Tuesday, May 19, 2026

Thought for the Day - 19th May 2026 (Tuesday)



Most men spend the lifetime allotted to them or earned by them in the partaking of rich but harmful food and drink and indulge in glamorous but more harmful pastimes. What a pathetic waste of precious stuff! Though belonging to the animal genus, man has much more than his fellow beings in physical, mental, and moral equipment. He has memory, language, conscience, reverence, awe, wonder, and an inexplicable sense of discontent, the precursor of detachment. He has the glorious chance of visualising his identity with the Mystery that is manifested as this universe. But he is so sunk in ignorance that he behaves as though he is an animal like the rest and wallows in grief and vice. It is as if fire has forgotten its capacity to burn or water its nature to wet; man has forgotten his nature to reach out into Godhood, his capacity to seek and secure the truth of the universe of which he is a part, his capacity to train himself by virtue, justice, love, and sympathy to escape from the particular to the universal. Man can indeed attain the consummation and climax of merging with the unchanging that is behind all this change.


-- Divine Discourse, Jul 02, 1966

Uncontrolled living habits, unrestrained social behaviour—these are extolled as signs of freedom. It is only freedom to slide into the animal from which man has risen.


Kebanyakan manusia menghabiskan masa hidupnya yang diberikan atau diperolehnya hanya untuk menikmati makanan dan minuman yang mewah namun merusak, serta hiburan yang tampak menarik tetapi justru lebih membahayakan. Betapa menyedihkan pemborosan atas kehidupan yang begitu berharga ini! Walaupun dalam sudut pandang biologis, manusia memang termasuk kerajaan hewan (animal kingdom atau animal genus), ia memiliki jauh lebih banyak kemampuan dibandingkan makhluk lainnya, baik secara fisik, mental, maupun moral. Manusia memiliki ingatan, bahasa, hati nurani, rasa hormat, kekaguman, rasa takjub, dan juga suatu ketidakpuasan batin yang sulit dijelaskan, yang sebenarnya menjadi awal dari sikap tanpa keterikatan. Manusia memiliki kesempatan luar biasa untuk memvisualisasikan identitasnya dengan Misteri yang termanifestasi sebagai alam semesta ini. Namun manusia begitu tenggelam dalam ketidaktahuan sehingga manusia berperilaku seolah-olah ia adalah binatang seperti yang lain dan berkubang dalam kesedihan dan keburukan. Keadaan ini bagaikan api yang lupa bahwa sifatnya adalah membakar, atau air yang lupa bahwa sifatnya adalah membasahi. Manusia telah melupakan hakikat dirinya: mencapai sifat ketuhanan, kemampuannya dalam mencari dan memahami kebenaran alam semesta yang menjadi bagiannya, serta melatih dirinya melalui kebajikan, keadilan, kasih, dan simpati agar dapat melampaui keterikatan pribadi menuju kesadaran universal. Sesungguhnya manusia mampu mencapai puncak tertinggi kehidupannya, yaitu bersatu dengan Yang Abadi dan Tidak Berubah di balik seluruh perubahan dunia ini.  


-- Wacana Swami, 02 Juli 1966

Pola hidup yang tidak terkendali dan perilaku sosial tanpa batas sering dipuji sebagai kebebasan. Padahal itu hanyalah kebebasan untuk jatuh kembali ke tingkat kebinatangan, dari mana manusia sebenarnya telah berkembang.

Monday, May 18, 2026

Thought for the Day - 18th May 2026 (Monday)



Once, Krishna thought of testing the nature of Yudhishthira and Duryodhana. First, He called Yudhishthira and said, “I have a task to perform. For that, I need a very mean-minded person who is given to untruthful and evil ways. Can you bring such a person?” Afterwards, Krishna called Duryodhana and said to him, “Duryodhana! A great task is to be performed. For that, a noble person is required who is pure, kind-hearted and virtuous.” Both of them agreed to perform the tasks assigned to them by Krishna. Yudhishthira went in one direction and Duryodhana in another direction in search of the persons asked for by Krishna. After some time, Yudhishthira came back and said most humbly to Krishna, “Oh Lord! There is no wicked person in our kingdom. I am the only one who has some wickedness or the other. Please make use of me.” Some time after this, Duryodhana also came back and said to Krishna, “Krishna! A thoroughly noble person is nowhere to be seen in this kingdom. I think I am the only such person. If You tell me the task, I will surely perform it.” In the egoistic outlook of Duryodhana, all appeared to be wicked. In the humble nature of Yudhishthira, all appeared to be good. Hence, whatever the colour of the glasses that you wear, everything will appear to you of that colour.


-- Divine Discourse, Apr 04, 1993

‘An egoistic person will think that he knows everything; others are ignoramuses. But one who knows everything is always humble. 


Suatu ketika Krishna ingin menguji sifat Yudhishthira dan Duryodhana. Pertama, Krishna memanggil Yudhishthira dan berkata, “Aku memiliki sebuah tugas untuk dikerjakan. Untuk itu, Aku membutuhkan seseorang yang sangat jahat, suka berbohong, dan berperilaku buruk. Bisakah engkau membawanya kepada-Ku?” Kemudian Krishna memanggil Duryodhana dan berkata, “Duryodhana! Ada tugas besar yang harus dilakukan. Untuk itu diperlukan seseorang yang mulia, berhati suci, penuh kebaikan, dan berbudi luhur.” Keduanya setuju untuk melaksanakan tugas yang diberikan Krishna kepada mereka. Yudhishthira pergi ke satu arah dan Duryodhana ke arah lain untuk mencari orang yang dimaksud oleh krishna. Setelah beberapa waktu, Yudhishthira kembali dan dengan rendah hati berkata kepada Krishna, “Oh Krishna, tidak ada orang jahat di kerajaan kita. Hanya saya yang masih memiliki kekurangan dan sifat buruk. Gunakanlah saya untuk tugas itu.” Beberapa saat kemudian, Duryodhana juga kembali dan berkata kepada Krishna, “Krishna! Tidak ada seorang pun yang benar-benar mulia di kerajaan ini. Saya rasa hanya saya satu-satunya orang seperti itu. Katakan tugasnya padaku, maka pastinya saya akan mengerjakannya.” Karena pandangan Duryodhana dipenuhi ego, ia melihat semua orang sebagai buruk dan jahat. Sebaliknya, karena kerendahan hati Yudhishthira, ia melihat semua orang sebagai baik. Karena itu, apa pun warna kacamata yang engkau pakai, begitulah warna dunia yang akan engkau lihat.


-- Wacana Swami, 04 April 1993

‘Orang yang egois akan merasa dirinya mengetahui segalanya dan menganggap orang lain bodoh. Tetapi seseorang yang mengetahui semuanya akan selalu rendah hati.' 

Sunday, May 17, 2026

Thought for the Day - 17th May 2026 (Sunday)




You have been reading about renunciation for a long time. You have been listening to many discourses. But how much have you been able to practice? If you question yourself, you will find that you have not moved even a single step forward; you are where you were. In spite of listening to and reading Vedantic texts, in spite of japa (chanting) and meditation, in spite of knowledge of sacred texts, your position is the same as it was. How can you make progress? You will reach noble heights only when you put your knowledge into practice. But students today are zero in practice and hero in bookish knowledge. You may hear and learn so many things. But your position is the same as it has been. Instead of learning a hundred things, it is very important to practice at least one. So, you should start practising. You get experience only through practice. Your hunger is not satiated merely by hearing the names of delicious items. You have to make an effort to eat. A beggar will never improve his condition simply by listening about the greatness of the economy. Pitch darkness can never be dispelled by listening to the power of light. Similarly, you can never become a Vedantin by learning about Vedanta.


- Divine Discourse, Apr 04, 1993

The ‘gandha’ (fragrance or essence) must be extracted from the ‘grantha’ (spiritual text); that is the test of scholarship. Do not transform the mastaka (brain) into a pustaka (book) instead.


Engkau telah membaca tentang ketidakterikatan duniawi sejak lama. Engkau juga telah mendengarkan begitu banyak wacana spiritual. Namun, seberapa banyak yang telah mampu engkau praktikkan? Jika engkau bertanya pada dirimu sendiri, engkau akan mendapati bahwa engkau belum melangkah maju bahkan satu langkah pun; engkau masih berada di tempat yang sama seperti sediakala. Meskipun telah mendengarkan dan membaca teks-teks Vedanta, meskipun telah melakukan japa (chanting/pengucapan Nama Tuhan) dan meditasi, serta memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab suci, posisi batinmu tetap sama seperti sebelumnya. Bagaimana engkau bisa mengalami kemajuan spiritual? Engkau hanya akan mencapai puncak keluhuran jiwa ketika engkau mengejawantahkan pengetahuan tersebut ke dalam praktik nyata. Namun, para pencari spiritual saat ini sering kali menjadi 'pahlawan' dalam pengetahuan buku, tetapi 'nol' dalam praktiknya. Engkau boleh saja mendengar dan mempelajari begitu banyak hal, tetapi kondisi batinmu akan tetap jalan di tempat. Alih-alih mempelajari seratus hal, jauh lebih penting untuk mempraktikkan setidaknya satu hal saja. Oleh karena itu, mulailah praktik spiritual. Sebab, pengalaman batin hanya didapat melalui praktik nyata. Rasa lapar yang engkau rasakan tidak akan pernah terpuaskan hanya dengan mendengarkan nama-nama hidangan yang lezat; engkau harus menyantap hidangan tersebut. Seorang pengemis tidak akan pernah mengubah nasibnya hanya dengan mendengarkan keagungan teori ekonomi. Kegelapan yang pekat pun takkan pernah sirna hanya dengan mendengarkan penjelasan tentang kekuatan cahaya. Demikian pula, engkau tidak akan pernah menjadi seorang Vedantin sejati hanya dengan mempelajari teori tentang Vedanta.


- Divine Discourse, Apr 04, 1993

Sari pati (gandha) harus digali dan diserap dari kitab suci (grantha); itulah tolok ukur dari kebijaksanaan sejati. Jangan sampai engkau mengubah otakmu (mastaka) sekadar menjadi tumpukan buku (pustaka)

Friday, May 15, 2026

Thought for the Day - 15th May 2026 (Friday)



Desires are common to all, whether one is young or old, man or woman, a common man or a saint. However, it is very important to have good desires, such as the desire to reach an exalted position, the desire to lead a noble life, the desire to be a good student, or the desire to tread the divine path. It is quite natural for man to have desires as he has to live in the world. But there should be a limit to his desires. As his desires have crossed all limits due to the effect of Kali Yuga, he has lost his peace and is experiencing restlessness. Man's unlimited desires are like chains which bind and imprison him. He loses his freedom as he is bound by desires. Animals also have desires, but they are not limitless like those of man. Animals have a reason and a season, but man has no reason and no season. That is why man today is facing so many troubles and problems. Man has no dearth of food, raiment, and shelter. Then, what is the reason for his restlessness? It is only excessive desires that make him restless. Therefore, he must put a ceiling on his desires. Less luggage, more comfort makes travel a pleasure. Life is a long journey. In this long journey of life, you should not have excess luggage. This, in Vedantic parlance, is called renunciation (vairagya).


-- Divine Discourse, Apr 04, 1993

If you move towards God, the world will be away from you. If you move towards the world, you will become distant from God.

 

Keinginan adalah hal yang lumrah bagi semuanya, apakah seseorang itu adalah anak muda atau orang tua, laki-laki atau Perempuan, orang awam atau orang suci. Namun yang terpenting adalah memiliki keinginan yang baik, seperti keinginan untuk mencapai kedudukan yang mulia, menjalani hidup yang luhur, menjadi pelajar yang baik, atau menempuh jalan ketuhanan. Adalah hal yang wajar jika manusia memiliki keinginan, karena ia hidup di dunia. Tetapi keinginan itu harus memiliki batas. Karena pengaruh Kali Yuga, keinginan manusia telah melampaui batas sehingga ia kehilangan kedamaian dan terus hidup dalam kegelisahan. Keinginan manusia yang tidak terbatas adalah seperti rantai yang mengikat dan memenjarakan manusia. Hal ini membuat manusia kehilangan kebebasannya karena ia diperbudak oleh keinginannya. Binatang juga memiliki keinginan, tetapi tidak tanpa batas seperti halnya manusia. Binatang memiliki sebuah alasan dan musim, namun manusia tidak memiliki alasan dan musim. Itulah sebabnya mengapa manusia pada hari ini menghadapi begitu banyak masalah dan penderitaan. Manusia tidak kekurangan makanan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Lalu apa penyebab kegelisahan hidupnya? Tidak lain adalah keinginan yang berlebihan. Karena itu, manusia harus membatasi keinginannya. Semakin sedikit bawaan, semakin nyaman perjalanan. Hidup adalah perjalanan yang panjang. Dalam perjalanan panjang kehidupan ini, jangan membawa terlalu banyak “beban”. Dalam ajaran Vedanta, sikap ini disebut vairagya atau pelepasan. 


-- Wacana Swami, 04 April 1993

Jika engkau bergerak mendekat pada Tuhan, dunia akan menjauh darimu. Jika engkau bergerak mendekat pada dunia, engkau akan menjadi jauh dari Tuhan.

Wednesday, May 13, 2026

Thought for the Day - 13th May 2026 (Wednesday)



Whatever teachings that you hear and read, you should imbibe them in your heart. Once a Guru called his disciples and said to them, “My dear ones! I am giving all of you a sweet. See to it that it is not spoilt by ants, flies, mosquitoes, cats or rats.” Most of the students tried to preserve it in many ways. But only one student partook of it, digested it and derived strength from it. What is the inner meaning of this? It is not enough if you preserve the divine teachings in books; you should imbibe those nectarous teachings in your heart, digest them and experience them. Only then can you derive pushti and santhusthi (strength and happiness). You should treasure in your heart all the sacred teachings that you hear, read and understand. Whatever you have treasured in your heart, you should put it into practice in your life. Only then will you have fulfilment. Merely eating is not enough; you should digest what you eat. Similarly, merely hearing and reading is not enough; you should put it into practice and experience it in your daily life.


-- Divine Discourse, Jul 27, 1996

If what is learned is not put into practice, the student is like a cow that does not yield milk, a fruit lacking in taste, or a book bereft of wisdom. 


Apapun ajaran yang engkau dengar dan baca, engkau harus menyerapnya di dalam hatimu. Pada suatu hari seorang guru memanggil murid-muridnya dan berkata pada mereka, “para muridku yang terkasih! Aku memberikan setiap orang darimu sebuah manisan. Jagalah agar manisan tersebut tidak dirusak oleh semut, lalat, nyamuk, kucing, atau tikus.” Kebanyakan murid tersebut mencoba untuk menjaga manisan tersebut dengan berbagai cara. Namun hanya satu murid yang menghisap manisan tersebut dan mendapatkan manfaat darinya. Apa makna terdalam yang ada dalam kisah ini? Adalah tidak cukup bagimu jika hanya menjaga ajaran-ajaran Tuhan di dalam buku saja; engkau harus menyerap ajaran yang begitu manis itu ke dalam hatimu, mencerna dan mengalaminya. Hanya dengan demikian engkau dapat mendapatkan kekuatan (Pushti) dan kebahagiaan (santhusthi). Engkau harus menyimpan dalam hatimu semua ajaran-ajaran suci yang engkau dengar, baca dan pahami. Apapun yang telah engkau simpan di dalam hatimu, engkau harus menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan demikian engkau mendapatkan pemenuhan dalam hidup. Hanya dengan makan saja tidaklah cukup; engkau harus mencerna apa yang engkau makan. Sama halnya, hanya melulu mendengarkan dan membaca saja tidaklah cukup; engkau harus menjalankan dan mempraktekkannya dalam hidupmu sehari-hari. 


-- Wacana Swami, 27 Juli 1996

Jika apa yang dipelajari tidak dijalankan atau dipraktekkan, maka pelajar itu seperti sapi yang tidak menghasilkan susu, buah yang tidak menghasilkan rasa, atau buku yang tanpa kebijaksanaan.

Tuesday, May 12, 2026

Thought for the Day - 12th May 2026 (Tuesday)



A heart without love is a cemetery. Love demonstrates the existence of the Divine. It is all-pervasive. It is the basis for human unity. Only when selfishness goes, and faith in the Divine grows, will human unity be achieved. Hence, every human being should fill his heart with love. God is love; Love is God. Love is linked to love. When one is full of love, He is qualified for the state of Non-dualism or oneness with God (Poem). It is most vital for everyone to recognise and practice this Love Principle. This Love exists in good and bad, in the forest and in a palace, in attachment and in separation, in one’s conduct as well as in one’s speech, in the mind as well as in action. It is all-pervasive. The most powerful weapon to destroy the forces of evil rampant in the world today is love. Unfortunately, men are not pursuing the right path to acquire this sacred love. Love is the seed of love. It is also the branch, the flower, and the fruit! To enjoy the fruit of love, one must practice love!


-- Divine Discourse, Nov 23, 1996

Love is Righteousness. Love is Truth. The universe is based on love. 


Hati yang tanpa adanya kasih adalah sebuah kuburan. Kasih adalah bukti keberadaan Tuhan. Kasih bersifat meresapi segalanya dan merupakan dasar dari kesatuan umat manusia. Hanya ketika sifat mementingkan diri sendiri lenyap, dan keyakinan pada Tuhan tumbuh, kesatuan manusia dapat terwujud. Karena itu, setiap manusia hendaknya memenuhi hatinya dengan kasih. Tuhan adalah kasih; Kasih adalah Tuhan. kasih hanya dapat terhubung dengan kasih. Ketika seseorang penuh dengan kasih, maka ia layak mencapai keadaan tanpa dualitas, yaitu kesatuan dengan Tuhan (syair). Sangat penting bagi setiap orang untuk memahami dan mempraktikkan prinsip kasih ini. Kasih ini hadir dalam yang baik maupun yang buruk, di hutan maupun di istana, dalam kebersamaan maupun perpisahan, dalam perilaku maupun ucapan, di dalam pikiran maupun tindakan. Kasih meresapi semuanya. Senjata yang paling ampuh dalam menghancurkan kekuatan jahat yang merajalela di dunia saat ini adalah kasih. Namun sayangnya, manusia belum menempuh jalan yang benar untuk memperoleh kasih suci tersebut. Kaish adalah benih dari kasih itu sendiri. Kasih juga adalah cabang, bunga, dan buahnya. Jika ingin menikmati buah dari kasih, maka seseorang harus mempraktikkan kasih dalam hidupnya! 


-- Wacana Swami, 23 November 1996

Kasih adalah kebajikan. Kasih adalah kebenaran. Alam semesta di dasarkan pada kasih.

Saturday, May 9, 2026

Thought for the Day - 9th May 2026 (Saturday)



The swimmer in the river has to push aside the waters in front to the sides and to kick the waters to the back so that he can move forward straight and fast. Forcing the water back is the act that takes him forward. That is to say, do not attach importance to it, throw it back, give it up, renounce; that alone can help you to progress, even an inch. Instead, man collects and stores, accumulates and takes pride in what he holds firm, regardless of the preciousness of the human trait of renunciation. So, we sink in material possessions, victories, and vagaries. We do not float or swim across the temptations. We must try to discover and learn the means of progress. We may well ask, how can a man sunk in relative knowledge become aware of Atma? But there is no reason for despair or for condemning ourselves as mean and low. For when small men take big decisions, they earn encouragement from the great. When the tiny squirrel decided to share in building the passage across the sea, did it not receive the blessings of Lord Rama? The squirrel knew that its help could only be infinitesimal, but the feeling of dedication which prompted it won the grace of God.


-- Divine Discourse, Jan 08, 1983

Faith and self-confidence are essential for spiritual progress.

 

Perenang yang berenang di sungai harus menepis air yang ada di depannya ke samping dan mendorong air ke belakang agar ia dapat bergerak maju dengan lurus dan cepat.  Dengan mendorong air ke belakang, ia bisa maju ke depan. Maknanya adalah: jangan melekat pada sesuatu, lepaskanlah, tinggalkanlah, relakanlah. Hanya dengan cara itulah seseorang dapat benar-benar maju, walau hanya selangkah. Namun malahan manusia justru gemar mengumpulkan, menyimpan, dan membanggakan apa yang dimilikinya, tanpa menyadari betapa berharganya sifat pengorbanan dan pelepasan. Akibatnya, kita tenggelam dalam harta benda materi, kemenangan, dan berbagai gejolak duniawi. Kita tidak mampu mengapung atau berenang melewati godaan-godaan kehidupan. Kita harus berusaha untuk menemukan dan mempelajari cara untuk maju. kita mungkin mulai mempertanyakan, bagaimana seseorang yang tenggelam dalam pengetahuan duniawi dapat menyadari Atma? Tetapi tidak ada alasan untuk putus asa atau merendahkan diri sendiri sebagai makhluk yang hina dan lemah. Karena ketika orang kecil mengambil keputusan yang besar, mereka akan memperoleh dukungan dari yang lebih hebat. Ketika tupai yang kecil memutuskan untuk ikut membantu membangun jembatan menyeberangi lautan, bukankah ia menerima berkah dari Sri Rama? Tupai itu secara jelas mengetahui bahwa bantuannya sangatlah kecil, namun perasaan pengabdian yang mendorong tindakannya mampu membuatnya memperoleh rahmat Tuhan. 


- Divine Discourse, Jan 08, 1983

Keyakinan dan kepercayaan diri adalah mendasar untuk kemajuan spiritual.

Friday, May 8, 2026

Thought for the Day - 8th May 2026



Affection for mother and reverence for father are necessary. But parents and preceptor are transient. Even friends are impermanent. God alone is permanent and unfailing, and God alone should have the permanent place in the heart. The human body acquires its sacredness from the fact that it is the abode of the Divine. The Gita refers to the body as kshetra (sacred field) and the Divine Indweller as the Kshetrajna. Because of the sacredness of the body, it should be used properly as an instrument of the Divine. Man should develop faith in God. Without faith, life will be meaningless. Man can have no happiness or satisfaction in life without God’s grace. Men today are too immersed in affairs of the world and have no peace of mind. They can have peace only from the supreme embodiment of peace, God. He is the abode of infinite love and enduring peace. God’s love should be secured by chanting the Lord’s name. You should be grateful to your mother for endowing you with a body which enables you to chant the Lord’s name.

- Divine Discourse, May 6, 1997
See that the splendour of the Lord, the cool rays of His grace, is not dimmed in the recesses of your heart


Kasih sayang kepada ibu dan rasa hormat kepada ayah adalah sebuah keniscayaan. Namun, orang tua maupun guru spiritual bersifat sementara. Bahkan teman pun tidaklah kekal. Hanya Tuhanlah yang Mahakekal dan takkan pernah mengecewakan, dan hanya Tuhanlah yang sepantasnya bersemayam secara abadi di dalam hati. Tubuh manusia memperoleh kesuciannya karena ia merupakan kediaman bagi Sang Ilahi. Bhagavad Gita menyebut tubuh sebagai kshetra (ladang suci) dan Sang Penghuni Ilahi di dalamnya sebagai Kshetrajna. Karena kesucian tubuh ini, ia harus dipergunakan dengan semestinya sebagai instrumen Ilahi. Manusia harus menumbuhkan keyakinan kepada Tuhan. Tanpa keyakinan, kehidupan akan kehilangan maknanya. Manusia tidak akan mereguk kebahagiaan atau kepuasan sejati dalam hidup tanpa berkat Tuhan. Saat ini, manusia terlalu terhanyut dalam urusan duniawi sehingga kehilangan kedamaian pikiran. Mereka hanya bisa memperoleh kedamaian dari Sang Perwujudan Kedamaian Tertinggi, yaitu Tuhan. Dia adalah samudra kasih yang tak terbatas dan kedamaian yang abadi. Kasih Tuhan haruslah diraih dengan senantiasa melantunkan Nama Suci-Nya. Engkau hendaknya berterima kasih kepada ibumu, karena melaluinya engkau dianugerahi raga yang memungkinkanmu untuk memuliakan Nama Tuhan.

- Divine Discourse, May 6, 1997
Jagalah agar kemuliaan Tuhan—pancaran kasih-Nya yang menyejukkan—tak meredup di dalam relung hatimu yang paling dalam

Saturday, May 2, 2026

Thought for the Day - 2nd May 2026 (Saturday)



God is Premaswarupa (Embodiment of Love); God is in every being; so the fruit of every life is full of the sweetness of that Prema. Like the bitter skin of the fruit, which is sweet, which casts the cover of ignorance over the precious juice within, so too, the bitter skin of envy, egoism, hate, malice, greed, lust, and pomp does not allow the sweetness to be patent to all. Every being is entitled to partake of that Prema, irrespective of nationality, colour, creed, or status in society. When God and God’s Prema are activating every atom, who can dare say, ‘Stand out’ to anyone? Isavasyamidam sarvam - All this is God, is Prema. The lights that Vyasa lit to reveal this great reality have become dim; no one is pouring oil into the lamp; all are interested in pursuing false ideals and fleeting pleasures. Vyasa taught Dharma (Righteousness) in the Mahabharata, Bhakthi (Devotion) in the Bhagavata, and Shanti and Prema (Peace and Love) in the 18 Puranas; he taught the knowledge of “knowledge, knower, and the known” in the Brahmasutra. He emphasised that harming others is the seed of sin and serving others the seed of merit. That is the lesson of Prema, pure and simple. 


- Divine Discourse, Jul 21, 1967

Prema (Love) is the spring that feeds the roots of all the virtues. 


Tuhan adalah perwujudan kasih (premaswarupa); Tuhan ada dalam diri setiap makhluk; jadi buah dari setiap kehidupan adalah penuh dengan rasa manis dari prinsip kasih itu (prema). Seperti halnya rasa pahit pada kulit buah yang menutupi rasa manis sari buah yang ada di dalamnya, begitu juga rasa pahit dari kulit berupa sifat iri hati, egoisme, kebencian, kesombongan, ketamakan, nafsu, dan keangkuhan yang menutupi rasa manis kasih itu sehingga tidak tampak. Setiap makhluk berhak merasakan dan menikmati kasih Ilahi ini, tanpa memandang kebangsaan, warna kulit, keyakinan, maupun kedudukan sosial. Ketika Tuhan dan kasih-Nya menggerakkan setiap atom, siapa yang berani berkata kepada orang lain, “lebih menonjol dibandingkan yang lainnya”? Isavasyam idam sarvam - semua ini adalah Tuhan, semua ini adalah kasih. Pelita yang dinyalakan oleh Vyasa untuk mengungkap kebenaran agung ini kini mulai meredup; tidak ada lagi yang mengisi minyaknya; semua orang tertarik dan sibuk dalam mengejar mengejar gagasan yang semu dan kesenangan yang bersifat sementara. Vyasa mengajarkan kebajikan (dharma) dalam Mahabharata, pengabdian (bhakthi) dalam Bhagavata, dan Shanti serta Prema (kedamaian dan kasih) dalam 18 purana; Vyasa mengajarkan pengetahuan tentang “pengetahuan, yang mengetahui, dan yang diketahui” dalam Brahmasutra. Vyasa menekankan bahwa menyakiti yang lainnya adalah benih dari dosa, sedangkan melayani yang lainnya adalah benih dari kebajikan atau jasa. Itu adalah inti pelajaran tentang kasih yang bersifat suci dan sederhana. 


-Wacana Swami, 21 Juli 1967

Prema (kasih) adalah mata air yang memberikan kehidupan pada akar dari seluruh kebajikan.

Friday, May 1, 2026

Thought for the Day - 1st May 2026 (Friday)



Buddha taught that we should not have anger, we should not find others’ faults, and we should not harm others because all are embodiments of the pure, eternal principle of the Atma. Have compassion towards the poor and help them to the extent possible. You think those who do not have food to eat are poor people. You cannot call someone poor just because he does not have money or food to eat. Truly speaking, nobody is poor. All are rich, not poor. Those whom you consider poor may not have money, but all are endowed with the wealth of Hridaya (the heart). Understand and respect this underlying principle of unity and divinity in all and experience bliss. Do not have such narrow considerations as so and so is your friend, so and so is your enemy, so and so is your relation, etc. All are one, be alike to everyone. That is your primary duty. This is the most important teaching of Buddha. 


-- Divine Discourse, May 13, 2006

Buddha taught that the principle of unity of the Atma was the only true principle in the world. One who realised it by using his spiritual intelligence was a true Buddha, he said. 


Buddha mengajarkan bahwa kita tidak seharusnya menyimpan kemarahan, kita seharusnya tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan kita seharusnya tidak menyakiti siapapun karena semuanya adalah perwujudan dari prinsip Atma yang suci dan kekal. Milikilah welas asih kepada mereka yang kekurangan dan bantulah mereka semaksimal mungkin. Engkau berpikir bahwa mereka yang tidak memiliki makanan untuk dimakan adalah orang miskin. Engkau tidak bisa menyebut seseorang miskin karena ia tidak memiliki uang atau makanan untuk dimakan. Berbicara yang sebenarnya, tidak ada seorangpun yang miskin. Semuanya adalah kaya, tidak miskin. Bagi mereka yang engkau anggap miskin mungkin tidak memiliki uang, namun semua dari mereka diberkati dengan kekayaan hati (Hridaya). Pahamilah dan hormati prinsip yang mendasari kesatuan dan keilahian dalam setiap makhluk dan alamilah kebahagiaan yang sejati. Jangan terjabk dalam pandangan sempit seperti ini teman, ini musuh, ini kerabat dan sebagainya. Semuanya adalah satu, bersikaplah sama kepada setiap orang. Itu merupakan kewajibanmu yang utama. Ini adalah ajaran terpenting dari sang Buddha. 


-- Wacana Swami, 13 Mei 2006

Buddha juga mengajarkan bahwa prinsip kesatuan Atma adalah satu-satunya kebenaran sejati di dunia ini. Seseorang yang mampu menyadarinya melalui kecerdasan spiritualnya adalah Buddha yang sejati.

Tuesday, April 28, 2026

Thought for the Day - 28th April 2026 (Tuesday)



For man, there are two kinds of states in this world. They are: Hita (Pleasant) and Ahita (Unpleasant). Whether the state is pleasant or unpleasant depends on your innermost attitude or outlook. The same object becomes pleasant once and unpleasant on another occasion! The thing welcomed with great fondness at one time becomes hateful at another time, and there is not the desire even to see it. The condition of the mind at those times is the reason to wean so. Hence, everyone must train their mind to be pleasant always. The waters of a river leap from mountains, fall into valleys, and rush through gorges; besides, tributaries join it at various stages, and the water becomes turbid and unclean. So too, in the flood of human life, speed and power increase and decrease. These ups and downs can happen at any moment during life. No one can escape these; they may come at the beginning of life, at the end or in the middle. So, what man must firmly convince himself is that life is necessarily full of ups and downs, and that, far from being afraid and worried over these, one should welcome them. One should not only feel like this, but should be happy and glad, whatever happens! Then, all troubles, whatever their nature, will pass away lightly and quick! 


-- Ch 3, Dhyana Vahini

Faith in God can ensure equanimity and balance. 


Bagi manusia, ada dua jenis keadaan dalam hidup ini: hita (menyenangkan) dan ahita (tidak menyenangkan). Namun, apakah sesuatu terasa menyenangkan atau tidak, sebenarnya bergantung pada sikap batin dan cara pandang kita sendiri.  Objek yang sama bisa terasa sangat menyenangkan di suatu waktu, tetapi di waktu lain justru terasa tidak menyenangkan. Sesuatu yang dahulu disambut dengan penuh kegembiraan bisa berubah menjadi hal yang dihindari, bahkan tak ingin lagi dilihat. Perubahan ini bukan karena bendanya, melainkan karena keadaan pikiran kita saat itu! Oleh karena itu, setiap orang harus melatih pikiran mereka untuk selalu tetap tenang dan positif dalam segala keadaan. Ibarat air sungai yang mengalir dari pegunungan, jatuh ke lembah, melewati jurang, lalu bercampur dengan berbagai aliran lain hingga menjadi keruh. Demikian pula kehidupan manusia, kadang mengalir deras, kadang melambat; kadang jernih, kadang keruh. Naik turunnya kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Itu bisa terjadi di awal kehidupan, di tengah, maupun di akhir. Yang perlu kita yakini dengan mantap adalah bahwa hidup memang penuh dengan pasang surut. Alih-alih takut atau cemas menghadapinya, kita justru perlu menerimanya dengan lapang. Bahkan lebih dari itu, belajar untuk tetap merasa tenang dan bersyukur dalam keadaan apa pun. Ketika sikap ini tumbuh, segala kesulitan—apa pun bentuknya—akan terasa lebih ringan dan cepat berlalu! 


-- Ch 3, Dhyana Vahini

Keyakinan kepada Tuhan akan menumbuhkan keseimbangan dan ketenangan batin.

Monday, April 27, 2026

Thought for the Day - 27th April 2026 (Monday)



God has provided everything for man’s good in the world. But there is one condition that must be observed. The result of your actions will be according to their nature, whether they are good or bad. Men today want to reap the fruits of good deeds without performing good deeds. This is impossible. Nor can they escape the consequences of their evil actions. God is only a witness. From now on, develop good thoughts, do good actions and redeem your lives. You must start with Karma Marga (Path of Action) and end with Jnana Marga (Path of Knowledge). In between, there is Upasana Marga (Path of Worship). This is the path you must follow today. For this, you must get the conviction that God is omnipresent. When you have that conviction, you will not indulge in falsehood or practice deception, you will not abuse others or cause harm to them, you will acquire all virtues. 


-- Divine Discourse, Feb 27, 1995

Develop the firm conviction that God is within you, and you are Divine.


Tuhan telah menyediakan segala sesuatunya bagi kebaikan manusia di dunia. Namun ada satu syarat yang tidak bisa diabaikan. Hasil dari perbuatanmu akan sesuai dengan sifat dari perbuatan tersebut, apakah perbuatan itu baik datau buruk. Manusia pada hari ini ingin mendapatkan buah perbuatan baik dengan tanpa menjalankan perbuatan baik. Hal ini adalah tidak mungkin. Demikian pula, tidak ada seorangpun dari manusia yang bisa melepaskan diri dari akibat perbuatan buruk mereka. Tuhan hanyalah sebagai saksi saja. Mulai dari sekarang, pupuk pemikiran yang baik, lakukan perbuatan baik dan perbaiki arah hidupmu. Engkau harus mulai dengan jalan tindakan (karma marga) dan mengakhirinya dengan jalan pengetahuan (jnana marga). Diantara kedua jalan tersebut adalah jalan pemujaan (upasana marga). Ini adalah jalan yang harus engkau jalani hari ini. Untuk itu, tanamkan keyakinan yang kuat bahwa Tuhan hadir di mana-mana. Ketika engkau memiliki keyakinan itu, engkau tidak akan berbohong atau menipu, tidak akan menyakiti atau merugikan orang lain, dan secara alami kebajikan akan tumbuh dalam dirimu. 


-- Divine Discourse, 27 Februari 1995

Pupuklah keyakinan yang mantap bahwa Tuhan ada di dalam dirimu, dan hakikat dirimu adalah ilahi.

Sunday, April 26, 2026

Thought for the Day - 26th April 2026 (Sunday)



There are three types of approaches towards the Lord: the eagle type, which swoops down on the target with a greedy swiftness and suddenness, which, by its very impact, fails to secure the object coveted; the monkey type, which flits hither and thither, from one fruit to another, unable to decide which is tasty; and the ant type, which moves steadily, though slowly, towards the object, which it has decided is desirable. The ant does not hit the fruit hard and make it fall away; it does not pluck all the fruits it sees; it appropriates just as much as it can assimilate and no more. Do not fritter away the time allotted to you for sojourning on Earth in foolish foppery and fanciful foibles, which always keep you outdoors. When are you going to walk indoors into the warmth and quiet of your own interior? Retire into solitude and silence, now and then; experience the joy derivable only from them. 


-- Divine Discourse, Oct 26, 1961

When the fruit is ripe, it will fall off the branch of its own accord. Similarly, when vairagya (renunciation) saturates your heart, you lose contact with the world and slip into the lap of the Lord. 


Ada tiga jenis pendekatan menuju Tuhan: pendekatan pertama adalah seperti jenis elang yang terbang menukik ke bawah pada target dengan kecepatan dan penuh kerakusan yang mana justru sering gagal mendapatkan apa yang diinginkan; pendekatan kedua adalah jenis monyet yang melompat ke sana kemari, dari satu buah ke buah lain, tanpa pernah benar-benar memutuskan mana yang layak dipilih; dan pendekatan ketiga adalah jenis semut yang berjalan perlahan tetapi pasti menuju tujuan yang telah ditentukan. Semut tidak menghantam buah hingga jatuh sia-sia. Ia juga tidak mengambil semua buah yang dilihatnya. Ia hanya mengambil secukupnya, sesuai dengan kemampuannya untuk mencerna dan tidak lebih. Jangan habiskan waktu yang diberikan selama hidup di dunia ini untuk tingkah laku yang konyol dan khayalan yang tidak masuk akal, yang hanya membuatmu terus berada di luar dirimu sendiri. Kapan engkau akan masuk ke dalam, ke ruang batinmu yang hangat dan tenang? Sesekali, menyendirilah dalam keheningan dan ketenangan. Rasakan kebahagiaan yang hanya bisa di dapatkan dari keheningan tersebut. 


-- Divine Discourse, 26 Oktober 1961

Ketika buah matang akan jatuh dengan sendirinya dari pohon, demikian pula ketika vairagya (ketidakterikatan) memenuhi hatimu, engkau secara alami melepaskan keterikatan dunia dan berlabuh dalam pelukan Tuhan. 

Saturday, April 25, 2026

Thought for the Day - 25th April 2026 (Saturday)



Once, a Gopika went to a well to bring two pitchers of water. After placing one pitcher on her head, she wanted someone to place the other water-filled pitcher on the first one. At that time, Krishna came there, and she asked him to place the water-filled pitcher on the first one. Krishna refused to do so. Soon, another Gopika came along and helped the first Gopika. The Gopika carrying the two pitchers reached her home. Krishna followed her to the house and, without even waiting to be asked, He took the top pitcher from the Gopika's head and placed it down. She was surprised at Krishna's strange behaviour. She asked him: “Krishna, at the well, you refused to place the pitcher on my head when I appealed to you to help me. Now you take it down from the head without my asking. What is the inner meaning of this action?” Krishna replied: “Oh Gopika! I want to remove the burdens borne by people and not to add to them.” This shows that the Divine operates only to reduce the burdens of the people and not to increase them. 


-- Divine Discourse, Feb 20, 1992

When man obeys God’s command implicitly, all his burdens are taken care of.


Pada suatu hari, seorang Gopika (gadis penggembala sapi) pergi ke sumur untuk menimba dua kendi air. Setelah menempatkan satu kendi air di atas kepalanya, ia ingin meminta bantuan seseorang untuk menaruh kendi kedua di atas kendi pertama. Pada saat itu, Sri Krishna datang ke sana, dan Gopika tersebut meminta bantuan Krishna untuk menaruh kendi di atas kendi lain di atas kepalanya. Sri Krishna menolak untuk melakukannya. Segera, gadis lain lain datang untuk membantu Gopika tersebut. Gopika tersebut membawa dua kendi air tersebut sampai ke rumahnya. Sri Krishna mengikutinya sampai ke rumahnya dan tanpa diminta bantuan, Krishna mengambil kendi paling atas dari kepala Gopika dan menaruhnya dibawah. Gopika tersebut menjadi terkejut dengan tingkah laku aneh dari Krishna. Ia menanyakan kepada Krishna: “Krishna, pada saat di sumur, Engkau menolak untuk menaruh kendi air tersebut di atas kepalaku ketika aku meminta bantuan. Sekarang Engkau mengambil kendi air di atas kepalaku dan menaruhnya dibawah tanpa saya minta. Apa makna dari tindakan-Mu ini?” Krishna menjawab: “Oh Gopika! Aku ingin melepaskan beban yang ditanggung oleh orang-orang dan bukan menambahkannya.” Hal ini memperlihatkan bahwa kehendak Tuhan hanya untuk mengurangi beban manusia dan bukan menambahkannya. 


-- Divine Discourse, 20 Februari 1992

Ketika manusia mematuhi perintah Tuhan sepenuhnya, maka semua bebannya akan ditanggung.

Friday, April 24, 2026

Thought for the Day - 24th April 2026 (Friday)



Cleanse your mind of all animal and primitive impulses, which have shaped it from birth to birth. Otherwise, just as milk, poured into a pot used for keeping buttermilk, curdles quickly, all finer experiences of truth, beauty and goodness will get tarnished beyond recognition. Do not postpone this duty to yourself, especially now, when you have the chance of contacting Me. I do not find you offering Me what I look for; you bring things which are unworthy and impure. I feel very much when I find you so agitated and troubled with the cure so near at hand. Reduce your wants; minimise your desires. All these material knick-knacks are short-lived. When death deprives you of resistance, your kith and kin take off the nose-stud, and in their haste, they may even cut the nose to retrieve it! If you go on heaping desire upon desire, it will be impossible to depart gladly when the call comes. Rather, become rich in virtue, in the spirit of service, in devotion to the higher power. That is what pleases Me and saves you! 


Divine Discourse, Oct 26, 1961

You call Me by one name only and believe I have one form only. Remember, there is no name I do not bear; there is no form which is not Mine

 

Bersihkan pikiranmu dari semua dorongan binatang dan naluri primitif yang telah membentuknya dari kelahiran ke kelahiran. Jika tidak, seperti halnya susu yang dituangkan ke dalam wadah bekas menyimpan buttermilk lalu dengan cepat menggumpal, demikian pula pengalaman-pengalaman luhur tentang kebenaran, keindahan dan kebajikan akan menjadi ternoda hingga tidak dapat dikenali lagi. Jangan menunda kewajiban ini bagi dirimu sendiri, khususnya saat sekarang ketika engkau memiliki kesempatan untuk mendekat kepada-Ku. Aku tidak menemukan apa yang sebenarnya Aku cari dari persembahanmu; engkau justru membawa hal-hal yang tidak layak dan tidak murni. Sungguh menyedihkan melihatmu gelisah dan menderita padahalnya obatnya begitu dekat. Kurangi keinginanmu; perkecil keinginanmu. Semua benda-benda material ini bersifat sementara. Saat kematian datang dan engkau tak lagi berdaya, bahkan orang-orang terdekatmu akan melepaskan perhiasan darimu; dalam tergesa-gesa, bisa saja mereka melukai dirimu demi mengambilnya! Jika engkau terus menumpuk keinginan demi keinginan, akan sulit bagimu untuk pergi dengan tenang saat panggilan itu tiba. Sebaliknya, jadilah kaya dalam kebajikan, dalam semangat melayani, dan dalam pengabdian kepada kekuatan yang lebih tinggi. Itulah yang menyenangkan-Ku dan yang akan menyelamatkanmu! 


-- Divine Discourse, 26 Oktober 1961

Engkau memanggil-Ku hanya dengan satu nama dan mengira Aku hanya memiliki satu bentuk. Ingatlah, tidak ada nama yang bukan milik-Ku; tidak ada bentuk yang bukan milik-Ku.

Thursday, April 23, 2026

Thought for the Day - 23rd April 2026 (Thursday)



All the objects we offer God in worship, like leaf, flowers, water, and all others, have an allegorical significance. The word leaf does not refer to tulsi or any other leaf. Our body is a leaf. Our body is offered as a sacred leaf to God. Because this body is full of the three gunas, we consider it a leaf and make an offering of it to God. The word ‘pushpa’ stands for the flower of the heart. The flowers we talk of in the context of God do not refer to the earthly flowers that fade away. Similarly, the word fruit is the fruit of the mind. It means that we must do our deeds without expecting any reward, and if action is done in that spirit, it becomes a holy sacrifice. Water does not mean that which is drawn from the taps. It refers to the tears of joy that spring from the depths of your heart. You should not offer leaves gathered from trees, which are external, or flowers from plants in the garden, or water drawn from the well, or fruit from somewhere else, but all these from the tree of your body, which is sacred to God. Whatever offering you make, when you offer those things born out of the tree of your own body, then the full merit will be bestowed on you. 


Ch 17, Summer Showers in Brindavan 1972

The only way to overcome misery is by offering yourself to God


Semua objek yang kita persembahkan kepada Tuhan dalam sebuah ibadah, seperti halnya daun, bunga, air, dan semua hal lainnya memiliki makna simbolis yang mendalam. Kata daun bukan sekedar mengacu pada daun tulsi atau daun lainnya. Tubuh kita sendiri adalah daun itu. Tubuh kita ini dipenuhi dengan tiga guna dipersembahkan sebagai daun suci kepada Tuhan. Kata ‘pushpa’ mengandung makna bunga hati. Bunga yang kita bicarakan dalam konteks Tuhan tidak mengacu pada bunga duniawi yang layu. Sama halnya, kata buah adalah mengacu pada buah pikiran. Hal ini berarti kita harus melakukan perbuatan kita tanpa mengharapkan imbalan apapun, dan jika perbuatan dilakukan dalam semangat tersebut, maka perbuatan itu menjadi pengorbanan suci. Air juga bukan berarti air yang diambil dari keran atau sumur. Air ini mengacu pada air mata suka cita yang hadir dari kedalaman hati. Engkau seharusnya tidak mempersembahkan daun yang dikumpulkan dari pohon, yang mana bersifat di luar diri, atau bunga dari tanaman yang ada di kebun, atau air yang ada dari sumur, atau buah dari tempat lain, namun semua persembahan ini harusnya berasal dari pohon tubuhmu yang bersifat suci kepada Tuhan. Apapun persembahan yang engkau lakukan, ketika engkau mempersembahkan itu lahir dari pohon dirimu sendiri, maka pahala utuh akan diberkati padamu. 


Ch 17, Wacana Musim Panas di Brindavan 1972

Satu-satunya cara untuk mengatasi penderitaan adalah dengan mempersembahkan dirimu sendiri pada Tuhan. 

Wednesday, April 22, 2026

Thought for the Day - 22nd April 2026 (Wednesday)





Take the Lord to be your father or mother, but only as the first step towards transcending that relationship and merging in the absolute! Do not stop on the steps; enter the mansion they lead to. The Atma sambandham (spiritual connection) is the everlasting and unchanging sambandham. As a first step, you use the flower, the lamp, the incense and so on to worship the Saguna form (God envisioned with attributes). Soon, your devotion moves on to newer forms of dedication, newer offerings that are purer, more valuable, and worthier of your Lord! You feel that you should place before the Lord something more lasting than mere flowers and something more yours than incense! You feel like purifying yourselves and making your entire life one fragrant flame! That is real worship, real bhakti. Do not come to Me with your hands full of trash, for how can I fill them with grace when they are already full? Come with empty hands and carry away My treasure, My love.


Divine Discourse, Oct 26, 1961

I am the Person come to give, not to receive. And what you can offer Me is just this: pure, unadulterated love. 


Jadikanlah Tuhan sebagai ayah dan ibumu, namun pahamilah bahwa itu adalah langkah awal untuk melampaui hubungan tersebut dan akhirnya menyatu dengan Yang Absolut! Jangan berhenti pada anak tangga; masukklah ke dalam rumah besar yang dituju oleh langkah-langkah tersebut. Atma sambandham (hubungan spiritual) atau hubungan dengan Atma adalah bersifat kekal dan tidak berubah. Pada tahap awal, engkau menggunakan bunga, lampu, dupa, dan sebagainya untuk memuja Tuhan dalam wujud Saguna, yaitu Tuhan yang dipahami dengan sifat-sifat tertentu. Namun seiring waktu, bhaktimu akan berkembang menuju bentuk pengabdian yang lebih dalam, persembahan yang lebih murni, lebih berharga, dan lebih layak bagi Tuhanmu! Engkau mulai merasa bahwa yang pantas dipersembahkan bukan sekadar bunga yang layu atau dupa yang habis terbakar, melainkan sesuatu yang lebih abadi dan sungguh berasal dari dirimu sendiri! Saat itulah muncul dorongan untuk memurnikan diri, menjadikan seluruh hidupmu sebagai nyala harum yang terus menyala. Inilah pemujaan yang sejati, inilah bhakti yang sesungguhnya. Jangan datang kepada-Ku dengan tangan yang penuh “sampah”, sebab bagaimana mungkin Aku mengisinya dengan anugerah jika sudah penuh? Datanglah dengan tangan kosong, dan bawalah pulang harta-Ku: kasih-Ku. 


Wacana Swami, 26 Oktober 1961

Aku datang untuk memberi, bukan untuk menerima. Dan satu-satunya yang dapat engkau persembahkan kepada-Ku hanyalah ini: kasih yang murni, tanpa campuran apa pun.

Monday, April 13, 2026

Thought for the Day - 13th April 2026 (Monday)



The virtue of Kshama (forbearance) is best cultivated under adverse circumstances, and one must therefore gladly welcome troubles instead of regarding them as unwelcome. Difficulties help one to nurse and build the capacity for patience, as the example of the Pandavas clearly shows. When they were in power and authority, the Pandavas were somewhat deficient in Kshama, but once they went into exile and had to face numerous hardships, Kshama automatically began to develop in them. Thus, times of distress offer the ideal opportunity for the development of patience and forbearance. In fact, pain and Kshama go together because Kshama grows best in an environment of sorrow and misery. However, because of mental weakness as well as ignorance, we invariably shun painful experiences and distress. You should not be weak; be brave and welcome troubles. Let them come, the more the merrier. It is only with such a courageous attitude that you would be able to bring out the Kshama hidden within you.


Divine Discourse, May 25, 2000

Pleasure has no separate existence. It is the fruit of pain. This basic truth is not recognised by man. 


Nilai luhur Kshama (kesabaran, dan kemampuan menahan diri) paling baik dikembangkan dalam keadaan yang penuh kesulitan. Oleh karena itu, seseorang seharusnya menyambut masalah dengan sukacita, bukan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Kesulitan membantu seseorang dalam memelihara dan membangun kemampuan untuk bersabar, sebagaimana tampak jelas dalam teladan para Pandawa. Ketika mereka berada dalam kekuasaan dan memiliki kewenangan, para Pandawa masih agak kurang dalam hal Kshama.  Namun, ketika mereka harus menjalani masa pembuangan dan menghadapi begitu banyak penderitaan, Kshama dengan sendirinya mulai tumbuh dalam diri mereka. Dengan demikian, masa-masa sulit justru memberikan kesempatan yang paling ideal untuk mengembangkan kesabaran dan ketabahan. Sesungguhnya, penderitaan dan Kshama berjalan beriringan, sebab Kshama tumbuh paling baik dalam suasana kesedihan dan kesusahan. Akan tetapi, karena kelemahan mental dan ketidaktahuan, kita hampir selalu menghindari pengalaman yang menyakitkan dan penuh tekanan. Engkau tidak boleh lemah; jadilah berani dan sambutlah kesulitan. Biarkanlah kesulitan datang - semakin banyak, semakin baik. Hanya dengan sikap keberanian seperti inilah engkau mampu memunculkan Kshama yang tersembunyi di dalam dirimu. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Kesenangan tidak memiliki keberadaan yang terpisah. Kesenangan adalah buah dari penderitaan. Kebenaran mendasar ini belum disadari oleh manusia. 

Sunday, April 12, 2026

Thought for the Day - 12th April 2026 (Sunday)



The body has to be maintained in good condition, for it is only when embodied in this human container that man can realise God. The body is either strong or weak, an efficient instrument or an inefficient one, according to the food, recreations, and habits of one’s parents. Since the elders do not pay attention to these, the health of the children suffers; we have hospitals, dispensaries, and clinics in every street now, because disease has its hold on every family, in every home. Even little children wear glasses; young people dye their hair, and many wear dentures. The reason is, the atmosphere in the modern home is filled with artificiality, anxiety, envy, discontent, empty boasting, vain pomp, extravagance, falsehood and hypocrisy. How can anyone growing up in this corrosive atmosphere be free from illness? If the home is filled with the clean fragrance of contentment and peace, all its occupants will be happy and healthy. The elders have, therefore, a great responsibility towards the generation that is coming up.


Divine Discourse, Oct 05, 1967

Why should we maintain the body (deha) in good health? It is for the sake of realising the Dehi (Indweller Self). 


Tubuh harus dirawat dalam kondisi yang baik, karena hanya melalui tubuh manusia inilah seseorang dapat menyadari Tuhan. Tubuh dapat menjadi kuat atau lemah, menjadi alat yang efektif atau tidak efektif, tergantung pada makanan, rekreasi, dan kebiasaan orang tuanya. Karena para orang tua dan orang yang lebih tua sering tidak memberi perhatian pada hal-hal ini, kesehatan anak-anak pun menjadi terganggu. Itulah sebabnya sekarang kita melihat rumah sakit, klinik, dan apotek hampir di setiap jalan, karena penyakit telah menjangkiti hampir setiap keluarga dan rumah. Bahkan anak-anak kecil sudah memakai kacamata; kaum muda mewarnai rambut mereka, dan banyak yang sudah menggunakan gigi palsu. Penyebabnya adalah karena suasana rumah modern sering dipenuhi oleh kepalsuan, kecemasan, iri hati, ketidakpuasan, kesombongan kosong, kemewahan yang sia-sia, pemborosan, kebohongan, dan kemunafikan. Bagaimana mungkin seseorang yang tumbuh dalam suasana yang merusak seperti itu dapat bebas dari penyakit? Sebaliknya, jika rumah dipenuhi oleh keharuman kebersihan batin berupa rasa cukup dan kedamaian, maka semua penghuninya akan hidup bahagia dan sehat. Karena itu, para orang tua dan orang-orang yang lebih tua memiliki tanggung jawab besar terhadap generasi yang sedang tumbuh.


Wacana Swami, 5 Oktober 1967

Mengapa kita harus menjaga tubuh (deha) tetap sehat? Itu demi merealisasikan Dehi (Atma penghuni di dalam tubuh).

Saturday, April 11, 2026

Thought for the Day - 11th April 2026 (Saturday)



Kshama (forbearance) is the grandest and the noblest among virtues. It is all-encompassing. Mahabharata and Shrimad Bhagavatam both contain many episodes that illustrate the disaster that befalls when Kshama is lost. Jealousy is the first bad quality that makes its entry when Kshama makes its exit. The Mahabharata gives a graphic portrayal of how life that is otherwise smooth, can be totally shattered by jealousy. The golden island, Lanka, was like the very heavens, but Ravana’s jealousy reduced it to ruins. Whereas Kshama can give complete protection, its absence can plunge one into distress and disaster. Impatience breeds selfishness and promotes jealousy, which together spur infighting and divisive tendencies of various kinds. The troubles countries are currently passing through are largely due to the absence of this noble quality of Kshama. Impatience has ruined even very great spiritual aspirants. Kings were reduced to beggars. The absence of Kshama can make a Yogi into a rogi (sick one)! Without Kshama, mankind becomes degraded and starts declining, but if it has this quality, then it can progress by leaps and bounds.


Divine Discourse, May 25, 2000

For spiritual progress and advancement, Kshama is the real basis or foundation. 


Kshama (kesabaran dan kemampuan menahan diri) adalah sifat luhur yang paling agung dan paling mulia di antara semua sifat-sifat baik. Kesabaran ini mencakup segalanya. Mahabharata dan Shrimad Bhagavatam keduanya memuat banyak kisah yang menunjukkan bencana yang terjadi ketika kualitas Kshama ini hilang. Sifat iri hati adalah sifat buruk pertama yang masuk ketika Kshama keluar dari diri seseorang. Mahabharata memberikan gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana kehidupan yang semula berjalan baik dapat hancur total karena iri hati. Pulau emas Lanka bagaikan surga, tetapi sifat iri hati dari Ravana menghancurkannya hingga menjadi puing-puing. Kshama dapat memberikan perlindungan yang sempurna, sedangkan ketiadaannya dapat menjerumuskan seseorang ke dalam penderitaan dan kehancuran. Sifat ketidaksabaran melahirkan egoisme dan memupuk iri hati; keduanya bersama-sama memicu pertikaian internal dan kecenderungan memecah-belah. Berbagai kesulitan yang dialami banyak negara saat ini sebagian besar disebabkan oleh tidak adanya kualitas luhur Kshama ini. Ketidaksabaran bahkan telah meruntuhkan para pencari spiritual yang agung. Raja-raja dapat jatuh menjadi pengemis. Ketiadaan Kshama bahkan dapat mengubah seorang yogi menjadi rogi (orang yang sakit)! Tanpa Kshama, umat manusia mengalami kemerosotan dan kehancuran. Namun bila kualitas ini dimiliki, manusia dapat berkembang dengan sangat pesat. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Untuk kemajuan dan perkembangan spiritual, Kshama adalah dasar dan fondasi yang sejati.

Friday, April 10, 2026

Thought for the Day - 10th April 2026 (Friday)



Look at the functions of the sense organs. You may notice that even if one organ stops functioning in harmony, life will be limping. When the mind conceives a thought, all organs coordinate to have the thought executed. If senses do not follow thoughts, life will become miserable. When there is forbearance, all organs coordinate harmoniously and work in unison. Once the organs of the body, like eyes, ears, limbs, became jealous of the tongue, saying that they make all efforts to secure food, but the tongue enjoys it. The tongue merely tastes the food and passes only palatable items of food inside, which is converted by internal organs into energy-giving blood. The tongue does not retain it. But for this vital part played by the tongue, other organs would not be able to function at all. When the other organs became jealous of the tongue and stopped sending food with a view to harming it, they spelt their own ruin by such action, as they could not function when there was no food and consequently no supply of energy for these organs to function. Similarly, jealousy on the part of a person ultimately results in his own ruin! 


Divine Discourse, Jan 01, 1994

When you offer the flower of your heart to the Lord, it should be free from the pest of desire, hatred, envy, greed, and the like. 


Perhatikanlah pada fungsi dari organ-organ indera. Engkau dapat memperhatikan bahwa jika ada satu saja organ berhenti berfungsi secara selaras, maka hidup menjadi pincang. Ketika pikiran melahirkan sebuah gagasan, maka semua organ akan bekerja sama untuk mewujudkan gagasan tersebut. Jika Indera tidak mengikuti gagasan tersebut maka hidup akan menjadi sengsara. Ketika ada ketabahan, semua organ akan bekerja sama dengan selaras dan bersatu. Sekali organ-organ dari tubuh seperti mata, telinga, anggota tubuh lainnya merasa iri pada lidah, dengan mengatakan bahwa mereka melakukan segala usaha untuk mendapatkan makanan, namun lidah yang menikmati makanan tersebut. Padahal lidah fungsinya hanya merasakan makanan dan meneruskan makanan yang layak ke dalam tubuh, selanjutnya organ-organ dalam tubuh yang mengubah makanan menjadi darah penghasil energi. Lidah tidak menyimpan makanan tersebut. Namun tanpa peran vital yang dijalankan oleh lidah, organ-organ lainnya tidak akan dapat berfungsi dengan baik. Ketika organ-organ yang lain menjadi iri hati dan memutuskan berhenti mengirimkan makanan dengan tujuan untuk menyakitinya, tindakan itu justru membawa kehancuran bagi diri mereka sendiri. Tanpa adanya makanan maka tidak akan ada energi, dan akhirnya mereka tidak mampu berfungsi. Sama halnya, iri hati dalam diri seseorang pada akhirnya akan membawa kehancuran pada dirinya sendiri! 


Wacana Swami, 01 Januari 1994

Ketika engkau mempersembahkan bunga hatimu pada Tuhan, bunga itu harus bebas dari hama seperti keinginan, kebencian, iri hati, ketamakan, dan sejenisnya.

