Monday, December 18, 2017

Thought for the Day - 18th December 2017 (Monday)

The rosary (japamala) is very useful for beginners in the spiritual path, but as you progress, japa or repetition of the Name must become the very breath of your life, and so, the rotation of beads become superfluous. The practice should lead you to 'Sarvada sarva kaleshu sarvatra Hari chintanam', meaning, one should meditate upon the Lord always, at all times, and in all places. Just as you discard the belt after you learn to swim, and the crutches when you start walking, japamala is just a contrivance to help concentration and systematic contemplation. More importantly, have no thorn of hate in your mind, and develop prema (Love) towards all. Desire is a storm, greed is a whirlpool, pride is a precipice, attachment is an avalanche, and egoism is a volcano. Keep these things away so that, as you do japa-dhyana (meditative contemplation), they do not disturb the equanimity. Let love be enthroned in your heart. Then, there will be sunshine, cool breeze, and gurgling waters of contentment feeding the roots of faith.


Tasbih (japamala) adalah sangat berguna untuk para pemula dalam jalan spiritual, namun saat engkau melangkah maju, japa atau mengulang-ulang nama suci Tuhan harus terjadi dalam setiap tarikan nafas hidupmu, sehingga penggunaan japamala menjadi tidak berguna lagi. Latihan yang dilakukan seharusnya menuntunmu pada 'Sarvada sarva kaleshu sarvatra Hari chintanam', yang artinya bahwa seseorang seharusnya selalu memusatkan pikiran pada Tuhan, sepanjang waktu dan di semua tempat. Sama halnya saat engkau melepaskan baju pelampung setelah engkau belajar berenang, dan tongkat penolong saat engkau mulai bisa berjalan, japamala hanyalah sebuah alat untuk membantumu konsentrasi dan perenungan secara sistematis. Hal yang lebih penting adalah tidak memiliki duri kebencian di dalam pikiranmu, dan mengembangkan kasih Tuhan (prema) kepada semuanya. Keinginan adalah sebuah badai, ketamakan adalah sebuah pusaran air, kesombongan adalah sebuah tebing yang curam, keterikatan adalah sebuah tanah longsor, dan egoisme adalah sebuah gunung merapi. Jauhkan semua hal ini sehingga saat engkau menjalankan japa-dhyana (perenungan), semuanya itu tidak mengganggu ketenangan hati. Biarkan kasih bertahta di hatimu. Kemudian, akan ada cahaya mentari, angin sepoi-sepoi yang sejuk, dan gemericik air kepuasan hati menyirami akar keyakinan. [Divine Discourse, May 10, 1969]

-BABA

No comments: