Wednesday, June 30, 2010

Thought for the Day - 30th June 2010 (Wednesday)


Everything in this world is ephemeral, transitory; it is here today, but it may not be here tomorrow. So, if you desire for something, seek the Lord, who has no decline. Instead, if you crave for progeny, wealth and all comforts, you will suffer untold misery when you are called upon to leave everything and depart. At that moment, you would lament, “Oh, did I love so deep that I may weep so loud?” In this transitory life, joy and pain are also perforce transitory. There is nothing here fit to be worshipped as eternal. So, to get immersed in this search for the evanescent and to forget the Supreme and the Everlasting is indeed unbecoming of man.

Segala sesuatu di dunia ini bersifat fana dan sementara, kita ada disini saat ini, tapi mungkin tidak berada di sini nanti. Jadi, jika engkau menginginkan sesuatu, carilah Tuhan, yang tidak akan mengalami perubahan. Sebaliknya, jika engkau mendambakan keturunan, kekayaan, dan kenyamanan, engkau akan menderita kesengsaraan yang tak terkira ketika engkau dipanggil untuk meninggalkan segalanya dan saat engkau meninggal dunia. Pada saat itu, engkau akan mengeluh, "Oh, apakah aku mencintainya begitu mendalam sehingga aku menangis begitu kerasnya?" Dalam kehidupan yang fana ini, kebahagiaan dan kesedihan juga dialami sementara. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang layak disembah dan bersifat kekal. Jadi jika kita tenggelam dalam pencarian ini dan melupakan Yang Agung dan kekal tentu bukan sifat yang pantas sebagai manusia.

-BABA

Tuesday, June 29, 2010

Thought for the Day - 29th June 2010 (Tuesday)


Even the most comfortable house equipped with all the luxuries man craves for; even heaps of treasures are helpless to endow one with Shanti (Peace). Shanti can be won only by surrender to God, who is the very core of one's being, the very source of all life and living. Consider this: Are those lucky enough to possess wealth, gold, property and comfort having Shanti? NO! Are persons of high scholarship or extraordinary beauty or super-human physical strength at peace with themselves and the world? NO! What is the reason for the misery of even these people? The reason is: they have forgotten the Divine basis of Creation; they have ignored the one Absolute Underlying Principle. All lives lived without faith and devotion to the One Supreme Overlord are despicable; lives spent without tasting the Nectar of the Divine Principle are all wasted chances.

Rumah yang paling nyaman pun yang dilengkapi dengan semua kemewahan yang diharapkan manusia; ditambah lagi dengan tumpukan harta tidak mampu untuk memberikan Shanti (kedamaian). Shanti bisa diperoleh hanya dengan memasrahkan diri kepada Tuhan, yang merupakan inti dan sumber dari semua kehidupan. Pertimbangkanlah: Apakah orang-orang yang dengan keberuntungannya memiliki kekayaan, emas, properti dan kenyamanan, memiliki Shanti? TIDAK! Apakah orang-orang dengan pendidikan tinggi atau memiliki kecantikan yang luar biasa atau memiliki kekuatan fisik super-manusia memperoleh kedamaian pada diri mereka sendiri dan juga dunia? TIDAK! Apa penyebab dari penderitaan orang-orang ini? Alasannya adalah: mereka telah melupakan dasar dari Penciptaan Ilahi, mereka telah mengabaikan Prinsip yang paling mendasar. Semua yang menjalani hidup dengan tanpa keyakinan dan pengabdian (bhakti) kepada Dia Yang Agung adalah sangat tercela; dan semua kesempatan terbuang sia-sia karena hidup terlewati tanpa mencicipi Nectar Prinsip Ilahi.

-BABA

Monday, June 28, 2010

Thought for the Day - 28th June 2010 (Monday)


The word ‘Sutra’ means that which, through a few words, reveals vast meanings. The Sutras discuss contrary points of view in order to remove all possible doubts about the validity and meaning of the sacred texts. The word ‘Mimamsa’, as used in ancient Indian philosophy, means the conclusion arrived at after inquiry and investigation, the inference adopted as correct after deep consideration of possible doubts and alternatives. The Vedas deal with two concepts: Dharma (Righteous actions) and Brahma (God). The Purva Mimamsa deals with Dharma or performing the rites and rituals in daily life in a righteous manner. The Uttara Mimamsa deals with Brahma (God) and its emphasis is on Jnana (experiential wisdom).


Kata ‘Sutra’ berarti melalui beberapa kata, mengungkapkan makna yang luas. Sutra membahas poin-poin yang bertentangan dengan beberapa pandangan agar dapat menghapus semua keraguan tentang kebenaran dan makna dari naskah-naskah suci. Kata 'Mīmāṃsā', seperti yang digunakan dalam filsafat India kuno, berarti menarik kesimpulan setelah dilaksanakan penyelidikan dan penelitian, sehingga kesimpulan yang diambil adalah sesuatu yang benar setelah dilakukan pertimbangan yang mendalam tentang keragu-raguan dan alternatif lainnya. Veda menguraikan dua konsep: Dharma (Kebajikan) dan Brahma (Tuhan). Purva Mīmāṃsā berhubungan dengan Dharma atau melakukan upacara dan ritual dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang benar. Uttara Mimamsa berhubungan dengan Brahma (Tuhan) dan penekanannya adalah pada Jnana (kebijaksanaan).

-BABA

Sunday, June 27, 2010

Thought for the Day - 27th June 2010 (Sunday)


If the intellect is dull and derives happiness from sleep, slothfulness and pointing out other’s faults, it characterises Thamasic nature. This nature will make one ignore the knowledge of self throughout one’s life. True education is that which directs and counsels the mind and intellect of man towards earning Sathwic happiness. The scriptures declare "Na Sukath Labhyathe Suhkam”, that by undergoing unhappiness alone can happiness be won. This truth has to be instilled through Vidya (Self-knowledge or education). If you understand the joy of Sathwic happiness, true Vidya will be found to be easy and palatable.


Jika akal budi telah menjadi tumpul, malas, lamban, dan menunjukkan kesalahan orang lain, itu adalah sifat Tamasik. Sifat ini akan membuat seseorang mengabaikan pengetahuan diri sepanjang hidupnya. Pendidikan sejati-lah yang mengarahkan dan menganjurkan pikiran dan kecerdasan manusia menuju kebahagiaan yang Satwik. Kitab suci menyatakan "Na Sukath Labhyathe Suhkam”, bahwa dengan mengalami ketidakbahagiaan, kebahagiaan dapat dimenangkan. Kebenaran ini harus ditanamkan melalui Vidya (Pengetahuan Atma). Jika engkau memahami sukacita dari kebahagiaan Satwik, maka pengetahuan sejati (Vidya) akan di dapat dengan mudah dan menyenangkan.

-BABA

Saturday, June 26, 2010

Thought for the Day - 26th June 2010 (Saturday)


There is no compulsive rule that incarnations should occur only on earth and in human form. Any place, any form, can be chosen by God. Whichever place, whatever form, promotes the purpose of fulfilling the yearning of the devotee, that place and that form are chosen by the will of God. God is above and beyond the limits of time and space. He is beyond all characteristics and qualities, no list of such can describe Him completely.

Tidak ada aturan yang menetapkan bahwa inkarnasi Tuhan hanya terjadi di bumi dan dalam wujud manusia. Setiap tempat dan wujud tertentu dapat dipilih oleh Tuhan. Dimanapun tempatnya serta dalam wujud apapun, tempat dan wujud dipilih sesuai dengan kehendak-Nya, dengan tujuan untuk memenuhi kerinduan para Bhakta. Tuhan berada jauh di atas dan melampaui ruang dan waktu. Beliau berada jauh melampaui semua karakteristik dan sifat dan tidak ada sesuatupun yang dapat menggambarkan Beliau sepenuhnya.

-BABA

Friday, June 25, 2010

Thought for the Day - 25th June 2010 (Friday)


Acquisition of positions of authority and power, of skill and intelligence which can manipulate people and things, of fame and supremacy, of personal charm, of good health and happiness or of a large family with many children or wealth… none of these can confer liberation. You cannot attain liberation by undertaking sacrifices, vows, charities, pilgrimages or donations to holy projects. Though the objective world appears real, you must be aware that it is deluding you. You must give up yearning for deriving pleasure from the objects that appear and attract - both here and hereafter. Renunciation alone can lead to immortality. You will be liberated as soon as you renounce your attachment and desire.

Mendapatkan posisi jabatan dan kekuasaan, keterampilan dan kecerdasan, popularitas, daya tarik pribadi, kesehatan dan kebahagiaan atau keluarga besar dengan banyak anak atau kekayaan yang dapat memanipulasi orang-orang dan hal-hal lainnya...tidak ada satu pun dari hal tersebut yang dapat memberikan pembebasan. Engkau tidak dapat mencapai pembebasan dengan melakukan pengorbanan, janji, berderma, ziarah, atau donasi untuk proyek-proyek suci. Meskipun objek-objek duniawi kelihatannya nyata, engkau harus menyadari bahwa hal tersebut mengelabui-mu. Engkau harus menyerahkan keinginan untuk kesenangan yang berasal dari objek-objek duniawi yang muncul dan menarik – baik di dunia maupun di akhirat. Meninggalkan kesenangan yang berasal dari objek-objek duniawi, dapat mengarahkanmu pada keabadian. Engkau akan dibebaskan segera setelah engkau meninggalkan keterikatan dan keinginan duniawi.

-BABA

Thursday, June 24, 2010

Thought for the Day - 24th June 2010 (Thursday)


On account of the impact of the external objects on the senses of perception, one experiences pleasure and mistakes it to be nectar. But over time, the pleasure initially mistaken as nectar turns into bitter and unpleasant poison. This type of happiness is Rajasic happiness. If one welcomes Rajasic sensory pleasure, one’s strength, awareness, intelligence to achieve the four human goals of Dharma (Right Action), Artha (Wealth), Kaama (Righteous Desire) & Moksha (Liberation) are weakened; one’s interest and aspiration to attain divine bliss declines.

Oleh karena pengaruh objek-objek duniawi pada indera, seseorang yang mengalami kesenangan menyalahartikannya sebagai nektar. Tapi dari waktu ke waktu, kesenangan yang awalnya disalahartikan sebagai nektar berubah menjadi racun pahit dan tidak menyenangkan. Kebahagiaan seperti ini adalah kebahagiaan Rajasik. Jika seseorang menerima kesenangan Rajasik ini, kekuatannya, kesadarannya, serta kecerdasannya untuk mencapai empat tujuan manusia yaitu Dharma (Kebajikan), Artha (Kekayaan), Kaama (Keinginan yang benar) & Moksha (Pembebasan) akan dilemahkan; serta minat dan keinginannya untuk mencapai kebahagiaan Illahi akan menurun.

-BABA

Wednesday, June 23, 2010

Thought for the Day - 23rd June 2010 (Wednesday)


You must know that there is no end to the incarnations that God takes. He has come down on countless occasions. Sometimes He comes with a part of His glory, sometimes for a particular task, sometimes to transform an entire era of time, an entire continent of space, sometimes with a fuller equipment of splendour. The drama enacted by the Lord and the devotees drawn towards Him is the subject matter of Bhagavatha (Stories on the Glory of God). Listening to these stories promotes the realization of God. Many sages have testified to its efficacy and extolled the Glory of God, and they helped to preserve it for posterity.

Engkau harus tahu bahwa tidak ada akhir bagi inkarnasi Tuhan. Beliau telah turun pada berbagai kesempatan yang tak terhitung jumlahnya. Kadang-kadang Ia datang dengan kemuliaan-Nya, kadang-kadang untuk suatu tugas tertentu, kadang-kadang untuk mengubah seluruh zaman, mengubah seluruh tempat di benua, dan kadang kala dengan perlengkapan yang penuh kemuliaan. Drama diperankan oleh Tuhan dan para Bhakta ditarik menuju kepada-Nya adalah subyek Bhagavatha (cerita tentang kemuliaan Tuhan). Mendengarkan cerita-cerita tersebut dapat meningkatkan kesadaran pada Tuhan. Banyak orang bijak telah membuktikan keberhasilan ini dan memuji kemuliaan Tuhan, dan mereka membantu untuk melestarikannya bagi anak cucu.

-BABA

Tuesday, June 22, 2010

Thought for the Day - 22nd June 2010 (Tuesday)


The awareness of Brahman (God) cannot be won by the accumulation of wealth or even by giving away of riches. Nor can it be achieved by reading texts, rising to power, acquiring degrees and diplomas, or performing scriptural sacrifices and rituals. The body is an anthill, with the mind inside the cavity. The mind has hidden in it, the serpent named Ajnana (ignorance). This serpent cannot be killed by resorting to Kamya Karma (pleasurable activities). Jnana (spiritual wisdom) is the only weapon that can kill the serpent of ignorance. That person alone who has faith can secure this spiritual wisdom.

Kesadaran Brahman (Tuhan) tidak diperoleh dari menimbun kekayaan atau bahkan dengan memberikan kekayaan. Juga tidak dapat dicapai dengan membaca naskah-naskah suci, kekuasaan, gelar dan pendidikan tinggi, atau melakukan ritual dan korban suci. Badan ini ibarat sebuah rumah semut, dengan pikiran kita berada didalam lubangnya. Pikiran kita tersembunyi didalamnya, ular yang disebut sebagai Ajnana (ketidaktahuan). Ular tersebut tidak dapat dibunuh dengan memilih jalan Kamya Karma (aktivitas yang menyenangkan). Jnana (kebijaksanaan spiritual) adalah satu-satunya senjata yang dapat membunuh ular ketidaktahuan. Hanya mereka yang memiliki keyakinan bisa memperoleh kebijaksanaan spiritual ini.

-BABA

Monday, June 21, 2010

Thought for the Day - 21st June 2010 (Monday)


Even the boundless ocean can be drunk by one with ease. Huge mountains can be plucked from the face of the earth with great ease. The flames of a huge conflagration can be swallowed with great ease. But controlling the mind is far more difficult than all these. Therefore, if one succeeds in overwhelming the mind, one achieves the awareness of the soul. This success can result only when one undergoes many ordeals and denials. The bliss that is the result of this effort is the highest kind of happiness.

Samudera yang tidak ada batasnya-pun dapat diminum dengan mudah. Gunung yang besar juga dapat dipetik dari muka bumi dengan mudahnya. Api dari kebakaran yang besar dapat ditelan dengan mudahnya. Tapi mengendalikan pikiran jauh lebih sulit dari semuanya itu. Oleh karena itu, jika seseorang berhasil dalam mengendalikan pikirannya, ia dapat mencapai kesadaran jiwa. Keberhasilan ini dapat dicapai hanya ketika seseorang mengalami berbagai cobaan berat dan pengorbanan. Kebahagiaan yang didapat dari usaha ini adalah kebahagian tertinggi.

-BABA

Sunday, June 20, 2010

Thought for the Day - 20th June 2010 (Sunday)


God is above and beyond all the limits of time and space. For Him, all beings are equal. The difference between man, beast, bird, worm, insect and even God is but a difference of the 'vessel' (the Upadhi). It is like the electric current that flows through various devices and expresses itself in many different functions. There is no distinction in the current. It is the same. So too, the one single God activates every creature and gives rise to manifold consequences. The ignorant feel that all devices are distinct. The wise see only the one uniform current. God appreciates the consciousness of unity as the basic motive of all acts.

Tuhan berada jauh di atas dan melampaui segala batas ruang dan waktu. Bagi Beliau, semua makhluk adalah sama. Perbedaan antara manusia, binatang, burung, cacing, serangga dan bahkan Tuhan hanyalah perbedaan 'tempat' (Upadhi). Hal ini seperti arus listrik yang mengalir melalui berbagai peralatan dan digunakan dalam berbagai fungsi. Dalam hal ini tidak ada perbedaan. Ini adalah sama. Demikian juga, hanya Tuhan yang mengaktifkan setiap makhluk dan menimbulkan berbagai akibat. Karena kebodohan kita–lah yang merasakan bahwa semua ini berbeda. Orang bijaksana melihat hal ini sama. Tuhan menghargai kesadaran dalam kesatuan sebagai motif dasar dari semua tindakan.

-BABA

Thought for the Day - 19th June 2010 (Saturday)


Involvement in objective pleasure leads ultimately to grief. So, you must direct yourself towards the right means to attain bliss. Where can you gain bliss from? It is not inherent in external objects. Though external objects appear to bring pleasure, they bring in grief as well. The Upanishads, the Brahma Sutras and the Bhagavad Gita clarify the truth that YOU are the very embodiment of bliss. The scriptures clarify the truth and help everyone attain the highest wisdom.

Keterlibatan dengan kesenangan objektif pada akhirnya akan mengarahkan kita pada kesedihan. Jadi, engkau harus mengarahkan dirimu ke jalan yang benar untuk mencapai kebahagiaan. Dimana engkau bisa mendapatkan kebahagiaan? Kebahagiaan tidak melekat pada objek-objek eksternal. Meskipun objek-objek eksternal muncul untuk membawa kesenangan, ia juga membawa kesedihan. Upanishad, Brahma Sutra, dan Bhagavad Gita menjelaskan kebenaran bahwa ENGKAU adalah perwujudan kebahagiaan. Kitab–kitab suci tersebut menjelaskan tentang kebenaran dan membantu setiap orang untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi.

-BABA

Friday, June 18, 2010

Thought for the Day - 18th June 2010 (Friday)


Every living being craves for happiness. It does not long for misery. Some desire the acquisition of riches; some believe that gold can make them happy. Some amass articles of luxury, some collect vehicles, but everyone is set upon obtaining things that one believes can give him/her joy. But those who know wherefrom one can get true happiness are very few in number. Sathwic happiness is of the nature where it appears to be poison in the beginning, but turns into nectar later. This happiness is secured through the awareness of the Self using the preliminary Sadhana (spiritual exercise) of Sama (control of mind), Dama (control of senses), etc. which has to be initially gone through, appears hard and unpleasant. It involves struggle and effort. So the reaction may be bitter. But, the bliss that one earns afterwards is the highest kind of happiness.


Setiap makhluk hidup mendambakan kebahagiaan. Mereka tidak menginginkan penderitaan yang lama. Beberapa dari mereka ingin memperoleh kekayaan; dan sebagian orang percaya bahwa emas dapat membuat mereka bahagia. Beberapa orang mengumpulkan barang-barang mewah, yang lainnya mengumpulkan kendaraan, dan setiap orang percaya setelah mereka mendapatkan harta benda, mereka akan mendapatkan kebahagiaan. Tetapi orang-orang yang mengetahui bagaimana bisa mendapatkan kebahagiaan sejati sangat sedikit jumlahnya. Kebahagiaan satwik, pada awalnya nampak seperti racun, tetapi kemudian berubah menjadi nektar. Kebahagiaan ini didapat melalui kesadaran diri dengan melakukan Sadhana (latihan spiritual) melalui sama (kontrol pikiran), dama (pengendalian indera), dll, yang pada awalnya harus ditempuh dengan sulit dan tidak menyenangkan, serta memerlukan perjuangan dan usaha yang keras. Jadi reaksinya mungkin terasa pahit. Tetapi setelah itu seseorang akan mendapatkan kebahagiaan tertinggi.

-BABA

Thursday, June 17, 2010

Thought for the Day - 17th June 2010 (Thursday)


The name ‘Bhagavatha’ can be applied to every account of the experiences of those who have contacted God and the Godly. God assumes many forms and enacts many activities. The title ‘Bhagavatha’ is given to the description of the experiences of those, who have realized Him, who have been blessed by His Grace and chosen as His instruments. By Bhagavatha, we also mean those, who are attached to God, who seek the companionship of God. To be in the midst of such devotees is to foster one's own devotion. The experience of devotees is a panacea that cures physical, mental and spiritual illnesses.

Nama "Bhagavatha' dapat digunakan pada setiap pengalaman yang dialami oleh mereka yang telah mengalami kontak dengan Tuhan dan orang-orang yang beriman. Tuhan mengambil berbagai wujud dan memerankan banyak aktivitas. Nama 'Bhagavatha' diberikan untuk menggambarkan pengalaman bagi mereka yang telah menyadari-Nya, yang telah diberkati dengan rahmat- Nya dan dipilih sebagai instrumen-Nya. Bhagavatha juga berarti mereka yang dekat dengan Tuhan, serta mereka yang mencari persahabatan dengan Tuhan. Berada di tengah-tengah para Bhakta seperti ini adalah untuk mengembangkan pengabdian kita sendiri. Pengalaman para Bhakta adalah obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit fisik, mental, dan spiritual.

-BABA

Wednesday, June 16, 2010

Thought for the Day - 16th June 2010 (Wednesday)


People today believe that they are the body, the senses, etc. and crave for objective pleasures. They convince themselves that this pleasure is wanted by them and under this mistaken notion, they seek to fulfill their cravings. They delude themselves that they can secure bliss by catering to the body and the senses. Such attempts cannot earn bliss. The pleasure obtained from external objects brings grief along with it and such attempts to obtain pleasure is rewarded with disillusionment, defeat and disaster. The three source texts (Upanishads, Brahma Sutra and Bhagavad Gita) clearly call out that YOU are the very embodiment of Ananda (bliss). They help people attain the highest wisdom.

Orang-orang saat ini percaya bahwa mereka adalah badan, indera, dll dan menginginkan kesenangan objektif. Mereka meyakinkan diri mereka bahwa kesenangan inilah yang mereka inginkan dan mereka memiliki pikiran yang keliru, sehingga mereka berusaha untuk memenuhi keinginan tersebut. Mereka menipu diri sendiri bahwa mereka dapat memperoleh kebahagiaan dengan melayani badan dan indera. Upaya-upaya seperti itu tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Kesenangan yang diperoleh dari objek-objek eksternal akan membawa kesedihan dan usaha-usaha seperti itu untuk memperoleh kesenangan akan mendatangkan kekecewaan, kekalahan, dan malapetaka. Tiga sumber naskah suci (Upanishad, Brahma Sutra dan Bhagavad Gita) dengan jelas menyatakan bahwa ENGKAU adalah perwujudan Ananda (kebahagiaan), yang membantu orang-orang untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi.

-BABA

Tuesday, June 15, 2010

Thought for the Day - 15th June 2010 (Tuesday)


In olden times, when in any region, the people were sunk in fear or anxiety, or when the sources of joy and contentment ran dry, they traced the cause for the calamity to some fault or failure in the worship offered to God in the temples of that area. They sought to identify these mistakes and correct them, so that they could have inner peace. They believed that the crisis could be controlled through these means. Such acts are now bundled together and called "superstitions", and are cast aside. This is not superstition at all. The ancients grasped the supreme truth only after personally experiencing its validity.

Pada zaman dahulu, saat di daerah manapun, orang-orang tenggelam dalam ketakutan atau kecemasan, atau ketika sumber kebahagiaan dan kepuasan hati meninggalkan mereka, mereka menelusuri penyebabnya untuk beberapa kesalahan atau kegagalan dalam pemujaan kepada Tuhan di kuil-kuil di daerah itu. Mereka berusaha mengidentifikasi kesalahan-kesalahan ini dan memperbaikinya, sehingga mereka bisa memiliki kedamaian batin. Mereka percaya bahwa krisis dapat dikendalikan melalui cara ini. Tindakan seperti itu, saat ini disebut "takhayul", dan diabaikan. Ini sama sekali bukanlah takhayul. Orang dahulu memahami kebenaran tertinggi setelah mengalami secara pribadi kebenaran tersebut.

-BABA