Thursday, June 8, 2017

Thought for the Day - 8th June 2017 (Thursday)

The Divine is totally free from self-interest; whatever He does is utterly blameless and is solely for the welfare of the world. There is nothing beyond His powers. He is the creator, the protector and the destroyer. When God chooses to protect, no one asks why He protects. On the other hand, when God does not protect, people question His inaction and when the Lord punishes, people ask, “Why does God inflict punishment?” Indeed, such questions are motivated by selfishness and self-interest. Every Divine action is just and righteous. Your duty is to pray to God and secure His Grace. When Sakkubai wanted to join the pilgrims going to Pandharpur, Lord Krishna decided to show to the world her good reputation, and duty-consciousness towards her husband and in-laws. So Krishna assumed her form and subjected Himself to all kinds of harassments from her mother-in-law, while the real Sakkubai was blissfully away in Pandharpur. The Lord is ever ready to subject Himself to any hardship to uphold Dharma and shower Grace on His devotees.


Tuhan adalah sepenuhnya bebas dari kepentingan diri; apapun yang Tuhan lakukan sepenuhnya suci dan semata-mata untuk kesejahteraan dunia. Tidak ada apapun yang melampaui kekuatan-Nya. Tuhan adalah sang pencipta, pelindung, dan juga pelebur. Ketika Tuhan memilih untuk melindungi, maka tidak ada yang menanyakan mengapa Beliau memberikan perlindungan. Sebaliknya, ketika Tuhan tidak memberikan perlindungan, manusia menanyakan mengapa Tuhan diam dan ketika Tuhan memberikan hukuman, manusia bertanya, “Mengapa Tuhan memberikan hukuman?” sejatinya pertanyaan yang seperti itu didorong oleh sifat mementingkan diri sendiri dan kepentingan diri. Setiap perbuatan serta tindakan Tuhan adalah tepat dan benar. Kewajibanmu adalah berdoa kepada Tuhan dan mendapatkan karunia-Nya. Ketika Sakkubai ingin bergabung dalam perjalanan suci ke Pandharpur, Sri Krishna memutuskan untuk memperlihatkan kepada dunia reputasi baik yang dimilikinya dan kesadaran akan tugasnya kepada suami dan mertuanya. Jadi Sri Krishna berpura-pura mengambil wujud Sakkubai dan mengijinkan diri-Nya sendiri untuk menerima semua bentuk gangguan dari mertua Sakkubai, sedangkan Sakkubai yang asli sedang dalam keadaan bahagia berada di Pandharpur. Tuhan selalu siap untuk membuat diri-Nya sendiri menerima segala bentuk kesulitan untuk menegakkan Dharma dan melimpahkan karunia kepada bhakta-Nya. (Divine Discourse, Feb 21, 1988)

-BABA

No comments: