samsara (worldly existence), a few good words spoken by someone might be of great help. No good deed goes waste. Likewise, each bad deed has its consequence. So, strive to avoid the slightest trace of evil in all your activities. Keep your eyes pure, fill your ears with the words of God and do not allow them to listen to calumny. Use the tongue for uttering kind, good and true words. Always remember the Divine. Such a constant effort will certainly grant you victory.


Bagi seseorang yang sedang tenggelam, bahkan alang-alang pun dapat dijadikan sebagai pegangan. Demikian juga, bagi seseorang yang sedang berjuang dalam lautan Samsara (kehidupan duniawi), kata-kata baik yang diucapkan oleh seseorang mungkin akan sangat membantu. Tidak ada perbuatan baik yang tidak berguna. Demikian juga, setiap perbuatan buruk mempunyai akibat. Jadi, berusahalah untuk menghindari keburukan sekecil apapun dalam semua aktivitasmu. Jagalah matamu tetap murni, isilah telingamu dengan kata-kata Tuhan dan jangan membiarkan telinga untuk mendengarkan fitnah. Gunakan lidah untuk mengucapkan kata-kata yang baik, benar, dan diucapkan dengan lembut. Selalulah ingat pada Tuhan. Usaha yang terus-menerus dilakukan pasti akan memberikan kemenangan.

-BABA

Sunday, February 14, 2010

Thought for the Day - 14th February 2010 (Sunday)


People have taught the eyes, the ears and the tongue the luxury of constant novelty. Now, you must teach them the opposite tendencies. The mind should be turned towards the good and the activities of every minute should be examined from that standpoint. Each deed is a chisel by which the rock of the human personality is being shaped. A wrong stroke may spoil and disfigure the rock. Therefore, do even the tiniest of the acts with great care and devotion.


Orang-orang telah melatih mata, telinga, dan lidah mereka dengan kemewahan baru secara terus-menerus. Saat ini, engkau harus melatih mereka kecenderungan yang berlawanan dengan itu. Pikiran seharusnya diarahkan ke hal-hal yang baik dan setiap menit tindakan yang dilakukan harus diperiksa sesuai dengan pandangan ini. Setiap perbuatan adalah bagai pahat dimana batu kepribadian manusia sedang dibentuk. Sebuah pukulan yang salah maka dapat merusak dan mengubah keindahan batu tersebut. Oleh karenanya, lakukanlah dengan baik bahkan tindakan sekecil apapun dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan pengabdian.

-BABA

Saturday, February 13, 2010

Thought for the Day - 13th February 2010 (Saturday)


When you realise Shivoham (I am Shiva), then, you have all the happiness, all the auspiciousness that there is. Shiva is not to be sought on the peak of a distant range of mountains, or in some other special place. You must have heard that sin and merit are inherent in the acts that men do; so too, Shiva is inherent in every thought, word and deed, for He is the energy, the power, the intelligence that is behind each of them.


Ketika engkau menyadari Shivoham (Aku adalah Shiva) maka engkau mempunyai semua harapan-harapan yang baik, serta semua kebahagiaan yang ada. Shiva tidak harus dicari jauh di puncak pegunungan, atau di beberapa tempat khusus lainnya. Engkau pasti sudah mendengar bahwa dosa dan pahala tidak dapat dipisahkan dalam tindakan manusia, begitu juga, Shiva tidak dapat dipisahkan dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan, karena Beliau adalah energi, kekuatan, serta kecerdasan yang ada dibelakang masing-masing dari mereka.

-BABA

Friday, February 12, 2010

Thought for the Day - 12th February 2010 (Friday)


Every night is marked by darkness. But tonight it is Shivaraathri (the holy night of Lord Shiva). What is the difference between Raathri (night) and Shivaraathri? For the man who has recognized his divinity, every night is Shivaraathri. For the man immersed in worldly concerns, all nights are the same. That night is marked by darkness. This night is marked by light. Spirituality is the lighthouse that spreads light for the man who is full of despair, immersed in insatiable desires. The name of God is the lighthouse. By chanting the name, the bearer of the name can be realized. To recognize the omnipresence of the Divine is the purpose of observing Shivaraathri. This purpose is not served by fasting and keeping awake through the night. These are mere auxiliaries to what is considered the ultimate goal. But God-realization should not be put off to some distant future. It has to be taken up here and now. That is the purpose of Shivaraathri.


Setiap malam ditandai dengan kegelapan. Tapi malam ini adalah Shivaraathri (malam pemujaan untuk Shiva). Apa perbedaan antara Raathri (malam) dan Shivaraathri? Bagi orang yang telah menyadari keilahian-Nya, setiap malam adalah Shivaraathri. Bagi orang yang tenggelam dalam keasyikan duniawi, semua malam adalah sama. Malam itu ditandai dengan kegelapan. Malam ini ditandai dengan cahaya. Spiritualitas adalah mercusuar yang menyebarkan cahaya bagi orang yang dipenuhi dengan keputusasaan, tenggelam dalam keinginan duniawi yang tak pernah puas. Nama Tuhan adalah mercusuar. Dengan melantunkan Nama Tuhan, Nama Tuhan yang dilantunkan akan dapat diwujudkan. Menyadari keberadaan Tuhan adalah tujuan merayakan Shivaraathri. Tujuan ini tidaklah dijalankan dengan puasa dan tetap terjaga sepanjang malam. Hal ini hanyalah membantu apa yang dianggap sebagai tujuan akhir. Tetapi kesadaran-Tuhan tidak boleh ditunda-tunda. Itu harus dilaksanakan saat ini dan sekarang. Inilah tujuan dari Shivaraathri.

Thursday, February 11, 2010

Thought for the Day - 11th February 2010 (Thursday)


If you try to bring back to your memory at bedtime, the events of the day, everything that happened, you will recall only those events, which are meaningful, those that are deeply embedded within you. The rest of the insignificant events turn hazy, recede and disappear from memory. Be comforted with the firm faith that the suffering and travails of this world are illusory and transitory. Fix your mind firmly on this great fact and set out bravely on the path of Sadhana (spiritual practice), on a continuous journey of devotion to the Lord.

Jika saat tidur engkau mencoba membawa kembali ingatanmu, semua peristiwa yang terjadi pada hari itu, engkau hanya akan mengingat peristiwa yang bermakna, peristiwa yang tertanam kuat dalam dirimu. Peristiwa-peristiwa lainnya yang tidak berarti akan pudar, surut dan menghilang dari ingatan. Yakinlah bahwa penderitaan dan kesulitan di dunia ini adalah ilusi dan bersifat sementara. Pusatkan pikiranmu pada kebenaran ini dan arahkanlah selalu di jalan Sadhana (praktek spiritual), di jalan pengabdian yang tiada henti pada Tuhan.

-BABA