Wednesday, April 8, 2026

Thought for the Day - 8th April 2026 (Wednesday)



True and selfless love manifests as sacrifice. Such love knows no hatred. It envelops the entire universe and is capable of drawing near even those who are seemingly far away. It is Love that transforms the human into the Divine. It can transform pashu (a bestial person) into Pashupati (Divinity). In the phenomenal world, you come across many shades and derivatives of this primordial love. You love your father, mother, brother, sister, friends, and so on. In all such cases, there is always a tinge of selfishness somewhere or other. Divine love, on the other hand, is totally free of even the slightest trace of selfishness. You must surrender to such love, become completely submerged by it, and experience the bliss it confers. For acquiring such Love, the quality of Kshama or forbearance is a vital necessity. Every individual must cultivate this noble quality. Kshama is not achieved by reading books or learnt from an instructor. Nor can it be received as a gift from someone else. This prime virtue -  Kshama, can be acquired solely by self-effort, by facing squarely diverse problems, difficulties of various sorts, anxieties, and suffering as well as sorrow. 


Divine Discourse, May 25, 2000

True Divinity is Kshama (forbearance) combined with Prema (Love).

 

Kasih sejati dan tidak mementingkan diri sendiri terwujud sebagai pengorbanan. Kasih seperti itu tidak mengenal kebencian. Kasih yang sejati itu merangkul seluruh alam semesta dan mampu mendekatkan mereka yang kelihatannya jauh. Adalah kasih yang mengubah manusia menjadi ilahi. Kasih juga dapat mengubah orang yang bengis (pashu) menjadi keilahian (pashupati). Dalam dunia fenomenal ini, engkau menjumpai banyak bentuk dan turunan dari cinta yang ada sejak permulaan. Engkau menyayangi ayah, ibu, saudara, sahabat, dan yang lainnya. Namun dalam bentuk kasih seperti itu, selalu masih ada sedikit unsur kepentingan diri atau keterikatan. Sebaliknya, kasih Tuhan bersifat bebas dari jejak sekecil apapun kepentingan diri atau egoisme. Engkau harus berserah kepada kasih seperti itu, menjadi sepenuhnya tenggelam di dalamnya, dan mengalami kebahagiaan yang diberikannya. Untuk mendapatkan kasih seperti itu, kualitas Kshama atau ketabahan merupakan kebutuhan yang sangat penting. Setiap individu harus meningkatkan kualitas yang mulia ini. Kshama tidak bisa dicapai hanya dengan membaca buku atau belajar dari seorang pengajar. Dan juga tidak bisa diterima sebagai hadiah dari orang lain. Kshama yang merupakan kebajikan utama ini, hanya dapat diraih dengan usaha diri, dengan menghadapi secara langsung berbagai masalah, kesulitan, kecemasan, penderitaan, dan kesedihan di dalam hidup. 


Wacana Swami, 25 Mei 2000

Keilahian sejati adalah Kshama (ketabahan) yang dipadukan dengan Prema (kasih).

Sunday, April 5, 2026

Thought for the Day - 5th April 2026 (Sunday)



The Moon (reflected) in the flowing river is broken and fragmentary; it flows fast, apparently, with the floods. The Moon in the lake is calm, unmoved, undistracted. These two are but reflections of the real Moon in the sky. The Moon reflected in the flood is the Individual Soul, engaged in activity, embroiled in maya, cause and effect. The Moon reflected in the placid face of the lake is the yogi who has attained balance, equipoise, peace, dwelling in the One. The real Moon in the sky is the Eternal Witness, the Absolute, the Primal Principle. Christ spoke of these three when He made three statements. Referring to the individual soul, He said, “I am the Messenger of God;” referring to himself as the yogi, He said, “I am the Son of God.” Realising that these two are but reflections, and that the real Moon is the Witness in the sky, that He too is the Formless, Nameless Absolute, He declared towards the end of his life, “I and My Father are one.” All beings are images of the Universal Atma, in the names and forms they have apparently assumed. This is the truth, enclosed, elaborated, and demonstrated in the spiritual texts of India, which form the basis of Bharatiya culture. The essence of all faiths and the goal of all spiritual endeavour is this: the merging in this Unity. The object of all enquiry is this: to cognise this Unity. 


Divine Discourse, Dec 24, 1972

Religions arise from the minds of good men who crave to make all men good; they strive to eliminate evil and cure the bad. 


Bulan yang terpantul pada aliran sungai yang mengalir tampak tidak beraturan dan terpisah-pisah; terlihat mengalir dengan cepat bersamaan dengan aliran air sungai. Sedangkan bulan yang terpantul pada air danau tampak tenang, tidak bergerak, dan tidak terganggu. Namun, keduanya hanyalah pantulan dari bulan yang sesungguhnya ada di langit. Bulan yang terpantul pada aliran sungai adalah jiwa individu, sibuk dalam aktifitas, terlibat dalam maya, terikat oleh sebab dan akibat. Bulan yang terpantul pada permukaan danau yang tenang adalah yogi yang mencapai keseimbangan, ketenangan, kedamaian, berdiam dalam Yang Esa. Bulan yang sesungguhnya di langit adalah Saksi Abadi, bersifat Absolut, Prinsip Utama. Kristus berbicara ketiga bagian ini ketika Kristus membuat tiga pernyataan. Mengacu pada jiwa individu, Kristus berkata, “Aku adalah utusan Tuhan;” mengacu dirinya sebagai yogi, Kristus berkata, “Aku adakah putra dari Tuhan.” Menyadari bahwa keduanya ini hanyalah pantulan, dan bulan sesungguhnya adalah Saksi yang ada di langit, bahwa Ia juga adalah Yang Mutlak, tanpa nama dan wujud, Kristus menyatakan di akhir hidupnya, “Aku dan Bapa-Ku adalah satu.” Semua makhluk hidup adalah citra dari Atma Universal, yang tampak mengambil berbagai nama dan wujud. Inilah kebenaran yang terkandung, dijelaskan, dan dibuktikan dalam teks-teks spiritual India, yang menjadi dasar budaya Bharatiya. Intisari dari semua keyakinan dan tujuan dari semua usaha spiritual adalah ini: menyatu dalam kesatuan ini. Tujuan dari semua penyelidikan adalah ini: menyadari kesatuan ini. 


Wacana Swami, 24 Desember 1972

Agama-agama muncul dari pikiran-pikiran orang baik yang ingin menjadikan manusia baik; mereka berusaha menghilangkan kejahatan dan memperbaiki keburukan.

Saturday, April 4, 2026

Thought for the Day - 4th April 2026 (Saturday)



Education is not meant to be sold or used for begging jobs. It is meant to be shared. It grows when it is shared. What is the use of having a high education bereft of virtues? What is the value of such education? Character is more important than education. Students! There is nothing wrong with acquiring a job after the completion of your education. But at the same time, you should see to it that your education is put to use for the benefit of society. You should always keep in view the welfare of society. Take part in the service of society. What does service to society really mean? Do not consider it below your dignity to render seva (service), thinking that you are highly educated. At the same time, it is not necessary for you to sweep the roads in the name of seva. Whatever is your job, if you perform it to the satisfaction of your conscience, that itself is seva. Suppose you are doing business, do not resort to unjust and unrighteous means just to earn money. Rather, you should utilise your earnings in performing sacred tasks. 


Sathya Sai Speak, Jun 28, 1996

Dedicate all your education, intelligence and energy to the service of society. 


Pendidikan bukanlah untuk dimaksudkan untuk diperjual belikan atau sekedar digunakan untuk mencari pekerjaan. Pendidikan dimaksudkan untuk dibagikan karena pendidikan bertumbuh ketika dibagikan. apa gunanya memiliki pendidikan yang tinggi tanpa adanya kebajikan? Apa nilai dari pendidikan yang seperti itu? Karakter adalah lebih penting daripada pendidikan. Wahai para pelajar! Tidak ada yang salah dengan mencari pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikanmu. Namun pada saat yang bersamaan, engkau harusnya memastikan bahwa pendidikan yang engkau peroleh digunakan untuk kemanfaatan masyarakat. Engkau harus selalu memandang pada kesejahtraan masyarakat. Ambillah bagian dalam pelayanan pada masyarakat. Lalu, apa sebenarnya arti pelayanan kepada masyarakat? Jangan menganggap bahwa melakukan pelayanan (seva) sebagai sesuatu yang merendahkan martabatmu, hanya karena engkau berpikir bahwa engkau berpendidikan tinggi. Pada saat yang sama, engkau tidak perlu untuk menyapu jalan atas nama seva. Apa pun pekerjaanmu, jika engkau melakukannya untuik memuaskan hati nuranimu, itu sendiri sudah merupakan _seva_ (pelayanan). Misalnya, jika engkau menjalankan usaha atau bisnis, jangan menggunakan cara-cara yang tidak adil dan tidak benar hanya demi memperoleh uang. Sebaliknya, gunakanlah penghasilanmu untuk melakukan tugas-tugas yang suci. 


Wacana Swami, 28 Juni 1996

Dedikasikan seluruh pendidikan, kecerdasan, dan energimu untuk pelayanan kepada masyarakat.